Scandal Love [9/10]

[Chapter 9] Scandal Love

Author : Rien Rainy (@Riechanie_ELF / Riechanie Elf)

Cast :

  • Lee Dong Hae Super Junior as Lee Dong Hae
  • Cho Hyo Na (OC)
  • Park Jae Rin (OC)
  • Cho Kyu Hyun Super Junior as Cho Kyu Hyun
  • Han Jang Mi (OC)
  • Kim Ki Bum Super Junior as Kim Ki Bum
  • Choi Woo Ri (New OC)

Genre : hurt, romance, tragedy

Rated : T

Length : chapter

Author note : “Jangan lupa main-main ke http://riechanieelf.wordpress.com/ ~!!! ^o^”

HAPPY READING~!!!

ENJOY~!!!

DON’T BASH~!!!

DON’T PLAGIAT~!!!

Don’t like don’t read~!!!

—Scandal Love—

“Permainan akan segera berakhir… apakah diriku akan benar-benar bisa menyelamatkan atau berakhir dengan tragis karena tak bisa menyelamatkan. Ku pikir, sudah saatnya aku harus muncul dan menyelamatkan apa yang aku lakukan…”

—Scandal Love—

—Sebelumnya—

Leeteuk akhirnya mengerti dan dia dengan ramahnya hanya menepuk bahu Hyo Na dengan lembut dan memberikan senyuman terbaik pada gadis itu, “Aku mengerti! Hm, baiklah, semoga apa yang ingin kau sampaikan nanti atau sekarang menjadi baik-baik saja, Hyonnie? Hm, bolehkan aku memanggilmu seperti itu juga?”

Dan Hyo Na sudah tak bisa menunjukan senyuman yang terkembang di wajahnya, perasaannya sungguh lega karena ternyata Leeteuk seolah bisa membaca apa yang tengah dia pikirkan dan membuatnya merasa tenang dan lega hingga dia hanya menganggukan kepalanya saja, “Hm, kalau begitu kalian akan ku tinggal ke belakang, ya? Dong Hae, jaga Hyonnie, ya!”

Leeteuk pun akhirnya pergi meninggalkan keduanya yang kini sama-sama hening. Hyo Na bahkan menjadi tersenyum sambil menatapi punggung Leeteuk yang menjauh dari pandangannya, sedangkan Dong Hae masih berpikir tentang apa yang di maksudkan Leeteuk.

­—Scandal Love—

Keduanya terlihat berjalan berdampingan di trotoar, tak ada yang mereka bicarakan di sepanjang jalan hanya ada keheningan lalu pemikiran mereka sendiri yang mengudara di sekitaran. Orang juga terlihat berlalu-lalang di jalan yang sama entah itu dari arah yang berlawanan atau tidak, mereka melewatinya dengan keheningan yang menguar seperti tak ada yang ingin mereka katakan walau setiap kata tersimpan rapat dalam diri mereka.

Ketika keduanya sampai pada belokan dengan Hyo Na yang melangkah lebih awal dan Dong Hae yang ada di belakangnya, gadis berambut sebahu itu terlihat berbalik dan berhenti mendadak di hadapannya. “Uhm, rumahku ada di sana? Apa kau benar akan terus mengantarku sampai sana?” ragu sekali dia bertanya pada Dong Hae yang kini hanya menganggukan kepalanya tanpa berbicara banyak.

Hyo Na kembali berbalik lalu melangkah dengan langkahnya yang pelan sekali, seakan tak ingin langkah-langkah itu mengikis waktu bersama Dong Hae, dia masih sangat ingin berlama-lama di samping pria yang kini tengah menatap punggung berbalut tas ranselnya.

“Hyonnie…”

“Iya?”

Keduanya terdiam di langkah yang entah ke berapa tanpa menghadap satu sama lain dan hanya berbatas tas yang ada di punggung dan jarak yang mereka ciptakan sendiri. Keheningan kembali menyelimuti keduanya dengan hembusan angin yang tiba-tiba menerpa lembut ke arah mereka seakan memberi isyarat agar berbicara satu sama lain tetapi dari keduanya belum ada yang ingin memulainya.

Lalu tak lama kemudian Dong Hae berjalan ke arah Hyo Na yang masih diam dengan pemikirannya sendiri, tepat ketika dia berada di sampingnya pria itu tanpa segan mengambil sebelah tangan milik Hyo Na dan mengamitnya dengan erat membuat Hyo Na menundukan kepalanya dalam sekali. Sekilas pria di sampingnya tersenyum namun dia melirik Hyo Na yang tak melihat ke arahnya dengan pandangan sedikit canggung, “Uhm, kau masih ingin berdiri di sini saja?” kepala itu terlihat menggeleng, “Uhm, Hae-ah…”

*grep*

Hyo Na menoleh merasakan lengannya ikut tertarik, Dong Hae menuntunnya berjalan. Hyo Na juga dapat melihat punggung yang berbalut kemeja tersebut berada di depan matanya, terlihat lebar dan apakah mungkin hangat jika di sentuh, Hyo Na tiba-tiba saja berpikir seperti itu sambil memfokuskan pandangan matanya ke arah punggung milik Dong Hae.

“Hae-ah, maaf…”

Dan ketika kalimat pelan itu terucap dari Hyo Na dan tentu tanpa di sadari Dong Hae sedikit pun, gadis berambut sebahu itu sudah memeluk bagian punggung itu dengan erat dan membuat si pemilik punggung terdiam di langkahnya tanpa mampu bergerak sedikit pun dari sana. Benar-benar mendebarkan suasana yang terjadi diantara mereka, Hyo Na yang menenggelamkan wajahnya pada punggung itu lalu dengan erat dia melingkarkan kedua lengannya pada pinggang Dong Hae.

“Aku… aku menyukaimu, Hae-ah…”

Dan Dong Hae terlihat tersenyum sambil memegangi kedua tangan Hyo Na yang ada di depannya, “Aku juga menyukaimu, Hyonnie,” ucapnya terdengar membalas.

Terlihat Jae Rin baru saja memasuki sebuah ruangan kosong sepertinya ruangan yang sudah sangat familiar bagi dirinya karena dia sungguh ingat pernah menyekap Hyo Na di tempat ini. Kakinya terlihat terus melangkah menuju satu ruangan di dalamnya lalu memperhatikan sebuah kursi dan tali di dekatnya sebagai saksi bisu dirinya pernah berbuat layaknya sesosok iblis di sana.

“Kembali menyesali perbuatanmu, Nona Park?”

Jae Rin berbalik tiba-tiba lalu menangkap sosok Woo Ri yang tengah menatap kursi dan tali-tali itu dengan senyuman misteriusnya. Dia terlihat melangkah berjalan mendahului Jae Rin di sana lalu terlihat menduduki kursi itu sambil menatap tepat ke arah mata milik Jae Rin yang terbalut kacamata, “Kau menyesalinya, hm?” dia ulang lagi pertanyaannya pada Jae Rin yang sudah meremas tangannya dengan erat.

“Sayang sekali kita tidak bisa berhenti setelah menceritakan semua rencana dan melakukannya sesuai urutan, kan?”

“…”

“Ah, aku jadi tidak sabar bagaimana hari eksekusi nanti? Apa kau tidak penasaran, Park Jae Rin?”

Jae Rin menatap Woo Ri dengan kilatan tajam di matanya namun tatapan itu kalah tajam daripada miliknya karena Woo Ri lebih memiliki tatapan yang lebih menakutkan darinya dan dia cukup untuk mengakuinya di dalam hatinya yang ketakutan.

“Kau maniak, Choi Woo Ri!”

“Lalu apa bedanya denganmu? Sudah ku katakan padamu dari awal, kan? Jika kita sudah bercerita dan merencakannya kita tak akan bisa berhenti dan… sudah aku katakan kalau kita itu sama! Kita sangat mir…”

“Kita tidak mirip!? Aku tidak ingin mempunyai kemiripan dengamu?!”

Bentakan kuat dari Jae Rin berhasil membungkam kalimat Woo Ri. Tetapi gadis berambut panjang hitam tersebut hanya menunjukan seringai di wajah cantiknya lalu bangkit dari tempatnya untuk mendekati Jae Rin yang menatapnya dengan nyalang, benar-benar tak takut walau dia sungguh sangat ketakutan sekarang ini.

Woo Ri sedikit menarik sudut bibirnya hingga seperti sebuah senyuman tetapi itu terlihat menakutkan, jemarinya kini bermain di garis wajah Jae Rin yang dia sentuh dengan lembut tetapi menguarkan bau-bau kematian, seakan iblis dia kemudian menepuk kepala Jae Rin dengan lembut seperti mengasihani atas dosa-dosa yang dia perbuat, “Ucapan ku mutlak, Park Jae Rin? Kau tentu saja tahu?”

Dan setelah gadis itu berucap dia langsung meninggalkan Jae Rin yang mematung dengan segala rasa bersalah dan menyesalnya. Hingga dia merasakan dosa-dosa yang di perbuatnya menggerogoti tulang-tulang yang menyangganya dan membuat dia terjatuh dengan posisi terduduk sambil mengeluarkan isakan-isakan kecil nan bergetar ketakutan. Jari jemarinya benar-benar menjadi dingin seperti es walau di ruangan tersebut tengah terasa panas, “Mati kau Choi Woo Ri!” geramnya terdengar sambil menggigit bibirnya untuk meredam tangisnya.

Kyu Hyun masih terduduk di samping tempat pembaringan Zhoumi, kini ruangan sudah terlihat sepi karena Ki Bum dan Jang Mi sudah lebih dulu pulang dari mereka dan meninggalkan Kyu Hyun yang sepertinya beralasan masih betah berada di sini. Tetapi bukanlah seorang sahabat jika tak tahu dengan apa yang di rasakan sahabat lainnya, Zhoumi, Ki Bum dan Jang Mi tentu sangat paham dengan perasaan Kyu Hyun sekarang hingga akhirnya mereka lebih memilih diam dan terus memperhatikannya diam-diam karena bagaimana pun juga mereka tahu betapa sakitnya dia sekarang ini.

“Hyonnie juga menunjukan wajah seperti itu saat berkunjung ke sini,” Kyu Hyun mendongak mendengar Zhoumi membuka perbincangan padanya, “Tapi, bedanya adalah dia tengah ragu dengan apa dia harus bercerita tentang perasaannya padaku atau memendamnya seperti kemarin karena tak ingin melukai perasaanmu,” Kyu Hyun tiba-tiba saja tersenyum mendengarnya lalu membuat Zhoumi sedikit bernafas lega.

“Ada yang ingin kau ceritakan padaku, kan?”

“Aku tidak yakin pada perasaanku, aku takut jika tak bisa melepasnya nanti,” Zhoumi menghela nafasnya pelan lalu dia sedikit mengingat ada banyak hal yang di ceritakan Hyo Na padanya saat berkunjung, “Ternyata yang dia takutkan selama ini sudah terjadi,” Kyu Hyun mengernyit mendengar pernyataan Zhoumi padanya.

“Hyonnie selalu memikirkan perasaan Woo Ri padamu sejak dulu hingga dia pernah tak menegurmu atau berdekatan padamu hanya karena dia tahu perasaan Woo Ri padamu. Lalu sekarang ini pun Hyonnie menekan perasaannya karena Woo Ri yang seperti melarangnya mendapat kebahagiaan dari orang lain dan lebih lagi dia sungguh tahu kalau ini akan melukaimu pada akhirnya,” Zhoumi berucap panjang membuat Kyu Hyun merasa bersalah akhirnya, “Aku jadi merasa bersalah padanya,” ucap Kyu Hyun pelan dan Zhoumi terlihat memberikan senyuman ke arahnya dengan tenang.

“Tetapi dia tak menyalahkanmu sama sekali justru dia menyalahkan dirinya yang tak bisa membalas perasaanmu dan menyalahkan dirinya karena membuatmu jatuh cinta padanya, bukan pada Woo Ri.”

“Zhoumi…”

“Aku tahu, Kyu. Kita tentu sudah bersahabat sejak lama, kita sudah banyak merasakan hal-hal mengerihkan sejak berada di dekat Hyonnie, bahkan dengan suka rela mengikutinya karena berpikir Choi Woo Ri akan terus mengincarnya. Dan tentu kau masih ingat bagaimana kejadian terakhir kali bersama Woo Ri, kan?”

Kyu Hyun menganggukan kepalanya ketika ingatan dia kembali pada apa yang di katakan Zhoumi padanya. Terlalu lama mereka berada di dekat Hyo Na yang semakin membahayakan dirinya, ini bukan lagi saat dimana mereka SMP dulu. Ini sudah berada di kondisi yang berbeda karena mereka sudah menemukan banyak orang-orang yang tulus bersahabat dengan Hyo Na, tidak seperti dulu banyak orang yang menjauhi Hyo Na dan bahkan membenci sikap ramah yang dia miliki.

“Hm, Zhoumi-ah, sepertinya kau jadi banyak bicara dan kembali mengingat masa lalu, ya?”

“Ini juga agar kau sadar kalau selama ini Hyonnie selalu memikirkanmu daripada aku. Ah, sekarang sedang apa gadis kekanakan itu dengan Dong Hae, ya? Uhm, apa mereka sudah menjalin sepasang kekasih atau belum aku jadi penasaran?”

Kyu Hyun menatap Zhoumi yang tersenyum dengan wajah penasarannya, “Kau tahu? Hyonnie yang jujur dan mengatakan kalau dia jatuh cinta itu jadi terlihat sangat manis dengan senyuman dan rona merah di pipinya, aku jadi sedikit menyesal karena tak bisa membuatnya seperti jatuh cinta padaku dulu dan sialnya dia malah membuat salah satu temanku yang mencintainya,” dan terdengar sedikit mengejek Kyu Hyun, pria dengan tinggi di atas rata-rata tersebut akhirnya membuat Kyu Hyun menjadi memukul dahinya dengan cukup kuat.

“Ck, kenapa kau jadi memukulku?!”

“Kau meledekku sekarang ini! Hm, tapi kalau aku pikir lagi sudah seharusnya pula aku harus berhenti untuk terlalu mengekangnya…” menghela nafas lalu memperhatikan perubahan ekspresi dari Zhoumi, “Yah, walau sebenarnya cinta ini tak terbalaskan. Tetapi melihat dia tersenyum bahagia karena orang lain juga akan menjadi obat sakit yang aku sukai nantinya,” lanjut Kyu Hyun lagi lalu membuat Zhoumi tertawa mendengarnya.

“Huh, sudahlah pulang saja sana!” usir Jang Mi saat Ki Bum masih saja terlihat berdiri di sampingnya yang tengah berdiri di halte bis, gadis dengan mata bulat tersebut menjadi terlihat mendengus kesal karena sudah berulang kali Ki Bum tak ingin beranjak pulang, “Kau bisa di marahi Ibumu nanti, bocah!”

“Berhenti memanggilku bocah! Anggaplah aku sebagai pria apa tak bisa, heh?”

Jang Mi jadi melebarkan matanya menatap tak percaya akan kata-kata Ki Bum baru saja yang membuat beberapa pasang mata jadi melirik ke arahnya dengan geli. Benar-benar memalukan menurut Jang Mi dan dia kini menghadiahi Ki Bum dengan tatapan yang tak sama sekali menakutkan untuk pria itu padanya, “Kau semakin terlihat manis jika seperti itu, Jang Mi noona,” goda Ki Bum terdengar dan membuat Jang Mi menjadi mengalihkan perhatiannya ke arah lain karena kesal sekaligus menghilangkan pandangan mata Ki Bum dari pipinya yang menghangat.

Ki Bum tentu saja bukan tanpa alasan kini hanya menjadi tersenyum memperhatikan gadis yang sudah dia cintai semenjak mengenal Hyo Na dulu, dia sungguh ingin menggoda gadis yang selalu dia panggil dengan sebutan kakak dan melihatnya merona karena godaan-godaan tersebut.

“Uh, Ki Bum bisakah kau berhenti meledekku?!”

“Aku tidak meledekmu, aku memujimu,”

Jika saja kening Jang Mi adalah perempatan jalan pasti di sisinya sudah menunjukan perempatan jalan yang berdenyut-denyut karena kesal dan muncul hawa-hawa panas di atas kepalanya karena menyimpan rasa kesal pada Ki Bum yang ada di sampingnya. Pria itu benar-benar menyebalkan karena berani menggodanya dan bahkan membalas setiap kalimat marahnya, “Hm, kalau ada Hyo noona pasti dia akan memarahimu sekarang ini?” ucap Ki Bum kemudian sambil mengingat wajah Hyo Na.

“Dia tidak akan marah padaku asal kau tahu saja!”

“Dia akan marah, kau tidak ingat dengan pertemuan kita dulu, huh?”

Jang Mi seakan kembali membuka ingatannya pada apa yang di katakan Ki Bum. Pertemuan dia dengan Ki Bum karena Hyo Na memperkenalkannya sebagai seorang adik yang membantunya di perpustakaan, perkenalan singkat dan cukup berantakan karena sosok Ki Bum terus menggoda Jang Mi yang marah-marah padanya dan berakhir Hyo Na yang memarahi Jang Mi karena tak mengerti sikap baiknya.

“Hm, itu hanya dia memikirkan kebahagiaanku saja,” Ki Bum menoleh menatap Jang Mi yang tak melihat ke arahnya, “Maafkan aku dengan sikapku yang dulu, Ki Bum!” lanjutnya kemudian pada Ki Bum yang kini jadi tersenyum di wajah tampannya sambil terus memperhatikan Jang Mi yang sama sekali tak melihat ke arahnya.

Tetapi tiba-tiba saja ide jail muncul di kepalanya untuk Jang Mi, “Jang Mi noona!” dan ketika panggilan itu berbalas karena Jang Mi menoleh kepalanya ke arah Ki Bum, pria yang di ketahui lebih muda dari Jang Mi itu dengan secepat kilat juga mengecup dahinya dan berlari menjauh meninggalkan Jang Mi yang di serang shock mendadak dengan wajahnya yang memerah, “Sampai jumpa di sekolah, Jang Mi noona!” dan teriakan Ki Bum yang seakan membangunkannya dari keterkejutan yang dia rasa.

Sekilas Jang Mi ingin membalas berteriak keras pada Ki Bum yang sudah jauh sekali di matanya namun ketika di lihatnya kondisi halte menjadi berbisik-bisik tentang Ki Bum dan dia yang bersikap jauh dari umur mereka dia jadi menundukan kepalanya dengan salah tingkah dan terus merapalkan umpatan manis pada Ki Bum, “Awas kau, Kim Ki Bum!”

—Scandal Love—

Hyo Na baru saja memasuki kelasnya yang masih cukup untuk di katakan sepi hanya ada beberapa orang temannya di dalam sana tanpa Kyu Hyun, Jang Mi dan tentu saja Dong Hae. Dia terlihat menyapa beberapa temannya di sana sampai akhirnya mata dia menatap sosok Jae Rin yang tersenyum ke arahnya dengan lembut membuat dia tak menaruh curiga dan bahkan terlihat duduk di samping gadis berkacamata tersebut.

“Uhm, pagi, Hyonnie!”

“Pagi, Jae-ah, kau terlihat senang sekali hari ini?”

Jae Rin menganggukan kepalanya menjawab apa yang di tanyakan Hyo Na padanya dengan seulas senyuman. Hyo Na lalu terlihat meletakan tasnya di atas meja dan kembali menatap Jae Rin dengan tanya di wajahnya, “Apa yang membuatmu bahagia? Apa ini hari special mu, Jae-ah?” Jae Rin kembali menganggukan kepalanya menjawab apa yang di tanya Hyo Na padanya.

“Dan… aku berniat sekali ingin memberi tahumu, Hyonnie!”

Hyo Na menjadi berkedip sedikit menyimpan rasa tak percaya diri. Tetapi ketika gadis itu lihat ada sosok Dong Hae dan tentu ada Jang Mi yang baru saja memasuki kelas dia jadi kembali menaruh perhatian pada Jae Rin dengan senyuman polosnya, “Benarkah? Hm, apa boleh seperti itu, Jae-ah?” tanya Hyo Na dan Jae Rin hanya menganggukan kepalanya sambil berdiri dari tempatnya.

“Hm, apa boleh aku…”

Jae Rin tiba-tiba saja menggelengkan kepalanya ke arah Hyo Na yang langsung menatapnya heran, “Bukan sekarang, mungkin nanti akan aku beri tahu padamu,” katanya kemudian lalu terlihat meninggalkan Hyo Na yang menatap kepergiannya, “Hm, baiklah, Jae-ah, aku akan menunggunya!” balas Hyo Na terdengar dan Jae Rin bahkan tanpa menoleh ke arahnya sudah menunjukan wajah menyesalnya.

“Ketua!” Kyu Hyun berhenti pada langkahnya ketika suara Dong Hae masuk ke dalam pendengaranya, “Ada apa?” balasnya terdengar sedikit datar melihat Dong Hae yang sudah ada di hadapannya sambil memegangi lengannya, “Kita harus bicara sekarang!” ucap Dong Hae penuh penekanan dan kemudian dia menarik Kyu Hyun untuk segera ke atap sekolah.

Tak jauh dari tempat mereka berdua sosok Ki Bum memperhatikan dengan bingung tetapi dia memutuskan untuk mengikuti keduanya kalau-kalau kejadian yang terjadi di rumah sakit yang lalu terulang lagi. Ki Bum terlalu takut jika akhirnya mereka bertengkar di tempat yang tidak di ketahui orang lain, “Hm, ku harap mereka tidak bertengkar!?” ucap Ki Bum menyusul mereka diam-diam.

Beberapa menit di perjalanan lalu kini sudah berlalu dan keduanya sudah berada di atap sekolah dengan suasana hening menyelimuti bersamaan pemikiran-pemikiran mereka. Kyu Hyun dan Dong Hae masih belum berniat membuka pembicaraan karena masih terlalu sibuk, mungkin Kyu Hyun akan sibuk dengan perasaannya sendiri dan berbanding terbalik dengan Dong Hae yang lebih menyimpan banyak tanya pada pria berambut ikal di hadapannya ini.

“Kau merencanakan apa sekarang ini, Ketua?” Kyu Hyun mengernyit mendengarnya, “Maksudmu apa?” Dong Hae sedikit menunjukan wajah bingungnya kemudian dan kembali berpikir mengapa dia menanyakan hal itu pada Kyu Hyun.

“Maksudku… kenapa kau membiarkan Hyo Na mendekatiku? Kenapa kau tidak melarangnya seperti kemarin?”

“Dia menemukan kebahagiaannya padamu,” ungkap Kyu Hyun kemudian lalu Dong Hae menjadi terperangah mendengarnya, cukup tak percaya kalau Kyu Hyun sampai bisa mengucapkan kalimat itu padanya dengan lancar, “Cho Kyu Hyun? Bukannya kau?” dan Kyu Hyun kemudian menganggukan kepalanya seolah membenarkan kalimat yang belum keluar sempurna dari bibir Dong Hae.

“Aku memang menyukainya dan bahkan menyimpan perasaanku padanya sampai sejauh ini. Dia sudah tahu tentang semuanya, tentang perasaanku padanya dan cukup untuk dia yang selalu merasa bersalah karena tak bisa membalas perasaanku hingga dia selalu terlihat menurut padaku dan terlalu baik padaku,” Kyu Hyun menarik nafas kemudian lalu menatap Dong Hae yang masih diam menunggu kelanjutan kalimatnya, “Hingga akhirnya aku mendengar dia mendapatkan kebahagiaannya padamu, bukan padaku. Aku cukup di katakan hancur saat mendengarnya, tetapi ketika dia kembali mengucapkan kalimat maaf atas semua perasaannya padamu… kau tahu, Lee Dong Hae?” Kyu Hyun menutup kalimatnya dengan tanya pada Dong Hae yang kini terlihat menggelengkan kepalanya.

“Aku yang merasa bersalah padanya karena terlalu menekan dia untuk selalu melihat ke arahku. Aku benar-benar merasa bersalah padanya, apalagi jika aku tahu selama ini dia selalu menyembunyikan perasaan bahagianya karena tidak ingin menyakitiku. Hingga akhirnya aku berpikir, jika aku tak bisa mendapatkan cintanya saat ini, melihat dia sudah menemukan kebahagiaan dan bisa jujur pada perasaannya itu sudah lebih dari cukup untukku,” berakhir sudah setiap kalimat penjelas Kyu Hyun yang di dengar Dong Hae yang kini hadi menundukan kepalanya yang kini di rundung entah perasaan apa.

“Kyu Hyun… aku, aku tak tahu?”

Kyu Hyun berusaha tersenyum ke arahnya sambil menepuk bahu Dong Hae seolah memberi tahu padanya kalau dia baik-baik saja dan sekaligus membuat Dong Hae tak merasa bersalah, menurut Kyu Hyun. Dong Hae yang kini lebih terlihat bingung sebenarnya jadi terlihat menjurus kepada sikap yang menjadi merasa bersalah padanya, “Aku harap kau tidak menyalahkan dirimu sendiri tentang semua ini. Dan aku lebih berharap lagi jika kau bisa menggantikan posisiku untuk selalu menjaga Hyo Na yang selalu kesepian dan sendirian,” Dong Hae melihat ke arah Kyu Hyun dengan pandangan tak percaya.

“Yah, mungkin aku belum bisa menghapus perasaanku pada Hyo Na, tapi sekarang aku akan mencoba menekannya dan merelakan dia bersamamu!” ungkap Kyu Hyun lagi jadi sedikit menertawakan kekonyolannya di depan Dong Hae, dia kini terlihat berjalan meninggalkan Dong Hae yang masih berdiri di belakangnya, “Uhm, ku pikir hanya ini saja yang ingin aku beri tahu padamu, Lee Dong Hae!” ucapnya dan berakhir dia yang meninggalkan Dong Hae di atap sekolah sendirian.

Dong Hae jadi terlihat menampakan senyuman di wajahnya lalu berbalik menghadap pintu yang sudah tertutup karena Kyu Hyun baru saja melewatinya, “Terimakasih, Kyu Hyun!” ucapnya tulus.

Ki Bum kini jadi menghembuskan nafasnya dengan lega mendapati apa yang dia lihat benar-benar di luar dugaannya. Kyu Hyun bahkan terdengar menyerahkan Hyo Na begitu saja pada Dong Hae yang sempat dia kecam kemarin, ini benar-benar mengejutkan. Lebih lagi tentang alasan dia yang mengatakan kalau Hyo Na sudah bisa jujur pada perasaannya dan menemukan kebahagiaannya.

Lalu tiba-tiba saja dia jadi teringat pada Jang Mi dan menimbulkan senyuman di wajah tampannya, “Lalu, kapan aku bisa mengakhiri semua ini dengan kebahagiaanku juga? Hm, apa setelah semuanya berakhir bisa?” ucapnya tanya tapi kemudian dia memilih beranjak pergi ketika Dong Hae sudah meninggalkan tempat ini.

Woo Ri terlihat baru selesai mengetik sebuah pesan di ponselnya lalu kembali dia memasang wajah normalnya untuk menanggapi beberapa temannya yang tengah berbicara di sampingnya. Tak ada yang mengetahui bagaimana Woo Ri bisa menyembunyikan peran jahat di wajahnya saat ini, memilih untuk diam-diam menyimpan seringai lalu sedikit berucap dalam hati, “Permainan akan segera selesai, Cho Hyo Na!”

—Scandal Love—

Ada begitu banyak kejadian yang mengejutkan di temukan mata Hyo Na di kelas tadi, keakraban Dong Hae dan Kyu Hyun yang jadi menarik perhatian seluruh siswa dan sikap dia yang kembali akrab dengan Jae Rin karena beberapa kali dia terlihat tertawa dan bercerita pada gadis itu. Jang Mi sebenarnya selalu ada di samping Hyo Na, dia selalu memperhatikan tiap gerak-gerik Jae Rin yang mencurigakan dengan bersikap senormal mungkin agar tidak terlalu mencolok di pandangan mata yang lain.

Lihatlah sekarang ini, saat guru belum ada yang memasuki kelas dan siswa-siswa lain bebas berkeliaran ke meja-meja lain hanya untuk bercengkrama dan membahas pelajaran, Jae Rind an Hyo Na lebih menarik perhatian Jang Mi yang kini memilih duduk di mejanya dengan mengerjakan tugasnya. Gadis itu ingin saja menyusul Hyo Na saat ini, tetapi ketika Hyo Na menunjukan senyuman yang seolah berkata dia ingin berdua saja dengan Jae Rin saat ini dia jadi mengurungkan niatnya dan melihatnya dari jauh saja. Yah, kedua gadis tersebut kini terlihat saling bercengkrama dengan buku pelajaran mereka, mungkin Hyo Na tengah meminta pada Jae Rin untuk mengajari beberapa mata pelajaran atau apalah itu. Tetapi sungguh Jang Mi sangat penasaran dengan apa yang tengah mereka perbincangkan saat ini.

“Harusnya aku tak melakukan yang bodoh padamu, Hyonnie,” ucap Jae Rin membuat Hyo Na menjadi tersenyum kecil di tempatnya lalu menganggukan kepalanya, “Aku sudah terlalu terbiasa mendapati penyerangan ini sejak SMP. Jadi, kau tidak perlu merasa bersalah seperti ini,” ucap Hyo Na pelan lalu membuat Jae Rin semakin merasa bersalah.

“Harusnya kau bisa saja melaporkan ku ke guru atau ke polisi jika mau? Hm, mungkin aku siap menerimanya, Cho Hyo Na,” Hyo Na menjadi berhenti dan menatapnya dari samping untuk langsung melihat bagaimana ekspresi dari Jae Rin saat ini. “Aku tahu, sikapku sangat bodoh, di butakan karena sosok yang aku cintai tidak mencintaiku dan melakukan berbagai macam cara hanya untuk mendapatkan semuanya,” Hyo Na sedikit tersenyum menanggapinya.

“Ada seorang gadis yang sepertimu dulu. Dia juga pernah berkata seperti ini padaku, dia menyesali semua tingkah bodohnya, tetapi… dia tak bisa menghentikan semuanya karena terlalu buta,” Jae Rin tiba-tiba jadi berpikir ke arah Choi Woo Ri yang terlihat menyeringai setan ke arahnya, “Hm, tapi, kau masih memiliki sisi positifnya di mataku, Jae Rin. Aku tak terlalu bisa memberitahu bagian mana darimu yang positif setelah kejahilan yang kau buat, anggaplah seperti itu!” sedikit terdengar bercanda tetapi Hyo Na mampu membuat Jae Rin mentertawakan sikap bodohnya.

“Setidaknya kau masih memiliki rasa kasihan padaku, tidak membuatku hampir mati di sekap dalam sekali penyekapan. Dan aku cukup tahu siapa di balik ini semua, Jae Rin, jadi aku tidak bisa terlalu menyalahkanmu walau sebenarnya kau salah.”

“Hyo Na…”

“Hm, Choi Woo Ri, kan?”

Jae Rin jadi meremas ujung baju seragam miliknya saat tebakan Hyo Na tepat mengenainya. Lagi pula ini semua bukanlah hal yang sulit untuk dia tebak sendiri, dia sungguh tahu bagaimana bengisnya gadis itu dalam menyiksanya, “Aku cukup mengingat lukanya, Jae Rin. Hm, jadi, aku pikir, Choi Woo Ri juga masih ingin mengincar nyawaku saat ini dan dia benar-benar tak akan main-main lagi karena sangat tahu lukamu dan luka dia sama,” panjang sekali Hyo Na berkata hingga membuat Jae Rin tidak tahu harus bersikap apa.

“Aku akan membantumu saat eksekusi itu, Hyo Na!”

Hyo Na melirik ke arahnya dengan heran, Jae Rin berusaha sekali tersenyum ke arahnya, “Aku sudah memikirkan semuanya matang-matang. Dan inilah yang aku ingin beri tahukan padamu. Aku ingin menyelamatkanmu dari apa yang aku mulai, Hyo Na!”

Hyo Na hampir saja ingin menangis mendengar apa yang di katakan Jae Rin padanya. Kalimat itu terdengar tulus berbeda dari Jae Rin yang menjadi bengis dan keji, Jae Rin sepertinya akan kembali menjadi gadis baik dan gadis yang dia kagumi sejak duduk di bangku kelas dua SMA ini.

“Hm, terimakasih, Jae Rin,” ucap Hyo Na terdengar dan keduanya sama-sama terlihat tersenyum kecil.

“Apa ada dari kalian yang punya waktu kosong hari ini?” kata Kyu Hyun pada Jang Mi dan Dong Hae di dekatnya.

Keduanya kini sama-sama saling lihat, “Hm, aku… aku…” Jang Mi terlihat ragu membuat dua pria lainnya kini menatapnya dengan sabar mencoba menunggu kalimat apa yang ingin dia katakan.

“Ah, Jang Mi-ah, Kibummie mengajakmu berkencan hari ini, ya?!”

Suara dari arah belakang dan itu adalah miliki Hyo Na yang baru kembali dari tempat Jae Rin memecahkan perkumpulan ketiga orang itu. Jang Mi sudah melempari Hyo Na dengan sebuah buku tulis yang dia pegang dan membuat gadis itu menghindar dan tertawa polos karena matanya menangkap ada rona merah di pipi sahabatnya, “Hah, ternyata benar dugaanku!?” terdengar lagi godaan Hyo Na untuknya.

Dong Hae dan Kyu Hyun yang mendapati kedua gadis itu sudah saling melempat umpatan dan bahkan balasan-balasan kini menjadi tersenyum saja. “Kau bagaimana Dong Hae?” Dong Hae tiba-tiba menoleh ke arahnya, “Kebetulan hyung ku juga tak ada di rumah hari ini, jadi bisa saja aku menjenguk Zhoumi,” ucapnya dan Kyu Hyun menganggukan kepalanya.

“Aku tak bisa pergi hari ini,” keluh Kyu Hyun terdengar dan membuat kedua gadis yang tadinya ribut itu menjadi menatapnya, “Ada apa, Kyu?” Jang Mi bertanya dan Hyo Na terlihat menganggukan kepalanya, “ Keluarga kami akan mengadakan pertemuan malam ini,” dan Hyo Na menjadi sekilas berpikir mengingat-ingat jadwalnya.

“Aku kosong hari ini!”

Dan ketiganya menatap Hyo Na yang tersenyum, “Hm, Hyo Ah eonni memang akan pulang dan tentu akan mengizinkan ku menjenguk Zhoumi! Bagaimana boleh ya kali ini Dong Hae denganku yang pergi?” Kyu Hyun dan Jang Mi sama-sama saling lirik walau sebenarnya berat juga tapi akhirnya kedua orang itu menganggukan kepalanya bersamaan.

“Hm, jangan melakukan hal-hal aneh di tempat Zhoumi nanti!” ucap Kyu Hyun membuat Hyo Na sekilas cemberut, “Uh, memangnya aku apa sampai harus melakukan hal aneh? Paling juga Zhoumi akan menggodaku karena merasa kurang hiburan di rumah sakit,” balasnya dan membuat beberapa orang tertawa mendengarnya.

“Hm, tapi, Jang Mi belum memberikan alasannya tadi?” celetuk Dong Hae terdengar dan membuatnya menatap ke arah Jang Mi dengan tanya terlebih lagi Hyo Na yang sudah mengulum senyuman di wajahnya, “Jang Mi-ah, cepat katakan padaku kalau kalian akan berkencan malam ini? Ah, tepat sekali, ya? Kalau di pikir-pikir besok itu hari libur dan… dan…”

“Iya, Hyo noona, kami akan berkencan malam ini,” kalimat Hyo Na yang terpotong karena tiba-tiba Ki Bum masuk saja ke dalam kelas mereka dan sudah berdiri di samping Jang Mi yang kini menatapnya dengan tajam, “Bocah ini?!” geram Jang Mi dan Hyo Na langsung memukul dahinya dengan penggaris yang dia pegang, “Kau ini?! Sudah aku bilang berhenti memanggilnya bocah! Ck, hei, Kibummie, kalian akan pergi ke mana?” Jang Mi menjadi serba salah sedangkan Ki Bum malah memberikan senyuman kecil saja.

“Hm, aku benar-benar akan di langkahi oleh seorang bocah saat ini?” celetuk Kyu Hyun terdengar, “Ah, Kyu, kau terlalu dingin dengan para gadis maka sampai sekarang kau belum menemukan yang pas. Benar, kan?” sambut Dong Hae sedikit menggodanya dan mereka kini terlihat tertawa bersama di meja milik Hyo Na dan Jang Mi.

—Scandal Love—

Hyo Na baru akan membuka pintu ruangan kamar Zhoumi tetapi lengannya di tahan Dong Hae, “Ada apa, Hae-ah?” dia kemudian terlihat menunjukan sebelah tangannya yang mengepal membuat Hyo Na jadi mengernyit bingung menatapnya, “Hae-ah, ada apa?” ulangnya lagi dan kemudian Dong Hae membuka genggaman tangannya yang sudah menunjukan dua buah gelang.

“Satu untukmu dan satu untukku,” kata Dong Hae kemudian menyerahkan satu gelang berwarna biru dengan bandulnya bergambar cangkir kopi, “Uhm, terimakasih, Hae-ah!” katanya kemudian lalu memakainya dan di lihatnya Dong Hae juga memakai gelang berwarna biru dengan bandul bergambar payung. Sebelah tangannya lalu terlihat menggenggam erat tangan Hyo Na lalu keduanya memasuki ruangan untuk menemui Zhoumi yang mungkin saja sudah menunggu mereka.

“Huh, aku kesepian di sini dan kalian menebarkan kemesraan di depan mataku,” celetuk Zhoumi membuat kedua orang yang di bicarakannya langsung melepas tautan jemari itu sambil terkekeh kecil.

Hyo Na lebih dahulu meninggalkan Dong Hae untuk mendekat pada Zhoumi, di sebelah tangannya ada sekantung berisi buah-buahan benda yang selalu dia bawa untuk Zhoumi yang mungkin saja ingin makan buah. Dong Hae juga sudah mendekat, dia duduk di seberang dekat Zhoumi dan di depan Hyo Na yang sudah tersenyum kecil sambil bertanya dengan keadaannya.

“Hanya kalian berdua saja yang datang?”

“Iya, Kyu Hyun menghadiri acara keluarganya…”

“Ya, Zhoumi! Kau tahu? Jang Mi dan Ki Bum tengah berkencan!”

Kedua pria itu menatap ke arah Hyo Na yang sudah menyerobot pembicaraan, Zhoumi kemudian menarik sudut bibirnya lalu dia melirik ke arah Dong Hae dan kemudian ke arah Hyo Na bergantian, “Kalian juga pergi berkencan, kan?” seringai dia terlihat dengan Dong Hae yang memilih diam sambil tersenyum dan Hyo Na yang sudah berinisiatif untuk mencucikan buah yang dia bawa.

“Hei, Dong Hae, apa yang aku katakan tadi benar?” Dong Hae jadi sedikit mengangguk di wajahnya yang terlihat ragu, “Bukan di bilang kencan juga kalau kami menjengukmu sekarang ini,” ucapnya terdengar dan Zhoumi jadi tertawa kecil.

“Hah, anggap saja ini kencan yang paling berkesan karena prosesnya akan di saksikan secara langsung di depan mataku,” keduanya terdengar tertawa, Hyo Na baru saja sampai di dekat mereka, “Uh, ini bukan kencan!? Ck, Tiang Bodoh, bisakah kau tidak membicarakan yang aneh-aneh sekarang ini?!” dan kedua pria itu semakin tertawa kecil karena Hyo Na yang kesal.

“Hm, jadi kau mengajakku ke sini?” Ki Bum jadi meliriknya dari samping dengan senyuman di wajah tampannya, “Huh, aku sudah sering ke sini bermain dengan Hyo Na,” keluhnya terdengar tetapi dia berjalan saja di samping Ki Bum, “Tetapi kau pergi dengan orang yang berbeda sekarang ini,” Jang Mi jadi melihat ke arahnya yang hanya menatap jalan di depannya.

Kedua tangan itu terlihat menggantung dan tak saling bertautan. Langkah-langkah mereka juga tak terlalu lama atau cepat, tetapi bisa di katakana saling berimbang seirama. Tempat yang mereka datangi memang tak begitu sepi atau terlalu ramai tetapi cukup untuk membuat keduanya merasa sama-sama nyaman, Seoul Tower. Tempat yang cukup mengundang minat dengan hiasan cahaya dan susunan gembok-gembok berisi nama-nama sepasang kekasih yang menambah kesan romantic, tetapi apa mereka berdua bisa di katakan sepasang kekasih saat tengah berjalan bersama jawabannya adalah belum tahu.

“Ambil ini!” dia menyodorkan sebuah gembok berwarna biru pada Jang Mi yang menatapnya jadi tak suka, “Kekanakan! Hm, kau pikir…” dan kalimat itu langsung putus karena Ki Bum meletakan gembok itu saja di tangan Jang Mi dan meninggalkannya untuk berjalan di depan, “Hei, Ki Bum tunggu aku?!” lalu Jang Mi terlihat menyusulnya dengan berlari karena Ki Bum cukup jauh juga berjalan mendahuluinya.

Dia terlihat baru saja keluar dari kamarnya dengan pakaian yang cukup formal dan casual, lalu terlihat seorang wanita yang lebih dewasa menghampirinya yang terlihat belum beranjak menjauh dari pintu kamarnya, “Kau kenapa, Kyu Hyun?” pria itu mendongak dan menatap sosok wanita yang ada di depannya sambil tersenyum lalu menggandeng lengannya, “Hm, aku jalan dengan Ah Ra noona saja, ya!” katanya terdengar meminta dan wanita yang di panggil dengan sebutan kakak itu hanya menanggapinya dengan senyum sambil mulai melangkah bersama dengan adik lelakinya.

“Hm, harusnya kau bisa membawa seorang gadis saat ada acara seperti ini,” Kyu Hyun tersenyum di sela-sela kalimat Ah Ra, “Kau adikku yang tampan, adikku yang pintar dan cukup sempurna. Pasti banyak gadis di sekolah yang menyukaimu, kan?” dia berkata-kata lagi di samping Kyu Hyun yang mulai menanggapinya dengan suara tawa, “Kenapa tertawa?” tanya Ah Ra heran.

Kyu Hyun menggelengkan kepalanya pada kakaknya sambil mencoba menghentikan tawanya, “Tidak. Tidak ada, noona!” katanya kelewat berbohong karena sekilas dia jadi teringat akan sosok gadis berambut sebahu yang selalu dengan baik hatinya memberikannya seulas senyuman hangat yang juga membuatnya terlalu jatuh cinta, Cho Hyo Na.

“Ah, lalu pada akhirnya di sini hanya tinggal aku saja yang sendiri,” keluh Zhoumi terdengar memiriskan nada bicaranya, Hyo Na hanya tertawa saja menanggapinya lalu Dong Hae terus saja terdengar membesarkan hatinya dengan kata-kata yang cukup membangun.

“Hm, aku boleh keluar sebentar?”

Zhoumi dan Dong Hae kini melirik Hyo Na yang tiba-tiba bangkit dari tempatnya, “Mau aku temani, Hyonnie?” tawar Dong Hae terdengan padanya dan Hyo Na yang sudah terlihat diambang pintu hanya tersenyum kecil, “Hanya ingin mengambil kopi saja,” ucapnya lalu dia sudah keluar kamar Zhoumi.

“Dia… dia suka minum kopi, ya?” tanya Dong Hae terdengar dan Zhoumi sekilas mengangguk, “Dulu hanya minuman itulah yang membuatnya lupa pada apa yang dia rasakan, tapi ku pikir sudah lama juga tak melihat dia kembali minum kopi,” Dong Hae menganggukan kepalanya kemudian lalu terlihat mengambil satu potong buah yang di potong Hyo Na dan memasukannya ke dalam mulut untuk dia makan.

Hyo Na baru saja tiba di sebuah mesin minuman dan baru selesai mengambil dua botol kaleng berisi kopi yang akan dia minum. Dia kini terlihat berbalik untuk kembali ke ruangan Zhoumi, namun tiba-tiba saja dia mendengar suara anak kecil di sekitar lorong yang dia lewati dan membuatnya penasaran karena suara itu terdengar merintih dan meminta tolong.

“Apa jangan-jangan pasien yang tersesat, ya?” gumamnya kemudian lalu tanpa pikir panjang dia berjalan ke lorong yang lumayan sepi tersebut.

Tak jauh dari dia berjalan di sekitar sela-sela yang bersekat ada beberapa orang yang terlihat mengintainya, mungkin sekitar tiga atau sebenarnya ada empat orang di dekat sana yang bahkan tak di ketahui Hyo Na yang hampir berjalan sampai ujung ketika mendapati sosok anak kecil yang menangis kecil, “Kau baik-baik saja?” katanya khawatir dan anak kecil itu menggelengkan kepalanya sambil menangis.

Satu diantara empat orang yang mengintainya kini terlihat memberi aba-aba untuk mendekati Hyo Na yang sepertinya masih sedikit berbincang-bincang dengan anak kecil yang menangis. Dan ketika Hyo Na akan bangkit dari tempatnya berjongkok, salah satu dari orang tersebut mendekat dan langsung membekap mulutnya dengan sapu tangan yang awalnya membuat Hyo Na panic dan kemudian pingsan di sana.

Anak kecil yang tadinya menangis kini semakin terdengar menangis mengetahui sosok Hyo Na yang sudah di bawa oleh tiga orang lainnya sedang satu orang lainnya kini berjongkok menghadap anak kecil itu sambil membuka masker yang ternyata menutupi wajahnya.

“Sekarang kembalilah pada Ibumu, anak manis!”

.

.

.

.

TBC

 

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: