Teacher And I [2/?]

[Chapter 2] Teacher and I

Author : Rien Rainy (@Riechanie_ELF / Riechanie Elf)

Cast :

  • Lee Dong Hae Super Junior as Lee Dong Hae
  • Cho Hyo Na (oc)
  • Cho Kyu Hyun Super Junior as Cho Kyu Hyun
  • Han Jang Mi (oc)

Rated : T

Genre : school life, romance, comedy, friendship

Length : chapter

Author note : “Jangan lupa main-main ke http://riechanieelf.wordpress.com/ ~!!! ^o^”

HAPPY READING~!!!

ENJOY~!!!

DON’T BASH DON’T PLAGIAT~!!!

DON’T LIKE DON’T READ~!!!

—Teacher and I—

“Dia bertanya padaku tentang perasaanku padanya dan membuatku harus berpikir jernih dengan perasaanku padanya. Namun di sisi lain, apakah aku sanggup melukai hati yang baik milik orang lain padaku? Aku cukup sulit menghadapi dua sisi yang datang bersamaan di dalam hidupku…”—Cho Hyo Na.

—Teacher and I—

“Kenapa kau mengikutiku?” Hyo Na terlihat berbalik melihat ke arah Kyu Hyun yang sudah terlihat berdiri tegak dengan memperhatikan tempat sekitarannya.

“Siapa yang mengikutimu?”

Hyo Na yang mendengar pertanyaan itu hanya membulatkan matanya dengan tak percaya, lalu setelah dia menggelengkan kepalanya dengan wajahnya yang menunjukkan rasa tidak suka itu dengan cepat dia menghindari Kyu Hyun yang sepertinya lagi-lagi melihat ke arah punggungnya.

“Pria aneh!”

Desisan Hyo Na yang terlihat kesal itu faktanya telah terdengar oleh Kyu Hyun yang ada di belakangnya. Alih-alih tak terima Kyu Hyun pun dengan cepat menyeimbangkan langkahnya untuk menyusul Hyo Na yang sepertinya tahu jika dirinya berada dalam masalah besar karena berurusan dengan Kyu Hyun yang diketahui selama dua hari berturur-turut itu sangatlah jahil, dan Kyu Hyun sepertinya berniat sekali memarahi gadis berambut sebahu yang baru di kenalnya itu sangat kekanakan.

“Siapa yang kau sebut aneh, huh?”

“Kau!”

Kyu Hyun yang mendapati teriakan itu kini telah menampilkan wajah ketidaksetujuannya, sedangkan Hyo Na dia hanya menampilkan wajahnya yang kesal tanpa rasa takut sedikitpun di dalam dirinya. “Kau sudah mengikuti ku berjalan dua hari berturut-turut, Kyu Hyun!”

“Aku tidak mengikuti mu!”

“Lalu mengapa kau selalu ku temukan di belakang ku?”

“…”

Hening kemudian mendera dengan cepat. Kyu Hyun tak bisa menjawab pertanyaan yang terdengar mudah bagi kebanyakan orang-orang, namun lain halnya dengan Kyu Hyun yang entah bagaimana tidak bisa membalas pertanyaan Hyo Na yang terdengar menuntut. Hyo Na yang tahu ada keanehan pada Kyu Hyun pun kini mulai terselip sedikit di hatinya rasa ketakutan, entahlah bagi Hyo Na berdekatan dengan Kyu Hyun seperti sekarang ini menimbulkan perasaan takut yang tak terjelaskan.

“Kenapa kalian belum masuk ke kelas?”

Keduanya kini tersadar akan suara Dong Hae yang sepertinya tak sengaja menemui keduanya di lorong kelas. Hyo Na hapal suara lembut dan tegas itu, sedangkan Kyu Hyun kini mulai memasang wajahnya yang datar dan dingin itu. Dong Hae lihat Hyo Na yang bahkan membuang pandangan padanya dan lebih memilih melirik ke arah Kyu Hyun yang mulai mengeluarkan PSP dari saku celananya.

“Apa kau tak membaca peraturan, Cho Kyu Hyun?”

“…”

“Kau juga sedang apa disini, Cho Hyo Na?”

“Ah… uhm… itu… Guru Lee…”

“Aku yang menariknya keluar kelas tadi.” Sahutan suara Kyu Hyun yang datar terdengar oleh Hyo Na dan tak terkecualikan Dong Hae yang menatapnya bersamaan.

“Kenapa kau menariknya? Mengajaknya bolos?”

Dan untuk pertanyaan ini Kyu Hyun tak menjawabnya dengan suara namun dia terlihat menarik lengan Hyo Na yang bebas dan menjauhkannya dari Dong Hae yang terkejut melihat Hyo Na yang terseret-seret dalam langkahnya.

Bahkan Dong Hae masih lihat Hyo Na yang sedikit meringis karena pergelangan tangannya yang ditarik, Hyo Na yang melihat ke arahnya dengan tatapan jangan salah pahamnya lalu Dong Hae yang tak bisa berbuat apa-apa itupun mau tidak mau hanya diam di tempatnya saja sekarang.

“Kyuhyunie lepas!”

“Maafkan aku, Hyonnie.” Dan kemudian lirihan suara Dong Hae yang terdengar pasrah dan bahkan kini dia sudah terlihat meninggalkan tempat itu untuk menuju kelas yang akan di datanginya.

“Aku tak mengerti mengapa kau menarik ku seperti tadi?”

“Temani aku bolos hari ini!”

Hyo Na mendadak diam di dalam langkahnya yang terseret akibat Kyu Hyun yang menarik lengannya membuat pria berambut ikal itu akhirnya ikut berhenti dan menatap sengit ke arah Hyo Na. Di tatapi seperti itu justru tak membuat Hyo Na takut, bahkan dia semakin membalas tatapan Kyu Hyun. Padahal jelas sekali, Hyo Na merasa takut namun dia tak ingin kalah dengan perasaan takutnya itu.

“Kau membawa masalah padaku dan…”

“Kau khawatir jika Guru Lee akan menghukum kita?”

“Eh?! Hei… bagaimanapun juga yang namanya membolos pasti kita akan di hukum. Justru itu yang membuat ku takut!”

Kyu Hyun sedikit menampilkan seringai tipis pada wajahnya, hatinya tidak tahu mengapa tertarik mendengar kalimat yang bernada takut itu. Walau jelas sekali alasan yang dia gunakan pada Kyu Hyun adalah alasan yang tidak sebenarnya dia takuti. Yah, dia tengah takut sekarang jika saja Dong Hae salah paham atau berpikir yang tidak-tidak padanya dengan Kyu Hyun.

“Kau tidak sendiri jika di hukum. Aku juga akan di hukum!”

“Aku tak mau di hukum bersama mu. Lebih baik aku kembali ke ke… hei!”

Dan lagi, tanpa mendengar kalimat Hyo Na pria berambut ikal itu menarik lengan Hyo Na dan menyeretnya menuju atap sekolah. Sepertinya Kyu Hyun sudah tahu tempat-tempat terselebung untuk membolos saat jam pelajaran tengah berlangsung, salah satu contohnya adalah atap sekolah yang sekarang tengah mereka tuju.

Kalau di tanya tentang Hyo Na, gadis berambut sebahu itu justru berpikir negative tentang pandangan Dong Hae saat pulang nanti. Apalagi ketika dirumah, dia terlalu takut untuk membuat pria bermata sendu itu bersedih mengingat Hyo Na tahu jika Dong Hae mencintainya namun dia masih belum bisa membalas perasaan pria bermata sendu itu. Uh, benar-benar sangat serba salah sekali berada di posisinya saat ini.

—Teacher and I—

Suasana hening diantara kedua orang yang tengah sama-sama sibuk dengan pekerjaan mereka kini terlihat di ruang tengah, selain hanya mereka yang sama-sama sibuk keduanya tetap saja diam-diam menyembunyikan berbagai macam pemikiran tentang kejadian yang terjadi di sekolah tadi. Dong Hae yang terlihat paling dewasa itu bukan tidak berulang-ulang mencuri pandang pada Hyo Na yang juga sama sepertinya, lalu setelah kedua mata mereka bertemu mereka juga sama-sama memutuskan pandangan itu dan berakhir dengan suara gumaman kecil.

“Ada yang ingin kau katakan, Hae?” lirihan Hyo Na terdengar juga setelah sekian lama, Dong Hae lantas menatap dari tempatnya dengan sedikit ragu-ragu. “Hm, aku benar-benar tak keberatan… jika, ini menyangkut masalah Kyu Hyun di sekolah,” tambah Hyo Na terdengar ragu.

Tetapi Dong Hae bukanlah orang yang bisa berbohong, walau sebenarnya dia ingin sekali berbohong sekarang juga. Tak di pungkirinya sendiri, bahwa dia tengah cemburu juga mengingat Hyo Na yang di tarik paksa Kyu Hyun untuk membolos. Namun ketika dia sadar, Hyo Na masih belum bisa mencintainya, dia menekan perasaan cemburu itu perlahan-lahan. “Tidak ada. Aku tidak akan membahas masalah itu,” akhirnya Dong Hae berucap senetral mungkin.

Hyo Na memperhatikan bagian yang lain pada buku pelajarannya, lalu terlihat gelisah di sana. Gadis itu tengah berpikir apa Dong Hae benar-benar marah padanya atau tengah kesal sehingga tidak ingin membahasnya lagi, “Sudahlah, tidak usah kau pikirkan lagi, Hyonnie!”

“Hm, tapi, aku takut pada mu…”

Dong Hae menatap dia dari tempatnya dengan heran, Hyo Na bahkan terlihat semakin menunduk. “Aku tidak akan marah pada mu, tenang saja! Aku akan menganggapnya tidak pernah terjadi!” ucap Dong Hae meyakinkan Hyo Na dengan senyuman tulusnya.

“Hm, gomawo Hae-ah!”

“Tidak perlu berterimakasih pada ku, lebih baik kau kerjakan cepat tugas mu dan pergi tidur. Aku tak ingin melihat mu mengantuk di mobil seperti pagi tadi, Hyonnie!”

Hyo Na menganggukkan kepalanya dengan cepat sambil tersenyum, dia kembali mengerjakan tugasnya dengan tenang. Sebelum itu dia juga melirik jam yang ada di dinding tersebut, malam sudah semakin larut pikirnya. Karena dia benar-benar tak habis pikir bagaimana bisa dia dan Dong Hae sama-sama sibuk sampai jam sepuluh malam seperti sekarang. Hyo Na kini diam-diam memperhatikan Dong Hae yang masih berkutat dengan buku-buku tulis milik siswanya, dia terlihat sangat serius di sana dan Hyo Na jadi tak ingin menganggunya yang sedang sibuk itu.

Setidaknya harus ada yang dia buatkan untuk Dong Hae, entah itu kopi atau hanya sekedar teh atau yang lebih mudah lagi segelas air putih. Ah, benar sekali pemikiran ini menurutnya, maka itu dia melangkah menuju dapur hanya untuk membuatkan secangkir kopi dan mungkin itu akan menemani Dong Hae yang tengah sibuk. Dan mungkin bisa sekalian membenarkan hubungan mereka berdua lagi agar tidak canggung seperti yang baru saja.

“Hm, ku pikir, kau membutuhkan ini?” ucap Hyo Na ragu sekali sambil meletakan cangkir berisi kopi itu di dekat Dong Hae yang sudah mendongak menatap Hyo Na lalu bergantian pada cangkir itu lagi, dia tersenyum kecil.

Hyo Na sedikit menjauh dari tempat Dong Hae lalu dia terlihat membereskan buku pelajarannya yang akan dia bawa di kamarnya saja, belajar di kamar sepertinya lebih baik daripada dia harus bercanggung ria dengan Dong Hae. Ah, walau sebenarnya Hyo Na bukanlah gadis yang seperti itu tetapi mengingat kejadiannya dengan Kyu Hyun dia jadi merasa bersalah pada Dong Hae dan membuatnya menjadi canggung.

Hyo Na baru saja akan beranjak dari tempatnya namun kini dia di panggil Dong Hae untuk mendekatinya, Hyo Na tentu saja menurutinya. Satu langkah, dua langkah, tiga langkah dan entah ke langkah berapa lagi mereka sudah berdekatan. Dong Hae menatap Hyo Na dari tempatnya yang sudah duduk di sampingnya mungkin gadis itu tengah menunggu hal apa yang akan di katakan atau bisa saja di lakukan Dong Hae padanya, sedangkan Dong Hae sendiri hanya duduk di atas karpet hangat dengan meja yang rendah sambil memerhatikan Hyo Na dengan senyumannya.

Satu tangannya terlihat terangkat dan Hyo Na menjadi gugup, tiba-tiba membuatnya menunduk dan mematung saat tangan Dong Hae yang besar itu mengelus rambut sebahu miliknya dengan lembut. Uh, benar-benar sentuhan yang hangat sekali bagi Hyo Na dan dia cukup untuk terbuai dengan merapatkan kedua kelopak matanya sambil tersenyum kecil, “Hm, mimpi indah, Hyonnie!” ucap Dong Hae dan lagi-lagi pria itu mendekati dahi Hyo Na untuk dia kecup singkat.

“Eh?!”

Dan bahkan ketika kedua mata itu sama-sama bertemu di jarak yang bisa di bilang cukup dekat, wajah milik Hyo Na sudah merona hebat karena memperhatikan tatapan sayang Dong Hae yang tulus di sana. Ah, Hyo Na benar-benar bisa merasakan hal itu sampai membuat dirinya benar-benar gugup di hadapan Dong Hae, “Pergilah, ke kamar mu, Hyonnie!”

Berakhir dengan Hyo Na yang tersentak lalu melakukan perintah Dong Hae dengan cepat bahkan Dong Hae saja menjadi terkikik geli mengingat bagaimana wajah merona Hyo Na berada di dekatnya dan salah tingkah Hyo Na yang langsung berlari menuju kamarnya. Dong Hae jadi penasaran juga, apa benar Hyo Na akan mimpi indah malam ini. Dan apa di dalam mimpinya akankah Dong Hae ada di sana juga. Yah, sejauh yang Dong Hae tahu, dia belum tahu jawabannya.

—Teacher and I—

Hyo Na terlihat membuka bekal miliknya dan berniat akan memakannya bersama dengan Jang Mi di mejanya. Mereka berdua awalnya ingin memakannya di taman belakang, namun saat keduanya mendapati langit mendung dan di sertai rintik hujan, niat itu akhirnya batal dan membuat keduanya berdiam di kelas sambil sama-sama menikmati bekal milik mereka.

“Uhm, aku baru sadar?”

“Apa yang kau sadari, Jang Mi-ah?”

Jang Mi terlihat tersenyum kecil lalu memakan isi bekal Hyo Na lagi dan mengunyahnya pelan-pelan dengan wajahnya yang terlihat berpikir keras. Benar-benar membuat Hyo Na keheranan, “Masakan mu sekarang jadi lebih baik! Hm, ini buatan mu, kan?”

Hyo Na salah tingkah mendengar pujian itu dari Jang Mi membuatnya kini harus menunjukan senyum kikuk sambil menatap gelisah Jang Mi, “Ah, mungkin hanya kebetulan saja, Jang Mi-ah! Masakan mu lebih enak daripada milik ku!” kata Hyo Na sambil memuji masakan milik Jang Mi dan tersenyum senatural mungkin.

“Hm, kau ini… hah, ku pikir, yang akan jadi suami mu nanti pastilah sangat beruntung!”

“Uhuhk… uhk..”

Dan Jang Mi menjadi panic ketika mendapati Hyo Na yang tersedak saat memakan makanan miliknya. Gadis bermata bulat itu langsung mengambil botol air mineralnya dan memberikannya pada Hyo Na yang masih terbatuk-batuk karena tersedak, “Ah, makan saja bisa seceroboh ini?” kata Jang Mi tak percaya sambil mengusap punggung Hyo Na dengan lembut.

Hyo Na baru saja selesai meminum air mineral pada botol tersebut lalu dia menetralisirkan nafasnya yang tersengal-sengal karena terbatuk tadi. Jang Mi masih mengelus punggung Hyo Na dengan lembut sambil sesekali memberikannya nasehat, kenapa dia bisa tersedak dan seceroboh tadi. Tak di tangkap Jang Mi jika Hyo Na tersedak karena perkataannya tentang suami. Oh, Hyo Na jadi berpikir langsung tentang Dong Hae yang selalu tersenyum lembut ke arahnya.

“Kau tidak mendengar ku, ya?”

“Eh?! Hm, tidak semuanya!”

Jang Mi kesal juga mendapati tanggapan kalem dari Hyo Na hingga dia memukul dahi Hyo Na tidak begitu keras, Hyo Na sendiri sudah mengadu karena merasakan sakit. Padahal jelas sekali pukulan itu tidak terasa sakit, “Itu balasan karena kau tidak mendengar ku!”

“Aish, Jang Mi-ah, aku minta maaf! Kau ini, tidak bisa ya, tidak memakai kekerasan pada ku?”

Jang Mi nyengir lebar di depannya membuat Hyo Na memajukan bibirnya ke depan lalu terlihat cemberut di sana, “Habisnya kau membuat ku kelepasan sih?”

Hyo Na mendengus sebal mendengarnya lalu matanya terlihat menangkap sosok Dong Hae yang ada di depan kelasnya bersama dengan Kyu Hyun di sampingnya. Gadis itu tiba-tiba saja penasaran membuatnya focus sejenak pada pandangan itu dengan tanda tanya besar. Apa jangan-jangan Kyu Hyun akan di hukum oleh Dong Hae atau jangan-jangan Kyu Hyun terlibat masalah lagi dengannya. Ah, Hyo Na bingung sendiri memikirkannya, “Kenapa, ya?” gumamnya tanpa sadar sendiri.

Jang Mi beralih juga memasang tatapan matanya pada sosok yang di tatapi Hyo Na, “Hm, paling juga Kyu Hyun yang berulah pada Guru Lee,” jelasnya singkat, Hyo Na mendengarnya tertarik hingga dia diam dan menunggu penjelasan lebih jelas dari Jang Mi.

“Aku juga tidak tahu, sejak kapan Kyu Hyun yang anak baru itu jadi sering sekali mencari masalah dengan Guru Lee? Hm, tapi, kau harus tahu, kebolosan mu yang kemarin benar-benar membuat kelas sebelah menjadi ketakutan sendiri,” ungkap Jang Mi membuat suaranya terdengar menjadi mengerihkan, Hyo Na masih bingung juga.

“Memangnya mereka kenapa?”

“Guru Lee seharian jadi memarahi mereka,” Hyo Na terlihat membulatkan matanya tak percaya, Dong Hae benar-benar kesal kemarin ternyata.

“Hm, lagi pula, kemarin Kyu Hyun mengajak mu ke mana?”

“Hanya ke atap sekolah saja. Hm, aku juga tidak mengerti mengapa dia mengajak ku membolos seperti kemarin?”

Jang Mi terlihat memasang wajah berpikirnya lalu dia menatap Hyo Na dalam-dalam yang tengah memasang wajah bingung dan tak terjelaskannya tersebut. “Apa Kyu Hyun menyukai mu, ya?” kata Jang Mi tiba-tiba saja membuat Hyo Na terkejut dan bahkan reflex membekap mulut Jang Mi dengan keras hingga membuat gadis itu kewalahan juga mendapati Hyo Na yang tiba-tiba saja menyerangnya seperti itu.

“Shhtt, bisa pelankan suara mu?” ucap Hyo Na dengan nada khawatirnya lalu dia menatap tajam mata Jang Mi di depannya dan membuat gadis itu jadi mengangguk ketakutan.

Helaan nafas terdengar darinya lalu dia membuka bekapan tangan itu dan menunduk meminta maaf pada Jang Mi. Tiba-tiba saja hal ini membuat Jang Mi menjadi heran, mengapa Hyo Na sampai seterkejut ini dan mengapa dia jadi terlihat sekhawatir ini. Sebenarnya ada apa dengan gadis yang ada di depannya kini, mengapa Hyo Na benar-benar aneh di beberapa minggu dan bulan ini. Benar-benar membuat Jang Mi jadi penasaran dan menyimpan banyak tanya di dalam kepalanya sendiri.

“Kau bisa menjaga rahasia, kan? Han Jang Mi?”

Deg.

Jang Mi mulai gugup mendengar Hyo Na yang memasang wajah seriusnya dan bahkan gadis itu jadi terlihat gugup dan serba salah dengan semuanya. Benar ternyata dugaan Jang Mi yang dia simpan beberapa minggu dan bulan ini, Hyo Na berbeda baik itu sikap dan segalanya. Jang Mi sempat juga ingin bertanya mengapa dengan Hyo Na namun dia ingat tentang betapa penutupnya Hyo Na, dia jadi menekan hasrat ingin bertanyanya karena dia masih percaya, Hyo Na akan cerita walau itu terlambat sekali pun.

“Aku sangat bisa menjaganya! Kita, uhm, kita perpustkaan saja, Hyonnie!”

Dan kedua gadis itu sama-sama bangkit dari tempat duduk mereka, sepertinya siang yang tengah turun hujan itu akan di lalui sangat panjang. Bahkan sepertinya keduanya berniat akan membolos beberapa jam ke depan karena ada banyak hal yang akan mereka dengar dan mereka cerna, apalagi untuk seorang Hyo Na yang akhirnya akan mulai terbuka dengan Jang Mi.

—000—

“Jadi, kau meminta ku menemani mu untuk berkencan bersama teman mu itu?”

Hyo Na mendelik menatap Kyu Hyun yang dengan santainya memainkan benda kesayangannya di tempat dia terduduk di sana. Kyu Hyun bahkan terlihat menganggukan kepalanya kalem tanpa memandang dan bahkan menjawabnya dengan suara, sungguh Hyo Na benar-benar ingin sekali meledak di hadapan pria menyebalkan ini sekarang juga.

“Ck, kau benar-benar berniat sekali menyeret ku ke dalam masalah mu, ya?”

“…”

“Apa ini yang kau kerjakan di sekolah lama mu? Heh, pantas saja kau di pindah di pertengahan semester seperti sekarang?”

Brak.

Tiba-tiba saja benda yang tadinya di pegang Kyu Hyun itu terhempas menjadi keping-kepingan kecil di lantai. Hyo Na terpana juga menatap benda tak berdosa itu di sana, sepertinya bantingan Kyu Hyun itu sangatlah kuat hingga menjatuhkan korban yang tak berdosa sama sekali di sana. Ah, ini juga karena perkataannya yang tidak sopan juga. Pasti karena hal ini yang memancing kemarahan Kyu Hyun.

“Sudah puas kau berbicaranya, heh?”

Hyo Na menegang mendengar perkataan dingin yang ke luar dari mulut Kyu Hyun, pria berambut ikal itu tak sama sekali menatapnya , pria itu juga tidak berekspresi marah sama sekali. Yah, pria itu hanya menatap lurus ke arah benda yang sudah hancur itu, dia memandangnya lurus-lurus dan menyembunyikan tatapannya yang kesepian yang di selipi rasa sakit yang bahkan sudah tak terjelaskan lagi. Kemungkinan jika ada orang yang bisa melihat mata itu langsung pasti akan mengetahui secara jelas bagaimana sakit dan kesepian tersebut, benar-benar menyeramkan.

“K… Kyu Hyun… hm, aku…”

Kyu Hyun mendadak bangkit dari tempatnya terduduk dengan tampang wajahnya yang mulai kosong menatap langsung Hyo Na yang juga sama-sama memadangnya namun gadis itu memandangnya dengan tatapan bersalah dan ketakutannya sekaligus. Keduanya berdiri di sisi yang bisa di bilang lumayan jauh tersebut, diam dan saling memandangi diri mereka masing-masing.

Tak dapat di tangkap Kyu Hyun bahkan Hyo Na terlihat mulai gelisah dengan posisinya berdiri sekarang, dia merasa jika dirinya benar-benar tak aman dan bisa jadi nyawanya akan berakhir tragis seperti benda yang di campakan Kyu Hyun baru saja. Namun di matanya kini tertangkap Kyu Hyun yang bahkan mulai melangkah mendekati dirinya yang mendadak tak bisa bergerak, merasa jika tatapan mata Kyu Hyun benar-benar menahannya agar tak menghindarkan diri darinya. Dan saat sebelum langkah Kyu Hyun benar-benar mendekat, Hyo Na membungkuk dengan tergesa, “Aku… aku minta maaf, Kyu…”

Pluk.

“Eh?!”

Hyo Na mendadak mendongak mendapati tangan Kyu Hyun yang ternyata sudah ada di atas kepalanya, dia menjadi bingung. “Lupakan saja, maafkan aku, Hyonnie. Aku yang salah,” lalu setelahnya Kyu Hyun pergi dari sana meninggalkan Hyo Na yang sudah berdiri memandangi punggung yang berangsur-angsur menjauh.

—Teacher and I—

Bel pulang berbunyi menandakan proses belajar mengajar sudah selesai, jam sore sudah berlaku dan beberapa murid ada yang pulang ke rumah dan ada juga yang tetap tinggal di sekolah. Hyo Na masih duduk di dalam kelasnya, dia masih belum beranjak setelah beberapa menit yang lalu teman-temannya pamit untuk pulang. Dia masih menunggu seseorang untuk menjemputnya, itu adalah alasan jika beberapa temannya bertanya mengapa dia belum pulang.

“Jadi, kau, dengan Guru Lee? Menikah?”

Hyo Na bahkan masih sangat ingat bagaimana ekspresi terkejut Jang Mi saat dia menceritakan semuanya, dari hal yang kecil dan paling kecil. Hyo Na mulai terbuka dengan yang dia sembunyikan pada gadis yang adalah sahabatnya tersebut, Jang Mi yang awalnya ingin memarahinya karena alasan Hyo Na yang tak bisa percaya padanya juga sempat membuat Jang Mi beringas di hadapannya. Namun ketika dia melihat sorot mata Hyo Na yang memang sudah tak bisa menanggungnya sendirian, dia menjadi luluh dan dengan mudah memaafkan sahabat yang di sayanginya tersebut.

“Kau belum pulang, Kyu?” Kyu Hyun terlihat memasuki kelas dan duduk di bangkunya, Hyo Na bahkan sudah bangkit dan akan segera pergi dari sana saat mendapati pesan dari Dong Hae yang sudah menunggunya di depan gerbang.

“Aku kembali lagi ke sini, ada yang aku tinggalkan,” jelas Kyu Hyun sambil mencoba memeriksa laci mejanya, Hyo Na menundukkan kepalanya lalu mendekatinya sambil memberikan Kyu Hyun kepingan benda yang beberapa hari lalu hancur di buat oleh Kyu Hyun sendiri, “Kau, mencari ini, kan? PSP mu?”

Kyu Hyun menatap tangan Hyo Na yang mengambang menampilkan pecahan-pecahan tersebut, lalu dia bergantian menatapi Hyo Na yang terlihat masih ketakutan di sorot matanya yang sayu tersebut. Kyu Hyun dapat membacanya jelas bagaimana sorot mata tersebut, sejak kejadian yang membuat mereka beberapa hari ke depan menjadi saling menjauh dan membuat Hyo Na tanpa sadar merasa bersalah dengan perkataan kasarnya pada Kyu Hyun.

“Hm, bagaimana pun aku salah saat itu, harusnya aku tak berbicara sekasar itu padamu, Kyu,” ucapnya menahan ketakutannya pada Kyu Hyun, pria dengan surai kecoklatan tersebut hanya mematung mendengar bagaimana Hyo Na berkata panjang membahas tentang kelakuannya.

“Aku tak butuh permintaan maafmu, Hyonnie. Hm, karena aku sudah memaafkanmu,” jelas Kyu Hyun membuat gadis itu mendongak menatapnya dengan tatapan berterimakasihnya. “Tapi, aku… aku menyukaimu, Hyonnie,” mata itu sukses membulat sempurna, Kyu Hyun bahkan memberikan tatapan berbeda di sana, meminta di bebaskan dari kesepian lalu membuatnya bahagia.

“Hm… Kyu, aku… aku pikir, kita…”

“Aku sangat tahu, mungkin kau tidak bisa menerimaku secepat ini? Aku bisa menunggumu, Hyonnie,” lalu kaki milik Kyu Hyun terlihat bergerak menjauhi Hyo Na yang mematung mendengar setiap penjelasan Kyu Hyun tersebut.

Di dalam langkahnya pria berambut ikal itu menyimpan perasaan campurnya, tidak tahu apa dia senang setelah memberitahukan perasaannya pada Hyo Na atau menyesal karena memberitahunya dengan cara seperti ini. Ini bukanlah hal biasa yang bisa di lakukan Kyu Hyun, langsung menyatakan perasaannya setelah membuat gadis itu ketakutan selama beberapa hari karenanya. Apa ini benar-benar dirinya sendiri, dia benar-benar kalut dalam pikirannya, tidak tahu apa yang dia lakukan ini benar atau malah sebaliknya.

“Ah, Kyu Hyun-ssi? Kau baru saja ke luar dari kelasmu?”

Kyu Hyun berhenti dari langkahnya memerhatikan Dong Hae yang menatapnya heran sekaligus cemas di saat yang bersamaan. Kyu Hyun menatapnya datar, tak berminat menjawab dari seorang guru yang mengajarnya di kelas, dia benar-benar tak berminat untuk sebab apapun. Tapi, ketika langkah Kyu Hyun mulai menjauh, Dong Hae menahan lengannya keras membuatnya tak bisa menghindar lagi, “Kau benar-benar tidak bisa sopan, ya?” ucap Dong Hae padanya dan Kyu Hyun terlihat berhasil melepaskan genggaman Dong Hae padanya.

Mereka kini terlihat sama-sama melemparkan tatapan tak suka, terlebih pada Dong Hae yang kembali mengingat bagaimana Kyu Hyun membawa Hyo Na lari dengan begitu mudahnya. Ah, mengingat kejadian itu Dong Hae jadi agak kesal juga padanya hingga dia kini mengalihkan pandangannya ke arah mobil miliknya.

“Hyo Na?” gumamnya pelan saat di dapatinya Hyo Na yang baru saja memunculkan dirinya di depan gerbang, Kyu Hyun juga melihat ke arahnya namun tatapan matanya tak sedatar tadi sedangkan Hyo Na sendiri dia harus menahan rasa terkejutnya karena ada dua orang yang sekarang tak ingin dia temui.

“Guru Lee dan Kyu Hyun sedang apa di sini?” mungkin Hyo Na pintar bertanya seperti ini untuk keduanya, Kyu Hyun terlihat menggelengkan kepalanya lalu dia memilih berlalu saja sedangkan Dong Hae terlihat menggedikan kedua bahunya dan berjalan mendekati mobilnya sebelum berbisik, “Aku akan berjalan sedikit jauh lagi, tidak aman jika kau naik di sini,” lalu Hyo Na mengangguk mengerti untuk berjalan lebih jauh dari sekolah.

Dong Hae memasuki mobilnya lalu dia memandang lurus ke arah depan, belum sama sekali menghidupkan mesinnya, dia masih memerhatikan Hyo Na yang berjalan sendirian di sana. Gadis itu terlihat aneh di matanya sekarang, seperti ada hal yang dia tutupi darinya, tetapi Dong Hae tak tahu itu apa. Lama dia berdiam di tempatnya memerhatikan Hyo Na yang terlihat malas-malasan di dalam langkahnya, kemudian saat dia rasa sudah jauh dia pergi menyusul Hyo Na dengan mobil miliknya.

“Cepat naik, Hyonnie!” Hyo Na menoleh ke arahnya dari luar, tatapannya sedikit kosong namun gadis itu memasuki mobil itu dengan patuh.

Hyo Na duduk di samping Dong Hae, dia pasang sea belt untuk keselamatan lalu wajahnya menatap ke jendela di sampingnya, tak berniat berbicara atau menatap Dong Hae yang terlihat menungguinya. Gedikan bahu terlihat dari Dong Hae, pikirnya Hyo Na pasti lelah, namun pria itu tak berbohong jika bagian dirinya juga khawatir di saat yang bersamaan.

“Kau sakit, Hyonnie?” tanyanya terdengar ragu, Hyo Na hanya menggelengkan kepalanya tanpa memerhatikannya.

Hening kemudian mendera keduanya di dalam mobil, Hyo Na masih bungkam memikirkan dengan apa yang baru saja terjadi pada dirinya sendiri, pernyataan cinta Kyu Hyun yang membuatnya bingung sendiri dengan perasaannya. Lalu ada Dong Hae yang tengah khawatir dan takut entah untuk apa, dia masih sangat ingat kalau Kyu Hyun baru saja pulang sama seperti Hyo Na dengannya, pasti mereka ada masalah yang tidak di ketahui Dong Hae. Tapi, apa itu dia tidak tahu dan tak ingin bertanya pada Hyo Na, satu sisi dia merasa tak berhak namun di sisi lain juga dia memiliki haknya.

“Aku ingin tidur, Hae-ah, jika sudah sampai bangunkan aku!” kata Hyo Na terdengar lalu Dong Hae menganggukan pelan kepalanya dan Hyo Na sudah terlihat mencoba menutup kedua kelopak matanya erat.

—000—

“Aku tak tahu jika semua ini adalah permintaan Ayah dari Guru Lee?” Hyo Na menghembuskan nafasnya pelan, Jang Mi sedikit menampilkan wajah tersenyum ibanya.

“Lalu, perasaanmu pada Guru Lee, bagaimana?” tanya Jang Mi pelan pada Hyo Na yang sudah terlihat menggelengkan kepalanya, “Aku… aku tidak tahu tentang perasaanku padanya, tetapi aku tidak ingin menyakitinya, Jang Mi-ah,” dia terlihat terbebani mengatakannya dan Jang Mi mengelus bahu yang ada di dekatnya dengan lembut.

“Hah, seharusnya kau sudah bilang semua ini dari awal pada ku, Hyonnie. Lihatlah sekarang, kan? Ini sudah sangat jauh berjalan bahkan kau tanpa sadar juga menggait Kyu Hyun dalam pesona mu?”

“Aku tidak menggodanya!”

Jang Mi menghembuskan nafasnya pelan, “Aku tahu itu. Tapi, sikap dan perlakuan Kyu Hyun padamu beberapa hari sebelum kejadian di atap itu sudah menjelaskan semuanya, Hyonnie,” Jang Mi menjelaskannya pelan padanya, “Bagaimanapun juga, kau harus menentukan pilihan hatimu! Kau tidak mungkinkan meninggalkan Guru Lee hanya untuk Kyu Hyun? Atau menyakiti Kyu Hyun untuk terus bersama Guru Lee dalam perasaanmu yang tidak jelas ini, kan? Kau harus memutuskannya cepat atau lambat, Hyonnie!”

Hyo Na semakin menenggelamkan kepalanya di atas meja yang menjadi bantalan, dia benar-benar tak habis pikir jika semua ini akan menjadi sangat rumit. Perasaannya benar-benar menyebalkan, mempermainkannya di saat yang bersamaan seperti sekarang ini. Perasaan yang mengaduk-aduknya menjadi adonan yang tidak jelas bagaimana bentuk akhirnya nanti, Hyo Na benci berada di posisi ini. Baginya sudah cukup untuk memperjelas hatinya pada Dong Hae, tetapi mengapa di saat yang seperti ini juga kehadiran Kyu Hyun dalam hidupnya malah membuatnya menjadi amat rumit.

Tak mereka ketahui di belakang sana sosok pria dengan surai ikal baru saja ke luar meninggalkan perpustakaan, pembicaraan kedua orang gadis itu sudah selesai, lalu dia juga sudah mendapatkan apa yang ia ingin dengar dari Hyo Na. Pria itu adalah Kyu Hyun, dia sudah tahu tentang hubungan antara Guru Lee dan Hyo Na, lalu tentang keterlibatan dirinya sendiri di sini. Tak dia pungkiri lagi, sikap jahil dan isengnya pada Hyo Na malah menyeretnya pelan ke dalam permainannya sendiri yang sekarang tak bisa dia lepas.

Ah, dia baru menyadari semuanya, semua tentang apa yang dia rasakan saat menjahili dan bersikap iseng pada Hyo Na dan itu adalah perasaan suka atau cinta. Kyu Hyun merasa jika Tuhan sepertinya kejam karena mulai mempermainkan perasaan hatinya pada seorang gadis yang sudah memiliki seorang suami, Hyo Na.

Dia benar-benar harus menerima semua ini, tak ada yang bisa dia lakukan selain tersakiti lalu menyakiti orang yang lain. Tetapi, inilah yang harus di jalani Kyu Hyun, dia sudah tak dapat lepas dan dia harus bisa menguasai perasaannya sekarang. Ya, perasaannya pada Hyo Na yang sekarang sudah sangat bertumbuh besar sejalan dengan berjalannya waktu yang dia lewati.

.

.

.

.

.

TBC… or DELETE~???

Annyeong yeoreobeun~!!! ^^ kkkk~~~ masih pada ingat ga sama FF ini? Kemarin Rien pernah post di sini prolog sama chapter 1 nya~~ dan, mianhae kalo kelanjutan FF gaje ini kelamaan banget~~~ .___.v

Yah, ini di karenakan factor ide dan file chap 2 yang tiba-tiba ngilang di file gara-gara Rien lupa nama filenya?! Tapi, tenang aja sekarang ini udah di publish kok~! ^^

Uhm, walau sempat mandek juga karena ide cerita awal yang akan Rien buat itu terlupakan begitu saja, tetapi dengan berusaha keras dan membangun mood yang baik jadilah FF ini sudah berada di chap 2~~~ duh, semoga pada suka, ya~!! Dan maaf kalau FF ini masih banyak kekurangannya dan masih banyak typonya~!!! /.\

Oya, Rien mau curhat boleh ga~!? Gini deh curhatnya dan Rien harap kalian bisa baca dan mengerti, karena ini juga bukan buat Rien pribadi aja, tetapi ini untuk buat author-author dan readersdeul sekalian… ^^

Rien ngerasa ga di hargai deh karyanya kalau uda ngepost di blog pribadi, kadang Rien mikir gitu kan… lihat rating di blog pribadi, pengunjungnya lumayan banyak… Cuma yang ga habis pikir kenapa di sana karya Rien ga di hargai sama sekali… ga ada yang komen satupun kalau ada FF Rien yang baru di publish sana, di blog pribadi sendiri udah kayak bukan blog pribadi melainkan blog orang, berbeda banget kalau di sini… di SJFF2010 Rien merasa di hargai karya-karyanya karena setidanya jika readers baca mereka dengan senang hati dan ringan tangan memberikan komentar yang membuat Rien terharu dan selalu berusaha ingin menjadi lebih baik lagi…

Kalian tahu Rien sebenarnya juga bukan orang yang gila dengan komentar-komentar readers, cuma apa salahnya gitu kalau kasih komentar ke Rien di blog sana? Rien itu ga suka maksain orang untuk kasih komentar ke Rien, makanya di setiap awal cerita di bagian atas Rien ga pernah pasang kalimat “DON’T SILENT READERS~!!” karena Rien sadar readers sekarang mah pasti udah pada ngerti dan pinter kalau masalah memberikan sebuah apresiasi untuk setiap karya yang di buat author-author FF atau apapun itu, lagi pula bentuk apresiasi itu bisa berbentuk seperti komentar contohnya atau apapun… pasti readers pintarlah… ^^

Namun kalau melihat kejadian yang Rien alami di blog pribadi Rien, Rien jadi ga ngerti harus bagaimana lagi… kalau Rien terus-terusan diem aja menanggapi banyaknya silent readers satu sisi sakit hati juga… tapi, kalo Rien terus menyinggung silent readers, Rien rasa pasti readers-readers akan terganggu juga, kan? Maka itu Rien bukan maksa untuk kalian berikan komentar atau apapun itu cuma apa salahnya sih hanya untuk memberikan sebuah atau secuil atau sedikit komentar…? ._.?

Jujur aja… namanya di silent readers itu engga enak, di satu sisi udah ga di hargai dan ga di tanggapi, mengapa? Karena kalau terus-terus di silent bagaimana kalian mau lihat perkembangan positif untuk cerita atau si author itu sendiri? Ketahuilah… kalau kalian memberikan satu komentar pasti kalian sudah berpartisipasi untuk mengapresiasikan sebuah karya, entah itu komentarnya positif dan negative pasti si author bakal nerima dengan senang hati… karena author tahu jika readersnya perhatian dan menginginkan menjadi yang lebih baik daripada sebelum-sebelumnya… ^^

Rien juga sadar… selama ini memang FF karya Rien belum begitu bagus, katakanlah ini karya yang masih sangat di bawah standar, cuma apa salah kalau di beri komentar-komentar yang positive dan negative? Duh, coba tanya  dan jawab pada diri sendiri ya… Rien tahu, kalian pasti pada ngertilah… karena Rien sadar, “Readers sekarang udah pada pinter-pinter kok!” ^^

Ah, kepanjangan ya curhatnya? Kkkk~ >^< mianhae neee~~~ kata-kata di atas hanya untuk siders FF Rien yang di blog pribadi kok~ kalo di sini mah Rien seneng~!!! Di sini FF Rien selalu di tanggapi oleh readers-readersnya~ ^^ dan Rien benar-benar sangat berterimakasih pada readersdeul yang udah dengan senang hati memberikan komentarnya~!!! Kalian tahu, kalian benar-benar perhatian pada Rien~!!! ^^

Ah, karena sudah terlalu panjang… Rien pamit deh~!!! Sampai ketemu di FF Rien lainnya, ya~!!! Ah, iya… jangan lupa main-main ke blog pribadi Rien yah~!!! *lihat alamatnya di atas judul~!!!* ppaiii~~ ppaaaiiiii~~~

5 Comments (+add yours?)

  1. v.febryFebry
    Jul 19, 2015 @ 15:44:10

    makin penasaran ceritanyaaa ^^.. lanjutannya jangan kelamaan yaaa.. ditunggu fighting o^^o

    Reply

  2. chatarina
    Jul 20, 2015 @ 15:23:23

    TBC dong…. ini cerita nya bagus banget… aku suka. Penasaran sama pilihan nya si hyona antara donghae atau kyuhyun.. aku sih pengen nya donghae sana hyona. Happy ending plis…..

    Reply

  3. Mauleeda65
    Jul 22, 2015 @ 10:50:26

    Ff nya bagus thor suka deh, dan saya penasaran sama kelanjutannya lanjut yah thor🙂

    Reply

  4. i'm2IP
    Jul 22, 2015 @ 20:06:00

    Waahh.. thor maaf aku baru baca ff nya n baru komen juga.. hiks.. mianhae thor.. aku lagi nyari ff tentang guru dan murid n gak sengaja ketemu nih ff.. pas liat ff nya dah nyampe chapter 2 karna penasaran aku baca trus tanpa ninggalin komentar.. tapi aku bacanya langsung hari ini juga.. setelah komen ini aku akan komen chapter yg lainnya.. tapi lanjut ya thor!!! Aku suka ff nya. Makin penasaran nih.. ff nya bagus thor.. mesko gak di komen sekali pun tapi author harus percaya tetep ada yg baca ff auhor kok n diem2 tertarik juga sama ff nya.. lanjut.. lanjut.. lanjutt😀.. sumpah ff nya daebak kok.. hihihihi Xp.. good job^^

    Reply

  5. Roro Dero
    Jul 24, 2015 @ 11:58:39

    kasian kyu pasti dia kitati tuh abis dengerin hyo na sm jang mi

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: