Gracias [Sequel of Adios]

Nama : @ferelyyy
Judul Cerita : Gracias (Sequel of Adios)
Tag (tokoh/cast) : Cho Kyuhyun, Kim Raena
Genre : Sad, Hurt, Romance
Rating : PG-15
Length : One-Shot
Catatan Author :

Gracias (Cho Kyuhyun and Kim Raena)

 

Cast : Cho Kyuhyun, Kim Raena (OC)

Genre : Hurt, Romance

Type : Oneshot (Sequel of Adios)

Disclaimer : the story is mine! Meanwhile Cho Kyuhyun is his mother’s son, idol of his fans, and also God’s creature. Please appreciate my story by liking or giving the comment in the box below so that it can be my motivation to improve my works in the future.

 

Happy reading^^

 

Berhentilah berharap bahwa aku akan baik-baik saja setelah perpisahan ini. Semua tak akan sama kembali. Hatiku sudah patah saat melihatnya sedang menempelkan bibirnya, pada kening dan bibir gadis lain.

 

Haha rasanya aku seperti orang gila, sejak dulu begitu mendambakannya menjadi pendampingku. Meskipun pada kenyataannya memang dia tak pernah memberikan respon berlebihan pada ku. Hanya sesekali tersenyum separuh atau menjahiliku dengan kata-kata dinginnya. Semua begitu statis, datar.

 

Terkadang aku begitu frustasi. Mengapa hanya aku pihak yang mencoba mendekatkan diri? Aku ingin sekali merasa dibutuhkan olehnya. Diperhatikan, dipuji meski kami bukanlah sepasang kekasih. Namun apa salahnya mencoba memberikan perhatian pada sahabat sendiri? Itulah yang tidak pernah dia tunjukkan padaku. Bahkan sampai sekarang.

 

Aku pernah mencoba, berkali-kali bahkan, untuk menyerah saja dan mencoba menata kembali hidup yang bagiku sudah porak poranda diterjang badai ketidakpastian. Aku mencoba menyibukkan diri dalam kegiatan organisasi sekolah yang berbeda dengannya, menerima ajakan kencan buta dari teman-teman, lebih fokus belajar, dan lain sebagainya namun hatiku selalu luluh ketika senyumnya menyapaku di pagi hari, suatu kebiasaannya yang entah kenapa selalu dia ingat. Satu dari sedikit kebaikkannya padaku. Seperti itulah terus antara aku dan dia. Selalu terbawa lingkaran setan tak berujung dan hanya membawaku pada keletihan tak tekatakan.

 

Kini, aku telah sampai pada sebuah titik, dimana aku tak ingin lagi menghabiskan waktu dengan percuma. Tak ingin lagi terjerat dalam bayang-bayangnya. Dia juga sepertinya sudah melupakan dan lebih asyik dengan dunianya. Ya, dunia bersama Hwang Stella, gadis yang berada dalam rengkuhannya saat kupergoki beberapa minggu lalu.

 

Berbicara tentang Hwang Stella, aku merasa kerdil saat berada di dekatnya. Dia adalah semua hal yang pria inginkan dari seorang wanita. Cantik, cerdas, berkepribadian menarik, siapa yang tidak tertarik pada makhluk jelmaan malaikat itu? Semua wanita bagaikan siput iika dibandingkan dengannya, begiupun aku. Dulu aku merasa dia bukanlah rival karena Kyu tidak menunjukkan tanda-tanda bahwa dia menyukai tipe seperti Stella. Namun sekarang semua berbeda.

 

Sungguh tekadang aku tidak dapat menebak isi hati Kyuhyun sama sekali. Dia selalu membangun benteng kokoh untuk menghalangku meskipun hanya sekedar merasakan apa yang dirasakannya.

 

Keputusanku sudah mencapai titik akhir. Aku akan melupakannya.

 

***

 

Matahari pagi ini bersinar cerah, seperti menyambutku untuk segera menjalani hidup dengan penuh semangat. Aku memulai langkah menuju kampus setelah sebelumnya harus melewati rutinitas hari yang sangat membosankan dan cukup menguji kesabaran, terutama karena ulah adikku.

 

Hari ini adalah hari spesial. Pasalnya siang nanti akan ada pameran kebudayaan Korea yang diadakan oleh klub pencinta kebudayaan Korea. Aku sebagai salah satu panitia acara serta anggota klub tersebut akan menangani acara hingga petang menjelang. Bagi sebagian orang mungkin sangat menjemukan dan menghabis-hahiskan waktu, namun aku sangat senang bergabung dan ikut berpartisipasi dalam kesuksesan acara tersebut. Sebagai warga negara Korea yang cinta tanah air, aku menjalani semua ini dengan kebanggaan di dalam dada.

 

Lihat, hidup dapat kujalani dengan lebih mudah tanpanya, kan?

 

Sejujurnya tidak juga. Hal semacam melupakannya itu cukup sulit, sangat rumit bahkan. Aku harus rela memutar jalan pulang lebih jauh hanya demi menghindarinya yang sejak dua minggu lalu entah mengapa berdiri di dekat taman dekat taman kanak kanak, tempat terkutuk yang tak ingin kukunjungi lagi sejak umur empat belas tahun. Dia tak pernah melihatku saat pertama kali kusadari dia ada di sana, aku langsung menghindarinya.

 

Beberapa hari setelahnya, dia mulai mengetahui aksiku sepertinya. Dia berhenti menunggu di taman itu. Kupikir semua sudah berakhir. Namun sepertinya Tuhan masih berusaha mencobaku. Kini dia sering menungguku di kantin, bahkan mulai dengan seenaknya menanyai kabarku pada teman-teman sekelas. Alhasil, mereka mulai mencium sesuatu yang tidak biasa dalam hubungan pertemanan kami. Sebagian besar dari mereka menggodaku, sebagian lagi mencoba mengerti posisiku. Untungnya mereka dapat memberikanku ruang lebih untuk menyimpan masalahku seorang diri. Selain itu mereka juga berjanji untuk membantuku menghindar dari Kyuhyun setidaknya hingga tiga bulan kedepan. Ah, mereka memang teman-teman terbaik!

 

***

 

“Kim Raena.” Pasti ada satu hari dimana aku terpaksa harus berhadapan dengannya, seperti sekarang. Dia sangat tahu bahwa aku pasti akan berpartisipasi di pameran ini. Dua sudah terlalu hapal setiap hal yang ingin kulakukan. Aku sudah mengantisipasi kedatangan dia ke booth universitas kami, tapi aku tak berharap dia datang lebih cepat, di hari pertama.

 

Teman-teman mengarahkan pandangan padaku seakan-akan berkata ‘maaf kami tidak bisa membantumu kali ini’. Aku mengerti. Mungkin memang Tuhan ingin agar aku menyelesaikan urusanku dalam waktu singkat agar aku bisa cepat melanjutkan hidup, seperti yang seharusnya kulakukan sejak dulu.

 

“Ada yang bisa saya bantu, Tuan?” Jangan sebut diri ini sebagai ‘Miss Perfect’ jika tak bisa menjunjung profesionalitas di depan wajah pengunjung, Cho Kyuhyun sekalipun. Aku tak ingin citra yang sudah dibangun sejak lama hancur hanya karena seorang pria tak tahu diri dan tak memiliki hati.

 

“Aku ingin bicara denganmu, Rae. Penting.” Cara dia mengucapkan kata sangat kusukai, kombinasi antara suara bariton serta helaan napas yang entah bagaimana, selalu berhasil membuatku penasaran dan berakhir dengan khayalan liar bersama dia. Salah satu pikiran bodoh khas orang jatuh cinta sambil bermimpi kapan keinginan itu bisa jadi kenyataan.

 

“Ayo, kita cari tempat yang nyaman.” Jemari hangatnya terulur padaku. Aku sempat melantur dalam hati jika saat ini dia sedang memberikan suatu jaminan bahwa mengikuti perintahnya saat ini bukanlah ide buruk. Lagipula, ini adalah kesempatan yang sangat langka. Melihat betapa terkejut reaksi teman-teman saat seorang Cho Kyuhyun dengan mudah menawarkan interaksi secara fisik terhadap orang tertentu dapat menggambarkan bagaimana selektifnya pria ini untuk bisa intim terhadap lawan jenis.

 

Hal itu pula yang membuatku semakin yakin jika Cho Kyuhyun tak menganggap Hwang Stella hanyalah gadis biasa di hatinya.

 

Berjalan mendahuluinya adalah hal terbaik yang kulakukan. Hembusan napas kekecewaan terdengar bagai sinyal agar aku sedikit mengacuhkan kehadirannya. Keangkuhan sempat muncul, merasa superior karena akhirnya aku bisa menikmati peran sebagai poros dan dia harus mengikutiku. Kami mengarahkan langkah ke sebuah taman di belakang gedung

 

“Apa?” Aku berbalik. Senyum getir terbit dari kedua sudut bibir itu. Kedua matanya mencoba mencari celah untuk bisa secara langsung memandangku. Sayangnya aku lebih suka memfokuskan penglihatan pada leher putihnya yang terlihat kokoh. Bagian dari tubuh pria itu yang sejak dulu sangat ingin kukecup, selain bibir tebalnya tentu saja. Namun aku tahu, dalam waktu beberapa menit lagi, aku harus mengucapkan kata perpisahan, sekali lagi dan yang terakhir kali, pada sosok ini.

 

“Aku ingin membuat pengakuan. Nona Hwang dan aku, kami tidak memiliki suatu hubungan yang seperti kau kira.” Aku hanya bisa melebarkan mata seperti orang bodoh. Hah demi apa? Kukira dia akan membenarkan gosip yang sudah tersebar di kalangan kampus. Dia pasti berbohong.

 

“Aku tidak berdusta. Kau bisa tanya pada Hwang-ssi mengenai kedekatan kami.” Timpal Kyuhyun, secara tepat dia menebak kemungkinan buruk dalam pikiranku. Raut tegas mendominasi ekspresi yang ditunjukkan wajahnya.

 

Kulihat dia gemas melihatku tak memberikan respon yang dia harapkan. “Baiklah, akan kujelaskan dengan rinci agar kau mengerti. Stella ternyata adalah saudara jauhku dari pihak Ibu. Kami baru sadar saat beberapa minggu lalu keluarga besar kami mengadakan acara kumpul bersama. Kau tahu aku memang dari dulu tidak dekat dengan wanita. Namun saat itu, bibiku, ibunya Stella, memintaku untuk menjaga putrinya selama di kampus. Dia cantik, yah semua orang bilang seperti itu. Banyak lelaki mengejarnya, tapi yang paling menyusahkan adalah seorang pria seumuranku yang terobsesi dengannya sejak SMA. Dia menguntit Stella hingga mencoba mencelakainya. Untuk itulah, Ibunya dan Stella memintaku untuk berpura-pura menjadi kekasih Stella agar pria itu menjauh. Kami berakting seakan-akan tampak mesra. Hari itulah dimana kamu menemukan aku dan Stella berciuman. Sumpah, aku tak memiliki perasaan apa pun padanya.” Kyuhyun menggenggam tanganku, mengelus punggung tanganku lembut. Tatapannya tak lepas dari wajahku. Sementara itu, tubuhku lemas. Rasanya semua berjalan tak masuk akal. Penjelasannya mengenai Stella, akting hebat yang dilakoni hingga membuatku secara sepihak membencinya, begitu pula dengan sikap abnormalnya sekarang. Aku begitu bingung dan pusing.

 

“Pernahkah kau sadar? Siapa wanita yang kuizinkan untuk mengunjungi kamarku? Siapa orang yang kubiarkan untuk mengingatkan aku untuk hal-hal remeh setiap hari? Siapa gadis yang selalu kuperhatikan gerak-geriknya, kebiasaan buruknya, apa yang disuka dan dibenci? Siapa menurutmu?” Tanda bahaya berkali-kali terngiang di otakku ketika wajah Kyuhyun telah ada tepat di depanku. Aku bahkan bisa melihat iris mata kecoklatan miliknya yang menatap tajam saat ini. Menjauh pun rasanya percuma sebab Kyuhyun sudah mengantisipasinya dengan melingkarkan lengannya di pinggangku.

 

“Itu kau, Kim Raena.” Hembusan napas hangatnya menerpa daun telingaku. “Aku mencintaimu. Tanpa syarat.” Tanpa peringatan sebelumnya, Kyuhyun menciumku dalam, dan panas. Bibirnya menggodaku, momohon agar mau memberikan celah. Kedua daging kenyal itu tak henti-hentinya menggigit bibir bawah dan atas sementara lidahnya menyusuri sudut bibirku, terus menyusuri permukaan bibirku hingga ke sudut yang lain.

 

Di sisa akal sehat, aku mendorongnya. Dia menggeram, tak suka kesenangannya direnggut paksa. Aku bukannya tak suka tapi hal seperti ciuman pertama hanya akan kulakukan dengan orang yang kucintai, di waktu yang tepat. Bukan seperti sekarang.

 

“Dengan mengumbar kata cinta seperti itu, kamu pikir aku akan luluh? Tidak. Bagiku, masalah bukan dimulai saat aku memergoki kalian berdua sedang berciuman. Sama sekali tidak. Aku sudah muak dengan sikap dinginmu saat bersamaku meski kita sudah berteman sejak lama. Dimana kau ketika aku mendapat surat ancaman dari penggemar-penggemarmu saat SMA? Dimana keberadaanmu saat aku harus susah payah belajar agar bisa berada di universitas yang sama denganmu? Dimana kau saat aku sedang menjalani masa-masa sulit untuk beradaptasi di kampus? Dimana kau! Lalu, dengan berubah kelakuan secara drastis seperti ini, aku akan langsung percaya padamu begitu saja? Jangan harap.” Sudah. Hati ini sakit sekaligus lega ketika lontaran unek-unek yang kupendam sejak dulu kini tersampaikan. Maafkan aku.

 

“Kau terlalu sibuk dengan dirimu sendiri. Kau terlalu percaya diri bahwa aku akan selalu mengikutimu. Kau adalah salah satu alasan kenapa aku membenci makhluk bernama pria. Kurasa, bersamamu hanya membuang waktuku. Lebih baik kita tak lagi berteman. Terserah kau mau berbuat apa di luar sana. Aku sudah tak peduli.” Aku tak kuasa untuk berada di tempat ini. Menangis adalah hal terakhir yang akan dilakukan, itulah prinsipku. Lebih baik aku pergi. Aku berbalik arah dan berlari. Namun baru saja ingin melangkah, dia bersuara.

 

“Aku juga tidak peduli. Mau sejauh apapun kau pergi, aku akan selalu bersamamu. Aku janji, Sayang. Kau harus ingat kata-kataku.” Terserah. Kata-kata itu bagaikan sampah sekarang. Waktumu untuk bisa menggerakkan hatiku sudah habis.

 

Kini, semua sudah benar-benar selesai.

 

***

Seoul, 3 tahun kemudian

 

“Nona Kim, ada tamu yang ingin bertemu denganmu.” Rekan sekantorku memberitahu perihal kedatangan seseorang. Aku mengangguk sambil mengucapkan terima kasih dan bergegas menuju ruang penerimaan tamu. Dalam hati, terbersit rasa tanya. Siapa yang datang berkunjung ke sini?

 

“Hai.” Senyum itu menyambutku. Hah, aku sudah bosan melihatnya. Berbeda dengan dia, yang tersenyum lega begitu melihatku mendekatinya.

 

“Hai. Kenapa ke sini? Ini belum jam pulang kantor.” Aku duduk di samping tamu itu. Ada apa dengan wajahnya hari ini? Terlihat begitu segar dan cerah.

 

“Senang melihatmu, Sayang.” Ucap Cho Kyuhyun, tamu tak diundang yang datang di saat yang tidak tepat. “Aku rindu kamu.” Dia melayangkan kecupan di keningku. Aku harus lebih waspada dengan sikapnya yang berubah sejak tiga tahun lalu. Semakin hari, tingkahnya semakin aneh saja.

 

“Ck, menjauhlah. Ini di kantor, Cho.” Omelku. Baiklah, dia sukses menambah masalah baru buatku. Memang tidak ada yang bersikap jahat seperti halnya yang terjadi saat aku berada di bangku SMA tapi pasti besok gosip tentang CEO perusahaan teknologi terkemuka di Korea yang datang hanya untuk melihatku sudah tersebar. Rekan sekantor pasti akan menggodaku.

 

Kalian pasti berpikir kalau aku dan dia memiliki hubungan khusus. Kalian salah. Kami masih berteman, itu yang kuyakini. Kejadian tiga tahun lalu tak serta merta mengubah status kami. Bahkan mungkin aku berusaha menjaga jarak padanya karena takut akan menyulitkan dia. Aku juga masih memikirkan perasaan dia. Dia butuh ruang untuk melanjutkan hidup, pikirku kala itu.

 

Sayangnya, niat baik itu tidak mendapatkan respon yang diharapkan. Sejak pengakuan waktu itu, Cho Kyuhyun malah semakin dekat dan perhatian. Dia juga semakin protektif terhadap kegiatan yang kulakukan. Aku sampai kesal dibuatnya. Terkadang, jika sikapnya terlalu berlebihan, aku akan mengomel. Setelah itu, Kyuhyun memilih untuk bungkam dan secara perlahan memberi ruang bagiku untuk sendiri. Jangan harap dia akan benar-benar pergi. Beberapa hari kemudian, dia akan muncul lagi dengan senyum sumringah yang entah kenapa sering dia tunjukkan jika bersamaku.

“Kau akan selesai setengah jam lagi. Aku tidak keberatan untuk menunggu di sini.” Ah tidak, jangan menatapku dengan tatapan lembut seperti itu. Kumohon. Aku tak bisa marah jika dia sudah melemparkan raut wajah teduh.

 

“Baiklah. Aku tinggal dulu, masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan.” Lebih baik segera menjauh dari tempat ini dibandingkan harus terus menerus ada di dekatnya. Mataku balas menatap sosok yang hari ini berada dalam jangkauan pandanganku dengan berbalut kemeja putih, jas abu-abu, serta dasi berwarna merah.

 

“Take your time, Chagi-ya.” Ujarnya lembut sebelum membiarkanku pergi dari hadapannya.

 

***

 

“Kamu ingin langsung pulang ke rumah?” Tanyanya ketika kami berada di halte bus. Ya, dia mengantarku pulang tapi bukan dengan mobil mewahnya itu. Aku sama sekali tak ingin menumpang dengannya hanya untuk pulang ke rumah. Sejak remaja, aku punya prinsip tak ingin merepotkan orang lain. Termasuk Cho Kyuhyun. Lagipula, meskipun kami berteman, aku tak ingin dibilang aji mumpung. Syukurlah, Kyuhyun sangat mengerti dengan prinsipku ini meskipun dia sering membujukku untuk menggunakan segala fasilitas mewahnya.

 

“Iya.” Aku ingin segera istirahat setelah seharian berkutat dengan deadline mencekik yang dibebankan padaku sebagai seorang editor majalah wanita. Aku ingin segera bertemu dengan kasur empuk.

 

Oh ya, sebenarnya adalah hal yang akhir-akhir ini sangat aku cemaskan. Kepalaku sampai berdenyut memikirkannya. Sebaiknya nanti aku minta pendapat khusus dari Kyuhyun.

 

Namun, apa reaksinya jika dia tahu? Aku hanya berdoa semoga kali ini, kami benar-benar memutuskan tali pertemanan dan dia tidak keberatan.

 

Bahuku menghangat. Dia menyampirkan jasnya ke badanku. Kulihat wajahnya, dia hanya tersenyum tipis.

 

Sisa perjalanan kami hanya diisi dengan keheningan, bahkan saat kami telah berada di dalam bus. Aku memilih untuk bersandar pada bangku penumpang dan memejamkan mata. Dapat kurasakan jemarinya membelai kening dan rambutku.

 

Kesadaran sayup-sayup mulai menghilang. Hal yang masih bisa kuingat adalah saat dia menarik kepalaku untuk bersandar pada bahunya.

 

Biarlah, aku ingin istirahat meski hanya sekejap.

 

***

 

“Baiklah, aku pamit pergi. Istirahatlah yang cukup, Rae-ya.” Dia mengacak-acak rambutku dengan gemas. Aku hanya bisa mendengus kesal. “Aku tak ingin melihatmu besok dengam wajah lusuh karena kurang tidur.”

 

“Iya.” Aku mengangguk.

 

“See you tomorrow.” Dia membalikkan tubuhnya. Saat melihat punggung kokohnya itu, aku baru teringat sesuatu.

 

“Tunggu.” Ah, kenapa mulut ini secara spontan mencegahnya untuk pergi? Ya, Raena! Ini sudah malam. Kenapa hatimu tak berjalan sinkron dengan rasionalitas?

 

“Ya?” Dia memalingkan wajah ke arahku. Perasaan heran tergambar jelas di wajahnya. Tentu saja dia terkejut seperti itu, aku sangat jarang melarangnya untuk tetap tinggal disisiku.

 

Aku mendekat. Sejujurnya aku takut. Aku takut jika dia tidak meresponnya seperti yang aku inginkan.

 

Dia tak tahu apa yang akan dia hadapi nanti. Dia hanya diam saja, di sana dengan dahi mengerut. Baguslah, lebih baik dia bersikap seperti itu. Itu akan memudahkan langkahku selanjutnya.

 

Kedua tanganku kini sudah terkalung sempurna di sekeliling lehernya. Rasanya begitu nyaman.

 

“Gracias, señor.” Ku mendekat ke telinga kirinya. Dapat kurasakan tubuhnya menegang.

 

“Rae-ya…” Aku tak ingin dia berkata apapun saat ini. Kubungkam mulutnya dengan sebuah kecupan. Jangan berpikir bahwa aku adalah seorang pencium yang baik. Aku bahkan masih sangat amatir. Tindakan paling berani yang bisa kulakukan hanya sekedar menempelkan bibirku ke permukaan daging kenyal itu.

 

Tidak ada yang berinisiatif untuk bergerak di antara kami. Dia mungkin masih begitu terkejut sementara aku harus menenangkan hati berulang kali karena sangat gugup. Setelah beberapa detik yang bagaikan berjam-jam, aku melepaskan pagutan itu dan memandangnya. Aku tak tahu bagaimana rona wajahku sekarang. Aku sangat malu.

 

“Rae, kau…”

 

“Aku mencintaimu, Cho Kyuhyun. Maaf telah lama membuatmu menunggu.” Akhirnya, aku bisa menyatakan perasaanku. Semua kegundahanku kini lenyap. Aku masih belum tahu ada yang ada di pikirannya tapi jika dia sudah tidak memiliki perasaan yang sama denganku, aku akan terima dengan lapang dada. Setidaknya aku sudah dapat mengungkapkan perasaanku terhadapnya.

 

Kalian berpikir aku sangat labil? Bisa iya, namun lebih condong ke jawaban tidak. Dulu aku memang bertekad untuk benar-benar menghapus dia dari kehidupanku. Aku ingin bahagia dengan caraku sendiri, tanpa dia. Itu yang terpatri di otak gadis remaja dengan tingkat emosi yang fluktuatif sepertiku.

 

Namun, semakin bertambahnya usia, aku terganggu dengan kenyataan bahwa aku terus menyalahkannya. Bukan salah Kyuhyun jika dia memiliki sifat dingin. Itu karakter yang dia bawa sejak lahir. Bahkan sampai sekarang dia masih irit bicara dan cuek terhadap orang lain yang tidak dikenalnya. Lagipula, semua pengalaman pahit yang menimpaku karena kedekatan kami saat masa sekolah adalah kesalahanku juga. Aku bersikap sok tegar dengan tidak membiarkan Kyuhyun tahu apa yang sebenarnya aku alami. Aku terjebak dengan prinsipku sendiri.

 

Aku juga baru sadar bahwa aku tak sepatutnya menggeneralisasikan pria sebagai mahkluk menyebalkan. Ya, sejujurnya traumaku itu berawal dari masa kecilku. Ada sekelompok anak laki-laki yang jahil sekali. Mereka mengejek rupaku yang jelek menurut mereka. Aku tadinya tak mengindahkan mereka. Puncak masalah terjadi ketika mereka mempermalukanku di depan pria yang kusuka ketika umurku empat belas tahun. Saat itu, mereka memberitahukan kr semua orang bahwa aku bodoh dan ceroboh sampai akhirnya laki-laki yang kusukai diam-diam menjauh. Sejak saat itu aku membenci pria meski aku berusaha mengatasinya dengan berpikiran positif bahwa Kyuhyun berbeda dari orang-orang jahil itu.

 

Menurutku, dalam hidup orang belajar dari kesalahan, bukan? Kyuhyun hanya manusia biasa dan dia sudah mengambil makna dari kejadian tiga tahun lalu. Dia sudah banyak berubah, ke arah yang lebih baik tentunya. Jadi, wajar jika aku kemudian kembali jatuh dalam pesonanya meski setiap malam aku selali berdoa agar perasaan ini tak tumbuh lagi di hatiku.

 

Sekarang aku lebih memilih menyerah dan membiarkan dia tahu segalanya.

 

“Kau… serius?” Aku tak bisa menebak ekspresi yang Kyuhyun tunjukkan. Totally clueless.

 

“Iya. Bagaimana menurutmu?” Rasanya keberanian tadi sudah lenyap tak tersisa. Kini aku sangat takut mendengar jawaban darinya.

 

Sistem koordinasi tubuhku tak bisa beradaptasi baik ketika kurasakan kakiku melayang beberapa senti dari tanah. Aku ingin mengumpat namun wajah Kyuhyun yang tersenyum lebar menghambat niatku.

 

“Yak, aku bukan makanan!” Aku setengah mengomel saat dia mencium setiap jengkal wajahku. Pelipis, kelopak mata, alis, pipi, dan bagian-bagian lainnya tak luput dari serangannya.

 

“Tentu saja aku ingin menjadi kekasihmu. Siapa yang akan menolak?” Dia mengecup keningku lama. Terima kasih, Kyuhyun. Kau menerima wanita sepertiku, yang jauh dari kata sempurna, untuk menjadi orang yang spesial di hatimu. “Aku sangat senang. Kita resmi berpacaran kan, sekarang?” Matanya terlihat berbinar-binar. Urgh, aku silau melihatnya!

 

“Tentu saja, Tuan Tampan.”

 

 

 

14 Comments (+add yours?)

  1. changtaeupy
    Aug 02, 2015 @ 15:27:12

    Lah sukanya ngegantung sh

    Reply

  2. vhiy zaza
    Aug 02, 2015 @ 19:33:48

    aku pikir bakal sad ending,, hehehe
    kyuhyun mau berubah ternyata buat reana,

    Reply

  3. esakodok
    Aug 02, 2015 @ 19:52:26

    ayayayayaua
    pengen nari nari q
    q suka prinsipnya rae…keren banget dah jd wanita..tp adakalanya juga g boleh terlalu keras y…

    Reply

    • ferelyyy
      Aug 03, 2015 @ 14:06:16

      Ayo nari Devil bersamaku, chingu! hehe
      Iya terkadang kita sbg cewe harus punya prinsip spy ga dikibulin sama cowo terus hahaha #curcol

      btw thanks krn sudah baca dan komen ff ku. 🙂

      Reply

  4. ddd
    Aug 03, 2015 @ 08:38:02

    aaaaa mereka bersama wow manis bgt

    Reply

  5. ichul
    Aug 03, 2015 @ 21:38:20

    Happy End… Gomawo ^^

    Suka sama FF yg temanya kaya gini, persahabatan jadi cinta 😉

    Reply

  6. Monika sbr
    Aug 06, 2015 @ 20:56:02

    Ahhh…. So sweet!!
    Akhirnya mereka bisa bersama2

    Reply

  7. Trackback: Limp | Superjunior Fanfiction 2010
  8. kylajenny
    Aug 08, 2017 @ 07:16:10

    Yeay akhirnya jadian. Nice story…..

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: