90 Days [1/?]

90 days cover part 2

GSD

90 Days [Part 1]

Cho Kyuhyun | Cho Ahra | Park Songjin | Park Jung Soo | Lee Donghae

Married Life, Sad, romantic.

PG – 15

Chaptered

Note: It’s a long long long story. Hoping you guys not getting bored J. please check out their ‘home’ if you feel interested to see their further lives on: myfictionworld20.wordpress.com

 

 

-Satu-

The Problem

*

“’Cause I can’t make you love me if you don’t. You can’t make your heart feel something it won’t. Here in the dark in these final hours, I will lay down my heart, and I’ll feel the power; but you won’t. No, you won’t.”

Bonnie Raitt, I can’t make you love me

*

Gangnam-gu, Seoul.

“memangnya perlu?” ada suara berat dan dalam yang Khas, yang membuat Songjin tidak langsung membuka pintu besar dihadapannya, melainkan berdiri setengah membungkuk sambil mendekatkan telinganya.

Dibalik celah kecil pintu tersebut, Songjin dapat melihat wajah rupawan Kyuhyun dibalik meja kerjanya. Mendadak napas Songjin bagai dipompa lebih cepat. Sialan, melihat wajah lelaki itu dari kejauhan saja telah membuatnya sesak napas.

Di detik yang sama, Songjin kembali menyadari bahwa dia sungguh telah jatuh cinta setengah mati dengan lelaki tampan berkulit putih susu disana.

Melihat wajah ketus, namun rupawan bagai wajah-wajah para dewa tersebut setiap pagi setiap detik, menit, jam, hari, bulan, ternyata tak membuatnya merasa bosan juga.

Cukup lama Songjin menunggu saat dimana dia akan bosan, melihat wajah galak itu ketika dirinya berpapasan. Atau ketika lelaki itu tengah duduk diam sambil membaca buku— yang mana adalah pemandangan rutin dimalam hari sebelum mereka sama-sama menyelesaikan aktivitas pada hari itu dengan tidur bersama.

Namun, nyatanya, dia sungguh tak pernah merasakannya. Entahlah, atau mungkin belum. Ini baru tahun pertama dirinya dan lelaki itu menikah. Mungkin seperti kata orang-orang, pengantin baru, segalanya masih terasa indah. Mungkin seperti itu. Atau mungkin , memang dirinya sajalah yang sudah terlanjur jatuh kelubang terdasar, tersesat, lantas tidak bisa menemukan jalan kembali dan akhirnya menyerah— menikmati saja rasanya jatuh cinta dengan lelaki itu. Itu adalah kabar buruknya.

Kabar baiknya, ternyata jatuh cinta rasanya sungguh menyenangkan. Terlalu menyenangkan. Perasaan berdebar. Sesak napas karena mendadak lupa bagaimana cara bernapas selalu dialaminya setiap kali lelaki itu berada disekitarnya. Itu membuatnya tidak bisa untuk tidak bertingkah aneh hingga pada akhirnya, lelaki itu akan menatapnya heran sambil bertanya ‘kau kenapa?’ lengkap dengan wajah menggelikan yang sungguh tidak dibuat-buat.

Lalu, nanti Songjin akan menjawab begitu polosnya, ‘kau tampan sekali.’ Dengan begitu gamblang tanpa memiliki urat malu, lantas akan menertawai dirinya sendiri setelah berkata lagi kepada Kyuhyun, ‘aku mencintaimu.’

Seperti itu Park Songjin yang sedang dimabuk cinta. Satu tahun hidup bersama dengan lelaki berahang tegas itu membuat akal sehatnya sempat hilang. Dan satu tahun tidur diranjang yang sama dengan Kyuhyun, membuatnya sering lupa cara bernapas— karena sering kali, waktu tidurnya terbuang sia-sia hanya untuk memandangi wajah rupawan lelaki dengan marga Cho tersebut.

Sebagian waktunya berisi gumaman mengenai betapa tampannya Kyuhyun, dan sebagian lagi adalah ucapan syukur karena berhasil menikahi Kyuhyun. Walau kadang, Songjin selalu merasa, berhasil menikahi suami tampan-rupawan-super cerdasnya itu adalah sebuah kata lain dari lenyapnya keberuntungan miliknya sampai 5 tahun kedepan.

Tidak apa-apa. Keberuntungannya akan kembali lagi nanti jika sudah waktunya kembali.

“tentu saja perlu. Menurutmu, apa bisa pernikahan berjalan lancar, baik-baik saja tanpa adanya cinta??”

suara dalam nan berat itu tidak terdengar cukup lama. Songjin merapatkan tubuhnya lagi kepintu. Berusaha setengah mati melihat wajah Kyuhyun dari celah yang tidak seberapa besar itu disana. Kyuhyun tampak sedang mencorat-coret sesuatu dengan pulpen ditangannya.

Lalu, Kyuhyun membuang napas kencang memainkan pulpen itu disela jari-jarinya. Bibirnya mengerucut ketika dia berpikir. “Um—“ suaranya mulai terdengar. “bisa.”

“bisa?”

“tentu.” Pulpen disela-sela jari Kyuhyun berpindah tergeletak dimeja. Kyuhyun mengganti posisi duduknya menjadi lebih santai— bersandar dikursi kerjanya yang besar sambil menarik napas panjang, lalu membuangnya perlahan-lahan. “kau tahu teori tentang cinta datang karena terbiasa?? Kau bisa mempraktekannya dikehidupan nyata. Kehidupanmu.”

Lalu suara wanita itu terdengar memekik diawal, namun berakhir dengan tawa terkekeh sama kencangnya dengan pekikan tadi. “maksudmu kau sedang memberikan saran mengenai apa yang kau lalui dihidupmu, Cho?”

Kyuhyun tampak tertawa sama gelinya. Kepalanya menggeleng, namun dua alisnya naik dan turun seolah mengatakan jawaban berbeda, “Hei,” wanita yang sejak tadi hanya terdengar suaranya itu berjalan. Berdiri tepat disamping meja kerja kayu Kyuhyun, menumpukan dua tangannya disisi samping meja besar tersebut, “aku penasaran,” katanya mulai mencondongkan tubuh, “bagaimana awalnya kau jatuh cinta dengan wanita itu?”

“wanita itu?”

“istrimu.” Sayup terdengar helaan jengah “Songjin. Maksudku Songjin.”

Lalu terdengar decakkan menjawab lebih dulu, “apa aku terlihat sedang jatuh cinta?”

“kau tidak mencintainya?”

“apa aku bicara begitu?” duduk Kyuhyun berganti posisi lagi. Kini pria itu menumpukan satu lengannya ditangan kursi sambil menyengir lebar, “jadi kau mencintainya?”

“bukankah itu kewajibanku, dan Hak nya untuk mendapatkan hal itu?”

“maksudku… kau mencintai istrimu karena kau memang mencintainya. Bukan karena kewajiban, atau hak blablabla—“

“aku menyukainya.”

“suka?”

“mm.”

“cinta?”

“coba saja kau tebak sendiri seperti apa! Kau kan senang mengamati banyak hal. menurutmu bagaimana?”

wanita itu tampak diam memerhatikan Kyuhyun seksama. Seolah dengan memandangi wajah Kyuhyun, membuatnya dapat berpikir. Sungguh berbanding terbalik dengan Songjin yang malah ketika berpikir dan Kyuhyun berada disekitarnya, percayalah, otaknya akan secara otomatis menjadi tumpul.

Songjin bukan wanita bodoh. hanya saja terlampau sering menjadi bodoh ketika Kyuhyun berada disekitarnya. Sedangkan Kyuhyun memang tak selalu berada disekiarnya. Pria itu sibuk bukan main. Tapi bukan berarti Songjin tidak bisa memposisikan dirinya untuk bisa terus berada disekitar Kyuhyun, ‘kan?

Nah, mungkin, itulah pokok permasalahan utama Songjin. Lihatlah sendiri bukti pepatah tentang apa-apa yang berlebihan tidak akan menjadi bagus.

Jika jatuh cinta terlalu dalam, dapat disama artikan komulatif banyaknya perasaan yang digunakan, bukankah itu berarti juga bahwa Songjin baru saja berlebih-lebihan dalam merasakan jatuh cinta? Apa itu baik? Coba pikirkan sendiri saja!

“menurutku tidak.”

“Ohya?” Kyuhyun memajukan tubuhnya lagi— tampak tertarik dengan hasil analisis amatir lawan bicaranya tersebut, “kenapa tidak?”

“karena— kau masih mencintaiku!!”

“HAH—“ Kyuhyun mendengus, “itu hasil analisismu?” lalu tampak kecewa berlebih, “itu yang kau pelajari selama mengambil master psikologi sampai ke Canada?”

“kurang lebih.” Bahu wanita itu bergerak menandakan bahwa dia sungguh tidak peduli apapun. Kyuhyun mendesis lagi mempertontonkan kekecewaannya namun dibarengi dengan raut geli pada wanita disampingnya itu, “sia-sia saja dulu aku melepaskanmu untuk melanjutkan pendidikanmu kalau hasilnya seperti ini. kalau tahu hanya begini, lebih baik dulu kunikahi saja kau. sekarang mungkin kita sudah memiliki sepuluh anak.”

“Nah—“ wanita itu menepukkan dua tangannya hingga menghasilkan suara kencang. “benar kan! kau masih mencintaiku!!”

 

~~ ~~

 

 

Selepas menguping secara diam-diam yang sebenarnya tidak direncanakan sama sekali itu Songjin langsung mencoret 3 jadwal teratasnya untuk siang itu.

Mengajak Kyuhyun makan siang bersama, gagal. Meminta Kyuhyun agar menemaninya berbelanja, gagal. Dan memohon Kyuhyun agar dapat menyisihkan waktu untuknya disela kesibukan pria itu yang menyeramkan, agar mau menonton film dengannya, pun ikut gagal.

Semua rencana manis susunan Songjin untuk siang itu batal tanpa bersisa. Percakapan sialan yang tak sengaja— Um, semi tak sengaja didengarnya itu membuat suasana hatinya menjadi kacau. Kakinya mendadak lemas. Berhasil membuatnya kembali dengan tangan hampa kerumah lengkap berbonus tangisan.

Jadi, seperti ini rasanya patah hati? Ternyata benar apa yang para penyanyi tuangkan kedalam lagu-lagu mereka. Rasanya sungguh buruk. Rasanya, seperti baru saja ada orang tidak dikenal yang tanpa ada angin dan hujan, menusuknya ketika dia sedang berjalan seorang diri dijalanan.

Lalu dia terjatuh tapi orang-orang disekitarnya terus berjalan seolah dirinya adalah makhluk takasat mata. Pada akhirnya, dia berada dipinggir jalan sendiri dalam kondisi kritis.

Tunggu sebentar— ini patah hati? Apa tidak terlalu cepat menyimpulkan? Lagipula tadi, Songjin tidak mendengarkan percakapan sialan itu sampai habis, ‘kan?

 

Songjin langsung melesat pulang karena merasa tidak sanggup lagi melanjutkan ulahnya sendiri. memangnya siapa yang menyuruhnya menguping seperti itu? Dan bukankah menguping adalah hal yang kurang baik? Kalau begitu, kenapa tidak dianggap saja bahwa yang tadi didengarnya, adalah balasan dari kenakalan karena dia baru saja melakukan hal yang tidak semestinya?

Tapi sungguh. Ucapan-ucapan Kyuhyun tadi tidak main-main menyakitkannya jika kembali diulang, didalam kepala Songjin. Rasanya, selama ini sia-sia sajalah yang dilakukannya. Ternyata Kyuhyun tidak mencintainya.

Lalu sebenarnya, apa yang mendasari pria itu setuju menikahninya? Uang? Rasanya tidak. Songjin hadir dari keluarga berkecukupan namun Kyuhyun hadir dari keluarga yang lebih berkecukupan. Pria itu sendiri memiliki hidup jauh-lebih berkecukupan— hasil keahliannya sendiri dalam membuat program-program games.

Perjodohan? Mungkin. Songjin ingat, awal perkenalannya dengan Kyuhyun adalah ketika ibunya— Park Aeri dan Kim Hanna bersikeras mencoba untuk saling mendekatkan anak-anak mereka.

Ada kencan yang rasanya terlalu dipaksakan, walau berjalan seperti kencan pada umumnya. Berjalan-jalan, melakukan hal menyenangkan, makan, sampai kembali pulang ketempat masing-masing lagi.

Cantik? Karena wajahnya yang cantik? Lekuk tubuhnya yang dipastikan membuat pria-pria meneteskan liur?

Rasanya Kang Min-Kyung, wanita lawan bicara Kyuhyun tadi diruang kerjanya, yang sanggup membuat Songjin diam membisu sampai seperti ini memiliki wajah jauh lebih cantik. Memiliki tubuh, bukan main lebih menggiurkan dibanding Songjin sendiri.

Kang Min-Kyung memiliki tipe wanita idaman para pria. Idaman Kyuhyun juga salah satunya. Tentu saja, jika tidak, mana mau dulu Kyuhyun berpacaran dengan Min-Kyung begitu lama?

Memikirkan perbedaan dirinya dan Min-Kyung membuat Songjin nyaris lupa waktu. Keseriusannya diakhiri dengan suara kencang terlipatnya lagi laptop miliknya. Kyuhyun menutupnya dalam satu kali hentakkan. “apa?” pria itu yang sebenarnya adalah tersangka utama, malah memberikan pertanyaan kepada orang yang seharusnya memberikan pertanyaan padanya.

“sudah pukul sebelas.” Kata Kyuhyun mengingatkan. Namun wajahnya tak terlihat kecemasan bahwa setidaknya— pukul 11 malam bukanlah jam tidur istrinya. Songjin biasa tidur pada pukul 9 malam. Tepat 9 malam.

“sebelas?” mata Songjin berkedip-kedip. Kepalanya bergerak kesana-kemari, agak sedikit linglung ketika mencari jam dinding. Matanya lantas mendapatkan jarum jam panjang tepat berada diangka 11 dan pendek di 12.

Benar. Sudah pukul 11.

Tunggu dulu! 11? Benarkah? Tapi tidak ada kantuk sedikitpun yang Songjin rasakan, padahal biasanya, lewat tiga puluh menit saja dari jam tidur rutinnya Songjin telah menguap puluhan kali. “mm, sebelas.” Kyuhyun tampak malas mengulang— mengingatkan Songjin mengenai pukul berapa saat ini.

“kau ingin tidur sekarang?” pertanyaan Songjin menaikkan sebelah alis Kyuhyun perlahan-lahan. Tentu saja ingin tidur, apa itu semacam pertanyaan retoris?

Kyuhyun berkata didalam hatinya sambil memerhatikan wajah bingung Songjin. Seperti baru saja ada yang menarik nyawa Songjin dari dalam tubuh wanita itu lalu sekarang, nyawa itu telah kembali, namun sayang belum sepenuhnya.

Songjin terang-terangan menunjukkan reaksi hampa ketika Kyuhyun mengajaknya berbicara. “memangnya kau ingin berjaga disini sampai pagi?” Kyuhyun bertanya lebih retoris. Jika Songjin mengajaknya berbincang dengan kalimat-kalimat berbau retoris, dia dapat menyanggupinya saat ini.

Mata bulat besar Songjin mengerjab-kerjab puluhan kali. Bibir tipis, mungil wanita itu bergerak-gerak tapi tak mengeluarkan sedikitpun suara pada awalnya. Hanya “huh?” yang Kyuhyun artikan sebagai, ‘masih lenyapnya nyawa Park Songjin separuh’ menyambut pertanyaannya. “kau sakit?” dalam dua detik, separuh wajah Songjin telah menggelap karena telapak besar Kyuhyun mendadak menempel dikeningnya.

Ini adalah pertama kalinya, terdapat rasa tidak nyaman yang Songjin rasakan saat kulitnya bersentuhan dengan kulit Kyuhyun. Biasanya, Songjin akan merasakan sengatan seperti sengatan listrik, lalu kemudian, ada rasa senang yang tak normal, saat hal itu terjadi.

Kali ini berbeda. Ini berbeda. Songjin tahu bahwa mungkin ini adalah awal yang tak baik. Mungkin. Tapi entahlah. Tapi sensasi gemerlap berlebihan itu, diyakinininya kini telah berkurang kadarnya.

Sementara Songjin masih memikirkan mengapa bersentuhan dengan Kyuhyun kali ini terasa berbeda, perlahan dia menyingkirkan tangan Kyuhyun dan membuangnya. Berkata, “aku baik-baik saja” sebagai kalimat pembuka atas penjelasan lainnya kepada Kyuhyun entah itu diperlukan oleh Kyuhyun atau tidak. Tapi Songjin tetap mengatakannya, “aku belum mengantuk, kau tidur duluan saja, tidak masalah?”

Ada keterkejutan kecil yang Kyuhyun temukan dalam penolakan sederhana tersebut. Songjin nyaris tak pernah sekalipun menolak atau membangkang perintahnya. Hampir. Hampir tidak pernah, maka tak ayal, kali ini Kyuhyun merasa heran, walau pada akhirnya kepalanya bergerak mengangguk saja menyatakan setuju, “oke” katanya kemudian berjalan santai seorang diri menuju kamarnya.

Lantas dimalam itu, Kyuhyun menemukan dirinya sendiri bukan tidur melainkan berbaring santai diranjangnya. Matanya dengan jeli memerhatikan jam dinding. Memerhatikan secara detail setiap detik berubahan jarum disana. Setiap menit perubahan jarum pendek dan jarum panjang.

Songjin belum juga masuk kekamar. Apa yang dilakukan wanita itu sebenarnya? ini sudah pukul satu pagi! Memangnya apa yang Songjin lakukan sampai merasa belum mengantuk? Padahal biasanya, pukul 9 saja mulutnya sudah berisik berkata ‘aku mengantuk… ya ampun.. apa aku bisa terbang saja kekamar? Aku tidak sanggup berjalan lagi.’

Apa Songjin baru saja menaburkan bubuk kopi kematanya sampai merasa tidak mengantuk? Mengapa Songjin belum mengantuk selarut ini? memangnya apa yang dilakukan wanita itu satu hari ini??

Kyuhyun terus menerus memberikan pertanyaan-pertanyaan seperti itu kepada dirinya sendiri, dan merasa bingung dengan jawaban dari pertanyaan tersebut karena dia baru saja memberikan pertanyaan kepada orang yang salah.

Sudahlah. Memikirkan pertanyaan konyol seperti itu membuatnya ikut merasa tidak mengantuk. Kyuhyun segera menarik selimutnya tinggi-tinggi sampai menutupi kepala. Disaat yang sama, telinganya mendengar suara pintu terbuka dan tertutup. Ada suara karpet bergesekan dengan derap langkah kaki lantas tak lama, ranjangnya bergoyang heboh.

“Kyuhyun-ah?”

Kyuhyun mendapati bibirnya perlahan menarik ulasan senyum dari sudut tertinggi pada salah satu sisi. “kau sudah tidur??” Songjin menempelkan tubuhnya dipunggung Kyuhyun. “kau sudah tidur ya??” wanita itu mengulang, kini lengkap dengan nada kecewa yang nyata.

Sungguh, Kyuhyun sedang membayangkan seperti apa ekspresi Songjin saat ini. diwaktu yang sama, pria itu sedang menimbang apakah harus menjawab atau diamkan saja pura-pura tertidur. Setidaknya itu akan membuat kemungkinan adanya percakapan panjang ala Park Songjin sebelum tidur lenyap.

Tapi Kyuhyun mendesah pelan menyadari hatinya tak bisa bekerjasama dengan otaknya. “mau apa lagi Songjin? Jangan berisik aku lelah!” Kyuhyun menyamarkan sedikit tawanya dengan deheman berharap suaranya terdengar cukup meyakinkan, terdengar bagai seseorang yang telah tertidur setidaknya beberapa jam sebelumnya. Tapi pernyataan tentang rasa lelah dan berisik itu sungguh benar adanya tidak mengada-ada.

Songjin berbicara tepat ditelinganya. Itu salah satu penyebab polusi udara kalau wanita itu belum tahu. Ah— yeah, Songjin memang belum tahu karena kalau sudah tahu, dia pasti tidak akan melakukan hal seperti itu.

“Umm—“

Suara Songjin terdengar bergetar. Hanya dari suaranya saja, Kyuhyun menyadari bahwa istrinya sedang menimbang beberapa hal. Mungkin yang akan ditanyakan kepadanya.

Mungkin, itu terjadi karena Songjin tak tahu ulahnya selama ini bahwa sebenarnya sejak tadi Kyuhyun belum tidur sama sekali. Atau, mungkin juga, wanita itu ingin memberikan pernyataan lain.

Sebenarnya Kyuhyun sudah bisa menebaknya. Setiap malam Songjin akan mengatakan hal yang sama dilengkapi kecupan hangat sebagai pengantar tidurnya. Sadar tidak sadar, kecupan dan ucapan sederhana itu telah menjadi suatu rutinitas malam yang akan selalu Kyuhyun dapatkan.

Kyuhyun tahu itu.

Maka dalam diamnya, Kyuhyun menghitung didalam hati. Berapa lama waktu yang Songjin butuhkan kali ini untuk mengatakan hal tersebut. Biasanya setelah pernyataan itu, tak lama akan terdengar suara kekehan lucu Songjin. Sekarang mungkin sedikit berbeda.

Kyuhyun mendapati dirinya tengah gemas setengah mati karena Songjin tak kunjung bersuara lagi. Ruangan ini terlalu hening, jika seorang Park Songjin ada didalamnya.

Kyuhyun berdehem lagi, sebagai tanda sederhana bahwa dia tidak sedang tidur. Kode sederhana, bahwa dia masih menunggu. “apa..”

Apa?

Tidak. Ada yang berbeda malam ini. pernyataan itu tidak dimulai dengan kata apa, tapi aku. Jadi ini adalah keanehan kedua Songjin dihari ini?

Ah tidak. Tidak bukan yang kedua sebenarnya. ini adalah yang ketiga. Kyuhyun ingat pagi tadi Songjin telah bicara kepadanya, memintanya agar mau menemaninya berbelanja untuk keperluan rumah selama satu bulan.

Karena itu tadi Kyuhyun meminta Henry, asistennya agar mengosongkan jadwal miliknya selama kurang lebih lima jam kedepan setelah jam makan siang. Tapi sepanjang siang tadi, Songjin bahkan tidak memunculkan batang hidungnya.

Kyuhyun nyaris memaki Songjin melalui sambungan telepon yang sudah hampir tersambung ketika itu walau kemudian, buru-buru dibatalkannya. Beralasan, tidak ingin memiliki keributan dalam jenis apapun, Kyuhyun memilih diam dan mengalah saja.

Kekesalan hari ini tidak habis disitu saja. biasanya, setiap siang rutinitasnya akan mendapatkan ‘gangguan’ secara tidak terduga oleh hadirnya wanita banyak bicara itu yang tanpa memerdulikan apapun mendatanginya diruang kerja, menyeretnya pergi untuk makan siang bersama.

Siang ini, keributan rutin itu tidak ada. Pada akhirnya harus membuat Kyuhyun lebih jengkel lagi. Harus meminta Henry agar memesankan makan siang untuknya. dan membiarkan waktunya kosong sia-sia sampai 5 jam kedepan setelah makan siang.

Kalau Kyuhyun ingin mengamuk, dapat diyakininya sepanjang malam ini terdapat perdebatan yang tidak kunjung usai. Bukankah… itu merepotkan.

Jadi, hari ini, sesungguhnya Songjin telah memberikan 3 kesulitan untuknya? 3? Oh tidak. 4. Dan Kyuhyun mengingatnya secara mendetail. Sialan.

Diwaktu yang sama, keheningan masih mengisi ruang tidur disana. Sepertinya keduanya tidak berniat sedikitpun untuk mengisinya malam ini. tapi sesungguhnya, masih ada yang menunggu dengan sabar dalam diam, tanpa keduanya sadari.

Siapa? Kyuhyun? Songjin? Atau keduanya? Cobalah terka sendiri.

Kyuhyun lantas membuat suara dengkuran secara sengaja. Dia sungguh kesal kepada Songjin. Wanita itu selalu membuatnya menunggu seenaknya. Namun karena dengkuran kecil itu, ada kekesalan lain yang Kyuhyun dapatkan sebagai penutup hari. Kekesalan kelima.

“kau tidur? Kalau begitu yasudah—“

yasudah? Seperti itu saja? bukan itu seharusnya kalimat yang semestinya didapatkannya!! Bukan diawali dengan kata apa, juga bukan berisi kalimat ‘kau tidur? Kalau begitu yasudah’. Tapi ‘aku mencintaimu!’

ya ampun!! Seketika terdapat jutaan dorongan dari dalam diri Kyuhyun untuk menggoyang-goyangkan tubuh wanita itu agar kesadarannya segera kembali.

Malam ini Songjin nya tidak seperti biasanya. Songjin tidak pernah menjadi sesunyi ini. tidak pernah semembosankan ini, juga tidak pernah sedingin ini.

Tapi tunggu. Sebenarnya apa yang Songjin ingin katakan? kenapa dimulai dengan kata apa? Jika kalimat yang berawal dengan kata apa, bukankah sebagian besar berisi pertanyaan?

Jadi pertanyaan macam apa yang Songjin ingin utarakan sebenarnya? apa.. dia sedang ingin—

Oh, tidak. Kyuhyun tak sadar baru saja menunjukan seriangaiannya kepada tembok dihadapannya. wajahnya merah merona, hanya dengan memikirkan hal konyol itu saja.

Apa Songjin sedang mencoba memintanya? Lebih dulu? Itu— bukan hal yang tak pernah Songjin lakukan sebelumnya sebenarnya. tapi memikirkan itu entah mengapa membuat Kyuhyun ingin terbahak karenanya. Entahlah, ini tampak lebih lucu dari acara komedi ditelevisi!

Jadi Kyuhyun segera membalik tubuhnya usai melenyapkan cengiran tolol itu dari wajahnya, namun terkejut mendapatkan pemandangan punggung yang Songjin sediakan untuknya.

berapa kali mereka tidur bersama? Setiap malam ‘kan? dan seingatnya, tak pernah sekalipun Songjin memberikan pemandangan semembosankan itu padanya. Songjin sering berkata bahwa malam adalah hal menyenangkan kedua yang disukainya. Itu karena setiap malam Songjin dapat dengan bebas memandangi wajah rupawannya tanpa ada interupsi, tanpa ada yang mengganggu.

Jadi apa sekarang Songjin telah bosan dengan wajahnya?

Ditengah aktivitas berpikir—tanpa henti— seorang lelaki ber-IQ tinggi malam itu. Diatas tanjang, terdapat dua pasang mata yang sebenarnya belum benar-benar terpejam. Sama-sama, belum ada yang mengistirahatkan tubuh masing-masing setelah aktivitas harian mereka yang melelahkan.

Salah satu kepala sedang penuh dengan tanya tanya. Pertanyaan ‘mengapa?’, ‘bagaimana bisa?’, ‘ada apa?’, ‘apa yang salah?’ dan salah satu kepala lagi baru mendapatkan sebuah kepastian yang telah dipikirkannya secara masak-masak selama satu hari ini.

Tekadnya bulat. Tidak dapat diganggu gugat lagi. Dia sungguh yakin dengan modal akumulasi ingatan atas sikap-sikap Kyuhyun selama ini padanya. Cara pria itu memperlakukannya. Cara Kyuhyun berbicara padanya.

Ada satu hal lagi yang diingatnya. Sebagai pembuktian tertinggi bahwa yang dilakukannya selama ini adalah sia-sia. Percakapan Kang Min-Kyung dengan Kyuhyun siang tadi, adalah kalimat terpanjang penuh ekspresi yang pernah dilihatnya sepanjang eksistensi hidupnya— sepanjang tinggal bersama dengan Kyuhyun.

Dengannya, Kyuhyun hampir tak pernah berbicara sebanyak dan sepanjang itu. Menunjukan ekspresi wajah sebanyak itu. Menggunakan kalimat menggoda, semenarik itu. Dan tak pernah terlihat sehangat itu.

Ada kesimpulan sederhana yang lantas Songjin dapatkan, bahwa hal ini tak bisa didiamkan lagi. Harus segera dihentikan.

Ini, harus dihentikan.

 

 

-Dua-

The Shocking News

*

“I ain’t gonna cry no and I won’t beg you to stay. If you’re determined to leave girl, i will not stand in your way. But inevitably you’ll be back again~ Cause ya know in your heart babe our love will never end no.”

David Cook, Always be my baby

*

 

Gangnam-gu, Seoul

10:30 KST

“Sajangnim bercerai?”

adalah pertanyaan dari mulut kemulut yang terus menerus Lee Sungmin dengar sepanjang koridor lobby sampai menuju ruang kerja utama dilantai 35 pada bangunan megah tempat perusahaan developer games terbesar di Korea Selatan— Millennis berada.

Para pegawai disana sepertinya terkejut bukan main mendengar kabar rumah tangga atasan mereka dikabarkan retak. Oh, begini sebenarnya.. yang terjadi adalah terdapat pembicaraan mengkubu. Antar kubu pria dan wanita.

para pegawai pria merasa tak heran dengan pemberitaan itu. Banyak dari mereka, selepas mendengar berita tersebut hanya menggidikkan bahu sambil berujar, “terang saja— siapa yang tahan hidup bersama lelaki seperti itu?”

Dan para pegawai wanita, tampak seolah baru mendengar berita bahwa pangeran dari kerajaan Inggris, Henry Charles Albert David atau Pangern Harry sedang membuka sayembara pencarian istri besar-besaran.

Bukan raut duka yang seharusnya mereka tunjukkan karena bahwa setidaknya, perceraian bukanlah berita gembira yang patut mendapatkan sambutan suka cita. Kebanyakan para pegawai wanita berkumpul berkelompok membicarakannya. Berbisik-bisik bergossip ditengah jam kerja. Pertanyaan yang berputar pun semakin membesar dan membesar.

Awalnya hanya dimulai dari satu lingkup kecil ditengah rapat sederhana. Hanya 5 orang saja yang mengetahui ketika Lee Sungmin meringsek masuk mengganggu rapat tersebut berusaha menyeret CEO yang terkenal terlalu-ketus-hingga tak ada yang berani berurusan dengan pria tersebut kecuali jika keadaan mendesak saja.

Sekarang, mungkin lebih dari 50 orang yang mengetahui berita sederhana itu.

Oh— sebentar, itu bukan berita sederhana omong-omong.

“Cho Kyuhyun! Kau dengar aku tidak?”

“ruangan ini sepi dan sejak tadi hanya ada suaramu yang bicara tanpa berhenti. Menurutmu, aku dengar tidak??”

Ada nada sarkas Kyuhyun dalam menjawab pertanyaan Sungmin diawal tadi. sungguh, Kyuhyun bisa saja menjawab lebih daripada itu, tapi lelaki jauh didepannya itu, berusia 2 tahun lebih tua darinya.

Dia hanya merasa perlu untuk bersikap lebih sopan kali ini, “Hyung—“ suara sentuhan keyboard berhenti selama beberapa detik ketika tersangka utama— pemuda yang sedang santer dibicarakan banyak mulut itu mengangkat kepalanya untuk akhirnya, menatap lawan bicaranya.

“dia menggugatku bukan kau. seharusnya aku yang sedang setengah mati pusing, bukan kau. duduklah sebentar. Apa bokongmu yang besar itu tidak membuatmu pegal karena kau terus mondar mandir kesana kemari, huh?”

mata tajamnya yang kini sedang tampak layu karena rasa lelah— bekerja nyaris 24 jam berada didepan computer, bergeser pada sebuah kursi dihadapannya. dagunya bergerak— bukan hanya sedang mempersilahkan pemuda bernama Lee Sungmin tersebut untuk duduk, namun sesungguhnya juga untuk membuatnya dapat berpikir lurus mengenai permasalahan yang baru mendatanginya kali ini.

dan keberadaan Lee Sungmin dengan mulut yang tidak bisa berhenti mengoceh, tentu saja tidak membantu dalam segi apapun kecuali membuat bising— polusi suara, kepala semakin berdenyut dan umpatan dari mulut Kyuhyun yang sewaktu-waktu, sungguh dapat lepas tanpa kendali. “duduklah.” Perintah Kyuhyun tenang, menghela napas menggeser kursi kerjanya hingga lantas tidak berada dihadapan monitor computer yang selama hampir 24 jam puas memandangi pesona ketampanannya.

“Kyuhyun-ah—“

“renggangkan sedikit bahumu. Bahkan para militer memiliki bahu lebih santai daripada kau.” tak hanya berbicara, Kyuhyun juga mencontohkan seperti apa yang dimaksudnya, yang harus Sungmin lakukan.

“aku serius, Cho Kyuhyun, bersikaplah semestinya sebentar saja. kau baru saja digugat cerai oleh istrimu, kau sadar??”

Kyuhyun merespons pertanyaan kedua Sungmin dengan gerakkan pelan pada alis matanya. Itu sungguh pertanyaan retoris. Kalau dia tidak sadar, dia tidak akan berada diruang kerjanya dari pagi hingga pagi lagi.

Kalau dia tidak sadar, saat ini dia masih berada diranjangnya— memeluk guling dengan tubuh tertutup selimut. Bagaimana bisa pertanyaan bodoh semacam itu dilontarkan? Dan lagi, apa yang harus dipusingkan mengenai gugatan keparat itu?

Gugatan itu telah masuk kepengadilan dan sedang dalam tahap proses. Memakan waktu 90 hari menunggu tanggapannya atau jika dalam masa tenggang tersebut pengadilan tidak mendapatkan respon apapun, pengadilan akan mempercepat tuntutan.

Kyuhyun menghela napasnya perlahan. Sikapnya tenang. Terlalu tenang— mungkin, itulah yang membuat Sungmin uring-uriangan sampai mengira Kyuhyun tak peduli dengan urusan satu ini. tak ada yang paham bahwa sesunggunya, hanya pengendalian diri yang terlalu kuat sajalah hingga membuat Kyuhyun bisa tampak tenang setiap saat.

Entahlah, persoalan seperti ini seolah tak perlu terlalu dipusingkan lagi jika menurut sudut pandang Kyuhyun. Tuntutan itu sudah masuk kedalam pengadilan dan sedang diprosess. Memangnya apalagi yang bisa dilakukannya untuk membatalkan proses itu?

Dia hanya masyarakat biasa. Tak punya Kendali apapun terhadap hukum, pun Ahra kakaknya, biarpun wanita 29 tahun itu adalah seorang pengacara. Dan menikah dengan pengacara. Memiliki keluarga penegak keadilan bukanlah suatu yang bisa dibanggakan jika mendadak— terjerat permasalahan yang berurusan dengan hukum. Hukum tetaplah hukum yang harus terus berjalan seperti semestinya.

“lalu aku harus apa? Mengomel sepertimu juga tidak membereskan masalah.” tangan-tangan Kyuhyun tak bisa tinggal diam. Berhenti mengetik entah itu apa selama berjam-jam, kini sibuk membuka buka tumpukan berkas disudut mejanya. “gugatan itu sudah berjalan tidak bisa dihentikan kau tahu itu.”

Sungmin mendesah panjang. Bergerak menyambar dokumen yang sedang Kyuhyun pegang dan menindihnya dengan lengan. “kalau begitu lakukan sesuatu!” katanya mulai emosi.

Amarahnya tersulut saat melihat Kyuhyun tak melakukan apapun untuk mengatasi permasalahannya sendiri. “kau menjadi bahan gossip para pegawaimu, kau tahu?!”

Kedua alis Kyuhyun bergerak naik, “bukankah itu bukan rahasia lagi?” Kyuhyun tak pernah tak tahu bahwa dirinya selalu menjadi buah bibir para pekerjanya. Buah bibir keluarganya, buah bibir dimanapun dia berada. Seperti terdapat magnet yang membuat semua orang gatal, ingin membicarakan dirinya dan lagi-lagi Kyuhyun tak mempermasalahkan hal tersebut dengan dalih tak ingin membuang tenaga percuma. Itu seperti berperang sendirian melawan puluhan ribu pasukan kerajaan romawi. Akan berakhir sia-sia saja.

“kau harus melakukan sesuatu!” Sungmin terlihat gelisah ditempatnya. Sedikit membuat Kyuhyun merasa heran mengapa dirinya tak bisa bersikap sepanik itu diwaktu genting seperti ini, dan malah orang lain yang tidak berurusan apapun dalam permasalahan ini yang merasa panic?

“aku tahu.”

“kalau begitu lakukan sekarang!!”

“aku tahu Hyung. Aku tahu!” Kyuhyun bergerak menggeser kursinya lagi menuju computer sambil mendengus sebal kepada Sungmin. Tangannya bergerak-gerak menggerakan mouse dan suara khas pointer tersebut terdengar berulang kali. “tadi aku sudah membuat surat pengajuan mediasi.” Tutur Kyuhyun membuka.

Sungmin membisu selama beberapa saat seolah mencerna dan menelusuri bahwa sedari tadi, pemuda yang dianggapnya tenang bagai sebuah pohon besar yang sedang diterpa badai itu tak peduli dengan permasalahannya sendiri ternyata sedang mengusahakan sesuatu.

Namun lantas Sungmin mengingat hal lain, “tapi Songjin menolak adanya mediasi.” Pria itu kembali panic. “Yeah. Tapi pengadilan hanya akan menyetujui penolakan mediasi saat dua belah pihak mengajukannya.” Disudut bibir Kyuhyun, tampak secarik seriangan berbahaya menggambarkan betapa kemenangan sebenarnya tak begitu sulit untuk digapainya.

Kyuhyun tahu dirinya cerdas. Hanya tak menyangka bahwa dia secerdas ini. kemarin ditengah kepelikannya atas permasalahan keparat itu, Kyuhyun membaca baik-baik lembar perlembar didalam map cokelat pemberian pengacara Songjin, Kim Dong-Ah.

Lantas dilembar peraturan, terdapat pasal yang menurut Kyuhyun, dapat digunakannya senagai dalih mengulur waktu. Dia mendapatkan sedikit pencerahan mengenai cara mengulur waktu yang tepat namun tidak akan tampak dibuat-buat. Yakni mediasi.

Tidak masalah Songjin menolak adanya mediasi. Penolakan mediasi akan diterima jika kedua belah pihak mengajukannya sedangkan dalam kasus ini, hanya pihak Songjin sajalah yang mengajukan penolakan mediasi.

Lagi pula, sebenarnya ada beberapa keuntungan yang akan didapatkan Kyuhyun dari proses mediasi. Pertama, mengingat Songjin sedang terlalu sulit untuk ditemui, bukan Kyuhyun tidak menyadari bahwa Songjin memang sengaja menjauhinya, ini adalah cara tepat bagi Kyuhyun agar pertemuan itu dapat terjadi.

Proses mediasi akan memaksa Songjin, mau tidak mau pada akhirnya harus bertemu dengannya. wanita yang tidak ada angin tidak ada hujan, mengirimkan surat perceraian kepadanya itu tidak bisa menolak karena begitulah peraturan yang ada.

Kedua, pengadilan hanya memberikan waktu selama 90 hari saja untuknya sebagai tenggang waktu penandatanganan lembar gugatan. Jika dalam masa tenggang tersebut pengadilan tidak mendapatkan informasi apapun mengenai tuntutan tersebut, pengadilan akan mempercepat proses gugatan. Itu sama artinya dengan mempercepat statusnya sebagai duda.

Memberikan gossip secara cuma-cuma kepada banyak orang atas dirinya. Dan membiarkan ibu dan kakaknya mendindasnya mengenai permasalahan ini sampai waktu tak terhingga.

Tapi, jika mediasi dilakukan pengadilan akan membiarkan waktu guguatan berjalan seperti semestinya, yaitu 90 hari.

Dan ketiga, Kyuhyun begitu yakin bahwa rumah tangganya tak pernah mengalami masalah apapun. Dia dan Songjin nyaris tak pernah bertengkar. Dia akan selalu mengiyakan saja apa yang Songjin katakan, agar menjauhkan mereka dari percekcokan. Pun itu karena alasan yang sama tentang mengapa dirinya selalu tak menanggapi ulah para pegawainya yang selalu bergossip tentang dirinya.

Tidak ada pertengkaran apalagi orang ketiga. Tidak ada permasalahan besar yang sedang mereka hadapi hingga membuat mereka harus melakukan pisah ranjang. Dan kehidupan ranjang.. sepertinya baik-baik saja. sejauh ini Kyuhyun merasa puas-puas saja dengan tubuh Songjin yang kadang— tak tentu waktunya untuk digeyangi olehnya. Untuk permasalahan itu, biarlah hormon lelaki yang berkata. pun dia tidak pernah mendengar keluhan tentang Songjin yang merasa tak puas oleh tubuhnya. Jadi seks bukanlah persoalan disini.

Praktisnya, secara keseluruhan, kehidupan rumah tangganya terbilang aman— baik-baik saja. tidak ada keretakkan apapun. Jadi, jika mendadak terdapat gugatan seperti ini, itu artinya terdapat yang salah selama ini.

Jika Kyuhyun tak pernah merasa ada yang salah, itu artinya, dari pihak Songjin semuanya bermuara. Proses mediasi akan memberikannya waktu untuk mencari tahu apa-apa yang tak beres itu. Jika beruntung, dia akan membereskannya dan mengembalikan semuanya seperti semula. Menjadikan persoalan ini sebagai pelajaran agar tidak terulang untuk kedua kalinya.

Jika tidak, ya harus diapakan lagi? Tapi hey, selama ini apa pernah seorang Cho Kyuhyun terjeggal kegagalan?

“aku hanya butuh beberapa bantuanmu.” Kata Kyuhyun perlahan, mulai merubah nada bicaranya menjadi serius. dia mengambil secarik kertas dari alat print dimeja dibelakangnya. Melipatnya, lalu memberikannya kepada Sungmin. “aku butuh dua hal. Pertama, aku butuh pengacara. Dan kedua, jangan katakan apapun pada Ibu dan kakakku mengenai persoalan ini. biar aku sendiri yang mengatakannya langsung. Kau—“ Kyuhyun menarik napasnya, mulai tampak malas jika memiliki permasalahan, lalu dua wanita itu berada dibuntut sebagai embel-embel. “kau tahu betul kekacauan seperti apa yang akan terjadi kalau sampai mereka mengetahuinya”

 

 

 

Tiga

 

Her First Struggle

*

“Impossible to live with you, but I could never live without you. For whatever you do. I never, never, never want to be in love with anyone but you. I hate you, then I love you.”

Celine Dion, I hate you then I love you

*

 

Seocho-gu, Seoul

12:00 KST

ada suara tangisan yang tak terputus menggema didalam flat sederhana dilantai 8 itu. Songjin namanya. Wanita yang sejak tadi dibicarakan oleh banyak orang itu memiliki wajah mengenaskan.

Warna putih dari kulit asli wanita itu mulai tampak samar berganti warna menjadi kemerahan karena sejak pagi tadi, hanya ada dua hal yang Songjin lakukan. Pertama, menangis. Kedua, bergerak sebentar menuju kamar mandi lalu ketiga, kembali lagi menangis diruang santai.

Tidak perlu repot menebak mengapa Songjin menangis hingga meraung-raung. Membuat hidungnya, berwarna sama dengan warna badut ditaman bermain dan wajahnya, serupa dengan warna kepiting rebus. Mata wanita itu sendiri telah membengkak.

Satu satunya orang diruangan itu kecuali Songjin sendiri adalah Donghae. Lee Donghae namanya. Hanya bisa duduk termenung, tanpa bisa berkata apa-apa dan sebenarnya, cukup tidak mengerti dengan keputusan sahabatnya kali ini.

“kau yang memutuskan untuk bercerai. kau sendiri yang menangis seperti orang gila.” Lee Donghae telah mengatakannya berpuluh juta kali. Tapi Songjin sepertinya sedang terlalu sibuk meratapi nasibnya yang sebentar lagi akan menjadi seorang janda. “aku heran apa bedebah itu juga melakukan hal yang sama sepertimu sekarang.” Sindir Donghae tak peduli lagi jika air mata Songjin akan meluber lebih banyak daripada sekarang.

“batalkan saja.” kata Donghae tanpa berhenti mengunyah popcorn asinnya. Bukan— bukan menonton Songjin menangis karena itu Donghae membawa popcorn satu wadah besar, tapi dia memang sedang menonton sebuah film romantic karya Nicholas Sparks berjudul ‘a walk to remember’.

Tapi sebenarnya, Donghae tak bisa mencerna dengan benar apa yang para pemain disana katakan mengingat sebesar apapun dia menaikkan volume televisinya, akan kalah besar dengan suara tangisan Songjin.

Jadi yang Donghae lakukan hanyalah memandangi bibir-bibir para pemainnya saja sambil mengucapkan dialog-dialog merka. Ini adalah kedelapan kalinya Donghae menonton film romantic ini. sendiri. tanpa siapapun jadi sebagian besar, Donghae telah hapal diluar kepala urutan dialog yang akan dan sedang diucapkan para pemain disana.

Oh, teman menonton, maksudnya adalah, tanpa teman dalam tanda kutip. Bukan teman yang hanya bisa mengganggu dengan suara tangis merana saja.

Empat puluh menit berlalu. Televisi nyaris menggelap karena credits telah hampir habis tapi stock air mata Songjin sepertinya tak pernah habis sejak sebelum film manis tersebut mulai, sampai kini benar-benar berakhir.

Helaan napas Donghae akhirnya keluar lagi. Pria itu menoleh malas pada Songjin disofa diseberang kanannya. Songjin, sedang duduk bersila sambil meremas tissue ditangan kiri dan menekan hidungnya sendiri dengan tissue menggunakkan tangan kanan. Tak perlu tanya bagaimana bentuk wajah Park Songjin saat ini.

Donghae lantas melirik jam dinding. Pukul 4 sore. Dia harus istirahat sekarang, atau nanti dia tidak akan sanggup bertahan memnbuka mata ditempat kerjanya.

Lee Donghae bekerja disebuah kelab malam. Bukan, jangan dulu berpikir negative. Lee Donghae bukan bekerja sebagai pelacur lelaki atau pemasok pelacur. Atau pengedar narkoba, atau segala apapun hal yang berbau negative jika tempat tersebut diucapkan.

Lee Donghae adalah seorang DJ disalah satu kelab malam bernama ‘FAME’. Tugasnya hanya menjadi DJ pada pukul 9 malam sampai 3 pagi. Sebenarnya, menjadi DJ bukanlah pekerjaan tetapnya. Donghae baru saja terkena imbas dari pengencangan sabuk salah satu perusahaan tempatnya bekerja hingga membuatnya ter-phk bersama 100 pekerja lainnya.

Bukan karena kemampuannya yang buruk, atau pendidikannya yang tak sebanding tapi pengencangan sabuk pada perusahaan perusahaan belakangan ini sedang banyak dilakukan.

Pekerjaan semula Donghae adalah sebagai illustrator disebuah perusahaan iklan terbesar di Korea Selatan. pun nyatanya, perusahaan besar seperti itu tetap melakukan pengencangan sabuk, jadi tidak ada yang perlu diherankan lagi.

Selama menunggu mendapatkan pekerjaan lain, Donghae mengisi waktu dan mencari pendapatan dengan kemampuan lain miliknya dalam bidang seni-teknologi. Paham tentang pekerjaan para DJ diera-era masa kini, yang tak lagi menggunakan piringan hitam namun dengan laptop? Yeah. Seperti itulah kurang lebihnya.

Dikarpet, terdapat luar biasa banyaknya kertas tissue. Donghae mengerang terkejut— kembali duduk ditempat mengendurkan niatnya untuk pergi dari sana dan beranjak tidur dikamar. Mulutnya berdecak-decak bukan main banyaknya, “kau tidak pernah dengar istilah global warming ya? Kau tahu tidak bahan dasar tissue-tissue ini dari apa? Kau ingin bumi menjadi lebih krisis ya? Orang-orang sepertimu benar-benar memusingkan, kau tahu tidak?!!”

“Oppa—“

“berhenti menangis Songjin! Kau tahu bahkan Kyuhyun tidak peduli jika kau pingsan berulang kali karena menangis untuknya!” erang Donghae jengkel. “lusa mediasi pertama. Kau harus datang, kau tahu! Kau tidak mungkin datang dengan wajah seperti pengemis merana seperti itu, ‘kan?!!”

Tangisan Songjin mendadak terpause dengan sendirinya mendengar kata mediasi. “aku tidak mengajukan mediasi. Aku menolak mediasi.” Ujar Songjin tampak sulit menarik napas untuk berbicara. “tapi Kyuhyun tidak!”

“aku tidak peduli.”

Donghae mendengus, “tentu saja kau harus peduli! Penolakan mediasimu tidak akan ada gunanya kalau kedua belah pihak tidak mengajukan secara bersamaan. Jadi lebih baik, berhenti menangis, makan dan tidur saja kau sekarang. Karena lusa, kau tetap harus datang untuk pertemuan mediasi pertamamu dengan konsultan pernikahan, apalah itu— aku tidak paham. Kau baca sajalah dokumen-dokumen itu!!”

Songjin sepenuhnya berhenti menangis. Menyisakan senggukan yang mencekat pernapasannya. Dia sama sekali tidak tahu menahu mengenai penolakan mediasi yang hanya akan disetujui jika kedua belah pihak mengajukannya. Yang Songjin tahu, penolakan mediasi dapat dilakukannya.

Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi hingga sampai ketahap mediasi. Tekadnya sudah sangat bulat untuk berpisah dari Kyuhyun seberapapun rasa sesak yang sedang dirasakannya saat ini, dan mungkin, akan berkelanjutan hingga sampai diwaktu yang masih belum ditentukan.

Kim Dong-Ah tidak memberitahunya? Atau… telinganya saja yang sedang tak waras hingga tidak menyadari hal sekecil itu? Jadi, penolakan mediasi itu bisa diajukan atau tidak? “—dan jangan katakan padaku, kau belum tahu kalau Kyuhyun mengajukan permohonan mediasi?”

Songjin meneguk liurnya. Apa? Kyuhyun mengajukan apa? “penolakan— penolakan….” Bahkan lidah Songjin sungguh mendadak menjadi kelu. Yang didengarnya adalah benar? Bahwa Kyuhyun mengajukan? Kyuhyun yang mengajukan, atau pengacara Kyuhyun yang menyarankan pria itu untuk mengajukan mediasi tersebut?

“iya. Pengajuan mediasi. Kyuhyun mengirimkan surat itu kepengadilan melalui atas namanya sendiri. dia belum mendapatkan pengacara.” Bibir Donghae menarik ulasan senyum sengit mengingat wajah pemuda 26 tahun itu tampak selalu arogan dimatanya, lalu kini, pemuda arogan itu sedang mendapatkan batunya. “awalnya aku sempat heran juga. Tapi mendengar Kim Dong-Ah berkata bahwa Kyuhyun belum mendapatkan pengacara, itu sama saja surat yang permohonan mediasi itu dibuatnya sendiri tanpa bantuan siapapun— pengacara maksudku.”

“kau bercanda.” Songjin menaikkan level ketekejutannya— nyaris menjatuhkan rahang. “ya ampun Park Songjin, apa wajahku ini terlihat seperti sedang bercanda??”

 

-Empat-

 

The Mission

*

“What will it take to make you come back? girl I told you what it is and it just ain’t like that. Why can’t you look at me? You’re still in love with me, right?”

-Elliott Yamin, Wait for you

*

 

 

 

Nowon-gu, Seoul.

20:00 KST

kendaraan berwarna dark blue metallic milik Kyuhyun masuk kedalam sebuah garasi bawah tanah. Setelah dua hari terombang-ambing seperti seorang tunawisma— tidak memutuskan untuk pulang karena tak nyaman dengan kesunyian, namun menolak mentah-mentah untuk mendatangi keramaian pun karena tak nyaman dengan keramaian.

Lantas satu hari penuh dihabiskan diruang kerja saja, dihari ke empat ini, Kyuhyun memutuskan untuk pada akhirnya menyerah, bermalam dirumah Orang tuanya. Sebelumnya, Kyuhyun telah menyadari kemungkinan, hal-hal buruk seperti apa sajakah yang akan dihadapinya. Kyuhyun tidak pernah datang ke rumah Orang tuanya tanpa Songjin. Tidak sekalipun.

Sekarang, Kyuhyun datang seorang diri. Dengan keadaan lusuh, membawa buah tangan berita menggemparkan bahwa Songjin— satu-satunya menantu wanita yang pernah keluarganya miliki, yang terlalu sering mendapatkan sanjungan dari Ibu dan Kakaknya, yang sepertinya mendapatkan kasih sayang lebih banyak ketimbang Kyuhyun sendiri sebagai anak— baru saja melayangkan pengajuan perceraian kepadanya.

Kyuhyun mendapati dirinya berjalan perlahan-lahan menaiki undakan tangga menuju ruang tengah kediamannya, sambil memikirkan bahasa yang sebaiknya digunakan ketika berbicara kepada Ibu dan kakaknya nanti. Juga kalimat pembuka yang sebaiknya tidak salah dipilihnya, agar situasi tidak semakin rumit.

“Kyuhyun-nie?”

Ahra— dengan apron dan berada ditengah dapur— posisi dimana wanita itu selalu ditemukan ketika Kyuhyun berkunjung kemari, adalah orang pertama yang menyadari kehadirannya.

Kyuhyun baru menggumamkan doa, ‘semoga eomma sedang tidak ada’ namun doanya mungkin tak selalu dapat dikabulkan. Setelah seluruh anak tangga berhasil diinjaknya, Kyuhyun mendapati sosok wanita separuh baya dengan rambut hitam itu tengah duduk disofa sambil memegang kotak tissue. Menonton serial drama yang menguras air mata.

Kim Hanna— Ibunya, hanya menolehkan kepala sesaat saja kepada Kyuhyun lalu memandang televisi lagi. Kyuhyun bergumam gemas didalam hati diam-diam meratapi posisinya dalam keluarga intinya, walau sebenarnya, hal seperti itu terhitung lebih aman daripada Ibunya sedang tidak melakukan apapun dan pada akhirnya menyadari bahwa Kyuhyun datang sendirian.

Kyuhyun tak sadar, ada helaan napas yang dikeluarkannya sebagai tanda protes takasat mata. “kau sendiri?” kemudian adalah pertanyaan kedua dari Ahra yang sanggup membuat Hanna menoleh sempurna melupakan tontonannya.

Kyuhyun berhenti sejenak. Tadi dia sudah merasa aman dan berpikir untuk segera tidur saja dikamarnya. Tapi pertanyaan keparat itu tak disangkanya muncul juga disaat dua wanita berisik disana sedang sibuk dengan urusan mereka masing-masing. “Y— yeah. Kurasa beg—“

“kurasa??” Ahra nyaris memekik. “jadi kau meninggalkan Songjin sendiri dirumah?”

“huh?”

“kau langsung dari kantor??” Hanna ikut bertanya kemudian. Menggosok hidungnya yang telah merah hingga semakin berwarna kemerahan saja.

“bukan.” Kyuhyun menggaruk kepalanya seraya mengerjabkan mata. Bingung harus menjawab apa— dengan dua pasang mata menatapnya penuh kejut. Penasaran dan mungkin rentetan tuduhan telah berjejer rapih untuk dikeluarkan satu persatu. “itu—“

 

~~ ~~

“BERCERAI??”

“NOONA!!” cepat-cepat Kyuhyun menyambar kepala kakak perempuannya dan langsung membekap mulut kecil namun memiliki suara sepuluh kali pengeras suara itu. “jangan kencang-kencang!!!”

Diakui saja. saat ini Kyuhyun sedang merasakan panic keduanya setelah kakaknya bersuara sekencang itu. Jika ibunya mendengar, permasalahan ini akan menjadi lebih rumit.

Hana pasti tak akan tinggal diam jika tahu Songjin dan Kyuhyun akan bercerai. wanita itu jelas Nampak lebih menyayangi satu-satunya menantu wanitanya itu ketimbang putranya sendiri. begitu menurut Kyuhyun.

“bagaimana bisa??”

“percayalah, kalau aku tahu alasannya, aku tidak mungkin datang kemari.” Dengus Kyuhyun meradang. Sampai saat ini dirinya sendiri pun masih tak mengerti mengapa Songjin melayangkan gugatan cerai padanya.

Biasanya otaknya sungguh cerdas dapat cepat menemukan alasan dibalik banyak hal yang terjadi namun, kali ini rasanya berbeda. Satu-satunya alasan yang Kyuhyun miliki dan terdengar tolol jika diungkapkan adalah hanya anggapan bahwa, “mungkin aku tidak tampan lagi. Jadi dia bosan denganku.” ujarnya berputus asa.

Ahra tak pernah melihat Kyuhyun tampak sepayah itu. Hal itu membuat dirinya akhirnya dapat percaya pada penjelasan Kyuhyun bahwa adiknya itu memang tak tahu apa-apa, alasan Songjin meminta cerai padanya. “kau yakin tidak pernah melakukan hal yang mungkin—“

“noona” Kyuhyun menyela dengan desisan diawalnya, “sudah berapa kali kukatakan, kami baik-baik saja. tidak pernah ada pertengkaran apapun.”

“bagaimana dengan—“

“seks? Aman.”

“anak?”

“HAH.” Kyuhyun mendengus kencang “kami baru menikah satu tahun langsung memiliki anak adalah sebuah keharusan? Memangnya aku tidak bisa memonopolinya dulu sebelum pada akhirnya aku akan disingkirkan dengan anakku sendiri?” mata Kyuhyun berputar malas.

Ahra terdiam. Lalu tak lama bersuara lagi, “uang?” tanyanya juga tidak memiliki ide lain atas alasan permasalahan Kyuhyun. Sedangkan Kyuhyun kembali memasang wajah penuh tanya kepada kakaknya bersama dengan rasa jengkel teramat sangat, “apa aku terlihat seperti laki-laki yang senang menelantarkan wanitaku dengan keadaan dompet yang menyedihkan, noona?” ucap Kyuhyun sengit.

Ahra melemparkan tubuhnya disofa hitam dibelakangnya. Tangannya mengusap perutnya. Bukan karena sedang lapar melainkan bayi didalam perutnya itu baru saja menendang cukup kencang. mungkin, juga adalah suatu tanda bahwa didalam sana, ada yang ikut berpikir dan tak ingin tinggal diam saja.

“aku tahu, aku tahu sayang.” Ujar Ahra lembut. “kita akan membereskannya. Okay?” desah wanita 28 tahun itu terlihat mulai risau. Sedang Kyuhyun hanya diam diatas ranjang. Duduk bersila mengamati perut kakanya. Kehamilan 5 bulan membuat perut rata Ahra tampak semakin jelas membesar.

Diam-diam pemuda dengan tubuh tinggi 180 itu hanya bisa mendesah pelan. Kemungkinannya untuk melihat Songjin tampak seperti Ahra akan semakin kecil saja. jika gugatan itu tidak ada, Kyuhyun telah merencanakan program kehamilan bagi Songjin setelah tahun ketiga pernikahannya. Ditahun ke lima, adalah waktu untuk anak kedua.

Hanya cukup dua. Tidak lebih. Bukan dia yang mengandung. Membawa beban seberat itu kemana-mana. Rasanya cukup tidak adil bagi Songjin jika permintaan banyak anaknya diutarakan. Rasanya, dua saja cukup. Seorang lelaki dan seorang perempuan. Rasanya.. pasti menyenangkan.

Sekarang, rencana itu benar-benar menjadi sebuah rencana saja. jika ayahnya masih hidup, mungkin Kyuhyun sudah dihajar habis-habisan— karena persoalan ini sama saja artinya dengan dirinya mempermainkan wanita. Padahal, itu ‘kan bukan niatnya. Memangnya kapan dia pernah mempermainkan Songjin?

“Jadi..” setelah diam beberapa saat Ahra mulai berbicara kembali, “apa rencanamu?” matanya memperhatikan Kyuhyun jeli. Bagaimana napas Kyuhyun naik dan turun. Bagaimana rupa lelah adiknya dan bagaimana kepanikan yang sebenarnya ada namun entah mengapa tak ingin Kyuhyun perlihatkan, seolah menjadi panic dan memperlihatkan kepanikan itu kepada orang-orang akan menjatuhkan martabatnya hingga sampai ke liang dasar.

“aku tidak tahu.”

“TIDAK TAHU???” Ahra tidak dapat mengontrol kekesalannya dan rasa terkejutnya lagi. Tidak tahu? Apa yang sebenarnya sedang Kyuhyun bicarakan dan pikirkan? “istrimu baru saja meminta berpisah. Dan kau tidak tahu harus melakukan apa Cho Kyuhyun??” nada bicara Ahra semakin meninggi dan meninggi membuat Kyuhyun melirikkan matanya tajam untuk memperingatkan mulut kakaknya itu namun sepertinya, Ahra telah terlalu kebal dengan lirikan maut seperti itu hingga tak merasa takut sedikitpun lagi.

“demi Tuhan, Cho Kyuhyun apa aku harus menyelipkan kata bodoh untuk nama tengahmu??”

“noona, aku bahkan tidak tahu apa alasan Songjin memintanya. Pasti ada alasan yang mendasarinya sampai dia melakukan itu. Dan aku lebih tertarik untuk mencari apa alasannya melakukan itu lebih dulu daripada berusaha menghentikan gugatannya!!”

kini Ahra yang balik melirik tajam Kyuhyun, “jadi apa rencanamu—“ wajah Ahra tampak angkuh. Murni dikarenakan Kyuhyun menapilkan wajah lebih angkuh daripadanya terlebih dulu. “untuk mencari tahu mengapa Songjin melakukan ini, huh?” lalu nada dari pertanyaannya sungguh terdengar mengejek ide gila Kyuhyun yang tak ingin menghentikan gugatan itu, namun lebih tertarik kepada alasan mengapa Songjin ingin bercerai darinya.

Kyuhyun menggidikan bahu dengan bibir bawah tercebik. Matanya bergerak-gerak kesana kemari selama beberapa saat, “mediasi.” Katanya singkat penuh ketenangan. “aku mengajukan permohonan mediasi ke pengadilan.”

Ahra lantas menganggukan kepalanya paham. Mediasi merupakan salah satu cara tercerdas untuk mengulur waktu gugatan. “siapa pengacara yang mewakilimu?”

“itulah!” Kyuhyun mendesah, “aku belum memiliki pengacara. Kalau saja kau tidak sedang mengandung, aku pasti akan menarikmu untuk mewakiliku. Bagaimana dengan Luke?”

tangan Ahra mengibas diudara mengingat wajah suami yang telah nyaris dua bulan tidak dilihatnya itu, “padat. dia sedang memiliki kasus yang sedang ditangani. Dan lagi, kasusnya tidak pernah sesepele ini— membahas perceraian suami-istri. Kau tahu kasusnya selalu mengenai hal lebih berat daripada itu.”

Bahu Kyuhyun bergerak pelan, “hanya mencoba—“ katanya bergumam. Ingat, kakak iparnya yang masih berkebangsaan Italia itu pernah menangani kasus seorang menteri yang pernah terlibat kasus bertumpuk yakni penggelapan uang dan pembunuhan berencana dinegeri khas pasta sana. Pastilah, akan tampak konyol jika kali ini hanya mengurus kasus perceraian.

Tapi hey, ini bukan hanya perceraian! Ini tidak hanya! Hidup matinya ada didalam kasus ini! dia akan benar-benar mati, kalau pada akhirnya pengadilan menyetujui gugatan Songjin padanya.

“aku punya teman.” Kata Ahra setelah berpikir keras beberapa saat. Dia menyambar ponsel Kyuhyun dinakas. Terdiam sebentar melihat wallpaper ponsel adik lelakinya itu menapilkan punggung adik iparnya yang sedang berjalan dikejauhan.

Kesimpulan sementara Ahra cukup yakin, bahwa mungkin ini hanyalah sebuah kesalah pahaman saja. keduanya saling mencintai, Ahra dapat melihatnya. “berdoa sajalah semoga temanku tidak memiliki jadwal padat.” Ujar Ahra menuliskan nomor yang sangat dihapalnya sambil tangannya sendiri kemudian bersilang penuh harap.

 

 

 

-Lima-

 

Her Voice is like a drug

*

“Some things we won’t understand, and we’re both so tired of being misunderstood. So let’s just turn around and walk away, and hold on to what was good”

-Charice, Before it explodes

*

 

Yangcheon-gu, Seoul

14:45 KST

1st Mediation

 

Seorang wanita berwajah cantik dengan mata tajam, dihiasi bulu mata lentik, rambut hitam panjang bergelombang, tubuh s line sempurna, kaki jenjang dengan heels yang diyakini lebih dari 12 centi masuk kedalam ruangan dengan dominasi warna putih disana.

Wanita itu meletakkan gelas kopi stainless diatas meja yang memiliki papan nama bertuliskan ‘Kim Eun Soo’. Songjin telah mengulang tiga konsonan nama itu didalam kepalanya ribuan kali tadi, ketika sedang menunggu wanita dengan nama serupa itu datang.

Kim Eun Soo adalah penasihat perkawinan sebagai penengah dalam mediasi yang pengadilan siapkan. Hari itu Songjin datang bersama Kim Dong-Ah dan Kyuhyun bersama pengacaranya sendiri Park Jung Soo.

“Lama menunggu??”

“Tidak.” Kyuhyun menyahut. Namun Songjin menjawab sebaliknya dengan tegas. “Ya.”

Wanita pemilik ruangan itu tersenyum mendengar jawaban berbeda dari kliennya. Ini bukanlah pemandangan asing baginya. Setiap hari, pemandangan seperti inilah yang didapatkannya. Ini adalah pekerjaannya.

Kim Eun Soo memperhatikan Kyuhyun dan Songjin selama beberapa saat sebelum dirinya duduk dikursi kerjanya. Memperhatikan bagaimana Kyuhyun tampak begitu tenang, dan Songjin adalah sebaliknya. Duduknya tampak gelisah. Berulang kali mendapati Songjin membuang wajahnya pada jendela disisi kanan.

“aku Kim Eun Soo.”

“aku masih bisa membaca.” Kyuhyun tersenyum simpul bersahabat menanggapi pernyataan tersebut. Sesungguhnya yang terjadi adalah, ada sesuatu yang salah yang sedari sedang Kyuhyun rasakan. Perutnya terasa melilit. Ini bukan mengenaik sekedar harus membuang air besar dan kembali lagi tapi sungguh, percayalah rasanya lebih menyakitkan daripada itu. “— panggil aku Eun Soo.”

“baiklah.”

“kapan ini dimulai??” Songjin menyuarakan kegelisahan miliknya pada akhirnya. Eun Soo menghela napasnya memerhatikan wajah Songjin yang kaku. “kalau begitu, kita mulai sekarang.” Ujar wanita cantik itu ramah. “tapi aku hanya membutuhkan kalian berdua disini. tidak dengan buntut” lanjutnya memandang satu percatu pengacara Songjin dan Kyuhyun.

 

~~ ~~

 

Ditengah perdebatan sengit— oh, bukan. Perdebatan adalah suatu hal yang dilakukan oleh lebih dari satu orang sedangkan disini bukan perdebatan namanya. Mungkin lebih pantas disebut penyanggahan.

Songjin melakukannya berulang kali dan Kyuhyun tidak bisa untuk tidak tersenyum saja melihatnya. Songjin tampak menggebu-gebu mengatakannya. Songjin akan tetap menjadi Songjin. Songjin, ya memang seperti itu.

Selalu terselip semangat disemua hal yang sedang wanita itu lakukan. Kyuhyun mendapati dirinya terdiam dan hanya bisa memerhatikan kegiatan yang telah beberapa hari tidak didapatkannya itu. Menonton Songjin berbicara adalah hal menarik yang tidak bisa Kyuhyun jelaskan kepada orang lain mengapa dia menyukainya.

Dia hanya senang melakukannya. Seperti ada energy tersendiri yang Songjin pancarkan saat wanita itu berbicara. Itu sebebabnya, Kyuhyun lebih senang diam menutup mulut ketika dirinya dan Songjin sedang bersama lalu Songjin berbicara. Kyuhyun sungguh tak pernah ingin menginterupsi tontonan menyenangkan itu sama sekali.

“mungkin?” Eun Soo menaikan satu aslinya kemudian melempar pandangannya pada Kyuhyun. Kyuhyun hanya menggerakkan bahu tanda tak tahu menahu dengan apapun yang Songjin ucapkan sambil tersenyum. “Songjin-ssi, mungkin bukanlah sebuah alibi yang kuat.”

“aku tidak perlu alibi!!” Songjin mengepalkan tangannya kuat-kuat. “aku hanya ingin persoalan ini cepat selesai!!”

“kalau begitu jelaskan mengapa kau melayangkan gugatan ini? seperti itu saja, mudah bukan??” sahut Eun Soo santai. Melihat wajah tegang Songjin, lalu beralih pada Kyuhyun dan tersenyum.

Kyuhyun terlihat lebih dapat menguasai emosinya. Dia hanya duduk diam, tenang, menyilangkan kaki panjangnya dan tangan didepan dada. Mengamati Songjin sama seksamanya seperti Eun Soo mengamati Songjin sedari tadi.

“aku hamil.” Kata Songjin. Seharusnya hal tersebut membuat dua orang lainnya disana terkejut. Tapi yang ada, Eun Soo membulatkan bibirnya menjadi berbentuk ‘O’ besar dan Kyuhyun tersenyum lebih lebar. “benarkah Kyuhyun-ssi?” tanya Eun Soo menggunakan nada yang sebenarnya bisa membuat Songjin naik darah karena terdengar mencela. Sungguh tidak ada kepercayaan sedikitpun dari nada suara Eun Soo pada berita yang semestinya menggemparkan itu.

“aku tidak tahu apa-apa, sungguh.” Kyuhyun menjawab dengan tenang. Lalu menggeser tubuhnya menghadap Songjin sepenuhnya. Masih dengan wajah tenang dan mata teduh, Kyuhyun mengeluarkan suara berat kesukaan Songjin, “kau hamil sayang?”

Cih!

Songjin mendecak berulang kali mendengar nada manis yang Kyuhyun gunakan padanya kali ini. sungguh ini adalah pertama kalinya Kyuhyun menggunakan nada semanis itu dengan embel-embel ‘sayang’ yang selama satu tahun pernikahannya, tak pernah sekalipun Kyuhyun memanggilnya seperti itu.

Mungkin itu adalah cara Kyuhyun untuk membuat hatinya luluh hingga mebatalkan gugatan sialan itu. Siapa yang tak tahu bahwa Kyuhyun memiliki otak cerdas. Pasti dia telah memikirkan cara-cara untuk membuat rencana ini gagal. Iyakan?

Songjin mengangguk cepat. Tidak sekalipun berani menyapukan mata pada sisi kiri, karena disanalah Kyuhyun berada. “Y—yeah.” Jawabnya gugup.

“woah!” Kyuhyun merubah posisi, tidak lagi bersedekap walau tingkahnya tidak menunjukkan ketertarikan yang sama seperti nada bicaranya dalam menanggapi pernyataan Songjin kali itu.

Kemarin dia sempat menelepon Songjin dan beruntung, kali itu Songjin mengangkatnya. Pernyataan bahwa wanita itu hamil adalah pernyataan kedua yang telah didengarnya dan sungguh, bukan tidak menginginkan hal itu terjadi tapi yang benar saja, mereka baru melakukannya dua— tiga— empat, hari yang lalu!!

“jadi laki-laki atau perempuan?” goda Kyuhyun selanjutnya. Sama halnya seperti mengetahui kehamilan tak bisa secepat itu usai bercinta, Kyuhyun menggunakan jenis kelamin bayi untuk menggoda pernyataan gila Songjin lainnya dan Songjin sedang memiliki kecerdasan penuh untuk memahami bahwa dirinya sedang dipermainkan.

Ingin rasanya memberikan lirikan tajam kepada Kyuhyun, tapi Songjin masih belum begitu yakin apa bisa mempertahankan tekad bulatnya usai menatap bola mata cokelat teduh milik Kyuhyun.

Sungguh, cintanya masih begitu banyak walau sekarang diliputi rasa benci sama banyak seperti rasa cintanya.

“aku selingkuh.” Pernyataan lainnya dari mulut Songjin. Membuat Eun Soo sempat diam walau Kyuhyun tak menunjukkan perubahan ekspresi apapun. “bayi yang kukandung. Bukan anaknya.”

Mendadak Eun Soo menjadi canggung bukan main. “—O…kay.” Dia melirik Kyuhyun yang lagi-lagi terlihat tenang dan hanya bisa tersenyum ramah saja. seolah sama sekali tidak terganggu dengan puluhan alasan-alasan buatan Songjin sejak tadi. seolah menikmati kekonyolan Songjin. Seolah, ada hal menarik dari ulah Songjin kali ini dan Eun Soo sungguh tidak mengerti apa-apa mengenai sikap Kyuhyun sedari tadi.

“Yeah. Aku selingkuh!!

“kalau begitu tes DNA saja.” dalam keterkejutan Eun Soo Kyuhyun akhirnya berbicara serius. menatap Songjin sama santainya, namun kali ini diliputi ketegasan bahwa dia bisa bersikap lebih daripada ini jika itu yang Songjin inginkan.

“t—tapi, tes DNA hanya bisa dilakukan setelah bayi ini lahir.”

“kalau begitu tunggu sampai bayi itu lahir,” putus Kyuhyun dengan harga mati. “tunda gugatan ini sampai bayi itu lahir.”

Tunda gugatan sampai bayi itu lahir sama artinya dengan menambah waktu lagi hingga setidaknya 9 bulan lamanya. Itu lebih lama daripada perkiraan Songjin. Sedangkan Kyuhyun menyeringai puas menonton kepanikan Songjin semakin menjadi saja.

Songjin langsung terdiam seribu bahasa. Tubuhnya menjadi lebih kaku daripada sebelumnya dan wajahnya memucat. Kyuhyun melemparkan seingaian itu kepada Eun Soo. Seolah menjadi sebuah kalimat pemberitahuan tanpa perlu diucapkan seperti ‘lihatlah siapa yang baru berbohong! Dan coba lihat wajahnya sekarang!’

“Yeah. Kyuhyun-ssi benar. Bagaimana kalau…”

“tidak bisa!!” Songjin memotong tergesa-gesa.

“kenapa tidak?” Kyuhyun melengkan kepala berusaha memandang wajah Songjin utuh, namun Songjin selalu dapat membuang wajahnya. “kau bilang—“

“aku tidak mau!”

“kalau begitu alasan hamil dengan lelaki lain tidak bisa dijadikan alibi.”

“dia tidak hamil.” Kyuhyun berkata memutuskan kekonyolan mereka. “istriku, mungkin berharap untuk mengandung, tapi percaya saja, dia tidak sedang mengandung.”

“jadi, persoalan disini, karena harapan mengandung yang kosong?”

“mungkin.” Jawab Kyuhyun tenang menghela napasnya dalam. “aku melarangnya untuk hamil. Aku sengaja melakukannya. Aku memintanya untuk meminum pil pencegah kehamilan tiap kali kami akan bercinta.”

Eun Soo tampak terkejut dikursinya. Matanya membulat seolah tak percaya dengan pernyataan Kyuhyun. Namun, sebelum sempat dirinya bertanya, Kyuhyun lebih dulu berbicara lagi, “aku yakin aku memiliki alasan masuk akal, dan meyakinkan mengapa aku melakukan hal itu. Aku bisa menjelaskannya padamu kalau kau mau.”

Terdengar desisan jengkel Songjin melihat betapa santainya Kyuhyun dapat mengatakan hal tersebut secara gamblang tanpa rasa malu apalagi takut. Dan melihat interaksi antar pria itu dan Kim Eun Soo.. sungguh membosankan!

Ya ampun! Tunggu sebentar! Apa dia sedang cemburu? Sungguh? Ditengah mediasi dari gugatan perceraian? Cemburu? Ya ampun Park Songjin.

Songjin berulang kali menggelengkan kepalanya keras-keras seolah dengan melakukan hal seperti itu, maka ketololan yang sedang dirasanya saat ini, termasuk rasa kesal melihat Kyuhyun tampak ramah kepada wanita lain akan langsung rontok.

Nyatanya, pesona Kyuhyun masih bisa menghantam kerja otaknya, ‘kan? sialan benar!

 

-Enam-

 

Her Statement

*

“Those simple words hit so hard, they turned my whole world upside down. Girl, you caught me completely off guard on that night you said to me, I just don’t love you no more”

-Craig David, I just don’t love you no more

*

 

“Bisa kita bicara?”

usai mediasi pertama mereka, Songjin seperti tak ingin berlama-lama berada diruangan yang sama dimana Kyuhyun berada. Wanita itu langsung terbirit pergi, lepas dari pengawasan Kyuhyun yang tak tahu kemana Songjin pergi pada awalnya namun kemudian dilantai dasar, menemukan Songjin sedang berbicara dengan pengacaranya Kim Dong-Ah.

Kyuhyun langsung buru-buru mendekati Songjin, sebelum wanita itu pergi lebih jauh lagi. Tak perduli bahwa jika saja pembicaraan Songjin dengan pengacaranya itu adalah pembicaraan penting, Kyuhyun menyelanya saja.

Kim Dong-Ah adalah orang pertama yang memberikan pandangan terkejutnya. Lalu dibarengi Songjin walau sebenarnya entah mengapa Songjin telah dapat menebaknya bahwa Kyuhyun pasti akan menemuinya. Pasti.

“kita sudah bicara tadi.” kata Songjin kesal, namun tetap berbicara tanpa nada sengit sama sekali. “dan kemarin ditelepon.”

“kurang.” Kyuhyun menggeleng. “aku butuh lebih. Bisa kita bicara??”

ada debaran kencang ketika pada akhirnya Songjin memberanikan diri melihat mata teduh Kyuhyun. Betapa sesungguhnya, dia merindukan mata sialan itu. Dan bibir, dan wajah. Ah sungguh keparat! Ini tidak bisa dilanjutkan lagi!!

“tentu saja bisa. Mediasi kedua akan berlangsung dua minggu lagi.” Songjin buru-buru menurunkan kepalanya, tak ingin lebih lama terpesona dengan wajah keparat itu.

Namun tiba-tiba terasa sengatan bagai baru tersetrum listrik saat Songjin merasakan tangannya mendapat sentuhan lembut dari telapak Kyuhyun. Cepat-cepat Songjin menarik tangannya dan digerakkan kesana kemari. Sengatan itu bukan bercanda lagi. Rasanya terlalu nyata kalau untuk disebut sebagai sengatan listrik. Memangnya, sejak kapan Kyuhyun memiliki kekuatan super sebagai penghasil listrik??

“kita perlu bicara. Bukan pada mediasi. Songjin.” Suara Kyuhyun terdengar begitu lembut. Terkutuklah pria itu dengan segala kelebihan melelehkan hati para wanita! “kumohon. Sebentar saja?”

percayalah, jika sedang tidak dimuka umum, jika tak ada siapapun disana selain dirinya sendiri, Songjin pasti akan berteriak sekencang-kencangnya. Dihadapkan pada kondisi otak dan hati yang berbeda, Songjin tahu dengan jelas siapa yang akan menang kali ini.

desahannya melolos panjang mendapati betapa payah dirinya ini. “sebentar saja.” kata Songjin ketus. Menghasilkan senyuman tipis— penuh kelegaan Kyuhyun setelahnya. “aku akan mengantarnya pulang.” ujar Kyuhyun kemudian kepada Kim Dong-Ah, lalu membawa Songjin bersamanya tanpa merasa perlu mendengarkan satu patah kata pun dari pengacara separuh baya itu.

 

~~ ~~

 

“Ah— satu latte macchiato, standar. dan satu mochachino, less sugar, more milk, more chocolate syrup.” Kata Kyuhyun kepada seorang pelayan lelaki sambil mengembalikan buku menu.

Songjin hanya diam mengetuk-ketukkan jarinya diatas meja kesal, “aku belum memesan apa-apa.” Ucapnya menahan geram pada Kyuhyun dihadapannya, tapi Kyuhyun hanya menggidikkan bahu santai, “toh kau akan memesan seperti itu.”

Cih! Menggelikan. Songjin sungguh tidak bisa untuk tidak menutupi rasa kesalnya kepada sikap Kyuhyun sedari tadi, hingga saat ini. seharusnya dia tahu, dengan mengiyakan tawaran Kyuhyun itu sama artinya dengan menambah tingkat kemarahannya terhadap si tampan itu.

“atau kau ingin memesan yang lain?” Songjin menggeleng malas pada tawaran Kyuhyun. Tadi Kyuhyun telah memesankan minuman seperti biasa yang selalu dipesannya dengan perincian yang tepat. lagipula ini sudah hampir malam dan sebaiknya, makan malam tidak diuatamakan jika ingin memiliki bentuk tubuh ideal.

Sebentar—

Kyuhyun memesankan minuman dengan— “apa?” Kyuhyun tampak bingung karena Songjin mendadak mengamatinya seksama dengan wajah terkejut. “ada yang salah??”

Lalu cepat-cepat mendengus setelah mendapatkan wajah polos Kyuhyun. Sesungguhnya, Kyuhyun memang tak tahu menahu mengapa mendadak Songjin terlihat berbeda. “disini denganmu itu yang salah.” Kemudian Kyuhyun mendengar gumaman Songjin dengan bahu wanita itu yang perlahan mengendur.

Songjin membuang wajahnya memandangi jalan raya melalui tembok kaca tebal disampingnya. Ada titik titik hujan yang sepertinya tampak lebih menarik dibandingkan memandangi wajah lelaki dihadapanya saat ini. tak peduli betapa sesungguhnya beberapa wanita dimeja lain sedang berkasak-kusuk memerhatikan Kyuhyun sambil tersenyum malu-malu. Berusaha menarik perhatian Kyuhyun dengan cara memberikan pandangan terus menerus dan sesekali menunjuk-tunjuk. Seolah ditempat itu, tak pernah sama sekali dimasuki lelaki tampan dalam jenis apapun sebelumnya.

Lima belas menit kemudian kopi pesanan Songjin dan Kyuhyun datang. Sebelum pelayan yang mengantar pegi, Kyuhyun lebih dulu menahannya, lalu bertanya kepada Songjin melihat yang dilakukan Songjin sejak tadi hanyalah diam tanpa banyak bicara dan biasanya, orang diam karena merasa lapar.

Biasanya Songjin berhenti bicara jika sudah merasa lapar. Nanti, jika sudah kembali kenyang, seperti sebuah robot yang kehabisan baterai, lalu mendapatkan supply tenaga baru, mendadak Songjin langsung menjadi berisik lagi. “mau makan sesuatu, Songjin?”

Songjin masih ditempatnya memandangi rintik hujan, kini telah menjadi hujan deras. Kyuhyun menggulung sebuah tissue dan melemparkannya tepat mengenai wajah Songjin membuat wanita itu terlonjak terkejut, “apa?” sengitnya sebal— waktu-waktu damainya diganggu seenaknya.

“mau memakan sesuatu??”

Songjin mendesis sinis, “memakanmu saja.” katanya ketus yang diartikan Kyuhyun sebagai hal lain. Pria itu tertawa renyah bagai baru mendapatkan sebongkah emas, “uh-huh, kalau begitu sebaiknya dilakukan dirumah saja. tidak disini. disini kau hanya bisa memakan makanan yang sebenarnya. bukan memakanku.” Kata Kyuhyun membuat pelayan pria disisinya menyelipkan tawa hingga Songjin mendelik kepada pelayan tersebut, lalu kepada Kyuhyun.

“ayolah, pesan sesuatu. Aku tahu kau lapar Songjin.” Kyuhyun ingin segera menyudahi wajah tidak santai Songjin kepadanya dan pelayan disampingnya karena beberapa alasan.

Pertama, dia malas berdebat. Kedua, dia ingin mendapatkan waktu berkualitasnya dengan Songjin tanpa adanya gangguan dari siapapun termasuk dari wanita itu sendiri yang diam-diam sedang dilanda kepalaran tingkat mutakhir. Dan ketiga, dia ingin segera mendengar ocehan Songjin seperti biasa. Jadi, lebih baik isi dulu perut wanita ini dengan sesuatu agar tontonan itu bisa dinikmatinya lagi.

“kau tahu apa? Kau tidak pernah tahu apa-apa.” Songjin mendengus kasar kepada Kyuhyun. Namun tak ayal tetap mengambil buku menu yang Kyuhyun sodorkan. “salad.” Ujarnya cepat baru membuka buku menu tersebut, sedetik, langsung menutupnya lagi.

“tidak. Pesan makanan.”

“itu makanan!!”

“makanan manusia?”

“sejak kapan salad bukan menjadi makanan manusia? Itu sayuran!!”

“itu dari dedaunan, bukankah dedaunan adalah makanan sapi?”

Songjin mendengus lebih kencang tahu tak bisa melawan apa-apa. Bukan tidak bisa sebenarnya. hanya saja restoran ini bukanlah restoran besar. Keributan sederhana ini akan menjadi tontonan gratis, dan untuk saat ini, sepertinya dia sedang tidak berminat sama sekali memberikan tontonan apapun kepada siapapun. Jadi yang dilakukan Songjin hanyalah menekuk wajahnya sambil berkata, “kalau begitu aku pesan makanan sapi.” Membuat pelayan disana bingung harus menulis apa dinote pesanan.

Makanan sapi? Sejak kapan restoran tempatnya bekerja ini menyediakan makanan sapi untuk pelanggan?

“jadi—“ pelayan itu ingin menginterupsi ketegangan, tapi Kyuhyun lebih dulu berbicara begitu ramah meminta maaf atas ketidak nyamanan yang telah dibuatnya, “maaf.” Katanya tersenyum ramah. Mengambil buku menu lalu mulai membacanya. “apa pasta disini ada yang disediakan dengan sayuran?”

“spinach chicken fettucchine, sir.”

“kalau begitu aku pesan itu satu.” Dengan senyum yang sama Kyuhyun mengembalikan buku menu ditangannya. Memandangi punggung pelayan tersebut pergi lalu setelahnya, menggeser fokusnya kepada Songjin lagi.

Songjin, bagaimana menjelaskan bahwa sungguh, Kyuhyun tak pernah menyukai situasi seperti ini. Songjinnya terlalu tenang. Ini bukan seperti Park Songjin yang dikenalnya. Jadi, sekarang tidak akan ada atraksi berbicara- tanpa henti-tanpa spasi-tanpa tanda tanya yang terus menerus berlangsung dan sangat menarik itu? Tidak?

Sungguh sial sekali!

Kyuhyun berdehem. Tapi dehamannya tidak membuat Songjin memalingkan wajah padanya. Pun ketika dirinya meyodorkan cangkir milik Songjin berisi kopi kesukaannya. Tetap tidak ada respon berlebih selain hembusan napas panjang seolah berada bersamanya adalah sebuah kebosanan tingkah akhir atau malah sebuah petaka bagi wanita yang telah dinikahinya selama satu tahun itu.

“apa salahku?”

sepertinya Kyuhyun telah malas berbasa basi terlalu lama. Berada didalam ruang mediasi bersama dengan Songjin sedari tadi pun ternyata tidak memberikan jawaban tepat mengapa Songjin ingin bercerai darinya.

Songjin hanya bicara berputar-putar kesana kemari— sama sekali tidak menyentuh point utama mengapa pertanyaan. Mengapa gugatan itu ada?

“huh?” perlahan Songjin menolehkan kepala dengan wajah kosong. Sedikit terkejut melihat Kyuhyun sedang mengamatinya sendu. “apa salahku?” ulang Kyuhyun kemudian. “aku kira kita baik-baik saja selama ini.”

rasa iba Songjin mendadak lenyap. Digantikan seringaian sinisnya kepada Kyuhyun, “itu hanya kau kira.” Katanya ketus.

“lalu apa sebenarnya yang terjadi? Aku tidak tahu apa-apa. Mungkin aku yang kurang seksama memerhatikan tadi, tapi aku masih belum paham. Ada ada sebenarnya? apa yang terjadi? Apa salahku?? Kenapa kau ingin berpisah? Kau tidak sedang hamil dan kau tidak berselingkuh dengan siapapun jadi buang jauh-jauh kosakata atau ide tentang alasan konyol yang itu. Atau kau melakukan ini karena kau ingin hamil? Maksudku— aku bisa memberikannya kalau kau memang menginginkannya biarpun itu diluar skema buatanku. Tapi kukira kau tidak perlu melakukan hal seeksteem ini kalau hanya ingin mengandung anakku. Jadi ada apa?”

untuk beberapa puluh detik, Songjin terdiam dan nyaris menjatuhkan rahang. Bukan. Bukan karena wajah rupawan Kyuhyun yang kali ini telah diamatinya lama ketika pria itu berbicara panjang untuk pertama kalinya padanya.

Tapi— itu memang kalimat terpanjang yang pernah didengarnya, untuknya, dari mulut Kyuhyun sepanjang dia mengenal lelaki bermarga Cho tersebut.

“Eomma sakit. Dan kau tahu jantungnya tidak pernah bekerja dengan benar setelah Appa meninggal. akan seperti apa kesehatan eomma jika mengetahui hal ini. aku tidak bisa membiarkan eomma tahu bahwa kau baru saja melayangkan gugatan itu padaku.” Desah Kyuhyun. “kau tahu bagaimana eomma menyanjungmu. Dia bahkan tampak lebih menyayangimu daripada aku anaknya.” Pun desahan Songjin ikut meluncur.

Baru beberapa detik saja Songjin merasa diterbangkan tinggi-tinggi, membayangkan, mungkin Kyuhyun sedang merasakan hal yang sama sepertinya. Rindu. Tidak ingin berpisah dan sebenarnya, hanya hal sederhana saja yang diinginkan Songjin, tapi tak ingin terus menerus selalu dirinya yang memberitahu kepada Kyuhyun mengenai apa yang diinginkannya.

Demi Tuhan apa Kyuhyun tidak memiliki instingnya sebagai pria mengenai apa-apa saja yang sebenarnya para wanita inginkan? Bukankah dia menikahi seorang Casanova?

Ah lupakan bagian itu! Nyatanya Kyuhyun tak pernah memiliki kepekaan sejauh itu. Terlalu berharap hanya akan membuatnya kecewa lebih banyak.

“aku bosan denganmu.”

“bosan saja tidak cukup untuk memberikan gugatan perceraian.”

“sudah kubilang aku selingkuh!”

Kyuhyun mendengus, “kau tidak selingkuh dengan siapapun Songjin. Berhenti mengatakan itu!” lama kelamaan, Kyuhyun kesal juga dengan alasan tolol satu itu.

Seberapapun banyaknya dia mengingat kata ‘Aku mencintaimu’ yang selalu Songjin ucapkan setiap malam sebelum mereka tertidur, tetap saja tidak bisa menghilangkan rasa kesal karena pernyataan buatan Songjin mengenai perselingkuhan itu.

Kyuhyun tahu Songjin hanya bergurau. Tapi gurauan itu, lama kelamaan tidak terdengar seperti gurauan lagi bagi Kyuhyun.

“kau tidak mencintaiku.” Jawab Songjin tegas. Lalu bagai memutar video, didalam kepalanya terputar dengan jelas percakapan Kyuhyun dengan Kang Min-Kyung beberapa waktu lalu didalam kepalanya.

Kyuhyun mendengus lagi. Kali ini lebih kencang daripada sebelumnya. Cinta. Lagi-lagi itu yang dibahas. Dan lagi-lagi Kyuhyun membiarkan dirinya terdiam karena kehabisan cara untuk menanyakan cinta jenis apa yang Songjin maksud disini.

Apa mungkin, benar yang Ahra maksud. Apa cinta disini adalah sejenis finansial? Apa uang yang setiap bulan dikirimkannya ke rekening Songjin ternyata tidak cukup?

Apa karena itu gugatan keparat itu ada? Rasanya terdengar konyol. Tapi bukan gurauan juga, bahwa sekarang, banyak sekali perceraian terjadi karena kondisi keuangan, ‘kan??

“Apa—“ Kyuhyun menggosok tengkuknya. Benar-benar akan bertanya mengeni apa yang dipikirkannya sedari tadi itu. Finansial kan? uang? Tapi Songjin mendadak merubah duduknya. Menghadap padanya sepenuhnya memperlihatkan seluruh wajah yang sedari tadi ingin dilihatnya secara jelas, lalu mencondongkan tubuh lebih dekat dengannya.

“apa kau menikahiku karena cinta?”

“huh?” Kyuhyun mengerjabkan matanya jutaan kali. “apa?”

“cinta.” Ulang Songjin. “dulu, apa alasanmu menikah denganku? kau tidak perlu menanyakan apa alasanku, kau tahu apa alasanku. Lalu bagaimana denganmu?”

Songjin tampak tidak sabar menunggu jawaban sedang Kyuhyun masih berkutat dengan kerumitan isi kepalanya. Berbagai jawaban sedang berterbangan berputar-putar didalamnya. Dia harus menangkapnya, lalu mencernanya baru mengakatannya tapi melihat wajah Songjin dalam jarak sedekat ini, setelah puluhan jam tidak melihat— dan sulit melihat, rasanya mendadak semua itu menjadi tidak berarti lagi.

Blank. Kosong. Buyar. Kyuhyun hanya bisa mengeluarkan suara gumamman yang sebenarnya adalah cara untuk mengulur waktu dari mencari nyawa yang sedang melayang entah kemana.

Ditengah usahanya, terdengar dengusan Songjin lengkap dengan ekspresi menghina tak tanggung tanggung. Wanita itu pun seolah tak ingin membagi pesonanya lebih banyak, langsung menarik diri membuat kesadaran Kyuhyun kembali perlahan-lahan.

“lupakan saja.” kata Songjin mengibaskan tangan diudara tampak jengah. “kau mau tahu alasan mengapa aku ingin berpisah ‘kan?” Songjin menarik cangkir kopinya. “aku bosan denganmu. Aku kira aku bisa bertahan lebih lama karena kau sangat tampan tapi sepertinya tampan saja tidak cukup. Aku kira aku juga bisa bertahan denganmu karena uangmu banyak. Tapi ternyata uang juga bukan segalanya. Sebenarnya alasannya mudah saja. aku tidak mencintaimu lagi.”

Sungguh diluar memang sedang hujan deras. Tapi tidak dengan petir sebagai bonus. Lalu entah bagaimana Kyuhyun seolah baru saja mendengar suara petir begitu kencang. dia begitu yakin, dia bisa saja tersambar jika berada ditempat yang tidak tepat. apa disini adalah tempat yang tepat?

Sepertinya tidak juga. Kakinya mendadak bisa merasakan lemas, padahal dia tidak sedang berdiri hingga harus menggunakan kaki-kaki itu untuk bertumpu. Tapi sungguh, itu.. hanya bercanda ‘kan?

 

-TBC-

13 Comments (+add yours?)

  1. shoffie monicca
    Aug 22, 2015 @ 20:34:25

    haduh kyu sbnrya km tuh sk sih sm yojin apa engga..ak nth mau comen apa tp yng jls crtanya aga2 brblit2 mkin ak aja kli yng ngga trlalu phm crtanya…buat author smngt bkin ff nya.

    Reply

  2. blackjackelfsone
    Aug 22, 2015 @ 22:28:00

    Anjir complecated banget thor!!! Gw ampe mau nangis😥 ditunggu next partnya! Smangatss

    Reply

  3. Laili
    Aug 23, 2015 @ 02:08:54

    Agak bingung awalnya. Mungkin gara2 kalimatnya atau aku lgi gk konsen. Ah..terserah. Saranku satu aja, huruf kapital di awal kalimat bisa lebih diperhatikan. Ide critanya bgs. Over all bgs tinggal kapitalnya aja…
    Keep writing🙂

    Reply

  4. serina
    Aug 23, 2015 @ 12:05:47

    Cukup membingungkan tp menarik, mungkin krn bhs nya yg berat, atau apa aku gak tau,
    Tp keren lah

    Reply

  5. babbykyustory
    Aug 23, 2015 @ 17:30:20

    Diksi bahasanya keren..Ide Ceritanya pun tambah menarik… Keep Writing..Aku tunggu next partnya😀

    Reply

  6. ranakim9387
    Aug 24, 2015 @ 01:53:26

    Great!! Ff ini sungguh anjir bgt bikin gue penasaran!! Asap asap asap!!

    Reply

  7. lieyabunda
    Aug 24, 2015 @ 03:49:08

    apa semua ini cuma salah paham,,,,, karna kyu sepertinya dari awal kurang terbuka….
    lanjut

    Reply

  8. yulia
    Aug 24, 2015 @ 14:17:58

    Kyuhyun ga peka banget deh… masalah mereka tuh cuma d komunikasi…
    di tunggu part selanjutnya thor…

    Reply

  9. tabiyan
    Aug 24, 2015 @ 16:13:26

    Rumit untuk dibahas, hahahahhaah tp bagus gara2 cemburu tanpa alasan minta cerai, tanya aja dlu bener ga kyu ga cinta sma dy!

    Reply

  10. wina elsa
    Aug 24, 2015 @ 18:33:37

    Ampun bahasanya berat banget penuh diksi. Aku sukaa! Kayak baca novel rasanya.

    Kyu diambang batas bgt ya. Dia selow banget mau dicerai. Tapi aku yakin bukan cho kyuhyun namanya kalo cuma terima pasrah dianiaya lol.

    Pasti kyuhyun punya stategi sendiri buat balikin songjin aku yakin. Kita semua tau sepinter apa kyuhyun 😊.

    suka suka ceritanya!

    Reply

  11. cho putri
    Aug 25, 2015 @ 09:28:30

    Kyuhyun nya sukaaa!! Karakternya cool cool diem gimana gitu. Part 2 juseyo authornim🙂

    Reply

  12. sjelfu
    Aug 25, 2015 @ 09:55:41

    “dia tidak hamil.” Kyuhyun berkata memutuskan kekonyolan mereka. “istriku, mungkin berharap untuk mengandung, tapi percaya saja, dia tidak sedang mengandung.”

    i2 keren bgt. Kyu tau klo istrinya boong. Prtm bilang hamil. Abs 2 selingkuh. Yg ngawa“aku bosan denganmu. Aku kira aku bisa bertahan lebih lama karena kau sangat tampan tapi sepertinya tampan saja tidak cukup. Aku kira aku juga bisa bertahan denganmu karena uangmu banyak. Tapi ternyata uang juga bukan segalanya. Sebenarnya alasannya mudah saja. aku tidak mencintaimu lagi.”

    mediasi smp cengo liat mereka debat. Songkin jg gamau mediasinya ditunda. Paling takut klo kelamaan ditunda dia bakal suka lg 5 kyu. 5 aku suka bagian yg ini:

    Reply

  13. hyleen15
    Aug 26, 2015 @ 11:02:30

    Aku ga tau lagi mau komen apa minn, jjinja ini ff nya punya alur yg luar biasa bagus! Dari segi penulisannya yg rapi dan main di pedeskripsian ketimbang convo KyuJin dll yg menurut aku malah bagus..krna penyampaiannya passs🙂
    Wlpn aku br baca part 1 dan dikit nelaah jd ngerti wlpn ini ff pny cerita yg kayaknya pelik banget
    Belum jelas sih songjin menggugat kyu gr2 apa dan kyuhyun aku rasa dia bnrn cinta deh sm songjin diluar kepribadiannya kyu yg ya we know it lah~ soalnya ga mngkin bngt dia psti klo udh memutuskan utk nikah psti komit banget.. aku yakin songjin cuma cemburu dan pengen dimengerti aja tuh..yg psti kyu udh ga da hub ama tuh mantannya😀
    Selanjutnya semangaattt yaa author nim ♥
    Salam.

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: