Howdy From Buffalo

hoqw

Previous Chapter:

Broken Arrow

Greetings From Bakersfield

A Friendly Hello From Michigan

.

.

“They will stab you in the back and ask why are you bleeding.”

.

Bufallo

The Eastern Shores

New York, America.

.

.

KETIKA Hyukjae menusukan pisau lipat ke tubuh targetnya di sebuah jalan kecil di ujung trotoar, dia tidak pernah memikirkan bahwa beberapa jam berikutnya dia akan mendekam di balik dinginya jeruji besi sambil mendengarkan seorang pria bertubuh besar dengan tatto yang menutupi seluruh permukaan kulitnya, bercerita tentang pengalamanya memburu manusia di utara Afrika beberapa tahun yang lalu saat human trafficking belum terkenal.

Kejadianya begitu cepat. Dia mengendarai mobil Wagon tua sewaanya menyusuri jalanan Delaware yang sepi. Siapa juga yang mau melintas saat tengah malam buta di daerah pemakaman paling terkenal di Bufallo?

Kecuali dia dan Han Cheonsa.

Dia baru saja menyelesaikan satu pembunuhan, dan membuat janji dengan wanita psychopath itu bahwa dia akan menjemputnya pukul 9 sebelum food truck yang menyediakan pizza pepperoni kesukaanya tutup.

Ini adalah hari terakhirnya di Bufallo, setelah mereka menyelesaikan empat kasus pembunuhan di kota yang berbatasan dengan Niagara Falls. Heechul berada di Arkansas sejak dua hari yang lalu, menyelesaikan satu pembunuhan disana. Memutuskan meninggalkan Hyukjae dan Cheonsa di Bufallo, dengan alasan bahwa dia bisa menyelesaikanya sendiri walaupun sebenarnya dia hanya ingin berlibur ke Arkansas dan terlepas dari dua bunglon itu.

Sementara Cheonsa melakukan aksinya sendiri di Pierce Arrow, sebuah musium mobil antik dimana dia melakukan aksi pembunuhanya malam ini. Tadi pagi wanita itu melompat ke atas tempat tidurnya hanya dengan menggunakan sehelai handuk putih milik hotel, dan menggigit telinganya hingga dia terbangun dan mengumpat dengan kesal.

Motifnya? Wanita psychopath itu hanya untuk bersenang-senang menggigit telinganya. Dan jika Hyukjae membatalkan acara makan malam mereka, dia yakin wanita itu akan mengiggit telinganya hingga lepas.

“Ingat ceritaku tentang prostitusi di Thailand?” si pria besar itu masih menatapnya dengan semangat, dia bahkan tidak mendengarkan catatan kejahatan dari pria besar itu. Jika dia harus berakhir memiliki teman satu sel yang begitu cerewet seperti ini, maka dia benar-benar akan mengutuk sahabatnya. Sahabatnya yang menjebloskanya kemari.

“Aku menyelundupkan 320 gadis dari Thailand menuju Hongkong dan Macau. Jika kau mau, setelah kita keluar dari sini aku akan mengajakmu untuk bergabung.” Mendengar tawaran pria besar itu, Hyukjae hanya tersenyum singkat memamerkan barisan gigi-nya. Jika pria besar itu tahu bahwa dia adalah seorang pembunuh bayaran profesional, pria besar itu pasti akan menyembahnya dan meminta maaf karena telah menyombongkan catatan kejahatanya.

Han Cheonsa pasti geram.

Wanita itu pasti sangat geram menunggunya di tengah pemakaman Forest Lawn. Cheonsa belum tahu bahwa kini dia tengah mendekam di penjara setelah sahabatnya menjebaknya. Atau bisa di bilang seperti itu.

“Hyukjae Lee.” Hyukjae tersenyum singkat ke arah pria besar itu setelah seorang sipir membuka pintu sel itu dan membiarkan dia keluar dari sana.

“Kau beruntung seseorang membebaskanmu.” Hyukjae tersenyum senang mendengar kata itu keluar dari sipir yang membawanya ke ruang tunggu.

Ketika tadi dia mendekam di balik sel itu dia tahu bahwa seseorang akan mengeluarkanya dari sini, mungkin Heechul—tapi dia tidak menyangka bahwa Cheonsa yang akan melakukanya. Wanita itu berdiri dengan tidak sabar sambil memegang gelas karton berisi kopi hangat yang di berikan oleh seorang petugas di meja informasi. Wajahnya sangat kesal—kesal yang bisa membuatnya membunuh orang dengan tangan kosong.

Ini pasti karena pepperoni pizza yang tidak jadi mereka nikmati, atau ini tentang dia membiarkanya menunggu di tengah pemakaman selama lebih dari beberapa jam. “Sayang—aku tidak percaya kau berada disini—dengan—gelas kopi.” Hyukjae tahu seberapa muaknya Cheonsa kepada kopi, atau seberapa bencinya dia harus menunggu di dalam kantor polisi dan seberapa kesalnya dia jika Hyukjae memanggilnya sayang.

Berbeda dengan ekspetasinya bahwa wanita pyschopath itu akan melabraknya dengan sinis, wanita itu terlihat lebih semangat dari biasanya—walaupun dengan wajah kesal setengah mati. “I can’t believe I’ve gotten so far with you, Hyukjae!” Sahut Cheonsa di ujung ruangan tanpa berniat menyusulnya.

“Tidak secepat itu, Hyukjae.” Dia merasa mengenal suara familiar itu, dan melihat seorang pria dengan seragam polisi dari balik jaket kulit berjalan ke arahnya dengan setumpuk berkas di tanganya.

Si sahabat yang menjebloskanya.

“Aku tidak percaya bahwa kau akan menjebloskanku ke penjara karena pelanggaran lalu lintas, Lee Donghae.” walaupun suaranya tidak terdengar marah tapi  sahabatnya itu bisa melihat bahwa dia cukup membuat Hyukjae geram. “Itu hanya permulaan saja,” alis Donghae sedikit terangkat lalu memberikan berkas itu kepadanya.

“Semua kasus pembunuhan ini pasti akan segera terungkap. Kau tidak bisa berharap untuk selalu beruntung selamanya, bukan?” Donghae mengubah nadanya menjadi sedikit lebih ringan, dia melirik ke arah Cheonsa yang masih menatap ke arah mereka dengan tajam, lalu kembali menatap Hyukjae.

“Kekasihmu sangat marah kepadaku karena telah menggagalkan kencan kalian malam ini.” ketika mengatakan hal itu mata Donghae kembali teralih ke Cheonsa, dia menatap siluet tubuh wanita itu dengan sangat tertarik, hingga Hyukjae bisa meramalkan bahwa Donghae tengah membayangkan tubuh telanjang Cheonsa di atas tempat tidur bersama dirinya.

Tipikal pikiran seorang pria.

“Dia bukan kekasihku. Pria mana yang mau bernasib sial jika berakhir denganya?” memikirkan untuk menjadi kekasih seorang Han Cheonsa, membuat Hyukjae sang pembunuh bayaran profesional menjadi bergidik—dia membayangkan penisnya akan berakhir di dalam oven di hari thanksgiving jika berakhir dengan wanita itu.

Tebak apa yang sedang wanita itu lakukan sekarang? Cheonsa diam-diam memasukan cairan kopi ditanganya ke dalam aquarium kecil hingga ikan-ikan disana mengambang tak bernyawa.

Wanita gila.

“Tentang hal itu—kau sangat beruntung.” Jawab Donghae dengan tawa kecil dan pandangan iri bahwa Hyukjae bisa berakhir dengan wanita semenarik Cheonsa. Meskipun Hyukjae sudah lama tidak bertemu denganya, tapi mereka memiliki tipe ideal yang sama dalam mengejar seorang wanita, walaupun detik ini Donghae telah menjadi intel polisi internasional yang menangani berbagai kasus pembunuhan dan Hyukjae telah menjadi seorang pembunuh bayaran handal—selain itu tidak ada yang berubah dari pertemanan mereka sejak kecil.

“Aku pasti akan menangkapmu. Malam ini aku akan menyerahkan berkas tuduhan pembunuhan atas namamu, mungkin sebentar lagi penyelidikan tentang dirimu akan dilakukan. Malam ini aku menangkapmu, hanya sebagai peringatan, bagaimanapun juga kau pasti akan kembali ke dalam sana.” Donghae menjelaskanya dengan tenang sambil menunjuk sel yang masih berisikan pria besar itu.

Dia bukan sahabatnya lagi.

Sahabat mana yang membongkar rahasia sahabat terbaiknya sendiri?

Untuk beberapa saat Hyukjae hanya terdiam. Dia tidak tahu apa yang di rasakanya detik ini. Dia tidak marah karena Donghae akan membongkar sindikatnya, dia tidak takut jika akhirnya dia harus berakhir di dalam jeruji besi dan kembali mendengarkan cerita pria besar itu tentang prostitusi di Thailand.

Dia—

Kecewa.

Kecewa karena tidak menyangka bahwa Lee Donghae, sahabat terbaiknya sejak dia mengenal dunia, akan mengatakan hal-hal itu dengan tenang. Seakan Hyukjae hanyalah bandit yang harus di selesaikanya agar dia bisa menaiki jabatan baru di posisinya sekarang.

“Aku hanya melakukan apa yang harus aku lakukan sejak dulu, Hyukjae.” Persetan dengan suara dan tatapan Donghae yang ber-empati kepadanya. Jika yang berdiri di hadapanya ini bukanlah sahabatnya, dia pasti telah menusukan pisau lipat itu tepat ke jantungya atau paru-parunya.

“Kata-kata yang bagus. Aku tidak tahu sejak kapan kau bisa menghafalkan kata sebagus itu.” ucap Hyukjae dengan senyuman yang menggumpal di bibirnya.

“Aku akan mengulang kata-kata itu ketika aku menangkapmu nanti, jika kau mau.” Gurau Donghae dengan mata lagi-lagi melirik ke arah Cheonsa. Setelah membunuh ikan-ikan di aquarium dengan kopinya, wanita itu terlihat asik memasukan robekan koran ke dalam aquarium hanya untuk memastikan bahwa ikan-ikan di dalam sana cukup menderita saat kematian mereka.

“Kau tahu—ketika kau berkata akan menangkapku, aku benar-benar ingin melihatmu melakukanya. Tapi setelah aku melihat bahwa kau menelanjangi Cheonsa dengan matamu. Itu membuatku jengkel, karena aku bahkan tidak pernah membayangkanya telanjang. Jadi kau tidak akan bisa menangkapku semudah itu, kawan.” Bisik Hyukjae sebelum meninggalkan kantor polisi itu dan menarik Cheonsa dari sana.

Dia menarik nafasnya dengan keras, satu tanganya menghantam setir Wagon-nya dengan sangat keras. Memikirkan sahabatnya sendiri akan membongkar seluruh rahasianya membuatnya sangat kecewa. Dia menatap ke arah Cheonsa yang masih menatap lurus ke arah jalan, di saat-saat seperti ini Cheonsa selalu berubah menjadi sosok yang mengerti dalam keheninganya.

Hyukjae tahu bahwa Cheonsa sudah mengetahui bahwa sindikat mereka akan terbongkar. “Aku akan menghubungi Heechul tentang hal ini.” suara Hyukjae terdengar lebih tenang walaupun dengan nafas yang berat.

“Aku akan mengantarmu hingga Kenmore, lalu kau bisa menyebrang menuju ke Green Island dan terbang ke Hamilton. Disana kau bisa mengganti identitasmu.”

Tidak ada jawaban dari wanita yang biasanya selalu bertindak gila itu. Cheonsa hanya terdiam disana, tahu, bahwa Hyukjae menyuruhnya untuk melarikan diri sejauh mungkin sebelum Donghae mengejar mereka.

“Atau kita bisa melakukanya berdua, dan menghadapinya bersama.” Bisik Cheonsa dengan senyuman lembutnya. Dia mendekatkan tubuhnya ke arah Hyukjae dan menjatuhkanya ke dalam pelukanya.

Hyukjae menatap bola samudra itu yang masih menatapnya dengan tenang. “Kau tahu bukan, bahwa kau bisa melarikan diri detik ini atau kembali ke dalam sana, merayu Donghae untuk tidak menangkapmu?” bukanya menjawab Cheonsa hanya tertawa kecil.

“Aku tidak akan meninggalkanmu Hyukjae,”

“Tidak, sebelum kau menepati janjimu untuk menikmati pepperoni pizza bersamaku.” Bisiknya di iringi kecupan lembut di wajah Hyukjae.

Detik itu dia tahu, bahwa Han Cheonsa tidak akan pernah meninggalkanya.

.

.

-END OF HOWDY FROM BUFALLO-

.

.

.

xo

@IJaggys | beckhamlovesbadda

1 Comment (+add yours?)

  1. anggit
    Aug 22, 2015 @ 18:02:12

    awesome as usual.

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: