Are You Ghoul? [2/?]

ARE YOU GHOUL?

 

Title : Are You Ghoul? PART 2

Author : Fanynda Kim

Leght : Long Story

Cast :

  • Lee Dong Hae
  • Song Ji Ae (OC)
  • Super Junior’s Member
  • Etc

Genre: Kekerasan, Romance. Fantasy

PG : 15

 

Pria itu masih terpaku. Dadanya masih berdegup keras.

“Terkejut?”

Pria itu diam, tidak bergeming.

“Aku tak menyangka. Ternyata pria yang kulihat waktu itu adalah dirimu”

Pria itu tetap diam. Masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya sekarang. Mata indahnya masih terus menatap ketiga orang pria yang ada dihadapannya. Tidak perduli dengan darah yang masih mengalir, dan air hujan yang semakin deras turun.

“Lee Donghae, aku sungguh senang. Akhirnya seseorang yang kucari sejak lama datang kepadaku tanpa harus merepotkanku”

Rahang Donghae mengeras. Kedua tangannya mengepal, menandakan bahwa sekarang dia sudah kesal, matanya seketika berubah warna menjadi merah.

“Wah wah~ kau marah? Tetapi aku sangat…”

‘Bruk’

Seketika pria tadi terhempas dibuat Quinque Donghae. Ketiga ekornya berhasil membuat bibir pria itu berdarah

“Tn Cho! Anda tidak apa-apa?”

Pria yang bernama Cho Kyuhyun itu tersenyum, mencoba bangkit lalu mengusap darah yang meleleh melalui sudut bibirnya.

“Beraninya kau!!” Teriak seorang pria yang ada disamping Kyuhyun. Quinque berbentuk duri sudah keluar melalui segala sudut belakang tubuhnya.

“Heechul! Sudah hentikan” Ucap Kyuhyun, seketika pria bernama Heechul itu langsung menahan dirinya dan menghilangkan Quinque yang ada ditubuhnya.

“Me.. Mengapa?.. Mengapa harus kau?!” Teriak Donghae.

‘Bruk’

Sekali lagi Kyuhyun terhempas.

Pria yang bernama Kyuhyun itu lalu tertawa, tidak peduli dengan darah segar yang kini mengalir dari dahinya.

“Kau tidak suka?”

Donghae hanya diam, memandang pria yang ada didepannya itu dengan tatapan menandakan kebencian dari dalam dirinya.

“Atau kau mau jika aku bermain dulu denganmu?”

‘Plash’

Kyuhyun berhasil menghindari serangan pria yang ada didepannya.

“Bisa kami bantu?” Tanya seorang pria kepada Kyuhyun.

Kyuhyun lalu terdiam sebentar. “Baiklah Choi Siwon. Kau mau bermain dengannya? Tetapi jangan sampai kau bunuh dia” Ucap pria itu.

Pria yang bernama Siwon itu tersenyum “Ya, saya mengerti Tn Cho” Jawabnya.

Mata Donghae masih memandang apa yang sedang terjadi didepannya. Pria tinggi bernama Siwon itu tiba-tiba berubah menjadi sosok yang tidak kalah menyeramkan daripada orang pertama yang bernama Heechul tadi. Quinquenya berbentuk ekor panjang menyerupai pedang. Ada apa sebenarnya direncanakan Kyuhyun?

‘Plak’

Ekor runcing tadi berhasil menembus perut Donghae, sehingga tubuh pria itu mengeluarkan banyak sekali darah.

Apa? Pria bernama Siwon itu memulainya tanpa dia sadari?

“Apa-apaan kau?!” Teriak Donghae. Pria itu masih berusaha menggerakkan ketiga ekornya untuk menyerang Siwon.

“Ck Lemah sekali. Memang bagus jika ini dijadikan mainan”

‘Slet’

Ekor runcing dan panjang itu berhasil melilit leher Donghae hingga pria itu susah untuk mengambil nafas. Dengan susah payah Donghae berusaha meloloskan diri dari lilitan itu.

Mengapa dia menjadi selemah ini? Seketika itu juga dia tersadar. Pantas saja dia menjadi lemah. Sudah lebih dari seminggu dia tidak makan. Apakah ini karena dia selalu bersama Ji Ae akhir-akhir ini?

“Oh~ Ingin sekali aku memakan lalat lemah ini” Ucap Siwon saat Donghae berada dililitannya.

“Brengsek kau!” Teriak Donghae. Pria itu masih berusaha membebaskan diri dari lilitan itu.

‘Bruk’

Akhirnya lilitan Siwon terlepas setelah ketiga ekornya itu berhasil menghempaskan tubuh pria yang ada didepannya.

“Hahaha, berani juga kau ya” Tangan kanan pria itu lalu meraba belakang kepalanya. Ada darah disana. Siwon lalu menatap Donghae murka, seketika ekor panjang tadi berubah menjadi gulungan besar. Lalu gulungan itu langsung melayang tepat dibadan Donghae.

“Akkh~”

Pertahanan Donghae runtuh, ketiga ekornya tidak mampu untuk memandingi kekuatan Siwon sekarang. Dia terlalu lemah. Tidak memiliki tenaga untuk berkelahi. Bagaimana bisa dia tidak memikirkan ini sebelum dia datang kesini?

Terdengar suara tawa Siwon ditelinga Donghae. Suara tawa itu semakin lama terdengar semakin tidak jelas.

Apakah hidupnya akan berakhir disini?

Tidak! Tidak boleh! Masih banyak hal yang belum terbalaskan dihidupnya. Dia harus bisa membunuh ketua kurogo itu.

Semakin keras Siwon menekan, semakin remuk tubuh Donghae dibuatnya.

Donghae memejamkan matanya, tubuhnya sudah banyak sekali keluar darah. Penyembuhan Ghoul yang dipelajarinya tidak mempan dalam waktu sesingkat ini. Apalagi posisinya seperti ini.

Bagaimana jika dia benar mengakhiri hidupnya disini?

Apakah dia tidak akan melihat wajah teman-temannya di Aidee?

Jung Soo yang selalu baik terhadapnya. Jong Woon yang misterius tetapi sebenarnya dia sangat baik. Ryeowook yang selalu ceria, Hyuk Jae yang menjadi teman mainnya di kafe itu, serta Shindong yang selalu peduli terhadap dirinya. Bagaimana jika Henry tahu dia mati disini? Pasti pria itu akan sangat kecewa.

Terlebih lagi..

Ji Ae…

Dia tidak akan bisa melihat wanita itu lagi bukan?

Tidak! Dia tidak boleh mati.

Sekarang tubuh Donghae bagaikan ditimpa beribu-ribu batu besar. Kekuatan Siwon bertambah besar. Suara tawa yang tadi didengarnya samar-samar mulai menghilang.

Ini tidak boleh terjadi! Dia tidak boleh mati!

“Cukup”

Siwon lalu menoleh keasal suara.

“Ada apa?”

“Kau mau membunuhnya?

Siwon langsung menarik ekornya itu dari tubuh Donghae.

“Ma.. Maafkan aku Tn Cho”

Kyuhyun menatap Siwon tajam “Jika dia mati, aku tidak akan berfikir lagi apakah ada alasan untuk membiarkanmu tetap hidup”

Siwon membungkukkan badannya “Maafkan aku”

Kyuhyun lalu menatap Donghae yang tergeletak dijalan yang mulai becek itu, hujan semakin lebat, membuat darah ditubuh Donghae mengalir hingga membuat genangan air itu menjadi merah.

“Kita akan bertemu lagi, kuharap kau tidak selemah itu” Ucap Kyuhyun, lalu berjalan meninggalkan Donghae.

“Apakah kita akan berburu makanan lagi?” Tanya pria yang bernama Heechul itu kepada orang yang berjalan mendahuluinya.

“Menurutmu?” Jawab Kyuhyun. Terus berjalan.

Kedua orang yang ada dibelakangnya terdiam, lalu mengikuti langkah kaki Kyuhyun. Tanpa memperdulikan Donghae yang tergeletak disana.

Donghae berusaha menggerakkan jari-jarinya setelah satu jam berlalu. Tubuhnya terasa sangat berat. Dengan bersusah payah dia berusaha membuka kedua matanya. Pandangannya masih kabur, tetapi hujan yang tadi terus menerus mengguyur dirinya. Tidak mereda, tetapi semakin lebat.

“Kemana orang yang tadi?” Gumamnya dalam hati.

Pria itu mencoba berdiri, tetapi sayang, kakinya masih belum mampu untuk menahan berat badannya.

“Brengsek!” Teriaknya.

Donghae hanya diam. Mencoba untuk pengobatan alternative yang pernah diajarkan Shindong kepadanya. Walaupun dia tahu, itu akan memakan waktu yang lama.

**

“Lee Donghae! Apa yang terjadi kepadamu!”

Donghae memandang wanita yang ada dihadapannya itu.

“Kenapa banyak sekali bekas luka ditubuhmu?”

Donghae tersenyum “Tidak perlu khawatir seperti itu Ji Ae. Aku baik-baik saja”

Wanita yang bernama Ji Ae itu langsung mengambil sesuatu didalam tasnya.

“Lebih baik ini diobati. Jika tidak ini akan semakin parah” Ucap wanita itu, lalu meletakkan segulung perban, beberapa kapas, dan obat-obatan lainnya.

Donghae langsung memandang Ji Ae dengan tatapan tidak percaya.

“Kau membawa semua ini? Kesekolah?”

Ji Ae tersenyum, lalu kedua tangannya langsung mencoba mengobati lengan tangan Donghae yang hampir semua kulit putihnya berubah menjadi keunguan. Serta sedikit darah yang mengering.

Donghae terus memandang Ji Ae. Dadanya sudah mulai berdebar lagi akibat sentuhan dari wanita itu.

“Mengapa kau datang?” Tanya Donghae. Sehingga membuat Ji Ae menghentikan gerakan tangannya.

“Kau tidak suka?”

Donghae refleks menggeleng “Tidak, bukan begitu. Aku hanya penasaran saja”

“Karena kau tidak masuk hari ini”

“Kau mengkhawatirkanku?”

Ji Ae langsung terdiam, telinganya sudah memerah. Tebakan Donghae benar.

Donghae lalu tersenyum. “Terima kasih” ucapnya.

Ji Ae tidak menjawab. Dadanya masih berdebar. Lalu wanita itu langsung melanjutkan gerakan tangannya tadi.

Sungmin yang ada didepan mereka menatap kedua orang itu dengan dongkol.

Ji Ae cepat-cepat menyuruhnya keluar dari kelas hanya karena ingin menemui Lee Donghae? Bukankah pria itu baru sehari ini tidak masuk?

“Ji Ae, sepertinya sudah hampir malam. Bagaimana jika kita pulang sekarang?” Ucap Sungmin akhirnya, tidak tahan dengan pemandangan yang ada dihadapannya.

“Pulang?” Ulang Ji Ae. Wanita itu lalu menggunting perban yang sudah selesai dilengan Donghae.

Sungmin mengangguk.

“Jika kau ingin pulang, kau pulang diluan saja. Sebentar lagi aku akan pulang. Aku harus memperban kepalanya juga”

Sungmin mendengus kesal.

“Baiklah, aku akan menemanimu sampai kau selesai.”

Ji Ae tersenyum “Terima kasih”

“Ingin Coffee?”

Seseorang berambut agak kecoklatan menghampiri kami dengan membawa 3 gelas Coffee dinampannya.

“Terima kasih Wookie” Ucap Ji Ae kepada Ryeowook.

Sungmin menatap Ji Ae. Dia sudah kenal pria itu? Berarti Ji Ae sering datang kesini.

“Selamat menikmati” Ucap Ryeowook lalu meninggalkan mereka kembali.

Sungmin menatap aneh, entah apa yang mengganjal difikirannya sekarang.

Mata Sungmin menatap sekitar kafe, tidak ada yang aneh didalam kafe itu. Isi kafe itu sudah penuh. Tidak ada meja kosong lagi yang tersisa.

Sungmin lalu mengambil gelas Coffee yang ada didepan matanya. Matanya menatap air yang berwarna hitam itu.

Tidak ada yang aneh.

Dengan perlahan Sungmin meneguk air itu.

Enak.

Kalimat itu yang pertama kali terlintas difikirannya.

Sungmin lalu menyunggingkan seulas senyum, lucu melihat dirinya sendiri. Dia terlalu banyak membaca buku sehingga berfikir bahwa orang-orang disekitarnya ini adalah Ghoul.

Tetapi perasaan aneh itu tetap menghampiri dirinya.

“Sekarang didahimu. Omo! Lihat darah beku ini. Kenapa kau tidak mengobatinya huh?” Tanya Ji Ae sambil mengomel panjang.

Donghae hanya memandang Ji Ae heran. Dia tidak pernah memperban luka apapun yang pernah berbekas ditubuhnya. Luka itu benar-benar tidak terasa sama sekali, pengobatan alternative itu memang sangat canggih. Menghilangkan rasa sakit serta menutup luka besar seperti perutnya yang sudah berlubang atau semacamnya.

“Tahan sebentar yaa..”

Donghae meneguk salivanya sendiri. Dadanya kembali berdebar. Sekarang posisi Ji Ae tepat dihadapannya.

Sangat dekat!

Jarak mereka hanya tinggal 5 Cm lagi.

Donghae menahan nafasnya, dadanya menjadi sesak. Apa ini? Dia tidak bisa berkata apapun sekarang.

“Ji.. Ji Ae.. Posisimu..” Ucap Sungmin, tetapi wanita itu tidak mengiraukannya.

“Sudah selesai” Ji Ae langsung memotong perban itu.

“Donghae, kenapa wajahmu seperti itu?” Tanya Ji Ae heran.

Donghae benar-benar memanas sekarang. Tidak tahu lagi dia harus berkata apa.

“Sungmin ayo kita pulang! Lee Donghae, semoga kau cepat sembuh ya” Ucap Ji Ae, lalu berdiri.

“Ji Ae.. Coffee mu?” Tanya Donghae akhirnya, setelah berusaha keras untuk menyembunyikan rasa gugupnya.

“Oh iya! Lebih baik aku bawa pulang saja”

Donghae langsung berdiri, berjalan kearah Pria berambut coklat keemasan yang sedang menjaga kasir.

30 detik, Donghae kembali menemui Sungmin dan Ji Ae yang duduk dimeja tadi. Donghae langsung menuangkan Coffee tadi kegelas plastik yang biasanya dipakai untuk orang yang memesan untuk dibawa pulang.

Ji Ae langsung tersenyum “Terima kasih Lee Donghae!”

“Tidak, akulah yang harus berterima kasih kepadamu. Terima kasih Song Ji Ae”

Setelah itu, Ji Ae dan Sungmin pun pergi meninggalkan Kafe.

“Romantis sekali..” Ucap pria yang berada dikasir itu.

“Diam kau Hyuk Jae” Ucap Donghae.

“Telinganya menjadi memerah” Ucap seorang pria yang sedang membuat segelas Coffee.

“Jung Soo Hyung….”

“Ji Ae terlalu menawan untuk seorang Lee Donghae” Lanjut Hyuk Jae.

“Bagaimana jika Ji Ae kau serahkan saja kepadaku?” Tanya Hyuk Jae lagi.

Donghae menatap Hyuk Jae sengit “Seorang monyet tidak cocok dengan seseorang seperti Ji Ae”

Hyuk Jae langsung bersiap untuk mengejar Donghae, tetapi pria itu langsung lari keatas.

“Lee Donghaee!!!!”

**

“Kenapa aku tidak pernah menyadari bahwa ketuanya adalah pria itu?”

Donghae memegang dahinya. Sedang berfikir.

Matanya lalu menatap sebuah foto yang ada diatas mejanya.

Terdapat seorang wanita berumur 30-an dan juga seorang pria yang mungkin berumur sama. Dan dipangkuan wanita itu terdapat seorang anak pria yang tersenyum manis menghadap kamera.

Donghae menghela nafas.

Dia sangat merindukan masa-masa kecilnya dahulu.

Dia sangat merindukan kedua orang tua yang ada didalam foto itu.

Jika saja tidak karena pria itu.

Mungkin kedua orang tuanya masih ada bersamanya sekarang.

**

Pria itu mencoba membuka kedua matanya. Tampak sinar matahari membuat kedua matanya sulit terbuka.

“Lee Donghae, kau sudah bangun?”

Terdengar suara wanita yang masuk kedalam ruangan itu.

Dengan pandangan yang masih kabur, Donghae bisa melihat apa yang ada dipandangannya.

Wanita berambut cokelat panjang.

Suara itu..

Donghae langsung berdebar.

Bagaimana mungkin?

“Ibu~” Ucap seorang anak laki-laki kecil dari atas tempat tidur.

Wanita berambut cokelat itu tersenyum “Kau lapar? Baiklah. Ibu akan mengantarkan makanan untukmu.”

Anak laki-laki itu langsung merentangkan tangannya.

“Mau ikut?”

Anak laki-laki itu tersenyum manja.

Donghae merasa seluruh tubuhnya bergetar. Tidak percaya dengan apa yang dipandangnya sekarang.

Kedua ibu dan anak tadi langsung berjalan keluar dari kamar. Donghae refleks mengikuti langkah kaki wanita berambut cokelat tadi.

“Lee Donghae! Kau sudah bangun ternyata. Bagaimana mimpimu tadi malam?”

Mata Donghae langsung membulat saat mendengar suara itu.

“Buruk”

Ibu pria itu langsung tertawa.

“Itu membuatmu takut sayang?” Tanya wanita itu.

Pria kecil itu mengangguk.

“Kau harus bisa mengatasi segala ketakutanmu Lee Donghae. Jangan tunjukkan kelemahanmu. Mimpi atau kejadian asli sekalipun. Anak ayah harus menunjukkan kekuatannya. Bukan kelemahannya. Itulah Ghoul yang sebenarnya”

“Aku akan mencoba menjadi kuat ayah”

Pria tua yang dipanggil ayah itu tersenyum.

Donghae merasa air matanya sudah mulai mengalir. Menangis? Dia menangis?

“Ayah..” Ucapnya perlahan. Tetapi ketiga orang yang diruangan itu seperti tidak mengetahui bahwa dia ada diantara mereka.

‘Bruk’

Seketika ketiga orang tadi langsung terdiam, bingung.

Begitu juga dengan Donghae.

Kedua orang berpakaian hitam masuk melalui pintu yang tadi dirusaknya.

“A.. Ada apa?” Tanya pria yang dipanggil ayah tadi.

“Kenapa kau bunuh ayahku?” Tanya seorang pria muda berambut cokelat.

“Bunuh? Kau anak Tn Cho?”

‘Slet’

Sebuah ekor panjang besar berhasil membuat leher pria tua tadi terlilit.

“Teganya kau membunuh ayahku!” Pekiknya.

“Tu.. Tunggu.. Ini hanyalah kesalah fahaman. Aku tidak membunuh ayahmu. Kau salah.. bukan.. bukan aku”

Pria muda itu menatap bengis “Apakah aku harus membunuh wanita ini terlebih dahulu? Atau pria kecil itu?”

Wanita tadi langsung memeluk pria kecil yang ada disampingnya. Sehingga membuat pria kecil itu tidak dapat melihat apa yang terjadi dihadapannya.

“Aku tidak akan membiarkan kau menyentuh anak dan istriku!”

Pria tua tadi langsung mengeluarkan Quenquenya. Sebuah ekor yang besar.

‘Plak’

Pria muda tadi berhasil terjatuh karena ekor besar itu.

“Ibu apa yang terjadi?”

“Tidak, tidak terjadi apa-apa. Hanya saja, ada sesuatu hal yang tidak bisa kau lihat sekarang. Lee Donghae tidak boleh melihatnya”

“Kenapa?”

“Sudahlah. Kau tidak ingin membantah ibu kan?”

Pria muda tadi langsung bangkit, dengan marah dia langsung menghempaskan pria tua yang ada didepannya.

Pria tua itu balik membalas. Wanita itu mulai tersenyum. Kedudukannya sekarang pria tua itu membelit leher anak muda tadi. Sepertinya pria tua itu akan menang.

‘Bruk’

Senyum wanita itu menghilang. Wanita itu menggigit bibir bawahnya agar dirinya tidak menjerit melihat apa yang ada didepannya.

“Bagaimana?”

Pria muda itu tersenyum, “Kau beraksi disaat yang tepat Min Ho”

“A.. Apa- apaan kalian…”

Min Ho semakin menekan Quenque miliknya kedalam tubuh pria tua itu.

“La… Larilah…”

“A.. Ayah..” Ucap pria kecil itu. Seketika tubuhnya bergetar saat berhasil melepaskan pelukan tubuh ibunya.

Wanita itu langsung memeluk pria kecil itu, dan langsung membawanya keluar rumah.

“Ibu~ Ayah.. A.. Ada apa?”

Air mata menetes tepat diwajah pria kecil itu, ibunya menangis.

“Mau lari kemana?”

Langkah wanita itu langsung terhenti. Dengan cepat diturunkannya pria kecil yang ada digendongannya.

“Lee Donghae, larilah”

“I.. Ibu~ Tidak! Aku tidak akan meninggalkan ibu sendiri!”

“Lee Donghae! Ibu mohon! Hiduplah untuk ibu. Kau tidak akan membantah ibu kan nak?”

Pria kecil yang bernama Donghae itu terdiam, lalu diturutinya perintah ibunya. Dengan cepat dia berlari meninggalkan ibunya dan bersembunyi diantara bebatuan yang tidak terlihat oleh pandangan kedua pria tadi.

‘Plash’

Pria kecil itu terdiam kaku. Tubuhnya bergetar hebat. Dia dapat melihat sebuah benda bulat yang terguling disana.

Kepala ibunya!

“Kemana anaknya? Kau dapat melihatnya?”

“Aku tidak melihatnya Kyuhyun. Mungkin dia sudah kabur”

Pria yang bernama Kyuhyun itu mendegus pelan “Baiklah. Jangan membuang-buang waktu untuk mencari pria itu sekarang”

“Jadi, kita meneruskan perjalanan? Bagaimana dengan pria kecil tadi?”

Pria yang bernama Kyuhyun itu tersenyum “Tenang saja. Aku sudah mengingatnya dengan jelas. Dia bernama Lee Donghae”

Donghae yang daritadi menyaksikan itu semua hanya diam. Dia tidak bisa melakukan apapun. Kenapa dia bisa melihat kenyataan pahit yang pernah dialaminya ini? Ingin sekali dia menolong orang tuanya yang terbunuh akibat ulah pria tadi. Tetapi apa daya, dia tidak dapat melakukan itu.

Tubuhnya masih bergetar hebat, kejadian tadi bagaikan sebuah rekaman yang terulang dikepalanya. Ternyata benar, pria itulah yang membunuh kedua orang tuanya. Pria brengsek itu!

Setelah kedua orang itu lenyap dari pandangannya, mata Donghae lalu mencari pria kecil tadi.

“I.. Ibu.. A.. Ayah.. Ini bohong kan?”

Donghae mengikuti asal suara yang didengarnya. Terlihat seorang pria kecil sedang bertekuk lutut, matanya memerah, terlihat tiga ekor berwarna biru gelap keluar dari dalam tubuhnya. Tangan pria kecil itu mengepal.

“Yang disana? Kau tidak apa-apa?”

Donghae dan pria kecil itu langsung melihat kesumber suara.

“Kau siapa?”

Seorang pria berambut cokelat yang mendekat kepadanya tersenyum.

“Tenang saja. Aku tidak akan menyakitimu, mengapa kau menangis?”

Pria kecil itu mengusap air matanya dengan punggung tangannya.

“Jangan takut seperti itu. Bagaimana jika aku membawamu kekafe ku?”

“A.. Aku tidak mengenalmu…”

Pria itu tersenyum lagi. “Namaku Jung Soo. Namamu Lee Donghae bukan?”

“Bagaimana kau tahu?”

“Maaf, aku tidak bisa menolong ibumu. Kekuatanku tidak akan cukup untuk melakukan itu sekarang. Sekali lagi maafkan aku.”

Pria kecil itu menatap pria yang bernama Jung Soo tadi.

“Lebih baik tinggalkan saja aku sendiri! Kau tidak perlu kasihan terhadapku” Ucapnya, lalu membalikkan punggungnya. Sehingga sekarang posisinya membelakangi pria itu.

“Kau tidak boleh seperti itu..”

“Aku mau menyusul ibuku dan ayahku!”

Pria berambut cokelat itu langsung memegang bahu pria kecil itu.

“Bukankah ibumu menyuruhmu untuk tetap hidup? Hidup untuk ibumu?”

Pria kecil itu terdiam.

“Kau tidak ingin membuat ibumu bersedih kan?”

“Ti.. Tidak..”

“Jadi tetaplah hidup”

**

“Lee Donghae! Kau mau tidur sampai kapan!”

Donghae langsung tersentak. Fikirannya masih kacau.

“Bukankah tadi Jung Soo Hyung menyuruhmu untuk membelikan gula disupermarket? Kau membuatnya menunggu lama. Jadi karena kau tidak keluar-keluar dari kamarmu, dia yang membeli gula itu sendiri” Pria yang bernama Hyuk Jae mengomel panjang.

Donghae perlahan membuka matanya. Dia sudah berada diakamarnya.

Hanya mimpikah dirinya tadi?

“Sekarang kau harus membuat banyak Coffee, kau harus menggantikan posisi Jung Soo Hyung sekarang. Jung Soo Hyung sedang pergi kesupermarket, dan antrian sudah panjang. Cepatlah, aku tidak ingin menunggu” Hyuk Jae meneruskan omelannya.

“Dan terlebih lagi, bersihkan dulu tubuhmu” Lanjutnya, lalu keluar dari kamar Donghae.

Donghae mendengus panjang. Tetapi kejadian yang dilihatnya tadi masih bergelantungan di fikirannya.

Kedua orangtuanya…

Dia harus membalaskan semua perbuatan pria itu kepada orang tuanya.

Rahang Donghae mengeras, ya dia harus membunuh Cho Kyuhyun.

**

“Wah kau sudah bisa” Donghae tersenyum senang melihat kertas yang ada ditangannya.

Ji Ae tersenyum senang.

“Jika kau mendapatkan nilai diatas 90, aku akan mengabulkan satu keinginanmu” Ucap Donghae.

Ji Ae langsung tersenyum lagi.

“Benarkah?”

Donghae mengangguk “Pernahkah aku membohongimu?”

“Keinginan apa saja bukan?”

“Ya”

“Apapun itu kau tidak menolak bukan?”

Donghae memandang Ji Ae “Selama itu masuk di akal, aku tidak akan menolak”

Ji Ae lalu diam sebentar, menandakan dirinya sedang berfikir. Lalu senyumnya mengembang lagi.

“Aku tahu harus meminta apa kepadamu!”

“Apa?” Tanya Donghae penasaran.

“Kau tidak akan marah bukan?”

“Ti.. Tidak”

Ji Ae langsung mendekatkan wajahnya kearah Donghae. Sehingga membuat pria itu sangat terkejut.

“Ayo kita kencan!”

“Hah?!”

Ji Ae memandang heran, lalu mengembalikan posisinya seperti semula.

“Ke.. Kenapa? Kau tidak suka? Baiklah.. aku akan mengganti permintaan…”

“Tidak! Aku tidak bilang aku menolak bukan? Baiklah! Jika kau berhasil mendapatkan nilai itu, aku.. akan…” Donghae menghentikan kalimatnya, dirinya memejamkan matanya sebentar.

“Kencan denganmu” Lanjutnya.

Ji Ae dapat melihat telinga Donghae menjadi memerah.

Pria itu malu?

Dan anggapan itu berhasil membuat Ji Ae tertawa.

Donghae memandang heran wanita yang ada didepannya “Hei! Apa yang lucu!”

“Ti.. Tidak.. Tidak ada” Jawab Ji Ae setelah tawanya terhenti.

“He.. Hei..”

Tak sengaja tangan Donghae menjatuhkan tumpukan buku yang ada disebelahnya.

Dadanya langsung berdegup kencang saat melihat judul buku yang berada dipaling atas.

“Kenapa kau bisa menjatuhkan buku…” Kalimat Ji Ae terhenti saat melihat ekspresi Donghae. “Hei ada apa?”

Donghae masih terpaku dengan judul buku itu.

‘ A Ghoul’

Ji Ae langsung melihat arah pandang Donghae. Lalu dia langsung menyunggingkan senyumannya.

“Buku itu? Kau tertarik?”

“Darimana kau mendapatkannya?”

“Aku meminjamnya dari Sungmin. Kau tertarik juga untuk membacanya?”

Dada Donghae berdegup kencang.

“Jika kau berminat kau bisa meminjamnya. Aku sudah selesai membaca buku itu. Aku berniat memulangkannya besok”

Donghae menatap wanita yang kini ada disampingnya. Saat itu juga dia tersadar. Dunia mereka berbeda. Sebesar apapun cinta Donghae kepada Ji Ae sekarang, itu tidak akan merubah segalanya. Bisa dipastikan. Wanita itu pasti membenci Ghoul juga. Ya, itu pasti. Dengan kata lain, pastilah dia termasuk orang yang dibenci Ji Ae.

“Lee Donghae? Kenapa diam?”

“Bagaimana tanggapanmu tentang Ghoul?”

Ji Ae memandang heran.

“Ji Ae.. Bagaimana tanggapanmu tentang Ghoul?”

“Aku menganggap mereka sama seperti manusia”

“Kau membenci mereka?”

Ji Ae menggeleng. “Tidak.”

“Bagaimana jika kau memiliki kekasih seorang Ghoul?”

Ji Ae terdiam sebentar. Mengapa Donghae menanyakan hal aneh seperti itu?

“Jika aku mencintai pria yang menjadi kekasihku itu. Apa salahnya aku berpacaran dengan seorang Ghoul?”

Donghae langsung mengangkat kepalanya, dan langsung memandang Ji Ae. Pria itu lalu tersenyum.

“Kenapa kau bertanya hal aneh seperti itu?”

Donghae tersenyum “Tidak. Aku hanya ingin tahu saja” Pria itu lalu melirik arloji yang melingkar dipergelangan tangannya.

“Mungkin ini adalah waktunya aku pulang. Berjuanglah untuk mendapatkan nilai itu Nyonya song!” Ucap Donghae berdiri, lalu berjalan menuju pintu.

“Tentu saja! Aku akan belajar keras malam ini! Hati-hati dijalan Lee Donghae” Teriak Ji Ae menatap punggung Donghae yang semakin menjauh.

Donghae menghela nafas lega. Dirinya sangat senang sekarang. Mendengar penjelasan dari Ji Ae tadi sungguh membuat dirinya lega. Tidak apakah bahwa dia menjadi kekasih wanita itu?

**

“Lee Donghae!! Lihat! Lihat nilaiku!”

Pria yang bernama Donghae itu langsung melihat kertas yang terpampang jelas dihadapannya.

Tinta merah yang bertuliskan angka 92 terpampang jelas dikertas itu.

Donghae langsung menatap Ji Ae sambil tersenyum.

“Kau berhasil”

Ji Ae tersenyum senang. “Aku mau menagih hutang kepadamu”

“Hutang apa?” Tanya Donghae.

“Ji Ae! Ayo cepat. Nanti toko itu tutup” Teriak Sungmin, pria itu sudah menunggu Ji Ae didepan pintu kelas.

“Tunggu sebentar! Lee Donghae. Minggu jam 11. Aku akan menunggumu di stasiun” Ucap Ji Ae, lalu berlari meninggalkan Donghae.

Jam 11? Di stasiun? Donghae lalu tersadar. Oh ya! Kencannya! Kenapa dia bisa melupakan hal penting itu?

**

‘Tap tap tap’

Donghae menghentikan langkah kakinya saat melihat seseorang yang membuat dadanya berdegup kencang.

Rahangnya mengeras. Dengan cepat dia mengeluarkan Quinquenya dan langsung melilit tubuh orang yang sedang berdiri sendiri itu. Orang itu seperti menunggu seseorang.

‘Brak’

Ketiga ekor Donghae berhasil melilit tubuh pria itu. Pria yang tadi sedang bermain handphone itu sontak terkejut.

“Apa.. Apa-apaan kau?!” Pekiknya. Sekarang Quinque ekor panjangnya keluar.

Ekor yang telah membunuh ayah Donghae.

Ya Ekor itu.

‘Brak’

Donghae menghempaskan tubuh pria itu, sehingga membuat tubuh pria itu remuk.

“Mau apa kau?!” Teriaknya lagi, berusaha meloloskan diri, tetapi nihil, lilitan pria itu semakin kuat.

“Kau masih mengenalku?” Tanya Donghae disela-sela aksinya. Sekarang akalnya sudah menghilang, yang ada difikirannya hanyalah kebencian yang mendalam terhadap pria yang didepannya itu.

“Si.. Siapa kau?!”

“Lee Donghae. Masih ingat?”

Mata pria itu membulat begitu mendengar nama itu. Anak kecil yang menghilang waktu itu. Ya pria itu sangat ingat.

“Dari ekspresimu. Sepertinya kau masih ingat…” Donghae lagi-lagi menghempaskan tubuh pria itu kedinding batu yang ada disisi lorong gedung gelap itu.

“K.. Kau…”

Donghae meletakkan pria itu tepat dibawah alat-alat bangunan besi yang tergantung untuk membuat bangunan yang belum jadi itu.

Dalam hitungan detik, Donghae langsung menjatuhkan besi-besi besar itu.

“Akkkhhh~”

Donghae tersenyum puas. Pria tadi berhasil terhimpit oleh besi-besi itu. Sehingga membuat tubuhnya hancur seketika.

‘Brak’

Tubuh Donghae tiba-tiba terpental jauh, tubuhnya tersandar didinding gedung.

“Choi Minho! Minho!” Teriak pria tinggi yang Donghae masih ingat wajahnya. Siwon.

“Bagaimana keadaannya?”

Siwon terdiam sebentar.

“Kutanya bagaimana keadaannya?!” Teriak pria itu.

“Dia.. Sudah mati.. Tn Cho..”

Kyuhyun langsung memandang Donghae. Matanya sudah berubah menjadi merah. Sebuah ekor panjang besar yang penuh dengan duri-duri tajam keluar dari punggung belakang pria itu.

“Beraninya kau.. Membunuh Minho!” Teriak Kyuhyun. Pria itu langsung melilit tubuh Donghae.

Dengan cepat Donghae melepaskan diri dari lilitan Kyuhyun. Tetapi Kyuhyun tidak tinggal diam. Pria itu langsung memukul kedua kaki Donghae dengan Quinquenya yang mengerikan itu.

Donghae melihat, Quinque Kyuhyun mengarah tepat kearah tubuhnya. Donghae berusaha menghindar. Tetapi kedua kakinya sangat sulit digerakkan.

Ada apa ini?

Donghae melihat kedua kakinya. Lelehan darah segar mengalir disana. Apakah Quinque pria itu berbisa?

Donghae berusaha menggerakkan Quinquenya. Tetapi sayang, sama seperti kedua kakinya. Tubuhnya seketika menjadi kaku.

‘Bruk’

Sekali lagi tubuh Donghae terpental kebelakang. Tubuhnya seperti mati rasa. Tidak bisa digerakkan sama sekali.

Dipandangnya apa yang ada dihadapannya. Quinque besar itu menggulung, menyerupai sebuah palu. Donghae menggigit bibir bawahnya.

Apakah ini akhir dari hidupnya?

‘Bruk’

Donghae menutup kedua matanya. Tetapi dia tidak merasakan apapun sekarang.

Akar-akar berwarna putih terlihat didepan matanya. Menahan benda seperti palu tadi menyentuh tubuh Donghae.

“Apa-apaan kau?!” Pekik Kyuhyun.

“Aku tidak ingin berurusan denganmu” Ucap pria itu, lalu membawa tubuh Donghae meninggalkan lokasi tersebut.

Kyuhyun hanya memandang kepergian Donghae. Pria itu menggigit bibir bawahnya. Dia harus bisa membunuh Lee Donghae secepatnya.

**

“Diam ditempat!”

Kyuhyun langsung membalikkan tubuhnya, melihat siapa yang berteriak kepadanya.

“Ternyata kalian pembuat masalah di kota ini. Para Ghoul menjijikkan!”

“Ayo kita serang dia!” Teriak seorang pria.

Kyuhyun memandang malas, dengan cepat Quinque nya yang tadi menghabisi orang-orang yang ada didepannya.

‘Plak’

Tangan kanan Kyuhyun langsung menyentuh belakang kepalanya. Cairan kental sudah meleleh disana.

Kyuhyun lalu membalikkan tubuhnya.

Terlihat seorang pria berambut hitam memegang sebuah Quinque buatan berbentuk ekor besar disana.

“Apa yang kau mau!?” Teriak pria itu.

Kyuhyun hanya memandang diam.

“Enyahlah kau dari dunia ini!” Pekiknya, lalu melayangkan Quinquenya tadi.

‘Plak’

Benda bulat berdarah menggelinding kearah Kyuhyun. Pria itu hanya memandang pria berambut hitam tadi dengan dingin.

“Ayo kita pergi” Ucapnya kepada segerombolan orang yang ada disudut gedung itu.

“Bagaimana dengan Minho?”

Kyuhyun lalu memejamkan matanya sebentar. Lalu pria itu membuka matanya perlahan.

“Kita biarkan saja” Ucapnya.

**

“Kenapa kau melawan Kugoro sendiri?! Apa kau sudah gila?” Teriak Hyuk Jae begitu Donghae sampai dirumah.

Donghae masih berusaha mengatur nafasnya. Darah berceceran di lantai karena tubuhnya.

“Bagaimana jika tadi kau tewas? Untung saja ada Jong Woon Hyung yang menolongmu! Kalau tidak mungkin kau sudah tidak ada lagi sekarang” Teriakan Ryeowook tidak kalah kuat dengan Hyuk Jae.

Donghae hanya diam. Matanya menatap kelima orang yang kini ada didepannya.

“Minum ini. Mungkin ini bisa menjadi penawar bius yang sudah menjalar ketubuhmu” Ucap Shindong, lalu meletakkan segelas air berwarna putih.

Dengan sekuat tenaga Donghae berusaha mengambil gelas yang ada dihadapannya. Akhirnya dia pun berhasil meneguk air didalam gelas tersebut.

“Jong Woon Hyung. Terima kasih” Ucap Donghae setelah bermenit-menit mereka hening.

Jong Woon hanya memandang Donghae sekilas.

“Aku tidak menyangka. Ternyata yang membuat kerusuhan dikota ini adalah Kurogo. Kufikir, ketuanya itu sudah tewas. Lee Donghae! Kau benar-benar gila. Ingin melawan ketua Kurogo sendiri” Ucap Jong Woon.

“Dia melawan ketuanya? Apa kau sudah gila?” Teriak Hyuk Jae untuk kesekian kalinya.

“Benarkah begitu?” Tanya Jung Soo, yang daritadi diam.

Donghae langsung menatap Jung Soo.

“Hyung.. Aku sudah berhasil membunuh orang yang membunuh ayahku dahulu” Ucap Donghae, tersenyum senang. Walaupun banyak sekali luka didaerah wajahnya.

Jung Soo langsung memandang Donghae.

“A.. Apa?”

“Pembunuh orang tuaku..”

Jung Soo langsung tersentak kaget.

“Apakah.. Apakah..”

“Kau benar Hyung. Ketua kurogo itu, yang membunuh ibuku” Ucap Donghae, memotong kalimat Jung Soo. Seketika keadaan kembali hening. Omelan Hyuk Jae dan Ryeowook sudah tidak terdengar lagi akibat kalimat Donghae tadi.

**

“Lee Donghae! Lama sekali kau!” Ucap Ji Ae begitu melihat wujud Donghae dari balik pintu stasiun.

“Maaf, aku hanya terlambat beberapa menit saja” Ucap Donghae, setengah berlari kearah Ji Ae.

Ji Ae hanya tersenyum.

“Jadi kita mau kemana?”

“Ayo kita menonton” Ucap Ji Ae, langsung menarik Lengan Donghae.

Donghae terus menatap waffle yang ada dihadapannya. Inilah saat-saat yang paling dia tidak suka. Makan. Tidak, dia bukan membenci makan. Tetapi dia sangat benci makanan yang ada dihadapannya ini. Makanan manusia.

Donghae menarik nafas panjang, dirinya cukup lelah hari ini. Walaupun hari ini mungkin masuk dalam hari terbaiknya. Menonton, berbelanja, dan bermain bersama orang yang kita cinta itu rasanya tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.

“Donghae?”

Donghae langsung memandang Ji Ae yang ada didepannya.

“Ya?”

“Aku mau mengatakan sesuatu kepadamu”

Donghae hanya diam, menandakan bahwa dia menyuruh Ji Ae untuk melanjutkan kalimatnya.

“Sudah lama aku tertarik kepadamu. Bahkan sebelum kita berteman. Aku tidak menyangka kejadian ini akan terjadi, sungguh. Tidak pernah terfikirkan sebelumnya.. Aku hanya ingin bilang..” Ji Ae menarik nafas panjang.

“Lee Donghae. Aku mencintaimu”

Dada Donghae langsung berdegup keras. Kata-kata tadi benar-benar membuatnya seperti melayang diudara. Rasa sakit yang semalam dirasakannya sekarang tidak terasa lagi. Kejadian pahit semalam benar-benar sudah hilang difikirannya karena kalimat barusan.

Ji Ae mencintainya?

“Jadi.. kau mau menjadi kekasihku?”

Donghae meneguk salivanya. Ini benar-benar membuatnya gila. Apakah dia menerima pernyataan cinta Ji Ae? Atau tidak?

“Lee Donghae?..”

“A.. Aku..”

“Ya?”

“Aku juga mencintaimu”

Donghae tahu, ini memang gila. Dia seorang Ghoul. Dan yang didepannya ini adalah seorang manusia. Tetapi apakah salah jika seorang Ghoul dan Manusia saling mencintai?

Senyum Ji Ae mengembang.

“Benarkah?”

Donghae tersenyum “Tentu saja. Apakah aku pernah berbohong?”

**

“Ibu~ Aku pulang”

Ji Ae langsung masuk kedalam rumahnya. Tetapi langkah kakinya terhenti saat melihat banyak sekali orang berlalu lalang didalam rumahnya.

“I.. Ibu.. Ada apa?”

Ji Ae lalu berjalan untuk mencari ibunya, tetapi tiba-tiba kakinya membeku seketika saat melihat sebuah peti mati, yang diluar peti itu terdapat foto ayahnya.

“Song Ji Ae!” Teriak ibunya, lalu memeluk anak perempuannya itu

“I.. Ibu.. Ada apa?”

“Ayahmu sudah tidak ada lagi Ji Ae..”

Bagaikan dihantam batu keras. Air mata Ji Ae langsung mengalir deras mendengar kata-kata itu.

**

Ji Ae kembali melirik foto dirinya dan ayahnya yang ada diatas meja belajarnya. 2 minggu berlalu sejak kematian ayahnya. Ji Ae tidak menyangka, pekerjaan ayahnya adalah pemburu Ghoul. Kenapa ibunya tidak pernah bercerita tentang itu? Kenapa dia tidak tahu? Dan yang lebih menyedihkannya lagi Ayahnya mati karena Ghoul.

Ji Ae mengepal kedua tangannya. Tak pernah difikirkannya jika dia bisa menjadi sangat benci terhadap Ghoul. Ghoul lah yang sudah membuat ayahnya mati. Ghoul memang gila, mengerikan, makhluk paling dibenci diseluruh dunia. Ya. Sekarang Ji Ae mengakui. Ghoul memang seperti itu.

“Ji Ae, sedikit bersemangatlah. Aku sedih jika terus melihatmu seperti ini” Ucap Donghae setelah selesai menerangkan materi pelajaran kepada Ji Ae.

Ji Ae hanya diam, tidak bergeming.

Donghae langsung menelan air liurnya saat melihat Ji Ae berdiri. Kaos tipis dan celana pendek. Membuat dada Donghae bergetar hebat. Kenapa Ji Ae harus memakai pakaian terbuka hari ini?

Donghae terus melirik lekuk tubuh wanita itu.

Jika kau berfikir bahwa Donghae mesum, kau salah. Pria itu sekarang sedang kelaparan.

“Lee Donghae~” Ucap Ji Ae, memeluk pria itu secara tiba-tiba. Membuat Donghae menahan nafasnya.

“A.. Aku tidak sanggup menerima kenyataan ini. Ayahku terlalu cepat pergi. Ayahku..”

Donghae merasa bahunya sudah basah akibat wanita ini. Itu tidak menjadi masalah baginya. Yang sekarang menjadi masalah besar adalah aroma lezat yang timbul di tubuh wanita itu.

“Ma.. Maafkan aku tidak sempat datang kemakaman ayahmu. Aku merasa bersalah..”

“Tak apa. Aku memaklumi hal itu. Tetapi aku berharap kau tidak meninggalkanku” Ji Ae langsung melepas pelukannya.

“Aku sangat membenci Ghoul!” Ucap Ji Ae kepada Donghae, sehingga membuat pria itu terkejut.

“Dialah yang telah membunuh ayahku!”

Dada Donghae berdegup keras.

“Kalau boleh aku tahu, A.. Apa pekerjaan ayahmu?”

“Seorang pemburu Ghoul”

Donghae langsung terdiam, keringat terus mengalir didahinya. Entah apa yang ada difikirannya. Semuanya bercampur aduk. Disisi lain dia sangat kelaparan, dan disisi lain dia sangat kaget akan fakta yang diceritakan Ji Ae.

“Ji Ae. Aku harus pulang sekarang” Ucap Donghae, lalu berlari meninggalkan Ji Ae.

Ji Ae hanya memandang heran pria itu. Setelah itu matanya melihat handphone dan Buku Donghae yang tertinggal diatas mejanya. Dengan cepat wanita itu menyusul Donghae.

‘Bruk’

Donghae tersenyum ketika seorang pria muda sudah tergeletak tidak berdaya akibat Quinquenya. Dengan cepat Donghae langsung menyantap daging pria itu. Dia benar-benar sangat lapar sekarang.Dengan ganas, Donghae mencabik-cabik daging pria itu.

“Tidak salah. Donghae belok kegang itu” Gumam Ji Ae dalam hati, kedua tangannya memegang beberapa buku Donghae yang tertinggal diatas mejanya tadi.

“That’s right!”

Ji Ae langsung tersenyum senang ketika mendengar suara itu. Suara Lee Donghae! Kekasihnya. Dengan cepat Ji Ae langsung berlari kecil menuju gang yang sepi itu.

“Lee Donghae~ Apa yang kau lakukan disi….”

‘Bruk’

Buku yang tadi ada dipelukan Ji Ae langsung terjatuh. Wanita itu berdiri mematung. Kakinya terasa sangat sulit digerakkan. Dadanya berdegup keras. Dia tidak percaya dengan apa yang ada dihadapannya.

Seorang pria membelakanginya, sedang asyik menyantap tulang-tulang yang diambil langsung dari tubuh pria yang ada dihadapannya. Ketiga ekor berwarna kebiruan yang berasal dari punggung pria itu melayang indah.

Ji Ae merasa mual melihat semua itu, tetapi rasa mual itu berhasil dikalahkan oleh rasa kaget yang luar biasa dari dirinya.

“Lee Donghae?” Ucap Ji Ae dengan bibir yang bergetar.

 

TBC

 

 

3 Comments (+add yours?)

  1. DinanLee
    Aug 11, 2015 @ 22:39:24

    SERU SERU SERU.. \^.^/ LANJUT YA MIN…. AKU TUNGGU….

    Reply

  2. Eunsang
    Aug 12, 2015 @ 17:50:21

    Wahhh jarang jarang baca ff yang beginian😀 di tunggu kelanjutannya thor🙂

    Reply

  3. Rhara yekyu
    Aug 19, 2015 @ 09:59:34

    Next thour……

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: