[Hye-Kyu Story] Marry Me!

Marry

Nama. : Aliyahkim (@kimeunhyessi)

Judul Cerita : (Hye-Kyu Story) Marry Me!

Cast:

– Cho Kyu-Hyun

– Kim Eun-Hye

Genre : Romance

Rating : General

Length : Oneshoot

Note’s:

Thanks for admin yang udah share ff ku disini^^ ff ini pernah aku share di blog pribadi ku https://eunhyefanfiction.wordpress.com

Happy read and sorry for typo! ^^~

 

***

 

“Cho Kyu-Hyun.. Kau yakin ini aman?”

Aku menatap Kyu-Hyun gusar. Pria itu bahkan sudah berada jauh diatasku, sedangkan aku bahkan masih berada di anak tangga pertama Rumah Pohon kami. Ani— maksudku Rumah Pohon Kyu-Hyun, karena Rumah Pohon ini adalah Hadiah Ulang Tahun yang diberikan oleh Paman Cho saat Ulang tahun ke 12 Kyu-Hyun seminggu yang lalu. Ia menatapku kesal, dengan tangannya yang masih terjulur ke bawah.

“Cepat naik bodoh! Aku akan menarikmu.”

“Bagaimana jika aku terjatuh?”

“Aku akan menyiapkan liang lahat untukmu disamping milik Chora.”

Aku membelalakkan mataku. Menatap Kyu-Hyun yang tertawa lebar dengan sebal. Ia benar-benar Pria yang sangat menyebalkan. Aku sendiri heran mengapa aku masih bisa bertahan sebagai sahabatnya mengingat segala sifat Kyuhyun yang buruk. Aku mengerucutkan bibirku sebelum mengumpulkan keberanianku dan mulai mencoba menaiki satu persatu anak tangga menuju Rumah Pohon itu.

Satu..

Dua..

Tiga..

Empat..

Dan seterusnya hingga ditangga kesepuluh tepat saat tangan Kyu-Hyun hendak meraih tanganku, kaki ku tanpa sengaja terpeleset hingga membuatku terjatuh begitu saja. Aku meringis, dan menangis saat merasakan rasa nyeri diarea pantat hingga pinggul ku semakin terasa sakit.

“Eun-Hye!”

Ia memekik dengan wajah panik. Aku tidak peduli. Ini sangat sakit. Air mataku menetes seiring isakan-isakan halus yang keluar dari bibirku. Kyu-Hyun sudah berada dihadapanku dengan wajah super paniknya. Ia memelukku, menepuk-nepuk punggungku mencoba menenangkanku. Dan nyatanya itu memang berhasil, pelukannya membuatku sedikit tenang. Ia menatapku ragu.

“Appo?” Tanya nya yang kubalas dengan pukulan kecil dilengannya. Tentu saja ini sakit. Bahkan sangat sakit. Ia meringis. Mungkin merasa bersalah karena membuatku seperti ini.

“Maafkan aku, seharusnya aku tidak memaksamu tadi.”

Ia kembali memelukku. Kali ini dengan kecupan-kecupan kecil didahiku yang membuat wajahku terasa panas. Aku mencengkram kaos biru bergambar Mikki Mouse miliknya yang sama dengan kaos milikku, hanya saja milikku berwarna Hijau sedangkan Kyu-Hyun biru. Kami mungkin gila mengingat ini adalah musim dingin dan kami hanya memakai sebuah kaos tanpa jaket, Syal, ataupun sarung tangan.

“Aku ingin pulang.” Ucapku sesegukan. Ia menatapku lama sebelum berjongkok memposisikan tubuh kecilnya yang lebih tinggi beberapa centi dari ku tepat dihadapanku.

“Naik. Aku akan menggendongmu.”

Ia tersenyum manis, membuat wajahku kembali memanas karena malu. Aku mengangguk pelan sambil melingkarkan kedua tanganku dilehernya bersamaan dengan kedua tangannya yang Ia letakkan dibelakang lututku. Aku sedikit tidak percaya saat Ia benar-benar menggendongku. Ia berjalan lurus tanpa menoleh sama sekali kearahku, sesekali menaikkan tubuhku yang melorot dari punggu tegapnya. Aku tersenyum. Kyu-Hyun sangat manis jika seperti ini.

“Kau terlihat seperti seekor katak sekarang.”

Tanganku bergerak cepat memukul kepalanya yang langsung dihadiahi tatapan kesal darinya. Aku tidak peduli, salah siapa Ia mengataiku katak. Aku meletakkan kepalaku diatas bahunya, menghirup aroma Kyu-Hyun yang sangat aku sukai yang tanpa sadar membuatku memejamkan mata, merasa nyaman.

“Gamawoyeo.. Oppa.”

Ini pertama kalinya aku memanggilnya dengan sebutan itu. Selama ini aku tidak pernah memanggilnya dengan embel-embel Oppa karena aku benci harus mengakui jika Ia lebih tua dariku 3 tahun. Terlebih dengan sifat percaya dirinya yang semakin hari semakin mengkhawatirkan.

Ia menghentikan langkahnya sesaat dan menoleh dengan pandangan yang sulit diartikan. Membuatku semakin malu. Apakah aneh jika aku memanggilnya seperti itu?

“Ya! Cho Kyu-Hyun! Apa yang kau lakukan pada Eun-Hye, huh?!”

Aku bisa mendengar teriakan keras itu dari taman samping rumah Kyu-Hyun yang memang bersebelahan dengan rumahku. Kyu-Hyun nampak gugup saat Ahra Eonni berlari kecil menghampiri kami.

“Kau melukainya?” Mata sipit Ahra Eonni melebar.

“T-tidak!”

“Eonni..” Aku menatap mereka berdua bingung. Tanganku semakin erat melingkar di leher Kyu- Hyun saat Lelaki itu menggerak-gerakkan tubuhnya gusar.

“EOMMA!! Lihat apa yang dilakukan Kyu-Hyunie!”

“Ya! Noona! Aku tidak melakukan apapun padanya!”

“Bohong! EOMMA!!”

“Sudah kubilang ak—”

 

Bruk!

 

“Eun.. Hye.”

“HUWAAAA!! MATI KAU, CHO KYU-HYUN!!”

 

***

 

Aku menatap sebal langit-langit kamar berwarna merah dengan hiasan bermotif bunga mawar yang membuatnya terlihat indah, tanpa memperdulikan sosok lelaki bodoh yang sejak tadi duduk disudut kamar ini dengan pandangan menyesal.

“Minumlah, Kyu-Hyunie.” Aku menatap Eomma yang meletakkan segelas susu hangat untuk Kyu- Hyun dari ekor mata ku. Aku masih marah padanya.

“Bagaimana kau bisa terjatuh, hm?”

“Tanyakan saja pada Cho Kyu-Hyun bodoh itu. Aku membencinya.” Bahkan Usapan lembut Eomma yang biasanya selalu bisa membuatku tenang kini sama sekali tidak bisa merubah perasaan kesalku pada Lelaki itu. Aku menatapnya sinis yang membuatnya semakin menunduk.

“Maafkan aku..”

“Kau pikir maaf bisa menyembuhkan semuanya, huh?!” Aku berkata sinis yang mendapat teguran keras dari Eomma. Aku mendengus kesal. Kenapa jadi aku yang dimarahi? Yang salah Kyu-Hyun. Lelaki menyebalkan itu sudah membuatku terjatuh dua kali, hingga membuat pergelangan kakiku harus di Gips karena cidera ringan. Aku menatap Kyu-Hyun yang masih menunduk. Eomma menatapku tajam, membuatku sedikit takut.

“Minta maaf padanya.” Bisik Eomma yang kubalas dengan gelengan tidak setuju. Harusnya Ia yang meminta maaf, bukan aku.

“Eun-Hye.”

“Baiklah, baiklah. Aku memaafkan mu. Pergilah.”

Aku menghela nafas pasrah. Percuma saja membantah Ucapan Eomma, apalagi ini berhubungan dengan ‘Anak kesayangan’nya itu. Cho Kyu-Hyun. Sikutan pelan dari Eomma membuatku meringis.

Kyu-Hyun mendongakkan kepalanya, menatapku dengan mata kecilnya yang dipenuhi rasa bersalah. Membuatku sedikit tidak tega pada setan bodoh

itu. Kami sudah berteman selama 5 tahun lamanya, sejak Ia pindah ke rumah yang ada disamping rumahku. Aku tersenyum, merasa lucu dengan tingkah Kyu-Hyun saat ini.

“Ini untukmu, sebagai tanda permintaan maafku.”

Aku menatap bunga mawar berwarna kuning ditangannya, entah kapan Ia memetiknya aku juga tidak tau. Ia menatapku dengan mata yang berharap, membuatku terkekeh geli.

“Arraseo.. Gamawo.”

Aku bisa melihat Eomma tersenyum saat melihat kami. Kyu-Hyun tersenyum lebar, membuatnya tampak semakin tampan. Aku tidak tau jika Ia bisa se-tampan itu jika tersenyum.

 

Cup

 

Mataku membulat merasakan kecupan singkat yang mendarat didahiku. Aku menatap Kyu-Hyun dengan wajah yang memanas. Lelaki itu tersenyum dengan wajah yang memerah, sama seperti wajahku saat ini yang kuyakini seperti tomat. Aku bisa mendengar Eomma memekik kecil lalu tertawa dengan kedua tangan yang disatukan seperti sedang berdoa. Matanya terlihat begitu berbinar.

“Aigoo~ kalian tampak begitu manis.”

Kyu-Hyun tersenyum malu-malu mendengar perkataan Eomma yang menurutku sangat menggelikan. Aku bahkan ingin muntah melihat raut wajah malu-malu itu. Menggelikan. Walaupun harus kuakui aku cukup senang dengan kenyataan itu.

 

***

 

Tok!

Tok!

Tok!

 

“Hey.. Kim Eun-Hye..”

Suara lirih itu membuatku tersentak pelan. Melepas Earphone yang sedari tadi melekat ditelingaku lalu mengambil tongkat penyanggaku dan berjalan menuju jendela, sumber suara sayup-sayup itu.

Mataku membulat saat melihat lelaki itu, Cho Kyu-Hyun, duduk diatas ranting pohon besar —yang memang terletak disamping rumah ku, sebagai pembatas antara rumah ku dan rumah Kyu-Hyun— dengan wajah ketakutan. Aku membuka jendela ku cepat. Membentaknya dengan suara sepelan mungkin agar tidak membuat Eomma dan Appa terbangun.

“Apa yang kau lakukan disitu huh?! Itu berbahaya, bodoh!”

“Ssttt!! Cepat Bantu aku!”

Tanpa menjawabnya, tanganku meraih tangannya. Menariknya untuk masuk melalui jendela kamarku. Ia menghela nafas lega.

Pletak!

“Ya! Aish.. Sakit, bodoh!”

“Dimana kau letakkan otak pintar mu itu? Bagaimana kalau kau terjatuh, huh?! Bagaimana jika.. Jika ranting itu patah dan membuatmu terjatuh.. Aku.. Aku..”

Air mataku menggenang dipelupuk mataku. Aku menunduk, menyembunyikan Air mataku. Sungguh.. Aku benar-benar takut jika itu benar-benar terjadi. Sekalipun Ia adalah Lelaki yang paling menyebalkan tetapi.. Ia tetaplah sahabatku yang paling kusayangi. Aku tidak bisa, dan tidak akan pernah bisa melihatnya terluka. Itu sama saja dengan melukai diriku sendiri. Kyu-Hyun tertawa pelan, membuatku ingin memukul kepala Lelaki itu dengan keras. Bagaimana bisa ia tertawa sedangkan aku nyaris menangis karena mengkhawatirkannya? Menyebal—

“Terimak kasih..”

Aku menahan nafas mendengar ucapannya yang entah kenapa terasa merdu ditelingaku, membuatku merasakan seolah ada ribuan kupu-kupu yang berterbangan diperutku. Ia menarikku dalam sekali sentakan. Membuat kepalaku membentur ringan dadanya. Memelukku erat sesekali mengusap lembut rambut panjangku.

“Karena sudah mengkhawatirkanku. Lagi pula.. Aku tidak apa-apa bukan? Aku masih bisa memelukmu seperti ini.”

Kami sama-sama tertawa geli. Kyu-Hyun melepas pelukannya dengan senyuman manis yang mengembang di bibirnya. Ia berjalan cepat, melompat dan berbaring diatas ranjangku. Membuatku melotot kesal.

“Apa yang kau lakukan, huh?!”

Mulai lagi. Yah.. Begitulah, kami tidak akan berbaikan dalam waktu lama. Entah itu Kyu-Hyun atau Aku pasti salah satu dari kami akan kembali membuat ‘masalah’ dan membuat kami kembali bertengkar. Saling mengejek satu sama lain. Kyu-Hyun menatapku sejenak, sebelum meraih Guling kesayanganku. Memeluknya dengan tangan kirinya yang menepuk-nepuk ranjang bagian kirinya seolah menyuruhku untuk berbaring disampingnya.

Aku mendengus. Melangkahkan kakiku dengan sedikit terseok dan duduk tepat disampingnya. Alisku bertaut.

“Kau yakin bibi tid— ya!”

Kyu-Hyun menarikku cepat, membuat tubuhku berbaring disampingnya dengan paksa. Memelukku seolah memeluk sebuah Guling.

“Kau terlalu banyak bicara.” Ucapnya singkat yang entah kenapa membuat Wajahku memanas. Aku bisa merasakan napas hangat Kyuhyun didahiku. Membuatku tanpa sadar menutup kedua mataku. Nyaman. Bibirku membentuk senyuman tipis.

“Berani kau menciumku, aku bersumpah akan memaksamu untuk menikah denganmu!”

Kyu-Hyun terkekeh. Napas hangat itu samakin terasa jelas dipermukaan pipiku. Aku menutup kedua mataku erat, saat Kyu-Hyun dengan sengaja mendekatkan wajahnya. Membuat pipiku kembali memanas.

 

Cup

 

“Dengan ini, aku akan menikah denganmu..”

 

Chu~

 

Fin

6 Comments (+add yours?)

  1. julia
    Aug 02, 2015 @ 18:53:42

    bagus , kukira bakalan dewasa ternyata tetep jd anak kecil hahaha

    Reply

  2. esakodok
    Aug 02, 2015 @ 19:31:39

    ini anak smp pikirannya sudah dewasa…hahaha..efek ngliat film ganteng2 serigala…
    kekekekeke
    sweet banget dah ceritanyaa
    tp mnrtku adegan dengan usia mereka agak kurang pas saengi..

    Reply

  3. vhiy zaza
    Aug 02, 2015 @ 20:10:03

    kyaaaa itu kyu masih umur 12 tahun ? ckckckck

    Reply

  4. oktalita1004
    Aug 02, 2015 @ 20:53:13

    so sweet bgt dahh kyuhyun mau dahh dipaksa nikah sma dia kkk.. klo baca cetira ini aku jadi inget sma tetangga sebelah rumah ku un kkk.. ini ff wajib bikin squel un

    Reply

  5. ichul
    Aug 03, 2015 @ 21:24:49

    Simple dan sweet bgt ini…

    Reply

  6. haekyulie
    Aug 04, 2015 @ 06:34:27

    ehh… masih anak kecil tp sdh bicara nikah menikah(?) haha..
    huft.. anak muda skrng.. benar2 ya?

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: