Our Wedding Story [1/?]

OWS

Author: Ghina

Cast: Cho Kyuhyun – Song Eunhee (OC)

Genre: Romance

Length: Chaptered

Rating: PG-13

Note: Prolog-nya sudah pernah saya post di beberapa blog, termasuk blog ini dan blog pribadi saya (macaronstories.wordpress.com) Sekarang masuk ke part pertama. Enjoy~

.

.

.

The first time I saw you, my heart whispered,

“That’s the one.”

(Kyuhyun’s Side)

.

Cho Kyuhyun tidak tahu kenapa dia mudah sekali diperalat oleh ibunya. Setelah dipaksa bangun pagi-pagi sekali, mandi dengan air dingin, dan menghabiskan sarapan di mobil, kali ini Kyuhyun diminta duduk tenang di atas sofa kulit yang terasa nyaman.

Kyuhyun bisa saja berontak dan mulai berulah seperti yang biasa ia lakukan jika sedang kesal. Namun, tatapan tajam Kim Hana―ibunda tercinta―membuat nyali Kyuhyun menciut dan menuruti perintah dengan patuh.

Kyuhyun memerbaiki posisi duduknya lalu terdiam dengan raut wajah gugup.

Tiba-tiba seorang lelaki tegap muncul dari dalam rumah, menyapa ibunya lalu berpelukan dengan ayahnya. Mereka berdua saling menanyakan kabar, terlihat sangat akrab. Tak lama kemudian, wanita mungil menampakkan wajahnya sembari membawa nampan berisi minuman dan sekotak coklat, menaruhnya di atas meja, lalu duduk di sebelah pria tinggi besar yang Kyuhyun yakini adalah suaminya.

Melihat coklat, mata Kyuhyun langsung berbinar.

Kyuhyun mengunyah coklat pertama dengan semangat lalu menunjukkan cengiran lebar ketika ibunya mendelik padanya. Tanpa tahu malu, Kyuhyun kembali memasukkan suapan kedua.

Sepotong sandwich yang disediakan ibunya tadi pagi jelas tidak bisa memenuhi permintaan cacing-cacing di perut besar Kyuhyun. Dia masih sangat kelaparan. Dan coklat bisa menjadi pilihan kedua di saat pizza atau pun jjajangmyeon tidak ada.

“Kupikir kalian tidak jadi datang,” ujar lelaki tegap tersebut dengan suara berat yang terdengar begitu ramah, memecah keheningan di antara mereka.

Ayah Kyuhyun langsung tertawa pelan dan menepuk-nepuk pundak Kyuhyun sedikit lebih keras, membuat Kyuhyun memuntahkan sebutir coklat yang baru saja ia masukkan ke dalam mulut, lalu menjawab santai, “Maaf, Ale. Kyuhyun susah sekali bangun pagi.”

Kyuhyun terbatuk sesaat lalu menatap ayahnya kesal, yang dibalas lelaki paruh baya tersebut dengan senyum tertahan yang nampak sangat menyebalkan. Ayahnya sedang mengejeknya dan itu membuat Kyuhyun mencibir lalu menggeser duduknya menjauh, membentang jarak sebagai bentuk protesnya akan sikap sang Ayah yang membuatnya malu.

“Tidak apa-apa. Sangat wajar jika anak seusia Kyuhyun bangun siang,” ucap Mister Ale pengertian sembari melemparkan senyum hangat pada Kyuhyun sehingga Kyuhyun terlena dan melupakan kekesalannya pada sang Ayah.

Kyuhyun kembali melanjutkan makannya dan melahapnya, menikmati coklat untuk dirinya sendiri. Tangan kanan Kyuhyun masuk ke dalam kotak, hendak mengambil butir kesekian saat indera perabanya hanya merasakan tekstur kasar dari plastik. Kyuhyun menunduk lalu mendapati bahwa kotak coklatnya telah bersih, habis tak bersisa.

Mendadak, Kyuhyun merasa sedih.

Kyuhyun mengelus-elus perutnya yang baru terisi setengahnya sembari menatap kotak coklatnya sendu. Wajahnya menjadi suram, membuat Mistress Ale yang sedari tadi memang memerhatikan tingkah polah Kyuhyun menjadi tidak tega.

“Kyuhyun-ah,” panggil Mistress Ale lembut, membuat Kyuhyun menoleh dan menatap ke arahnya. “Ikut denganku.”

Belum sempat Kyuhyun menjawab, Mistress Ale sudah terlebih dahulu beranjak dari ruang tamu. Kyuhyun terdiam di tempatnya, menimbang-nimbang sejenak. Tapi, lambaian tangan dari Mistress Ale membuat Kyuhyun akhirnya mengikuti wanita itu.

“Silahkan duduk,” kata Mistress Ale sopan sebelum melangkah ke depan meja konter dan menyibukkan diri dengan bahan-bahan makanan.

Kyuhyun menurut. Dia menarik salah satu kursi kayu di ruang makan ini lalu duduk di atasnya. Setelah mendapatkan posisi yang nyaman, Kyuhyun mulai melakukan pengamatan sederhana akan bagian dalam rumah ini. Mulai dari ruangan yang nampak dari sini hingga ke pengaturan perabotan yang begitu rapi. Indah, itu kesan pertama yang Kyuhyun dapatkan.

Kyuhyun begitu asyik mengamati sampai-sampai tidak menyadari kalau Mistress Ale telah menghidangkan sepiring tramezzino—sejenis sandwich ala Italia—di hadapannya. Ketika Mistress Ale berucap, “Makanlah,” baru Kyuhyun mengetahui ada makanan enak di depannya.

Kyuhyun menggumamkan kalimat terima kasih, berniat meraih tramezzino-nya saat suara gadis mungil menghentikannya.

Kyuhyun menoleh dan merasa berdebar setelahnya.

Di sana, beberapa meter di hadapannya, berdiri seorang gadis mungil dengan piyama tidurnya. Kedua tangannya memeluk boneka pandanya erat-erat. Wajahnya sembab, rambut ikal sepunggungnya berantakan, dan bibirnya mengerucut lucu. Lalu matanya… berwarna hazel. Cerah, berbinar, layaknya lumeran karamel.

Itu adalah mata paling indah yang pernah Kyuhyun lihat di sepanjang sebelas tahun hidupnya.

Dan Kyuhyun menyukainya.

***

Di sebuah daerah elit sekitaran Gangnam, terdapat rumah mewah yang berdiri dengan gagah. Pagarnya berwarna keperakan, menjulang tinggi, dan nampak begitu mengintimidasi.

Begitu pagar terbuka, jalanan lebar yang dipenuhi oleh serakan daun kecoklatan akan menjadi pemandangan utama. Pinggiran jalan ditanami berbagai macam pepohonan rindang―pinus, mahoni, dan jati―yang mampu memanjakan mata. Aroma segar menyeruak, mengusik indera penciuman, membuat siapa saja merasa nyaman.

Kebun buah, taman bunga, dan danau buatan terlihat saling tumpang tindih, menambah kesan adem yang begitu pekat. Ditambah kicauan burung dan suara air yang terdengar bersahut-sahutan, tempat ini seolah dipenuhi suasana magis yang menyenangkan. Seperti yang selalu digambarkan di negeri dongeng.

Air mancur adalah hal terakhir yang terlihat sebelum bangunan megah menyapa.

Rumah tersebut terdiri dari tiga bangunan yang dihubungkan oleh jalan kecil berlapisan marmer, nampak sama besar dan sama hebatnya. Masing-masing memiliki dua lantai dengan luas yang tidak kurang dari seribu meter persegi. Bagian belakang rumah dimanfaatkan untuk lapangan golf, sedangkan bagian samping dijadikan secret garden, tempat berbudidaya sayuran organik.

Secara keseluruhan, rumah itu memang nampak begitu menawan.

Dan di salah satu bangunan itulah, Cho Kyuhyun tinggal. Seorang lelaki tampan yang menjadi pewaris utama dari perusahaan teknologi terbesar di Asia.

Samar-samar, gemericik air dari dalam kamar mandi terdengar, membuktikan bahwa sang pemilik kamar tengah melakukan aktivitasnya di sana. Beberapa menit berselang, suara tersebut menghilang. Tergantikan dengan sesosok pria yang berdiri di depan pintu kamar mandi, asyik mengeringkan rambutnya yang basah menggunakan handuk kecil. Sama sekali tak menyadari betapa seksinya ia sekarang.

Tubuhnya belum sepenuhnya kering, meninggalkan jejak basah di dada bidangnya yang telanjang. Otot perutnya belum terbentuk sempurna, tapi cukup membuat gadis mana pun meneteskan air liur. Ditambah kulit-putih-susu yang berkilau tertimpa cahaya matahari, lelaki itu nampak seribu kali lebih menggoda. Seperti vampir yang tengah mencari mangsa, begitu menawan, begitu mematikan.

Cho Kyuhyun melemparkan handuknya masuk ke keranjang sampah. Lalu bergerak menuju walk-in closet, sibuk memilah-milah pakaiannya. Pilihannya jatuh pada selembar kemeja slim fit putih, celana katun cokelat gelap, dan jas hitam. Sembari bersiul pelan, Kyuhyun mulai mengenakannya satu per satu. Tetapi dia menyisakan jas di pundaknya, terlalu malas untuk memakainya sekarang, dan segera berbalik ke kamar.

Lelaki itu meraih iPhone—yang tergeletak begitu saja di atas meja nakas—dompet, dan kunci mobil. Mengambil tas kantornya dan menyambar beberapa dokumen dari lemari bukunya. Dia membuka pintu kamar dan menuruni tangga. Sedikit tergesa menghampiri keluarganya yang sudah siap di ruang makan bangunan utama dengan berbagai hidangan tersaji di hadapan.

Kyuhyun mencium pipi ibunya.

“Selamat pagi semua,” sapa Kyuhyun kepada ayah dan kakaknya yang sedang menikmati sarapan mereka.

Ayah Kyuhyun mengangguk sekilas sebagai balasan, sedangkan kakak perempuannya—Cho Ahra—menatapnya antusias. Ahra sudah rapi dengan blouse peach kebanggaannya dan rambut dikepang satu, nampak begitu cantik.

Oh, Kyuhyunnie. Kemarilah, duduk di sebelahku.”

Mendengar panggilan Ahra kepadanya, membuat Kyuhyun gemas. Lelaki itu berniat duduk di sebelah ibunya saja, tapi gelengan dari wanita kesayangannya itu membuat Kyuhyun tidak bisa mengelak. Kyuhyun menarik kursi di sebelah Ahra, meletakkannya jasnya pada sandaran, dan duduk dengan malas-malasan.

Kyuhyunnie adalah panggilan kecil untuk Kyuhyun yang diberikan oleh Ahra.

Waktu itu Ahra masih berumur 3 tahun dan merasa sedih karena tidak mendapatkan seorang adik perempuan yang bisa dia panggil dengan nama-nama cute. Ahra mulai murung dan tidak nafsu makan. Dia mengerucutkan bibirnya tiap kali bertemu Kyuhyun. Lalu datanglah ayahnya dengan sebuah bujuk rayu yang berhasil membangkitkan kebahagiaan Ahra.

Bujuk rayu yang sialnya malah membuat Kyuhyun merasa begitu malu.

“Aku tidak membenci Kyuhyun, tapi aku ingin adik perempuan.”

“Begitukah? Bagaimana dengan… Kyuhyunnie?”

Kyuhyunnie?”

Hmm. Kau boleh memanggilnya Kyuhyunnie. Bukankah itu terdengar cantik?”

Kyuhyunnie, Kyuhyunnie. Aku menyukainya, Appa. Kyuhyunnie, kau manis sekali. Nuna menyayangimu.”

Kyuhyun sempat memberikan protes atas panggilannya yang aneh itu. Tapi, bukannya menggantinya, Ahra malah semakin gencar menggodanya. Di mana pun mereka bertemu, Ahra akan memanggil Kyuhyun dengan panggilan itu. Membuat Kyuhyun menjadi bahan ledekan oleh teman-temannya di sekolah.

Sekarang, meskipun sudah tidak sesering dulu, Ahra masih menggunakan panggilan menyebalkan itu. Entah itu hanya sekadar untuk mengisengi Kyuhyun atau pun mengganggunya, Ahra seolah tidak pernah puas.

Benar-benar tipe kakak yang perhatian, kan?

Kyuhyun mencomot sepotong burger dan mengunyahnya dengan cepat. Sebagian karena masih merasa kesal atas tingkah sang Kakak yang terus-terusan mengejeknya, dan sebagiannya lagi karena Kyuhyun harus bergegas. Dalam sekejap, burger tersebut sudah masuk sepenuhnya ke dalam perutnya. Tangan Kyuhyun meraih segelas jus jeruk dan menenggaknya sampai habis. Lantas berdiri dan mengambil jasnya.

“Aku sudah selesai,” ujarnya sembari berjalan ke arah ayahnya.

“Secepat ini?” tanya ayahnya bingung.

“Ada rapat penting mengenai kerjasama kita dengan Mister Sam.”

Ayah Kyuhyun menganggukkan kepalanya, mengerti akan alasan Kyuhyun. Beliau memeluk Kyuhyun sekilas dan berbisik, “Semoga beruntung.”

Kyuhyun tersenyum kecil dan beralih kepada Ahra yang duduk di sebelah kanan ayahnya. Dia memberikan kecupan lembut di pipi kakaknya tersayang.

“Jangan memanggilku begitu, Nuna.”

“Kenapa? Itu terlihat imut. Kyuhyunnie, Kyuhyunnie…” ujar Ahra, kali ini dengan suara yang dibuat lebih lucu, membuahkan tawa ringan dari mulut kedua orang tua mereka.

Kyuhyun mendelik sebal.

Kyuhyunnie, jangan merengut.”

Kyuhyun bisa mendengar kekehan puas dari mulut Ahra. Dia mendengus pelan lalu merogoh ponselnya, mengotak-atiknya sebentar, sebelum menunjukkannya pada Ahra. Wajah Ahra langsung memerah, bahkan menjalar hingga kedua telinganya.

“Da—darimana kau mendapatkan fo―foto ini?”

Kali ini Kyuhyun lah yang tersenyum senang.

“Aku akan mengirimkannya pada hyung jika kau masih memanggilku seperti itu, Nuna.”

Hyung yang dimaksud adalah tunangan Ahra. Mereka akan menikah tahun depan. Dan calon suami mana pun pasti terbengong-bengong melihat kelakuan pasangan mereka yang tergolong langka. Seperti Ahra ini misalnya.

“Astaga, Cho Kyuhyun, kau menyeramkan,” pekik Ahra tak habis pikir. Ahra mengangkat kedua tangannya ke udara lalu berkata dengan suara lemas, “Oke, permintaan diterima. Sekarang tolong hapus foto itu. Aku tidak mau calon suamiku ilfeel.”

Kyuhyun segera mengunci iPhone-nya sembari tertawa pelan. Dia menghindar dari jangkauan tangan Ahra dan mencuri ciuman dari ibunya.

“Akan kusimpan sebagai kenang-kenangan. Aku pergi dulu.”

Yak, Cho Kyuhyun!”

***

Sejak tahun 1980, seluruh anggota keluarga Cho dipandang sebagai orang terhormat.

Perusahaan pertama yang diberi nama Cho Corp dan dirintis oleh kakeknya itu berhasil membawa keluarga mereka yang biasa-biasa saja menjadi luar biasa terkenal. Kemajuan teknologi masih menjadi hal langka waktu itu, tapi kakeknya bersikeras ingin membangun perusahaan yang bergerak di bidang tersebut. Jadilah beliau membukanya.

Awalnya hanya berupa bangunan berlantai dua yang nampak seperti toko pada umumnya. Lalu seiring berjalannya waktu, perusahaan kecil itu menjadi semakin besar. Bukan lagi toko berlantai dua, tapi sudah bangunan megah yang terdiri dari 20 lantai.

Setelah kakeknya meninggal, pamannya―kakak dari ayah Kyuhyun―yang melanjutkan. Pamannya berhasil membuat perusahaan tersebut memiliki 2 cabang, berlokasi di Jerman dan New York, yang langsung diurus oleh para sepupunya. Sedangkan ayahnya sendiri memutuskan untuk membangun sebuah cabang lagi yang diperuntukkan pada Kyuhyun dan Ahra.

Cho Corp kini sudah memiliki 3 cabang besar dan sebuah perusahaan pusat. Salah satunya adalah Marc-A, cabang perusahaan yang resmi menjadi milik ayahnya dan diurus sendiri oleh beliau beserta Kyuhyun.

Ahra sendiri menolak ikut campur dengan hal-hal berbau perusahaan dan memilih membuka butiknya sendiri. Rancangan ala Ahra yang memukau dan begitu kreatif membawa Ahra begitu terkenal di kalangan artis dan para model, baik itu yang di dalam mau pun luar negeri. Butiknya pun maju dengan sangat cepat. Dan kini, butik bernama Ahra Cho’s itu sudah memiliki dua cabang di penjuru Korea.

Keluarga mereka mungkin memang hidup dengan bergelimangan harta. Namun, hal tersebut tidak lantas menjadikan keluarga Cho sebagai keluarga arogan yang memilih-milih dalam berteman.

Di keluarga mereka, semua orang sama. Entah itu yang memiliki separuh kekayaan bumi atau pun yang tidak memunyai sama sekali. Ini pula yang membuat keluarga mereka terkenal dengan kedermawanan dan kebijaksanan yang juga berlaku pada setiap karyawannya. Tidak pernah sekalipun ada kabar buruk mengenai keluarga ini, menyulitkan para pesaing yang ingin menghancurkan perusahaan.

Seperti sekarang, ketika Kyuhyun sudah sampai di kantornya dan hendak menuju ruangannya. Dia akan membalas setiap senyuman yang diperuntukkan untuknya. Sesekali menyapa karyawan lelaki yang memang ia kenal, baik karena kontibusinya pada perusahaan mau pun karena seringnya mereka berbincang.

Meskipun Kyuhyun terlihat menjaga jarak dengan karyawan wanita yang menatapnya kelaparan, hal itu tidak mengurangi kesan ramah dan berwibawa yang selalu melekat pada direktur kebanggaan Marc-A ini. Sehingga bukannya kecewa dengan sikap tersebut, kaum wanita malah semakin gereget.

Tapi, Kyuhyun tetaplah seorang keturunan Cho yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Mau bagaimana pun sikap ramahnya, karyawan wanita tidak berani akan berlaku genit.

Karena ini Cho Kyuhyun, seseorang yang begitu disegani oleh seluruh penduduk dunia.

“Selamat pagi, Direktur Cho.”

“Pagi,” balas Kyuhyun singkat lalu memasuki ruangannya, diikuti oleh sang Sekretaris―Kim Yoonmi di belakangnya.

“Bagaimana persiapan rapatnya?” tanya Kyuhyun sembari membereskan berkas-berkasnya.

Kyuhyun mengambil beberapa berkas yang sekiranya diperlukan saat rapat nanti lalu menyerahkannya pada Yoonmi yang menerimanya dengan santun.

“Sempurna, Tuan. Hanya tinggal menunggu rombongan Mister Sam, maka rapat bisa langsung kita laksanakan.”

Kyuhyun melirik jam tangannya lalu menganggukkan kepalanya beberapa kali.

Dia menatap Yoonmi ramah.

“Baik, saya akan ke ruang rapat sebentar lagi. Masih ada beberapa hal yang harus saya kerjakan. Panggil saya sepuluh menit kemudian.”

“Saya mengerti, Tuan. Permisi,” pamit Yoonmi lalu menghilang di balik pintu.

Sepeninggal Yoonmi, Kyuhyun menjatuhkan tubuhnya di atas singgasananya yang empuk.

Kyuhyun mengambil sebuah dokumen, memakai kaca mata, dan mulai mempelajarinya dengan teliti. Dia nampak begitu serius sebelum suara ponsel memecah konsentrasinya.

Kyuhyun Sayang, jangan lupa temui Laura. Afternoon Tea, pukul 4 sore nanti. Fighting!~^^

Pesan dari ibunya membuat Kyuhyun terdiam. Selain karena isinya yang tidak jauh dari proses pendekatan, yang terasa begitu menyebalkan bagi Kyuhyun, tapi juga kata terakhir yang tertera di sana.

Huh? Fighting?

Seperti Kyuhyun akan melakukan apa saja.

Ibunya berlebihan sekali.

Kyuhyun tersenyum sekilas, menimbang-nimbang sejenak, lalu mengusap layar sentuh dan mulai mengetikkan sesuatu sebagai balasan. Setelah itu, Kyuhyun meletakkan iPhone-nya di atas meja dan kembali menggeluti dokumennya.

Ya, akan kulakukan. Aku sayang ibu.

***

Semua berawal ketika Ahra memutuskan untuk menjalani hubungan ke jenjang yang lebih serius dengan seorang pengusaha muda yang sudah menjadi kekasihnya selama dua tahun. Ahra yang sudah mendapatkan calon itu mulai menggoda dan memanas-manasi Kyuhyun. Tentu saja Kyuhyun hanya menganggapnya sebagai candaan dan meresponnya seperti biasa.

Tapi, rupanya sang Ibu tidak berpikir demikian. Beliau malah berpikir kalau yang dikatakan Ahra adalah benar adanya. Bahwa sudah saatnya Kyuhyun mencari sesosok wanita yang dapat menjaga dan merawatnya. Bahwa memang sudah waktunya Kyuhyun membangun keluarganya sendiri.

“Ahra sudah menemukan jodohnya dan kau masih asyik berkencan dengan dokumenmu? Ayolah, Cho Kyuhyun. Beraksi dan cari. Kau sudah berumur 26 tahun. Itu usia yang pantas untuk mulai memikirkan pernikahan. Lagi pula, aku tidak sabar menimang cucu darimu.”

Dan mulai lah sang Ibu menjodoh-jodohkannya dengan gadis mana pun yang menurut beliau pantas mendampinginya. Mulai dari mengenalkan Kyuhyun dengan anak gadis teman-teman arisannya―yang selalu Kyuhyun tolak tanpa harus berpikir panjang―hingga menjadwalkan sebuah pertemuan―semacam blind date―di sebuah restoran atau pun kafe.

Dalam hal seperti ini, ibunya terlalu mengerahkan tenaganya sehingga hampir-hampir, gadis yang ia temui, terpikat pada pandangan pertama. Namun, semua itu tidak cukup berarti karena selalu berakhir sia-sia.

Kyuhyun menolak siapapun yang disodorkan kepadanya.

Kyuhyun mengakui bahwa akhir-akhir ini dirinya memang terlalu sibuk mengurusi perusahaan sampai-sampai melupakan hal-hal berbau romantisme dan memaksa ibunya untuk melakukan sesuatu yang konyol seperti itu―Kyuhyun mengerti kekhawatiran sang Ibu dan tidak berhak menghakiminya. Tapi, Kyuhyun juga lelaki normal. Dia pernah menjalin suatu hubungan, sekali, dengan seorang model asal Jepang. Hanya saja, hubungan tersebut sudah lama berakhir.

Itu sekitar… 6 tahun lalu?

Kyuhyun bahkan tidak bisa mengingatnya dengan benar.

Sebenarnya bukan tanpa alasan Kyuhyun tetap single hingga saat ini. Ada sesuatu yang ditahan-tahan dan dirahasiakan Kyuhyun dari kedua orang tuanya. Hanya satu orang yang Kyuhyun percayakan semua tentang kisah asmaranya, yaitu Cho Ahra. Kakaknya itu paham betul alasan di balik sikap pasif Kyuhyun dalam mencari pasangan. Kyuhyun pernah menceritakan segalanya, tanpa bersisa, membuat Ahra takjub dan mengerjap tak percaya.

“Kurasa, aku menyukainya,” ungkap Kyuhyun tiba-tiba, di suatu malam, saat kedua orang tuanya sudah lelap, sedang ia dan Ahra masih asyik menonton.

Ahra menoleh, mengecilkan volume televisi, lalu menatap Kyuhyun bingung.

“Siapa yang sedang kita bicarakan?”

“Song Eunhee,” gumam Kyuhyun pelan dengan wajah memerah. Beruntung penerangan tidak terlalu baik―mereka hanya menghidupkan dua lampu―sehingga Ahra tak dapat melihatnya dengan jelas.

Ahra terkejut. Dia sedikit mengeraskan suaranya meski masih dapat disebut berbisik, “Eunhee? Anak Mister Alessandro, sahabat Appa yang dari Italia itu?”

Kyuhyun mengangguk pelan, nampak malu-malu. Kepalanya tertunduk, enggan bertatap muka dengan Ahra yang terdiam setelah Kyuhyun mengungkapkan perasaannya. Suasana mendadak canggung dan itu membuat Kyuhyun tidak nyaman.

Perlahan-lahan, Kyuhyun mendongakkan kepalanya.

Dan hal pertama yang tertangkap oleh indera penglihatannya adalah wajah berbinar sang Kakak. Berikut dengan senyum lembut di bibirnya yang mungil.

Ahra berkata, “Kau jatuh cinta, Kyuhyunnie,” lalu menepuk-nepuk pundak Kyuhyun dengan penuh rasa bangga. “Dan aku bahagia mendengarnya,” lanjut Ahra riang.

***

Afternoon Tea, Seoul

04:13 AM

Suasana sedang padat-padatnya ketika Kyuhyun memasuki tempat ini. Matanya langsung disuguhkan dengan pemandangan berpuluh-puluh orang yang memadati ruangan. Aroma manis dari kue-kue cantik menyergap indera penciumannya, seiring dengan suara berisik yang terdengar bersahut-sahutan, berdegung di telinganya.

Kyuhyun menyipitkan kedua matanya, menatap liar ke seluruh penjuru ruangan, berusaha mencari sesosok gadis yang sudah mengadakan janji dengannya―oh, dengan ibunya tepatnya. Pandangannya sedikit terhalangi oleh pelayan yang berjalan mondar-mandir di depannya, membuat Kyuhyun terpaksa melongokkan kepalanya. Barulah usahanya itu membuahkan hasil―dia melihat siluet tubuh yang sesuai dengan ciri-ciri yang diberikan ibunya.

Segera, Kyuhyun menghampiri gadis itu.

Miss Laura?”

Gadis itu mendongak lalu membelalakkan matanya takjub. Dia menggangguk sekilas.

“Syukurlah. Kupikir kau sudah pulang. Aku Cho Kyuhyun. Boleh aku duduk di sini?” tanya Kyuhyun sopan dengan suara lembut yang terdengar menenangkan, membuat gadis itu―Laura Kim―kembali menganggukkan kepalanya.

“Terima kasih.”

Kyuhyun menarik kursi tepat di hadapan Laura, dan duduk di atasnya. Lalu ia menatap Laura dengan wajah bersalah.

“Maaf, aku terlambat. Ada sedikit masalah dengan mobilku,” jelas Kyuhyun singkat.

Kyuhyun memang sudah bergerak dari kantornya sekitar pukul tiga lewat tiga belas menit. Namun, di tengah jalan, tiba-tiba saja ban mobilnya meletus. Terpaksa Kyuhyun menelepon bengkel langganannya dan menunggu hingga mobilnya diangkut. Setelah itu, barulah Kyuhyun pergi mencari taksi. Dan dengan kendaraan itulah, Kyuhyun bisa sampai di sini.

“Ti―tidak apa-apa,” jawab Laura kikuk, nampak gugup. Gadis itu berdehem pelan sebelum bertanya, “Bisa… kita pesan se―sekarang?” dan menatap Kyuhyun malu-malu.

Kyuhyun tersenyum menenangkan lalu mengangguk. “Tentu.”

***

Kyuhyun baru sampai di rumah dan berniat naik ke kamarnya ketika panggilan dari sang Ibu menginterupsinya. Kyuhyun menoleh dan berjengit mendapati ibunya sudah duduk tegak di salah satu sofa ruang tamu. Ibunya itu lantas bangkit, menghampiri Kyuhyun yang berdiri kaku di ujung anak tangga. Kedua tangan ibunya terlipat di depan dada, sedangkan matanya menatap Kyuhyun tajam, membuat Kyuhyun mendesah dalam hati.

“Kali ini apa? Cup C mengerikan?”

Pertanyaan bernada sarkastik yang diucapkan ibunya membuat Kyuhyun tersenyum canggung dan menggaruk bagian belakang kepalanya yang tak gatal. Kyuhyun berucap lembut, “Persis seperti yang Eomma katakan.”

Terlalu cantik, bukan tipeku, pakaiannya terlalu terbuka, wajahnya seperti kejatuhan tepung, tidak nyambung diajak berbicara, adalah beberapa dari sekian banyak alasan yang selalu dikemukakan Kyuhyun tiap kali ia menolak gadis-gadis yang disodorkan ibunya.

Ibunya menutup matanya rapat-rapat sembari memijat keningnya pelan, mendadak merasa pusing menghadapi tingkah laku Kyuhyun yang jauh lebih kekanakkan dibandingkan anak berumur lima tahun sekali pun. Wanita paruh baya itu mengembuskan napasnya perlahan lalu menatap Kyuhyun dengan raut lelah.

“Cho Kyuhyun, please. Seriuslah sedikit. Aku mencarikanmu gadis-gadis itu bukan untuk sekadar meet, talk, and end, tapi dengan harapan kau bisa memilih salah satu dari mereka dan mulai melangkah ke jenjang berikutnya. Kau mengerti maksudku, kan? Jadi, berhentilah main-main. Kau bukan anak kecil lagi.”

Kyuhyun sedikit bergidik mendengar nada tegas ibunya sehingga tanpa sadar ia mengangguk, mengiyakan permintaan wanita tersayangnya.

“Bagus. Besok aku akan mengatur pertemuan terakhir untukmu. Dia adalah kandidat utama dariku, the best one. Jika sampai kau menolaknya juga, aku tidak tahu harus berkomentar apa lagi,” ucap ibunya datar, namun terdengar seperti ancaman di telinga Kyuhyun.

“Akan kupertimbangkan,” jawab Kyuhyun pelan, merasa tidak berguna jika melawan ibunya.

Ibunya tersenyum kecil lalu beringsut mendekati Kyuhyun dan memeluknya sejenak.

“Terima kasih, Kyu,” bisik Ibunya pelan tepat di telinga kanan Kyuhyun. Lalu memberikan kecupan lembut di pipi Kyuhyun, mengucapkan “Night,” dan melangkah ke arah lorong yang berlawan dengan Kyuhyun.

Kyuhyun menatap punggung ibunya yang menjauh lalu menghela napas pelan. Dia membalikkan tubuhnya dan menaiki anak tangga satu per satu, sembari memikirkan ucapan ibunya tadi.

Well, ibunya memang benar. Di usianya yang tak lagi muda, sudah seharusnya Kyuhyun membangun rumah tangga. Dalam kasus ini, Kyuhyun lah yang salah, Kyuhyun tidak akan menampiknya.

Kyuhyun menjatuhkan dirinya di atas ranjang lalu mengusap wajahnya dengan telapak tangannya, mendadak merasa begitu frustasi untuk yang pertama kalinya. Desakan menikah dari ibunya dan kabar gadis itu yang tak kunjung terdengar membuat Kyuhyun harus mengalami depresi ringan seperti ini.

Kyuhyun ingin menikah, tentu saja. Lelaki mana yang tidak mau menghabiskan hidup dengan orang yang ia cintai? Oh, mungkin ada. Tapi, Kyuhyun bukan mereka. Menurut Kyuhyun, menikah dan memiliki anak adalah salah satu siklus hidup yang tak bisa dielakkan. Ketika hati seseorang sudah tertambat pada orang lain, maka pada saat itulah keinginan untuk menikah muncul.

Akan tetapi, bagaimana jika hati yang kau tambatkan itu malah menghilang?

Bertahun-tahun Kyuhyun memendam perasaannya dan menjaganya baik-baik dengan harapan dia bisa bertemu gadis itu dan mewujudkan impiannya untuk membangun keluarga dan menua bersama gadis itu, dan bertahun-tahun pula dia harus menelan pil pahit atas kenyataan yang ia terima; gadis itu tidak pernah sekali pun menunjukkan batang hidungnya.

Apakah ini pertanda bahwa Kyuhyun harus mulai aktif mencari keberadaan gadis itu?

Atau malah tanda baginya agar melupakan gadis itu dan membuka hatinya untuk orang lain?

Sial! Kyuhyun merasa akan gila saja.

Saat pikiran Kyuhyun sedang berkecamuk itulah, tiba-tiba Ahra menerobos masuk dan menerjangnya dengan teriakan heboh yang memekakkan telinga. Wajah Ahra berbinar sedangkan senyum tak henti-hentinya terukir di bibirnya. Kontan saja Kyuhyun yang melihat tingkah Ahra menjadi bingung. Kyuhyun menatap Ahra dengan kening berkerut samar.

“Coba tebak, siapa yang aku jumpai hari ini?”

Kyuhyun mendecak pelan. “Hyungnim?”

Ahra menggeleng tegas. Gadis itu meraih salah satu tangan Kyuhyun dan menggenggamnya erat, membuat Kyuhyun mendongak dan sedikit bergidik melihat senyum lebar Ahra.

“Mulutmu akan sobek jika kau terus tersenyum seperti ini, Nuna.”

“Aku tidak akan terpengaruh, Kyuhyunnie. Aku sedang bahagia.”

Kyuhyun memutar bola matanya tak acuh, kebiasaannya jika suasana hatinya sedang buruk.

“Ya, ya. Aku turut senang mendengarnya. Sekarang minggir, Nuna. Aku ingin mandi.”

“Apa kau tidak penasaran dengan siapa aku bertemu, Kyuhyunnie?”

“Aku tahu kau bermaksud mengerjaiku. Jadi, diam sa—“

Adik kecilku tersayang.”

Kyuhyun menoleh dengan cepat sehingga menimbulkan rasa sakit di lehernya. Matanya terbelalak, menatap Ahra tak percaya.

“Si—siapa?” tanyanya pelan dengan jantung berdebar kencang.

Ahra memiringkan kepalanya lalu tersenyum riang. “Adikku, Song Eunhee. Dia sudah kembali.”

Dan sepersekian detik berikutnya, Kyuhyun sudah menyambar kunci mobilnya, membanting pintu kamar, dan menuruni tangga dengan langkah-langkah besar.

Samar-samar, Kyuhyun mendengar teriakan Ahra.

“Rumah lamanya, Kyu”

Tapi, Kyuhyun tidak terlalu menanggapi kakaknya dan memberikan acungan jempol sebagai balasan. Karena sekarang, hanya satu tujuan Kyuhyun; menemui gadis itu.

TBC

10 Comments (+add yours?)

  1. elfishyvil
    Jul 29, 2015 @ 12:46:59

    Keren thor ceritanya..
    Next chapter dong…
    Hihihihihi

    Reply

    • ghina
      Jul 29, 2015 @ 16:39:18

      Halo, next chapter udah saya kirim cuma belum di post kayaknya. Di blog saya udah ada, silakan kalau mau berkunjung. Terima kasih🙂

      Reply

  2. ongewife
    Jul 29, 2015 @ 15:16:31

    Jadi kyu bertahun tahun jadi secret admirer nya song eunhee gitu ? Ciee kyu tumben setia biasanya juga jadi cowo arrogan wkwk , semoga beruntung kyu fighting !

    Reply

  3. lieyabunda
    Jul 31, 2015 @ 05:26:11

    semoga aza kandidat terakhir calon istrinya kyu, eunhee,,, hehehe
    lanjut

    Reply

  4. shoffie monicca
    Sep 08, 2015 @ 21:32:43

    qduh2 kyu slma brthun2 menjomlo trnyata cmn buat nunggu song eunhee

    Reply

  5. inggarkichulsung
    Feb 05, 2016 @ 14:44:02

    Kyu oppa dr kecil smp skrg msh menyukai Eunhee dan akhirnya Ahra noona memberika kabar baik u nya, kali ini ia serius sekali agar bs memiliki Eunhee

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: