Beautiful Youth

Beautiful Youth

Author : Rien Rainy (@Riechanie_ELF / Riechanie Elf)

Cast :

  • Lee Dong Hae Super Junior as Lee Dong Hae
  • Cho Hyo Na (OC)

Rated : K+

Genre : romance, fluff, comedy, school-life

Length : drabble

Author note : “Jangan lupa main-main ke http://riechanieelf.wordpress.com/ ~!!! ^o^”

HAPPY READING~!!!

ENJOY~!!!

DON’T BASH~!!!

DON’T PLAGIAT~!!!

DON’T LIKE DON’T READ~!!!

— Beautiful Youth—

Gadis itu terlihat mengendarai sepedanya. Kibasan helaian rambut ikut menari-nari tertiup angin. Rok seragamnya yang berwarna biru muda bahkan terlihat tersibak tidak terlalu lebar, tidak perduli. Gadis yang dengan rambut sebahu dan hiasan pita pembatas untuk rambut yang menutupi dahinya hanya perduli pada pemandangan pantai yang baru saja dia datangi.

Gadis itu memang sendirian ke sini. Tak ada teman ataupun keluarga yang bersamanya, ingat juga dia saja masih menggunakan seragam sekolahnya sekarang. Bukan karena dia membolos dari sekolah, namun dia mendatangi tempat ini karena keinginannya sendiri. Lalu, di tambah dengan perasaannya yang harus dia dapatkan jawabannya.

Deburan ombak terdengar bersahutan, saling menghantamkan diri mereka satu sama lain. Langit hari ini cerah berwarna biru dengan gumpalan kapas putih yang bernama awan, menghiasi langit, indah sekali. Pantai ini juga tidak terlalu ramai juga sepi, tetapi cukup untuk dikatakan sangat nyaman dan hening. Benar-benar menyenangkan.

Di kejauhan ada seorang pria dengan seragam sekolah lain. Pria berambut brunette yang mendudukkan dirinya asal saja, tasnya saja dia biarkan begitu saja di dekatnya. Bahkan rompi berwarna biru dongkernya saja sudah dia lepas, lengan seragam putihnya dia gulung ke atas. Matanya yang sayu sedikit tertutup oleh rambutnya yang ada di dahi terlihat menatap tenang ke arah lautan lepas yang tenang dengan ombak yang menari-nari.

“Oh, dia…” gumaman gadis itu pelan, di hentikannya sepedanya lalu dia turun untuk menenteng sepeda itu.

Papan nama yang ada di seragam putih dari gadis itu adalah Cho Hyo Na, dia tentu saja siswa dari sekolah lain yang jarak sekolahnya saja lumayan jauh dari pantai tersebut. Sedangkan, pria bersurai brunette itu terbaca Lee Dong Hae, sepertinya dia juga seperti itu sama halnya dengan Hyo Na.

Dong Hae terlihat meregangkan tubuhnya dan membuat dia melihat ke arah samping lalu menemukan Hyo Na yang dari jauh melihatnya. Tatapan mereka sama-sama bertemu, Hyo Na yang menenteng sepedanya lalu Dong Hae yang mendadak menjadi diam di tempatnya. Sepertinya jarum jam yang mereka kenakan sama-sama berhenti, sama-sama tidak bergerak, dan sama-sama tidak menunjukan kalau waktu tengah berjalan saat ini.

Ada desiran aneh saat ombak yang entah ke berapa saling bertubrukan menimbulkan riuh suara di tambah suasana terik yang berubah menghangat, bagi kedua remaja itu ada yang lain dari apa yang mereka rasakan saat ini. Lalu seperti mendapatkan sinyal lain, keduanya mematahkan tatapan itu dan berganti saling mengutuk diri sendiri.

Sebenarnya apa yang ada di pikiran kedua anak ini. Kemungkinan besarnya hanya masing-masing dari mereka dan Tuhanlah yang tahu. Hyo Na terdiam di tempatnya, lalu dia merogoh saku rok seragam sekolahnya membuat tangannya mengambil kulit kerang berwarna biru dengan manik-manik yang cantik di sana. Dia menatapnya dengan ragu lalu pandangannya kembali melirik Dong Hae yang menatap lurus-lurus, “Aku jadi takut bertanya padanya,” keluhnya serba salah.

Dong Hae ternyata bukan tidak tahu jika Hyo Na itu melihat kulit kerang di sana, faktanya dia terlalu tahu apa yang tengah di lakukan gadis itu dan bersyukur bisa membaca gerak-geriknya yang terlihat kekanakan sekarang. Hyo Na yang kembali menenteng sepedanya dengan wajah kalut, tidak bahagia atau sedih namun lebih ke arah bimbang atau ketakutan. Entahlah, Hyo Na sendiri juga tidak mengerti dengan perasaannya.

“Kenapa kau mendorong sepedamu?” tanya Dong Hae saat mendapati Hyo Na baru sampai di hadapannya, gadis itu meletakan sepedanya tak jauh dari sana lalu ikut duduk di samping Dong Hae, dia masih diam.

“Hah, harusnya juga aku membawa sepeda,” keluh Dong Hae tiba-tiba, lari sekali dari topik yang dia tanya namun berhasil membuat Hyo Na menghadap ke arahnya dengan tanya. “Jadi, kau tidak membawa sepedamu?” dia terlihat melirik sekelilingnya dan tidak mendapatkan sepeda lain selain miliknya.

Hyo Na merengut kecil karena fakta itu, “Kupikir, kau benar-benar membawa sepeda seperti yang kau katakan dua minggu lalu,” gumamnya pelan, Dong Hae samar-samar tersenyum, “Tidak, aku tidak membawanya. Hm, bagaimana denganmu? Apa kau membawanya?” Hyo Na kini terlihat mendongak memperhatikan Dong Hae yang juga kebetulan melihat ke arahnya.

Salah tingkah sudah pasti. Memerah juga sudah pasti. Lalu jantung berdegup tidak normal juga sudah pasti. Hyo Na jadi serba salah saat ini, tatapan Dong Hae yang tidak berubah saat dua minggu yang lalu. Dan itu masih di tempat yang sama seperti dua minggu lalu, bedanya hanya Dong Hae yang tidak membawa sepedanya sendiri lalu Hyo Na yang membawa kulit kerang seperti apa yang di tanyakan Dong Hae.

Hyo Na menunjukan kulit kerang berwarna biru itu pada Dong Hae, ragu-ragu terlihat. Tapi, Dong Hae sukses tertawa kecil menerimanya dan bahkan dia tatapi Hyo Na dengan lembut, sayangnya Hyo Na tidak melihat. Dia terlalu ragu atau sebenarnya gugup atau apalah itu, Hyo Na benar-benar tidak melihat ke arahnya sama sekali saat ini.

“Aku tak menyangka kau akan membawanya? Benar-benar sebuah kejutan?”

Hyo Na terlihat meringis kecil saat Dong Hae berucap seperti itu, “Kau… memikirkan ku, ya?” terdengar tanya lagi pada Hyo Na dan itu tentu suara Dong Hae yang mencoba memastikan sebuah kebenaran.

“Uh, kau lama-lama menyebalkan, ya? Hm, kau bisa membuka kulit kerang itu, kan? Lalu, kau bisa membacanya!” kesal Hyo Na kemudian, dirasanya kalau dirinya tengah di sudutkan oleh Dong Hae.

Hyo Na sudah beranjak dari tempatnya meninggalkan tas sekolahnya di samping tas Dong Hae, lalu dia mengayuhkan sepedanya untuk menjauh dari Dong Hae. Pria bersurai brunette itu menggelengkan kepalanya tak percaya, namun dia melakukan apa yang di katakan Hyo Na padanya, membuka kulit kerang dan membaca surat yang ada di sana.

“Kalau kau sudah membacanya! Kau harus mengejarku!” teriak Hyo Na dari kejauhan dan membuat Dong Hae mengernyit, kekanakan sekali.

Dapat di genggamanya sepucuk surat berwarna putih, lipatannya benar-benar halus hingga membuatnya berhati-hati sekali untuk membukanya. Tidak ingin melukai kertas yang sebenarnya tidak bernyawa itu, namun dia hanya ingin memperlakukan kertas itu baik-baik sama seperti orang yang memberinya.

“Aku memikirkanmu sejak pertemuan dua minggu yang lalu. Kau duduk di tempat itu sendirian dengan wajah lesu, lalu aku tiba-tiba menghampirimu. Aku menghiburmu saat itu dan untuk pertama kalinya melihatmu tersenyum. Aku benar-benar tak bisa menghilangkan bagaimana wajah bahagiamu, aku benar-benar memikirkanmu. Lalu aku masih sangat ingat, kau memberiku kerang ini dan aku baru sadar tiga hari setelahnya kalau ada surat di dalamnya. Aku tidak habis pikir bagaimana kau juga menyukaiku untuk yang pertama kalinya. Aku boleh egois? Sejujurnya aku ingin menampik perasaan ini, namun telat sekali saat ku baca bagian akhir suratmu yang bilang ingin bertemu denganku. Dan, inilah yang membuatku berpikir keras terhadap perasaanku beberapa hari, lalu berakhir menyimpulkannya menjadi sebuah perasaan yang tak akan ku sesali lagi. Yah, aku juga menyukaimu. Bukan, maksudku aku mencintaimu.”

Dong Hae mendongakan kepalanya merasa tak percaya dengan apa yang dia baca, lalu matanya yang sendu itu menatap dari kejauhan Hyo Na yang bahkan sudah tersenyum di atas sepedanya. Hyo Na yang juga menatapnya dari kejauhan lalu gadis itu terlihat melambaikan kedua tangannya. Dong Hae tak bisa lagi menahan perasaannya membuat dia kini bangkit lalu berlari menuju sosok gadis yang ternyata dia cintai itu, Cho Hyo Na.

Hyo Na dari jauh menjadi tertawa akhirnya melihat binaran bahagia di wajah Dong Hae. Dia tak habis pikir juga pria itu akan berlari ke arahnya secepat itu dan bahkan dia sudah ada di hadapan Hyo Na sekarang. Nafasnya terengah namun wajahnya yang tampan itu menjadi terlihat tambah tampan dengan surai rambutnya yang berserakan karena berlari tadi, benar-benar menarik di mata Hyo Na.

“Aku benar-benar mengejarmu, kan?” Hyo Na menggelengkan kepalanya membuat Dong Hae berkerut heran. “Kau belum menangkapku?” kata Hyo Na sambil mengenyampingkan tubuhnya lalu Dong Hae tertawa kecil melihatnya namun dia langsung menangkap tubuh Hyo Na dalam pelukannya.

“Hah, Hae-ah! Lepaskan aku!”

“Tidak akan! Aku sudah menangkapmu!”

Dan akhirnya mereka berpelukan di temani deburan ombak dan hembusan angin pantai yang menyejukkan. Terik matahari yang mulai sore juga berkurang, membuat siluet dua bayangan anak-anak itu memanjang di atas pasir putih yang tak terhitung. Dan, ini berakhir dengan bahagia.

.

.

.

END

Hohohohoh~ annyeong yeoreobeun~!!! Rien balik lagi bawa FF drabble pula lagi?!😄 kkkk~ siapa yang kangen sama FF Rien??? *hening* kaga ada, ya? Oke, I’m fine~!!! :’) *mewek dalam hati* kkkkk~ kali ini FF nya terinspirasi dari iklan sih~!!! >.<

Kkkk~~ tahu, kan? Iklan minuman isotonik yang di perankan oleh Kak Aelke? Ga tau, ya? Duh, pokoknya yang jingle lagu Jepang-Jepang gitu?! Nah, Rien dengerin jingle tuh lagu, lalu kepikiran aja… yah, walau alurnya juga ga sama seperti yang di iklan, cuma Rien tekanin kayak-kayak cinta zaman-zaman SMA gitu~ >.< kkkkk~ ini udah mainstream sih?! Cuma Rien pikir ini manis aja makanya Rien ketik dan publish~ >.<

Hohohohoho~ Rien tunggu ya reviewnya~!!! Dan makasih uda sempatin baca dan juga sempatin komen~!!! ^^ ppaiiii~~ ppaiiii~!!!

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: