A GAME ABOUT LOVE

agame

Nama                : ghefira010298
Judul Cerita        : A Game About Love
Tag (tokoh/cast) : Lee Donghae, Choi Hye-Mi, Cho Kyuhyun, Shin Ri-Rin
Genre                : Romance
Rating               : PG-15
Length              : Oneshot
Catatan Author  : Ini FF udah lama sebenernya. Dan pengen saya coba kirim ke blog ini, karena saya pengen makin banyak yang baca tulisan saya, sebagai bahan perbaikan agar karya saya bisa lebih baik lagi ke depannya. FF ini juga pernah saya updated di blog pribadi saya. Bagi yang bersedia berkunjung, meluangkan beberapa menit waktunya untuk mampir, silakan datang ke https://gaemrafanfiction.wordpress.com/

Maaf jika terlalu banyak bicara. Selamat membaca. Jangan lupa tinggalkan komentar setelah membaca^^

 

Friday, May 23rd.

“Hye Mi-ya, coba lihat ini,” seru Ri Rin ketika Hye Mi baru saja membukakan pintu apartmentnya. Ri Rin dan seorang pria yang sangat dekat dengan Hye Mi pun masuk ke dalam apartment dengan ukuran yang sedang itu setelah sebelumnya meletakkan sepatu masing-masing di rak yang memang sudah disiapkan khusus oleh penghuni apartment.

Hye Mi menutup pintu dengan malas. Gadis itu kemudian menatap Ri Rin yang sudah berdiri tak jauh darinya sambil memegang ponsel genggamnya. “Apa yang harus aku lihat?” tanyanya sedikit malas.

“Kau lihat saja.” Ri Rin memberikan ponselnya kepada Hye Mi.

Hye Mi menerimanya, ia langsung melihat apa yang sebenarnya ingin ditunjukkan oleh Ri Rin padanya. Ia menatap layar ponsel itu dengan raut wajah tanpa ekspresi. Ekspresinya sangat datar seakan tidak berminat untuk melihat apa yang ada di hadapannya saat ini.

“Bagaimana?” tanya Ri Rin pelan.

Hye Mi mengangkat wajahnya, menatap dua orang tersebut dengan malas. “Jadi kalian ke sini hanya untuk menunjukkan foto murahan ini padaku?” ucapnya dingin.

“Itu bukan foto murahan. Itu foto asli. Tadi saat aku sedang jalan dengan Kyuhyun, kami tidak sengaja melihat Donghae bersama seorang wanita. Kami pikir itu kau. Tapi setelah kami perhatikan dengan saksama, wanita itu bukan kau. Dan kau tahu? Foto itu kami ambil secara diam-diam saat mereka sedang melakukan adegan seperti itu,” jelas Ri Rin.

“Lalu, dengan adanya foto ini, kalian ingin aku berbuat apa?”

“Kau tidak marah, hah?” tanya Kyuhyun, pria yang tadi datang bersama dengan Ri Rin.

“Tidak. Untuk apa? Ini, aku kembalikan ponselmu, eonni, ” sahut Hye Mi sambil menyerahkan ponsel tersebut kepada Ri Rin.

Setelah Ri Rin menerima ponselnya, Hye Mi berjalan melewatinya dan juga Kyuhyun. Gadis itu malah masuk ke dalam kamar dan membanting pintunya dengan keras sehingga menimbulkan suara dentuman di seluruh ruangan.

Ri Rin menatap Kyuhyun heran, sedangkan Kyuhyun hanya mengangkat kedua bahunya. “Dia memang seperti itu, kan?”

**

Saturday, May 24th.

Hye Mi memasukkan suapan pertama sarapan paginya ke dalam mulut dengan gerakan pelan. Namun, sedetik kemudian, keningnya mengerut, merasa ada sesuatu yang tidak beres dengan makanannya itu. Hye Mi langsung berlari ke tempat di mana ia meletakkan kantung plastik sampah, dan memuntahkan isi mulutnya ke dalam sana. Gadis itu berlari mendekati meja makan dan menyambar segelas air putih yang ada di atasnya.

“Sial!” gerutunya kesal. Ternyata, makanan yang dibuat oleh Hye Mi terlalu asin. Ia tidak pernah tahu kenapa bisa memasukkan garam sebanyak itu, padahal tadi ia merasa bahwa garam yang ditaburkan sudah lebih dari cukup. Kenapa rasanya terlalu asin? Mungkin, saat menaburkan garam, ia sedang melamun?

Hye Mi menaruh gelas tersebut di atas meja dengan kasar. Gadis itu menggeleng, merasa ada yang tidak benar dengan otaknya saat ini.

“Gara-gara ulah Ri Rin eonni dan Kyuhyun semalam, kenapa aku jadi seperti ini?” gumamnya pada diri sendiri.

Hye Mi bergegas menuju kamarnya, mengambil handphone dan berniat untuk menghubungi seseorang. Tetapi beberapa detik setelah ia meletakkan handphonenya di telinga kanan dan terdengar nada sambung, yang didapatnya adalah sebuah tolakan panggilan yang membuat nada sambung itu terputus.

Hye Mi mengamati ponselnya dalam diam. “Ada apa dengan pria itu? Aku benar-benar berharap bahwa apa yang mereka tunjukkan semalam, tidak benar adanya.”

 

**

Donghae mengangkat kepalanya ketika mendengar pintu ruangan tempat ia bekerja terbuka. Pria itu tersenyum tipis ketika mengetahui siapa yang datang.

“Ada perlu apa? Kenapa tidak memberitahuku dulu?” tanyanya ketika gadis itu berdiri di belakang sebuah kursi yang ada di seberangnya.

“Kenapa tidak mengangkat telephoneku?”

“Oh, itu? Aku sedang ada rapat tadi. Kenapa? Ada hal penting yang ingin kau sampaikan, Mi-ya?”

Hye Mi memicingkan matanya. “Semalam pergi dengan siapa?”

“Maksudmu?”

Hye Mi mendengus. “Jangan berpura-pura, Tuan Lee. Jawab saja dengan jujur.”

“Bagaimana aku harus menjawab pertanyaanmu jika aku saja tidak mengerti maksud dari pertanyaamu itu, Mi-ya.” Donghae memang selalu memanggil gadisnya itu dengan panggilan kesayangan, Mi-ya. Panggilan itu hanya Donghae yang memiliki dan memang benar-benar khusus ia buat untuk Hye Mi. Tidak ada yang memanggil Hye Mi dengan panggilan seperti itu, kecuali dirinya.

“Semalam kau pergi dengan siapa, hah?”

Pria itu menyipitkan matanya. “Semalam?” Donghae mengulang pertanyaan Hye Mi.

“Kau terlalu lama.” Hye Mi malah membalikkan tubuh dan berjalan keluar ruangan Donghae sambil menutup pintu dengan kasar. Donghae yang melihat gadisnya itu begitu kesal, malah menarik kedua sudut bibirnya ke atas, tersenyum.

 

**

Hye Mi terus memacu kecepatan mobilnya hingga melebihi 80km/jam. Banyak suara klakson-klakson mobil lainnya yang seolah tidak setuju dengan laju mobil Hye Mi yang terlampau cepat itu. Gadis itu mengabaikannya. Tidak peduli dengan komentar orang lain mengenai apa yang sedang dilakukannya saat ini. Yang ia ingin hanya, merilekskan otaknya yang terasa buntu karena ulah pria bernama Donghae itu.

Selepas dari kantor Donghae tadi, Hye Mi langsung tancap gas menuju butik favoritnya yang ada di kawasan Myeongdong. Membeli beberapa pakaian-pakaian keluaran terbaru dengan harga yang mencekik leher. Itu memang kebiasaan yang gadis itu lakukan saat suasana hatinya sedang kacau berantakan. Itu berarti, suasana hati Hye Mi saat ini sedang berantakan?

Gadis itu menggeleng kasar. Ia memutar volume musik, mengeraskannya hingga sampai pada titik ke 30. Menginjak pedal gas lebih dalam lagi dan mobil sport berwarna putih itu pun melesat dengan cepatnya.

Lima belas menit kemudian, mobil sport itu sudah melaju pelan di parkiran sebuah restaurant mewah di Seoul. Restaurant itu menjadi incaran orang-orang yang statusnya sebagai direktur atau semacamnya di perusahaan besar karena memang fasilitasnya yang tidak mengecewakan pelanggan. Walaupun begitu, banyak juga remaja-remaja Korea yang datang mengunjungi restaurant ini bersama teman, kekasih, atau yang lain sebagainya. Kebanyakan, orang-orang yang datang ke restaurant ini tidak memikirkan berapa biaya yang harus dikeluarkan. Mereka lebih mementingkan kualitas yang diberikan restaurant kepada pelanggan, baik dari segi fasilitas, pelayanan, ataupun rasa makanannya.

Hye Mi keluar dari mobil sambil menyampirkan tas kecil di pundaknya. Gadis itu berjalan memasuki restaurant yang langsung disambut hangat oleh pelayan yang berdiri di dekat pintu. Hye Mi hanya tersenyum untuk membalas keramahan pelayan tersebut.

Mata Hye Mi menyapu seluruh ruangan restaurant saat ini. Ia melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangan kirinya, pukul 19.30. Selama itukah Hye Mi berbelanja di Myeongdong?

Restaurant cukup ramai oleh pengunjung. Tentu saja. Sekarang hari sabtu, atau lebih tepatnya malam minggu. Malam di mana orang dapat pergi bersama orang-orang tersayang setelah selama lima hari penuh bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Gadis itu mendesah. Tidak banyak harapan untuknya. Padahal, niatnya datang ke restaurant ini sekadar untuk menentramkan perasaannya. Namun ia baru sadar, ini bukan saat yang tepat untuk melakukan hal itu di tempat umum.

Beberapa saat kemudian, Hye Mi menangkap siluet orang yang sangat dikenalnya tengah duduk berhadapan, menyantap menu lezat. Sesekali mereka tertawa bersama. Entah apa yang mereka bicarakan sampai tertawa seperti itu, namun Hye Mi tidak peduli. Ia berjalan dengan niatan untuk menghampiri sosok siluet tersebut.

Tanpa permisi, Hye Mi langsung duduk di sebelah seorang pria yang tengah menyesap secangkir kopi di tangannya.

Pria itu sedikit tersedak ketika melihat Hye Mi dengan enaknya duduk dengan ekspresi datar.

“Hye Mi-ya,” seru mereka berdua.

Hye Mi mengangkat salah satu alisnya. “Kenapa? Ada yang salah?”

“Yak! Kenapa kau tiba-tiba muncul begitu saja seperti hantu?”

“Cho Kyuhyun, bisa diam tidak? Tidak perlu berkomentar. Kau dan Ri Rin eonni sedang berkencan, huh?”

Kyuhyun meletakkan cangkir kopinya di atas meja. “Ya. Kau benar. Aku dan Ri Rin sedang berkencan. Kau sendiri? Mana kekasihmu itu? Tidak berkencan, eh? Ini kan sabtu malam.”

Pria itu menyesal atas ucapan yang lolos begitu saja dari mulutnya barusan. Karena sejurus kemudian, Hye Mi langsung menjitak kepalanya dengan keras sehingga membuatnya meringis kesakitan.

“Sakit bodoh,” ringis Kyuhyun sambil mengelus-elus kepalanya akibat jitakan jitu yang didaratkan oleh Hye Mi.

“Aku tidak peduli. Ngomong-ngomong, karena aku bertemu dengan kalian di sini, aku minta kalian untuk mentraktir makanan dan minuman yang akan aku pesan,” kata Hye Mi yang sukses membuat Ri Rin dan Kyuhyun membeliak kaget.

MWO? Mentraktirmu? Tidak mau,” sahut Kyuhyun.

Hye Mi menolehkan kepalanya dan menatap Kyuhyun malas. “Kau tahu? Aku tidak suka menerima penolakan apa pun darimu. Suka atau tidak, kau harus membayar pesananku. Lagipula, anggap saja ini sebagai bayaran kalian padaku karena kalian berdua sudah berhutang padaku. Mengenai foto semalam.”

Ri Rin tidak dapat melontarkan kata-kata jika suasana sudah seperti ini. Ia hanya memilih untuk diam sambil menahan tawa melihat tingkah konyol Kyuhyun dan Hye Mi. Gadis itu tidak mau, kalau satu kata saja yang ia keluarkan, akan membuat Hye Mi beralih meminta bayaran gratis darinya.

“Dasar gila! Seharusnya kau berterimakasih karena kami telah memberitahukan hal itu padamu, bukannya malah membuatku bangkrut dengan cara seperti ini. Kau memang benar-benar gadis yang tidak tahu terimakasih ya, Nona Choi,” cibir Kyuhyun sambil mendengus kasar.

“Lantas, apa itu masalah untukmu?”

 

**

“Kau menyusahkanku,” desis Kyuhyun sambil memapah Hye Mi berjalan menuju kamar. Gadis itu sudah setengah sadar sekarang karena tadi ia memesan begitu banyak makanan yang membuat perutnya nyaris meledak. Efek dari rasa kenyang itu membuat Hye Mi mengantuk setengah mati. Jadi terpaksa, Kyuhyun membawa Hye Mi kembali ke apartment gadis itu menggunakan mobilnya, sedangkan Ri Rin menyusul menggunakan mobil Hye Mi.

Hye Mi tidak menyahut. Tentu. Matanya sudah sangat berat untuk dibuka, kepalanya sudah tidak sanggup ia gunakan untuk mengangguk atau menggeleng. Kyuhyun langsung merebahkan Hye Mi di tempat tidur empuk gadis itu dan mencibir kesal karena ulah sepupunya tersebut yang dinilai mengganggu acara kencannya dengan Ri Rin.

Ri Rin yang baru tiba, langsung masuk ke kamar Hye Mi dan memandangi gadis itu sambil menghela napas.

Kyuhyun yang menyadari bahwa Ri Rin sudah berdiri di sampingnya pun hanya mendesah karena rencana kencan malam minggunya harus berakhir gara-gara Hye Mi.

“Dia menyusahkan kita. Ini semua ulah Lee Donghae,” gerutu Kyuhyun.

“Mau bagaimana lagi? Tinggal tunggu waktunya saja,” balas Ri Rin.

“Rinnie-ya, kau bisa menggantikan pakaian Hye Mi? Aku akan memberikanmu waktu untuk menggantikan pakaian gadis itu. Dan kalau kau bersedia, sekaligus membersihkan tubuh gadis itu. Aku akan menunggu, mungkin sambil menonton televisi. Setelah itu, aku akan mengantarmu pulang.”

“Baiklah.”

 

**

Sunday, May 25th.

Hye Mi menggeliat, mengeluarkan suara kecil seperti sebuah erangan karena otot-ototnya yang terasa kaku. Gadis itu mulai membuka matanya perlahan. Kemudian, bangkit dari tidurnya, dan duduk di atas tempat tidur dengan niat mengumpulkan nyawanya yang masih berterbangan dengan bebas.

Setelah merasa bahwa nyawanya sudah terkumpul, Hye Mi menjelajahi seluruh sapuan matanya di kamarnya. Gadis itu mendapati bahwa jam dinding yang bertengger di tembok kamarnya sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi.

Hye Mi terkejut ketika menyadari sesuatu. Ia baru ingat, bukankah semalam dirinya sedang berada di restaurant bersama Kyuhyun dan Ri Rin? Lantas, kenapa sekarang tiba-tiba ia terbangun di atas tempat tidur dan dengan pakaian yang sudah terganti dengan sepasang pakaian tidur?

Hye Mi terus memutar otaknya, mencari-cari jawaban yang mungkin saja dapat menjawab pertanyaan di dalam kepalanya. Gadis itu memutar kedua bola matanya ketika sadar bahwa semalam ia mengantuk hebat setelah menghabiskan beberapa porsi makanan dan beberapa gelas minuman.

“Mereka yang mengantarku,” ucap Hye Mi pelan seakan ada orang lain di kamarnya saat ini.

Hye Mi memegangi perutnya yang terasa lapar. Ia merutuki diri sendiri, terutama pada sistim kerja organ tubuhnya. Semalam ia makan sangat banyak, dan membuatnya mengantuk berat, dan sekarang, perutnya sudah mulai minta diisi kembali, meraung-raung seolah Hye Mi belum memberikannya asupan makanan sejak dua hari yang lalu.

Ia langsung turun dari tempat tidur, menuju kamar mandi yang ada di dalam kamarnya sekadar untuk menyegarkan tubuh dan sikat gigi terlebih dahulu sebelum menyantap sarapan. Setelah selesai, Hye Mi langsung berjalan menuju dapur.

Gadis itu mencari bahan-bahan makanan yang sekiranya dapat dibuat untuk sarapan dengan waktu yang cepat.

Namun, sudah beberapa menit ia mengubrak-abrik kulkas, Hye Mi tidak menemukan apa pun di dalam sana. Gadis itu baru ingat, bahwa ia belum membeli bahan makanan.

Ia menutup pintu kulkas dengan kecewa. Gadis itu mendecak kesal. “Benar-benar tidak tepat waktu.”

Perut Hye Mi berbunyi lagi. Meminta jatah agar si empunya tubuh segera memberikan makanan. Gadis itu mendesah kasar sambil memegangi perutnya. Ia malah berjalan menuju sofa, dan duduk dengan keadaan pasrah.

Hye Mi menyandarkan punggungnya di sandaran sofa, dan mendongakkan kepala sambil memejamkan mata, berharap dengan melakukan hal itu dapat membuat rasa laparnya hilang. Tapi, sepertinya itu tidak cukup berhasil selama beberapa menit ke depan, sampai Hye Mi mendengar derit pintu apartmentnya yang terbuka.

Gadis itu segera membuka matanya dan langsung beranjak untuk melihat siapa yang datang mengunjunginya. Dan, langkahnya terhenti ketika mendapati Donghae sudah berdiri sambil menjinjing sebuah plastik di tangannya. Hye Mi bisa mencium aroma sedap yang berasal dari kantung plastik itu dan membuatnya semakin lapar.

“Aku yakin kau belum sarapan, kan? Aku membawa ini untukmu,” kata Donghae sambil mengulurkan tangannya, berniat memberikan kantung plastik itu kepada Hye Mi.

Walaupun rasa lapar yang melandanya sangat hebat, tapi Hye Mi masih memiliki gengsi untuk tidak segera menyambar plastik itu. Sebagai gantinya, ia menatap isi kantung plastik tersebut seolah tidak tahu apa isi di dalamnya.

“Apa itu?” tanyanya singkat.

“Sarapan. Aku membawakan sarapan untukmu. Ambil.”

Hye Mi langsung menyambarnya dan membawanya ke meja makan. Di dalam hatinya, ia melonjak girang setelah melihat apa yang dibawa Donghae untuknya. Gaeran Toast-U. Gaeran Toast-U adalah sandwich panggang ala Korea. Sandwich ini biasanya dijual di kios-kios kaki lima. Isi dari Gaeran Toast-U seperti sandwich Amerika. Ditambah kubis dan sedikit gula sebagai penyedap rasa. Itu merupakan salah satu menu yang sangat disenangi oleh Hye Mi. Di dalam kantung plastik itu juga terdapat sekaleng susu segar yang Hye Mi yakin bahwa Donghae baru membelinya di supermarket terdekat. Mengacu pada kaleng tersebut yang masih dingin, itu berarti baru diambil dari lemari pendingin.

Merasa berterimakasih, Hye Mi tidak langsung menyantap sarapannya itu, ia justru malah melirik ke arah Donghae yang masih berdiri di tempat semula sambil memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana.

Hye Mi bisa mencium aroma parfum pria itu yang dengan bebasnya masuk ke dalam indera penciumannya.

Pria itu terlihat sangat tampan pagi ini. Bukan, bukan hanya pagi ini saja, tetapi setiap hari, bahkan mungkin setiap detik. Tapi mengingat foto yang ditunjukkan Ri Rin dan Kyuhyun dua hari yang lalu, membuat suasana hatinya menurun kembali.

Gadis itu berdeham, menetralkan pacu jantungnya yang entah kenapa mendadak lebih cepat daripada biasanya. “Kau tidak sarapan?”

“Aku sudah sarapan. Makanlah, selagi hangat,” jawabnya tersenyum.

Hye Mi mengedikkan bahunya. Kemudian menarik kursi, dan segera mendudukinya. Dengan cepat dan hati-hati, ia langsung menyantap Gaeran Toast-U yang memang masih hangat itu. Tekstur lembutnya sangat terasa di lidah Hye Mi, membuat gadis itu merasa ketagihan dan ingin meminta Donghae untuk membelikannya lagi. Tapi, itu tidak akan terjadi. Setidaknya untuk saat ini. Selagi pria itu belum membuka mulut tentang kejadian jumat malam lalu.

Sambil menggigit Gaeran Toast-U, Hye Mi memperhatikan gerakan Donghae yang sekarang mengambil tempat duduk di hadapannya. Atau lebih tepat, di seberangnya. Sekarang, ia mengunyah makanan tersebut dengan gerakan pelan.

“Kudengar, semalam kau menyusahkan Kyuhyun dan Ri Rin. Kau benar-benar melakukan itu, hmm?” tanya Donghae.

Hye Mi menelan Gaeran tersebut. “Bukan salahku jika aku menyusahkan mereka. Lagipula, kalau mereka benar-benar perhatian padaku dan menolongku dengan tulus, seharusnya mereka tidak perlu merasa disulitkan.”

“Tapi kau mengganggu acara kencan mereka. Jadi, wajar saja mereka bilang kalau kau menyusahkan mereka. Sebenarnya, Kyuhyun yang paling menggebu-gebu mengatakan bahwa kau menyusahkan dan mengganggunya.”

Hye Mi mendengus. “Pria setan itu memang tidak pernah dengan tulus menolongku.”

Donghae sedikit tertawa. “Kalau kau sudah tahu seperti itu, kenapa kau masih punya nyali untuk memelas dengannya?”

“Ada kalanya aku memelas dengan pria itu. Tapi terkadang, setelah melakukan hal itu, aku merasa sedikit menyesal. Dan, kutebak, pria itu bersama kekasihnya memberitahumu kejadian semalam. Aku benar kan?”

“Sebenarnya tidak. Hanya Kyuhyun saja. Semalam, ia menelphoneku dan memberitahu bahwa kau baru saja membuat ulah dengannya. Mengganggunya, menyusahkannya. Itu yang dikatakan sepupumu.”

Hye Mi mencibir. “Ulah setan memang seperti itu. Tidak salah lagi.”

Setelah Hye Mi mengatakan hal tersebut, suasana hening menyelimuti mereka berdua. Donghae dan Hye Mi sibuk dengan pikiran masing-masing. Dan Hye Mi kembali menggigit Gaeran yang sudah mengecil itu.

Gaeran pun akhirnya habis, Hye Mi segera membuka tutup kaleng susu yang tadi dibawakan oleh Donghae. Meneguknya perlahan dan merasakan sensasi dingin yang menjalari kerongkongannya begitu cepat. Ia tidak menghabiskan susu tersebut langsung. Hye Mi menyisakan setengahnya dan meletakkan kaleng tersebut di atas meja kembali.

Ia mulai merasa terganggu dengan suasana hening seperti ini. Tapi dirinya juga merasa gengsi untuk memulai percakapan terlebih dahulu setelah menit-menit mereka lalui dengan saling diam.

“Aku ingin minta maaf perihal hari sabtu kemarin.” Akhirnya Donghae angkat bicara.

Hye Mi memberanikan diri untuk menatap Donghae, dan betapa terkejutnya gadis itu ketika mendapati Donghae tengah menatapnya sambil tersenyum tipis.

“Sebenarnya aku kecewa. Tapi karena kau sudah meminta maaf, aku terima permintaan maaf darimu.”

Donghae semakin mengembangkan senyumannya. Gadis itu, selalu bersikap seperti ini. Mudah marah, tapi mudah juga menerima permintaan maaf dari orang yang berbuat kesalahan padanya. Hye Mi. Choi Hye Mi. Gadis yang sudah dua tahun belakangan mengisi hari-harinya. Ada di saat dirinya susah, atau pun senang. Hye Mi memang gadis yang terlalu cuek dengan segala hal. Tapi, ia akan memikirkannya matang-matang tentang sesuatu yang sudah dianggapnya remeh itu. Dan akan menyesal ketika menyadari bahwa hal-hal yang baru saja diremehkannya itu sangat penting.

Hye Mi termasuk gadis yang periang. Tapi hal itu hanya akan ia tunjukkan di hadapan Donghae saja. Di hadapan orang lain, ia akan bersikap dingin seolah tidak ingin melakukan apa-apa, termasuk di hadapan Kyuhyun dan Ri Rin. Namun, untuk saat-saat tertentu, tawa Hye Mi bisa meledak ketika sedang bersama Kyuhyun dan Ri Rin. Saat di mana ia berhasil membuat Kyuhyun kesal setengah mati dan membuat pria itu marah, maka saat itulah Hye Mi akan menyemburkan tawanya yang membahana. Karena bagi Hye Mi, melihat Kyuhyun emosi merupakan suatu kesenangan tersendiri baginya.

Tiba-tiba Donghae teringat sesuatu. Tidak seharusnya ia bersikap manis seperti ini di hadapan Hye Mi. Maka sedetik kemudian, bibir Donghae langsung melengkung ke bawah dan menatap Hye Mi dingin.

“Kau sudah sarapannya, kan? Kalau begitu aku pamit pulang dulu. Masih ada urusan yang harus aku selesaikan,” ujar Donghae sambil berdiri.

Hye Mi menatap Donghae tidak mengerti. Baru saja ia bersikap manis di depannya, tapi sekarang sudah berubah dingin seperti itu. Belakangan, Hye Mi merasa ada yang tidak benar dengan kekasihnya itu.

“Kau mau pulang?”

“Ya. Masih banyak urusan yang harus aku selesaikan.”

Hye Mi ikut berdiri. “Ini kan hari minggu. Kenapa kau masih saja memikirkan pekerjaanmu, huh? Seharusnya kau menemaniku jalan-jalan hari ini.”

“Mengurus pekerjaan lebih baik daripada menemanimu jalan-jalan. Kau tahu? Jalan-jalan itu tidak ada manfaatnya.”

Gadis itu menatap Donghae sengit, mulai curiga dengan tingkah laku pria itu. “Kau ingin menyelesaikan urusan apa, hah? Menyelesaikan urusan dengan gadis simpananmu itu?” todong Hye Mi.

Mata Donghae membulat. “Gadis simpanan? Apa maksudmu berbicara seperti itu?”

“Cih. Tidak perlu berpura-pura bodoh. Aku sudah tahu semuanya. Sekarang, kau masih ingin mengelak?”

“Aku tidak mengerti di mana letak kesalahanku. Tapi, kalau kau mengatakan dan menuduhku seperti itu, jangan salahkan jika aku benar-benar bermain api di belakangmu,” ancam Donghae yang membuat Hye Mi mendelik ke arahnya.

Hye Mi menyilangkan kedua tangannya di depan dada. “Oh, jadi sekarang kau mempunyai niat untuk bermain api di belakangku?” ucap Hye Mi setengah berteriak.

“Kalau aku melakukan hal itu, salahkan dirimu sendiri yang membuatku bermain seperti itu.”

Hye Mi menggeretakkan giginya. Menurunkan kedua tangannya yang terlipat dan menunjuk Donghae dengan telunjuk kanannya. “Kau. Jika sampai berani melakukan itu, aku tidak akan segan-segan untuk membuat perhitungan denganmu.”

Donghae hanya mengedikkan bahunya santai dan berjalan menuju pintu apartment.

Hye Mi langsung menggeram marah ketika Donghae sudah menghilang di balik pintu. “Sial! Apa dia sedang berusaha mempermainkanku?”

 

**

“Tumben sekali kau meminta bertemu denganku dan Ri Rin? Ada apa, heh?” tanya Kyuhyun saat ia, Ri Rin dan juga Hye Mi berada di restaurant yang sama seperti sabtu malam.

Tadi, sekitar pukul tujuh, Hye Mi menelphone Kyuhyun dan meminta pria itu bersama Ri Rin datang menemuinya di tempat tersebut. Namun naas, Hye Mi merasa kepalanya mendidih karena Kyuhyun dan Ri Rin ternyata datang tidak tepat waktu. Hye Mi menginginkan mereka datang pukul setengah delapan, tapi mereka berdua baru tiba pukul setengah sembilan malam. Membuat Hye Mi menunggu selama satu jam, membuat gadis itu ingin mendorong mereka berdua ke dalam jurang kematian.

Hye Mi menatap dingin Kyuhyun dan Ri Rin yang baru saja duduk di hadapannya. Benar-benar ingin mencabik-cabik wajah mereka, terutama Cho Kyuhyun yang menurutnya sangat menyebalkan itu.

“Kalian membuatku menunggu selama satu jam. Tidak adakah permintaan maaf yang terlontar dari mulut kalian, hah?” Hye Mi bertanya kesal.

“Meminta maaf padamu? Seharusnya kau yang meminta maaf pada kami, karena kau telah menyusahkan kami kemarin malam. Kau tahu? Jika kau bukan sepupuku, saat itu juga aku melemparmu ke tengah jalan.”

Mata Hye Mi menangkap Ri Rin dengan ekor matanya yang menyenggol lengan Kyuhyun, sedangkan pria itu sama sekali tidak peduli dengan apa yang dilakukan kekasihnya itu. Kyuhyun masih menagih permohonan maaf dari Hye Mi.

“Pertolonganmu memang benar-benar tidak tulus, Cho Kyuhyun,” cibir Hye Mi.

“Ada masalah?” balas Kyuhyun tidak mau kalah.

Hye Mi mendengus. Merasa tidak ada gunanya berbicara dengan Kyuhyun, Hye Mi segera beralih memandang Ri Rin yang kini tengah duduk di samping pria menyebalkan itu.

Eonni. Sebenarnya, tujuanku meminta kau dan pria setan itu untuk datang kemari, karena aku ingin menanyakan suatu hal padamu,” kata Hye Mi.

“Bertanya apa?” tanya Ri Rin penasaran.

“Mengenai foto yang kau tunjukkan waktu itu, kau yakin itu foto asli yang kau dapatkan?” Hye Mi bertanya langsung pada inti permasalahan.

“Iya. Itu asli,” sambar Kyuhyun. Ri Rin yang baru saja ingin membuka mulut untuk menjawab pertanyaan Hye Mi, langsung menutup mulutnya kembali.

Hye Mi memutar kedua bola matanya dengan malas. “Aku tidak bertanya padamu, Cho Kyuhyun. Tutup mulutmu. Aku hanya ingin mendengar jawaban dari kekasihmu, bukan kau.”

“Yak! Bisa tidak kau memanggilku dengan panggilan oppa? Seharusnya kau itu tidak memanggilku seperti itu. Usiamu empat tahun di bawahku, seharusnya kau memanggilku kakak. Oppa kalau bisa,” protes Kyuhyun.

“Cih. Memanggilmu oppa? Tidak akan. Tidak akan pernah. Pria setan sepertimu tidak pantas kupanggil seperti itu,” caci Hye Mi.

Kyuhyun mendelik tajam. “Benar-benar gadis psikopat! Tidak waras! Gila!” Kyuhyun melontarkan sumpah serapahnya kepada Hye Mi.

Hye Mi hendak melayangkan pukulan di wajah tampan Kyuhyun, namun dengan cepat, Kyuhyun segera menahannya ketika tangan gadis itu sudah terangkat di udara.

“Mau memukulku? Aku akan melaporkanmu ke polisi atas tuduhan kekerasan.” Kyuhyun menatap Hye Mi tajam.

Hye Mi menepis tangan Kyuhyun kasar. “Jangan sentuh aku. Bisa-bisa aku karatan kalau disentuh olehmu.”

Kyuhyun ingin melontarkan aksi protes, tapi buru-buru dicegah oleh Ri Rin. “Sudah, sudah. Kalian jangan bertengkar. Malu. Ini tempat umum. Lagipula kalian itu sepupu kan? Seharusnya kalian hidup akur. Bukannya seperti ini,” komentar Ri Rin.

Eonni tahu? Sejujurnya aku tidak sudi memiliki sepupu seperti priamu itu,” sahut Hye Mi.

“Kau kira aku sudi memiliki sepupu sepertimu? Gadis gila yang memiliki kekasih seorang pengusaha muda? Hah, aku tidak tahu kenapa Donghae bisa tertarik padamu.”

Ri Rin menggeleng-geleng. “Hye Mi-ya, kau mau mendengar jawaban atas pertanyaanmu itu?”

Hye Mi mengangguk. “Ya, tentu saja. Seharusnya tadi aku langsung menelphonemu langsung saja, eonni. Tidak perlu menelphone Kyuhyun, yang ada membuat kekacauan saja.”

Ri Rin tersenyum. “Kau tahu? Foto itu asli kami dapatkan ketika kami tidak sengaja melihat mereka yang tengah berdua di taman yang sangat sepi. Saat itu, aku sedang jalan dengan Kyuhyun dan melewati taman tersebut, tapi yang kami dapatkan malah pemandangan yang seperti itu. Awalnya kami tak yakin itu Donghae. Namun, karena ingin memastikan, kami berdua rela menjadi seorang mata-mata tanpa bayaran untuk mengawasi gerak-gerik mereka. Dan, saat mereka melakukan ciuman itu, aku langsung mengeluarkan handphone dan memotret mereka dari kejauhan agar kau percaya dengan apa yang sudah aku dan Kyuhyun lihat.”

Hye Mi menelan ludahnya. “Kau yakin itu bukan orang lain?”

“Untuk apa kami berbohong? Kami hanya ingin memberitahumu bahwa Donghae itu ternyata bukan pria yang baik untukmu. Dia memang bersikap baik di hadapanmu, tapi tidak jika sedang di belakangmu. Seharusnya kau sudah sadar itu,” jawab Ri Rin menatap Hye Mi iba.

Hye Mi bergeming. Ia tidak bisa mengatakan apa-apa. Otaknya seakan mati mendengar ucapan yang baru saja dikatakan Ri Rin.

Tapi ia tidak mau terlihat lemah di hadapan orang lain. Tentu saja. Hye Mi benar-benar tidak akan pernah menunjukkan kelemahannya di hadapan orang lain, selain Donghae.

Namun sekarang, pria itu yang malah membuatnya lemah. Jadi, di hadapan siapa ia akan menunjukkan kelemahannya sekarang?

“Putuskan saja dia,” celetuk Kyuhyun.

“Tidak. Sampai dia yang mengatakannya sendiri,” jawab Hye Mi.

Kyuhyun mendengus. “Cih. Sebegitu cintanya kau pada pria itu?”

Hye Mi malah tersenyum manis, membuat Kyuhyun menatapnya curiga. “Aku malas berdebat denganmu. Kalau begitu, aku pamit pulang dulu.” Ia bangkit berdiri, kemudian menatap Ri Rin. “Terimakasih atas informasinya, eonni.”

Ri Rin mengangguk. “Ya, anytime. Pikirkan baik-baik tentang hubunganmu.”

“Jangan khawatir. Aku sudah dewasa. Aku bisa memilih mana yang baik untukku dan mana yang tidak.”

“Baiklah kalau begitu.”

Hye Mi hendak melangkahkan kakinya untuk pergi, namun gerakannya itu terhenti ketika Kyuhyun membuka mulutnya.

“Kau tidak berterimakasih padaku, heh?” tanya pria itu.

Hye Mi melirik Kyuhyun malas. “Untuk apa? Kau sama sekali tidak membantu. Aku pergi dulu ya, setan jelek.” Gadis itu sedikit berlari sebelum Kyuhyun membuat telinganya tuli karena…..

“YAK! DASAR PSIKOPAT GILA!”

 

**

Hye Mi berjalan dengan langkah malas menuju pintu apartmentnya. Ia sama sekali tidak bergairah untuk melakukan apa-apa sekarang ini. Informasi yang diberikan Ri Rin sukses membuat suasana hatinya menurun drastis.

Sesampainya tepat di depan pintu apartmentnya, Hye Mi segera memasukkan pin yang menjadi kunci utama agar pintu apartmentnya itu bisa dibuka. Setelah pintu terbuka, Hye Mi segera melepaskan sepatunya asal-asalan dan menggantinya dengan sandal rumah. Gadis itu mengangkat tangannya, mencari-cari saklar, dan menekannya ketika sudah merasakan bahwa benda itu terpegang oleh Hye Mi. Seketika ruangan yang tadinya gelap gulita kini menjadi terang benderang. Namun ada yang sedikit membuat gadis itu terlonjak kaget saat lampu menyala. Seseorang sedang berdiri tak jauh darinya, sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada.

“Untuk apa kau kemari?” tanya Hye Mi malas.

“Memangnya kenapa kalau aku berkunjung kemari? Kau kan kekasihku. Bukan suatu masalah kan jika aku berkunjung ke apartment kekasihku sendiri?”

Hye Mi mencibir. “Kekasih kau bilang? Seberapa besar nyalimu sampai seberani itu mengatakan bahwa aku itu kekasihmu, setelah kau berani bermain api di belakangku, Lee Donghae?”

Donghae menyipitkan matanya, pria itu kemudian menurunkan kedua tangannya. “Maksudmu apa? Kau jangan mencari masalah lagi denganku, Mi-ya. Aku bahkan datang dengan niat yang baik.”

“Dengan niat yang baik? Memangnya, apa tujuanmu kemari, huh?”

“Aku ingin meminta maaf masalah tadi pagi.”

“Hanya itu?”

“Memangnya kau ingin apa lagi?”

Hye Mi menghela napas. Ia kira, selain untuk meminta maaf mengenai masalah pagi tadi, pria itu akan menjelaskan permainan yang sedang dilakukannya saat ini.

Donghae memang tahu pin apartment Hye Mi. Selain Donghae, Kyuhyun dan Ri Rin juga mengetahuinya. Tak heran, mereka terkadang muncul secara tiba-tiba di dalam apartment gadis itu ketika Hye Mi baru pulang dari suatu tempat.

“Tidak ingin menjelaskan kekasih gelapmu itu, eh?” pancing Hye Mi.

“Mi-ya, aku sama sekali tidak mengerti maksud dari ucapanmu itu. Sungguh. Atas dasar apa kau mengira bahwa aku mempunyai selingkuhan tanpa sepengetahuanmu, hmm?”

“Jumat malam, kau berciuman dengan seorang gadis kan di taman?” tanya Hye Mi mulai emosi.

Donghae mengerutkan kening. “Berciuman?”

“Yaa. Puas bermain dengan gadis lain?”

Pria itu mulai salah tingkah. “Ga-gadis siapa yang kau maksud?” tanyanya tergagap.

“Mana aku tahu! Yang bermain itu kan kau, bukan aku. Jadi, apa langkahmu selanjutnya? Memutuskan hubungan denganku?”

“Tidak. Itu tidak akan pernah terjadi. Sampai kapan pun.”

“Lalu, apa maumu sekarang, Lee Donghae?”

Donghae mulai menggeleng gusar. “Sudahlah, aku lelah berdebat seperti ini denganmu. Aku pulang.” Pria itu bukannya menjawab pertanyaan Hye Mi tetapi malah berjalan meninggalkan gadis itu. Ia melewati Hye Mi yang masih berdiri mematung tanpa menoleh sedikit pun ke arahnya. Dan, tidak lama kemudian, pria itu pun hilang ditelan pintu yang diam tak berkutik itu.

Sepeninggal Donghae, Hye Mi masih terus saja berdiri tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Ia masih tidak mengerti kenapa prianya itu tega berbuat seperti itu padanya. Apakah Hye Mi kurang memuaskan Donghae, sehingga pria itu dengan mudahnya mengambil jalan pintas dengan cara berselingkuh? Oh ayolah, setahu Hye Mi, Donghae bukan tipikal pria seperti itu.

Lalu, apa yang sedang terjadi dengannya? Apakah pria itu bukan Lee Donghae yang dikenalnya dulu? Hye Mi merasa Donghae menyimpan suatu rahasia besar darinya. Mungkin perselingkuhan? Atau malah, pria itu telah menikah dengan gadis lain tanpa sepengetahuannya?

Hye Mi menggeleng kasar. Pikiran-pikiran negatif mulai mengguyur otaknya seperti air bah. Gadis itu yakin, bahkan sangat yakin kalau Donghae tidak mungkin melakukan hal itu.

Tapi, sekarang apa?

 

**

Monday, May 26th.

Hye Mi mengaduk-aduk susu putihnya yang sudah ia buat tadi tanpa ada perasaan minat sedikit pun. Semalam, satu jam setelah Donghae pulang, Hye Mi meminta Ri Rin dan Kyuhyun untuk membelikannya sekotak susu bubuk kesukaannya. Dan untungnya, Kyuhyun masih mau menuruti keinginannya itu walaupun gadis itu sudah membuat Kyuhyun kesal saat di restaurant.

Saat ini, Hye Mi sangat malas untuk berangkat kuliah. Sudah seminggu ini, ia bolos dari kuliahnya dengan berbagai alasan ketika teman-temannya menanyakan kenapa dirinya tidak masuk kuliah.

Untungnya, Hye Mi gadis yang pintar. Seluruh nilai akademik di kampusnya terbilang sangat bagus dan gadis itu juga merupakan salah satu mahasiswa terpandai di Seoul National University.

Hye Mi memang sepupu Kyuhyun. Mereka sudah sangat dekat sedari kecil, tapi tidak selalu akur satu sama lain. Contohnya saja seperti semalam. Mereka bertengkar layaknya seorang musuh bebuyutan yang bertemu kembali setelah bertahun-tahun terpisah.

Orangtua Hye Mi sibuk dengan bisnis masing-masing yang sangat maju di benua Eropa. Itu sebabnya, sedari kecil, Hye Mi dititipkan di keluarga Cho, keluarga Kyuhyun karena Hye Mi merupakan anak tunggal.

Dari usia delapan sampai lulus SMA, Hye Mi masih tinggal bersama keluarga Kyuhyun. Sampai akhirnya saat ia sudah duduk di bangku kuliah, gadis itu memutuskan untuk tinggal di apartment saja karena merasa sudah banyak merepotkan Kyuhyun dan keluarganya.

Kyuhyun sendiri merupakan anak tunggal di keluarga Cho. Pria itu sangat mahir dalam bernyanyi, suaranya sangat bagus. Tentu. Sejak kecil, Kyuhyun memang bercita-cita ingin menjadi seorang penyanyi, tetapi ayahnya tidak mengizinkannya. Ayahnya lebih memilih Kyuhyun tumbuh menjadi pria dewasa yang kelak akan menggantikannya di perusahaan yang sudah dibangun oleh pria paruh baya itu dengan susah payah dan mewarisi seluruh hartanya.

Kyuhyun tidak bisa menolak permintaan ayahnya itu. Karena ia merupakan anak satu-satunya, jadi sudah sepantasnya ia menuruti kemauan ayahnya tersebut. Kyuhyun sudah lulus kuliah satu tahun yang lalu. Tetapi sekarang, pria itu sedang berkuliah kembali dengan maksud untuk mendapatkan gelar master. Sambil berkuliah, Kyuhyun juga sudah mulai diajarkan oleh ayahnya bagaimana mengelola bisnis dengan benar agar tidak mudah tertipu dengan pihak mana pun. Menurut Hye Mi, tanpa perlu ayah pria itu memberitahukannya, Kyuhyun sepertinya sudah mengerti karena pria itu memang memiliki kepintaran jauh di atas normal.

Pria itu juga memiliki ketampanan yang bisa membuat gadis mana pun ingin menjadi kekasihnya. Tapi Kyuhyun bukanlah tipe pria yang mudah dirayu oleh gadis yang cantik atau bahkan seksi. Kyuhyun sangat selektif dalam memilih pasangan. Dan, pilihannya jatuh tepat pada gadis yang bernama Shin Ri Rin.

Menurut Hye Mi, Ri Rin gadis yang jarang ditemui olehnya. Gadis itu tidak seperti gadis kebanyakan. Jika selama ini banyak gadis-gadis yang memohon-mohon agar cintanya diterima oleh Kyuhyun, lain halnya dengan Ri Rin. Justru dengan gadis itulah Kyuhyun yang melakukan hal tersebut. Hye Mi tahu, Kyuhyun tidak suka bersikap seperti itu. Namun ia sendiri heran, apa yang dilakukan Ri Rin sampai bisa membuat sepupunya itu bertekuk lutut di hadapannya.

Hye Mi mulai tersadar dari lamunannya. Ia menatap susu di hadapannya dengan malas. Tapi sejurus kemudian, ia malah menyambarnya dan meneguk susu itu hingga tandas.

Setelah meletakkan gelas di tempat pencucian piring, Hye Mi berjalan menuju sofa dan duduk untuk menonton televisi. Berkali-kali ia menekan remote televisi untuk mencari tontonan yang menarik, namun yang didapatnya adalah tontonan yang menurutnya tidak bermutu, terlalu monoton. Segera ia matikan televisi dan merebahkan tubuhnya di atas sofa.

Baru saja ia memejamkan mata, handphone yang tergeletak di atas meja berdering nyaring, membuatnya mendecak sebal. Gadis itu tanpa berbangkit, mengulurkan tangannya dan mengambil handphone tersebut. Dilihatnya nama si penelphone di layar, dan gadis itu langsung mendengus melihat siapa yang menelphonenya. Ia segera menekan tombol terima dan meletakkannya di telinganya.

“Ada apa?” tanyanya.

“Eomma menyuruh kau untuk datang ke rumah. Kau sedang ada di mana sekarang?”

“Aku di rumah.”

Kau tidak berangkat kuliah, hah?

“Tidak. Aku malas.”

Yak! Kau ini gadis apa sampai kuliah saja malas?

“Ck. Tidak usah banyak komentar. Ada perlu apa bibi menyuruhku datang?”

Tidak tahu. Tadi eomma hanya menyuruhku untuk menelphonemu dan mengatakan kau diharuskan datang ke rumah. Mungkin membantunya membuat kue.”

“Kenapa harus aku? Kan ada kau.”

Kau kan tahu aku tidak pandai memasak. Kau tidak lupa kan bahwa dulu aku pernah dimarahi eomma karena membuat panci kesayangannya rusak?

“Ya ya. Baiklah, satu jam lagi aku akan ke rumahmu.”

Tidak. Eomma memintanya sekarang, bukan satu jam lagi. Jadi kau harus ke rumah sekarang juga. Atau aku yang akan menjemputmu.”

“Dasar bawel!”

 

**

Imoo, dalam rangka apa imoo membuat kue seperti ini?” tanya Hye Mi sambil memutar mixer, mengaduk campuran adonan tepung dan telur.

Tadi, saat Hye Mi sudah sampai di rumah Kyuhyun, bibinya –ibu Kyuhyun— meminta gadis itu dengan paksa agar bersedia membantunya membuatkan kue. Hye Mi sendiri tidak mengerti apa alasan yang membuat bibi kandungnya itu membuat kue secara tiba-tiba seperti ini. Karena, tidak biasanya wanita paruh baya itu membuat hal-hal seperti ini, jika tidak ada acara yang sangat penting.

“Kau diam saja. Aduk adonan itu hingga rata. Jangan sampai tidak.”

Hye Mi mengerucutkan bibirnya sebal. Ia bertanya baik-baik, tapi malah mendapat jawaban yang seperti itu dari bibinya.

“Kyuhyun ke mana?” Hye Mi bertanya tentang Kyuhyun.

“Mungkin berkencan dengan Ri Rin,” jawab bibinya sambil mengambil sesuatu dari dalam lemari.

“Ck. Pria itu hanya memikirkan kekasihnya saja. Memangnya, tidak ada kegiatan lain selain berkencan?” komentar Hye Mi.

“Selagi bukan hal yang buruk, imoo tidak akan melarangnya. Lagipula kau tahu kan kalau Ri Rin itu gadis yang baik. Jadi, tidak usah banyak komentar mengenai apa yang dilakukan sepupumu itu bersama kekasihnya. Dan ngomong-ngomong Hye Mi-ya, kau sendiri belakangan ini tidak berkencan dengan Donghae, hmm?”

Hye Mi tercekat. Ia bingung harus menjawab pertanyaan bibinya itu bagaimana. Sangatlah tidak mungkin untuk menceritakan kejadian yang sebenarnya.

“Pria itu sedang sibuk. Jadi, dia tidak punya banyak waktu untuk berkencan denganku.”

“Tapi, yang kudengar dari Kyuhyun, Donghaemu itu sedang bermain api di belakangmu. Apa itu benar?”

Hye Mi terhenyak. Pria bernama Kyuhyun itu benar-benar tidak mempunyai mulut yang bagus. Selalu saja membocorkan rahasia orang lain.

Imoo, jangan percaya dengan omongan putra kesayangan imoo itu. Kyuhyun itu pembohong. Hal yang dikatakannya pada imoo, tidaklah benar,” jawab Hye Mi berbohong.

“Baiklah,” ucap bibinya itu pada akhirnya. “Imoo tidak akan membahas masalah pribadimu itu lebih dalam. Masalahmu, biarlah menjadi masalahmu. Imoo hanya akan membantu jika masalahmu memang benar-benar tidak dapat dihadapi seorang diri. Dan imoo hanya akan menyetujui apa yang menurut imoo baik dan menurutmu juga baik. Imoo pikir, kau sudah terlampau dewasa untuk mandiri dalam menyelesaikan segala masalah yang sedang menimpamu. Kalau memang benar Donghae berselingkuh dengan wanita lain, ada baiknya kau memikirkan matang-matang mengenai hubunganmu itu. Kalau bisa, kau putuskan saja dia karena masih banyak pria lain yang lebih baik di luar sana.”

Gadis itu mendesah. Kenapa sekarang orang-orang terdekatnya malah meminta dirinya untuk memutuskan Donghae?

 

**

Hye Mi memarkirkan mobilnya di parkiran supermarket yang hanya berjarak beberapa meter saja dari apartmentnya. Gadis itu beniat untuk membeli beberapa kebutuhannya yang sudah mulai menipis.

Hye Mi berjalan menuju pintu supermarket yang langsung terbuka secara otomatis. Gadis itu kemudian mengambil troli berukuran kecil dan mulai menjelajahi isi supermarket guna mencari apa saja yang menjadi kebutuhannya. Mulai dari mengambil dua bungkus roti tawar, satu kaleng selai cokelat dan strawberry.

Hye Mi melangkahkan kakinya menuju tempat penyediaan susu. Walaupun baru semalam Kyuhyun membelikannya sekotak susu bubuk, tapi untuk persediaan, tidak ada salahnya kan jika ia membelinya lagi sekarang? Maka setelah berada di deretan rak-rak susu, gadis itu segera mengulurkan tangannya untuk mengambil sekotak susu bubuk kesukaannya.

Setelah itu, Hye Mi kembali melangkahkan kakinya, kali ini ia menuju ke tempat penyediaan pembersih tubuh. Gadis itu akan membeli dua atau tiga buah sabun batangan, dua botol sabun cair, sebuah pasta gigi, dan satu botol sabun pencuci wajah.

Tapi, langkah gadis itu terhenti dan merasakan dadanya sesak luar biasa ketika mendapati pemandangan yang benar-benar tidak sedap untuk dipandang.

Lee Donghae bersama seorang wanita yang sama sekali belum pernah ditemui Hye Mi sebelumnya, terlihat sedang memegang sabun-sabun cair seolah mempertimbangkan apakah produk itu cocok digunakan atau tidak.

Dan yang lebih membuat mata Hye Mi sakit adalah, tangan wanita itu yang tengah melingkar di lengan Donghae. Hye Mi menarik napas dalam-dalam dan membuangnya secara perlahan melewati mulut. Ia mencoba untuk mendekati dua orang itu sekaligus untuk mendobrak bahwa pria itu sudah tertangkap basah berselingkuh.

Dan dengan nyali yang besar, Hye Mi mendorong trolinya dan melangkah mendekati Donghae dan wanita tersebut. Gadis itu mencoba tersenyum saat Donghae mengetahui keberadaannya.

Pria itu terlihat sangat gugup. Pria itu melirik lengannya, dan segera menggerakkan lengannya itu memberi kode agar wanita tersebut menurunkan tangannya. Dan tanpa berkomentar apa pun, wanita itu pun segera menurunkan tangannya dari lengan Donghae.

Hye Mi menaikkan salah satu alisnya dan tersenyum. “Kenapa harus diturunkan? Lanjutkan saja. Aku tidak melarangnya.”

Sebenarnya, di dalam hati yang paling dalam, Hye Mi merasa amarah yang mendorong dirinya untuk menjambak rambut wanita itu dan mendorongnya hingga ke tengah jalan. Tapi, logika gadis itu masih berjalan dengan baik karena kalau sampai ia melakukan itu, maka jalur hukumlah yang akan dilaluinya. Dan Hye Mi benar-benar tidak menginginkan untuk berurusan dengan hukum.

“Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Donghae mengalihkan pembicaraan.

“Kau tidak lihat aku sedang mendorong-dorong apa, hmmm?”

“Kau sendirian?”

“Ya. Sebelumnya, aku dari rumah Kyuhyun.”

Donghae mengangguk.

“Baiklah, aku pamit pulang duluan. Silakan dilanjutkan lagi.” Hye Mi segera mendorong trolinya dan berjalan melewati dua orang itu.

Donghae membalikkan tubuhnya, menatap punggung Hye Mi yang semakin lama menjauh dari pandangannya.

“Kau yakin ini tidak akan apa-apa?” tanya wanita itu.

“Aku yakin. Kau tenang saja.”

 

**

Hye Mi membuka pintu apartment setelah memasukkan kode-kode di sebuah tempat yang disediakan. Ia melepaskan sepatunya dan menggantinya dengan sandal rumah setelah sebelumnya menutup pintu terlebih dahulu.

Gadis itu melangkah gontai dengan kantung belanjaan yang dijinjingnya. Ia berjalan menuju sofa dan meletakkan kantung belanjaan itu di atas meja.

Hye Mi terduduk di sofa, sekadar untuk menghilangkan sedikit beban yang menjadikan gadis itu sangat berat untuk melakukan apa-apa. Ia menghela napas, dan mengembuskannya secara perlahan guna meredam emosi yang sudah bergejolak di dalam hatinya sedari tadi. Pemandangan yang dilihatnya tadi ketika di supermarket, benar-benar membuat matanya sangat sakit. Atau mungkin, hatinya juga sakit?

Hye Mi menyadarkan punggung dan kepalanya di sandaran sofa, lalu memejamkan matanya. Namun, sekitar tiga detik kemudian, Hye Mi merasa ada sesuatu yang mengganggu indera pendengarannya. Sesuatu yang terdengar seperti desahan dan erangan datang begitu saja memasuki telinganya. Segera Hye Mi membuka mata dan bangkit mencari asal suara itu.

Hye Mi mengendap-endap, khawatir ada seseorang dengan niat jahat tengah berada di dalam apartmentnya. Tempat yang ditujunya sekarang adalah dapur. Karena Hye Mi yakin, asal suara itu memang berasal dari dapur.

Semakin dekat dengan dapur, Hye Mi mendengar suara itu sangat jelas. Desahan dan erangan itu terdengar membuatnya bergidik geli. Siapa yang melakukan itu?

Berjalan semakin dekat, semakin dekat, dan ia pun mengintip dari balik tembok penghalang antara dapur dan ruang tamu. Mata gadis itu seketika membelalak mendapati pemandangan yang ada di hadapannya saat ini.

“YAK! Apa yang kalian lakukan, hah?” teriaknya seolah memergoki orang tersebut.

Apa yang dilihat Hye Mi adalah Kyuhyun dan Ri Rin sedang asik bercumbu di dapur. Kyuhyun menyudutkan tubuh Ri Rin di tembok pencucian piring. Mereka sangat menikmati adegan yang menurut Hye Mi sangatlah menggelikan itu, ditambah, mereka berdua melakukannya di tempat orang lain. Ri Rin melingkarkan kedua tangannya di leher Kyuhyun sedangkan pria itu melingkarkan tangannya di pinggang Ri Rin selagi bibir keduanya menyatu menjadi satu.

Hye Mi benar-benar hampir gila rasanya, melihat adegan yang seharusnya disensor itu. Dan mereka berdua langsung menghentikan aksinya saat Hye Mi berteriak keras. Kyuhyun dan Ri Rin langsung salah tingkah, merasa bahwa adegan yang sedang mereka lakukan sudah diinterupsi oleh orang lain.

Mata Hye Mi mendelik, menatap kedua insan itu marah. “APA YANG KALIAN LAKUKAN DI APARTMENTKU, HAH?”

Kyuhyun langsung merubah ekspresinya santai. “Kau sudah lihat kan tadi aku dan Ri Rin sedang melakukan apa? Jadi, kau masih ingin aku jelaskan?”

Hye Mi menggeram marah. “KALIAN BOLEH MELAKUKAN HAL ITU DI MANA SAJA SESUKA KALIAN, BAHKAN DI TENGAH JALAN SEKALIPUN, TAPI TIDAK UNTUK APARTMENTKU,” teriaknya marah.

“Baiklah. Aku minta maaf. Tadi aku dan Ri Rin sedang berjalan-jalan di dekat sini. Pada akhirnya, kami memutuskan untuk mampir ke sini.”

“Cho Kyuhyun bodoh! Kalian berdua keluar dari sini sekarang juga! Adegan kalian tadi benar-benar membuatku ingin muntah!”

Pria itu mengangkat kedua bahunya santai, sedangkan Ri Rin hanya menatap Hye Mi sambil mengerling nakal. “Aku akan pulang. Terimakasih untuk tempatnya ya. Dan, untung saja tadi kau cepat datang, karena kalau tidak, mungkin apartmentmu ini akan menjadi saksi bukti cinta kami berdua.”

Hye Mi bersikap layaknya orang yang ingin muntah. “Menggelikan! Cepat keluar sekarang juga!”

“Oke,” balas Kyuhyun dan Ri Rin kompak. Mereka berdua sedikit berlari melewati Hye Mi yang kemungkinan besar gadis bermarga Choi itu akan melemparkan sandal rumah yang sedang dipakainya.

“AAARRGGHHH!!!” Hye Mi menggeram kesal. Dua pemandan yang hari ini dilihatnya benar-benar membuat emosinya membludak. Tadi saat di supermarket, ia melihat Donghae tengah berjalan dengan wanita lain. Lalu sekarang? Melihat Kyuhyun yang sedang asik bercumbu dengan Ri Rin, itu sangat membuatnya ingin melemparkan semua barang-barang yang ada di dekatnya saat ini.

Gadis itu sedikit menyesal memberitahu kode apartmentnya kepada Kyuhyun dan Ri Rin. Mungkin di lain hari ia akan mengganti dengan kode yang baru agar mereka berdua tidak seenaknya masuk ke apartment tanpa sepengetahuan Hye Mi seperti yang sudah terjadi saat ini.

 

**

Tuesday, May 27th.

Hye Mi duduk di sofa dan menatap orang-orang yang saat ini sedang duduk juga di seberangnya dengan malas dan penampilan yang berantakan.

Tadi, saat sedang merasakan mimpi yang benar-benar indah, Hye Mi dengan terpaksa harus mengakhirinya karena sebuah panggilan masuk membuyarkan semuanya. Dan ternyata, orang yang menelphonenya adalah Kyuhyun. Pria itu datang bersama Ri Rin untuk membicarakan hal penting, setidaknya itu yang dikatakan Kyuhyun saat di telphone tadi.

“Kami berdua, ingin minta maaf masalah semalam,” ujar Kyuhyun menatap sepupunya iba karena melihat penampilan gadis itu yang  menurutnya sudah seperti gelandangan di pinggir jalan.

Hye Mi menatap keduanya dengan tatapan kosong, malas melayaninya.

Ri Rin menghela napas. “Hye Mi-ya, kami benar-benar minta maaf. Kau tidak mau memaafkan kami, huh?”

Hye Mi mendesah pasrah. “Baiklah, kalian aku maafkan.”

Kyuhyun bertepuk. “Sudah kuduga, kau pasti tidak akan marah dalam waktu yang lama dengan kami,” ucapnya asal.

Ri Rin menyikut Kyuhyun, dan seketika Kyuhyun langsung diam kembali.

“Kami benar-benar minta maaf,” ulang Ri Rin.

Karena merasa tidak enak dengan Ri Rin yang sudah dua kali melontarkan permohonan maaf, Hye Mi mengukir senyum di wajahnya untuk meyakinkan bahwa ia benar-benar sudah memaafkan kesalahan mereka berdua semalam.

“Tidak apa-apa, eonni. Sebenarnya, aku tidak marah dengan kalian. Hanya saja, aku sangat kesal karena sebelum melihat kalian di dapur melakukan adegan seperti itu, ada sebuah pemandangan yang membuatku sangat kesal,” jawab Hye Mi.

Ri Rin dan Kyuhyun saling bertukar pandangan dengan bingung, mereka berdua lantas kembali menatap Hye Mi seolah meminta penjelasan maksud dari perkataan gadis itu barusan.

“Kalian tahu? Saat aku sepulang dari rumah Kyuhyun, aku mampir sebentar ke supermarket yang tidak jauh dari sini. Dan alangkah terkejutnya aku ketika mendapati Donghae tengah berada di supermarket itu juga bersama seorang wanita yang tidak aku kenal. Hal yang paling membuatku sangat kesal dan membuat mataku sakit adalah, wanita itu melingkarkan tangannya di lengan Donghae. Apakah kalian tahu? Saat itu juga aku ingin sekali menjambak rambut wanita itu dan melemparkannya ke tengah jalan,” jelas Hye Mi sambil menggerutu kesal.

Kyuhyun dan Ri Rin menatap Hye Mi kasihan. Sedangkan Hye Mi, malah menundukkan kepalanya. Gadis itu tahu, bahwa Kyuhyun dan Ri Rin merasa kasihan terhadap dirinya. Maka dari itu, Hye Mi memilih untuk menghindari tatapan kasihan itu karena ia tidak mau terlihat lemah di mata orang lain.

“Aku kan sudah mengatakan, putuskan saja lelaki itu jika dia berani bermain api di belakangmu. Kenapa kau tidak melakukannya juga, heh?” cecar Kyuhyun.

Hye Mi mengangkat kepalanya. “Aku tidak mungkin melakukannya. Aku—”

“Terlalu mencintainya?” sambar Kyuhyun.

Hye Mi menghela napas. “Seperti itulah kira-kira.”

“Ck. Kau ini sudah dibutakan oleh cinta. Kau rela menyakiti dirimu sendiri karena terlalu cinta dengan pria itu?”

“Aku hanya tidak percaya, Donghae tega melakukan hal itu, Kyuhyun-ah.”

“Tapi bukti sudah kau dapatkan, kan? Apa yang membuatmu tidak percaya?”

“Sudahlah,” Ri Rin menengahi mereka. “Hye Mi-ya, selain untuk meminta maaf masalah semalam, kami ingin memberitahumu, bahwa nanti malam, tepat pukul tujuh, Donghae ingin bertemu denganmu. Masalah tempatnya, dia hanya bilang taman kalian berdua. Kurasa, kau tahu kan taman yang dimaksud itu di mana? Aku tidak tahu persisnya tempat itu. Yang jelas, Donghae hanya mengatakan hal itu saja.”

Hye Mi menatap Ri Rin bingung. “Kenapa dia tidak langsung memberitahuku saja? Kenapa harus melewati kalian?”

Gadis bermarga Shin itu hanya mengangkat bahu. “Tidak tahu. Kau bisa tanyakan hal itu padanya nanti.”

“Untuk apa ia mengajakku bertemu dengan cara seperti itu?”

“Tidak tahu. Kau temui saja dia. Mungkin, Donghae akan menjelaskan semua yang terjadi,” jawab Kyuhyun.

“Baiklah, aku akan mengusahakan untuk datang.”

 

**

Malam harinya, sesuai informasi yang didapatnya dari Kyuhyun dan Ri Rin tadi pagi, Hye Mi akhirnya pergi menuju tempat yang dimaksud dengan ‘taman kita’.

Ya, taman itu memang taman yang sering dikunjungi oleh Hye Mi dan Donghae. Taman itu tidak terlalu besar, mungkin hanya beberapa meter persegi saja luasnya. Tapi, hamparan rerumputan dan bunga-bunganya yang indah, membuat mereka betah berlama-lama datang ke taman yang jarang dikunjungi oleh masyarakat.

Hye Mi berjalan memasuki taman tersebut. Suasana terlihat sepi dan gelap. Hye Mi tidak melihat lampu taman yang biasanya berdiri tegak di sudut taman yang digunakan untuk menerangi taman tersebut pada saat malam hari.

Gadis itu memilih untuk mengenakan sweater lengan panjang berwarna putih, celana hitam ketat yang membalut kaki jenjangnya, serta sepasang sneakers yang menjadi alas kakinya, sedang rambutnya ia biarkan tergerai begitu saja.

Memasuki taman itu, membuat Hye Mi tersenyum getir. Taman yang banyak membawa kenangan indah tersendiri untuknya, mampu membuat dadanya terasa sesak. Sejak Donghae yang seperti berselingkuh di belakangnya itu, mereka berdua jarang sekali mengunjungi taman tersebut.

Angin malam yang berembus pelan, meniup rambut Hye Mi yang tergerai panjang itu. Ia terus berjalan dan pada akhirnya tiba di sebuah kursi taman berwarna putih pucat. Kursi itu merupakan tempat yang digunakannya saat sedang bersama Donghae ketika datang ke taman ini. Kursi diam itu, seakan menarik memori kenangan dalam otaknya begitu ringan.

Hye Mi menyapukan pandangan ke sekeliling. Sepi. Sunyi. Tidak ada siapa-siapa di sini. Donghae pun tidak terlihat batang hidungnya. Sejenak Hye Mi berpikir, mungkinkah Kyuhyun dan Ri Rin sedang berusaha menjebaknya? Menipunya?

Dua puluh menit berlalu, kedatangan Hye Mi tanpa ada tanda-tanda kemunculan Donghae. Gadis itu mulai merasa bosan dan kesal. Arloji di pergelangan tangannya sudah menunjukkan pukul setengah delapan. Itu berarti, melesat dari waktu yang diberitahukan oleh Kyuhyun dan Ri Rin tadi pagi.

Hye Mi masih menunggu sekitar lima belas menit ke depan, namun Donghae belum juga muncul. Gadis itu sudah berulang kali duduk, bangkit, duduk, kemudian bangkit lagi di kursi taman sekadar untuk menunggu kehadiran Donghae.

Dan, menit berikutnya Hye Mi sudah merasa ditipu oleh Kyuhyun dan Ri Rin pun akhirnya berniat pergi untuk meninggalkan tempat tersebut dengan amarah yang sudah mencapai ubun-ubun itu.

Tetapi, baru beberapa langkah untuk meninggalkan taman, seseorang berteriak dan sukses membuat Hye Mi menghentikan langkahnya.

“Kau tidak mau bertemu denganku, Nona Choi?”

Hye Mi membalikkan tubuhnya dan terkejut mendapati Donghae sudah berdiri tak jauh darinya saat ini. Pria itu mengenakan kemeja kotak-kotak berwarna merah, dengan lengan kemeja yang digulung hingga batas siku. Celana jeans dan sepatu kets yang dipakai pria itu sukses membuat Hye Mi hampir meneteskan air liur karena terlalu terpesona dengan pria bermarga Lee itu.

“Kau tidak mau menungguku lebih lama lagi, huh?” tanya Donghae sambil berjalan mendekati Hye Mi.

“Aku sudah menunggumu cukup lama. Kau sendiri yang mengatakan ingin bertemu denganku pukul tujuh bukan? Sekarang kau lihat jam berapa ini!” cibirnya.

Donghae tersenyum. “Maaf. Tapi, aku memang sengaja melakukan itu.”

“Sengaja?”

“SAENGIL CHUKKAHAMNIDA, SAENGIL CHUKKAHAMNIDA, SARAHANGHANEUN URI HYE MI, SAENGIL CHUKKAHAMNIDA.”

Nyanyian selamat ulangtahun itu membuat Hye Mi terkejut bukan main. Dilihatnya Kyuhyun, Ri Rin, dan seorang wanita tengah berjalan mendekat ke arahnya. Hye Mi menyipitkan mata. Tunggu! Wanita itu…..

Dan tunggu! Mereka menyanyikan lagu ulangtahun untuk Hye Mi?

Setelah berada di dekat Hye Mi, Ri Rin mengulurkan kue yang sedang dipegangnya ke arah Hye Mi, meminta gadis itu untuk meniup lilin dengan angka 22 di atasnya.

“Buat permohonan, dan tiup lilinnya,” perintah Ri Rin.

Hye Mi menatap bingung. “Kenapa harus aku yang meniup lilinnya? Memangnya, aku sedang berulangtahun, ya?” tanyanya polos.

“Astaga Hye Mi-ya, ulangtahunmu sendiri saja dilupakan. Kau tidak tahu sekarang itu tanggal berapa, heh? Tanggal 27 Mei, Hye Mi. Hari ulangtahunmu,” jawab Kyuhyun.

Hye Mi ternganga. “Benarkah? Ya Tuhan, aku tidak ingat kalau sekarang hari ulangtahunku.”

“Ck. Kau ini kan memang pelupa. Pantas kelakuanmu seperti gadis psikopat. Sekarang cepat, tiup lilinnya,” suruh Kyuhyun.

Hye Mi akhirnya menurut. Ia memejamkan mata untuk meminta permohonan sebelum meniup lilin. Lima detik kemudian, gadis itu kembali membuka mata dan segera meniup lilin tersebut.

“Yeay!” seru Ri Rin senang. “Hye Mi-ya, selamat ulangtahun. Semoga apa yang kau inginkan terkabul.” Ri Rin memajukan wajahnya, dan gadis itu pun mencium kening Hye Mi, karena memang, Hye Mi sudah dianggap sebagai adik sendiri.

“Terimakasih eonnie-ya. Aku menyayangimu.”

“Nah Choi Hye Mi.” Kini giliran Kyuhyun yang akan memberikan ucapan selamat. “Selamat ulangtahun. Aku harap, di usiamu yang sudah menginjak dua puluh dua, bisa membuatmu menjadi sedikit waras, tidak berkelakuan seperti gadis psikopat. Dan, tentu tumbuh menjadi gadis yang cantik. Kau tahu kan, sepupumu yang satu ini tampannya melebihi batas, jadi setidaknya, kau juga harus tumbuh cantik agar menjadi incaran pria mana pun.” Kyuhyun menarik Hye Mi ke dalam pelukannya, memeluknya dengan sayang.

“Permohonanmu terdengar membuatku emosi. Tapi, terimakasih banyak Kyuhyun-ah.”

“Kau tahu? Walaupun aku sering membuatmu kesal dan marah, sebenarnya aku sangat menyayangimu. Kau sudah kuanggap seperti adikku sendiri. Jadi, mulai sekarang kau harus memanggilku oppa, eo?”

Mendengar ucapan Kyuhyun, Hye Mi langsung menarik tubuhnya keluar dari dekapan Kyuhyun dan mendelik tajam ke arah pria itu.

“Sampai kapan pun, aku tidak akan sudi memanggilmu seperti itu.”

Kyuhyun mendecak sebal.

“Hye Mi-ssi,” panggil seseorang.

Hye Mi menoleh, tepat ke arah wanita asing itu.

“Selamat ulangtahun,” katanya memberi ucapan selamat.

Hye Mi memandangi wanita itu dengan tatapan tidak suka. Yang Hye Mi herankan, kenapa wanita itu ada di saat perayaan ulangtahunnya sekarang? Apakah Donghae berniat memperkenalkan selingkuhannya itu pada dirinya?

“Ya. Terimakasih,” balas Hye Mi singkat.

“Choi Hye Mi, bersikaplah yang baik dengannya,” perintah Kyuhyun.

“Untuk apa? Kau tahu? Wanita itu yang aku ceritakan tadi pagi. Wanita yang aku temui di supermarket bersama dengan Donghae. Dan aku merasa, aku pernah melihat wanita itu, selain di supermarket.”

Kyuhyun melipat kedua tangannya di depan dada. “Tentu. Dia gadis yang sedang berciuman dengan Donghae di foto yang aku dan Ri Rin tunjukkan waktu itu.”

Hye Mi membulatkan matanya tidak percaya. “Maksudmu?”

“Hye Mi-ya, kau sedang berada dalam tindakan skenario kami,” jawab Ri Rin.

“Kami semua yang merencanakan ini. Sebenarnya ini ide Donghae, dan kami diminta untuk membantunya,” sambung Kyuhyun.

“Maksud kalian apa?” tanya Hye Mi tidak mengerti.

Kyuhyun memutar bola matanya dengan malas. “Memang sulit ya berbicara dengan gadis yang otaknya berpentium rendah sepertimu,” cemoohnya.

Hye Mi mendelik tajam. “Jelaskan saja, tidak usah mencemoohku seperti itu, Cho Kyuhyun.”

Kyuhyun mengangkat bahu, sedangkan Donghae hanya menahan geli melihat sikap gadisnya yang menurutnya itu menggemaskan.

“Semua itu hanyalah skenario belaka. Masalah foto ciuman itu, kami yang mengaturnya. Kau tahu? Gadis itu sepupu Donghae. Namanya Kang Eun Hye. Dialah yang sebenarnya berciuman dengan Donghae. Kami sengaja melakukan itu, dengan niat membuat emosimu meledak. Tapi, kau malah bersikap dingin saat itu, bukan? Dan, mengenai pertemuanmu dengan mereka berdua di supermarket, itu juga sudah kami atur sedemikian rupa. Saat itu kan kau baru pulang dari rumahku, jadi dengan strategi yang kami miliki, kami langsung mengatur semuanya agar membuatmu kesal. Asal kau tahu juga, ciumanku dan Ri Rin kemarin malam juga merupakan bagian dari skenario yang telah kami buat. Terbukti kan kau kesal setengah mati?” Kyuhyun menjelaskan panjang lebar.

Hye Mi hanya ternganga mendengar penjelasan yang meluncur bebas tanpa ada keraguan sedikit pun dari Kyuhyun.

“Jadi, ini semua ulah kalian?” tanyanya tak percaya.

“Yaa,” Eun Hye angkat bicara. “Aku minta maaf soal itu. Aku sama sekali tidak bermaksud untuk membuatmu marah, tapi Donghae oppa yang memaksaku untuk melakukan adegan itu. Awalnya aku menolak, tapi kekasihmu itu keras kepala sekali.”

Hye Mi menalan ludahnya. “Jadi, kau bukan selingkuhan Donghae, melainkan sepupunya?”

Eun Hye mengangguk. “Tentu, aku sepupunya. Dan, kau jangan mengira Donghae oppa itu berani berselingkuh darimu. Dia itu tipikal pria setia.”

“Kalau kau mau tahu, kue ulangtahun ini adalah kue yang kau buat kemarin bersama eomma,” ucap Kyuhyun.

MWO?”

“Yaa. Kami bekerjasama dengan eomma. Selepas kau pulang dari rumah, eomma langsung menelphoneku, dan adegan di supermarket pun terjadi. Kau ingat kan, sebelum kau pulang, eomma menanyaimu ingin ke mana setelah pulang dari rumah? Kau jawab akan mampir sebentar ke supermarket. Hal itulah yang mempermudah kami menjalankan aksi.”

Hye Mi masih tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi dengannya. Jadi, foto, ciuman, selingkuh, itu hanya skenario belaka?

“Untuk penjelasan lebih lanjut, kau bisa langsung tanyakan pada si pencetus ide,” kata Ri Rin.

“Aku, Ri Rin dan Eun Hye pamit pergi dulu. Kau silakan menikmati malam berdua dengan priamu itu. Kue ini, untuk kami bertiga ya? Kau silakan minta kue yang lebih mahal pada kekasihmu itu. Selamat tinggal.”

Akhirnya Kyuhyun, Ri Rin dan Eun Hye pun pergi meninggalkan Hye Mi berdua dengan Donghae.

Sekarang Hye Mi merasa tidak enak karena sudah menuduh bahwa Donghae selingkuh. Ia benar-benar harus meminta maaf.

“Sungguh, aku benar-benar minta maaf telah menuduhmu selingkuh,” ucap Hye Mi menyesal.

Donghae tersenyum. “Itu memang reaksi yang aku nanti-nantikan, kau tahu?”

“Kenapa kau tega melakukan ini padaku, huh? Kau tidak tahu kan kalau aku hampir gila mendengarmu berselingkuh?” protes Hye Mi.

Donghae malah menarik Hye Mi ke dalam pelukannya. “Ohya? Syukurlah. Itu berarti, kau benar-benar tidak mau kehilanganku, kan? Ngomong-ngomong Mi-ya, selamat ulangtahun eo? Semoga kau bertambah  baik di segala hal. Dan, tidak bosan terus denganku.”

“Tentu. Aku tidak akan pernah bosan.”

“Kau tahu? Selain untuk memberikanmu kejutan karena ulangtahun, skenario itu aku buat karena aku ingin mengetestmu.”

“Untuk apa?”

“Dengan adanya fotoku berciuman dengan wanita lain, kau yang memergokiku sedang berjalan dengan wanita lain, aku ingin memastikan bahwa kau setia denganku atau tidak. Kau tidak akan pernah percaya selain apa yang aku katakan. Kau tahu? Ibunya Kyuhyun pernah menyuruhmu untuk memutuskanku jika aku ketahuan selingkuh, kan? Juga Kyuhyun yang mendesakmu untuk memutuskanku. Aku sengaja menyuruh mereka melakukan hal itu karena aku ingin tahu sampai di mana kau setia padaku. Kau mengeti maksudku kan, Mi-ya?”

“Ya, aku mengerti sekarang. Tapi—” ucap Hye Mi menggantung.

“Tapi apa?”

Hye Mi melepaskan pelukan Donghae. “Tapi, dengan adanya ciuman itu, bibirmu sudah ternodai, Hae-ya. Aku tidak suka,” kata Hye Mi manja.

Donghae tersenyum miring. “Kalau begitu, kau bersedia kan jika harus membersihkannya sekarang juga?” godanya.

Hye Mi menggembungkan pipinya. “Kau mulai lagi.”

“Tapi itu yang kau mau, kan?” Donghae tersenyum nakal.

Hye Mi menggigit bibir bawahnya. “Menurutmu?”

“Tidak usah sungkan. Aku tidak keberatan kalau kau membersihkannya.”

Belum sempat Hye Mi berkomentar, Donghae sudah terlebih dulu menyatukan bibirnya dengan bibir Hye Mi. Tangan pria itu terangkat naik ke tengkuk Hye Mi, menekannya untuk memperdalam ciuman itu. Hye Mi yang tidak bisa melakukan apa pun, hanya bisa membalasnya, melumatnya lembut.

“Aku mencintaimu, Mi-ya,” kata Donghae pelan di sela ciumannya.

“Aku tahu.”

 

The End

2 Comments (+add yours?)

  1. eLa0215
    Jul 30, 2015 @ 09:45:16

    aku kira donghae beneran selingkuhhh …
    Hye Mi cemburunya kurang ganassss .. knp pas disupermarket ga dijambak ajh .. hehhee piss😀

    Reply

  2. Kim YeNa
    Jul 30, 2015 @ 11:07:53

    Huwaaaaaaaa ikut terbang jadinya, Good job thor😉

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: