One Night

Author : Rizki Amalia

Title : One Night

Cast : Cho Kyuhyun

Jung Nari (OC)

Eunhyuk

Genre : Family, romance

Rate : PG-15

Length : Oneshot

**

FF ini udah pernah dipost di blogku dengan cast utama Max Changmin. Max dan Nari itu couple khayalan fav diblogku. Tapi berhubung ini blog super junior, jadilah castnya aku ganti.

Selamat membaca! Semoga terhibur!

^^^^^One Night^^^^^

Sebagaimana mestinya, pada akhir bulan desember salju mulai turun beserta dentingan lonceng dari berbagai penjuru. Di depan pintu rumah atau pagarnya, lonceng dengan berbagai ukuran dan hiasan bergelantungan. Biasanya, anak-anak iseng yang bermain salju diluar suka memainkan lonceng tersebut hingga beberapa pemilik rumah diantaranya sempat keluar untuk mengecek apakah ada tamu atau tidak. Tidak semua, tentu saja. Hanya bagi yang terlalu tua untuk paham artinya seperti Nyonya dan Tuan Kwon, dan bagi yang terlalu banyak berpikir tanpa sempat memikirkan hal sederhana seperti detektif yang baru ditinggal mati istrinya alias Han Guk Jeong. Selebihnya, mereka tahu membuka pintu hanyalah tindakan sia-sia.

Lampu-lampu rumah akan dinyalakan hampir sepanjang malam. Dari jendela, orang-orang bisa melihat pohon natal berdiri di sana beserta lampu yang menghiasinya. Lagu rohani terdengar nyaman ditelinga yang berasal dari rumah si pendeta tua yang telah mengabdikan separuh hidupnya di gereja dekat perumahan. Sedangkan tembang-tembang romantis meyeruak dari rumah sepasang suami istri muda di bagian paling ujung sebelah kanan. Sudah jam delapan malam dan beberapa anak masih saja berlarian diluar.

Ini adalah salah satu kompleks perumahan di bagian paling utara kota Seoul. Tidak dekat dengan keramaian sehingga kau punya waktu berkualitas untuk tidur siang tanpa harus menutup telinga. Suasananya yang menyenangkan akan membuat siapapun betah tinggal disini. Setidaknya itu menurut survei dari 90 persen wanita yang ada. Mereka mengaku semua orang sangat ramah, sangat perduli satu sama lain dan beberapa pandai menjadi seorang pelawak alias pencair suasana. Tapi pada kenyataannya, ada satu orang yang ingin muntah mendengar itu semua.

BRAKKK

Jung Nari membanting pintu rumahnya dengan keras. Dua anak lelaki yang kebetulan sedang membuat boneka salju langsung terlonjak dan menatapnya ketakutan. Bukan karena suara pintu, melainkan karena tatapan Nari yang sama sekali tak bersahabat. Dimata anak-anak itu, mereka baru saja bertemu wujud nyata dari nenek sihir yang kerap mereka dengar dari dongeng.

“SHIT!!”

Nari mengumpat pelan tapi cukup untuk di dengar bocah-bocah itu. Tak ia perdulikan mereka, ia memilih merapatkan jaketnya yang berlapis dua itu, memakai syal dan berjalan dengan langkah cepat. Kepenatan membuatnya melupakan satu hal penting jika ingin bepergian keluar. Sarung tangan!

Maka sepanjang jalan, selain mengusap-usap tangannya supaya hangat, ia juga memasukkannya ke dalam saku. Tapi lama kelamaan ia menggigil juga. Bukan hanya tentang hawa dingin yang rasanya seperti jarum-jarum kecil yang menembus kulitnya, tapi juga tentang hawa dingin dalam hatinya. Ini tentang kondisi hati dan pikirannya yang tak juga menghangat.

Ia terus berjalan melewati deretan rumah tetangganya. Ia masih dengar sayup-sayup lagu rohani dari rumah si pendeta itu, dan ia juga dengar ada yang tertawa terbahak-bahak seperti orang sinting di dua rumah berikutnya. Persetan dengan semua itu! Ia hanya ingin segera pergi dari sini. Ia ingin menjauh dari tempat yang katanya sangat menentramkan ini.

Wusssss

Angin bertiup lumayan kencang mengirim dingin yang luar biasa. Nari tak gentar. Tak ada satu hal pun yang bisa menghentikan langkahnya meski ia tak tahu hendak kemana. Ia hanya mengikuti kemana kedua kakinya membawa. Ia tiba di persimpangan jalan, ia melewati gedung sekolah elit, ia melewati deretan kedai makanan pinggir jalan yang tak henti menawarkan aroma menggoda. Dan setelah beberapa lama, akhirnya ia memasuki kawasan kota yang penuh sesak.

Matanya sempat melirik ke kiri dan menemukan santa bertubuh kurus dan tinggi sedang membagikan kado berbentuk tipis kecil pada anak-anak yang melintas. Ia bisa tebak apa isinya. Kemudian ia arahkan kepala ke depan dan ia sempat bingung ketika seorang pria melambai padanya. Ia belum pikun dan ia tahu sama sekali tak pernah bertemu dengan pria itu. Rambutnya panjang dan pirang, kacamatanya besar sebesar wajahnya. Dilihat dari wajah dan juga gaya berpakaiannya, pria itu seperti berada di waktu yang salah, atau tepatnya dia adalah manusia yang datang dari masa lalu. Lihat saja model celananya.

Nari berusaha tersenyum dan membalas lambaian tangan itu. Ia hampir maju beberapa langkah kalau saja ia tak sadar bahwa yang dimaksud pria aneh itu bukan dirinya, melainkan wanita yang berdiri di sampingnya. Oh, stupid! Jadi ia lanjutkan perjalanan yang masih tanpa tujuan itu. Disini…setidaknya ia bisa lepas dari segala masalah yang membelitnya. Jika ia menyukai ketenangan, maka sekarang yang ia cari adalah keributan, berharap suara-suara itu akan mengalahkan apa-apa saja yang berteriak dalam kepalanya. Dengan berbaur bersama lautan manusia disini, mungkin perlahan-lahan luka itu bisa menghilang dan terlupa.

Dan akhirnya ia memutuskan untuk berhenti di salah satu halte bus. Kepalanya tertunduk. Ia merasa tak ada siapapun yang duduk di sebelahnya. Semua orang sibuk berjalan kaki ke sana kemari seperti gerombolan anak TK yang mengejar acara pembagian coklat gratis.

Nari diam. Duduk seperti orang bisu disana sendirian. Kedua tangannya masih setia berada dalam saku jaketnya. Hingga tak lama, ia merasa ada sesuatu yang tak bisa ditahan.

Air matanya jatuh setetes. Dan sebelum ada air mata yang lain, ia mendongak sejenak.

“Kau berubah akhir-akhir ini.”

“Dan kau terlalu sensitif.”

“Aku hanya ingin tahu apa yang dilakukan suamiku ditengah malam di rumah sekretarisnya!”

“Apa kau tuli? Aku sudah menjelaskannya!”

“Hey, lihat! Semalam aku dengar mereka bertengkar.”

“Ku dengar juga begitu. Sepertinya dia menuduh suaminya berselingkuh.”

“Aku nyaman tinggal disini. Kalian semua sangat ramah.”

“Mereka bertengkar lagi, tapi kali ini aku dengar hanya soal suaminya yang terlalu sibuk bekerja.”

“Sayang, aku minta maaf. Kau dimana? Aku ingin kita bicara.”

“Kau mencari suamimu? Tapi maaf, kami sedang lumayan ‘sibuk’.”

“Apa kalian sudah dengar berita itu? Dia mandul!”

Nari meremas rambutnya kuat-kuat. Meski sakitnya tak tertahankan, tapi ia tak menangis sedikitpun. Kemunafikan, kebohongan, topeng, dan segalanya membuat ia muak. Ia gerah dengan semuanya. Ia benci semua orang yang ada di sana.

“Rokok?”

Ia dengar suara seseorang. Matanya yang semula terpejam langsung terbuka dan menemukan sebatang rokok yang masih utuh di depan wajahnya. Perlahan-lahan kepalanya bergerak ke kanan lalu melihat siapa yang menawarkan rokok itu padanya.

Seorang pria…

Pria itu tersenyum sekedarnya lalu menggoyangkan rokok tersebut supaya ia berminat mengambilnya.

“Ini bagus untuk orang stress.”

Jika biasanya ia benci dikatakan sebagai seseorang yang sedang stres, maka kali ini dengan acuh ia ambil rokok itu. Pria itu langsung menghidupkan pemantik dan seketika rokok itu menyala.

“Uhuk….”

Nari terbatuk dan ia merasa asing dengan apa yang ia hirup. Beginikah rasanya benda yang digilai kaum adam?

“Uhuk…”

Ia menderita, pria itu tertawa bahagia.

“Sudah kuduga.” Pria itu yang tadinya berdiri menyandar pada tiang, kini duduk tepat di sebelah kanan Nari. “Kembalikan rokokku.”

Gengsi tahu-tahu menguasainya. Sekali lagi Nari menghirup rokok itu, perlahan-lahan mengeluarkan asap dari mulut dan hidungnya. Diam-diam ia terkejut dengan hal itu.

“Wow, secepat itu kau belajar!”

Tak ingin tampak bodoh, Nari terus menghisap lalu mengeluarkan asapnya. Dengan kaku ia ubah caranya memegang batang rokok itu dengan jari telunjuk serta jari manisnya.

“Kau benar. Ini cocok untukku.”

Nari memaksakan diri untuk terbiasa dengan apa yang terus menggerogoti paru-parunya itu. Persetan dengan kesehatan. Persetan dengan tulisan larangan merokok yang memang tak ia lihat di belakangnya, benda itu memang bisa membuatnya sedikit nyaman.

“Jadi kau mengakui kalau sedang stress?”

Seketika ia terdiam. Mau tak mau ia kembali teringat akan apa yang sempat ia pikirkan sebelumnya.

“Anggap saja begitu.”

Pria itu mengangguk. Mengambil rokok yang sama dari saku celananya lalu menyalakan. Asap keduanya beradu di depan wajah mereka. Seperti sedang berlomba, mereka tampak tak mau kalah.

“Apa yang kau lakukan disini?” pria itu bertanya lagi. Nari tersenyum kecil setelah mengeluarkan asap dari mulutnya.

“Bukan sesuatu yang perlu kau ketahui.”

“Tapi aku adalah orang yang sangat total. Jika aku sudah duduk disini, kebetulan mendapati seseorang yang mau menerima rokokku, maka aku seperti malaikat yang diutus untuk menemani dan mendengarkannya.”

“Aku tidak meminta.” Nari tetap mencoba sopan. Ia tak merasa pria itu melakukan hal-hal keterlaluan sehingga ia perlu bersikap kasar.

“Dan aku akan tetap menemanimu.”

Nari tersenyum lagi. Terserahlah apa yang mau dilakukan pria itu. Selama tak mengganggu dan selama pria itu masih punya stok rokok lagi, ia tak masalah. Ia memang sudah melakukannya baru saja, meminta rokok ke dua pada pria itu dengan cueknya dan sekarang sudah menyisakan setengah batang lagi. Untuk pemula, jelas ini bukan pertanda baik.

“Berhentilah. Ini tidak diciptakan untuk kau konsumsi seperti makanan.” Pria itu merampas rokok yang masih menyala dari tangan Nari lantas membuangnya. Ia tersenyum ketika rokok itu tepat masuk ke dalam tong sampah.

“Kalian semua munafik.”

Nari menyisir rambutnya hingga ujung lantas menyembunyikan wajahnya dibalik kedua telapak tangan. Ia jengah juga. Dan pada akhirnya, kebiasaan lamanya kambuh lagi. Mulutnya gampang sekali terbuka dan cerita itupun pelan-pelan menyeruak.

“Kau membicarakanku?” tanya pria itu bingung.

Nari menggeleng.” Mereka semua munafik. Mereka bilang mereka tinggal di tempat yang paling nyaman padahal diam-diam mereka protes kenapa tak ada taman di sekitar sana. Mereka bilang hidup bersama orang-orang yang menyenangkan padahal orang-orang menyenangkan itu akan jadi bahan perbincangan dibelakang. Mereka bilang masakanku enak padahal mereka membuangnya ke tong sampah karena asin. Mereka bilang sangat perduli padaku tapi mereka mengunci pintu ketika aku berteriak lalu mereka menguping.”

“Dan kau menghabiskan dua batang rokok bersamaku bukan karena hal itu kan?”

“Aku sudah…” Nari hampir menumpahkan segalanya kalau saja ia tak segera berpaling ke arah pria itu dan untuk pertama kalinya melihat wajahnya dengan jelas. Mulutnya yang selalu lancar berkata-kata jadi kaku. Matanya yang coklat terpaku pada sosok asing itu. Kenapa?

Apakah karena ternyata pria itu tak seburuk yang ia kira? Apa karena mata hitam milik pria itu? Atau karena wajahnya yang memang……..tampan? Ia pikir, sejak tadi ia sedang bicara dengan berandalan bertampang kotor dengan janggut dan kumis yang tak dicukur selama sebulan. Rambut berantakan serta berpakaian usang yang sobek dibagian sikunya. Ternyata pria itu berambut rapi bahkan tampak sehabis disisir. Alisnya cukup tebal. Tidak ada kumis apalagi janggut. Meski ini sudah malam, tapi ia bisa melihat kulit wajah pria itu cukup bersih. Dan pakaiannya rapi. Jas panjangnya tampak bermerk.

“Kau kenapa?”

“AH!” Nari menggelengkan kepalanya dua kali. “Ini aneh. Aku dan kau tidak saling kenal lalu sekarang aku hampir menceritakan masalahku pada orang asing sepertimu? Siapa yang bisa jamin kalau kau tak bermulut besar seperti mereka?” Nari tak percaya dengan apa yang baru dialaminya. Sedangkan pria asing itu tertawa terbahak-bahak sampai memukul bahunya.

“Kau pikir siapa dirimu? Apakah kau artis sampai-sampai aku perlu menyebarkannya? Apa untungnya bagiku?”

Seketika Nari merasa malu. Ia kembalikan mukanya yang mungkin sudah memerah itu ke depan, tak mau menatap pria itu lagi.

“Lagipula, siapa bilang aku adalah orang asing? Aku adalah teman barumu.”

Mau tak mau Nari kembali melempar pandangan padanya. Tapi kali ini tak ada rasa terkejut atau perasaan aneh seperti sebelumnya. “Teman tidak datang dalam sekejab,” katanya tegas seolah-olah ia punya masalah dengan kata teman.

“Biar kita perjelas saja semuanya.” Pria itu sedikit memundurkan tubuhnya. Tangan kanannya terjulur ke depan dan Nari sempat tak mau menatap tangan itu kalau saja tak menemukan hal janggal.

“Ini…”

Pria itu menarik tangannya sesaat lalu memandang ke enam jarinya. “Kau tidak pernah melihat yang seperti ini? Jempol tambahan ini sudah ada sejak lahir. Hebat, kan?”

Nari semakin terdiam dan kehabisan kata-kata. Pria itu penuh kejutan dan sekarang tangannya kembali terjulur. Haruskah?

“Ayolah, kau harus berjabat tangan denganku.”

Meski ragu, Nari juga merasakan sebagian hatinya tidak menyuruhnya untuk takut pada pria itu. Ia hanya perlu menjabat tangan itu dan takkan terjadi apa-apa. Dan setelah mereka berjabatan, pria itu tak begitu saja melepasnya. Diiringi seulas senyum, ia berujar singkat,”Kyuhyun.”

“Kyuhyun?” Nari mengulang kata itu hingga dua kali.

“Namaku Cho Kyuhyun.”

Cho Kyuhyun. Bukan nama yang buruk. Tidak seperti seorang berandalan atau pemabuk. Bukan nama seorang pria gila yang akan membuatnya kerepotan. Tidak terdengar seperti nama pria tukang gosip dan yang jelas nama itu cukup bagus.

“Jung Nari.”

Nari menjauhkan tangannya setelah sadar mereka berjabatan cukup lama. Kesunyian perlahan masuk dan mengubah suasana menjadi canggung. Selain suara musik melow dari toko accecoris natal di dekat mereka, suara deru kendaraan, suara pejalan kaki juga tak berpengaruh. Nari merasa sunyi dan tidak tahu harus melakukan apa.

“Kau tahu ini malam natal?”

Pertanyaan itu cukup menggelikan. Siapa yang tidak tahu kalau ini adalah malam natal? Orang paling pikun mungkin masih sadar kalau ini adalah malam yang akan membuatmu hangat. Harusnya hanya ada tawa. Para wanita memasak makanan spesial di rumah sejak sore. Para pria sibuk menghias pohon natal dan anak-anak akan mulai bertaruh pada temannya bahwa hadiah yang mereka terima dari santa adalah yang paling bagus. Harusnya semua orang ingat hari apa ini, malam apa ini. Dan harusnya cuaca yang membuat dingin begini bisa berubah bagai api unggun.

“Kau tahu? Aku adalah orang yang sangat sibuk. Aku mudah jatuh cinta dan aku sangat mencintai pekerjaanku. Aku tak datang saat pembagian rapor anakku, aku terlambat saat ia bermain drama dan hanya sempat melihat ia membungkukkan badan. Aku tak ada saat perayaan ulang tahun pernikahan. Dan aku hampir tak pernah melepaskan laptop, pulpen, buku kecilku dan juga handphone bahkan di dalam toilet sekalipun.”

Nari tertawa. Jadi siapa yang sebenarnya gampang bicara? Dengan cuek ia ambil bungkus rokok dari saku pria itu, mengambil satu lalu menyalakannya. Ini mengasyikkan.

“Jadi kau sudah menikah?” Ia bertanya setelah membuang asap melalui mulutnya. Ia tak tampak seperti wanita yang baru belajar merokok 30 menit lalu.

“Tentu saja. Kau pikir sedang bicara dengan pria lajang yang sedang bosan?” Kyuhyun memperlihatkan lagi jari-jarinya. Kali ini bukan soal jempol bonus yang ada di tangan itu yang jadi perhatian Nari, melainkan cincin permata di jari manis Kyuhyun. “Aku sudah menikah.”

“Kedengarannya bukan cuma aku yang sedang stres disini. Dari caramu mengatakannya –maksudku.”

“Hey, kau jangan mengada-ngada. Aku kesini untuk mencari udara segar. Aku kelelahan.”

“Lalu kenapa tak kau habiskan malam natal ini dirumah saja?”

Tak seperti sebelumnya dimana Kyuhyun tak pernah butuh waktu lebih dari tiga detik untuk menjawab, kali ini ia hampir tak terlihat sedang menyiapkan jawaban. Nari menekuri wajahnya. Rokok masih menyala dan ia tak mau membuangnya.

“Aku benci sendirian,” jawab Kyuhyun datar. Nari jadi penasaran.

“Tak ada siapapun di rumah.”

Nari mengangguk pelan. Mungkin ini hanya perlu dibuat sederhana. Sibuk bekerja, tidak di rumah, benci sendirian dan tidak ada siapa-siapa jika pulang. Hm, sepertinya ia bisa menarik kesimpulan sendiri. Dan ia bukan satu spesies dengan tetangganya yang suka menyebarkan apapun yang didengar serta mengatakan apapun yang dipikirkannya. Jadi ia hanya mengatakan,”Aku mengerti.”

“Apa kau sedang berpikir bahwa aku adalah suami gila kerja yang kerap bertengkar dengan istriku hingga istriku lari dari rumah?”

Nari mengangguk dua kali. Dengan tangannya yang bebas ia menyisir kembali rambutnya.

“Istriku memang sedang marah padaku, tapi karena aku tak mengunjungi makamnya sebulan ini.”

Plung

Rokok ditangannya terjatuh. Asap terakhir dari mulutnya meluncur dan ia terdiam lagi. Semua itu adalah akibat dari satu pengakuan yang baru ia dengar.

Makam…

Inilah salah satu sifatnya yang tak juga hilang. Selalu merasa paling tahu, paling paham situasi apapun dan merasa bisa menebak apa saja. Harusnya itu tak kambuh saat ini. Ia jadi tak enak hati.

“Ah, inilah yang aku benci dari diriku sendiri. Aku sama sepertimu. Kadang sulit mengontrol mulutku hingga apapun yang ada didiriku hampir diketahui semua orang. Aku akan mengatakan apa saja dan akhirnya orang-orang akan mengasihaniku. Ah, aku tidak suka. Aku tidak suka.”

Tapi kalau begini, bukannya berbelas kasih, Nari justru ingin muntah lagi. Sepertinya salah besar mengkhawatirkan pria disebelahnya ini.   Kyuhyun tak seperti detektif Han Guk Jeong yang tinggal di dekat rumahnya. Pria itu juga baru ditinggal oleh istrinya ke surga. Han Guk Jeong begitu terpukul. Kerjanya sekarang hanya minum-minuman keras, pulang tengah malam dan hampir tak pernah terlihat pergi bekerja lagi. Meski para wanita yang mengaku begitu perduli pada detektif Han terus berkata mereka merasa iba dan akan melakukan sesuatu, nyatanya sesuatu paling nyata yang sudah dilakukan hanyalah membicarakannya di belakang. Padahal, bicarakan di depan mukanya pun ia takkan perduli. Detektif Han seperti orang buta tuli. Itulah pria, begitu gampang hancur seperti kaca yang dihempas ke lantai ketika hatinya di serang.

“Tapi kau masih punya anak. Dimana dia?” Nari mencoba membawa topik ke arah yang lebih menarik. Meski sebenarnya ia tak percaya kalau pria seperti Kyuhyun sudah menjadi seorang ayah, ia tetap ingin tahu.

“Dia marah padaku.” Cara Kyuhyun menjawab tak sesemangat sebelumnya. Dan menyadari itu Nari mulai merasa bisa menjadi pengamat ekspresi.

“Jinju marah karena aku tak ingat hari ulang tahunnya.”

Nari bukan tertarik dengan ceritanya. Tiba-tiba saja ia suka mendengar nama itu. Jinju, Jinju, Jinju. Kedengarannya itu adalah seorang gadis kecil kisaran usia 5 tahun yang menggemaskan. Rambutnya lebat, berponi lurus, mata sipit dan bibirnya berwarna merah muda.

“Padahal ia lahir hari ini, tepat tanggal 25 Desember ia berusia 7 tahun. Itu mempermudah kami untuk tak melupakannya. Tapi pada kenyataannya, aku tetap lupa. Yang ku ingat hanya deadline, deadline, dan deadline.”

“Kau ayah yang jahat,” komentar Nari ringan tanpa maksud apa-apa. Meski ia tahu apa yang ia katakan itu benar, ia tak sungguh-sungguh, hanya sekedar bicara saja. Dan sebenarnya sejak tadi ia tidak begitu meresapi apa yang diceritakan Kyuhyun. Tapi sepertinya pria itu menanggapinya dengan serius.

“Aku memang ayah yang jahat. Jinju bukan marah karena kelakuanku hari ini saja. Aku terlalu sering melupakannya. Seperti yang tadi aku katakan padamu. Aku bahkan tak sempat melihat penampilannya di atas pentas drama sekolah.”

“Setidaknya kau punya anak.”

Tak sadar kalimat itu Nari ucapkan. Ia tahu sebentar lagi ada yang berusaha merembes keluar dari pelupuk matanya. Ah, ia tak ingin menangis di depan pria yang baru dikenalnya itu. Dan ia bukan wanita cengeng.

“Lupakan saja.”

Nari kehabisan rokok. Ia sempat melirik bungkus rokok milik Kyuhyun, tapi sebelum ia sempat mengambilnya, Kyuhyun lebih dulu memperlihatkan isinya yang kosong melompong. Ia menunduk pasrah. Bukannya ingin mengakui bahwa benda itu memang luar biasa seperti kata pria kebanyakan. Ia sendiri masih asing dengan rasanya. Hanya saja, ia tak tahu harus berbuat apa. Dengan merokok, setidaknya ia tak seperti patung.

“Kau sendiri? Kau juga sudah menikah, bukan? Dan kau kemari karena bertengkar dengan suamimu, iya kan?”

Nari menatap mata Kyuhyun tajam. Lancang sekali Kyuhyun menanyakannya. “Jadi kau juga adalah orang yang sok tahu, huh?”

“Hey, santai kawan.” Kyuhyun mematikan rokoknya di kursi, tak perduli akan membekas pada fasilitas kota itu. “Aku hanya bertanya karena sepertinya kau sama sepertiku. Kau bahkan hampir menceritakan semuanya kalau saja kau tak melihatku dan terpesona dengan ketampananku.”

Ini benar-benar menjengkelkan ketika kita berusaha mengelak hal yang sebenarnya memang benar. Nari terlanjur gengsi. Ia tak habis pikir bisa-bisanya duduk bersebelahan dengan Kyuhyun dan anehnya ia tak juga pergi.

“Kenapa? Perkataanku benar lagi?”

“Kyuhyun-ssi, aku tidak ingin membahasnya dan aku tidak terpesona olehmu.”

“Baiklah, baiklah. Kita cari topik pembicaraan lain. Aku juga merasa masalah keluarga kita bukan hal yang ingin kita bicarakan. Ah, tapi aku tak suka kau memanggilku seperti itu. Panggil saja aku Kyuhyun atau Kyu.”

Nari menghela nafas lantas menyandarkan punggungnya ke belakang. Ia kemari untuk mencari angin segar, ingin terlepas dari apapun yang mengganggunya jika berada di rumah. Tapi berada disini, ia justru dipertemukan dengan pria aneh yang sayangnya banyak mengatakan kebenaran. Mungkin lebih baik ia pergi saja. Ya, pergi saja. Ia pun sudah akan berdiri saat tiba-tiba ia mendengar Kyuhyun berujar pelan.

“Malam yang indah.”

Gerakan tangannya yang siap mengibas jaketnya dari salju terhenti seketika. Kepalanya perlahan bergerak ke samping dan menemukan Kyuhyun yang tengah terpejam. Pria itu mendongakkan kepala kemudian berdiri pelan-pelan. Diperhatikannya tingkah laku Kyuhyun hingga pria itu berjalan tanpa membuka mata lalu berhenti tepat di bawah ujung atap halte. Sebelah tangannya terjulur ke depan, menerima kiriman salju kecil-kecil yang datang dari langit. Seperti anak kecil yang tak pernah merasakan salju, begitu pikir Nari.

“Mau ikut denganku?”

Nari yakin, ia takkan mengiyakan ajakan Kyuhyun dan ia sedang berjalan menuju tempat lain untuk menghindarinya. Ia tak punya alasan apapun untuk menerima ajakan itu. Tidak ada yang bisa menjamin bahwa pria yang hampir satu jam ini membuatnya kerap tersenyum tidak berniat melakukan hal buruk padanya. Tapi pada faktanya, ia sedang berjalan bersisian dengan Kyuhyun. Sesekali ia menubruk pejalan kaki lain karena jalannya tidak teratur. Apa yang sedang ia lakukan? Apa ia sudah gila sampai mau saja mengikuti Kyuhyun? Kenapa pikiran dan gerak kakinya tidak sinkron?

“Kita mau kemana?”

Itu adalah pertanyaan pertama sejak ajakan tadi. Mereka sudah berjalan sekitar setengah kilometer dan tak sekalipun Kyuhyun menyinggung tujuan mereka. Nari mulai merasa bodoh.

“Bersenang-senang. Ayo!”

Kyuhyun menarik tangannya. Membawanya masuk ke salah satu klub malam paling popular disini. Club Volume. Tempatnya memang berbeda dari klub kebanyakan. Cahayanya tak segelap biasa, tapi bernuansa biru tua. Ada tiga lantai dan satu DJ utama berdiri paling tengah di podium. Tempat duduk di desain rapi dan terkesan seperti memasuki restoran anak muda kelas VIP. Dan soal cahaya yang tidak begitu gelap itu sebenarnya tidak bisa disyukuri, karena Nari bisa melihat dengan cukup jelas apa saja yang dilakukan manusia-manusia disini. Nari bergidik. Kyuhyun pasti sudah sinting membawanya kemari. Ia pun lebih sinting karena mau saja mengikuti.

“Kyu! Kita keluar saja!” Nari berteriak, tapi tak digubris. Kyuhyun justru berlari meninggalkannya, bicara sebentar dengan DJ berkulit hitam di atas podium dan dalam hitungan detik podium menjadi miliknya. Nari tercengang.

“Malam ini biarkan aku yang memimpin kalian semua menari. Let’s go!!!”

Jadi pria ini adalah DJ yang terlalu sibuk membuat orang bergoyang sampai melupakan anaknya? Hanya itu yang terlintas dikepala Nari ketika melihat Kyuhyun berhasil membuat suasana klub semakin hidup. Orang-orang yang berpasangan menari bersama. Ada yang menari sendiri tak perduli apakah gerakan itu cukup indah dipandang mata atau tidak. Nari merasa kepalanya mulai pusing. Musiknya terlalu nyaring. Orang-orang berdesakan dan ia yakin mencium bau muntahan disini.

“Kyuhyun!” Nari berusaha meneriakkan nama itu, berharap Kyuhyun mendengar dan mereka bisa pergi dari sini. Tapi setelah tak mendapatkan respon, ia baru sadar betapa bodohnya ia. Kenapa harus menunggu Kyuhyun untuk pergi? Jadi ia berbalik, berjalan beberapa langkah saat tiba-tiba tangannya ditarik dan dalam begitu cepat ia sudah berada dalam pelukan seseorang.

“Mau kemana kau?”

“Kyu? Apa yang kau lakukan?”

Kyuhyun mengunci tubuhnya hingga sulit bergerak. Tanpa saling menjawab, Kyuhyun membawa Nari kembali ke tengah bersama orang-orang. Nari tak paham. Tapi dari gerak geriknya, Kyuhyun seperti mengajaknya ikut menari juga. Yang benar saja!

“Kau sedang bercanda?”

Tepat saat itu juga musik berhenti lalu tiba-tiba berubah jadi lagu lawas milik Richard Marx. Nari bisa melihat beberapa orang tampak mundur dari lantai dansa dan hanya menyisakan dua pasangan yang berdansa dengan sangat mesra. Ini mulai tidak wajar.

“Mau berdansa denganku, nona?”

Dan yang paling tidak wajar adalah ketika Nari menyambut uluran tangan Kyuhyun hingga mereka pun berdansa. Nari kehilangan akal sehatnya. Ia diam, pasrah, dan manut saja seolah-olah seluruh tubuhnya terdapat baterai dan remot pengendalinya ada ditangan Kyuhyun. Ia sadar ada yang salah, tapi ia tak tahu kenapa sekarang ia malah meletakkan kedua tangannya di leher Kyuhyun dan membiarkan pria itu menyentuh pinggulnya.

Suara penyanyi yang terkenal ditahun 80-an itu terus mengalun. Satu persatu-satu pasangan lain menyingkir hingga menyisakan mereka yang mulai tenggelam dalam dunia sendiri. Ada perasaan nyaman yang menelusup diam-diam. Ada bisikan tak terdengar yang mempengaruhi keduanya. Lalu perlahan-lahan, Nari mulai meletakkan kepalanya di dada pria yang tengah memeluknya itu. Seakan saling memahami, Kyuhyun mengeratkan pelukannya dan mereka tak menghentikan gerakan kaki sesuai irama lagu.

Tapi situasi itu hanya bertahan tiga menit. Begitu musik berhenti dan lagi-lagi digantikan ‘lagu orang gila’ -menurut selera Nari-, mereka sadar. Nari langsung melepaskan diri dan menjauh. Ia sambar satu-satunya gelas yang ada di nampan dari tangan pelayan yang melintas didepannya lalu duduk di salah satu kursi.

Glek

Ia menghabiskan minuman itu dalam sekali tenggak dan ia hampir memuntahkannya. Rasanya menyengat, tidak enak.

“Aku mau lagi.”

Kyuhyun duduk di sebelahnya, hanya tersenyum menatap Nari yang jelas-jelas tak menikmati apa yang ia minum, tapi sudah menghabiskan dua gelas. Sebelum Nari mulai sinting dan meminta gelas ketiga, Kyuhyun lebih dulu mencegahnya. Sekarang saja Nari tampak mabuk dengan mengacak rambutnya lalu menyembunyikan wajah dibalik kedua tangannya. Bisa dibayangkan akan jadi apa Nari jika ingin terus minum.

Beberapa menit selanjutnya mereka lalui dalam diam. Kyuhyun biarkan Nari meracau sesuka hati, asal tidak mengamuk dan minum lagi, ia tidak akan melarang. Disaat seperti ini, nurani pria sok tahu seperti dirinya mau tak mau bekerja lagi. Ia tahu ada beban yang lumayan besar di pundak Nari. Ah, tapi bukankah rata-rata wanita tetap akan bertingkah aneh sekalipun sedang menghadapi masalah kecil? Untungnya ia belum melihat Nari menangis sedikitpun. Kalau itu terjadi, mungkin ia harus menyingkir kalau tak mau disangka pria kurang ajar yang sudah membuat Nari meraung-raung.

“Setelah kau menikah, apakah kau pernah sekali saja berpikir untuk meninggalkan istrimu?”

Nari kembali meracau, tapi kali ini kalimat yang ditanyakannya cukup jelas. Kyuhyun memainkan gelas kosong bekas milik Nari lantas menjawab dengan seulas senyum. “Pernah satu kali.” Senyumnya mengembang ketika sadar Nari berpaling padanya cepat sekali. “Hanya jika Tuhan memanggilku.”

“Hanya itu?”

Kyuhyun menatap mata Nari lekat-lekat. Ia bisa lihat itu adalah pancaran titik lelah dan keputusasaan seorang wanita.

“Didunia ini, aku hanya ingin menikah satu kali. Kecuali jika suatu saat aku berubah jadi pria brengsek, mungkin kau akan ku nikahi sekarang juga.”

Nari tertawa pahit. Ia letakkan kedua tangannya di atas meja lantas memiringkan kepala seolah tengah berpikir. Tapi dimata Kyuhyun, ia melihat seorang wanita yang tengah mengasihani diri sendiri.

“Ketika aku menikahinya. Aku berjanji pada Tuhan bahwa hanya dia yang akan menjadi istriku bahkan jika dia meninggalkanku. Tapi aku tahu itu tidak akan terjadi.”

“Bukankah dia memang meninggalkanmu?”

Kyuhyun memiringkan kursinya hingga leluasa memandang Nari. Ia jadi sangsi. Wanita ini sedang mabuk tapi bicaranya cukup waras.

“Dia tidak kemana-mana. Tuhan hanya terlalu menyayanginya dan ingin ia berada di dekatnya. Sedangkan aku cukup bangga dengan itu.”

“Boleh aku tahu apa yang terjadi dengannya?”

Kyuhyun makin yakin kalau Nari tidak mabuk. Yang tadi ia lihat hanyalah refleksi dan tindakan yang tak ditutupi dari Nari yang tak bisa menahan isi hatinya. Dan untuk pertanyaan itu, ia membutuhkan beberapa detik untuk mengumpulkan kekuatan. Ia hela nafas panjang, memandang sekeliling untuk beberapa saat.

“Dia mengalami kecelakaan saat usia kandungannya baru berjalan 8 bulan. Nyawanya tak tertolong sementara Jinju berhasil diselamatkan.”

“Kedengarannya kau melewati waktu yang tidak menyenangkan.” Nari berujar pelan sambil sesenggukan. Dari caranya bicara, ia tak menyiratkan keprihatinan sedikitpun.

“Tidak, aku tidak merasa begitu.”

“Kau ditinggal pergi, kau membesarkan anakmu sendirian. Apakah itu belum cukup untuk membuatmu merasa menderita?”

Kyuhyun diam tak ingin langsung menjawab. Lagipula percuma, sepertinya Nari tidak begitu mendengarkannya. Nari hanya sekedar bicara, tidak benar-benar mendengar apalagi memahaminya.

“Kau menderita. Akui saja.”

Tidak, Kyuhyun tidak akan membenarkannya sekalipun itu hanya untuk membungkam mulut Nari. Ia tidak pernah merasa sebagai manusia yang mengalami penderitaan. Memangnya kalau ia mengakui itu, apakah berefek baik baginya? Atau ia justru akan bertingkah seperti Nari? Rasanya kalau ia ikut-ikutan seperti Nari, maka sama saja ia menyakiti diri sendiri.

“Sebenarnya kau mabuk apa tidak, huh?”

Jawaban yang diberikan Nari adalah tawa yang cukup keras. Nari mendorong bahunya hingga sedikit goyah. Nari terpingkal-pingkal memukul meja seakan-akan ia baru saja mendengar lelucon paling jenaka.

“Kau mau bilang kalau kau sudah gila?”

Nari masih tertawa. Kali ini giliran perutnya yang jadi sasaran tangannya. Dan itu jelas bukan hal yang bisa jadi tontonan belaka. Kyuhyun mencegahnya.

“Hey, kau benar-benar sudah gila? Kenapa kau memukuli perutmu?”

Nari mulai tidak terkendali. Ia bukan memukul perutnya karena menahan tawa, tapi untuk hal lain yang tidak dimengerti oleh Kyuhyun. Makin dilarang, Nari makin kuat memukul perutnya, tenaganya semakin besar. Dan semakin Kyuhyun mencegah pergerakan tangannya, semakin ia tak diperdulikan. “Nari, kubilang hentikan! Ada apa denganmu?”

Usaha terakhir adalah menahan kuat-kuat kedua pergelangan tangan Nari dan tidak melepaskannya sedetikpun. Tapi yang berikutnya ia dapatkan adalah tawa yang lebih keras lagi. Nari tak ubahnya pasien rumah sakit jiwa yang letaknya hanya lima kilometer dari klub ini.

“Hahaha…..kau bertanya apakah aku sudah gila? Menurutmu?”

Karena tak ada tanda-tanda kalau Nari akan segera kembali ke alam sadarnya, ia keluarkan beberapa lembar uang dari dompet setelah terpaksa melepaskan kedua tangan Nari lalu meletakkannya di atas meja. “Kita pergi.” Ia bawa Nari menyingkir dari tempat itu. Ia papah Nari yang sebenarnya masih cukup kuat untuk berjalan, ia hanya tak mau ambil resiko kalau nantinya Nari akan jatuh, atau paling ringan menubruk tiang listrik. Nari memang lebih tenang dari sebelumnya. Tidak lagi tertawa, dan yang jelas tidak memukuli perutnya lagi. Tapi ia belum yakin kalau ini akan berakhir. Kyuhyun paham, ia bukan lagi orang sok tahu yang asal menebak isi hati Nari. Sekarang ia benar-benar yakin kalau wanita yang baru dikenalnya ini membutuhkan seseorang. Biarpun ia tidak akan mendapatkan apa-apa karena menemani Nari malam ini, ia tetap akan berada disampingnya. Ia tidak termasuk dalam golongan pria brengsek dan cuek yang diam saja melihat seorang wanita mabuk dipinggir jalan ditengah cuaca dingin begini. Apalagi dengan fakta bahwa ia yang mengajak Nari ke klub, ia yang bersama Nari selama kurang lebih satu jam. Jadi jelas, kalau terjadi sesuatu pada Nari, ia tahu ada banyak saksi disekitarnya yang akan menuduhnya macam-macam karena ia adalah orang terakhir yang bersama Nari.

Kyuhyun sudah berpikir untuk mengantar Nari pulang dengan taksi saja. Ia bisa mencari alamat rumah dari kartu identitas yang mungkin ada di dalam sakunya. Sialnya, beberapa taksi yang melintas tak berhasil ia hentikan karena kedua tangannya sibuk menahan Nari. Nari terus bergerak, berjalan gontai, meracau tidak jelas.

“Kau mau pulang atau tidak, huh? Aku ingin mengantarmu, tapi kau bahkan tidak memberiku kesempatan untuk melambaikan tangan.”

“Siapa yang menyuruhmu peduli? Kenapa tak kau biarkan saja aku berjalan sendiri hingga ada mobil yang menabrakku?”

“Jangan bicara sembarangan!” Kyuhyun menggunakan telunjuknya untuk memperingati Nari. Satu hal, ia tak suka Nari mengatakannya begitu gampang.

“Kenapa? Kau mau marah?” Nari berdiri dengan goyah, tak jadi jatuh karena tertahan tong sampah di belakangnya. “Aku benar, kan? Kalau kau merasa direpotkan, biarkan saja aku mati disini. Tidak akan ada satu orangpun yang peduli padaku.”

“AKU PERDULI PADAMU DAN JANGAN KATAKAN APA-APA LAGI SOAL KEMATIAN!”

Mereka sama-sama tersentak. Kyuhyun sendiri tak percaya ia baru saja membentak Nari begitu keras. Ia hanya tak tahan mendengar ocehan Nari. Ia ingin Nari berhenti bersikap kekanakan. Tapi akhirnya ia sadar, seorang wanita jika sudah dalam keadaan seperti ini akan sulit untuk dijinakkan jika senjatanya adalah kekerasan. Ia harus lebih sabar dan tenang.

“Nari,” ujarnya sangat pelan sambil memegang kedua bahunya.”Ku antar kau pulang, katakan dimana rumahmu.”

Nari menggeleng. “Aku tidak punya rumah.”

“Kalau begitu rumah suamimu.”

Nari menggeleng lagi. “Tidak ada.”

“Oke, rumah orang tuamu.”

“Sudah kubilang aku tidak mau pulang kemanapun! Aku mau pergi jauh!”

Kyuhyun menyerah. Ia diam dan sudah tidak perduli ada berapa banyak taksi yang lewat didepannya. Percuma saja, kalaupun ia berhasil membawanya pulang, belum tentu Nari mau masuk, atau orang yang ada di rumah Nari bisa langsung menghajarnya. Kalau ia membawanya ke rumahnya sendiri, itu tidak mungkin. Jinju bisa berpikir kalau ia berniat untuk memberikannya ibu baru.

Hampir dua puluh menit ia habiskan untuk diam dipinggir jalan sambil berpikir akan diapakan Nari olehnya. Wanita itu juga tampak tenang. Ia mengelus perutnya yang rata. Diam-diam Kyuhyun takut juga kalau Nari akan kembali memukul dirinya sendiri. Sebenarnya ada apa?

“Bagaimana rasanya ketika istrimu pergi?” Nari bertanya. Ia mulai merasa kepalanya pusing tapi ia tak ingin berhenti bicara, tak perduli apakah Kyuhyun masih ada disisinya atau sudah meninggalkannya.

“Apakah sakit?” Tanpa mau mendengar jawaban Kyuhyun, perlahan-lahan ia berdiri, mulai melangkah meski rasanya ia tidak berjalan dengan benar. Dan ia tidak tahu harus bersyukur atau tidak karena ternyata Kyuhyun masih ada. Kyuhyun memegangi tubuhnya dan menuntunnya berjalan. Kenapa harus Kyuhyun orang yang sekarang ada di dekatnya? Kenapa bukan suaminya?

“Kau pikir bisa jalan sendiri dalam keadaan seperti ini?”

“Kau tidak menjawab pertanyaanku.”

“Kau setengah mabuk.”

Dalam diam mereka terus berjalan. Dinginnya udara tidak begitu mengganggu. Kyuhyun masih setia memapah Nari kemanapun. Ia juga tidak tahu, hanya terus berjalan hingga Nari sendiri yang meminta berhenti. Asal Nari tidak pingsan saja, ia masih sanggup. Ia tidak yakin apakah cukup kuat menggendong Nari. Tapi dilain sisi, jika Nari tak sadarkan diri maka situasinya jadi lebih mudah. Ia bisa mengantarkan Nari pulang, lalu akan bicara pada siapapun yang ada di rumah Nari supaya ia tidak dituduh macam-macam.

“Mungkin situasinya berbeda.” Nari berujar lagi ditengah perjalanan mereka yang tak tentu arah itu. Kyuhyun perlu sesekali membenarkan posisi Nari supaya tidak jatuh. Dan sebenarnya, Nari berat juga.

“Istrimu pergi bukan atas kemauannya. Dia mencintaimu, bukan sebaliknya. Sedangkan aku?”

“Kau hanya kurang memahaminya. Aku lelaki, jadi dengarkan aku.”

Nari melepaskan tangan Kyuhyun dari tubuhnya. Meski sempoyongan, ia berusaha berdiri sendiri lantas mendorong dada pria itu. “Kau tahu apa soal dia?”

Tak sadar ia mulai berjalan mundur sedangkan kendaraan lalu lalang di belakangnya. Tapi bagi orang mabuk, suara mobil mungkin akan terdengar seperti lagu rock yang membuatnya ingin mengibas rambut indahnya.”Kau tidak tahu apa-apa, kau tidak tahu rasanya.”

Nari terus berjalan mundur tanpa peduli keadaan sekitarnya. “Kau tidak berhak mengatakan apapun tentangku! Kau tidak ta-AAAA.”

Nari terdiam dalam pelukan seseorang. Nafasnya beradu dan kepalanya semakin pusing. Ia tak memahami apa yang baru saja terjadi. Ada apa? Kenapa Kyuhyun menarik lalu memeluknya begitu erat?

“APA MAUMU? KAU HAMPIR JATUH DAN TERLINDAS MOBIL!!”

Benarkah? Nari justru tertawa keras. Lucu sekali menurutnya. Harusnya biarkan saja itu terjadi. Ia tidak butuh seorang pahlawan untuk melakukan aksi penyelamatan. Ia rela kalau tadi tubuhnya langsung hancur tertabrak mobil. Paling-paling mayatnya hanya akan ditutup koran dan esoknya muncul di koran atau televisi.

“Kau kira ini lucu?” Kyuhyun meremas bahunya begitu kuat. Sementara ia bisa merasakan sakit itu, Kyuhyun menatap matanya tajam. “Aku sudah mengalaminya satu kali,” ujar Kyuhyun penuh penakanan ditiap kata. Tak sadar Nari menahan nafas.

“Dan aku pastikan tidak akan mengalaminya lagi didepan mataku.”

Mungkin Nari belum sepenuhnya kembali normal. Tapi teriakan Kyuhyun dipinggir jalan begini cukup untuk membungkam mulutnya, lumayan berhasil untuk membuatnya tidak bertindak konyol lagi. Ia tidak tahu. Tapi apa yang dikatakan Kyuhyun bisa sedikit membuat matanya terbelalak.

Sejauh ini, Kyuhyun masihlah orang asing baginya. Dan sampai detik ini, Kyuhyun adalah orang asing pertama yang bisa membuatnya takluk. Bahkan dulu saat ia pertama kali bertemu suaminya, ia tak tahu-tahu langsung terpesona apalagi jatuh cinta. Itu merupakan suatu proses yang cukup panjang. Lalu sekarang ia malah kembali berjalan disamping Kyuhyun. Kyuhyun memegani tangannya agar tidak salah langkah lagi. Rasanya ia mulai mengantuk dan ingin tidur saat ini juga, di bahu Kyuhyun.

“Kita berhenti disana.” Nari menunjuk jembatan Mapo yang berjarak tak jauh dari mereka. Ia lelah, kakinya tidak kuat kalau harus berjalan lebih jauh lagi. Tapi bukan berarti ia mau menyerah dan minta di antar pulang. Dalam beberapa menit pun mereka sampai di tengah jembatan. Sebagian sisi jembatan tampak tertutupi salju. Kyuhyun perlu menyingkirkannya supaya mereka bisa berpegangan. Tapi setelah berapa lama, Kyuhyun kurang setuju mereka singgah disini. Udaranya bertiup lebih kencang. Ia hanya memakai jas, tidak cukup memadai dan tidak bisa membantunya menahan dingin.

“Sejuk sekali.”

“Apa?”

Nari meletakkan kedua tangannya pada pagar jembatan. Kepalanya menghadap ke atas lalu memejamkan mata cukup lama. Ia bisa merasakan angin sangat kencang menerpa wajahnya. Rambutnya terbang, kulit tangannya terasa keriput dan kaku. Ini hal terbaik yang bisa ia rasakan malam ini. Tapi dalam sekejab ia menunduk, matanya menatap aliran sungai Han yang tampak tenang dan bersalju. Bagaimana rasanya kalau ia jatuh ke bawah? Apakah jauh lebih sakit dibanding apa yang ia rasakan saat ini? Atau justru tidak seberapa? Kira-kira, kalau ia mati disini, apakah mayatnya akan ditemukan? Ataukah suaminya akan menyadari bahwa ia tak pulang?

“Aku mulai mengantuk. Apa rencanamu setelah ini?” Kyuhyun menguap lebar. Nari memandangnya sinis. Ia bisa lihat asap terus menerus keluar dari mulut pria itu.

“Kau sudah cukup kerepotan karena aku sejak tadi. Sekarang ku persilahkan kau pergi.”

“Sudah kubilang aku adalah orang yang sangat total. Kalau aku pergi meninggalkan seorang wanita yang sedang kesepian, rasanya itu bukan aku.”

Belum pernah rasanya Nari bertemu dengan makhluk macam pria ini. Dari gaya bicaranya begitu santai dan cuek. Tapi apa yang ia katakan selalu berbentuk suatu kepedulian. Kalau bukan Kyuhyun yang sejak tadi bersamanya, ia tidak yakin masih bisa berdiri tegak dan bernafas dengan normal seperti sekarang. Kyuhyun menyenangkan –sebenarnya. Ia tak bisa hitung beberapa kali ia tersenyum bahkan tertawa dibuatnya. Padahal ia lupa kapan terakhir kali bisa tersenyum dengan jujur. Berada di dekat pria itu membuatnya bisa merasakan banyak hal. Ia pun bisa dengan nyaman menceritakan masalahnya meski untuk bagian itu belum ia tuntaskan. Setidaknya, ia merasa didengarkan, ia tidak merasa begitu malang di sisi Kyuhyun.

“Kau tahu? Ini adalah jembatan favorit orang kalau ingin bunuh diri. Dulu orang-orang menamai jembatan ini sebagai jembatan kematian.”

Nari memukul pelan kepalanya berharap pusing akan segera pergi. Beruntung ia belum mabuk berat. Ia usahakan agar bisa mendengarkan perkataan Kyuhyun.

“Ada yang berhasil mati, sayangnya ada yang tidak.”

“Maksudmu?”

“Kau tidak tahu? Bulan lalu ada seorang wanita putus asa yang memilih bunuh diri disini. Tapi kenyataannya, ia tidak mati. Ia justru mengalami patah tulang dan lumpuh seumur hidup. Bukankah itu sangat konyol?”

Nari merasa kepalanya melayang-layang. Bukan karena efek dua gelas alcohol yang sempat ia minum. Ia hanya bergidik dan agak takut mendengar cerita Kyuhyun.

“Kau tidak bohong?”

Kyuhyun tersenyum penuh arti. “Sepertinya kau tidak punya televisi dan tidak pandai bergaul. Berita itu menjadi headline dimana-mana.”

Nari kembali menatap ke bawah dan mengabaikan ocehan Kyuhyun. Ia bisa lihat aliran air itu masih memanggil-manggilnya. Kedua tangannya meremas pagar dengan gelisah. Jujur, ia kemari hanya untuk beristirahat. Kalaupun ada terbesit untuk bunuh diri, hanyalah 16 persen. Dan setelah mendengar cerita dari Kyuhyun, sepertinya niat itu langsung menciut jadi 1,3 persen.

“Kau bayangkan jika tubuhmu tercebur ke sana.” Ia merasa merinding mendengar bisikan Kyuhyun yang begitu dekat dengan telinganya. “Kau jatuh, tenggelam. Dinginnya air mulai menusukmu seperti ribuan jarum dan pisau yang menancap disekujur tubuhmu. Rasa dingin perlahan berubah menjadi sakit yang luar biasa. Kau ingin berteriak untuk meluapkan kesakitanmu tapi tak bisa. Kau ingin berenang tapi tak mampu. Lalu ada binatang air yang mulai menggerogoti kulitmu. Kau dijadikan makan malam yang sangat lezat, kemudian-“

“CUKUP!”

Kyuhyun tertawa terbahak-bahak bahkan sampai memukul-mukul pagar jembatan. Nari tak habis pikir ia hampir terpedaya oleh orang yang sedang tertawa ini.

“Aku tidak pernah punya niat bunuh diri! Dan kau sungguh aneh. Kenapa tadi kau tidak membiarkanku ditabrak mobil kalau sekarang kau tampak menikmati jika aku melompat ke bawah?”

“Hey, aku tidak bilang kau ingin bunuh diri,” sahut Kyuhyun setelah bisa mengendalikan diri. Ia mundur satu langkah lantas membalikkan badan. Ia bersandar dan menatap pemandangan sungai dari arah yang berlawanan dengan Nari.

“Aku hanya memintamu untuk membayangkannya. Maksudku, jika suatu saat kau merasa bunuh diri adalah pilihan terakhir, maka pilihlah cara lain yang lebih keren dari sekedar melompat dan membiarkan hidupmu berakhir sia-sia sebagai santapan ikan.”

“Kau sungguh menyebalkan.”

“Aku anggap itu pujian.”

Sudah lama Nari tak merasakan hal seperti ini. Ia merasa jantungnya dibuat melompat-lompat tidak karuan oleh Kyuhyun. Dan ia setuju kalau dirinya terlalu berharga untuk jadi makanan ikan. Kyuhyun benar lagi. Lagi-lagi Kyuhyun berkata benar.

“Omong-omong, kau tidak mabuk lagi?”

Nari tersenyum sambil menyisir rambutnya dengan jari-jari. “Aku hanya minum dua gelas. Kalau kau biarkan aku minum tiga gelas lagi, barulah aku akan menabrakkan diri ke mobil ditengah jalan.”

“Dalam keadaan mabuk sekalipun, aku tahu kau tidak akan melakukannya. Aku tahu kau juga sempat takut saat kau hampir tertabrak tadi.”

Kyuhyun seperti punya indera lain yang bisa membuatnya membaca isi hati seseorang. Atau mungkin dirinya yang begitu mudah dipahami? Lalu kenapa suaminya tak begitu gampang mengerti dirinya? Kyuhyun tahu ia menanggung beban, Kyuhyun tahu ia sempat ingin bunuh diri. Kyuhyun tahu cara membuatnya tertawa, dan Kyuhyun tahu cara membuatnya nyaman.

“Jangan hanya karena aku begitu mengerti dirimu, kau jadi berpikirkan untuk menikahiku setelah meninggalkan suamimu. Aku ini setia, ingat itu.”

Nari tak percaya dengan apa yang ia dengar. Percaya diri sekali pria ini. Ia bahkan tak punya pikiran sejauh itu. Kalaupun ia berencana menikah lagi, rasanya sebaik apapun Kyuhyun, pria itu tak masuk dalam perhitungan.

“Hanya karena dia tak bisa melakukan apa yang kau inginkan, bukan berarti kau punya alasan untuk meninggalkannya. Dia tetap suamimu, seburuk apapun dia.”

Untuk kali ini Nari tak setuju. Kyuhyun benar-benar sok tahu. Nari ikut membalik tubuhnya lalu perlahan merosot hingga ke bawah. Ia luruskan kedua kaki dan tak perduli oleh pandangan orang-orang yang melihatnya seperti seorang peminta-minta.

“Masalahnya tidak sesederhana itu.”

“Kalau begitu ceritakan padaku.”

Mungkin ini akan memakan waktu lama. Tapi seperti kebiasaannya, Nari begitu gampang bercerita. Namun, hanya pada segelintir orang dan hanya pada beberapa situasi mulutnya begitu lancar terbuka. Salah satunya saat ini, saat ia bersama Kyuhyu yang rupanya sudah mengikutinya duduk di bawah. Dan seolah-olah naskah yang tersusun dalam kepalanya langsung bisa dimainkan dalam sebuah film, ia pun buka mulut.

“Kami menikah 4 tahun lalu. Dia adalah seorang fotografer yang dikelilingi banyak gadis cantik. Tapi dia memilihku, seorang gadis galak yang bekerja di sebuah bank.”

“Kau tidak terlihat seperti pegawai bank.”

“Aku belum selesai bicara, Kyu.” ketus Nari sambil melayangkan pandangan tegas pada Kyuhyun. Pria itu mengangguk lantas menggunakan tangannya sebagai isyarat kunci mulut.

“Kami menikah dan seperti kebanyakan pengantin baru lainnya, indahnya cinta tak mau ketinggalan hinggap diantara kami. Semua terasa manis sekalipun asin. Semua jadi terang sekalipun sedang mati lampu. Semua juga jadi merdu sekalipun orang lain sedang menutup telinga. Dan semua jadi penuh tawa sekalipun ada yang mukanya merah padam di dekat kami. Seakan-akan dunia hanya ditinggali oleh kami berdua. Semuanya begitu sempurna.”

“Kedengarannya sangat bahagia.”

Wajah Nari langsung muram. Ya, sangat bahagia. Nari sampai tak bisa dan tak mau melupakan momen-momen berharga itu. Sayangnya, jika dihitung hingga detik ini, bagian-bagian menyenangkan itu sudah kalah kalau dibanding dengan bagian yang menyakitkan.

“Setelah dua tahun kami tak juga memiliki anak. Orang tuanya menuduhku macam-macam sekalipun dokter mengatakan tak ada yang salah denganku. Tapi orang tuanya tetap mengatakan bahwa aku adalah menantu yang buruk. Yang lebih parah, suamiku menyetujuinya. Dia jarang pulang. Dia lebih sering menginap di rumah orang tuanya dan aku pernah melihatnya jalan bersama anak dari teman ibunya. Aku tahu, diluar sana ibunya berusaha mencarikan wanita yang lebih sempurna. Aku pun tidak tinggal diam. Aku melakukan banyak hal agar suamiku kembali seperti dahulu. Tapi……”

“Tapi…..?”

Dadanya mulai terasa sesak. Ia pejamkan mata dan berusaha sekuat tenaga untuk tidak menangis. Ia tahu air matanya sudah menggunung dan mendesak untuk keluar. Tapi ia tak mau meluapkannya. Tak perlu ada tangis lagi. Ia bisa menahannya meski rasanya tenggorokannya juga mulai sakit.

“Dia justru semakin berubah. Dua tahun berikutnya aku bertahan menghadapi sikapnya yang temperamental. Dia mulai menggunakan tangan jika sedang marah. Dia mulai mabuk-mabukkan dan tidak pulang. Aku pernah mendapat info kalau dia bermalam di rumah sekretarisnya, dia beralasan ada tugas kantor yang harus diselesaikan bersama. Aku mencoba untuk percaya. Tapi hingga pagi tadi sebelum aku pergi ke dokter, aku merasa begitu malang. Aku merasa tolol karena bertahan pada orang yang tidak menganggapku lagi. Dia tidak mencintaiku lagi.”

“Tunggu, apa maksudmu dengan pergi ke dokter?”

Mata Nari tertutup. Masih tergambar jelas dikepalanya ketika beberapa hari ini ia merasakan begitu mudah lelah dan mual-mual. Ia pikir ini hanya masuk angin biasa, tapi hingga malam kemarin kondisinya tak juga membaik, maka pagi tadi ia memutuskan untuk memeriksakan diri ke dokter. Dan hasilnya sungguh membuat jantungnya hampir lepas. Ia bingung harus menanggapinya bagaimana. Apakah ini kabar baik atau buruk? Suaminya tak ada. Suaminya sudah membencinya. Apakah ini bukan berita yang terlambat?

“Aku hamil.”

Nari langsung mengelus perutnya. Kemudian kedua tangannya memeluk tubuhnya sendiri hingga akhirnya ia tak bisa menahan tangis itu lebih lama. Ia rapuh. Ia kebingungan, ia ketakutan. Ia sudah ingin memberitahukan suaminya soal ini dan menunggu kepulangannya. Tapi hingga sore tadi, suaminya tak kunjung pulang. Jadi ia putuskan untuk menelpon. Namun, yang didapatkan hanyalah luka baru.

“Kau mencari suamimu? Tapi maaf, kami sedang lumayan ‘sibuk’.”

Tangannya mulai mengepal. Benih yang ada dalam perutnya sudah tak berguna. Suaminya sudah pergi dan memilih untuk bersenang-senang diluar sana. Apakah kehadiran anak ini masih ada artinya? Mungkin suaminya bahkan takkan mengakui anak ini karena mereka jarang berhubungan intim. Jadi sudah jelas, lebih baik ia bunuh saja anak ini.

“Nari, apa yang kau lakukan?”

Nari kembali memukuli perutnya. Seperti orang kesetanan, ia tak mau berhenti dan terus melanjutkannya. Ia tak menginginkan anak ini. Anak ini tidak berguna.

“Nari, hentikan!”

“Aku tidak mau anak ini.”

PLAKKKK

Kyuhyun menamparnya. Keras. Kuat. Dan sungguh sakit.

“Sebesar apa cintamu pada suamimu, huh?” Kyuhyun hampir berteriak di depan mukanya. Kyuhyun mengguncang bahunya berkali-kali lalu bertanya lagi dengan nada lebih pelan. “Apa kau sudah dibutakan oleh cinta sampai-sampai kau tega membunuh anakmu sendiri?”

Nari terhenyak, kali ini ia merasa ditampar berkali-kali tanpa henti.

“Apa kalau suamimu meninggalkanmu artinya hidupmu tidak berarti lagi? Kalau suamimu memang sebrengsek yang kau ceritakan, maka ia tak pantas menjadi alasan kau membunuh anakmu sendiri. Kau adalah seorang wanita. Dan mengandung adalah kekuatan wanita yang tak lelaki miliki. Kau diberi kepercayaan untuk mengandung seorang bayi dan kau akan membuangnya? Kalau kau melakukannya, kau bahkan lebih biadab dibanding suamimu itu!!”

“Kenapa kau hanya menyalahkanku? Kenapa tak kau salahkan dia?”

“Aku tidak mengenalnya maka aku tak perduli apapun yang ia lakukan. Aku mengenalmu dan aku tidak mau kau bertindak bodoh. Aku perduli padamu.”

Nari menangis lagi. Kyuhyun sangat benar. Kyuhyun menyerangnya tepat sasaran dan berhasil membuatnya jungkir balik. Kenapa ia tak berpikiran kesana? Ia bahkan membiarkan bayinya merasakan pahitnya alkohol, anaknya yang tidak tahu apa-apa ia pukuli. Anaknya yang belum tahu rasanya dunia sudah merasakan sakitnya tidak dikehendaki. Kenapa ia begitu jahat?

Ia menyerah dalam pelukan Kyuhyun. Tubuhnya makin rapuh dalam kehangatan yang dibuat Kyuhyun. Dan semakin Kyuhyun mengelus kepalanya, rasa bersalah semakin menggerogotinya.

“Tenangkan dirimu.”

Tangisnya makin kencang. Batasan – batasan yang sejak tadi terbangun diantara mereka sudah ia musnahkan. Ia memerlukan pelukan ini, ia butuh sandaran seperti saat ini. Malam itu Nari tak merasakan apa-apa lagi selain rasa bersalah dan tolol. Ia tak tahu kalau hujan salju datang dan orang-orang sekitarnya berlarian pulang. Ada yang membuka payung, ada yang langsung pergi dan bersembunyi di dalam rumah. Nari juga tak merasakan dingin lagi. Ia sudah mati rasa. Tubuhnya membeku dengan sendirinya. Tangisnya kering seiring waktu dan menyisakan sesenggukan yang terdengar mengiris-iris hati Kyuhyun.

Kyuhyun sendiri diam. Meski orang-orang di sekelilingnya mulai menghilang, ia dan Nari memilih tak bergerak dan ‘menikmati’ turunnya salju. Sekalipun tubuhnya menggigil hingga ia mati beku, tak apa.

“Kau merasa lebih baik? Sebaiknya kita ke rumah sakit untuk mengecek keadaanmu. Kau tahu kau hampir membunuhnya.”

Nari mendongak dan ia senang ketika Kyuhyun menyeka sisa air matanya. Ia mengangguk. Ia pun sangat khawatir dengan keadaan janinnya. Ia setuju di bawa Kyuhyun ke rumah sakit terdekat. Cuacanya juga sebenarnya tak baik untuk berkeliaran diluar. Sudah cukup ia dan Kyuhyun berpetualang beberapa jam ini. Saatnya ia hadapi kenyataan dan memperbaiki apa yang bermasalah saat ini. Untuk detik ini, yang jadi prioritasnya adalah keadaan sang jabang bayi. Semoga tak terjadi apa-apa padanya. Ia takkan memaafkan dirinya sendiri kalau sampai terjadi sesuatu.

“Kau tenang saja. Sepertinya dia adalah anak yang kuat sepertimu.”

Nari tersenyum dan sepanjang jalan selama berada dalam taksi, ia enggan melepas lengan Kyuhyun. Ia sandarkan kepalanya ke bahu Kyuhyun dan sempat tertidur beberapa menit sebelum akhirnya sampai di rumah sakit. Setelah diperiksa, ia sangat bersyukur karena anaknya baik-baik saja. Ia juga diberi resep vitamin untuk menjaga kandungan. Ia bahagia. Untuk pertama kalinya ia betul-betul merasakan kehadiran seseorang dalam perutnya. Ia bisa rasakan bahagianya menjadi seorang calon ibu. Ia bisa rasakan bagaimana luar biasanya menyadari bahwa dirinya mengandung. Bukan demi kebahagiaan suaminya atau mertuanya yang menginginkan bayi, ini adalah kebahagiaannya sendiri bersama anaknya. Atau mungkin juga bersama Kyuhyun.

“Sudah jam 11 malam.”

Mereka duduk bersebelahan di bangku depan ruang dokter yang memeriksa keadaan Nari. Nari tak henti-hentinya tersenyum. Sejak dokter mengatakan anaknya adalah anak yang kuat, ia begitu bangga. Sejak dokter memberinya arahan supaya lebih baik menjaga kondisi bayinya, ia sangat antusias. Dan saat ia meraba perutnya, ia sungguh merasa sangat beruntung.

“Terima kasih atas segalanya.” Nari menatap Kyuhyun yang baru saja menguap lebar untuk kesekian kalinya sejak tadi. “Dan maafkan aku karena membuatmu harus melewatkan malam natal bersama wanita stres sepertiku.”

Kyuhyun mengacak rambutnya. Rasanya aneh. “Kau tahu tidak ada yang gratis di dunia ini. Aku ingin kau membayar waktu tidurku yang hilang.”

“Aku akan mencuci jasmu yang terkena air mataku dan air liurku,” jawab Nari ringan. Dan Kyuhyun melotot. “Kau membuang air liurmu di jasku?”

“Sepertinya begitu -ketika aku menangis.”

“Baiklah, aku ingin kau membelikanku jas baru besok. Ini jas kesayanganku -kalau kau mau tahu.”

Mereka tertawa. Sungguh malam yang luar biasa. Nari merasa dadanya begitu lapang dan ia bebas kemana saja. Ia bisa berpikir jernih dan ia tahu apa yang harus ia lakukan saat ini, termasuk ke depannya. Yang pertama-tama ingin ia lakukan adalah segera pulang.

“Aku ingin pulang. Aku akan mengatakan padanya tak perduli apapun reaksinya nanti. Kalau ia tidak berubah, maka aku akan membesarkan anak ini sendirian.”

“Kau suka sekali mendramatisir keadaan dan membuat dirimu tampak malang. Kalau kau tidak tahu harus kemana, pintu rumahku terbuka lebar. Kebetulan pembantu di rumahku baru saja pensiun.”

Kyuhyun memang teman yang menyenangkan. Nari pikir ide yang dikatakan Kyuhyun bukan ide yang buruk. Dan kalau mereka tinggal bersama, bisa dipastikan ia selalu terhibur.

“Hm, boleh aku tahu nama suamimu?” tanya Kyuhyun mencoba basi basi. Nari sudah akan menjawabnya. “Namanya-“

Drrtttt

Handphone Nari berdering. Ia rogoh saku jaketnya lalu melihat nama yang tertera pada layar. Jantungnya langsung berdegub kencang. Ia pandang Kyuhyun dan handphonenya bergantian.

“Siapa?”

“Eunhyuk.”

Kyuhyun mengerutkan kening. Dan Nari langsung menjawab, “Suamiku.”

Kyuhyun mengambil alih handphone itu lalu menekan tombol receive. Ia nyalakan speaker dan suara seseorang langsung terdengar.

“Nari? Kau dimana? Dengar, aku minta maaf. Aku sungguh menyesal. Aku sudah melihat hasil pemeriksaanmu di kamar. Aku akan menjelaskan semuanya padamu. Ini tidak seperti yang kau lihat selama ini. Aku berada dalam tekanan orang tuaku. Aku-“

“Kau terlalu banyak bicara, teman,” potong Kyuhyun begitu saja. Nari tak mencegahnya. Ia biarkan Kyuhyun lakukan apapun sesuka hati. Ia tahu Kyuhyun tidak akan melakukan tindakan yang bisa memperkeruh keadaan.

“Simpan kata maaf dan penjelasanmu. Datang dan jemput istrimu di Asan Medical Center . Jika dalam 15 menit kau tidak sampai, aku akan culik istrimu dan kujadikan pelayan di rumahku. Mengerti?”

Dan sambungan pun terputus meninggalkan wajah takjub Nari. Perkenalan singkat mereka malam ini memang sudah cukup bagi Nari untuk memahami perangai Kyuhyun. Tapi ia tak menyangka Kyuhyun masih sempat bergurau disaat begini. Dan apa-apaan itu? 15 menit harus sampai? Nari tahu jarak dari rumahnya kemari bisa ditempuh dalam kecepatan normal adalah setengah jam. Kalau mau ngebut pun tidak akan mungkin tiba dalam waktu 15 menit.

“Kita lihat seberapa besar dia mencintaimu dan bagaimana dia sungguh-sungguh minta maaf. Kalau dia terlambat, aku akan benar-benar membawamu ke rumahku. Jinju pasti senang.”

Rentang waktu 15 menit itu mereka gunakan untuk mengobrol lebih banyak. Nari mulai menggali seputar kehidupan Kyuhyun, terutama soal Jinju. Tapi Kyuhyun tak mau memperpanjangnya dengan alasan mengantuk. Pria itu malah pura-pura tidur supaya Nari berhenti bertanya.

“Apa kau tidak kasihan padaku yang sejak tadi menjagamu? Aku butuh tidur.” Begitu katanya sebelum akhirnya benar-benar menutup mata lantas melipat kedua tangannya di depan dada. Tampaknya itu bukan tidur yang dibuat-buat. Meski agak aneh karena belum apa-apa ia sudah mendengar suara dengkuran, ia tak mengganggu Kyuhyun lagi. Mungkin Kyuhyun memang kelelahan menjaganya sejak tadi. Namun akibatnya, ia kehilangan teman mengobrol. Ia sama sekali tidak mengantuk. Matanya begitu segar dan sanggup meladeni jika ada seseorang yang mengajaknya mengobrol sampai pagi. Dan seketika ia tahu siapa yang bisa ia ajak bicara.

“Hey, jagoan. Apa kau sudah tidur?” Ia usap perutnya perlahan-lahan. Berbeda 360 derajat dibanding beberapa waktu lalu saat ia sekuat tenaga untuk melukainya, kali ini ia memperlakukannya penuh kehati-hatian.

“Ibu sedang menunggu kedatangan ayahmu. Ibu siap apapun yang akan terjadi nanti.”

Bibirnya menyunggingkan senyum tulus. Ia mulai menyandarkan kepalanya ke dinding lalu ikut menutup mata tanpa sedikitpun mengurangi intensitas gerakan tangannya diperut. Namun tiba-tiba ia merasakan tangan orang lain disana. Tangan seseorang yang sangat ia kenal.

“Nari…”

Nafasnya tercekat. Ia sangat mengenal suara itu.

“Eunhyuk….”

Ia membuka mata dan Eunhyuk sedang bersimpuh di depannya. Pria itu memegangi tangannya dan mengelus perutnya bersama-sama. Apakah ini nyata? Bagaimana mungkin Eunhyuk bisa tiba secepat ini?

“Maafkan aku.”

Eunhyuk segera memeluknya. Nari masih terheran-heran saat kedua tangan Eunhyuk merengkuh tubuhnya. Apakah ia sedang bermimpi?

“Maafkan aku, sungguh maafkan aku.”

Tangis mereka tumpah bersamaan dan terus menangis bersama sampai beberapa saat. Perlahan-lahan Nari mulai bisa meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia tidak sedang bermimpi. Ia tahu itu dari bagaimana Eunhyuk memeluknya lebih erat dari biasa.

“Dengar, aku mengaku salah. Aku mengabaikanmu, aku menyakitimu. Aku bermain-main diluar. Tapi sungguh itu semua tidak seperti yang kau lihat. Aku hanya tidak begitu kuat melawan orang tuaku. Mereka mengaturku. Dan kalau kau mau tahu, wanita yang mengangkat telepon tadi adalah suruhanku. Kami tidak melakukan apa-apa, aku hanya ingin membuatmu marah dan mungkin kau bisa lepas dariku. Tapi sekarang-”

“Sekarang kau mencintaiku.”

Eunhyuk tersenyum dan mendaratkan kecupan di dahinya cukup lama. “Bukan hanya sekarang, tapi kemarin dan di masa yang akan datang. Aku akan menjelaskannya lebih detail di rumah. Yang terpenting, kau mau memaafkanku.”

Tak mau ragu dan tak mau berpura-pura, Nari segera mengangguk. Sekali lagi ia peluk suaminya sepuas hati seolah-olah tidak ada esok hari. Ia peluk erat-erat seakan-akan itu tidak akan terjadi lagi. Tapi mereka sadar sedang berada dimana. Dan Nari teringat akan satu hal penting.

“Eunhyuk, aku ingin mengenalkan seseorang padamu.” Nari mengguncang tubuh Kyuhyun yang terlelap di sebelahnya. Ia tak mungkin pergi begitu saja tanpa membiarkan Kyuhyun tahu siapa lelaki berjasa yang semalaman ini bersamanya.

“Erg…kenapa kau membangunkanku? Sudah kubilang ak……” ucapan Kyuhyun terhenti ketika kedua bola matanya bisa melihat dengan jelas siapa pria yang berdiri dihadapannya. Ia ikut berdiri, masih dalam keadaan separuh tidur, ia menggelengkan kepala. “Siapa kau?”

“Kyu, dia suamiku, Eunhyuk.”

Eunhyuk menawarkan tangannya dan Kyuhyun tak serta merta menerima.

“Eunhyuk, dia Kyuhyun. Sahabat baruku.”

Kyuhyun sempat menatap Nari penuh tanda tanya mendengar sesi perkenalan itu. Bukankah tadinya mereka hanyalah dua orang asing yang kebetulan bertemu dan bernasib sama? Tak mau begitu memikirkannya, Kyuhyun menjabat tangan Eunhyuk singkat.

“Jadi kau yang tadi mengangkat teleponku? Aku pikir istriku benar-benar diculik.”

Kyuhyun tersenyum lucu, “Kau suaminya? Sebaiknya jangan lagi kau biarkan dia berkeliaran diluar. Dia sunggguh merepotkan. Aku tidak yakin bagaimana kalau yang bersamanya tadi adalah orang lain.”

Ketiganya tertawa bersama. Nari sempat tersentak ketika dengan bebasnya Eunhyuk memeluknya dari samping, mencium pipinya dihadapan Kyuhyun. “Kau tenang saja. Aku pasti akan menjaganya. Dan terima kasih karena kau sudah menemaniku istriku malam ini.”

Bagi Nari, ini adalah malam terbaiknya. Seperti terlahir kembali. Bahkan ini lebih membahagiakan ketimbang saat ia menikah dengan Eunhyuk, atau ketika Eunhyuk melamarnya di tengah lapangan basket dan ditonton ribuan orang. Dan ia yakin Eunhyuk juga merasakan hal yang sama. Tidak perlu ditanya, ia hanya begitu yakin. Ia tak sabar untuk segera pulang dan mengabarkan pada orang tua serta mertuanya kalau mereka akan dipanggil kakek dan nenek. Ia mulai bisa membayangkan reaksi macam apa yang diperlihatkan mereka. Ibu dan ayahnya pasti akan saling berpelukan lalu mengantupkan kedua tangan dan mengucapkan syukur kepada Tuhan. Sedangkan untuk mertuanya, mungkin ini tidak akan semulus yang diharapkan. Tapi semoga berita ini bisa mengubah segalanya, termasuk pandangan mereka terhadap dirinya. Ia normal. Ia sama seperti wanita lain di dunia yang bisa mengandung.

“Kita harus segera pulang.”

Nari tersadar dari lamunannya. Satu hal. Sekalipun ia begitu antusias untuk pulang, ia juga merasa akan kehilangan sesuatu. Matanya mengarah pada Kyuhyun yang kebetulan sedang menatapnya juga. Diam-diam ada perasaan tak nyaman jika pertemuan singkat ini harus segera berakhir. Kyuhyun adalah teman yang terlalu baik untuk ukuran hubungan yang hanya terjalin selama beberapa jam. Kyuhyun terlalu baik sebagai orang asing yang menawarinya rokok di bawah halte bus. Kyuhyun lebih dari sekedar pria yang gila kerja dan melupakan anaknya. Dan Kyuhyun lebih dari sekedar apa yang Nari bayangkan dalam hatinya.

“Kalian benar. Sebaiknya kalian pulang.”

Tangan Kyuhyun terjulur ke arahnya. Ia masih bisa melihat kejanggalan pada telapak tangan itu. Ia juga ingat bagaimana cara Kyuhyun menjelaskannya dengan begitu mudah. Dan apa yang sudah dilakukan Kyuhyun padanya terus berputar seiring dengan tangannya yang menerima jabat tangan itu.

“Senang bertemu denganmu.”

Itu bukan hal yang ingin ia dengar. Seorang sahabat harusnya tak mengatakan itu pada sahabatnya.

“Kita akan bertemu lagi, bukan?”

Ada segenap harapan dalam pertanyaan itu. Dan Nari mulai takut mendengar jawabannya terlebih mengingat seperti apa sifat Kyuhyun sejak tadi.

“Kurasa tidak. Aku tidak mau direpotkan lagi olehmu. Tapi kalau kau merindukanku, aku dan Jinju akan muncul dihadapanmu. Lihat aja nanti.”

Lagi-lagi bukan jawaban yang di inginkan olehnya. Perlahan-lahan ia melepaskan jabat tangan itu. Ia perhatikan suaminya yang berpelukan singkat dengan Kyuhyun lantas tubuhnya mulai berbalik. Eunhyuk membawanya menjauh dari Kyuhyun. Eunhyuk menuntunnya berjalan dengan perlahan sementara ia mulai kebingungan. Tak tahu kenapa. Tapi ia merasa ada sesuatu yang salah disini. Ia berpaling ke belakang dan saat itu juga Kyuhyun membalik badannya. Pria itu berjalan berlawanan arah darinya sambil bersiul senang. Apakah….mereka akan bertemu lagi?

Sementara itu Kyuhyun berjalan dengan santai. Kedua kakinya terayun tenang dan mulutnya berhenti bersiul ketika seorang suster memperingatinya. Jangan suruh ia berbalik. Ia tak akan pernah berbalik meski ia tahu jalan terdekat untuk keluar dari sini adalah jalan yang dipilih oleh Nari. Dengan telunjuknya, ia seka setitik air mata yang hampir saja tumpah di ujung matanya. Ia pandang wajah seseorang pada layar handphonenya dan saat itu juga ia memukul dadanya berkali-kali.

“Jinju, kenapa dia harus mirip sekali dengan Ibumu?”

**THE END**

 

28 Comments (+add yours?)

  1. rizzzkiii
    Aug 12, 2015 @ 18:48:06

    Oo. .udah dipost ternyata.
    Tengkiu admin!!

    Reply

  2. Ajirei's—Princessbrown
    Aug 12, 2015 @ 20:17:04

    Langsung cussssss pas misskii promote di TL huakakakakak 😝
    Sebenernya ini cerita punya tema yg sederhana tapi entah kenapa jadi berasa beda heum 😌
    Baiklah– a little bit shocked pas tau kalau Nari sama Kyuhyun masing masing udah berkeluarga. Dan sialnya yg jadi suami nya Nari tuh si monyet gunung astagaaaah >< tapi gakpapa…
    Waktu baca aku sempet mikir ini si Kyuhyun malaikat atau apa? Tiba* dateng ke kehidupan Nari, jadi temennya, jadi penasihatnya, bahkan jadi orang yg peduli. Padahal dia juga punya masalah. Kirain si Kyuhyun bakalan punya perasaan gitu, eh tapi pas ada kalimat "Aku ini setia" jadi ilang deh. Kyuhyum sama Nari ternyata bener bener cinta sama pasangannya *tepuk tangan* apalagi Kyu~ gewlaaa 7th ditinggal? Dan gak berniat cari istri lain? Omg~ sebagai duda muda patut diacungkan jempol 👍 bangga banget pasti yaaa yg jadi istrinya Kyuhyun itu.. aah dan yg bikin aku senyum-senyum waktu Kyu bilang dia pernah berniat ninggalin istrinya kalau emang Tuhan udah manggil. So swiiiiiiiiiit 😳
    Mudah-mudahan Nari-Hyukjae bisa bertahan yak /hiks/ aku percaya Hyuk ga bakalan ninggalin Nari gitu aja.. mengingat katanya diantara banyak perempuan cantik cuma Nari si cewek galak yg dia pilih…

    Reply

  3. azizashiyou10
    Aug 12, 2015 @ 21:35:46

    Baca FF ini tuhhh ya Tuhan…
    pertamanya kukira Suaminya Na-Ri itu Kyu-Hyun. ternyata bukan. seiring berjalannya alur cerita. tadinya aku udah mau berhenti di tengah jalan. karena ada beberapa adegan yang sebenarnya bikin aku ellfell. kayak pas si Nari itu dikasih rokok sama Kyu-Hyun, terus di ajak ke klub. tapi lama kelamaan. aku malah penasaran. terus nebak-nebak gimana endignya. tadinya, kupikir kalau Kyu-Hyun itu aslinya adalah suaminya Na-Ri tapi karena mereka lagi marahan, mereka akhirnya pura2 nggak kenal dan disitulah nari justru berani mengungkapkan apa yang dia rasakan.
    tapi ternyata pemikiranku salah. itu emang beneran kenalan baru. dan semua yang mereka lewati itu bikin aku ikut ke bawa cerita.
    APALAGI, pas Nari udah ketemu ama suaminya, dan ternyata eunhyuk itu terima Na-Ri. aku senang bacanya. tapi pas part bagian Kyu-Hyun sama Na-Ri harus pisah. aku njerit. pas ada kata-kata tidak seharusnya seorang sahabat mengatakan “senang bertemu denganmu”
    aku punya sahabat dan bakalan njerit sekeras-kerasnya kalau sahabat aku bisa ngomong kayak gitu.
    skip cerita. aku coba untuk terima kalau Kyu-Hyun sama Na-Ri emang harus pisah. dan KENYATAAN LAINNYA yang bikin aku syok adalah. kalimat terakhirnya ituuuu….
    aku langsung histeris dan entah kenapa netesin air mata.
    ternyata… Na-Ri itu mirip sama Istrinya Kyu-Hyun.
    pokoknya keren banget buat FF ini. endingnya nggak di sangka-sangka dan alurnya nggak maenstream, jadi bacanya asikk…
    gimanapun aku suka. maaf kalau cuma bisa komment segini. kalau boleh tahu, Blog authornya apa, ya?
    makasih…
    terharu sama tulisannya. ^^

    Reply

  4. leeechoika
    Aug 12, 2015 @ 21:48:24

    KEREN BANGET FFNYA! banyak jempol buat authornya! aku nangis pas bagian terakhirnya krn ganyangka nari mirip istrinya kyuhyun. emang ada kejanggalan pas kyu meluk nari disaat nari hampir ketabrak. ternyata…. ah parah ini keren banget!!!!

    Reply

  5. esakodok
    Aug 12, 2015 @ 22:18:12

    keren bangett
    trs cara mereka menghadapi masalah juga keren..dpt dijadikan pelajaran
    endingnya juga bikin kaget…jd ikut nangis pas kyu blg nari mirip eommanya jinju…hikhikhik
    q suja banget pas kyu blg jgn trkalu mendramatisir keadaan…itu ngena banget dah di q…kekekeke

    Reply

  6. tanty muliawati
    Aug 13, 2015 @ 08:56:44

    kirain aku bakalan jadi sama kyuhyun tapi balik sama suaminya●︿●ingin sequelnya(u_u)

    Reply

  7. shoffie monicca
    Aug 13, 2015 @ 09:31:51

    ak kgt bngt pas endingnya jdi nri mknya mrip sm istrinya kyu huaaa author
    minta sequel donk crtanya mnrik ps td diawal2 ak blm trlalu phm kirain nari itu blm pya suami trs yng brtm itu ortunya nri eh ps kbwh2 bru ak phm….

    Reply

  8. Afni Kuswara Putri
    Aug 13, 2015 @ 21:36:55

    Annyeong thor aku reader baru, aku suka ff kamu yg ini.. kyu nya perhatian bgt ternyata nari mirip istrinya kyu eoh? thor minta sequel juseyo apakah mereka nanti akan.bertemu lagi? terus eunhyuk bener2 akan berubah? gimana dgn jinju ketika nanti dia ketemu dgn nari thor jeballlll sequel thorrrr

    Reply

    • rizzzkiii
      Aug 13, 2015 @ 22:26:49

      Sekuel? Sayangnya aku gak punya bayangan bikin sekuelnya. FF ini ff jadul diblogku,. Ceritanya hanya sampai dist dan gak akan dipanjangin. But, tengkiu y. . .

      Pada tanggal 13/08/15, Superjunior Fanfiction 2010

      Reply

  9. chieva_chiezchua
    Aug 15, 2015 @ 07:58:02

    Dengan telunjuknya, ia seka setitik air mata yang hampir saja tumpah di ujung matanya. Ia pandang wajah seseorang pada layar handphonenya dan saat itu juga ia memukul dadanya berkali-kali.
    “Jinju, kenapa dia harus mirip sekali dengan Ibumu?”
    Entah kenapa pas bagian ini air matalu lngsung netes,,, Kyu terlalu pintar menyembunyikan kesedihannya
    .. huwaaa g bisa bayangim dia jdi single parent,,, sbnerx msih bnyak yg gnjal di ff ini, kenapa bisa istri kyu mirip ma nari, apa mreka saudara kembar atau gmn…. ??
    Hnya authorx yg tau… hhh~~~

    Reply

  10. anisa ELF
    Aug 15, 2015 @ 10:35:24

    asli kereeen bnget nih ff
    endingnya bner2 gx ketebak,kerreeenn
    pas di endingnya aq bner2 sedih liat kyu yg ternyata nari mirip istrinya yg sudah mninggal😥

    Reply

  11. uchie vitria
    Aug 15, 2015 @ 10:54:03

    njirrrrrr ini bikin speechless banget
    omg hampir aja bikin gw ngeluarin airmata
    berasa nyess banget yak rasanya jadi kyuhyun
    waktu satu malam yang penuh haru
    tapi dapat mengubah banyak hal
    sampai terakhir pun ada hal yang terus mengganjal hati kyuhyun dan nari
    apalagi kata” kyuhyun terakhir itu
    kasian kamu bang
    harus gitu ya mendiang istrinya kyu mirip ama nari

    ini kerennnnn banget

    Reply

  12. nuryani
    Aug 15, 2015 @ 17:49:25

    hai q raeders baru ijin ubek2 blog’a eah ini bener2 ga bisa d tebak, pas tau ternyata mereka sama2 udh nikah n pas ending’a q berasa sedih coz ternyata istri kyu muka’a mirip sama nari, butuh squel nih coz belum tau anak kyu ky apa, apakh nari punya rasa apa g sama kyu n k hidupankyu yg lain semangat

    Reply

  13. Laili
    Aug 15, 2015 @ 20:41:45

    nih cerita keren bgt. asli…. gak ketebak endingnya gak mainstream. suka bgt pokoknya walaupun masih ada yg ganjel di hati tpi gpp.

    Reply

  14. chocogrill
    Aug 15, 2015 @ 21:02:25

    Ya allah nyesek banget jadi kyuhyun😥 biasa baca karakter kyuhyun di ff yg dingin arogan jail. Tapi baru kali ini disuguhin ff yg bener2 beda, bener2 ngena nyeseknya😦 :3

    Reply

  15. Monika sbr
    Aug 16, 2015 @ 12:16:17

    Sedih sekaligus mengharukan

    Reply

  16. vielfbee
    Aug 19, 2015 @ 21:33:53

    Asyik bacanya…

    Reply

  17. hyun
    Aug 20, 2015 @ 23:34:38

    Aaaaaaaaaaa so simple but so amazing, keren, gua awalnya agak bosen, tapi kesini nya mulai interested, cz bahasanya suer gila simpel banget, mudah dimengerti dan yang pasti jalan ceritanya yang for god shake, anti mainstream bro! Kyuhyun, dia jarinya 6 ye? And damn, ini ff mendidik bgt, banyak quotes2 penyemangat bagu org yg hampir putus asa macem gua, over all i love too much this story, and i’ll be ur stalker after this, authornim….

    Reply

  18. Dini Sumiati
    Aug 21, 2015 @ 02:10:31

    bangun tengah malem dan iseng cari epep, Eh nemu ff ini dari status tmen fb.
    Aku gak tau harus ngomong apa, dan yg bisa aku ungkapin yaitu INI BENER BENER KEREN!! ini epep dengan cast Kyuhyun yg Keren Bangett!! OMG, aku rasanya akan susah move on dari ini epep.
    Pertama aku kira yg suaminya Nari itu Kyuhyun, soalnya biasanya Kyu yg gitu perannya, Selingkuh. dan tapi, ternyata aku bener bener sok tahu! mungkin awalnya aku tertarik baca epep ini karena ada cast Eunhyuk, karena bias aku Eunhyuk, dan aku juga sering males baca epep cast Kyuhyun, karena karakter epep dngan cast Kyuhyun yg pernah aku baca gitu gitu aja. Tapi ini so specleas, bener bener berbeda. Author-nim Hebat!!
    Dan aku harap ada kisah selanjutnya yg nyeritain kisah Eunhyuk–Nari. Aku reader baru dan aku harap bisa nemuin epep epep yg lainnya ber-cast eunhyuk dan bercerita keren semacem ini. Gamsahamnida Thor~

    Reply

  19. nurihandyn
    Sep 03, 2015 @ 00:52:59

    Banyak yg mau aku komentarin tp tiba2 speechless sama endingnya. Ga tau harus komen apa lagi. Daebak lah author.
    Ps: sebenernya aku termasuk siders. Aku cuma leave komen di ff yg bener2 aku suka😄 sukak bgt sama ni ff. Good job thor

    Reply

  20. minrakyu
    Sep 04, 2015 @ 05:02:58

    wew keren ff nya..

    Reply

  21. inggarkichulsung
    Mar 27, 2016 @ 15:14:39

    Aigoo jd Nari awalnya sedih krn di pernikahannya yg memasuki tahun ke4 ini Eunhyuk oppa suaminya mjd lbh tempramen dan cuek pd nya krn mrk blm pny anak juga, sedangkan Kyu oppa seperti hny memikirkan pekerjaannya saja dan menomor duakan Jinju putri semata wayangnya, seru bgt pertemuan singkat Kyu oppa dan Nari di malam natal ini

    Reply

  22. Y♥NGIE
    Apr 22, 2016 @ 19:04:40

    hyuk tega bgt ish!
    kyu dsni jari’a kaia artis india khritik yg jari jempol’a 2 hhi
    ud lh sm kyu aj jng sm hyuk!
    ksian nari ih😥 tertekan bgt sm kisah rmh tangga’a T_T mana lg hamil, ksian stress brat. hyuk nappeun!
    kuu jg ksian dtgal istri sbuk krja smpe jinju aj ngambek huhu😥
    jleb bgt eon ff’a sm2 miris kisah KyuRi😥

    Reply

  23. keunin
    Apr 22, 2016 @ 22:50:55

    oh my god ini cerita dalem banget… aku kira nari bakal minta cerai ke eunhyuk tapi ternyata dia setia sama suaminya, begitupun kyuhyun tetap setia sama mendiang istrinya. awalnya aku jgn ngra kalo kyuhyun itu malaikat apalagi ditambah sama “jempol” tambahan itu… jadi nari itu mirip mending istrinya kyuhyun? pantesan kyuhyun cepet bgt akrabnya dan bener2 perhatian ke nari. nyesek pas baca kalimat kyuhyun yg terakhir :’) jadi penasaran sama kelanjutan ceritanya. ada kah sequel? ah sama sosok jinju jg aku penasaran. namanya unik, jinju hehe

    Reply

    • rizzzkiii
      Apr 23, 2016 @ 05:51:14

      Ada kok sekuelnya disni kira2 sebulan yg lalu dipost. Judulnya ‘just one night’ hehe thank you

      Pada tanggal 22/04/16, Superjunior Fanfiction 2010

      Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: