I Can’t

i cant

Author : Rizki Amalia

Cast     : Lee Donghae

            Super junior members

Genre  : Romance, friendship.

Rate    : PG-15

 

*******

Ini oneshot bersambung dengan tema masalah hubungan Sungmin. Ini seri pertama, versi Donghae. Next versi Siwon.

Happy Reading!!!!

******I Can’t…******

Cepat atau lambat, aku tahu….ini pasti akan terjadi.

#ELFSupportLeeSungmin

Aku melihat tagar itu berdiri dideretan trending topic worldwide. Aku merasa ini adalah awal yang baik. Tapi jauh dari perkiraanku, dampaknya cukup mengejutkan. Banyak ELF yang memutuskan untuk meninggalkan kami, ada yang mengatakan hal-hal yang sebenarnya menyakitiku meski bukan aku objek kemarahan itu. Secara tidak langsung mereka mengatakan bahwa jika ada berita semacam itu keluar lagi di hari berikutnya, maka artinya ia dan member lain harus siap dengan reaksi yang lebih tak terduga.

Aku tidak tahu bagaimana awalnya berita ini tiba-tiba menghangat dan pihak SM sendiri langsung menkonfirmasinya. Buatku, itu adalah tindakan bijak dengan tidak menutupi atau membuat kebohongan publik. Dan kami bukan sekumpulan pria remaja lagi. Sama halnya dengan kami yang semakin dewasa, fans kamipun harusnya sama dan bisa menerima ini. Tapi aku tak bisa bayangkan apa yang sedang di alami oleh Sungmin hyung saat ini. Dia begitu sensitif dan ini pasti menyakiti perasaannya jika melihat reaksi fans kami yang sebagian tak terima. Meski jumlah antara yang mendukung dan tidak mendukung sangat jauh, tetap saja ini bukan hal yang ia inginkan dimana menjadi sasaran fans seperti seorang terpidana.

Bagiku, ini hanya masalah waktu dan juga kedewasaan yang tidak semua orang miliki. Kami sadar bahwa selama bertahun-tahun kami tampil sebagai super junior, orang mengenal kami sebagai grup yang kompak dengan ikatan persahabatan yang erat. Mungkin fans kami terlalu nyaman dengan kebersamaan kami dimana kami menghabiskan banyak waktu bersama. Kami menangis, berjuang dan tertawa bersama, lelah bersama, dan mungkin waktu kami lebih banyak dihabiskan dengan member dan elf dibanding keluarga. Hal itu menimbulkan rasa over protektif yang tanpa sadar tumbuh dalam diri fans kami. Kami pun sangat memahaminya. Berita yang begitu tiba-tiba ini pasti sangat mengejutkan dan sulit dipercaya. Sungmin.Super.Junior.Berkencan. Rasanya ini terlalu cepat untuk didengar dimana grup kami masih aktif.

“Aku rasa harus mengalihkan perhatian mereka,”ujar Leeteuk hyung yang baru keluar dari kamar mandi. Ia mengambil handphonenya dari atas meja lalu duduk di sebelahku. Eunhyuk yang sejak tadi diam memilih untuk menikmati udara dari balkon. Aku rasa aku tahu apa yang ia pikirkan saat ini.

“Apa yang akan kau lakukan, hyung?” tanyaku. Ia mulai mengutak atik handphonenya tanpa menjawab apapun. Tak lama, aku bisa melihat ia muncul dengan beberapa statusnya di instagram. Lalu setelah itu aku juga melihat Siwon melakukan hal yang sama.

“Kurasa itu tak terlalu berhasil.”

Aku menarik nafas, menyandarkan kepalaku ke sofa. “Aku ingin menelpon Sungmin hyung. Tapi kurasa ini bukan saat yang tepat untuk menanyakan apakah dia baik-baik saja.”

“Aku sudah menghubungi Heechul, dia bilang akan mengatasinya.”

Setelah itu kami tak bicara apapun. Eunhyuk sibuk dengan smartphonenya, sementara Leeteuk hyung memutuskan untuk keluar. Aku sendiri memilih untuk merebahkan tubuhku di sofa. Untuk pesohor di negeri lain, aku yakin masalah kencan bukanlah sesuatu yang patut dibesar-besarkan. Bahkan mereka bisa dengan leluasa menggandeng pasangannya ke muka umum, mengumbar senyum dan memperlihatkan pada dunia betapa bahagianya mereka. Namun disini, itu tidak berlaku. Masalah kencan para idola bukanlah sesuatu yang bisa dikonsumsi seperti makanan. Ini adalah hal yang begitu sensitif. Kita dituntut untuk menjaga perasaan penggemar. Awalnya aku pikir itu bukan suatu masalah. Karena memang inilah impianku. Tapi sekarang…..disaat sebagian dari kami mulai memikirkan masa depan………..

Aku jadi ingin cepat-cepat kembali ke Seoul. Meski nantinya aku tak bisa melakukan apa-apa, bahkan mungkin aku tak punya nyali untuk mengetuk pintu kamarnya, setidaknya kami semua ada disana.

“Donghae-ah, apa sebaiknya kita pulang saja besok pagi?”

Aku tersenyum. Eunhyuk sepemikiran denganku. Aku sudah akan menghubungi Leeteuk hyung saat pintu terbuka dan ia sudah ada di depan kami. Cepat sekali ia kembali.

“Sepertinya kita memang harus kembali,” ujarnya serius. Aku tadinya tak mengerti. Tapi malam harinya saat kami sibuk mengepak barang, aku baru melihat pesan yang dibuat Heechul hyung kepada penggemar. Dan isi pesannya membuatku khawatir akan dua hal. Yang pertama tentang keadaan Sungmin hyung, dan yang kedua……adalah soal seseorang diluar sana.

“Heechul hyung keren.” Eunhyuk sepertinya juga baru melihat pesan itu. Aku akui Heechul hyung memang luar biasa. Dengan mulutnya yang kadang menyebalkan , ia bisa dengan mudah menenangkan fans dengan kata-katanya. Tapi aku terkejut melihat kalimat ini, ‘Hyung, aku minta maaf, pada member, pada fans juga.’

Sungmin hyung, harusnya tak ada kata maaf keluar dari mulutnya. Tapi ia melakukannya. Esoknya kami berangkat pagi-pagi sekali dan tiba di dorm pukul sepuluh. Hal pertama yang kudapati saat membuka pintu adalah suasana yang tak begitu menyenangkan. Tak ada siapapun kecuali Heebum yang mengeong menyambut kami.

“Heechul hyung! Kyuhyun-ah!”

“Kangin-ah!”

Aku dan Leeteuk hyung bergantian memanggil siapapun yang mungkin sedang berada di dalam. Tak lama Heechul hyung muncul dengan piyamanya dan menguap lebar. Apa ia baru bangun? Jam segini?

“Kalian pulang lebih awal? Perlukah membangunkanku juga? Aku baru tidur empat jam.”

Ia sudah akan masuk ke kamar lagi saat aku berhasil menahan lengannya dan bertanya, “Dimana Sungmin hyung?”

Heechul hyung tampak belum kembali dari alam bawah sadarnya. Matanya menutup dan terbuka berkali-kali, menguap sekali lagi lantas mengacak rambutnya yang sudah berantakan.

“Kau menanyakan Sungmin?”

Aku mengangguk.

“Kurasa ia tak kembali sejak semalam.”

“Tak kembali?”

“Ah, jangan terlalu khawatir. Ku dengar ia menelpon seseorang kemudian pergi dan kalau tidak salah ia tidak pulang.”

“Tapi………..”

“Donghaeku sayang,” Heechul hyung mengeluarkan jurus andalannya berupa memasang wajah semanis mungkin. Ku akui ia cantik, tapi entah kenapa bulu kudukku meremang.

“Aku tidak mengacaukan liburan kalian, itu sudah bagus. Jadi tolong biarkan aku menikmati liburanku hari ini.” Ia pun langsung menutup pintu dan terdengar suara putaran kunci dari dalam.

“Ah, kurasa kita saja yang berlebihan. Mungkin Sungmin tidur di rumah orang tuanya.” Leeteuk hyung berlalu dan masuk ke kamarnya. Eunhyuk hyung menyusul sambil meregangkan kedua tangannya.

“Aku mau tidur sebentar,” ujarnya singkat lantas meninggalkan aku sendirian. Aku tidak tahu kemana member yang lain. Yang sekarang terlintas dalam pikiranku adalah…………….dia.

Aku masuk ke dalam kamar lalu meletakkan tasku sembarangan. Segera kurogoh saku untuk mengecek handphoneku. Jujur saja, aku sedikit khawatir karena sejak semalam tak mendapatkan pesan apapun darinya. Aku ingin mulai lebih dulu, tapi aku takut mengganggu. Aku tahu dia bukan tipe orang yang akan rela meluangkan waktunya yang super sibuk hanya untuk mengecek handphone lalu membalasnya. Jika ia sudah tenggelam dalam kesibukan, maka ia takkan peduli apapun.

Aku urungkan niatku untuk menghubunginya. Aku akan menunggu sampai ia yang melakukannya.

****

“Lihat kan betapa hebatnya seorang Kim Heechul? Tidak ada yang bisa membantahku.”

“Aku harap Sungmin baik-baik saja.”

“Tapi dimana Kyuhyun? Kenapa dia tidak bisa dihubungi?”

“Dia sedang patah hati dan melarikan diri menemui Changmin.”

“Mereka juga liburan bersama, kan?”

Aku mendengar banyak pertanyaan di sekitarku. Aku mendengar tapi tak begitu ku simak. Mataku masih terfokus pada benda yang kupegang sejak pagi tadi. Lampunya terus berkelap kelip, tapi bukan pesan atau telepon darinya, melainkan dari orang lain yang sama sekali tidak ku harapkan. Ini bukan sesuatu yang aneh ketika ia tak mengabariku apa-apa, tapi aku merasa ada yang salah disini. Sesekali kulihat ke arah Eunhyuk yang sama gelisahnya denganku. Tapi beberapa detik lalu ia menerima telepon, setelah itu wajahnya kembali cerah.

Tak lama kami mendengar suara ribut dari luar yang diikuti dengan munculnya Sungmin hyung. Yang cukup mengejutkan, Kyuhyun mengekor di belakangnya. Oh, jadi mereka pergi bersama? Sungmin hyung tampak terkejut melihat kami semua berkumpul di ruang tengah.

“Kenapa kalian semua ada disini? Bukankah harusnya masih berada di Jeju?” Raut wajah Sungmin hyung saat mengatakannya begitu datar dan biasa-biasa saja, seperti Sungmin hyung yang biasanya. Aku tidak melihat ada luka di wajahnya seperti yang sejak kemarin ku khawatirkan, terutama setelah membaca pesan Heechul hyung yang mengatakan bahwa Sungmin hyung menangis.

“Kami………….” Sepertinya Leeteuk hyung tak nyaman untuk mengungkapkan kekhawatiran kami yang sebenarnya. Ia hanya tersenyum kaku dan pada akhirnya kami kembali mengobrol seperti biasa seolah lupa bahwa tujuan kami berkumpul adalah untuk menenangkan Sungmin hyung. Sekarang ia berlalu dari hadapan kami sambil mengatakan, “Aku mandi dulu. Setelah itu aku harus ke pergi lagi.”

Dan karena Sungmin hyung tak bisa kami tanyai, maka sasaran empuk kami adalah sang maknae.

“Ya! Kau jangan cari alasan mau mandi juga.”

Ia tersenyum sok bijaksana.”Kalian tidak usah mengkhawatirkannya. Semalam kami sudah puas minum bersama di rumahnya dan ia sudah menumpahkan segalanya. Aku punya rekamannya, mau lihat?”

Semua orang mengerubuni Kyuhyun sementara aku memilih untuk mundur secara perlahan. Perasaan tidak nyaman itu datang lagi. Sekarang semua lebih menjurus pada rasa takut. Apa yang sedang ia lakukan sampai tak juga menghubungiku? Geram, aku menjauh dari para member dan mulai menghubunginya. Tak butuh waktu lama, teleponku diangkat.

“Aku tahu kau super sibuk. Tapi bisakah kau tidak membuatku takut kali ini? Kau cukup mengatakan selamat tidur atau selamat pagi.”

Aku terus mengomel panjang lebar padanya. Namun, hanya hening yang kudapat. Aku tidak mendengar apa-apa selain tarikan nafasnya yang berat. Aku menutup pintu kamarku supaya lebih leluasa bicara.

“Kau mendengarku?”

Aku sudah akan bicara lagi saat tiba-tiba ia mengatakan, “Mianhe………..”

Apa maksudnya?

“Aku tidak mengerti. Kenapa kau perlu minta maaf?”

“Mianhe….”

Aku tahu ia salah tapi ia bukan tipe orang yang akan meminta maaf jika hanya dengan alasan karena tak juga menghubungiku. Aku jadi semakin yakin bahwa ada sesuatu yang tak beres. Tapi aku tak sempat mengatakannya saat sambungan telepon langsung diputus secara sepihak. Aku tertegun. Ini kali pertama ia melakukannya.

Selanjutnya aku berusaha terus menghubungi tapi handphonenya tak lagi aktif. Aku terus mencobanya hingga nyaris gila dan tetap tidak berhasil. Kukirimkan juga pesan dan tak ada satupun yang terkirim. Ya Tuhan, apa yang sedang terjadi padanya?

Aku tak bisa tidur memikirkannya. Aku lebih merasa tersiksa ketika tak bisa ke apartemennya karena terbentur jadwal. Aku dan member lain langsung dihadapkan pada padatnya jadwal setelah diberi liburan empat hari. Pernah dua kali aku punya kesempatan pergi ke apartemennya. Tapi tak ada siapapun disana. Pintu tak kunjung terbuka dan seseorang disana mengatakan bahwa ia belum juga pulang. Andai aku masih punya banyak waktu, aku akan ke rumah orang tuanya. Mereka pasti tahu sesuatu dan berusaha menyembunyikannya dariku. Dan hingga memasuki nyaris satu bulan pasca kejadian itu, aku belum berhasil menemuinya.

Sementara itu hubungan Sungmin hyung dengan kekasihnya memasuki babak baru. Rencana pernikahannya terkuak hingga Sungmin hyung mengkonfirmasinya sendiri. Aku salut padanya yang berani melakukan hal tersebut. Sebelumnya kami sudah mendiskusikan hal ini bersama-sama dalam waktu yang cukup lama. Dan setelah kami bisa menerima keputusannya –meski sangat sulit, sekarang giliran ia yang berusaha keras meyakinkan fans. Ini sangat tidak mudah. Aku bahkan tidak menyangka jika reaksi fans akan sampai ke tahap ini. Sekarang, apa yang kami takutkan ketika Sungmin hyung pertama kali mengatakan ingin menikah terjadi juga. Yang paling parah, banyak yang ingin Sungmin hyung keluar dari super junior. Kamipun hampir terkena serangan jantung saat pertama kali ia memohon ijin dari kami. Tapi pada akhirnya kami bisa terima. Sedangkan sebagian fans kami…..

Rata-rata dari mereka kecewa karena merasa ini terlalu cepat. Luka saat mengetahui Sungmin hyung berkencan belum sembuh lalu kini ditambah dengan berita pernikahan. Sungmin hyung dianggap egois dan tidak perduli dengan fans bahkan grup kami sendiri.

Kami mencoba memposisikan diri sebagai mereka yang pastinya sangat sulit menerima. Dan pada akhirnya kami tak bisa mengatakan apa-apa. Sungmin hyung sudah mengambil keputusan. Ia sudah dewasa dan ia tahu resikonya. Maka kami hanya bisa berdiri disisinya, mendukungnya. Untuk fans, kami harap mereka bisa menerima semua ini dengan lapang dada dan ikut tersenyum saat Sungmin hyung menikah nanti. Karena bukan cuma fans yang merasa sakit, tapi kamipun bahkan lebih sakit karena menyakiti mereka.

Sekarang, aku jadi semakin takut. Apa ini ada hubungan dengannya yang tidak bisa kuhubungi? Kepalaku pusing. Aku pernah jatuh sakit karena dua hari tak bertemu dengannya, tapi ini sudah satu bulan dan aku merasa sudah menjadi orang gila. Ia tak bisa dihubungi, saat aku menelpon orang tuanya, mereka hanya mengatakan bahwa sebaiknya kami tak saling bicara dulu. Sebenarnya apa yang terjadi? Aku tak merasa sudah berbuat salah padanya.

Aku sangat ingin bertemu dengannya karena aku ingin memberikan sesuatu. Aku sudah memikirkannya matang-matang, sudah kupertimbangan segala resikonya, dan aku sudah memilih.

“Dia belum menghubungimu?” Eunhyuk masuk ke kamar dan langsung menghampiriku yang bergulat dengan guling. Aku semakin pusing.

“Menurutmu apa yang terjadi? Ini sudah terlalu lama.”

Eunhyuk hanya mengangkat bahu dengan cueknya. Ia berhasil menghentikan pergumulanku dengan merebahkan kepalanya di atas perutku.

“Apapun masalahnya, dia hanya butuh waktu. Setelah siap dia pasti akan menemuimu.”

“Tapi ini justru membuatku takut.”

“Ah, atau mungkin dia ingin mengerjaimu?”

“Maksudmu?”

Eunhyuk bangkit, mengambil kalender kecil di atas meja dan memperlihatkan tanda bulat di angka 15. Itu adalah hari ulang tahunku yang jatuh pada…………….esok hari. Eh? Aku ulang tahun? Aku benar-benar lupa. Aku juga sudah cukup lama tidak membuka twitter dan instagram. Sekarang pasti banyak ELF yang mengucapkan sesuatu.

“Lantas?”

“Ya! Dia sedang mengerjaimu. Tepat dihari ulang tahunmu dia pasti akan muncul dengan kejutan.”

Lama otakku mencerna perkataan Eunhyuk. Bibirku membulat dan berpikir.

“Ya! Pabo! Gunakan otakmu yang tak pernah dipakai itu!”

Seketika itu juga mataku membulat. Kenapa tidak terpikirkan olehku? Aku refleks memeluk Eunhyuk kegirangan. “Tumben kau jenius.”

Ia melepas pelukanku lantas memilih menyebrang ke tempat tidurnya sendiri. “Aku harap kau tidak membuat tidurku berantakan lagi dengan suaramu ditengah malam. Cukup Kyuhyun yang melakukannya, kau jangan tertular juga.”

“Kau sendiri bagaimana? Apa Yoon Hi tidak takut melihat masalah Sungmin hyung?”

“Kurasa kami baik-baik saja,” jawabnya yang mendadak tidak begitu bersemangat dan langsung menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut. Apa ini hanya perasaanku saja atau memang benar kalau…………….ia merasakan ketakutan yang sama sepertiku?

Banyak yang menjadi kekhawatiranku belakangan ini. Aku dan dia memang kompak tidak pernah membahas masalah hubungan kami. Jika ada pembicaraan yang menjurus kesana, maka kami akan sama-sama mengubah topiknya. Meski dalam beberapa hal kami berbeda, tapi untuk masalah ini, kami sepemikiran. Aku tahu itu salah. Harusnya sejak memutuskan untuk berhubungan, kami sudah harus berpikir bagaimana hubungan ini akan berakhir. Apakah kami akan terus berdiam diri dan tidak memberitahu fans? Tanpa sebuah persetujuan melalui kata-kata, kami sudah melaluinya selama dua tahun tanpa ketahuan. Dengan kedok sebagai sahabat, kami rasa kami berhasil melakukannya. Tapi disatu sisi, aku merasa jahat karena menyembunyikan ini pada mereka. Apakah aku salah yang ingin menjaga perasaan mereka? Aku bukan takut kehilangan popularitas, aku hanya takut tidak bisa menjadi Lee Donghae yang mereka inginkan lagi dan lebih menyakiti hati mereka.

Aku bangkit, mengambil sesuatu dari dalam laci meja nakas. Kupandang benda itu dengan perasaan campur aduk. Jujur, jauh sebelum hubungan Sungmin hyung tercium, aku sudah berencana untuk mengumunkan berita yang jauh lebih indah dari sekedar berkencan. Aku sudah menyiapkan banyak hal termasuk mental untuk menghadapi reaksi fans. Tapi berkaca dari kasus Sungmin hyung, aku ragu, apakah itu adalah tindakan yang benar. Apakah ini justru akan menjadi bom tak berkesudahan bagi fans?

Pusing, sejenak kulupakan masalah itu dan langsung bergelung dalam selimut, tak sabar menantikan kejutan macam apa yang akan diberikannya. Ia sangat payah dalam hal seperti itu. Tahun lalu, dengan bodohnya aku yang memberitahunya bahwa itu adalah hari ulang tahunku. Sambil menghirup jus apelnya, ia berujar tanpa menatapku, “Oh, chukkae. Berapa umurmu? 12?”

Ia benar-benar menyebalkan. Ia sering mengataiku kekanakan, tapi begitu aku menciumnya, ia akan mengatakan bahwa aku terlalu handal, haha.

Drrttt

Aku mendengar suara benda yang bergetar. Kusibak selimut dan menemukan handphoneku yang tergeletak di atas meja berdering tanda panggilan masuk. Tubuhku seketika menegak begitu mengetahui siapa yang menghubungiku itu.

“Yoboseyo.”

Tak ada sahutan darinya. Aku jadi ikut diam karena menunggunya.

“Yoboseyo. Kenapa kau diam saja?”

“Donghae-ah…” Ia bersuara, tapi sangat lemah.

“Ne? Terjadi sesuatu?”

Aku bisa mendengarnya sedang menghela nafas. Perasaanku pun mengatakan ini bukan situasi yang baik baginya. Langsung ku kejar ia dengan banyak pertanyaan, “Apa yang terjadi? Kau sakit? Atau kau sedang ada masalah? Kenapa kau tidak menghubungiku? Banyak yang ingin aku katakan padamu.”

“Bisa kita bertemu?”

Tak sadar aku menahan nafas saking senangnya, “Kapan?”

“Sekarang, di tempat biasa.”

Sambungan terputus begitu saja tanpa membiarkanku untuk bertanya atau mengucapkan salam penutup seperti biasanya. Aku langsung melompat dari tempat tidur, tidak mengganti piyama dan hanya melapisnya dengan jaket tebal. Sebelum pergi, aku kembali membuka laci dan mengambil benda itu.

“Ya! Sudah jam segini, kau mau kemana? Dan kenapa kau hanya memakai piyama? Kau mau mengagetkan elf diluar sana?” Heechul hyung baru akan masuk ke kamarnya. Dengan gembira kupeluk ia sampai ia kebingungan.

“Hyung, doakan aku!” kataku sambil mengecup pipinya. Sementara ia dilanda keterkejutan hebat, aku meninggalkannya dan melakukan hal yang sama pada member lain yang masih menonton televisi. Aku bisa mendengar mereka mengatakan bahwa aku sudah gila saat aku hampir menutup pintu. Tak ku perdulikan. Aku meluncur kencang ke lokasi pertemuan dengannya.

Jantungku berdetak kencang sejak aku melangkahkan kaki keluar dari dorm. Wajahnya yang menyebalkan itu terus berputar dalam kepalaku. Dia pasti sudah tiba disana dan duduk manis menungguku. Aku pun mengeluarkan sesuatu dari saku celanaku. Ini adalah benda yang tak pernah kuperlihatkan pada siapapun. Dan entah bagaimana caranya, segala kekhawatiranku meluap sejak mendengar suaranya. Aku akan memberikannya padanya malam ini juga. Ya, malam ini juga.

Saat sudah sampai, ku kembalikan benda itu ke dalam saku lantas menghentikan mobil. Dari kejauhan aku melihat tubuhnya yang mungil itu di balik kursi taman.

“Sudah lama?” tanyaku basa basi meski sebenarnya aku begitu ingin memeluknya. Tapi aku menahan diri lalu duduk disisi kirinya. Sekilas aku melihat sebuah kotak besar di dekat kakinya. Apakah itu kado untukku? Tapi ini terlalu cepat untuk sebuah perayaan. Maksudku….masih ada dua jam.

“Apa kau begitu sibuk akhir-akhir ini? Kau tidak bisa seenaknya melakukan itu padaku.”

Kulihat ia tersenyum kecil, hal yang sebenarnya nampak aneh diwajahnya. Aku baru akan bertanya saat tiba-tiba ia merebahkan kepalanya dibahuku. Selain rasa nyaman dan bahagia yang menyelimutiku, aku lebih merasa bahwa terlalu banyak hal yang salah pada dirinya. Ia yang bahkan tak pernah memegang tanganku lebih dulu, kini bersikap demikian. Aku tak habis pikir.

Namun, tak mau menyia-nyiakannya, aku pun membalas dengan menindih kepalanya setelah sebelumnya aku mengecup puncak kepalanya lalu kugenggam tangannya. Kuperhatikan keadaan sekitar kami yang begitu lengang. Rasanya damai sekali.

“Kau belum mengatakan apapun.” Aku memulai percakapan. Tak lama, aku kembali mendengar helaan nafas persis seperti yang aku dengar saat ditelepon tadi.

“Aku lelah,” jawabnya datar dan pelan.

“Lelah? Pekerjaanmu begitu banyak? Hm, mungkin sebaiknya kau mengambil cuti. Grupmu tidak sedang dalam masa promosi, kan?”

“Mungkin kau benar.”

Benar-benar aneh. Jarang sekali ia menuruti perkataanku dalam sekejab. Biasanya kami ribut dulu untuk menentukan sesuatu.

“Kau baik-baik saja?”

Ia mengangguk pelan dibahuku.

“Apa Sungmin baik-baik saja?”

Hm? Sungmin hyung?

“Apa hubungannya dengan kekasihnya baik-baik saja?”

Aku mengangguk paham.

“Oh, kau tahu mereka akan segera menikah. Dan mungkin kau juga sudah melihat reaksi fans. Tapi….aku pikir mereka baik-baik saja.”

“Pasti sangat sulit berada diposisi mereka.”

Aku tak mengerti kemana arah pembicaraan ini. Jarang sekali kami membicarakan orang lain saat sedang berdua.

“Sepertinya begitu. Yah, kau pasti mengerti.”

Lama obrolan kami terhenti. Aku tak tahu harus mengatakan apa karena suasananya begitu canggung. Tak biasanya kami begini. Tapi memang sejak awal semua berjalan tidak biasa. Mulai dari ia yang mengajak bertemu sampai pada titik ini dimana ia begitu pendiam.

“Donghae-ah.” Aku menatapnya yang masih nyaman bersandar dibahuku.

“Hm?”

Ia memejamkan matanya erat, kemudian keluarlah permintaan itu.“Aku ingin kita berpisah.”

Aku terdiam. Namun dengan cepat pula aku mengangkat kepala untuk bertanya. Tapi ia bergerak lebih cepat dariku. Ia memelukku, mengunciku dalam dekapannya yang tiba-tiba terasa berbeda. Sangat……erat dan aku hanya bisa diam.

“Aku ingin kita tidak melanjutkannya.”

Kata-katanya terdengar begitu pelan tapi aku masih bisa mendengarnya dengan jelas. Bahkan kalimat itu bergaung seakan kami berada di lorong dan ia meneriakkannya. Aku menggeleng, berusaha melepaskan pelukannya dan ingin menatap matanya. Tapi ia bersikeras tak mau melepaskannya.

“Tolong, dengarkan aku dan jangan biarkan aku melihatmu.”

“Tapi kenapa?” tanyaku dengan suara bergetar. Dadaku sungguh sakit mendengarnya, Kuremas pakaiannya untuk menahan air mataku.

“Aku tahu kau sedang mengerjaiku dan mempersiapkan kejutan untukku,” kataku lagi dengan ceria meski aku tak yakin kali ini aku bisa menahan tangisku. Sayangnya ia menggeleng, bahkan lebih meyakinkan.

“Kita melewati dua tahun ini dengan begitu bahagia. Kita terlalu senang sampai lupa memikirkan hal yang sangat penting.”

“Apa yang kau bicarakan?” Nadaku sedikit melemah karena tenggorokanku tercekat. Aku masih yakin ia hanya membual, tapi dadaku sudah sesak seakan aku tahu bahwa kenyataannya jauh bertolak belakang.

“Kita terus berjalan tanpa pernah memikirkan kemana hubungan ini akan bermuara. Kita bahkan berusaha selalu menghindari pembicaraan ke arah itu. Aku tahu ini akan terdengar egois, tapi aku tidak sanggup berdiri di sampingmu lagi.”

“Pasti ada penyebabnya!” Suaraku semakin pelan, semakin kehilangan kepercayaan diri. Ia tak terdengar sedang membuat lelucon.

“Kau lihat apa yang terjadi pada Sungmin? Aku tidak yakin aku siap melihatmu berada diposisi itu. Kau……..aku sangat tahu bagaimana posisimu begitu spesial. Ini akan jauh lebih berat jika terjadi padamu. Mereka tidak akan bisa dengan mudah menerima hubungan ini. Ini tidak akan berakhir dalam hitungan jam untuk mereka.”

Aku tersenyum kecut. “Tidak masuk akal! Sungmin hyung baik-baik saja. Ini semua hanya masalah waktu. ” Dadaku semakin tertekan, bahkan untuk melanjutkan perkataankupun……….

“Aku tidak sekuat yang kau pikirkan. Aku tidak akan bisa melihatmu kehilangan banyak hal yang sudah susah payah kau dapatkan selama bertahun-tahun. Aku tidak mau menjadi alasan atas semua itu.”

“Kenapa kau bisa berpikir seperti itu? Mereka pasti bisa menerimanya. Tidak perlu kau melakukan ini. Ini berlebihan.”

“Kau yakin mereka bisa terima? Dan berapa banyak waktu yang dibutuhkan untuk luka itu? Mereka jauh lebih berharga karena kehadiran mereka yang membuatmu ada dititik ini. Aku bukan siapa-siapa. Aku hanya wanita biasa yang masuk dikehidupanmu dan akan hilang dengan mudah tanpa kau sadari.”

“Kumohon tarik semua perkataanmu!” Aku mencoba tegas kali ini meski rasanya setiap huruf yang keluar seperti memuntahkan duri yang tajam. Aku memeluknya erat. Tak mau kehilangan dirinya. Pada akhirnya kami sama-sama tak bisa menahan diri. Kami menangis bersama dan aku langsung teringat dengan sesuatu.

“Lihat ini!” Aku berhasil melepaskannya lalu mengeluarkan benda dari saku celanaku. Ini adalah sebuah kotak kecil dengan sebuah cincin berlian di dalamnya. Ia membekap mulutnya saat kubuka dan kuperlihatkan cincin tersebut.

“Lihat! Aku mempersiapkan ini. Aku serius denganmu dan aku tidak peduli dengan reaksi orang-orang kelak.”

“Kau tidak bisa mengabaikan hal sepenting itu! Kau tidak bisa tidak perduli dengan mereka! Ini bukan waktu yang tepat bagimu memikirkan hal bodoh seperti ini!”

“Hal bodoh macam apa yang kau bicarakan? Aku mencintaimu dan aku tidak main-main. Kita bisa terus menjalaninya tanpa ketahuan jika kau memang takut.”

“Aku bukan takut terjadi sesuatu padaku. Tapi kau…………aku mengkhawatirkanmu dan perasaan mereka.”

Tangis kami semakin kencang dan sulit dibendung. Ia butuh waktu beberapa lama sampai akhirnya kembali mengelus wajahku. Aku menahan tangannya yang hendak turun. Aku tak membiarkannya lepas lagi.

“Dengarkan aku baik-baik. Aku mencintaimu. Kau mungkin tidak tahu seberapa besar aku mencintaimu. Tapi aku tidak mau merusak apa yang sudah ada ditanganmu. Dibanding menjalaninya seperti ini terus menerus atau mengakuinya di depan semua orang, aku memilih untuk mundur.”

Aku menggeleng keras sambil menangis. Kumohon…jangan katakan itu lagi! Atau lekas katakan kalau ini hanya sebuah drama untuk kejutan ulang tahunku.

“Maafkan aku. Aku tidak bisa…..”

Aku tak tahan lagi. Segera kulepas tangannya lantas membalik badan.”Pergilah!”

Aku tak mau menatapnya lagi. Kupalingkan wajahku kemanapun sembari menahan tangisanku. Aku kecewa padanya. Ia terlalu lemah.

“Pergilah! Pergi sesuka hatimu. Lakukan apapun yang ingin kau lakukan! Kau takut berdiri di sampingku? Maka aku akan menemukan orang lain yang mau melakukannya.”

Aku tak yakin dengan perkataanku tapi aku takkan menariknya dan takkan menatapnya lagi. Karena sekali aku melihat air matanya, aku pasti akan semakin lemah. Jika ia tak bisa bertahan denganku, aku tidak bisa memaksanya.

“Donghae-ah……..”

Aku menelan ludahku dan diam-diam menyeka air mataku.

“Pergilah!”

Lama aku tak mendengar suaranya lagi. Hingga tak lama aku bisa merasakan ia memelukku dari belakang. Tangiskupun kembali pecah. Rasanya aku akan jatuh jika ia melepaskan pelukan itu. Ingin aku menahan kedua tangannya, tapi…………bahkan aku tak sanggup menggerakan kedua tanganku. Ini terlalu sakit.

Tak lama pelukan itu tak terasa lagi dan aku bisa mendengar derap langkahnya yang pelan, langkahnya yang semakin jauh hingga semakin tak terdengar lagi. Mati-matian aku menahan diri untuk tidak berbalik apalagi menahannya. Namun, pertahananku hancur seketika. Aku berputar, berteriak memanggil namanya.

Tapi kenyataannya, tak ada siapa-siapa di sana. Bahkan jejak kakinya pun tak ada. Aku memejamkan mataku lama, berharap begitu terbuka, yang kulihat adalah dirinya yang berdiri sambil memegang kue ulang tahunku. Tapi saat aku membuka mata, aku harus terima bahwa ini adalah kenyataan dan ia tak ada lagi dihadapanku.

Sekarang aku merasa semuanya menjadi gelap dan aku terperosok ke dalam jurang. Semua terjadi begitu saja. Dalam hitungan menit aku hampir yakin ini akan jadi malam terbaik selama hidupku. Aku akan tersenyum menerima hadiah darinya. Lalu aku akan berlutut menyerahkan cincin yang sudah kupersiapkan. Tapi dalam hitungan menit juga semuanya berbalik 180 derajat. Aku hancur.

Tiba-tiba aku teringat dengan kotak itu. Kulihat kebawah dan ternyata ia meninggalkannya. Segera saja kubuka hingga aku melihat semua benda yang ada di dalamnya. Dadaku pun semakin sakit. Ada puluhan kertas bon restoran, café dan tiket bioskop. Ada banyak foto yang membingkai kebersamaan kami. Ada boneka panda kecil yang dulu kuberikan padanya. Ada pula sebuah spidol merah yang kuberikan padanya supaya ia bisa melingkari kalender dan tidak lagi melupakan ulang tahunku. Ada pula benda-benda yang kami miliki bersama seperti kalung dan topi. Apakah ini bukan mimpi?

Aku terduduk di atas rumput yang basah. Sampai beberapa saat lalu, aku masih berharap ia akan kembali dan berkata bahwa ini hanya lelucon atau kejutan ulang tahun. Tapi melihat semua ini, sepertinya ia sudah begitu yakin dengan keputusannya. Akupun menatap cincin yang tadinya akan kulingkarkan dijari manisnya. Jauh dari bayanganku, cincin ini belum akan menghiasi jarinya, bukan sekarang dan bukan siapapun juga.

I stay, I stay

The memories of having once loved, control me so easily

Once again, one more time

How can it end like this? I cannot believe

Those countless promises, what to do, what to do……………

***THE END***

8 Comments (+add yours?)

  1. rizzzkiii
    Aug 14, 2015 @ 22:29:39

    wiiii cepet… udh dipublish!!! tengkiuuuuu mimin

    Reply

  2. vannyradiant
    Aug 15, 2015 @ 00:47:18

    Ngebayanginnya kaya beneran mereka hidup sepeti itu… good writing thor🙂 di tunggu versi siwonnya~

    Reply

  3. Ryeosomnia Riiee
    Aug 16, 2015 @ 06:10:01

    Kehidupan nyata mereka (SJ oppa) mungkin ga jauh berbeda sama ‘tulisan’ diatas. Jadi sedih😦
    Gomawo udh publikasi ini, skrg pikiranku jd terbuka utk merelakan segalanya yg akan terjadi pada mereka..

    Reply

  4. IenhaELF
    Aug 17, 2015 @ 09:31:36

    Mungkin kehidupan nyatanya mmng gak jauh berbeda sama tulisan ini😦
    Benar2 masuk kedalam tulisan ini .. Sebenarx fans bakal nerima kok org kita cmn fans tapi semuanya itu butuh waktu ! *kokMalahCurhat* bagus deh ffnya bikin pikiran makin terbuka🙂

    Reply

  5. Rhara yekyu
    Aug 19, 2015 @ 01:31:17

    aku kebawa suasana, sampai_sampai berfikir ini benar 2 dialami oppadeul…😦 good thor🙂

    Reply

  6. Andorable Andra
    Aug 19, 2015 @ 06:14:20

    aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaakkkkk sumpah ini sedih banget thor! )): kasian SJ kalo emang kehidupan nyata mereka kayak gitu… anw bagus banget pilihan katanya, aku suka ^^ keep writing, author!!

    Reply

  7. nurihandyn
    Sep 03, 2015 @ 01:04:42

    Sebenernya aku dah baca ni ff seminggu yg lalu krn inet aku yg error atau gmn aku ga bs komen. -.-
    Ff ini terlalu sayang kalo ga ditinggalin jejak.
    Berasa baca kisah nyata bacanya thor

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: