90 Days [2/?]

90 days cover part 2

GSD

90 Days [Part 2]

Cho Kyuhyun | Cho Ahra | Park Songjin | Park Jung Soo | Lee Donghae

Married Life, Sad, romantic.

PG – 15

Chaptered

Note: It’s a long long long story. Hoping you guys not getting bored J. please check out their ‘home’ if you feel interested to see their further lives on: myfictionworld20.wordpress.com

Tujuh

The Question

“when you’re needing your space, to do some navigating. I’ll be here patiently waiting, to see what you find. But I won’t give up on us, even if the skies get rough”

-Jason Mraz, I won’t give up

 

 

Nowon-gu, Seoul

07:15 PM, KST

 

“ada beberapa alasan standar, mengapa kami para wanita mulai merajuk” Ahra berkata. Jari-jari lentiknya bergerak disekitaran piring oval miliknya yang belum terisi oleh apapun. Pagi ini Ahra dan Kyuhyun sarapan bersama, namun bukan dirumah orang tua mereka.

 

Percakapan dalam sarapan adalah sebuah percakapan penting yang rasanya, tak bisa dibicarakan dimeja makan dikediaman Hanna. Jika percakapan itu sampai ketelinga Hanna, entah apa yang akan terjadi dengan wanita berusia akhir 50-an itu dengan kesehatannya.

 

Sudah dua puluh menit sejak awal memesan, sarapan miliknya dan Kyuhyun belum kunjung datang, hingga diatas meja mereka hanya berisi sederet sendok, garpu dan pisau, juga serbet makan. Namun selama itu, tidak ada sedikitpun ekspresi kecewa karena pesanan ternyata datang terlambat. Jelas tergambar, makanan bukanlah inti utama mengapa mereka berada disana.

 

“pertama, mereka sedang bosan.” Lanjut Ahra mengawali. “Kedua, mereka ingin mendapatkan perhatian lebih. Ketiga, mereka merasa terasingkan. Dan keempat—“ sudut mata Ahra melirik pemuda 25 tahun dihadapannya. seolah menegaskan bahwa kemungkinan pernyataan yang terakhir adalah hal termasuk akal mengapa Songjin memberikan gugatan perceraian itu kepada Kyuhyun. “mereka sedang cemburu.” Ucapnya penuh kedramatisan.

 

Percayalah, jika terdapat backsound, kata-kata Ahra tadi dapat dijadikan sebuah cuplikan sebuah kedramatisan saran seperti yang sering muncul ditelevisi. Hal tersebut tentulah membuat Kyuhyun angkat tangan. Merasa tak sanggup lagi jika Ahra terus menerus melakukan hal seperti itu. Mendramatisir setiap kalimat-kalimat, dan kemungkinan buatan wanita itu sendiri.

 

Kyuhyun mengerang— mengacak wajah yang sepagi ini, hanya mendapatkan tiga kali basuhan air dingin saja. dia bahkan belum sempat menggosok gigi. Biarlah. Toh bukankah menggosok gigi dengan makanan adalah suatu hal yang paling efektif didalam hidup?

 

Noona—“

“aku mengatakan yang sebenarnya karena aku wanita, Cho Kyuhyun!”

 

Kyuhyun mendesah panjang. Iya, dia tahu kakaknya adalah wanita. Itulah mengapa, Kyuhyun mengajak Ahra berbincang sejak awal. Dan lagi, Songjin sangat dekat dengan Ahra. Mungkin dia akan mendapatkan banyak hal yang tidak atau belum diketahuinya mengenai Songjin. Mungkin, masalah ini akan cepat selesai dan dia bisa mendapatkan kehidupannya lagi seperti dulu dengan bantuan Ahra.

 

Mungkin. Tapi yang terjadi sejak tadi, oh tidak. Bukan sejak tadi tapi sejak kemarin. Yang terjadi sejak kemarin adalah Ahra selalu menyudutkannya. Membuatnya seolah adalah pria paling brengsek sejagad raya. Tidak ada satu makhluk pun yang mampu mengalahkan kebrengsekan Kyuhyun kali ini.

 

Memangnya apa yang telah diperbuatnya? Berselingkuh? Seperti yang Ahra katakan tadi dengan penuh penekanan dan penghayatan? Oh ayolah, dia tidak berselingkuh dengan siapa-siapa. Itu bertentangan dengan prinsipnya.

 

Dia akan mengatakan bahwa dia tidak lagi ingin bersama dengan Songjin jika dia merasakannya. Tidak perlu berselingkuh. Bicara jujur akan terasa lebih adil untuknya dan untuk Songjin. Tapi disini, hingga saat ini, toh dia tidak merasakan hal semacam itu.

 

Tidak. Kyuhyun juga belum tahu akan seperti apa kedepan nanti. Dia tidak bisa menjanjikan apa-apa. Berjanji untuk tetap setia sampai mati sepertinya adalah hal yang terlihat menyeramkan, cheesy, dan cukup muluk-muluk. Tidak ada yang tahu satu jam setelah ini dia akan bertemu dengan seorang wanita dan kemudian jatuh cinta dengannya ‘kan? walaupun setia adalah hal yang bukan tidak mungkin akan dilakukannya karena komitmen adalah prinsip paling utama yang selalu dipegangnya teguh.

 

Tapi selingkuh? Dirinya? Sekarang? Yang benar saja! Cho Ahra— wanita ini sungguh diragukan kebenaran persamaan darah diantara mereka yang mengalir. Apa selama ini, dirinya bahkan pernah terlihat, tampak berusaha mendekati, atau menggoda wanita lain selain Songjin? Tck! Yang benar saja!

 

“aku tidak berselingkuh!” Kyuhyun menyanggah begitu geram, atas tuduhan tak berpri-kemanusiaan Ahra padanya. Sedangkan Ahra hanya menggerakkan bahu santai menjawab kegeraman Kyuhyun, sambil menggeser jemarinya, menyentuh garpu-garpu dimejanya. “hanya berkata.”

 

“itu menuduh— kalau kau belum tahu.” Sinis Kyuhyun ketus. Pemuda itu membuang wajahnya memandangi jalan raya yang perlahan semakin ramai dan padat, lalu membandingkan dengan dirinya sendiri dengan beberapa orang berpakaian formal siap untuk sedangkan dirinya sendiri, seolah bagai gelandangan.

 

tidak memiliki pekerjaan hingga dijam seperti ini, masih bisa duduk-duduk manis menunggu sarapan. Berpakaian lusuh, lengkap dengan tatanan rambut menggelikan.

 

Semalam, selepas mengantarkan Songjin kembali kerumah orang tuanya tidak ada hal penting lain yang Kyuhyun lakukan selain tidur dan tidur. Percakapan mereka tidak berakhir dengan menyenangkan. Kyuhyun kembali dengan perasaan berat hati dan sesuatu yang terasa bebal, bagai baru saja tersambar petir dan hangus, lalu saat itu dia masih merasa shock hingga tidak dapat berbicara atau melakukan apapun kecuali diam dan tidur.

 

“kau tahu… Songjin sangat mencintaimu.” Ujar Ahra. Kini, pernyataan itu terdengar bagai ilusi saja untuk Kyuhyun. Jika saja kemarin Ahra bersamanya, wanita itu akan mendengarnya sendiri bahwa Songjin yang sekarang, bukan Park Songjin dulu yang selalu menggilai adiknya ini.

 

tanpa sadar Kyuhyun mengeluarkan tawa tipis yang sinis. Sudut bibirnya tertarik keatas menunjukan betapa dia amat merasa bosan dengan pernyataan bahwa Park Songjin sangat mencintainya dari mulut orang-orang, namun nyatanya tidak seperti itu lagi. Mulutnya yang menggetarkan tawa kemudian terbuka kecil. Mengatakan “yayaya apapun katamu saja.” yang membuat Ahra merasa baru saja disepelekan.

 

“aku tidak bercanda Kyuhyun-ah. Dia sangat menyukaimu. Baginya kau seperti—“ Ahra tampak berpikir keras berusaha mengupayakan gambaran Kyuhyun dimata Songjin yang diketahuinya sejak lama, namun tidak ada perumpamaan serupa mengenai betapa Park Songjin menggilai Cho Kyuhyun. “seperti… kau menyukai games?”

 

ada rasa geli yang kemudian Kyuhyun rasakan. Baginya games hanyalah sebuah games. Sampai kapanpun, games akan tetap menjadi games. Walaupun toh pada akhirnya, hobinya itu menjadi mata pencahariannya. Tapi tetap saja. games dan posisi seorang-seseorang didalam hidupnya, itu tidak bisa disamakan!

 

Sedangkan Songjin, posisinya adalah orang yang suatu saat nanti akan berubah dan terus berubah hingga memiliki posisi paling penting untuknya. cepat atau lambat, wanita itu akan menjadi ibu dari anak-anaknya.

 

Cepat atau lambat, Songjin akan menjadi partnernya, dalam membesarkan anak-anak mereka dan itu bukanlah suatu pekerjaan mudah. Tidak sedikit yang mengalam itumbang dipertengahan jalan.

Kyuhyun jelas tidak menginginkan hal seperti itu terjadi pada ank-anaknya kelak.

 

Cepat atau lambat, ketika nanti anak-anak mereka telah tumbuh semakin besar, telah menemukan pasangan mereka, dan memiliki hidup masing-masing, Songjin adalah satu-satunya orang yang akan menemaninya, sampai mereka menua bersama, lalu mati.

 

Itu adalah sebuah rencana jangka panjang dalam susunan dan ritme sungguh rapih. Kyuhyun menyimpannya seorang diri sejak sangat lama.

 

Lalu kegiatan berpikirnya terganggu— ketika Ahra menjatuhkan sebuah garpu kelantai, namun tak sampai benar-benar menyentuh lantai, tangan Kyuhyun sudah lebih cepat bergerak menangkapnya. Senyuman Ahra kemudian tersungging tinggi, “tanggap.” Katanya tampak senang.

 

“huh?”

“kau hanya kurang tanggap tentang apa yang Songjin inginkan. Seharusnya, sikapmu dengannya seperti kau dengan garpu tadi. cepat tanggap.”

 

Kyuhyun diam. Berkedip-kedip bodoh mencerna kata-kata Ahra. Sungguh, sejak tadi dia sama sekali tidak mendengarkan apa saja yang Ahra katakan. dan sungguh, sekarang Ahra akan sadar bahwa sejak tadi, sebenarnya dirinya sedang berbicara dengan diri sendiri. Kyuhyun sedang sibuk dengan dunia milik pria itu sendiri. “Songjin bukan garpu.” Balas Kyuhyun tolol semakin meyakinkan Ahra bahwa Kyuhyun memang berada dihadapannya, tapi nyawanya tidak sedang berada disana.

 

Ahra mendesah jengah memandang Kyuhyun. Gemas. Jengkel, tapi juga merasa kasihan. Juga merasa sedih, dan sungguh tak ingin Kyuhyun berpisah dari Songjin. Songjin adalah satu-satunya makhluk menyenangkan yang selalu menjadi partner in crime-nya dalam segala hal. Termasuk mengerjai Kyuhyun karena keduanya sama-sama memiliki kecenderungan senang, melihat pemuda tampan nan tinggi itu tampak tersiksa.

 

“kau hanya terlalu tak acuh dengannya. Dan Songjin, merasa ingin diperhatikan, olehmu. Itu saja.”

 

Kyuhyun mendesis, “ingin diperhatikan? Itu seolah selama ini aku tidak memerhatikannya. Suami brengsek, begitu kan maksudmu?” bibir Kyuhyun lagi lagi mengulaskan senyuman sinis begitu keparat. Sudahah, predikat lelaki brengsek memang akan selalu ada padanya seberapapun dia ingin menolaknya.

 

“kau bukannya seperti itu.” Kata Ahra setelah menarik napas panjang dan berpikir ulang, memutar kembali gambaran seperti apa yang selama ini selalu dilihatnya. “tapi kau hanya.. sedikit…” Ahra menimbang. Menggelengkan kepala ketika sebuah pernyataan melintas dikepalanya. Menolaknya mentah-mentah untuk diucapkan kepada Kyuhyun, lalu menggantinya dengan pertanyaan lain berupa, “apa kau pernah mengatakan kau mencintainya??”

 

Kyuhyun mendelik terkejut. Yang benar saja! apa yang seperti itu perlu ditanyakan lagi?? Perlu? “mengatakan cinta??” Kyuhyun menjadi sewot. Matanya bergerak kesana kemari sedangkan wajahnya sudah tidak main-main mengencang. “mengatakan cinta.. tentu saja pernah.” Ungkapnya.

 

Iya. Kyuhyun yakin dia pernah melakukannya. Hanya saja dia lupa kapan terakhir kali dia melakukannya. Tapi dia pasti pernah mengatakannya! Tentu saja dia pernah! Yang benar saja, bukankah mereka adalah pasangan suami istri? Pasangan suami istri mana yang tidak pernah mengatakan hal seperti itu?! cih!

 

“kapan?”

“kapan?”

“iya, kapan kau mengatakannya?”

kapan kau mengatakannya Cho Kyuhyun? Kapan? Kyuhyun memberikan pertanyaan itu kepada dirinya sendiri sambil mengingat keras. Kapan terakhir kali dia mengatakan ‘aku mencintaimu’ kepada Park Songjin. Dan sialanlah Cho Ahra, pertanyaan itu bagai sebuah godam yang menghantam kesadaran Kyuhyun akan banyak hal.

 

Apa dia sungguh pernah mengatakan hal semacam itu kepada Songjin?

 

 

-Delapan-

 

The memories

“I don’t wanna go another day, so I’m telling you exactly what is on my mind. See the way we ride in our private lives, ain’t nobody getting in between. I want you to know that you’re the only one for me”

-Pussycat dolls, Stickwitu

 

Gangnam-gu, Seoul

20:00 AM, KST

 

Ada satu fragmen memori yang Kyuhyun masih ingat saat kali pertama dirinya dan Songjin resmi menikah. Tepatnya, dua hari setelah mereka menikah.

 

Malam itu adalah acara persemian launching ‘starcraft 2’ buatan Millennis dan akan segera disebar keseluruh penjuru dunia bagi pecinta games. Kyuhyun, Songjin, Ahra dan Hanna tentu akan ikut hadir. Luke tidak bisa karena sedang tak berada di Korea.

 

Malam itu tepat satu jam sebelum peluncuran, hanya Hanna seorang lah yang telah lebih dulu berangkat kehotel tempat dimana peluncuran tersebut diadakan bersama dengan Sungmin sebagai perwakilan Millennis.

 

Kyuhyun, Ahra dan Songjin masih bersiap. Ah, tidak, sebenarnya tidak benar-benar seperti itu. Ahra telah siap. Kyuhyun setengah siap hanya perlu memasang dasi saja, dan Songjin adalah manusia terakhir yang masih sibuk berpikir keras harus mengenakan apa pada acara seperti itu.

 

Ahra terkejut bukan main melihat Songjin ketika itu masih berkutat dilemari pakaian— terlihat kebingungan. “eonni, aku tidak tahu harus memakai pakaian seperti apa. Apa itu acara formal? Semi formal? Atau tidak formal??” adalah pertanyaan Songjin kepada Ahra. Songjin terlihat ingin menangis seketika. Wanita itu pasti tahu, 1 jam lagi mereka semua harus berangkat dan dirinya masih belum mengenakan pakaian yang tepat.

 

Namun disanalah Ahra ‘bergerak’. Wanita itu tidak terlalu menanggapi pertanyaan Songjin— hanya langsung memilihkan pakaian bagi Songjin, dengan sedikit cengiran keparat turun temurun pemberian Cho Yeung-Hwan, Ayahnya. “pakai saja ini.” perintahnya setelah memilih secara serius dari puluhan gaun menggantung milik Songjin.

 

Tiga puluh menit kemudian Songjin telah siap. Ahra telah berangkat lebih dulu daripada Kyuhyun dan Songjin menggunakan kendaraan miliknya sendiri.

 

Malam itu, Kyuhyun ingat, Songjin keluar dari kamar mereka dengan tidak memiliki kepercayaan diri yang biasanya wanita itu miliki secara berlebih.

 

Malam itu, mata Kyuhyun nyaris membulat keluar dari tempatnya melihat pakaian Songjin. Berulang kali dia meneguk liurnya sendiri. “kau—“ dia menarik napas lagi mengumpulkan oksigen banyak-banyak. “kau yakin akan memakai pakaian seperti itu??” tanya Kyuhyun suaranya bergetar karena sesungguhnya kini dia menjadi setengah panic.

 

Mini dress hitam ketat membingkai lekuk tubuh sialan ‘s’ line keparat Songjin itu benar-benar… sialan. Sungguh sialan. Dan Kyuhyun langsung dapat mengetahui kejanggalan disana. Itu pasti ulah Ahra karena Songjin tidak mungkin akan memakai pakaian seperti itu dimuka umum seberapapun Songjin menyukai pakaian hitam buatan Gucci tersebut.

 

Kyuhyun ingat betapa Songjin selalu mengskip pakaian itu ketika Songjin sedang memilih pakaian-pakaian didalam lemarinya.

 

“aku tidak tahu.” Songjin meremas tangannya sendiri. jelas tampak tidak nyaman, dan takut akan hal yang masih Kyuhyun belum pahami. Tapi wajah Songjin tampak memucat, tidak bisa ditutupi lagi. “ini bukan aku yang—“

 

“aku tahu,” Kyuhyun mendesah. Merenggangkan dasi yang mencekik leher. “aku tahu ini pasti bukan ulahmu.” Ujarnya memaki Ahra didalam hati dan bersumpah akan mencekik kakaknya itu jika mereka bertemu dihotel nanti. “pakai saja sepatumu. Cepat. Kita sudah terlambat.” Kyuhyun melengos pergi merogoh ponselnya yang sejak tadi tidak bisa berhenti bergetar didalam kantung.

 

Kyuhyun menjatuhkan diri disofa. Berusaha sibuk pada ponsel dan mencoba untuk tidak berpikir macam-macam selain keinginan untuk membunuh Ahra nanti. Tapi backless sialan itu memang membuatnya panic dalam diam.

 

Lalu Kyuhyun terkejut ketika tiba-tiba Songjin telah berada dihadapannya tengah menarik-tarik ujung jasnya. Berkata bahwa dirinya sudah siap, tapi nyatanya, Kyuhyun masih belum siap. “duduk dulu sebentar.” Kyuhyun menepuk lahan kosong disisinya.

 

“kita sudah terlambat katamu?”

“iya. Duduk dulu saja.” kata Kyuhyun tenang. Songjin yang sungguh tak paham hanya menurut namun menjadi kesal ketika Kyuhyun malah mendiamkannya dan sibuk dengan ponselnya.

 

Katanya sudah terlambat? Katanya harus datang cepat? Songjin memutar pertanyaan-pertanyaan itu didalam hatinya saja karena takut jika diutarakan, maka Kyuhyun akan menjadi kesal dan semakin dingin dengannya.

 

Tapi Kyuhyun terlalu lama mengulur waktu. Jarum jam terus berjalan dan mereka akan semakin terlambat. Songjin tengah dilanda kepanikan mencekik, sedang Kyuhyun tampak santai dan tenang dengan ponselnya. Sesekali tertawa pelan. Mungkin karena membaca pesan-pesan singkat orang-orang untuknya atau entah apa.

 

“Kyuhyun-ah!”

“hng?”

“kita terlambat!!”

“iya.” Kepala Kyuhyun mengangguk setuju namun matanya tak lepas dari ponselnya. Sontak membuat Songjin lebih geram dan merasa terabaikan. Pria ini sungguh keterlaluan!

 

“Kyuhyun-ah!” Songjin menjerit. Menangkup wajah Kyuhyun dengan dua tangan dan membawanya untuk menghadap jam dinding, “lihat pukul berapa sekarang?!! Kita terlambattt!!” wanita itu semakin rusuh saja dan Kyuhyun menyimpan tawanya dalam diam, dalam desahan nafas panjang.

 

Seharusnya yang panic adalah dirinya. Bukan Songjin. Toh yang seharusnya datang dan menjadi sorotan adalah dirinya. Bukan Songjin. Kenapa jadi Songjin yang panic melebihi dirinya begini??

 

Dan sebentar— Kyuhyun baru saja menyadari hal lain, ekspresi panic Songjin sungguh menghibur. Itu adalah percampuran antara ingin menangis dan rasa takut karena matanya telah memerah, siap memuntahlan air mata tapi wajahnya tampak ketakutan bahwa jika dia melakukan itu, dia tahu seluruh make-upnya akan luntur dalam sekejab.

 

Kyuhyun mendesis sinis, “kau sengaja ya?” tanyanya tampak kesal, lalu tampak puas melihat wajah Songjin menjadi kebingungan “huh?”

 

“kau sengaja ingin menyentuh wajahku karena ingin berdekatan denganku? menggunakan dalih pukul berapa sekarang agar tidak terlihat mencurigakan?”

“APA?” Songjin medelik panic. Ide seperti itu memangnya kapan pernah melintas dikepalanya?

 

“kau mau apa? Menciumku?” tanya Kyuhyun mendenguskan kesinisan. Terlihat terganggu karena wajahnya sedang di’penjara’ dadakan oleh Songjin. “huh?” lalu mendekatkan wajahnya pada Songjin hingga Songjin sendiri terkejut, melonjak mundur melepaskan pipi gembil Kyuhyun dari jangkauannya.

 

“ya!” Songjin mengangkat telunjuk memperingatkan tegas. “aku hanya ingin memberitahumu kalau kita sudah terlambat! Kau jangan berpikir yang macam-macam karena aku hanya ingin membantumu. Kita tidak mungkin terlambat— maksudku kau, tidak mungkin terlambat untuk datang dipeluncuran perdana games— buatan—“ semakin lama suara Songjin semakin sulit untuk dikeluarkan.

 

Ada beberapa hal yang mendasari. Pertama, jarak Kyuhyun terlampau dekat dengannya, membuatnya dapat menghirup aroma tubuh Kyuhyun secara leluasa. Secara terus menerus dan sungguh, itu memabukkan.

 

Kedua, tentu saja Kyuhyun membuatnya gugup setengah mati. Mata Kyuhyun tidak lari kemanapun selain memandangi matanya seolah dirinya baru saja mencuri dompet pria itu tadi.

 

Dan ketiga, dia tidak bisa berpikir lagi. Bibir Kyuhyun terasa lembut, kenyal dan manis. Dingin, tapi membuatnya ingin merasakannya lagi dan lagi. Dan Kyuhyun seolah sedang berbaik hati dengan memberikannya secara cuma-cuma.

 

“kita akan terlambat.” Songjin terengah-engah diantara jeda time-out pemberian Kyuhyun untuk mengambil napas. Pria itu sendiri tampak sama payah dengan dirinya. “kita sudah terlambat.” Kyuhyun meralat. “perjalan dari sini ke winscanton hotel, setidaknya membutuhkan waktu 30 menit.”

“kalau begitu—“ Songjin meneguk liur. “kita berangkat sekarang?”

alis Kyuhyun terangkat satu begitu tinggi, “yakin?” suaranya sungguh jelas tampak meragukan ajakan Songjin tadi. ada tawa sinis yang sebenarnya tersimpan menganai betapa Songjin tampak munafik. Wanita itu jelas menginginkan hal yang sama seperti yang sedang dipikirkannya saat ini.

 

“yeah. Tapi sebaiknya, bibirmu dibersihkan dulu—“ Songjin meneguk liur lagi. Aroma mint, napas Kyuhyun kembali menampar wajahnya. Telunjuknya menunjuk bibir tebal Kyuhyun dengan bekas lipstick miliknya yang menempel disana. “ada lipstickku.” Lalu Songjin menutup mulut. Tidak sanggup berbicara lagi, wajah Kyuhyun semakin dekat dan dirinya tahu bahwa itu adalah hal berbahaya baginya.

 

“dimana?”

“dis—situ.” Wajah Kyuhyun maju lagi. Tak segan menghimpit tubuh Songjin yang tipis seolah tak peduli jika mungkin saja akan patah karena dihimpit seperti itu. “nanti, orang-orang akan menertawaimu— kalau—kau datang— dengan— dengan— itu.”

 

“siapa yang berani menertawaiku? Memangnya mereka tidak takut akan kupecat??”

“hng??” Songjin terkejut lagi. Pecat? Dipecat karena tertawa? “kau tidak bisa memecat mereka karena mereka tertawa! Itu tidak adil!!” lalu mendadak, topic ketidak adilan itu sanggup membuat Songjin lupa bahwa dirinya sedang berada disaat genting. Lupa, bahwa dirinya baru saja kehabisan napas dan lupa bahwa dirinya sedang terpojok.

 

“tidak adil? Kening Kyuhyun mengerut, “tahu apa kau tentang keadilan dan ketidakadilan?” sungutnya. Memakai mini dress ketat hingga membuat ‘adiknya’ memberontak namun tetap bersikap sok polos tidak tahu apa-apa, itu baru tidak adil namanya!!

 

Kyuhyun sungguh ingin berkata seperti itu namun pun merasa sungguh malu. Harus diletakkan dimana wajahnya nanti usai dirinya berkata seperti itu? Songjin pasti akan menggodanya habis-habisan. Menceritakan itu kepada Ahra membuat kakak keparatnya itu merasa senang bukan main karena baru saja menang membuatnya tampak tolol.

 

“aku—“ Songjin sesak napas lagi. Jantungnya berdebaran tidak menentu. Sungguh Songjin ingin berteriak, tapi toh, siapa yang akan membantunya jika dia berteriak? Rumahnya memiliki lahan yang sangat luas.

 

Siapa yang bisa mendengar suaranya? Toh tembok dirumah ini adalah tembok tembok kedap suara. Seberapa nyaring suaranya memang hingga dapat menembus tembok kedap suara itu?

 

“hapus lipstick nya.” Akhirnya Songjin menyerah saja. setidaknya Kyuhyun harus menghilangkan warna merah itu dari bibirnya hingga dia tidak akan tampak konyol. “kau tidak akan senang kalau jadi bahan tertawaan disana nanti.”

 

“tidak akan ada yang menertawaiku.”

Cih! Songjin sempat mendesis mendengar kepercayaan diri Kyuhyun terlalu tinggi. “jangan terlau yakin dulu.”

“aku sangat yakin.”

“uh-huh?” Songjin mulai jengkel. “hapus saja.”

“tidak.”

“Cho Kyuhyun!”

“seharusnya kau memanggilku Oppa!” Kyuhyun menempelkan bibirnya dibibir Songjin. Seolah sengaja melakukan hal seperti itu hingga jika nanti salah satu diantara mereka berbicara, maka bibir mereka akan saling bergesekan “—Atau.. yeobo?”

 

“huh?”

“aku lebih tua darimu, ‘kan?”

Songjin mendesis lagi, “sudahlah hapus saja.”

“aku bilang tidak.”

“kita sudah terlambat Cho Pabo Kyuhyun!”

Kyuhyun menggeleng cepat berulang kali menyanggah pernyataan Songjin bahwa “kita tidak akan terlambat.”

 

“kau bilang kita—“

“aku bilang kita tidak akan terlambat.” Putus Kyuhyun tegas menekankan. Maju, menggesekkan hidungnya pada milik Songjin lalu tersenyum karena mendadak ada kesenangan yang entah berasal dari mana. Yang Kyuhyun tahu, dia merasa senang. Hanya itu. “karena kita tidak akan datang kesana.” Lanjutnya menghentikan tangan yang tadi hampir masuk kedalam dress keparat Songjin melalui celah dipangkal paha Songjin. Lalu menunda hal tersebut dengan seenaknya, tanpa aba-aba mengangkat Songjin membawa wanita itu pergi dari sofa menuju kamar terburu-buru, menendang pintu kamarnya dengan satu kaki sangat kencang tidak peduli jika nanti, mungkin akan terjadi sesuatu dengan pintu tersebut.

 

Dimalam itu, Kyuhyun ingat, itu adalah kali pertama dirinya menjadi CEO nakal sepanjang hidupnya dengan tidak menghadiri acara penting yang sebenarnya sangat membutuhkan kehadirannya.

 

Malam itu, Cho Kyuhyun ingat, itu adalah kali pertama dirinya melihat secara langsung tubuh polos wanita. Pertama kalinya menyentuh payudara wanita— well, mungkin selain milik ibunya ketika dulu dia disusui saat bayi.

 

Kyuhyun tersenyum-senyum saat ingat, bahwa itu adalah kali pertamanya meniduri seorang wanita. Pun merasa puas bahwa dirinya adalah orang pertama bagi Songjin dengan bukti beberapa bercak darah diseprei putih ranjangnya.

 

Kyuhyun merasa lega, bahwa itu adalah kali pertama dirinya sadar, bahwa dia akan menjadi ketergantungan oleh rasa aneh itu. Itu adalah kali pertama Kyuhyun sadar, bahwa dia telah jatuh cinta. Sungguh.

 

Kemudian dimalam itu, ditengah tidur pulasnya ponsel miliknya berdering. Dengan mata sayu Kyuhyun mencoba memahami hal penting apa yang menganggu malamnya, namun dengan cara perlahan tak ingin menggeser seinchi pun Songjin yang tertidur pulas didadanya.

 

Itu Ahra. Pesan singkat dari wanita keparat pembuat onar, penyebab semua hal ini terjadi.

 

Bukankah seharusnya aku mendapatkan kata terima kasih untuk malam pertama yang akhirnya kau dapatkan, Mr.busy?

 

Kyuhyun mendengus membacanya. Kesadarannya langsung kembali ketika melihat nama Ahra tertera disana. Jarinya lantas cepat-cepat mengetik pesan balasan berupa,

 

Aku akan membunuhmu besok!

 

Lalu Kyuhyun berpindah posisi dari setengah duduk, kembali tergeletak diranjangnya. Mengembalikan kepala Songjin yang sempat bergeser agar kembali menyentuh tubuhnya saja. nafas hangat Songjin yang teratur, menyentuh kulit tubuhnya bekerja lebih efektif dibandingkan penghangat ruang dikamarnya.

 

Uuh, aku takut.

 

“sialan.” Gerutu Kyuhyun membaca balasan Ahra. Meletakkan ponsel itu sesaat untuk merunduk mengamati Songjin Karena wanita itu baru mengulat ditempatnya sambil menepuk-tepuk lengannya lembut.

 

Songjin, ketika tidur sama saja seperti orang mati suri. Bergerak pun tak akan membuat wanita itu terbangun. Itu yang telah Kyuhyun dapatkan setelah pengamatan 2 malam tidur seranjang bersama Park Songjin.

 

Dan dengkuran Songjin, kadang terdengar kencang jika wanita itu sedang terlalu lelah. seperti sekarang. Tapi ditengah lelapnya, Kyuhyun sungguh yakin bahwa dirinya mendengar Songjin berbicara padanya, “kapan kita akan berangkat, Kyuhyun-ah? Kita terlambat.”

 

Kyuhyun yakin bahwa Songjin sedang mengiggau. Tapi igauannya sungguh lucu. Itu membuat Kyuhyun melirik pada jam dinding lalu terkejut melihat jarum jam telah menunjukan pukul 2 pagi. Jadi berapa lama tadi dia melakukan— Ah sudahlah. Lupakan!

 

“Kyuhyun-ah?”

Kyuhyun mengernyit heran. Songjin sungguh benar-benar.. “sudahlah tidur saja.” erang Kyuhyun. “kalau kita berangkat sekarang, disana hanya tersisa kursi kosong saja.” dengusnya mendadak ingin menyentil dahi Songjin kencang-kencang, namun merasa tak tega.

 

Lalu Kyuhyun tak sadar. Dirinya tersenyum terlalu lebar setelah berkata ketus kepada Songjin tadi. ada rasa senang yang tadi sempat dirasakannya, kini mencuat lagi. Dia kemudian mengangkat ponselnya dan mengetik cepat-cepat, mengirimkan, lalu meletakkan ponsel itu jauh-jauh darinya agar tidak mengganggu tidurnya ataupun Songjin.

 

Terima kasih banyak.

 

“Hey, Songjin?” Kyuhyun merunduk, telunjuknya mencolek pipi Songjin, menusuk-tusukkan ujung kukunya pada pipi wanita cerewet itu. Menarik napas banyak-banyak karena mendadak jantungnya berdebar tak karuan saat ingin mengatakannya. “aku mencintaimu.” Katanya pelan, kemudian disambut suara dengkuran Songjin yang sungguh langsung merusak Susana hatinya. “sialan!”

 

 

 

-Sembilan-

 

Step One

“Hey Jude, don’t be afraid, you were made to go out and get her. The minute you let her under your skin, then you begin to make it better”

-The Beatles, Hey Jude

 

 

 

Seocho-gu, Seoul

14:30 PM, KST

 

“berapa banyak tissue lagi yang kau butuhkan Cho Songjin??” Donghae mendesah jengkel memutar bola matanya malas. Sudah berjam-jam lamanya Songjin menghabiskan waktu dengan menangis. Menghabiskan waktu wanita itu sendiri dan tentu waktunya yang berharga.

 

Donghae kesal, karena waktu istirahatnya terusik lagi dan lagi oleh tangisan konyol Songjin mengenai siapa lagi kalau bukan Kyuhyun? “dia bertanya mengapa aku ingin berpisah Oppaaaa!” tangisan itu banjir lagi dan Donghae dengan malasnya menarik dua lembar tissue dipelukannya. Memberikan itu kepada Songjin.

 

“ya kau jawab saja, kau ingin mendengarnya mengatakan aku mencintaimu Songjin. Lalu dia akan mengatakannya dan permasalahanmu selesai.” Tanggap Donghae jengkel.

 

Pria itu benar-benar tak habis pikir, masih ada ternyata pasangan aneh yang tak saling bercakap dari hati ke hati, tapi sanggup menjalani pernikahan hingga satu tahun lamanya? Itu seperti sama saja dengan hubungan yang tidak memiliki landasan kuat.

 

Sama seperti bangunan, tanpa atap. Sama seperti kapal, tanpa navigator. Donghae sungguh tidak dapat membayangkan betapa hampa hubungan semacam itu. Membayangkannya saja sudah membuatnya panic apalagi menjalankannya.

 

Persoalan Songjin kali ini semakin membuat tekadnya bulat untuk terus mengundur waktu penetapan batas maksimal masa lajangnya. Pernikahan kini telah berada dikemungkinan terakhir hal yang perlu dilakukannya. Tidak menikah pun tak masalah. toh Donghae tahu bagaimana cara membuat hidupnya terasa menyenangkan walaupun tidak memiliki istri atau anak.

 

“bagaimana Kyuhyun tidak merasa aneh dengan matamu yang sebesar dan sehitam panda begitu??”

 

“dia tidak peduli denganku lagi.” Rengek Songjin membuat Donghae mencebikkan bibir malas. “kalau dia tidak peduli denganmu dia tidak akan mengajukan permohonan mediasi Cho Songjin! Dia akan langsung menandatangani surat perceraian itu lalu mungkin, sekarang kau sudah tidak bersuami!”

 

tangisan Songjin pecah lebih keras daripada sebelumnya. Dia sungguh tidak ingin membayangkan posisi ketika dirinya tidak lagi menjadi pasangan Kyuhyun. Tapi merasakan menjadi pasangan Kyuhyun selama ini sama saja membuatnya menangis setiap saat, jadi apa bedanya??

 

“kalau kau tahu kau tidak akan bisa bertahan lama berada didekatnya, kenapa kemarin kau menerima ajakan makan malamnya??”

 

“itu bukan ajakan makan malam.”

“tapi kalian berbicara diwaktu makan malam jadi apa bedanya??” dengus Donghae. “apa saja yang kalian bicarakan?”

 

sebenarnya, kurang lebih Donghae mengerti tanpa harus Songjin jelaskan mengenai apa-apa saja yang Kyuhyun katakan. dia tahu Kyuhyun menyukai Songjin seperti Songjin menyukai Kyuhyun. Hanya saja, Donghae lebih memahami bahwa Kyuhyun bukanlah tipe lelaki ekspresif.

 

Dipasangkan dengan Songjin yang memiliki ekspresi berbeda dalam setiap geraknya, tentu saja posisi Kyuhyun sungguh terbanting. Membuatnya tampak acuh, tak peduli dan bukan main dingin. Mungkin, itu memanglah sifat mendasar Kyuhyun, tapi bukan berarti Kyuhyun akan sama bentuknya seperti pangeran es yang dingin bukan main.

 

Hanya saja karena Songjin yang bersamanya maka Kyuhyun akan tampak jauh jauh jauh berbeda. Ini bukan perkara siapa yang lebih perhatian, atau siapa yang lebih berjuang didalam hubungan mereka. Permasalahannya adalah, mungkin juga karena mereka belum saling mengenal terlalu dalam.

Donghae dapat membayangkan pertemuan Kyuhyun dan Songjin kemarin hingga membuat saat ini Songjin tak dapat berhenti menangis. Dari beberapa kemungkinan yang ada, salah satunya, Kyuhyun pasti tidak mengupayakan menghentikan proses perceraian antar dirinya dan Songjin.

 

Donghae dapat menebak. Kyuhyun pasti lebih dulu mencari tahu alasan mengapa Songjin melakukannya. Itulah mengapa Songjin menyimpulkan bahwa Kyuhyun tidak peduli lagi padanya. Sayangnya, Songjin terlalu tolol untuk sadar bahwa sebenarnya, Kyuhyun sedang mencoba untuk mempertahankan wanita itu untuk terus bersamanya dengan cara pria itu sendiri.

 

Songjin terlalu polos dan tolol untuk memahami bahwa setiap orang memiliki cara mereka masing-masing untuk mencintai dan tidak bisa disamakan. Sayangnya, Songjin memang setolol itu.

 

“Dia—“ suara Songjin tersendat karena Songjin membuang ingusnya dengan kertas tissue. “dia berkata—“ belum mengatakan apa-apa, air mata Songjin telah merebak. Songjin kembali menyelam dalam kesedihannya dan Donghae sudah angkat tangan menangani sahabat luar biasanya ini.

 

kepala Donghe menggeleng-geleng heran sambil memandangi kepala Songjin diatas meja “Cho Songjin kau benar-benar—“ desahnya namun mendadak terkejut karena Songjin langsung menangkat kepala.

 

Matanya berwarna merah. Kantung matanya sungguh sangat besar membengkak dan wajahnya memiliki warna serupa dengan tomat. “jangan panggil aku seperti itu lagi!” bentak Songjin terang-terangan tidak mau menutupi rasa ketidak sukaannya.

 

“apa?”

“itu!”

“yang mana?” tanya Donghae tak mengerti. Diam berpikir— lalu beberapa detik barulah paham. “Cho Songjin maksudmu??”

 

“aku bilang jangan—!!!” gumpalan tissue bekas ingus dan air mata dalam genggaman Songjin melayang diudara, sengaja dilempar oleh wanita tersebut berharap dapat segera menyumpal mulut Lee Donghae.

 

“memangnya apa salahku memanggilmu begitu? Kalian kan belum berpisah dan dia masih suamimu.”

“aku tidak suka!!” usaha Songjin menunjukkan ketidak sukaannya— patut Donghae acungkan jempol melihat kegigihan sementara disana walau tak lama, Donghae harus membuang napas panjang lagi saat Songjin berhenti bersungut-sungut padanya, kembali duduk dan menangis.

 

Tampak jelas bahwa Songjin sendiripun tidak merasa yakin dengan ketidaksukaannya sendiri tadi.

“sudahlah berhenti menangis. Air matamu bisa habis kalau terus menerus menangis, kau tahu??”

 

Donghae mengambil sebotol air mineral dipinggir meja makan kecil miliknya lantas memberikan botol itu kepada Songjin “minumlah dulu.”

 

“aku tidak mau—“

“ayo diminum!” Songjin bersungut kesal. Senggukan tangisnya tidak berhenti saat tangannya menggapai botol pemberian Donghae. “kuantar kau pulang setelah ini, okay?”

 

~~ ~~

Nowon-gu, Seoul

20:45 AM, KST

 

didalam sebuah mobil mewah berwarn biru tua metallic, terdapat lelaki yang sejak 45 menit belakangan hanya dapat duduk saja dan memperhatikan pada satu titik focus.

 

Lantai dua, salah satu balkon dengan lampu menyala didalamnya, dan lampu menyala diluarnya sebagai hiasan lucu pernak-pernik yang mengelilingi pagar trails disana.

 

Dilantai dua disana, terkadang terlihat bayangan wanita berjalan melintas. Lalu kembali lagi. Lalu melompat-lompat entah apa yang sesungguhnya sedang dilakukan si pemilik ruangan itu disana, tapi itu semakin membuat Kyuhyun— yang sedari tadi diam menjadi pemnagat dadakan malam itu yakin, Songjin masih terjaga.

 

Matanya dengan jeli memperhatikan sekitar balkon dan sebuah pohon besar rindang didepannya. Disana sudah tak lagi ada tangga kayu dari pohon hingga kebagian paling atas yang membuat siapa saja yang mendakinya, dapat melompat masuk kedalam balkon lantai dua salah satu kamar dengan pernak-pernik khas wanita disana. Itu adalah kamar Songjin.

 

Kyuhyun membuang napasnya. Dia tidak mungkin menghubungi Songjin melaui telepon untuk mengabarkan bahwa dirinya berada dirumah Songjin. Sudah dapat ditebak, jawaban macam apa yang Kyuhyun akan terima nanti.

 

Maka setelah menimbang sangat lama, Kyuhyun mendapati dirinya telah berjalan turun perlahan dari mobilnya menuju rumah berpagar hitam tersebut. Melompati pagar rendah itu bukanlah perkara sulit baginya. Dulu dirinya bahkan Songjin pernah melakukan hal yang serupa.

 

Sedangkan didalam kamar hangat tersebut, Park Songjin sang korban utama yang tak sadar telah diamati begitu lama oleh seseorang, sedang sibuk mengumpulkan puluhan benda yang memiliki kemungkinan besar akan membuatnya ingat pada Kyuhyun.

 

Songjin mengumpulkannya kedalam satu kardus besar seolah seluruh barang-barang itu tidak memiliki arti lagi untuknya. tak pernah menjadi barang-barang terpenting bagi hidupnya dan tak pernah peduli dengan barang-barang tersebut.

 

Ditengah kesibukannya, Songjin dikejutkan oleh suara lemparan benda keras pada pintu balkonnya. Tubuhnya menengang. Mendadak, bulu kuduknya pun meremang. Didalam kepalanya, hantu sejenis sadako, telah tergambar siap untuk membunuhnya malam ini.

 

Lalu suara itu terdengar lagi dan Songjin hanya berani berjongkok ditempatnya sambil menutup mata, sampai dia yakin bahwa dirinya mendengar namanya dipanggil.

 

Jika ingatannya adalah benar, sadako bukankah seorang wanita?

Suara yang memanggil namanya terdengar bukan seperti suara wanita melainkan pria. Kemudian suara lemparan itu terdengar semakin jelas dan heboh. Songjin memicingkan mata ketika menyadari benda seperti apa yang sejak tadi membuat kegaduhan dikamarnya.

 

Sambil bersungut-sungut kesal, rahang mengeras, Songjin berjalan menghentak membuka kedua pintu balkon kamarnya. Tidak terkejut saat menemukan Kyuhyun berada dibawah sana menyengir tolol padanya.

 

“Rapunzel, oh Rapunzel turunkan rambutmu?”

Songjin tak sempat terpana. Tak sempat merasa takjub, tak sempat merasa tersanjung apalagi merasa senang. Yang Songjin rasakan adalah sebuah kegetiran mengenai alasan Kyuhyun berada dibawah sana saat ini.

 

Ini masih pukul delapan malam lewat. Biasanya pria itu tidak bisa memunculkan batang hidung dijam-jam seperti ini didepan wajahnya. Kyuhyun akan berangkat saat Songjin masih tertidur dan kembali saat Songjin telah tidur. Maka dari itu Songjin selalu menyempatkan diri mendatangi Millennis, walau hanya untuk sekedar melewati makan siang bersama.

 

Jika tidak seperti itu, dirinya dan Kyuhyun hampir tidak akan pernah bertatap muka walau tinggal dibawah atap yang sama.

 

“ada apa?” Sungguh, hampir tak pernah Songjin menggunakan nada ketus saat berbicara kepada Kyuhyun. Tapi belakangan ini, Kyuhyun seperti terbiasa dengan wajah ketus, kata-kata pedas dan sikap dingin Songjin. Ada sebagian dirinya yang merasa tak senang dengan perubahan itu. Tapi sebagian lagi, seolah bersorak senang seperti merasa baru saja diberikan tantangan baru hingga harinya tidak terasa membosankan lagi.

 

Kyuhyun tertawa renyah, “turunkan rambutmu dulu~” pintanya melambai seraya memohon. Candaannya tak berjalan mulus. Kyuhyun tahu rambut Songjin tidak sepanjang itu dan suasana hati Songjin sedang tidak cukup baik untuk diberikan candaan.

 

Namun Kyuhyun tetap mengatakannya seolah ulahnya perlu diberikan penjelasan lagi darinya, “hanya bercanda.” Tandas Kyuhyun tetap tertawa saat wajah Songjin tidak memberikan hal serupa padanya, apalagi tanda-tanda keramahan untuknya. “kemana tangga dipohon itu?” Kyuhyun menunjuk badan pohon yang dulu, terdapat tangga kayu.

 

Songjin melirik tempat yang sama namun hanya beberapa detik langsung membuang wajah sinis. Tangga disana dibuang karena kayunya telah lapuk. Itu adalah jawaban sederhana tersingkat yang dimilikinya namun nyatanya, Songjin dapat membuat penjelasan singkat itu menjadi lebih singkat dengan menjawab, “hilang.”

 

Sudah.

 

Sesingkat itu saja, seolah adalah cara tertepat untuk menggambarkan bahwa saat ini, dirinya sedang tak ingin diganggu oleh siapapun, apalagi lelaki menyebalkan bernama Cho Kyuhyun ini.

 

“jadi—“ Kyuhyun berpikir keras, “aku harus menggunakan apa agar bisa sampai kesana?” dia menunjuk Songjin. Tempat dimana Songjin berada lebih tepatnya.

 

“untuk apa kau kesini??” Songjin mendesak lagi. Dia belum mendapatkan jawaban mengapa pria keparat itu berada dirumahnya, ‘kan sedari tadi? dan omong-omong, ini adalah rumahnya. Sudah menjadi tugasnya bertanya kepada siapapun tamu yang akan masuk kedalam kediamannya. Bukankah begitu?

 

Songjin memerhatikan Kyuhyun seksama dari atas rambutnya hingga keujung kaki. Pakaian Kyuhyun, jelas tak tampak bahwa pria itu baru kembali dari kantornya. Tapi tidak mungkin seorang Cho Kyuhyun yang gila kerja mengskip pekerjaannya hanya untuk melakoni drama amatir Rapunzel seperti ini.

 

Pada dasarnya, didalam logika Songjin, tidak sekalipun tampak masuk akal, Kyuhyun rela mengskip pekerjaannya hanya untuk hal sepele. Kyuhyun begitu menggilai pekerjaannya. Bukankah, prinsipnya, waktu adalah uang?

 

Kyuhyun tersenyum lebar “akan kujelaskan saat aku sampai disana.” Katanya lembut namun tenang seperti biasanya. “jadi, harus dengan apa aku naik kesana, sayang?”

 

Kyuhyun merajuk dan Songjin mendadak mual mendengar Kyuhyun tiba-tiba menjadi sungguh manis padanya. Ah, bukan. Kyuhyun tidak tiba-tiba menjadi manis seperti itu. Pria itu menjadi manis sejak awal Songjin melayangkan gugatan perceraian itu padanya.

 

Terungkap dengan mudah dan gamblang mengapa kini, Kyuhyun tiba-tiba tidak terlihat seperti Cho Kyuhyun yang pernah Songjin kenal dan ingat. Kyuhyun versi ini jelas berbanding jauh dengan Kyuhyun masa lampau.

 

Oh, berapa lama memangnya sampai harus disebut masa lampau? Tapi sungguh, istilah itu tidak berlebihan ‘kan?

 

“ayolah,” Kyuhyun memohon. Mulai tampak resah ditempatnya. Belakangan ini Songjin berubah seperti bukan Songjin yang dikenalnya. Songjin kali ini adalah Songjin dalam versi dingin yang kadang tampak lebih menyebalkan, lebih mengesalkan dan sunyi. Kehangatan yang dulu selalu terpancar dari setiap ulah atau suara yang dikeluarkan oleh Songjin, bagi Kyuhyun kini telah tak berlaku lagi.

 

Tapi sungguh itulah yang membuatnya begitu merindukan Songjin nya.

 

Songjin yang ini berbeda. Ini masih tetap Songjin, tapi juga seperti bukan Songjin, batin Kyuhyun entah harus menjelaskannya seperti apa agar dirinya tidak tampak tolol ketika melakukannya.

 

“tidak ada jalan lain selain pintu utama, kalau kau ingin masuk, Cho.” Dengus Songjin sinis namun penuh kemenangan. Itu adalah suatu kemungkinan kecil yang akan terjadi, bahwa Kyuhyun akan menyetujui dengan masuk melalui pintu utama.

 

Kyuhyun pasti tahu harus berhadapan dengan siapa jika tetap memaksa masuk melalui pintu utama tersebut dan seperti yang diingatnya saat terakhir kali Kyuhyun bertemu dengan Park Seul Gi. Lelaki separuh baya itu sungguh tak menyukai Kyuhyun. Tanpa cela.

 

“ayahmu ada?” lalu seringaian Songjin semakin meninggi saat perkirannya tepat. Kyuhyun pasti mengkhawatirkan yang satu itu. “kau bisa menemuinya dulu kalau kau mau.”

 

“sayangnya, pasti Ayahmu lah yang tidak ingin bertemu denganku.” tutur Kyuhyun begitu polosnya. Dia ingat, terakhir kali bertatap muka dengan Park Seul Gi, di Seoul General Hospital saat Songjin dirawat karena tipus.

 

Kyuhyun dimarahi habis-habisan oleh Park Seul Gi. Lelaki 50-tahunan itu bersumpah ingin membawa pulang Songjin karena merasa Songjin tidak mendapatkan pengawasan dengan baik dan benar sejak hidup bersama Kyuhyun. Beruntung Park Aeri menyudahi omelan pria tua itu hingga keributan mengenai seret menyeret pulang kerumah, gagal dilakukan.

 

Kyuhyun mengingatnya terlalu jeli. Mendadak membuatnya merinding ditengah hangatnya akhir musim panas ini. tapi kemudian Kyuhyun tersenyum. Dia merasa sangat yakin akan melakukan hal yang sama jika kelak dirinya memiliki seorang putri dan harus berurusan dengan pria semacam dirinya.

 

Sungguh, jika nanti putrinya bertemu dengan duplikat dirinya ini sebagai pendamping hidup, Kyuhyun akan memberikan training habis-habisan bagi pria itu agar kelak, tidak melakukan kesalahan seperti yang saat ini dilakukannya.

 

Agar memperlakukan putrinya dengan perlakukan lebih baik. Berbicara dengan putrinya dengan tutur lebih lembut dan bersikap sebagaimana mestinya sebagai pasangan hidup-semati.

 

Dan Sungguh, Kyuhyun telah menyadari betapa seluruh kesalahan, sesungguhnya bermuara darinya. Sikap Songjin hanyalah sebuah reaksi bom yang telah terpendam lama lalu kini bom itu telah meledak.

 

Songjin tak salah jika merasa marah. Pun Kyuhyun merasa tak salah, jika kini dirinya ingin membetulkan apa yang salah itu. Ingin merapihkan apa yang sebelumnya tampak kacau.

 

“kau belum mencobanya. Siapa tahu Ayahku berubah pikiran tentangmu.”

 

“itu yang kau harapkan?” Kyuhyun menyeringai jahil menggosok rambutnya seolah dirinya baru saja mendapatkan sebuah pujian besar. “bagaimana kalau kau turun, katakan pada Ayahmu aku datang, lalu biar aku yang berbicara dengannya untuk membawamu pergi sebentar? Atau setidaknya memberikan aku waktu untuk berbincang denganmu, Bisakah?”

 

Songjin terdiam. Usul Kyuhyun bukan usul yang salah. Itu adalah prosedur standar yang dulu dilakukan oleh pria itu ketika mereka belum menikah dan saat mereka akan pergi keluar. Biasanya, Kyuhyun akan datang, meminta izin kepada Park Seul Gi untuk membawa Songjin pergi, lalu Park Seul Gi akan berpesan begitu ketus kepada Kyuhyun tentang keharusan membawa kembali pulang putrinya sebelum pukul 9 malam.

 

Tapi kemudian Songjin pun ingat. Ayahnya berkata dengan ketus. Sejak kapan memangnya Ayahnya menyukai Kyuhyun? Pun hingga pada akhirnya dirinya menikah dengan Kyuhyun, Park Seul Gi masih terang-terangan menunjukkan bahwa dirinya tak senang dengan Kyuhyun.

 

Jika sekarang Kyuhyun benar melakukan hal itu— berbicara pada Ayahnya untuk meminta izin membawa Songjin pergi atau bahkan sekedar mengajaknya berbicara, Ayahnya pasti akan mengamuk bukan main.

 

Yang Park Seul Gi tahu mengapa beberapa hari ini Songjin pulang dan tidak kembali kerumahnya bersama Kyuhyun adalah bahwa Songjin sedang bertengkar hebat dengan Kyuhyun. Si Ayah itu masih belum tahu apa-apa mengenai perceraian ini dan sungguh, Songjin tidak berniat sedikitpun untuk memberitahukannya karena banyak alasan.

 

Salah satu alasan utama adalah Ayahnya yang kini setiap bertemu dengannya akan menanyakan kapan dirinya pulang, lalu dilanjutkan dengan kalimat-kalimat sinis yang memojokkan Kyuhyun— memaki pria itu kemudian menyatakan kebenaran pemikirannya dulu.

 

Park Seul Gi selalu berkata dimeja makan saat bertemu Songjin, “apa yang kubilang? Kyuhyun memang bukan pria baik-baik ‘kan? kau sekarang kau sudah menyesal??” namun Park Aeri pasti akan menyemprot suaminya dengan omelan lain yang mengaggungkan Kyuhyun, “Kyuhyun bukan pria seperti itu! Dia anak baik-baik! Dia hanya memiliki kepribadian tertutup, dan selama ini Kyuhyun memperlakukan putri kita dengan sangat baik, jadi berhenti menyudutkan Kyuhyun!” dan begitulah seterusnya.

 

Pada akhirnya, acara berbincang intim dimeja makan yang seharusnya berisi pembicaraan mengenai keluarga, mengenai bagaimana harimu tadi? berganti dengan debat, perselisihan antar dua kubu. Dan Songjin tak ingin repot-repot untuk ikut masuk kedalam salah satu kubu disana.

 

Songjin ingat, betapa perdebatan itu sungguhlah membosankan. Maka ide untuk memberi tahu Ayahnya, bahwa Kyuhyun berada dirumah mereka, dan ingin mengajaknya keluar atau bertemu, mungkin bukanlah ide yang bagus.

 

Songjin diam sejenak berpikir. Dia mengamati Kyuhyun dibawah sana tampak tidak sabar menunggu keputusannya, namun bibirnya terus mengulaskan senyuman keparat. Sesungguhnya Songjin menyukai senyuman itu. Tapi karena kini dirinya sedang dalam mode bertengkar dengan si keparat itu, lebih baik acuhkan saja senyuman menggoda itu.

 

“bagaimana?” Kyuhyun membuat Songjin menyudahi aksi berpikir-bagaimana-seharusnya-aku memperlakukanmu-dan bergerak-gerak ditempatnya pelan, “aku pegal.” Protes Kyuhyun sungguh tidak Songjin pedulikan. Memangnya ada yang memaksa pria itu untuk terus berada disana berdiri sampai kakinya keram?

 

Kyuhyun saja yang tolol.

 

Songjin menghela napasnya panjang. Merasa malas, namun enggan mendapatkan keributan atas ulahnya jika Ayahnya tahu semua ini. maka kemudian Songjin bertanya lagi kepada Kyuhyun, “apa yang ingin kau bicarakan?”

 

Kyuhyun diam. Apa dia mengatakan tadi bahwa dia ingin berbicara dengan Songjin? Bukankah dia hanya mengatakan ingin bertemu dengan wanita itu? Oh, jadi ada yang ingin Songjin katakan padanya? “banyak?” ujar Kyuhyun menimbang ragu.

 

“katakan saja sekarang.”

“tidak bisa~” Kyuhyun mengerang “terlau banyak yang ingin dikatakan.” Ujarnya. Bukan terlalu banyak yang ingin dikatakan, tapi aku sedang terlalu ingin melihatmu dari jarak dekat, menyentuh kulitmu karena kau begitu sialan, menghilang sangat lama!

 

Kyuhyun bisa saja mengatakan hal seperti itu yang baru saja tadi melintas didalam kepalanya. Tapi jika dia mengatakannya, apakah Songjin tidak akan merubah keputusannya? Sepertinya saat ini Songjin telah menjadi setengah lunak untuk bercakap dengannya?

 

Songjin mendengus, “kalau begitu buat yang banyak itu menjadi sedikit. Mudah.” Katanya ketus. Matanya sempat melirik kendaraan milik Kyuhyun yang diparkir tepat didepan seberang rumahnya.

 

Songjin mengamati dengan sangat teliti, mungkin saja Kyuhyun datang bersama seseorang, tapi harapannya seolah pupus karena dia tidak menemukan pembiasan silhouette siapapun dari dalam sana.

 

“Songjin,” Kyuhyun menurunkan nada suaranya. Sungguh namanya tak pernah dipanggil dengan suara semenggoda itu sebelumnya, dan sungguh, keparatlah Kyuhyun yang dapat dengan mudah membuat jantung Songjin berdebar tak karuan, hanya dengan memanggilnya seperti itu. “ayolah, kumohon. Ini tidak akan lama aku bersumpah.”

 

“aku tidak tahu—“

“Please?”

“aku sedang cukup sibuk,” yeah, sibuk menyingkirkan sebagian diri Kyuhyun yang tertinggal didalam kamarnya. Yang membuatnya akan menangis seharian penuh jika melihatnya karena tiba-tiba pasti akan teringat oleh kenangan dari benda tersebut. Itu kan sungguh menggelikan!

 

“tidak akan sampai tengah malam.” Janji Kyuhyun menyilangkan jemarinya sendiri lalu menunjukkannya kepada Kyuhyun. “please?”

 

~~ ~~

 

Myeongdong, Seoul

21:21 AM, KST

 

“ada apa dengan matamu?”

 

adalah hal pertama yang menjadi titik focus Kyuhyun. Mata hitam dengan kantung yang besar diwajah Songjin, hingga wanita itu perlu menutupinya dengan rambut dan masker adalah hal yang tak akan luput dari penglihatannya meskipun karena ditutupi seperti itu, banyak orang yang tidak menyadari perubahan tersebut.

 

Seperti Dexter contohnya. Pemilik restoran steak tempat dimana biasa Kyuhyun menghabiskan sore ketika merasa penat dalam pekerjaannya bersama Sungmin, sungguh tidak menyadari bahwa kini Park Songjin telah berevolusi menjadi panda.

 

Ketika lelaki kaukasia— berdarah Amerika-Italia itu datang untuk menyapa meja Kyuhyun dan Songjin. Pria itu hanya bergurau mengenai kebersihan restorannya hingga sebetulnya, tak perlulah Songjin menggunakan masker didalam restoran miliknya. Namun Kyuhyun buru-buru menjelaskan bahwa Songjin sedang flu.

 

Setidaknya ada alasan konkret mengapa tak seharusnya Songjin melepas masker tersebut didalam restoran mewah namun tampak minimalis tersebut. Setidaknya, tidak membuat Dexter merasa tersinggung karenanya.

 

Sedang Songjin tak tenang ditempatnya. Duduknya terganggu. Seperti ada bara api yang sengaja diletakkan dibawah kursinya hingga kursi empuk miliknya terasa panas dan tidak nyaman.

 

Beberapa kali dirinya melirik plate-steak miliknya, yang sedang Kyuhyun potong-potong menjadi bentuk lebih kecil. Bukan Kyuhyun tidak menyadari sikap Songjin dengan ketidak nyamanan wanita itu, namun sepertinya, kali ini Kyuhyun sadar mengapa Songjin merasa tak nyaman. Dia hanya tidak ingin alasan itu semakin diperjelas karena tahu pada akhirnya, siapa yang akan merasa terluka dengan alasan itu sendiri.

 

“kurang tidur.” Percayalah didalam tubuhnya, sedang ada yang berteriak mengatakan alasan Songjin adalah sebuah kebohongan. Kyuhyun tahu Songjin berbohong. Dia lebih tahu mengapa Songjin melakukannya. Mengapa wanita itu berbohong padanya, setelah selama ini, tak pernah sekalipun Songjin sudi berbohong padanya.

 

Dulu, satu-satunya orang yang dapat Kyuhyun percaya hanyalah Songjin karena wanita itu tak pernah sekalipun menipunya. Pun jika sedang bersekongkol dengan Ahra untuk mengerjainya. Pada akhirnya, Songjin sendiri yang akan membeberkannya. Berkata Ahra dan dirinya sedang melakukan sesuatu untuk mengerjainya hingga kemudian, Kyuhyun tak perlu terkejut dengan ‘kejutan’ tersebut.

 

Sekarang, sudah dikatakan tadi— Songjin nya bukan lagi seperti Songjin nya. Tapi sungguh, Kyuhyun masih begitu merindukan Park Songjin tidak peduli dalam versi dingin, atau hangat.

 

“kurang tidur?” Kyuhyun tersenyum hampa. “sebaiknya jangan dilakukan lagi.” Katanya memperingatkan lembut. Pada dasarnya, sesungguhnya yang ingin Kyuhyun katakan bukanlah seperti itu.

 

Kyuhyun tahu, dan setengah dari dirinya yakin dengan pernyataan Songjin kemarin lalu bahwa wanita itu tidak lagi mencintainya. Namun sebagian lagi mengatakan— berharap bahwa mata bengkak itu adalah efek dari kesedihan karena sesungguhnya, Songjin masih begitu mencintainya.

 

Kyuhyun menghembuskan napas beratnya seraya berharap, semoga harapan seperti itu, bukanlah harapan yang muluk-muluk. Semoga permintaannya entah kepada siapa itu, tidak terlalu berlebihan hingga sulit untuk direalisasikan.

 

Kyuhyun kemudian memberikan piring berisi steak yang telah dipotong-potongnya kepada Songjin dan mengambil piring yang sama yang berada dihadapan Songjin untuknya. “makan.” Kata Kyuhyun memerintah— bernada dingin, tapi juga lembut.

 

“aku tidak makan malam.” Keluh Songjin mengernyit memandangi steaknya hampa. “kenapa tidak pesankan aku salad saja?”

 

“katakan padaku, kau sudah memakan sesuatu hari ini.” ujar Kyuhyun sambil mengunyah seiris daging dimulutnya. Menoleh pada Songjin lalu menemukan wanita itu sedang mendengus jengkel padanya.

 

Kyuhyun tersenyum kemudian. Mengusap kepala Songjin lantas mengetuk-ketukan jemarinya diatas kepala itu, “kau bisa mendapatkan saladmu setelah kau menghabiskan makan malam-mu ini, okay?”

 

Songjin, semakin hampa saja memandangi piringnya. Bukan karena merasa bahwa menu makan malamnya kali ini tampak tidak lezat atau lainnya tapi dia tidak pernah sekalipun memakan makanan lain selain salad sebagai makan malamnya.

 

Dan tentu saja, kecerdasan Kyuhyun sepertinya dapat digunakan untuk menebak bahwa memang tidak ada satupun butir nasi, atau makanan dalam bentuk, jenis apapun yang masuk kedalam lambung Songjin hari ini kecuali air mineral pemberian Donghae siang tadi.

 

Lalu dengan bimbang Songjin mulai menggunakan garpu untuk menusuk sepotong steaknya, membawanya kedepan mulut. “ayo.” dan Kyuhyun tampak bagai seorang cheers yang sedang menyemangati kawanan pemain baseball agar menang dalam pertandingan.

 

Songjin berdecak jengkel mendengus ketus. “aku membencimu.” Hardiknya menyadari bahwa mungkin Kyuhyun tak paham, menahan pola makannya adalah salah satu cara agar dia dapat terus terlihat menarik. Jika dirinya menarik dalam visual, Kyuhyun pasti…. Akan dapat menyukainya. Mungkin.

 

~~ ~~

 

Nowon-gu, Seoul

21:21 AM, KST

 

Jadi sekarang, marilah kita beralih pada focus yang lain. Hanna dan Ahra misalnya. Para wanita berbeda generasi itu sedang melakukan hal yang sama seperti Kyuhyun dan Songjin lakukan malam ini.

 

Terasa nikmat walau cukup sepi. Hanya terdengar suara lelaki berbicara menggunakan bahasa asing dari dalam televisi yang sedang menyiarkan berita dunia.

 

Keheningan sedikit tertutupi dengan suara dentingan piring yang beradu dengan sendok dan sumpit. “kau sudah melakukan check-up?” Kim Hanna melirik putrinya dengan sumpit ditangan, siap mengambil japche buatan Ahra. “mm. tadi pagi.” Jawab Ahra yakin. Dia tak pernah melupakan jadwal rutin itu walau Luke, suaminya tak berada didekatnya untuk menemani.

 

“kapan Luke pulang?”

mata Ahra berputar cepat. Menimbang juga mengingat seperti apa yang terakhir kali Luke jelaskan padanya, “katanya, mungkin empat sampai lima hari lagi.” Jawabnya.

 

“dan akan berada disini berapa lama?”

“mungkin dua minggu.”

“terlalu cepat.” Desah Hanna terdengar kecewa. “dia pergi sampai berbulan-bulan tapi kembali dan tinggal hanya beberapa minggu saja.”

 

Ahra mendesah sama hampanya walau seluruh konsonan kalimat yang akan dikeluarkannya berupa pembelaan bagi suaminya. “itu sudah pekerjaannya, eomma. Harus apalagi? Yang penting disini aku merasakan hasil kerja kerasnya dan disana dia tidak macam-macam.”

 

Lantas kemudian Hanna melirikkan matanya tajam. sungguh, hal serupa dimiliki oleh Kyuhyun ketika pria itu menggunakan mata tajamnya untuk membuat seseorang merasa tersudut setengah mati dan pada akhirnya menyerah. “eomma~”

 

“aku hanya beranggapan secara logika. Luke itu ‘kan lelaki. Tidak mungkin lelaki dapat menahannya begitu lama bukan? Kau tahu bagaimana lelaki tidak dapat dipisahkan dari seks.”

 

Ahra seolah mati kutu. Hanna sanggup membuat kepercayaan akan Luke yang hanya bekerja untuknya ditanah kelahiran pria itu sendiri merasa goyah hampir separuh banyaknya. Namun pun, diwaktu yang sama, Luke bukanlah satu-satunya orang yang melintas didalam pikirannya.

 

Ini pembicaraan mengenai lelaki dan adiknya pun lelaki.

 

Kyuhyun.

 

Sejenak Ahra mendapatkan ide manis nan keparat. Hal-hal seperti ini, adalah murni turunan Yeung-Hwan yang sungguh juga dimiliki oleh Kyuhyun, adiknya. Tapi belakangan ini, dipicu permasalahan Kyuhyun dan Songjin membuat kemampuan miliknya itu seolah terasah tajam dan semakin tajam saja.

 

Maka dengan senyuman jahil Ahra membuka mulutnya, “eomma, bukankah, rasanya bosan kalau kita melakukan hal seperti ini terus menerus?” ujar Ahra memulai. “makan berdua, berbelanja berdua, mengobrol berdua…”

 

“aku baik-baik saja dengan keadaan seperti ini.” cetus Hanna namun Ahra menggeleng cepat-cepat, “tapi kan bosan, eomma!” tandasnya. “dan aku baru mendapatkan sesuatu yang baru!”

 

Hanna tampak tidak peduli. Membiarkan Ahra terus berulah sedang dirinya sibuk makan saja. Mungkin, karena tahu seperti itulah sifat anak pertamanya. Jadi Hanna tidak banyak mengambil pusing apa yang Ahra akan lakukan. Tapi Ahra sungguh yakin, Ibunya tidak akan bisa mengabaikan idenya kali ini.

 

“aku sudah tahu jenis kelamin bayiku, eomma!!”

“benarkah?” seketika wajah bosan Hanna berubah cerah. Menampakkan ketertarikan serta keceriaan berlebih. “apa?”

 

tapi disinilah Ahra akan berulah, “rahasia!” kata wanita itu jahil meleletkan lidah. Sontak membuat Hanna menjadi kesal bukan main. “kenapa merahasiakan hal seperti itu dengan ibumu sendiri, huh?”

 

“karena,” Ahra tersenyum, “aku tidak akan memberitahu siapapun termasuk Luke dengan cara yang mudah.”

 

Hanna menyipitkan matanya, “maksudmu?” memandangi Ahra curiga. Sekilas membuatnya teringat akan suaminya— pun memiliki watak yang sama persis dengan anak pertamanya ini.

 

Syukurlah Kyuhyun hanya mendapatkan separuh watak Yeung-Hwan dan nyaris mengkopi wataknya. Diamnya, tenangnya.

 

~~ ~~

 

Nowon-gu, Seoul

23:00 AM KST

 

“baby Shower?”

 

Songjin melirik Kyuhyun disampingnya tampak mengamatinya dalam diam. Satu tangan pria itu masuk kedalam saku dan satunya lagi digunakan untuk berpegangan pada besi rantai ayunan yang sedang didudukinya.

 

Wajah Kyuhyun tampak sempurna. Maksudnya— tampan tanpa cacat. Sempurna, memiliki bentuk bibir penuh yang menggoda. Ah— Songjin segera membuang wajahnya sebelum ide-ide gila melintas dikepalanya.

 

Oh, sebenarnya ide itu sudah melintas. Tapi akan ditaruh dimana wajahnya jika tiba-tiba dirinya melompat kepangkuan Kyuhyun dan melumat bibir tebal itu dengan rakus? Yang benar saja! sekarang ‘kan dia sedang mendapatkan peran, sebagai wanita yang jahat! Iya! Jahat!

 

“apa itu lelaki? Atau perempuan?” Songjin bertanya namun tak mendapatkan jawaban apapun. Wanita itu hanya diam karena diseberang, Ahra mengoceh tanpa jeda memberitahukan rencana baby showernya dengan cara berapi-api.

 

“Jeju—? tapi,” Songjin ingin menolak ide Ahra tapi lagi lagi Ahra tak memberikannya waktu untuk bicara hingga Songjin hanya dapat mendesah pasrah berkata, “baiklah, akan aku usahakan,” Kepada Ahra dengan wajah tanpa semangat apa-apa.

 

“Noona?” tebak Kyuhyun mudah. Dia sempat mendengar suara nyaring itu ditempatnya tadi. entah apa yang dibicarakan kakaknya itu, tapi suara Ahra tampak seolah sedang menceritakan bahwa wanita itu baru saja memenangkan lotre 1 miliyar dollar.

 

Songjin membuang napas berat merunduk memandangi rumput dikakinya yang terasa dingin setelah menyentuh kaki telanjangnya. Keplanya mengangguk pelan. Wajahnya tertekuk lesu hingga sodoran ice cream miliknya dari Kyuhyun pun diabaikan. “jadi… apa yang noona ceritakan? Baru memenangkan judi miliyaran dollar?” canda Kyuhyun menyolek bahu Songjin agar mengambil ice creamnya lagi.

 

“bukan.” Songjin menggenggam ice cream miliknya, bersandar pada rantai besi ayunan. Dari tempatnya, dia dpat memandangi wajah rupawan Kyuhyun tapi toh, dia memiliki jarak yang cukup agar setidaknya, ide gila seperti yang tadi pernah melintas dikepalanya urung dilakukan. “baby shower.”

 

“baby— bayi mandi?” Kyuhyun mencoba bergurau lagi yang sebenearnya sungguh tidak lucu. Ayolah, kemampuan berbahasa asing Kyuhyun lebih baik daripada dirinya. Dan sungguh itu sama sekali tidak lucu, dan Songjin sedang tidak memiliki tenaga ekstra untuk tertawa mengingat setelah ini, pastilah adalah hari yang sungguh berat untuknya. “eonni sudah mengetahui jenis kelamin bayinya.”

 

“apa?” Kyuhyun berhenti melumat ice creamnya, buru-buru menoleh pada Songjin. Terkejut. Dan kenapa dirinya tidak tahu apa-apa mengenai hal itu? Kenapa Ahra tidak memberitahunya, malah memberitahu Songjin lebih dulu? Karena istrinya ini adalah partner in crime-nya begitu? Cih! Wanita itu!

 

“laki-laki? Perempuan?” Kyuhyun mendesak Songjin memajukan tubuhnya mendekat pada Songjin. Berbaya hingga membuat Songjin sekonyong merubah posisi duduknya menjadi tegap. Dia masih belum sanggup untuk mengirup aroma tubuh Kyuhyun dari dekat karena tahu akan seperti apa efek buruk yang terjadi. “Eonni—“ Songjin menelan liurnya. “eonni tidak memberitahu siapapun.”

 

“kau tidak tahu?”

Songjin menggeleng, “tidak.” Namun mata Kyuhyun menyipit curiga. Dia tidak bisa mempercayai Songjin lagi sekarang, dan lagi, perlu diingat bahwa Songjin dan Ahra adalah wanita-wanita tengik yang senang mengerjainya. Dan sadar bahwa Kyuhyun tampak tak mempercayainya, Songjin menjadi bersungut sebal, “aku serius, Kyuhyun-ah! Eonni memang tidak memberitahuku.” Jengkel songjin.

 

“eonni berkata akan membuat acara, baby shower di Jeju, mengundang keluarga dan beberapa teman dekat saja.”

 

Kyuhyun mendadak diam. Duduknya kembali ditempatnya semula, disambut desahan lega Songjin karena tak perlu menggila dengan aroma sialan itu. “jeju?”

 

“mm.”

hanya da suara jangkrik yang mengisi keheningan diantara keduanya. Sampai Kyuhyun sadar, mengapa mendadak Songjin menjadi muram. “keluarga?” ucapnya dalam pertanyaan yang lirih.

 

“mm.”

itu pasti akan sulit bagi Songjin. Kondisi mereka saat ini tidak bisa dikatakan stabil sebagai sebuah keluarga, walau Kyuhyun sedang berupaya untuk mendapatkan hal itu lagi. Tapi jelas saja Songjin muram. Kyuhyun sungguh ingat seberapa sulitnya tadi dirinya membujuk Songjin agar mau pergi keluar dengannya.

 

Jika baby shower itu akan diadakan, tentu saja… setidaknya, mereka harus bertingkah seperti keluarga bahagia nan harmonis, saat pada dasarnya, keharmonisan itu—sedang menguap lenyap entah kemana. Sanggupkah?

 

 

 

 

 

 

-Sepuluh-

 

Decision

“And the night through the thick and thin, gotta fly, gotta see, can’t believe i can’t take it, ’cause baby, every time I love you, it’s in and out my life, in out, baby. Tell me, if you really love me, it’s in and out my life driving me crazy. Baby, love never felt so good”

-Michael Jackson ft Justin Timberlake, Love never felt so good

 

 

Nowon-gu Seoul

01:00 AM, KST

 

Kyuhyun nyaris terbahak geli ditempatnya ketika menceritakan ulang kepada Songjin bahwa dirumah, dimalam ketika dirinya merasa lapar dan sedang terlalu malas keluar apalagi memesan makanan kemanapun, dia memaksa diri mencoba memasak sesuatu.

 

Sphagetti Bolognese. Namun Sphagetti Bolognese didalam bayangannya ternyata jauh berbeda hasilnya dengan sphagetti Bolognese buatannya usai makanan itu terhidang dimeja.

 

“Sphagettinya terlalu lembek. Aku merebusnya terlalu lama dan kau percaya? Aku tidak memberikan apapun ketika merebusnya. Tidak ada minyak dan garam, jadi kau bisa bayangkan bagaimana bentuk Sphagetti buatanku. Sphagetti itu menempel didasar panci karena lengket dan rasanya terlalu hambar! Beberapa dari sphagetti itu bahkan hangus sampai akhirnya makan malamku adalah air mineral saja saat itu. Sphagetti sialan itu tidak akan menggugah selera siapapun!”

 

itu adalah pertama kalinya Songjin mendengar Kyuhyun berbicara sangat panjang padanya. Tidak seperti biasanya, kali ini Kyuhyun tampak begitu ekspresif. Banyak reaksi wajah baru yang Songjin lihat malam ini.

 

seperti gambaran kekecewaan Kyuhyun akan sphagetti keparatnya yang membuatnya hanya bisa meminum air mineral dan sedikit jus jeruk sisa dari dalam kulkasnya.

 

Seperti ketika Kyuhyun menceritakan bahwa ulah Songjin yang tak pernah menyimpan makanan instan dalam bentuk apapun— kali itu sungguh mempersulitnya. Saus Bolognese sebenarnya ada dalm bentuk instan tapi Songjin tak pernah menggunakan saus instan untuk masakannya. Songjin akan membuat saus itu secara fresh menggunakan tomat segar dan daging.

 

Sedangkan keparatlah Kyuhyun yang selama ini hanya memiliki pekerjaan lain yakni menonton Songjin memasak tanpa banyak bicara. Tanpa banyak protes dan tanpa ingin menginterupsi.

 

Itu, adalah kali pertamanya Songjin melihat tawa Kyuhyun sekencang itu. Secerah itu dan selebar itu. Seolah kisah Sphagettinya sangat lucu, padahal bagi Songjin tidak ada yang menarik dari cerita itu selain mimic wajah Kyuhyun, suara pria itu dan caranya menceritakan kejadian menyedihkan itu hingga tanpa disadarinya, yang Songjin lakukan sejak tadi hanya diam menonton tanpa memberikan interupsi dalam jenis sekecil apapun.

 

Helaan napas Kyuhyun menyadarkan setengah nyawanya yang sedang terpana— melihat Kyuhyun berbicara, ternyata sangat menyenangkan daripada melihat pria itu diam, tanpa memiliki ekspresi lebih selain datar.

 

“kau bosan ya?” Kyuhyun tampak sadar bahwa ceritanya sungguh tidak menarik minat siapapun. Tapi setidaknya, paling tidak dia telah mencoba— walau gagal. “sudah malam sebaiknya kau masuk.” ujarnya merunduk menggosoki tengkuk yang sebenarnya, adalah dalih menyembunyikan wajah kecewa karena Songjin tampak tidak memerdulikannya sedari tadi.

 

ternyata, sedari tadi dirinya hanya berbicara… dengan dirinya sendiri. mungkin, perasaan kecewa seperti inilah yang selama ini Songjin rasakan. Karena itu sebaiknya, mungkin Kyuhyun tak perlu mempermasalahkan hal ini. anggap saja… karma.

 

“ini sudah pagi, Cho.” Senyum sinis Songjin mengembang. Tangannya menggapai tas dijok belakang lalu menyampirkan tali tas tersebut pada pundaknya. “dan kau berjanji akan memulangkanku sebelum tengah malam.” Tutur Songjin keluar dari kendaraan Kyuhyun.

 

“aku tahu. Maaf.”

“tidak tidak.” Songjin melambai cepat. “tidak perlu meminta maaf. Aku sudah sangat menghafalnya. Kau memang selalu seperti itu padaku. Dan untungnya, aku selalu sadar kalau aku tidak cukup pantas untuk mendapatkan janji tepatmu. Iyakan?” Songjin menyengir getir. Tak sadar bahwa lidahnya telah bekerja diluar batasnya. Lupa bahwa ucapannya mungkin saja akan menyakitkan Kyuhyun. Ah, tapi toh dia tak pernah melakukan hal seperti itu sebelumnya kepada siapapun.

 

Garis bawahi! Tidak kepada siapapun.

 

Selama ini dirinya selalu menjadi anak baik-baik yang penurut. Kenapa kali ini tidak boleh sedikit menjadi nakal?

 

“bukan seperti itu—“ Kyuhyun tidak melanjutkan sanggahannya. Sesungguhnya, pria itu sendiri tak tahu harus menyanggah dengan kalimat dalam jenis apa. Tidak ada sisa kosakata lagi didalam kepalanya untuk mengatakan tidak, jika pada kenyataannya, dirinya akan selalu ingat, dia memang seburuk itu memperlakukan Songjin selama ini.

 

jadi siapa yang mengatakan bahwa laki-laki tidak memiliki kepekaan tinggi?

 

“Jadi, terimakasih untuk makan malamnya. Kau sungguh berhasil merusak dietku, Cho!”

 

kegetiran diwajah Kyuhyun perlahan berubah. Ada secarik senyuman tipis yang dihasilkan dari sederet kalimat sinisme Songjin untuknya. “sama-sama. dan kurasa kau tidak perlu melakuan diet.”

 

“aku harus terlihat cantik. Semua wanita melakukannya. Kau tidak paham dengan hal sederhana seperti itu, ‘kan?”

 

Kyuhyun menggeleng, “aku punya kakak perempuan dan seorang Ibu, Songjin. Percayalah, aku paham. Dan menurutku, kau oke. Kau cantik.” Pujian pertama yang Songjin pernah dengar sepanjang dirinya mengenal Kyuhyun. Sungguh, Songjin berharap penuh agar satu kali saja, tubuhnya mau bekerja sama agar tidak memunculkan rasa senang berlebih hingga menghasilkan rona merah dipipinya.

 

Itu.. akan tampak sangat memalukan untuknya.

 

“Jadi.. selamat malam?” Songjin mulai menggeser kakinya, walau sungguh sedang terlalu-sangat-enggan untuk melakukannya. Dia rela dan merasa tak masalah jika harus berdiri semalaman hanya untuk berbincang omong kosong dengan Kyuhyun. Tapi tidak mungkin mengatakan dan melakukan hal seperti itu kan? seharusnya dia membenci pria ini mati-matian, bukan malah sedang berbunga-bunga karena makan malam— kencan— dadakan— keparat itu, dan baru dipuji cantik.

 

Oh, ayolah, Songjin tahu dirinya cantik. Ibunya, Ayahnya, Donghae, Ahra dan bahkan Hanna selalu mengatakannya. Apa pentingnya pujian cantik dari satu orang yang selama ini selalu mengabaikannya, lalu mendadak menjadi super duper perhatian, hanya karena baru dilempari guguatan cerai?

 

Jangan menjadi tolol Park Songjin! Songjin berusaha memperingati dirinya sendiri.

 

“sebentar.” Kyuhyun ingin melarang Songjin pergi dengan menariknya, tapi sadar, Songjin pasti sedang sangat tak ingin melakukan kontak fisik dengannya dalam jenis apapun. Songjin seperti seekor singa betina yang sedang mengandung. Dia sedang sangat galak.

 

Tapi kemudian Songjin paham dengan apa yang akan Kyuhyun coba katakan. “kalau kau akan membicarakan permasalahan pengadilan dan sejenisnya, aku tidak berminat, kau tahu??”

 

Tentu. Tentu tentu. Kyuhyun tahu itu. Tapi itulah alasannya datang kemari. Selain karena memang bosan berada dirumah yang sunyi, hidup tak menentu bagai lelaki tidak beristri. Ah, hidupnya memang sudah tergambar seperti itu sejak beberapa hari lalu. Sungguh rasanya benar-benar menyedihkan.

 

“aku tidak akan menghentikannya.”

“aku mengerti.”

“— keputusanku sudah bulat, kau tahu?”

“Yeah.” Bahu Kyuhyun terasa semakin berat saja detik per detik. “tapi—“

 

“aku tidak peduli lagi.” Songjin menyelanya. Wajahnya mulai menunjukan bahwa Kyuhyun baru saja membuat kekesalan itu hidup kembali. “aku tidak peduli dengan gugatan itu.” Kata Kyuhyun tiba-tiba mengejukan Songjin.

 

Tadi, yang semula dapat bicara banyak seolah berada dipuncak tertinggi rantai makanan, kini mendadak merosot menjadi berada dipaling bawah. “well— tidak juga. Sebenarnya, aku peduli.. maksudku…” Kyuhyun menggosok tengkuknya.

 

Napasnya menjadi tak karuan. Jantungnya apalagi. Seolah senang mempermainkannya dan berharap dirinya pingsan saat ini juga dihadapan Songjin agar tampak menyedihkan dan lebih mendramatisir keadaan. “bagaimana kalau.. bagaimana kalau kukatakan, aku mengerti mengapa kau melakukan ini? bagaimana kalau kukatakan, aku sungguh menyesal dan aku ingin meminta maaf?”

 

Kening Songjin sontak mengerut. Pertama, Kyuhyun tak pernah bicara banyak. Malam ini, Kyuhyun seperti baru saja overload berbicara sangat banyak kepadanya.

 

Kedua, Kyuhyun tidak pernah menjatuhkan harga dirinya serendah ini kepada siapapun. Kalau malam ini Kyuhyun seperti ini, Songjin teramat yakin bahwa sebelum ini, mungkin ada petir yang baru menyambar isi kepala lelaki cerdas itu.

 

Itu membuat pergeseran dibeberapa titik didalam sana hingga malam ini, Kyuhyun tampak jauh jauh jauh berbeda dari Cho Kyuhyun yang pernah dikenalnya selama ini.

 

Songjin menghela ringan, “sayangnya kadang maaf tidak bisa bekerja seperti apa yang seharusnya ‘kan?” kadang maaf hanya berupa sebuah pengakuan saja. bukan berarti yang meminta maaf selalu adalah seorang tersangka utama. Tapi maaf memang kadang hanya berupa 4 huruf saja dalam arti yang kosong.

 

Maaf, tentu saja maaf. Tapi maaf tidak bisa mengembalikan kertas yang telah dibakar diperapian kembali menjadi utuh. Terkadang maaf, hanyalah sederet kata hampa sebuah pengakuan bahwa seseorang tak ingin ditinggalkan, atau tak ingin mendapatkan kesulitan lain dari permasalahan mereka.

 

Maaf. Maaf memang kadang hanya kumpulan dari huruf yang tidak ada artinya. Hanya sebatas itu.

 

“kalau begitu aku harus apa?” mata teduh Kyuhyun mulai terlihat sayu. Sebenarnya, Songjin pun merasa iba. Tapi kembali pada perannya semula. Songjin adalah seorang yang jahat dan sedang melakukan hal-hal jahat. “kau masih bertahan dengan pendapat, kalau tidak mencintaiku, lagi?” kini pertanyaan Kyuhyun terdengar bagai bocah yang merengek meminta imbalan setelah baru saj amenjadi anak baik seharian penuh.

 

“yeah. Sepertinya aku yakin masih.” Alis Songjin terangkat satu meninggi. “kalau begitu apa kau boleh menuntut banding?” kata Kyuhyun bersandar dicap mobilnya. “banding?”

 

“aku ingin Hak-ku!”

“huh?” wajah Songjin semakin menyernyit saja. “menurutmu, aku boleh melakukan sesuatu untuk menyuarakan hak-ku dalam kasus ini?”

 

“teorinya—“ angguk Songjin ragu, “setiap orang memiliki hak mereka masing-masing. Jadi apa yang ingin kau bela?”

 

“hidupku!” kata Kyuhyun yakin. “aku ingin mengembalikan hidupku.”

“uh— huh??” Songjin mulai merasa tolol karena tak paham apa-apa. Hanya mengerjabkan mata dalam keraguan. “bagaimana kalau kau tetap pada pendirianmu, bahwa kau tidak lagi mencintaiku, tapi aku memiliki hak yang sama, upaya untuk merubahnya.”

 

“merubah….??”

“aku bisa membuatmu jatuh cinta padaku lagi.” Senyum keparat Kyuhyun, yang tadi sempat hilang entah kemana kini terlihat lagi. Lebih lebar, lebih cerah dan lebih meyakinkan. “bagaimana?”

 

“Kau—!!”

“kau bilang semua orang memiliki hak mereka masing-masing, ‘kan?”

iya, memang. Tapi bukan dalam bentuk sepert ini dan Kyuhyun benar-benar membuat Songjin kewalahan dengan cara berpikir pria itu— berbeda, lain daripada yang lain.

 

“kau jangan terlalu yakin, Kyuhyun-ah” Songjin melayangkan senyuman merendahkan sama ketusnya dengan lelaki putih tinggi dihadapannya. “setidaknya, biarkan aku mencoba.” Kyuhyun kini tak terlihat tegang atau suram seperti tadi.

 

santai, tenang dan penuh percaya diri seperti Cho Kyuhyun yang pernah Songjin kenal.

 

Tapi Songjin sungguh telah tidak tertarik lagi dengan tawaran menggiurkan atas nama Kyuhyun tentang apapun yang dulu selalu didambakannya. Wanita itu hanya mendesah tak peduli sambil menggidikkan bahu, “terserah kau saja— bukan urusanku.” Ujarnya malas.

 

Kyuhyun tersenyum. Bagus. Kalau begitu ini adalah kesempatan besar untuk membuat hidupnya kembali lagi seperti semula. Sorak sorai sedang terjadi riuh didalam diri Kyuhyun. Diluar, wajah pria itu masih sama datarnya usai terakhir kali senyuman hinggap disana. “kalau begitu, besok mau makan siang denganku?” tawarnya merogoh saku mengambil ponsel sambil berjalan mendekat pada Songjin.

 

“yang benar saja!” Songjin mendengus. “kau langsung berulah lagi.”

“aku hanya mencoba! Ini seperti— langkah pertama, kau kan hanya tinggal mengikuti saja.”

Cibiran Songjin melolos kencang berupa desisan sinis panjang serta mata yang berputar jengah. “akan kupikirkan lagi. Aku sibuk.” Jawabnya mulai ketus.

 

“baiklah— nona sibuk.” Kyuhyun tertawa. “yang cantik.” Dan rona kemerahan menyembul dipipi tirus Songjin. Yang sesungguhnya terlihat dengan sangat jelas, namun Kyuhyun tak ingin membuat Songjin merasa malu hingga pada akhirnya, hanya akan merusak akhir pada malam ini saja.

 

Kyuhyun hanya mendekat lagi. Mengusap pipi Songjin begitu lembut menggunakan ibu jarinya. Kemudian mendorong kepala itu agar mendekat pada wajahnya untuk menempelkan bibir pada dahi Songjin. “kalau begitu, selamat malam. Sampai jumpa esok.”

 

 

 

 

 

 

 

 

-Sebelas-

 

Sweet like a candy

“Dear future husband, here’s a few things you’ll need to know if you wanna be my one and only all my life. Dear future husband, make time for me, don’t leave me lonely, and know we’ll never see your family more than mine. Dear future husband, you better love me right!”

-Meghan Trainor, Dear future husband-

 

 

Gangnam-Gu, Seoul

12:00 PM, KST

 

Pintu ruang kerja Kyuhyun mendadak dibuka secara kasar— menghasilkan angin yang walau memiliki posisi jauh didepannya, menyapu lembut wajah Kyuhyun.

 

Kyuhyun tak perlu mengangkat wajah untuk sekedar melihat siapa tamu kurang ajar itu. Dia sudah tahu hanya dengan aroma parfume yang begitu dikenalnya.

 

Dan cara orang itu membuka pintu dengan kasar— dapat dipastikan takkan ada satupun pegawainya yang berani melakukan itu, kecuali dua orang yang begitu dikenalnya.

 

Namun orang pertama, tidak mungkin akan memunculkan wajah dihadapannya— untuk repot-repot datang membawakan makan siang seperti biasa. Dia sedang dalam mode merajuk dan kesal, dan masih sok—mengulur waktu untuk mempertimbangkan ajakan makan siang Kyuhyun kemarin.

 

Orang kedua adalah orang yang selama ini selalu mampu bersikap sembarangan kepada Kyuhyun. Sembrono tapi toh, pada akhirnya akan membantu sekuat tenaga dalam hal menggapai keberhasilan pemuda itu.

 

 

Suara heels terdengar mendominasi ruang kerja sunyi tersebut, “jadi—“ suara itu menggema kemudian. “katakan padaku, berikan alasan rasional agar aku tidak membunuhmu karena semalam kau sangat sulit dihubungi.” Katanya walau diucapkan dengan nada santai, namun kemarahan tampak nyata. “dan katakan semalam kau tidak mendatangi kelab malam, hanya karena kau merasakan kesepian.”

 

Kyuhyun tersenyum. Bukan. Bukan senyuman sinis yang biasa diberikannya kepada wanita itu saat dituduh sembarangan seenaknya. Ini adalah jenis senyuman lain, menggambarkan sebuah kemenangan sekaligus kepuasan.

 

“tidak.” Ujar Kyuhyun tersenyum, mengangkat kepalanya. “percayalah, aku menghabiskan malamku ditempat yang tepat bersama orang yang tepat, dan malamku, sempurna.”

 

“Ohya?” Ahra— wanita itu tampak kesal bukan main kepada Kyuhyun. Tidak sempat duduk— sengaja berjalan tanpa henti melewati sofa empuk berbulu untuk mencekik adiknya. “katakan kau tidak menyewa wanita penghibur.”

 

Kyuhyun mendelik terkejut. Kakaknya ini memang benar-benar sudah gila rupanya, “noona!” jerit Kyuhyun tak terima. Wanita penghibur? Oh ayolah, wanita penghibur mana yang bisa memberikan kesenangan dalam satu malam dan rasa berdebar diwaktu yang sama?

 

“aku tidak menyewa wanita manapun!!”

 

“Oh— kalau begitu buat aku percaya! Kau bahkan mematikan ponselmu semalam, sampai aku tidak bisa menghubungimu berulang kali, dan rumahmu kosong. Kau tidak berada dikantor!! Jadi sarang penyamun mana yang kau datangi malam tadi, huh??” tutur Ahra geram.

 

Wanita itu sungguh telah berada disamping Kyuhyun dengan tangan terkepal siap untuk menghajar adiknya sampai puas. Semalam Ahra sungguh merasa bahwa dirinya baru mendapatkan ide brilliant yang mungkin akan membantu hubungan Kyuhyun dan Songjin agar semakin membaik.

 

Tapi jangankan memberitahu Kyuhyun. Ditemui saja sulitnya bukan main. Jadi pantaslah Ahra berpikir demikian. Kyuhyun tidak ditemukan dimanapun. Tidak dikantor, dirumah, bahkan diapartement Sungmin.

 

“aku pergi—“

“kemana kau pergi?! Untuk apa kau pergi dan jam berapa kau kembali?!”

 

“Cih!” tanpa disadarinya sendiri Kyuhyun mendesis. Untuk apa dirinya pergi dan jam berapa kembali? Yang benar saja! apa dirinya adalah remaja 17 tahun yang masih perlu pengawasan ketat kemana akan pergi dan pukul berapa kembali?

 

Yang benar saja! Ahra dan Ibunya memang tidak ada bedanya. Sama-sama berlebihan jika sudah menyangkut tentangnya.

 

“apa yang kau lakukan tadi?” sungguh Ahra merasa tersepelekan atas reaksi ketus Kyuhyun padanya disaat dirinya hanya sedang mencoba berperan sebagai kakak yang baik diwaktu genting seperti saat ini, ketika adik satu-satunya ini baru saja mendapatkan musibah, ditinggal pergi oleh istrinya lalu dipaksa untuk menyetujui dokumen perpisahan mereka dan sungguh, Ahra hanya tak ingin Kyuhyun menggila karenanya.

 

Ahra tahu kondisi Kyuhyun sedang tak baik. Setidaknya, Kyuhyun tidak perlu mencari penghiburan lain ketika merasa sekitarnya hampa. Tidak dengan mendatangi kelab malam, mengsii lambung dengan alcohol sampai penuh, apalagi menyewa wanita dan melakukan one night stand untuk memenuhi hasratnya, mengingat apa yang Hanna katakan semalam, sepertinya bukan hanya membuatnya khawatir terhadap Luke, tapi juga Kyuhyun.

 

“Noona, sebaiknya duduk dulu.” Untuk kali ini saja, ada hal aneh yang Kyuhyun rasakan bahwa kini, ulah Ahra tak membuatnya merasa tertarik untuk memberikan perlawanan.

 

Kyuhyun hanya merasa harus diam, menyuruh Ahra duduk karena tak ingin bayi dikandungan itu lahir bukan pada waktunya, menawarkan minuman dan membiarkan Ahra beristirahat disofa yang empuk.

 

Entahlah apa yang terjadi, tapi Kyuhyun sungguh merasa harinya kini tidak seburuk kemarin lalu. Atau kemarin dan kemarin lagi. Hari ini.. cukup baik.

 

“aku tidak perlu duduk, kau dengar aku bocah tengik? Aku hanya—“

“woah!” Kyuhyun langsung memekik seolah takjub dengan sesuatu. Kini, adalah Ahra yang membuatnya mendadak terpana. “bocah tengik. Tidak tidak! jangan bicara yang macam-macam noona. Kau tidak pernah dengar pepatah, bahwa sikap ibu saat mengandung, memengaruhi sikap anak saat lahir nanti? Bagaimana kalau anakmu nanti yang akan menjadi bocah tengik? Aku tidak ingin menjadi paman dari bocah tengik.”

 

Ahra langsung terdiam. Mengerjab memandangi Kyuhyun dengan wajah super tolol. Matanya memerhatikan kepala Kyuhyun yang sedang mengangguk-angguk— membentuk wajah— sok menggemaskan entah karena apa. “sungguh. Aku tidak main-main noona!” lanjut Kyuhyun saat itu.

 

Kemudian Kyuhyun berdiri, membawa Ahra untuk duduk disofa dan kembali kemejanya untuk mengambil ponsel. Menghubungi Oh Min Ji sekertatisnya, untuk membuatkan minuman bagi Ahra.

 

“Nah!” Kyuhyun menyengir lebar setelah sebelumnya berterimakasih kepada Min-Ji karena telah mengantarkan minuman pesanannya. “jadi kau datang sendiri saja, noona?”

 

“jangan bertingkah manis seolah aku tidak pernah berkunjung kemari!” Ahra masih menyisakan sedikit kekesalannya bagi Kyuhyun, “atau kau sedang menyembunyikan sesuatu dariku?”

 

mata Ahra kesana kemari. Mencari apa yang perlu dicari. Mungkin saja Kyuhyun berbohong dan sedang menyembunyikan sesuatu yang buruk didalam ruang kerjanya ini.

 

suasana hati Kyuhyun pun tampak sedang terkendali. Sebelumnya, pria itu bukankah tampak kacau bukan main? Jadi, berpikir negative akan lebih aman daripada berpositive, tapi tiba-tiba memiliki hasil negative. Benar kan?

 

tapi saat itu Kyuhyun sadar bahwa Ahra tak sepenuhnya percaya padanya. Hal tersebut membuatnya menyerah bukan main dan mendesah didalam hati menggeram. Mempertanyakan, mengapa wanita selalu menyebalkan dan rumit seperti ini? “ya ampun, Noona, apa aku terlihat begitu brengsek?” desah Kyuhyun tak ingin berdebat, namun juga tidak ingin mendapatkan predikat tambahan selain pria brengsek hanya karena Ahra tak percaya bahwa malam tadi dirinya sungguh tidak melakukan sesuatu yang buruk.

 

Ahra kemudian melirik ponsel Kyuhyun diatas meja yang berkedip kedip— tanda adanya pesan singkat, atau panggilan masuk— entahlah. Tapi Ahra sungguh masih menyisakan kekesalan, terlebih saat melihat ponsel tipis sialan itu masih menyala, hidup dengan tenang padahal semalam Ahra sungguh mengira ponsel itu baru saja dibuang Kyuhyun entah kemana.

 

Kyuhyun segera membawa ponselnya kesamping telinga. Menjauh dari Ahra sejenak menuju dinding kaca, “Ya? benarkah? Kalau begitu aku datang. Um—20 menit! Ah tidak! 10 menit Okay? 10 menit. Tunggu aku!!” Tak sampai setengah menit Kyuhyun telah kembali duduk bersama Ahra sambil melebarkan senyuman tolol begitu lebar.

 

Terus menerus menyengir kepada Ahra, walau tahu tidak mendapatkan balasan serupa. Kyuhyun mengepalkan kedua tangannya begitu erat sambil mengigiti bibir bawahnya. Cengirannya lalu berubah menjadi kekehan, wajahnya memerah dan mendadak, Ahra dikejutkan oleh pekikan Kyuhyun karena pria itu melompat kegirangan dari tempatnya.

“YEAH!” kepalan tangan itu Kyuhyun hantamkan diatas meja kaca didepannya berulang kali sambil masih saja menyisakan cengiran tolol serta bibir terkulum senyuman.

 

“kau tahu noona? Aku akan makan siang!!” Kata Kyuhyun, langsung sibuk kesana kemari mengambil jas, memakainya, lalu melepaskannya lagi ketika merasa bahwa memakai jas adalah salah.

 

Lalu pergi menuju mejanya, mengacak beberapa dokumen disana, namun tidak mengampil apapun, dan bergegas pergi kesudut ruangannya, untuk merapihkan dasi didepan cermin. Merapihkan rambut, lalu mengacaknya lagi sambil mengerang panjang dan menggumam tak jelas, “bagaimana penampilanku?” lalu setelah kesana kemari, Kyuhyun berhenti tepat dihadapan Ahra.

 

Menggantungkan dua tangan dipinggul menyengir lebar, “aku tampan?”

“huh??” bahkan Ahra tak sempat meminum jus jeruknya. Wanita itu sungguh tidak mengerti mengapa Kyuhyun tiba-tiba menggila.

 

Mengapa Kyuhyun tiba-tiba berubah? Mengapa Kyuhyun tiba-tiba sibuk? “Lum—“ Ahra meneguk liur agar kesadarannya kembali setelah mendapat tontonan adik kandungnya, tiba-tiba menjadi sinting. “Lumayan.” Jawabnya seraya bangkit, berjalan mendekati Kyuhyun.

 

Ahra lalu merapihkan kemeja Kyuhyun yang keluar dari celananya. Mengencangkan sabuk dipinggang pria itu dan merapihkan letak dasi yang miring, “makan siang, huh?” tanyanya perlahan-lahan, mulai paham mengapa sang adik mendadak bertingkah aneh.

 

Senyumannya tersungging cerah, “kau menjemputnya?”

 

“tidak. Songjin tidak ingin dijemput.”

“jadi, bertemu?”

mm.” Kyuhyun mengangguk. “kami akan makan siang di Winscanton hotel

“lalu check in setelahnya?” Ahra meledek geli. Apa yang Kyuhyun pikirkan hingga memiliki ide mengajak seorang wanita, untuk makan siang bersama disebuah hotel berbintang? Yeah, kalau itu adalah wanita yang sering ditemui pria itu sebagai kolega, mungkin terdengar masuk akal. Tapi ini Songjin. Sampai satu tahun bersama, ditambah 90 hari masa penjajakan pun Kyuhyun masih belum memahami apa yang Songjin sukai dan tidak?

 

Pantas saja Songjin meminta berpisah.

 

Ahra tersenyum. Membalik tubuh Kyuhyun merapihkan bagian pelakang pakaian Kyuhyun sambil berbicara, “jangan Winscanton.” Kata Ahra memasukan bagian belakang kemeja putih Kyuhyun kedalam celananya. “kau tahu kedai kepiting di daerah Seocho?”

 

Kyuhyun menggumam pelan seraya berpikir lama. Dia tidak cukup memiliki pengetahuan mengenai kedai-kedai pinggir jalan, tidak seperti Ahra. Harinya lebih banyak dihabiskan untuk berkunjung disatu hotel restoran, ke hotel restoran lainnya. Sedang Ahra, adalah pecinta makanan pinggir jalan.

 

“yang berada disudut jalan. Yang ramai dan kecil—?” kemudian Kyuhyun terlonjak. Dia ingat, Sungmin pernah mengajaknya kesana. Tapi itu dulu sekali. Dirinya bahkan tidak ingat jalan kesana karena dulu dalam perjalanan dia jatuh terlelap.

 

“mungkin um— dua bulan lalu? Aku dan Songjin kesana. Kami datang siang hari. Tapi kau tahu, disana kami mendapatkan antrian nomor berapa??”

 

“nope.”

“286, padahal kau tahu kedai itu baru dibuka pada jam makan siang? Dan kau ingat hanya sebesar apa kedai disana?”

 

“Ah—“

 

“aku dan Songjin pulang dengan kecewa. Pada akhirnya, kami memakan kepiting ramen. Tapi tentu saja rasanya berbeda. Aku tidak tahu apa yang kedai itu tambahkan didalam masakan kepiting mereka, tapi aku dan Songjin sungguh merasa kecewa saat kami tidak dapat makan disana, dan selalu mendapatkan nomor antrian dihari-hari selanjutnya kami datang.”

 

“maksudmu, jadi aku harus mencoret Winscanton Hotel untuk kedai sekecil itu?”

 

Tangan Kyuhyun mengusap-usap dagunya. Dia sungguh berpikir keras berdebat mencari alasan rasional mengapa dirinya harus mengajak Songjin makan siang ditempat seperti itu kalau toh, dia mampu mengajaknya untuk makan ditempat yang lebih layak?

 

Kedai itu terlalu sempit. Hanya terdapat tidak lebih dari 10 meja tamu saja didalamnya. Panas karena pemilik kedai tidak menggunakan pendingin ruangan didalamnya melainkan hanya kipas angin. Dan pasti akan sesak karena dipenuhi banyak orang. Jadi apa nyamannya makan ditempat seperti itu?

 

“hanya menyarankan.” Kata Ahra ramah tersenyum geli. Semakinlah sadar mengapa Songjin ngotot ingin berpisah dari adiknya ini. sungguh, apa yang sebenarnya Kyuhyun tahu tentang Songjin? Sedikit saja. sedikit saja tak perlu banyak. “kalau kau mau, aku bisa menghubungi pemiliknya, karena—kau harus bersyukur, karena mendapat nomor antrian terus menerus, aku menjadi kesal, lalu berpikir bagaimana caranya agar tidak mendapatkan nomor antrian sialan itu lagi saat datang kesana dan viola! Aku menjadi wakil dari kasus sengketa tanah kedai itu.”

 

Ahra menyengir puas. Membalik tubuh Kyuhyun untuk menepuk pundak tegap adiknya lagi. “tampan.” Katanya mengakhiri tugas sebagai penata busana dadakan karena ternyata, sang adik sedang memiliki jadwal kencan bersama pasangan.

 

Tunggu.. kencan? “Kyu!” Ahra teringat akan sesuatu. Luke selalu memberikan kepadanya setiap saat dan Oh, Ahra lupa. Dia tidak bisa mengharapkan perubahan banyak pada diri Kyuhyun tapi toh, sebagian dari dirinya patut bersyukur mengenai gugatan itu karena lihat saja sendiri, kini Kyuhyun tampak lebih ‘hidup’ daripada biasanya! Benarkan?

 

Maka Ahra memandangi sekeliling ruang kerja Kyuhyun. Sibuk kesana kemari mencari benda keramat itu dan tak lama, Ahra menemukannya berada dipaling atas rak buku.

 

Sambil berjinjit Ahra berusaha menggapai vas dibarisan teratas pad arak tersebut. Dia menghembuskan napas lega karena menyadari seikat lilly itu masih segar. Sungguh, setelah ini dia harus berterimakasih kepada Oh Min Ji karena telah menjadi sekertaris paling rajin yang pernah dunia miliki.

 

“apa?”

 

Kyuhyun terkesiap ditempatnya melihat Ahra kembali dengan segenggam lilly ditangannya. Matanya memerhatikan Ahra, lalu lilly tersebut, Ahra lagi, lilly itu lagi dan seterusnya sampai Ahra memindah tangankan bunga tersebut kepada Kyuhyun. “berikan ini.”

 

“Tapi—“

“a-a-a.” telunjuknya bergerak-gerak serupa dengan kepalanya membuat Kyuhyun menghentikan idenya untuk menyanggah saran darinya. “percayalah padaku. Songjin menyukainya.”

 

“tapi ini hanya makan siang—“ suara Kyuhyun tercekat. Alis Ahra meranjak naik tampak jelas penuh penghinaan seolah berkata ‘percayalah padaku, wahai kau lelaki busuk, yang tak tahu bagaimana cara memperlakukan wanita’ dan Kyuhyun nyaris mengutuk karenanya. “Baiklah baiklah.” Erangnya berputus asa. Merasa geli dan jijik disaat yang sama, dan sedang berpikir, bagaimana caranya agar bunga sialan ini tak terlihat pegawainya disepanjang koridor nanti.

 

~~ ~~

 

Songjin mengenakan medium sleeveless dress berwarna putih. Dikepalanya, terdapat bandana dengan warna serupa yang menjaga agar poninya tidak menutupi wajah. Lalu wanita itu berputar lagi. Memberikan Kyuhyun pemandangan punggungnya saja.

 

Dan Kyuhyun seolah baru terhipnotis. Lupa bahwa seharusnya, dia menyembunyikan lilly sialan pemberian Ahra tadi— tapi sekarang dia tampak tidak peduli lagi.

 

Dari kejauhan, punggung Songjin tampak sempurna. Syukurlah tidak terdapat backless karena dapat dipastikan, hanya akan membuat Kyuhyun tak berselera melakukan apapun kecuali menghabisi istrinya itu diranjang— kalau ada. Tapi toh Kyuhyun tidak memerlukan ranjang.

 

Dia bisa melakukannya sambil berdiri. Oh, tunggu— mereka pernah melakukannya dulu. Dan sialan, mengapa sekarang isi kepala Kyuhyun, malah terfokus pada apa yang ada dibalik dress putih itu? Sialan!

 

“ada yang bisa kubantu, sir?” salah seorang pegawai bagian valet menghampiri Kyuhyun menyadarkan lamunan Kyuhyun dari pemikiran-pemikiran mesum dikepalanya.

 

Syukurlah.

 

“Y—yeah.” Kyuhyun cepat mengangguk. “yeah. Ada.” Kesadarannya kini telah kembali seutuhnya. Kyuhyun lantas mengalihkan pandangannya dari punggung Songjin didepan pintu masuk, yang hingga kini belum menyadari kehadirannya kepada pegawai lelakinya. “mobilku.” Kata Kyuhyun memerintahkan. “sekarang.”

 

“okay, sir.”

“Yeah.”

 

Lalu Kyuhyun berjalan perlahan menuju dimana Songjin berada. Mengindik. Berniat ingin mengejutkan wanita itu dari belakang, namun persetan dengan niat itu, ada hal lain yang lebih ingin dilakukannya sekarang.

 

Maka tiba-tiba, Songjin dikejutkan dengan tubuhnya yang mendadak terangkat, memutar lalu lebih terkejut dengan bibir dingin yang tahu-tahu sudah menempel saja dibibirnya.

 

Tangan Kyuhyun mendorong belakang kepala Songjin agar lebih mudah baginya, untuk menikmati bibir manis Songjin dan hey, berapa lama dia tidak merasakannya?

 

Satu bulan? Ah tidak. Gugatan itu baru berjalan selama satu pekan dan Songjin telah menjadi dingin padanya sejak beberapa pekan sebelumnya walau sayang tak disadarinya. Dia hanya sedang terlalu sibuk. Iya, sibuk dengan apa? Bahkan Kyuhyun sendiri lupa kesibukan macam apa yang bisa membuatnya lengah dari bibir manis tipis memabukkan ini.

 

Gigitan pada bibir Songjin membuat wanita itu sadar bahwa yang dilakukannya adalah salah. Tidak, ini tidak salah, dia berhak mendapatkan ciuman ini, Kyuhyun masih suaminya.

 

Tapi, dia baru memberikan gugatan perceraian itu kepada Kyuhyun. Seharusnya ciuman panas ini adalah illegal!

Tapi Kyuhyun seolah membuatnya lupa bahwa hal tersebut adalah salah. Yang illegal dapat menjadi legal-legal saja jika nafsu sudah berbicara. Seolah tak perduli dengan apapun Kyuhyun semakin membawa Songjin untuk lebih dekat dengannya dan keparatlah dirinya sendiri, tangan Songjin yang semula seolah masih belum terhipnotis, masih berada diantara tubuhnya dan tubuh Kyuhyun sebagai penghalang perlahan bergerak naik menggantung dileher Kyuhyun.

 

“Hm—“ Kyuhyun tampak puas walau kewalahan atas ulahnya sendiri. tersenyum miring kepada Songjin, mengusap belakang kepala wanita itu dengan usapan lembut seraya tersenyum menggunakan mata teduhnya, “Hai” katanya tampak riang.

 

Songjin meraup oksigen banyak-banyak dari sekitarnya. Sungguh, wajahnya kini terasa panas dan bibirnya seolah baru dikecup oleh mesin penyedit debu hingga membuatnya merasa seolah membengkak.

 

Kyuhyun menciumnya. Dia menciumku.

 

Ada yang sedang memekik senang bukan main didalam tubuhnya sekarang. Tapi ada lagi yang sedang memarahinya. Memperingatkan dirinya agar tak menjadi Songjin lemah seperti dahulu. Dan syukurlah, bagian pemarah itu tampaknya sedikit lebih banyak daripada yang bersorak senang.

 

Maka Songjin segera mengigit bibirnya lama. Mengangkat wajah memadang Kyuhyun, sebisa mungkin membuat wajahnya agar terlihat kesal. Iya, seharusnya dia kesal bukan malah senang!

 

“aku bisa membatalkan makan siang ini kalau kau melakukannya lagi.” Kata Songjin ketus. “dan tidak melepaskanku sekarang.” Lanjutnya disambut rasa terkejut Kyuhyun — langsung melepaskan satu tangan dilingkar pinggul Songjin sambil berseru, “Oops?” dan memasang wajah setengah panic.

 

Tapi sesungguhnya, dia memang panic. Berharap semoga kekeras kepalaan Songjin tidak kambuh hingga membuat rencana makan siang mereka batal.

 

“sorry?”

“tidak untuk yang kedua kalinya.”

“tidak akan terulang—“ tandas Kyuhyun mengangkat dua tangannya diudara seperti buronan yang telah terkepung polisi, “aku bersumpah.”

 

Mata Songjin langsung berkilat, terkejut melihat seggenggam lilly ditangan kanan Kyuhyun. Pun, sepertinya Kyuhyun sadar mengapa mata Songjin bergerak gusar lebih tertarik pada tangannya, bukan pada wajah rupawannya seperti para pegawainya disini.

 

“ah..” bunga lilly itu Kyuhyun putar didepan wajahnya sendiri. memerhatikan dengan seksama. Jadi, begitulah cara kerja bunga bagi wanita? Dapat membuat kemarahan pudar secepat itu?

 

Jadi, apa dia bisa.. mencium Songjin lagi lalu meredam amarahnya dengan memberikan seikat bunga?

 

“noona.” Kata Kyuhyun menggantungkan kalimatnya menyengir kaku. “sumpah ini bukan—“

 

“aku tahu.” Angguk Songjin sama yakinnya seperti Kyuhyun saat ini— berjuang meyakinkannya bahwa bunga itu bukanlah gayanya. “pasti Ahra eonni yang memiliki ide menyuruhmu membawa bunga hari ini.”

 

“bagaimana kau tahu?”

bahu Songjin bergerak halus, “entahlah, mungkin, karena kau adalah Cho Kyuhyun.”

 

“karena aku adalah Cho Kyuhyun?”

“yeah.”

“jadi kau tidak menginginkan bunga ini?” bibir Kyuhyun tercebik muram, “sayang sekali kalau begitu.” Lalu melirik Songjin, pun tampak lebih muram karena gurauannya. Seketika Kyuhyun tertawa renyah, “hanya bercanda.” Ujarnya membelai wajah Songjin cepat begitu lembut, lalu buru-buru menarik tangannya sebelum singa betina ini mengamuk untuk kedua kalinya “ini untukmu,” tambahnya tanpa memberikan kecupan apa-apa lagi.

 

Diwaktu yang sama, pegawai valet Kyuhyun baru saja sampai. Baru menyerahkan kunci kepada Kyuhyun sambil membungkuk hormat, “terimakasih.” Kyuhyun berkata seraya menggiring Songjin bersamanya.

 

“Hey, Songjin, kau tahu arah kedai kepiting Seocho?”

Songjin terpukau diam, “yeah,” angguknya ragu. “kenapa?”

“bagaimana kalau kita makan siang disana saja?”

“jadi— bukan winscanton?”

“No.” Kyuhyun menggeleng, “terlalu mainstream. Bukankah kau menyukai kedai itu??”

“bagaimana kau tahu?”

 

Kyuhyun tertawa kencang dengan suara beratnya yang Khas. Masuk kedalam mobil sama seperti Songjin, lalu berkata, “mungkin karena aku adalah Cho Kyuhyun.” Ujarnya puas. “dan hei, apa aku sudah mengatakannya??”

 

“mengatakan apa?”

“kau cantik sekali dengan pakaian itu, kau tahu?”

“Sial.” Songjin langsung mengumpat kencang saat kendaraan mereka berjalan perlahan mulai meninggalkan area gedung, “apa aku sudah mengatakannya padamu, Cho?”

“hmm?”

“peraturan kedua, dilarang menggoda satu sama lain, paham??”

 

~~ ~~

 

 

sementara itu dipelataran lobby Millennis, sekumpulan wanita pegawai perusahaan tersebut berbisik riuh, heboh satu sama lain, “kau melihatnya?” seru Jieun, “Sajangnim membawa bunga dan memberikannya kepada Songjin eonni!”

 

“ya ampun, tadi kau juga melihatnya, ‘kan?” seru salah satu dengan rambut pendek berponi, melompat-lompat ditempatnya, “apa kau pernah melihat Sajangnim tertawa seperti itu?”

 

“mereka berciuman!!”

Sajangnim melakukannya lebih dulu kau percaya??”

“astaga… kenapa tiba-tiba disini panas sekali?”

“pacarku tidak pernah semanis itu!!!!”

 

-TBC-

3 Comments (+add yours?)

  1. Laili
    Aug 25, 2015 @ 20:09:47

    so sweet bgt… Oh My God ini manis bgt..meleleh bacanya… keep writing🙂

    Reply

  2. lieyabunda
    Aug 28, 2015 @ 04:59:01

    hehehehehe,,, manis2 menjengkelkan liat kelakuan kyu….

    Reply

  3. ayu diyah
    Sep 02, 2015 @ 08:46:51

    kyuhyun manis bngt…
    omo..
    dri yg ga peduli, jdi super manis gtu.. gugatan cerainya jga punya sisi positif trnyta..
    smoga aja songjin ga trus keras kepala, biar mreka bisa balik

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: