Countdown On Fireworks ―Shin Aerin [3/4]

COVER!

Author :  Farisah Fitri Muhyi

Title     :  Countdown On Fireworks Part 3―Shin Aerin

Genre   :  Romance, Angst, Family.

Length :  Chapter

Rated    :  PG-15

Cast      :  Lee Sungmin (Sungmin Super Junior), Park Rihyo (OC), Shin Aerin (OC), Park Jungsoo (Leeteuk Super Junior), Other OCs.

 

Warning :  Karya tulis ini adalah fiksi belaka, setiap nama tokoh yang dicantumkan di dalam cerita semata hanyalah untuk keperluan penulisan belaka. Tidak ada sangkut pautnya dengan keadaan atau kejadian asli yang dialami tokoh-tokoh tersebut.

 

 

Happy Reading~

 

 

***

 

 

 

Aku sangat yakin Sungmin oppa mendengar ucapanku dengan guru les privatku saat aku SMP, Park Jungsoo seonsaengnim. Terlihat sangat jelas dari raut wajahnya. Aku ingin menjelaskan semuanya, tetapi aku bingung harus mulai dari mana. Pada akhirnya kebingunganku membuatku tidak mengatakan apapun pada Sungmin untuk beberapa hari ini.

 

Kudengar sejak saat itu, Sungmin oppa tidak pernah lagi keluar dari kamar rawatnya. Sepertinya masalah berubah menjadi lebih runyam dari perkiraanku. Baiklah aku tahu ini salahku, sudah seharusnya aku yang menyelesaikannya. Oh Tuhan, aku rasa kepalaku akan meledak segera. Dan aku berhak menerimanya. Oh My!, aku sungguh frustasi. Berpura-pura menjadi penyelamat Sungmin dan membohongi semua orang bukanlah hal yang mudah. Aku selalu merasa bersalah saat bersamanya, memanggilnya jagi, dan melihat senyumnya.

 

Aku menghela nafas. Otakku hampir tidak bisa bekerja sama sekali, pikiranku melantur kemana-mana. Mata kuliah hari ini terasa lebih lama dan membosankan dari biasanya. Apapun, bahkan pemandangan indah musim semi sekalipun tidak akan dapat membantu sama sekali. Pikiranku tetap kacau, melantur kemana-mana. Parahnya, aku tahu hal ini akan tetap demikian selama masalah ini belum tuntas.

 

“Hmmm… kau tahu, kurasa sudah sangat lama aku tidak mendengar apapun tentang Sungmin dan Rihyo. Tidak mungkin kan mereka bertengkar?” obrolan seseorang terdengar jelas di telingaku. Entah kenapa rasanya telingaku menjadi lebih tajam dan lebih peka dengan kata-kata ‘Sungmin’ ataupun ‘Rihyo’.

 

“Tidak mungkin, kurasa mustahil mereka bertengkar. Kudengar Rihyo mengalami kecelakaan, mungkin itulah kenapa kau tidak mendengar kabar apapun dari mereka” ujar orang lainnya lagi, menyahuti ucapan temannya.

 

“Ah benarkah? Aku tidak tahu itu, kau sudah menjenguknya?” seseorang itu bertanya lagi. Ia melihat temannya menggeleng, menjawab pertanyaannya.

 

“Belum. Memangnya aku siapa?. Yahh… sangat disayangkan Rihyo menerima musibah itu. Padahal sangat menyenangkan melihat mereka berdua, Rihyo selalu sangat sederhana dan dewasa. Aku berharap aku juga punya pacar seperti dia” ucap temannya sembari menerawang.

 

“Simpan angan-anganmu! Aku berani bertaruh, tidak akan ada yang bisa sangat pengertian seperti Rihyo. Kau tahu, aku sangat terkesan saat Rihyo memperbolehkan Sungmin membatalkan kencan mereka karena Sungmin ingin bermain basket dengan kita. Di mana ada perempuan yang seperti itu?” ujar seseorang itu menimpali ucapan temannya.

 

Aku menundukkan kepalaku, telingaku sangat panas mendengarnya. Aku tahu Rihyo eonni sangat baik, dia selalu sangat baik. Tetapi tidak aku pernah menyangka Rihyo eonni membolehkan Sungmin oppa membatalkan kencan karena bermain basket dengan teman-temannya. Meski jika Sungmin oppa pacarku saat itu, aku tetap akan marah jika oppa membatalkan kencan hanya untuk bermain basket. Sudah kuduga, memang aku tidak pantas jika dibandingkan dengan Rihyo eonni.

 

Kuhela nafas panjang, lalu melihat ke arah langit cerah. Musim semi di Seoul tahun ini memang selalu berlawanan dengan suasana hatinya. Hari ini terik matahari terasa sangat hangat, meski bunga sakura belum sepenuhnya bermekaran. Kuhirup nafas dalam-dalam, kurasa aku terlalu sibuk membuat kebohongan-kebohongan hingga melewatkan indahnya musim semi. Dan dalam helaan nafas itu, aku kembali melangkah. Pergi dari halaman kampusku, meninggalkan setiap gunjingan serupa yang selalu beredar di kampus.

 

 

***

 

 

Aku menghela nafas lagi. Oh ayolah, aku sudah menghela nafas berkali-kali hingga aku merasa telah melakukannya rutin setiap menitnya. Dan kurasa pelayan-pelayan di rumahku juga sudah bosan melihatnya. Mereka berdiri di setiap sudut ruangan dengan kepala tertunduk. Aku heran kenapa mereka bisa berdiri begitu lama dan terdiam begitu lama. Rumah besar ini menjadi lebih membosankan daripada biasanya saat suasana hatiku kacau seperti sekarang.

 

Perutku berbunyi, aku baru sadar aku belum makan apapun kecuali roti tadi pagi. Tetapi aku tidak mempunyai selera makan sedikitpun. Jika saja bisa, aku ingin berdiam diri seharian penuh tanpa melakukan apapun. Seperti duduk di sebuah bangku taman yang menghadap danau, melihat pohon-pohon dan bunga-bunga yang mulai bermekaran, menikmati udara musim semi, dan menikmati sinar hangat mentari. Hanya kegiatan yang benar-benar normal tetapi aku tidak bisa melakukannya. Bersyukurlah bagi siapapun yang sedang melakukannya sekarang, atau di musim semi lainnya di tahun-tahun berikutnya.

 

Aku berdiri, menghampiri jendela dan membukanya lebar-lebar. Kuhirup udara dingin malam itu dalam-dalam, dengan harapan dapat menjernihkan kepalaku sejenak. Melihat halaman rumahku sendiri membuatku merasa berada di alun-alun kota, sepertinya terlalu besar untuk sebuah rumah. Lalu mataku tertuju pada pintu gerbang yang terbuka otomatis secara perlahan. Aku tebak pasti ayahku telah pulang dari perjalanan bisnisnya di luar kota.

 

Kututup kembali jendela besar itu rapat-rapat, lalu kembali duduk ke hadapan layar laptop-ku yang menyala. Aku tidak terlalu peduli pada ayahku, nyatanya kami tidak dekat. Dia selalu sibuk bekerja, dan aku sibuk dengan kegiatan kampus. Kami tidak mempunyai waktu sama sekali untuk sekedar mengobrol.

 

Layar laptop-ku terisi penuh dengan jendela microsoft word yang menunjukkan halaman ke dua puluh lima. Laporan hasil kerjaku selama di Incheon minggu lalu harus aku selesaikan segera, tetapi otakku tidak dapat bekerja. Masalah yang menimpa Sungmin oppa dan Rihyo eonni karena kebohonganku terus mengusikku. Aku mengerang di kursiku lalu beranjak. Aku membutuhkan sedikit air untuk menyegarkan pikiranku.

 

Good evening, Princess” aku sangat dapat mengenali suara berat ayahku sendiri. Saat aku menoleh, aku sudah mendapati tubuh besarnya yang dibalut setelan jas sedang duduk di bangku dapur. Di depannya terdapat cangkir dengan isinya yang mengepul menghangatkan udara. Kurasa itu adalah teh herbal yang biasa diminumnya, teh Earl Grey.

 

“Berhentilah memanggilku dengan panggilan kekanakan itu” sahutku.

 

“Oh ayolah, kau sendiri yang mengaku-ngaku princess saat kau masih kecil. Kau tidak menoleh sama sekali jika tidak kupanggil begitu” ucap ayahku dengan senyum pendeknya yang menggambarkan bahwa dia sangat bijaksana. Namun senyum itu bukan berarti ia sangat baik hati, ia hanya sangat lelah. Ayahku benar-benar jauh dari tipe ramah dan baik hati, beliau sangat keras.

 

“Maksudku itu sudah lama sekali, Papa. Aku sudah besar sekarang” sahutku, sembari mengambil sekaleng softdrink lalu berjalan menuju kursi duduk di samping ayahku. Setelah duduk di kursi dapur itu, aku meminum softdrink-ku dengan tenang, tanpa menyadari ayahku menatapku sedari tadi. Saat menyadarinya, aku hampir tersedak.

 

“Hahaha, lihatlah, kau bahkan masih memanggilku Papa. Jadi apanya yang sudah besar? Mau sampai kapanpun, princess, kau tetap anak papa, princess kesayangan papa” ujar ayahku lalu menyesap the herbalnya lagi.

 

Aku hanya memutar bola mataku. Terkadang ayahku memang mengatakan sesuatu yang dalam, tetapi bukan berarti aku menyukainya. Kami hanya tidak terlalu dekat, atau mungkin sama sekali tidak dekat. Dan karenanya, sepertinya sudah sejak dulu aku juga menjaga jarak darinya. Semoga ayahku tidak menyadari aku mengacuhkannya barusan.

 

“Jadi, yang ingin kukatakan adalah,” ayahku menarik nafas terlebih dahulu. Oke, ini jarang terjadi, sepertinya ayahku serius. “Aku mengetahui semua yang kau lakukan saat papa pergi keluar kota, princess. Terima kasih pada pelayan Jung yang mengabarkannya rutin padaku. Harus kukatakan tindakanmu bukanlah sesuatu yang seharusnya seorang princess lakukan, Aerin” ujar ayahku, memandangku lekat.

 

Aku hanya menatap mata hitam ayahku yang lekat. Mata hitam yang seolah ingin menarikku dalam jurang kegelapan di baliknya. Dan pada saat itu pula, aku berharap bumi menelanku. Menghapusku dari dunia selamanya, lari dari segala hal selamanya.

 

“Jadi, my beloved princess, papa rasa semua orang mungkin akan membencimu suatu saat nanti. Di saat itulah papa ingin kau untuk selalu ingat, bahwa kau akan selalu menjadi my beloved princess. Kau anak papa Aerin, siapapun yang membencimu, papa selalu ada untukmu. Papa tidak akan membiarkan princess kesayangan papa sendirian. Karena kau anak papa, selamanya akan menjadi anak papa” ujar ayahku panjang lebar.

 

Ini pertama kalinya ayah berbicara panjang lebar padaku, dan ini juga pertama kalinya kami berbicara selama ini. Setidaknya seingatku. Jika saja kami bisa sesering mungkin berbicara berdua seperti ini, mungkin kami akan akrab. Karena ayahku tidak sepenuhnya menakutkan. Karena ayahku tidak selalu bersikap keras kepada anak satu-satunya ini. Karena dia ayahku.

 

Ayahku adalah orang tua tunggal, ibuku meninggal lima tahun lalu. Untuk membiayai kehidupan kami, beliau selalu sibuk kerja. Lingkungannya hanya antara kantornya di Seoul, atau kantornya di luar kota, atau kantornya di luar negeri. Aku sebenarnya dapat mengerti kenapa ayahku tidak pernah punya waktu denganku. Tetapi masalahnya, aku kesepian.

 

Aku tersenyum pahit pada ayahku, aku yakin ayahku dapat melihat kegelisahanku dari senyuman terpaksaku. Ayahku membelai puncak kepalaku pelan lalu tersenyum begitu ramah padaku. Tanpa sadar air mataku menetes pelan, lalu aku terisak pelan. Aku menangis bukan karena ayahku menghujatku karena kelakuan bodohku menyakiti orang lain. Juga bukan karena kata-kata menyentuh ayahku. Aku menangis karena berharap seandainya kami selalu dapat bersama dan berbicara tentang berbagai hal bersama.

 

“Hey ayolah, seorang princess selalu kuat dan tangguh, mereka tidak cengeng sepertimu, my princess” ucap ayahku mencoba menghibur. Satu hal lagi tentang ayahku yang perlu kuberitahu padamu, ayahku menyebalkan.

 

“Karena itu berhenti-lah memanggilku princess!” ujarku sebal. Saat kulihat, ayahku malah tersenyum padaku dan membelai puncak kepalaku lagi. Tetapi kemudian aku menepisnya, “Aku mau tidur,” ujarku ketus lalu pergi dari dapur. Aku tahu sikapku sangat keterlaluan, tetapi aku juga tahu ayahku tidak akan mempermasalahkan tindakan kurang ajarku barusan. Karena ayahku tahu aku hanya sedang mengajaknya bercanda. Karena aku mendengarnya mengatakan…

 

That’s my princess

 

 

***

 

 

Aku melihat ke arah gedung bercat putih yang tidak menyenangkan sama sekali, kasihan pada gedung itu yang bernama rumah sakit. Jangan tertawakan aku, tetapi kurasa aku memang telah berdiri di seberang rumah sakit selama hampir sepuluh menit. Lalu aku menghela nafas.

 

Pada awalnya aku menuju ke rumah sakit itu, aku sangat yakin dengan keputusanku. Bahwa aku akan menjelaskan semuanya dan mengakhirinya. Tetapi… harus kukatakan padamu, sudah hampir sepuluh menit sejak aku menunggu di seberang rumah sakit itu, aku berputar-putar pada sebuah dilema. Dimulai dari keraguanku tentang bagaimana respon semua orang dengan pengakuanku? Lalu bagaimana jika mereka menghujatku habis-habisan? Apa sebaiknya aku pulang saja? Tetapi aku tidak sanggup jika terus seperti ini. Lalu kembali dari awal lagi.

 

Aku menghela nafas. Entah untuk keberapa kalinya tetapi aku tidak peduli. Persetan dengan apa yang akan terjadi, aku tidak peduli. Aku melangkah menyebrangi jalan menuju rumah sakit, tempat dimana Sungmin oppa dan Rihyo eonni dirawat.

 

Gedung rumah sakit itu masih bercat putih, sama dengan beberapa tahun lalu. Lantainya putih polos, juga sama dengan tahun lalu. Dan saat kau menghirup nafas dalam-dalam, aku dapat menjamin bau aneh akan langsung tercium harum. Itu bau obat-obatan yang mungkin tidak akan ingin kau dengar untuk penyakit apa. Komentarku hanya satu, bahwa tempat itu benar-benar terasa seperti rumah sakit.

 

Maaf selera humorku payah, tetapi aku terlalu gugup untuk membuat lelucon. Saat ini kakiku berhenti melangkah. Aku yakin, sangat yakin bahwa aku menuju lantai yang benar, bahwa aku sedang berniat menuju ke kawar rawat Sungmin oppa. Tetapi kenapa? Kenapa aku melihat Rihyo eonni dengan kursi roda-nya di ujung lorong?. Tubuhnya sangat kurus, dan rambutnya terlihat telah sering rontok. Pandangannya menerawang ke salah satu titik.

 

Saat itu, aku sangat ingin berbalik dan melarikan diri. Tetapi syukurlah kakiku tidak mau bergerak, atau semua usahaku sampai ke sini akan sia-sia. Di tengah lamunanku, tiba-tiba Rihyo eonni menoleh. Tidak perlu diberitahu, jelas dia melihatku. Diluar dugaanku, Rihyo eonni tersenyum. Sangat lemah, tetapi aku mengerti ia bermaksud tersenyum manis padaku.

 

Aku ingin bunuh diri, aku merasa tidak sanggup hidup lagi. Memang terdengar berlebihan, tetapi ketika melihat orang yang kusakiti bersikap begitu baik padaku, aku harus bagaimana?. Entah aku bisa bersyukur atau tidak saat melihat Jungsoo seonsaengnim muncul entah dari mana. Karena aku tidak perlu membalas sikap ramah Rihyo eonni padaku. Tetapi tatapan Jungsoo seonsaengnim terlihat seperti biasa, berkilat-kilat penuh kebencian.

 

Aku menghela nafas. Tanpa sadar helaan nafas itu telah membuyarkan tatapan lima detik kami. Jungsoo seonsaengnim mendorong kursi roda adiknya ke arahku. Mereka tidak menghampiriku, hanya lewat. Kurasa mereka ingin kembali ke tempat dimana mereka seharusnya berada. Dan tempat itu tidak terdengar baik.

 

Aku kembali melangkah. Dan saat aku berada di ujung lorong, aku dapat melihat kamar rawat Sungmin oppa dengan jelas seakan ingin menghantuiku. Di dekat situ ada stan penjual makanan, jadi kurasa mungkin Jungsoo seonsaengnim tadi kesana. Lalu tanpa sadar, aku telah berada di titik di mana kursi roda Rihyo eonni tadi berdiam diri.

 

Kuketuk pintu ruang rawat Sungmin oppa yang tertutup rapat-rapat. Tetapi tidak ada tanda-tanda pintu itu akan terbuka, aku ingin tahu apa Sungmin oppa jalan-jalan keluar seperti biasanya. Atau ia terlalu tidak ingin bertemu denganku hingga menolak membuka pintu?.

 

“Sekarang, dia bahkan tidak bisa berdiri” sebuah suara mengagetkanku. Aku tahu itu suara Sungmin oppa, aku dapat mengenalinya dengan sangat baik. Tetapi saat aku tidak dihadapkan dengannya dan tiba-tiba mendengar suaranya itu sedikit menakutkan.

 

“Rambutnya terlihat lusuh dan sangat berantakan, dia terlihat sangat kacau” terdengar lagi. Aku menoleh berusaha mencari orang yang berbicara, tetapi tidak kutemukan dimanapun. Ini mulai sedikit menakutkan.

 

Oppa?” tanyaku, berharap sosok itu muncul.

 

“Hai” lalu tiba-tiba Sungmin oppa muncul di sampingku. Membuatku hampir meloncat dan menempel di dinding saking terkejutnya. Ia hanya tertawa melihat tingkahku,

“Maksudku, Rihyo. Dia semakin memburuk sejak tiga hari lalu” ujar Sungmin oppa tanpa diminta. Sepertinya dia di luar karena ingin melihat Rihyo eonni. “Masuklah,” ucapnya lagi.

 

Kami masuk ke ruang rawat Sungmin oppa. Jika sampai lima hari lalu aku ke sini untuk bersikap manis dengan kebohongan-kebohonganku, sekarang aku ke sini untuk diinterogasi dengan suka rela dan aku akan jujur seratus persen. Aku duduk di salah satu kursi di samping ranjang, sementara Sungmin oppa duduk di atas ranjangnya.

 

“Aku sudah ingat semua yang terjadi sebelum kecelakaan, Shin Aerin. Aku ingat semua tentangmu, dan ini sedikit mengecewakanku. Aku tidak menyangka gadis sebaik dirimu akan melakukan hal itu. Jadi apa kau ke sini untuk menjelaskannya padaku?” tanya Sungmin oppa sedatar yang bisa dia lakukan.

 

“Begitulah,” ujarku pelan, sangat pasrah. Aku tidak peduli lagi akan apa tanggapan mereka setelah mendengar semua ucapanku. Aku hanya ingin menyelesaikan semua ini jadi aku bisa terbang keluar angkasa untuk kabur. Mungkin… tidak benar-benar keluar angkasa, aku hanya pergi ke tempat yang paling jauh dan memulai hidup sebagai Aerin yang baru.

 

“Jadi, jelaskanlah” ucapan Sungmin oppa mengejutkanku. Sial, di saat-saat seperti ini kenapa aku malah melamun?.

 

“Hmm… jujur, sebenarnya aku tidak berniat melakukan semua skenario keji ini. Begitu aku menyadarinya, aku sudah memohon-mohon pada orang tuamu untuk membantuku dan menjodohkanku denganmu. Sebelum aku sempat menarik kembali kata-kataku, oppa tiba-tiba saja sudah sadar. Dan tanpa kuduga orang tuamu langsung berlagak seperti memang akulah penyelamatmu. Aku ingin segera mengakuinya padamu, tetapi aku hanya tidak bisa. Setidaknya sebentar saja aku ingin berada di dekatmu dan menjadi kekasihmu” jelasku panjang lebar.

 

Kulihat Sungmin oppa hanya memandangku dengan senyum tipis, “lanjutkan” pintanya.

 

“Itu saja. Sebenarnya Rihyo eonni-lah yang menyelamatkan oppa. Eonni mendorongmu menjauh dari jalan raya hingga kepalamu terbentur trotoar. Sedangkan Rihyo eonni tertabrak mobil dan mendapatkan lambungnya pecah. Aku tahu seharusnya oppa berada di samping Rihyo eonni, maafkan aku oppa. Tenang saja karena perjodohan kita hanya bualanku saja, aku juga akan menjelaskan semuanya pada orang tuamu” tambahku.

 

“Ah, tentang itu? Orang tuaku sudah mengatakannya padaku. Mereka tahu kau akan ke rumah sakit dan menjelaskan semuanya. Maka dari itu mereka menolak menjelaskan semuanya padaku. Tetapi aku ingin tahu, kenapa tidak ada yang memberitahuku jika aku hilang ingatan? Maksudku, ini aneh menyadarinya sendiri” ungkap Sungmin oppa.

 

“Itu bukan aku, itu orang tuamu yang menutupi kenyataannya. Oppa mungkin akan merasa curiga dengan apa yang terjadi, oppa mungkin akan menyadari bahwa semua yang terjadi hanyalah kebohongan. Mungkin karena itu orang tuamu menutupinya” kataku jujur.

 

“Begitukah? Mereka tidak mengatakan apa-apa. Hmm… jadi, Shin Aerin, apa kau berniat meneruskan semua ini?” tanya Sungmin oppa memberikanku sebuah tawaran emas. Tawaran yang dengan naifnya dulu langsung kuambil begitu saja. Sungmin oppa memang selalu sangat baik. Entah kenapa sepertinya oppa dan Rihyo eonni mempunyai sifat yang mirip.

 

“Tidak, sudah cukup. Aku memang berencana untuk secepatnya mengakhirinya, jadi tidak perlu. Oppa hanya harus menemani Rihyo eonni sebelum semuanya menjadi lebih buruk, lakukan itu untukku juga” ujarku lalu tersenyum masam.

 

“Aku tahu kau gadis yang baik Shin Aerin” ujar Sungmin oppa sambil tersenyum manis.

 

 

***

-TBC-

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: