Why?

Why?

Author : Rien Rainy (@Riechanie_ELF / Riechanie Elf)

Cast :

  • Cho Kyu Hyun Super Junior as Cho Kyu Hyun
  • Cho Hyo Na (OC)

Rated : T

Genre : hurt, romance

Length : oneshoot

Author note : “Jangan lupa main-main ke http://riechanieelf.wordpress.com/ ~!!! ^o^”

HAPPY READING~!

ENJOY~!

DON’T BASH AND PLAGIAT~!

Don’t like don’t read~!

—Why?—

“Saat kau bertanya tentang apa-apa yang tak kau mengerti dari setiap perlakuan seseorang padamu. Kenapa seperti ini? Kenapa seperti itu? Dan berakhir dengan tanya, Kenapa kau mencintaiku?”

—Why?—

“Aku menyukaimu, Hyo Na.”

Gadis dengan syal rajutan berwarna biru muda yang melilit lehernya tersebut mendongak menatap tak percaya pada sosok pria berambut ikal yang juga menatapnya dalam-dalam. Pria berambut ikal itu juga berusaha tersenyum kecil di wajah tampannya, seperti tengah meyakinkan apa yang dia katakan adalah sebuah kebenaran. Dan sungguh kebenaran yang baru terungkap inilah yang membuat si gadis menjadi bertanya-tanya juga merasa jika perasaan ini adalah sebuah kesalahan terbesar yang pernah dia dengar dalam hidupnya.

“Tidak, kau tidak menyukaiku, Kyu! Kau memiliki In Hee sekarang!”

“Hyonnie…”

“Cukup! Kau kira ini lelucon, eh? Berhenti berbicara yang aneh-aneh tentang perasaanmu itu!”

Lalu gadis dengan syal rajutan berwarna biru muda itu meninggalkan tempatnya, membiarkan sosok Kyu Hyun—pria berambut ikal—tersebut berdiri mematung tanpa bisa mengejar untuk sekedar menghentikan pergerakan Hyo Na—gadis bersyal—menjauh darinya. Benar-benar bukan menjauh biasa, kali ini dugaan Kyu Hyun pasti Hyo Na akan menjauhi dirinya selama-lamanya.

“Maafkan aku, Hyonnie…”

—000—

Kedua orang itu tidak pernah sekalipun akrab di dalam kelas, bertegur sapa pun sangat jarang apalagi sampai tersenyum ke arah masing-masing. Hal yang benar-benar jarang sekali terlihat, namun apa yang bisa di katakan sekarang ini. Kedua orang yang memiliki marga yang sama tersebut tengah duduk berdekatan sambil bercerita kecil di sana, terlihat mengabaikan berapa pasang mata yang melihat ke arah keduanya dengan tanya atau praduga yang tak pernah beralasan sama sekali.

“Baru kali ini aku melihat mereka bersama?”

“Aku baru sadar jika mereka benar-benar dekat?”

“Menurutku lebih tepat jika di katakan mereka tengah menjalin kasih.”

Banyak sekali bisikan kecil yang tak sama sekali terdengar dari dua orang yang tengah sibuk dengan kegiatan mereka itu, Kyu Hyun dengan Hyo Na di kursi yang lain dan bahkan mereka seperti menjauhi keramaian. Entah apa hal ini menarik perhatian di setiap siswa yang ada di dalam kelas untuk melirik atau sekedar tersenyum sambil bergumam memuji kedekatan mereka.

“Aku tidak mengerti sama sekali, Kyu? Bisa kau ulangi lagi?” Hyo Na mendongak masih dengan pulpen yang menekan sudut bibirnya, Kyu Hyun terlihat menghela nafas namun dia mengangguk sanggup untuk mengulanginya lagi.

Kyu Hyun bahkan dengan suara lembut berulang kali mencoba mengulang apa yang dia jelaskan. Keduanya tengah membahas sebuah pelajaran yang tentunya tak sama sekali di mengerti oleh gadis bernama Hyo Na itu. Bahkan sesekali juga dapat di lihat jika keduanya sama-sama tersenyum atau melempar canda seperti seorang sahabat atau teman yang sudah kenal sangat lama. Ini benar-benar pemandangan aneh untuk keduanya yang sudah beberapa minggu ini terlihat sangat dekat.

“Gampang, kan? Lihat, kau bisa mengerjakannya, Hyonnie!”

“Hm, tidak juga. Ini juga berkat bantuanmu. Terimakasih, Kyu!”

Lalu lagi senyuman dari kedua wajah itu sama-sama muncul, Hyo Na terlihat menyalin apa yang di tulisnya pada catatan dengan rapih sedangkan Kyu Hyun memerhatikan dia yang menulis sambil mengoreksi jika dia ada salah menulis. Tak jarang mereka terlihat seperti berbisik-bisik atau sekedar tertawa-tawa kecil entah karena apa, tentu karena semua hal yang ada pada mereka sekarang hanya mereka saja yang mengetahuinya.

—000—

Hyo Na terlihat berlatih dialognya dengan seorang temannya, Han Jang Mi. Kedua gadis itu sangat serius berlatih di sudut ruangan, sengaja sekali agar tak banyak orang-orang yang iseng menganggu mereka yang tengah mencoba dialog mereka. Namun, baru saja Jang Mi mulai mencoba memeragakan beberapa adegan yang di perintahkan naskah matanya yang bulat menangkap sosok ganjil memasuki klub teater, “Kyu?”

Dan Hyo Na juga mengalihkan perhatiannya pada pintu klub yang terbuka sedikit sehingga sosok Kyu Hyun terlihat di ambang pintu dengan senyuman canggungnya membalas tatapan kedua gadis itu. Jang Mi bergerak lebih cepat menghampiri pria itu, lalu Hyo Na menyusulnya di belakang dengan tanya besar di kepalanya.

“Aku hanya berkunjung, lagi pula hari ini aku tidak ada kegiatan sama sekali. Boleh, kan?”

“Tentu saja, Kyu! Mari masuk!” Jang Mi menarik lengan pria itu, Hyo Na masih diam saja namun mengikuti keduanya masuk lebih dalam lagi.

Sesekali terdengar Kyu Hyun bertanya mengenai klub teater, tentang jam latihan, tentang materi latihan, lalu tentang naskah-naskah dan cukup banyak pertanyaan yang dia lontarkan pada Jang Mi yang dengan senang hati menjelaskannya. Hyo Na sedikit melirik keanehan itu pada Kyu Hyun, “Banyak sekali pertanyaanmu? Uhm, seperti kau mau bergabung saja?”

Kyu Hyun menyeringai di pertanyaan Hyo Na, “Memang aku mau bergabung! Mi-ah, bisakah kau antar aku untuk menemui pelatih?”

Jang Mi sedikit terkejut begitu juga dengan Hyo Na yang mengambil alih dalam percakapan, dia bahkan juga sempat menyingkirkan tubuh Jang Mi menjauh dari Kyu Hyun, berusaha menghentikan keanehan Kyu Hyun. “Kau sedang sakit, Kyu? Bukannya…”

“Aku hanya penasaran saja!” potongnya cepat lalu dia mulai menyuruh Jang Mi untuk membawanya ke hadapan pelatih.

Hyo Na terdiam di tempatnya dengan pandangan matanya yang menatap kedua punggung temannya yang berangsur menjauh. Terlebih pada punggung lebar Kyu Hyun, ada apa dengan pria yang menggilai game dan tidak terlalu suka dengan seni teater yang  sepertinya terkena sambaran petir hingga menginginkan bergabung dengan klub teater. Tiba-tiba saja, Hyo Na merasa Kyu Hyun tengah menjahilinya, namun untuk apa pria itu menjahilinya dengan ikut bergabung ke dalam klub teater. Ini jadi terlihat konyol untuk Hyo Na.

“Wah, Kyu juga ikut klub ini, ya, Hyonnie?” pertanyaan langsung membuyarkan pemikiran Hyo Na kini di sampingnya sudah berdiri kakak kelasnya, Jung Mi Ra. “Iya, Mi Ra eonni, dia terlihat aneh jika mengikuti klub teater,” jawab dan jelas Hyo Na sekalian Mi Ra yang mendengarnya tersenyum kecil sambil mengacak helaian rambut adik kelasnya, “Kalau dia ingin bergabung apanya yang terlihat aneh. Kupikir juga, Kyu Hyun itu memiliki bakat terpendamnya selain di klub bernyanyi.”

Hyo Na diam saja mendengar pendapat Mi Ra tentang apa yang di miliki Kyu Hyun, di kejauhan bahkan sang pelatih sudah tertawa pada pria berambut ikal itu dan sepertinya Kyu Hyun sudah berhasil meyakinkan pelatih untuk bergabung ke dalam klub teater. “Lihat, kan? Dia pandai sekali mengambil hati pelatih?” Mi Ra menambahkan kata-katanya lalu menepuk bahu Hyo Na lembut dan berlalu dari sana menyusul sosok Kyu Hyun dan pelatih mungkin ingin ikut bercerita di sana.

Hyo Na lalu terlihat tersenyum kecil lalu dia memilih duduk kembali di tempatnya berdiri dengan naskah yang akan di bacanya, dia mencoba mengulangi apa yang baru di pelajarinya bersama Jang Mi. Kyu Hyun yang dari kejauhan yang terlihat tertawa kini menatapi Hyo Na yang tengah fokus membaca, pelan-pelan juga dia ikut tersenyum menatapi gadis itu dari kejauhan.

“Aku hanya penasaran apa yang di lakukan gadis itu di sini, alasanku itu,” gumam Kyu Hyun pelan sekali dan dia kembali pada percakapaannya.

—000—

Berdiri di samping kelas dengan wajah tertunduk, menyesal dengan apa yang di perbuat adalah salah satu jawaban yang bisa di dapatkan dari sosok Hyo Na yang mempertahankan wajah tangisnya. Biar bagaimanapun juga dia tak ingin menangis di lorong ini sendirian apalagi mengetahui jika itu adalah murni dari kelalaiannya. Ah, dia benar-benar tak habis pikir jika dirinya benar-benar sepelupa ini, buku catatannya tertinggal dan itu membuatnya tak bisa ikut dalam ulangan kali ini, karena jelas saja sang guru benar-benar merepotkannya karena akan memeriksa catatan milik seluruh siswa.

Brak.

“Eh, Kyu?” lirihnya kecil saat mendengar pintu kelas itu tertutup kembali lalu menampilkan sosok Kyu Hyun yang sudah menutup rapat pintu itu, berdiri di samping Hyo Na dengan wajah datarnya.

“Kenapa kau di luar, eh?” tanya Hyo Na pelan lalu Kyu Hyun terlihat menggaruk tengkuk lehernya yang tak gatal, “Catatanku tak lengkap, Hyonnie,” jelasnya dan itu membuat Hyo Na mendelik tak mengerti ke arahnya. “Ck, apa-apaan Guru Kim? Kau, kan, murid pintar di kelas, kenapa dia seenaknya mengeluarkanmu, eh?” Hyo Na terdengar kesal sendiri dan hal itu tentu saja membuat Kyu Hyun tertawa kecil, “Bagaimana denganmu? Kau juga…”

“Aku tidak pintar sepertimu, Kyu. Setidaknya kau bisa mengambil hati para guru, lalu aku…”

Pluk.

Tangan itu menyentuh kepala Hyo Na atau lebih tepatnya di letakan begitu saja di helaian rambut tipis milik Hyo Na, tak bergerak sama sekali. Seperti menghentikan setiap kata yang akan keluar dari bibir Hyo Na tentang dirinya yang jauh darinya. Masalah kepintaran lalu tentang terkenalnya dia di kalangan banyak guru, berbanding terbalik dengan Hyo Na yang tidak begitu di kenal pintar di kalangan guru dan sepopuler Kyu Hyun. Lalu Kyu Hyun sedikit tertawa lalu kemudian dia mulai mengusap helaian rambut itu lembut, tak tahu dia kalau Hyo Na tengah tak mengerti dengan segala sikapnya itu.

“Kyu…”

“Kau ini, berhenti berbicara seperti itu! Uhm, begini saja, anggaplah aku tengah menemanimu yang terkena hukuman saat ini, bagaimana?”

Hyo Na mendongak dengan tangan Kyu Hyun yang masih ada di atas kepalanya, mata sayu itu melihat langsung bagaimana kelam hitam Kyu Hyun yang berusaha menghiburnya. Kyu Hyun memang bukanlah seorang teman yang baik untuk Hyo Na mengingat bagaimana sikap jahil Kyu Hyun selama berteman dengannya, namun inilah yang membuat Hyo Na selalu berpikir jika dirinya benar-benar tergantung pada Kyu Hyun.

Pria dengan julukan Evil yang di berikannya itu selalu saja bersikap layaknya seorang malaikat, diam-diam membantunya lalu diam-diam memberinya perhatian. Hyo Na juga bukanlah sosok yang peka terhadap apapun, namun dengan Kyu Hyun dia memang selalu merasakan setiap perlakuan berbeda Kyu Hyun. Tetapi di sinilah letak di mana Kyu Hyun itu tak lebih dari seorang teman yang jahil padanya, Kyu Hyun benar-benar sangat baik padanya walau dengan sikap jahilnya, Kyu Hyun itu selalu memberikan perhatian di setiap tindakan jahilnya, benar-benar aneh tetapi dia adalah pribadi yang baik.

“Heh?! Kenapa kau jadi menangis seperti ini, Hyonnie,” Kyu Hyun terdengar panik lalu Hyo Na juga buru-buru mengusak air mata yang tiba-tiba saja turun itu, “Hiks, kau yang membuatku seperti ini! Hiks, Kyu…” sedikit terpana dengan apa yang di katakan Hyo Na, Kyu Hyun tanpa sadar tersenyum lalu dia kembali mengusak helaian rambut itu sambil berujar lembut, “Berhentilah menangis, Hyonnie! Aku tidak menyukainya!”

Kau tahu, saat ini hanya lorong sepi dengan dinding-dinding bisulah yang menjadi saksi bagaimana sikap lembut Kyu Hyun terhadap Hyo Na, lalu sikap lemah Hyo Na yang memang keluar hanya di hadapan Kyu Hyun. Ah, iya, Hyo Na hanya sanggup menunjukkan air matanya di depan Kyu Hyun yang jelas-jelas sangat tak menyukai air matanya. Itulah yang harus aku beri tahukan pada kalian. Kyu Hyun tak jelas apalagi pada Hyo Na yang tak peka itu, segala perlakuan dan tindakannya adalah bertujuan untuk sebuah senyuman manis dari Hyo Na yang selalu saja diam-diam di kaguminya.

—000—

Peran sudah di dapatkan masing-masing orang lalu naskah juga sudah di baca oleh mereka. Hyo Na terlihat mengasingkan dirinya, dia memilih menyudut dengan naskah yang ada pada tangannya lalu membaca setiap kata di sana dengan tenang. Dia ingin berlatih sendirian dengan naskahnya namun sepertinya niat awalnya tak berjalan dengan baik. Karena tak jauh dari sana, sosok kakak kelas pria dengan surai brunette menghampirinya. Bahkan memberikan senyuman ke arahnya ramah, mengajak berkenalan atau mengakrabkan diri satu sama lain.

“Oh, Hae sunbae?” kata Hyo Na sambil sedikit membungkukan tubuhnya lalu dia lihat pria yang bernama lengkap Lee Dong Hae itu ambil duduk di dekat Hyo Na.

“Ini pertama kalinya kita di pasangkan di teater,” mulainya terus terang lalu Hyo Na terlihat mengangguk paham dengan senyuman manisnya. “Kita juga belum begitu kenal dekat, Hae sunbae?” kata Hyo Na melepas sikap canggungnya lalu Dong Hae terlihat tertawa kecil sambil menganggukkan kepalanya. “Hm, kalau begitu berhentilah memanggilku dengan sebutan sunbae, Hyo? Uhm, Hyonnie, bagaimana?”

Hyo Na menganggukkan kepalanya, “Wah, sangat lancar! Uhm, sebentar! Hae oppa? Oppa?” lalu keduanya terlihat terlarut dalam perbincangan kecil tersebut meninggalkan seseorang yang jauh dari mereka yang tengah menatap tak suka bahkan sosok itu meremas naskahnya sendiri tanpa sadar.

“Kyu-ssi, fokuslah pada naskah mu!” tegur seorang kakak kelas dan membuat Kyu Hyun kini menganggukkan kepalanya dengan lemas dan membaca dialognya.

Dia tinggalkan sejenak pemandangan beberapa menit yang lalu, Dong Hae dan Hyo Na. Kedua orang yang setahu Kyu Hyun tak pernah akrab di klub dan hanya terlihat bertegur sapa dengan memanggil sapaan formal itu kini sudah terlihat sangat akrab. Terlebih dengan peran yang mereka dapatkan di dalam teater yang mengusung judul dari sebuah dongeng yang tentu saja sudah sangat terkenal, Snow White.

Pelatih berpendapat jika Hyo Na cocok karena rambutnya yang hanya sebatas bahu itu membuatnya tak repot harus memangkas rambutnya dan lagi pula beberapa anggota lain juga tidak setuju jika mereka harus memotong pendek rambutnya. Dan juga, di dukung oleh prestasi Hyo Na selama ini, jadilah dirinya yang di tunjuk tanpa pertimbangan panjang.

Lalu bagaimana dengan Dong Hae. Dong Hae sendiri adalah kakak kelas yang juga sama berbakatnya seperti Hyo Na, di dukung wajahnya yang tampan dan predikat pria romantis yang di sematkan padanya karena pernah berperan seperti itu di salah satu teater, jadilah Dong Hae yang di pilih tanpa meminta persetujuan siapapun.

Dan lalu inilah yang membuat tiba-tiba saja Kyu Hyun menjadi super kesal saat tahu Dong Hae lah yang di tunjuk, tersebarnya rumor aneh hubungan Dong Hae dengan Hyo Na yang tak masuk akal. Mereka sepasang kekasih sungguhan. Oh, demi apapun Kyu Hyun yang mendengarnya saja hanya menyeringai kecil menatap Dong Hae dengan kesal dan bahkan sangat tajam, “Benar-benar memuakan!”

Dong Hae bahkan kini sudah terlihat berdialog bersama Hyo Na dan tentu saja rumor yang tidak ada sumber kebenarannya itu semakin ramai terdengar di telinganya, benar-benar menganggunya untuk entah yang ke berapa kali.

“Kau kenapa, Kyu?” tanya Jang Mi khawatir saat di dapatinya Kyu Hyun yang berulang kali menggeram tak jelas. “Hanya sedang kesal saja,” ucapnya jujur lalu dia menyibukan dirinya dengan naskah, Jang Mi mencoba mencuri pandang sebelumnya dengan apa yang di lihat Kyu Hyun lalu saat dia tahu apa yang membuat Kyu Hyun kesal, Jang Mi pun tertawa kecil.

“Dia benar-benar pencemburu ternyata?”

—000—

“Berhentilah menjahiliku, Hyonnie!”

“Tidak, ini balasan karena kau menjahiliku kemarin!”

Dan Hyo Na terus-menerus menarik ujung buku yang di baca Kyu Hyun sekarang. Keduanya berada di perpustakaan, tempat yang sungguh jarang sekali di kunjung untuk orang seukuran Kyu Hyun mengingat dirinya yang sudah tak perlu lagi membaca karena dia sudah cukup pintar. Dan berbanding terbalik untuk Hyo Na yang selalu berada di perpustakaan jika waktu senggang seperti sekarang ini, “Kau mengangguku membaca!”

Hyo Na memajukan bibirnya ke depan, dia tak suka kegiatan menyenangkannya tersebut di hentikan seperti itu. Kyu Hyun sudah sukses menghentikannya dengan menjentikan jarinya pada kening Hyo Na, “Sakit tahu!”

Dan Kyu Hyun hanya tertawa kecil saja tak memerhatikan jika Hyo Na semakin cemberut di sana. Benar-benar Hyo Na kekanakan. Lama Kyu Hyun tak memerhatikannya membuatnya bosan dan memilih untuk berjalan menelusuri rak-rak buku dan mencari novel yang akan di bacanya, lupa aku beri tahu jika Hyo Na ke perpustakaan akan lebih sering membaca novelnya daripada buku pelajaran.

Dia terus menelusuri rak tersebut sambil membaca sampul-sampul yang menunjukan setiap judul novel, belum ada yang membuatnya tertarik untuk di baca. Namun ketika dia melihat ke rak bagian atas barulah matanya yang sayu itu menangkap sebuah judul yang membuat perhatiannya tertarik. Hyo Na sedikit menggapainya di sana dengan tangan namun tak berhasil, setelah tahu jika dirinya lebih rendah daripada rak kini membuatnya mencari bangku kecil yang berguna sebagai pijakan di perpustakaan.

“Di mana bangku itu, eh?” Hyo Na bertanya sendiri sambil berjongkok memerhatikan jika saja bangku itu masuk di bawah rak sekitarnya lalu dia pandang lagi rak tinggi tempat novel itu berada dari posisi jongkoknya, “Ah, novelnya hilang!” dan pekikan terkejutnya pun ke luar saat tak di dapatinya lagi novel itu.

Pluk.

“Auw, sakit!” keluh Hyo Na saat sebuah buku menimpuk kepalanya dari atas dan kini di dapatinyalah novel yang di incarnya sudah ada di lantai.

“Apa itu sakit, Hyonnie?”

“Oh, oppa!”

Kyu Hyun sedikit tersentak ketika mendengar jeritan Hyo Na membuatnya langsung menyusul Hyo Na di rak yang tak jauh dari tempatnya. Namun apa yang di dapatinya ketika dia sampai di sana, Hyo Na sudah berdiam diri saja saat Dong Hae mengelus bekas tempat buku itu mendarat di kepalanya. “Oh…” terdengar gumaman pelan Kyu Hyun mengantarkannya ke pada sebuah realita bahwa mereka berdua terlihat sangat dekat sekali.

“Kyu-ssi? Hm, kau di sini juga, ya?” lalu terdengar Dong Hae yang berbasa-basi dan Hyo Na yang sudah tersenyum, “Dia yang menemaniku, oppa,” jawab Hyo Na sambil melirik ke arah Dong Hae lalu tersenyum kecil dan di mata Kyu Hyun sekarang terlihat senyuman itu sedikit memuakan karena tentu saja senyuman itu bukan untuknya melainkan untuk Dong Hae.

“Aku ingin kembali saja, ya?” katanya tiba-tiba membuat Hyo Na menatapnya bingung bahkan Dong Hae juga sama. Hyo Na terlihat pamit pada Dong Hae saat di dapatinya Kyu Hyun sudah berjalan menjauh, gadis itu berniat sekali mengejar Kyu Hyun hingga sampai di depan pintu dan berhasil menarik lengan Kyu Hyun dengan kuat.

“Apa?” Kyu Hyun bertanya padanya yang kini menunjukan wajah ke heranan, “Seharusnya aku yang bertanya seperti itu, Kyu! Kenapa?” Hyo Na sedikit memutar matanya terlihat jengah mendapati sikap Kyu Hyun yang mendatar itu, benar-benar membuatnya tak tertarik sama sekali dan bertanya-tanya kenapa sikap Kyu Hyun begitu aneh.

“Aku tidak apa-apa, Hyonnie, lanjutkan saja bacamu sana! Aku ingin ke kelas saja!” Kyu Hyun sedikit memberikan penjelasan padanya lalu melepas genggaman Hyo Na pada lengannya dan memilih berlalu ke kelas seperti yang dia katakan.

Hyo Na tak bisa mengejar sama sekali dia memilih merengut kecil saja lalu memandangi punggung Kyu Hyun yang menjauh darinya. Dia sedikit menyimpan tanya apa yang terjadi pada Kyu Hyun namun di balik sisi hatinya dia juga bisa menjawab dengan apa yang terjadi. Tapi, apa mungkin benar dugaannya selama ini terhadap Kyu Hyun tetapi bagaimana dia akan bertanya seperti itu, dia terlalu takut untuk bertanya.

“Kenapa berdiam di sini, Hyonnie?” tanya seorang Jang Mi yang kebetulan melewatinya lalu Hyo Na hanya tersenyum kecil sambil mengangkat novel di tangannya, “Tadinya aku membaca di dalam, lalu…”

“Apa kau mengejar Kyu, ya?” potong Jang Mi tiba-tiba saja membuat Hyo Na menganggukan kepalanya kecil lalu sedikit tersenyum di wajahnya yang kebingungan. “Hm, nanti biar aku tanyakan padanya! Kau membaca saja lagi di dalam!”

Dan Hyo Na menuruti kata-kata itu, Jang Mi sedikit melihat tempat berdiri Hyo Na yang mengarah ke lorong menampakan kelas-kelas berbaris di depan sana. Lalu hembusan nafas terdengar dari Jang Mi, “Sampai kapan dia menyembunyikannya pada Hyonnie?” gumam Jang Mi lalu memilih menyusul Kyu Hyun ke kelas.

—000—

“Hyo eonni?” Hyo Na yang tengah beristirahat mendongakan kepalanya menatap sang adik kelas dengan bandana putih yang tersemat di helaian rambut hitam panjangnya itu, dia tersenyum ramah dan menyuruhnya duduk di hadapannya. “Ada apa, In Hee?”

Kang In Hee nama adik kelas yang Hyo Na kenal itu terlihat tersenyum malu di hadapannya, tangannya bahkan meremas ujung baju training yang di kenakannya membuat Hyo Na menggelengkan kepalanya lalu lagi-lagi dia memberikannya tersenyum. “Cerita saja padaku! Hm, apa tentang kakak kelas yang kau sukai itu, ya?”

In Hee mendongakan kepalanya lalu dia melihat langsung ke dalam mata Hyo Na yang sayu itu, tulus sekali tatapannya. In Hee menjadi kembali ragu dan bahkan mengakui semuanya pada Hyo Na, satu sisi hatinya tak ingin menyakiti seorang kakak kelas yang sudah dianggapnya sebagai kakak kandung sendiri. “Uhm, eonni… apa… tidak apa-apa jika aku memberi tahukan namanya padamu?”

Hyo Na menggelengkan kepalanya pelan lalu tersenyum lembut, “Uhm, tapi, aku takut akan menyakitimu. Kau sudah aku anggap sebagai kakak ku, lalu bagaimana bisa aku menyakiti kakak ku sendiri?” In Hee berucap panjang lagi dan Hyo Na kini sudah tertawa lebar sambil mengacak rambut In Hee dengan gemas, “Kekanakan! Ceritakan padaku! Bagaimana bisa kau menyakiti ku kalau aku saja belum tahu apa-apa?”

Lalu In Hee terlihat merona menahan malu karena dia rasa benar apa yang di katakan Hyo Na padanya. Konyol sekali jika belum bercerita dia sudah menyakiti Hyo Na, In Hee benar-benar merasa dirinya konyol sekarang. “Hm, lagipula kau sudah janji pada ku, kan?” tambahan Hyo Na sambil tersenyum lalu In Hee menganggukan kepalanya kecil.

“Jadi, siapa orang yang beruntung itu?”

“Uhm, dia… dia…” ragu sekali In Hee berucap membuat Hyo Na gemas hingga mencubit kedua pipinya, “Perlahan saja tidak usah seperti itu, lagipula orang itu belum tentu mendengarnya, kan?” Hyo Na berucap menenangkan sambil tertawa kecil dan In Hee membuang pandangannya ke arah lain karena malu dengan ucapan Hyo Na yang sepertinya menyudutkan perasaannya. “Dia… Kyu sunbae, eonni,” akunya pelan sekali dan bersyukur Hyo Na mendengarnya.

Kyu Hyun duduk dengan yang lain sambil bercerita-cerita dan membahas tentang dialognya dan mereka. Asyik bercerita itu tak membuat pandangan matanya bisa fokus pada teman-temannya saja, faktanya mata kelam milik Kyu Hyun jatuh tepat pada Hyo Na dengan seorang gadis berbandana putih yang tengah tersenyum dan berdiam diri di kejauhan. Namun bukan itu yang membuatnya menjadi tertarik, hal lain justru ada di wajah Hyo Na yang berekspresi lain.

“Kyu Hyun?” ulang Hyo Na sambil tersenyum kecil seperti menggoda In Hee.

Eonni marah pada ku? Kau… hm, kau kan sedang…” Hyo Na langsung menggelengkan kepalanya memotong lanjutan kalimat yang akan ke luar dari bibir In Hee. “Tidak ada hubungan apapun, percayalah pada ku!” dan Hyo Na berucap dengan di iringi senyuman berbeda di wajahnya.

Bukan sebuah kesalahan yang di dengar Hyo Na dengan sebuah perasaan yang ada pada In Hee pada Kyu Hyun. Justru itu sangat bagus untuk dirinya lalu bagus sekali untuk Kyu Hyun sendiri dan In Hee. Satu sisi dia ingin sekali lepas dari belenggu setiap rumor miring dirinya, dia bukanlah gadis yang tidak tahu apa-apa. Dia sungguh tahu dengan apa yang terjadi pada dirinya, tentang rumor dia dan Dong Hae lalu yang terakhir adalah dirinya dengan Kyu Hyun.

Tetapi, hal ini menjadi berbeda sekali. Hyo Na tahu apa yang di rasakan Dong Hae padanya, perasaan Dong Hae hanya tulus sebagai perhatian terhadap adik. Namun hal lain yang dapat di rasakan Hyo Na pada Kyu Hyun adalah perasaan cinta. Hyo Na cukup tahu tiap-tiap perlakuan Kyu Hyun padanya dan beberapa alasan yang terjelaskan selama dia berdekatan dengan Dong Hae. Kyu Hyun yang cemburu, bersikap selalu melindunginya diam-diam dan tanpa sepengetahuan Hyo Na. Hyo Na tahu semuanya, karena ada sosok malaikat yang selalu memberitahukannya, Han Jang Mi, seorang sahabatnya.

“Kejarlah dia kalau begitu, In Hee!”

In Hee menatap Hyo Na dengan tatapan tak percaya apalagi dengan senyuman khas Hyo Na yang lembut dan manis padanya. Benar-benar Hyo Na terlihat seperti bukan Hyo Na pada biasanya, In Hee satu sisi bahagia dan satu sisi merasakan jika Hyo Na tengah menutupi bagian lain pada dirinya sendiri.

“Kalian sedang apa berdua di sini?” si tokoh utama dalam perbincangan kecil itu datang menghampiri, Kyu Hyun.

In Hee dengan sikap canggungnya membungkuk sopan lalu menggeser duduknya, memberi tempat untuk Kyu Hyun. Namun Hyo Na tersenyum dan mulai bangkit dari sana sambil memerhatikan arloji yang melingkari tangannya, “Aku tinggal sebentar bisa? Aku harus kembali latihan bersama Hae oppa,” pamitnya terburu-buru dan meninggalkan dua orang itu.

Kyu Hyun heran apalagi dengan In Hee yang tak berhasil mengeluarkan suara apapun padanya. “Kenapa dengan Hyonnie?” Kyu Hyun tiba-tiba bertanya padanya membuat In Hee berjengkit kaget, “Tidak ada, sunbae,” lalu Kyu Hyun mengangguk mendengar penjelasan itu. “Ah, In Hee-ah, berhentilah memanggil ku dengan sebutan sunbae kau bisa memanggil ku dengan sebutan oppa, lagi pula kita sudah lumayan lama di klub ini!” kata Kyu Hyun tiba-tiba saja dan In Hee memerah mendengarnya.

“Oh… hm, baiklah!” Kyu Hyun tersenyum sekilas ke arahnya lalu memilih meninggalkan In Hee di sana yang memandanginya dengan senyuman manis, “Terimakasih, eonni!”

—Why?—

Hyo Na baru saja memasuki kamar miliknya dengan wajah bingung, di dalam sana sudah ada Jang Mi yang terduduk dengan wajah tanya. Lama dia berdiri dan berdiam di sana membuat Jang Mi tak sabar juga, “Jangan berdiam terus dengan wajah bodoh mu! Cepat ceritakan apa yang terjadi antara kalian!”

Hyo Na tersentak mendengarnya lalu dia menatapi Jang Mi dengan pandangan yang sangat sulit, “Dia menyatakannya pada ku, Jang Mi…”

“Kyu benar-benar gila? Bukankah dia…”

Hyo Na menganggukan kepalanya pelan lalu dia menghampiri Jang Mi dan duduk di sampingnya dengan perasaan campur aduk. Bingung, serba salah, juga entah apa lagi perasaan yang di rasakannya, dia benar-benar tak mengerti sendiri. “Lalu, apa yang kau rasakan padanya saat itu?”

“Tidak ada, sama sekali tidak ada, Jang Mi,” akunya jujur sambil menatap Jang Mi bersunggung-sungguh, meyakinkan lewat tatapannya kalau apa yang dia bicarakan dan dia katakan memang benar adanya.

“Aku meninggalkannya saat dia mengungkapkan semuanya, aku bilang padanya kalau apa yang di rasakannya pada ku adalah sebuah kesalahan. Dia memiliki In Hee, lalu…”

“Lalu?” ulang Jang Mi bertanya pada Hyo Na yang kelihatan ragu di hadapannya.

“Tidak ada, Jang Mi. Tidak ada lagi…” lirihnya pelan lalu tersenyum tenang di hadapannya.

“Baiklah, yang terpenting adalah kau sudah menjelaskan semua padanya, aku percaya masalah ini sudah selesai sekarang.” Kata Jang Mi lalu dia tersenyum ke arah Hyo Na.

Tak di lihat Jang Mi yang sebenarnya kalau Hyo Na tengah menyembunyikan sesuatu di sana, tak terlihat karena semua tersimpan dalam pikiran dan hatinya saja. Bukan, ini bukan tentang perasaan cintanya pada Kyu Hyun, tetapi ini lebih ke arah bersalah dan tak mengertinya tentang pertemuan dengan Kyu Hyun setelah mereka tamat dari sekolah.

—000—

“Kenapa kau kembali lagi, Hyonnie?”

Kyu Hyun mendongak menatap Hyo Na yang kini kembali duduk di hadapannyan lagi dengan tenang. Hingga akhirnya mengantarkan mereka sampai ke sebuah diam yang cukup lama karena baik itu Hyo Na tidak kunjung menjawab pertanyaan dari Kyu Hyun lalu Kyu Hyun pun sudah tak berkata-kata lagi di depannya.

“Hanya dengarkan aku saja! Jangan memotong setiap pembicaraan ku!” kata Hyo Na berubah serius dan kini Kyu Hyun mengangguk paham saja padanya.

Satu tarikan nafas panjang terdengar dari Hyo Na, “Maafkan aku Kyu harusnya aku tak meninggalkan mu seperti tadi. Kau tahu, kan? Kau sudah memiliki In Hee lalu aku… aku memang masih sendirian sampai sekarang, tetapi aku tidak akan mungkin bisa menerima mu sebagai seseorang lebih dari sahabat,” Hyo Na tiba-tiba menghentikan pembicaraannya untuk melihat ekspresi di wajah Kyu Hyun.

“Hanya itu saja, kan?”

“Uhm, Kyu…”

Kyu Hyun perlahan tersenyum kecil ke arahnya, “Aku paham semuanya, Hyonnie. Harusnya kau tak menjelaskan semuanya pada ku!”

“Kyu…”

“Aku juga meminta maaf padamu, Hyonnie. Aku sadar, aku salah karena secara tidak langsung juga telah menyakiti In Hee. Hm, ku harap, kau juga melupakan apa-apa yang aku katakan tadi, Hyonnie.”

Kyu Hyun tersenyum menenangkan membuat Hyo Na berusaha tersenyum walau itu terlihat terpaksa karena dia sedang tak bisa tersenyum dengan baik saat ini. “Pulanglah! Ah, Hyonnie ku harap kau menemukan seseorang yang menyayangi mu suatu hari nanti! Ku harap kau bahagia!”

“Terimakasih untuk sebelumnya dan aku benar-benar meminta maaf karena menyakiti hatimu. Kau juga! Hm, bahagialah dengan In Hee dan jangan pernah sakiti dia!”

Lalu keduanya terlihat berpisah dengan senyuman masing-masing. Kyu Hyun dengan senyuman lega karena perasaan yang selama ini di tahannya sudah dia keluarkan pada Hyo Na sedangkan Hyo na sendiri sudah lumayan bisa tersenyum karena setidaknya dia sudah bisa menjelaskan semuanya pada Kyu Hyun.

.

.

.

.

END…?

Annyeong yeoreobeun~!!! ^o^ kkkkk~ Rien bawa FF nih~!? Uhm, udah ending loh~! >.< huhuhuhu, plis, jangan timpuk Rien karena FF ini berakhir dengan gaje dan tidak di mengerti. Hmm, atau sebenarnya FF ini tidak menarik sama sekali sampai akhir?

Maaf yah kalo mengecewakan~ Rien sadar ceritanya jadi aneh seperti ini… hm, ide awal buat cerita ini karena Rien lebih kurang juga mengalami hal yang sama seperti di dalam cerita ini… ^^v

Jadi, beginilah ceritanya… Rien itu punya temen cowok di SMA waktu kelas satu kami berdua itu sekelas. Dan emang bener, dulu Rien ga pernah akrab sama dia sampai akhirnya kami dekat karena sama-sama gila main game. Dan kedekatan itu juga berlanjut karena tiba-tiba aja dia ikut bergabung di ekskul yang Rien ikuti. Dan hal-hal aneh lainnya berlanjut sampe Rien dengar dia suka sama Rien, cuma kalo dulu Rien anggapnya hanya bercanda. Dan sampai akhirnya semua terkuak sehari setelah acara perpisahan sekolah… T.T

Dia menghubungi Rien saat itu lalu membuat Rien tak percaya karena selama ini dia tak pernah menghubungi Rien. Perlu di ingat selama berteman saat kelas satu kami tidak pernah bertukar nomor untuk bisa di hubungi, lagi pula kami juga pisah kelas saat kelas dua dan tiga. Tapi, kami masih bertemu saat kumpul ekskul tetapi yah gitulah… Rien tak bisa akrab lagi seperti kelas satu, karena rumor Rien dengannya yang sudah tersebar di seluruh kelas benar-benar mengganggu dan membuat Rien membatasi jarak dengannya. Dan sampai akhirnya Rien dengar dia sudah memiliki seorang pacar, barulah Rien bisa bernafas lega karena setidaknya tak akan ada lagi pemberitaan mengenai Rien…

Yah, akhir ceritanya adalah… seminggu setelah dia sering sekali menghubungi Rien… dia mengungkapkan perasaannya pada Rien… nah, ini dia yang buat Rien merasa bersalah, satu sisi Rien emang ga bisa nerima dia mau dia punya pacar ataupun tidak. Uhm, Rien masih pegang prinsip hidup yang belum bisa Rien tinggalkan…

Dan berakhir seperti ini saja… kejelasan sudah dia dapatkan dan Rien juga sudah seperti itu… ah, iya… kalian tahu hubungan kami sekarang seperti apa? Yah, benar-benar canggung sekali, bahkan Rien udah ga mau melihat dia… hm, menurut kalian apa Rien salah? Kalian punya masukan? Kalau ada kasih tau Rien ya~!!! ^^

Ah, sepertinya Rien kepanjangan cerita, ya? Kkkk~~ mianhae, ne~~ ah, iyaaaa~~ gomawo yang uda baca nih cerita dan sempatin komen~!!! Dan, sampai ketemu di ff Rien lainnya~!!!

2 Comments (+add yours?)

  1. frog1
    Jul 20, 2015 @ 01:05:24

    hem..g semua hubungan bisa dipaksakan
    hahahaha
    tp kyynya kkeren disini..dia bisa legowo sama keputusan hyona

    Reply

  2. Angelica SparKyu Sakurada
    Jul 22, 2015 @ 18:33:49

    jadi ini happy ending apa sad ending gw bingung :3

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: