Our Wrecked Marriage [Kyuhyun Edition]

Our Wrecked Marriage-pict

TITTLE : Our Wrecked Marriage [Kyu Hyun Edition]

 

AUTHOR: rywei19

 

GENRE: AU, Sad Romance, Angst

 

LENGTH: Oneshot

 

RATED: G

 

MAIN CAST: Cho Kyu Hyun, Eve Al Sarawi

 

DISCLAIMER : This fanfict is mine, The casts in this fict are God’s so don’t be a plagiarism! Don’t Copy and Paste My Fanfict without permission!

 

CONTACT : Maybe you can find me in https://ryweiirawan.wordpress.com #promosi mode-on

 

***

 

Aku yakin masih menjadi orang yang sama. Waktu bukanlah sesuatu hal cukup penting sehingga dengan repot mesti kuperhatikan. Namun, lima detik paling tak masuk akal hari itu memukul sang IQ, memonopolinya agar berhitung di sela-sela suara menggila dentum jantungku. Is it the first sight love?

 

Rabu sore kota Seoul terasa sejuk, angin sendu pertengahan April memang cukup bersahabat. Aku duduk menghadap sebulatan meja kayu jati dengan dua buah bangku berlapis kulit yang mengapitnya. Sesekali tertangkap siluet-siluet pejalan kaki hilir mudik tepat di pelataran luar kedai.

 

“Terkadang kau mesti menyayangi tubuhmu sendiri, Kyu Hyun-a.” Aku menoleh cepat ke arah sumber suara. Nampak Jung Yi bersama seragam berwarna merah hatinya memegang nampan yang berisi penuh junk food.

 

Sebaris cengiran kukuarkan menyambutnya. “Gomawo,” kataku sembari menerima menu wajib harian tersebut tanpa mengindahkan keberatannya.

 

Jung Yi menggeleng tak puas sebelum memutuskan untuk mengisi kursi kosong di hadapanku. Mata bereyelid-nya berkeliling mengabsen tiap sudut kedai sederhana dengan dekorasi kayu jati yang kental. Bau generasi 70–an khas Eropa asal leluhur Jung Yi begitu pekat di sini. Dan decakan ketidakpuasan milik bibir merah wanita Korea-Jerman itu menyadarkanku bahwa ia sedang krisis pengunjung. Hanya segelintir anak muda menempati bangku-bangku tengah ruangan.

 

“Datang ke barber shop-ku minggu nanti, rambutmu sudah seperti sarang berang-berang,” suruhnya tiba-tiba setelah usai dengan kegiatan merutuki diri.

 

“Lukisanku baru akan selesai hari senin,” ujarku berusaha menolak tawarannya. Bagian depan si hitam tebal ini hanya menyeberangi alis sedikit. Jung Yi itu terlalu risih, khawatiran dan perhitungan. Percayalah, ini trik muslihat lain seorang Jung Yi Krüger demi menambah netto.

 

“Baiklah, aku akan menyuruh Yong Ho ke flatmu kalau begitu,” putus wanita bermahkota pirang itu final seraya bergegas mengangkat badan menuju dapur kerjanya. Dasar wanita keras kepala memang!

 

Tanpa menanggapi lebih kompleks ulah bos muda itu, aku mencomot kentang goreng di piring yang sebelumnya sudah kucocol dengan saus tomat. Rasa nikmat khas kudapan berkolesterol ini terasa tak mainstream bagi sang pengecap padahal hampir setiap kali mampir kemari aku menyempatkan diri untuk mengonsumsinya. Meski demikian, tiba-tiba timbul sedikit ganjalan rasa dalam hati. Entahlah semacam, bosan? Tapi pada apa? Makanan, atmosfer sunyi, atau ah aku tidak paham.

 

Sepasang iris cokelatku membiaskan sekelumit pengamen jalanan yang menggesek biola di sekitaran pelataran butik seberang jalan. Lagu-lagu cinta melankolis mengalun memecah awan sore. Dan di sana tepat beberapa meter jaraknya dariku, seorang wanita merah menyala menyeruak menutupi seluruh arah telisik. Tubuhnya berjongkok sekilas memungut sesuatu sebelum tiba-tiba ia mengejutkanku. Bermediakan sepoain angin lirih musim semi, jubah merahnya berkibar. Meski punggung itu tidaklah kentara namun, aku terperangah. Ia … makhluk apa dirinya sampai-sampai sanggup sememukau itu? Dan saat aku sadar, kekagetan tersebut nyatanya belum mau berakhir.

 

“Meong . . .” Aku menatap horor seekor kucing yang anteng mengigiti sepotong daging dalam pangkuan seorang wanita yang entah mengapa justru terjebak guna duduk di hadapanku padahal kedai ini mempuyai puluhan kursi tak berpenghuni.

 

“El . . . ” Untuk kesekian kalinya mukaku terperanjat bodoh dalam intaian sok rahasia ini. Suaranya, semoga aku tidak sedang bermimpi menghadiri pentas Concerto caprice op. 1 dentingan nada C mayor Niccolo Pagianini bak rival sejati sapaan tadi. Serta tak tahu mengapa tapi aku enggan beranjak meski jadwal melukis terus menginterupsi kehadiranku di sini.

 

Gelas moccacino ketiga pun tandas tat kala deru membuncah menggurui mulut pahitku agar dapat menggumamkan sederet alpabet. “Turis?” putusku bertanya dengan bahasa asing pas-pasan.

 

Aku melihatnya berpaling dari si ‘meong’ dan melirik eksistensiku yang tergugup melalui bola cokelat terangnya. “Eve.” Kemudian dia kembali menunduk.

 

Apakah itu sebuah nama? Jika benar, rasa-rasanya agak kaku untuk di ucapkan lidah Korea. Meski begitu anehnya hatiku mengejanya dengan lancar. Lalu setelah semua ini aku harus bagaimana? Sudah tahu namanya, apa deru penasaranku berhasil terpuaskan?

 

“Dari Mesir?” Dan entah mengapa aku mencium bau salah akibat sifat sok kenal yang terlampau berlebihan ini. Aku mulai menjelma sebagai lelaki akhir dua puluhan yang banyak bicara. Padahal aku tak seramah itu apalagi terhadap kelompok asing.

 

“Jongno-gu,” jawabnya membuat alisku terangkat heran.

 

“Kupikir di dunia hanya ada satu–Seoul?” dugaku meragu sembari meneliti penampilannya yang sangat Arabian. Beberapa kali aku mengenali liputan televisi mengenai pergulatan jazirah tersebut sekaligus juga menangkap gaya cadar yang khas bagi kaum wanitanya.

 

“Ibuku warga asli Korea,” tukasnya tanpa cacat dalam bahasa nasional negeriku. Oh, syukurlah, sungguh bahasa Inggrisku buruk sekali.

 

“Ah, kau suka kucing?” Aku berusaha agar tak ada kesenyapan menjemukan. Sebisa mungkin menariknya dalam sebentuk obrolan. Kali ini lebih leluasa dalam bahasa ibu. Dan walau terkesan tak masuk akal juga dramatis namun dasar rasa sana pelan-pelan dirembesi kenyamanan serta aku enggan merelakannya tersudahi.

 

Aku menangkap matanya bersinar lebih terang meski begitu dua bulatan tersebut seolah sulit terselami lebih dalam. “Semua yang bernyawa patut untuk di sayangi. Walau berbeda, meskipun objek tersebut tak sungguh-sungguh mengerti akan perasaan itu. Aku tipe orang yang memercayai konsep hukum Tuhan. Jadi, aku tak akan menyerah.”

 

Ne?” Jujur baru kali itu aku benar-benar mendengar suatu makna memungut kucing yang teramat rumit. Sangat sukar, aku bahkan gagal mengerti.

 

“Emm, namanya El,” ucapnya sembari menyentuhkan jari-jemari lentiknya guna mengelus bulu sewarna karamel yang bila tersuguh di depan mata nampak cukup lebat nan sehat bagi seukuran kucing liar. Dan, hei dia cepat sekali memberikan sepatah nama untuk si mungil tersebut? Tidakah mereka terlampau akrab dengan ukuran status baru mengenal?

 

“Dan kau?” lanjutnya ketika mendapatiku mengunci mulut larut melamun.

 

“Cho Kyu Hyun,” jawabku cepat juga terkesan sangat bersemangat. Bukankah aku pun terlampau menggebu dan berapi sebagai orang yang baru pertama berjumpa? Bahkan otakku secara semena-mena mencetuskan seuntai makna. Ia dengan gegabah berhipotesis sepihak perihal cinta pertama. Apakah aku benar? Aku merasa akan menimbulkan sembilu hebat. Semoga para hati yang terlibat bebas dari kebas.

 

***

 

Malam merangkak melapisi langit luas Seoul. Aku duduk di atas kursi rotan arena balkon sambil menatap kanvas putih yang telah terbubuhi sedikit cat minyak. Pola pada permukaannya masih kabur melukis antara bentuk piringan ufo atau bolong bumi. Aku sulit berkonsentrasi, parahnya aku sungguh tidak tahu sebabnya.

 

Menengok ke sisi kiri, demi meredakan panas mata yang mendera, aku melihat sebingkai kanvas lain yang tergeletak terbalik. Tadi aku menemukan hasil hobi corat-coret tinta tersebut berada paling atas di antara tumpukan perabot lukis baru.

 

Sebelah tanganku meraihnya dan meneliti isinya. Siluet malam gelap dengan gradasi warna obsidian. Jujur, bentuknya belum lima puluh persen beres. Dan aku benar-benar tak memahami maksud segaris putih kuas di langit malam tersebut. Cahaya sendu rembulan, belum utuh purnama.

 

Terjaring kebimbangan pergelangan tangan ketika kucermati karya tersebut. Apa yang sedang kupikirkan saat menciptakan seni mengenaskan ini? Serta apa yang mengganjal otak sana sampai aku tak menemukan seberkas ingatan pun mengenai hari penciptaan tersebut?

 

Aku mengetuk tempurung kepala gemas dan sadar telah melupakan imajinasi tanpa sisa.

 

“Dimana lagi kutinggalkan kaleng kopi itu sekarang,” gerutuku jengah akan sifat lalai yang belakangan rutin menerjang.

 

***

 

Aku berbelok ke kanan begitu melewati jajaran toko sandang. Demi perut lapar ini, kapan Jung Yi memindahkan kedainya? Aku sudah tidak bisa menghitung berapa putaran yang sia-sia kulakukan. Tidak ada tanda-tanda bangunan itu di sekitaran sini. Tak mungkin juga lah tersasar. Seoul adalah kota lahirku. Mustahil tak hapal pelosok-pelosoknya sekalipun. Dan ini Insa-dong, tak banyak tempat yang masih mempertahankan gaya klasiknya.

 

Namun kegiatan berputar-putar selama lebih dari satu jam penuh juga bukan bukti jika aku sanggup berlaga jual mahal menahan gengsi menelan bulat-bulat kalimat semi permohanan itu.

 

“Permisi,” bukaku menyapa seorang pemuda yang tengah asik sibuk bermain ponsel di lahan pedestrain.

 

Ye?” Pemilik rambut cepak kehitaman itu menatapku sebagai respon.

 

“Apakah Anda tahu Jung Yi’s Food? Sepertinya saya butuh bantuan.” Seumur hidup aku tak pernah membayangkan menjadi orang asing akan kotaku sendiri. Setelah mengantongi arahan juga berterimakasih tulus aku bergegas mengayunkan langkah menjemput menu makan siangku.

 

“Kyu,” Jung Yi menyambutku dengan raut was-was, sepertinya ia melihat lelehan peluh yang menghujani tubuhku.

 

Gwenchana?” lanjutnya sembari meraih lenganku dan menuntun perlahan demi menempati sederet kursi dekat dinding berpahat ornamen rumit.

 

“Akan sangat sehat jika kau mempertimbangkan diskon 15 persen untuk makan siang ini,” kataku bergurau di sela-sela kentaranya senggalan napas.

 

“Aku menggratiskanmu hari ini. Kau ingin menu apa? Yang biasa?” Telingaku sedikit berdengung mendengar kata biasa. Mengapa terkesan janggal yah?

 

“Aku masih punya malu untuk tidak melunjak terhadap sesuatu yang gratisan, Yi-ya.”

 

Sebulatan steak datang setelah duapuluh menit aku menunggu. Tak hanya itu, semangkuk salad melon juga terjajar di mejeku. Menyusul setelahnya jus jambu segar berwarna pink pucat.

 

“Biasa?” raguku menatap Jung Yi yang memeluk erat nampan hitam di dada.

 

“Jangan terlalu sering makan kentang goreng. Kau butuh buah segar dan hidupmu terlalu pekat dengan moccacino. Ah, satu lagi jangan terlalu sering begadang yah. Sehat itu mahal.” Aku insomnia? Sepertinya tidak. Kapan aku tidak bisa tidur? Bukankah kasur itu belahan jiwaku?

 

Terkekeh ringan menutupi kebingungan, aku langsung mengambil perkakas pendukung santap siang ini. Jung Yi berbalik hendak kembali berperang di dapurnya, namun mulutku terlampau cepat dari pusat kendali guna menahannya. “Yi-ya.” Ia memandangku.

 

“Bisa sekalian kau potongkan ini? Aku sepertinya melupakan sesuatu.”

 

***

 

Rona kejinggan mencuat di ufuk barat. Aku berdiri menyandar pada tembok beton balkon lantai 8 flat ala kadarku. Menjadi pelukis ternyata tak semakmur dugaanku. Menyelami senyap, hayalan sibuk memperkenalkan terhadap apa-apa yang mengganjal belakangan.

 

Lupa. Deskripsi ini seakan kurang logis. Aku ini layaknya orang amnesia. Jalan pulang saja sudah lapuk dalam ingatan, aku harus bertanya berkali-kali kepada segelintir pejalan kaki yang kutemui agar sampai selamat sentosa di ruangan berdinding keabuan ini. Dunia sebegitu sempitnya kah ia dalam memori sana?

 

Arah jam dua belas mengusiku diam-diam. Dari kapan ada yang menempati flat di seberang milikku? Kain hitam melambai pelan tersepoi semilir angin. Sulur-sulur hijau lumut menghiasi balkon tersebut hingga cat putihnya agak kabur. Dari sekat selintasan motor bebek, aku dengan jelas menangkap siluet seorang wanita berjubah tengah asik menyirami pot-pot bunga.

 

“Hai, Kau!” seruku menggema. Dinding-dinding batu yang menjulang tinggi seperti bergetar. Kawasan ini terkesan selalu sepi atau jika pun berpenghuni rata-rata bukanlah mereka yang berdarah sok ingin tahu. Jadi, selama tak melanggar hukum berteriak kupikir wajar jalannya.

 

Satu-satunya objek teriaku menoleh namun hanya hening menimpali. Sebelum tiba-tiba terasa sedikit getar hinggap menyapa ponsel hitam pekat di saku jeans kusamku.

 

“Mengingatku?”

 

“Bagaimana Lunarbow-mu, sudah selesai?”

 

“Jadi, berapa musim kedepan aku harus menunggu? Kyu Hyun oppa?”

 

Sambungan terputus. Di tengah malam yang merayap, aku melihat wanita bercadar itu memasuki kediamannya, menutup tirai putihnya rapat. Sementara tanganku erat menggenggam ponsel yang tadi sempat memancarkan id pemanggil–Eve–siapa dia?

 

***

 

Aku tak tahu pasti banyaknya waktu terlalui. Yang kusadari di setiap pagi hanyalah ini hari senin. Benar. Jadwal dimana lukisanku harus terdistribusi ke Arpedo galeri milik seorang kenalan di pusat seni Insa-dong.

 

Layaknya rutinitas hidup kebanyakan, aku menuruni ranjang kusut sekaligus kusam bersprei biru pudar. Berdiri mematung sesaat, merasakan kebingunagan hinggap. Menggelindingkan telusurku, aku mau apa di ruangan bak kapal karam ini? Astaga, helai-helai pakaian ramai teronggok memenuhi setiap jengkal lantai, lukisan-lukisan gagal tercecar pada setiap sudut bangunan, benang halus kandang laba-laba pun perlahan terangkai mengangkasa. Meski demikian, bodohnya aku tidak tahu harus berbuat apa?

 

Tsk, ini salah juga basah. Takut-takut aku melirik hadirnya tetes-tetes air yang menjatuhi punggung kaki sana. Segenangan air membentuk pola abstrak menggenangi sedikit petak keramik bermotif garis horizontal kecokelatan. Aku? Telapak tangan kiriku gemetar tat kala menyentuh sedikit bahan kain celana training hijauku. Astaga? Ini ompol?

 

Gedoran keras pintu putih flatku menyambut setelahnya. Tergesa, tak sabar, juga panik. Pintu itu melambangkan kata-kata tersebut. Hingga tanpa embel-embel berpikir atau mengingat kejadian sedetik lalu, kaki ini langsung terseok menghampirinya.

 

“Ayo, kita menikah.” Dan aku tahu ada yang tidak normal di balik pintu itu.

 

***

 

Aroma harum mengocok perut menjelma sebagai alaram. Mengerjap silau, aku lantas menangkap sebentuk wajah cerah tersiram kilau mentari pagi tengah mengaktifkan sepasang iris cokelat memikat guna menelitiku. Rambut ikal sewarna malamnya jatuh menjuntai membingkai ovalnya kanvas itu. Menakjubkan. Parasnya bermakna demikian.

 

“Aku Eve, istrimu.” Senyuman wanita itu mengembang bagai lilly musim semi, mengiringi terangsurnya semangkuk penuh bubur beras yang masih mengepul. Membuatku tercenung linglung. Istri? Dia bergurau! Sejak kapan? Bagaimana bisa? Dan aku, siapa aku?

 

Jawabannya terpantul dari cermin di tepi kanan ranjang. “TIDAKKKKK!” jari-jari panjangku segera menjambak surai kesal. Dengan sikap frustasi, kutenggelamkan kepala pada belahan paha. Pria berambut hitam itu asing. Rupa pucat kulitnya, rahang tegasnya, ekspresi lebat akan keidiotan itu. Apakah sungguh diriku? Aku … buram. Otakku kosong. Ingatan? Aku mungkin bayi yang baru lahir?

 

“Kyu Hyun oppa.” Tangan lembut merengkuh tubuhku. “Gwenchana. Kita mulai dari awal lagi.”

 

***

 

Wanita bernama Eve mengeratkan sweter dongkerku. Saat ini kami tengah menengadah menatap langit. Aku di kursi roda dan ia menggenggam telapak tanganku di sisi menggantung lengan kirinya.

 

Moonbow.” Suara halus semi serak memenuhi indra pendengaranku.

 

“Hari itu, tepat di tahun baru kalender bulan. Di Arpedo, aku menemukan gambar surealis yang tidak biasa. Kau bilang bulan tak selalu bulat. Kau berkata Tuhan menganugerahi imajinasi tanpa batas bagi penganut surealisme.

 

“Terpaut jarak tiga langkah dari posisiku, kau mengatakan jika pelangi bisa tercipta tanpa hujan. Bagaimana kalau seandainya kau mendapati bulan berwarna merah, kuning, hijau? Moonbow mungkin biasa di Barat sana. Tetapi dengan yakin kau memberitahuku bila secepatnya Korea juga akan memilikinya.”

 

“Walau baru sekali bertemu dulu kau seenak jidat berkata bahwa detik itu Eve tak harus selalu milik Adam,” lanjutnya bersama getaran dalam tiap jeda perkatanya.

 

“Hobimu mengejutkan hatiku. Entah bagimana bisa kau tiba-tiba tahu segalanya tentangku. Datang menemui ayah, kau bilang akan menjadi calon imam sesuai titah Allah. Berusaha bahagia dunia sekaligus akhirat adalah targetmu memilihku. Serta sebagai kado kecil pernikahan, kau menjanjikan lukisan bernama Lunarbow juga hati.” Eve menunduk dan dengan itu setetes tangisnya jatuh menimpa lenganku. Ingin kuhentikan aktifitas kesakitannya namun entahlah. Sebab pusat kendali pria tak berguna ini buta. Oleh karena itu justru munculah bunyi terbata, “La-lu?”

 

Ia meremas tanganku seakan mengais kekuatan. “Kau tak datang.”

 

Kelopaku terangkat guna memperlebar keterbelalakan yang menyerang.

 

“Kehalalan hanya tinggal niatan, pagi itu sarafmu berhasil menghilangkanku. Tapi gomawoyo, setidaknya, kau sempat berpesan agar aku bersedia menunggu. Membuatku memahami bila cinta yang Allah titipkan bermakna begitu luas. Gomawo telah mengajariku akan kesetiaan. Juga untuk Lunarbow setengah jadi itu. Untuk usaha kerasmu menjadi pemimpin keluarga. Kau kuat, Kyu Hyun oppa.”

 

Kenapa aku jahat sekali? Dari sekian juta keping memori kenapa harus tentangnya yang lebih dulu terenggut?

 

“La-ma?” Eve menyelami sorot mataku intens. Sebab di sana ia akan mampu menemukan bahasa hati yang sukar di dendangkan bibir ini.

 

Dia tersenyum simpul seraya menyeka asal lelehan di pipi kanannya. “Enam tahun lalu.”

 

Wanita hebat ini bertahan selama itu? Mianhae, aku menyakitimu. Perjalanan yang panjang, tidak kah kau lelah? Mengapa tak jemu pada pria pesakitan ini? Aku akan abadi melupakanmu. Mengapa masih bertahan? Jika mampu, aku ingin menghujaninya dengan kalimat-kalimat macam begitu. Namun, aku hanya kuasa melukiskan bulan keemasan yang menggantung di atas sana dalam pantulan kedua bola mata. Menarik sedikit jubah merahnya, aku ingin dia mengerti. “M-mian, mian-hae.”

 

Ia merunduk menyerongkan tubuh demi menatap ciptaan bayangan di kedua kanvas bulat cokelatku. “Lukisan yang sempurna.” Tangisnya langsung menggema setelahnya, “gomawo.”

 

***

 

“Aku Eve, istrimu.” Sayup-sayup dalam tidur ini aku mendengarnya. Berharap kelopak ini terangkat sedikit saja, sayangnya hanya gelap tersisa. Jeongmal mianhae.

 

***

 

Dalam hidup yang Tuhan anugerahkan aku punya seribu rencana. Aku ingin meminum es serut di musim panas pinggir pantai Haeundae. Aku ingin bersepeda di sepanjang guguran maple pulau Nami. Aku ingin bermain ski di salju, meluncur bebas, merasai angin menggigit, menerpa wajah dengan bunyi gesekan ranting yang berdesing. Aku ingin berlarian dengan bertelanjang kaki di bawah pink-nya cherry blossom, membaui harum semerbaknya. Dan di atas semua itu, aku hanya berharap mampu mewujudkannya bersamamu.

 

Tolong, tolong temui aku di surga Tuhan kelak, Eve.

 

END

[Y.T-30-06-15]

***

AN : Lama nggak nulis, dan ternyata susah buat in lagi, gayanya juga udah beda. Oleh karena itu, kalo ada yang aneh saya minta maaf dan monggo kritik saja. Makasih sudah membaca…

Picture © by google

 

 

 

 

5 Comments (+add yours?)

  1. fatimatus19
    Aug 13, 2015 @ 21:52:42

    ceritanya seru

    Reply

  2. navyCho21
    Aug 14, 2015 @ 07:14:50

    Kurang ngerti sih sama ceritanya, hehe maaf

    Reply

  3. Laili
    Aug 15, 2015 @ 04:44:44

    suka sama bahasanya cuma masih blm ngerti sama ceritanya. keep writing🙂

    Reply

  4. uchie vitria
    Aug 15, 2015 @ 11:09:15

    awalnya masih belum ngeh ama jalan ceritanya
    terus pas eve bilang dia istrinya baru dech ngeh
    kalo kyuhyun memiliki penyakit yang mematikan
    semacam alzhaimer mungkin

    Reply

  5. ayu diyah
    Aug 18, 2015 @ 12:16:16

    eh… kyuhyun ga ingat istrinya??
    kyuhyun sakit apa??
    suka sama bahasanya,, tp rada bingung sama alurnya

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: