Man in a Dream

Author                  : @virawss

Judul Cerita        : Man in a Dream

Tag (tokoh)         : Kim Kibum                        Kim Nara                              Jo Chunji

Jung Haera                        Im Yeojin

Genre                   : Romance

Rating                   : G

Length                  : One Shoot

± 3.561 (include author chit-chat)

Catatan Author : FF ini terinspirasi dari komik karya Yuu YoJungaga berjudul ‘Let’s Meet in Dream’.

Tapi hanya terinspirasi loh, tokoh dan isinya author buat berbeda dari yang aslinya. FF ini juga aku buat menjadi dua versi dengan tokoh utama laki-laki yang berbeda. Semoga kalian suka ya. Happy reading ^^. Jangan meng-copy paste FF ini tanpa mencantumkan judul komik asli yang menginspirasi dan FF buatan author ini sebagai credit.

 

xxXxx

“Jadi kalau kalian sudah mendapatkan nilai rata-rata dan r2  dari setiap data yang tersedia, berarti kalian sudah bisa menentukkan signifikansi dari setiap data tersebut” jelas Kangsanim yang berada di mimbar itu. Aku memperhatikan dia sejak pertama dia masuk kelas. Bukan memperhatikan mata kuliah yang dia berikan, tapi aku memperhatikan sosoknya. Sepertinya aku tidak pernah melihatnya dia di kampus, apa dia dosen baru?

 

“Kim Kangsanim, saya mau bertanya” panggil seorang mahasiswa sambil mengacungkan tangannya. “Oh jadi Kangsanim itu Kim” gumamku dalam hati. Dia benar Dosen baru ya? Kok aku tidak pernah melihat dia memperkenalkan diri sebelumnya.

“Ya silahkan” balas Kim Kangsanim.

“Pada kondisi apa data dianggap signifikan?”

“Sebuah data dianggap signifikan jika r2  ≤ 0,05. Apa masih ada pertanyaan lagi? Jika tidak kita akhiri perkuliahan hari ini” jawabnya sambil merapikan buku-bukunya. “Kau mahasiswi yang memakai baju merah, bawa buku ini ke ruanganku ya” perintahnya kepadaku. Aku terkejut saat dia mengarahkan jari telunjuknya kepadaku.

“Ne, Kim Kangsanim” jawabku sambil membungkukkan tubuhku memberi hormat kepadanya.

 

Jadilah saat ini aku sendirian menuju ruangan Kim Kangsanim dengan tumpukan buku di tanganku. Sampai di depan ruangannya, aku mengetuk pintu. “Ne, deureoseyo” terdengar jawaban dari dalam. Aku pun membuka pintu itu dengan susah payah akibat tumpukan buku ini yang membuat tanganku sulit bergerak.

“Ini buku-buku anda” aku membukukkan tubuhku dan meletakkan buku-buku Kim Kangsanim di mejanya.

“Ne, Kamshamnida Jung-ssi” jawabnya.

“He? Anda tahu namaku?” tanyaku heran.

“Ya aku tau, kau memperhatikanku sepanjang kelas berlangsung. Kau menyukaiku Nona Jung?” jelasnya kepadaku dan sedikit menginterogasiku diakhir kalimatnya yang membuat jantungku berdesir dan kemudian…

 

Aku bangun dari tidurku. Aku memperhatikan sekelilingku dan ternyata kejadian tadi cuma mimpi. Tapi kenapa semuanya terasa sangat nyata? Aku bahkan bisa mengingat dengan jelas semua detil mimpi itu dan latar mimpi itu memang kampusku. Seingatku aku tidak memiliki Kangsanim ataupun co-Kangsanim yang bernama Kim. Ah sebaiknya aku selidiki nanti di kampus.

xxXxx

Setelah memarkirkan mobilku, aku setengah berlari menuju tempat biasa aku dan teman-temanku berkumpul. Sesampainya aku di tempatku berkumpul, aku langsung menghempaskan diriku di kursi kosong.

 

“Yoo Jung Haera wasseo?” sapa Yeojin sambil menatapku.

“Yep, mana yang lain?” balasku.

“Sepertinya sudah di kelas”

“Eh Yeojin, apa kau pernah mendengar atau bertemu Kangsanim yang bernama Kim?” tanyaku.

“He? Kim? Setahuku tidak ada Kangsanim yang bernama Kim yang mengajar kita. Tapi kalau di tingkat atas aku tidak tahu. Memangnya ada apa?” Yeojin balik bertanya.

“Tidak ada apa-apa aku hanya ingin tahu. Ke kelas yuk” ajakku sebelum penyakit ingin tahu Yeojin kumat sambil berlalu.

“Tunggu akuuuuuuu” teriak Yeojin.

 

Sampai di kelas aku tidak sabar menunggu Kangsanim masuk kekelas. Aku penasaran apakah yang masuk adalah Kim Kangsanim seperti yang ada di mimpiku atau Kang Kangsanim yang seperti biasa mengisi kelas pagi hari ini dan kebetulan matakuliah pagi ini adalah statistik, seperti mimpiku semalam.

 

Annyeonghaseyo, joheun achimieyo” ujar suara dari depan kelas yang membuat aku mengangkat kepalaku yang sedari tadi aku sandarkan ke sandaran kursiku. Aku cukup kecewa karena yang kulihat bukanlah Kim Kangsanim seperti yang di mimpiku, melainkan Kang Kangsanim yang berdiri di depan kelas.

 

Aku melewati kelas pagi ini tanpa semangat dengan pikiranku yang terus memunculkan Kim Kangsanim. “Aish! Dia itu siapa sih sebenarnya! Seenaknya saja muncul dalam mimpiku” umpatku dalam hati sambil mengacak rambutku frustasi.

 

“Haera-ah, ada apa sih denganmu? Kau sungguh aneh hari ini” selidik Yeojin  yang muncul tiba-tiba tepat di hadapanku dan membuatku terlonjak.

“Kau bosan hidup? Mau mati di tanganku? Seenaknya saja mengagetkanku” omelku karena ulahnya.

Heol… tak perlu marah seperti itu kan. Lagian kenapa sih kau?”

“Kau benar-benar tidak tahu Kangsanim yang bermarga Kim?”

“Aku kan sudah bilang tadi pagi kalau aku-tidak-tahu. Memangnya kenapa sih? Kau bermasalah dengannya?”

“Ah tidak, aku hanya penasaran”

“Penasaran? Siapa sih dia sampai membuatmu penasaran seperti ini?”

“Kalau aku tau aku tidak akan bertanya padamu phabo!” jawabku sambil menyentil dahinya.

Appoooo!” jeritnya sambil mengelus dahinya. “Eh tapi kalau kau penasaran kenapa kau tidak bertanya pada akademik saja” usul Yeojin.

“BRILLIANT!!!” sahutku sambil menyetil dahi Yeojin sekali lagi dan kabur menuju akademik kampusku.

“Yaaaak sial kau Jung Haeraaaaaa!!!” terdengar omelan Yeojin yang tidak kupedulikan. Aku hanya mengacungkan jari telunjuk dan tengahku bersamaan sambil tetap berlari.

xxXxx

Di akademik aku menghampiri petugas bagian data kampus. Petugas tersebut sedang menerima telepon ternyata. Aku putuskan untuk menunggunya. Setelah cukup lama menunggu, akhirnya dia selesai menerima telepon tersebut. Aku segera menghampirinya.

 

Jeogiyo Ahjussi” salamku sambil membungkukkan badan.

Ne, ada yang bisa saya bantu?” jawabnya ramah.

“Ah iya. Begini Ahjussi, saya ingin bertanya apakah ada Kangsanim di kampus ini yang bermarga Kim?” tanyaku.

Jamshimanyo, saya cek dulu” Ahjussi itupun tampak sibuk memainkan mouse komputernya. Tak berapa lama dia kembali menemuiku. “Ada dua Kangsanim yang bernama Kim” lapornya kepadaku.

“Kalau saya boleh tau Kim Kangsanim mengajar mata kuliah apa, Ahjussi?” tanyaku lagi.

“Yang satu mengajar bahasa Korea dan yang satu lagi mengajar bahasa Inggris” jawabnya. Aku sedikit kecewa karena tak satupun dari mereka yang mengajar statistik.

“Apakah aku bisa melihat fotonya? Aku ingin memastikan Kim Kangsanim mana yang menyuruhku membawakan makan siangnya tadi di parkiran. Aku tidak sempat bertanya di mana ruangannya karena dia keburu pergi dan Kim Kangsanim itu tidak pernah mengajar di kelasku” Aku berbohong agar dia mengizinkanku melihat data diri Kim Kangsanim itu.

“Ini…” Ahjussi itu menyoKimrkanku dua lembar data diri Kim Kangsanim itu. Dan lagi-lagi aku hanya menelan pil pahit. Karena keduanya bukanlah Kim Kangsanim yang aku maksud.

“Terima kasih Ahjussi, ini adalah Kim Junghwa Kangsanim lah yang aku maksud” ujarku berbohong sambil membungkuk undur diri.

xxXxx

Aku menghempaskan tubuhku ke sofa ruang santai apartemenku. Masih dengan otak yang di penuhi oleh sosok misterius Kim Kangsanim, aku merebahkan tubuhku di sofa dan menatap langit-langit. Tak lama kemudian aku justru tertidur.

 

Aku sedang berada di danau belakang kampus. Entah sejak kapan aku jadi sering berada disini. Aku duduk bersantai di taman pinggir danau yang asri ini. Aku menikmati suasana tenang ini sampai ada suara seseorang yang mengagetkanku.

 

“Nona Jung, apa kau masih ingat pertanyaanku minggu lalu?”

 

Aku mengadahkan kepalaku untuk melihat siapa sosok pemilik suara itu. Aku terkejut melihat sosok Kim Kangsanim telah muncul di hadapanku.

 

“Huh? Jeosonghamnida Kangsanim, pertanyaan apa ya? Saya lupa” jawabku pasrah.

“Bagaimana kau bisa lupa pertanyaan seperti itu? Kau memang tidak peka atau pura-pura tidak peka?” tanyanya.

Jinjja jeosonghaeyo Kangsanim, tapi aku benar-benar lupa dan seingatku kau tidak memberikanku pertanyaan apapun saat di kelas kemarin” ujarku membela diri.

“Bukan di kelas tapi di ruanganku”

 

Di ruangannya? Ah iya kemarin aku mengantarkan buku-bukunya ya ke mejanya. AH! Aku ingat! Tapi apa iya pertanyaan itu?

 

“Ehm Kim Kangsanim?” panggilku.

“Hmm…” jawabnya singkat.

“Apa pertanyaan yang kau maksud itu…” aku ragu untuk melanjutkannya.

“Sudahlah. Aku tak peduli pada jawabanmu. Besok siang temani aku makan siang, di tempat ini dan bawakan aku makan siang” ujarnya sambil berlalu meninggalkanku yang masih mencerna baik-baik maksud ucapannya.

“Kim Kangsaniiiiiiiiim” teriakku

xxXxx

“Kim Kangsaniiiiiiiiim” aku berteriak dan terjatuh dari sofa. Aku menatap sekelilingku dan ternyata lagi-lagi aku hanya bermimpi. “Ah nan micheonabwa!” ucapku frustasi.

 

Aku berjalan menuju kamarku. Berniat untuk mandi dan berharap pikiranku kembali jernih. Baru saja hendak melangkah ke kamar mandi, ponselku berbunyi. Terlihat panggilan dari sahabatku yang berbeda kampus, Nara. Aku mengangkat panggilannya.

 

Yeoboseyo Nara-ah”

Yaaaak Jung Haera cepat buka pintunya! Aku ada di depan pintu apartementmu nih”

Mwo? Arraseo, sebentar ya” aku memutuskan panggilan dan beranjak membukakan pintu untuk Nara.

 

“Kenapa lama sekali sih buka pintunya?” hardik Nara.

“Ah mian, tadi aku ada di kamar mandi” jawabku. “Tumben kau kemari, ada apa?”

“Ehehe temani aku pergi yuk” jawabnya sok manis.

Heol… sudah tidak ada teman di kampusmu yang sanggup menghadapi keheKimnisanmu itu?” balasku sinis.

Jebal Haera-ah, aku malas berada di rumah sedangkan sekarang masih siang”

“Memangnya ke mana Chunji Oppa tersayangmu itu?”

“Dia sedang sibuk dengan latihannya, dia ada pertunjukkan dalam waktu dekat ini” jawabnya lemas.

“Hahaha tidak usah melas seperti itu wajahmu Nara-ah kau tampak menyedihkan” ejekku yang dihadiahi pukulan di kepalaku. “Haha arra, aku akan menemanimu, aku ganti baju dulu dan kau yang bawa mobil ya aku malas nyetir” ujarku sambil beranjak menuju kamarku.

Call!” teriaknya dari ruang TV.

 

xxXxx

“Kim Nara, mau sampai berapa lama lagi kau keluar masuk toko, hah?” tanyaku kesal. Kaki sudah letih mengikuti tiap langkah kaki Nara yang masih semangat keluar masuk toko.

“Kau lelah ya Haera-ah?” balasnya polos.

“MENURUTMU?” sambarku sambil memelototinya.

Arraseo, ayo kita istirahat. Kesana yuk” ajak Nara menarik tanganku menuju kedai ramen.

 

Di kedai ramen aku meluruskan kakiku dan memijat-mijatnya. Di luar sana matahari telah digantikan oleh bulan. Pantas saja kakiku seperti mati rasa, bagaimana tidak kalau aku tidak salah hitung tujuh jam kami berkeliling pusat perbelanjaan ini. Lihat saja tas-tas belanjaan kami yang bertumpuk ini.

 

“Nara, lebih baik kau jangan sering-sering ya mengajakku pergi” komentarku saat melihat kantong belanjaan kami yang bertumpuk.

Wae?” tanyanya polos.

“Kau buta?” jawabku sambil menunjuk kantong belanjaan kami dengan kerlingan mataku.

“Omoo!!! Aku baru sadar kalau belanjaan kita sebanyak itu” masih dengan wajah polosnya dia menjawab.

You have to go to a psychologist” komentarku singkat.

“Oh iya, akhir minggu ini kau ada acara?”

“Tidak”

“Kalau gitu ke rumahku ya, orang tuaku tidak ada di rumah. Kita buat pesta barbeque ya, menyambut kepulangan Oppa-ku”

“Oh Oppamu pulang dari Jerman?”

“Begitulah, keluarga bibiku yang tinggal disana akan segera pindah ke Kanada dan Oppa sudah selesai studinya, tidak ada alasan untuknya pergi ke Kanada jadi dia memutuskan untuk kembali ke Korea”

“Wah sudah sangat lama ya kau tidak bertemu dengannya?”

“Dia pergi saat aku baru berumur setahun. Saat itu keluargaku dalam masa sulit sehingga hanya mampu membesarkan satu anak. Untunglah sekarang semuanya sudah kembali normal”

“Seperti apa ya wajahnya sekarang?”

“Makanya kau harus datang dan liat sendiri betapa tampannya Oppa-ku hahaha” jawab Nara usil.

Arraseo, aku akan datang. Tapi yang penting sekarang cepat habiskan makananmu dan antar aku pulang. Kakiku sudah mati rasa”.

xxXxx

Gomawo Haera-ah untuk hari ini” teriak Nara dari dalam mobil.

Anytime, hati-hati ya di jalan”

Ne, Jaljayo Haera”

 

Aku melangkahkan kakiku gontai menuju kamar apartmentku dan memencet kombinasi kunci apartment-ku dengan tak bertenaga. “CLICK”. Aku langsung merebahkan tubuhku di atas sofa karena aku sudah kehabisan tenaga untuk berjalan ke kamar. Tak berapa lama kemudian akupun tertidur.

 

Aku berada di rooftop gedung kampusku. Entah apa yang aku lakukan di sini, tak biasanya aku sendirian kesini. Aku menikmati hembusan angin yang menerpa wajahku dan memandang kota di bawahku yang terlihat sibuk hari ini. Tapi dari atas sini semua hanya terlihat seperti gambar yang bergerak tanpa suara. Begitu sunyi.

 

“Menikmati pemandangan Nona Jung?” terdengar suara dari pojok rooftop. Aku menoleh dan lagi-lagi Kim Kangsanim yang berdiri di sana.

“Huh? Kangsanim? Sedang apa anda di sini?” tanyaku keheranan.

“Bersantai” jawabnya sambil menunjukkan sebatang rokok yang iya pegang. Di kampusku ada larangan merokok di wilayah kampus kecuali di smoking room yang di sediakan, namun letak cukup jauh dari gedung utama kampus.

“Anda merokok Kangsanim? Kalau ketahuan kau bisa kena peringatan loh”

“Selama kau tidak membuka mulutmu, siapapun tidak akan tau. Jadi apa yang kau lakukan di sini?” tanyanya lagi. “membuntutiku? Bukankah kita sudah janji akan bertemu besok di danau?”

“Membuntutimu? Tentu saja tidak. Saya bahkan tidak tahu jika anda berada di sini dan entah kenapa saya juga berada di sini” ujarku membela diri.

“Benarkah itu? Dan selama bukan di kelas, tidak usah seformal itu kepadaku, panggil saja aku Kim dan jangan lupa ‘Oppa’ karena aku tetap lebih tua darimu” katanya dengan nada bicara menggodaku.

Oppa?!?!” ujarku setengah tidak percaya dengan apa yang kudengar.

“Memangnya aku terlihat pantas kau panggil Ahjussi?”

“Tidak juga sih, hanya terdengar aneh”

“Itu karena kau belum terbiasa. Biasakanlah. Lagi pula, aku rasa kau seumuran dengan adikku”

“Begitu ya? Baiklah akan kucoba” ujarku pasrah. “hmm, Kangsanim eh Oppa. Boleh aku bertanya?”

“Go ahead”

“Sejak kapan kau mengajar di sini? Aku tidak pernah melihatmu sebelumnya”

“Kalau saatnya tiba kau akan tahu” jawabnya. “Sudah ya aku mau mengajar kelas berikutnya, maaf tidak bisa menemanimu lebih lama”

“Tunggu Oppa

xxXxx

 

KRIIIIIING KRIIIIIIING KRIIIIIING

 

Suara alarm pagiku berbunyi. Masih dengan mata tertutup aku meraba-raba meja kecil di sampingku mencari sumber suara bising yang membangunkanku tiap pagi itu. ‘KLEK’. Aku berhasil mematikan alarm itu. Dengan gerakan yang malas aku bangun dari tempat tidur dan berjalan menuju kamar mandi. Aku membasuh mukaku dan berkaca. “Lagi-lagi hanya mimpi” rutukku pada diri sendiri. Ah benar-benar membuatku mati penasaran. Yang membuatku semakin frustasi adalah mimpi itu seperti nyata dan bersambung setiap kali aku memimpikannya.

 

Aku teringat di dalam mimpiku hari ini aku janjian dengan Kim Oppa di taman danaukan. Ah aku harus ke sana dan semoga dia ada di sana. Akupun segera mandi dan menyiapkan bekal untuk makan siangku dan Kim Oppa.

 

Selama jam kuliah berlangsung, aku tidak dapat berkonsentrasi. Pikiranku terus melayang ke danau belakang kampus. Aku sudah tidak sabar untuk membuktikan kenyataan dari mimpiku kemarin. Jam kuliah selesai, dengan secepat kilat aku berlari menuju danau belakang kampus tanpa mengiraukan Yeojin yang memanggil-manggil namaku.

 

Di sini aku, di taman danau belakang kampus, duduk sendiri memandangi hamparan air yang mengisi danau itu. Sebentar-sebentar aku menoleh ke kiri dan kanan mencari sosok Kim Oppa yang aku Haerapkan kedatangannya.

 

Sudah hampir tiga jam aku menunggunya di sini, tapi yang ku tunggu tak kunjung memberikan pertanda bahwa dia nyata. Aku memutuskan untuk memakan semua bekal yang kubawa dengan perasaan campur aduk. Di tengah nafsuku menghabiskan bekalku, aku teringat rooftop kampus yang juga menjadi tempatku bertemu dengan Kim Oppa. Aku membereskan tempat makanku dengan tergesa-gesa. Langsung aku menuju rooftop gedung kampusku .

 

Sampai di rooftop aku segera memeriksa setiap sudutnya berharap menemukan sosok Kim Oppa yang terus menghantui pikiranku. Namun sosok itu tak kutemukan di manapun. Aku menyerah dan memutuskan untuk kembali ke rumah.

xxXxx

Aku membesarkan volume speaker mobilku. Aku bernyanyi mengikuti setiap musik yang keular dari speaker sambil berteriak-teriak, menumpahkan semua kekecewaanku karena sosok Kim Oppa yang belum jelas keeksistensiannya itu.

 

Aish, aku terjebak macet di peremapatan jalan yang membuat aku bertambah stress. Tapi tiba-tiba mataku membelalak saat menangkap sosok yang akhir-akhir ini selalu muncul di mimpiku sedang menunggu seseorang sepertinya. Dia berdiri di depan pertokoan sambil terus melirik jam tangannya. Sedangkan aku masih terus memperhatikannya dengan seksama. Sekarang aku bersyukur karena jalanan di depanku macet. Lalu pemandangan yang tak kalah mengejutkan muncul di depanku. Nara. Ya sahabatku Nara menghampiri Kim Oppa dan dengan manja menggandeng lengan Kim Oppa.

 

Mataku bergetar saat melihat situasi itu. Berbagai macam pikiran terlintas di otakku. Tapi aku memilih untuk tetap waras dan meyakinkan diri bahwa mungkin hanya terlihat mirip. “Mungkin aku terlalu terbawa mimpiku akhir-akhir ini sampai semua namja terlihat sepertinya” aku bergumam pada diriku sendiri. Lolos dari macet aku langsung menancapkan gasku. Jujur saja, perasaanku tidak sepenuhnya tenang karena kejadian tadi, tanpa sadar aku berkendara tanpa tujuan.

 

Dan akhirnya aku terdampar di pinggir sungai Han mengutuk manusia yang bermarga Kim yang muncul di mimpikku itu dalam hati.

 

“YAK KAU KIM KANGSANIM!!! SIAPA KAU SEBENARNYA? APA KAU ADALAH KEKASIH NARA? KALAU BEGITU BERARTI KAU ADALAH KIM CHUNJI! TAPI KENAPA KAU MUNCUL DI MIMPIKU TERUS MENERUS? SEENAKNYA MUNCUL DI MIMPI ORANG DAN MEMBUAT ORANG ITU MEMIKIRKANMU PAGI SIANG SORE MALAM SEPERTI ORANG GILA TAPI PADA KENYATAANNYA KAU ADALAH PACAR SAHABATKU!!!!” aku berteriak sekerasnya tanpa mempedulikan sekeliling yang menatap aneh diriku.

 

Aku menghempaskan tubuhku ke tanah. Dengan nafas yang masih menderu-deru aku mulai menangis. Ya tanpa terasa kehadirannya yang misterius telah mampu mengisi ruang di hatiku. Tapi sangat mengenaskan mengetahui bahwa Kim Oppa adalah Chunji, yaitu kekasih Nara.

xxXxx

Author pov

Haera sama sekali tak berniat pulang, dia mengentikan mobilku ke sebuah kedai soju. Dia turun dari mobil dan melangkah masuk kedalam. Haera berniat menghabiskan sepanjang malamnya di sini.

 

Haera mulai merasa kepalanya berat, entah sudah berapa botol soju yang dia habiskan. Jangankan menghitung, membuka matanya lebar-lebar saja Haera sudah tidak mampu. Haera hendak beranjak ke kamar mandi. Perutnya terasa mual sekali. Tapi bukannya berhasil ke kamar mandi, Haera justru jatuh hilang keseimbangan.

 

Agasshi, gwenchanayo?” tanya seorang namja. Dia berjongkok di depan Haera hendak membantunya bangun.

Gwenchanayo” jawab Haera sambil mengibas-ngibaskan tangan.

“Kau mau ke mana?”

“Ke kamar man…” belum selesai Haera menyelesaikan kalimatnya, tubuhnya ambruk lagi. Tapi kali ini di tahan oleh tangan namja itu.

Agasshi di mana rumahmu? Ayo kuantar kau pulang” tawar namja itu.

“A… ku… me… em… ba… wa… mo… bil” jawab Haera terpotong-potong.

 

Namja itu membawa Haera ke mobilnya. Kemudian memposisikannya di kursi samping kemudi dan memasangkan seatbelt ke tubuh Haera. Setelah itu namja itu duduk di kursi kemudi dan menyalakan mobil.

 

Agasshi, di mana rumahmu?” tanya namja itu lagi.

“Ak… aku tidd…dak mau pu..lang” jawab Haera.

“Lalu kau mau ke mana? Kau sudah mabuk berat”

“Kemanapp phun yang pentt thing tidak kerumma ah” jawab Haera lagi.

 

“Harus kubawa kemana gadis ini” pikir namja itu dalam hati. “Ah yasudahlah aku bawa dia ke rumahku saja. Lagi pulakan ada dongsaeng-ku dan dia perempuan juga, jadi tak masalahkan” pikirnya lagi.

 

“Nara bukakan pintu!” teriak namja itu dari luar rumah. Kemudian terdengar suara dari dalam dan tidak lama kemudian pintu terbuka.

SAESANGHAE!!!! OPPA APA YANG KAU LAKUKAN HAAAH!!!” teriak Nara terkejut.

“Sudah minggir nanti aku jelaskan” namja itu menggeser tubuh adiknya dengan kaki Haera yang menjuntai. Namja itu menggendong Haera ala bridal style. Namja itu merebahkan Haera di kamar adiknya. Dan kemudian…

“OMO!!!! JUNG HAERA????!?! YAK OPPA APA YANG KAU LAKUKAN KEPADA CHINGU-KU?” teriak Nara histeris.

“Kau kenal dia? Ayo keluar aku jelaskan” ujar namja itu sambil mendorong adiknya.

 

“Oh jadi kau bertemu dengannya di kedai soju dan berniat mengantarnya tapi Haera bilang dia tidak mau pulang, begitu?” ujar Nara mencoba merangkum cerita Oppanya.

“Ya tentu saja. Kau pikir aku akan berbuat yang aneh-aneh” jawab namja itu sambil memukul kepala Nara.

 

xxXxx

Haera membuka matanya dan memegang kepalanya yang masih pusing. Dia mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar. Haera merasa tidak asing dengan kamar ini. Pintu kamar terbuka.

 

“Jung Haera, kau sudah bangun?” tanya Nara.

“Nara? Jadi benar aku di kamarmu?” Haera balik bertanya.

“Menurutmu? Kau sudah gila? Minum sampai mabuk seperti itu!”

“Tapi bagaimana caranya aku bisa sampai sini?”

“Ya benar! Bagaimana KAU sampai kesini? Kalau saja bukan Oppa-ku yang menangkapmu saat kau jatuh, mungkin sekarang kau sudah ada di halaman depan koran sebagai korban tabrakan, perampokkan, pemerkosaan atau yang lebih parah lagi MUTILASI!!!” omel Nara panjang lebar.

“Omonganmu kejam sekali” balas Haera lesu.

“Kalau apa yang aku ucapkan terjadi itu baru kejam!” omelnya lagi. “Sudah ya aku mau ke toko grosir untuk membeli kebutuhan barbeque nanti”

“Mau kutemani?” tawar Haera.

“Tidak usah, kau istirahat saja”

“Kalau boleh aku titip belikan pakaian dalam ya dan boleh nanti aku pinjam bajumu? Bagaimanapun juga aku harus ganti baju” pinta Haera memelas.

“Benar-benar merepotkan”  Nara menggelengkan kepala tanda tidak percaya dengan permintaan Haera. “tidak perlu beli. Aku punya beberapa pasang yang baru dan belum pernah kupakai, ambil saja. Aku tidak mungkin membeli pakaian dalam di hadapan Chunji Oppa. Sudah ya aku pergi dulu”.

 

Nafas Haera tercekat saat mendengar nama Chunji. Dia mulai mengingat kejadian kemarin yang membuatnya berakhir di kamar Nara. Haera memutuskan untuk mandi agar pikirannya jernih kembali.

 

Haera meminjam baju Nara. Kini Haera sudah rapi dan berniat turun ke bawah.  Haera mengedarkan pandangannya mencari Oppa-nya Nara untuk berterima kasih, tapi rumah itu tampak kosong.

 

“Haera-ssi kau sudah bangun?”  terdengar suara berbicara kepadaku dari arah taman belakang.

 

Haera menoleh dan terkejut  melihat namja yang berbicara kepadanya.

 

“Kim Oppa” lirihnya.

“Maaf kau bilang apa?” tanya namja itu sambil menghampiri Haera.

“Kau… Kim Oppa?”

“Ah iya, aku Kim. Namaku Kim Kibum, aku Oppa-nya Nara” jawabnya memperkenalkan diri.

“Kim Kibum? Jadi kau bukan Kim Chunji?”

“Iya aku Kim Kibum. Kim Chunji? Pacar Nara? Seingatku namanya adalah Jo Chunji” jelas Kibum.

“Syukurlah kau bukan Chunji” ujar Haera. Dia merasa tenang kalau pikirannya selama ini salah.

“Memang kenapa dengan Chunji?” tanya Kibum.

“Ah bukan apa-apa. Aku pikir kau adalah Chunji, karena beberapa waktu lalu aku melihat kau bersama Nara. Jadi aku pikir kau Chunji”

“Eh tapi, apa kita pernah bertemu sebelumnya?” tanya Kibum lagi. “Kau tampak tak asing bagiku, seperti aku telah lama mengenalmu” lanjut Kibum.

“Akupun merasakan hal yang sama” jawab Haera. “Selama ini kau terus hadir di mimpiku. Kau selalu datang menemuiku saat mataku tertutup. Kau tau? Sejak itu kau tak pernah pergi dari otakku. Semenjak itu pula kau mulai mengisi ruang di hatiku. Aku tersiksa karena hanya bisa bertemu denganmu di mimpi tanpa mengetahui siapa dirimu sebenarnya atau apakah kau ini nyata?” ucap Haera dengan suara bergetar.

“Apa kau percaya takdir? Atau jika aku katakan bahwa aku juga memimpikanmu kau akan menganggap aku gila?” balas Kibum yang sekarang memegang kedua lengan Haera.

“Entahlah. Mungkin kita berdua gila”

“Mungkin… mungkin memang terdengar gila. Aku yang menghabiskan 20 tahun hidupku di Jerman memimpikan seorang yeoja yang tidak aku kenal yang tinggal di Korea. Sama sepertimu, akupun dibuat bingung dengan mimpi itu. Lalu sekarang kita di sini, saling berhadapan. Apa namanya jika bukan takdir?”

“Kalau aku bilang aku percaya takdir, apa yang akan kau lakukan?” Haera menatap lekat Kibum.

“Jika kemarin aku selalu hadir di mimpimu, maka saat ini, esok dan seterusnya akulah orang yang akan selalu hadir di mimpimu, selalu menemani dirimu saat bermimpi dan selalu menjadi orang yang mewujudkan mimpimu” jawab Kibum sambil memeluk Haera.

 

-FIN-

 

1 Comment (+add yours?)

  1. cutmasrurah
    Jul 25, 2015 @ 21:58:40

    Ini sama persis dg ff A Real Dream. Cuma beda cast aja.

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: