Memories [19-END]

memories 17

Author : Rizki Amalia

Cast : Yesung (SJ)

Jeany Hanks (OC)

Allan (OC)

Genre : Romance, family

Rate : PG-15

****

Yesung menarik Jeany agar lebih dekat. Ada sesuatu yang coba ia langgar dan ia tak peduli akan konsekuensinya.

Ia menutup mata. Dan yang muncul dalam benaknya adalah ketika mereka melakukannya tiga belas tahun lalu untuk pertama kali. Saat itu rasanya Yesung mendadak seperti seorang penyair yang kehilangan kemampuannya berkata-kata. Waktu, pergerakan, serta segala hal disekeliling mereka tahu-tahu berhenti.

Ia bisa mengisahkannya dengan sangat rinci jika ada yang sudi mendengar tentang sebuah proses ciuman pertama. Bagaimana kedua tangan mereka ikut berpagutan, nafas mereka yang terengah-engah, hingga bagaimana cara mereka menyelesaikannya. Jeany tersenyum setelahnya, lalu masuk ke dalam rumah tanpa pamit dengan wajah memerah. Itu adalah malam paling luar biasa semasa hidupnya.

Malam ini, ia merasa semua adegan itu berulang. Namun, kali ini semuanya menjadi lebih berbeda. Ada sesuatu yang tak bisa ia jelaskan antara mereka saat ini. Ada sesuatu yang menutup kedua mata serta telinga mereka hingga tidak menyadari apapun.

Ia sudah menahannya selama sepuluh tahun. Ia rasa ia punyak hak untuk tidak menghentikannya. Dimana akalnya? Mungkin sudah menyatu bersama dengan kerinduannya yang memupuk dan hampir meluap itu. Ia tidak peduli jika sebenarnya diantara mereka telah berdiri pagar besi bersengatan listrik tinggi yang takkan bisa dilewati. Ia lupa, apapun alasannya, bahwa apa yang ia lakukan ini tidak bisa dibenarkan. Ia tak mau mengingat bagian itu.

Biarkan ia mengeluarkan semuanya. Biarkan ia melakukan apa yang sudah terlanjur terjadi ini dan mengajak Jeany untuk mengerti dirinya.

Jari-jarinya kini menggelayut disekitar lehernya seakan tak ada kesempatan sedetikpun untuk bernafas. Jeany sendiri sibuk menarik kerah bajunya seakan ia akan mati jika berani mundur. Matanya masih terpejam semakin erat, rapat dan gelap.

Tarikan nafasnya yang terputus tak beda dengan denting piano yang kemarin malam ia mainkan. Sangat indah ditelinganya sampai-sampai ia pikir ia harus terus mendengarnya. Bisakah semuanya berlanjut seperti ini?

Mereka pernah melalui masa-masa indah ini. Saat ia pertama kali lancang mencuri kecupan dipipinya malam itu. Saat mereka berjalan bergandengan dipinggiran sungai Mersey. Saat ia melamar Jeany di pinggir jalan hingga menikah. Bahkan saat mereka beradu mulutpun, ia rasa itu adalah satu dari banyak hal menyenangkan yang mereka alami. Jika Jeany lupa, ia akan dengan senang hati duduk bersila dilantai lantas memulai kembali kisah itu. Jeany mungkin akan takjub mendengarnya bercerita seakan semua baru terjadi kemarin pagi.

Satu detik dalam ciuman itu, ia yakin waktu sudah berjalan cukup lama dan mereka belum akan berhenti. Namun, suara nyaring tiba-tiba menghentak. Dalam sekejab ia kehilangan segala yang sempat menjadi miliknya dan Jeany berdiri sambil menyentuh bibirnya. Jeany nampak kaget, panik, bingung dan ketakutan. Ia sudah akan mendekat, tapi telunjuk Jeany mengarah tepat padanya lalu ia melihat ada beberapa tetes air mata mengalir. Kenapa kau menangis, Jeany?

“Tidak!”

Apanya yang tidak? Yesung mendekat lagi, tapi Jeany mundur dua langkah. Jeany yang kembali membuat jarak.

Sekali lagi suara itu terdengar hingga akhirnya mereka sadar bahwa Allan sudah tiba di rumah setelah membunyikan klakson. Jeany lekas berbalik, ia hapus air matanya dengan ujung cardigannya lalu menjauh dari situ.

“Jeany!!!”

Satu kakinya melayang sedikit di atas lantai ketika Yesung menyebut namanya dengan amat sangat tegas. Perlahan-lahan ia menapakkan kakinya lalu menoleh ke belakang.

“Kumohon, jangan lagi…”

Ia kembali meluruskan pandangannya, melihat-lihat ke atas untuk mencegah tangisannya datang lagi. Ia harus pergi dari sini! Harus!

“Aku akan kembali ke Seoul!!”

Kali ini giliran tangannya yang mengambang di atas kenop pintu. Saat ia berhasil menyentuhnya, rasanya benar-benar dingin hingga menusuk ke dalam kulit. Ia pikir itu berita paling baik yang didengarnya akhir-akhir ini sekaligus hal yang paling ia harapkan. Tapi sesuatu dalam dirinya justru berharap semoga ia salah mendengar!

“Aku akan kembali ke Seoul!!” Yesung mengulangnya dan Jeany jelas tidak salah mendengar.

“Kuharap kau mau melakukan sesuatu untukku sebelum kau tidak melihat wajahku lagi.”

Bukannya berhenti, tangisnya malah makin menjadi. Jeany sudah mendengar suara Allan dari rumahnya yang sedang mencarinya.

“Besok malam di tempat itu. Datanglah.”

Kenop pintu ia pegang begitu erat. Rasanya ia tidak kuat berdiri. Padahal ia harus segera berlari dan menemui suaminya. Hingga suara Allan terdengar makin banyak dan dekat, segera ia menarik pintu kemudian keluar dengan cepat.

“Allan!!”

“Oh, kau masih disitu? Aku mencarimu sejak tadi.”

Jeany meraih tangannya, mengajaknya segera masuk ke dalam.

“Apa Yesung menyukai bonaffee buatanmu?”

“Aku rasa iya. Dia menghabiskannya sebelum aku sempat mencicipi.”

Jeany membuang muka sejenak. Ia bahkan tak yakin apa yang ia katakan. Ia sudah lupa bagaimana rasa cake buatannya. Ia lupa apakah ia mencicipinya atau semua benar terjadi seperti yang ia sebutkan pada Allan. Satu-satunya yang masih ia ingat dan sebenarnya ingin ia lupakan adalah hal paling bodoh yang ia lakukan.

Bahwa ia dan Yesung sudah berciuman.

“Hey, kau baik-baik saja? Jangan bilang kalian habis bertengkar! Oh, Jeany, aku sudah bilang kau harus berhubungan baik dengannya.”

Jeany tak habis pikir bagaimana caranya kalimat semacam itu bisa keluar dari mulut suaminya. Tapi ia lebih terkejut ketika sebelumnya Allan yang menyuruhnya mengunjungi Yesung membawakan cake. Terbuat dari apa hati suaminya itu? Apa Allan sedang mengujinya? Atau Allan memang hanya terlalu lurus dan polos memandang masalah ini? Jika ini adalah sebuah ujian, maka jelas ia gagal dibabak pertama.

“Kau mendengarku? Oke, mungkin kau masih ragu, tapi sungguh aku tidak masalah dengan masa lalu kalian. Semua orang memilki tahapan masing-masing yang mungkin tidak begitu baik dalam hidupnya. Aku hanya ingin kita berteman dengannya. Aku ingin kau bersikap baik padanya.”

“Allan, aku…”

“Ah, omong-omong, aku punya sesuatu untukmu.”

Jeany tak diberi kesempatan menyela. Allan sudah buru-buru keluar, mungkin kembali ke mobil, lalu ia kembali dengan seekor anjing kecil yang sangat lucu.

“Chihuahua?”

Allan mengangguk. “Hey, cantik, beri salam perkenalan pada teman barumu!”

Allan menggerakkan tangan anjing itu yang sebenarnya sibuk menggonggong pelan.

“Kau membelinya?”

“Tidak, aku menemukannya dipinggir jalan dan aku memungutnya. Aku jadi ingat kalau aku punya janji pada Adam untuk membelikannya seekor anjing. Apakah dia akan senang disana melihat kita memiliki Cerry?”

Jeany meraih anjing itu ke gendongannya. Seakan tak ada jarak antara mereka, anjing itu langsung menjilati pakaiannya lalu menempel-nempelkan kepalanya ke tubuh Jeany.

“Kau menamakannya Cerry? Nama yang lucu, tapi bisa kupastikan Adam akan menggelengkan kepalanya melihat ini. Kau tahu ia ingin jenis bulldog seperti Tony, buka chihuahua.”

Allan mengelus kepala Cerry. Mungkin belakangan mereka mulai terbiasa menyebut nama itu seperti biasa seakan tak ada yang terjadi, seakan pemilik nama itu hanya sedang pergi bermain dengan teman-temannya dan akan pulang beberapa menit lagi. Tapi sebenarnya Allan belum bisa melewati semua itu tanpa membiarkan dadanya terasa perih. Namun, setidaknya sekarang mereka masih bisa tersenyum.

Allan jadi teringat anjing milik Nyonya Clark yang sangat disukai oleh Adam. Dan dari info yang ia dengar, Tony mendadak tidak mau makan semenjak Adam tidak lagi mengajaknya bermain.

“Dia bisa menemanimu di rumah kalau aku belum pulang.”

Sejujurnya Jeany sudah hampir menangis lagi, tapi ia lekas-lekas menatap Cerry lantas bermain dengannya.

“Thanks, Allan.”

“Apapun untukmu, Jeany,” ujar Allan setelah memeluk keduanya. Dan dalam dekapan hangat Allan, Jeany kembali teringat sesuatu.

“Aku akan kembali ke Seoul!!”

***

Klik

“Oke, tahan, jangan bergerak, ya, ya… Ah, kenapa kau mengubah ekspresimu? Kau tak lebih baik dibanding nenek-nenek yang kemarin menggodaku.”

Yesung berdiri di belakang kakaknya. Ia tadinya ingin ke rumah Casey, tapi Casey justru menyuruhnya ke Breck Road dimana Leeteuk sedang memotret kawan-kawannya di salah satu studio foto. Sudah lama sekali ia tidak melihat kakaknya memotret. Ia pikir hoby dan pekerjaan itu sudah ditinggalkan karena terlalu sibuk mengurusi para wanita.

“Kau sudah datang?” Casey menepuk bahunya. Belum sempat ia membalas, suara Leeteuk terdengar.

“Oh, sejak kapan kau kesini? Masih mau melihatku? Kupikir kau sudah terlalu tua untuk memikirkan dan berpamitan denganku.”

Yesung tak diberi waktu untuk mengatakan apapun. Leeteuk berjalan cepat ke arahnya, menamparnya dua kali lalu segera memberondongnya dengan berbagai pertanyaan serta umpatan.

“Hyung!!”

“Kau mau mengatakan apa? Pergilah kemanapun kau mau dan jangan kembali!”

“Ada apa denganmu? Aku rasa aku bisa memutuskan apapun tanpa persetujuanmu.”

“Memangnya sejak kapan kau menanyakan pendapatku? Lalu apa maksudmu semalam? Kenapa menyuruhku menikah? Kau sendiri bagaimana?”

“Kau memang harus segera menikah kalau tak mau dipanggil grandpa oleh anak kedua Casey.”

“Lalu bagaimana pekerjaanmu?”

“Aku sudah dipecat secara terhormat.”

“Lalu…aku..”

“Kau?”

Sementara ia dan Leeteuk saling memandang, Casey bertepuk tangan pelan. “Hey, apa memang seperti ini interaksi para pria Korea? Kupikir kalian adalah sepasang kekasih.”

Leeteuk segera membenahi dirinya yang sempat berantakan karena tersulut emosi, sedang Yesung tersenyum puas memandang kelakuan kakaknya itu. Setelah tensi sedikit mereda, barulah mereka bisa duduk bertiga di ruang tamu studio sambil minum teh.

“Kau akan pergi besok? Kenapa tak sekalian hari ini saja?” sambar Leeteuk lagi disaat Yesung pikir amarah kakaknya sudah habis. Ia pun putuskan diam saja. Sepertinya percuma menjelaskan apapun padanya saat ini. Tapi lihat saja besok. Ia berani mempertaruhkan nyawanya kalau kakaknya itu tidak tiba-tiba muncul dibandara untuk memeluknya.

“Aku tidak akan mengantarmu.”

Yesung tersenyum sambil berpandangan dengan Casey yang hanya menggelengkan kepala. Jika nyawanya belum cukup, maka ia akan menambahnya dengan nyawa Casey.

“Jam berapa pesawatmu berangkat?” tanya Casey yang sepertinya juga lelah mendengar Leeteuk.

“Jam sepuluh pagi. Aku harap masih sempat menemui Alie dan Alex. Aku ingin memberikan sesuatu pada Alex.”

“Kau bisa memberikannya nanti malam.”

“Tidak bisa. Aku sudah punya rencana untuk malam ini.”

Dari cara Yesung mengatakannya, Casey dan Leeteuk mulai mengerti maksudnya. Mereka berpandangan sambil tersenyum. Sepertinya…ada yang akan melakukan ‘pesta’ perpisahan nanti malam.

Beberapa menit kemudian Yesung memutuskan untuk pergi. Ia ingin segera mempersiapkan diri. Meski masih sore, ia rasa tak ada salahnya jika ia ke salon untuk sedikit memangkas rambutnya lalu ke butik langganannya membeli kemeja baru. Tapi begitu ia keluar dari salon, ia urungkan niat tersebut. Ada ide cemerlang yang menurutnya akan lebih baik untuk dilakukan.

Ia pun berlari, menyetop taksi lalu melesat cepat ke rumahnya. Ia bongkar seluruh isi koper yang sudah ia rapikan kemarin. Ia tak peduli jika setelah ini ia harus kembali menyusunnya. Yang jelas ia harus menemukan apa yang ia cari. Dan setelah menghambur semua pakaiannya, akhirnya ia menemukannya.

Matanya berbinar saking senangnya. Ia angkat baju itu lalu mencocokkannya di cermin.

“Well, aku masih pantas mengenakannya. Aku Kim Jongwoon yang baru berusia dua puluh tiga tahun.”

Ia tersenyum sendiri seperti remaja kemarin sore yang kegirangan akan pergi kencan dengan gadis incarannya. Padahal sama sekali tak ada jaminan bahwa Jeany akan datang, dan tak ada yang pernah menyebut ini sebagai kencan. Tapi apapun itu, Yesung abaikan. Ia yakin seratus persen Jeany akan datang.

Jeany….pasti…..akan datang.

***

Jeany dan Allan duduk bersebelahan di ruang tunggu kantor polisi. Pengacara mereka mengatakan bahwa para pelaku sudah tertangkap. Jeany sendiri secara mengejutkan memutuskan untuk mencabut gugatannya. Kalaupun proses hukum harus terus berjalan, ia tak masalah. Itu diluar kuasanya. Ia hanya tidak ingin memperpanjang masalah ini. Ia sudah cukup gila selama sebulan ini dengan terus melihat bayangan anaknya yang sedang kesakitan lalu menghembuskan nafas terakhir dalam pelukannya. Ia tak mau menjadi lemah lagi jika setiap saat ia harus berurusan dengan polisi, juga para pelaku yang akan terus mengingatkannya bagaimana cara anaknya pergi.

Namun, sebelum meninggalkan tempat itu, ia dan Allan mendekati kelima anak sebaya Adam tersebut. Dipandanginya mereka satu persatu lalu berhenti pada satu anak bertubuh paling besar yang diketahuinya sebagai otak dari perbuatan konyol itu. Ia pikir ia masih sanggup menatap ke dalam matanya, tapi ternyata itu hanya membuat dadanya semakin sesak. Wajah Adam terlihat jelas disana. Ia bisa bayangkan bagaimana Adam memelas pada anak itu supaya berhenti menyakitinya.

Ia berpaling cepat. Allan menyambutnya dengan memeluknya sangat erat. Beberapa menit ia habiskan dengan menangis. Tapi kemudian ia kembali menatap anak-anak itu.

“Kalian…jika aku mau, sekarang juga aku bisa melakukan apa yang kalian lakukan pada anakku, bahkan lebih dari itu.”

Jeany berkali-kali menelan ludahnya. Tenggorokannya tercekat dan ia hampir menangis lagi.

“Tapi aku tidak mau orang tua kalian merasakan rasa sakit ini. Aku harap kalian belajar dari peristiwa ini dan Tuhan mengampuni kalian.”

Seorang anak menunduk lalu menangis sesenggukan. Ia terus mengucapkan permintaan maaf dan penyesalan. Namun, Jeany segera buang muka lalu menarik Allan pergi dari sana. Begitu keluar dari pintu. Jeany menangis sejadi-jadinya dan hampir jatuh kalau saja Allan tak berdiri di sampingnya.

“Apa Adam akan marah padaku?” tanya Jeany sesenggukan. Allan memeluknya, membelai lalu mencium puncak kepalanya.

“Adam justru akan sangat bangga. Tidak ada alasan baginya untuk marah padamu.”

Jeany menangis lebih keras dan nyaris kehilangan kesadarannya. Allan pun memutuskan tidak akan ke rumah sakit lagi. Hingga malam hari, ia tidak pergi kemanapun dan tetap berada disisi Jeany.

Dalam tidurnya yang tidak tenang, Jeany terus menyebut nama Adam. Ia terus minta maaf dan berharap Adam tidak merasa kecewa padanya. Satu kali ia berteriak lalu kembali tertidur. Dan untuk semua itu, Allan tak bergeser sedikitpun dari sisinya.

Ia duduk pada kursi di dekat tempat tidur, menggenggam tangan Jeany yang terasa panas. Sejak tiba di rumah, Jeany tidak henti menangis sampai akhirnya tertidur sebelum sempat makan apapun.

Ia bangga sekaligus sakit melihat Jeany seperti ini. Ia tahu ceritanya bagaimana Jeany mati-matian mempertahankan Adam saat masih dalam kandungan. Jeany merelakan karis jusnalisnya terkubur. Dan Jeany juga menjaganya agar Yesung tak mengambil alih. Namun, semua seakan menjadi sia-sia setelah Tuhan mengambil Adam ke pangkuanNya.

Jika Jeany mau, ia bisa melanjutkan tuntutannya pada para pelaku. Tapi ia memilih untuk melupakannya. Allan bangga padanya. Sekali lagi Jeany harus mengambil keputusan yang sangat berat dalam hidupnya.

Malam ini pun ia sudah berencana tidak akan kemana-mana. Ia akan tetap disini sampai Jeany hanya melihat wajahnya saat membuka mata. Namun, ada satu panggilan dari rumah sakit yang membuatnya kebingungan.

“Allan, maafkan aku. Tapi ini darurat. Kau harus datang!”

Ia masih mendengar suara Eddy di seberang sana dengan segala penjelasannya sementara tangan kirinya masih menggenggam tangan istrinya. Tak sadar ia meremas tangan itu hingga tidur Jeany terusik.

“Allan?”

Jeany terbangun. Allan lekas menutup teleponnya dan sekali lagi meminta maaf pada Eddy. Ia tak bisa. Untuk kali ini saja, ia tak bisa meninggalkan Jeany.

“Ada yang terjadi?”

Allan mengelus puncak kepalanya. Ia tersenyum sambil menarik nafas untuk meredakan nyeri didadanya. “Tidak ada. Sebaiknya kau lanjutkan tidurmu.”

“Jangan berbohong. Eddy yang menelpon, bukan? Aku tahu tidak akan ada hal penting bagi Eddy menelponmu disaat begini.”

Sayangnya itu benar. Ia pun masih sibuk memilih meski ia sudah mengatakan permintaan maaf pada Eddy. Ia masih ragu. Selama ini, apapun yang terjadi, ia akan mengutamakan pasien dibanding masalah pribadi. Bahkan ia pernah meninggalkan Jeany saat tengah demam demi menyelamatkan nyawa pasiennya. Saat itu ia percayakan Jeany pada orang tuanya dan juga Adam yang tidak mau beranjak dari sisi ibunya.

“Pergilah.” Suara Jeany begitu pelan. Allan memandangnya lalu menggeleng. “Tidak. Aku ingin menemanimu.”

Jeany membelas pegangan erat ditangannya lantas menciumnya. “Aku tidak apa-apa. Kau tahu aku paling tidak suka menjadi alasanmu untuk tidak  melakukan pekerjaanmu.”

“Tapi….”

“Pergi atau aku tidak akan mau bicara denganmu lagi.”

Allan menghembuskan nafasnya. Setelah berpikir, akhirnya ia berdiri, mencium dahi Jeany lantas terburu-buru mengambil jaketnya dari lemari.

“Aku akan segera kembali begitu semuanya selesai. Kau istirahatlah.”

Jeany mengangguk dan hanya tersenyum mengantar kepergian Allan. Dan saat mobil Allan sudah menjauh, ia menyadari satu hal.

Seseorang telah menunggunya diluar sana.

Untuk sejenak ia ingin mengabaikannya. Tapi ketika hanya ada detak jarum jam yang terdengar di ruangan itu, tanpa bisa dikendalikan kedua kakinya sudah menjejaki lantai dingin kamarnya. Ia berdiri, berjalan mendekati lemari pakaian. Dipandangnya semua pakaiannya di dalam lemari dengan seksama. Kemudian ia sibak sebagian hingga sesuatu yang ia cari ia temukan.

Mungkin ini akan sangat konyol. Tapi ini adalah kesempatan terakhir mereka. Dan ia tidak mau pertemuan terakhir mereka sama buruknya dengan yang terjadi saat itu. Jika ini adalah kesempatannya untuk sedikit memperbaiki,….ia harap ia tidak salah langkah.

****

Yesung berdiri dengan gelisah. Sudah jam sembilan dan ini sedikit melenceng dari perkiraannya. Kapal yang ia sewa sudah menunggu sejak tadi. Berkali-kali pemilik kapal bertanya, ia hanya bisa memintanya untuk bersabar sedikit lagi.

Ia berputar-putar di tepi sungai sambil melihat ke gerbang pelabuhan. Ia tahu Jeany akan datang, tapi ini sudah terlalu lama. Keyakinannya seakan hanya menjadi kata.

Apa Allan menahannya? Apa Jeany tidak bisa kemari karena Allan?

Ia terlalu bersemangat seharian ini sampai melupakan fakta penting bahwa situasinya sungguh berbeda dengan tiga belas tahun lalu. Bukan Mr.Hanks yang harus dilalui Jeany saat ini, melainkan suaminya sendiri. Ia begitu gembira sampai baru menyadari bahwa bukan tidak mungkin Allan sedang berada di rumah dan tidak akan ada celah bagi Jeany untuk menemuinya. Sekalipun Allan sudah mengetahui semuanya, bukan berarti Jeany punya nyali untuk meminta ijin menemuinya mala mini. Jika benar begitu…apa ia harus menelan kecewa lagi?

“Aku tahu kau memang orang yang gigih.”

Ia berbalik cepat dan menemukan Jeany berdiri beberapa meter di depannya dengan seulas senyum. Ia terlalu bahagia sampai tak tahu harus mengatakan apa. Jeany sedang berjalan ke arahnya. Dan apa yang Jeany kenakan sungguh membuatnya tak percaya.

“Maaf selalu datang disaat-saat kritis,” ujar Jeany.

Yesung tertawa pelan dan coba buka mulut. “Kau memang selalu suka membuatku nyaris kehilangan keyakinan.”

Yesung kembali menatap Jeany dari atas hingga bawah. Ia yakin tak mengatakan apa-apa kemarin malam. Tapi sepertinya mereka punya pikiran yang sama.

“Tubuhmu yang tidak berubah atau kau mencari pakaian yang sama?”

Jeany menggeleng. “Aku masih menyimpannya karena ini adalah pemberian ibuku.”

“Dan karena kau mengenakannya saat aku pertama kali dijamu makan malam di rumahmu,” sambung Yesung sebelum Jeany menyelesaikannya. Mereka tersenyum bersama.

“Kau masih mengingat segalanya.”

“Terima kasih atas pujianmu.”

Giliran Jeany yang memandangi Yesung dan ia hampir tak bisa menahan tawanya. Yesung tahu ia sungguh gila melakukan ini dan sebagian orang yang ditemuinya selama perjalanan kemari selalu menatapnya keherananan seakan ia adalah manusia tempo dulu yang tidak punya cukup uang membeli pakaian baru. Tapi ia abaikan saja. Ini yang ia inginkan dan lihatlah ia tidak sendirian saat ini. Jeany bersamanya.

Ia mengenakan kemeja lusuhnya yang dibalut jas kotak-kotak yang dulu menjadi jas paling mahal yang pernah ia miliki. Ia juga mengenakan topi pet yang sebenarnya merupakan warisan ayahnya selain mobil. Dan sebelum Jeany menertawainya lebih keras, ia meraih tangannya, lalu menuntunnya ke kapal.

“Yesung…”

“Kita akan berkeliling malam ini.”

Kapal itu membawa mereka melihat pemandangan malam kota Liverpool dari sungai Mersey. Dibanding saat mereka pertama melakukannya dulu, sudah banyak sekali yang berbeda. Saat itu sudah banyak gedung-gedung tinggi yang dibangun, tapi di pinggir pelabuhan masih banyak pepohonan. Dan dari kapal, pepohonan itu tampak rapi berdiri diantara bangunan. Sedangkan sekarang, hanya ada tanaman-tanaman kecil yang disusun di sekitaran pelabuhan. Sejauh mata memandang, nyaris tak mereka temukan pepohonan seperti dulu. Hanya ada titik-titik lampu dari gedung-gedung yang semakin hari semakin tak bisa dibendung pembangunannya.

Melihat semua itu, rasanya mereka sudah berjalan cukup jauh. Padahal bagi Yesung sendiri, ia hanya seperti sedang melangkah dari rumahnya ke café Casey. Sangat cepat. Ketika ia melangkah keluar rumah, jalan-jalan setapak dari batu berubah menjadi jalanan beraspal. Ketika ia melangkah di sepanjang jalan dan melewati rumah tetangganya, jalanan yang sunyi berubah ramai. Ketika ia terus berjalan dan tiba di jalan raya, jalanan yang sempit berubah menjadi lebih lebar dengan banyak lampu merah di setiap persimpangan. Lalu ketika ia melewati deretan pertokoan, ia bisa melihat perubahan cepat pada dirinya melalui cermin yang ada dimana-mana. Dirinya yang mengenakan kaos lusuh, berganti menjadi kemeja, lalu memakai jas, hingga potongan rambutnya yang berubah dari panjang menjadi pendek dan rapi. Dan ketika ia tiba di café Casey, ia baru sadar bahwa semua sudah berlalu sepuluh tahun sejak terakhir kali ia bertemu Jeany. Dan berlalu tiga belas tahun sejak mereka pertama kali bertemu.

“Harusnya kau membawa pizza.”

Yesung mengerling mendengar perkataan Jeany. Tentu saja ia tidak melupakan hal sepenting itu.

“Kau pikir aku lupa?” Ia pun berbalik, mengeluarkan satu kotak pizza yang sudah dingin. “Aku harap kali ini kau mau membayarnya. Jangan buat aku mendapat ceramah lagi.”

Jeany tertawa. Meski agak lupa dengan apa yang terjadi pada mereka dimasa lalu, Ia masih ingat saat Yesung pertama kali ke rumahnya untuk mengantar pizza. Dengan lancang Yesung memakan pizza pesanannya sehingga ia enggan untuk membayar.

“Bukankah kau sudah terbiasa dengan itu? Kepalamu tidak akan bertambah besar sekalipun bosmu marah kali ini,” selorohnya yang disambut tawa dari Yesung. Bersama-sama mereka menyantap pizza tersebut dan sesekali saling menyuapi. Tak tahu bagaimana ceritanya, tapi semuanya terjadi begitu saja. Mereka bicara dan melakukan banyak interaksi seakan tidak ada yang perlu mereka khawatirkan. Hingga sebuah kalimat keluar dari bibir Yesung, Jeany sadar akan sesuatu.

“Hanya malam ini, aku ingin kita melupakan semuanya.”

“Aku akan segera kembali begitu semuanya selesai. Kau istirahatlah.”

Dua kalimat dari dua orang berbeda itu bergaung ditelinganya. Ia tidak tahu mana yang lebih dominan. Sampai saat Yesung meraih kembali tangannya, ia terkesiap.

Rasanya sangat dingin dan mampu menyuntikkan sesuatu dalam tubuhnya. Mendadak ia ingin mendengar suara Yesung. Berada lebih dekat dengannya. Ia pun menghimpun segala kekuatannya untuk kembali menatap Yesung. Dipegangnya lebih kuat tangan itu dan seketika itu juga ia merasa tenang. Kegelisahannya menguap bersama angin dan ia pun mengangguk pelan.

“Baiklah. Kita lupakan semuanya malam ini.”

Selama satu jam berikutnya mereka habiskan dengan membicarakan banyak hal. Sebagian tentang apa yang mereka alami saat masih berkencan, sebagian lagi tentang Adam. Mereka bisa menyebut nama itu tanpa ragu meski sesekali Jeany perlu berhenti untuk meredakan nyeri didadanya.

Jeany tertawa keras saat Yesung menirukan gaya ayahnya yang dulu suka berpura-pura sibuk dengan bukunya meski sebenarnya ia sedang mengawasi anak dan kekasihnya.

“Sebenarnya aku mengunjungi Jeany karena ingin berlibur. Kurasa menonton pertandingan bisa sedikit membantu.”

Mereka teringat saat Mr.Hanks yang terlalu gengsi menatap mata Yesung justru tampak sangat tertarik dengan tawarannya. Yesung bisa menirukan ekspresi serta  intonasi Mr.Hanks dengan sangat baik.

“98 % mirip!!” seru Jeany. Yesung melanjutkan dan mereka sama sekali tidak merasa berdosa sudah menjelek-jelekkannya. Bahkan Jeany bisa tertawa seakan yang dibicarakan bukanlah ayahnya.

Yesung menumpahkan uneg-unegnya selama ini dan jujur pada Jeany bagaimana perasaannya saat itu ketika Mr.Hanks selalu ikut campur dalam urusan mereka. Saat Mr.Hanks kegirangan dipertemukan dengan Ryan Gigs, saat Mr.Hanks mengajaknya pergi nonton lagi, hingga saat Mr.Hanks menerima hubungan mereka. Ia bisa menirukannya sampai si pemilik kapal yang merangkap sebagai nahkoda itu ikut tertawa. Yang paling membuat tawa Jeany menyembur adalah ketika Yesung menggerakan hidung dan bibirnya persis seperti saat ayahnya tengah geram. Ia tak tahu sejak kapan Yesung bisa mencatat semuanya lalu menirukannya. Rasanya dulu ialah yang bisa menirukan mimic serta suara banyak tokoh terkenal. Yesung juga pernah mengatakan bahwa ia bisa menjadi pengganti dubber tokoh Minnie mouse.

Namun, ditengah tawa dan suasana yang hangat itu, Jeany kembali terdiam. Yesung membiarkan tawanya ikut berkurang dulu barulah ia mendekati Jeany.

“Hey, apalagi yang kau pikirkan?”

Jeany tersentak saat Yesung menyentuh pipinya. Ia baru menyadarinya. Setelah puas tertawa seakan ia tak pernah mendengar lelucon sepanjang hidupnya, ia baru ingat bahwa Yesung mengingat segalanya.

“Kau…ingat semuanya? Aku bahkan perlu berpikir dua kali untuk meyakinkan bahwa apa yang kau katakan itu benar.”

Yesung mengelus pipinya lagi, kali ini jauh lebih lembut dan hati-hati. “Jika kau ingin mendengarnya, aku bisa menceritakannya kembali, tanpa…kurang…sedikitpun, termasuk setiap huruf yang aku, kau dan keluargamu katakan pada masa itu.”

Jeany baru akan membalasnya saat kapal mereka berhenti dan agak tersentak seperti menubruk sesuatu.

Ia dan Yesung melihat-lihat sekeliling dan sepertinya acara berkelilingnya sudah selesai.

“Jangan pikirkan apapun lagi. Sekarang, kau harus ikut denganku.”

“Kemana?”

Yesung tak menjawab, sekali lagi diraihnya tangan Jeany lalu membawanya berjalan kaki.

Seperti yang diminta Yesung sebelumnya, bahwa ia harus melupakan apapun saat ini, ia berusaha untuk melakukannya. Ia berusaha menyatu dengan cerita-cerita Yesung yang agak ia lupa itu. Ia juga merasa agak lega ketika bisa tertawa lepas. Rasanya sudah lama sekali sejak ia merasakan perasaan semacam itu. Mungkin sebelum Adam pergi. Tapi bagaimanapun ia mencoba meluapkan kegelisahannya. Di satu titik ia akan kembali pada bagian itu.

Ia tidak bisa lupa bahwa Allan…mungkin sedang memikirkannya.

***

“Maaf, kawan. Tapi aku harus menelponmu. Dr.Weasly terjebak badai di Jepang dan belum bisa pulang sejak kemarin. Kupikir hanya kau yang bisa menanganinya.”

Allan mengangguk setelah menenggak segelas air dingin dari kulkas ruangannya. Operasi besar baru saja dilakukan. Ia harus menggantikan dr.Weasly yang tidak bisa hadir. Beruntungnya, operasi berjalan lancar dan ia bersama tim bisa bernafas lega.

Sekarang ia melempar tubuhnya di sofa setelah melepas jasnya. Kepalanya semakin pusing. Ia rasa ia butuh tempat tidur, dan itu adalah tempat tidur yang sama dengan Jeany.

“Apakah Jeany baik-baik saja?” Eddy bertanya. Allan membuka matanya lalu duduk kembali. Saat tiba disini, ia dan Eddy tak sempat membicarakan apapun. Ia bergegas menyiapkan segalanya, mempelajari kondisinya lalu meluncur ke ruang operasi.

“Dia hanya sedikit terguncang karena pertemuan dengan anak-anak itu di kantor polisi. Kau tahu? Dia mencabut tuntutannya.”

“Kau bercanda?”

Allan menggeleng. “Jeany memang melakukannya. Untuk itu aku benar-benar ingin berada disisinya.”

Eddy berdiri, ia ambil jas Allan lalu dimasukkannya ke dalam tas. “Kalau begitu kau bisa pulang sekarang.”

Allan menatapnya ragu. “Kau yakin?”

“Tentu! Kau sudah bekerja keras dan aku yakin Jeany memang membutuhkanmu saat ini. Pulanglah!”

Tanpa pikir panjang, Allan meraih tasnya, menepuk bahu Eddy lalu melangkah cepat keluar ruangannya. Ia harus segera tiba di rumah. Jeany pasti belum tidur sebelum ia pulang.

***

“Ini?” Jeany menatap gerbang stadion Anfield yang tampak sepi. Memang sepekan ini tidak ada pertandingan yang diadakan. Liverpool sedang melawat ke kandang Atletico Madrid di Spanyol untuk leg kedua semifinal liga champions. Selain lampunya yang menyala, Jeany tak menemukan sesuatu yang menarik disana.

“Kau lupa? Dulu kita sering kemari tanpa sepengetahuan ayahmu.”

Jeany tersenyum. Benar juga. Kalau tidak salah, Yesung sering sekali menyelinap ke rumahnya, mengetuk jendela kamarnya lalu membawanya kemari, sekalipun tidak ada pertandingan, mereka tetap kemari. Biasanya untuk menyantap kopi di café yang terdapat di seberangnya. Sayang, cafenya sudah tutup.

“Dan kita pernah bertengkar hebat disini.”

Jeany perlu usaha keras untuk menyelami kembali masa-masa itu. Meski ia tidak mengingat detailnya, tapi samar-samar ia ingat kejadiannya.

“Kurasa aku ingat. Saat itu….kau sudah menghina ayahku.”

“Oh, jangan kau sebut itu! Aku tidak pernah punya niat menghina ayahmu.”

“Lalu apa yang lakukan sejak tadi? Kurasa kau lebih banyak menyebut namanya dibanding namaku.”

Tiba-tiba Yesung merapatkan tubuh mereka dan mengurung Jeany.

“Yesung…”

“Kau ingin aku terus menyebut namamu?”

“Aku..” Jeany kehabisan kata-kata. Jaraknya terlalu dekat. Nafas Yesung bahkan terasa hingga tenggorokannya. Ia ingin bicara, tapi setiap kali ia mencobanya, ia justru merasa tidak berdaya.

“Kau mau tahu satu hal? Aku tidak pernah berhenti menyebut namamu sebelum aku tidur selama sepuluh tahun ini.”

Jeany hampir luluh. Namun, secepat mungkin ia melepaskan pegangan Yesung, lantas berjalan lebih dulu dengan langkah memburu. Ia bisa dengar derap langkah Yesung di belakangnya. Ditengah banyaknya pejalan kaki disekitarnya, ia masih bisa bedakan mana suara langkahnya. Semakin nyaring suaranya, semakin ia merasa tersudut. Hingga tiba-tiba ia berhenti karena keramaian di depannya.

Ia terkejut menemukan ada banyak orang di depannya yang ikut berhenti. Setelah diperhatikan, rupanya ada seorang pria yang sedang berlutut di depan kekasihnya, menawarkan sebuah boneka dan sebuah cincin dikedua tangannya. Tadinya ia tak merasakan apa-apa dan akan berbalik pergi. Namun, seketika ia sadar sedang berdiri dimana.

“Kau ingat?”

Ia menoleh ke samping, menengadah dan menemukan gedung besar dengan tulisan besar diatasnya. Ini adalah bekas kantornya. Dan ini adalah tempat dimana Yesung melamarnya.

Tanpa bisa dicegahnya, kenangan-kenangan itu berputar di sekelilingnya. Saat ia menemukan secarik kertas dari Yesung, saat ia melihat ke bawah dan menemukan pria itu sedang menunggunya, lalu saat ia berlari ke bawah dan memeluknya. Yesung menciumnya, pria itu berlutut dengan sebuah cincin sederhana. Ia yakin bahwa sebelumnya ia tak ingat apa yang diucapkan Yesung kala itu. Namun, tiba-tiba saja ia ingat semuanya.

“Jeany Hanks, aku tahu ini terlihat gila. Aku…aku bahkan tak pernah membayangkan kalau dihari ini, detik ini, aku sedang berlutut di depanmu. Aku hanya…………melakukan apa yang harusnya aku lakukan. Kau tahu bagaimana diriku dan aku tak bisa menahannya lagi ketika tiba-tiba saja aku berpikir untuk ada disini.”

“Sebelumnya aku tak pernah merasakan hal seperti ini. Menyayangi seseorang melebihi rasa sayang pada diriku sendiri dan merasa begitu kehilangan ketika satu detik saja aku tak melihatmu. Aku tidak mau merasakannya lagi. Aku tidak mau kebingungan lagi jika tak melihatmu. Aku….ingin kau terus ada didekatku.”

“Jeany, aku tak pernah memikirkan apapun yang akan terjadi padaku setahun, dua tahun atau sepuluh tahun ke depan. Tapi bersamamu, aku merasa bisa melihat masa depanku. Aku seperti diajak berjalan menyusuri jalan yang panjang yang aku sendiri tidak tahu bagaimana rupanya. Mungkin kau tak percaya kalau semalam aku bermimpi memakaikan popok anak kita.”

“Aku pikir aku sudah gila. Tapi membayangkan semuanya, aku rasa ini semua adalah wajar. Kita bangun bersama, kau memasak untukku, aku berangkat ke kantor dan kau menungguku di rumah. Kita akan mengurus anak kita bersama, menenangkannya jika menangis, mengajarinya berjalan dan bicara. Aku juga akan mengajarinya bernyanyi dan kau bisa membuatnya pandai  bicara di depan tv.”

“Maukah kau melewati semua itu bersamaku? Aku sadar aku adalah lelaki brengsek yang bahkan tidak punya apa-apa untuk kebanggakan dihadapanmu. Dan aku juga tahu kita masih sangat muda. Masih banyak mimpi yang belum tercapai. Tapi aku ingin kita berjuang bersama untuk mendapatkannya. Aku akan mendampingimu dan kau mendampingiku. Maukah kau berjalan bersamaku menggapai mimpi-mimpi itu?”

“Maukah kau menikah denganku? Hidup bersamaku? Menjadi tua dan keriput denganku hingga maut menjemput?”

Dan akhirnya ia tak kuasa menahan tangisnya, lalu mengangguk dan Yesung langsung menyematkan cincin dijari manisnya. Mereka berciuman diiringi tepuk tangan orang-orang.

Jeany masih mengingatnya. Ia ingat semuanya sampai ia tak mau lagi membayangkannya.

“Jeany!”

Jeany tersadar saat Yesung kembali menyentuh pipinya. Yesung menatapnya dengan sangat dalam. Anehnya, tatapan itu sekali lagi sanggup mengendalikannya. Ia diam. Bayangan itu buyar dan hanya ada satu orang dihadapannya.

“Ikut aku.”

Tanpa alasan jelas, Jeany merasa kali ini sentuhan Yesung lebih berguna. Ia merasa aman, perasaannya yang sempat naik pada satu titik kini mereda hingga ia bisa melangkah dengan tenang.

Mereka terus berjalan dengan Yesung yang masih menggenggam tangannya. Ia pun perlahan-lahan membalasnya. Yesung sempat tersenyum padanya. Lalu melanjutkan perjalanan. Ketika mereka sudah sampai, Jeany lagi-lagi dibuat terpaku.

“Tempat ini…………”

Tak sulit bagi Yesung untuk membawa Jeany kemanapun, tapi bagi Jeany, ia seperti sedang diajak menonton film yang tidak ia ketahui akhirnya. Ia diminta menebak apalagi yang akan terjadi selanjutnya.

Yesung mengeratkan pegangannya lantas memandang gedung besar itu yang kini semakin kokoh. Tak banyak yang berubah dari gedung ini selain renovasi kecil pada desain bagian depannya.

“Disini aku pernah menunggumu selama berjam-jam. Dan seperti yang kau tahu, seorang Jeany Hanks selalu datang terlambat.”

Dalam samar, Jeany mulai mengingat bagian itu. Ketika Yesung mengajaknya ‘kencan’ untuk pertama kali.

“Dulu kau mengatakan bahwa kau tidak suka pertunjukan musikal. Aku juga sebenarnya terpaksa mengajakmu kemari saat itu, tapi sekarang….” Yesung menatapnya dengan lembut. Jika boleh, Jeany ingin sekali mengatakan untuk jangan lagi menatapnya seperti itu. Jangan buat ia semakin lemah! Tapi Yesung tak berhenti juga. Ia melanjutkan, “Aku ingin kita melengkapi apa yang tidak terjadi pada malam itu.”

“Tapi…ini sudah tutup. Kau lihat sudah tidak ada orang. Pertunjukan sudah selesai.”

Yesung tersenyum. Kepalanya bergerak kesana kemari lalu tangan kirinya terangkat setelah menemukan seseorang.

“Ron!!!”

Seorang pria bertubuh tambun mendekat. Ditangannya terdapat burger dan segelas cola.

“Kau sudah menyiapkannya?”

Pria itu mengangguk. Beberapa butir roti keluar dari mulutnya.”Aku harus mengusir para pemain dan kru lebih cepat demi dirimu. Kau harus ingat perjuanganku ini!”

“Tenang saja. Aku bukan orang yang bisa melupakan janji. Jadi, mana kuncinya?”

Pria itu menatap Yesung dan Jeany bergantian. Ia keluarkan kunci dari saku celananya lalu segera memasukkannya ke dalam lubang pintu.

“Silahkan masuk. Nikmati pertunjukan kalian.”

Jeany tak paham apa maksudnya. Terlebih saat ia masuk ke dalam, tak ada siapa-siapa disana. Semua bangku penonton kosong. Panggung pun tampak lengang dengan beberapa property yang masih tersisa. Selain itu, ia tidak menemukan apapun yang menjurus pada kata pertunjukan.

“Baiklah, berhenti berekspresi seperti itu. Ini teater, bukan hutan rimba.”

Jeany memandang sekelilingnya. Dan ia terkejut saat Yesung sudah ada di atas panggung. Pria itu berdiri menunggunya, menjulurkan tangannya. Ia bahkan tak sadar sejak kapan Yesung melepaskan pegangannya.

“Naiklah.”

Jeany agak ragu. Ditatapnya tangan itu dan untuk kesekian kalinya dimalam ini, ia tak melihat kebohongan disana. Ia seperti dijanjikan rasa aman yang setiap saat semakin tinggi. Ia pun meletakan tangannya di atas tangan Yesung. Seketika itu juga ia dan Yesung sudah berdiri berhadapan di atas panggung.

“Kau bilang bosan dengan pertunjukkannya. Bagaimana kalau kita membuat pertunjukan sendiri?”

Jeany tak mengerti. Yesung hanya memberikannya seutas senyum lalu memejamkan mata. Dan secara tak terduga, ia mendengar lantunan lagu memenuhi ruangan tersebut. Mulanya hanya dentingan piano, tapi lama kelamaan menjadi musik yang utuh yang perlahan-lahan memaksa Yesung membuka mata.

“Jeany, maukah kau berdansa denganku?”

Sebelum Jeany sempat menjawab, Yesung sudah menariknya. Tangan kanannya berada pada tangan kirinya, sementara tangan kirinya meraih pinggangnya. Yesung langsung bergerak, mengajak Jeany ikut bersamanya.

“Yesung, aku tidak bisa berdansa.”

“Dan siapa bilang aku bisa? Siapa juga yang peduli? Aku hanya ingin melakukannya bersamamu, disini dan saat ini.”

Yesung kembali bergerak. Maju, mundur, ke kiri dan ke kanan. Meski kaku, Jeany berusaha mengimbanginya. Hingga lagu tiba dipertengahan, mereka sudah bisa menari dengan gembira.

Jeany tidak canggung lagi ketika harus berada dalam pelukan Yesung. Ia menikmati saat jari-jarinya menempel pada kulit leher Yesung lalu dielusnya. Saat Yesung menghirum aroma tubuhnya, saat ia merapatkan tubuh mereka, dan saat ia meletakkan kepalanya didada bidang Yesung, ia tidak merasa ada yang salah disini. Ia merasa semuanya adalah hal benar. Hal paling benar yang ia lakukan selama berjam-jam bersama Yesung.

Lagu terus mengalun sementara Jeany sudah larut dalam kuasanya. Ia pejamkan mata, sesekali tertawa saat Yesung melepaskannya lalu menari dengan sangat aneh. Dan ketika Yesung kembali menariknya, ia kembali tenang seperti peliharaan yang jinak karena majikannya. Ia benar-benar kalah disini.

Jeany terpejam lagi. Kedua tangannya sudah bergelayut di tubuh pria itu dan ia merasakan kedua tangan pria itu mengusap punggungnya. Ia mungkin akan jatuh tertidur kalau saja lagu tak berhenti dan suara tepukan tangan terdengar.

Ia melepaskan pelukan Yesung, menoleh pada kursi penonton dan menemukan Ron –pria yang memberikan kunci gedung ini pada Yesung sedang bertepuk tangan.

“Aku…” Jeany malu. Apakah pria itu menonton sejak tadi?

“Kenapa harus malu? Ron adalah temanku. Ia akan menikmati pertunjukan apapun yang ada di depan matanya, seburuk apapun itu.”

“Seburuk apa yang kau maksud? Itu tadi luar biasa!” seru Ron dari kursinya. Yesung mendekati Jeany lalu menarik dagunya. Untuk sejenak ia tak mengatakan apa-apa dan membiarkan nafasnya berhembus kencang. Ia sadar sudah larut malam. Waktunya semakin tipis. Bahkan sangat tipis.

“Terima kasih karena kau sudah mau datang dan melewatkan malam ini denganku.”

Jeany diam. Ia buang pandangannya dan menemukan Ron sudah tidak ada di tempat duduknya. Tidak ada siapa-siapa disana selain mereka berdua.

“Sebaiknya kau ku antar pulang. Allan pasti menunggumu.”

Dan kepalanyapun tegak. Benar! Allan pasti menunggunya! Allan mungkin sudah berada di rumah dan kebingungan karena tak menemukannya. Bagaimana mungkin ia ada disini?

Tanpa menunggu Yesung, Jeany turun dari panggung, ia berlari keluar lantas mendorong pintunya. Sialnya, diluar sedang hujan.

“Jeany!! Tunggu aku!”

Yesung menahan pergelangan tangannya.

“Aku harus pulang. Allan pasti cemas. Allan pasti…”

“Aku akan mengantarmu!”

Jeany diam. Ia merasa bodoh karena sempat melupakan Allan. Sudah tengah malam. Mungkin Allan sudah pulang dan khawatir padanya. Tapi ketakutannya seakan pudar saat Yesung meraih dagunya. Payung terbuka dan Yesung menggenggam tangannya lebih erat.  Ia sampai tak merasa perlu bertanya darimana Yesung mendapatkan payung tersebut. Setiap kali Yesung menyentuh atau menatap matanya, ia selalu kehilangan kekuatan untuk melawan.

“Aku akan mengantarmu. Aku akan menyerahkanmu pada Allan seperti aku menyerahkanmu pada ayahmu saat itu.”

Tanpa diberi kesempatan bicara, Yesung sudah menariknya. Mereka berjalan ditengah guyuran hujan yang cukup deras. Yesung tak mengendurkan pegangannya. Ia tak membiarkan Jeany lepas sedikit saja. Ia juga arahkan payung pada Jeany dan membiarkan tubuhnya basah kuyup.

Tak ada apapun yang keluar dari bibir mereka sepanjang mereka melangkah. Jeany sudah kehabisan tenaga untuk melawan dan hanya bisa menatap kosong ke depan. Dan tak lama, ia mulai menangis.

Ia tahu, sejak memutuskan menemui Yesung, ia akan menghadapi situasi ini, bahwa ini adalah pertemuan terakhir mereka. Tapi satu yang tidak sesuai dengan perkiraannya. Ia pikir ia sudah siap. Namun, seperti Yesung yang memegang tangannya sangat erat, begitupun dengannya yang enggan untuk melepasnya. Ia kira pertemuan ini akan memperbaiki segalanya. Kenyataannya, yang ia rasakan saat ini sungguh berbanding terbalik.

Sementara Yesung mulai merasa bahwa langkahnya semakin pelan dan berat. Ia akan mengantar Jeany kembali pada pemiliknya. Dan malam indah ini akan berakhir dalam sekejab mata. Semuanya benar-benar sudah berakhir. Tidak ada yang bisa ia harapkan dari semua ini.

Ditengah perjalanan, payung mereka tiba-tiba terlepas dan terbang terbawa sapuan angin. Saat Jeany coba meraihnya, Yesung meraih kedua tangannya lantas menguncinya.

Dipandangnya mata Jeany dalam-dalam dan mencoba menemukan sesuatu yang ia harapkan. Ia ingin sekali mendengar sebuah pengakuan dari Jeany.

“Bisakah kau menahanku kali ini?”

Jeany menangis. Yesung meraih bahunya dan meremasnya. “Bisakah kau katakan kebenaran kali ini? Bisakah kau tidak berbohong untuk saat ini?”

Jeany semakin keras menangis. Ia tak sanggup menatap mata Yesung dan ia tak mau Yesung melihat ke dalam bola matanya. Ia hanya ingin pulang. Ia ingin pulang dan menemui Allan. Tapi semua seakan menjadi percuma saat Yesung tiba-tiba menyatukan bibir mereka. Yesung menciumnya.

Ditengah guyuran hujan dan tangisnya yang menyatu, Jeany berusaha keras untuk menentukan pilihannya. Ia tidak boleh kalah lagi. Dan Sebelum semuanya semakin jauh, ia melepaskan diri.

“Berhenti menekanku!”

“Aku tidak menekanmu! Aku hanya ingin kau tidak menahan apapun yang ingin kau katakan!”

“Kau tidak mengerti posisiku. Kau tidak bisa mengharapkan apapun lagi.”

“Kau bisa, Jeany! Aku tahu kau masih merasakannya. Aku tahu kau-“

“Yesung, please…aku tidak bisa.”

“Tapi..”

“Pilihanku sudah tertulis jelas saat aku memutuskan untuk meninggalkanmu saat itu. Tidak akan ada yang berubah.”

“Jeany..”

Jeany sudah berlari. Yesung mengejarnya dan terus memanggilnya. Ketika mereka tiba di rumah, Yesung percepat langkahnya dan berhasil masuk ke dalam tepat sebelum Jeany menutupnya.

Keadaannya begitu gelap. Semua lampu mati dan Jeany tak menemukan saklarnya. Ia pun berusaha lari lagi, namun Yesung berhasil menahannya.

“Jeany, kumohon. Satu kali saja. Aku ingin mendengarnya! Aku ingin mendengar kejujuranmu!”

“Apa yang perlu kau dengar dariku? Aku sudah mengatakan semuanya. Jangan buat aku berada dalam posisi yang sulit.”

“Ini akan menjadi mudah ketika kau jujur pada dirimu sendiri!”

“Kejujuran macam apa yang kau inginkan kalau tidak ada kata yang kau percaya dariku? Pergilah dari sini! Jangan sampai Allan melihatmu dan-“

“Biarkan saja! Allan sudah tahu semuanya dan biarkan ia ikut mengambil keputusan.”

“Yesung!”

Sebuah tamparan keras dilayangkan Jeany padanya. Tepat saat itu petir beserta kilat menyambar hingga menyadarkan mereka bahwa ada orang lain yang berdiri disana. Sebelum mereka sempat menebaknya, lampu lebih dulu menyala dan orang itu sedang menatap mereka.

Kedua kaki Jeany mendadak kaku. Ia bisa melihat dengan jelas suaminya berdiri disana, tepat diujung tangga dan menatap mereka berdua.

“Allan…”

Yesung masih meraba pipinya saat Allan menatapnya tajam. Ia pun tak gentar. Memang inilah yang ia inginkan sejak tadi. Kalau Allan sudah mendengar semuanya, ia tak perlu repot-repot mengulangnya. Namun, sebelum ia sempat bicara, Jeany lebih dulu berlari ke arah Allan, lantas memeluknya dengan sangat erat. Ia pun bisa mendengar apa yang dikatakan Jeany.

“Aku mencintaimu. Aku hanya mencintaimu.”

Yesung tersenyum saat Allan kembali menatapnya. Ia sudah tahu jawabannya. Ia sudah tahu keputusan Jeany. Dan ia memang harus menerima kekalahannya kali ini.

***

Jeany duduk di pinggir tempat tidur dengan pandangan kosong. Rambutnya sudah agak mengering. Ia sudah berganti pakaian dan kini Allan menyelimutinya serta membuatkan segelas teh panas.

Tak ada yang bersuara sejak Yesung pergi dan membanting pintu. Jeany hanya mendengar suara langkah kaki Allan dan tubrukan sendok dengan gelas tehnya dari dapur. Sedang Allan hanya mendengar isak tangis Jeany yang baru mereda setelah Yesung tak ada.

Jeany tak tahu apakah ia masih pantas mendapat perlakuan semanis ini dari suaminya setelah apa yang sudah ia lakukan. Tapi ia hanya diam. Membiarkan Allan mengeringkan rambutnya dengan handuk, mengambil gelas tehnya setelah habis kemudian merapatkan selimut ditubuhnya. Terakhir, Allan mengecup puncak kepalanya. Setelah itu Jeany tidak bisa menahannya dan langsung memeluknya.

“Maafkan aku.”

Kali ini ia tak menangis, hanya bersandar dibahunya dan merasakan sentuhan lembut dipunggungnya.

“Kau kupersilahkan untuk marah. Kau bisa menghukumku. Kau bisa melakukan apapun.”

“Tidak ada yang perlu kulakukan. Karena kaulah yang harusnya melakukan sesuatu.”

Jeany menjauhkan kepalanya, menatap Allan dalam-dalam.

“Aku tidak perlu melakukan apa-apa. Kaulah Jeany. Kaulah yang harus bertindak.”

Jeany terpejam saat jari-jari Allan bermain diwajahnya. Begitu matanya terbuka, ia terkejut menemukan setetes air mata dari Allan.

“Semuanya ada ditanganmu. Jika ada yang perlu kau perbaiki, lakukan apapun itu tanpa memikirkan perasaanku.”

“Allan….Aku…”

“Aku mencintaimu. Tapi aku tidak mau hidup dengan orang yang memberikan hidupnya padaku dikarenakan kewajiban.”

“Aku tidak…” Jeany menangis. Ia tak bisa melanjutkan ucapannya. Dadanya sakit. Ia sampai harus memegang ujung kemeja Allan supaya tidak jatuh ke atas tempat tidur.

“Aku tahu ini tidak mudah bagimu. Dan aku sudah menyiapkan diri untuk mendengar keputusanmu.”

“Allan cukup! Kau tahu aku mencintaimu.”

“Tapi kadang seseorang terlalu polos untuk memahami perasaannya sendiri. Sampai kau berani mengambil langkah itu, kau akan tahu semua ini hanyalah sebuah permainan. Dan kau akan tersenyum setelahnya.”

Seperti ada duri yang menyumbatnya, Jeany benar-benar tak tahu bagaimana caranya menjelaskan pada Allan bahwa ia sudah memilih dan itu tidak akan berubah. Allan harus percaya padanya. Allan harus percaya.

“Jeany…”

Allan menangkup wajahnya. Dalam hitungan detik Allan menciumnya dengan lembut lalu memeluknya begitu erat.

“Besok, lakukan apa yang ingin kau lakukan.”

Setelahnya Allan pergi dan tak terlihat lagi sampai matahari terbit.

**

Yesung tak tidur semalaman. Lampu kamar dimainkannya hingga cahaya lampu itu digantikan oleh cahaya dari jendela. Ia tahu hari sudah pagi. Semua orang yang tidur akan bangun dan bersiap melakukan aktifitasnya, tapi ia enggan beranjak.

Semuanya sudah sangat jelas. Dalam sudut pandang manapun, ia sudah tahu apa pilihan Jeany. Tapi masih ada yang mengganjal dalam dirinya. Masih ada yang tertinggal yang ia sendiri tak tahu apa. Ia pun terus memainkan lampu itu sampai akhirnya Leeteuk menelpon dan meminta maaf karena tak bisa mengantar ke bandara. Leeteuk mengarang alasan yang sangat bagus dan cukup masuk akal. Tapi Yesung tahu, kakaknya hanya tidak ingin menangis. Kakaknya yang lemah dan cengeng itu hanya malu.

Sekarang, jam sudah menunjukkan pukul setengah delapan pagi. Butuh sekitar satu jam baginya menuju bandara, itupun kalau tidak ada hambatan selama perjalanan. Tapi melihat cuaca hari ini yang sangat cerah, tak ada sesuatu yang bisa menghambatnya selain dirinya sendiri.

Ia berdiri, berjalan-jalan di sekitar kamarnya lalu menyibak gorden jendela berharap Jeany melakukan hal yang sama. Sayangnya tak ada apapun yang terjadi. Ia tak melihat Jeany di sekitar rumahnya. Jendela rumah tidak terbuka dan tidak ada mobil Allan di parkiran. Apakah semalam mereka bertengkar karena ulahnya?

Handphonenya berbunyi saat ia masih ingin melihat-lihat keluar. Ada satu pesan dari Casey.

“Sudah siap? Aku bisa mengantarmu.”

Ia menghela nafas. Sepertinya ia memang harus benar-benar pergi. Akan sangat konyol jika ia membatalkannya setelah beberapa hari lalu ia begitu yakin dengan keputusannya. Maka setengah jam berikutnya, ia sibuk mempersiapkan diri, termasuk memasukkan kembali pakaiannya yang semalam sempat dibongkar.

Ketika ia sudah ada diluar rumah dan mengunci pintunya, ia kembali memandang rumah Jeany di sebelahnya, berharap ada keajaiban di detik-detik terakhir. Tapi sepertinya semuanya percuma, ia hanya buang-buang waktu. Pintu itu tertutup rapat dan tak nampak ada kehidupan di dalam sana. Mungkin Allan membawa pergi Jeany? Mungkin saja.

Ia pun bergegas pergi setelah sebelumnya menerima tawaran Casey. Mobil casey sudah menunggunya di depan. Sejenak Casey menepuk bahunya saat mata mereka tertuju pada satu objek di halaman, yakni bola milik Adam.

Yesung pasti akan sangat merindukan semua yang ada disini.

“Kita pergi?”

Yesung mengangguk. Di dalam mobil sudah ada Alie dan Alex menunggu. Mereka pergi ke John Lenon airport dan Yesung berharap semuanya akan membaik setelah ia pergi.

***

Jeany menutup kembali gordennya. Sejak tadi ia berdiri disana, diam-diam mengintip kepergian pria itu. Dan sekarang…semuanya sudah berakhir. Yesung sudah benar-benar pergi. Tapi…kenapa ia merasa ada yang salah disini?

Ia berbalik. Dipandangnya dua koper miliknya yang entah bagaimana sudah ada di ruang tamu pagi tadi. Ia tak menemukan Allan dimanapun, handphonenya tidak bisa dihubungi yang artinya Allan memang tak pulang sejak semalam. Setelah mengecek lemari pakaiannya, ia tahu bahwa ini adalah ulah Allan.

Sejenak dipandangnya koper-koper itu yang berdiri tegak memanggilnya. Ia tahu Allan sudah memuluskan jalannya jika itu yang ia pilih. Tapi ia tak bisa melakukannya. Bagaimanapun itu, ia sudah punya pilihan dan itu jatuh pada……

Matanya tertumbuk pada sesuatu di atas meja, yakni foto Adam yang sedang mengangkat piala kemenangan klubnya. Jeany ingat saat itu bahwa Allan perlu membujuknya mati-matian supaya mau di abadikan dalam sebuah foto. Setelah berdebat cukup alot, akhirnya Adam menyerah dan bisa tersenyum lebar dalam foto tersebut. Namun, bukan itu yang coba ia ingat. Ada hal lain yang rasanya harus ia lakukan dengan foto itu.

Diambilnya foto itu lalu dikecup cukup lama. Andai saja Adam masih ada disini, ia yakin ia punya kekuatan yang jauh lebih besar dari ini untuk menghadapi apa yang sudah dan sedang terjadi. Adam adalah kekuatan terbesarnya. Adam adalah separuh nyawanya. Dan Adam juga adalah…….bagian dari pria  itu.

Lekas ia berbalik, menyibak gorden lebar-lebar dan tak menemukan mobil lagi di halaman rumah pria itu. Bodoh! Mereka sudah pergi sejak tadi. Ia pun ingat sekarang apa yang sebelumnya ia lupakan.

Dipandangnya sekali lagi koper dan foto itu bergantian. Dan ia tahu apa yang harus ia lakukan.

***

Ckitttttt

Allan menghentikan mobilnya dengan cepat. Ia tidak tahu berada dimana. Sejak semalam ia hanya berkeliling dan singgah sebentar di rumah sakit lalu pergi lagi. Hingga bensinnya habis dan ia mengisinya kembali, ia belum juga pulang.

Ia sudah memantapkan hatinya. Ia sudah menyerahkan keputusannya ditangan Jeany. Ia pun yakin pilihan macam apa yang diambil olehnya, dan itu mungkin akan menyakitinya.

Sejujurnya, setelah menyadari siapa Yesung sebenarnya, ia sudah merasakan bahwa cepat atau lambat ini akan terjadi padanya. Ia pikir ia sanggup menjalaninya. Ia terbiasa menahan sakit belakangan ini semenjak kepergian Adam. Tapi sekarang ia bahkan tak bisa bayangkan apa jadinya jika ia pulang dan tak menemukan Jeany dimanapun. Ia takut membayangkan hari-harinya ke depan ketika bukan hanya Adam yang tak bisa ia lihat lagi, melainkan Jeany.

Dilihatnya jam pada mobilnya. Sudah jam setengah sepuluh pagi. Ia belum makan apa-apa sejak kemarin, tepatnya sejak mengantar Jeany dari kantor polisi. Tak ada yang bisa masuk ke dalam lambungnya selama nyaris satu hari ini. Dan ia nyaris ambruk saat berusaha membuka pintu untuk duduk sejenak di kap mobil.

Ada sebuah pesawat melintas di atas kepalanya. Ia tidak tahu apakah Yesung sudah berangkat atau belum. Satu yang ia yakini. Bahwa ia sudah melakukan sesuatu yang benar.

***

“Aku harap semalam semuanya berjalan baik.”

Yesung tersenyum mendengar penuturan Casey. Semuanya memang berjalan baik. Tapi dalam sekejab apa yang ia harapkan tidak terjadi. Dan ia tak mau membahasnya dengan Casey, disini, dimanapun atau kapanpun. Ia ingin melupakannya.

Jadi ia mengalihkan topik pembicaraan dengan memberikan sebuah kado pada Alex. Pesawatnya akan berangkat sebentar lagi. Ia hampir lupa kalau saja Alex tak menarik perhatiannya.

“Jangan dibuka disini! Paman yakin kau pasti akan menyukainya.”

“Apa yang kau berikan padanya? Dia masih kecil.”

“Memangnya apa yang kau pikirkan? Itu hanya benda yang bisa digunakan oleh Alex supaya ia tidak menggunting pakaian di rumah kalian lagi.”

Alie mengambil alih kotak itu karena Alex nampak kesulitan memegangnya. Di guncang-guncangnya pelan dan berusah menebak apa isinya. Ia jadi penasaran.

“Sudahlah. Aku harus segera berangkat. Jaga diri kalian baik-baik.”

Yesung memeluk Casey cukup erat. Jika sebelumnya ia pergi dengan janji akan kembali, kali ini ia tak yakin ia akan kemari lagi. Casey harus mempersiapkan diri tak melihatnya lagi, kecuali pria itu sendiri yang berlibur ke Seoul menemuinya. Ia rasa itu bukan sesuatu yang mustahil. Casey punya cukup uang untuk ke luar negeri setiap minggu.

“Saat aku kesana, aku harap kau sedang menggendong anak, bukan monyet,” ujar Casey yang hanya diabaikan saja olehnya. Yesung beralih pada Alie. Ia juga memeluknya. Mengucapkan terima kasih atas masakannya yang enak yang selalu bisa memuaskannya jika ia sedang tidak punya uang untuk makan diluar atau malas memasak sendiri. Lalu ia memeluk Alex cukup lama. Digendongnya sebentar, diciumnya sebelum ia menyerahkannya lagi pada Alie.

“Jadilah anak pintar. Aku pasti akan sangat merindukanmu.”

Dan setelah semuanya selesai, Yesung pun bersiap untuk pergi. Panggilan bagi penumpang pesawat yang ia naiki terdengar yang artinya semua akan berbeda ketika ia berbalik dan mulai melangkah. Meski masih ada sesuatu yang terasa belum selesai, ia berusaha mengeyahkannya.

Ia pun sudah akan berbalik. Namun, sesuatu menghentikan langkahnya. Semuanya tiba-tiba saja berhenti bergerak. Tak ada suara. Ia hanya mendengar derap langkah seseorang yang sangat kencang seakan sedang mengejar sesuatu. Ketika ia memalingkan wajahnya, ia bisa melihat seseorang sedang berlari ke arahnya. Dan begitu namanya diteriakan, semuanya kembali normal.

“Kim Jongwoon!!!!!!!!!!!”

Apakah ia begitu mengharapkan kehadirannya sampai-sampai ia berkhayal wanita itu sedang mendekatinya?

“Syukurlah kau belum pergi.”

Ia tidak salah lihat. Ia tidak salah mendengar. Tapi ini semua terlalu mengejutkan. Ia sampai tak tahu cara menyebut namanya. Yang jelas wanita itu sudah tiba di depannya. Dengan terengah-engah wanita itu berusaha bicara.

“Kau…melupakan sesuatu.”

Dahinya berkerut. Belum sempat ia bertanya, wanita itu lebih dulu mengeluarkan sesuatu dari balik jaketnya.

“Ini…”

“Bawalah ia bersamamu.”

Yesung hampir menangis ketika benda itu sampai ke tangannya. Sekarang ia paham apa yang sejak tadi mengganggu pikirannya. Sekarang ia mengerti inilah yang ia lupakan. Inilah yang ia cari.

“Kau lebih membutuhkannya.”

Yesung segera memeluknya. Ia bisa mendengar panggilan bagi para penumpang kembali terdengar. Tapi ia terlalu bahagia untuk memperdulikannya.

“Maafkan aku.”

Mereka tertawa pelan saat kalimat itu sama-sama mereka ucapkan. Yesung melepaskan pelukannya lantas mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Semalam ia pikir akan memberikannya dan beberapa saat lalu ia kira benda ini tidak akan pernah kembali pada pemiliknya. Tapi sekarang ia akan memberikannya.

“Jeany…” Yesung berhasil menyebut namanya. Ia pun membuka penutup benda itu lalu menyerahkannya. Jeany nyaris menangis saat menyadari benda apa yang sedang disodorkan padanya itu. Ia kemudian mengambilnya.

“Aku kemari dengan tujuan untuk mengembalikan cincin ini pada pemiliknya. Sekarang tugasku sudah selesai dan aku sudah mendapat gantinya yang jauh lebih berharga.” Yesung mengangkat foto Adam yang diberikan Jeany padanya. Sekarang ia sudah merasa tak melupakan apapun. Meski sesak, ia merasa lega.

“Kau bisa menunda kepergianmu jika itu perlu.”

Ucapan Casey disambutnya dengan senyuman. Ia usap pelan kepala Jeany lantas mengecupnya.

“Aku tidak akan menundanya. Aku akan pergi sekarang. Katakan pada Allan bahwa dia adalah pria paling beruntung di dunia. Dan katakan juga kalau aku akan membunuhnya jika dia menyakitimu.”

“Kau tahu dia tidak akan melakukannya.”

Mereka semua tersenyum. Yesung mulai berjalan mundur dan menatap detik-detik terakhirnya bersama Jeany. Setelah dirasa siap, akhirnya ia berbalik, menghapus sedikit air matanya yang ia tahan mati-matian sejak tadi. Sambil berjalan, dipandangnya foto Adam yang sedang tersenyum lebar. Satu hal yang ia tahu saat ini. Ia pulang ke Korea tidak dengan tangan hampa.

***

Langkahnya gontai. Ia baru saja pulang dari bar dan minum banyak sekali alkohol. Ia tahu ia tak pernah bersentuhan dengan minuman seperti itu. Tapi dari yang ia dengar, hal-hal semacam itu bisa membantu disaat kita ingin melenyapkan sesuatu dari kepala kita. Ia pun melakukannya, bersenang-senang dengan semua orang disana yang sesungguhnya tak ia kenal. Tapi begitu ia dilempar keluar oleh security, ia rasa anggapan orang-orang salah.

Ia sama sekali tidak merasa lebih baik. Kepalanya sakit. Perutnya mual. Ia sudah muntah dua kali selama perjalanan pulang. Satu-satunya yang ia syukuri adalah ia berhasil sampai ke rumah dengan selamat. Tuhan benar-benar baik padanya. Ia pikir ia akan mati karena menabrak tiang listrik atau mobil lain. Tapi nyatanya ia ada disini. Di depan pintu rumahnya sendiri tanpa luka atau lecet sedikitpun.

Ia masuk ke rumahnya dengan malas. Jika sebelumnya rumah adalah tempat yang paling ingin ia injak, sekarang semuanya berbeda. Tak ada Adam yang akan menyambutnya dengan setumpuk tugas sekolah. Dan tak ada Jeany yang akan mengecup pipinya lalu mengambil alih tas kerjanya.

Ia pun nyaris jatuh dan menghantam lantai. Namun, kedua tangannya berhasil menahan dan ia juga merasa ada sesuatu yang sedang terjadi. Apakah ini efek mabuknya?

Ia bisa mendengar suara dari arah dapur. Ada yang sedang bersenandung. Ada yang sedang berjalan kesana kemari dan nampak sibuk sekali. Siapa yang berani masuk ke rumahnya malam-malam begini?

Ia berusaha berdiri. Ia kucek matanya berkali-kali hingga ia melihat memang ada seseorang di dapurnya. Ia pun sudah akan menegurnya. Namun, begitu ia maju beberapa langkah, ia kehilangan seluruh kekuatannya.

Tidak! Ini pasti cuma khayalan. Bukankah dia sekarang harusnya sedang berada di………

“Sampai kapan kau akan berdiri disitu? Aku sudah menunggumu sejak tadi.”

Allan menggelengkan kepalanya, ia ketuk juga kepalanya berkali-kali. Dan ketika orang itu mendekat, ia tahu ia tidak sedang berhalusinasi.

“Jeany?”

***THE END***

Thanks buat siapapun yang membaca dan mengikuti FF ini. Kunjungi blog pribadiku ya… Rizzzkyuhaelf.wordpress.com

*BOW*

8 Comments (+add yours?)

  1. Mauleeda65
    Jul 21, 2015 @ 23:42:25

    Ff-nyaa keren banget thorr suka sama endingnya, gak gantung >.<

    Reply

  2. ShikshinCloud
    Jul 22, 2015 @ 09:54:38

    ending nya emang lebih baik kaya gini sih, walau sebenernya ngarep yesung sama jeany balikan..
    ada ya lelaki kaya allan gitu? mau satu dong ><

    keep writing, ditunggu karya selanjutnya author-nim ^^

    Reply

  3. Maria Mediatrix
    Aug 28, 2015 @ 20:10:23

    sebenarnya udah lama baca ff ini, tapi saya baru bisa beri komen sekarang hehe..
    cuma mau bilang bahwa ini ff terbaik yg pernah saya baca, ceritanya menarik, susah ditebak kisah selanjutnya
    dan pastinya dengan yesung (yg merupakan bias saya) sebagai cast utama membuat saya makin suka sama ff ini🙂

    ditunggu karya selanjutnya author-nim :)))

    Reply

  4. sssaturnusss
    May 03, 2016 @ 14:52:14

    Akhirnya selesai :’)

    Huhhh aku pikir Jeany akan sama Yesung lagi .. Ternyata engga hehehe dan jujur aku lebih suka kaya gini .. Saling mencintai gak berarti harus memiliki itu benar adanya .. Jeany udh bahagia dengan Allan .. Dan Yesung pun pasti akan bahagia dengan kehidupan selanjutnya di seoul🙂 untung authornya ngga drama dan khayal bgt bikin mereka bisa bersatu lagi hahahaha karna ending gini juga udh sippp bgt ;;)

    Reply

  5. Na Young
    Jun 26, 2016 @ 07:54:59

    Hua… akhir yg bahagia untuk semua… meskipun sedikit menyesakkan untuk yesung…
    good job buat authornya…. dan satu kata buat fanfiknya..
    DAEBAK…
    cerita fanfikmu keren bgt thor bener2 bisa dpt feelnya, ngebaca fanfik ini udah kayak naik roller coaster, bikin senyum, menjerit, nangis, kesel, kayak nano2 rasanya..
    tapu dibayanganku yesung dalam cerita ini seperti angel without wings.. jadinya yg kebayang wajah lee teuk..
    cerita jg realistis karena mungkin saat muda memang kita sering membuat keputusan secara gegabah atau spontan tanpa memikirkan kedepannya, tapi kadang itu seperti dua sisi mata uang dimana kita melakukannya karena berpikir bila terlalu lama memikirkan tanpa tindakan maka akan kegilangan kesempatan tersebut.. yah pada akhirnya selalu ada hal positif dan negatif dari setiap pilihan yg kita buat.. dan tergantung sudut pandang kita menilai makna dari setiap kejadian… entah positif atau negatif hal itu baginya tapi setiap kejadian dalam hidup pasti memiliki pelajaran yg dapat kita ambil dan tidak setiap keinginan kita juga berjalan sesuai dengan harapan seperti kisah yesung dalam fanfik ini… terkadang kenyataan tak seindah harapan..
    makna dan pelajaran dari fanfik ini amat dalam namun dibawakan dengan apik tidak terlalu ringan tapi juga tidak berat..
    saya amat berminat jikalau fanfik inu dikemas dlam sebuah novel…
    dan ditunggu karya2 berikutnya…
    Oh ya mian, di chapter2 sebelumnya saya ga kasih komen, soalnya saya bacanya maraton karena ga sabar baca akhir ceritanya… Mian juga udah cuap2 panjang lebar…
    sekian dari saya
    annyeong…

    Reply

    • rizzzkiii
      Jun 26, 2016 @ 17:39:22

      Wow! Big thanks for your coment, dear.
      Main2 k blog pribadiku y. .
      Untuk ff ini memang sbnrnya sedang dirombak untuk coba2 dikirim k penerbit. Tp blm final dan yakin *curcol haha

      Reply

  6. Lalala
    Jun 27, 2016 @ 05:15:23

    Author jalan ceritanya bagus trus bahasa yg dipake jg enak..
    Bingung sebenernya mo komen apalagi wkwkwk..
    Trimakasih ya author yg udh nulis cerita bagus kek gini, keep writing ! Wkwkw

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: