Countdown On Fireworks ―Park Jungsoo [2/4]

COVER!

Author :  Farisah Fitri Muhyi

Title     :  Countdown On Fireworks Part 2―Park Jungsoo

Genre   :  Romance, Angst, Family.

Length :  Chapter

Rated    :  PG-15

Cast      :  Lee Sungmin (Sungmin Super Junior), Park Rihyo (OC), Shin Aerin (OC), Park Jungsoo (Leeteuk Super Junior), Other OCs.

 

Warning :  Karya tulis ini adalah fiksi belaka, setiap nama tokoh yang dicantumkan di dalam cerita semata hanyalah untuk keperluan penulisan belaka. Tidak ada sangkut pautnya dengan keadaan atau kejadian asli yang dialami tokoh-tokoh tersebut.

 

 

Happy Reading~

 

 

***

 

 

 

“Kau tahu, Sungmin-ah… terkadang aku sangat kasihan melihatmu. Tetapi saat melihat adikku, itu membuatku sangat membencimu” ujarku datar.

 

“Apa?” tanya laki-laki berwajah manis itu spontan.

“Aku tidak mengerti apa maksudmu,” lanjutnya. Sungguh aku sangat membenci wajah tidak berdosa itu. Tapi apa yang bisa aku lakukan jika ia bahkan tidak dapat mengingat apapun yang terjadi.

 

“Sudahlah lupakan, aku hanya frustasi” ujarku pada akhirnya. Aku menghela nafas dan menatap menerawang ke atap putih rumah sakit. Lee Sungmin, laki-laki itu tetap menatapku khawatir. Aku menyadarkan diriku, mencoba berpura-pura kembali. Tetapi melihat wajahnya aku selalu mengatakan hal yang sama dalam hati, bahwa hidup itu kejam.

 

“Mau kubawakan minuman atau lainnya?” tawar Sungmin, berusaha menghiburku.

 

Tanpa atau dengan berpikir pun jawabanku akan sama, aku menggeleng pelan. Bagaimana bisa aku makan dengan baik jika adikku sedang masuk ICU?. Tanpa dalam keadaan kritis seperti sekarang pun adikku tidak akan dapat memakan apapun dengan baik, ia akan selalu memuntahkannya.

 

Sungmin terdiam, tidak tahu lagi harus melakukan apa. Aku tahu aku tidak seharusnya menyalahkannya atas apa yang terjadi pada adikku. Dia hanyalah mahasiswa semester tujuh jurusan management di salah satu universitas negeri. Nama lengkapnya Lee Sungmin, tahun ini berumur 23 tahun. Anak dari CEO sebuah perusahaan swasta, yang kehilangan ingatannya akibat kecelakaan sekitar dua minggu lalu.

 

Aku menghela nafas, melihat ke arah pintu ICU yang tak kunjung terbuka. Aku tahu ini masih 30 menit semenjak adikku masuk ke ruangan itu, tapi bagiku rasanya seperti aku telah menghabiskan beribu-ribu tahun waktuku untuk duduk menunggu kabar dari seorang dokter. Adikku adalah satu-satunya keluarga yang aku punya. Kedua orang tua kami meninggalkan kami di pinggir jalan saat aku masih berumur tujuh tahun, itu artinya Rihyo masih berumur tiga tahun. Aku tidak tahu kenapa mereka melakukannya, tapi itu cukup untuk menyiksa kami. Dan jika kali ini Rihyo juga meninggalkanku, aku tidak lagi mempunyai alasan untuk terus bertahan hidup.

 

“Uhm… kalau boleh tahu…” ucap Sungmin pelan, membuatku terkejut. Aku menoleh kearahnya tanpa mengatakan apapun, tapi ia juga menungguku mengucapkan sesuatu sembari mengulur waktu untuk menyusun kata-kata. Seharusnya ia memikirkan itu terlebih dahulu sebelum membuka mulutnya.

 

“Akhirnya kau bertanya, apa yang ingin kau tanyakan?” tanyaku seramah mungkin.

 

“Bukan itu. Kalau boleh tahu… sebenarnya apa yang terjadi dengan adikmu, Jungsoo hyung? Kenapa dia bisa menjadi seperti sekarang?” tanya Sungmin. Wajahnya terlihat sangat khawatir. Bagus, dia peduli. Siapa kau peduli dengan keadaan adikku?.

 

Kulihat seberapa lama pun, aku tidak dapat mengetahui ekspresi apa yang tergambar di wajah Sungmin. Daripada menebak ekspresinya, aku hanya menghela nafas dan melihatnya serius.

“Kau sungguh-sungguh ingin tahu?” tanyaku.

 

Sungmin samar-samar mengerutkan keningnya, kurasa ia tidak mengerti akan pertanyaanku. “Kalau Jungsoo hyung tidak ingin memberitahu…” ucapannya terputus di tengah-tengah. Aku yang memutusnya dengan ucapanku sendiri.

 

“Aku tidak akan keberatan menceritakannya. Tapi aku khawatir padamu, apa tidak apa-apa jika kuberitahu?” tanyaku serius. Aku sebenarnya tidak benar-benar peduli dengan apa yang ia rasakan. Aku sangat membencinya untuk apapun yang terjadi pada adikku.

Kenapa aku harus peduli?. Baiklah aku mengaku, tatapan polosnya yang membuatku peduli padanya. Puas?. Andai ia tidak begitu polos setelah kehilangan ingatannya, aku pasti sanggup membencinya seumur hidupku. Tapi demi apapun, dia memang sudah polos bahkan sebelum kehilangan ingatannya!.

 

Dahi Sungmin mengerut bingung. Tetapi sebelum sempat ia berkata-kata, seseorang memanggilnya dari belakang. Padahal aku yakin Sungmin akan setuju jika aku menceritakan semuanya tentang adikku. Meski mungkin ia tidak akan baik-baik saja setelah mendengarnya.

 

Jagi! Aku mencarimu kemana-mana, jangan menghilang tanpa mengatakan apapun! Kami khawatir” ujar seorang gadis yang aku tahu betul siapa dia. Shin Aerin, aku tidak pernah ingin telingaku menangkap nama itu bahkan dari mulutku sendiri. Dia adalah mahasiswi semester satu di universitas yang sama dengan Sungmin. Dan dia, seperti yang selalu dibesar-besarkan, adalah penyelamat hidup Sungmin.

 

Aerin menghampiri kami dengan berlari, menjelaskan bahwa ia telah berlari mengelilingi rumah sakit untuk mencari Sungmin. Atau mungkin setidaknya itu yang ingin ia gambarkan atau orang lain tangkap agar ia terlihat bagai malaikat di mata semua orang. Aku tidak bisa mengetahuinya pasti jika itu adalah gadis itu.

 

“Aerin?” gumam Sungmin refleks.

 

Aku melihat ke arah Aerin. Tatapan datar, menyembunyikan perasaanku sebenarnya. Tapi Aerin sepertinya tidak tertarik untuk melihatku sama sekali. Ia sibuk berbincang dengan Sungmin dan aku malas menyimak obrolan mereka. Jagijagi­jagi, aku hampir saja muntah mendengar sebutan itu. Aku sangat ingin bertanya pada gadis itu, apa dia pantas memanggil Sungmin dengan sebutan itu.

 

“Permisi, sepertinya kau melewatkanku nona. Aku sedang menunggu orang sakit di sini, jika kalian ingin kencan lakukanlah di tempat lain” ujarku tajam namun sopan. Kukira Aerin mulai memperhatikanku, ia menoleh tanpa tertarik untuk tidak mengacuhkanku. Mungkin Sungmin tidak akan menyadarinya, tapi tatapan sinis itu sangat jelas bagiku.

 

“K-Kencan? Tidak, kami hanya…” Sungmin hendak menyanggah, namun Aerin menyelanya.

 

“Maafkan aku telah tidak sopan tuan, kalau begitu boleh aku membawa Sungmin oppa pergi?” tanya Aerin, dengan bahasa yang formal. Seolah meledekku. Meskipun yah, aku tidak peduli dengan itu.

 

“Tidak masalah bagiku, asal kalian tidak menggangu atau ikut campur urusanku” ucapku seadanya dan sesantai mungkin. Namun kemudian aku menatap Aerin lekat. Apa yang sedang dipikirkan gadis itu? Apa gadis itu benar-benar akan melakukan segalanya demi mendapatkan apa yang ia mau?. Tidak, dia bukan gadis yang seperti itu kurasa. Atau mungkin waktu bergulir begitu cepat hingga aku tidak menyadari apapun telah berubah?.

 

“Maaf telah mengganggu, kami permisi” ujar Aerin lalu membungkukkan badannya. Mereka berdua pergi setelah sama-sama saling membungkuk tanda hormat. Kutatap punggung mereka yang semakin menjauh. Mereka masih terlibat pembicaraan panjang kurasa.

 

Aku menghela nafas, “Kurasa kepalaku akan meledak,” pikirku. Aku tidak tahu bagaimana bisa gadis itu―Aerin―betah untuk terus berpura-pura. Sedangkan kepalaku akan meledak setiap kali aku memikirkan apa yang harus aku katakan sehingga tidak akan mencurigakan siapapun. Aku tahu dia ingat aku, guru les privatnya saat dia ada di SMP.

 

Jika kepalaku saja akan meledak, aku tidak tahu bagaimana dengan gadis yang sekarang tengah terbaring di dalam ruang ICU itu. Yang harus menanggung semua ini sendirian. Dasar, mendapati lambung yang pecah pun dia masih harus menanggung kenyataan pahit yang lain. Jika saja dia maju dan mengutarakan semua yang ada di pikirannya, apa yang akan terjadi?.

 

 

***

 

 

Rihyo, adikku, kini telah dipindahkan kembali ke ruang isolasi. Masa kritisnya telah lewat dan dia masih belum sadarkan diri. Terakhir kali aku melihatnya, wajahnya putih pucat dan rambut hitamnya yang lurus seakan tidak lagi berkilau seperti dulu. Dia terlihat sangat lemah.

 

Saat dokter keluar dari ruang ICU kala itu, ia menghampiriku dengan wajah yang sangat datar. Namun aku masih dapat menangkap sirat sedih dan khawatir dari raut wajahnya. Bagaimanapun, beliau-lah yang telah merawat kami berdua jika kami sakit dan membayar sebagian biaya pengobatan. Beliau sangat murah hati, juga berhati lembut.

 

“Rihyo membutuhkan donor darah secepatnya. Anemia-nya sangat parah. Juga… aku khawatir ia tidak akan bisa mencerna apapun lagi. Kuharap kau bersedia menerima segala konsekuensi yang ada, aku takut ia tidak akan dapat bertahan lebih lama,” itu… apa yang Dokter Byun katakan padaku. Tanpa kenyataan itu pun aku sudah tidak tahu lagi harus bagaimana. Lalu… sekarang, apa yang harus aku lakukan?.

 

Satu-satunya yang kupunyai di dunia ini hanyalah Rihyo, jika aku pun kehilangannya, aku tidak tahu lagi apa aku pantas untuk bertahan hidup. Karena aku tidak punya alasan lagi untuk tetap hidup. Rihyo adalah adik yang ceria, dia tidak pernah meminta bantuan padaku sekalipun sampai sekarang. Ia tahu keadaannya, tapi ia berpura-pura dan menutupi kenyataan yang ada dengan satu kalimat sederhana ‘aku tidak apa-apa’ dan menunjukkan pada dunia jika kalimat itu benar.

 

Rihyo sekolah dari uang yang mati-matian telah aku kumpulkan. Segala kerja kerasku, untuk bertahan hidup agar Rihyo mendapat kehidupan yang layak. Lalu saat sebuah kecelakaan lalu-lintas akibat pengemudi yang sedang lengah, Rihyo mendapati lambungnya pecah seperti sekarang. Ia tidak sadarkan diri selama sembilan hari dan terus terbaring dengan mendapatkan asupan makanan dari selang-selang yang menempel di tubuhnya.

 

Rihyo kecelakaan pada hari Sabtu, aku ingat betul karena aku menghadiri sidang untuk kasus tersebut pada hari berikutnya. Pengemudinya ditetapkan bersalah dan menerima hukuman penjara beberapa tahun. Karena Rihyo tidak memiliki asuransi kesehatan, pemerintah tidak ingin menanggung semua biaya rumah sakit yang tidak sedikit.

 

Saat Rihyo tersadar, ia bahkan tidak kuat untuk berbicara. Mulutnya kering, matanya sayu, dan bahkan hampir tidak sanggup untuk bergerak karena sakit akibat lambung pecah. Setelah mendapatkan beberapa obat penghilang rasa sakit, Rihyo bersi keras meminta untuk dipulangkan. Ia tahu biaya rumah sakit mahal, namun ia berdalih dengan mengatakan ada yang ia ingin temui. Tak lain sebenarnya adalah Sungmin, yang ada di tempat kejadian bersamanya.

 

Untuk suatu alasan yang tidak aku ketahui sebelumnya, Rihyo pulang ke rumah dengan menangis. Air matanya tak pernah mau berhenti. Aku tahu ia sakit pada perutnya, namun sepertinya hatinya lebih terluka hingga ia mengabaikan rasa sakit itu. Ia memelukku dan terus menangis, ia tidak menjawab tidak peduli berapa kali pun aku bertanya. Aku tahu ia telah bertemu dengan Sungmin, tapi aku tidak tahu apa yang terjadi hingga Rihyo seperti ini.

 

Dan semenjak saat itu, Rihyo selalu terlihat murung saat ia sampai di rumah. Aku tebak, ia pasti mengikuti Sungmin dan membiarkan hatinya terluka. Ia seolah benar-benar tidak peduli dengan lambungnya yang pecah. Ia tidak nafsu makan karena selain ia akan memuntahkan semua apa yang ia makan, ia benar-benar patah hati.

 

Jadi aku putuskan untuk mengikutinya dan mencari tahu apa yang terjadi. Saat itu, aku melihat seorang gadis di samping Sungmin. Aerin. Yang merupakan penyelamat hidup Sungmin, jujur aku sangat benci dengan sebutan itu. Terlalu berlebihan menurutku, tapi itulah yang dipercaya semua orang. Jadi aku tidak akan berkomentar apapun lagi.

 

Aku menekan tombol di sebuah mesin penjual minuman, dan tak lama kemudian sekaleng minuman meluncur dari dalam mesin. Dan saat aku bangun setelah mengambil kaleng minuman tersebut, Aerin telah berdiri di sampingku. Tentu saja aku terkejut, tapi aku dapat menyembunyikannya dengan baik.

 

Aku tersenyum, “Yo!” sapaku santai.

 

“Maaf tidak menyapamu dengan baik sebelumnya, Park seonsaeng-nim” ujar Aerin tetap formal seperti sebelumnya. Ia menatapku dengan kening berkerut, seakan sedang mengungkapkan maafnya yang sebesar-besarnya.

 

“Tak perlu terlalu dipikirkan, meski kurasa itu tidak akan mengganggumu. Duduklah, kau ingin minum apa?” tanyaku sembari memasukkan uang koin lagi ke dalam mesin penjual minuman otomatis.

 

“Tidak, itu tidak perlu. Ada yang ingin aku bicarakan, tentang Lee Sungmin” ujar Aerin pelan namun terdengar sangat serius tentang apa yang ingin ia katakan.

 

Pandanganku langsung fokus pada satu titik saat mendengar apa yang Aerin katakan. Pikiranku meracau kemana-mana. Semua emosi yang aku pendam hampir saja meledak. Beruntung aku masih dapat menahannya. Aku menghela nafas diam-diam lalu menekan satu tombol pada mesin penjual minuman. Satu jus yang aku minta menggelinding keluar dari mesin dan aku mengambilnya.

 

“Lee Sungmin, Si Pangeran Charming-mu itu ya?. Apa begitu menyenangkan?… telah mendapatkan apa yang kau inginkan?” tanyaku serius, namun langsung mengumbar senyumku ketika aku menoleh padanya dan memberikan jus yang aku beli padanya. Tetapi sebenarnya sungguh aku lebih baik membunuhnya dan berakhir di penjara daripada berpura-pura seperti ini.

 

“Aku tidak bermaksud berbohong. Seonsaengnim…” ia berniat menjelaskan, tetapi aku menyela. Sebenarnya mendengarkan sepatah kata saja darinya telah membuat darahku mendidih. Tetapi aku bukan lagi anak kecil untuk bersikap demikian.

 

“Jangan panggil aku seonsaeng-nim, aku bukan lagi gurumu. Lagipula, aku tidak pernah mengajarimu berbohong apalagi membuat hidup orang lain yang telah sengsara sejak lahir menjadi lebih menyedihkan” ujarku tajam. Aerin tersentak namun tidak membantah. Aku tahu ia sebenarnya baik, entah apa yang membuatnya melakukan hal demikian.

 

“Park… maaf, Jungsoo-ssi, aku bisa menjelaskan semuanya. Sangat bisa, itu jika Jungsoo-ssi memperkenankanku untuk menjelaskan. Mungkin yang Jungsoo-ssi pikir aku hanyalah seorang wanita keji yang merebut pacar seseorang yang bahkan berani mempertaruhkan nyawanya demi orang yang dicintainya. Tetapi sesungguhnya tidak seperti itu Jungsoo-ssi, kumohon percayalah padaku. Aku tidak pernah dan tidak akan pernah berani merebut Lee Sungmin dari Rihyo eonni, karena aku tidak pernah sekalipun berani merusak hubungan mereka yang telah terjalin begitu…. Adorable” ucap Aerin panjang lebar. Ia tampak ingin menjelaskan semampunya tentang apa yang tengah terjadi.

 

“Sudah?” tanyaku pendek, tanpa ekspresi apapun. Aerin tersentak dengan responku, dan ia hanya diam tidak dapat berkata apa-apa lagi untuk membalasnya.

 

See? Aku mendengarmu, jadi apa hanya itu yang ingin kau ungkapkan?. Kalau memang tidak ada, sekarang boleh aku yang berbicara?” tanyaku, seakan sedang memojokkannya dalam sebuah dead-end. Seakan tidak ada lagi jalan keluar baginya kecuali dengan mendengarkan setiap kata-kata yang akan aku luncurkan untuknya. Setidaknya aku telah mengisyaratkan untuk bersiap-siap sakit hati mendengar semua ucapanku.

 

“Dengar, sebenarnya aku tidak mengerti apa yang kau maksudkan. Aku sama sekali tidak dapat memahaminya. Kau tidak terlihat seperti gadis kejam yang tega merebut pacar seseorang hanya demi ambisi pribadinya semata. Tetapi ini semua terjadi, jadi yang mana yang benar?. Kau bilang kau tidak bermaksud merusak hubungan mereka, tetapi sepertinya kau baik-baik saja, kau tetap berpura-pura. Lalu, apa arti semua kata-katamu itu?” ujarku panjang lebar.

 

“Aku tidak tahu apa saja yang terjadi padamu sejak terakhir kali aku mengajarmu di SMP, aku juga tidak tahu sebesar apa perubahanmu semenjak hari itu. Tetapi dalam hal ini, aku sama sekali tidak mengenal dirimu. Aku rasa kau telah berubah. Adikku, Rihyo, kutegaskan padamu bahwa Lee Sungmin adalah teman pertama Rihyo. Suatu keajaiban mereka bisa menjalin hubungan sampai kau memanfaatkan kesempatan, berpura-pura menjadi penyelamat hidup Sungmin. Dan menghancurkan hidup adikku.” Aku menghela nafas, aku baru menyadari kata-kataku mungkin telah berlebihan padanya. Aerin terlihat menunduk menahan tangis.

 

“Kau tahu, Shin Aerin. Yahh… mungkin ini akan menjadi kali terakhir aku bertemu denganmu. Jadi dengarkan aku baik-baik. Tidak seperti Sungmin, Rihyo mengingat semua yang terjadi dengan baik. Dan kurasa dia kecewa padamu. Dia telah memberimu kesempatan, Aerin. Menurutmu karena siapa kau masih bisa dekat dengan Sungmin setelah kau menembaknya tepat di depan kedua mata Rihyo?. Kau pikir pula karena siapa kau tidak dikeroyok oleh seluruh mahasiswa kampus karena mendekati Sungmin, kau tahu mereka membencimu karena itu. Jangan bilang kau tidak sadar”

 

Aku melihat bola matanya membulat sempurna, ia terlihat kaget mendengar penuturanku. Sepertinya ia memang tidak menyadari kesempatan yang Rihyo beri untuknya. Rihyo bahkan telah membiarkan hatinya terluka dan kini keadaan semakin memburuk. Sepertinya Aerin harus kembali bersyukur karena Rihyo, semakin memburuk.

 

Aerin memalingkan wajahnya, berniat mengalihkan perhatian agar air matanya tidak tumpah ruah. Tetapi mungkin ia telah menoleh ke arah yang salah, ia kembali membulatkan matanya menatap sudut gedung. Kuikuti tatapan matanya, mendapati Sungmin berada di sana dengan bola mata membulat sempurna. Aku yakin dia mendengar semuanya. Dan itu tidak bagus, keadaan menjadi semakin runyam.

 

Tetapi aku menolak untuk ikut pusing memikirkan hal itu. Memikirkan diriku sendiri saja sudah membuatku ingin bunuh diri, jangan bercanda dengan menambahkan masalah lain buatku. “Sepertinya akan ada banyak yang perlu kalian bicarakan. Aku tidak peduli dengan apa yang akan kau katakan, aku pergi dulu.”

 

Dan aku pun berlalu, membiarkan Aerin dan Sungmin yang telah menyadari ia telah ketahuan saling menatap. Aku tahu tidak seharusnya Sungmin berada di sana, ini sungguh kejutan yang entah apa bisa kusebut menyenangkan atau tidak. Karena aku merasa ini semua akan segera berakhir.

 

 

 

***

-TBC-

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: