The Day

Author : Rizki Amalia

Cast : Kyuhyun

Super Junior Members

Genre : Romance, friendship

Rate : PG-15

***

Setelah Donghae, Siwon dan Leeteuk, ini terakhir giliran Kyuhyun!!!

Enjoy!!

***

Aku melingkari kalender di dinding kamarku. Besok adalah tanggal 13 dan aku mengingatnya sebagai hari dimana sudah satu bulan sejak album pertamaku dirilis. Bagi Sungmin, besok merupakan hari yang sangat bersejarah. Besok dia akan menikah. Besok dia akan mengikat jari seseorang dengan cincin dan akan berjalan dengan kehidupannya sendiri. Setelah waktu yang tidak begitu baik yang kami lewati beberapa waktu belakangan karena keputusannya itu, sekarang ia akan meraih kebahagiannya. Dan aku tidak lagi punya alasan atau hak untuk tidak bahagia.

Namun bagiku sendiri, tanggal 13 desember bukan hari yang begitu kunantikan. Aku tak begitu menyukainya. Dan aku benci kenyataan bahwa aku bahkan belum melupakan hari itu. Setiap tahunnya, aku pikir aku sudah lupa. Tapi begitu hari semakin dekat, dengan sendirinya aku akan ingat dan kembali melingkari tanggal itu. Aku tak mengerti kenapa perusahaan bisa memilh tanggal 13 November kemarin sebagai tanggal perilisan albumku disaat aku bilang aku tak menyukai tanggal tersebut. Tapi suatu kebetulan itu tak bisa kutolak, karena strategi mereka terbukti ampuh dan albumku cukup sukses.

“Oh, kau ada disini? Kupikir kau menginap di rumah orang tuamu lagi.”

Aku menoleh ke belakang. Teuki hyung sepertinya cukup terkejut melihatku ada di dorm malam ini. Sejak aku disibukkan dengan promosi album dan musikal The Days, aku nyaris tak punya waktu untuk tidur disini dan kami hanya bertemu saat akan terbang ke negara lain untuk super show. Aku bangun sangat pagi untuk rekaman di acara musik, lalu latihan untuk musikalku, melakukan mini konser di beberapa tempat, fansign, hingga kegiatan rutin yang sejak dulu memang sudah ada dalam jadwal seperti radio star dan guest house. Dengan segala kesibukan itu, kadang aku baru pulang di atas jam dua malam dan entah kenapa aku lebih memilih rumahku sendiri dibanding kembali ke dorm.

Ada sesuatu yang tak begitu menyenangkan di dorm. Auranya sudah berbeda. Dan yang jelas penghuninya pun semakin sepi. Aku sendiri terkejut saat menemukan Teuki hyung, Kangin dan Eunhyuk ada disini malam ini. Biasanya kalau aku pulang, tidak ada siapa-siapa. Terakhir kali dorm begitu ramai mungkin ketika Siwon menemukan Donghae pingsan di taman. Lalu esoknya kami syuting video klip.

“Kau baik-baik saja?” Teuki hyung bertanya sambil duduk di ujung tempat tidurku. Kulihat matanya tertuju pada kalender yang baru saja kulingkari dengan spidol merah. Ia mendesah, kemudian kembali bertanya, “Kau patah hati karena Sungmin akan menikah?”

Aku tertawa pelan. Aku tahu dia hanya bercanda dan tidak sungguh-sungguh. Malah aku yakin dia tahu alasanku melingkari tanggal itu. Tapi aku sedang tak mau membahasnya dan Teuki hyung pasti mengerti ini bukan waktu yang tepat untuk membicarakan hal itu.

“Aku sudah mengajukan tiga pertanyaan dan kau belum menjawabnya satupun,” katanya dengan lagak seorang ayah yang tegas. Tapi aku tidak terpengaruh. Aku melempar tubuhku ke kasur, menatap langit-langit kamarku. Rasanya sudah lama sekali aku tidak tidur disini, walaupun kenyataannya belum genap satu bulan.

“Kyu…”

Hm..aku menoleh sebentar padanya. Kurasa ia mengerti aku benar-benar sedang malas bicara apapun. Aku mulai memejamkan mata dan berniat untuk tidur saat tiba-tiba ada yang menyentuh keningku.

“Badanmu panas.”

Aku membuka mata. Wajah Teuki hyung tahu-tahu sudah begitu dekat dan menatapku khawatir. Aku sendiri bukan tertarik dengan perkataannya, melainkan dengan perlakuannya. Aku sudah lupa kapan terakhir kali ia bertanya dan menatapku seperti itu.

“Kyu, jangan membuatku takut. Tenggorokanmu juga sakit?”

Aku tersenyum lalu mencoba untuk bangkit. Namun, pandanganku mengabur dan wajah Teuki hyung tiba-tiba menjadi banyak. Ugh..memang sejak kembali dari tampil di music bank tadi, kepalaku mulai sakit.

“Tunggu sebentar,” ujarnya cepat dan langsung hilang dibalik pintu. Aku hanya memperhatikannya yang menurutku sangat aneh. Ini sudah sering terjadi dimasa lalu. Tapi itu sudah sangat lama. Belakangan aku bahkan merasa sangat kekanakan jika bermanja-manja atau mendapat perlakuan berlebihan darinya. Teuki hyung sendiri sejak kembali dari wajib militer mengalami banyak perubahan. Ia tidak cengeng seperti dulu. Ia lebih banyak menghabiskan waktu diluar untuk bersenang-senang. Ia melakukan apapun yang ingin ia lakukan. Ia sudah tak begitu peduli dengan hal-hal yang dulu menajdi incarannya. Media sosialnya selalu diupdate setiap hari dengan membagi kegiatannya kepada elf. Bahkan minggu lalu ia berbagi fotonya di kamar mandi yang menurutku berlebihan.

Ia tidak seperti dulu yang setiap tengah malam menyelinap ke kamar semua member untuk mengecek apakah kami sudah tidur atau belum. Bukan berarti ia sudah tidak peduli. Tapi aku merasa ia percaya bahwa kami semua sudah terlalu dewasa untuk diperlakukan seperti itu. Ia pasti bisa merasakan bahwa sebagian akan merasa risih jika terus diperlakukan layaknya anak-anak. Dan lagi sudah jarang kami semua ada d dorm secara bersamaan. Kami semua sibuk dengan urusan masing-masing. Dorm hanya menjadi pelabuhan terakhir, bukan pilihan utama lagi. Maka rasanya sangat aneh ketika sekarang ia datang padaku, membawa baskom berisi air dan handuk. Ia merebahkan tubuhku lalu mulai mengompres dahiku. Ia juga menyuruhku minum obat. Aku bahkan tak tahu itu obat apa. Aku hanya menurutinya.

“Apa kau bernyanyi terlalu sering sampai sekarang kau jadi kehilangan suaramu? Aku rasa kau terlalu sibuk. Sejak kita selesai konser saat itu, kau langsung terbang ke Thailand, lalu setelahnya kau mulai promosi, belum lagi kegiatanmu yang lain.”

Aku tersadar. Ia terus mengoceh dan untuk suatu alasan aku justru senang mendengarnya. Kapan terakhir kali ia mengomeliku karena aku tidak memperhatikan kesehatan? Dan kapan terakhir kali ia mengurusku seperti ini?

“Aku tahu apa yang kau tertawakan.”

Aku bahkan tidak sadar kalau aku tertawa. Aku hanya mengangkat bahu dan membiarkannya terus mengoceh sementara aku mendengarkan. Ia bisa bersikap cuek pada kami belakangan ini, tapi aku tahu sebenarnya sekujur tubuhnya gatal ingin melakukannya.

“Kau bukan anak kecil lagi yang harus dipaksa minum obat dan istirahat.”

Itu adalah kalimat terakhir yang ia katakana sebelum aku benar-benar akan tidur. Aku berusaha untuk memejamkan mata. Tapi aku bisa merasakan Teuki hyung belum benar-benar pergi dari kamarku. Ia hanya berpindah tempat lalu membiarkanku bisa mendengar helaan nafasnya.

“Besok Sungmin akan menikah.”

Aku tahu. Dan ia sudah mengatakan itu sebelumnya. Tapi….bukan itu yang sebenarnya ingin ia sampaikan. Kulihat ia masih duduk di kursi di depan meja komputerku. Matanya menatap keluar jendela.

“Aku harap sekarang dia ada disini. Aku harap aku bisa melakukan tugas terakhirku sebagai hyungnya yang selama ini menjaganya. Tapi bahkan dia sudah tidak tinggal bersama kita lagi.”

Kuperhatikan wajahnya yang semakin muram meski tetap tersenyum. Ada kekecewaan besar dalam mata itu.

“Aku kemari karena kupikir dia akan datang. Aku akan mengeceknya dan membenarkan selimutnya seperti dulu. Ah, kenapa aku berpikir seperti itu? Dia pasti akan tertawa mendengarnya.”

Ia tertawa dengan hambar. Aku terus memperhatikannya dan diam-diam ingin sekali berdiri di dekatnya. Tapi aku sadar bukan itu yang ia harapkan. Ia hanya ingin mengatakan apa yang ia rasakan. Aku tidak perlu repot-repot menggagalkan niatnya.

“Aku hanya sedikit merindukan masa-masa itu. Ketika kalian mengadu padaku karena Donghae merusak barang kalian. Ketika kalian tidak bisa tidur dan aku mengajak kalian mengobrol sampai pagi. Ketika kita kelelahan dan tertidur di ruang tengah seperti ikan yang terdampar di darat. Atau ketika kita perlu berhitung sampai tiga belas sebelum pergi ke suatu tempat.”

Aku tertawa kecil. Ia pun demikian. Rasanya sangat aneh mengingat hal-hal konyol itu yang sudah tidak pernah terjadi lagi. Tangan Donghae sudah tidak mengandung kesialan lagi. Kami bisa menyelesaikan masalah kami sendiri. Kami sudah jarang tidur bersama di ruang tengah karena kesibukan kami berbeda. Dan kami tidak perlu lagi berhitung karena jumlah member yang semakin berkurang.

“Sekarang…kalian sudah dewasa. Sebentar lagi kalian akan melakukan wajib militer. Dan besok Sungmin akan menikah. Kalian bukan anak kecil lagi.”

Ia menarik nafas panjang untuk kesekian kalinya lalu menatapku dengan tenang. Ia berdiri, bersiap untuk pergi. Tapi entah kenapa aku ingin menahannya. Aku bahkan belum mengatakan apa-apa.

“Donghae juga sedang sakit. Dia ada di rumah sakit sekarang. Aku harus kesana.”

Sebelum aku sempat menyela, ia sudah pergi. Dan aku merasa ia kembali melakukan tugasnya yang sudah tak pernah dilakukannya lagi sejak beberapa tahun belakangan.

***

“Kau sudah ada di bandara?”

Aku sadar suaraku nyaris tak terdengar. Aku bahkan awalnya tak ingin menanyakan hal itu apalagi menelponnya. Tapi percuma. Ia akan tetap mengatakannya dan aku yakin jawabannya bukanlah sesuatu yang ingin kudengar. Meski beberapa waktu lalu aku sudah mengetahuinya dan selama berhari-hari menyiapkan diri mendengar keputusan akhir, aku tetap merasa belum siap.

“Sebentar lagi aku akan berangkat.”

Aku menahan nafas untuk beberapa saat. Aku merasa mampu menghancurkan handphoneku hanya dengan meremasnya setelah mendengar itu.

“Aku harap kau hidup dengan baik disini.”

Suaranya begitu pelan, tapi aku masih bisa mendengarnya. Aku juga bisa merasakan tarikan nafasnya yang sama berat. Aku semakin gelisah dan tidak bisa duduk tenang. Maka aku berdiri, sedikit menjauh dari Sungmin serta Teuki hyung.

“Kau bisa mengatakan itu?”

“Kita harus mencobanya.”

“Mencobanya? Kau pikir….”

Brakkkk

Tak sadar tanganku memukul meja. Aku kehabisan kata-kata. Aku tak habis pikir ia bisa begitu gampang mengatakannya.

“Kau bisa marah padaku, kupersilahkan. Kau juga berhak untuk membenciku. Tapi aku…”

“Cukup!” sanggahku cepat. Aku perlu menelan ludahku dengan susah payah sebelum akhirnya melanjutkan, “Tidak ada yang perlu kau katakan lagi. Sejak telepon ini dimatikan, semuanya pun ikut berakhir. Sejak kau yang memilih untuk pergi, tidak ada yang bisa membuatnya sama lagi. Sebaiknya kita tidak saling mengenal lagi. Jika kita bertemu suatu saat nanti, jangan menatapku.”

Aku tercekat dengan perkataanku sendiri. Rasanya seperti menelan duri lalu mengeluarkannya. Tapi aku takkan menariknya.

“Kau benar. Begitu lebih baik. Sebaiknya tidak usah lagi mengingatku.”

Aku menggeleng pelan meski ia tidak akan melihatnya. Samar-samar kudengar suara pemberitahuan bahwa pesawat tujuan ke New York akan segera berangkat. Sekali lagi kukuatkan hatiku dan dengan segera mengakhiri sambungan.

“Aku mencintaimu.”

Tuttttt…..

“Kyuhyun-ah…kau sudah terlambat!”

Aku tersentak. Ku lihat keadaan sekitarku dan tidak menemukan siapa-siapa. Aku bukan sedang ada di tempat umum, melainkan di kamarku sendiri.

“Kyuhyun-ah….cepat bangun!!!”

Ah, ku raih handphoneku yang berbunyi lantas mematikan alarmnya. Sejak seminggu lalu Ahra noona memaksa supaya rekaman suaranya dijadikan alarm untuk membangunkan tidurku. Ia tahu aku sangat sibuk, jadi ia tidak mau aku terlambat. Memang sangat berhasil, tapi kadang aku juga malu jika ada yang mendengarnya.

Dengan cepat aku ke kamar mandi karena memang aku sudah terlambat. Aku harus ke gedung MBC hari ini untuk rekaman penampilanku nanti malam di music core. Aku sudah tidak bisa lagi mengandalkan mereka yang ada di dorm untuk membangunkanku. Sejak beberapa bulan ini, aku harus mengandalkan diriku sendiri.

“Oh, aku tidak tahu kau disini.”

Eunhyuk menatapku dengan heran setelah aku keluar dari kamar dan siap dengan tas ditanganku. Kulihat ia sedang menyeduh teh. Aku tersenyum mendengar perkataannya. Itu adalah pertanyaan yang sama yang kuterima dari Teuki hyung semalam. Ia bahkan terkejut melihatku ada disini seakan aku juga termasuk diantara member yang tinggal dengan orang tuanya. Ku sempatkan ikut minum teh bersamanya meski hanya sebentar. Ini adalah momen langka untuk duduk berdua dengannya dipagi hari.

“Kau akan ke MBC?”

Aku mengangguk. “Masa promosiku akan segera berakhir.”

“Tepatnya berakhir dengan sukses,”sambungya.

Kuhirup teh buatanku itu lalu tersenyum. Ini memang diluar ekspetasi semua orang. Aku bahkan tadinya tidak berharap macam-macam. Tapi ternyata aku menerima banyak cinta. Aku sangat bangga dengan diriku sendiri. Member yang lain juga sangat mendukungku. Ryeowook dan Teuki hyung datang ke mini konser untuk peluncuran albumku. Changmin juga datang. Siwon datang saat aku pertama kali tampil di music bank. Ia yang berteriak paling nyaring saat suaraku tidak keluar. Lalu ada Yesung, Donghae, Zhoumi dan masih banyak lagi yang memberikan dukungannya. Tapi…

“Ah, kenapa kau tidak pernah datang? Kau tidak ada jadwal hari ini? Temani aku ke MBC!!”

Ia menatapku dengan bingung. “Bagaimana mungkin kau memaksaku datang? Kemarin-kemarin aku ada urusan. Dan sekarang aku mau tidur sampai siang.”

“Ani, kau harus ikut!”

“Iss, kau tidak tahu kalau semalam aku begadang di rumah sakit karena menjaga Donghae? Dia menangis seperti bayi. Padahal harusnya hari ini kami rekaman.”

Aku teringat perkataan Teuki hyung semalam. Ternyata benar Donghae sedang sakit. Sepertinya ketahanan tubuhnya tidak cukup bagus. Selama tahun ini saja kalau tidak salah sudah tiga kali ia masuk rumah sakit karena kelelahan. Terakhir, ia demam tepat di malam ulang tahunnya karena berjam-jam berada ditaman. Ah, untuk yang terakhir mungkin alasan tepatnya karena ia ditinggalkan oleh kekasihnya.

“Jadi sekarang aku akan tidur sepuasnya. Karena sore nanti aku harus ke pernikahan sahabatku.”

Eunhyuk berdiri, mengangkat gelas bekas tehnya ke tempat pencucian.”Cepat pergi! Nanti kau terlambat!”

“Tadi kau bilang akan pernikahan siapa? Maksudmu Sungmin, kan?

“Aniyo…Ini pernikahan Eunjae. Kau ingat? Dia sahabatku yang dulu pernah kupertemukan dengan kalian sebelum super show di Jepang.”

Sebelum aku berhasil mengingatnya, ia sudah masuk ke kamar. Apakah perasaanku saja atau benar ia seperti tidak peduli dengan pernikahan Sungmin?

Ah, apa yang kupikirkan? Masalah ini sudah lama selesai dan kita semua sepakat untuk mendukung Sungmin.

“Aku tahu apa yang kau pikirkan. Dan sebaiknya musnahkan itu!” katanya dengan tegas saat tiba-tiba ia muncul dibalik pintu kamarnya. Aku pun aku bergegas pergi. Aku tak mau ambil pusing. Namun, sebelum aku menggapai handle pintu, mataku tak sengaja bertemu kembali dengan kalender. Lagi-lagi aku harus melihat angka itu. Aku benci mengakuinya. Tapi sepertinya aku tak bisa memegang perkataanku sendiri. Aku memintanya lupa tapi aku bahkan seperti orang tolol yang terus menghitung hari. Dan ini sudah berlalu tiga tahun.

Semalam malahan aku memimpikannya. Sepertinya aku harus menyibukkan diri hari ini supaya tak mengingatnya lagi.

Aku pun pergi ke gedung MBC untuk melakukan rekaman. Disana, manager hyung sudah menungguku sambil berkacak pinggang. Aku memang terlambat sepuluh menit dan baginya yang sangat tepat waktu, itu adalah suatu kesalahan besar.

“Mianhe, hyung. Tapi kau tidak usah repot-repot mengomeliku,” kataku tepat sebelum ia buka mulut. Aku lalu bersiap-siap. Sebelum melakukan rekaman, aku melakukan rehearsal. Di belakangku, para staff sibuk mengatur stage untukku. Ada beberapa properti yang diletakkan di sekitarku. Ketika semuanya sudah siap, aku mulai melakukan rekaman. Ada banyak fans yang menyaksikanku bernyanyi. Dan itu sangat membantuku untuk memperbaiki mood hari ini.

Rekaman dilakukan sebanyak tiga kali. Percobaan pertama tidak berjalan mulus karena suaraku tidak begitu terdengar. Percobaan kedua lumayan memuaskan. Dan untuk menyempurnakan semuanya, aku tampil untuk yang ketiga kali. Aku tidak menyanyikan ‘At Gwanghwamun’ seperti minggu-minggu sebelumnya. Sebagai penampilan terakhir di masa promosi, aku menyanyikan laguku yang lain yang berjudul ‘at close’.

“Kerja bagus! Terima kasih Kyuhyun-ssi.”

Aku membungkuk dan mengucapkan terima kasih kepada staff yang sudah membantuku. Sebelum turun panggung, aku melambai dan mengucapkan terima kasih pada fans yang sudah rela datang dan menyemangatiku.

“Terima kasih semuanya. Hati-hati karena diluar sangat dingin.”

Sepulang dari MBC, aku masih punya jadwal lain. Tapi aku menyempatkan dulu untuk menjenguk Donghae. Menurut pesan yang ku terima dari Teuki hyung, anak itu masih di rumah sakit dan mungkin tidak akan bisa ikut ke upacara pernikahan Sungmin. Sepertinya kali ini sakitnya tidak main-main. Biasanya ia hanya perlu beberapa jam di infus, tidur, maka setelahnya ia akan melompat seperti anak kecil. Tapi aku sangsi kalau ia mau berdiam di rumah sakit sampai besok dan tidak datang ke pernikahan Sungmin. Aku prediksi, nanti malam ia akan muncul di antara kami dan tersenyum seakan ia baru pulang dari rekreasi. Anak itu kadang susah di atur. Mungkin hanya ia yang tidak begitu banyak berubah diantara kami. Mungkin hanya bersama Donghae, Teuki hyung tidak akan merasa tua.

Aku sudah berjalan di sepanjang lorong rumah sakit dan nyaris mendorong pintu ruang rawatnya saat aku sadar ada orang lain di dalam sana. Bukan Teuki hyung atau member lain. Teuki hyung mengatakan tak ada siapa-siapa saat ia pergi pagi tadi. Yang ada di dalam sana sepertinya seorang wanita.

Ku urungkan niatku dan hanya membiarkan pintu sedikit terbuka. Kulihat Donghae masih terbaring dengan selang infus ditangannya. Di samping tempat tidurnya, duduk seorang wanta. Ia membelakangiku. Aku tidak bisa melihat wajahnya. Tapi dari gerak gerik Donghae, sepertinya aku bisa menebaknya.

Iseng, aku mencoba untuk mencuri dengar. Tapi suara mereka begitu pelan hingga aku tak begitu menangkap apa yang mereka bicarakan.

“Ku dengar kakimu cedera saat di Osaka.”

Aku berhasil mendengar satu kalimat yang utuh dari wanita itu dan tanpa sadar aku tertawa. Kubekap mulutku lantas bersembunyi dengan cepat. Mereka berdua benar-benar lucu. Dari mana wanita itu tahu tentang cederanya Donghae saat kami konser di Osaka? Bukankah artinya ia masih mengikuti perkembangan Donghae?

Sekali lagi kuintip ke dalam dan kulihat Donghae sedang menggenggam tangan wanita itu. Aku tersenyum. Sebelum aku masuk dan merusak obrolan mereka, aku lekas-lekas pergi dari sana. Aku tidak tahu sejak kapan aku jadi begitu ingin tahu urusan orang lain. Aku melakukannya kali ini mungkin hanya karena aku butuh sesuatu untuk menghibur diriku sendiri. Dan apa yang kulihat cukup mampu menambah daftar hal menyenangkan hari ini. Aku tidak bisa menyimpulkan apa yang terjadi di dalam sana hanya dengan sebuah kalimat atau sebuah tindakan saja. Tapi aku harap semua baik-baik saja dan Donghae bisa segera sembuh.

“Kau bisa berjalan sendiri?”

Langkahku terhenti. Kepalaku menoleh ke kanan dan menemukan seorang pria yang sedang menuntun seorang wanita berjalan. Kaki wanita itu diperban dan ia nampak terus menolak saat pria di sebelahnya ingin membantu.

“Kau pilih mana? Aku menuntunmu atau langsung kugendong?”

Aku tersenyum. Tanpa bisa kukendalikan, ingatanku melayang pada hal-hal konyol yang pernah aku dan ia lewati beberapa tahun lalu. Ia juga pernah mengalami cedera saat terjatuh dari kuda. Dengan sombongnya ia bilang tidak apa-apa. Tapi aku tahu ia berbohong. Maka aku langsung menggendongnya, membawanya ke rumah sakit untuk di obati.

“Sudah kubilang ini hanya cedera ringan. Aku tidak perlu diperban!”

“Bisa kau tutup mulutmu? Apa kau dokternya?”

Ia diam sementara aku mengancam akan menciumnya di depan dokter dan perawat jika ia terus mengeluh macam-macam. Ia benar-benar keras kepala.

“Kyu? Kau ada disini?”

Aku terkejut saat Siwon tahu-tahu ada di depanku. Aku menggelengkan kepala lantas mencari kemana pasangan itu. Tapi sebelum aku menemukan mereka, Siwon lebih dulu menarik bahuku.

“Kau sudah menjenguk Donghae?”

Wajahnya nampak begitu serius. Mungkin ia khawatir dengan keadaan Donghae. Mungkin juga ini ulah Teuki hyung yang menyebarkan kami semua sms yang sama seakan-akan Donghae butuh perhatian lebih. Atau mungkin ini hanya bukti bahwa selain Donghae, masih ada satu member yang tidak berubah sejak dulu. Siwon….selalu saja terlalu perhatian pada kami. Dialah yang paling sering punya insiatif untuk mengajak kami berkumpul lalu berfoto dan menghibur fans melalui media social.

“Kenapa kau tersenyum begitu?”

“Kau tidak perlu menjenguknya. Sudah ada yang menjaganya sekarang.”

“Siapa? Kata Teuki hyung tidak ada siapa-siapa disini.”

Ternyata benar. Ini ulang Teuki hyung. Bisa kulihat sekarang di belakang Siwon sudah ada Heechul, Eunhyuk, Kangin dan Ryeowook.

“Kalian ingin membuat jumpa fans disini?” tanyaku pada mereka yang sepertinya terkejut melihatku dan Siwon ada disini. Sebelum mereka masuk ke dalam lift, aku menahan lengan mereka dan menarik semuanya keluar.

“Ya! Kami kemari ingin menjenguk Donghae. Dia sendiri semalam mengirimiku pesan dan mengeluh karena kesepian.”

“Kesepian? Tapi semalam aku dan Teuki hyung menginap disini,” sambar Eunhyuk yang membuatku tidak perlu repot-repot menjawab.

“Dengar sendiri? Lagipula sekarang dia sedang tidak bisa diganggu. Dia kedatangan tamu penting.”

“Tamu penting?”

Aku hanya tersenyum misterius. Selagi mereka ada bersamaku, dan ada bank berjalan bersama kami, maka aku mengajak mereka makan di sebuah restoran untuk makan siang.

“Ini restoran mahal!” seru Ryeowook yang sejak tadi hanya diam setelah kami memasuki restoran yang kupilih. Selagi aku mencari kursi yang nyaman, mataku tak sengaja melihat ke arah kiri dimana sekumpulan wanita sedang berbincang. Dan ketika satu diantaranya tertangkap jelas oleh mataku, aku tertegun.

“Kyuhyun-ah, apa kau yang akan membayar semuanya?”

Ia….ada disini. Ia…ada di tempat yang sama denganku.

“Kyuhyun-ah!!”

Aku mendengarnya, tapi aku tidak bisa menjawabnya. Mataku masih tertarik padanya. Tubuhku mendadak tidak bisa digerakkan. Apakah mataku juga mulai rabun? Ia tampak berbeda. Pakaiannya, rambutnya….aku rasa itu bukan dirinya. Aku pasti salah melihat.

“Hey, Kyuhyun-ah…”

Aku tersadar setelah ada yang menepuk bahuku. Aku langsung menoleh ke arah sebelumnya untuk memastkan penglihatanku dan ternyata aku tidak menemukan penampakannya lagi. Dimana ia?

“Jadi kenapa kau membawa kami kemari? Kau ingin mentraktir kami?”

“Maaf, aku harus pergi sekarang. Silahkan kalian makan siang bersama.”

Sebelum aku menahan, Eunhyuk sudah buru-buru pergi. Aku pun kembali memperhatikan mereka lalu berhenti pada Siwon.

“Siwon, kau tidak akan bangkrut kalau mentraktir kami makan siang hari ini? Karena aku akan menelpon beberapa orang lagi.”

“Ha?”

***

Aku pasti sudah gila! Aku pasti sudah tidak waras!

Setelah aku merasa melihatnya di restoran siang tadi, baru saja aku melihatnya keluar gedung MBC. Aku memang kembali kemari karena harus hadir untuk live show dan mendengar pengumuman pemenang minggu ini. Aku hampir terjatuh saat melihatnya keluar dari gedung itu bersama seorang wanita yang tidak ku kenal. Dengan santainya ia berjalan lalu masuk ke dalam sebuah mobil.

Sekali lagi ku gelengkan kepalaku. Sadarlah Cho Kyuhyun!!! Ia sudah lama pergi!!!! Kau hanya berkhayal!!!

Tapi pikiranku benar-benar kacau. Bahkan aku tidak tahu apa yang kulakukan selanjutnya. Aku hanya merasa ditarik oleh manager ke sana kemari dan baru sadar saat orang-orang turun dari panggung. Aku melihat kiri dan kananku. Ternyata pengumuman sudah dibacakan dan grup Apink sedang bernyanyi sebagai penutupan. Oh, aku kalah? Aku ada diperingkat dua atau tiga?

“Sebenarnya kau kenapa? Kau benar-benar kacau hari ini. Kau seperti anak hilang di depan kamera.”

Aku tak tahu apa maksud perkataan manager hyung setelah aku tiba di backstage. Tak kujawab pertanyaannya lalu membawa tasku ke toilet. Aku harus segera berganti pakaian lalu terbang bersama manager hyung ke tempat pernikahan Sungmin. Ia bisa mengamuk kalau tak melihatku.

“Kau benar-benar irit bicara sejak tadi.”

Aku lagi-lagi tak menyahut. Aku biarkan ia fokus menyetir sementara aku sibuk dengan pikiranku sendiri. Entahlah…rasanya…meski berkali-kali aku menolak apa yang aku lihat, semua justru semakin terasa nyata. Wajahnya, tawanya, suaranya, aku rasa itu terlalu utuh sebagai sebuah khayalan. Tapi…bagaimana mungkin ia kembali? Untuk apa?

Apakah aku perlu tahu kenapa? Apa ia perlu memberitahuku?

Aku menggeleng, memijit kepalaku pelan. Sepertinya sepulang dari sini aku harus minum obat sakit kepala lagi.

“Lihat! Kita sudah terlambat!”

Manager hyung langsung turun dari mobil dan masuk ke dalam. Aku sendiri memilih untuk tetap di mobil. Semangatku untuk melihat Sungmin meluap entah kemana. Kakiku malas bergerak. Badanku lelah dan minta tidur sekarang juga. Tapi itu tidak mungkin. Mereka akan kebingungan jika aku tidak muncul sedangkan kami semua berjanji untuk hadir. Apalagi Eomma dan Ahra noona sudah datang lebih dulu. Mereka semua bisa berpikir bahwa aku memang patah hati karena pernikahan ini.

Aku pun turun dari mobil. Dari jendela diluar, aku bisa melihat Sungmin sudah berdiri di depan pendeta menunggu calon istrinya yang digandeng oleh ayahnya. Aku tidak melewatkan pergerakan mereka sedikitpun. Aku juga bisa melihat wajah-wajah para tamu yang tampak ikut bahagia. Dan konsentrasiku terpecah begitu mataku menemukannya ada diantara para tamu.

Ia ada disini. Pandangan matanya tepat tertuju ke depan seperti tamu lain. Di sampingnya, duduk seorang pria yang tak kukenal. Sesekali pria itu mengajaknya bicara yang hanya ditanggapi dengan senyuman.

Ketika matanya tak sengaja tertuju padaku, aku langsung berbalik. Hanya mendengar suara tepuk tangan yang sangat nyaring yang menandakan bahwa Sungmin dan kekasihnya sudah resmi sebagai suami istri. Tapi aku tak mendengar apa-apa lagi setelahnya. Aku langsung menjauh, duduk di salah satu kursi halaman dan berusaha menetralkan pernafasanku.

Ini kenyataan! Ini bukan mimpi! Aku melihatnya tiga kali hari ini dan tidak ada mimpi yang terulang sebanyak tiga kali dengan kondisi yang begitu nyata. Ia memang ada disini. Ia kembali!

Aku tidak tahu kenapa tubuhku mendadak beku seperti ini. Aku tidak memahami kerja tubuhku sendiri. Tapi aku tidak bisa tenang. Aku tidak berani menoleh ke belakang jika itu akan membuatku bertemu dengannya. Apa yang ada dikepalanya? Kenapa ia harus kesini? Dan….kenapa rasanya seperti ini?

“Chokyu?”

Suara itu….

Aku terdiam. Tidak mampu menggerakkan kepalaku saat ada sebuah tangan menyentuh bahuku.

“Ah, ternyata benar ini kau.”

Aku tidak salah dengar dan aku belum melupakan suara serta caranya berbicara. Tapi aku masih berharap ini hanya mimpi meski perlahan-lahan ia berdiri di hadapanku. Aku menengadah. Dan aku hampir tak mengenali siapa yang sedang tersenyum itu.

“Apa kabar, Chokyu?”

Ia menyapaku dengan ramah. Ia tersenyum dengan cara yang tak lagi sama.

“Sepertinya kau sangat terkejut.”

Aku menunduk sejenak. Tiap huruf yang keluar dari mulutnya terdengar begitu mulus dan berbanding terbalik dengan apa yang kurasakan saat ini. Tapi kenapa aku harus selemah ini? Ia saja bisa bersikap demikian. Kenapa aku harus kalah?

Aku memejamkan mata. Meyakinkan diriku bahwa aku juga bisa tersenyum seperti itu padanya. Tapi ketika aku membuka mata dan melihatnya menatapku seperti itu, aku tak bisa melakukannya.

“Kau tidak bertanya kenapa aku ada disini?” Ia bertanya lagi masih dengan tenangnya. Aku jadi bertanya-tanya, apa yang ada dikepalanya saat ini?

“Aku rasa aku tidak berhak untuk tahu apapun urusanmu. Kau datang. Itu juga bukan kejutan untukku,” jawabku pelan meski aku harus berusaha untuk menelan ludahku dengan susah payah. Ku lihat ia tersenyum lagi, menghirup segelas minuman ditangannya. Aku tidak mengenalnya. Aku tidak mengenal siapa wanita ini.

“Kedengarannya kau belum bisa memaafkanku.”

Aku tersenyum lemah.”Kau lupa kalau saat itu aku melarangmu untuk minta maaf? Tidak ada yang perlu dimaafkan.”

“Kau benar. Kau selalu benar, Chokyu.”

“Dan berhenti memanggilku seperti itu.”

Ia diam. Mungkin terkejut dengan perkataanku barusan. Tapi ketika aku menoleh sebentar padanya, ia justru masih tersenyum sambil memandang air mancur di hadapan kami seakan ada hal lucu disana.

“Kau terlalu banyak melarangku. Kali ini kau tidak bisa lagi melakukan itu.”

Belum sempat aku membalasnya, aku lebih terkejut ketika ia mendaratkan telapak tangannya di atas tanganku.

Untuk beberapa saat aku ingin membalasnya. Aku ingin merasakan kehangatan itu. Tapi kemudian aku sadar bahwa bahkan rasanya tak sama. Aku seperti disentuh oleh tangan orang lain.

Aku masih ingat saat pertama kali aku berani menggenggam tangannya. Saat itu hujan deras dan kami berteduh di depan gedung bioskop. Ia berdiri dengan tubuh menggigil dan itu membuatku tak bisa memikirkan apa-apa selain ingin lekas menghangatkannya. Maka ku raih tangannya, kugenggam perlahan hingga akhirnya aku bisa merasakan ia membalasnya.

Saat itu…..secara mendadak aku tak merasakan dingin lagi. Aku tidak merasa sedang ada hujan deras di depan kami. Ada sesuatu yang menjalar ke seluruh tubuhku, mengirimkan rasa hangat dan membuatku yakin bahwa ia pun merasakan hal yang sama.

“Aku senang bisa melihatmu lagi. Dan aku juga senang karena album pertamamu sukses.”

Aku memaksakan tawa. “Jika kukatakan lagu itu kubuat untukmu, apa kau akan mengucapkan selamat?”

Langsung ku jauhkan tanganku. Aku bisa merasakan ia tak melawan atau berusaha untuk kembali meraihnya.

“Aku menulis lagu itu saat aku berdiri di titik yang sama hanya untuk menunggumu. Aku berdiri seperti orang bodoh disana. Tapi kau tidak pernah datang.”

Dengan ekor mataku, aku bisa melihat tubuhnya tak lagi tenang.

“Namun aku teringat dengan permintaan dan janjiku kala itu untuk tidak mengingatmu lagi. Maka jika sekarang kau ingin bertanya atau mengasihaniku, bisa kuyakini kalau aku baik-baik saja.”

Perlahan-lahan aku mencoba rileks dan sedikit menyandarkan tubuhku ke sandaran kursi. Aku berusaha membuat suasana tegang ini berubah nyaman seakan kami hanya kawan semasa sekolah yang sedang melakukan reuni kecil-kecilan.

“Untuk beberapa waktu aku memang berpikir bahwa aku mengharapkan kedatanganmu dan aku sangat munafik. Tapi kemudian aku sadar aku salah menilai diriku sendiri.”

“Aku tahu apa yang kau simpulkan. Tapi aku kembali karena aku memiliki tujuan. Karena aku ingin…”

“Ingin memberitahuku bahwa kau sudah mendapatkan apa yang kau cari saat itu?” Aku menatapnya tajam. Aku lelah. Hanya beberapa detik aku bisa berlagak tenang di dekatnya. Aku tak bisa menahannya lagi.

“Kau ingin mengatakan bahwa kau sudah sukses? Kau mau bilang kau senang bisa lepas dariku? Kau kemari untuk memperlihatkan padaku bahwa kau sudah bahagia? Oh, atau ada seseorang yang ingin kau kenalkan padaku? Kau tampak sangat menikmati semuanya. Apa kau juga ingin menertawakanku?”

Aku puas mengeluarkan semuanya dan nafasku mulai tak beraturan. Untuk beberapa saat kami bertatapan dan aku benar-benar tak mengerti apa yang ia pikirkan. Sebelum aku kehilangan kendali, aku berdiri, langsung berjalan meninggalkannya.

“Kapan kau belajar untuk mendengarku lebih dulu?”

Aku berhenti. Kuremas jasku sendiri dan berusaha untuk kembali melangkah. Tapi…..

“Kapan kau memberiku waktu untuk bicara? Kupikir kau sudah berubah.”

Aku tak terima dengan perkataannya dan langsung membalik badan. Tapi yang kutemukan membuatku terdiam. Ia menangis.

“Aku kembali demi seseorang. Aku kembali demi dia yang tidak mengakui bahwa perasaan itu masih ada. Aku kembali untuk mengatakan padanya bahwa aku memilihnya, bahwa aku sudah melepas segalanya. Aku kembali untuknya. Hanya untuknya, bukan untuk diriku, bukan orang lain.”

Aku tersenyum pahit. Ingin sekali aku mempercayainya. Tapi semuanya sudah berbeda. Sejak ia memutuskan untuk pergi, saat itu juga semuanya tak lagi sama.

“Aku pikir kau juga sudah berubah. Tapi lihat! Apalagi yang akan kau lakukan setelah ini? Kau ingin aku menerimamu, lalu nanti kau tiba-tiba pergi lagi, aku menunggu lagi, kemudian kau kembali, seperti itu? Sayangnya aku sudah tidak punya waktu untuk permainanmu.”

Aku kembali berbalik dan tanpa menunggunya aku segera berjalan.

“Tapi aku tahu kau masih mencintaiku!”

Langkahku lagi-lagi berhenti. Aku tersenyum simpul. Sepertinya ia berpikir masih punya senjata.

“Perasaanku adalah masalahku. Kau tidak perlu repot-repot memikirkannya. Karena aku….” Aku menarik nafas sejenak, kupejamkan mata lantas melanjutkan, “Karena aku sudah punya alasan untuk melenyapkannya.”

Dan tanpa membiarkannya bicara lebih banyak lagi, aku bergegas pergi.

***

“Jadi kau berniat untuk melajang seumur hidup? Lantas bagaimana denganku?”

“Kau akan jadi pelayan rumah tangga di rumahku.”

“Tidakkah aku terlalu keren untuk itu?”

Aku berusaha ikut tersenyum mendengar interaksi Teuki hyung dengan kekasihnya itu. Sejak masuk dan membuat mereka semua lega karena kedatanganku, yang aku dapat hanyalah pertengkaran kecil antara keduanya. Aku jadi sangsi, apakah usia mereka benar-benar sudah kepala tiga? Gaya pacaran mereka bahkan lebih konyol dibanding pacaran anak muda jaman sekarang.

Kudengar wanita itu protes atas hasil wawancara Teuki hyung di sebuah media yang membahas soal pernikahan. Dan sebelum pertengkaran mereka menjadi pusat perhatian, Kangin buru-buru mengajak mereka berfoto bersama.

“Tidak mau!”

“Kenapa? Sekalian saja kuperkenalkan kau pada elf.”

“Iss…paboo….”

Tak sabar, Kangin hyung mengarahkan kamera. Ia dan Heechul sudah berpose dengan keren sementara Teuki hyung masih sibuk berdebat. Di detik terakhir, barulah Teuki hyung berpose dengan sendok dimulutnya.

“Kau berharap elf akan berkomentar seperti ini? Ah…oppa..kyeopta!! kenapa tak kau upload saja foto vulgarmu yang lain? Yang lalu masih kurang ekstrim.”

Aku mengabaikan mereka. Lama-lama lelah juga mendengarnya. Aku alihkan perhatian pada Sungmin yang sempat mendatangi meja kami dan memeluk kami satu persatu.

Aku ikut senang untuknya. Wajahnya sangat berbeda. Aku bisa menemukan aura yang sangat baik dalam dirinya saat ini.

“Dimana Donghae?”

Kami berpandangan. Dan setelah kuperhatikan, kutarik kesimpulan bahwa Sungmin tidak tahu apa-apa soal keadaan anak itu. Aku baru saja hendak buka mulut saat tiba-tiba saja makhluk itu muncul dihadapan kami dengan sangat ceria. Ia bahkan melompat-lompat seperti anak kecil yang baru mendapat mobil-mobilan.

“Paboya….apa yang kau lakukan disini?” seru Siwon yang langsung berdiri dan memeluknya singkat. Donghae, dengan wajah innocentnya itu hanya tersenyum dengan tidak jelas. Melihat wajahnya yang berseri-seri, sepertinya lagi-lagi aku bisa menebak apa yang sudah terjadi padanya. Oh, aku benar-benar hebat.

Kami pun kembali larut dalam obrolan panjang meski aku tak begitu mendengarkan dan hanya sesekali menanggapi. Teuki hyung sesekali menatapku seakan bisa membaca pikiranku. Aku berusaha lebih berbaur untuk melenyapkan rasa percaya dirinya itu. Aku juga sempat mengecek media socialku dan menemukan pesan yang dibuat beberapa member untuk menghibur elf diluar sana.

Aku tersenyum membacanya. Siwon dan Kangin kompak mengatakan bahwa mereka akan selalu mencintai elf. Yesung sibuk berselca ria sedang yang lain ikut dalam berbagai foto yang diambil. Dan dari semuanya, aku tak mau ambil bagian. Aku menjadi anak baik hari ini dengan menjahit mulutku serta mengikat kedua kaki dan tanganku.

Aku memutuskan untuk berdiri dan mengambil minuman lagi. Namun, pada langkah ketiga, aku menemukannya juga sedang berjalan ke arahku. Ia menatapku lebih dalam. Tapi aku lekas-lekas buang muka.

Aku tidak menghentikan langkahku. Aku terus berjalan sambil berharap ia akan berubah arah atau meja tempat aku mengambil minuman sudah dekat. Tapi semua tiba-tiba menjadi lebih lama hingga jarak antara aku dan meja itu lima kali lebih jauh. Dan saat aku meluruskan pandanganku, aku tahu harapanku sia-sia.

“Sebaiknya kita tidak saling mengenal lagi. Jika kita bertemu suatu saat nanti, jangan menatapku.”

Ketika kami akhirnya berpapasan, tak ada kata yang keluar. Aku masih ingat janjiku dan aku tidak mau merajut benang yang sudah putus. Inilah yang terbaik bagi kami.

Someday… we will meet again

Even though we don’t know where we will go

Someday…we will meet again

With already separated identities.

****THE END****

8 Comments (+add yours?)

  1. yulia
    Aug 20, 2015 @ 21:48:41

    boleh nangis ga thor??
    ga kebayang klo seandainya kehidupan mereka bener2 seperti itu,
    author keren bisa merangkai foto,moment dan lainnya dr SuJu jd cerita yg bikin readers terhanyut… kaya nyata aja…
    tetep semangat ya thor…

    Reply

  2. esakodok
    Aug 20, 2015 @ 22:45:26

    hikhikhik..akhirnya merrka memutuskan untuk berpisah…tp kemungkinan dua duanya juga belum.bisa melupakan..sedih banget…menyiksa hati ini..galau mode on

    Reply

  3. Mrs. C
    Aug 21, 2015 @ 06:02:53

    OMG
    Biasanya jarang banget terharu sama FF sampe mewek2. Tapi pas baca FF ini rasanya sedih banget. Dan gara2 FF ini, aku jadi nyadar kalo mereka emang bkn anak kecil lagi. –” NIce FF thor z:)

    Reply

  4. dewievkyu8
    Aug 21, 2015 @ 10:20:56

    OMG!!! tralala, ff.x bkin saya mewek😦 dasar kyuhyun, situ masih cinta.xn ma dia tp knpa respon.x jd gtu, apa karna sakit hati krna d tinggal.in . . .ah lebih baik sama saya aja hahahaha #peaceELFandSPARKYU

    Reply

  5. Laili
    Aug 21, 2015 @ 19:27:54

    gila… ini keren bgt
    berasa kayak baca kisah nyata
    keep writing🙂

    Reply

  6. rskamei
    Aug 21, 2015 @ 23:00:06

    ngena bgt ini ceritanya:( sedih terharu ah bener2 ngebanyangin gimana aslinya kehidupan mereka
    daebak thor ditunggu versi oppa yg lain yaaa🙂

    Reply

  7. nurihandyn
    Sep 03, 2015 @ 01:13:53

    Kyuhyun sama aku aja sini =3= aku ga akan ninggalin kamu mbul❤ *abaikan*

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: