Scandal Love [7/10]

[Chapter 7] Scandal Love

Author : Rien Rainy (@Riechanie_ELF / Riechanie Elf)

Cast :

  • Lee Dong Hae Super Junior as Lee Dong Hae
  • Cho Hyo Na (OC)
  • Park Jae Rin (OC)
  • Cho Kyu Hyun Super Junior as Cho Kyu Hyun
  • Han Jang Mi (OC)
  • Kim Ki Bum Super Junior as Kim Ki Bum
  • Choi Woo Ri (New OC)

Genre : hurt, romance, tragedy

Rated : T

Length : chapter

Author note : “Jangan lupa main-main ke http://riechanieelf.wordpress.com/ ~!!! ^o^”

HAPPY READING~!!!

ENJOY~!!!

DON’T BASH~!!!

DON’T PLAGIAT~!!!

Don’t like don’t read~!!!

“Tenang saja. Aku pikir ini akan segera berakhir… berakhir entah ini menyenangkan atau menyedihkan untukmu dan untukku…”

—Scandal Love—

—Sebelumnya—

“Hyonnie, dengarkan aku! Sekarang jujurlah pada perasaanmu saja! Katakan jika benar kau menyukai Dong Hae pun tidak apa-apa, jangan pikirkan tentang Woo Ri. Sekarang fokuslah pada kebahagiaanmu dan hentikan ini semua! Kau pasti bisa, Hyonnie!”

Hyo Na menjadi tertegun mendengar kalimat penyemangat tersebut hingga akhirnya dia pelan-pelan mencoba tersenyum di balik rasa sakitnya itu. Zhoumi bahkan tidak memarahinya seperti biasa bahkan pria dengan senyuman manis itu memberikannya semangat dan dorongan kepada perasaannya sendiri, terasa cukup melegakan bagi Hyo Na hingga berakhir dengan dia yang menganggukan kepalanya dengan percaya diri.

“Baiklah! Aku akan mengakhiri ini secepatnya Zhoumi! Terimakasih mau mendengarkanku.”

—Scandal Love—

Kelas-kelas masih terlihat sepi di pagi buta ini, hanya terlihat angin-angin pagi dan cahaya matahari yang menusuk-nusuk masuk ke dalam kelas yang masih sepi. Lalu kini terlihat gerbang sekolah sudah terbuka oleh salah satu penjaga sekolah yang selalu datang pagi-pagi sekali, sepertinya dia ingin membersihkan tempat dia berjaga, tak lama setelah itu sosok yang lain masuk ke dalam gerbang dan sepertinya bertugas untuk langsung berjalan menuju kantor guru.

“Sepertinya sudah lama sekali tak datang sepagi ini, ya?” gumam Dong Hae pelan sambil memandangi gerbang sekolahnya dengan seulas senyuman yang dia tampilkan di pagi hari.

Belum berniat memasuki gerbang, dia masih diam saja sambil menatap sekeliling sekolah dan menemukan pandangan matanya pada sosok yang lain di sudut jalan. Ah, sepertinya itu sosok yang juga sudah lama sekali tak berangkat sendirian dan pagi-pagi seperti ini, “Selamat pagi, Hyonnie!” teriakannya terdengar membuat sosok yang di kejauhan itu terlihat mengedipkan matanya dan kemudian berusaha tersenyum seramah mungkin.

Hyo Na terlihat berangkat sendirian pagi ini, Jong Woon yang biasanya berangkat pagi bersamanya tengah melakukan perjalanan bersama anak kelas tiga yang lain dan sepertinya lagi Hyo Na juga tak ingin merepotkan kakaknya di rumah yang sudah ingin mengantarkannya. Maka itu daripada kakaknya terus-menerus memaksa untuk mengantar lebih baik dia berangkat sepagi ini, “Aku pikir, kau akan di antar eonni mu?” ucap Dong Hae saat Hyo Na sudah sampai di dekatnya lalu Hyo Na hanya menggelengkan kepalanya kecil.

Mereka kini terlihat berjalan berdampingan memasuki sekolah yang masih terlihat sepi seperti ini, tak ada suara Hyo Na di langkah-langkah kaki mereka yang terdengar hanyalah suara Dong Hae yang menghiburnya, tidak sama seperi saat mereka baru mengenal satu sama lain. Kali ini Dong Hae lebih terlihat banyak bicara daripada dulu, seperti dia ingin menghibur dan menunjukan kembali sikap asli Hyo Na saat pertama dia mengenalnya.

“Kau akan membaca, ya?” tanya Dong Hae saat menemukan Hyo Na sudah akan membuka novel miliknya, lalu dia menganggukan kepalanya pelan dan Dong Hae menjadi beringsut mendekatinya. “Tak… hm, tak ada yang ingin kau ceritakan lagi padaku? seperti…”

Hyo Na mendongak memerhatikan Dong Hae yang sudah bungkam di depannya, iris mata kelamnya bahkan menusuk masuk ke dalam iris hazel milik Dong Hae yang sayu sama seperti miliknya. Tak ada kata-kata yang ke luar dari keduanya, sekarang ini hanya ada keheningan yang mengelilingi mereka, Hyo Na yang menatapnya seolah berusaha memberitahu tentang apa yang ingin dia katakan di balik tatapan matanya itu, sedangkan Dong Hae dia masih terlarut pada manic milik Hyo Na yang kelam, benar-benar memunculkan perasaan lain di sisi hatinya.

“Hyonnie?” panggilnya terdengar kemudian lalu Hyo Na kini tersenyum entah untuk sebab apa itu tetapi gadis itu sedikit memajukan kepalanya hanya untuk menyejajarkannya ke hadapan Dong Hae yang menjadi mematung di tempatnya, “Aku akan mengakhirnya, Dong Hae-ah. Lalu… aku akan bercerita lagi padamu!” dan dia kembali dengan cepat ke tempatnya meninggalkan Dong Hae yang sudah mengedipkan matanya tak percaya dengan tingkah Hyo Na yang sangat tiba-tiba padanya.

Satu sisi mungkin hatinya ikut bergetar mendapati tatapan dalam milik Hyo Na padanya, tatapan yang bahkan sepertinya sudah lama sekali tak di dapati Dong Hae darinya, tetapi di sisi lain ada perasaan yang sudah lama dia tekan terhadap Hyo Na kembali muncul juga akhirnya. Yah, perasaan nyaman dan suka yang pernah dia ceritakan pada Leeteuk, kakaknya, lalu dia kini menjadi menatapi Hyo Na yang sudah seolah-olah terlarut pada apa yang dia baca itu.

“Ketika ini sudah berakhir… kau akan bercerita padaku?” gumam Dong Hae sangat pelan lalu Hyo Na kini menatapnya dengan pandangan aneh, “Kau berbicara apa, Dong Hae?” tanyanya kemudian lalu yang di tanya hanya tertawa kecil sambil tersenyum kikuk saja di depannya, “Lanjutkan bacamu saja, Hyonnie!” dan dia kini memilih untuk memutar tubuhnya menghadap depan meninggalkan Hyo Na yang berusaha menutupi degupan jantungnya.

Biar bagaimana pun juga berlaku seperti tadi secara tiba-tiba itu bukanlah dirinya sama sekali, selain itu terlihat memalukan untuknya, di satu sisi dia jadi terlihat salah tingkah di tempatnya. Ah, wajah Dong Hae yang kaget di matanya itu entah mengapa sangat tampan saat dia pandangi sedekat itu, apalagi aroma tubuhnya yang menguar begitu saja seperti menyengat sisi hati Hyo Na untuk selalu berdekatan padanya. Pantas saja bulan-bulan lalu sebelum kejadian mengerihkan ini muncul dia sangat betah berdekatan dengan Dong Hae, aroma tubuh dan wajahnya adalah hal yang menarik yang mudah di pandang dan di rasakan olehnya.

—Scandal Love—

“Sepertinya penyerangan sudah mulai berkurang, ya?” kata Hyo Na terdengar pada Jang Mi yang kini menoleh ke arahnya dan tersenyum senormal mungkin, dia pikir kali ini Hyo Na pasti sudah bisa kembali seperti semula.

“Jang Mi-ah, kau kapan sembuhnya, ya?” gumam Hyo Na terdengar bertanya padanya sambil beringsut mendekati Jang Mi yang kini sudah dia dekati dan mengusik wajahnya dengan jemari-jemari usilnya, Hyo Na kembali mungkin.

“Ck, kau ini! Kau tahu? Ini masih sakit!”

Hyo Na jadi terlihat tertawa kecil mendapati Jang Mi yang sudah memarahinya karena dengan usil menekan lembut bekas luka di dahinya, mereka berdua lalu sama-sama terlarut dalam tawa yang sudah lama sekali tak terlihat. Kyu Hyun menangkap pemandangan itu dari balik matanya yang focus mendengarkan temannya berbicara, perasaan lega cukup untuk menghampirinya, senyuman Hyo Na sudah kembali sepertinya. Lalu Dong Hae sendiri dia memilih memandangi saja Hyo Na dari tempatnya berdiri, dia kini tengah berdiri di depan pintu kelas juga bersama temannya yang tengah bercerita lucu, kelihatannya kedua pria itu sama-sama memerhatikan Hyo Na yang kini sudah menarik kembali perhatian teman sekelasnya.

“Hah, aku jadi senang ketika Hyonnie kembali seperti dulu!” ucap lega seseorang pria di samping Dong Hae, “Iya, ketika dia hanya diam dan menatap dingin setiap orang di sekitarnya, kupikir dia tak akan bisa kembali seperti dulu,” imbuh yang lain terdengar di telinga Dong Hae lalu kini pria berambut brunette itu menjadi tersenyum mendengarnya.

“Apa dia akan kembali menjahilimu lagi, Hae-ah?” pertanyaan kini menyerang Dong Hae yang menatap salah satu temannya dengan ringisan kecil dan gedikan bahunya yang menandakan dirinya tidak tahu.

Tuk. Tuk. Tuk.

“Yak, Hae-ah, temani aku ke kantin, yah?!” dan kini sosok yang mereka bicarakan malah menghampiri mereka tiba-tiba, teman di sekeliling Dong Hae sudah menyapanya dengan ramah dan membuat gadis itu kini menjadi terkekeh kecil, “Kau terlihat sudah sehat sekali, ya, Hyonnie?” ucap salah satu dari mereka dan Hyo Na menganggukan kepalanya dengan semangat.

“Uhm, tentu saja! Aku itu kuat tahu! Ah, Hae-ah, cepat temani aku!”

Lalu berakhir dengan lengan Dong Hae yang sudah di tarik paksa oleh Hyo Na yang sedikit memaksanya dalam langkah kakinya. Teman-teman yang lain juga memandang itu dengan gelengan kepala tak percaya, sepertinya Hyo Na yang usil dan bersikap selayaknya iblis karena terus menindas Dong Hae yang berpasrah itu benar-benar sudah kembali. Berbeda dengan pandangan teman yang lain, Kyu Hyun di tempatnya hanya meremas tangannya dengan geram, menyembunyikan amarahnya sendiri. Sedangkan Jang Mi jadi sedikit was-was saja mendapati Hyo Na yang sudah kembali tetapi sepertinya akan kembali mengundang masalah lain, “Kyu…” dan lirihan Jang Mi jadi terdengar jelas ketika matanya menangkap Kyu Hyun yang juga ke luar kelas.

Ah, sepertinya dia juga harus mengikuti pria bersurai ikal itu, takut-takut bisa saja Kyu Hyun menghajar Dong Hae atau merebut Hyo Na yang sepertinya nyaman sekali berdekatan dengan Dong Hae. Ah, entah apa firasat Jang Mi sekarang yang terpenting baginya dia harus mengikuti mereka agar kejadian-kejadian yang tak di inginkannya tak terjadi.

“Kau tidak ingin mentratktirku seperti biasa, eh?”

Dong Hae sedikit meringis kecil mendapati Hyo Na yang merengut di hadapannya, pemandangan yang cukup jarang semenjak penyerangan itu, tetapi dia kini menjadi serba salah juga. Dia ingin saja menyalahkan Hyo Na saat ini, dia tak membawa uangnya yang tertinggal di saku blazer yang dia letakan di atas mejanya, satu sisi Hyo Na juga mengajaknya dengan cara memaksanya. Benar-benar menyebalkan mungkin, tetapi Dong Hae cukup untuk merindukan segala perilaku gadis ini padanya.

“Aku… ck, hei, kau juga yang memaksaku ikut. Mana aku tahu kalau kau meminta traktir?”

“Ck, pelitnya kau ini? Hm… hei, Kibummie!”

Lalu kedua anak itu melihat Ki Bum yang sepertinya baru memasuki kantin, pria dengan kacamata yang bertengger di hidung dan menutupi matanya itu sekilas tersenyum menghampiri Hyo Na lalu dia kini menjadi menatap Dong Hae dengan tanyanya sendiri, “Jang Mi noona mana?” katanya kemudian dan kini Hyo Na menjadi merengut.

“Yak, di pikiranmu itu hanya Jang Mi saja, eh? Kau melupakanku? Aku, kan, noona mu juga, Kibummie?”

Ki Bum jadi sedikit meringis mendengar bentakan Hyo Na yang tak bisa di bilang pelan itu, ini hal yang cukup lama sekali tak Ki Bum dengar dan kali ini dia harus sedikit menahan rasa malu pada setiap pengunjung kantin yang sudah menatap ke arah mereka sambil berbisik-bisik dan tertawa kecil sekilas. “Ck, noona, bisa pelankan suaramu itu, eh?” pintanya terdengar dan mengajak keduanya untuk duduk di salah satu bangku.

“Ck, tak biasanya kau bersikap seperti ini padaku? Uhm, Hae-ah, kau lihat, kan? Sekarang dia benar-benar sudah membenciku,” pengaduan Hyo Na terdengar di telinga Ki Bum, Dong Hae jadi sedikit meringis kecil dan menggedikan bahu, “Aku tak yakin?” ucapannya terdengar kemudian lalu Ki Bum kini menatap Hyo Na dengan tanya, “Tak biasanya juga kau pergi dengan Dong Hae, kan? Wajar aku bertanya padamu, noona?” lalu Hyo Na menjadi tak mengerti saat Ki Bum berkata seperti itu.

“Ck, kau buta apa? Aku sudah terlalu sering berjalan dengan Hae-ah, kau saja yang tidak tahu!”

“Hyonnie…”

“Hm, kau, kan hanya melihat Jang Mi!”

“Hyonnie…”

Dan baru saja Hyo Na akan berucap lagi kini sebelah tangan Dong Hae sudah sedikit menarik lengannya untuk berhenti berbicara, Hyo Na menjadi memandanginya dari samping dengan tatapan tidak mengertinya karena Dong Hae malah melihat ke arah depannya. Penasaran dengan apa yang diperhatikan Dong Hae, Hyo Na kini juga mengikutinya dan dia akhirnya menatap mata Kyu Hyun yang sudah menatapnya dengan datar, “Apa yang kau lakukan dengannya, Hyonnie?” kata Kyu Hyun pelan lalu ikut bergabung dengan mereka dan tak lama dari itu muncul sosok Jang Mi yang sudah meringis dan ikut duduk bersama dengan mereka dan tentu dengan atmosphere yang tiba-tiba saja berubah menjadi kelam.

“Hm, Kyunnie? Kau kenapa seperti itu?”

Dan sepertinya gadis berambut sebahu itu tidak sama sekali paham dengan kondisi dan situasi yang mengelilinginya, tentu saja Hyo Na terlalu polos atau sebenarnya dia terlalu tidak ambil pusing dengan sikap Kyu Hyun yang jadi mengekangnya. Tak banyak bicara Kyu Hyun terlihat menarik lengannya dengan paksa dan menyeretnya untuk berjalan mengikutinya, Dong Hae baru saja ingin menyusul mereka tetapi lengannya malah tertahan oleh Ki Bum yang sudah menginterupsinya untuk duduk di tempatnya bersama Jang Mi yang kini memandang curiga ke arahnya.

“Kyunnie?” panggil Hyo Na mencoba menghentikannya, Kyu Hyun tetap saja menariknya dengan paksa bahkan mengabaikan tatapan siswa lain yang bertemu mereka di lorong kelas.

Hyo Na merasakan tatapan itu menusuk ke arahnya, nyawanya seperti terancam. “Kyunnie? Lepas…” lirihnya kemudian sangat pelan dan menarik sedikit lengan itu agar si rambut ikal itu berhenti menariknya, tetapi entah karena Kyu Hyun masih tak ingin mendengarnya atau tidak dia terus saja menarik lengan Hyo Na hingga membawanya kea tap sekolah.

“Kyu…”

“Kenapa kau membahayakan dirimu sendiri, heh!?”

Dan Hyo Na menjadi bungkam saat mendapati sentakan dari Kyu Hyun yang sudah melepaskannya, gadis berambut sebahu itu memasang wajah keheranannya berharap jika Kyu Hyun tidak membaca gelagat yang sebenarnya dia sembunyikan, yaitu ketakutan akan kemarahan Kyu Hyun padanya.

“Jangan menyembunyikannya dariku! Kau… Cho Hyo Na, bisakah berhenti untuk membahayakan dirimu sendiri, eh?”

Lalu tiba-tiba saja Hyo Na menjadi menatapnya dengan pandangan kosong, dia sungguh mulai mengerti mengapa Kyu Hyun bersikap seperti ini padanya, cukup untuk dirinya yang selalu menyusahkan Kyu Hyun. Tak bisakah kali ini dia atau temannya yang lain percaya jika dirinya akan baik-baik saja, Hyo Na masih memiliki rencana yang di sembunyikan dari mereka semua dan tentu saja dari Kyu Hyun pun dia sembunyikan. Tetapi sepertinya rencana itu sudah tercium oleh Kyu Hyun dan mungkin saja teman terdekatnya sendiri, apa dia terlalu bodoh untuk hanya berbohong saja kali ini.

“Aku baik-baik saja sekarang. Kau tak lihat? Aku…”

“Cho Hyo Na?! Berhentilah berpura-pura di depanku! Kau… menyembunyikan apa padaku, eh?!”

Baiklah, kini kepala itu sudah menunduk dengan sempurna ke bawah memperhatikan pijakan kakinya sendiri pada atap gedung sekolah. Tak ada lagi kalimat-kalimat bentakan Kyu Hyun yang ke luar dari mulutnya, pria bersurai ikal kecoklatan itu lebih memilih untuk mendengarkan segala penjelasan Hyo Na padanya, dia sangat ingin tahu apa yang di rencanakan gadis itu dengan bersikap seolah baik-baik saja. Kyu Hyun sadar hal ini memang sangat baik untuknya, tetapi mengingat ketika Hyo Na yang bersikap seperti itu akan kembali memancing perbuatan Jae Rin dan Woo Ri untuk mencelakainya sangat besar. Dan Kyu Hyun harap ini hanya akan menjadi dugaan dia sementara saja, dia juga sangat tahu resiko dari perbuatan Hyo Na yang mungkin saja akan benar-benar mengulangi masa-masa kelam SMP dia dulu.

“Aku… aku hanya ingin menjebak mereka…”

Dan benar dugaan Kyu Hyun tadi, Hyo Na memang bukan gadis polos pada biasanya, gadis berambut sebahu yang juga pernah mengalami hal serupa seperti ini sungguh tahu bagaimana caranya menjebak seseorang yang ingin mencelakainya. Hyo Na bahkan kini sudah menatap tepat di mata Kyu Hyun dengan percaya diri sekali, raut ketakutan sudah tak ada lagi terlihat di wajahnya, Kyu Hyun jadi tertegun melihatnya.

“Dan, aku hanya ingin menghentikan ini semua, Kyu Hyun. Aku cukup lelah di perlakukan seperti ini, kehidupanku sungguh terkekang dan tersiksa lagi seperti dulu, saat aku SMP. Kau tahu, kan?”

“Hyo Na…”

Hyo Na terlihat menggelengkan kepalanya dengan seulas senyuman di wajahnya, dia pandangi Kyu Hyun tepat di matanya, dia berusaha sekali ingin membuat Kyu Hyun percaya pada langkah yang dia buat kali ini, “Dan, aku juga bukan seorang bocah seperti saat itu, aku bukanlah orang yang di lindungi lagi seperti dulu, Kyu Hyun. Aku juga memiliki jalan hidupku, tentang apa yang membuatku bahagia dan membuatku sedih, bisakah kau percaya?”

Kyu Hyun jadi terlihat ragu walau dalam hatinya ingin sekali dia percaya pada apa yang di katakan Hyo Na padanya, namun bayang-bayang penyekapan dan penyerangan Hyo Na di bulan-bulan lalu kembali menghantuinya lagi seakan tak memberinya celah sedikit pun untuk percaya. Hyo Na menangkap sinyal itu dengan sangat baik hingga kini dia menggenggam salah satu tangan Kyu Hyun dengan erat sambil menatapnya lagi dengan pandangan yang sangat dalam yang dia miliki, berharap jika Kyu Hyun mau percaya dan dapat melepaskannya.

“Kyu Hyun, aku tahu kau. Hm, aku sangat tahu betapa besar perasaanmu terhadapku, tapi…”

“Hyo Na tak bisakah kita memakai jalan lain saja? Aku bahkan…”

Lalu Hyo Na terlihat menggelengkan kepalanya dengan pelan sambil berusaha tersenyum ke arahnya dengan manis, “Ini masalah yang aku timbulkan dari awal kita bersahabat, aku sungguh minta maaf padamu dengan segala kesusahan yang aku berikan. Tapi masalah yang kali ini datang lagi menjadi berbeda untukku…” Kyu Hyun menatap Hyo Na yang seakan berhenti mengambik jeda dalam berbicara, “Aku… aku menyukai… hm, bukan. Tetapi aku mencintai Dong Hae, Kyu…” dan Kyu Hyun harus memperkuat perasaannya saat itu juga setelah mendengar pengakuan Hyo Na padanya.

“Hyonnie, ini bukan…”

“Aku tahu, kau pasti sekarang merasa sedih mendengarnya. Kau merasa apa yang kau lakukan ini menjadi sia-sia untukmu, tapi… aku sungguh minta maaf padamu, Kyu Hyun. Bahagiaku mungkin bukan padamu, walau aku mengakui berdekatan denganmu itu sangat menyenangkan dan nyaman. Tetapi ketika aku berdekatan dengan Dong Hae kata menyenangkan dan nyaman itu menjadi kata-kata yang berarti luas untukku,” Hyo Na sudah berucap panjang padanya yang kini terlihat menatap Hyo Na dengan sendu.

Lalu entah bagaimana kini Kyu Hyun merasa dia bahagia mendengarnya langsung, entah mengapa dia merasakan Hyo Na memang sudah mendapatkan apa yang membuatnya bahagia. Mungkin Kyu Hyun berpikir sama sepertinya, bahagia dia bukan terletak pada dirinya tetapi pada diri orang lain yang tanpa sadar juga memiliki perasaan yang sama besar seperti miliknya. Kyu Hyun pun tanpa sadar menarik Hyo Na dalam pelukannya membuat gadis berambut sebahu yang masih serba salah pada pengakuannya itu menjadi semakin menyalahi dirinya sendiri, “Maafkan aku, Kyu…”

Kyu Hyun menggelengkan kepalanya pelan pada dekapan tersebut, sudah terlihat bahkan sudut-sudut matanya berkumpul air putih bening yang akan segera terjatuh, kali ini sepertinya dia memang akan terlihat lemah di depan mata Hyo Na. Hingga air mata itu terasa sudah jatuh mengenai kening Hyo Na dan membuat dia kini menjadi tersentak, Kyu Hyun malah semakin mendekap Hyo Na seakan-akan ini adalah dekapannya yang terakhir untuk Hyo Na yang memilih bungkam saja saat ini.

“K—Kyu? Hm, kau…”

“Shhtt… biarkan aku seperti ini dulu padamu, Hyonnie! Setelahnya terserah padamu, kau ingin menjauhiku atau tak menganggapku lagi juga tak apa. Aku sadar dengan perasaanku yang tak akan terbalaskan olehmu, Dong Hae sudah memilikimu seutuhnya dan dia adalah kebahagiaanmu sekarang. Kau tak salah, aku yang salah di sini Hyonnie,” lirihnya kemudian dan perkataannya juga sukses membuat Hyo Na ikut terenyuh juga merasakan sakit pada hatinya sendiri, jadi seperti inilah perasaan Kyu Hyun padanya.

Perasaan yang awalnya hanya tumbuh karena Kyu Hyun percaya kalau perasaan ini hanya sebatas ingin melindungi sahabat polosnya, tetapi semakin dia berdekatan dengan Hyo Na yang banyak bicara dan kekanakan itu dia semakin sadar kalau-kalau perasaannya sudah tak bisa dia tekan lagi menjadi perasaan ingin melindungi tetapi perasaan ingin memiliki Hyo Na. Bahkan pria ini menjadi seperti ketergantungan sekali ingin selalu berdekatan dengan Hyo Na hingga dia mengikuti ke mana langkah Hyo Na berada, sekolahnya, kelasnya, jurusan apa yang dia pilih dan segala yang berhubungan dengan Hyo Na pasti dia ikuti karena tujuan dia yang ingin memilikinya.

“Hiks, terimakasih, Kyunnie. Kau benar-benar orang baik dan aku bersyukur memiliki sahabat sepertimu. Aku berjanji tidak akan meninggalkanmu!”

Dan keduanya semakin berdekapan di sana, Kyu Hyun yang masih menangisi kalau perasaannya harus dia akhiri sedangkan Hyo Na yang kini harus mulai meraih apa yang membuatnya bahagia dan menghentikan segala perilaku Jae Rind an Woo Ri padanya.

—000—

“Jika aku menjebak mereka berdua apa itu akan berhasil, Zhoumi?”

Zhoumi terlihat berpikir saat Hyo Na bertanya serius padanya lalu sekilas dia tatap Hyo Na yang menunggu jawabannya dengan tenang walau wajahnya benar-benar tak menunjukan ketenangan sama sekali di tempat dia duduk.

“Hm, ku pikir akan berhasil! Tenang saja, Ki Bum sudah mengumpulkan bukti, jadi saat di mana kau di serang lagi kami bisa menghubungi polisi dan mengepung mereka berdua,” terang Zhoumi dan kini Hyo Na terlihat menganggukan kepalanya dengan senyuman di wajahnya.

Zhoumi memperhatikan senyuman bahkan yang sepertinya sudah jarang sekali dia lihat di wajah Hyo Na dengan senyuman miliknya juga, “Aku jadi penasaran padamu?” gumam Zhoumi tiba-tiba membuat Hyo Na mengalihkan perhatian ke arahnya dengan wajah tanyanya, “Apa… apa yang membuatmu menyukai Dong Hae?”

Dan yang di tanya kini menjadi salah tingkah sendiri, terlihat dari dia yang tanpa sengaja menjatuhkan apel yang di pegangnya tadi membuat Zhoumi menarik tawa dalam dirinya sendiri. Baru kali ini sepertinya Zhoumi bisa melihat bagaimana Hyo Na bisa jatuh cinta pada seseorang mengingat sikap Hyo Na yang dulu sangat tertutup pada siapapun termasuk pada Kyu Hyun yang jelas mencintainya. Mungkin dia memang benar-benar gugup di tanya seperti itu hingga tak sadar harus bergerak gelisah di tempatnya sambil sesekali melirik Zhoumi dengan rona merah di pipinya sendiri, “Uhm, bisakah kita mengganti topic yang lain?” dan Zhoumi menjadi keras kepala saat permintaan yang tak bisa di tepatinya terdengar dari Hyo Na.

“Ck, terbukalah denganku saja malam ini! Hyonnie aku sahabatmu sejak SMP, kan? Hm, padahal dulu aku sering sekali bercerita tentang banyak gadis yang aku sukai padamu dan meminta pendapat denganmu, tetapi masalah ini sudah menyerangmu sekarang dan tak bisakah kau melakukan hal yang sama seperti aku dulu, eh?”

Hyo Na jadi terhenyak mendengar kalimat itu dari Zhoumi, benar sekali yang di katakan pria dengan tinggi di atas rata-rata itu padanya. Dulu Zhoumi lah yang sering datang padanya dan bercerita mengenai gadis yang dia sukai dan meminta pendapatnya, tetapi sejak dulu juga Hyo Na tak pernah menceritakan tentang pria yang dia sukai hingga terkadang Zhoumi kesal mengapa Hyo Na belum mau membuka perasaannya pada semua pria. Menurut Zhoumi, Hyo Na itu manis dan baik jadi mana mungkin akan di tolak pria tampan yang mungkin saja tampannya seimbang dengannya, “Hm, aku… aku masih malu membicarakannya!” kesal Hyo Na terdengar dan Zhoumi menjadi tertawa melihatnya.

“Astaga, Hyonnie ku mengapa jadi polos sekali, ya? Ah, lihat wajah merahnya itu membuatku gemas!”

Zhoumi sudah menggodanya habis-habisan dan bahkan membuat Hyo Na semakin salah tingkah sendiri di depannya. Tak ingin terus-menerus melihat Hyo Na yang seperti itu Zhoumi akhirnya berdehem dan mengubah suaranya menjadi terdengar serius, “Ceritalah padaku! Mungkin aku bisa saja memberikan saran padamu! Dan…” Hyo Na tak sadar jika dia menahan nafasnya saat ucapan Zhoumi terlihat misterisu di ujungnya.

“Apa?! Apa?!” Zhoumi tertawa melihat pancingannya tertangkap, dia jadi sedikit menyeringai kecil.

“Ku pikir, Dong Hae juga menyukaimu!”

“Ah, kalau itu aku sudah tahu! Ups?!”

Dan Zhoumi yang tadinya terdiam mendengar perkataan Hyo Na menjadi tertawa sendiri akibat sikap kelewat jujur milik Hyo Na yang muncul di waktu yang sangat tepat. Hyo Na sudah membungkam mulutnya dengan kedua tangannya, wajahnya kini terlihat memerah sama seperti kulit apel yang dia kupas tadi, sedangkan Zhoumi kini menjadi ingin menggodanya terus.

“Aku tidak menyangka jika kau sudah tahu sejauh ini?!”

“Uhm, Tiang Bodoh, berhenti menggodaku!”

Zhoumi mengernyit mendengar Hyo Na yang sudah memanggilnya dengan sebutan seperti itu hingga dia kini terlihat menjentikan jarinya di dahi milik Hyo Na yang sudah mengaduh kesakitan yang sebenarnya tak ada artinya, “Kenapa kau melakukan ini, heh!” ucap Hyo Na yang sepertinya tak terima dan Zhoumi hanya tersenyum kalem saja menanggapinya.

“Uh, dasar Tiang Bodoh!”

Dan Zhoumi tertawa saja mendengar panggilan itu lagi, di rasanya sudah lama juga Hyo Na tak menyebutnya seperti itu. Semenjak dia SMP itu adalah panggilan sayang yang menurut Zhoumi kekanakan yang di sematkan Hyo Na padanya, di awal persahabatan mereka Zhoumi juga pernah protes tetapi Hyo Na terlalu keras kepala dan terus saja memanggilnya seperti itu. Berbeda dengan Kyu Hyun yang Zhoumi ketahui sudah lebih dulu menemani Hyo Na, pria berambut ikal itu terlihat terima-terima saja saat Hyo Na memanggilnya dengan berbagai macam sebutan, Kyunnie, Kyuhyunnie atau apapun itu.

“Aku jadi teringat Kyu Hyun,” Hyo Na menoleh ke arah Zhoumi yang juga sama melihatnya dengan pandangan yang sulit di artikan, “Ah, kau ingin aku menghubungi juga, Zhoumi?” dan Zhoumi menjadi tersenyum mendengarnya, dia menggelengkan kepalanya kecil hingga membuat Hyo Na menjadi heran,

“Apa yang akan dia lakukan ketika tahu kau menyukai Dong Hae,”

Hyo Na mengedipkan matanya tak mengerti pada kalimat Zhoumi dan ketika Zhoumi lagi-lagi tersenyum tanpa ke arahnya seperti mengingat sesuatu Hyo Na seperti tersentak dan mendadak meremas ujung seragam sekolahnya sendiri. Pikirannya kini mulai mengingat tentang pengakuan perasaan Kyu Hyun pada Woo Ri masa SMP dulu, Kyu Hyun juga menyukainya, menyukai Cho Hyo Na.

“Hyonnie?”

“Apa… aku harus memberitahunya juga?”

Dan Zhoumi menjadi menganggukan kepalanya, “Aku tahu ini pasti akan menjadi hal yang sangat sulit untuk kalian berdua. Tetapi, aku yakin. Kyu Hyun bukanlah seorang yang egois seperti Choi Woo Ri, pasti dia akan ikut senang mendengar hal ini!” Hyo Na jadi sedikit ragu mendengar penjelasan Zhoumi padanya.

“Kau tidak yakin padaku, Hyonnie?” benar tanyanya, Hyo Na menggelengkan kepalanya kecil dengan wajahnya yang terlihat depresi lagi.

“Walau berakhir dengan ada yang terluka, aku yakin orang yang terluka itu akan menemukan kebahagiaannya sendiri nanti. Kebahagiaan tidak tentu dan harus pada apa yang mereka temui pertama kali, kau bisa menemukannya berkali-kali jika kau benar-benar menginginkannya. Percayalah, Hyonnie, Kyu Hyun bukan seperti Woo Ri! Dia pasti akan menjadi orang lebih tegar karena ini menyangkut dengan kebahagiaanmu!”

Dan Hyo Na pelan-pelan berusaha tersenyum kecil mendengar kalimat Zhoumi tersebut, entah dia ingin membenarkannya atau tidak. Tetapi dia lebih ingin membuktikan apa yang di katakan Zhoumi padanya, semoga saja apa yang di katakan pria itu memang benar adanya, semoga saja.

—Scandal Love—

“Ku lihat dia kini semakin berani saja, ya?” ucap gadis berambut hitam panjang itu pada sosok yang berkacamata di depannya.

“Mungkin dia sudah bosan untuk hidup?” celetuknya terdengar kemudian dan membuat si kacamata menatapnya dengan heran, “Kau? Kau ingin membunuhnya, Nona Choi?” tanya keluar begitu saja terdengar khawatir tetapi gadis berambut panjang itu kini menanggapinya dengan seringai tipis di wajah cantiknya.

“Kenapa Nona Park? Apa ada yang salah?” tanya dia kemudian dan membuat yang di tanya menggeleng dengan ragu.

“Bukankah ini yang kau inginkan Park Jae Rin? Menghancurkan dan membuat si gadis sok polos itu menderita, eh?” tambahnya lagi sambil memegangi bahu yang ternyata adalah milik Park Jae Rin.

Jae Rin di balik kacamata yang dia pakai kini melirik sekilas ke arah kilatan jahat pada sosok gadis di depannya yang bernama Choi Woo Ri. Jae Rin memang mengaku bahwa dirinya menjadi ragu ketika di beri pertanyaan seperti itu, tetapi ketika melihat sorot mata milik Woo Ri entah mengapa dia tak bisa mengatakan dirinya ragu. Ada kilatan aneh pada manic mata milik Woo Ri, mungkin kebencian atau rasa tidak sukanya yang sudah terlalu besar.

“Hm, aku pikir, sebentar lagi kita akan melihat namanya terukir indah di salah satu batu, Nona Park!”

.

.

.

.

TBC…

 

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: