Scandal Love [6/?]

[Chapter 6] Scandal Love

Author : Rien Rainy (@Riechanie_ELF / Riechanie Elf)

Cast :

  • Lee Dong Hae Super Junior as Lee Dong Hae
  • Cho Hyo Na (OC)
  • Park Jae Rin (OC)
  • Cho Kyu Hyun Super Junior as Cho Kyu Hyun
  • Han Jang Mi (OC)
  • Kim Ki Bum Super Junior as Kim Ki Bum
  • Choi Woo Ri (New OC)

Genre : hurt, romance, tragedy

Rated : T

Length : chapter

Author note : “Jangan lupa main-main ke http://riechanieelf.wordpress.com/ ~!!! ^o^”

HAPPY READING~!!!

ENJOY~!!!

DON’T BASH~!!!

DON’T PLAGIAT~!!!

Don’t like don’t read~!!!

—Scandal Love—

“Alasanku tentang melakukan dan membuat diriku harus tertarik ke dalam masalah yang sebenarnya membahayakan diriku sendiri. Alasan konyol yang selalu saja aku tutupi dan akhirnya aku dengan lancar mengatakannya padamu. Kau… apa kau paham pada apa yang aku katakan?”

—Scandal Love—

—Sebelumnya—

Kejadian yang begitu cepat terjadi membuat mobil yang di kendarai oleh pria berhidung mancung keluar dari jalur dan menabrak sebuah pembatas jalan, seperti mencoba menghindari dari mobil yang melaju cepat itu. Lambat laun juga tempat kejadian menjadi ramai oleh orang-orang yang penasaran akan siapa korban dari tabrakan itu, mobil yang melaju cepat itu tertinggal tanpa adanya supir namun mobil yang menjadi korbannya memperlihatkan seorang korban di sana.

Tak jauh dari tempat kerumunan orang-orang ada sosok lain di balik jaket berwarna ungunya, terlihat rambutnya yang tertutupi oleh topi jaket itu namun seringai tipis tak tertutupi di sana. Matanya terlihat mengkilat seperti menyimpan dendam dan kebahagiaan akan sesuatu yang di lihatnya, kecelakaan yang ada di depan matanya. Pelan-pelan orang-orang mulai terlihat menyingkir saat ada mobil ambulance yang mulai menggotong pria yang di ketahui bertubuh tinggi tersebut di ikuti dengan sosok itu yang menghilang di telan kerumunan orang-orang. Sepertinya tidak ada yang menyadari kehilangan sosok itu di balik mobil ambulance yang sudah menghilang di jalan raya.

“Kita lihat permainan ini masih berlanjut atau tidak, Cho Hyo Na?”

—Scandal Love—

“Bantu aku untuk membuat Jae Rin membenciku, Hyonnie!”

Hyo Na membulatkan matanya tak percaya mendengar permintaan Dong Hae yang terdengar aneh di telinganya. Membenci, membuat Jae Rin membencinya atas dasar apa Hyo Na pun tak tahu.

“Uhm, Dong Hae-ah kau sedang bercanda sekarang?”

“Aku serius!”

Dong Hae terlihat menyentuh kedua pundak Hyo Na yang menatapnya dengan terkejut, tak biasanya Dong Hae bersikap seperti ini. Memaksa ataupun membentaknya, Dong Hae tidak akan kasar pada seorang gadis terlebih pada Hyo Na yang terkenal usil padanya. Tidak akan pernah, kecuali dia tengah memarahi Hyo Na akan sikap usilnya yang sudah keterlaluan dan itu hanyalah sebatas penyebutan nama lengkap Hyo Na.

“Dong Hae-ah aku… mana bisa…”

“Kau bisa!”

Hyo Na mengedip tak percaya pada tuduhan itu, dia tak percaya jika dirinya bisa membuat Dong Hae di benci oleh Jae Rin, mana mungkin bisa. Hyo Na tak mengerti sekarang dan dia tak ingin mengerti sama sekali.

“Kau bercanda! Kau…”

“Kau tidak tahu Hyonnie? Di luar sana ada begitu banyak masalah yang kau ciptakan!”

“Masalah?”

Dong Hae menatap tepat di iris mata kelam Hyo Na yang tak percaya itu, mencoba membuktikan bahwa perkataannya benar. Ya, benar kalau Hyo Na bisa membuat masalah besar tanpa perencanaan sama sekali, sedangkan Hyo Na terlihat bertanya-tanya pada dirinya sendiri mengenai masalah-masalah yang bahkan dia tak ketahui sama sekali.

Hyo Na kini terlihat menggelengkan kepalanya dengan kuat dia bahkan kini tanpa sadar sudah melepas paksa cengkraman kedua tangan Dong Hae pada bahunya. Dong Hae bukannya tak ingin melepasnya, dia merasa cengkraman tangannya tadi lepas begitu saja dari Hyo Na yang kini sudah terduduk dengan wajah pucatnya masih dengan gumaman tak jelas yang ke luar dari bibirnya.

“Tidak… Tidak mungkin! Choi… Choi Woo Ri… dia… dia tidak boleh tahu!”

Dong Hae heran mendapati Hyo Na yang meracau tak jelas di tempatnya, dia terlihat bingung dengan apa yang di lihatnya, Hyo Na yang seperti orang yang ketakutan entah untuk apa. Dong Hae mendekatinya pelan-pelan, berjongkok untuk menyejajarkan tubuhnya pada Hyo Na yang bergetar ketakutan sambil masih meracau tak jelas, “Tidak! Tidak boleh! Dia… tidak boleh tahu!” Dong Hae mengernyit mendengarnya kala Hyo Na yang berteriak sekarang.

“Hyonnie, kau…”

Lalu kalimat itu terputus saat iris mata Hyo Na menatap tajam milik Dong Hae sangat dalam hingga Dong Hae tak bisa lagi berbicara di depannya. Gadis itu berbeda di depan matanya sekarang, dia bukan seperti Hyo Na dengan kekonyolan atau kejahilan di kelas, dia bukan Hyo Na yang polos dan ramah yang selalu memberikan senyuman manisnya pada setiap orang yang dia temui, dia bukan Hyo Na pada biasanya. Iris matanya tidak terlihat seperti itu, ketakutan, kesepian, dan kesendirian. Lalu seperti ada sesuatu yang dia sembunyikan selama ini dalam dirinya, Hyo Na bukan seperti Hyo Na pada umumnya.

Dong Hae ingin menyentuh pundak gadis yang masih terlihat bergetar tersebut, pelan sekali gerakannya, dia masih tidak ingin membuat Hyo Na menjadi tidak nyaman karena dia yang masih bergetar ketakutan dan bergerak gelisah tidak jelas di sana. “Hyo Na? sadarlah!” lalu perkataan itu seolah menyadarkan Hyo Na yang kini mulai tenang tiba-tiba, tetapi tidak menyembunyikan wajahnya yang pucat menatap tepat ke arah Dong Hae.

“Dong… Dong Hae?” lalu Dong Hae menganggukan kepalanya pelan di depannya, “Maafkan aku, Dong Hae!” dan dia terlihat meminta maaf sambil beringsut meninggalkan Dong Hae yang masih terduduk di sana.

“Hyonnie!” panggil Dong Hae terdengar saat Hyo Na ingin memutar kenop pintu, lalu gadis itu terlihat menghentikan setiap pergerakannya tanpa berbalik dirasanya Dong Hae yang berjalan ke arahnya dengan pelan, “Kau… kau tidak…” kalimat itu terputus saat tiba-tiba saja Hyo Na berbalik dan memandang Dong Hae dengan sorot matanya yang kosong, “Berhentilah berbicara tentang masalah yang aku buat! Lee Dong Hae…” lalu gadis itu berlalu dari hadapannya, Dong Hae masih mematung di langkahnya dengan tangan yang menggantung di udara.

Entah apa yang di pikirkan pria itu namun iris matanya masih terus memandang punggung Hyo Na yang berangsur-angsur menghilang dari matanya, jauh sekali seperti tak ingin di gapai Dong Hae lagi.

“Itu… pandangan yang bukan milik Hyonnie…”

—Scandal Love—

“Kau kenapa akhir-akhir ini, Hyonnie?” tanya Jang Mi memecahkan lamunan Hyo Na yang tengah memandang kosong kaca di sampingnya, “Sakit?” tanya Jang Mi lagi dan Hyo Na tersenyum kecil sambil menggigit ujung rotinya dengan senyum tipis.

Menggedikan kedua bahu, gadis bermata bulat yang ada di samping Hyo Na itu memilih ikut duduk diam di sampingnya dan memakan roti isi miliknya. Hyo Na masih bungkam, menurutnya ada yang dia sembunyikan Hyo Na padanya selama dia memilih absen dari sekolah, Kyu Hyun sempat bertanya padanya juga apa Hyo Na pernah bercerita tentang sesuatu hal, namun Jang Mi sudah berusaha mengatakan tak ada yang di ceritakan gadis itu padanya, tidak ada sama sekali.

Lama mereka melamun berdua dengan pemikiran masing-masing, Hyo Na tahu kondisi fisik Jang Mi juga masih lemah tidak seperti saat dia mengalami kecelakaan, Jang Mi lebih banyak terdiam dan tidak berteriak atau melakukan hal-hal usil padanya, Hyo Na merindukan sifat temannya itu. Namun di sisi lain, Hyo Na juga harus sadar, jika kejiwaannya mungkin saja masih terguncang dengan beberapa kejadian mengerihkan yang akhir-akhir ini jadi sering dia terima, tidak di fisik memang hanya saja ini yang lebih membekas di ingatannya hingga Kyu Hyun harus menemaninya beberapa minggu lalu.

Loker penuh darah hewan dan berantakan, tempat duduknya yang tentu saja akhir-akhir ini menjadi objek kekerasan dari orang yang tidak diketahuinya, isi roti yang terkadang di makan terasa aneh, lalu yang parah adalah dirinya yang di temukan basah saat ke luar dari kamar mandi tentu saja karena ada satu ember air yang sengaja di ganjal di atas sana. Kejadian-kejadian yang memang tidak secara langsung menyerang fisiknya namun yang tersiksa adalah batin dan kejiwaan Hyo Na sendiri.

Pluk.

“Eh?!” kini kedua iris matanya menangkap sosok Dong Hae yang sudah berdiri di depan mejanya sambil meletakan handuk kecil menutupi helaian rambutnya, Jang Mi juga sama-sama mengikuti arah tatapan itu, “Rambutnya basah pun tak kau perhatikan, Jang Mi-ah? Apa kau kedinginan setelah terkena air, Hyonnie?” itu suara milik Dong Hae yang terdengar perhatian, Jang Mi hanya meringis kecil.

Hyo Na sendiri sudah menunjukkan wajah datarnya, ini sudah bulan ke berapa Hyo Na tak menjahili dan bertingkah seperti sebelum mendapatkan kejadian-kejadian mengerihkan ini. Banyak teman di kelasnya yang merindukan sikap Hyo Na, namun mengingat Hyo Na yang sepertinya kembali menutup diri, mereka menjadi sulit untuk mendekat dan menghibur Hyo Na. Apalagi jika sudah berurusan Kyu Hyun, pria berambut ikal itu juga akhir-akhir ini sangat aneh, tak jarang membuat beberapa teman di kelas menganggap kalau Kyu Hyun juga menyukai Hyo Na karena sifat protectifnya, sama seperti Dong Hae yang beritanya sudah tersebar di jauh-jauh hari. Tetapi untuk ketiganya, diam adalah jawaban untuk menjawab setiap pertanyaan mereka yang penasaran dengan apa yang terjadi pada Dong Hae, Hyo Na dan juga Kyu Hyun.

“Sudah ada kabar dari Zhoumi, Jang Mi-ah?” Jang Mi lalu melihat Dong Hae yang bertanya padanya, “Terakhir kali ku dengar dia sudah bisa menggerakan kakinya, walau sedikit. Tetapi masa istirahatnya harus di tambah lagi, ada banyak cidera yang belum sembuh benar,” jelas Jang Mi panjang lalu memerhatikan Hyo Na yang sudah menyumpalkan telinganya dengan earphone, Dong Hae melirik ke arah Jang Mi bertanya, “Mungkin tak ingin di ganggu,” katanya pelan lalu Dong Hae terlihat tersenyum kikuk.

“Hyonnie?” panggilnya pelan lalu membuat Hyo Na mendongak menatapinya, “Berhentilah bersikap seperti itu terus! Kau…”

Hyo Na tiba-tiba saja bangkit dari tempatnya dengan pandangan matanya yang sudah menangkap sosok gadis berkacamata yang tersenyum ke arahnya, “Hai, Hyonnie!” lalu dia adalah Park Jae Rin, gadis yang kini menyapanya dengan riang tanpa ada rasa bersalah sedikitpun. Jang Mi mencium gelagat aneh dari gadis bermuka dua di depannya, Dong Hae bahkan sudah berdiri di samping Hyo Na, seperti melindunginya akan hal-hal yang kemungkinan saja akan terjadi padanya.

“Jae… Jae Rin­-ah…” ucap Hyo Na terdengar ragu tetapi dia masih menatap gadis itu dengan datarnya, “Hm, kau terlihat baik, ya? Hm, lukamu sudah juga sembuh!” ucap Jae Rin yang sepertinya memilih topic lain, Jang Mi mengeratkan genggamannya pad seragam miliknya, dia tentu saja muak mendengarkan basa-basi dari gadis berwajah iblis di depannya itu, “Berhentilah, Jae Rin! Ku mohon!” ucap Hyo Na dengan lemah dan Jae Rin tertawa kecil mendengarnya.

Dong Hae dan Jang Mi bukan tak mendengar itu, mereka berdua sangat mendengarnya apalagi kini Hyo Na sudah mengeluarkan air matanya di hadapan Jae Rin yang berjalan mendekatinya dengan langkah pelan, “Apa yang kau…” Jae Rin memotong pertanyaan Dong Hae dengan tatapan tajamnya, “Pria ini bahkan sudah tak menarik lagi di mataku? Hm, Hyonnie, sepertinya aku…”

“Berhentilah! Ku mohon, Jae Rin!” dan bentakan kuat dari Hyo Na terdengar begitu saja, memotong percakapannya dan mengundang beberapa pasang mata di kelas itu untuk melihat ke arahnya dengan tanya-tanya yang tak akan bisa di jawab dengan begitu mudahnya. Hal yang jarang terjadi bagi beberapa temannya di kelas, seorang Hyo Na yang selalu tertawa riang dan ramah membentak seorang Jae Rin yang terkenal itu di kelasnya, apa dia ingin mencari musuh di dalam kelas atau tidak sekali pun, semua orag menjadi tahu juga akhirnya tanpa terjawabkan.

Tarikan nafas yang terlihat kesusahan milik Hyo Na terlihat di depan matanya, tersiksa dan berat sekali. Tetapi Jae Rin mengabaikannya saja, pemandangan di depannya sangat-sangat menarik jika di perhatikan lagi, dia jadi berpikir tentang bagaimana lagi caranya menyiksa sosok polos itu, apa dengan mengerjainya seperti kemarin atau melakukan kontak fisik seperti beberapa bulan yang lalu.

“Kau sudah bersuara sekarang, ya? Hm, Hyonnie, kau benar-benar pemberani, eh?” gumam Jae Rin mengejeknya lalu memberikan senyuman yang terbaik di wajahnya, Hyo Na masih menahan isakannya dengan kuat, bagaimana pun ingatannya tentang penyerangan dia beberapa bulan lalu masih sangat segar.

Grep.

“Sudah cukup kau menakutinya?” suara milik Kyu Hyun menghentikan senyuman Jae Rin, beberapa pasang mata kini menatap Kyu Hyun yang sepertinya baru masuk ke dalam kelas, Dong Hae juga memandang pria berambut ikal itu menjadi tak suka, “Kembalilah ke tempat kalian semua!” suara berisi perintah membuat banyak siswa lain mengikutinya dengan tertib tetapi ini tidak berlaku untuk Jae Rin yang bahunya masih di cengkram oleh Kyu Hyun dengan erat.

“Kau terlalu banyak teman yang selalu melindungimu. Hm, kau tak tahu? Kau seperti beban berat sekarang ini?” gumam Jae Rin kecil namun matanya yang di balut kacamata terlihat tajam sekali menusuk ke arah Hyo Na yang terlihat menggelengkan kepalanya dengan kencang, “Ketua, bisakah kau lepaskan aku? Aku ingin duduk saja di tempatku!” Kyu Hyun langsung melepaskan cengkramannya membiarkan Jae Rin pergi ke tempat duduknya.

Bruk.

“Hyonnie?” panggilan Jang Mi pada Hyo Na yang bahkan sudah terduduk di bangkunya dengan wajah yang pucat, Dong Hae dan Kyu Hyun juga beringsut menjadi dekat kepada kedua orang gadis tersebut, “Sudah berapa lama dia berbicara?” tanya Kyu Hyun entah pada siapa membuat kedua orang lain menatapnya, “Beberapa menit yang lalu, Hyo Na juga berteriak keras tadinya,” jelas Dong Hae singkat sekali lalu Jang Mi kini terlihat menatapi kedua pria itu bergantian, “Ku pikir dia akan berteriak histeris, tapi dia menyuruhnya untuk berhenti dan Jae Rin terus saja berkata-kata tak jelas padanya,” lalu Kyu Hyun mendengar penjelasan itu lebih seksama lagi.

“Aku akan menghentikannya…” lirih suara kecil itu menarik perhatian ketiganya yang langsung menatapnya dengan tatapan khawatir, “Hyonnie, jangan memaksakan diri…” namun kalimat Jang Mi menjadi sia-sia sekali saat tangan gadis berambut sebahu itu menggenggamnya erat dan menatapnya tepat di mata, “Biar aku sendiri saja! Hiks, aku… aku…” dan penjelasan kembali terpotong karena Hyo Na yang sudah menangis di sana.

Kini kedua gadis itu terlihat sama-sama memberi kekuatan batin, lain halnya Dong Hae yang menatap dari kejauhan sosok Jae Rin yang tengah berbincang ringan dengan temannya yang lain, lalu Kyu Hyun kini terlihat meremas kedua tangannya dengan erat seperti ekspresi kesal yang kentara namun tak bisa di perlihatkannya pada mereka. Bagaimana pun juga misi dia dan Dong Hae amatlah sama, yaitu melindungi Hyo Na dari kekejaman Jae Rin dan tentu saja Woo Ri.

—000—

“Hm, kau memang selalu datang sepagi ini, ya?”

Hyo Na terlihat mendongak memerhatikan sosok Dong Hae yang sudah duduk di bangku depannya sambil memerhatikannya dengan senyuman yang sedikit canggung. Hyo Na bukanlah seorang yang dengan mudah bisa di dekati seperti ini, dia termasuk seorang yang menutupi dirinya namun ketika dia sudah merasa aman dan baik-baik saja terhadap sosok yang baru dia temui, dia akan mulai membuka diri untuk berteman dan dengan nyaman berbincang tanpa canggung.

“Kenapa kau diam saja?” tanya itu lagi dan kini dia sedikit menundukan kepalanya ke dalam sambil meremas ujung sampul novel yang dia pegang, “Hm, aku… aku tak bisa…” lalu kalimat itu terhenti karena sosok Dong Hae menepuk bahunya dan memberikan senyuman setenang yang dia miliki, “Aku bukan orang jahat, lagi pula kita berada di satu kelas yang sama, kan? Bisakah kita berteman? Jadi, jangan bersikap canggung lagi padaku!” lalu untuk kalimat itu Hyo Na bisa menganggukan kepalanya kecil sambil berusaha tersenyum ke arahnya.

Mulai saat perkenalan itulah keduanya menjadi terlihat akrab, entah Hyo Na yang datang menghampiri Dong Hae atau Dong Hae yang menghampiri Hyo Na, keduanya selalu terlihat bersama-sama setiap hari. Tidak, tidak dalam hubungan pertemanan biasa saja, mereka bahkan sering terlibat dalam percekcokan kecil pertemanan, mungkin bertengkar karena hal sepele atau saling menyemangati satu sama lainnya. Pertemanan Hyo Na dan Dong Hae yang selalu banyak di lirik beberapa pasang mata di sekitar mereka, tak ada kata-kata aneh saat itu, tetapi Dong Hae sudah sedikit merasa ada banyak hal yang dia temukan dari sosok yang menjadi temannya di kelas.

“Hei, Tuan Lee! Lihat, aku mempunyai seorang kakak lelaki yang sangat pandai bernyanyi!” ucapnya riang menceritakannya pada Dong Hae yang baru saja memasuki kelasnya pagi ini, tertarik mendengarnya dia memilih mendekati gadis itu dan duduk di bangku yang ada di depannya, “Siapa namanya? Hm, apa suaranya memang benar-benar bagus, eh?” tanya dan sedikit ledekan ke luar dari mulut Dong Hae yang langsung di tanggapi dengan wajah cemberut milik Hyo Na.

“Ck, kau harus percaya padaku! Kau tahu, Jong Woon sunbae yang ada di klub bernyanyi itu?” Dong Hae mengganggukan kepalanya antusias karena Hyo Na juga menceritakannya dengan semangat sekali, “Hah, dia menjadi tetanggaku! Dan kau tahu? Sejak saat bertetangga itulah aku menjadi dekat dengannya! Hah, aku pikir, aku sudah memiliki seorang teman di rumah ku!” lalu berakhir dengan suara tawa bahagia milik Hyo Na padanya yang kini hanya menanggapi jika itu adalah hal yang sangat wajar.

Bagi Dong Hae memiliki seorang teman yang dari kalangan kakak kelas itu sangatlah wajar, apalagi sampai bertetangga dan menjadi dekat, tetapi entah mengapa untuk ukuran seorang Hyo Na itu adalah hal yang terbaik yang pernah dia rasakan. “Aku senang akhirnya aku bisa memiliki seorang teman!” ucapnya sambil masih tertawa kecil, “Hm, apa istimewanya? Ku pikir, itu hal yang sangat wajar? Kau saja yang terlalu berlebihan dalam menyikapi semua ini!” ledekan Dong Hae terdengar lagi untuknya dan Hyo Na sudah terlihat memukul dahi pria itu dengan novel yang dia pegang dan menimbulkan rintihan kesakitan dari si kena sasaran, Dong Hae.

“Hah, rasakan itu! Karena kau telah menganggap semuanya wajar!” Dong Hae bahkan tak bisa berkutik lagi karena Hyo Na sudah kembali tertawa, menurutnya biar saja dirinya menjadi objek pembullyan seperti ini ketika melihat tawa Hyo Na dia bahkan jadi tak ingin membalas segala perbuatan jahil padanya, dia terlalu terlarut pada suara tawa renyah itu.

Yah, satu kesimpulan dia berhasil tarik dari apa yang dia rasakan saat ini terhadap Hyo Na, dia adalah gadis yang ramah dan bisa berteman dengan mudah di sekitar orang-orang baru. Asal Hyo Na merasa nyaman atau merasa dirinya aman, dia pasti akan membuka dirinya untuk menjadi orang yang baik. Lagi pula orang-orang akan cukup senang saat mengenal pribadi Hyo Na, dia gadis yang memang terlihat pendiam di satu situasi yang menurut dia tak nyaman namun ketika di rasanya situasi tersebut nyaman dia akan selalu menjadi objek yang menarik perhatian karena sifatnya yang menyenangkan dan sangat mudah untuk di goda.

Namun kenyataan bukan itu yang menjadi sisi positif dari apa yang di pikirkan Dong Hae, baru beberapa minggu yang lalu di perkenalkan dengan Jong Woon oleh Hyo Na, kini telinganya mendengar bahwa masalah timbul tanpa tahu siapa yang menyulutnya. Yah, seluruh kelas entah itu dari kelas satu atau tiga berpendapat jika Jong Woon dan Hyo Na tengah menjalin hubungan, Dong Hae bukanlah orang yang mudah percaya pada omongan yang sudah jelas dia tahu kebenarannya, dia tak mengatakannya pada Hyo Na tetapi dia cukup untuk diam dan terus memerhatikan sosok Hyo Na saat itu.

Yah, sosok Hyo Na yang jadi semakin dekat dengan Jong Woon bahkan kakak kelas itu juga jadi sering berangkat sekolah bersama dengannya, menambah bumbu berita semakin memanas telinga Dong Hae tanpa sebab. Dan untuk itulah dirinya juga ikut hadir, setidaknya dengan dia yang selalu juga berada di samping Hyo Na, berita-berita yang tak jelas itu akan segera hilang. Dan faktanya adalah berita itu hilang sendiri untuk minggu-minggu ke depan, tetapi kisah baru sudah di dapatkan Hyo Na yang akan kembali bercerita padanya di pagi hari.

“Ternyata kalau Jong Woon yang mengantarmu kau jadi berubah telat, ya?” ledek Dong Hae pada Hyo Na yang baru saja masuk ke kelas dengan buku pelajarannya, “Hm, tidak juga! Aku saja yang kesiangan hari ini!” bantahnya kemudian sambil menduduki tempatnya dan Dong Hae memindahkan posisi seperti biasanya, yaitu duduk di hadapan Hyo Na yang akan mulai membaca novel di pagi hari.

“Eh? Tak biasanya kau membaca buku pelajaran?” heran Dong Hae saat di rasanya sampul buku yang di pegang Hyo Na tak menunjukan sebuah ciri-ciri novel, Hyo Na hanya tersenyum kecil saja di hadapannya. “Hm, kata adik yang ku temui di perpustakaan, membaca buku pelajaran di pagi hari itu sangat menyenangkan apalagi kau bisa dengan secara tak langsung mengulang pelajaran atau membaca pelajaran yang akan kau pelajari. Hm, Dong Hae, kau itu bodoh sekali, ya?” Dong Hae mengernyitkan dahinya, baru kali ini sepertinya Hyo Na menyebutkan kata adik di kalimat katanya dan bahkan dengan santainya gadis kekanakan ini membaca buku pelajaran yang sudah sangat tahu amat di bencinya, “Kau? Hm, kau sedang sakit, ya?” tanya Dong Hae ragu-ragu tetapi Hyo Na meresponnya dengan rengutan kecil.

“Ish, kau ini! Kau tahu? Aku hanya sedang mengikuti saran Kibummie saja!”

“Hm? Kibummie? Siapa?”

Hyo Na terlihat memutar kedua bola matanya tak percaya, lalu dia tutup permanen buku pelajaran itu hanya untuk kembali bercerita pada Dong Hae yang kini sudah bersiap ingin mendengar segala ceritanya, “Hm, ada seorang adik kelasku. Namanya Kim Ki Bum, kau tahu? Ternyata dia menyukai Jang Mi, Dong Hae-ah!” dan Hyo Na menjadi cekikikan kecil setelahnya membuat Dong Hae menggelengkan kepalanya tak percaya.

Hanya untuk sebuah pengakuan cinta seseorang pada temannya saja Hyo Na bisa sebahagia ini, Han Jang Mi, itu adalah nama sahabat dekat Hyo Na. Dong Hae sangat tahu bagaimana Jang Mi itu di kelas, gadis penyuka seni yang selalu blak-blakan kalau berbicara, lalu sisi positifnya dia adalah gadis yang kuat dan baik sama seperti Hyo Na. Tetapi tentu saja ketenaran gadis itu tak bisa di katakan sama halnya seperti Hyo Na, dia ingat bagaimana sisi baik Hyo Na yang mencuri perhatian hampir di seluruh kelas namun gadis kekanakan itu seperti tak tahu menahu soal itu makanya dia merasa dirinya tak sama terkenalnya seperti seorang Park Jae Rin yang selalu di kaguminya di kelas.

“Aku akan membantu Kibummie untuk mendapatkan Jang Mi!” ucapnya kemudian percaya diri dan Dong Hae kini mengernyitkan dahi, “Bagaimana caranya? Kau saja sepertinya tak tahu tentang masalah seperti ini? Cinta? Hm, kau masih bocah!” dan Hyo Na terlihat tidak terima di katakan seperti itu hingga dia memukul dahi Dong Hae dengan tangannya tetapi kali ini Dong Hae berhasil menghindarinya dan membuat Hyo Na terlihat kesal, “Uh, kau ini! Iya, aku memang tak mengerti masalah seperti ini! Tetapi, aku akan tetap membantu Kibummie! Hm, mungkin memperkenalkan mereka di perpustakaan adalah awal yang baik! Aku benar, kan?” dan Dong Hae sudah tertawa kecil mendengar Hyo Na yang meracau dengan percaya dirinya.

Dan satu hal yang baru lagi dia dapati dari Hyo Na yang tak mengerti tentang sebuah perasaan yang di namakan cinta. Hyo Na akan dengan senang hati ketika dia mengetahui ada sebuah kebahagiaan yang bukan berasal dari dirinya, contoh saja tentang Ki Bum dan Jang Mi. Mungkin di pikirannya itu, menjodohkan kedua orang yang berbeda tingkatan itu adalah kebahagiaan kecil untuknya namun berdampak besar bagi si objek. Dan ternyata ini bukanlah hal yang terlihat mudah untuknya, Jang Mi yang ternyata lebih keras kepala itu bahkan sedikit bersikap acuh pada Ki Bum. Tetapi sisi positifnya adalah Hyo Na selalu hadir untuk memberikan semangat padanya, “Aku tahu, Jang Mi juga menyukaimu. Tetapi dia masih terlalu malu untuk mengatakannya! Percayalah padaku, Kibummie!” kalimat penyemangat yang selalu dia ucapkan pada Ki Bum yang selalu di dengar Dong Hae.

Di balik kalimat tersebut, ternyata tersimpan suatu maksud yang selalu di sembunyikan Jang Mi yang baru bisa di dapatkan jawabannya oleh Dong Hae. Dong Hae paham bagaimana perasaan Jang Mi yang seperti di katakan Hyo Na, namun di satu sisi ternyata Jang Mi sangat egois pada perasaannya. Yah, sikap kesetiaan untuk bersahabat itu dia besarkan saja dengan tujuan tidak ingin meninggalkan Hyo Na kembali sendirian seperti di awal semester, “Dia terlalu baik untuk aku tinggalkan. Mungkin aku jahat pada Ki Bum, tetapi aku tak bisa menerimanya dulu sebelum Hyonnie merasa tak sendirian lagi,” ini adalah pengakuan dari kata-kata Hyo Na yang bercerita di salah satu pagi pada Dong Hae.

Hyo Na bukanlah seorang pemaksa namun jika ketika dia rasa apa yang di perbuatnya adalah suatu kebaikan, dia jadi seperti terobsesi untuk mewujudkannya dan membuat orang tersebut bahagia. Dong Hae paham sekali dengan jalan pikirannya hingga pagi itu kembali dia nasehati Hyo Na dengan lembut dan perlahan-lahan membuat gadis kekanakan itu merasa lebih baik lagi, “Intinya kau tidak boleh memaksa kebahagiaan orang lain, Hyonnie. Mungkin Jang Mi masih belum bisa menerimanya sekarang karena dia masih betah dengan bersahabat denganmu, anggaplah seperti itu. Dan percayalah, ketika dia rasa waktunya sudah pas dan sangat tepat, dia pasti akan mengatakannya padamu tentang apa yang dia rasakan dan inginkan. Dan di saat itulah kau harus membantunya menemui kebahagiaannya bersama Ki Bum! Kau mengerti?” dan bersyukur Hyo Na bisa menerima segala penjelasan itu dengan senang hati.

Ada banyak hal di pagi hari yang selalu mereka berdua lewati, entah itu di isi dengan percakapan ringan atau yang berat sekali pun, Hyo Na tipikal orang yang akan bercerita jika dia rasa orang itu adalah orang yang tepat dan dia akan bersikap sebaliknya jika dia rasa orang itu tidak tepat. Dan bersyukurlah Dong Hae berada di salah satu jejeran orang yang tepat bagi Hyo Na, gadis kekanakan yang selalu membuatnya seperti tong sampah, namun sampah-sampah itu adalah sampah kebahagiaan atau kesedihan Hyo Na sekalipun. Sama seperti halnya pagi lainnya, ketika dengan tak di mengerti Dong Hae dapati sosok Hyo Na yang melamun tanpa membaca buku atau novel seperti pada pagi biasanya.

“Kau kenapa, eh?”

“Dong Hae… apa rasanya di khianati itu menyakitkan, ya?”

Dong Hae terkejut di tempat dia berdiri lalu dia memilih menghampirinya dengan cepat ke tempat biasa untuk mendengarkan segala penuturan Hyo Na yang pagi ini terlihat murung sekali. Tak seperti biasanya gadis itu menjadi murung dan bertanya hal-hal seperti ini padanya, Dong Hae saja bahkan harus mengingat nama-nama pria yang dekat dengannya untuk memastikan dia bisa membalas rasa sakit Hyo Na padanya, “Siapa pria yang mengkhianatimu, Hyonnie?” lalu Hyo Na terlihat menggeleng pelan sambil menundukan kepalanya semakin ke bawah.

Dong Hae jadi di serang rasa kesal mendadak, tak bisa dia terima untuk orang yang dengan beraninya membuat Hyo Na menjadi semurung dan tak semangat seperti ini. Dong Hae amat membenci dan akan membalas orang yang dengan berani memperlakukan Hyo Na seperti saat ini, “Hyonnie, ceritakan padaku… mungkin…”

“Zhoumi…”

Dong Hae membelalakan kedua matanya tak percaya pada kata Hyo Na yang memotong kalimat pembicaranya. Kembali dia ingat-ingat sosok pria bernama Zhoumi di kepalanya, dia jadi semakin kesal ketika ingatannya mengarah pada pertemuannya pada sosok pria tinggi dan kemungkinan berkebangsaan China itu. Dong Hae terlihat berdiri dari tempatnya dengan geram dan tentu saja dengan amarah yang memuncak, “Kurang ajar!” desisnya dan kini Hyo Na menjadi menatapnya penuh minat.

“Jadi… itu menyakitkan, ya?” tanyanya pelan lalu Dong Hae menganggukan kepalanya dengan cepat, “Hiks, aku… aku…” Hyo Na lalu terlihat menangis di hadapannya dan membuat Dong Hae menjadi duduk kembali dan memeriksa kondisi Hyo Na, “Kau? Hm, sudahlah… pria seperti itu harusnya tak kau tangisi, Hyonnie! Kau tahu? Pria seperti itu pantasnya kau pukuli! Hm, atau aku saja yang memukulinya untuk…”

Grep.

Dan Dong Hae tiba-tiba saja bungkam saat di dapatinya Hyo Na yang sudah memeluknya dengan suara isakan kecil, Dong Hae yang tak bisa bergerak sekarang hanya memilih mematung merasakan betapa bergetarnya tubuh milik Hyo Na. Apa Hyo Na sesakit dan serapuh ini, dia menjadi benar-benar tak tega dan bersungguh-sungguh akan melukai pria yang membuat Hyo Na menjadi seterluka ini, “Hiks, Zhoumi… Dan Bi yang mengkhianati Zhoumi, hiks…” lalu Dong Hae menjadi terdiam dengan amarahnya ketika Hyo Na berkata-kata kecil di dekapannya.

Dong Hae kini regangkan dekapan itu untuk menyuruh Hyo Na mengulangi lagi perkataannya, “Coba… coba kau ulangi lagi?” dan Hyo Na masih sempat-sempatnya menunjukan wajah merengut di tangisannya, “Hiks, kau ini! Zhoumi di khianati Dan Bi! Hiks, sudah dengar, kan?”

Oh, ternyata bukan diri Hyo Na yang di khianati oleh Zhoumi. Dan kini Dong Hae merasa lega mendadak dan mencoba tersenyum ke arahnya dengan lembut, berusaha membuat Hyo Na menghentikan tangisannya yang belum bisa berhenti, “Sahabatmu yang di selingkuhi lalu kenapa kau ikut menangis seperti ini?” ucap Dong Hae kemudian sambil mengusap kepala Hyo Na dengan lembut, “Ck, kau tidak tahu, ya? Bahkan si ‘Tiang Bodoh’ itu menghubungiku sambil menangis juga kemarin malam! Hiks, aku saja baru kali ini mendengarnya bisa menangis seperti itu!” Hyo Na entah mengapa menjawabnya dengan kesal dan Dong Hae menjadi tersenyum kecil lalu menjentikan kedua jarinya di dahi Hyo Na dan membuatnya meringis kecil.

“Kau… seharusnya kau tak usah ikut menangis seperti ini juga… harusnya kau menghiburnya! Kau, kan, sahabatnya, hm?”

Hyo Na menjadi tiba-tiba diam di tangisannya, air matanya yang masih membasahi pipinya terlihat mengering ketika mendengar penuturan Dong Hae yang dengan mudahnya menghibur dirinya. Dong Hae lalu terlihat mengusap air mata yang terlihat masih bergerak ke bawah membelai pipi berisi milik Hyo Na, “Hm, kalau kau menangis seperti ini, kau hanya akan membuat sahabatnmu merasa sedih saja. Jadi, berhentilah menangis dan hibur Zhoumi agar dia tak kembali teringat pada Dan Bi, bisakan?” dan setelah kalimat itu habis di ucapkan Dong Hae gadis di depannya kini mulai menganggukan kepalanya mengerti lalu berusaha tersenyum.

“Baiklah, aku tidak akan ikut menangis! Aku akan memberikannya senyuman!”

Lalu Dong Hae kembali mendapatkan hal yang baru lagi dari Hyo Na, gadis kekanakan yang tertutup itu juga memiliki perasaan yang sensitive sekali ketika membahas tentang kesedihan yang di rasakan sahabatnya, mungkin baginya ikut bersedih akan mengurangi beban dari sahabatnya. Tetapi, kini Hyo Na paham ketika Dong Hae berucap panjang tentang hal-hal hiburan untuk menghibur Zhoumi. Ya, setidaknya ada banyak hal yang kini sudah cukup di ketahui Dong Hae terhadap Hyo Na.

—Scandal Love—

Hyo Na terlihat mendekati tempat tidur itu dengan wajah murungnya, dia masih menangkap sosok salah satu sahabatnya yang sepertinya tengah tertidur di sana. Kelihatan nyenyak sekali hingga dia tak sadar Hyo Na datang menjenguk dan membawakannya sekantung penuh buah-buahan di genggamannya, Hyo Na terlihat mendudukan dirinya di salah satu bangku sebelum dia meletakan sekantung buah di meja nakas dan melihat sekilas pelembab ruangan tersebut lalu yang terakhir matanya menatap sosok itu yang masih belum terbangun.

“Zhoumi? Hm, kau masih tidur, ya?”

Hyo Na bahkan sudah memanggil kecil sosok yang sebenarnya adalah Zhoumi, tangannya terlihat meremas pelan tangan milik Zhoumi lalu matanya masih menatap lekat-lekat sosok yang tertidur itu. Tak dia ketahui bahwa sebenarnya Zhoumi bukan sedang tidur yang sebenarnya sekarang, tetapi Zhoumi hanya ingin sedikit bertingkah iseng pada Hyo Na yang daritadi menunjukan wajah murungnya.

“Hm, padahal… aku ingin bercerita padamu. Tapi… kau…”

“Kau ingin bercerita apa padaku?”

Dan berakhir kini Zhoumi yang mendadak terbangun dan bertanya dengan cepat pada Hyo Na yang mengedipkan kedua matanya dengan tak percaya. Mungkin dia masih berpikir jika Zhoumi tiba-tiba saja terbangun, tetapi di satu sisi dia jadi merasa di jahili sekarang, “Kau pura-pura tertidur, ya?” tanyanya kemudian menatap tajam ke arah Zhoumi yang kini sudah tersenyum kecil ke arahnya lalu pandangan mata pria itu kini melirik sekantung buah yang di bawa Hyo Na, “Kau bawa buah, ya? potongkan untukku bisa tidak, Hyonnie?” dan Zhoumi dengan entengnya malah mengalihkan topic pembicaraan Hyo Na hingga gadis itu pelan-pelan tersenyum lalu menganggukan kepalanya kecil, “Baiklah, Tuan Zhoumi!” dan berakhir dengan gadis itu yang mengambil sekantung buah untuk dia cuci dahulu di kamar mandi yang ada di dalam ruangan tersebut.

Zhoumi jadi tersenyum mendapati Hyo Na yang sepertinya sudah tidak murung lagi, lalu dia terlihat membenarkan tempatnya untuk duduk sambil menunggu Hyo Na yang sudah selesai mencuci buahnya dan berjalan mendekatinya dengan senyuman khasnya, “Kau ke sini sendirian saja, Hyonnie?” tanya Zhoumi tiba-tiba baru sadar jika Hyo Na datang sendirian, Hyo Na mengangguk saja sambil mengupas kulit apel yang ternyata dia bawakan untuk Zhoumi.

“Kau tidak memberitahu yang lain kalau ke sini?” tanya Zhoumi lagi dan Hyo Na kini menyodorkan sepotong apel yang sudah di tusuk di garpu kepadanya, “Banyak sekali yang kau tanyakan?” balas Hyo Na kalem lalu memilih menatap Zhoumi yang sudah menggigit apelnya.

“Gadis ini? Kau tahu? Di luar sana mungkin banyak orang yang mengincarmu!”

Hyo Na terlihat tersenyum mendengar gerutuan kecil milik Zhoumi, menurutnya pria itu sudah dari dulu tak pernah berubah, selalu saja mengkhawatirkannya. “Dan kau masih bisa tersenyum di saat aku marah, Hyonnie?” kata Zhoumi lagi dan kini Hyo Na menjadi tertawa mendengarnya membuat Zhoumi akhirnya paham kalau ternyata Hyo Na hanya ingin menemuinya sendiri saja.

Bagaimana pun juga Zhoumi terlalu memahaminya yang tertutup itu, tingkah Hyo Na yang bahkan tak pernah sedikit pun berubah di depan matanya, masih tetap Hyo Na masa-masa SMP dahulu. Hyo Na yang selalu ceria dan bersikap ramah pada setiap orang lalu harus di ketahuilah jika sisi-sisi positif itulah yang membuat sebagian orang membencinya.

“Anggap ini pertemuan rahasia? Bisa, kah, Zhoumi?” ucap Hyo Na terdengar padanya lalu Zhoumi sudah tak bisa menolak lagi tentang permintaan Hyo Na, “Apa apel yang aku beli terasa manis?” tanya Hyo Na tiba-tiba dan kini Zhoumi jadi tersenyum sambil meminta lagi padanya, “Sangat! Berikan aku satu potong lagi!” lalu Hyo Na terlihat tertawa sambil melakukan apa yang di suruh Zhoumi padanya.

“Hm, sekarang aku bisa mendengar apa yang ingin kau katakan, Hyonnie?”

Hyo Na mendongak menatap Zhoumi lalu dia tersenyum sekilas sambil ikut memakan salah satu potongan apel yang dia buat sendiri, kepalanya terlihat mengangguk kecil. Zhoumi jadi tersenyum kecil, lagi-lagi dia kembali menjadi kepercayaan Hyo Na saat ini, suatu hal yang cukup bagus. Dan bisa saja cerita ini akan membantunya ke luar dari masalah besar ini, “Apa menurutmu aku sudah salah, ya, Zhoumi?” tanya Hyo Na tiba-tiba padanya lalu pria yang memiliki hidung mancung itu mengernyit heran.

“Apa yang membuatmu merasa salah?”

Hyo Na terlihat menggelengkan kepalanya ragu, “Aku juga tidak tahu. Ku pikir, membantu Dong Hae akan berakibat baik, tapi…” kata-kata itu terpotong dan Zhoumi sangat sabar menunggu lanjutannya lagi, “Tapi, mengapa membantunya jadi membuat semuanya terlihat rumit seperti ini? Bahkan, aku sudah tak bisa berhenti lagi sekarang,” terdengar putus asa dari Hyo Na lalu dia terlihat menggigit ujung apelnya.

“Hyonnie… aku jadi ingin tahu apa alasanmu membantu Dong Hae? Apa… ini ada hubungannya dengan perasaanmu?”

“Menurutmu apa salah jika aku memakai perasaanku, Zhoumi?”

Kini Zhoumi yang merasa dirinya bungkam mendengar pernyataan yang sangat jelas dari Hyo Na, gadis pemilik rambut sebahu itu sudah sukses menundukan dalam kepalanya memandang kosong apel-apel yang di potong di dalam pangkuannya, Hyo Na seakan lupa apa rasa manis apel yang di gigit ujungnya tadi setelah dia bertanya seperti itu pada Zhoumi. Pria berhidung mancung itu saja kini jadi sedikit gusar ketika sedikit tahu apa alasan terbesar Hyo Na selama ini yang seakan berpura-pura tak mengiyakan permintaan Dong Hae tapi terlihat cukup andil dalam bermain perannya sendiri, dia benar-benar tak habis pikir jika Hyo Na akan memberikan alasan konyol ini setelah semua rasa sakit yang dia terima.

“Hyonnie…”

Hyo Na kini sudah menganggukan kepalanya seolah dia mengerti dengan apa yang akan Zhoumi katakan padanya, dia sudah siap jika akhirnya Zhoumi akan membentaknya marah seperti saat dia SMP dulu. Dia sangat siap jika Zhoumi melakukan hal itu padanya, dia tahu dirinya salah dan sangat terlambat untuk mengakui semua yang sudah terjadi.

“Hiks, aku… aku…”

Helaan nafas Zhoumi sudah terdengar saat di tangkapnya suara isakan Hyo Na yang mulai pecah tampaknya gadis itu sudah tidak bisa lagi menahan segala isakannnya di hadapannya sekarang. Dia terlalu lemah ketika harus mengatakan tentang perasaannya sendiri hingga di rasanya kali ini saat dia bercerita dengan Zhoumi itu akan membuat beban lagi padanya, “Maafkan aku…” lirihnya terdengar pelan sekali dan bersyukur sekarang mereka dalam keadaan damai.

Zhoumi tak tahu lagi harus berucap apa selain dia yang kini sudah menepuk bahu milik Hyo Na yang bergetar kecil, ketakutan mungkin saja. Walau sosok Zhoumi itu murah senyum dan selalu saja hadir untuk memberikannya senyuman, tetapi Hyo Na cukup takut sekali ketika Zhoumi memarahinya. Entah itu karena masalah kecil atau besar sekalipun, Hyo Na yang terkenal jahil akan sangat takut sekali jika Zhoumi sampai marah padanya.

“Kau tidak salah, Hyonnie, kau…”

“Aku tidak berhak merasakan kebahagiaan itu, Zhoumi. Hiks, Woo Ri… Woo Ri… dia meminta itu padaku, hiks,” Zhoumi kini pandangi lekat-lekat Hyo Na yang sudah menatapnya dengan mata yang basah karena air matanya sendiri, “Hiks, aku seperti tak di izinkannya merasakan apa yang di namakan cinta, Zhoumi. Hiks, inilah… hiks, inilah yang hanya bisa aku perbuat untuk membantu memberitahu pada Dong Hae, hiks… setidaknya aku sudah memberitahu padanya bahwa aku menyukainya, Zhoumi,” tambahnya kemudian lalu Zhoumi kini menjadi mematung sendiri di tempatnya, Hyo Na bahkan sudah semakin menangis di tempat dia duduk itu.

Choi Woo Ri, kali ini Zhoumi sudah tahu mengapa Hyo Na dengan rapat sekali menutupi perasaannya pada Dong Hae dan bahkan baru berani mengakuinya di depannya sendiri sekarang. Bukan alasan yang konyol memang ketika Hyo Na mengucapkan nama Woo Ri yang selalu merampas apa yang di inginkan Hyo Na, Zhoumi sangat tahu sejak perasaan Woo Ri terungkap untuk Kyu Hyun, pelan-pelan gadis itu menjadi jahat sekali pada Hyo Na hingga tak sadar seperti menyuruh Hyo Na agar tak pernah mendapatkan dan merasakan cinta lagi.

Yah, entah itu cinta dari Kyu Hyun atau orang lain. Tidak untuk siapapun, Woo Ri sudah cukup terluka dengan perasaannya yang terlalu besar pada Kyu Hyun hingga dia akhirnya buta dengan semuanya. Zhoumi sangat tahu cerita lama ini, lalu dia kembali melihat Hyo Na yang sekarang sepertinya mengiyakan apa yang di pinta Woo Ri. Tetapi, bukannya ini terlalu egois untuknya, menyiksa perasaan sendiri terhadap orang lain. Hyo Na mungkin selalu tertawa di luar, tetapi hampir seluruh orang tidak pernah tahu betapa sakitnya dia sekarang.

“Hyonnie, dengarkan aku! Sekarang jujurlah pada perasaanmu saja! Katakan jika benar kau menyukai Dong Hae pun tidak apa-apa, jangan pikirkan tentang Woo Ri. Sekarang fokuslah pada kebahagiaanmu dan hentikan ini semua! Kau pasti bisa, Hyonnie!”

Hyo Na menjadi tertegun mendengar kalimat penyemangat tersebut hingga akhirnya dia pelan-pelan mencoba tersenyum di balik rasa sakitnya itu. Zhoumi bahkan tidak memarahinya seperti biasa bahkan pria dengan senyuman manis itu memberikannya semangat dan dorongan kepada perasaannya sendiri, terasa cukup melegakan bagi Hyo Na hingga berakhir dengan dia yang menganggukan kepalanya dengan percaya diri.

“Baiklah! Aku akan mengakhiri ini secepatnya Zhoumi! Terimakasih mau mendengarkanku.”

.

.

.

.

TBC

“Yatta~ udah sampe chap.6 aja~ ini suatu kegajean yang sungguh luar biasa~ >^< jarang-jarang Rien bisa sampe sejauh ini dan ini untuk pertama kalinya~ >.< kkkkkk~

Hm, seperti-sepertinya cerita ini makin terasa jauh dari jalur cerita utama tidak? bagaimana menurut kalian? Apa ada masukan lagi pada cerita gaje ini? :3

Hm, Rien juga mau menyampaikan kabar yang entah ini baik atau buruk pada kalian… yep, Rien sudah menyelesaikan FF ini sampe 10 chapter~ dan, yah~ FF ini sudah terjadwal lirisnya, jadi kalian tinggal menunggu kapan liris dan membacanya saja di blog pribadi Rien~ ah, iya~ jangan lupakan budaya berkomentar, yah~! ^^

Kkkkkk~ Rien juga mau sampaikan pada kalian semua~ ucapan banyak terimakasih yang udah dengan setianya menunggu dan memberikan komentar pada FF chapter perdana Rien ini, Rien tahu cerita ini masih banyak kekurangannya dari ide cerita, typo yang bertebaran dan ketidakfokusan Rien dalam menggambarkan setiap narasi dan karakter masing-masing tokohnya~ yep, Rien sangat tahu kekurangan FF ini dan masih dengan berani mempostingnya untuk kalian, bukankah ini tindakan yang cukup bodoh?! >.< ekekekeek~ 😀 :’) ah, sudahlah~!?

Karena berhubung FF ini akan finish di chapter 10, Rien sarani kalian bebas membash Rien dari segi cerita, entah kalian puas atau tidak dengan FF ini, Rien pasti akan menerimanya dengan senang hati. Lagi pula semua itu juga untuk memperbaiki diri Rien sendiri agar membuat cerita yang lebih baik daripada cerita ini~ so, don’t forget to review neee~!!! ^^

And the last, see you next to chapter~!!! Bye~!!! ^o^

 

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: