Our Wedding Story [2/?]

ourweddingstory

Author: Ghina

Cast: Cho Kyuhyun – Song Eunhee (OC)

Length: Chaptered

Genre: Romance

Rating: PG-13

Note: Poster belongs to peaterplum @PosterChannel. Sudah pernah di post di beberapa blog, termasuk pula blog pribadi saya: macaronstories.wordpress.com

.

.

.

(Eunhee’s Side)

 

Song Eunhee mengerutkan keningnya, merasa terganggu dengan cahaya matahari yang menusuk indera penglihatannya dan membuatnya silau. Eunhee berguling ke samping, menarik selimut hingga menutupi keseluruhan tubuhnya, dan kembali memejamkan mata, mencoba melanjutkan tidurnya kembali saat sang Kakak malah merebut selimut tersebut, mencampakkannya ke lantai, lalu dengan tidak berperasaan berteriak tepat di telinga Eunhee, membuat Eunhee terkejut dan refleks terduduk dengan mata terbelalak.

“Nah, akhirnya si Gadis Malas bangun juga,” ujar Eunji geli lalu melipat kedua tangannya di depan dada, mengamati penampilan Eunhee yang acak-acakan; rambut coklat yang mencuat di sana-sini, wajah dan bibir yang nampak pucat, serta kaos santai yang sedikit naik sehingga menampakkan perut datarnya.

Eunhee tidak ada manisnya sama sekali. Bahkan ketika bangun tidur sekali pun, Eunhee terlihat sangat menyedihkan. Eunji menghela napas lalu menggelengkan kepalanya, mendadak merasa kasihan pada lelaki yang akan menjadi suami Eunhee kelak.

Di lain sisi, Eunhee yang sudah sepenuhnya sadar dari rasa kagetnya lantas mendelik pada kakaknya, memberikan tatapan paling mengerikan yang pernah ia miliki. Tapi, bukannya takut, Eunji malah tersenyum geli dan beringsut mendekati Eunhee, menepuk-nepuk puncak kepala Eunhee pelan, sengaja menggoda adiknya.

“Jangan marah begitu, Adik Manis. Cepat bersiap.”

“Aku bukan anak kecil,” protes Eunhee sembari menjauhkan kepalanya dari jangkauan Eunji.

Eunhee sudah mengerucutkan bibirnya kesal, membuat Eunji mendengus pelan dan beralih mengacak-acak rambut coklat adiknya, membuatnya semakin berantakan. Eunji langsung mengambil langkah seribu saat Eunhee hendak melemparnya dengan bantal. Cepat-cepat Eunji berlari ke arah pintu, meraih ganggang, dan hendak keluar dari kamar bernuansa retro ini ketika otaknya teringat akan sesuatu.

“Aku tidak sengaja membuka ponselmu dan menemukan pesan singkat dari Uncle Dave. Beliau bilang, kau bisa menemuinya jam 8 ini di kampus. Dan ngomong-ngomong, sekarang sudah jam tujuh lewat dua puluh enam menit,” jelas Eunji panjang lebar sembari menunjukkan benda bulat yang melingkar di pergelangan tangannya.

“Kenapa kau tidak bilang dari tadi, hah?”

Segera Eunhee masuk ke kamar mandi dan melakukan ritual paginya dengan cepat. Dalam dua puluh menit, Eunhee sudah berada di ruang makan, sibuk menyisir rambutnya dengan jari. Waktu yang mepet membuat Eunhee mengabaikan sepiring roti bakar yang sudah disiapkan ibunya dan hanya meminum segelas susu.

“Tidak sarapan?” tanya ayahnya sambil mengamati Eunhee yang sibuk sendiri.

Eunhee menggeleng, menunjuk jam tangannya sekilas lalu mengecup pipi ayah dan ibunya bergantian.

“Aku pergi dulu.”

Setengah berlari Eunhee menjauhi ruang makan.

Tiba-tiba, teriakan Eunji terdengar.

“Kau tidak berpamitan padaku?” kata Eunji dari ujung anak tangga.

Eunhee berbalik, menunjukkan cengiran lebar yang membuat Eunji memutar bola matanya. Gadis itu melemparkan sebuah ciuman jauh untuk Eunji, lantas segera kabur dari sana sebelum Eunji memberikan protes akan tindakannya yang menjijikkan.

***

Hari ini, tepat dua minggu sejak Eunhee menginjakkan kakinya kembali ke Korea.

Saat Eunhee berumur enam tahun, keluarganya memutuskan untuk pindah ke Italia—perusahaan di bidang farmasi yang dijalankan ayahnya mengalami kendala yang amat merugikan. Eunhee sempat menolak awalnya; dia merasa waktunya terlalu singkat. Namun, begitu melihat wajah frustasi sang Ayah dan raut sedih ibunya, Eunhee memutuskan untuk mengalah. Dia mengesampingkan egonya dan membiarkan orangtuanya membawanya pergi.

Tahun-tahun pertama di Milan menjadi suatu hal yang menyebalkan bagi Eunhee. Kemampuan bahasa Italia-nya yang masih kurang membuatnya seringkali menjadi korban kejahilian dari teman-teman sekolahnya. Meskipun tidak bersifat kekerasan dan masih bisa ditolerir, tapi ibunya merasa iba melihat anak gadisnya diperlakukan seperti itu. Maka, sang Ibu memutuskan untuk memanggil seorang guru privat yang mengajari Eunhee bahasa Italia.

Hal itu berlangsung selama enam bulan karena tak disangka-sangka, Eunhee belajar dengan sangat cepat. Mungkin pengaruh dari lingkungan sekolah yang seluruh penghuninya memakai bahasa tersebut, semangat Eunhee menjadi terpacu sehingga ia menjadi lebih rajin melatihnya.

Eunhee menamatkan elementary school hanya dalam waktu empat tahun, junior school dalam waktu normal yaitu tiga tahun, dan begitu pula dengan high school. Tak heran jika di umur yang ke tujuh belas, Eunhee sudah memasuki dunia perkuliahan. Gadis itu mengambil beasiswa di Freie Universität Berlin dengan jurusan human medicine, meninggalkan Milan yang sudah ia tinggali selama sebelas tahun.

Di Berlin, selain berkuliah dan memperdalam bahasa Jerman, Eunhee juga mengambil part time job di sebuah restoran. Hanya sesekali, jika dia benar-benar tidak memiliki tugas atau kegiatan yang bersangkutan dengan kuliahnya, dan harus saat musim liburan. Bagaimana pun juga, untuk sekarang, pendidikan lah prioritas utamanya.

Eunhee juga sering kembali ke Milan, sekadar mengunjungi keluarganya atau melepas rindu. Setelah itu, hari-hari Eunhee akan disibukkan dengan mengurusi sebuah situs yang ia peruntukkan untuk memuat tulisan-tulisan absurd miliknya. Tak heran kalau Eunhee lebih banyak menghabiskan waktu liburannya dengan mendekam di kamar dibandingkan berkumpul bersama keluarga. Suatu hal yang seringkali diributkan ayahnya karena merasa tidak diacuhkan oleh anak perempuan kesayangannya.

“Apakah tulisanmu jauh lebih berharga dibandingkan Daddy-mu yang tampan ini? Uh, aku merasa diduakan. Ayolah, Sayang, kau sudah dewasa. Tolong bagi waktu dengan benar. Aku, Mommy, dan kakakmu merindukanmu di sini. Banyak hal yang ingin kami bincangkan denganmu, kau tahu? Jadi, lekas keluar.”

Jika ayahnya sudah mulai mengeluarkan protes seperti itu, Eunhee hanya dapat tertawa renyah lalu mencoba menyingkirkan laptopnya untuk sementara waktu dan bersenang-senang dengan keluarganya sembari mencoba mengambil hati sang Ayah. Kalau Eunhee berhasil, ayahnya tidak akan menganggunya lagi dan membiarkannya mengurung diri. Meskipun sesekali sikap jahil sang Ayah kumat dan membuatnya harus menahan emosi, tapi Eunhee paham bahwa itu adalah salah satu cara ayahnya untuk mendapatkan perhatiannya.

Bukankah ayahnya manis sekali?

Eunhee menghabiskan waktu enam tahun untuk menyelesaikan pendidikan dokternya.

Tepat setahun setelah hari wisudanya, sang Ayah memberikan kabar mengejutkan yang sudah lama Eunhee tunggu-tunggu; menetap di Seoul, untuk batas waktu yang tidak ditentukan atau bisa dikatakan, selamanya. Tentu saja kabar itu menjadi sebuah hal yang menyenangkan bagi keluarga Eunhee, terlebih dia dan ibunya. Eunhee dengan keinginan lama yang belum terwujud, dan sang Ibu dengan kebahagiaannya kembali ke kampung halaman.

Dan di sini lah Eunhee sekarang, berdiri di salah satu bangunan megah dari universitas ternama di Seoul, hendak menemui pamannya yang membantu mengurusi berkas-berkas yang dibutuhkan untuk melanjutkan pendidikan dokter spesialisnya.

Eunhee memasuki bangunan tersebut dengan langkah mantap sambil sesekali melirik jam tangannya. Dia sudah terlambat lima menit dari waktu yang ditentukan dan itu membuatnya malu. Belum lagi keadaan Eunhee yang masih bingung dengan kampus ini, Eunhee sudah berhasil membuang waktu sepuluh menitnya, lagi.

Eunhee berinisiatif untuk bertanya pada salah seorang yang lewat.

Guten morgen. Sind sie—” (Selamat pagi, apakah Anda—)

Sorry. Can you speak English?

Dan Eunhee menggigit bibir bawahnya, merutuki kecerobohannya.

Senyum canggung tercipta di sudut bibir Eunhee.

“Maaf, sudah membuatmu bingung. Tapi, apakah kau tahu di mana letak kantor administrasi?”

Eunhee dapat melihat bagaimana mulut lelaki di hadapannya terbuka lalu tertutup sedetik kemudian, mungkin terkejut mendapati Eunhee mampu berbahasa Korea dengan begitu baik. Cepat-cepat lelaki tersebut menguasai diri lalu berdehem pelan.

“Tidak masalah. Aku bisa mengantarmu kalau kau mau.”

Ehrlich? Oh, maksudku, kau yakin?”

Lelaki itu tersenyum kecil lalu menganggukkan kepalanya.

“Ya. Ayo.”

Eunhee berusaha mengimbangi langkah-langkah panjang dari lelaki di hadapannya ini. Rasanya tidak nyaman jika harus berdiri sebelahan sementara Eunhee baru mengenalnya beberapa menit yang lalu. Jadi, Eunhee memilih mengekor saja.

Tiba-tiba, lelaki itu menghentikan langkahnya, membuat Eunhee tanpa sengaja menabrak punggungnya. Eunhee meringis, sedangkan lelaki itu langsung berbalik dan menatap Eunhee kesal. Namun, melihat Eunhee yang kesakitan, lelaki tersebut berusaha mengenyahkan amarahnya.

“Kau tidak apa-apa?” tanyanya, berusaha peduli.

Eunhee mengelus keningnya yang terasa ngilu sembari tersenyum malu.

I’m ok. Maaf sudah mengenai punggungmu.”

Lelaki itu menghela napas lalu mengangkat bahu tak acuh.

“Itu kantornya,” ujarnya sembari menunjuk ruangan yang berada tepat di belakangnya. “Aku rasa sampai di sini saja. Atau kau membutuhkan bantuan lain?”

Eunhee buru-buru menggeleng. “Terima kasih sudah mau mengantarku.”

“Ya, sama-sama.”

Lalu lelaki itu berbalik dan berjalan menuruni tangga.

Eunhee melangkah mendekati ruangan tersebut. Merasa ragu antara harus masuk atau menunggu Uncle Kim di sini. Keterlambatannya membuatnya merasa tidak memiliki muka untuk bertemu dengan pamannya. Padahal seharusnya tidak masalah mengingat Uncle Kim adalah sepupu dari ayahnya sendiri.

Eunhee berniat menghubungi Uncle Kim saat suara yang ia kenal menginterupsinya.

“Song Eunhee?”

Oh, Uncle!” seru Eunhee semangat, mengundang tatapan sinis dari orang yang berlalu lalang. Tapi, Eunhee tidak memedulikan hal itu dan menghampiri Uncle Kim.

“Sudah lama menunggu?”

Sarkasme. Sindiran. Eunhee tahu itu. Jadi, dia hanya meringis pelan.

I’m sorry, Uncle. Aku telat bangun.”

Pamannya mendengus lalu tertawa renyah, memaklumi tingkah keponakannya.

“Sudahlah. Ayo, masuk.”

***

Berjalan bolak-balik antara ruang administrasi dan tempat fotokopi berhasil membuat penampilannya menjadi acak-acakkan. Kemeja hijau toska berlengan panjang yang ia kenakan terasa basah oleh keringat. Rambutnya yang sebelumnya ia gerai kini ia ikat ekor kuda secara sembarang, membuat beberapa helainya keluar dan memberi kesan berantakan. Ditambah dengan wajah yang sedikit kusam akibat terlalu banyak berkeringat, Eunhee memang terlihat sangat tidak karuan.

Siapa sangka jika mengurus berkas terasa sangat melelahkan?

Eunhee pikir, dia hanya perlu melampirkan beberapa dokumen penting yang diperlukan sebagaimana mestinya. Tapi rupanya, mengingat Eunhee adalah lulusan luar, jadi dia juga harus memenuhi beberapa syarat tambahan yang diberikan. Beruntung Eunhee memiliki Uncle Kim, pamannya itu bisa diandalkan pada saat seperti ini, sehingga ia tidak perlu repot-repot mengurusnya balik dari awal.

Eunhee memasuki sebuah kafe—tidak terlalu jauh dari Seoul National University—yang menyajikan es krim sebagai menu utama. Keunikannya itu yang menjadikan kafe ini berkembang dengan pesat. Buktinya, Eunhee harus mengantri dan menunggu hampir setengah jam hanya untuk memesan satu mangkuk besar fruits ice cream. Sekarang, hanya tersisa dua orang di depannya sebelum giliran Eunhee. Dan gadis itu tidak bisa merasa lebih bahagia lagi.

Eunhee tersenyum-senyum sendiri.

Sampai kemudian, gerutuan yang bersahut-sahutan tertangkap oleh indera pendengarannya.

“Apa-apaan ini, kenapa dia lama sekali?”

“Mau sampai kapan dia membuatku menunggu?”

“Anak muda jaman sekarang memang ceroboh sekali.”

“Lebih baik tidak usah membeli jika tidak membawa uang.”

Eunhee mengernyitkan keningnya. Lalu melongokkan kepalanya ke samping.

Dan dia terkejut begitu menyadari kalau orang yang sedang diributkan adalah orang yang sama yang berbaik hati mengantarkannya ke kantor administrasi. Merasa harus membalas budi, Eunhee meninggalkan antrian dan menghampiri lelaki tersebut.

“Permisi, berapa total yang dibelinya?” tanya Eunhee sopan pada wanita penjaga kasir.

“Kau!” tunjuk lelaki itu tidak percaya, membuat Eunhee tersenyum ramah.

“Aku akan membayarnya,” ujar Eunhee kalem.

Eunhee mengeluarkan dompet dari dalam tasnya dan membayar sesuai dengan nominal yang tertera.

“Terima kasih. Selamat menikmati.”

Eunhee tersenyum, namun hanya sebentar. Karena lelaki tersebut sudah menarik tangannya keluar dari kafe. Mereka berhenti di depan dengan posisi saling berhadapan. Lelaki tersebut nampak kikuk sedangkan Eunhee merasa bingung.

“Kenapa—“

“Aku akan menggantinya.”

Ah, masalah yang tadi.

Eunhee menggeleng lalu memberikan senyum kecil.

“Tidak perlu. Aku melakukannya karena aku ingin.”

“Aku ganti, kubilang.”

Oh, lelaki ini tersinggung.

Eunhee tergeragap. Dia berdehem pelan. “O—oke, kalau ka—kau memaksa.”

Lalu hening. Tidak ada satu pun yang berbicara, membuat suasana menjadi lebih canggung.

Eunhee yang terlebih dahulu menyudahi situasi ini. Eunhee berujar, “Kurasa aku harus kembali ke dalam,” kemudian cepat-cepat memasuki kafe.

***

Eunhee dalam perjalanan pulang saat ponselnya berdering. Ternyata sebuah pesan dari sang Ibu. Jadi, Eunhee menghentikan mobilnya di pinggir jalan dan membacanya.

Honey, jika kau tidak keberatan, tolong mampir ke supermarket. Aku sedang membuat cheese cake dan kehabisan keju. Dan, oh, sekotak stroberi segar untuk hiasan. Be safe, Darla.

Eunhee membalas pesan ibunya. Lantas segera menjalankan mobilnya menuju salah satu supermarket yang terletak tidak jauh dari tempat tinggalnya.

Sesampainya di sana, Eunhee langsung mengambil bahan yang diperlukan, termasuk beberapa cemilan yang mengugah selera. Tidak sampai sepuluh menit, semua yang dibutuhkan Eunhee sudah masuk ke dalam keranjang belanjaan.

Eunhee pun menunggu antrian di kasir.

Lalu tiba-tiba, seseorang menepuk pundaknya.

“Eunhee?”

Eunhee berbalik, sedikit kaget awalnya namun tetap memberikan senyum sopan.

“Kau Song Eunhee, kan?”

Eunhee mengangguk, masih dengan kepala yang dipenuhi tanda tanya.

“Benar, ternyata memang Song Eunhee,” teriak wanita itu antusias.

Namun, Eunhee yang masih diliputi kebingungan memilih bertanya. “Apa kita pernah bertemu sebelumnya?”

Raut wajah wanita itu seketika berubah. “Kau tidak mengingatku?” pekiknya tidak percaya.

Eunhee mengusap tengkuknya yang tidak gatal, kebiasaan yang ia lakukan jika sedang gugup, lalu tersenyum minta maaf. Wajah wanita itu memang familiar, tapi ingatan Eunhee yang buruk membuatnya menjadi samar-samar. Diam-diam, Eunhee mencoba mengorek ingatannya. Sampai kemudian, nama berikut wajah seseorang terlintas di pikirannya.

Eunhee menutup mulutnya dengan satu tangan.

“Ahra Eonni?” tanya Eunhee sarat akan keterkejutan.

Tanpa pikir panjang, wanita yang dikenali sebagai Ahra itu pun langsung menarik Eunhee ke dalam pelukannya.

“Kupikir kau melupakanku.”

Eunhee balas memeluk Ahra. “Mana mungkin aku melupakan Eonni-ku sendiri.”

“Tapi, tadi kau tidak mengenaliku,” rajuk Ahra sembari melepas pelukannya.

Eunhee terkikik pelan. Dia memberi satu kecupan di pipi Ahra. “Ingatanku buruk, kau tahu?”

Kali ini Ahra yang mendengus geli.

Ahra menggandeng satu tangan Eunhee lalu menatap Eunhee dengan wajah berbinar.

“Ayo, kita minum teh sebentar. Aku masih merindukanmu. Banyak hal yang ingin kubicarakan.”

Dan tidak ada yang bisa Eunhee lakukan selain mengangguk dengan antusias.

***

“Aku senang sekali bisa mengobrol banyak denganmu.”

Ahra memeluk Eunhee erat dan hangat, membuat Eunhee merasa tersanjung.

Waktu satu setengah jam di kafe bawah supermarket, mereka habiskan dengan membicarakan banyak hal, termasuk mengenang masa kecil yang singkat itu. Setelah menyempatkan diri bertukar nomor ponsel, Ahra pamit duluan karena tunangannya sudah menjemput.

Eunhee mengurai pelukan Ahra lalu tersenyum manis.

“Aku juga, Eonni. Aku harap kita bisa melakukannya lagi di lain waktu.”

Oh, akan kupenuhi dengan senang hati,” ujar Ahra riang.

Ahra menggenggam kedua tangan Eunhee, seolah tidak rela jika harus dipisahkan. Sedang Eunhee geli sendiri melihat Ahra yang bertingkah begini. Saat tunangan Ahra memanggilnya, baru lah Ahra melepaskan Eunhee dan masuk ke dalam mobil.

Eunhee melambaikan tangannya, menunggu hingga mobil tersebut hilang dari pandangannya. Gadis itu lantas berjalan menuju mobilnya sendiri dan mengendarainya dengan kecepatan sedang. Ia tidak ingin terburu-buru dan kehilangan pemandangan jalanan malam di Seoul. Meskipun sedikit macet, Eunhee masih bisa sampai di rumah sesuai dengan waktu yang sudah ia perkirakan sebelumnya.

Eunhee’s home,” teriak Eunhee sembari memakai sandal rumahnya.

Eunhee hendak menemui orangtuanya di ruang keluarga ketika Eunji tiba-tiba menarik tangannya dan membawanya ke ruang tamu. Di sanalah Eunhee menemukan ayah dan ibunya, sedang asyik berbincang dengan seorang lelaki. Mereka bertiga duduk membelakangi Eunhee sehingga tidak menyadari kehadirannya.

Eunji pun berdehem, menarik perhatian ketiga orang tersebut.

Lelaki tersebut berbalik dan mendadak waktu terasa berhenti berputar.

Tubuh tingginya yang proporsional dibalut oleh kemeja putih lengan panjang yang nampak berantakan. Rambutnya acak-acakan, mungkin memang tatanannya seperti itu atau mungkin hasil dari kerja tangannya yang terus-terusan menggosoknya. Lalu wajahnya adalah sesuatu yang disebut-sebut orang sebagai kesempurnaan; alis tebal, bola mata coklat gelap, hidung mancung, dan bibir penuh.

Itu… adalah wajah paling memesona yang pernah Eunhee lihat.

Eunhee mengerjapkan matanya, berusaha menghalau ketampanan yang nampak menyilaukan itu, sekaligus mengembalikan akal sehatnya. Dia menelan ludahnya saat lelaki itu menatapnya tajam. Ada sorot rindu, senang, dan lega yang terpancar dari sana, membuat Eunhee mengerutkan keningnya bingung. Pasalnya, Eunhee merasa tidak pernah bertemu dengan lelaki ini, bahkan melihat wajahnya. Jadi, bagaimana bisa lelaki itu melihatnya seolah-olah ia adalah seseorang yang ditunggunya selama ini?

Ini konyol, Eunhee tidak paham sama sekali.

Lalu seperti mengerti kebingungan Eunhee, sang Ayah pun bersuara.

“Ini, Cho Kyuhyun.”

Mendengar nada bersahabat yang digunakan ayahnya, Eunhee tahu bahwa lelaki ini pasti mengenal baik keluarganya. Eunhee memberanikan diri menatap lelaki bernama Cho Kyuhyun itu dengan terang-terangan, sembari mencoba mencari-cari sosok lelaki itu dalam memori otaknya. Dia berusaha di menit-menit pertama, lalu menyerah di menit berikutnya.

Lelaki ini, Eunhee yakin tidak pernah mengenalnya.

“Aku tidak merasa pernah bertemu lelaki ini, Daddy.”

Jawaban Eunhee membuat suasana hening yang sempat tercipta berganti dengan cepat. Keluarganya memberondongnya dengan kalimat-kalimat yang membuat Eunhee pusing.

“Jangan menyudutkanku. Aku benar-benar tidak mengenal lelaki ini,” ujar Eunhee, terdengar membela diri, dengan nada yang tak bisa dibantah.

Eunhee melirik Kyuhyun sekilas lalu berbalik, hendak mengistirahatkan tubuhnya saat ia merasakan pergelangan tangannya ditarik. Tiba-tiba saja, Eunhee sudah berada di hadapan Kyuhyun dengan posisi yang begitu dekat. Eunhee bahkan bisa merasakan aroma dan hangatnya napas Kyuhyun yang membuatnya gugup seketika.

Eunhee mendongak ketika merasakan remasan lembut di tangannya. Dia sedikit terkejut mendapati rahang Kyuhyun mengeras, nampak menahan emosi. Tapi, itu belum ada apa-apanya dibandingkan kalimat yang diucapkan Kyuhyun selanjutnya.

Sebaris kalimat yang mampu melumpuhkan saraf Eunhee dalam sekejap.

***

“Astaga, astaga. Kau dengar apa yang dikatakannya tadi? Ya ampun, romantis sekali.”

Eunhee mengabaikan antusiasme Eunji dan kembali membaca novelnya. Kakaknya itu sudah berada di kamarnya sejak tadi, sibuk menggodanya dan mengapresiasi perkataan Kyuhyun beberapa jam lalu. Eunhee bahkan sudah tidak tahu lagi berapa banyak kosakata pujian yang dilontarkan Eunji. Kakaknya itu sepertinya mulai menjadi penggemar nomor satu Cho Kyuhyun.

Sementara Eunji berceloteh, masih topik yang sama, Eunhee mulai memutar balik kejadian itu.

“Aku akan membuatmu mengingatku, Song Eunhee. Sepenuhnya. Jadi, bersiaplah.”

Tubuh Eunhee menggigil mendengar nada tegas yang penuh akan tekad itu. Ditambah tatapan Kyuhyun yang seperti menelanjanginya, Eunhee dibuat tak bisa berkutik. Sama sekali.

Jadi, alih-alih meneruskan niat awalnya, Eunhee malah menurut ketika Kyuhyun menggenggam tangannya dan menarik tubuhnya mendekat. Bahu mereka bersentuhan sehingga Eunhee dapat merasakan panas kulit Kyuhyun dari balik kemejanya.

Kyuhyun berbicara sebentar dengan kedua orangtuanya dan pamit tak lama kemudian.

Sebelum pulang, Kyuhyun merangkum wajah Eunhee dan menatap gadis itu lamat-lamat.

“Sampai jumpa lagi,” kata Kyuhyun pelan, lalu tersenyum manis sekali.

Eunhee menarik bukunya untuk menutupi wajahnya yang memerah. Perlakuan Kyuhyun padanya berhasil membuat Eunhee merasakan sensasi aneh; perutnya geli seolah ribuan kupu-kupu tengah mengepakkan sayapnya secara bersamaan dan jantungnya berdentum-dentum menyakitkan.

Eunji di sebelahnya, yang menyadari sikap aneh Eunhee, berhenti mengoceh.

Gadis itu menyeringai kecil.

“Memikirkan yang tadi?” tanyanya sarat akan rasa geli.

Eunhee menurunkan buku dari wajahnya, menatap Eunji sinis.

Melihat itu, Eunji terkikik lalu mencubit-cubit pipi Eunhee.

“Wah, ada yang malu,” goda Eunji gemas.

Stop it, Eunji. Kau menjijikkan!”

Mendengar umpatan Eunhee membuat tawa Eunji pecah. Gadis itu tertawa sampai perutnya terasa kram. Dia baru berhenti saat Eunhee melemparkan pembatas buku padanya.

Eunji mengganti posisi duduknya menjadi telentang, menghadap langit-langit kamar adiknya yang diberi warna pastel. Dia mengambil salah satu boneka Eunhee yang bertebaran di ranjang dan mulai memainkannya.

“Jadi, bagaimana menurutmu?”

Eunhee menatap Eunji bingung. “Apa?”

That guy, Cho Kyuhyun.”

Eunhee terdiam, berusaha menampilkan visual Kyuhyun di kepalanya. Dan ketika wajah lelaki itu terbayang, Eunhee langsung menjawab, “Perfect,” dengan suara tegas. Eunhee bahkan tidak menyadari kalau dia menjawab seyakin itu. Setelahnya, wajah Eunhee malah memerah.

Eunji terkekeh, “I know,” lalu beringsut mendekati Eunhee dan menatap Eunhee dengan muka serius. “Tapi, apa kau yakin tidak mengingatnya?”

“Have I met him before?”

“Ya, kalian berdua adalah teman kecil.”

Eunhee memejamkan mata sembari mendesah frustasi.

“Tidak ada satu pun ingatan tentangnya yang terlintas di kepalaku.”

Eunji bangkit, mengusap kerutan di kening Eunhee, lalu tersenyum lembut.

It’s ok. Mungkin kau akan mengingatnya nanti,” ucap Eunji pelan, berusaha meringankan beban pikiran Eunhee, yang dibalas Eunhee dengan satu anggukan.

Eunji mengucapkan kalimat perpisahan sebelum ia kembali ke kamarnya, yang terletak tepat di sebelah kamar Eunhee, dan meninggalkannya dengan ingatan yang masih melayang-layang.

Eunhee mengenal Kyuhyun? Benarkah?

TBC

5 Comments (+add yours?)

  1. lieyabunda
    Aug 24, 2015 @ 03:44:07

    kok eunhee bisa lupa ama kyuhyun yaa,,,
    lanjut

    Reply

  2. shoffie monicca
    Sep 09, 2015 @ 16:17:21

    hahaha eunji sm eunhee kompak bngt andai ak puya kaka kya gtu ah syng ak ngga pya kk prmpuan..

    Reply

  3. inggarkichulsung
    Feb 05, 2016 @ 18:56:59

    Aigoo Eunhee benar2 melupakan Kyu oppa, knp ya, Eunhee malu krn digodain oennie nya terus, smg sj Eunhee segera mengingat Kyu oppa

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: