Sweet Cupcake [2/?]

[Chapter 2] Sweet Cupcake

Title : Salah Paham

Author : Rien Rainy (@Riechanie_ELF / Riechanie Elf)

Cast :

  • Kim Ki Bum Super Junior as Kim Ki Bum
  • Cho Hyo Na (oc)
  • Han Jang Mi (OC)
  • Henry Lau Super Junior M as Henry Lau

Genre : comedy, romance, sci-fi

Rated : T

Length : chapter

Author note : “Jangan lupa main-main ke http://riechanieelf.wordpress.com/ ~!!! ^o^”

HAPPY READING~!!!

ENJOY~!!!

DON’T BASH~!!!

DON’T COPY~!!!

DON’T PLAGIAT~!!!

—Sweet Cupcake—

“Uhm, aku mau ini Kibummie!”

Ki Bum terlihat melongokkan kepalanya kehadapan Hyo Na yang sudah menunjukkan sebuah majalah yang berisi gambar boneka-boneka lucu di sana. Ki Bum diam sebentar lalu dipandanginya lagi Hyo Na yang menatapnya dengan tatapan memelasnya itu. “Bukannya noona tak suka boneka?”

Hyo Na terlihat cemberut di sana, “Kibummie aku bosan. Aku tak mempunyai teman di apartemenmu! Kau tak mengizinkanku keluar dan hanya mengurungku di sini. Aku bosan, carikan aku teman, Kibummie.”

Ki Bum tersenyum kecil mendengar suara cempreng kekanakan Hyo Na yang manja itu, baginya menuruti kemauan gadis kekanakan itu adalah sama dengan menuruti apa kebahagiaanya dan Ki Bum sangat suka membuatnya bahagia. Lalu di dekatinya Hyo Na yang berdiri di hadapannya itu membuatnya kemudian harus berjongkok untuk memandangi Hyo Na dari jarak dekat. Tangan Ki Bum tampak sudah mengacak helaian rambut sebahu Hyo Na yang dikucir dua itu, kekanakan. Namun sekarang Hyo Na dengan wujud gadis kecil yang sangat kekanakan, benar-benar.

“Kibummie…”

“Hm…”

“Uhm, terasa aneh saat kau sering mengusap rambutku. Kalau aku dalam keadaan normal, mungkin kau tidak terlalu sering melakukan hal ini padaku. Namun saat seperti ini aku suka kau bersikap seperti ini.”

Hyo Na terlihat menatapi wajah Ki Bum yang tersenyum manis disana, bahkan jemari-jemari kecil Hyo Na menyentuh permukaan wajah Ki Bum dengan lembut. Hingga membuat pria itu sedikit memejamkan matanya sebentar untuk menikmati sentuhan Hyo Na di wajahnya, “Aku juga senang melakukannya untukmu noona.”

Lalu Hyo Na terkekeh kecil sambil memukul dahi Ki Bum dengan pelan, menimbulkan keluhan sakit namun tak berarti karena Hyo Na secepat kilat mengecup dahi Ki Bum yang dia pukul itu, “Pasti tidak sakit lagi, kan?”

Dan, Ki Bum hanya menggelengkan kepalanya untuk menjawab lalu dia kecup kilat pipi Hyo Na membuat Hyo Na membulatkan matanya tak percaya pada perilaku Ki Bum yang sangat jarang di dapatinya itu. Menciuminya secara tiba-tiba seperti ini tentu bukan Ki Bum sekali di hadapannya, mengingat Ki Bum sangat jarang sekali bertindak seromantis tadi. Oh, perilakunya benar-benar tak bisa di tebak.

“Kim Ki Bum! Kau tak takut jika orang tahu, kalau kau tengah mencabuli seorang gadis kecil?!”

“Tidak. Tidak akan pernah takut jika gadis kecilnya adalah kau.”

Pipi kecil Hyo Na merona mendengarnya, Ki Bum mendapati pemandangan yang seperti itu hanya tertawa kecil saja lalu dia sedikit menjauh dari Hyo Na untuk pergi ke dapur. Sepertinya dia ingin mengambil minuman dan Hyo Na hanya menatapi punggung Ki Bum yang menghilang dari pandangannya.

“Apa aku akan kembali ke wujudku semula Kibummie?”

Ki Bum baru saja datang dengan dua gelas minuman, “Kalau bisa secepatnya tapi aku belum mendapatkan serum untukmu, noona.”

Hyo Na terlihat menghembuskan nafasnya pelan sambil memegang gelas berisi minuman dari Ki Bum, pria yang memakai kacamata itu kini terlihat membuka kacamatanya lalu tersenyum kecil sambil mengusak helaian rambut Hyo Na yang duduk di sampingnya. Kini mereka berdua lebih terlihat seperti ayah dengan anaknya atau yang lebih menggelikan lagi mereka terlihat seperti om-om mesum bersama seorang gadis kecil polos. Oh, baiklah kalau kalimat terakhir itu hapus saja, sepertinya Ki Bum tidak mesum. Ya, walau terkadang dia akan melakukan hal-hal aneh dan tak terduga pada Hyo Na.

“Kibummie, kita keluar saja, ya! Ke taman bermain? Atau…”

“Baiklah! Aku mengganti pakaianku dulu, ya!”

Hyo Na terpana melihat sikap Ki Bum yang ternyata lebih cepat respon tentang permintaannya ini, Ki Bum sendiri kini sudah memasuki kamar miliknya untuk mengganti bajunya. Hyo Na sepertinya masih setia duduk-duduk di sofa itu, terlihat tangan kecilnya yang hanya menggenggam cangkir dan memilih untuk menundukkan kepalanya.

Ting… tong…

“Eoh?! Siapa yang datang, ya?” Hyo Na penasaran lalu dia tanpa memberitahu Ki Bum kini menuju pintu untuk membukakan pintu tersebut.

“Wah! Ada adik kecil di sini?” pekik terkejut seorang gadis di hadapan Hyo Na.

Hyo Na masih tak mengerti siapa gadis dewasa ini, kalau di kira-kira pasti umurnya lebih muda daripada Hyo Na mengingat Ki Bum adalah adik kelas dan kemungkinan saja gadis cantik yang ada di depannya adalah temannya Ki Bum. Tapi, kenapa gadis ini mendatangi rumah Ki Bum sepagi ini, ini sangatlah aneh.

Kini karena Hyo Na tak merespon membuat gadis cantik di hadapannya menjadi gemas dan mengusak helaian rambutnya, “Kemana Ki Bum oppa? Bisakah sampaikan kepadanya bahwa aku merindukannya!”

Hyo Na benar-benar membulatkan matanya tak percaya dengan apa yang dia dengar dari gadis yang ada di depannya. Tanpa kata Hyo Na menepis kasar tangan gadis cantik di depannya, membuat gadis tersebut heran tetapi kini dia melihat kalau Hyo Na seperti menahan tangisnya.

‘Apa Kibummie ku selingkuh?’ oke, ini adalah pikiran kekanakan dari Hyo Na.

“Hyonnie ka… oh, Sae Hee?”

Kini kepala kedua gadis itu sama-sama melihat ke arah sumber suara, Ki Bum yang sudah berpenampilan rapih kini melihat sosok gadis cantik yang bernama Kim Sae Hee yang membalas panggilan terkejutnya dengan kekehan kecil sedangkan Hyo Na kini melirik tak suka sambil cemberut dan melangkah keluar dari apartemen itu.

“Ki Bum oppa aku merindukanmu!” dan kalimat Sae Hee yang tertangkap jelas di telinga Hyo Na.

“Oh! Cho Hyo Na! kau… kau mau ke mana?” namun yang di dengar selanjutnya adalah Ki Bum yang sepertinya tengah berteriak memanggil nama Hyo Na yang sudah menghilang dari pandangannya.

“Cho Hyo Na? Oh, gadis itu Hyo eonni, oppa?”

Kini Ki Bum lah yang terlihat bersungut menatapi pandangan tanya adik kandungnya tersebut, wajah menyesal kini tampil di wajah Sae Hee sepertinya Hyo Na salah paham dengan kalimatnya tadi. Dan kini Ki Bum yang panic langsung menghubungi Jang Mi, “Jang Mi tolong bantu aku mencari Hyonnie, dia baru saja kabur!”

Pip.

Ponsel itu mati dan kini Ki Bum terlihat bersiap-siap untuk mencari Hyo Na, Sae Hee yang justru masih kebingungan kini terlihat menahan lengan kakak laki-lakinya tersebut, “Seingatku Hyo eonni itu, kan, kakak kelasmu? Lalu… kenapa dia?”

“…”

Diam diantara mereka kini tergambar, Ki Bum sepertinya malas untuk menanggapi pertanyaan Sae Hee namun ketika dia ingin pergi mengejar Hyo Na, sang adik malah menahan lengannya agar memberikan penjelasan padanya, “Kau bukan pedophile, kan?”

‘Oke, ini sangat buruk!’ pikir Ki Bum sambil berdecak kesal jika adiknya sudah berkesimpulan tanpa dasar sama sekali.

—Sweet Cupcake—

“Kau kenapa menangis?”

Kini Hyo Na sedikit berjengkit kaget, helaian rambutnya yang menutupi wajahnya itu terlihat terangkat dan menampilkan sosok anak laki-laki pemilik pipi berisi tengah jongkok di hadapannya. Hyo Na lantas mengusap kasar sisa-sisa air matanya lalu memilih membalas tajam ke arah anak laki-laki di hadapannya itu, “Uhn, siapa kau! Hm, aku tidak menangis!”

Anak laki-laki itu tidak membalas bentakan Hyo Na yang sepertinya tengah kesal karena ketahuan menangis, malah dia kini mendudukkan dirinya di hadapan Hyo Na lalu terlihat menuliskan sesuatu di atas pasir mainan itu. Ah, belum kukatakan ya di mana mereka berada saat ini.

Saat ini Hyo Na hanya mampu berlari ke arah taman bermain yang sebenarnya tak jauh dari apartemen Ki Bum, dia menangis sendirian di dekat kotak pasir. Suasana taman bermain ini jika pagi sangat sepi, maka itu dia memilih tempat ini sebagai tempat pelariannya. Ya, agar Ki Bum tak mendapatkannya lagi karena dia benci dengan Ki Bum yang mengkhianatinya. Uh, sepertinya mereka tengah salah paham.

“Kau dimarahi ibumu, ya?” tanya anak laki-laki itu tiba-tiba membuat Hyo Na mengerjapkan matanya heran dan memilih diam, sepertinya anak laki-laki itu masih ingin berbicara lagi.

“Harusnya kau tidak perlu lari, ibumu seperti itu sangat sayang padamu. Uhm, siapa juga namamu? Kau orang baru di sini, ya?”

Hyo Na benar-benar tak habis pikir dengan kalimat anak laki-laki yang seolah menasihatinya agar tak kabur saat dimarahi ibunya. Kalimat yang sebenarnya sederhana itu bisa keluar begitu saja dari bibir polos anak laki-laki itu, Hyo Na pikir pasti ibu dari anak ini sangat bangga memiliki anak pintar sepertinya. Uh, Hyo Na tengah berkagum ria menatapi anak kecil di hadapannya tersebut, “Uhm, aku… aku memang orang baru disini. Namaku Cho Hyo Na.”

Anak kecil di sampingnya terlihat melihat ke arahnya juga, namun kali ini dia terlihat tersenyum membuat Hyo Na ikut tersenyum di wajahnya yang memerah itu. “Aku Henry Lau!”

Lalu berlanjutlah perkenalan kecil itu dengan suara tawa mereka, Henry adalah anak lelaki yang ternyata periang dan itu terbukti dari dia yang sudah menghibur Hyo Na dengan banyolan khas kekanakannya. Hyo Na bukannya tak bersyukur jika akhirnya dia akan di hibur dengan anak kecil yang baru dia temui di taman seperti ini, dia sangat amat bersyukur setidaknya dia bisa melupakan sakit hatinya dahulu.

“Kau tidak sekolah Mochi?” dan tentu saja kini mereka sudah memiliki nama panggilan lucu satu sama lain, “Aku sedang sakit. Uhn, padahal kita sama-sama punya pipi yang tembam! Uh, dasar Kodok!”

Hyo Na awalnya cemberut mendengar panggilan yang baru beberapa menit lalu tersemat padanya. Mengingat saat mereka bermain tadi keduanya bertemu dengan kodok lalu Hyo Na yang tidak takut pada hewan itu hanya tersenyum remeh saja saat di lihatnya Henry mencoba menjahilinya dengan hewan itu. Oh, Henry ternyata gagal menjahili Hyo Na ternyata dan membuat Hyo Na di panggil dengan sebutan kodok.

“Kau sakit? Tapi, kau terlihat sehat, Mochi?”

Henry tertawa mendengar kalimat tanya Hyo Na yang sangat banyak itu, “Ibuku tidak memberitahu apa penyakitku,” lalu hanya kalimat itulah yang keluar di hadapan Hyo Na membuat gadis yang dalam tampilan bocah berusia lima tahun itu seperti mengangguk mengerti saja.

“Hiyah… Hyonnie!”

Kini kedua anak itu sama-sama melihat ke arah seorang gadis bermata bulat dengan wajah khawatirnya, Hyo Na sedikit terkejut namun setelah dia tahu itu adalah Jang Mi dia kini terlihat menundukkan kepalanya. Namun berbeda dengan Henry yang sepertinya menangkap sinyal bahwa wanita itu adalah ibunya Hyo Na, maka setelah dilihatnya Hyo Na yang menunduk itu dia terlihat berdiri di depan Hyo Na seperti berusaha melindungi Hyo Na.

“Jangan marahi dia ahjumma!”

Hyo Na tertegun mendengarnya sama seperti halnya Jang Mi yang baru saja tiba di depan mereka berdua. Hyo Na kini dapat melihat jika Henry merentangkan kedua tangannya untuk melindungi Hyo Na, Jang Mi sedikit heran dengan tingkah anak kecil di hadapannya namun dia segera menatap mata Hyo Na yang seperti memberi isyarat untuk tak melakukan hal-hal aneh.

“Jangan marahi dia lagi, ahjumma!” ulang Henry sekali lagi namun kini Jang Mi memilih untuk berjongkok menyejajarkan tingginya untuk mengusak helaian kepirangan rambut Henry itu dengan senyuman manisnya, “Aku tidak akan memarahinya, aku hanya khawatir padanya.”

Lalu setelah kalimat itu berakhir Hyo Na terlihat mendekati Jang Mi lalu memeluknya yang tengah berjongkok itu sambil mulai menangis kecil, “Hyo…?”

“Hiks, Kibummie…”

Untuk satu kata itu akhirnya Jang Mi mengerti lalu dia memilih untuk memeluk tubuh kecil Hyo Na yang bergetar karena merasa kembali bersedih lagi. Henry yang ada di hadapan mereka berdua mulai tersenyum kecil lalu dia terlihat mengusap punggung Hyo Na dengan lembut, sepertinya anak kecil itu belum mengerti letak permasalahannya. Karena sejauh yang dia tangkap pasti Hyo Na sangat menyayangi ibunya—Han Jang Mi—makanya dia menangis saat ibunya menjemput seperti itu.

“Aku pulang ya, ahjumma! Sampai ketemu lagi, Kodok!”

Kini terlihatlah Henry yang pamit undur diri, Hyo Na sudah tidak menangis namun wajah memerahnya bisa menjelaskan bahwa dia masih ingin menangis sedangkan Jang Mi hanya tersenyum menatap Henry yang sudah hilang dari pandangannya itu. Tangan dari kedua gadis yang lahir berbeda tanggal itu terlihat sama-sama tertaut, membuat beberapa orang pasti berpikir jika Jang Mi adalah ibunya Hyo Na.

“Kita pulang!”

“Uhm, aku tak mau kembali ke tempat Kibummie!”

Dan kini Jang Mi membuang nafasnya dengan berat membuat dia berjongkok lagi di hadapan Hyo Na yang cemberut kecil, lalu tak habis pikir juga ternyata Jang Mi hanya menepuk dahinya dengan lembut sambil menunjukkan wajah ketidak sukaannya tersebut, “Kau ini sering sekali mengambil keputusan sendiri! Kau salah paham bodoh!”

Mata Hyo Na membulat tak mengerti, lalu tanpa kalimat lagi kini Jang Mi memilih untuk membopong gadis kecil itu dalam gendongannya. Yah, lebih baik seperti ini karena Hyo Na mungkin saja akan kabur lagi ketika tahu bahwa Jang Mi kini akan membawanya ke tempat Ki Bum.

—Sweet Cupcake—

“Oh!? Jadi… jadi… dia adikmu?”

Ki Bum yang terlihat duduk di sofa dan berjauhan dari Hyo Na karena dia tengah duduk di dekat Sae Hee hanya menganggukkan kepalanya, Hyo Na lalu terlihat menatap Sae Hee yang sepertinya terlihat meringis kecil. “Maafkan aku, eonni!”

Seketika munculah perasaan lega dari diri Hyo Na membuatnya kini tertawa kecil kekanakan. Hal ini, tentu saja di perhatikan oleh beberapa orang yang ada di sana, terlebih pada Jang Mi yang kini sudah menggelengkan kepalanya tak percaya lalu di susul oleh Sae Hee yang sudah tersenyum kikuk lalu yang terakhir adalah Ki Bum yang memilih menghela nafasnya.

“Ini juga salahmu Kibummie! Bukannya dulu kau berjanji akan mempertemukanku dengan adik perempuanmu? Uh, tanpi janjinya tak tertepati hingga sekarang dan berakhir jadi salah paham!”

Sae Hee kini mulai menatap Ki Bum dengan tatapan tak percaya, “Uhm, tapi eonni akan memaafkan oppaku bukan?”

Hyo Na terlihat menganggukkan kepalanya semangat sekali, lalu dia menampilkan cengiran kekanakannya. Sae Hee bernafas lega setidaknya dia berhasil menyelamatkan hubungan kakaknya yang hampir hancur karena kesalahpahaman yang tak berarti, sungguh benar-benar aneh.

“Tapi, ngomong-ngomong kenapa kau sudah rapih-rapih Ki Bum?”

“Ah, tadinya aku akan mengajak Hyo Na jalan-jalan, namun karena insiden ini jalan-jalannya gagal.”

Sae Hee terlihat tertawa kecil mendengar penuturan kakaknya tersebut, “Uhm, tapi aku senang dipertemukan dengan calon istri kakakku di saat seperti ini.”

Hyo Na terlihat menatap Sae Hee dengan tatapan tak percaya dan wajahnya yang memerah menahan malu, “Uhm, memangnya kalian akan menikah, ya?” Jang Mi menyelutuk menanggapi perkataan Sae Hee yang sudah tertawa dan Hyo Na yang sudah melemparkan bantal sofa ke arah Jang Mi.

Kini apartemen itu terlihat ramai, Sae Hee datang berkunjung secara tiba-tiba ke tempat Ki Bum. Bahkan gadis yang memiliki wajah yang hampir mirip dengan Ki Bum itu menyampaikan betapa kedua orangtuanya sangat merindukan Ki Bum. Lalu Hyo Na terlihat mengisi kebosanannya dengan novel-novel yang sengaja di bawakan Jang Mi yang masih berkumpul bersama sang kakak adik itu.

“Ini kecelakaan yang di buat oppa, ya?” Sae Hee bergumam sambil memerhatikan Hyo Na yang terlarut dengan apa yang dia tengah baca, “Si bodoh itu yang terlalu percaya diri jika cupcake ajaib Ki Bum di kira untuknya!” tambah Jang Mi setengah geram, Ki Bum mendelik mendengarnya karena tak terima Hyo Na di katakana bodoh, “Dia bukan bodoh, tapi terlalu polos!” imbuhnya membela sosok yang sama sekali tak tahu jika masih di bicarakan tersebut.

“Lalu kapan eonni akan kembali seperti semula?”

“Aku sedang berusaha membuat serum untuknya, namun belum berhasil mendapatkannya,” jelas Ki Bum kemudian dan kini mereka sama-sama melihat ke arah Hyo Na yang ternyata masih saja terlarut dalam bacaannya, gadis itu benar-benar tak sadar sama sekali jika dirinyalah yang menjadi topic pembicaraan mereka.

“Hm, kalian sudah makan?” Sae Hee tiba-tiba berkata keras, Jang Mi dan Ki Bum sama-sama menyahut belum lain dengan Hyo Na yang sepertinya tak sadar diri, “Oppa ajaklah Hyo eonni makan, Jang Mi eonni temani aku menyiapkan makanan!” Jang Mi langsung tersenyum kecil lalu berjalan bersama dengan Sae Hee menuju dapur, Ki Bum tersenyum melihat kedua gadis itu.

“Hah, Hyonnie, letakkan novelmu dulu!” Hyo Na menggelengkan kepalanya kencang sambil menjatuhkan dirinya di atas sofa dengan novel yang di pegangnya, Ki Bum menghembuskan nafasnya pelan lalu menghampiri dirinya yang tak bergeming sama sekali dari tempatnya.

“Hyonnie…” panggil Ki Bum pelan sambil mencoba menarik novel dari tangan Hyo Na, gadis kecil itu terlihat mempertahankannya dengan menahan novel itu di posisinya yang tertidur, Ki Bum bahkan tak menyerah melawan gadis itu, hingga ide jahilnya muncul begitu saja.

“Kya… kenapa kau… ahk, Kibummie… turunkan aku!”

Dan berakhir diri Hyo Na yang sudah di digendong oleh Ki Bum yang sudah terbiasa dengan rontaan Hyo Na yang berusaha melepaskan dirinya dari Ki Bum. Jang Mi dan Sae Hee bukannya tak melihat tingkah kedua orang itu, keduanya sangat melihatnya bahkan tak menutupi tawa dan beberapa umpatan kesal Jang Mi terhadap tingkah Hyo Na, “Ck, dia benar-benar seorang anak kecil yang abadi,” gumam Jang Mi lalu Sae Hee tertawa mendengarnya, “Tetapi, itulah yang membuat Ki Bum oppa menjadi terpikat padanya!” imbuh Sae Hee sambil tersenyum.

Ki Bum kini menurukan Hyo Na di atas meja, pria berkacamata yang kacamatanya sudah dia lepas itu menatap ke arah Hyo Na yang cemberut memerhatikan novel yang telah di sita Ki Bum di dekat meja ruangan tengah, Ki Bum terlihat menghela nafasnya pelan, “Kenapa kau menahannya, eh?” rajukan Hyo Na terdengar sambil menatap tajam mata Ki Bum.

Ctak.

“Kya, kenapa kau memukul dahi ku?!” Hyo Na semakin merajuk lagi di dapatinya Ki Bum yang menjentikan jarinya pada dahinya, Ki Bum malah memasang wajah kalem tanpa berdosanya, “Itu karena kau nakal! Tidak pernah mendengar kata-kata ku!” Hyo Na mendekap kedua tangannya di depan dada, tak terima jika Ki Bum mengatainya seperti itu, Ki Bum kini melirik ke arah Sae Hee dan Jang Mi yang sudah membawa makanan.

“Tidak pernah mendengarkannya? Uhm, kau yang nakal Kibummie! Bahkan kau suka sekali menci… uhmmptt…”

Lalu yang terakhir adalah perbuatan Ki Bum yang sudah menyumpal mulut Hyo Na dengan salah satu tangannya karena terlalu banyak bicara dan bahkan terlihat akan membocorkan salah satu rahasia yang membuat Ki Bum malu nantinya, Jang Mi dan Sae Hee lagi-lagi bukan tak mendengarkannya. Mereka terlalu mendengarnya hingga hanya mencuri pandang pada Ki Bum yang sedikit salah tingkah karenanya, benar-benar memalukan menurut Ki Bum.

“Hm, jadi Ki Bum terlalu sering melakukannya padamu, Hyonnie?” celetuk Jang Mi terdengar saat di lihatnya kini Ki Bum sudah melepaskannya, Hyo Na kini bergantian menatap Jang Mi dengan tak mengerti, “Melakukan apa, Kibummie?” tanyanya kelewat polos dan Ki Bum sungguh jadi ingin sekali memukul dahi Jang Mi yang sudah tertawa kecil karena pancingannya tersebut.

“Hah, aku bersyukur… ternyata Hyonnie ku masih polos,” gumamnya kemudian lalu Hyo Na jadi terlihat cemberut di sana sambil menarik lengan baju Ki Bum, “Apa maksud Jang Mi? Kau pasti mengerti, kan, Kibummie?” dan Hyo Na kembali merengek padanya meminta pria yang lebih muda darinya itu menjelaskan apa yang di maksud oleh Jang Mi.

Oh, Hyo Na… kau itu polos atau bodoh?

Sae Hee tidak ingin ikut campur dalam bagian ini hingga dia hanya mengulum tawanya sambil menata setiap peralatan makan di meja, kalau Jang Mi dia hanya sesekali menutupi tawanya di sana. Tak habis pikir olehnya jika Hyo Na akan merengek menyebalkan seperti itu pada Ki Bum yang sepertinya sudah tak tahu lagi harus berbuat apa padanya, “Ah, iya, Hyonnie kau belum menceritakan tentang anak kecil tadi padaku!” Jang Mi seperti teringat sesuatu dan itu cukup untuk membantu Ki Bum lepas dari rengekan Hyo Na karena gadis itu jadi focus pada apa yang di tanya Jang Mi.

“Ah, itu… Hm, namanya Henry,” ucap Hyo Na singkat lalu ketiga orang itu melihatnya dengan tanya lagi agar dia menjelaskannya secara lengkap. “Seorang anak kecil yang aku pikir cukup bijak! Uh, aku suka dengan pipinya yang gembul itu?!” dan berakhir dengan Hyo Na yang menjadi kesenangan sendiri membayangkan Henry.

“Kau mengenalnya Ki bum?” Jang Mi mulai bertanya pada Ki Bum yang sepertinya tengah berpikir sesuatu, “Entahlah, aku sangat jarang mengetahui siapa tetangga di apartemen ini,” jawabnya asal dan Hyo Na melirik tajam ke arahnya, “Ck, kau terlalu malas kalau aku komentari!” dan kini Ki Bum hanya menghela nafas saja merasa apa yang di katakan Hyo Na itu benar.

“Hm, jadi, Hyo eonni suka anak kecil, ya?” Sae Hee berucap kemudian dan membuat ketiga orang di sana menatapnya dengan pandangan yang berbeda-beda, tentu saja.

“Aku menyukainya! Apalagi kalau anak kecilnya sebijak Henry! Uh, besok aku ingin bertemu dengannya lagi! Ah, Kibummie…”

“Tidak, noona…”

Hyo Na menjadi cemberut di tempat dia duduk lalu Jang Mi terlihat membenarkan duduk Hyo Na pada bangku karena dia masih belum di turunkan oleh Ki Bum tadi di atas meja. Jang Mi terlihat menyuruhnya makan berikut dengan Ki Bum yang sepertinya sudah di layani Sae Hee, adiknya sendiri, “Besok kita jalan-jalan saja dengan Henry, yah…” pintanya kemudian entah pada siapa kedua gadis yang berada di sana jadi melihatnya dengan wajah berpikir lain halnya dengan Ki Bum yang sudah menggelengkan kepalanya, menolak mentah-mentah.

Menggembungkan pipinya dengan rengutan manis di wajah dia yang kini jadi menggemaskan untuk di cubit, “Baik, aku akan pergi sendiri!” dan Ki Bum sudah sukses menghentakan sumpit yang dia pegang dan membuat Hyo Na menatapnya tanpa takut sedikit pun.

“Uhm, kenapa kau tidak mengizinkannya, huh?!” sentakan keluar dari Hyo Na yang lebih ingin meminta penjelasan pada Ki Bum, Jang Mi dan Sae Hee kini jadi lebih memilih diam seperti kedua orang yang ada di meja makan saat ini tengah sama-sama dalam keadaan kesal.

Sepertinya di meja makan ini hanya ada dua orang gadis yang berhasil menangkap sinyal kecemburuan Ki Bum karena Hyo Na yang merengek untuk menemui Henry saat ini. Sae Hee berinisiatif untuk menarik lengan Ki Bum seolah memberitahunya agar jangan terbawa emosi, Jang Mi juga melakukan hal yang sama dia kini lebih terlihat mengalihkan perhatian Hyo Na pada hal-hal lain dan mengajaknya berbicara tentang novel-novel.

“Itu hanya anak kecil, Hyo eonni pasti hanya menyukainya sebatas suka bukan suka yang akan berakhir dengan cinta, jadi oppa jangan berpikiran yang aneh-aneh!” Ki Bum mendengar bisikan kecil Sae Hee yang sepertinya paham dengan kondisi perasaannya, setelah itu dia jadi menatap Hyo Na yang sepertinya sudah lupa karena dia jadi terdengar ingin ke toko buku saja.

“Uhm, Kibummie… bagaimana kalau ke toko buku dan mengajak Henry, ya?”

Ah, ternyata dugaan dia salah besar. Jang Mi yang ada di sampingnya kini memasang wajah bingung harus menanggapi apa, sedangkan Sae Hee hanya menanggapinya dengan suara tawa yang di buatnya. Terlihat sekali kalau kedua gadis itu tak ingin mengambil keputusan apapun di sana, mereka berdua masih sama ingat bagaimana tingkah Ki Bum tadi pada Hyo Na. Ki Bum kini terlihat ragu namun cukup untuk dirinya mengerti bagaimana perkataan Sae Hee padanya, “Baiklah, kita akan ke toko buku!”

“Yeay! Ah, Kibummie, baik sekali!”

Dan pancaran bahagia tentu saja sudah di perlihatkan Hyo Na yang bersorak heboh, Jang Mi dan Sae Hee kini sama-sama menatap Ki Bum yang melanjutkan acara makannya yang tertunda. Sepertinya kedua gadis itu sama-sama memikirkan hal yang sama seperti saat ini terlihat keduanya saling tatap dan tersenyum kecil dan tak sadar kalau bergumam, “Semoga baik-baik saja!”

.

.

.

.

TBC

Annyeong semuanya~!!! Masih adakah yang ingat dengan ff ini?!

Duh, ini ff yang awalnya Rien pikir aneh dan gaje tapi masih aja berani di post di sini?! >.<

Uhm, maaf yah kalau chapter 2 nya sangat lama~!? >.< duh, Rien harap kalian masih pada ingat, ne~!

Akhir kata, gomawo yang uda baca dan dengan senang hati tinggalin jejak di sini~!? ^^

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: