Don’t Leave Me

dont leave me

Author       : Rizki Amalia

Cast           : Choi Siwon

                  Super junior members

Genre        : Romance, friendship

Rate           : PG-15

****

Bagi yang sudah baca ‘I can’t….’ ini lanjutannya, cuma beda tokoh utama aja. Setelah kemarin mengambil sudut pandang Donghae, sekarang giliran Siwon. Next, jatah member yang punya pikiran lebih netral dalam menyikapi persoalan Sungmin. Tapi aku gak pernah berharap ini kenyataan. Ini cuma fiksi! Tentu kenyataannya hanya mereka yang tahu. So….,enjoy it!!!!

************************

Situasinya tak menyenangkan hari ini. Mendadak saja berita pernikahan Sungmin hyung terkuak hingga akhirnya Sungmin hyung langsung angkat bicara. Jujur saja, aku kecewa padanya. Harusnya fans mengetahui ini dari mulutnya lebih dulu, bukan dari media. Meski ini diluar kendalinya, tetap saja, ialah akarnya. Sekarang, bisa kulihat akibatnya. Media social penuh dengan kecaman dan tekanan. Bahkan dalam waktu singkat permintaan agar Sungmin hyung keluar menjadi topik hangat.

Aku tak paham meski aku berusaha berada diposisi keduanya. Jika aku menjadi Sungmin hyung, aku tidak akan mengambil keputusan secepat itu. Tapi jika aku berada diposisi fans, aku juga tidak akan meminta agar Sungmin hyung keluar. Itu berlebihan. Aku hanya kecewa dan berharap ia akan berubah pikiran. Tak seperti member lain yang mencoba untuk memahami situasi, tidak denganku. Aku benar-benar tak mengerti. Separuh dari kami sedang menjalin hubungan serius dengan seorang wanita, tapi tak seorangpun dari kami berpikir sepertinya. Apa yang ada dikepalanya? Saat dulu kami berdiskusi soal ini, akulah satu-satunya member yang paling keras menentang rencana pernikahannya. Orang mungkin pikir aku egois. Tapi aku hanya ingin ia menundanya sedikit lagi. Hanya menunda sedikit, bukan membatalkannya. Aku bukan orang yang menentang atau menghalangi niatnya merengkuh kebahagiaannya sendiri, tapi harusnya ia bisa melihat situasi. Dan jelas ia sadar siapa dirinya. Ia adalah member dari grup Korea. Super Junior. Ia harusnya tahu apa yang ia lakukan.

Harusnya juga malam ini menjadi malam yang menyenangkan karena malam ini adalah ulang tahun Donghae. Aku berencana mentraktir semua member makan malam diluar dan mencari restoran yang masih buka pada tengah malam begini. Tapi Leeteuk hyung baru saja menelpon dan mengatakan bahwa Donghae justru sudah keluar. Kucoba untuk menghubunginya tapi yang mengangkatnya malah Eunhyuk. Tanpa sempat bertanya, Eunhyuk marah-marah padaku.

“YA TUHAN. AKU BENAR-BENAR INGIN ISTIRAHAT. BERHENTI MENGGANGGUKU.”

Sepertinya ia juga sedang ribut dengan kekasihnya. Lalu kulajukan mobilku dengan kecepatan sedang. Sudah jam dua belas dan ucapan selamat ulang tahun untuk Donghae langsung membanjiri media social. Aku bersyukur karena ulang tahun Donghae bisa sedikit mengalihkan perhatian orang dari berita pernikahan itu.

Kira-kira kemana anak itu? Apakah……….menemui kekasihnya? Beberapa waktu lalu ia sempat mengeluhkan tentangnya yang tak juga menghubungi. Karena aku tak begitu mengenal wanita itu, jadi aku tak bisa melakukan apa-apa selain menjadi pendengar yang baik. Tapi nampaknya ia tak bisa secepat itu untuk tenang. Setelah datang padaku, kudengar ia mendatangi member lain lalu mengeluhkan hal yang sama. Hanya pada Kyuhyun ia merasa menyesal sudah bertanya. Dengan jelas Kyuhyun mengatakan bahwa kekasihnya itu pasti sedang menyiapkan diri untuk mengajaknya berpisah. Kyuhyun memang menyebalkan. Kadang ia tak bisa bedakan mana kondisi yang tepat untuk bercanda dan mana kondisi yang serius.

Ah, aku jadi teringat seseorang. Aku belum menelponnya seharian ini. Tapi sepertinya kami memilki kontak batin yang erat karena handphoneku berbunyi dan namanya tertera dengan jelas.

“Yoboseyo.”

“Kau dimana?”

Aku tersenyum sambil memelankan lagi mobilku. Aku tak yakin aku bisa membagi konsentrasi jika sedang bicara dengannya. Apalagi dari nada bicaranya, sepertinya ia merindukanku.

“Aku baru akan ke dorm. Mungkin aku menginap disana malam ini.”

“Oh….”

Hm? Aneh sekali. Baru sedetik lalu aku merasa ia begitu agresif tapi sekarang suaranya berubah lesu dan datar.

“Apa yang kau lakukan? Aku baru saja ingin menelponmu.”

“Aku sedang memikirkan sesuatu.”

“Apa itu?”

Kulihat sepintas ke kiri jalan dan aku terkejut melihat penampakan Donghae disana. Mobil langsung kuhentikan. Ku perhatikan sebentar untuk memastikan penglihatanku. Tak salah lagi. Itu memang Donghae. Dan apa yang ia lakukan disini tengah malam? Sendirian?

“Ah, cagiya. Maaf, aku harus matikan dulu. Nanti kuhubungi lagi.”

Tanpa persetujuan darinya, aku mematikan sambungan lalu menghampiri Donghae.

“Donghae-ah…”

Ia menunduk, sebuah kotak besar ada disebelahnya. Kupanggil ia sekali lagi sambil meraba bahunya. Namun, tubuhnya tiba-tiba limbung lalu jatuh tepat dihadapanku.

“Donghae-ah!!!”

***

“Hyung!!! Leeteuk hyung!!!!!!!”

Aku berteriak seperti orang gila didepan pintu dorm sambil memencet bel. Donghae terbaring dipunggungku. Ia benar-benar pingsan.

“Aigo….Donghae-ah!”

Leeteuk hyung yang membukakan pintu langsung membantuku membopong tubuh Donghae. Kami merebahkannya di kamar. Semua member yang mungkin sudah tertidur tiba-tiba saja sudah berkumpul di dalam kamar.

“Apa yang terjadi?”

“Eh? Donghae?”

“Bukannya tadi dia kelihatan begitu gembira?”

Aku tak tahu harus menjawab yang mana. Aku keluar dari kamar lalu menghabiskan satu botol air mineral dari dalam kulkas. Leeteuk hyung mendekatiku.

“Dimana kau menemukannya?”

“Ditaman. Aku hanya memegang bahunya, tapi dia tiba-tiba pingsan.”

Leeteuk hyung ikut-ikutan minum, tapi hanya setengah. Ia lalu kembali ke kamar. Samar-samar kudengar mereka berkata bahwa badan Donghae sangat panas. Setelahnya, entah siapa yang menghubungi, member dari lantai 11 sudah bergerombol masuk. Ryeowook berlari menyiapkan kompresan sedang Heechul hyung memilih keluar lantas kembali tidur di atas sofa. Dan setelah kuhitung, aku tak menemukan Sungmin hyung.

Bagus. Ia lagi-lagi tidak ada.

Dari yang kudengar, sejak berita kencannya berhembus, ia sudah jarang tidur di dorm. Katanya ingin menenangkan diri. Sayangnya aku tak percaya. Buktinya, malam sebelum berita pernikahannya terkuak, foto kebersamaannya dengan kekasihnya itu beredar luas. Aku jadi ingin tahu menenangkan diri yang bagaimana yang dimaksud olehnya. Apa berbaring dipangkuan wanita itu? Aku sama sekali tak punya masalah dengan wanita itu. Tapi menurutku harusnya ia bisa berperan disini. Ialah satu-satunya orang yang bisa menahan Sungmin hyung. Kenyataannya, mereka berdua sama.

“Kau sudah menghubungi Sungmin?” kudengar Shindong bertanya pada Eunhyuk. Aku tersenyum dari dapur. Untuk apa menelponnya? Selain karena keadaan Donghae yang aku yakin tidak apa-apa, mungkin ini juga bukan hal yang cukup menarik bagi Sungmin hyung.

“Kau masih marah padanya?” Leeteuk hyung menepuk bahuku. Aku mengeluarkan handphoneku dan berlagak tak mendengarnya. Kurasakan ia duduk di salah satu kursi meja makan, dekat denganku. Ia menghela nafas sangat berat dan aku tahu apa yang ingin ia sampaikan. Aku masih tak menatapnya.

“Kau harus tahu ini juga tidak mudah baginya.”

Aku menahan diri untuk tidak menjawab perkataan Leeteuk hyung. Tapi jari-jariku sudah menekan layar handphoneku dengan tidak jelas.

“Dia hanya ingin mengejar kebahagiaannya. Dia merasa inilah waktunya.”

Aku tak tahan. Kupukul meja hingga kurasakan semua orang di sekitar kami memperhatikan kami.”Hyung, aku tidak mengerti kenapa semua orang mendukungnya. Dia jelas salah memilih waktu. Dia tak bisa bedakan mana yang lebih penting untuk saat ini.”

“Siwon-ah!”

“Apa kau tidak melihat reaksi fans kita? Aku bukan marah karena takut kehilangan mereka, tapi aku paling benci jika harus menyakiti mereka. Sudah kubilang ini bukan saatnya.”

“Tapi..”

“Hyung, untuk saat ini tidak akan ada yang bisa mengubah pikiranku tentangnya.”

Aku berpaling, dan tepat saat itu aku melihat Sungmin hyung muncul di depan pintu. Oh, kebetulan sekali ia mendengarnya. Tanpa menatapnya, aku berjalan ke kamar Donghae. Disana sudah ada Ryeowook yang meletakkan handuk kecil di dahinya. Kulihat wajah Donghae yang pucat. Sepertinya ia juga masuk angin karena berada diluar ditengah cuaca dingin.

“Bagaimana keadaannya?”

“Sudah membaik.”

Aku duduk disisi tempat tidurnya. Tak sengaja mataku melihat benda yang sedikit menyembul dari saku jaketnya. Ku ambil benda itu yang ternyata sebuah kotak kecil seperti kotak perhiasan. Aku baru akan membukanya saat suara Eunhyuk terdengar. Ia baru masuk.

“Aku tak mengerti. Isi pesannya sangat aneh.”

Semua mata tertuju padanya. Kami tahu siapa yang dimaksudnya. Jadi aku berdiri, mengambil handphonenya dan membaca sendiri pesan yang dimaksud.

“Maafkan aku. Tapi aku sudah tak berhak ada disana. Semoga ia cepat sembuh.”

Segera kubuka kotak ditanganku. Aku menemukan sebuah cincin berlian yang sangat indah. Dadaku langsung terketuk. Aku juga teringat dengan isi kotak besar yang sebelumnya kutemukan didekat Donghae yang sekarang masih berada dimobilku. Dalam hitungan detik, kami semua saling pandang dan aku yakin semua orang juga mengerti apa yang baru saja dialami oleh Donghae.

“Aku tahu apa yang terjadi.” Suara Sungmin hyung tiba-tiba menginterupsi. Ia berdiri di ambang pintu. Aku mendekatinya.

“Tentu saja kau yang paling tahu soal ini.” Sengaja kusenggol bahunya lantas berjalan begitu saja. Aku masuk ke sembarang kamar lalu merebahkan tubuhku yang terasa pegal dimana-mana. Biarlah mereka memandangku berlebihan atau kurang bisa mengerti perasaan Sungmin hyung. Jika benar begitu, maka aku akan bertanya dimana perasaan Sungmin hyung saat memutuskan untuk menikah?

“Siwon-ah!” Kudengar suara Leeteuk hyung di balik pintu. Aku tak mau beranjak dan menutup seluruh tubuhku dengan selimut. Aku mau tidur.

***

Drrrttt

Aku terbangun. Ada yang bergetar di dekatku. Kuraba sekelilingku dan aku menemukan handphoneku tertindih guling.

“Yoboseyo.”

“Kau sudah bangun?”

Aku tersenyum. Aku masih berada dalam selimut, malah semakin bergelung seperti bayi. Senang rasanya mendengar suaranya setelah semalam aku merasa panas dimana-mana. Tapi tumben sekali ia tak menyapa lebih dulu. Biasanya ia akan berkata, “Selamat pagi tampan.”

“Aku bangun karena teleponmu. Semalam aku tidur lebih larut karena Donghae.”

Aku menunggu-nunggu ia akan bertanya apa yang terjadi pada Donghae karena aku tahu dulu sekali ia adalah seorang fishy. Tapi hingga beberapa saat, ia tak bertanya atau mengatakan apapun.

“Kau masih disana?”

“Ah, iya, maaf.”

“Aneh sekali. Ada yang ingin kau sampaikan?”

Lama sekali ia baru menjawab. Itupun dengan sangat pelan. Mau tak mau aku bangkit, duduk di tepi tempat tidur lalu menyibak selimut.

“Apa kau sibuk hari ini?”

“Pagi hingga sore kami akan syuting video klip. Kau ingin bertemu? Mungkin nanti malam aku bisa mengaturnya.”

“Baiklah. Aku tunggu.”

Nada bicaranya tak seceria biasa. Aku sudah akan menutup telepon saat ia menahanku.

“Siwon-ah…”

“Ne?”

Aku tak tahu kenapa. Tapi sepertinya aku sedang menahan nafas, seolah aku akan mendengar sesuatu yang penting.

“Aku mencintaimu.”

Aku pun tersenyum lega. Segera kubalas baru kumatikan sambungan telepon kami. Satu kalimat singkatnya cukup untuk memperbaiki moodku pagi ini. Setelah mencuci muka, aku keluar. Kulihat jam masih menunjukkan pukul enam pagi. Belum ada siapapun di luar. Mungkin semua orang kelelahan karena semalam menjaga Donghae. Tapi…bukankah itu Donghae?

Aku melihatnya membuka kulkas, lantas duduk di depan meja makan sambil mengacak rambutnya.

“Gwencana?”

Ia mengangkat wajahnya, menatapku dengan seulas senyum.

“Kenapa aku ada disini?”

“Kau pingsan ditaman.”

Aku tak akan menanyakan padanya apa yang ia lakukan disana. Kurasa bukan waktu yang tepat. Kami semua mengenalnya dan ia adalah tipe orang yang akan datang lebih dulu pada kami tanpa kami minta. Jika kami memintanya lebih dulu, ia akan segan dan menutup diri. Aku duduk di sebelahnya, minum segelas air putih.

“Bersemangatlah untuk hari ini. Kita akan syuting.”

Aku tak tahu apakah itu berefek padanya. Aku langsung meninggalkannya dan bersiap-siap. Tak lama setelah itu, barulah suasana dorm menjadi gaduh. Sebagian member sibuk ke kamar mandi, sebagian sibuk berlari ke lantai bawah. Dan karena kegaduhan itu, untuk beberapa saat tak ada satupun orang yang ingat tentang masalah Donghae.

Syuting dimulai pukul sembilan pagi. Kali ini agak berbeda dari syuting biasanya, karena Shindong hyung dan Eunhyuk yang mempersiapkan semuanya. Ada dua video klip yang akan dikejar hari ini. Sebelumnya kami sudah berlatih koreo sesuai dengan settingnya. Dan kali ini kami tinggal merealisasikannya. Tak ada kesulitan berarti selama proses dilakukan. Kami cukup menikmati kegiatan hari itu dan berusaha terus tertawa terutama di depan Donghae.

Kami berusaha menghiburnya, membuatnya lupa akan masalahnya. Aku dan Ryeowook juga berinisitif untuk melakukan high note battle yang pasti tidak akan berlangsung biasa-biasa saja. Dengan melibatkan Donghae sebagai perekamnya, rencana kami cukup berhasil. Ia tertawa terpingkal-pingkal melihat kelakukan kami.

“Ya Tuhan, perutku….hahahaha..Siwon-ah, wajahmu itu……..” Dengan bantuan member lain yang ikut mengataiku, Donghae pun ikut tertawa. Yah, demi dia, aku terpaksa menghancurkan imageku yang sempurna ini karena pada akhirnya video tersebut di upload ke youtube dan menjadi bahan tertawaan ELF. Great! Tamatlah riwayatku.

Pada saat syuting video klip kedua, keceriaan yang susah payah dibangun akhirnya runtuh juga disesi paling akhir. Donghae muncul pada scene terakhir yang mengharuskannya mengeluarkan emosi untuk menggambarkan isi dari lagu tersebut. Namun diluar rencana, ia justru menangis dan membuat bagian itu terasa lebih nyata. Bagi yang lain mungkin itu adalah akting yang sangat bagus. Ia bahkan mendapat tepuk tangan keras dari para staff. Tapi bagi kami yang mengetahui alasan dibalik tangis itu, rasanya kami terlalu bodoh kalau berpikir semuanya terlupakan semudah itu.

“Oke! Cukup! Kerja bagus semuanya!!!!!”

Kami bertepuk tangan saat syuting selesai dilakukan. Aku bergegas pergi dan tidak ikut dengan member lain yang ku dengar akan makan malam bersama. Selain karena aku harus menemuinya, aku juga tak mau semeja dengan Sungmin hyung. Aku pun pulang sebentar ke rumah untuk menyiapkan diri, salah satunya mengganti pakaian. Aku ingin tampil biasa saja malam ini, mengganti jas menjadi sweater yang ia rancang sendiri sebagai hadiah ulang tahunku. Katanya ia suka sekali melihatku mengenakannya. Aku tahu tidak ada perayaan apa-apa malam ini.

Semangatku semakin menjadi kala smsnya masuk. Ia bertanya apakah aku sudah berangkat atau belum. Sepertinya ada yang sudah tak sabar melihatku.

Ketika aku sudah sampai di rumah pribadinya, aku segera mencarinya ke halaman belakang. Disitulah tempat kami biasa bertemu jika ada waktu. Hanya sesekali kami berani keluar, itupun aku harus menutupi seluruh wajahku dengan masker.

Aku langsung memeluknya dari belakang. Ia terkesiap lantas membalas peganganku. Kuhirup aroma rambutnya yang wangi.

“Selamat malam, tuan putri.”

Ia tak membalas, hanya menyandarkan kepalanya didadaku dengan manja. Nyaman sekali, sudah beberapa hari kami tak bisa bertemu karena kesibukan masing-masing. Aku harap malam ini kami bisa menebusnya.

“Bagaimana syuting hari ini?” Ia bertanya begitu pelan, masih dengan posisi semula. Kurasa ia terlalu nyaman. Tapi kami tak mungkin selamanya berdiri. Jadi aku melepasnya, mengajaknya duduk meluruskan kedua kaki di atas karpet kecil yang sepertinya sudah ia siapkan di atas rumput halamannya. Dan sekali lagi dimalam itu, aku kembali dikejutkan dengan sikap manjanya yang tiba-tiba. Ia merebahkan kepalanya dibahuku, menarik selimut lalu menutupi seluruh tubuh kami.

“Jadi, syuting hari ini lancar?” Ia mengulang pertanyaannya.

“Ah, iya. Semua lancar. Apa kau melihat video yang diupload oleh Wookie?”

Ia menahan tawanya. Benar prediksiku, ia pun pasti sudah melihatnya. Tapi kenapa ia tertawa? Di depannya, aku bahkan pernah memperlihatkan wajah yang lebih jelek dari itu.

“Kenapa kau tidak mengeluarkan kemampuanmu yang sesungguhnya? Aku yakin ELF akan mati ditempat jika melihatnya.”

Kesal, ku gerakkan bahuku hingga kepalanya terangkat. “Kau ingin aku memperlihatkan ini?” Kutunjukkan ekspresiku yang terburuk lengkap dengan mata memutar. Ia tertawa terpingkal-pingkal.

“Cukup! Cukup aku saja yang melihatnya.”

Pada akhirnya memang hanya ia yang bisa melihatku dari lain sisi. Didepannya, aku nyaman mengeluarkan diriku yang sesungguhnya. Ia tahu segala hal buruk tentangku sama seperti keluarga dan member lain. Tak ada yang kututupi didepannya. Kami sudah sangat cocok satu sama lain. Maka dari itu, aku sudah memutuskan bahwa jika saatnya tiba nanti, aku akan melamarnya. Aku sudah memantapkan hatiku padanya.

Tak sengaja mataku melihat gitar yang bersandar pada meja. Rasanya ia tak punya alat musik ini. Kuambil lalu kumainkan dengan asal. Aku tak begitu pandai memainkannya. Tapi setidaknya permainanku tidak seburuk Kyuhyun. Sungmin hyung yang dulu rutin mengajariku hingga aku…..

Ah, aku tak seharusnya menyebut nama itu lagi.

“Kau ingat lagu yang kuciptakan itu? Aku tadinya berpikir bahwa lagu ini akan kami bawakan secara live dimusic show, tapi karena……..” Kalimatku tersendat kala menyadari bahwa ia yang tadinya cukup manja tiba-tiba menjadi pendiam dan hanya memandang langit. Ku ikuti arah matanya, tak ada sesuatu yang menarik disana. Hanya ada sedikit bintang.

“Terjadi sesuatu?” tanyaku. Ia tak menyahut seakan tak mendengar. Baru saat aku menyentuh bahunya, ia agak tersentak.

“Ah, maaf.”

“Ada yang ingin kau sampaikan? Kau bersikap aneh sejak kemarin.”

Ia diam lagi. Nampak berpikir keras untuk menjawab pertanyaanku. Aku sudah hampir meletakkan gitar ditanganku agar fokus mendengarnya. Tapi ia tahu-tahu tersenyum, lantas memintaku untuk memangku gitar itu.

“Nyanyikan sebuah lagu untukku.”

Lagu? Aku mencari posisi yang nyaman sambil memikirkan lagu yang tepat. Aku menatapnya, meminta ide. Ia hanya mengangkat bahu yang artinya aku dibebaskan untuk memainkan lagu apapun.

“Asal jangan lagu yang kau ciptakan itu, selebihnya tak masalah.”

“Memangnya kenapa dengan lagu itu? Kupikir kau menyukainya.”

“Tidak untuk saat ini.”

Untuk kesekian kalinya ia memperlihatkan senyumnya yang teduh itu, membuatku yang sebenarnya ingin bertanya kenapa, jadi membatalkan niat tersebut. Akhirnya pilihanku jatuh pada lagu lovely day.

Sesekali ia akan menimpali hingga suara kami bersahutan. Ia adalah ELF dan tentu saja tak sulit baginya untuk mengikutiku. Ia hapal semua lagu super junior. Ia mengoleksi semua album kami, mulai dari mini album, sub unit, sampai smtown. Aku tak pernah membayangkan kalau akan jatuh cinta padanya, calon designer yang katanya pernah berdesak-desakan saat berebut sebuah gelas bergambar wajah Donghae disebuah toko.

Seusai bernyanyi, kami sama-sama diam. Aku menggenggam tangannya hingga kurasakan ia membalasnya. Ia benar-benar manja dan romantis malam ini.

“Sudah malam, diluar pasti sepi,” ujarnya tiba-tiba.

“Lalu?”

Ia memamerkan aegyo didepanku yang tentu saja membuatku tak dapat menolak apapun yang akan dimintanya sekarang.

“Bagaimana kalau kita jalan-jalan keluar?”

***

Kami benar-benar ada dipinggir jalan. Bukan dengan mobil, tapi hanya dengan kaki kami. Dengan paksa ia menarikku dari rumahnya, lantas kami ke kota dan sempat mampir di kedai kopi langganan kami. Hari memang sudah sangat larut dan tidak ada banyak orang di jalan, maka aku merasa nyaman tanpa harus menutup wajahku. Tapi ia belum menjawab pertanyaanku sejak tadi. Kenapa membawaku kemari? Kenapa tidak pakai mobil saja?

“Tidak mau. Sekali-kali kita berkencan seperti pasangan lain apa salahnya?”

Ada rasa bersalah menjalar ketika mendengarnya. Sepertinya ia begitu mendambakan hubungan yang normal seperti orang lain, bukan bermain kucing-kucingan selama beberapa tahun ini. Kurangkul tubuhnya, mengajaknya mengelilingi kota. Kami berhenti di taman, bermain ayunan seperti anak kecil. Saat kami melihat bintang, kami menghitungnya. Kami juga melakukan beberapa taruhan bodoh.

Kami bertaruh siapa yang bisa memasukkan kacang ke mulut dengan cara dilempar ke udara sebanyak mungkin, maka akan mendapat satu kecupan didahi. Kami bertaruh siapa yang bisa mengenai kaleng minuman yang kuletakkan sekitar dua puluh meter di depan kami dengan batu, maka akan mendapat kecupan di pipi. Dan terakhir kami juga bertaruh saat melihat sepasang yang terlihat sedang bertengkar.

“Lihat! Aku berani bertaruh setelah itu mereka akan berbaikan dan laki-laki itu akan menciumnya.”

Aku memperhatikan dua remaja itu. Mereka masih sangat muda, aku yakin emosi mereka masih labil “No, mereka pasti tidak akan berbaikan dan gadis itu sebentar lagi akan pergi.”

Kami terus menonton interaksi mereka seakan ada sebuah layar bioskop besar didepan kami. Film drama romantis itu berlangsung beberapa saat dan tanpa diduga dihiasi bumbu yang cukup menarik. Si gadis menampar pipi si laki-laki. Aku pun semakin percaya diri akan menang. Dengan begitu, dua kecupan yang sebelumnya kudapatkan darinya akan menjadi sempurna dengan sebuah ciuman lagi. Aku menyeringai dan tidak begitu tertarik lagi menonton endingnya sampai ia bersuara dan membuatku terkesiap.

“God! Mereka melakukannya!!!”

Aku tak tahu apa maksudnya sampai aku melihat sendiri dengan mata kepalaku bagaimana laki-laki itu menarik tangan kekasihnya lantas menciumnya di pinggir jalan. Sungguh romantis.

“Kau kalah!!!” Ia tertawa begitu bahagia. Aku menatapnya intens.

“Kau senang karena menang atau karena akan kucium?”

Segera wajahnya memerah seakan baru menyadari hadiah macam apa yang akan ia dapatkan. Kurasa ia juga baru sadar bahwa aku mengerjainya sejak awal dengan melakukan taruhan-taruhan konyol. Bukankah siapapun pemenangnya akan sama-sama menguntungkan bagi kami?

Ia gugup. Aku bisa merasakan itu. Dengan kedua tangan yang disatukan diatas paha, serta tubuhnya yang mendadak kaku, ia nampak begitu lucu. Sengaja kupermainkan jantungnya. Aku mendekat. Semakin dekat dan terus mendekat. Ia sempat menyingkir sedikit tapi kutahan dagunya dengan tanganku. Senyumku tak dapat kutahan kala ia memejamkan mata dengan tubuh gemetar. Aneh sekali. Kenapa ia selalu bertingkah seperti gadis lugu jika aku akan melakukannya? Jelas ini bukan akan menjadi yang pertama.

Jarak antara wajah kamipun hanya sekitar satu senti lagi. Kumiringkan wajahku, merasakan nafasnya yang tertahan. Aku tersenyum, mempertemukan hidung kami lantas berbisik, “I love you.”

Kali ini aku yakin ia tak bernafas selama beberapa detik. Aku lekas mundur, menikmati wajahnya yang lucu seakan baru lepas dari medan perang, tapi juga sekilas nampak kecewa. Apakah ia mengharapkan hal yang lebih?

“Kenapa? Kecewa?”

Ia membuka mata, memandangku tak terima sambil mendorongku. Tak kusia-siakan kesempatan itu untuk menarik tangannya hingga tubuhnya terkungkung. Aku memeluknya begitu erat, tak membiarkannya menjauh sedikitpun.

Dalam situasi seperti ini, biasanya aku akan mendengar pertanyaan polos darinya, “Apa yang kau lakukan?”

Tapi sekarang aku bisa merasakan tubuhnya yang menegang perlahan melemah. Ia mengalah, tak lagi melawan. Justru ia membalas dengan memelukku juga. Kami sedang duduk di atas bangku di pinggir jalan di bawah langit yang nampak belum lelah. Jika bukan saat ini, aku yakin situasinya akan jauh berbeda. Aku takkan punya kesempatan melakukannya dilain waktu.

“Untuk pertama kalinya aku setuju dengan ide gilamu malam ini,” ujarku pelan. Kepalanya yang berada didadaku bergerak mencari kenyamanan.

“Jika ternyata besok wajah kita terpampang dimedia, bagaimana?”

“Artinya kita harus bicara, katakan yang sebenarnya. Tapi aku harap itu tidak terjadi. Aku masih memikirkan cara dan waktu yang tepat untuk mengumumkan ini.”

Terasa ia menarik nafas kencang. Tubuh kami semakin rapat, saling menghangatkan.

“Sebaiknya memang tidak ada yang perlu kau umumkan.”

“Tidak untuk saat ini.”

“Tidak juga untuk seterusnya.”

Aku sedikit menggerakan kepalaku, berusaha menatapnya.

“Maksudmu?”

“Lupakan. Sebaiknya kau diam. Aku mengantuk.”

Ia memang gadis aneh. Suka sekali seenaknya mengubah topik pembicaraan tanpa membiarkan hal sebelumnya terselesaikan. Aku tak yakin sekarang ia benar-benar tidur. Yang jelas aku sangat menikmati kesempatan ini yang mungkin takkan terjadi lagi untuk beberapa waktu ke depan. Aku disibukkan dengan album promo sedang ia dengan segala urusannya untuk meraih cita-citanya. Ia sudah menyelesaikan kuliahnya beberapa bulan lalu. Ia juga sedang bekerja di sebuah majalah fashion meski masih menjabat sebagai asisten designer. Ia sering mengeluhkan pekerjaannya yang sama sekali belum pernah menyentuh kain. Yang ia lakukan hanya menuruti perintah bosnya mengambil ini dan itu, meletakkan ini dan yang lainnya, membereskan segala benda yang berantakan dan yang tak pernah luput adalah membuatkan kopi dengan tiga sendok gula.

“Siwon-ah…”

“Hm?”

“Jika aku menyakitimu, apa kau akan marah?”

Aku tak begitu meresapinya. Aku masih terlalu nyaman dengan memeluknya dan memejamkan mata.

“Kurasa aku takkan bisa marah padamu.”

“Bisa kau pegang janjimu?”

“Tentu.”

“Dan jika aku membuatmu menangis, apa kau juga akan marah?”

“Hanya karena aku menangis, bukan cukup alasan untuk marah padamu.”

“Apa kau juga mau berjanji satu hal lagi padaku?”

Ia terlalu banyak bertanya sejak tadi.”Lebih dari satu pun tak masalah.”

“Aku mau kau memperbaiki hubunganmu dengan Sungmin. Kau tidak perlu harus mengerti pikirannya, kau hanya perlu berada di belakangnya, ikut mendukungnya.”

Kemesraan kami tiba-tiba menguap karena percakapan ini. Aku harap malam ini sudah cukup sempurna tanpa harus diganggu dengan nama itu.

“Kau masih marah padanya? Kurasa kekecawaanmu melebihi fansmu sendiri.”

“Dia egois!”

“Dia pasti punya alasan kuat. Kau pasti mengenalnya lebih dari aku.”

“Bisakah kita tak membahasnya lagi?”

“Tidak akan berhenti sampai kau berjanji untuk berbaikan dengannya.”

Aku tak habis pikir ia memojokkanku seperti ini. Apapun permintaannya pasti akan aku turuti, tapi bersikap baik dengan Sungmin hyung tidak termasuk dalam daftar. Tak semudah itu.

“Janji?” Ia mengulangnya, menatapku dengan mata penuh harap. Aku harap ia berhenti melakukan itu, tapi perasaanku tak bisa mengelak lagi. Akhirnya aku mengangguk.

“Bagus! Anak baik.”

Setelahnya, kami tak mengatakan apa-apa. Hingga tiba waktu bagi kami untuk pulang, ia tak melepaskan tanganku. Ia begitu aktif dalam perjalanan. Aku pikir ia kelelahan dan kami akan pulang dengan taksi. Tapi ia tetap ingin berjalan kaki.

Ia benar-benar seperti anak kecil yang tak pernah keluar rumah. Kulihat ia seperti sedang mengabsen satu persatu bangunan atau tempat apapun yang kami lewati. Seolah sedang merekam semuanya tanpa terlewat sedikitpun. Ia juga melompat-lompat seperti anak kecil saat kami melewati toko mainan anak-anak.

“Sudah waktunya.”

Kami tiba di depan rumahnya. Mobilku sudah siap diluar dan kami berdiri di depannya. Aku sebenarnya tak ingin melepaskan tangannya, tapi nampaknya ia pun demikian. Ia terus menatap kedua tanganku yang berada dalam genggamannya. Melihat kondisinya, sepertinya ini adalah waktu yang tepat untuk mendengarnya.

“Aku tahu ada yang ingin kau katakan sejak tadi.”

Ia tersenyum. Satu tanganku kulepas lantas mengusap puncak kepalanya. Aku tahu ia benci jika rambutnya yang panjang dan indah itu dihancurkan, tapi kali ini ia tak marah, malah menikmatinya.

“Katakanlah.”

Tarikan nafasnya sampai dengan jelas ke telingaku. Ia menatapku dengan senyum yang tak juga luntur.

Aku tahu dibalik sikap manja dan anehnya malam ini, terselip sesuatu yang begitu ingin ia sampaikan padaku. Tadinya aku mencoba acuh saja dan menunggu. Tapi sepertinya ia tak punya cukup nyali untuk memulai kalau aku tak bertanya.

“Maafkan aku.”

“Untuk?”

“Maaf atas diriku yang seperti ini. Mungkin kau akan kecewa dan terluka. Tapi….inilah diriku.”

Aku tak paham. Kulepaskan tangannya lantas mengelus pipinya. “Tak ada yang perlu dimaafkan. Aku merasa kau sudah lebih dari cukup hanya dengan seperti ini.”

“Kau mungkin akan menarik kata-katamu. Kau mungkin akan berpikir bahwa aku pengecut. Atau mungkin aku…..”

“Apa yang sedang kau bicarakan?”

Tak ada alasan bagiku untuk menangis. Tapi dadaku tiba-tiba saja sesak tanpa sebab. Aku takut mendengar ucapannya.

“Dua hal yang aku harapkan tidak terjadi dalam hidupku adalah membuat orang tuaku kecewa dan juga membuatmu marah. Jadi apapun itu, aku harap kau mau memaafkanku.”

“Tapi apa yang perlu ku maafkan? Aku bahkan…”

Tak sempat aku melanjutkan pertanyaanku saat tiba-tiba saja ia menciumku. Dalam….dan lama. Aku cukup bisa merasakan ada sesuatu yang besar yang coba ia sampaikan. Tapi ia tak mengatakan apapun hingga ia menyuruhku untuk segera pulang.

“Kau yakin tidak apa-apa?” tanyaku sebelum masuk ke dalam mobil. Ia mengangguk, sekali lagi meyakinkanku bahwa aku tidak akan marah. Justru aku yang harusnya meyakinkan dirinya bahwa ia baik-baik saja.

“Pulanglah! Sampaikan juga maafku pada appa dan eomma. Aku mencintai mereka.”

Meski aku tak memahaminya, meski aku tak merasakan ketenangan dalam senyumnya, dan meski aku tak merasa yakin untuk pergi dari sini, pada akhirnya aku sudah berada dalam mobil, melambai padanya lalu melaju dengan pelan. Tanpa alasan yang pasti, aku terus memperhatikan tubuhnya dari kaca spion dan melihatnya hingga tak terlihat lagi dibalik pagar rumahnya.

***

“Ya! Kau baru saja membuat rekor. Ini sudah jam sepuluh! Aku akan mengumumkannya di instragram.”

Mataku masih setengah terbuka dan nyawaku entah ada dimana. Sepertinya aku masih ingin berada di atas tempat tidur. Aku benar-benar mengantuk. Kalau bukan karena suara mereka yang sangat berisik, aku pasti tidak akan berdiri disini.

“Kau pulang jam berapa?”

Aku tak tahu siapa yang bertanya. Sambil berusaha menyatukan nyawaku, aku berjalan pelan ke meja makan, duduk di salah satu kursi lantas menjatuhkan kepalaku ke meja.

“Kyuhyun bilang kau pulang jam tiga pagi. Apa itu benar?”

“Iya, hyung….”

Setelah aku menjawabnya, aku mendengar tawa cekikikan yang cukup nyaring. Aku memutar kepalaku dan menemukan Ryeowook tertawa. Tak lama, barulah aku sadar bahwa di depan televisi ada Heechul hyung dan Leeteuk hyung.

“Kenapa kau tertawa?”

“Untuk pertama kalinya aku merasa dewasa. Kau bahkan memanggilku hyung.”

Hm? Otakku berusaha mencerna maksud perkataannya. Hingga beberapa detik, aku lekas menarik perkataanku tadi. Bagi duo maknae disini, dipanggil dengan embel-embel hyung pasti merupakan kebanggaan tersendiri.

“Aku benar-benar tak paham apa yang dilakukan laki-laki dan perempuan sampai menghabiskan banyak waktu.”

Aku tahu siapa yang mengatakannya. Aku hanya tersenyum dan sudah akan menimpali saat seseorang terdengar masuk dan mencariku.

“Siwon-ah, di jalan tadi aku melihatnya membawa banyak koper. Apa ia akan pergi liburan? Kenapa tidak mengajakmu?”

Eunhyuk yang berpakaian rapi langsung mendekatiku. Aku tak ingin bertanya ia darimana dengan gaya seperti itu. Aku lebih tertarik dengan perkataannya.

“Maksudmu…..dia?”

“Aku melihatnya masuk ke dalam taksi. Aku ingin bertanya, tapi dia sudah pergi lebih dulu. Apa dia benar-benar pergi liburan dengan koper sebanyak itu?”

Pergi? Dengan koper? Rasanya semalam ia tak mengatakan apapun. Kami membicarakan banyak hal, tapi tak ada satupun yang mengarah pada kepergiannya. Apa ia punya tugas keluar kota? Kenapa ia tak mengatakan apa-apa padaku?

“Kelihatannya kau tidak tahu.”

Aku bergegas kembali ke kamar, mencari handphoneku yang entah ada dimana. Semalam aku memutuskan untuk kembali menginap disini dan tanpa melepas jaket aku langsung tidur.

Dimana benda itu???

Ku rogoh saku jaketku. Bukan handphone yang kutemukan, melainkan sebuah kertas yang dilipat menjadi empat bagian. Aku langsung membukanya yang ternyata terdapat tulisan tangan. Aku tak punya firasat apa-apa. Tapi saat membacanya, mendadak semuanya menjadi gelap.

Aku benar-benar buruk. Meski aku melarangmu untuk marah padaku, pada akhirnya kau pasti akan marah dan benci. Tapi aku hanya melakukan apa yang harus aku lakukan sejak dulu.

Aku pergi ke suatu tempat untuk mewujudkan impianku.

Bukankah kau pernah bilang bahwa aku harus berani melangkah untuk mengejarnya? Tawaran ini tidak akan datang dua kali dan aku sudah memilih.

Aku memang pengecut karena tak punya nyali untuk berhadapan denganmu. Semalam adalah malam yang luar biasa. Aku akan mengingatnya.

Saat kau membaca surat ini, mungkin aku sudah pergi. Sebaiknya kau tidak usah mengejarku, karena aku takkan kembali. Maafkan aku.

Hiduplah dengan baik.

Duniaku runtuh. Aku pasti sedang mimpi buruk seperti saat beberapa waktu lalu setelah menonton film horror. Pasti ini hanya permainan konyol yang dibuatnya dengan para member. Atau ini………memang kenyataan?

Aku menemukan handphoneku dan langsung menghubunginya. Sialnya, tidak tersambung! Aku memakai sembarangan jaketku lantas berlari keluar. Aku harap masih punya waktu untuk mengejarnya dan menghentikannya. Ia harus menjelaskannya. Ia harus berani menatap mataku dan mengatakan kebenaran. Ia harus bertanggung jawab!

“Siwon-ah! Kau mau kemana?”

Tak kujawab pertanyaan mereka. Aku sudah ada dimobil, menginjak pedal gas sampai batas maksimum. Aku menggila dijalan raya. Kusalip banyak kendaraan meski itu terlihat mustahil dan seperti percobaan bunuh diri.

Bunyi klakson terdengar dimana-mana dari mobil-mobil yang kudahului. Persetan! Aku harus tiba di Incheon secepat mungkin. Harus ada kesempatan! Ia tak bisa seenaknya pergi hanya dengan selembar kertas yang isinya hanya beberapa kalimat.

Kucoba sekali lagi menghubunginya dengan harapan ia sudi mengangkatnya yang artinya ia belum berangkat. Dan tepat sekali! Ia mengangkatnya.

“Apa yang kau pikirkan?” sambarku tanpa basa basi. Aku sangat emosi.

“Maaf.”

“Sudah berapa kali kau mengatakannya? Aku tak butuh maafmu. Aku butuh kau batalkan niatmu.”

Ia diam sejenak. Namun suaranya tetap tenang sejak tadi.

“Terlambat. Aku sudah berada pesawat. Dan ini….adalah percakapan terakhir kita.”

“Tapi….”

“Tolong jangan membenciku.”

Sambungan pun terputus secara sepihak. Setelahnya, aku tak bisa lagi menghubunginya. Mobilku berhenti sembarangan dipinggir jalan dan aku melihat sebuah pesawat melintas di atas kepalaku. Apakah ia ada disana? Pergi semudah itu?

Aku tak bisa menerima ini. Kami baik-baik saja. Tak ada percekcokan antara kami. Bahkan semalam kami baru saja memiliki waktu yang sangat baik. Lalu apa maksud suratnya itu? Hal apa yang ia kejar sampai memilih untuk pergi?

Argh!

Kepalaku pusing. Aku tak tahu apa yang aku lakukan setelahnya. Pikiranku penuh olehnya. Penuh oleh beribu pertanyaan untuknya. Seperti orang tolol aku terus menghubunginya meski hanya akan terdengar suara operator dari sana, bukan suaranya.

“Kau baik-baik saja?”

Aku mengangkat wajahku. Rupanya aku ada di dorm dan didepanku Leeteuk hyung baru saja bertanya. Aku tak menjawabnya, mataku tertuju pada seseorang yang duduk di ruang tamu dan tersenyum bersama yang lain. Oh, aku tahu. Ini semua karena dia!

“Brengsek!”

“Siwon-ah!! Apa yang kau lakukan?”

Aku sudah menarik tubuh Sungmin hyung, ku pukul pipinya dua kali lantas mendorongnya tepat ke dinding. Tak kuhiraukan pertanyaan dan halauan orang lain.

“Ini semua karena kau, hyung! Kenapa kau masih bisa tertawa disaat dua orang dongsaengmu terluka? Kemarin Donghae dan sekarang aku. Siapa lagi setelah ini yang akan mengalaminya? Pernah kau berpikir dampaknya akan seperti ini?”

“Siwon-ah, tenangkan dirimu!”

“Katakan sesuatu! Jangan hanya jadi penonton!”

BUG

Sekali lagi kupukul ia hingga berdarah. Kutinggalkan semua orang disana dan kututup pintu dengan keras.

“Asal jangan lagu yang kau ciptakan itu, selebihnya tak masalah.”

“Memangnya kenapa dengan lagu itu? Kupikir kau menyukainya.”

“Tidak untuk saat ini.”

Andai….andai semalam aku tahu ini akan terjadi, andai semalam aku lebih bisa membaca pikirannya, aku pasti takkan melepaskan tangannya. Dan andai Tuhan mendengarku saat ini, aku harap ini semua hanya mimpi.

Wish it was a dream…

If it was a dream, please stop it…..

Don’t leave me..Don’t leave me….

***END***

9 Comments (+add yours?)

  1. achicsw
    Aug 17, 2015 @ 06:06:10

    menyedihkan

    Reply

  2. i'm2IP
    Aug 17, 2015 @ 08:42:20

    Meski aku tidak suka membahas tentang sungmin karna itu sudah lama berlalu n aku tidak membenci sungmin n tetap medukungnya karna itu tugas elf. Meski ragu baca ini tapi karna castnya siwon jadi ku baca. Tulisannya bagus hanya sad end dan sungmin terlalu disalahkan.. kasian dia hehee :p

    Reply

    • rizzzkiii
      Aug 17, 2015 @ 10:45:20

      Sebaiknya bc versi sebelumnya dulu. Sebelumnya ada Donghae sbg pihak yg pro. Sekarang yg kontra dan aku pilih Siwon.
      But, tengkiuu udh mau bc

      Reply

      • i'm2IP
        Aug 23, 2015 @ 22:22:25

        Heheh aku udah baca kok yg bag. Donghae hanya saja berakhir donghae yg di putusin pacarnya gara2 ngejar mimpi.. hehehe mungkin karna aku gak terlalu suka berakhir sad end.. mianhae 😀

      • i'm2IP
        Aug 23, 2015 @ 22:30:05

        Ehh salah deh yv ngejar impian pacarnya siwon.. kalo donghae diputusin pas ditaman malem2 pas ultahnya heheh maaf lupa Xp

  3. spring
    Aug 17, 2015 @ 13:36:21

    nyesek. semoga oppadeul ga ada yg pnya pengalaman cinta yg nyesek kyk gini.
    q sebenernya termasuk yg pro sana pernikahan sungmin, toh sj juga pasti punya pendamping suatu saat. well mungkin q bisa legowo krn sungmin bukan bias no. 1 seh. q tdk berada di posisi pumpkins jadi tdk tau pasti bagaimana perasaan para pumpkins.
    adakah rencana utk bikin dari pov member yg lain?

    Reply

  4. sophiemorore
    Aug 17, 2015 @ 15:54:59

    sebenernya ada tulisan sekuel dan aku biasanya ga baca klo sekuel kl belum baca yg awal hehe
    tpi ini pengecualian
    kalimat awalnya udh bikin tertarik
    sebagai sudut pandang siwon, kmu berhasil menghadirkannya dgn baik
    aku bacanya nyaman bgt
    dan kembali nostalgia ke kejadian sungmin
    aku trmsk yg pro sih, tapi aku yakin ini cerita sangat mewakilin yang kontra 🙂
    nice story

    Reply

  5. nurihandyn
    Sep 03, 2015 @ 01:08:24

    Ini sedih bayangin siwon betulan bersikap kaya gitu sama sungmin

    Reply

Leave a Reply to sophiemorore Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: