Scandal Love [10-END]

[Chapter 10 –END-] Scandal Love

Author : Rien Rainy (@Riechanie_ELF / Riechanie Elf)

Cast :

  • Lee Dong Hae Super Junior as Lee Dong Hae
  • Cho Hyo Na (OC)
  • Park Jae Rin (OC)
  • Cho Kyu Hyun Super Junior as Cho Kyu Hyun
  • Han Jang Mi (OC)
  • Kim Ki Bum Super Junior as Kim Ki Bum
  • Choi Woo Ri (New OC)

Genre : hurt, romance, tragedy

Rated : M

Length : chapter

Author note : “Jangan lupa main-main ke http://riechanieelf.wordpress.com/ ~!!! ^o^”

HAPPY READING~!!!

ENJOY~!!!

DON’T BASH~!!!

DON’T PLAGIAT~!!!

Don’t like don’t read~!!!

—Scandal Love—

“Ini sudah berakhir…”

—Scandal Love—

—Sebelumnya—

Satu diantara empat orang yang mengintainya kini terlihat memberi aba-aba untuk mendekati Hyo Na yang sepertinya masih sedikit berbincang-bincang dengan anak kecil yang menangis. Dan ketika Hyo Na akan bangkit dari tempatnya berjongkok, salah satu dari orang tersebut mendekat dan langsung membekap mulutnya dengan sapu tangan yang awalnya membuat Hyo Na panic dan kemudian pingsan di sana.

Anak kecil yang tadinya menangis kini semakin terdengar menangis mengetahui sosok Hyo Na yang sudah di bawa oleh tiga orang lainnya sedang satu orang lainnya kini berjongkok menghadap anak kecil itu sambil membuka masker yang ternyata menutupi wajahnya.

“Sekarang kembalilah pada Ibumu, anak manis!”

—Scandal Love—

“Kyu… tolong aku!”

“Tidak!?”

“Hei, Kyu-ah, kau sudah sadar?”

Kyu Hyun bernafas terburu-buru dengan wajah pucatnya, Jang Mi yang ada di sampingnya langsung berusaha menenangkannya yang tiba-tiba memegangi kedua tangan gadis itu dengan bergetar hebat, “Kyu-ah…” lirihnya pelan terdengar dan iris mata Kyu Hyun jadi menatapnya dengan acak masih juga dengan nafas yang terburu.

“Kenapa aku bisa di sini, huh?”

“Kyu-ah, kau pingsan saat pelajaran olahraga tadi,” Kyu Hyun mengusak wajahnya, Jang Mi memberikan segelas air putih padanya untuk di minum.

“Apa… Jang Mi, Kyu Hyun sudah bangun?” Dong Hae baru saja masuk ke dalam ruangan kesehatan, Jang Mi berdiri dan menganggukan kepalanya, “Kau baik-baik saja, Kyu?” Kyu Hyun mengangguk seadaanya lalu menatap ke arah Dong Hae dengan tatapan kosong, “Temukan Hyo Na!” mata itu tercekat mendengarnya.

“Kyu-ah, jangan…”

“Temukan dia, Lee Dong Hae!?”

Jang Mi merasa akan ada perang kecil hingga dia kini terlihat meremas bahu Dong Hae dengan lembut sambil berusaha menahan pria itu terbawa emosi seperti Kyu Hyun yang sudah beberapa hari ini lebih emosional dari biasanya. “Aku…” perkataan yang terdengar putus asa namun berjeda membuat Kyu Hyun geram pada pandangannya, “Harusnya… harusnya aku menahan Hyo Na berada di sisi ku,” lirihnya pilu terdengar membuat Jang Mi kini harus menghela nafas dan menatap ke arah Kyu Hyun yang akan mulai bermonolog.

“Dan aku juga harusnya tak bisa mempercayaimu untuk berada di samping Cho Hyo Na, Lee Dong Hae?!”

“Maafkan aku… tapi, tapi aku akan membawanya kembali!”

Gelas yang berada di tangannya kini berpindah di atas lantai berserakan dengan air putih yang menggenangi lantai bersamaan serpihan kaca yang tak berdosa di sana, terlihat memilukan. Jang Mi sampai harus menutup mulutnya menahan pekikan keterkejutan dia atas sikap Kyu Hyun yang di luar batas, membanting gelas ini sudah jauh dari sikap Kyu Hyun yang emosional seperti beberapa hari lalu saat dia tahu Hyo Na hilang tanpa jejak. Dong Hae semakin merasakan salah yang amat besar, dirinya di lain sisi juga merasa tertekan, pergi mengunjungi pihak berwajib berulang-ulang dan bahkan menghubungi setiap polisi untuk mencari keberadaan Hyo Na yang sampai sekarang belum di temukan saja sudah membuatnya hampir gila.

“Kau… kau tidak pantas berada di sampingnya, Lee Dong Hae!”

Prang.

“Hiks, henti… hentikan! Ku mohon!”

Rintihan terdengar piluh dari bibirnya yang sudah kembali terluka seperti bulan-bulan sebelumnya, wajahnya pucat pasi terlihat berantakan dengan sisa air mata yang mengering membentuk jejak-jejak pada pipinya yang berisi tersebut. Gadis yang di ketahui bernama Choi Woo Ri terlihat senang sekali menarik rambut sebahu itu hingga membuat gadis yang menjadi korbannya merintih meminta tolong, apalagi dia sangat mengetahui bahwa Woo Ri berniat ingin melukis wajahnya dengan benda tajam bernama pisau tersebut. Ah, gadis yang di ketahui bernama Cho Hyo Na tersebut sungguh-sungguh berdoa dalam hatinya agar dia selamat sekarang juga.

“Hm, benar juga, Hyonnie! Kalau saat ini aku terlalu menyiksamu hingga kau mati itu tidak akan seru! Yah, baiklah, aku akan membunuhmu nanti saja,” Hyo Na cukup untuk terbelalak mendengar perkataan ringan milik Woo Ri yang sudah tertawa dan menepuk sebelah pipinya dengan lembut.

“Woo Ri… lepaskan aku! Aku mohon, Choi Woo Ri!”

Woo Ri menatapnya di sudut mata dengan tajam seolah ingin membunuhnya di balik tatapannya tersebut. Hyo Na saja harus menekan rasa takutnya yang semakin menjadi, sungguh dia benar-benar tak tahu jika Woo Ri akan senekat ini padanya dan bahkan benar-benar tak memiliki rasa iba lagi padanya. Benar-benar gadis berperangai iblis yang sekarang ini dia lihat bukan lagi sosok Choi Woo Ri yang selalu baik dan tersenyum padanya.

“Tidak akan Hyonnie, aku akan melepasmu jika apa yang aku inginkan datang. Hm, jadi, bersabarlah menunggu siapa yang akan mati bersamamu juga, Hyonnie,” katanya dengan senyuman mengerihkan yang dia miliki lalu kini tubuhnya menghilang dari balik pintu coklat tua meninggalkan Hyo Na yang sudah menangisi segala nasibnya yang menyedihkan.

“Aku mendapatkan laporan bahwa si pelaku menggunakan seorang anak kecil untuk memancing Hyo noona, lalu saat itulah Hyo noona di bawa mereka entah ke mana,” Zhoumi menganggukan kepalanya lalu memandangi Ki Bum yang sepertinya masih sibuk dengan berkas-berkas yang dia pegang, “Harusnya Dong Hae menemani dia saat keluar malam itu,” lirih Zhoumi merasa bersalah.

“Tidak, ini bukan salahmu juga! Sepertinya dia memang sudah merencanakan ini semua, jika pun Hyo noona tak keluar malam itu juga, dia akan melakukan hal yang mungkin lebih berbahaya lagi untuk mendapatkannya,” jelas Ki Bum panjang lebar padanya, “Lalu selain itu tak ada lagi hal-hal mencurigakan lainnya, Ki Bum?” Ki Bum menggelengkan kepalanya, “Ku harap, Hyonnie baik-baik saja dan semoga saja kita tidak terlambat menyelamatkannya!” Ki Bum menganggukan kepalanya lalu kembali berkutat dengan berkas-berkas yang masih belum terselesaikan.

—000—

Woo Ri terlihat mengarahkan mata pisau itu pada leher Hyo Na yang berada pada pelukan eratnya. Kakinya melangkah ke belakang balkon kamarnya dengan pelan-pelan sambil menunjukan senyuman manisnya pada sosok Kyu Hyun yang panic dan Hyo Na yang terus-menerus menangis meminta tolong.

“Tenang saja, Hyonnie tidak akan mati sendirian. Setidaknya aku akan ikut mati bersamanya, Kyu Hyun!”

“Choi Woo Ri berhentilah berkata-kata aneh seperti itu! Lepaskan pisau itu dan lepaskan Hyo Na!”

Woo Ri menggelengkan kepalanya dengan kencang lalu semakin mendekatkan mata pisau itu pada leher Hyo Na yang kini sudah menguarkan darah segar. Hyo Na bahkan terdengar memekik kesakitan dan meminta untuk menghentikan segala perbuatan Woo Ri padanya, “Shhtt, Hyonnie, sampai kapanpun kita akan tetap menjadi sahabat! Tenang saja, kau tidak akan sendirian di sana, Hyonnie!” ucap Woo Ri dengan nada santai pada Hyo Na yang sudah menangis kencang.

“Choi Woo Ri!”

“Ah, Cho Kyu Hyun, jangan mendekati ku atau kau akan melihat di depan matamu sendiri Cho Hyo Na yang kau cintai akan mati dan aku juga akan mati bersamanya lewat balkon ini?!”

Cho Kyu Hyun akhirnya menuruti apa yang di pinta Woo Ri hingga dia kini menjadi diam di tempatnya hanya untuk melihat kedua gadis itu berada jauh di depan matanya. Hyo Na benar-benar terdengar merintih kesakitan dengan darah segar yang sepertinya terus-menerus menguar dari goresan luka yang di buat Woo Ri, sedangkan Woo Ri hanya tersenyum kecil sambil menatapnya dengan kilatan mata yang marah dan sayang.

“Kau tahu, kan? Aku mencintaimu, Cho Kyu Hyun! Tapi, sayangnya kau mencintai Cho Hyo Na yang polos ini, ya?” Woo Ri terlihat memainkan sehelai rambut Hyo Na yang bergetar ketakutan, “Tapi, sepertinya Cho Hyo Na polos kita tidak mengetahui perasaanmu sama sekali, ya? Hm, benarkah, Hyonnie?”

“…”

Tak ada jawaban dari keduanya selain isakan Hyo Na yang menahan sakit juga Kyu Hyun yang mengepalkan tangannya geram karena sikap Woo Ri yang benar-benar seperti orang sakit jiwa di depan matanya. Mengeluhkan semua hal yang bernamakan cinta, apalagi itu karena dia tak mendapatkan cinta yang harus dia miliki, apakah Choi Woo Ri semenyeramkan seperti sekarang ini jawabannya adalah iya. Cukup untuk beberapa tahun selama SMP mereka tertipu dengan penampilan baik dan ramah milik Woo Ri yang kini sudah ketahuan buruknya, dia tak lebih dari sekedar seorang monster menakutkan.

“Harusnya kau menerima cintaku, Cho Kyu Hyun! Kenapa kau harus mempertahankan perasaanmu pada Cho Hyo Na yang tak tahu apa-apa ini, huh?”

“Choi Woo Ri…”

Woo Ri terlihat menatap Kyu Hyun dengan sinis dan semakin mendekatkan mata pisau tajam tersebut pada pipi Hyo Na yang sudah menguarkan darah segar. Kyu Hyun sempat terdengar berteriak untuk menghentikan perilaku Woo Ri yang bisa saja membuat Hyo Na tewas, tetapi kini matanya yang kelam dapat menangkap sosok Zhoumi. Yah, sepertinya pria tinggi tersebut sudah berhasil menaiki balkon kamar Woo Ri tanpa sepengetahuannya dan dia kini terlihat sekali akan menarik Woo Ri dan melepaskan Hyo Na.

“Choi Woo Ri, berikan Hyo Na padaku sekarang! Kau menyakiti sahabatmu sendiri sekarang ini, Woo Ri?”

Woo Ri terdengar berdecih dia kini terlihat sedikit lengah karena pisau yang di dekatkan pada pipi Hyo Na sudah dia jauhkan dan berada di samping tubuhnya. Zhoumi di belakangnya sangat bergerak pelan dan terus memberikan sinyal pada Kyu Hyun agar terus membuat Woo Ri lengah, “Dia bukan sahabatku lagi, Kyu Hyun!”

“Hiks, Woo… Woo Ri-ah…”

Woo Ri kini menatap ke arah Hyo Na yang memanggilnya dengan lemah, tatapan mata gadis berambut sebahu itu terlihat sangat sayu dengan air mata yang terus merembes dari ujung-ujung matanya, dia sudah tidak tahan dengan rasa sakit yang di perolehnya dari Woo Ri. “Hyonnie kita bukan sahabat setelah aku tahu Kyu Hyun mencintaimu. Kau tidak sedih, kan?” Hyo Na semakin menangis saat mendengar perkataan Woo Ri yang terlihat sambil tersenyum ke arahnya.

Kejadian yang begitu cepat, Zhoumi dengan cepat menarik dan mencampakan pisau tersebut dari Woo Ri. Kyu Hyun juga sudah berlari mendekati ketiga orang tersebut, dia bersiap untuk melepaskan Hyo Na dari dekapan Woo Ri sedangkan Zhoumi juga sudah berusaha untuk melepaskan Hyo Na dari Woo Ri yang kini terlihat meronta kesetanan.

“Kyu…”

Dan Hyo Na terlihat pingsan di dalam dekapannya kemudian, Zhoumi bahkan sudah terlihat menarik paksa Woo Ri untuk membawanya kehadapan orangtuanya dan membuat gadis tersebut langsung di larikan ke rumah sakit.

“Aku tidak akan melepaskan Hyonnie! Kalian harus tahu itu semua! Lihat saja nanti aku akan kembali membawa Hyonnie padaku!”

Dan Kyu Hyun sangat ingat teriakan kesetanan milik Woo Ri yang sempat masuk ke dalam pendengarannya membuat dia kini semakin mendekap Hyo Na yang tengah pingsan.

—Scandal Love—

“Kita sudah menemukan tempatnya!”

Mereka langsung saling tatap satu sama lain termasuk Kyu Hyun yang kini terlihat sedikit merasa lega. Jang Mi bahkan sudah terlihat menjatuhkan air matanya bersamaan doa-doa yang dia rapalkan, Zhoumi yang ada di sampingnya kini sedikit tersenyum lalu meremas pelan tangan milik Dong Hae yang ada di samping tubuhnya.

“Siapa yang memberitahumu, Ki Bum?”

Ki Bum tidak menjawabnya melainkan terlihat keluar dari ruangan kamar milik Zhoumi membuat keempat orang lainnya bertanya-tanya. Setelah pintu menenggelamkan sosok Ki Bum kini pintu itu kembali terbuka dan menampilkan sosok seorang gadis berkacamata yang berada pada tarikan tangan Ki Bum.

“Park Jae Rin?!”

Dan mereka terdengar mengucapkan nama itu bersamaan dengan nada yang sama sekali tak bisa percaya. Satu sisi mereka juga tahu siapa sebenarnya Park Jae Rin, gadis berkacamata yang sempat di kagumi Hyo Na itu adalah salah satu pelaku yang membuat Hyo Na tersiksa pada bulan-bulan terakhir ini dan dia juga pasti salah satu orang yang menginginkan Hyo Na mati. Jang Mi bersikap lebih emosional dari sebelumnya hingga dia menghampiri gadis itu dan dengan cepat menampar pipinya membuat orang yang berada di ruangan itu terdiam dan menatap tak percaya.

“Kau?! Apa yang kau lakukan di sini? Kau mau menjebak kami semua, huh?” geram Jang Mi sambil memperhatikan Jae Rin yang masih bertahan pada posisi bekas tamparan Jang Mi.

Ki Bum bahkan harus mencengkram lengan Jang Mi lagi karena gadis itu terlihat ingin menamparnya lagi. Dong Hae lalu terlihat ambil alih untuk segera menjauhkan Jae Rin tetapi gadis berkacamata tersebut malah tetap saja berdiam di tempatnya dengan air mata yang mulai keluar dari sudut-sudut matanya, “Tak ada gunanya kau menyesal sekarang, Park Jae Rin!” bentakan Jang Mi terdengar membuat mata gadis yang berbalut kacamata itu langsung menatapnya tepat di sana.

“Han Jang Mi, hentikan emosimu itu!”

“Apa aku harus berterimakasih pada penjahat ini, huh? Aku curiga jika dia sekarang hanya ingin menjebak kita semua!”

Dan tanpa di duga Jae Rin terlihat berani sekali menampar pipi Jang Mi dan membuat gadis itu terdengar berdecih tak percaya. Dong Hae dan Ki Bum lagi-lagi terlihat menarik lengan gadis itu bersamaan, mereka sama-sama tak ingin melihat kedua gadis itu adu hantam sekarang ini apalagi mengingat tempatnya sungguh tak cocok.

“Aku tidak menjebak kalian! Aku tahu, Han Jang Mi, aku sudah terlambat dan tidak cocok menyesal atas semua yang aku lakukan pada Cho Hyo Na! Tapi… tapi…” ucapan itu terputus karena Jae Rin terlihat menarik nafasnya untuk menetralisirkan segala isakannya, “Tapi, apa aku tak di beri kesempatan juga untuk menyelamatkan Hyo Na? Anggaplah ini sebagai perminataan maafk…”

“Permintaan maafmu tak akan di terima, Park Jae Rin!? Kau… kau sangat berdosa dan kau…”

“Han Jang Mi cukup!?”

Kalimat itu putus karena sentakan suara Kyu Hyun, hening mulai menyapa mereka yang ada di ruangan itu. Jae Rin sudah di bawa untuk menduduki sofa yang ada di sana dengan Dong Hae yang ada di sampingnya untuk berjaga jika saja Jang Mi atau Jae Rin yang akan menyerang kembali, sedangkan Ki Bum sudah menarik Jang Mi yang bahkan terlihat menolak tarikan tangan itu untuk kembali duduk di samping tempat tidur Zhoumi. Kyu Hyun bangkit dari tempatnya lalu terlihat memandangi wajah teman-temannya satu persatu, “Bagaimanapun juga dia mencoba membantu dan kita juga belum tahu apa maksud dari dia membantu kita? Park Jae Rin, coba berikan penjelasan selain untuk meminta maaf dan menyesal, apa alasan terbesarmu melakukan ini?”

“Kyu Hyun…” Kyu Hyun memberikan tatapan tajamnya pada Jang Mi yang akan protes tapi dia kembali bungkam, Jae Rin menganggukan kepalanya lemah lalu menatap Kyu Hyun dengan tatapan bersalahnya, “Aku minta maaf pada kalian semua dan terutama pada Hyo Na. Aku… mungkin terlambat sekali jika aku minta maaf dan mengatakan aku menyesal sekarang ini. Tapi, sungguh aku hanya ingin membantu kalian melepaskan Hyo Na dari Woo Ri…”

“Apa alasanmu?”

“Aku berbeda dari Choi Woo Ri! Aku tidak sama dengannya!”

Jang Mi terdengar tertawa kecil membuat semua menatapnya dengan heran, “Kau tidak ada bedanya dengan gadis itu! Harusnya kau…”

“Aku bilang aku tidak sama dengannya!?” sentakan Jae Rin terdengar ketakutan, dia bergetar di dekat Dong Hae yang kini memperhatikannya dengan khawatir, “Aku tidak sama dengannya! Aku berbeda dengannya! Dan… ku mohon, jangan ada yang mengasihaniku sekarang ini!” lanjutnya kemudian membuat orang-orang yang berada di dalam sana menghembuskan nafas pelan terlebih Jang Mi yang kini menatapnya heran.

“Baiklah, Park Jae Rin bisakah aku mempercayaimu sekarang ini?” Kyu Hyun menatapnya dengan serius dan Jae Rin menganggukan kepalanya, “Kau harus percaya padaku! Aku akan mempertaruhkan nyawaku jika perlu, Cho Kyu Hyun!” ucapnya membuat orang yang berada di dekatnya kini menatapnya tak percaya.

Hyo Na baru tersentak dari tidurnya yang lelah, matanya masih berkunang-kunang sejak beberapa jam yang lalu karena menangis dan kemudian tertidur karena kelelahan. Tulangnya benar-benar terasa remuk entah sudah berapa hari dia terduduk dengan tali yang mengikatnya seperti ini, sungguh dia jadi melupakan hari. Ingatannya kini pergi entah ke mana, serpihan wajah sahabat-sahabat terdekatnya entah mengapa masuk ke dalam kepalanya.

Han Jang Mi yang selalu tersenyum dan berada di sampingnya dan berkata padanya tidak akan meninggalkannya sendirian. Kim Ki Bum, adik kelas yang sudah dia anggap sebagai adiknya sendiri. Zhoumi, seorang sahabat dekat yang selalu menghiburnya dengan senyuman dan selalu hadir kalau dirinya salah dalam bertindak. Cho Kyu Hyun, pria yang sudah hampir beberapa tahun ini selalu melindungi dan mencintainya. Dan yang paling terakhir adalah sosok Lee Dong Hae yang dia cintai.

“Hiks…”

Isakan lolos dari mulutnya yang tersumpal sapu tanganya yang bahkan tak membiarkannya sedikitpun untuk bersuara sekarang. Bibirnya terasa perih karena ada luka baru di sana, belum lagi lebam di sisi keningnya yang sudah berubah warna yang terasa sangat perih dan berdenyut.

“Hiks, selamatkan aku…” lirihnya kemudian dalam hati.

“Hyonnie?!”

Dong Hae bangun dari tempatnya dengan buliran keringat yang membasahi pelipisnya. Wajahnya juga sudah pucat di balik cahaya remang-remang kamarnya, dia lalu melirik jam yang ada di meja nakasnya yang sudah menunjukan waktu dua dini hari. Setelah itu dia terlihat terduduk menyandar pada punggung tempat tidurnya, matanya terlihat kosong sekali menatap ke arah langit kamarnya. Tak sadar dia menitihkan air matanya ketika sebelah tangannya memegangi sebuah gelang yang melingkar manis di pergelangan tangannya.

“Kami pasti akan menyelamatkanmu, Hyonnie! Bersabarlah di sana!”

—Scandal Love—

Pintu kayu berwarna coklat tua terlihat terbuka dan menampilkan sosok seorang gadis berkacamata. Di hadapan matanya dapat dia lihat sosok Hyo Na yang sepertinya baru saja membuka mata dan tengah menatap ke arah dia dengan lemah, gumaman juga terdengar membuat gadis tersebut sedikit mencuri pandang pada sekelilingnya dan memilih masuk untuk kemudian menutup pintu tersebut tanpa sepengetahuan orang pun.

“Hiks, Jae… Jae Rin-ah…”

“Shhhtttt…”

Desisnya kemudian terdengar dan membuat Hyo Na menurutinya. Di lain tempat tak jauh dari pintu itu sosok Woo Ri baru terlihat melangkah dengan cepat seakan mengetahui kalau ada seseorang lagi yang memasuki kamar di mana Hyo Na di sekap, tak dia ketahui sebenarnya bahwa tak jauh dari jarak yang tersembunyi di sana ada beberapa orang yang terlihat mengendap-endap terus memperhatikannya.

Mereka masih memasang mata menatap Woo Ri yang sudah berdiri di depan pintu kecoklatan tersebut. Dia belum memasuki ruangan itu, dia masih berdiri dan tampak memeriksa ponselnya sendiri. Salah satu dari sosok yang mengendap-endap dan memperhatikannya kini terlihat keluar dari tempat persembunyian dan bergerak untuk lebih mendekat, di ikuti dengan sosok yang satunya.

Woo Ri baru saja memasuki ruangan itu dan kini matanya menangkap Hyo Na yang masih terikat dan duduk manis dengan segala isakannya. Seringai terlihat di wajahnya lalu pandangan matanya menangkap sosok gadis lain yang sungguh sangat dia kenal dan dia cap sebagai dirinya yang lain, Park Jae Rin.

“Kau tengah memeriksa mangsamu sendiri, Jae Rin?” Jae Rin memasang wajah tersenyumnya, “Tentu saja. Bagaimana pun juga aku ingin melihat dia untuk yang terakhir kalinya, Woo Ri,” Woo Ri menyeringai seram memberikan tatapannya langsung ke arah Hyo Na yang sungguh bergetar ketakutan di sana.

“Aku pikir, kau akan sayang sekali pada gadis polos ini? Hm, aku jadi punya keinginan, Jae Rin?”

Jae Rin tiba-tiba saja menoleh ke arah Woo Ri yang tersenyum misterius ke arahnya, gadis berkacamata itu tak dapat membaca hal apa yang akan terjadi sekarang ini. Tak dia perhatikan sama sekali kalau gadis berambut sepanjang tersebut mengeluarkan senapan dari saku bajunya dan mengarahkan tepat ke sisi belakangnya tepat mengarah pada sosok yang tentu sangat dia kenal dan cukup untuk dia cintai, Cho Kyu Hyun. Yah, nyatanya adalah dua orang yang memperhatikan gerak-geriknya salah satunya adalah Kyu Hyun yang sudah berhasil masuk ke dalam ruangan tersebut dengan tenang.

*dorr*

Desingan keras terdengar kemudian, tembakan yang tepat sekali mengenai lengan Kyu Hyun yang langsung membuatnya terpelanting ke belakang dengan iringan jeritan milik Jae Rin yang kini sudah mendekati pria berambut ikal tersebut.

Iris mata yang berbalut kacamata itu menatapnya nyalang tanpa ada rasa takut sedikitpun, “Aku bisa melihatnya, Park Jae Rin! Aku tahu semua yang kau sembunyikan!” ucap Woo Ri dengan nada datarnya lalu matanya terarah pada Kyu Hyun.

Kyu Hyun yang menahan perih pada lengannya akibat bekas tembakan yang di buat oleh Woo Ri padanya. Mereka lalu berpikir bagaimana bisa Woo Ri memegang senjata tajam seperti sekarang ini, dia masih pelajar dan belum tentu bisa dia memegangnya dengan mudah seperti sekarang. Jauh di sana sosok yang lain berhasil sembunyi di balik tempat yang aman sedikit mencengkramkan kedua tangannya karena geram, Lee Dong Hae. Dia jadi bertekad untuk berhasil masuk dan langsung mengambil Hyo Na di waktu yang tepat dan semoga saja Ki Bum berhasil mendatangkan bala bantuan secepatnya karena masih berhalangan dengan bukti-bukti yang dia kumpulkan.

“Cho Kyu Hyun, sayang sekali kau harus terkena tembakanku? Apa rasanya menyakitkan, Kyu?” Kyu Hyun mengatupkan mulutnya cukup geram dengan tingkah Woo Ri, Hyo Na di belakang sana cukup bergetar melihat semua yang terjadi tepat pada matanya sendiri.

“Dan, ku pikir… hanya cara inilah yang tepat untuk mengirim Hyonnie kita ke surga dengan tenang. Benar, kan, Hyonnie?” Hyo Na sudah menggelengkan kepalanya dengan cepat, dia sungguh menolak keras.

“Choi Woo Ri, kau sudah keterlaluan! Kau harus menghentikan ini semua!” sentak Woo Ri yang dengan beraninya bangkit dan menghampiri Jae Rin yang tiba-tiba saja menodongkkan senjatanya ke arahnya, “Aku tidak takut mati karenamu, Choi Woo Ri?!” tambahnya kemudian percaya diri dan Woo Ri berdecih mendengarnya.

“Hei, Hyonnie, banyak sekali yang merelakan nyawa untukmu disini? Kau lihat? Kau lihat sekarang betapa kau menyusahkan mereka semua, heh?”

“Dia tidak menyusahkan semua orang kalau kau harus tahu!”

Woo Ri kemudian tersenyum lalu senapan dia turun ke bawah, pandangan matanya kini sudah menatap sosok yang sepertinya baru saja keluar dari persembunyiannya itu Lee Dong Hae. Hyo Na bahkan menatap tak percaya pada pria itu, sungguh dia semakin takut jika hal ini akan melukai selain Kyu Hyun di sana. Kyu Hyun saja bahkan sudah terdengar berteriak memperingati Dong Hae, “Tak ku sangka jika kau berani seperti ini, Dong Hae? Hm, apa kau terlalu mencintai Cho Hyo Na yang polos ini, huh?” ucapnya dengan nada mengejek.

“Hiks, Dong… Dong Hae…” lirihan yang terdengar kecil dan sebenarnya tak jelas terus saja menggumamkan namanya, dia benar-benar takut sekali hingga membuat dia bergerak gelisah.

Dong Hae sudah berdiri di samping Hyo Na yang tengah duduk dalam kegelisahannya, Woo Ri ada di depan mereka dengan jarak yang tak begitu jauh atau dekat namun sepertinya dia mampu membunuh dua orang itu sekaligus dalam beberapa tembakan yang sudah dia pikirkan sendiri di kepalanya saat ini.

“Aku rela mati hanya untuknya!” air mata itu semakin merembes, Woo Ri memperhatikan sekilas Hyo Na yang menangis pilu.

“Hm, baiklah lebih baik kalian mati saja berdua!”

Senjata itu tepat terarah pada Dong Hae yang sudah berdiri di depan Hyo Na yang panic. Dia panic hingga membuatnya tanpa sadar melepaskan ikatannya sendiri pada tangannya, mungkin luka-luka kecil akibat gesekan tersebut terasa menyakitkan tetapi jika kau melihat sendiri dengan mata kepalamu seseorang yang kau cintai mati tepat di depan matamu, apa kau masih bisa mengeluh sakit untuk dirimu sendiri. Dan Hyo Na sungguh tak bisa hanya sekedar mengeluh saat ini, dia harus melakukan sesuatu untuk menyelamatkan semua orang yang ingin menyelamatkan hidupnya.

Pelatuk itu baru di tarik Woo Ri dengan ujung senapan yang sudah berada tepat sekali di depan kepala milik Dong Hae. Jika saja pelatuknya cepat di lepaskan pasti akan sangat mengenai sasaran hingga menyebabkannya tewas. Sedikit lagi dia akan melepaskannya dan Hyo Na sudah terlihat bebas untuk kemudian saat pelatuk itu sempurna terlepas dia sudah berhasil menerjang ke hadapan Dong Hae.

“Cho Hyo Na?!”

Dan kejadian yang sungguh cepat dan tak bisa terjelaskan dengan kata-kata itu berakhir dengan ambigu dan sungguh mengabur. Teriakan panic dari beberapa orang menyebut nama gadis berambut sebahu itu terdengar, lalu kemudian beberapa orang berseragam dan memiliki senjata sudah masuk dan mengepung sosok gadis yang terlihat ambruk dan bergetar dengan senjata yang terlihat berasap karena baru saja mengeluarkan pelurunya.

—Scandal Love—

Aroma obat kini menguar di ruangan yang berwarna putih tersebut. Sepi terselimuti dengan bunyi sebuah mesin deteksi di samping tempat pembaringan seorang gadis yang masih dengan nyenyak dan bahkan damainya memejamkan kedua kelopak matanya dengan erat. Genggaman hangat terasa sia-sia sekarang, sosok yang terlihat mirip dengannya seakan sudah kekeringan air mata dan kehilangan cahaya, dia sudah beberapa minggu terlihat seperti itu di sampingnya, Cho Hyo Na.

Gadis berambut sebahu yang sebenarnya adalah adik kandung dan yang sangat dia cintai tersebut belum menunjukan tanda-tanda akan kembali. Kembali untuk menjalankan kehidupan normal dan tak terganggu seperti bulan-bulan lalu. Pintu ruangan tersebut terlihat terbuka menampilkan sosok pria berambut brunette yang terdiam memandangi sosok itu dengan mata sendunya, tak jauh di belakangnya ada juga pria dengan surai ikal kecoklatan yang sama menatap sendu.

Lalu di susul dua orang gadis, satu gadis memakai kacamata dan satunya tidak memakai kacamata tetapi dia membiarkan mata bulatnya menatap sendu. Dan terakhir ada dua orang pria lainnya, satu pria tinggi dengan wajah khas China dan satunya adalah seorang pria yang masih terlihat muda mengenakan kacamata. Apa belum jelas semuanya jika belum di sebutkan kalau mereka semua adalah orang-orang yang menyelamatkan Hyo Na.

Lee Dong Hae, seorang pria yang di cintai Hyo Na. Cho Kyu Hyun, seorang pria yang sangat tulus melindunginya. Han Jang Mi, Kim Ki Bum, Zhoumi dan terakhir adalah Park Jae Rin yang sudah seperti saudara kandungnya sendiri, benar-benar menjaganya dan tak membiarkan dirinya terluka sedikitpun. Yah, mereka adalah orang-orang yang paling berharga yang di miliki Hyo Na saat dia masih bisa bernafas walau hanya melalui selang-selang oksigen. Yah, setidaknya mereka masih ada untuk melihat dan terus bersabar menunggu hadirnya sosok Cho Hyo Na yang mereka rindukan.

“Aku… aku takut… aku takut jika adikku tidak akan pernah bisa membuka matanya,” lirih sosok gadis yang sangat mirip dengan Hyo Na, Cho Hyo Ah, kakak perempuannya.

Seketika kalimat itu menyentak mereka semua, terlihat satu per satu mereka masuk dengan tenang ke dalam ruangan kamar milik Hyo Na. Jang Mi dan Jae Rin sudah mengusap bahu dan menenangkan Hyo Ah yang menangisi adiknya, sedangkan ketiga pria lainnya sudah berdiri di sisi lainnya hanya untuk menatap Hyo Na yang masih nyenyak tertidur.

Sebelah tangan Dong Hae tertarik untuk menggenggam tangan milik Hyo Na yang terasa dingin di kulitnya, benar-benar tak hangat sama sekali. Dia menatap sendu bagaimana wajah itu tertidur damai seperti orang tengah bermimpi indah dan tak kunjung bangun karena mimpinya lebih menarik daripada kehidupan nyatanya. Kyu Hyun mengusak rambut milik Hyo Na, masih lembut seperti yang selalu dia sentuh dan dia sungguh merindukan gadis itu tersenyum dan Zhoumi sendiri hanya tersenyum kecil kembali mengingat bagaiman usaha Hyo Na yang pernah untuk menghiburnya.

“Kau bermimpi apa di sana, Hyonnie?”

Sengatan panas terasa di kulitnya yang terlihat pucat, kaki-kakinya tak mengenakan alas sama sekali. Iris mata berwarna kelam malam tersebut terus saja memandang tempat kosong berwarna putih yang luas, dia sama sekali tak mengenali tempat ini dan dia berpikir dia harus keluar saat ini. Tiba-tiba angin menerpa tubuhnya yang di rasanya ringan, angin menerpanya dengan lembut seakan tak mengizinkan dia untuk pergi dan mencoba menahannya.

“Aku… aku tak bisa tinggal disini…”

Suaranya bahkan terdengar menggema, sekelebat ingatannya terasa membayangi. Dia ingat ada beberapa wajah yang masuk pada kepalanya, suara jeritan yang seakan memanggilnya dan ada tangisan di sela-sela sana, dia dapat merasakan dan melihat itu pada ingatannya. Tetapi saat dia kembali mendengar sebuah nama yang sepertinya di tujukan untuknya, entah mengapa ada bagian lain yang membuat dia menjadi hangat dan membuatnya merindukan sesuatu hal.

“Cho Hyo Na… Cho Hyo Na… aku mencintaimu…”

Sangat hangat terasa dan sangat nyaman untuk di dengarnya. Dia merasa jika suara itu menuntunnya untuk jalan dan meninggalkan angin yang menginginkan dia tetap tinggal. Tak pernah dia tolehkan lagi kepalanya hanya untuk melihat sisi ruangan putih di belakang sana, dia menginginkan dirinya kembali dan mengetahui siapa yang mengeluarkan suara tersebut karena berkat suara itulah dia merasa bisa kembali dan seakan pelan-pelan tertarik ke dalam sebuah cahaya yang sangat menyilaukan.

“Cho Hyo Na… kembalilah padaku… aku mencintaimu…”

“Eungh…”

Semua terdiam sesaat mendengar sebuah erangan kecil. Jang Mi bertindak lebih cepat hingga dia mendekatkan telinganya pada masker milik Hyo Na dengan dadanya yang berdegup karena gugup luar biasa, “Eungh…” matanya membulat dan kemudian dia segera mengisyaratkan untuk memanggil dokter ke dalam ruangan itu.

Dokter berserta perawat lainnya segera memasuki ruangan itu, mereka yang berada di sana berangsur-angsur keluar ruangan. Jang Mi dan Jae Rin masih mendekati Hyo Ah untuk menenangkannya, sedangkan ketiga pria lainnya terduduk dengan pandangan kosong di samping pintu itu. Mereka semua menunggu apa hasilnya, entahlah jika itu buruk atau baik sekalipun, mereka sepertinya sudah siap untuk mendengarnya dari mulut dokter itu sendiri.

Pintu kemudian terbuka membuat semuanya tersentak, “Siapa yang bernama Lee Dong Hae?” Dong Hae tercengang mendengarnya lalu dia bisa menghampiri sosok dokter itu, “Cho Hyo Na sudah sepenuhnya sadar dan dia menginginkanmu untuk menemuinya,” ucapnya kemudian membuat yang lain mendengarnya mengucap syukur sedangkan Dong Hae terlihat langsung memasuki ruangan milik Hyo Na.

“Hyonnie?” panggilnya pelan sekali diambang pintu, tak ada jawaban hingga dia harus mendekat.

“Hae-ah?”

Dong Hae bahkan tak bisa menahan segala perasaannya saat begitu sampai Hyo Na dengan lemah menyebut namanya. Air mata haru pun terjatuh begitu saja melewati pipinya, dia langsung menggenggam erat tangan dingin milik Hyo Na dan gadis itu terlihat tersenyum lemah memandanginya.

“Aku… aku…”

Hyo Na menggelengkan kepalanya pelan seolah memutuskan apa yang akan di katakan Dong Hae padanya, “Semua sudah berakhir, Hae-ah! Dan… aku akan menepati janjiku padamu!” pria itu sekarang menjadi terlihat gugup, sedangkan gadis itu hanya berusaha tersenyum lembut di depannya.

“Aku… aku mencintaimu, Lee Dong Hae. Itu yang akan ku katakan sekarang padamu. Aku mencintaimu, Lee Dong Hae!”

Dan air mata milik Hyo Na pun keluar begitu saja, gadis itu bahkan bangkit dari tempatnya hanya untuk menggapai Dong Hae dalam dekapannya dan tak berhenti menggumamkan kalimat yang sama, “Lee Dong Hae, aku mencintaimu…”

Dan setelah hanya membutuhkan beberapa detik waktu untuk memperjelas semuanya, Dong Hae langsung membalas dekapan itu dengan erat dan mengecup helaian rambut Hyo Na dengan lembut, “Aku mencintaimu juga, Cho Hyo Na…”

.

.

.

.

ENDING~~~!!!

Yataa~!!! Akhirnya ending juga, lho~!!! >^< *tebar bunga*

Huhuhuhuhhu~ gimana readers-deul? Endingnya memuaskan atau malah sebaliknya??? Duh, Rien harap kalian dapat memberikan tanggapan ff ini pada Rien, ne~!!! Karena Rien bener-bener membutuhkan masukan dan kritikan dari kalian semuanya~!!! ^^

Uhm, dan JEONGMAL GOMAWO buat yang udah dengan setianya selalu baca dan memberikan komentar di setiap chapternya~ duh, tanpa kalian ff ini tak akan berjalan seperti sekarang ini~ :’) *terhura/?*

Yep, terakhir deh~~ Rien tunggu yah reviewnya~!!! Gomawo gomawo gomawo buat semuanya, readers-deul~!!! Dan lagi-lagi ketemu di ff milik Rien lainnya, yah~!!! ^^

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: