Scandal Love [8/10]

[Chapter 8] Scandal Love

Author : Rien Rainy (@Riechanie_ELF / Riechanie Elf)

Cast :

  • Lee Dong Hae Super Junior as Lee Dong Hae
  • Cho Hyo Na (OC)
  • Park Jae Rin (OC)
  • Cho Kyu Hyun Super Junior as Cho Kyu Hyun
  • Han Jang Mi (OC)
  • Kim Ki Bum Super Junior as Kim Ki Bum
  • Choi Woo Ri (New OC)

Genre : hurt, romance, tragedy

Rated : T

Length : chapter

Author note : “Jangan lupa main-main ke http://riechanieelf.wordpress.com/ ~!!! ^o^”

HAPPY READING~!!!

ENJOY~!!!

DON’T BASH~!!!

DON’T PLAGIAT~!!!

Don’t like don’t read~!!!

—Scandal Love—

“Ada hal yang membuatku ragu. Apa ini diriku atau bukan diriku lagi. Apa aku bisa menghentikan semua ini atau tidak bisa ku hentikan sendiri…”

—Scandal Love—

—Sebelumnya—

“Kenapa Nona Park? Apa ada yang salah?” tanya dia kemudian dan membuat yang di tanya menggeleng dengan ragu.

“Bukankah ini yang kau inginkan Park Jae Rin? Menghancurkan dan membuat si gadis sok polos itu menderita, eh?” tambahnya lagi sambil memegangi bahu yang ternyata adalah milik Park Jae Rin.

Jae Rin di balik kacamata yang dia pakai kini melirik sekilas ke arah kilatan jahat pada sosok gadis di depannya yang bernama Choi Woo Ri. Jae Rin memang mengaku bahwa dirinya menjadi ragu ketika di beri pertanyaan seperti itu, tetapi ketika melihat sorot mata milik Woo Ri entah mengapa dia tak bisa mengatakan dirinya ragu. Ada kilatan aneh pada manic mata milik Woo Ri, mungkin kebencian atau rasa tidak sukanya yang sudah terlalu besar.

“Hm, aku pikir, sebentar lagi kita akan melihat namanya terukir indah di salah satu batu, Nona Park!”

—Scandal Love—

Melangkah kakinya dengan tak semangat seperti pada biasanya, entah untuk hal dan sebab apapun gadis berkacamata tersebut tidak bersemangat dengan hari yang di jalaninya hari ini. Bahkan panggilan nama dia yang di teriakan oleh temannya seakan angin lalu yang dia lewatkan begitu saja, terabaikan dan membuat teman-teman dia menjadi bertanya-tanya dengan keadaan yang terjadi padanya.

“Selamat pagi, Rin-ah!”

Park Jae Rin menjadi mematung mendengar namanya di panggil oleh suara yang sangat dia hapal tersebut, itu suara milik Cho Hyo Na yang ceria menyambutnya di ambang kelas, senyuman kekanakan tampil di sudut bibir yang lukanya sudah sembuh total itu, sepertinya Hyo Na baru datang sama sepertinya sekarang.

“Kau tidak membalas sapaanku, eh?” tanyanya terdengar memelas kemudian dan dia tersentak mendengarnya bahkan untuk tersenyum seperti biasanya dia rasa sulit sekali.

“Hei, Jang Mi-ah, kau baru sam… eh?”

Dan perkataan itu terputus karena Jang Mi yang berlari di koridor kelas langsung menarik lengan milik Hyo Na untuk menjauh darinya. Apa Jae Rin adalah hewan buas yang tak boleh Hyo Na dekati atau tidak, Jae Rin jadi merasa tersindir akibat perilaku Jang Mi yang cukup terang-terangan padanya tersebut. Sangat membenci dirinya itu sudah pasti.

“Yak! Jang Mi-ah, Jae Rin saja belum membalas sapaanku!”

Dan masih dapat dia dengar kalau Hyo Na yang bersikap keras kepala itu menyebut namanya dengan akrab seakan tak ada hal-hal buruk yang terjadi pada mereka berdua. Apa Hyo Na melupakannya begitu saja atau tidak Jae Rin semakin merasa dirinya sekarang terabaikan di kelas ini, semenjak penyerangan yang tertutupi identitas pelakunya itu dia semakin tertarik jauh dari keramaian.

Tak seperti dahulu jika dirinya akan selalu di sapa oleh seluruh koridor kelas yang berisi lalu-lalang siswa kini kehidupannya jadi berubah entah untuk berapa derajat yang dia ketahui. Lama-lama, dia jadi merindukan dirinya saat dulu. Ya, saat sebelum dia berkata jujur pada perasaannya pada Dong Hae, lalu menuduh pria berambut brunette itu menjalin kasih dengan Hyo Na, bermusuhan dengan Hyo Na dengan alasan dia merebut Dong Hae dan melakukan pemberontakan yang kejam pada Hyo Na dan teman-temannya. Ah, sekarang dia jadi merutuki dirinya sendiri tanpa sadar, dia sungguh kekanakan melakukan segala cara untuk mendapat perhatian Dong Hae dan menjauhkan Hyo Na dari pria yang di cintainya tersebut.

“Kau tidak ingin masuk dan terus berdiri di sana saja, kan?”

Jae Rin tersentak lalu di dapatinya sosok Kyu Hyun yang menatapnya dengan pandangan datar, pandangan yang sudah biasa sekali di ke luarkan pria berambut ikal kecoklatan itu pada setiap teman di kelasnya dan dia tak perlu terkejut mendapatinya seperti sekarang. Jae Rin sedikit menganggukan kepalanya lalu Kyu Hyun melangkah mendahuluinya dengan Jae Rin yang juga ikut di belakangnya.

“Kya, Jang Mi-ah, berhenti menarik rambutku!”

Teriakan kekanakan itu terdengar di kelas di tambah dengan riuh tawa beberapa temannya, itu suara teriakan Hyo Na yang sepertinya di jahili oleh Jang Mi dan menjadi bahan tontonan beberapa teman yang lainnya. Lihatlah, sekarang yang merasa hidup di kelas ini hanya bagian belakang barisan Hyo Na saja. Ada begitu banya canda tawa di sana, benar-benar hal yang Jae Rin rindukan.

Jika dulu adalah barisan dia dengan Hyo Na lah yang membuat keributan sekarang yang membuat keributan itu hanya pada barisan Hyo Na saja. Barisannya sudah tak hidup, beberapa teman terlihat tertarik bergabung pada dua orang gadis di belakang sana, berbagi canda dan saling menjahili lalu tertawa bersama seperti mengabaikan sosok Jae Rin yang hanya menundukan kepalanya seperti meratapi setiap perbuatannya.

“Apa… aku terlalu keterlaluan padanya?”

Lirihan itu kecil sekali hingga tak ada yang menyadarinya pada mereka yang masih terlihat tertawa di sana mengabaikan Jae Rin yang menyesali setiap perbuatannya. Ah, sepertinya dia mulai sadar, tetapi bayangan wajah Choi Woo Ri yang seram dan seakan mencabik-cabiknya muncul tiba-tiba di benaknya. Bahkan kini dia sedikit merutuki mengapa dia dengan gampang menyetujui kerja sama bodoh ini, ini benar-benar memalukan.

—000—

“Aku pikir selama ini rencana kita terlalu rapih sekali,” ucaph Woo Ri pada Jae Rin yang baru saja datang ke tempat biasa mereka bertemu, gadis berkacamat itu melihat ke arahnya dengan wajah yang agak ragu, “Hm, benarkah?” lalu Woo Ri menganggukan kepalanya dengan senyuman jahat yang biasa dia ke luarkan.

Jae Rin sedikit bergetar pada langkah dia yang menuju ke arah Woo Ri yang terlihat duduk tenang di sana, nyaman sekali seperti tak ada masalah sedikit pun, padahal jelas sekali masalah yang dia timbulkan benar-benar besar dan merengut dirinya sendiri. Apa dia tak sayang dengan dirinya sendiri pun, Jae Rin tidak tahu pasti.

“Ku pikir, akan lebih baik juga kalau kau melepaskan Dong Hae mu itu!”

“Kenapa?!”

Woo Ri terdengar tertawa kecil membuat Jae Rin menjadi tak mengerti di mana letak lucu itu. Angin terlihat berhembus diantara keduanya yang kini tiba-tiba menjadi senyap karena sentakan pertanyaan dari Jae Rin, gadis berambut panjang hitam itu sepertinya belum ingin dan tidak ingin sama sekali menjawab pertanyaannya, mungkin saja.

“Nona Choi, jangan sampai kau juga melukai Dong Hae!”

“Apa itu terbaca olehmu, Nona Park?”

Jae Rin merasa sulit bernafas mendengarnya, perkataan Woo Ri terdengar seperti tidak bercanda di sana, Woo Ri saja sudah kembali tersenyum sambil menatapi langit yang ada di atas kepalanya, “Tak ada gunanya jika tak melukainya. Kau sudah terluka lalu kau tak ingin dia merasakan apa yang kau rasa…”

“Choi Woo Ri! Aku, aku bukan dirimu!”

Sentakan yang cukup berani ke luar dari bibir Jae Rin yang sudah bergetar di depan mata Woo Ri yang memandanginya dengan kalem saja. Woo Ri terlihat menggelengkan kepalanya ke arah Jae Rin dengan pandangannya yang berubah menjadi sinis, “Kau dan aku? Kita tidak sama? Hm, tentu saja kita sama! Cho Hyo Na menjadi masalahnya, kan? Pria yang kau cintai dapat dengan mudahnya dia rebut? Apa yang berbeda, Nona Park?” dia berucap santai sekali seakan tak ada hal-hal salah di sana membuat Jae Rin jadi memandanginya dengan nanar.

“Nona Choi, serendah ini kah dirimu?”

“Kau? Bagaimana dengan kau? Apa kau juga tak merasa rendah?”

Telak sekali. Bagaikan benda yang sudah kau ke luarkan dan kau buang seperti kembali menghantam ke arahmu, benar-benar menyakitkan sekali mendengar pernyataan yang di buat Woo Ri dengan mudah itu. Jae Rin bahkan tak bisa berkutik lagi dari apa yang di katakan dan lempar pada Woo Ri, tak mempan seperti ada baja pelindung di dirinya, benar-benar gadis berbahaya Choi Woo Ri.

“Kau tidak bisa mundur sama sekali, Park Jae Rin! Kau sudah menyetujuinya! Dan kau… kau tidak akan bisa menyesali dengan apa yang kau perbuat pada Cho Hyo Na atau pada orang lain!”

Dan akhir dari kalimat itu adalah Choi Woo Ri yang pergi meninggalkan Jae Rin yang bahkan sudah sukses menitihkan air matanya dengan deras. Dirinya sungguh bergetar ketakutan, tak ada yang bisa dia lakukan saat ini, dia ingin berlari atau menjerit sekali pun dia tak akan bisa melakukannya. Choi Woo Ri terlalu menjeratnya ke dalam luka penderitaan yang dia pikir sial ini, mengapa dia harus tergiur dengan ajakan Woo Ri. Dia benar-benar merasa dirinya sudah amat hina, tak bisa kembali suci karena alasan cinta. Ini benar-benar konyol dan benar-benar di luar logika dia yang di kenal jenius dan pintar di sekolah.

“Hiks, Choi… Woo Ri!”

—Scandal Love—

Berjalan di trotoar menuju halte sendirian, kali ini Woo Ri tak pulang bersama temannya atau pulang dengan membawa kendaraannya, dia lebih menginginkan untuk pulang menaiki bus saja. Sepanjang perjalanannya yang sepi dan senyap ini dia habiskan untuk berpikir kecil, walau sebenarnya tak benar-benar kecil mengingat topic utama yang tak lepas dari pikirannya adalah sikap Cho Hyo Na satu hari ini.

Hyo Na jadi bersikap seperti pada biasanya, seperti selalu menyapanya dengan panggilan khas dia, tersenyum kekanakan ke arahnya, sesekali dia memanggil hanya untuk menawarkan diri menemaninya berjalan ke kantin tetapi berujung dengan Jang Mi yang langsung melarangnya, dan yang terakhir adalah sikap dia yang menawari dirinya untuk pulang bersama. Dan yang terakhir tadi tentu saja kembali tak terjadi karena banyak sahabat dekat Hyo Na yang langsung menariknya untuk menjauh.

“Sebenarnya… mengapa gadis itu ingin mendekatiku?”

Jae Rin yang bertanya sendiri pada dirinya mencoba mencari tahu jawaban apa yang tepat untuk dia terima sekarang. Dia cukup untuk mengingat begitu banyak kejahatan dan luka yang tentu saja sudah dia goreskan pada Hyo Na, namun di satu sisi contoh saja seperti hari ini mengapa Hyo Na seakan ingin sekali mendekatkan diri kepadanya.

Kyu Hyun terlihat menatap Hyo Na sekilas, gadis itu tengah asyik dengan dunianya kembali, yaitu membaca dengan tenang di dekat rak-rak buku. Keduanya kini terlihat berada di toko buku, Hyo Na yang memaksa Kyu Hyun untuk menemaninya dan Kyu Hyun tentu saja tak bisa menolak ajakan tersebut.

“Berhentilah mengikutiku, Hyonnie!”

Dan ketahuan. Dong Hae kini sudah berbalik dan menatap Hyo Na yang baru saja keluar dari tempat dia bersembunyi sambil tersenyum kikuk. “Kenapa kau mengikutiku?” tanya lagi dari Dong Hae padanya dan kini Hyo Na menampilkan rengutan di wajahnya, “Tentu saja aku ingin bermain ke rumahmu!” dan dia dengan santainya berucap membuat wajah Dong Hae sempat pucat lalu kembali menarik lengan Hyo Na agar berhenti melangkah lebih depan darinya.

“Kau bisa di marahi Kyu Hyun, kau tahu!” Hyo Na menyeringai kecil, “Dia yang menyuruhku tadi asal kau tahu saja!” dan Dong Hae jadi terlihat tak mengeri mengapa Kyu Hyun menyuruh Hyo Na yang selalu dia lindungi untuk mengikutinya dan Hyo Na terlihat tersenyum sambil melihat respon Dong Hae yang masih tak percaya.

Dong Hae pikir cukup untuk sikap Kyu Hyun yang aneh hari ini, dia jadi terlihat biasa saja saat Dong Hae mendekati Hyo Na yang bisa di katakan Hyo Na sendirilah yang mendekatinya tanpa segan. Apalagi Kyu Hyun jadi bersikap seolah tak ada masalah dianatara keduanya, masalah di rumah sakit saat Jang Mi di rawat kemarin seolah terlupakan begitu saja.

Hyo Na terlihat lelah juga menunggu respon hingga akhirnya dia menarik lengan Dong Hae dan membuat pria tersebut menatapnya, “Cepatlah antar aku ke rumahmu! Kau ini kenapa melamun?” Dong Hae masih sangat sadar saat Hyo Na yang meminta hal yang sebenarnya cukup aneh baginya, “Hyonnie,” panggilnya dan kemudian Hyo Na hanya menunjukan senyumannya, “Apa lagi? Ayolah, Hae-ah!” dan Dong Hae pun akhirnya menarik lengan Hyo Na untuk menyamai langkah bersama.

“Lagi-lagi, aku kembali menjadi orang yang telat di sini?!”

Ketiga pria tersebut memperhatikan Jang Mi yang sudah bersedekap kesal, Kyu Hyun dan Zhoumi hanya menanggapinya dengan senyuman kecil berbeda dengan Ki Bum yang terlihat menghibur Jang Mi dan mengatakan kalau dirinya juga baru tahu hal ini. Kini keempat orang tersebut tengah berada di ruangan Zhoumi yang tentu saja masih belum sembuh total, dia masih harus memulihkan luka-luka kecilnya.

Bukan tanpa alasan mereka berkumpul tanpa kehadiran Hyo Na sekarang karena jawabannya mereka tengah membicarakan masalah Hyo Na pada perasaannya sendiri. Zhoumi yang memang mengundang mereka dan berpendapat agar Hyo Na mengikuti Dong Hae saja sekarang ini, ini bentuk pengalihan diri agar gadis itu tak merengek untuk ikut mereka dan mendengarkan pembicaraan tentang dirinya sendiri. Awalnya Kyu Hyun terlihat ragu untuk memberikan izin tersebut mengingat dia yang selalu melindungi Hyo Na dari Dong Hae dan bersikeras tidak menyerahkan gadis itu padanya, tetapi ketika dia mencoba iseng berkata pada Hyo Na tentang ini semua gadis itu terlihat menatapnya tak percaya dan menyembunyikan kebahagiaannya sendiri dengan berkata sebaliknya.

“Walau aku mengaku, dia masih saja bersikap menutupi kebahagiaannya. Jadi, aku mengizinkannya saja,” ucap Kyu Hyun yang terdengar tak yakin tapi berhasil memancing ketiga wajah lainnya untuk tersenyum membesarkan hatinya, Zhoumi terlihat menepuk bahu temannya, “Aku tahu, kau akan selalu memikirkan kebahagiaan Hyo Na daripada dirimu sendiri sama seperti gadis itu yang juga memikirkan perasaanmu hingga dia berani menekan perasaannya pada Dong Hae. Dan percayalah, kau pasti bisa menemukan kebahagiaan itu selain dari Hyo Na, Kyu!” Kyu Hyun menjadi tersenyum mendengarnya walau tak di pungkiri rasa sakit pada hatinya lebih besar, tetapi dia tengah berusaha untuk mengobati perasaannya tersebut.

“Tapi, aku masih bingung mengapa Hyonnie ingin menghentikan ini sendiri?” Jang Mi terdengar bergumam, “Karena dia sangat tahu, kunci permasalahan ada pada dirinya sendiri jadi menggunakan umpan diri sendiri itu terlihat lebih memancing daripada menggunakan kita untuk membantunya. Hm, sebenarnya dia tengah mengambil resiko yang cukup besar sekarang ini,” Ki Bum menjawab gumaman tersebut.

“Iya, aku jadi khawatir jika Woo Ri terpancing hingga kembali menghasut Jae Rin dan membahayakan diri Hyo Na lagi seperti penculikan saat SMP lalu. Memang bukan tangan dia yang bergerak, tetapi kerjanya sungguh rapih dan membuat Hyo Na sempat menghilang tiga hari,” Zhoumi cukup berkomentar panjang dan membuat Jang Mi terenyuh mendengarnya, “Inilah yang membuatku terkadang masih merasa belum merasakan kesedihan Hyonnie,” Ki Bum kini terlihat menepuk bahu gadis yang memang satu-satunya di ruangan tersebut dengan perasaan membesarkan, “Hyonnie selalu memikirkan kebahagiaan orang di sekitarnya, lalu… tak sadar membuat dirinya terluka sendiri,” tambah Jang Mi semakin merasa bersalah.

“Hm, tapi, kupikir Jae Rin hari ini terlihat berubah pikiran,” Kyu Hyun tiba-tiba berpendapat membuat yang lainnya tertarik dan menatapnya tak percaya, “Maksudmu, Kyu?” Zhoumi membuka pertanyaannya dan Kyu Hyun terlihat menganggukan kepalanya sambil menatap ketiganya dengan pandangan yang meyakinkan.

“Entah ini hanya penapatku atau tidak, tapi hari ini dia lebih banyak memandang Hyo Na dengan tatapan yang mungkin saja bersalah. Hari ini juga Hyo Na bersikap sangat ramah sekali padanya seperti tak memiliki masalah padanya,” kata Kyu Hyun dan membuat Jang Mi menganggukan kepalanya, “Iya, pagi tadi dia sempat menegurnya lalu menemaninya ke kantin tetapi aku mencegatnya. Hm, aku tak mau tiba-tiba Hyonnie menghilang bersamanya,” dan ketiga pria itu kini sama-sama hening mendengarkan beberapa penjelasan dari Jang Mi yang mencoba mengingat-ingat beberapa kejadian Hyo Na bersama Jae Rin yang sempat dia gagalkan.

“Ki Bum, kau sudah menyelesaikan semua bukti-bukti yang kau kumpukan, kan?”

Ki Bum sudah terlihat menganggukan kepalanya, “Uhm, kita sepertinya harus menunggu kapan permainan ini akan berakhir? Dan saat itu kita harus siap untuk mengeluarkan semuanya dan melindungi Hyo Na,” ucap Kyu Hyun dan membuat ketiga orang di sana menganggukan kepala bersamaan.

“Aku harap ini akan segera berakhir…” lirih Jang Mi kemudian dan berusaha tersenyum kecil.

—Scandal Love—

“Jadi, siapa namamu?”

Hyo Na jadi tersenyum kikuk saat Leeteuk melemparkan pertanyaan itu padanya, “Cho Hyo Na, uhm…” dia terdengar berucap pelan sambil membungkukan kepalanya dan membuat Leeteuk menjadi tersenyum ramah padanya seolah mencoba menghilangkan kesan tak nyaman pada Hyo Na yang memang tengah berusaha menutupi ketidak tenangannya.

“Kau tidak perlu setegang itu, Hyo? Uhm, bersikap santai saja!”

Dan Hyo Na berusaha untuk tersenyum kecil menanggapinya membuat Leeteuk akhirnya tersenyum lega, Hyo Na bisa juga untuk mencoba tenang. Dong Hae memang belum kembali ketika dia sudah di suruh Leeteuk untuk segera mengganti pakaian dan membawakan mereka minuman dan makanan kecil, Leeteuk bilang dia ingin menemui Hyo Na yang sebenarnya sudah dia ketahui sendiri dari Dong Hae karena ceritanya beberapa minggu yang lalu.

“Adik ku sering sekali menceritkan tentang dirimu. Ah, apa temanmu yang bernama Zhoumi sudah sembuh?”

Hyo Na menganggukan kepalanya sekilas, “Sudah lumayan baikan, tapi dia harus tetap beristirahat di rumah sakit. Hm, kenapa dia selalu bercerita tentang ku?” Leeteuk menjadi tersenyum berusaha mengingat bagaimana Dong Hae kembali bercerita banyak tentang Hyo Na padanya, “Katanya, kau menarik saja untuk di ceritakan,” dan Hyo Na jadi terlihat salah tingkah saat Leeteuk berucap bohong di sana.

Leeteuk bukan tanpa alasan berkata seperti itu pada Hyo Na, dia ingin lebih tahu bagian mana yang membuat adik kecilnya tersebut menyimpan ketertarikan pada Hyo Na yang juga dia rasa sangat polos ini. Leeteuk sudah terlalu sering mendengar keluh kesah Dong Hae setelah dia uring-uringan di suatu hari lalu menyebutkan nama Cho Hyo Na sebagai satu-satunya alasan membuat dia menjadi mempunyai perasaan ingin melindungi dan memiliki. Konyol mungkin Leeteuk mendengarnya tetapi ketika Dong Hae menceritakan kejadian-kejadian yang menimpa Hyo Na dan beberapa temannya Leeteuk jadi benar-benar penasaran mengapa Dong Hae sampai ingin melindunginya yang selalu terkena masalah yang membahayakan dirinya sendiri.

“Uhm, aku pikir pasti Dong Hae selalu menceritakan keburukan ku padamu atau dia menceritakan kalau aku selalu menjahilinya di kelas,” Leeteuk sedikit mengernyit menatap Hyo Na yang berkata-kata sendiri, “Hm, apa Dong Hae tidak membicarakan hal itu pada… oppa?” dan Leeteuk berpura-pura lagi menggelengkan kepalanya, tentu dia ingin melihat reaksi Hyo Na yang kini sudah terlihat menyalahkan mulutnya karena nakal memberitahu dosa sendiri.

Tiba-tiba dia jadi berdiri dan membungkuk ke arah Leeteuk yang menjadi terkejut karena sikapnya yang tiba-tiba, “Maafkan aku, aku tidak…” salah satu tangan Leeteuk menyentuh bahu Hyo Na dan membuat gadis itu menjadi mengeratkan kelopak matanya ketakutan, takut jika saja Leeteuk akan memarahinya.

Tetapi keanehan muncul dari Leeteuk yang sudah tak bisa lagi menyembunyikan tawanya membuat Hyo Na pelan-pelan mengangkat kepalanya menatapnya dengan tanya, “Aku hanya bercanda Hyo! Hm, tentu saja Dong Hae sudah menceritakan itu semuanya pada ku dan aku tidak akan marah padamu!”

Hembusan nafas ke luar dari Hyo Na, dia benar-benar di kerjai sekarang ini. Tak dia pikir jika di kerjai seperti ini benar-benar memalukan apalagi yang mengerjaimu adalah orang dari saudara yang juga kau kerjai, ini jadi terlihat seperti sebuah balasan. “Maafkan aku mengerjaimu seperti ini, Hyo!” dan Hyo Na jadi menggelengkan kepalanya sambil menggigit ujung bibirnya dengan pelan, “Uh, aku pikir tidak masalah! Hm, jadi, seperti ini rasanya di jahili, ya?”

Leeteuk entah mengapa tertarik mendengar kalimat Hyo Na yang seperti itu. Dia jadi menatap gadis berambut sebahu yang sudah tersenyum menampilkan wajah riang ke arahnya, iris matanya yang membuat seolah-olah menenangkan dan membuat siapa saja yang menatapnya menjadi ingin terus menatapnya, mungkin inilah yang membuat Dong Hae tertarik pada Hyo Na. Sikap Hyo Na yang terkadang tidak bisa di tebak dan bagaikan kembang api yang selalu meledakan warna-warna yang tentu tidak kita ketahui sebelum dia terbang pecah menghiasi angkasa, sangat-sangat indah dan menarik.

“Iya, aku memang sering menjahili Dong Hae walau dia terlihat pasrah dan tidak sering marah padaku selama ini. Uhm, akhirnya aku tahu rasanya ternyata tidak menyenangkan dan cukup memalukan sepertinya aku akan menghentikan sikap jahilku padanya,” ucap Hyo Na kemudian dan Leeteuk menjadi tersenyum menatap gadis itu yang kini ikut tersenyum.

“Aku tak yakin kau benar-benar melakukannya?”

Dan kedua orang itu kini mengalihkan perhatiannya ke arah Dong Hae yang sudah tampil lebih santai, kemeja biru muda dengan celana yang tak begitu panjang menutupi kakinya. Sekilas Hyo Na jadi terlihat mengaguminya ini adalah pandangan pertama dia melihat Dong Hae dengan tampilan selain mengenakan seragam sekolah, benar-benar berbeda dari biasanya. Dan entah mengapa membuat pipinya menghangat dengan jantung yang berdegup dengan tak normal.

“Ah… aku…”

Dan kegugupan terdengar dari Hyo Na sambil berusaha mengalihkan perhatiannya ke arah lain, Leeteuk tersenyum mendengarnya dan mengambil apa yang di bawa Dong Hae untuk ketiganya, “Kalian bercerita apa saja? Apa hyung ku membicarakan tentangku?” Hyo Na tak bisa menjawab hingga dia hanya menggelengkan kepalanya dengan gerakan yang lebih terlihat panic dan membuat kedua pria itu sedikit mengernyit heran.

Dong Hae memilih duduk di samping Hyo Na, sisi sofa yang kosong di sampingnya dan berjarak karena tas ransel yang ada di tengah-tengah mereka sedangkan Leeteuk duduk di seberang dengan single sofa yang tengah leluasa menatapi kedua orang yang diam-diam menyembunyikan perasaan masing-masing.

“Hm, aku belum bertanya padamu, Hyo,” Leeteuk terdengar membuka pembicaraan dan membuat Hyo Na jadi menatap pria yang ada di depannya dengan mencoba tersenyum menutupi kegugupannya. Dong Hae yang ada di sampingnya juga terlihat menunggu pertanyaan apa yang akan di keluarkan kakaknya pada Hyo Na, apa ini mengenai dirinya atau tidak, tetapi mengapa dia jadi gugup.

“Jadi… sebenarnya mengapa kau berkunjung ke rumah Dong Hae? Apa… apa ada yang ingin kau sampaikan padanya atau hanya ingin sekedar bermain saja?”

Glek.

Hyung…”

Leeteuk jadi melihat ke arah Dong Hae yang seolah memberikan tatapan memohon untuk tak bertanya yang aneh-aneh padanya. Dong Hae cukup tahu tentang kondisi Hyo Na yang berpura-pura baik seperti sekarang, dia tertawa dan bahkan bersikap seperti tak terjadi kejadian-kejadian mengerihkan seperti kemarin, Hyo Na tentu tengah menutupi sesuatu sekarang ini. Hyo Na sendiri yang di beri pertanyaan menjadi menundukan kepalanya lebih berpikir jawabah apa yang akan dia beri pada Leeteuk sekarang ini, dia ingin jujur tetapi dia jadi ragu dan membuatnya ingin berbohong walau dia tak ingin. Benar-benar serba salah sekali dirinya sekarang ini, “Hyonnie, sebaiknya…”

Grep.

“Eh? Hyonnie?”

“Uhm, maafkan aku jika benar-benar merepotkan kalian! Hm, aku… memang benar ada yang ingin aku katakan. Tapi…”

Leeteuk akhirnya mengerti dan dia dengan ramahnya hanya menepuk bahu Hyo Na dengan lembut dan memberikan senyuman terbaik pada gadis itu, “Aku mengerti! Hm, baiklah, semoga apa yang ingin kau sampaikan nanti atau sekarang menjadi baik-baik saja, Hyonnie? Hm, bolehkan aku memanggilmu seperti itu juga?”

Dan Hyo Na sudah tak bisa menunjukan senyuman yang terkembang di wajahnya, perasaannya sungguh lega karena ternyata Leeteuk seolah bisa membaca apa yang tengah dia pikirkan dan membuatnya merasa tenang dan lega hingga dia hanya menganggukan kepalanya saja, “Hm, kalau begitu kalian akan ku tinggal ke belakang, ya? Dong Hae, jaga Hyonnie, ya!”

Leeteuk pun akhirnya pergi meninggalkan keduanya yang kini sama-sama hening. Hyo Na bahkan menjadi tersenyum sambil menatapi punggung Leeteuk yang menjauh dari pandangannya, sedangkan Dong Hae masih berpikir tentang apa yang di maksudkan Leeteuk.

.

.

.

.

TBC

 

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: