Just Moment

Just Moment

Author : Rien Rainy (@Riechanie_ELF / Riechanie Elf)

Cast :

  • Lee Dong Hae Super Junior as Lee Dong Hae
  • Cho Kyu Hyun Super Junior as Cho Kyu Hyun
  • Cho Hyo Na (OC)
  • Choi Woo Ri (OC)

Genre : romance, comedy

Rated : T

Length : drabble

Author note : “Jangan lupa main-main ke http://riechanieelf.wordpress.com/ ~!!! ^o^”

HAPPY READING~!!!

ENJOY~!!!

DON’T BASH~!!!

DON’T PLAGIAT~!!!

DON’T LIKE DON’T READ~!!!

—Just Moment—

“Saat aku bersyukur karena pagi ini bisa bertemu langsung denganmu. Hanya seperti itu saja sudah membuatku merasa cukup bahagia, walau sebenarnya pertemuan kita sama-sama sial…”

Mungkin ini bukan pagi lagi mengingat waktu yang sudah banyak terlewatkan oleh sosok gadis berambut sebahu yang terburu-buru di langkahnya. Lorong kelas yang menjadi saksi bisu antara suara decakan sepatu yang berkejaran, terlihat kecemasan di langkahnya tetapi gadis itu masih saja meneruskan langkah-langkahnya.

“Hah, kenapa aku bisa setelat ini?!”

Umpatan kecil ke luar dari bibirnya sambil merutuki betapa telatnya dia hari ini. Gadis itu sungguh masih ingat kalau dirinya bukanlah salah satu murid yang bisa datang telat tetapi hari ini mengapa dia bisa telat dan berlari-lari kecil di lorong kelasnya. Dan dia sungguh harus menyalahkan kecerobohannya mengutak-atik jam wekernya di kamar, jam yang harusnya membangunkan dia tepat jam lima pagi harus berbunyi tepat jam tujuh dan dia sungguh benar-benar kesal.

Pintu kelasnya sudah terlihat di ujung sana, tertutup karena pelajaran sudah berlangsung beberapa menit yang lalu, yaitu tepat saat dirinya mendapatkan hukuman dari salah satu guru wanita yang galak di sana. Sungguh dia harus mengutuk hari ini karena dia telat di tambah harus melaksanakan hukuman yang menguras tenaganya di pagi hari.

Dan baru saja langkah kakinya akan berpijak mendahului pintu tersebut dari arah belakangnya terlihat sosok pria yang sama seperti dia. Pria berambut brunette yang kini sudah berdiri tepat di depannya dengan nafas tersengal-sengal sama seperti gadis berambut sebahu yang menjadi menatapnya dengan heran, “Heh, Dong Hae-ah, kau juga telat hari ini?”

Dan pria itu berbalik untuk menatap gadis berambut sebahu yang memandanganya dengan tatapan heran. Benar-benar di luar dugaan dia selama ini, Dong Hae bisa sama telatnya seperti dirinya. Ini takdir atau hanya kebetulan tetapi ini cukup untuk mengganggu pemikiran gadis berambut sebahu tersebut, “Hehehe, Kakak ku lupa membangunkan ku pagi ini! Hyo Na-ah, sendiri?”

Dan untuk jawaban dan pertanyaan yang terdengar sekaligus tersebut membuat gadis bernama Hyo Na itu menjadi sedikit meringis untuk mengakui bahwa dirinya ceroboh saat memasang alarm di jam wekernya. Dong Hae yang mendengarnya sedikit tertawa membuat wajahnya yang tampan menarik perhatian Hyo Na yang memandanginya sedikit terpana, bukan sedikit juga tetapi sudah sepenuhnya terpana karena tawa tersebut.

“Kau benar-benar ceroboh, ya? Mari kita masuk… hm, dan… sedikit mendapat hukuman dari Guru Song mungkin?!”

Dong Hae berucap bercanda di depannya, mengajak dia untuk sama-sama masuk ke dalam kelas yang sudah tertib mendengarkan penjelasan guru Song. Mungkin memang benar keduanya akan mendapatkan sedikit hukuman, tetapi sepertinya Hyo Na tak mempermasalahkan itu sama sekali. Yah, lihat saja gadis berambut sebahu itu kini sudah sedikit tersipu karena Dong Hae menarik lengannya untuk masuk dan menghadapi guru Song bersama-sama.

‘Uhm, aku pikir hukuman ini akan menjadi menyenangkan…’ pikirnya sendirian sambil menundukan kepala karena sudah di marahi oleh guru Song.

“Aku sudah cukup untuk menghindar tetapi mengapa kau seolah mengikutiku? Tapi apa kau benar mengikutiku atau aku yang tak sadar mengikutimu?”

Terlihat dia baru saja memasuki area perpustakaan yang sepi. Cukup bisa di katakan sepi karena perpustakaan tidak ada pengunjungnya saat jam pelajaran sedang berlangsung seperti saat ini, terkecuali untuk beberapa siswa yang membolos atau ingin mencari bahan mata pelajaran. Gadis berambut panjang berwarna hitam lurus tersebut terus terlihat melangkah masuk ke dalam bagian-bagian rak yang tersusun buku-buku tebal di sana, buku-buku pelajaran dan buku-buku refrensi lainnya. Di ikuti jemarinya yang sudah ikut bergerak mencari sesuatu di sana, sebenarnya dia tak yakin juga ingin benar-benar mencari sesuatu di sana. Hanya saja dia sepertinya sedang berniat membolos saja dari kelasnya yang tengah berlangsung mata pelajaran yang amat sangat dia benci, “Hah, di sini Guru itu tak akan menemukanku!” ucapnya kemudian lalu memilih untuk menyudut di tengah-tengah rak yang berisi buku-buku.

Gadis berambut panjang tersebut mendudukan dirinya dengan ponsel di tangannya, telinganya sudah dia sematkan earphone untuk dia mendengarkan lagu-lagu di sana dan jangan lupakan sebungkus roti yang dia seludupkan di saku blazernya. Apa dia terlihat seperti gadis-gadis nakal di sekolahnya atau gadis malas yang membolos pelajaran, sungguh buang pikiran kalian pada pilihan-pilihan seperti itu.

Gadis berambut panjang hitam itu sungguh pintar di kelasnya, termasuk gadis populer karena dia adalah salah satu pemain di tim basket perempuan di sekolahnya, lalu dia adalah sosok yang ramah dan baik. Tetapi cukup berhati-hatilah karena jika dia sudah marah dia akan sangat-sangat menyeramkan di bandingkan seperti biasanya. Sudah cukup aku perkenalkan dirinya yang kini terlihat menarik salah satu buku di sana hingga menimbulkan celah kecil dan membuatnya bisa memandang ke arah lain sisi rak.

“Hah, kenapa dia bisa di sini?!”

Dia sedikit tercekat mungkin ketika matanya menangkap sosok pria berambut ikal tengah duduk di samping rak yang ada di dekatnya. Jarak mereka berdua hanya berbatas rak dan buku-buku yang menutupi tubuh keduanya, gadis berambut panjang berwarna hitam itu kini mulai berusaha mengingat-ingat saat dia masuk ke perpustakaan tadi.

Dia sangat mengingat kalau di rak sampingnya itu kosong, tak ada orang yang juga berniat sama sepertinya katakanlah membolos. Tetapi mengapa kini matanya malah menangkap sosok orang lain yang tengah memainkan benda petak di tangannya itu, pria berambut ikal yang dia maksudkan sekarang.

“Shht… Shht…”

Mendesis keras di celah buku tadi berusaha untuk mengusik orang di sana yang sepertinya serius sekali memainkan benda itu. Ah, bahkan dia benar-benar tak merasa kalau dirinya tengah di panggil atau di usik dari tadi, benar-benar tidak peka sekali orang ini.

Kehabisan kesabaran mungkin saja membuat gadis tersebut bangkit dari tempatnya dan berjalan menemui orang yang ada di samping raknya tadi. Mungkin dia berniat bertanya padanya atau bisa saja memarahinya, tapi untuk sebab apa dia jadi kesal dan bertingkah seperti ini pada pria berambut ikal tersebut.

“Hei, Kyu Hyun, kenapa kau bisa di sini, uh?”

Pria berambut ikal itu tak menanggapinya, dia masih serius memainkan benda itu. Gadis berambut panjang kini terlihat kesal hingga akhirnya dia menarik benda tersebut dari tangannya dan membuat Kyu Hyun menatapnya dengan kesal dan bercampur heran, “Kau, Choi Woo Ri? Kau membolos, ya?” katanya terdengar membuat gadis bernama Woo Ri itu jadi menatapnya dengan pandangan tak percaya.

“Ck, bukan urusanmu! Kenapa kau ada di sini, uh? Kau mengikutiku, ya?”

“Hei, siapa yang mengikutimu? Jelas-jelas sejak pelajaran pertama aku sudah berada di sini, kau tahu itu?”

Woo Ri sedikit berjengkit dari tempatnya, Kyu Hyun kemudian merebut benda yang di tahannya lalu kembali pada posisinya tadi. Terduduk sambil menyandar dengan tenang di sana, dasar maniak game, sekilas mungkin itulah umpatan Woo Ri saat matanya memandang kesal ke arahnya.

“Ck, sudah jelas, kan? Kalau kau yang selalu mengikutiku bukan aku yang mengikutimu!” Kyu Hyun berucap dengan nada datar yang dia miliki membuat Woo Ri berdecih lalu kesal dan kemudian meninggalkannya dengan kekesalan yang sanga-sangat besar.

“Uh, kenapa bisa jadi seperti ini?! Padahal… padahal, aku sudah yakin dia ada di kelasnya tadi!” umpatan kecil dia ucapkan pada dirinya sendiri sambil meninggalkan perpustakaan.

Tak dia rasa jika Kyu Hyun sekilas tertawa kecil lalu semakin melanjutkan permainan yang sempat dia berhentikan tadi. Dan apa ini di sengaja atau tidak olehnya, dia tadi benar-benar berbohong pada gadis yang di kenal pemarah itu. Uh, benar-benar jahil sekali dirinya.

“Aku tak pernah bisa memang untuk mendekatimu tetapi kali ini aku yakin bisa mendekatimu, secara alami. Apa ini takdir atau tidak, tetapi aku bersykur…”

“Kau baik-baik saja, Hyo Na-ah?” Hyo Na mendongak menatap Dong Hae di sampingnya tengah memandangi dia dengan khawatir, gadis itu menggelengkan kepalanya dengan senyuman kecil.

“Aku baik-baik saja!” ucapnya yakin lalu memandang ke arah depannya sambil menegakan kembali kedua lengannya ke atas.

Hukuman. Masih ingat dengan hukuman yang di berikan guru mereka tadi, keduanya kini sama-sama berdiri menggunakan lutut mereka dan kedua tangan yang terangkat ke atas, benar-benar menyiksa keduanya. Walau sebenarnya Hyo Na kira dia akan di hukum untuk berdiri saja di luar kelas, tetapi dia sungguh menyesalkan jika hukumannya benar-benar seberat ini. Ini benar-benar di luar dugaan yang dia pikirkan, Dong Hae yang ada di sampingnya mungkin bisa bertahan tetapi bagaimana dengan dirinya. Dia jadi ragu sekarang karena Hyo Na sudah sedikit limbung dan selalu berusah menahan senyuman di depannya.

“Uhm, kau bisa beristirahat sebentar, Hyo Na-ah. Aku bisa menjagamu dari pengawasan Guru Song,” Dong Hae berucap sungguh-sungguh padanya membuat dia kini mempertahankan kekerasan kepalanya.

“Aku baik-baik saja! Aku masih bisa menahannya lima menit lagi sebelum isitirahat, Dong Hae-ah!”

Dong Hae lagi-lagi tak tahu harus berbuat apa selain terus memperhatikan Hyo Na yang keras kepala dan selalu memasang wajah baik-baik saja di sampingnya. Tak tertutupi lagi gadis itu sebenarnya sudah sangat tidak sanggup, terlihat dari dia yang berulang kali limbung dan berulang kali mengguncangkan kepalanya atau sekedar menggerakan kedua tangannya untuk menghilangkan kebas. Tetapi setidak sanggup itulah dia terus berusaha mengatakan pada Dong Hae kalau dirinya baik dan masih sanggup, “Saat istirahat nanti akan aku antar kau istirahat di ruangan kesehatan!”

Hyo Na menolehkan kepalanya mendengar Dong Hae yang berucap sungguh-sungguh di sana. Bahkan kedua orang itu sama-sama melihat ke arah mata masing-masing, hitam kelam bertemu dengan hazel, dua warna yang sangat berbeda tetapi mata itu bisa terbaca masing-masing mereka. Tak di sadari gadis itu bahkan pipinya merona dan terlihat jelas di mata Dong Hae yang kini sudah berkedip seolah mengira apa yang di lihatnya salah, tetapi beberapa menit kemudian dia kembali memasang senyuman di wajahnya.

“Uhm, terimakasih, Dong Hae-ah,” Hyo Na langsung menundukan kepalanya, Dong Hae masih saja tersenyum dan semakin memperhatikannya.

Kini Hyo Na jadi lebih bersyukur lagi entah dia rasa inilah keberuntungan yang dia miliki atau tidak. Dia merasa jika dirinya begitu dekat sekali dengan Dong Hae walau tak dia pikir selama ini memang dia amat dekat, tetapi kali ini kedekatan mereka benar-benar terasa berbeda dan membuatnya semakin bahagia.

“Dan lagi-lagi aku kembali melihatmu. Apa dunia ini memang sangat kecil hingga aku terus-menerus melihatmu. Menyebalkan!”

Hujan sepertinya belum mau reda. Woo Ri bahkan masih terduduk di tempatnya menatapi genangan air yang semakin bertambah karena intesitas turun hujan semakin deras, benar-benar tak mengizinkannya untuk pulang. Lagi pula mengapa juga dia sampai lupa membawa payungnya padahal jelas sekali ibu telah memberitahukan padanya jika siang nanti akan turun hujan, benar-benar kecerobohan yang dia lakukan.

Tak ada hal lain yang kini dia kerjakan selain menghitung rintik hujan yang turun lalu dengan kurang kerjaannya dia memainkan kayu yang dia dapatkan entah darimana mengusak-usak genangan air itu. Mungkin dia tengah mengusir kebosanan dia atau mengusir rasa kesalnya yang dia pikir semakin bertambah, apa ini hari sialnya atau tidak, tetapi dia pikir ini sangat menyebalkan.

Sebelumnya Hyo Na seorang temannya tadi sempat berbaik hati untuk berbagi payung dan bahkan ingin mengantarkannya sampai halte, tetapi entah mengapa Woo Ri menolaknya dengan pelan dan berucap jika dia akan di jemput kakak lelakinya. Lagi-lagi dia berbohong dan bersikap tidak ingin merepotkan orang lain di saat terdesak seperti ini. Lagi pula, Woo Ri sangat pandai membaca kondisi saat Hyo Na menawarinya tadi, di dekat gadis itu bahkan sudah ada Dong Hae yang katanya juga ingin berbagi payung sampai ke tempat parkir. Dan akhirnya entah mengapa Woo Ri mengalah dan menyuruh Hyo Na untuk mengantarkan Dong Hae saja daripada dirinya, “Huh, hujan ini benar-benar menyebalkan!”

Pluk.

“Eh?!”

Dia cukup untuk tiba-tiba terkejut dan mendapati sebuah payung berwarna biru langit menepuk dahinya, cukup menyakitkan. Lalu matanya yang berwarna coklat itu menatap sosok pria berambut ikal yang berdiri di sana, “Ambillah, aku tahu rumahmu sangat jauh dari sini!” dan kemudian dia berlari menembus guyuran hujan seperti tak memberikan kesempatan pada Woo Ri yang ingin memprotes atau memarahinya.

“Ck, dasar Kyu Hyun bodoh!”

Lagi, dia hanya bisa mengumpat sambil menatap payung yang dia genggam di tangannya bergantian dengan lapangan sekolah yang sudah sepi dan tak menunjukan sosok Kyu Hyun di sana. Kyu Hyun sepertinya cepat sekali berlari menembus hujan, benar-benar mengabaikan Woo Ri yang akan meledak memarahinya.

“Hm, padahal juga aku sudah menghindarinya, lagi-lagi aku ketahuan…” lirihnya pelan lalu kemudian dia memilih untuk pulang ke rumah dengan payung yang Kyu Hyun pinjamkan atau berikan kepadanya.

“Uhm, semoga saja dia tak sakit besok,” ucap Woo Ri lagi seperti medoakans sesuatu yang baik pada Kyu Hyun yang tadi sempat di sebut dengan sebutan bodoh olehnya.

“Lalu… ini hanyalah berisi tentang momen-momen kecil yang cukup sederhana dan mampu membuat orang-orang yang merasakannya atau membuatnya terasa aneh, bahagia, cukup kesal atau apapun itu… lihat, betapa uniknya cinta itu tercipta di balik momen kecil dan sederhana tadi…”

.

.

.

.

END

Yattaaaa…  ^^

Rien bawa ff drabble yang berisi Hyo-Hae dan Kyu-Ri couple~~ yuhuuu~ terinspirasi dari beberapa adegan dalam anime yang Rien tonton~!? XD ekekekeke~

Dan, semoga kalian menyukainya, ya~!?^^

[Kalian suka dengan dua couple ini? Uhm, bersedia tinggalin komen? Rien tunggu yaaa~!!!]

4 Comments (+add yours?)

  1. shoffie monicca
    Jul 26, 2015 @ 18:50:26

    kasih sequel donk thor crtanya mnarik jd pngn bc lg….

    Reply

  2. tiramikyu
    Jul 28, 2015 @ 20:16:00

    Ɣªª ampuunn author_nim bkin aku senyam-senyum sendiri baca ff ini hihihiii…klo ªϑa̲̅ lanjutanx boleh tuh (rayu author) pokoke Daebak….!!!!

    Reply

  3. Rien Rainy
    Jul 29, 2015 @ 04:26:48

    xD hehehe, pd minta sequel y?! duh, liat kondisi dulu deh ya~~ xD

    tapi gomawo uda suka ff ku~ ^^

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: