Family

Family

Author: Haebaragi86

Length: OneShot

Cast: Donghae Kibum Kyuhyun Leeteuk Park-Hana

Genre: Brothership Family

.

.

.

Langit itu tak lagi biru. Awan itu tak lagi putih. Angin yang bertiup tak lagi menyejukkan, cenderung membawa hawa dingin. Tetes demi tetes air mulai jatuh dari awan yang sudah tak mampu lagi membendung uap air. Bau tanah yang basah sekita menyeruak ketika air yang jatuh semakin banyak. Membuat suasana menjadi tenang dan damai. Namun kenyataannya, orang-orang justru menjadi kalang kabut mencari tempat berlindung. Berlindung agar tubuh mereka tidak basah oleh air mata langit yang jatuh semakin banyak. Mereka semua berlarian menuju halte bis atau emperan toko terdekat untuk berteduh. Banyak dari mereka yang mengumpat akibat perjalanan mereka yang terhenti. Mengapa? Bukankah hujan adalah berkah dari Tuhan? Tidakkah seharusnya mereka bersyukur katika hujan datang mengguyur?

Tidak semua orang akan kesal dan marah ketika hujan datang. Alam harus berjalan seimbang. Maka jika ada orang yang tidak mensyukuri berkah Tuhan, pasti ada pula orang yang selalu bersyukur atas apa yang telah Tuhan berikan. Dia salah satunya. Anak kecil berjenis kelamin laki-laki, yang mempunyai sorot mata teduh dan bibir tipis berwarna merah muda alami. Anak yang tak memiliki takdir seindah anak-anak lain diusianya. Dialah Lee Donghae, bocah kecil berusia sepuluh tahun yang hidup sebatang kara bersama adiknya di dunia yang kejam ini. Tanpa orang tua, tanpa saudara, dan tanpa keluarga terdekat. Dia yang hanya hidup bersama adiknya yang masih berusia delapan tahun itu selalu tersenyum bahagia ketika hujan tiba. Baginya hujan adalah anugerah terbesar yang Tuhan berikan untuknya. Karena saat hujan turun, saat itulah Tuhan juga menurunkan rezeki untuknya.

Donghae akan segera berlari keluar ketika awan mendung mulai terlihat menggantung di atas langit. Setelah menidurkan adiknya, bocah kecil itu mengambil payung usang miliknya dan pergi ke daerah yang sekiranya ada banyak orang di sana. Seperti saat ini, Donghae ada di sana. Di tengah-tengah hujan deras yang mengguyur kota Seoul. Anak kecil itu berdiri di depan sebuah toko di mana ada banyak orang yang sedang berteduh di sana. Tubuhnya yang hanya berbalut kaos kebesaran berwarna putih yang sudah lusuh dan penuh tembelan dimana-mana menggigil kedinginan. Payung yang ada tidak ia gunakan untuk melindungi tubuhnya. Dia justru meminjamkan payung itu kepada orang yang ingin segera pergi dari toko itu.

Ojek payung adalah pekerjaan Donghae di musim hujan seperti ini. Setelah ibunya pergi menyusul ayahnya yang sudah meninggal satu tahun lalu, Donghae harus belajar bagaimana caranya mendapatkan uang untuk bertahan hidup. Di usianya yang masih sangat belia, Donghae sudah harus membanting tulang untuk menghidupi dirinya dan adiknya yang masih kecil. Hidupnya yang seharusnya masih didominasi oleh masa sekolah dan bermain harus tergantikan dengan bekerja dan bagaimana cara bertahan hidup. Tetapi, berkat kesungguhannya, berkat keteguhan dan usaha kerasnya, Donghae bisa bertahan. Bahkan setelah satu tahun ini Donghae bersama adiknya masih bisa menghirup oksigen dengan gratis.

Sudah satu jam sejak hujan deras mengguyur Seoul, maka sudah banyak orang yang menyewa payung Donghae. Anak kecil itu tetap tersenyum dengan bibirnya yang mulai membiru dan bergetar. Dia kedinginan, seluruh tubuhnya hampir mati rasa tapi, hujan belum memberikan tanda-tanda akan berhenti. Mungkin Tuhan akan memberikan lebih banyak rezeki untuknya hari ini. Lumayan, uang lebihnya bisa ia tabung untuk adiknya agar bisa sekolah lagi. Donghae ingin adiknya kelak menjadi orang yang sukses agar bisa hidup enak. Bisa membeli semua yang diinginkan sesuka hati. Dia tidak akan membiarkan hidup adiknya susah. Cukup dia saja yang merasakannya. Rasa lelah dan putus asa ini tidak akan ia bagi dengan adiknya.

Angin yang berhembus cukup kencang membuat Donghae semakin menggigil kedinginan. Bocah kecil itu memeluk tubuhnya sendiri untuk membuat tubuhnya sedikit menghangat. Kaki kecilnya melangkah kaku mengikuti seorang pria paruh baya berstelan jas yang menyewa payungnya. Donghae melirik tas makanan yang dibawa oleh pria itu. Seketika Donghae teringat jika dia belum makan seharian ini. Ah, pantas saja ia merasa perutnya keroncongan.

Donghae yang sedang membayangkan kiranya makanan lezat apa yang ada di dalam tas itu tidak menyadari ketika Sang Pelanggan menatapnya.

“Hei nak! Mendekatlah kemari!” Pria itu menarik Donghae hingga bocah itu juga berada dalam lindungan payungnya. Donghae tersentak dan menatap pria itu bingung.

“Jangan hujan-hujan terus seperti ini, kau bisa sakit, kau tahu kan? Lihat! Kau sudah menggigil. Sebaiknya kau pulang setelah ini.” Donghae hanya diam. Dia tidak tahu harus menanggapinya seperti apa. Jika bisa Donghae juga ingin pulang. Dia lapar dan juga kedinginan. Tapi, jika pulang sekarang, itu namanya membuang rezeki.

Ne ahjussi.” Donghae hanya menjawab sekenannya.

Kemudian, pria itu dan juga Donghae berjalan beriringan. Sesekali peria berjas itu melirik iba ke arah Donghae yang masih menggigil. Hatinya merasa miris melihat anak seusia Donghae sudah harus berkerja keras seperti itu. Sempat ia bertanya dalam hatinya, kiranya kemana orang tua anak ini? Bagaimana bisa ada orang tua yang membiarkan anaknya berkerja di tengah hujan lebat seperti ini.

“Siapa namamu bocah kecil?” pria itu bertanya penasaran. Donghae sedikit takut karena ia tidak mengenal orang ini. Dia ingat eomma-nya selalu berkata bahwa dia dan adiknya tidak boleh berbicara dan menerima pemberian orang asing. Tapi, orang ini mengajaknya berpayung bersama dan kalau Donghae tidak salah orang ini juga perhatian padanya. Itu sudah menjadi bukti yang cukup bahwa pria ini bukan orang jahat. Selain itu, Donghae juga dapat melihat dengan jelas ketulusan dari sorot mata pria di sampingnya ini.

“D-Donghae. Namaku Lee Donghae.” Jawab Donghae dengan suara yang gemetar dan sangat sopan. Meskipun Donghae sudah berhenti sekolah, bocah itu tidak pernah lupa untuk bersikap sopan kepada orang yang lebih tua.

“Nah, Lee Donghae perkenalkan, namaku Park Jungsoo tapi biasa dipanggil Leeteuk. Ah, berapa umurmu? Sepertinya kau sepantaran dengan anakku.”

“Umurku sepuluh tahun ahjussi.”

“Tuh kan benar! Anakku juga berusia sepuluh tahun. Kalian bisa menjadi teman.”

“Siapa nama anak ahjussi?”

“Kibum. Park Kibum namanya. Tapi, kau juga harus berkenalan sendiri nanti.” Pria itu menggerling kepada Donghae membuat bocah itu tersenyum geli. Usia pria itu sudah tidak muda lagi, tapi tingkahnya sungguh seperti bukan pria dewasa. Pria dengan dimple di pipinya ini adalah pria yang baik dan sangat menyenangkan. Itulah pikiran Donghae.

“Baiklah.”

“Tadi aku meninggalkannya di mobil saat ingin membeli makan. Dan tanpa kuduga aku malah terjebak hujan di toko tadi. Ah… dia pasti marah padaku karena aku meinggalkannya terlalu lama.” Donghae bisa melihat mimik wajah pria itu yang berubah khawatir.

“Kenapa ahjussi tidak mengajaknya pergi bersama?” Donghae merasa hangat meskipun tubuhnya masih kedinginan. Pria ini, mengingatkannya dengan ayahnya. Dan berbicara dengan pria ini membuatnya merasa hangat.

“Dia tidak mau. Dia bilang malas berjalan. Dia memang aneh dan pendiam, bahkan cenderung dingin pada orang lain. Kurasa itu karena gen istriku. Kau lihat kan kalau aku adalah orang yang banyak bicara? Jadi tidak mungkin itu karena gen yang kuturunkan. Satu-satunya yang menurun dariku hanya wajahnya yang tampan saja.” Pria ini memang banyak bicara dan periang. Sama seperti ayahnya. Dan ayahnya menurunkannya secara keseluruhan padanya.

Wae? Kenapa kau tertawa?” Leeteuk semakin kesal karena curhatannya malah ditertawakan Donghae.

Ahjussi, kau lucu sekali. Kau sudah dewasa tapi kenapa seperti anak kecil begitu?” Donghae menahan tawanya. Bocah itu senang, senang bisa tertawa lagi seperti ini. Dan senang karena rasa rindu pada ayahnya sedikit terobati oleh hadirnya pria itu.

“Tsk! Dasar kau ini.” Leeteuk berdecak kesal, namun setelahnya ia tersenyum. Melihat senyuman Donghae entah mengapa membuatnya ingin tersenyum juga. Leeteuk tahu hidup yang dijalani Donghae berat. Pria bermata coklat itu bisa melihatnya dengan jelas dari tatapan mata Donghae. Anak kecil itu terlalu jujur dan polos.

“Ah, itu mobilku!” Leeteuk menunjuk sebuah mobil sedan berwarna hitam yang terlihat mewah terparkir rapih di depan sebuah gedung besar. Toko tempat Leeteuk membeli makanan tadi memang sedikit masuk ke jalanan kecil. Sehingga pria itu lebih memilih untuk berjalan saja.

Tok Tok Tok

Leeteuk mengetuk keca mobil depan, tempat anaknya duduk. Jendela mobil terbuka dan tampaklah seorang anak laki-laki dengan hidung mancung dan mata yang memancarkan aura sedingin es sedang menatap Leeteuk kesal.

“Lama sekali!” protes bocah kecil itu. Donghae ingat namanya Kibum.

“Ayah terjebak hujan Kibum-ah. Ini saja ayah menyewa payung.” Leeteuk teringat Donghae ketika mengucapkan ‘menyewa payung’. “Oiya, ada teman baru untukmu.” Kibum mengerutkan dahinya heran. Teman baru?

“Buka pintunya!” titah Sang Ayah dan Kibum menurut saja. Dia membuka pintu mobilnya sedikit agar air hujan tidak membuatnya basah. Meskipun sebenarnya ada Leeteuk yang memayunginya dengan payung Donghae dan membiarkan bocah kecil itu kembali diguyur hujan.

“Hei kemarilah!” Leeteuk memanggil Donghae yang berdiri tenang di belakangnya.

Donghae mendekat dan bisa melihat semakin jelas seperti apa Park Kibum itu. “Hai! Aku Lee Donghae.” Donghae mengulurkan tangannya kepada Kibum tapi, Kibum justru memandang Leeteuk.

“Ayo kenalkan dirimu Kibum-ah!”

Kibum menatap tangan pucat Donghae. Telapak tangan yang kurus itu sudah mengerut karena kedinginan. Perlahan Kibum menjabat uluran tangan itu dan berucap “Aku Park Kibum.”

“Salam kenal Kibumie.”

Senyuman dari bibir tipis yang gemetar dan sapaan hangat itu, Kibum terpaku karenanya. Belum pernah ada yang memanggilnya seperti itu selain orang tua dan kakek-neneknya. Belum pernah ada temannya yang tersenyum sehangat dan setulus itu padanya. Teman-temannya berteman dengannya hanya karena dia kaya, karena dia pintar, dan karena dia tampan. Senyuman yang teman-temannya berikan padanya hanya sebuah senyum palsu. Senyuman yang hanya manis di depan wajah Kibum saja.

Lee Donghae. Sejak hari ditengah hujan itu, Park Kibum telah menjadikannya teman. Teman yang sesungguhnya. Teman yang akan berbagi suka maupun duka bersamanya. Lee Donghae, Kibum bertekad akan menjaga teman satu-satunya itu.

Matahari telah menyapa. Sinarnya yang kemilau perlahan menyinari Seoul yang gelap. Berkas cahaya itu menyebar ke seluruh penjuru. Semua mendapat pencahayaan dari Sang Bintang Besar, tak terkecuali rumah kecil Donghae. Embun terlihat membentuk titik-titik air pada genting rumah dan dedaunan. Cicitan burung juga mengiringi kehangatan sinar matahari yang mulai menyebar.

Donghae menggeliat tak nyaman dalam tidurnya. Tubuhnya menggigil kedinginan. Rambutnya yang berwarna kecoklatan basah oleh keringat dingin. Napasnya terasa panas dan memburu. Wajahnya terlihat semakin pucat ketika cahaya semakin terang. Donghae di ambang batasnya. Tubuhnya berontak setelah dua hari berturut-turut terguyur hujan berjam-jam. Kelopak mata Donghae terbuka ketika bocah itu merasakan badannya panas dingin. Tangannya memijat keningnya karena rasa pusing yang menyerang.

Bocah itu melirik ke samping dimana adiknya masih tidur dengan lelap. Ketika melihat wajah polos Sang Adik semangatnya tumbuh menggebu. Rasa sakit di tubuhnya seolah hilang bersamaan dengan embun yang menguap. Kyuhyun-adiknya, adalah sumber kekuatannya. Baginya asalkan Kyuhyun baik-baik saja maka dia akan baik-baik saja.

Donghae beranjak meskipun dengan sedikit terhuyung. Anak kecil itu berjalan ke dapur dan melihat apakah ada sedikit beras yang bisa dimasak. Donghae mencelos saat mendapati tempat beras dalam keadaan bersih. Tidak ada beras, itu artinya pagi ini dia dan adiknya tidak bisa sarapan. Tidak. Kyuhyun tidak boleh tidak sarapan. Dia masih dalam tahap pertumbuhan, maka Kyuhyun harus sarapan meskipun itu hanya dengan sepotong roti. Hei, Donghae bahkan rela tidak makan asalkan Kyuhyun bisa makan. Tidakkah dia juga tahu bahwa dirinya sendiri juga dalam masa pertumbuhan? Namun yang nomor satu bagi Donghae tetaplah Kyuhyun.

Donghae kembali ke kamar sambil berpegangan pada tembok. Tubuhnya terasa lemas sekali padahal dia tidak lapar. Donghae berjongkok sebentar ketika merasa pendangan matanya berputar-putar. Dia memukul-mukul pelan kepalanya, berusaha mengusir rasa pusing itu. Donghae tidak boleh mengeluh. Donghae tidak boleh terlihat sakit di depan Kyuhyun. Karena Donghae tidak ingin membuat adiknya khawatir, tidak ingin membuat adiknya menangis karena ketakutan melihatnya sakit.

Hyung kenapa?” Donghae tersentak dan dia mendongak kaget. Kyuhyun sudah berdiri di depannya sambil menatapnya khawatir.

Adik kecil Donghae itu bukannya tidak mengerti dengan keadaan keluarganya. Dia tahu dan sangat mengerti walapun dia diam. Dia tahu hyung-nya setiap hari berkerja membanting tulang agar ia bisa makan tiga kali sehari. Kyuhyun juga tahu hyung-nya kelelahan. Khyuhyun tahu hyung-nya menanggung semua bebabannya sendiri. Namun, Kyuhyun hanya ingin menurut pada hyung-nya dan dia juga tidak ingin membuat Donghae semakin kesusahan. Anak kecil seperti dirinya masih belum bisa melakukan apapun dengan benar. Anak kecil sepertinya hanya bisa diam dan menuruti perkataan orang yang lebih tua darinya.

Hyung-nya yang baik dan tampan itu selalu berkata bahwa semua akan baik-baik saja jika mereka bersama, jadi dia tidak boleh takut dan meanagis. Donghae juga berjanji akan selalu melindunginya. Maka Kyuhyun percaya dan hyung-nya itu memang membuat semuanya baik-baik saja, membuat Kyuhyun selalu merasa aman dan nyaman ketika bersamanya. Kyuhyun tidak perlu orang lain. Dia hanya perlu Donghae berada di sampingnya. Selalu.

“Kyunie, kau sudah bangun?” Donghae tersenyum dan berdiri dari posisinya. Dia mengusap lembut surai Sang Adik yang terlihat kusut.

Hyung tidak apa-apa?” Kyuhyun masih terlihat khawatir karena dia melihat wajah Donghae yang begitu pucat.

Lagi-lagi Donghae tersenyum lembut. Senyuman itu selalu membuat Kyuhyun tidak mampu berkata apa-apa lagi. Senyuman yang diwarisi hyung-nya dari Sang Ibu itu selalu bisa membuat Kyuhyun tenang. “Hyung baik-baik saja Kyuhyunie. Hanya sedikit lelah.” Maka Kyuhyun mencoba percaya bahwa hyung-nya memang baik-baik saja.

“Ayo kita mandi bersama! Setelah itu kita keluar untuk mencari sarapan.”

Iris hitam Kyuhyun berbinar ketika mendengar ajakan Donghae untuk mandi bersama. Kyuhyun tidak suka sendirian sekalipun itu mandi. Adik kecil Donghae itu selalu meminta untuk mandi bersama. Apa lagi sejak ibunya meninggal tidak ada lagi yang akan memandikannya. Maka dengan senang hati Donghae akan selalu mengajak Kyuhyun mandi berdua. Lebih cepat dan mereka dapat bergurau sambil mandi.

Ne kajja!” Kyuhyun menarik lengan Donghae tidak sabar membuat bocah bermata teduh itu terkikik geli. Adiknya benar-benar lucu dan membuatnya gemas. Pipinya yang gembung berwarna merah itu membuat Donghae selalu ingin mencubitnya. Mata bulat dan bening yang selalu memancarkan kejujuran dan kepolosan itu selalu memacu semangat Donghae agar tidak membuatnya tehalangi oleh air mata.

Hyung jangan!” Kyuhyun berusaha menangkis serangan busa sabun yang bertubi-tubi dari Donghae. Ya, mereka sedang perang busa sabun saat ini. Dua saudara kecil itu terlihat bahagia diantar busa-busa sabun yang menutupi tubuh mungil mereka.

“Ugh! Mataku jadih perih Donghae hyung.” Kyuhyun mengaduh ketika serangan busa sabun Donghae sedikit mengenai matanya. Seketika itu Donghae menjadi cemas.

“Ah, mian. Sini hyung bersihkan.” Donghae mengambil segayung penuh air bersih lalu menyiramkannya perlahan ke wajah Kyuhyun. Saat itu, ketika kedua tangan Donghae sedang sibuk membersihkan wajah Kyuhyun dari busa sabun, saat itulah Kyuhyun menyiratkan busa sabun yang sangat banyak ke wajah Donghae.

“Argh! Kyuhyunie, apa yang kau lakukan?!” pekik Donghae seketika. Ia merasakan matanya pedih luar biasa. Spontan ia menyiramkan sisa air dalam gayung itu ke wajahnya.

“Yey! Rasakan itu! Hahaha….” Di sisi lain Kyuhyun justru tertawa terbahak-bahak. Puas karena sudah menyerang Donghae dengan telak.

“Kau curang Kyu!” memberenggut kesal, Donghae tidak terima Kyuhyun mencuri kesempatan ketika dia sedang lengah.

Kyuhyun berusaha menghentikan tawanya. “Aku tidak peduli. Hahaha…” dia tertawa lagi. Donghae yang tidak terima ditertawakan seperti itu menjadi kesal dan gantian menyirati Kyuhyun dengan busa sabun. Kyuhyun pun membalasnya tak kalah brutal.

Mereka tertawa bahagia di bawah atap rumah kecil mereka. Mereka melupakan sejenak semua perasaan yang mengganggu dengan tawa dari bibir mungil mereka. Izinkanlah mereka bahagia sejenak saja diantara kesulitan yang menghimpit mereka.

Donghae berjalan terhuyung mendekati Kyuhyun sambil membawa handuk dan pakaian Kyuhyun di tangannya. Rasa pusing di kepalanya datang lagi dan kali ini menyerang lebih hebat. Donghae tahu tubuhnya sedang tidak baik-baik saja. Tapi bocah kecil itu memaksakannya.

“Pakai bajumu Kyu. Setelah ini kita keluar untuk sarapan.” Kyuhyun mengangguk sambil mengeringkan tubuhnya dengan handuk pemberian Donghae. Donghae yang sudah berpakaian rapih membantu Kyuhyun untuk memakai bajunya.

Rasa cemas kembali hinggap di hati Kyuhyun tak kala ia melihat Donghae sesekali memijat pelan keningnya. Kyuhyun tahu hyung-nya tadi berbohong. Kyuhyun tahu bahwa sebenarnya saat ini Donghae sedang sakit.

Hyung, biar aku saja yang membeli makan ya? Sepertinya hyung sedang tidak enak badan. Wajah hyung pucat sekali.” Kata Kyuhyun polos. Donghae yang mendengarnya kembali tersenyum hangat. Betapa pengertian adiknya ini.

Hyung tidak apa-apa Kyuhyunie. Kita akan membeli makan bersama.”

Hyung jangan bohong lagi.” Kyuhyun menduduk sedih. Selalu seperti ini. Hyung-nya selalu mengatakan bahwa dia baik-baik saja padahal kenyataannya tidak. Donghae tidak pernah mau menunjukkan rasa lelah dan sakitnya di depan Kyuhyun.

“Kyu, hyung tidak berbohong kok. Hyung tidak apa-apa. Memang sedikit lelah tapi hyung baik-baik saja. Tidak mungkin hyung membiarkanmu pergi sendiri. Kau mengerti kan?” Kyuhyun bisa merasakan tangan Donghae yang panas menyentuh pipinya. Lalu, mengapa hyung-nya ini masih berkata bahwa dia baik-baik saja? Kyuhyun ingin menangis, betapa Sang Hyung tidak ingin membuatnya cemas. Betapa Sang Hyung sangat mencintainya.

Hyung berjanji akan baik-baik saja?”

Ne. Hyung berjanji.” Donghae mengacungkan jari kelingkingnya agar disambut oleh jari kelingking Kyuhyun. Mereka membuat tautan jari kelingking sebagai tanda perjanjian. Sekali lagi Kyuhyun percaya, lebih tepatnya ia meyakinkan dirinya sendiri bahwa Donghae memang akan baik-baik saja.

Gumpalan awan putih itu berarak mengiri langkah kecil Donghae dan Kyuhyun. Awan itu seolah ingin menjadi pelindung mereka dari panasnya sinar matahari yang menyengat. Tautan tangan mereka tidak lepas dan menjadi pemanis dalam setiap langkah mereka.

“Kau ingin makan apa Kyu?” jika saja mereka orang yang mempunyai banyak uang maka Kyuhyun akan menjawab berbagai jenis makanan yang ingin ia makan. Tapi Kyuhyun mengerti mereka tidak punya uang. Bahkan untuk makan sebanyak tiga kali sehari saja sudah sulit untuk mereka.

“Apapun. Yang penting bisa membuat perut kenyang.” Kyuhyun nyengir lebar namun, Donghae justru tersenyum miris. Donghae tahu adiknya tidak ingin membebaninya. Dia tahu bahwa Kyuhyun sangat menginginkan makan roti di toko roti yang paling besar dan terkenal di Seoul. Untuk itulah Donghae berkerja mati-matian dua hari ini. Setidaknya walau sekali Donghae ingin membuat Kyuhyun senang. Senyum bahagia di wajah Kyuhyun, Donghae ingin melihatnya. Dan Donghae juga ingin Kyuhyun merasa bangga karena memiliki hyung sepertinya.

“Baiklah kalau begitu.” Dongahe mengusak gemas rambut Kyuhyun.

Di sinilah mereka berdiri sekarang. Di depan sebuah toko roti paling terkenal di Seoul. Toko yang menyediakan berbagai bentuk roti dengan rasa yang beragam. Disinilah surga para pencinta roti. Kyuhyun menatap jejeran roti lezat di estalase toko sambil menjilat bibirnya sendiri. Hampir saja air liurnya menetes karena tidak sanggup menahan aroma roti yang menguar ke mana-mana. Donghae tersenyum geli melihat adiknya itu. Ada beberapa lembar uang won dalam saku celananya, hasil jerih payahnya kemarin. Semoga itu cukup untuk membeli roti yang Kyuhyun inginkan.

“Hei jangan hanya menatapnya saja. Lihat! Air liurmu itu akan membanjiri tempat ini. Cepat pilih satu!”

Mata Kyuhyun membola dengan sempurna. Dia terkejut ketika Donghae menyuruhnya memilih salah satu roti di sana. Apa itu artinya hyung-nya akan membelikannya roti yang ada di sana itu? Tapi, mungkinkah? Bukankah harga roti-roti itu sangat fantastis? Sebanding dengan rasanya harganya pun tak kalah menggiyurkan.

H-hyung.”

Donghae menekuk lututnya agar tubuhnya sejajar dengan Kyuhyun. “Ayo cepat pilih satu. Hyung akan membelinya untukmu. Kau sudah lama menginginkan roti dari toko ini kan?” Kyuhyun mengangguk kaku. Tidak. Dia tidak berani meminta. Kyuhyun tahu harga roti di sini sangatlah mahal. Oleh karena itu, meskipun Kyuhyun sangat menginginkannya dia tidak akan merengek untuk minta dibelikan.

“Kita beli roti di tempat lain saja hyung. Kajja!” Kyuhyun pergi begitu saja. Dia tidak mungkin memintanya kan? Apa mereka punya uang? Tidak!

“Hei tunggu Kyuhyunie! Aghk!” Donghae merasakan kepalanya berdenyut hebat sesaat setelah ia berdiri. Dia limbung di tempatnya. Sementara itu Kyuhyun yang mendengar hyung-nya mengaduh segera berlari dan menopang tubuh Donghae yang hampir ambruk.

Hyung! Gwaenchana?” panik Kyuhyun. Dia semakin cemas ketika menyentuh kulit tangan Donghae yang begitu panas.

Hyung demam.”

“Aku tidak apa-apa.” Donghae menepis tangan Kyuhyun yang menopangnya dan mencoba menyeimbangkan tubuhnya.

“Tap-“

“Makanya pilih salah satu Kyu, ya?” belum sempat Kyuhyun menyelesaikan kalimatnya, Donghae sudah memotongnya. Lagi-lagi Donghae tersenyum lembut membuat Kyuhyun tidak mampu berkata apa-apa lagi.

“Emm… baiklah.” Donghae tersenyum namun, detik selanjutnya ia meringis kesakitan. Ah, kepala Donghae terasa seperti dipukul-pukul dengan tongkat baseball.

Bola mata Kyuhyun bergerak-gerak lincah. Memilih sekiranya mana roti yang punya rasa enak. Ah, semuanya terasa enak Kyuhyun. Apa kau lupa kalau toko roti ini adalah rajanya toko roti?

“Sudah memutuskan ingin yang mana?” tanya Donghae. Sepertinya Kyuhyun kesulitan menentukan mana roti yang ingin dimakan. Jika boleh Kyuhyun ingin makan semua jenis roti yang ada di sini. Hehehe.

“Itu hyung.” Kyuhyun menunjuk sebuah roti cukup besar berbentuk bulat dengan taaburan keju di atasnya. Dari rupanya roti itu hanya roti sederhana. Orang tidak akan menyangka bahwa sebenarnya roti ini memiliki rasa yang sangat enak.

Donghae mengikuti arah telunjuk Kyuhyun. “Baiklah. Tunggu disini ya!” Donghae masuk ke dalam toko itu dengan langkah pelan dan berhati-hati. Tubuhnya masih terasa lemas dan pandangan matanya sedikit kabur.

“Hei apa yang kau lakukan disini?!” baru sepuluh langkah Donghae masuk ke dalam toko, tiba-tiba suara dingin dan tajam menghentikannya. Seorang pelayan yang berumur sekitar 33 tahunan manatap Donghae jijik. Pakaian Donghae yang lusuh membuat orang itu mengira Donghae adalah peminta-minta.

“Dasar gelandangan! Kau mau minta roti gratis ya! Tidak ada roti gratis disini. Cepat pergi sana!” pria itu menyeret Donghae keluar, yang bahkan saat itu Donghae belum mencerna seluruh kata-kata pria itu.

“Tidak ahjussi. Aku ingin membeli roti. Aku punya uang!” Donghae berusaha menahan tangan pria yang menyeretnya keluar.

“Cih! Anak gelandangan seperimu hanya membual saja!” tubuh Donghae yang saat itu sedang lemah tidak mampu untuk sedikit saja menahan tenaga dari pelayan toko itu. Dengan kasar pelayan itu mendorong Donghae keluar dari toko hingga anak itu tersungkur. Sontak saja kejadian itu menarik perhatian seluruh pelanggan di toko.

Hyung!” pekik Kyuhyun ketika melihat hyung-nya di dorong keluar hingga jatuh. Anak kecil itu berlari menghampiri Sang Hyung dan membantunya berdiri. Setelah Donghae berhasil berdiri, dia menghampiri pelayan itu lagi.

“Aku hanya ingin membeli roti ahjussi. Biarkan aku masuk!” Katanya sambil kekeuh, berusaha masuk ke dalam. Hal itu tentu saja langsung dihadang oleh Sang Pelayan.

“Kau ini keras kepala sekali. Cepat pergi! Kau membuat seluruh pelanggan kami merasa tidak nyaman.” Pria itu kembali mendorong Donghae dengan keras. Kyuhyun- Sang Adik sudah menangis melihat hyung-nya diperlakukan seperti itu.

“Sudah hyung. Kita pergi saja.” Isakan Kyuhyun semakin membuat Donghae gentar untuk pergi. Para pelanggan yang ada di toko atau orang-orang yang sekedar lewat hanya menatap iba tanpa berniat menolong dua anak kecil itu.

“Sebentar Kyu. Aku akan membelinya untukmu. Tunggu sebentar ya!” sekali lagi Donghae berusaha masuk dan untuk kesekian kalinya lagi, dia didorong keluar hingga jatuh.

“Argh!” Donghae memekik kesakitan ketika dirasanya sikunya perih. Ternyata sikunya terluka dan mengeluarkan darah.

“Cih! Dasar gelandangan yang keras kepala!”

Hyung sudah! Kita pergi saja.” Tangis Kyuhyun semakin keras ketika melihat Donghae terluka. Donghae sedang sakit dan sekarang malah terluka. Semua ini karena dirinya. Karena dirinyalah hyung-nya menderita. Kyuhyun merasa telah menjadi adik yang tidak berguna.

“Maafkan hyung Kyu. Hyung janji akan membelinya nanti kalau ahjussi itu sudah pergi.” Donghae memeluk Kyuhyun agar adiknya itu berhenti menangis. Tak lupa, dia memberikan tatapan tajamnya kepada pelayan yang mengusirnya. Pelayan itu brdecih melihat tatapn Donghae.

“Sudah jangan menangis lagi Kyunie. Kita pergi, oke?” katanya sambil berusaha berdiri.

Sesaat setelah Donghae berdiri, dia merasakan pandangannya berputar-putar. Dia juga merasakan sesuatu yang hangat mengalir dari lubang hidungnya dan menetes ke lengannya sendiri. Dan detik berikutnya tubuh Donghae ambruk begitu saja.

Hyungie!” pekik Kyuhyun seketika. Dia menepuk-nepuk pipi Donghae dan menggoyangkan badan Donghae yang sudah terkulai lemas.

“Donghae hyung bangun! Kau berjanji akan baik-baik saja. Ayo bangun hyung!” Kyuhyun ketakutan dan kembali menagis ketika Donghae tetap tidur. Para pejalan kaki mulai mengerubungi mereka. Pelayan yang tadi mengusirnya menjadi salah tingkah ketika ada beberapa orang yang berbisik bahwa mungkin dialah yang sudah membuat bocah itu pingsan.

“Bu-bukan aku yang membuatnya pingsan!” ketika orang-orang semakin manatapnya aneh dia mulai memberikan pembelaan. Jika pelayan itu sibuk melakukan pembelaan atas dirinya maka Kyuhyun sibuk mencoba membuat Donghae sadar. Entah karena jijik atau apa, orang-orang yang mengerubunginya dan Donghae sama sekali tidak berniat menolong.

“Ya! Ada apa ini?” Seorang laki-laki paruh baya dengan setelan jas yang rapih bersama dengan seorang anak kecil dalam tuntunannya menatap bingung kerumunan orang di depan tokonya.

“Ah, Presdir. Ada sedikit kejadian kecil yang-“

“DONGHAE!” ucapannya teputus oleh teriakan seorang anak kecil yang lain.

“Kibumie!” saat itu, pria berjas itu baru menyadari bahwa putranya telah menyusup lebih dulu ke dalam kerumunan orang. Leeteuk-pria berjas itu menghampiri anaknya yang sudah duduk di samping seorang anak kecil yang tengah tergeletak tak berdaya.

Appa! Donghae…” Kibum menatap Sang Ayah dengan tatapan cemas. Sejenak Leeteuk menatap anak yang sedang pingsan itu dengan dahi berkerut. Sepertinya dia mengenal anak itu. tapi… Ah! Anak ojek payung itu. Lee Donghae.

“Ya Tuhan! Apa yang terjadi padanya?” Leeteuk bersimpuh di samping Kibum, lalu meraba wajah Donghae yang pucat pasi. “Astaga! Badannya panas sekali.”

Hyungie…” Leeteuk baru menyadari bahwa di sana ada anak kecil lain yang sedang menangis sambil terus berguman ‘hyungie’.

“Kau adiknya?” tanya Leeteuk dan Kyuhyun mengangguk kaku. “Tolong hyungku ahjussi.” Lanjutnya dengan suara yang parau.

Appa, ayo bawa Dongahe ke rumah sakit!” Kibum ikut menimpali.

“Baik, kita ke rumah sakit sekarang.” Leeteuk menggedong Donghae dan membawanya ke dalam mobilnya. Kibum menarik tangan Kyuhyun dan mengajaknya masuk ke dalam mobil juga. “Ayo kita juga ikut!”

Mereka pun membawa Dnghae ke rumah sakit terdekat.

“Hiks… hiks… Donghae hyung.”

“Tenanglah. Hyung mu pasti baik-baik saja.” Kibum menggenggam tangan Kyuhyun yang bergetar.

Saat ini mereka sedang duduk di kursi tunggu di depan ruang UGD. Leeteuk sedang pergi mengurus administrasi dan Kibum bertugas menemani Kyuhyun. Adik Donghae itu sedari tadi terus menangis sampai cegukan. Kibum menjadi tidak tega. Dia berusaha menenangkan Kyuhyun agar anak itu berhenti menangis. Sejujurnya Kibum sama khawatirnya dengan Kyuhyun tapi sebagai anak yang lebih tua dia mencoba untuk tidak ikut menangis.

Kibum memang tidak bertemu lagi dengan Donghae sejak pertemuan mereka dua hari yang lalu. Tapi bukankah sejak saat itu, Kibum telah menganggap Donghae sebagai teman satu-satunya? Wajar jika sekarang Kibum sama khawatirnya denga Kyuhyun. Semoga Donghae baik-baiknya saja, harapnya.

“Makanlah. Aku tahu kau belum makan dari tadi kan?” Kibum menyodorkan roti dari toko appa-nya kepada Kyuhyun. Tapi, Kyuhyun hanya menatap roti itu nanar tanpa berniat mengambilnya. “Ambilah! Aku masih punya satu lagi. Kita bisa makan bersama. Hyungmu tidak akan senang kalau kau juga sakit.”

Kyuhyun seperti melihat Donghae yang lain dalam diri Kibum. Walapun Kibum memiliki wajah yang terkesan datar dan dingin berbeda dengan wajah Donghae yang terkesan hangat dan kekanak-kanakan.

Perlahan Kyuhyun menerima roti itu, membuat Kibum tersenyum. Park Kibum tersenyum hangat pada Kyuhyun. Leeteuk yang tanpa sengaja melihat itu merasa takjub. Bagaimana bisa Kibum yang sangat jarang tersenyum itu, tersenyum begitu hangat pada orang yang belum dia kenal?

“Oya, siapa namamu?” tanya Kibum begitu ingat bahwa mereka belum berkenalan.

“Namaku Lee Kyuhyun. Kalau hyung, siapa nama hyung?”

“Park Kibum.” Kibum mengusak lembut surai Kyuhyun. Adik Donghae itu sudah berhenti menangis dan melahap rotinya dengan semangat. Seolah lupa kalau dia tadi telah menangis tersedu.

Dari kejauhan Leeteuk tersenyum ketika melihat anaknya yang begitu akrab dengan Kyuhyun. Kibum menajdi sosok yang berbeda ketika bersama Kyuhyun. Kibum anaknya yang mendapat julukan pangeran es itu, bisa tersenyum begitu hangat kepada orang lain.

Pintu ruang UGD terbuka dan seorang dokter yang sudah tua keluar dari sana. Leeteuk segera menghampri dokter itu.

“Bagaimana keadaannya?” Kibum dan Kyuhyun yang mendengar suara Leeteuk langsung ikut bergabung.

“Demamnya sangat tinggi tapi dia sudah berhasil melewati masa kritisnya. Kondisinya saat ini cukup stabil walaupun belum sadarkan diri. Pasien akan segera dipindahkan ke ruang perawatan jadi kalian akan lebih leluasa menemaninya.”

“Syukurlah. Terima kasih dokter.” Setelahnya, dokter itu pergi untuk melanjutkan pekerjaannya. Tepat ketika dokter itu pergi, saat itulah brankar Donghae didorong keluar. Donghae masih tidur dengan wajah seputih kertas. Jarum infus menacap di lengan kirinya dan selang oksigen terpasang di hidungnya. Kyuhyun menatap sedih hyung-nya sambil mengiringi ranjang Dongahe yang di dorong menuju ruang rawatnya.

Hyungmu sudah baik-baik saja Kyuhyunie.” Kibum menenangkan Kyuhyun yang kembali terlihat cemas.

“Jadi namamu Kyuhyun?” tanya Leeteuk.

Ne ahjussi. Terima kasih sudah menolong hyungku ahjussi, Kibum hyung.” Kyuhyun membungkuk hormat kepada Leeteuk dan Kibum secara bergantian.

“Aigo, kau sopan sekali. Sama-sama Kyuhyunie. Donghae adalah teman Kibum jadi ahjussi memang harus menolongnya.”

Ah, setelah Donghae yang membuatnya gemas sekarang adiknya juga ikut-ikutan membuatnya gemas. Seandainya mereka menjadi anak-anaknya juga, Leeteuk akan sangat bahagia. Mempunyai tiga jagoan, sungguh sempurna.

Sepasang kelopak mata itu bergerak pelan. Perlahan namun pasti kelopak mata itu terbuka, menampilkan sepasang bola mata yang memerah namun tetap terlihat bening. Donghae merasa kepalanya sangat berat dan kedua tangannya terasa pegal luar biasa. Ia melirik ke sisi kanan, ada Kyuhyun di sana. Terlelap berbantalkan lengannya. Pasti Kyuhyun sangat khawatir tadi, pasti tadi Kyuhyun menangisinya. Donghae merasa bersalah. Seharusnya dia tidak tumbang di depan Kyuhyun.

Lalu, Donghae melirik lengan kirinya. Oh, ada jarum infus yang tertancap di sana. Pantas saja tangannya terasa pegal. Tunggu! Di mana ini? Donghae baru menyadari bahwa saat ini dia tidak berada di dalam kamarnya. Ini di rumah sakit. Dan kamar ini? Ini kamar kelas satu. Siapa yang membawanya kemari? Biaya kamar ini pasti mahal. Dengan apa Donghae akan membayarnya nanti?

“Donghae, kau sudah bangun?” Donghae mengerutkan keningnya. Siapa anak laki-laki dan ahjussi yang baru saja masuk itu?

“Hei, kau lupa padaku?” Anak laki-laki kecil itu mendekatinya dan menaruh kantung plastik berisi makanan ke atas nakas di samping ranjang Donghae.

“Aku tidak akan lupa padamu Kibumie.” Sebenarnya Donghae sempat lupa tadi tapi setelah mengingat-ingat kembali dia berhasil megingatnya. Park Kibum yang memiliki wajah sedingin es, yang dia temui ditengah hujan dua hari yang lalu.

“Bohong.” Dengus Kibum kesal. “Tidur selama 24 jam penuh membuatmu lupa padaku ya?”

“A-apa?!” Donghae terkejut. Selama itukah dirinya tidur? Kenapa dia merasa hanya tidur sebentar? Lalu bagaimana dengan Kyuhyun selama dia tidur disini?

“Ya, kau memang tidur 24 jam penuh. Ah tidak! Kurasa sudah 28 jam.” Leeteuk menambahkan setelah melihat jam tangannya.

“Kyuhyun tinggal bersama kami selama kau dirawat. Aku tidak akan membiarkan dia berlama-lama di rumah sakit karena itu tidak baik untuk kesehatannya. Awalnya Kyuhyun memang menolak tapi berkat bujukan Kibum akhirnya dia menurut. Dan tentang biaya rumah sakit, kau tidak perlu mengkhawatirkan hal itu.” Seolah mampu membaca pikiran Donghae, Leeteuk menceritakan apa saja yang terjadi selama dia tak sadarkan diri yang didukung oleh anggukkan kepala dari Kibum.

“Terima kasih banyak ahjussi, Kibumie. Aku tidak tahu harus bagaimana membalas kebaikan kalian.” Air mata sudah berkumpul di pelupuk mata Donghae. Siap jatuh kapan saja karena rasa harunya. Rasa bahagianya karena masih ada orang baik yang peduli padanya. Tanpa ragu menolongnya yang sedang kesusahan.

“Jangan seperti itu. mamang menjadi keawajiban kita untuk menolong sesama kan?” jawaban Leeteuk membuat air mata Donghae menetes semakin banyak. Betapa baik paman ini. Betapa mulia hatinya. Dia adalah malaikat yang Tuhan kirim untuk menolongnya.

Jeongmal gamsahamnida.” Hanya itu yang mampu Donghae ucapkan. Ia ucapkan berkali-kali hingga Leeteuk dan Kibum bosan mendengarnya.

“Ya! Kau ini laki-laki. Kenapa cengeng begitu sih?” cibir Kibum seenaknya karena Donghae masih menangis sambil mengucapkan kata terima kasih. Kyuhyun yang saat itu tertidur menjadi bangun karena suara isakan Donghae.

Hyung sudah bangun? Eh, kenapa hyung menangis?” tanya Kyuhyun kebingungan.

Donghae hanya bisa menggeleng lalu mengelus wajah Kyuhyun. “Maaf hyung membuatmu cemas Kyu.”

Kyuhyun menggembungkan pipinya dan mengerucutkan bibirnya. “Aku memaafkan hyung karena hyung sedang sakit kali ini. Tapi jika hyung mengulanginya lagi aku tidak akan memaafkan hyung. Dan lagi, jangan tidur terlalu lama lagi. Aku takut hyung.”

Arraseo.” Donghae tersenyum membuat Kibum dan Leeteuk juga ikut tersenyum.

“Ah, maaf apa aku ketinggalan cerita?” seorang wanita berwajah ayu terlihat menyembulkan kepalanya dari balik pintu kamar.

“Hai sayang! Masuklah!” Leeteuk mempersilahkan wanita ayu, yang ternyata adalah istrinya-Park Hana untuk masuk ke dalam ruangan. Wanita bertubuh langsing itu mempunyai hidung yang mancung serta mata yang bulat dan lebar. Cantik sekali. Leeteuk terlalu pintar untuk memilih wanita. Tetapi ada sisi lain yang terkesan dingin dari ekspresi wajahnya. Sama seperti Kibum.

“Hai Donghae. Aku ibunya Kibum. Bagaimana keadaanmu? Sudah lebih baik?” Ibu Kibum itu bertanya ramah kepada Donghae.

N-ne ahjumma. Saya merasa lebih baik.” Jawab Donghae sungkan.

“Kau ini! Jangan bersikap kaku begitu! Bersikaplah seperti kau bersikap pada suami dan anakku. Dan lagi, aku ini masih muda. Jadi, jangan coba-coba memanggilku ahjumma!”

“Lalu dia harus memanggilmu bagaimana, sayang?”

“Kyuhyunie bagaimana kau memanggilku?” wanita itu bukannya menjawab pertanyaan suaminya malah melontarkan pertanyaan kepada Kyuhyun.

Eomma.” Jawab Kyuhyun riang. Bocah kecil itu tersenyum pada Donghae.

“Aku tidak tahu kalau Kyuhyun memanggilmu ‘eomma’.” Komentar Leeteuk.

“Kau itu terlalu sibuk dengan toko rotimu. Makanya kau tidak menyadarinya.” Sang Istri menggerutu.

“Kau benar. Hehehe…” Kibum menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah Leeteuk. Ayahnya adalah pria yang sudah dewasa, tapi tingkah lakunya sama sekali tidak sebanding dengan umurnya.

Keluarga ini sangat hangat dan harmonis. Penuh kasih sayang dan cinta. Donghae teringat dengan ayah dan ibunya. Dulu mereka juga keluarga yang harmonis seperti itu. Selalu ada tawa setiap mereka berkumpul bersama. Donghae merindukan saat-saat seperti itu.

Senja yang indah. Langit yang cerah dengan perpaduan warna jingga, merah dan biru yang mulai menggelap. Suara burung-burung yang akan pulang ke sarangnya seolah menjadi pengiring rembulan yang akan segera datang. Donghae, Kyuhyun, dan Kibum sedang menikmati langit senja dari balik jendela kamar rawat Donghae. Keadaan Donghae yang belum sembuh total mengharuskan dia harus dirawat lebih lama.

Hyung bisakah suatu hari nanti kita melihat matahari terbenam di laut?” Kyuhyun bertanya kepada Donghae sambil metap matahari yang bergerak pelan menuju peraduannya.

“Tentu saja bisa Kyu.” Jawab Donghae mantab. “Kibumie, kau juga harus ikut!”

Ne, Kibum hyung juga harus ikut.”

“Aku? Bolehkah?”

“Kami baru saja mengajakmu bodoh!” jawab Donghae menyesali betapa bodoh sahabat barunya itu. Donghae telah menjadikan Kibum sebagai sahabatnya dan begitu juga sebaliknya.

“Ya! Siapa yang mengataiku bodoh? Beraninya.”

“Memangnya kenapa tidak berani?” Donghae membalas.

“Dasar ikan jelek! Kau ingin kupukul ya?”

“Ya ampun! Pangeran es kita marah Kyu.”

Kyuhyun yang berada di tengah-tengah dua sahabat itu hanya bisa menatap Donghae dan Kibum bergantian. Matanya mengerjap lucu ketika Donghae dan Kibum saling melempar ejekan.

Pletak!

“Aw! Ya! Aku ini masih sakit Park Kibum. Kenapa memukulku?” Donghae mengusap kepalanya yang baru saja dipukul oleh Kibum.

“Kau adalah ikan jelek yang minta dipukul.”

Pletak!

“Agh! Donghae, sakit tau!” sekarang gantian Kibum yang mendapat pukulan dari Donghae.

“Kau adalah pangeran yang jahat karena berani menyakiti hewan yang tidak bersalah.”

“Jadi kau mengakui dirimu itu ikan? Hahaha…”

Hyung, ada apa dengan kalian? Jangan bertengkar! Kapan kita akan ke pantai?”

“Kita akan secepatnya pergi ke sana. Tapi Kyu, kau harus menjaga hyung-mu dengan baik agar dia tidak lepas ke laut dan bertemu dengan teman-temannya.”

“Eoh?” Kyuhyun tidak mengerti maksud Kibum. Dia hanya mengerjap lucu, yang membuat Kibum dan Donghae menjadi gemas.

“Apa yang kau katakana pada anak polos seperti Kyuhyun pangeran? Jangan coba-coba untuk menodai pikiran adikku yang masih bersih ini!”

“Mengotori apa sih? Lee Donghae, kau ini benar-benar menyebalkan ya? Awas kau ya! Aku tidak akan melepaskanmu!”

“Apa yang mau kau lakukan, huh?” Donghae menatap takut kepada Kibum yang mendekatinya. Begitu jarak mereka tinggal sejengkal Kibum langsung menggelitiki Donghae tanpa henti.

“Hahahahaha… ah geli! Ki-Kibumie he- ahahaha- hentikan! Hahaha…”

“Aku bilang aku tidak akan melepaskanmu ikan!” Donghae sudah menggeliat-geliat di atas tempat tidurnya. Berusaha melepaskan diri dari gelitikan Kibum.

“Hei, hentikan! Donghae hyung infusmu berdarah!” seketika itu juga Kibum menghentikan aksi menggelitiki ikan jelek bernama Donghae.

“Ini salahmu Kibumie.” Tuduh Donghae sambil menatap jarum infus di tangannya yang penuh darah.

“Apakah sakit? Maaf.”

Mata Donghae memicing menatap Kibum yang terlihat cemas sambil melihat darah yang masuk ke dalam selang infusnya.

“Hei pangeran es yang agung, jangan sedih begitu. Aku tidak apa-apa. Ini tidak sakit kok.”

“Kibum hyung jangan menangis.” Timpal Kyuhyun yang seketika membuat Kibum menegakkan lagi kepalanya.

“Aku tidak menangis!”

“Hei, kau benar-benar menangis? Kibumie, aku tidak apa-apa. Sungguh!” nyatanya Donghae melihat mata Kibum yang basah oleh air mata.

“Sudah kubilang aku tidak menangis!” sangkal Kibum sambil memberenggut kesal pada Donghae dan Kyuhyun.

“Tapi mata Kibum hyung sembab.” Donghae mengangguk membenarkan. Ada apa dengan dua saudara Lee ini? Mereka sedang menggoda Park Kibum ya?

“Mataku kemasukan debu!”

“Baiklah. Memang tidak mungkin pangeran tampan seperti dirimu menangis.” Donghae tahu Kibum malu mengakui kalau dia memang menangis. Oleh karena itu, Donghae berkata demikian.

“Jadi, kita jadi ke pantai kan hyung?”

“Tentu saja Kyuhyunie.” Jawab Donghae dan Kibum bersamaan. Lalu, ketiganya mulai tertawa bersama. Tawa yang mengalun menemani Sang Mentari yang telah pulang ke peraduannya.

Dari balik pintu itu, mereka tidak tahu bahwa ada sepasang suami istri yang mengamati mereka dengan senyuman di wajah keduanya. “Bukankah mereka anak-anak yang manis yeobo?” Park Hana bertanya pada suaminya.

“Hmm… kau lihat Kibum kita? Dia tidak pernah tertawa seperti itu sebelumnya. Dia tidak pernah bersikap sehangat itu kepada orang yang baru dikenalnya. Donghae dan Kyuhyun membawa perubahan besar pada Kibum.”

Hana mengangguk setuju. “Kau benar.”

Yeobo.”

“Ya?”

“Jika kita mengadopsi mereka, apa kau setuju?”

Leeteuk sudah menyelidiki latar belakang Donghae dan Kyuhyun dan pria baik hati itu juga telah menceritakan semuanya kepada istrinya. Park Hana menangis ketika Leeteuk menceritakan bahwa ternyata orang tua Donghae dan Kyuhyun sudah meninggal dan dua anak kecil itu hidup sebatang kara. Hana semakin merasa sedih ketika mendengar jika Donghae berkerja membanting tulang demi kelangsungan hidupnya dan adiknya.

“Apa?”

“Menyenangkan kan jika kita punya tiga putra yang tampan-tampan dan lucu sperti mereka?”

“Akan kupikirkan.” Hana berlalu dari depan pintu ruang rawat Donghae. Wanita itu tersenyum dibalik sikapnya yang seolah tidak mendukung ide Leeteuk.

“Ya! Kenapa harus memikirkannya lagi? Bukankah kau sangat menyayangi Donghae dan Kyuhyun?” Leeteuk berusaha menyamai langkah istrinya.

“Kau pikir akan jadi seperi apa aku jika harus mengurus empat orang laki-laki sendirian?”

“Kita bisa mempekerjakan pembantu lebih banyak.”

“Pemborosan.”

“Ayolah Park Hana!”

Leeteuk masih berusaha untuk membujuk Hana agar mau mengadopsi Donghae dan Kyuhyun. Entah bagaimana pun caranya Leeteuk akan terus membujuk Hana. Leeteuk merasa kasihan karena Donghae dan Kyuhyun hidup sebatang kara tanpa orang tua di kota sebesar Seoul ini. Di samping itu, Donghae dan Kyuhyun telah membuat Kibum menjadi anak yang lebih periang. Dia sendiri juga sudah menyayangi dua anak itu.

Hari ini Donghae keluar dari rumah sakit setelah seminggu penuh dirawat. Ada Kyuhyun dan juga keluarga Kibum yang sedang mempersiapkan kepulangannya. Donghae tidak tahu harus bagaimana membalas seluruh kebaikan dari keluarga Kibum. Mereka yang dengan baik hati membiayai pengobatannya dan membantunya menjaga Kyuhyun. Donghae bertekad akan mengabdikan dirinya pada keluarga ini. Kelak jika dia bisa menjadi orang yang sukses, orang kedua yang akan dia bahagiakan setelah Kyuhyun adalah Kibum dan keluarganya.

“Donghae-ya, apakakah semua sudah dikemas?” tanya Hana sambil memasukkan beberapa baju Donghae ke dalam tas. Wanita itu selalu terlihat cantik dengan make up naturalnya dan setelan gaun selutut berwana putih.

Ne, eo-eomma. Sudah semua.”

“Aigo… kenapa kau masih ragu memanggilku eomma? Contohlah Kyuhyun yang dengan lancar memanggilku eomma.”

Donghae menjadi salah tingkah. Bocah bersurai kecoklatan itu menggaruk kepalanya yang mendadak terasa gatal. “Maaf eomma.”

“Nah seperti itu. panggil aku seperti itu. Karena mulai hari ini aku adalah eomma mu.”

Ne?”

“Apa yang dikatan eomma Kibum benar. Iya kan Kibum?” sahut Leeteuk yang sedang duduk di sofa sambil membaca Koran.

Kibum mengangguk semangat sedangkan Donghae dan Kyuhyun saling bertatapan karena bingung. “Mulai hari ini kalian resmi menjadi saudaraku!” Kibum tersenyum lebar. Lalu, memeluk Donghae dan Kyuhyun.

Siang itu Kibum baru saja pulang sekolah. Ibunya-Park Hana sudah berdiri dengan anggun di samping mobil audi putihnya, menunggu Kibum keluar dari sekolahnya.

“Kibum-ah!” Hana berteriak memanggil Kibum yang sedang berjalan santai menuju gerbang sekolah. Sepertinya anak itu tadi tidak menyadari kehadiran Sang Ibu.

Wajah Kibum tetap datar meskipun Hana tengah tersenyum lebar ke arahnya. Tidak seperti kebanyakan anak kecil lain yang akan tersenyum lebar dan langsung memeluk ibunya ketika dijemput, Kibum tetap dalam langkah konstan menghampiri Hana.

“Tumben sekali eomma yang menjemput?” memang benar Hana jarang mau menjemput Kibum di sekolah. Wanita itu lebih senang duduk di kantornya yang ber-AC daripada harus keluar dengan cuaca yang panas. Maka dari itu Leeteuk lah yang lebih sering menjemput Kibum di sela-sela jadwalnya yang super padat.

Wae? Kau tidak senang karena eomma yang menjemputmu?”

‘Biasa aja. Bagiku dijemput siapa pun tidak masalah yang penting cepat sampai di rumah.’ Batin Kibum.

“Tidak. Aku senang kok.” Kibum berdusta.

“Baiklah. Ayo cepat masuk ke dalam mobil!”

Kibum pun masuk ke dalam mobil. Mobil audi putih itu melaju sedang di jalanan kota Seoul yang cukup padat.

“Kita tidak menjenguk Donghae?” tanya Kibum ketika menyadari mereka tidak menuju ke rumah sakit.

“Kita ke kantor appa mu dulu. Ada yang ingin kami bicarakan.”

Kibum hanya menganguk-anggukkan kepala tanda mengerti.

“Oiya, kenapa kau bisa sedekat itu dengan Donghae dan Kyuhyun? Bukankah kalian baru saja kenal? Menjadi cepat akrab dengan orang lain seperti itu bukan gayamu sekali Kibumie.”

Kibum tersentak. Mengapa eomma-nya tiba-tiba bertanya seperti itu? ah, Kibum jadi malu. Lihat, wajahnya sudah memerah seperti kepiting rebus. “Mereka anak yang baik.” Jawabnya singkat.

“Hanya karena mereka anak yang baik?” tanya Hana, sedikit menggoda Kibum. Wanita itu tentunya sangat mengenal anaknya. Maka tidak mungkin jika Kibum hanya mengandalkan alasan itu untuk menjadi dekat dengan Donghae dan Kyuhyun.

“Mereka… aku juga tidak tahu eomma.”

Kibum hanya merasa nyaman dan hangat ketika bersama Donghae dan Kyuhyun. Bagaimana dia akan menjelaskan perasaan nyaman itu pada eomma-nya? Kibum selalu bisa menjadi dirinya sendiri tanpa malu ketika bersama mereka. Kibum bisa tertawa dan menangis semaunya ketika bersama mereka. Kibum menjadi sosok yang hangat ketika bersama mereka. Kibum ingin selalu melindungi mereka.

Hana tersenyum mendengar jawaban Kibum. Selebihnya wanita itu mengerti bagaimana perasaan Kibum terhadap dua saudara yang malang itu. Hana yakin Kibum akan senang mendengar tawarannya dan Leeteuk nanti.

“Hai sayang! Mana Kibum?” Leeteuk melihat Hana masuk ke dalam ruangannya dan langsung menyapanya. Namun, dia tidak melihat Kibum. Padahal Kibum lah yang sedang di tunggunya.

“Dia sedang ke toilet sebentar.”

Bibir Leeteuk membentuk huruf ‘O’ dengan sempurna mendengar penjelasan Hana. Beberapa saat kemudian Kibum masuk ke dalam ruangan Leeteuk.

“Kemari Kibumie!” Leeteuk menepuk sisi sofa yang kosong di sampingnya. Menyuruh Kibum duduk di sana.

“Ada apa? Ku kira ini masalah pekerjaan kalian.”

Hana tersenyum misterius, begitu juga Leeteuk. “Kibumie. Apakah kau tidak ingin mempunyai saudara?” tanya Leeteuk.

Kibum memiringkan kepalanya tanda tidak mengerti akan pertanyaan Leeteuk. “Maksud appa, appa akan membuatkanku adik jika aku menjawab ‘iya’?”

Sontak Leeteuk dan Hana terkikik geli mendengar pertanyaan Kibum. “Yeobo jangan membuatnya bingung. Kenapa tidak langsung ke intinya saja? Kau ini terlalu berbelit-belit.” Hana menyarankan. Tidak tega juga dia melihat wajah Kibum yang kebingungan begitu.

Sementara itu Leeteuk menggaruk kepalanya yang tidak gatal sembari nyengir lebar. “Baiklah. Kim Kibum, apakah kau keberatan jika kami mengadopsi Donghae dan Kyuhyun?”

Apa?

“Maksuda appa, appa akan membuat Donghae dan Kyuhyun menjadi saudaraku secara resmi?” tanya Kibum meyakinkan. Kibum sendiri sudah tahu dari ayahnya jika Donghae dan Kyuhyun adalah anak yatim piatu.

“Ya, itu maksudku.”

Raut wajah Kibum kini berubah. Senyuman lebar itu menghiasi wajah dinginnya. Ekspresi bahagia itu sangat mendominasi ekspresi wajahnya.

“Kenapa masih bertanya padaku? Tentu saja aku sangat tidak keberatan!” kata Kibum girang.

Eomma. Appa. Terima kasih banyak!” Kibum memeluk kedua orang tuanya. Leeteuk dan Hana tersenyum lembut.

“Sama-sama sayang.”

“Hei yeobo. Siapkan dirimu untuk mengurusi empat laki-laki tampan ini. Hehehe…”

Glek! Hana menelan ludahnya berat mendengar ucapan Leeteuk. Oiya, akan jadi seperti apa nanti dirinya berada di tengah-tengah empat laki-laki itu? Hana jadi merinding. Sanggupkah ia?

Eomma, kami akan sangat merepotkanmu.”

“Ya Tuhan, kuatkanlah hambamu ini.”

“Kalian mau kan menjadi saudaraku?” tanya Kibum ketika Donghae dan Kyuhyun tetap diam. Mereka terlalu terkejut. Keajaiban apa lagi ini?

Donghae tidak menyadari ketika air matanya sudah jatuh deras menghujani pipinya. “Kibumie…” Panggil Donghae di sela isakannya.

“Donghae hyung, kenapa menangis?” Kyuhyun kebingungan melihat hyung-nya menangis. Bukankah ini kabar gembira? Kyuhyun saja merasa sangat senang.

“Donghae-ya, kau tidak mau menjadi saudaraku ya?” tanya Kibum sedih.

“Tidak. Bukan begitu.” Donghae menjadi tidak enak kala Kibum salah menangkap maksudnya.

“A-aku bahagia. Terima kasih Bumie. Terima kasih telah menjadikan kami saudaramu. Hana eomma. Leeteuk appa. Sungguh, aku berterima kasih yang sangat banyak kepada kalian. Jeongmal gamsahamnida.” Donghae membungkukkan badannya berulang kali sebagai tanda terima kasihnya yang sangat besar. Kyuhyun yang saat itu dirangkul oleh Kibum juga menangis bahagia walapun dia hnya mengerti bahwa sekarang dia, hyung-nya, dan Kibum adalah saudara.

“Hei, sudah Donghae. Tidak perlu melakukan itu.” Leeteuk mencegah Donghae agar tidak membungkukkan badannya lagi.

“Donghae-ya. Kyuhyunie. Mulai saat ini kami resmi menjadi orang tua kalian. Anggaplah kami seperti orang tua kandung kalian. Kami akan menyayangi dan menjaga kalian seperti kami menyayangi dan menjaga Kibum.”

Suara lembut Hana membuat air mata Donghae semakin deras mengalir. Dia tidak menyangka akan bertemu dengan orang-orang baik ini. Selama ini banyak orang yang tidak memerdulikannya. Banyak orang yang memandangnya jijik dan hina. Sungguh, ini adalah rezeki Tuhan yang sangat indah.

Donghae menganggukkan kepalanya. “Kibumie. Kyuhyunie. Mulai saat ini kita adalah saudara. Berjanjilah kita akan sailng menyayangi, saling mengasihi, dan saling melindungi satu sama lain. Kita bertiga akan membahagiakan orang tua kita jika sudah dewasa nanti. Kita harus membuat eomma dan appa kita bangga mempunyai anak seperti kita.”

Donghae merangkul dua saudaranya. Dia tersenyum lebar. Begitu juga dengan Kibum dan Kyuhyun, mereka juga tersenyum bahagia. Leeteuk dan Hana yang saling berpelukan pun tak mau kalah. Mereka semua bahagia. Mereka adalah keluarga yang dipenuhi oleh kebahagiaan. Keluarga yang saling menyayangi, saling melindungi, dan saling mengayomi. Keluarga yang menjadi sempurna dengan bertambahnya dua anggota keluarga baru.

“Kibumie! Mana celana renangku?! Belum kau kembalikan ya!”

“Ada di lemarimu Donghae!”

“Donghae hyung! Bantu aku mengambil bajuku!”

“Aku sedang sibuk Kyu. Minta Kibumie saja!”

“Tidak bisa! Aku sedang ganti baju!”

“Lemarinya terlalu tinggi. Aku tidak sampai mengambil bajuku! Hiks!”

Yeobo! Dimana kunci mobilnya?!”

“Aku tidak tahu!“

Eomma! Aku tidak bisa mengambil bajuku!”

Yeobo! Bantu Kyuhyun mengambil bajunya!”

“Aish! Aku sedang mencari kunci mobil.”

“Kibumie! Celananya tidak ada di lemariku! Kau letakkan dimana sih?!”

Eomma! Bantu aku!”

“Sebentar Kyuhyunie!”

Yeobo aku tidak bisa menemukan kunci mobilnya!”

Eomma, kau lihat kaca mata renangku?!”

“Kibumie, mana celanaku?!”

“Ada di lemari Donghae!”

“Tidak ada!”

“CUKUP! JANGAN BERTERIAK LAGI. HAH! AKU BISA GILA!”

Hana merasa kepalanya mau pecah mendengar teriakan demi teriakan yang keluar dari bibir keempat namja di rumahnya. Mereka sekeluarga akan pergi berlibur ke pantai. Menikmati matahari pantai, menikmati angin pantai yang menyejukkan, dan berenang di air laut yang berbawarna biru. Mereka juga akan melihat matahari terbenam di sana. Namun, semua bagaikan mimpi buruk bagi Hana. Keempat namja tampannya itu tak berhenti berteriak sejak satu jam yang lalu. Segala persiapan berlibur yang secara mendadak mereka siapkan membuat mereka kalang kabut. Hana sendiri saat ini sedang sibuk menyiapkan makanan untuk piknik mereka sedangkan empat namja-nya itu masih saja memanggil-manggilnya. Dugaannya benar, hidupnya tidak akan tenang dengan kehadiran empat namja itu. Hidupnya akan selalu dipenuhi oleh teriakan-teriakan mereka yang seolah mampu membuat gendang telinganya pecah. Semoga Tuhan memberikan kekuatan padanya. Aamiin.

END

FF ini sebelumnya udah pernah aku post di FFN. Ini sudah aku edit ulang..

Hanya seklumit ide yang kebetulan melintas waktu bosen dengerin dosen ceramah. Hehehe..

Terima kasih sudah berkenan membaca…

2 Comments (+add yours?)

  1. adiknya leeteuk
    Aug 10, 2015 @ 19:25:45

    kenapa hidupmu sangat memprihatinkan hae & kyu
    jahat banget ahjussi dorong2 ongeku kalau q ada disitu udah gue tampol mungkin.,.,ngomong2 kalau ada 2 anak selucu itu gue rela nyulik mereka thor.,hehehe😀

    Reply

  2. yulia
    Aug 11, 2015 @ 21:37:20

    feelingnya dapet banget,sampe banjir airmata… keren thor,di tunggu karya2 yg lainnya ya…

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: