Countdown On Fireworks ―Park Rihyo [4-END]

COVER!

Author :  Farisah Fitri Muhyi

Title     :  Countdown On Fireworks Part 4―Park Rihyo

Genre   :  Romance, Angst, Family.

Length :  Chapter

Rated    :  PG-15

Cast      :  Lee Sungmin (Sungmin Super Junior), Park Rihyo (OC), Shin Aerin (OC), Park Jungsoo (Leeteuk Super Junior), Other OCs.

 

Warning :  Karya tulis ini adalah fiksi belaka, setiap nama tokoh yang dicantumkan di dalam cerita semata hanyalah untuk keperluan penulisan belaka. Tidak ada sangkut pautnya dengan keadaan atau kejadian asli yang dialami tokoh-tokoh tersebut.

 

 

Happy Reading~

 

 

***

 

 

 

Aku berbaring di ranjang lagi. Kini aku benar-benar tidak dapat berjalan, rasa sakit di perutku sudah sangat keterlaluan. Aku hampir tidak dapat bergerak karena rasa sakit itu. Yang kulakukan sekarang, dan mungkin untuk seterusnya adalah menatap langit-langit rumah sakit yang berwarna putih tidak menyenangkan.

 

Aku hampir saja menghela nafas panjang, jika tidak kulihat kakakku yang menatap lurus-lurus padaku dengan senyum khawatir. Lalu aku juga balas tersenyum padanya. Entah apa itu membantu karena aku sendiri merasa senyumku sangat lemah dan kaku.

 

Keadaanku menjadi jauh lebih parah sejak tiga hari lalu. Aku tidak tahu pasti, aku hanya mengingat aku sedang menatap keluar jendela lalu tiba-tiba saja semuanya gelap. Lalu saat aku bangun, aku menyadari jarum-jarum di tubuhku jauh lebih banyak dari sebelumnya. Aku hampir menangis menyadarinya, dan melihat kakakku begitu cemas padaku membuatku akan gila.

 

“ Hyo-ah,” panggil kakakku pelan.

 

Mendengar nama kecilku disebut seperti itu membuatku menoleh dan harus memaksakan senyum. Kakakku, disampingku, ikut tersenyum sangat manis seolah tidak ada yang terjadi padaku. Park Jungsoo, kakakku yang lebih tua empat tahun dariku, selalu berada di sampingku. Ia selalu ada untukku, menguatkanku dan tersenyum padaku. Park Jungsoo selalu menjadi kakak yang paling aku sayangi, ia penyelamat hidupku sekaligus pelindungku. Ia segalanya bagiku.

 

“Pastikan oppa akan berbicara kali ini, sudah berapa kali oppa hanya memanggilku dan tidak mengatakan apapun?” jika sekarang adalah empat hari lalu, tentu aku sudah berkacak pinggang. Tetapi mengatakannya saja bagiku sudah seperti menghabiskan lima tahun nyawaku. Tenggorokanku kering dan bibirku pecah-pecah, suaraku terdengar sangat serak. Demi apapun, aku benci terlihat sakit di depan siapapun. Khususnya Jungsoo oppa.

 

“Aku memang hanya ingin memanggilmu, sebenarnya mengganggumu adalah yang paling menyenangkan” Jungsoo oppa tersenyum padaku, lalu menaikkan selimut yang menutupi tubuhku hingga dada. “Tapi sepertinya tidak hari ini, kau harus istirahat, sayang. Jangan mimpi buruk karena malam ini kau tanpaku, oke?” kakakku tersenyum lagi.

 

Aku membalas senyumannya dengan senang hati meski hasilnya tidak seperti yang kuinginkan. Kakakku selalu tersenyum, ia mendorongku dan menguatkanku dengan itu. Tetapi sebenarnya hal itu membuatku bertanya-tanya.

 

Apakah kali ini Jungsoo oppa memang tersenyum dengan sungguh-sungguh atau hanya sekedar untuk tidak membuatku khawatir?. Karena senyum yang ditunjukkannya selalu sama. Setidaknya sekali aku ingin melihat dan benar-benar yakin bahwa itu memang adalah senyumnya, yang ia tujukan untukku.

 

“Sebelum kau pergi, oppa. Bisa kau buka jendela itu untukku?” pintaku sebelum kakakku memakai tas selempangnya dan benar-benar pergi meninggalkanku sendirian semalaman ini. Kakakku tahu benar aku tidak suka di rumah sakit sendirian, tetapi ia tidak bisa berbuat apa-apa karena sedang ada pekerjaan dan aku tidak bisa membujuknya lebih jauh lagi.

 

Kakakku menoleh padaku dengan heran, “Kenapa? Aku tahu sekarang telah musim semi, tetapi udara di luar masih sangat dingin untuk ukuran musim semi” ujar kakakku tidak mengerti. Alisnya berkerut, kurasa sudah hampir menyatu karena heran.

 

“Ayolah, justru karena sekarang musim semi oppa. Ada pohon sakura yang bisa kulihat dari sini, sepertinya bunganya sudah mulai bermekaran. Jadi kumohon, yah?” aku memasang wajah sok manisku. Meski tahu itu tak akan membantu, setidaknya aku sudah berusaha untuk membujuknya mengikuti kemauanku. Tetapi kakakku tetap menolak.

 

“Tidak bisa, kau bisa terserang flu dan kau tahu apa yang akan terjadi jika hal itu menjadi kenyataan bukan?” tanya kakakku serius. Aku sangat mengerti itu lebih dari apapun. Aku benci membahas tentang penyakitku, jadi aku diam. Lalu aku mendengar kalimat kakakku selanjutnya,

 

“Aku yang akan sekarat. Mungkin aku akan dirawat tepat disampingmu besok” ujar kakakku, masih sangat serius. Tetapi ucapannya berhasil membuatku tersenyum dan menuruti ucapannya.

“Tetapi setidaknya aku bisa membuka tirai jendela untukmu. Aku yakin jendela rumah sakit sangat bersih untuk membiarkanmu melihat pohon sakura yang kau sebut dengan jelas” tambah kakakku. Dia tersenyum lagi lalu setelah membuka tirai jendela untukku dan memastikan angin tidak akan membuat jendelanya terbuka, ia pergi.

 

Sekitar lima detik ruangan yang kutempati sangat hening. Dan pada saat itu pula aku merasa sangat dan sangat kesepian. Dan sangat sendirian. Aku benci itu. Aku ingin beranjak dan keluar dari kamar untuk jalan-jalan, menghirup angin malam sepertinya tidak terlalu buruk. Tetapi demi apapun, hanya bergerak sedikit saja perutku rasanya seperti dikoyak pisau. Tentu aku tidak tahu bagaimana dikoyak dengan pisau, hanya saja perihnya kurasa mirip.

 

Aku benci tidak bisa berbuat apa-apa, aku menghela nafas berat lalu melihat ke jendela. Meski jendela rumah sakit dibersihkan setiap saat, bagaimana aku bisa melihat keluar jika ada sedikit embun yang memburamkan penglihatanku?. Sepertinya di luar memang sangat dingin.

 

“Hey, lihat siapa yang datang” suara samar-samar yang kuduga berasal dari luar membuatku menoleh ke pintu yang tertutup rapat. Suaranya dapat kudengar dengan sangat jelas, mungkin karena kamar yang sepi. Aku sangat mengenali suara yang baru berbicara denganku ini. Kupikir kakakku telah pergi beberapa saat lalu, nampaknya belum.

 

“Entah apa ini kejutan yang menyenangkan atau tidak, apa yang membawamu kemari?” tanya kakakku. Aku bertanya-tanya, kira-kira dengan siapa dia sedang berbicara?. Hari sudah malam, aku ragu jika itu teman kakakku. Apalagi udara sedang sangat dingin.

 

“Aku…” suara samar itu terdengar ragu. Mataku membulat mendengarnya, suara itu sangat bukan kakakku. Suara satu itu sangat manis, suara yang terdengar sangat polos. Aku sangat tahu itu suara siapa tetapi aku menolak mengakuinya. Karena semua itu tidak mungkin. Karena orang itu sangat tidak mungkin datang kemari. Apa yang sedang Lee Sungmin lakukan di depan kamarku?.

 

“Ada apa? Kau ingin menanyakan sesuatu lagi padaku?” suara kakakku terdengar ramah. Tetapi aku dapat menangkap sebersit kebencian yang ingin segera mengenyahkan orang yang ada di hadapannya. Kakakku hanya menahan emosinya.

 

“Tidak. Tidak ada yang ingin kutanyakan, karena aku sudah mengingat semuanya. Aku ingin mengunjungi Rihyo, jadi kurasa aku membutuhkan ijinmu hyung,” ujar laki-laki itu takut-takut. Dapat kubayangnya Lee Sungmin yang sedang menggigit bibir sambil tertunduk saat mengatakan itu.

 

Tak terasa air mataku sudah menggunung, bersiap untuk terjun bebas. Kugigit bibir bawahku untuk meredam semua emosiku yang membuncah. Dalam dasar hatiku aku sangat ingin kakakku membiarkan Sungmin masuk. Aku sangat ingin bertemu dan berbincang dengannya, mendengar suaranya. Tetapi sisi lain diriku menolak. Aku tidak ingin laki-laki itu melihat keadaanku yang menyedihkan seperti ini.

 

“Wow, kau sudah ingat? Jadi kenapa kau masih ingin bertemu dengan adikku? Setelah semua ini. Tetapi setidaknya aku menghargaimu karena kau meminta ijinku, karena dengan begitu aku bisa mengatakan ‘Tidak’ dengan cukup jelas padamu” butuh waktu sekitar tiga atau lima detik sampai kakakku mengatakannya. Sepertinya ia sedikit terkejut Sungmin mendapatkan ingatannya kembali, dan butuh sedikit waktu untuk menyusun kalimat.

 

“Kumohon, hyung” pinta Sungmin seketika saat mendengar jawaban ‘tidak’ dari kakakku.

 

“Tidak bisa, kembalilah saat dia menjadi lebih baik. Lagipula saat ini ia sedang istirahat, Sungmin-ah. Kudengar kau keluar dari rumah sakit besok, sebaiknya kau juga istirahat” ujar kakakku sedikit lebih tenang. Kali ini kakakku sudah terdengar seperti seorang ayah, ia bisa memberikan jawaban yang sama seperti yang aku pikirkan.

 

Aku mungkin benar-benar kecewa ucapan itu yang keluar dari mulut kakakku. Tetapi aku lebih tidak suka jika melihat Sungmin menangis atau cemas melihat keadaanku sekarang. Karena keadaanku memang sangat mengerikan dengan jarum-jarum dan selang.

 

Aku yakin Sungmin juga sangat kecewa di luar sana. Cukup hening untuk tiga detik terakhir, tidak ada yang berbicara. Aku hampir mengira pembicaraan tadi hanya bohong karena aku terlalu merindukan Sungmin saat ini. Karena aku ingin Sungmin tidak kehilangan ingatannya dan menemaniku. Sampai sebuah suara samar terdengar lagi di telingaku.

 

“Baiklah, maaf mengganggu waktumu hyung. Kuharap hyung mau menghubungiku saat aku sudah bisa menjenguknya. Dan… hyung, maafkan aku atas semuanya” ujar Sungmin, suaranya sangat rendah. Hampir mustahil mendengar suara itu jika tidak benar-benar diperhatikan. Dari tempatku maksudnya.

 

“Kau tidak perlu meminta maaf, ini bukan salahmu. Hanya lakukan saja apa yang perlu kau lakukan, Sungmin-ah. Aku pergi dulu” ujar kakakku lalu tidak terdengar apa-apa lagi.

 

Jika sekarang adalah empat hari lalu, aku mungkin sedang mengintip perbincangan tadi dengan mata kepalaku sendiri. Dan mungkin akan menjadi kacau saat Sungmin melihatku di balik pintu. Itu pasti dugaan yang bodoh, kenapa aku bisa yakin Sungmin akan melihatku?. Aku hanya bisa menghela nafas sekarang.

 

Ini sangat menyiksa saat aku hanya bisa berandai-andai ‘jika saja sekarang adalah empat hari lalu’ tanpa bisa melakukan apapun. Aku memejamkan mata dan saat itu pula air mata yang telah kupendam mengalir dengan sempurna di pipiku.

 

 

***

 

 

Malam sudah sangat larut, kira-kira hampir tengah malam. Saat itu, ada seorang pasien yang masih terjaga. Ia mengendap-endap agar tidak terdengar oleh orang lain. Matanya was-was mengawasi sekeliling, nampaknya ia tidak mau terpergok siapapun.

 

Lee Sungmin, pasien yang besok akan keluar dari rumah sakit itu keluar dari kamar rawatnya. Melanggar peraturan rumah sakit dengan mengendap-endap ke kamar rawat seorang wanita bukanlah hal yang terpuji. Hanya dari kalimat itu saja bisa menggambarkan hal lain. Dan ya, Sungmin sekarang sedang sembunyi-sembunyi menuju kamar rawatku. Dengan harapan dalam hati bahwa kakakku tidak akan muncul entah dari mana dan menggorengnya.

 

Nama ‘Park Rihyo’ terlihat jelas di mata Sungmin. Kini akhirnya dia sampai di depan pintu kamar rawatku tanpa sepengetahuan siapapun. Misinya akan berhasil apabila ia membuka pintu dan tidak menemukan siapa-siapa di sana. Akan sangat bagus pula jika aku sedang tertidur. Masalahnya kini, Sungmin ragu akan membuka pintu atau tidak.

 

Sungmin sudah merencanakan hal ini setelah kakakku meninggalkan rumah sakit. Sungmin tahu tindakannya tidak masuk akal, jadi Sungmin menyiapkan mentalnya sebaik-baiknya. Setelah menghirup nafas dalam-dalam, Sungmin membuka pintu.

 

‘Kriieettt’

 

Derit pintu saja bahkan dapat membuat Sungmin panik. Ia memelankan gerakannya dan melihat ke dalam. Ruangan terasa sangat sepi, dan kosong. Sungmin mendapati lampu menyala dan tirai jendela yang terbuka lebar. Lalu matanya beralih pada sosok yang dirindukannya sejak satu minggu terakhir.

 

Aku terbaring kaku di ranjang, mataku terpejam, bibirku kering dan rambutku kusam. Tubuhku terlihat sangat kurus dan hal itu sama sekali bukan hal yang Sungmin ingin lihat. Sungmin sedikit ternganga melihat kondisiku. Terdapat selang-selang dan jarum. Aku yakin siapapun tidak akan ingin mendapatkan gambaran pasti tentang ini karena itu sangat… hmm.. sangat membuat siapapun tidak ingin melanjutkan membaca.

 

Alis Sungmin berkerut, tatapannya sayu. Hatinya perih, bagai apapun itu terserah, ia merasa jantungnya ditikam dengan belati. Melihat keadaanku membuat dada Sungmin sesak. Saat Sungmin menghirup nafas berikutnya, ia baru sadar bahwa ia menahan nafasnya sejak beberapa detik lalu.

 

Sungmin tidak dapat berkata apapun saat itu, pikirannya kosong. Ia maju perlahan lalu melihat wajahku dengan lebih dekat. Wajahku yang kurus terlihat semakin kurus saat itu. Lalu entah mendapat keberanian dari mana, Sungmin membelai puncak kepalaku dan mulai terdengar suara isakan.

 

 

***

 

 

Ini buruk. Sudah hampir tengah malam dan aku tidak bisa tidur sama sekali. Hampir saja aku berguling-guling di ranjang jika tidak mengingat ada selang dan apalagi jarum di tubuhku. Aku hanya menghela nafas tidak nyaman.

 

Aku memandang jendela yang semakin berembun dan tiba-tiba saja mengingat Lee Sungmin. Lalu aku menyimpulkan bahwa takdir sangatlah kejam. Aku tidak mengerti kenapa semua ini terjadi padaku, kenapa aku?. Baru saja kupikir hidupku akan berubah, sejak satu tahun lalu aku bertemu dengan Sungmin. Kupikir setelah itu hidupku akan berubah. Maksudku, memang ya, hidupku telah berubah, satu tahun ini sangat menyenangkan. Tetapi lihatlah aku sekarang.

 

 

Tiba-tiba saja sekelebat bayangan saat aku bersama dengan Sungmin hari terakhir itu, saat kami tengah berkencan itu terbayang di otakku. Bagaimana ia memperlakukanku dengan sangat ramah, candaan dan tawanya, wajahnya. Air mataku benar-benar hilang kendali, berulang kali aku memaksanya masuk kembali air mata itu tetap menemukan jalannya untuk kembali lagi.

 

Lalu ketakutan yang kurasakan berkali-kali selama tiga hari terakhir ini kembali menyesakkan dadaku. Dapat kudengar suara ketakutan hatiku sendiri berteriak dengan begitu menyedihkan padaku, bahwa ‘aku tidak ingin kehilangan Lee Sungmin dan kakakku’.

 

Bunyi deritan pintu mengagetkanku. Siapa yang datang malam-malam seperti ini? Kakakku?. Lagipula ini tengah malam, jam kunjungan sudah pasti telah lewat. Jadi kurasa itu tidak mungkin, tetapi siapa lagi yang akan datang?. Untuk berjaga-jaga, aku memejamkan mataku pura-pura telah tertidur lelap.

 

Hampir tiga menit tidak ada suara apapun yang terdengar, sebenarnya siapa yang datang dan mau apa ia kemari?. Aku hampir saja membuka mataku jika tidak kudengar suara derap kaki mendekat. Setelah itu pun kembali hening. Ini sedikit membuatku takut, sebenarnya siapa?. Kurasakan belaian pelan di puncak kepalaku, apa memang ini kakakku?. Tetapi kemudian aku dapat mendengar suara isakan. Hatiku pedih mendengarnya.

 

“Rihyo-ah,” panggilan itu mengagetkanku.

 

Itu jelas bukan kakakku, suara itu sangat manis dan terdengar polos. Suara yang sangat menyayat hatiku dengan nada sedih dan cemasnya. Itu suara Lee Sungmin. Percaya atau tidak percaya, aku sangat yakin itu suaranya. Apa yang dia lakukan di sini?.

 

“Hey Rihyo-ah,” kali ini suaranya terdengar sedikit ceria. Tetapi bagiku, keceriaan itu terkesan sangat dipaksakan. Suara isakannya masih terdengar dari ucapannya, membuat kata-katanya sedikit bergetar.

 

“Cepatlah sembuh, aku menyiapkan sesuatu untukmu saat kau sembuh nanti. Aku tidak akan mengatakannya sekarang karena aku yakin hadiahku akan sangat surprize!. Aku yakin kau akan menyukainya. Jadi, Rihyo-ah, cepatlah sembuh. Kumohon,” suaranya bergetar lagi. Hatiku sudah berteriak histeris sekarang. Ya Tuhan, hatiku perih mendengarnya.

 

Kurasa Sungmin mulai ingin benar-benar menangis, suara isakannya terdengar sangat jelas di telingaku. Lalu hening beberapa detik, tiba-tiba saja kurasakan sentuhan hangat di keningku. Wajahku merona dan semoga Sungmin tidak dapat melihatnya.

 

“Aku sudah berjanji pada kakakmu akan menemuimu setelah kau sembuh. Maafkan aku karena aku sudah terlalu gatal ingin segera melihatmu, jadi kurasa menemuimu saat kau sedang tidur tidak akan apa-apa” sedetik kemudian kudengar helaan nafas berat Sungmin.

 

“Sampai berjumpa lagi denganmu, Rihyo-ah. Aku akan sangat merindukanmu, segera sembuh ya. Aku mencintaimu” ujar Sungmin sambil membelai puncak kepalaku lagi. Dan setelah itu, suara langkah kakinya terdengar semakin menjauh. Tidak lama kemudian, aku sudah yakin Sungmin sudah tidak ada di kamarku.

 

Setelah hening selama lima detik, aku membuka mataku. Kutatap langit-langit kamarku sendu, hampir memasuki alam lamunanku sendiri. Lalu aku menyamankan posisiku dan tertidur dengan cukup nyenyak.

 

 

***

 

 

Sayangnya, tepat dua hari kemudian keadaanku menjadi semakin tidak bisa ditangani. Para perawat mendorong ranjang cepat-cepat ke ruang ICU. Alat pendeteksi detak jantung terdengar sangat berantakan dan wajahku terlihat pucat. Meski begitu kali ini, tidak ada raut kesakitan sama sekali di wajahku. Meski berkeringat sangat banyak, wajahku tetap tenang. Itu karena aku tidak sadarkan diri.

 

Sudah berapa kali aku masuk ICU? Entahlah, hampir berkali-kali dan aku mulai lelah dengan semua ini. Aku tidak mau melihat wajah cemas kakakku lagi, tidak juga dengan ketakutan yang semakin menjadi-jadi setiap harinya. Aku rasa aku tidak akan bisa melihat hadiah yang akan Sungmin berikan padaku. Sepertinya aku tidak akan bisa sembuh.

 

‘Tiiiiiiitttttt’

 

Alat pendeteksi detak jantung itu berbunyi sangat nyaring dengan nada yang monoton. Lalu kekacauan terjadi di ruang operasi itu.

 

 

***

 

 

“Maafkan kami, Jungsoo-ssi. Sangat sulit mengembalikan detak jantungnya saat itu. Apapun yang kami lakukan hampir sia-sia. Suatu keajaiban adikmu bisa bertahan. Memang Rihyo-ssi telah sadarkan diri dan mulai membaik, tetapi kami ragu ia bisa bertahan lebih lama lagi. Karena sejujurnya kami, tim medis, juga tidak tahu bagaimana cara menyembuhkan adik Jungsoo-ssi. Sebesar-besarnya, kami minta maaf”

 

Oppa! Oppa!!” aku merengut sebal, kakakku melamun dan sebenarnya aku tahu karena apa itu. Tetapi aku menolak memikirkan kemungkinan apapun saat ini. Setidaknya untuk saat ini, hari ini, aku tidak akan memikirkan apapun.

 

“Sebenarnya apa sih yang sedang oppa lamunkan? Oppa sudah punya pacar ya?” lalu kulihat kakakku mulai tersadar. Meski bukan karena ledekan ‘punya pacar’ yang dipikirkannya, tetapi ia kembali dari lamunannya di saat yang tidak tepat.

 

“Bagaimana bisa aku punya pacar? Aku harus bekerja untuk membayar biaya hidup kita” ujar kakakku lalu mencubit pipiku pelan. Aku segera menepis tangannya dan merengut.

 

“Sepertinya keadaanmu sudah jauh lebih baik, Hyo-ah. Aku tidak pernah melihatmu banyak tingkah seperti ini” tambah kakakku lagi, terlihat agak heran dengan sikapku.

 

Aku hanya tersenyum membalasnya, senyuman yang paling manis yang bisa kuberikan. Kakakku semakin heran melihatnya, tetapi aku mengacuhkannya. Bunga sakura yang bermekaran terlihat jauh lebih menarik untuk diperhatikan.

 

 

***

 

 

“Kumohon, hyung. Hanya satu malam, kumohon ijinkan aku membawanya keluar. Hanya sebentar saja, ayolah hyung. Kumohon, kabulkan permintaanku satu kali ini saja. Hyung,” rentetan permohinan itu kudengar samar dari telingaku. Mataku perlahan terbuka dan melihat kakakku dan Sungmin sedang berdebat di sampingku.

 

Kesadaranku baru saja pulih, jadi aku tidak dapat mencerna dengan baik apa yang sedang kakakku dan Sungmin bicarakan. Satu hal yang dapat aku tangkap dari apa yang kulihat. Bahwa Sungmin sedang berlutut memohon pada kakakku, dan aku tidak suka melihatnya. Kakakku yang memunggungiku terlihat hanya berdiri diam, seolah tidak mempedulikan Sungmin.

 

“Apapun yang kau katakan, tidak bisa Sungmin-ah. Keadaannya menjadi lebih buruk sekarang, tunggulah sampai dia sembuh nanti.” Ucap kakakku tegas.

 

Hyunghyung, kumohon hyung, satu kali ini saja. Hanya satu malam kumohon kabulkan permintaanku hyung. Mendengar jantungnya pernah berhenti berdetak sekali membuatku sangat takut. Aku takut semuanya akan menjadi sangat terlambat jika aku menunggunya sembuh untuk menemuinya. Kumohon hanya satu kali saja hyung, biarkan aku membawanya keluar” Sungmin meminta dengan sangat, berharap kakakku mengabulkan permintaannya.

 

Dari rentetan kalimat itu, aku dapat memahami apa yang sedang terjadi. Sepertinya Sungmin berniat membawaku keluar dalam waktu dekat ini dan kakakku tidak memperbolehkannya. Seperti janji yang telah mereka sepakati tiga hari lalu, Sungmin hanya bisa menemuiku saat aku sudah sembuh.

 

“Jadi, apa kau sedang mengatakan padaku bahwa adikku tidak akan sembuh?” tanya kakakku terdengar sedang menahan amarahnya.

 

Sungmin mendongakkan kepalanya dan memandang kakakku terkejut. Aku tahu bukan itu yang ingin dikatakannya, itu hanya ketakutan yang menjalarinya. Aku sangat mengerti perasaan itu, jadi aku tidak berkomentar apapun. Aku segera memalingkan wajahku, pura-pura tertidur sebelum mereka berdua memergokiku telah bangun sejak tadi.

 

“Berdirilah,” hening sejenak, kukira ia menunggu Sungmin berdiri.

“Aku juga sangat mengerti perasaanmu, Sungmin-ah. Jadi kumohon tunggulah sampai dia sembuh. Kau tahu, aku hampir gila setiap hari memikirkan kemungkinan terburuk yang dokter katakan. Jadi Sungmin-ah, setidaknya biarkan aku percaya bahwa Rihyo… pasti sembuh” ucapan kakakku bergetar, ia dengan mati-matian memendam perasaannya yang tiba-tiba ingin segera tumpah ruah.

 

Hening, aku juga hening di tempatku. Hanya menerawang ke arah jendela, dimana kulihat bunga sakura tertiup angin sepoi. Sambil menanti kata-kata apa yang akan aku dengar. Tetapi hampir selama dua menit, tidak ada yang berbicara. Mereka tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing, begitu juga aku.

 

“Tetapi hyung, maafkan aku. Bukannya aku tidak percaya Rihyo akan sembuh. Tetapi kumohon dengan sangat, ijinkan aku membawanya keluar. Aku akan terus memohon padamu sampai kau mengijinkanku hyung. Satu kali ini saja kumohon, ijinkan aku membawanya keluar” suara Sungmin terdengar sangat yakin kali ini.

 

Hening, kurasa sebentar lagi kakakku akan mengatakan ‘Tidak’ sekali lagi. “Biarkan dia, oppa” ucapanku memecah keheningan saat itu dengan keheningan yang lebih mencekam. Aku menoleh dan mendapati kakakku dan Sungmin melihat kearahku dengan tatapan tidak percaya.

 

“Oh, Tuhan. Kesalahanku karena tidak membicarakan ini di luar. Jadi kau sudah bangun?” tanya kakakku menyapa.

 

“Kumohon biarkan dia melakukannya, oppa” ujarku sekali lagi. Kutatap mata kakakku lekat. “Aku tidak pernah meminta apapun darimu sampai sekarang, jadi kumohon. Biarkan Sungmin oppa membawaku keluar” tambahku.

 

Kakakku terlihat diam, ia sedang serius memikirkan ucapanku. “Baiklah, terserah. Pastikan anak bandel ini tidak masuk angin atau cidera apapun. Jika itu sampai terjadi, kupastikan kau akan segera memesan peti untuk kuburanmu” ujar kakakku panjang lebar. Ia terlihat sangat tegas.

 

“Baik, hyung. Akan kupastikan aku mengembalikannya saat semuanya selesai. Aku janji tidak akan lama” ujar Sungmin senang. Ia melihat kearahku dan tersenyum lembut.

 

 

***

 

 

“Aku tahu Sungmin oppa akan mengajakku keluar, tetapi aku tidak pernah tahu jika itu malam ini” ujarku heran. Lalu kulihat kakakku menatapku emosi.

 

“Sebenarnya kau mendengarkan tidak sih?” tanya kakakku geram.

 

“Hahaha, maaf-maaf. Tetapi sebenarnya hari apapun itu kurasa tidak masalah. Aku akan tetap pergi. Terima kasih telah mengijinkanku, oppa. Aku sangat menyayangimu” ujarku tulus. Aku tersenyum lebar dan melihat ke arah Sungmin yang telah berpakaian rapi di depan pintu.

 

“Jika seperti ini baru kau bilang kau menyayangiku? Hey, bocah keras kepala, jaga adikku baik-baik” ujar kakakku dengan masam lalu mendorong kursi rodaku ke arah Sungmin oppa. Sungmin oppa tersenyum dan mengangguk mengiyakan.

 

“Ya ampun, ini dramatis sekali, aku baru saja merasa seperti telah menikah. Oppa mengantarku, membawaku ke Sungmin oppa dan berpesan untuk menjagaku dengan baik. Ini sungguh mirip” ujarku berniat bercanda.

 

“Dasar gadis kecil. Jika saja kau tidak sedang sakit sekarang, aku akan menghabisi kepalamu sampai botak” ujar kakakku sebal, tetapi kemudian kulihat senyum di wajahnya.

 

Sungmin oppa tersenyum lalu mendorong kursi rodaku ke tempat yang dimaksudkan. Tempat itu adalah taman di belakang rumah sakit. Aku sangat mengenal tempat itu karena aku sering berdiam diri sendirian di sana. “Di sini aku pertama kali bertemu denganmu di rumah sakit ini. kau sedang melamun dan tanpa sadar aku kesini setiap hari untuk melihatmu” ujarnya.

 

Pipiku merona mendengar ucapan Sungmin. “Waahhh” ujarku kagum melihat lampion-lampion yang tergantung di pohon-pohon. Bunga sakura yang bermekaran terlihat menjadi warna lavender saat diterangi lampion tersebut. Dan itu sangat indah.

 

“Tunggu, jangan senang dulu! Bukan ini yang ingin kau lihat. Hadiahku akan segera datang beberapa saat lagi” ujar Sungmin oppa memberitahu. Ia menoleh padaku dan tersenyum, senyum yang bercampur dengan khawatir.

 

Kurasa aku mengerti apa yang membuat senyum Sungmin oppa menjadi begitu cemas. Karena aku juga merasakannya. Aku, maksudku, kami, merasa bahwa saat hitungan mundur sampai hadiah Sungmin oppa muncul, juga adalah hitungan mundur untukku. Itu bukan perasaan yang menyenangkan, tetapi aku hanya bisa membalas senyumnya dengan senyum terbaikku.

 

“Dua… Satu…” hitung Sungmin oppa dan kemudian, pada pukul delapan malam tepat saat itu, kembang api mulai terlihat bermunculan di langit. Sudutnya sangat tepat dan kembang api itu kurasa meluncur bukan asal-asalan. Mereka muncul berurutan tetapi membuat bentuk yang sangat indah. Aku memang sangat ingin melihat kembang api, sejak dulu.

 

Sungmin oppa melihatku, seakan memastikan aku masih ada di sampingnya. “Kau ingin tahu kembang api itu meluncur di mana?” tanya Sungmin oppa.

 

“Ehh? Aku harus tahu? Memangnya dimana?” tanyaku heran.

 

“Itu di perpustakaan kota, tempat pertama kali kita bertemu” ujar Sungmin sambil tersenyum padaku. Ia membelai puncak kepalaku lalu kembali melihat ke angkasa. Langit hitam itu kini penuh dengan cahaya menyenangkan dan perpaduan dari lampion-lampion di taman saat itu membuatnya semakin sempurna. Sungmin oppa memang pandai untuk hal seperti ini.

 

Lalu saat kembang api hampir selesai, Sungmin oppa kembali menoleh padaku. Lalu pandangannya menangkap aku yang sedang tertidur di kursi roda. Sungmin oppa tersenyum dengan keningnya yang berkerut. Matanya memerah dan ia menghela nafasnya sambil melihat kembali ke langit yang saat ini sudah kembali tenang.

 

“Selamat jalan, Rihyo-ah. Semoga kau dapat beristirahat dengan bahagia setelah melihat hadiahku. Aku bersyukur kau hadir dalam hidupku, aku mencintaimu” ujar Sungmin pelan.

 

 

 

-THE END-

 

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: