90 Days [3/?]

90 days cover part 2

GSD

90 Days [Part 3]

Cho Kyuhyun | Cho Ahra | Park Songjin | Park Jung Soo | Lee Donghae

Married Life, Sad, romantic.

PG – 15

Chaptered

Note: It’s a long long long story. Hoping you guys not getting bored J. please check out their ‘home’ if you feel interested to see their further lives on: myfictionworld20.wordpress.com

 

 

 

-Dua Belas-

The second lie

“These days, it feels like you’re mine, it seems like you’re mine but not.
It feels like I’m yours, it seems like I’m yours but not.
These days, i hate hearing that I’m just like a friend. I don’t like you, don’t like you these days,
but I only have you, I only have you”

-Soyu and Junggigo – Some

*

 

Seocho-Gu, Seoul

12:47 KST

 

Songjin tahu tepat pada saat manik matanya menangkap senampan besar kepiting lada hitam pedas yang sedang dibawa oleh pelayan dari kejauhan— yang entah bagaimana caranya, dia dapat langsung menyadari bahwa nampan itu akan dibawa kemeja nomor 8 yakni mejanya, Songjin tak dapat bersikap biasa-biasa saja.

 

Duduknya tak tenang lagi. Tangannya langsung mengepal, seolah siap untuk berlomba, entah itu apa, dan semakin menjadi saat nampan itu benar-benar diletakkan didepan wajahnya.

 

Masih ada asap yang mengepul dari gundukan kepiting-kepiting disana— dan belum juga Songjin selesai mengamati mahakarya terindah berwarna oranye itu, ada satu nampan dengan ukuran setengah dari nampan kepiting itu— berisi jenis makanan sama, namun terdapat nasi didalam cangkangnya.

 

Songjin menggila.

 

Dia selalu menggila setiap melihat masakan berbahan dasar kepiting, dalam jenis apapun dan sebenarnya, itu sungguh memalukan karena tak jarang, Songjin dapat menjatuhkan harga dirinya seketika itu juga hanya untuk mengecap daging empuk nan manis dari makanan favoritnya tersebut.

 

Kyuhyun menyadarinya— dan sebenarnya, itu adalah pemandangan yang cukup.. well— bukan juga dapat dikatakan sempurna, karena wajah Songjin yang mendadak menjadi beringas serta seolah tak pernah menyentuh makanan selama 5 tahun lamanya itu tidak tampak sempurna sama sekali. Tapi ada rasa geli yang tak dapat dibohongi dan kali ini, Kyuhyun cukup mensyukurinya didalam hati— berjanji akan membelikan menu dan porsi yang sama untuk Ahra nanti sebagai tanda terima kasihnya.

 

Sambil berusaha untuk tidak mempertontonkan tawanya, walaupun itu tampak sedikit mustahil, Kyuhyun mengambil serbet disisi kirinya. Ukuran meja yang tak cukup besar dan tangannya yang cukup jenjang, memungkinkannya untuk dapat menyampirkan serbet itu didada Songjin, tapi tidak cukup mampu untuk mengaitkan kedua ujungnya maka Kyuhyun hanya dapat menunjuk serbet tersebut dengan dagunya memerintah, “ikat.” Katanya tegas.

 

Usai Songjin melakukan hal tersebut, manik matanya langsung begitu cepat dapat kembali pada kepiting lada hitamnya. Sungguh, seolah wajah tampan lelaki dihadapannya tidak seberapa menawan dibandingkan kepiting oranye dengan saus berwarna hitam tersebut.

 

Songjin segera mengambil sebuah penjepit yang berfungsi sebagai pemecah cangkang atau kulit kepiting yang keras. Dia sudah bersiap untuk menyerang satu potong kaki kepiting berukuran besar dihadapannya, dengan wajah garang— namun berhenti karena Kyuhyun sama sekali tidak melakukan apapun.

 

Setidaknya, tidak ada serbet yang menggantung didada pria itu sebagai tanda bahwa dia telah siap untuk menyerbu kepiting lezat ini sepertinya— namun Songjin ingat, serbet milik Kyuhyun adalah serbet yang dipakainya saat ini, maka dengan sedikit enggan Songjin memberikan serbet miliknya kepada Kyuhyun.

 

Melakukan gerakan angkuh, sama seperti bagaimana Kyuhyun berbicara dan bersikap padanya, tidak termasuk bagian mengalungkan serbet itu, karena Songjin cukup sadar, tangannya tak cukup panjang untuk dapat mencapai Kyuhyun.

 

Dan kedua, dia tidak sedang ingin bersikap manis terhadap pria ini. jadi mulutnya bergerak tak seberapa besar. Matanya memicing, “pakai.” Dan percayalah, sampai saat ini Songjin masih melakukan upaya terberat yang pernah dilakukan selama eksistensi hidupnya, yakni menghindar dari mata cokelat tajam lelaki bernama Cho Kyuhyun disana.

 

Dan catat, itu sulit! sangat sulit!

 

** **

 

“kau tidak makan?”

Songjin tertegun melihat Kyuhyun tidak melakukan apapun selain diam ditempat. Tangan kosongnya sesekali menekan satu tombol diponselnya diatas meja hingga menyala, lalu kemudian beralih lagi melakukan hal lain.

 

“tidak pernah melihat orang makan sebelumnya?” sindir Songjin karena melakukan hal lain yang tadi sempat dipaparkan ialah dengan mulut terkatup Kyuhyun hanya menjadikan Songjin sebagai objek tontonan menariknya, seolah Songjin adalah sebuah televisi yang sedang menyiarkan film porno hingga dapat membuat mata Kyuhyun tak berkutik kemanapun selain terpaku padanya saja.

 

Tapi pertanyaan Songjin hanya dijawab oleh gidikkan bahu Kyuhyun saja pada awlnya dengan mulut Kyuhyun yang terbuka tak seberapa besar, berkata dengan santai, “aku tidak lapar.” Dan yang Songjin tahu, itu adalah sebuah jawaban klise.

 

Jadi apa lagi kalimat lanjutannya? ‘karena kau terlihat cantik saat sedang makan?’ atau ‘aku senang melihatmu seperti itu?’

Dan berbagai kumpulan jawaban klise lainnya sudah berbaris rapih didalam kepala Songjin kali itu. Dia ingat seperti apa Kyuhyun memuji tentang penampilannya tadi di depan gedung Millennis yang sesungguhnya terdengar begitu cheesy ditelinganya walau tidak dipungkiri, mampu menghasilkan hawa panas seketika tepat pada wajahnya.

 

Tapi, mungkin itu karena ada tambahan lainnya, seperti ciuman tadi misalnya?

 

Mengingatnya, nafsu makan Songjin yang menggebu tadi mendadak menguap entah kemana. Hal ini membuatnya teringat akan beberapa hal mengenaskan dalam hidupnya. Dan percaya atau tidak, banyak dari hal mengenaskan itu, pasti selalu terdapat Kyuhyun didalamnya.

 

Pria itu seperti seorang pemeran utama dan Songjin hanyalah pemeran pembantu yang tak dapat melakukan apapun karena tak memiliki hak suara.

 

Dan Songjin kembali mengingat salah satu dari tumpukan kejadian mengenaskan itu. Itu adalah minggu ke dua setelah hari pernikahaannya. Dua minggu menjadi sepasang suami istri— pasangan pengantin baru, pasangan yang akhirnya— dapat tinggal bersama— memangnya siapa yang tak tahu kalau bagi tipe-tipe makhluk seperti itu, segalanya masih terasa manis?

 

Songjin ingat, hari itu dia membuat masakan dengan bumbu hasil temuannya sendiri usai menggila— mencoba memadu padankan ini dengan itu, itu dengan ini dan menganggap masakan-masakan tersebut masih layak makan, kegembiraannya menjadi berlipat ganda.

 

Tanpa berpikir panjang Songjin menghubungi Kyuhyun yang saat itu masih bekerja. Suara berat favoritnya menjawab panggilannya pada nada tunggu ketiga. Tanpa mengurangi bobot kegembiraan nyata pada wajah, Songjin langsung memekik, “kau harus pulang sekarang!” perintahnya tanpa peduli bahwa suaminya itu masih dalam jam kerjanya.

 

Tapi begitulah Songjin jika telah memiliki keinginan. Tapi sebentar, bukankah kebanyakan orang dan seperti pepatah para tetua mengatakan, tidak ada manusia yang bisa memiliki semua yang diinginkannya. Maka pepatah tetua itu berlaku bagi Songjin.

 

Songjin sungguh terkejut dan menjadi tidak terima, saat Kyuhyun mengatakan bahwa dia tak dapat pulang. tidak secepat itu. “aku masih memiliki banyak pekerjaan dan jam kerjaku sampai pukul 5 sore, bukan 11 siang.” Percayalah, Kyuhyun pasti Kyuhyun sedang mengurut pelipisnya karena mendadak kepalanya menjadi pusing.

 

“tapi kau kan yang memiliki perusahaan itu jadi mengapa kau tidak bisa kembali lebih cepat? Kau boleh melakukan apa saja!”

 

“jadi apa karena aku boleh melakukan apapun yang kumau aku bisa melakukan hal yang tidak semestinya kulakukan begitu?” nada Sengit Kyuhyun dimulai.

 

Dan sepanjang sambungan telepon itu, tak ada satupun inti percakapan seperti keinginan Songjin. Kiasan mengenai pengantin baru lenyap seketika. Maka dengan sedikit rasa kecewa dan perasaan enggan, Songjin menyudahi percakapan tak bermutu itu, “kalau begitu kau bisa kembali untuk makan siang?”

 

“Tidak.”

 

Songjin sudah hampir menangis karena penolakan kesekian Kyuhyun. Tapi wanita itu kemudian ingat dengan kemungkinan lain yang bisa didapatkannya, maka dia masih mencoba peruntungannya, “makan malam?” Songjin bersikeras berusaha setengah mati.

 

Dia ingin menunjukan kepada Kyuhyun terdapat beberapa hal menarik yang dirinya temukan dan lakukan kali ini. termasuk kemampuan memasaknya. Seolah hal tersebut tak bisa Kyuhyun nikmati lagi setelah ini. Songjin sungguh meminta kehadiran Kyuhyun sebagai tester berjalannya.

 

Ada keheningan sesaat, mengisi percakapan tersebut. Songjin sempat mengira Kyuhyun baru saja tersetrum ponsel yang konslet atau apa karena Kyuhyun tidak memberikan reaksi apapun.

 

Tapi kebodohannya langsung lenyap ketika sadar hal itu tidak mungkin terjadi. Songjin mengisi kekosongan itu dengan mengigiti bibirnya lama dan memandangi masakan didalam wajannya sedih.

 

Sebenarnya Songjin sedang mencoba menganalisa apa yang Kyuhyun lakukan diseberang sana hingga mungkin dia dapat memilih lalu mengeluarkan jenis tangisan yang dapat terdengar cukup menyedihkan hingga membuat Kyuhyun akhirnya, jika nanti akan menjawab ‘tidak’ tiba-tiba langsung merubah jawabannya menjadi ‘baiklah aku datang.’

 

Biasanya tangisannya adalah ancaman terhebat bagi Kyuhyun karena pria itu pasti akan langsung mengiyakan apasaja permintaannya.

 

Tapi ide keparat itu Songjin tinggalkan— wajahnya berganti dengan senyuman lebar saat Kyuhyun memberikan jawaban lain permintaannya, “akan kuusahakan.” Kata Kyuhyun ditambah sebuah ancaman bersyarat jika Songjin menganggunya lagi dengan sambungan telepon tak penting, makan malam itu batal.

 

Setidaknya itu seperti sebuah sumber air segar dipadang pasir bagi Songjin, hingga langsung melompat-lompat senang berkata, “baiklah aku akan memasak makan malam.” Sambil memekik tidak peduli jika mungkin Kyuhyun akan langsung tuli diseberang sana.

 

Lalu malam itu, Songjin melakukan seluruh yang dapat dilakukannya. Wanita malang itu mencoba bersikap manis— semanis yang dapat diperbuatnya. Sepanjang sore setelah memasak, yang Songjin lakukan adalah menata meja makan semenarik mungkin agar masakannya terlihat cukup berkelas.

 

Songjin meletakkan lilin ditengah, seperti yang sering dilihatnya dalam drama-drama ditelevisi, atau film romance dari dvd simpanannya. Dia meletakkan satu tangkai mawar segar disetiap sisi kanan pada piring makan miliknya dan Kyuhyun.

 

Untuk pertama kalinya Songjin merelakan mawar hasil tanam kerja kerasnya sendiri dikebun sebagai penghias ruangan. Sebaiknya ini patut mendapatkan apresiasi besar mengingat seperti apa usahanya dalam menjaga tanaman-tanaman itu.

 

Songjin juga membuat sebuah note lucu menggunakan kertas berwarna. Dia memilih biru karena Kyuhyun menyukai warna biru. Songjin bahkan membubuhkan gambar wall-e, tokoh kartun robot kesukaan Kyuhyun sebagai pemanis kartunya walau sepertinya, itu tak terlihat seperti robot wall-e.

 

Oke— baiklah, itu robot wall-e. namun itu agak tampak seperti wall-e yang baru saja terkena serangan hujan badai dan mendadak mengalami kejang-kejang karena konslet.

 

Tapi setidaknya, dia telah berusaha.

 

Lantas, sepanjang malam itu setelah persiapan mahasibuk-nya, tepat sejak pukul tujuh hingga sebelas malam, Songjin telah duduk manis dikursinya menanti Kyuhyun yang tak kunjung kembali.

 

Songjin telah berpikir untuk menghubungi Kyuhyun dan bertanya dimana pria itu berada saat ini karena kini jam makan malam bahkan telah lewat. Songjin sungguh kesal. Dia telah memenuhi perjanjian dengan tidak menghubungi Kyuhyun lagi sepanjang hari ini dan Kyuhyun yang malah melanggar janjinya.

 

Ada rasa kecewa teramat sangat yang sedang Songjin rasakan. Songjin ingat, malam itu dia hampir menangis, tapi berusaha menahannya mati-matian karena tak ingin make-up nya hancur. Dia juga ingin megacak rambutnya, namun tadi, rambut adalah bagian tersulit saat dirinya berdandan. Jadi Songjin pun mengurungkan niat tersebut.

 

Yang Songjin lakukan hanyalah duduk dikursinya sambil memandangi sengit layar ponsel. Dilayar cerah disana, terdapat gambar seorang pria sedang menggigit nachos. Pria itu terlihat tidak cukup ramah karena tidak menampilkan senyuman, ketika tahu dia sedang difoto— tapi juga tidak terlihat kejam, karena tidak memberikan tautan alis yang sinis sadar dirinya difoto.

 

“kau terlambat Cho!” omelan Songjin dimulai. Seolah dia memang sedang berhadap-hadapan dengan Kyuhyun. Terlalu lama melihat gambar Kyuhyun diponselnya, membuat hasrat Songjin untuk menghubungi Kyuhyun semakin besar.

 

Songjin begitu ingin menghubungi Kyuhyun namun bagaimana jika nanti ternyata dia menghubungi Kyuhyun pada saat yang tak tepat? bagaimana kalau Kyuhyun marah dan malah akan membatalkan rencana kembali ‘cepat’nya? Makan malam romantis ini akan batal dan mereka benar-benar tidak pernah melangsungkan makan malam romantis ala serial drama yang sering ada ditelevisi karena Kyuhyun terlalu sibuk.

 

Disisi kiri, muncul Park Songjin dengan tanduk mengompori Songjin untuk menghubungi Kyuhyun saja mengingat kini telah pukul 11 malam, dan waktu akan terus berjalan. Akan sampai kapan dia menunggu?

 

Makanan-makanan itu telah dingin omong-omong! Entah apakah masih baik-baik saja jika dimakan dalam kondisi dingin, atau tidak— Songjin pun mempertanyakan persoalan serupa.

 

Namun Songjin dengan sayap putih nan cantik disisi kanan mengingatkan Songjin agar tidak perlu berlebihan. Terdapat banyak sekali kemungkinan mengapa Kyuhyun belum juga kembali hingga selarut ini. mungkin, pekerjaannya memang sedang sangat banyak.

 

Atau mungkin, terdapat beberapa rapat dan pertemuan yang harus lebih dulu didatanginya daripada pulang untuk melakukan candle light dinner alakadarnya.

 

Mungkin juga, sebenarnya Kyuhyun sudah kembali, tapi siapa yang tak tahu bahwa kadang traffic kerap kali menjadi begitu keparat karena dapat membuat banyak orang terjebak didalam kendaraannya berjam-jam?

 

Dengan begitu banyaknya kemungkinan, dan syukurlah, Songjin dengan sayap putih nan cantiknya dari sisi kanan mendapatkan point kepercayaan lebih banyak daripada Songjin dengan tanduk merah, Songjin hanya dapat menarik napas dalam-dalam dan menghelakannya perlahan dari bibir yang mengerucut.

 

Dan malam itu, Songjin ingat, itu adalah candle light dinner pertama, dan terakhir— yang paling tolol yang pernah dilakukannya karena pada akhirnya, dia harus dengan terpaksa memasukan masakan-masakan itu, serta tangkai mawar cantiknya kedalam katung hitam besar, lalu memasukannya kedalam bak sampah.

 

** **

 

“Hei!” Kyuhyun membuka lebar lima jarinya didepan wajah Songjin lalu menggerakkan kekiri dan kanan berulang kali, “Songjin?”

 

butuh waktu 5 detik banyaknya untuk membuat kesadaran Songjin kembali seutuhnya. Songjin tampak gugup dan berusaha mengamati sekitarnya dengan kebingungan teramat sangat setelah akhirnya— nyawanya kembali.

 

Kyuhyun lebih merasa bingung. Tadi Songjin terlihat baik-baik saja. tadi Songjin sedang sangat bersemangat ketika menyantap kepitingnya. Lamunannya dimulai ketika Songjin bertanya padanya, mengapa dia tak kunjung memakan apapun?

 

“aku tidak lapar. Kau dengar aku?” ujar Kyuhyun mengulangi jawabannya lagi mengapa dia tak kunjung menyentuh satupun menu makan mereka dan hanya meminum jus jeruknya saja kepada Songjin karena sedari tadi, dia begitu yakin Songjin tak mendengarnya. “aku kenyang hanya dengan melihatmu makan seperti raksasa seperti itu—“ lalu membubuhkan candaan yang menurutnya sungguhlah lucu.

 

Omong-omong, bagian Songjin makan seperti raksasa memang benar adanya. Songjin seperti sengaja mengosongkan perutnya sejak beberapa hari lalu, karena tahu hari ini dia akan memakan makanan lezat bersama Kyuhyun.

 

Atau… memang seperti itu yang terjadi?

Mendadak Kyuhyun tak bisa menutupi kecurigaannya hingga menyipitkan mata semakin tajam saja memerhatikan wajah Songjin penuh dengan peluh karena kepiting lada hitam pedasnya, mungkin sedang membakar seluruh tenggorokan dan lidah wanita itu.

 

Songjin sampai perlu mengusap wajahnya dengan punggung tangan berulang kali saat peluhnya menetes semakin deras. Sungguh, Songjin seperti baru berlari marathon memutari kota Seoul sebanyak 10 kali.

 

Kyuhyun merogoh sakunya, mengeluarkan sapu tangan lantas memberikannya kepada Songjin walau langsung ditolak mentah-mentah, “aku tidak bisa mengembalikannya dalam waktu dekat jadi tidak perlu.” Kata Songjin sibuk mengusapi matanya yang memerah.

 

“kau baik-baik saja? apa itu terlalu pedas? Mungkin kau harus minum dulu.”

“tidak.” Songjin menggeleng cepat. “Aku baik-baik saja.” ungkapnya yakin— lebih berusaha untuk memastikan kepada dirinya sendiri, bahwa dia baik-baik saja.

 

Kyuhyun tahu. Kepiting itu memang pedas. Dia bisa melihat sebagian besar pengunjung disini yang memesan menu serupa memiliki reaksi nyaris sama dengan Songjin. Tapi dalam pengamatannya, setidaknya pengunjung lain tidak memiliki isakan didalam peluh yang membanjiri wajah mereka sedangkan Songjin sudah mulai terisak dengan mata memerah sejak… entah sejak kapan.

 

Picingan mata Kyuhyun semakin rapat, menyadari kemungkinan lain yang terjadi namun sejujurnya, Kyuhyun cukup enggan memikirkannya. Dia tidak pernah senang melihat Songjin menangis. Dan kepiting lada hitam pedas adalah alasan tolol untuk ditangisi, senikmat apapun masakan itu.

 

“tidak perlu dikembalikan.” Kyuhyun masih ditempatnya, dengan pose yang sama. dia tidak lagi tertarik dengan kepiting sialan itu. Dia hanya sedang sedikit penasaran mengapa reaksi Songjin dan pengunjung ditempat ini memiki perbedaan cukup signifikan?

 

“ambil saja, aku memiliki puluhan sapu tangan seperti itu dirumah.”

 

Ah— iya, seharusnya Songjin mengingatnya. Bukankah mereka tinggal bersama ditempat yang sama dan meletakkan pakaian diruangan yang sama? Ah, Park Songjin yang tolol, dia sudah lupa seperti apa bentuk kediamannya padahal baru meninggalkan tempat itu untuk beberapa minggu saja.

 

 

 

-Tiga Belas-

Crazy in Love

 

“Crazy. Even if I’m born again, i’m gonna date you baby. Just seeing you stand there makes my heart race”

-Hi Suhyun – I’m Different

*

 

 

Nowon-gu, Seoul

19:00 KST

 

“itu apa?”

tanya Kyuhyun penasaran. Sedari tadi matanya sudah tertarik dengan sesuatu yang Songjin bawa sejak wanita itu ditemuinya dilobby gedung kantornya.

 

Songjin ikut menoleh memandang map cokelat dipangkuannya yang Kyuhyun maksud tadi “Oh—surat.” Ujarnya reflex menjawab cepat.

 

Seketika bulu roma Kyuhyun meremang. Dia sudah memiliki trauma tersendiri pada kertas tebal besar bernama ‘map’ lengkap dengan warna cokelat karena seingatnya, beberapa minggu lalu dia pernah mendapatkan map serupa, berisi surat keparat yang membuat hidupnya kini tak menentu.

 

Lalu tadi apa kata Songjin? Surat? SURAT?

Dan surat dalam jenis apapun, dalam bentuk apapun, Kyuhyun masih memiliki kebencian tersendiri mendengarnya. Dia ingat ada beberapa map dengan kemungkinan isi kertas serupa seperti yang Songjin bawa, hanya dibiarkannya saja menumpuk dimeja sudut ruangannya.

 

Dia masih tidak peduli dengan benda bernama map berisi surat.

 

Namun rasa penasaran Kyuhyun semakin tak tertahankan semenjak Songjin mengatakan bahwa didalam map keparat itu adalah berisi surat. Iya surat!

 

Surat apalagi yang wanita itu siapkan kini? Kemarin surat perceraian itu, masih belum cukup juga untuk membuat sebuah ‘kejutan’ untuknya? jadi ini surat macam apalagi?

 

“surat….apa?” Kyuhyun berusaha terlihat santai untuk menutupi rasa paniknya. Semoga bukan surat dengan embel-embel mengerikan lagi walau hatinya tidak bisa meyakinkan dirinya sendiri mengingat seperti apa hubungannya dengan Songjin akhir-akhir ini, rasanya masuk akal juga mengapa Kyuhyun mudah merasa curiga dan sanksi terhadap sekitarnya dan banyak hal.

 

Namun lamunan akan kemungkinan jenis surat didalam map milik Songjin buatan Kyuhyun itu segera musnah ketika Songjin berbicara menggunakan suara serak, “surat lamaran kerja.” Katanya sambil membuka mapnya untuk mengeluarkan isi kertas didalamnya.

 

Dan Songjin memang benar. Setidaknya itu bukan salah satu surat dari pengadilan lagi untuk Kyuhyun seperti yang pria itu bayangkan sebelumnya. Kyuhyun dapat bernapas lega setelahnya.

 

Dia baru bisa mengambil secarik kertas itu setelah kendaraannya harus berhenti karena traffic lamp menunjukan warna merah. Matanya meneliti kertas tersebut sangat cepat seperti alat scan. Keningnya berkerut-kerut seolah berusaha keras untuk memahami hasil tulisan tangan seorang balita— padahal tulisan disana ditulis menggunakan computer.

 

“guru?” dari sudut matanya Kyuhyun melirik Songjin sesaat. Dia tak sempat melihat bagaimana reaksi Songjin karena langsung kembali mengamati kertas ditangannya. “guru taman kanak-kanak?”

 

Songjin melamar menjadi seorang guru taman kanak-kanak? HAH? yang benar saja wanita ini pasti sudah sinting. Kyuhyun benar-benar tak menyangka jika Songjin menuliskan lamarannya untuk sebuah yayasan sekolah swasta, sebagai salah satu pengajar sekolah taman kanak-kanak disana.

 

Suara klakson dari kendaraan dibelakang menyadarkan Kyuhyun bahwa lampu sudah berganti warna. Dia segera menjalankan kendaraannya tanpa mengembalikan kertas tersebut kepada Songjin terlebih dulu. Kyuhyun meletakan kertas tersebut dipangkuannya.

 

Sambil menyusuri jalan raya lalu berbelok memasuki sebuah gang, Kyuhyun mencoba berpikir keras untuk beberapa alasan dan kemungkinan. Tepat didepan sebuah rumah minimalis berlantai 3 dengan gaya bangunan romawi, Kyuhyun memakirkan mobilnya dipinggir jalan sebelah trotoar.

 

Kyuhyun menggeluti kertas tersebut lagi dan membacanya sampai tuntas. Ada beberapa bagian yang sebenarnya ingin sekali ditanyakannya lebih dulu. Seperti, mengapa Songjin menggunakan nama keluarganya, Park Songjin, sebagai identitasnya, dan tidak menggunakan marganya, Cho Songjin?

 

Memang di Korea tidak ada keharusan wanita untuk mengganti marganya menjadi marga sang suami setelah menikah. Tapi bukankah akan lebih baik jika tertulis seperti itu? Cho Songjin? Lagipula Cho Songjin terdengar lebih segar didengar daripada Park Songjin.

 

Kyuhyun mendesah panjang. Dia tahu itu bukanlah hal penting yang bisa dipermasalahkannya untuk saat ini. ada hal yang lebih penting daripada sekedar marga. “mengapa kau melamar pekerjaan?” Kyuhyun bertanya sambil mengembalikan kertas ditangannya kepada sang pemilik.

 

Dilihatnya, Songjin menjawab pertanyaannya hanya dengan gedikkan bahu. Itu bukan jawaban omong-omong. “kau membutuhkan uang?”

 

Songjin menggeleng tampak ragu, “tidak.” Dan nada suaranya pun tak terdengar meyakinkan sebenarnya membuat Kyuhyun merasa heran.

 

Hingga sampai detik ini, walaupun gugatan itu tetap berjalan, Kyuhyun tak pernah luput menyerahkan kewajibannya kepada Songjin. Pun walau Songjin tak lagi tinggal bersama dengannya. Seluruh uang keperluan rumah tangga serta uang pribadi bagi Songjin sendiri masih Kyuhyun kirimkan.

 

Sampai detik ini, Kyuhyun sungguh ingat dirinya masih memenuhi kewajibannya sebagai seorang suami. Dia masih memberikan supply penuh kepada Songjin sebagai istri.

 

Dan kalaupun Songjin membutuhkan uang untuknya pribadi, Kyuhyun selalu memberikan uang lebih dari cukup kepada Songjin. Itu pasti cukup untuk keperluan seorang wanita yang biasanya tidak jauh dari kata berbelanja, melakukan perawatan tubuh dan rambut, hingga hal terremeh seperti melakukan menicure pedicure.

 

Atau… selama ini sebenarnya dia tidak teliti mengirimkan uang hingga Songjin mengalami kekurangan namun wanita itu tak pernah mengatakannya?

 

Hari ini sudah berapa kali Kyuhyun melemparkan pandangan curiganya kepada Songjin. Dan Songjin sepertinya menyadari— karena semakin lama diberikan pandangan laser seperti itu membuatnya merasa tak nyaman, “aku tidak membutuhkannya! Tck!” sambil bersungut sebal Songjin melipat tangan didada mulai tampak geram.

 

“lalu?”

“lalu?” Songjin mengulangi pertanyaan Kyuhyun tadi dengan nada yang sama. ralat— nadanya terdengar memiliki kandungan kesinisan lebih tinggi daripada milik Kyuhyun. “apa yang dipermasalahkan disini?”

 

Kyuhyun membuang napas lagi. Sepertinya ada yang Songjin masih belum pahami disini selain mengenai perasaannya yang sedang campur aduk karena merasakan senang dapat menghabiskan waktu panjang bersama Songjin, namun juga kesal, karena Songjin versi menyenangkan seperti dulu masih belum kembali. Songjin yang ini terlalu dingin dan menyebalkan. Agak sulit diatur dan mudah marah.

 

“kau bisa mengatakan padaku mengenai keperluanmu. Aku masih sanggup memenuhi keperluanmu, dan itu masih kewajibanku.” Papar Kyuhyun penuh kesabaran. Dia berusaha mati-matian agar tidak mendaratkan telapak tangannya diatas kepala Songjin untuk mengusapnya lembut, lalu menjitak kencang.

 

“apa uang yang selama ini kukirimkan kurang?” nada super lembut Kyuhyun tak mendapatkan balasan serupa. Kyuhyun yakin dia baru saja melihat Songjin menerlingkan mata tampak tak senang lengkap dengan lirikan tajam kepadanya hingga membuat dirinya berpikir, adakah dari kalimatnya tadi yang terdengar kurang sopan, atau dia salah dalam penggunaan kata-kata?

 

sepertinya tidak.

Sambil bersedekap dan memeluk tasnya, Songjin menyandarkan tubuh pada sisi pintunya menyudut dengan kursinya. Hembusan napas yang dikeluarkan Songjin sebelum wanita itu menjelaskan alasannya seolah merupakan gambaran betapa berat hidup yang dijalaninya selama ini dan semua itu karena ulah lelaki tinggi berkulit putih pucat dengan wajah bagai titisan malaikat disampingnya saat ini.

 

“aku bosan.” Katanya memulai— kepalanya menoleh pada Kyuhyun namun tubuhnya masih lurus seperti tadi. itu membuatnya tampak seolah enggan untuk berhadapan dengan Kyuhyun saat ini. “aku tidak memiliki pekerjaan apapun selama ini. beberapa minggu belakangan ini aku baru menyadari sesuatu. Setelah menikah, aku tidak memiliki kesibukan lain yang lebih penting daripada sekedar menjadi catering makan siangmu saja.”

 

“Hm.” Kyuhyun berusaha untuk tidak tersenyum menyadari bahwa hal yang baru Songjin sadari itu bukanlah hal yang buruk juga. Dan akhirnya— akhirnya Songjin menyadari selama ini dirinya menggantungkan kelangsungan hidup makan siangnya, dari menu-manu makanan yang Songjin bawakan kekantornya setiap tepat pukul 12 siang.

 

tepat pukul 12 siang, Songjin selalu— sudah— tidak pernah tidak— stand by didalam ruang kerjanya.

Dan sebenarnya, itu bukan hal yang buruk juga. Sama sekali tidak buruk. Bukankah itu adalah salah satu tugas Songjin, yaitu memastikan Kyuhyun mendapatkan sesuatu yang layak untuk menjadi asupan nutrisi?

 

Dan Kyuhyun mati-matian tak tersenyum ketika sadar, dia memiliki ritme makan siang teratur dengan menu yang sehat semenjak menikah. Sebelumnya— hidupnya terasa seperti pekerja serabutan. Dia tetap makan, tentu saja jika tidak dia sudah mati sekarang, tapi itu jika ingat. Dan.. jika dirasa perlu saja.

 

“aku ingin memiliki kegiatan lain, selain daripada melakukan hal tidak penting seperti itu.” Desah Songjin panjang tak sadar Kyuhyun baru saja mendelik, “jadi menurutmu itu tidak penting?”

 

itu sangat penting omong-omong! Menurut Kyuhyun biarpun remeh, tapi itu sangatlah penting. Namun Songjin sepertinya sudah tidak tertarik lagi dengan topic seberapa penting makan siang dalam keseharianmu.

 

“uang— aku tidak terlalu merepotkannya. Setidaknya Appa pernah memberikanku 5% sahamnya. Jadi setiap bulan, tanpa aku harus berdandan rapih menggunakan pakaian formal sepertimu, aku yakin aku memiliki pendapatan yang cukup jika itu hanya untukku saja. lagipula toh, aku tidak pernah melakukan dan menginginakan hal yang aneh-aneh.”

 

Songjin berupaya keras mengingatkan sekaligus menyindir Kyuhyun dengan segala tumpukan obsesi pria tersebut yang tak kunjung habis. Seolah mati satu, tumbuh seribu. Mati seribu, tumbuh seratus ribu. Tak akan pernah habis— dan Songjin yakin, dirinya dan Kyuhyun memiliki perbedaan nyata disana.

 

Dengan pendapatan bersih sebesar 5% saja dari perusahaan property milik Park Seul Gi, Songjin yakin dia dapat menghidupi dirinya sendiri tanpa bantuan kucuran dana Kyuhyun.

 

Sekalipun itu artinya, dia harus membuang beberapa kegiatan menyenangkan yang biasa dilakukannya selama ini agar uang miliknya yang didapat secara cuma-cuma perbulan itu cukup untuk hidup, itu tak menjadi masalah. Songjin yakin dia masih memiliki kesempatan sangat besar untuk hidup lebih dari cukup.

 

Dia hanya perlu mengatur keperluannya lagi. Mendahulukan mana yang lebih penting dan menyingkirkan yang tak penting. Hanya semudah itu saja.

 

“aku hanya ingin memiliki kegiatanku sendiri.” desah Songjin bersamaan dengan tubuh mengendur dijok.

Well— berbda dengan Songjin yang tampak berputus asa menceritakan keinginannya, Kyuhyun disana malah tampak mengerikan dengan wajah penuh tanya dan puluhan ekspresi lain tak terbaca.

 

Namun Kyuhyun yakin dirinya dapat menjelaskan secara runtun kepada Songjin bahwa wanita itu memiliki kesempatan untuk mempunyai kegiatannya sendiri yang lebih penting, jika terus berada disekitarnya. Welll— dia bisa membuat Songjin ‘sibuk’ sebenarnya. namun sudahlah, lagi-lagi pikiran seperti itu Kyuhyun harus buang jauh-jauh.

 

Toh lagipula, dia masih belum merasa memiliki keturunan adalah prioritasnya. Ada dua hal yang kini menjadi prioritas utamanya.

Satu, membatalkan gugatan perceraian itu ; dua, membawa Songjin kembali pulang kerumah mereka.

 

Dua itu walau terlihat remeh, namun percayalah, prakteknya ternyata tak semudah itu.

 

“jadi, kau memutuskan untuk bekerja. Melamar menjadi seorang penjagar di Taman Kanak-kanak?”

“hm.” Songjin tampak lesu seperti menggambarkan bahwa sebenarnya dia sendiri tidak yakin dengan keputusannya. Kyuhyun bahkan merasa sesungguhnya Songjin tidak tahu apa-apa mengenai apa yang sebenarnya wanita itu inginkan.

 

Namun Kyuhyun berusaha meyakinkan dirinya bahwa Songjin pun memiliki hak yang sama sepertinya untuk melakukan apapun yang Songjin inginkan. Dia hanya perlu menghargai saja seberapapun besarnya rasa tak senang itu sebenarnya mengganjal. Itu saja.

 

“kalau begitu aku mengizinkanmu,” Kyuhyun mengangguk yakin. Ah, tidak juga sebenarnya. entah mengapa Kyuhyun tak pernah senang membayangkan Songjin bekerja— walaupun itu sebenarnya bukanlah hal yang buruk.

 

Kyuhyun lebih senang membayangkan Songjin berada dirumah. Measak, merapihakan kediaman mereka, membaca majalah, tidur, makan, atau entah melakukan apapun, hal yang Songjin ingin lakukan. Lalu menyambutnya setelah seharian dia bekerja dan merasa lelah. Setidaknya, Songjin selalu ada pada jarak pandanganya. Songjin tergapai. Itu saja.

 

Namun lagi lagi ada desisan sinis Songjin yang Kyuhyun temukan. Wanita itu bahkan tak segan untuk menunjukkannya terang-terangan kepada Kyuhyun sambil menaikan satu alisnya sangat tinggi— berkata, “apa aku baru meminta izinmu? Aku hanya menjelaskan apa yang ingin kau tahu. Bukan meminta perizinanmu, Cho!”

 

Untuk sesaat Kyuhyun terdiam. Songjin versi sinis telah kembali. Tadi dia sempat mendapatkan gambaran Songjin seperti yang diingatnya walau hanya sebentar. Lalu Songjin itu lenyap lagi digantikan oleh Songjin mengerikan ini lagi. “jadi menurutmu begitu?” kesabaran Kyuhyun sudah berada diambang batas bahaya.

 

Amarahnya mulai terpancing begitu mudah ketika Songjin tampak kurang menghargai dirinya. Setidaknya, dirinya masih memiliki hak penuh terhadap Songjin. Dia bisa saja membawa Songjin pulang secara paksa. Membuat wanita itu kembali pada rutinitas— entah apa miliknya lagi dan membatalkan lamaran pekerjaan itu, jika dia mau. Tapi Kyuhyun tidak sekejam itu.

 

“Seoul International Academy?” Kyuhyun mengulang nama yayasan yang Songjin akan kirimi lamaran. Entah bagaimana amarahnya dapat sirna begitu saja— digantikan oleh guratan senyum mencela begitu lebar, “entah karena memang kita berjodoh atau terdapat factor lain, tapi kalau kau lupa, sayang, sekolah itu berbeda satu blok saja dari kantorku.” Senyum semringah Kyuhyun tampak mentereng bagai berkilauan diterpa sinar matahari sore yang wah.

 

“huh?”

 

kini alis Kyuhyun yang meranjak naik seperti Songjin tadi. efek milik Kyuhyun bahkan terlihat lebih tragis karena lelaki itu kini terlihat super menawan, walau Songjin tak ingin merasa terpesona karena sedang merasa kelas disaat yang sama.

 

tapi dia sungguh lupa dengan hal itu! Iya! Tadi, itulah mengapa dirinya dan Kyuhyun dapat membuat janji untuk bertemu di lobby gedung millennis saja. itu karena dia tak perlu berjalan jauh untuk sampai ke gedung sialan itu! Ya ampun Park Songjin!!!

 

 

Percayalah yang ingin Songjin lakukan saat ini hanyalah menjerit meratapi ketololannya. Dia bisa saja membatalkan lamaran ditempat itu dan mencari tempat lebih jauh. Namun Songjin ingat Seoul Internasional Academy adalah yayasan sekolah bergengsi yang pernah Seoul punyai.

 

Dan sekolah itu memiliki system blacklist terhadap pelamar— yang jika telah memasukkan form pendaftaran lamaran, lalu tak memberikan surat lamaran dalam waktu 2×24 jam.

 

Songjin ingat SIA— nama sekolah itu biasa disebut, memiliki beberapa anak yayasan gedung ditempat lain namun mereka memiliki akses link yang sama. dan penetapan calon pengajar akan ditempatkan ditempat dimana pertama kali orang itu mengiri form pendaftaran lamaran pengajar. Ah— seharusnya dia mengisi form SIA didaerah dokdo saja. atau Jeju kalau perlu.

 

Singkat cerita, tak mudah untuk masuk menjadi pengajar disana.

 

Biarpun bukan uang sebagai motivasinya, tetap saja Songjin tak ingin bekerja ditempat sembarangan. Setidaknya nanti dia memiliki modal untuk pamer kepada Donghae, orang tuanya dan orang lain bahwa dia mampu mendapatkan pekerjaan bahkan ditempat berkualitas.

 

Songjin menjadi panic— dan Cho Kyuhyun dapat mengendusnya begitu mudah. “kau tahu SIA memiliki peraturan ketat terhadap pekerjanya ‘kan?”

 

Tentu saja Songjin tahu. Itulah mengapa kini dia menjadi gusar.

“terserah kau saja, kalau menurutmu kau tidak membutuhkan izinku. Tapi biar kujelaskan sedikit saja. sedikiiit saja,” Kyuhyun menyipitkan mata sambil merapatkan ibu jari dan telunjuknya untuk memberikan gambaran sesedikit apa hal yang dimaksudnya.

 

“jika itu adalah suatu instansi terkemuka, memiliki peraturan tegas, maka kau akan membutuhkan perizinanku karena nanti, mereka pasti akan menanyakan statusmu. Kalau kau bisa memalsukan statusmu sebagai wanita yang telah menikah dan bukan lajang, katakan padaku. Tapi SIA—“ Kyuhyun menggeleng kepala berdecak-decak, “aku tidak dapat menjaminnya walaupun kau bisa mencobanya sendiri kalau tidak percaya padaku.”

 

“jika kau seorang lajang, maka penanggung jawabmu adalah Ayahmu. Jika masih ada, jika sudah tidak ada, dapat digantikan oleh orang lain yang kau kenal. Namun kalau kau telah menikah, maka penanggung jawabmu adalah pasanganmu. Kau memerlukan tanda tangan penanggung jawabmu sebagai pernyataan sah bahwa kau bekerja atas dasar persetujuan dan kesepakatan.”

 

Songjin menjatuhkan rahang tanpa ampun kali itu. Kepalanya seketika menjadi pening. Kyuhyun sungguh keterlaluan!

 

“kau tidak ingin bertanya bagaimana aku dapat mengetahuinya?” lelaki dengan marga Cho itu tampak menyeringai penuh kemenangan. Baiklah, dia memang menang dan sepertinya, akan selalu seperti itu.

 

Dan pertanyaan terakhir Kyuhyun bukanlah sesuatu yang perlu dijawab. Memiliki keluarga penegak hukum, tidak mungkin dapat membuat Kyuhyun buta akan hukum. Ditambah, pengetahuan pria itu dalam segala hal sangatlah mengerikan.

 

Jadi sungguh, tak ada yang perlu ditanyakan lagi. Songjin mengetahui jawabannya diluar kepala. Sungguh. Hanya saja— seharusnya Kyuhyun bisa bersikap lebih bersahabat dan tidak semenyebalkan ini!!

 

“tapi tidak masalah kalau kau tidak memerlukan izinku.” Kyuhyun menggedikkan bahu— sedangkan Songjin melirk pria itu sinis tahu sebenarnya Kyuhyun sedang melakukan aksi pemeraasan padanya. “aku butuh.” Dengan bibir terkatup Songjin akhirnya menyuarakan kekalahannya.

 

Kyuhyun tampak tak terlalu memerdulikannya. Pria itu sibuk dengan ponselnya lantas berkata tak berhati sama sekali, “kalau begitu turunlah. Kita sudah sampai dirumahmu.” Tanpa adanya raut belas kasihan sama sekali untuk Songjin.

 

Namun Songjin tahu, itu hanyalah sekedar akal bulus Kyuhyun semata. Dia tak pernah mendapatkan Kyuhyun seperti ini sepanjang hidupnya. Yang bersedia repot-repot bertingkah seperti pakar negosiasi padahal yang dilakukannya selama ini hanyalah pengambil keputusan sepihak.

 

“aku butuh perizinanmu.”

“kau tidak mau turun?” Kyuhyun memainkan jemarinya diatas layar ponsel miliknya tak menghiraukan Songjin sedikitpun. Padahal Songjin sedang berusah payah meminta perhatiannya, “Kyuhyun-ah!”

 

“sebentar.” Kyuhyun melebarkan lima jarinya didepan wajah Songjin lalu cepat-cepat dibuang oleh Songjin sendiri. Songjin memanggil lagi menggunakan nada lebih kecang. Namun Kyuhyun memiliki jawaban sama serta reaksi yang tak jauh berebeda dengan tadi.

 

maka ditengah keputus asaan dan rasa ingin menangis— namun enggan untuk memperlihatkannya didepan Kyuhyun— lelaki bengis tak berhati— medusa versi pria, Songjin mengigit bibir kencang-kencang lantas menyambar ponsel ditelinga Kyuhyun menggenggamnya erat. “aku membutuhkan izinmu. Oh, ayolah— jangan bermain-main lagi ini tidak lucu sama sekali.” Dengusnya jengkel.

 

Kyuhyun terlihat sama jengkelnya berusaha menggapai ponsel miliknya namun Songjin belum memiliki niat untuk mengembalikan. Kyuhyun mendesah pendek, “jadi apa maumu?” sebenarnya Kyuhyun tahu bahwa hal ini akan terjadi.

 

Cepat atau lambat Songjin akan memahami seberapa penting keberadaannya dengan segala peraturan rumit hukum Korea yang menunjung tinggi hak-hak para wanita didalam suatu pernikahan. Seharusnya Songjin mempelajari itu karena itu sungguh menguntungkannya sebagai seorang wanita.

 

Kyuhyun tahu, cepat atau lambat Songjin pasti akan merengek mengemis permohonan izin itu padanya— walau tadi sempat ditolak mentah-mentah oleh Songjin sendiri. “aku butuh—“ Songjin mengigit bibirnya terlihat ragu.

 

Kyuhyun tak ingin menginterupsinya. Dia ingin melihat seberapa mampu Songjin menurunkan harga dirinya ditengah kepelikan ini dan caranya sungguh brilliant. “aku butuh perizinan itu. Dalam bentuk tanda tangan ‘kan?”

 

“kau benar-benar tidak tahu apa-apa tentang hukum ya?” Kyuhyun sungguh tercengang, “jadi, bukan dalam bentuk… tanda tangan?” suaranya semakin terdengar tidak meyakinkan saja.

 

Kyuhyun berusaha untuk tidak membuang napas secara kasar kali itu. Dia hanya menggelngkan kepala heran sambil sedikit menysukuri kecerobohan Songjin dan menemukan peruntungan lain dibalik kecerobohan ini.

 

“dalam bentuk surat pernyataan Songjin. Surat.”

“oh—“ bibir Songjin mengecurut. “dilampirkan?” tebakkanya kali ini benar. Untunglah. Jika tidak mungkin Kyuhyun sudah menjedukkan kepalanya pada kemudi stirnya. “yeah.”

 

“jadi kapan aku bisa mendapatkannya?”

“harus terburu-buru seperti itu ya?”

“aku sudah mengisi form-nya kemarin! Aku tidak memiliki sisa waktu lagi selain besok untuk mengembalikan lamaranku!!”

 

Songjin semakin panic sedangkan Kyuhyun sedang bertingkah sebagai tokoh antagonis yang menikmati sejumlah penyiksaan terdapat si pemeran protagonisnya.

 

“aku bisa memberikannya malam nanti. Atau, besok? Mengingat tempat itu tidak jauh dari kantorku.”

 

Wajah Songjin langsung berseri, “benarkah?” dan Kyuhyun tampak lebih berseri lagi, “yeah.” Kyuhyun pun tampak bersemangat mahasuper pada kegiatannya kali ini, “tapi seperti yang kau tahu, tidak ada yang gratis didunia ini untuk apapun.”

 

HAH?!

Benar! Songjin sudah bisa mencium aroma pemerasan seperti ini sejak awal tadi ketika Kyuhyun mengingatkannya mengenai wali perizinan keparat itu! Sialan sekali! Dia tahu Kyuhyun mampu melakukan apasaja karena pria itu tahu, perizinan itu adalah hal yang paling dia butuhkan saat ini.

 

Mata Songjin menyipit dipenuhi laser panas seprti milik superman yang mampu melelehkan besi baja. Songjin mengarahkannya kepada Kyuhyun seolah pria itu adalah sebuah besi baja dan berharap dengan kegiatannya itu Kyuhyun dapat meleleh. Lalu lenyap ditelan bumi.

 

Hilang tidak bersisa. Tak pernah lagi ada lelaki bagai malaikat, dewa Yunani dengan rahang tegas mata tajam, hidung sempurna bibir penuh bertubuh tinggi, memiliki pelukan nyaman dan hangat— bernama Cho Kyuhyun. Tak pernah ada lagi. Titik.

 

Namun Songjin tahu semua itu hanya ada didalam khayalannya saja. dalam prakteknya, melenyapkan seseorang bukanlah semuah itu caranya. Dan Songjin merasa tak cukup cerdas untuk memiliki ide dimana bisa menyembunyikan tubuh Kyuhyun nanti setelah Kyuhyun berhasil dibunuhnya.

 

Polisi pasti akan dengan mudah menemukannya. Dia tidak sepandai itu untuk menjadi seorang penipu. Yang ada nanti dirinya malah dipenjara semumur hidup karena menghabisi nyawa seseorang. Lebih mengenaskan— seseorang itu adalah suaminya sendiri.

 

Apa yang akan Koran-koran beritakan nanti? ‘seorang wanita depresi tega membunuh suaminya karena tidak memberikan perizinan bekerja?’ itu terdengar sangat lucu dan bodoh.

 

“apa yang kau inginkan?” Songjin tak ingin berbasa basi lagi. Dia sudah cukup muak dengan segala basa-basi Kyuhyun hari ini. sungguh, ada apa sebenarnya dengan pria itu? Kyuhyun tak pernah seperti itu sebelumnya!!

 

“makan siang.” Kyuhyun tersenyum ramah. “menu makan siangku seperti biasa dijam makan siang.”

 

“APA?”

“itu penawaranku.” Kyuhyun menggedikkan bahu bertingkah bagai seorang calo saham ulung. “terserah kau.”

 

dan diwaktu yang sama, Songjin menyadari dua hal terpenting bahwa pertama, dirinya sudah tak memiliki waktu untuk berbasa basi. Besok dia sudah harus memasukan lamaran itu dan kedua, dia sangat membutuhkan perizinan itu. Perizinan itu kini telah menjadi hidup matinya.

 

Maka tanpa berpikir panjang Songjin langsung menyetujui saja tawaran Kyuhyun yang sebenarnya tak seberapa berat baginya. Itu hanya persoalan makan siang. Dia bisa memasaknya dan memberikan itu kepada resepsionis dilantai dasar gedung Millennis agar diserahkan kepada Kyuhyun dan setelah itu dirinya dapat melanjutkan hidup tanpa perlu sering-sering bertatap muka dengan pria tampan pujaan banyak gadis itu.

 

“Okay.”

“kau membawanya sendiri.” tandas Kyuhyun. “keruanganku. Tepat pukul 12 siang. Seperti biasa.”

Ah baiklah, seharusnya Songjin tahu hal ini akan terjadi. Kyuhyun pasti memiliki banyak upaya untuk membuat mereka dapat bertemu sesering mungkin.

 

“tapi aku tidak tahu apa waktuku cukup atau tidak. Maksudku— walau hanya berbeda satu blok saja, tapi disana aku mengajar dan pekerjaanku ditentukan oleh waktu. Bukan sepertimu yang bekerja sebagai seorang atasan dengan pekerja banyak sekali.”

 

Kyuhyun terdiam. Dia baru menyadari alasan Songjin ada benarnya juga. Mungkin ide membawa makan siang itu ke ruang kerjanya agak sedikit berlebihan. Tapi dia tak ingin makanan itu sampai padanya melalui beberapa tangan lain.

 

Kyuhyun diam karena merasa bingung dengan permintaannya sendiri. mungkin itu terlalu berlebihan. Atau makan siang bukan penawaran yang tepat. mungkin dia bisa memikirkan hal lain yang lebih rumit selain makan siang.

 

Iya, seperti Songjin agar kembali tinggal dirumah mereka misalnya? Ah, tidak, itu juga penawaran yang buruk. Dia memang ingin Songjin melakukannya namun tidak secepat ini dan tidak dengan sebuah cara pemaksaan.

 

Kyuhyun ingin Songjin kembali, karena Songjin memang ingin kembali. Karena Songjin memang merasa perlu untuk kembali. Bukan paksaan apalagi pemerasan.

 

“kalau begitu aku yang mendatangimu.” Tiba-tiba muncul ide brilliant Kyuhyun ditengah kebekuan otaknya sore itu, “iya. Aku memiliki waktu luang dan tak terpaku oleh apapun. Aku bisa mendatangimu semauku.” Kyuhyun menyengir lebar sadar idenya ini tidak buruk juga. Makan siang ternyata oke juga.

 

“itu berlebihan.” Songjin tampak tidak terima dan tak senang akan keputusan sepihak Kyuhyun. Namun dirinya ingat dia tidak memiliki pilihan lain. Alis Kyuhyun yang terus terangkat tinggi seperti itu seolah mendesaknya untuk memberikan jawaban secepat mungkin.

 

Maka dibarengi dengan desahan keputus asaan mahabanyak, Songjin mengangguk pasrah, “baiklah.” Putusnya menyerah. “makan siang setiap jam makan siang,”

 

 

 

 

 

 

-Empat Belas-

Reveal The Truth

“The reason why i like you? well, to explain it, our love is a happiness that is faster than andante. If they ask if I have a wish, i’ll say it’s only you. I’ll stay with you forever like a sunflower. This is love This is love, you made me realized love is about the small things”

-Super Junior, This is Love

*

Gangnam-gu, Seoul

21:oo AM, KST

 

Malam itu Kyuhyun kembali kerumah dalam kondisi tubuh yang cukup menyegarkan— dapat dinilai dari langkah kaki dan siulan yang dikeluarkannya.

 

Setelah mendaki anak tangga, Kyuhyun tidak terkejut saat mendapati Ahra sedang duduk disana santai sambil membaca sebuah majalah dipangkuan dan terdapat segelas minuman dengan asap mengepul tanda minuman tersebut adalah minuman panas.

 

Kyuhyun langsung melengos menuju mini bar yang membelakangi sofanya untuk menumpahkan air mineral kedalam gelas kosong lantas langsung menandaskannya ketika Ahra bertanya tanpa menoleh, “bagaimana makan siangnya? Lancar?”

 

Kyuhyun memutar kembali waktu makan siangnya tadi. jika lancar yang dimaksud adalah tak perlu mengantri seperti pengunjung lain dengan nomor urut digenggaman mereka— yang langsung memandang sengit kearahnya dan Songjin ketika sang pemilik kedai memberikan jalan khusus untuk mereka, yah, itu memang lancar.

 

Jika lancar yang dimaksud adalah prosesi makan siangnya, itu juga mungkin dapat dikatakan lancar. Songjin makan banyak sekali. Kyuhyun yakin saat ini yang sedang Songjin lakukan adalah berlari diatas treadmill lengkap dengan ikat kepala bertuliskan, ‘aku harus menurunkan 10 kilo’ karena seluruh kepiting itu, dan menu nasi kepiting itu, dan entah menu olahan kepiting lainnya pesanan mereka tadi, nyaris 90 persen masuk kedalam lambung Songjin seluruhya.

 

Kyuhyun sedikit mengulaskan senyum kala mengingat hal tersebut. Namun itu masih belum menjawab pertanyaan Ahra.

 

Lancar? Mungkin dalam skala 1 sampai 10, kelancaran yang Ahra maksud berada pada posisi 5. Jumlah 5 lagi masih belum Kyuhyun ketahui, mengapa dia menyisakan 5 point. Perkiraannya adalah karena isakan sialan tadi ditengah kesibukan Songjin memecah kulit kepiting yang keras dengan penjepit.

 

Dengan cara bagaimana Songjin mengsap peluh sambil mengisak, adalah wajar bagi Kyuhyun untuk berpikir Songjin sedang menangis. Songjin memang menangis, namun lucunya, alasan rasa lezat dari kepiting lada hitam pedasnya adalah alasan tolol untuk dijadikan sebuah tangisan.

 

Sepanjang perjalanan pulang Kyuhyun mengisi keheningan dan kepalanya dengan perkiraan alasan, mengapa Songjin menangis? Apa yang membuatnya menangis?

 

Apa… karena wanita itu ternyata merindukannya dan merasa lega karena akhirnya dapat bertemu— lanjut melakukan hal yang menyenangkan bersama?

 

Kyuhyun sedikit meragukan alasan itu karena menurutnya Songjin tak pernah tahu apa arti dari merindu. Kalau memang Songjin merindukannya, wanita itu tak akan tega melemparkan surat perceraian kepadanya.

 

Atau Songjin menangis karena merasa sedih menu makan siangnya adalah tanda bahwa diet tanpa batasnya harus usai. Songjin tak akan tega membiarkan kepiting itu di tak acuhkan begitu saja.

 

Jadi hingga ketika Kyuhyun mendapati dirinya telah selesai menghabiskan minumanya, sampai Ahra tahu-tahu telah berada disampingnya, definisi dari kata lancar pertanyaan Ahra tadi belum ditemukannya.

 

Lancar itu yang seperti apa sih?

 

“terjadi sesuatu saat makan siang tadi?”

“tidak.” Kyuhyun mengegeleng walau dirinya sendiri tidak yakin. Aksi menangis itu sebenarnya adalah salah satu dari definisi buruk mengenai ketidak lancaran tapi bagaimana dia bisa menjelaskan kepada Ahra bahwa tadi, Songjin bahkan menolak untuk membawa bunga lili pemberiannya— Ahra maksudnya (bunga itu ide Ahra omong-omong) hingga bunga itu kini terkapar tak berdosa didalam mobilnya tanpa udara segar.

 

Kyuhyun juga ingat bagaimana rupa takjub Songjin, dan senang, dan beberapa ekspresi berlebih lainnya yang pernah Songjin tunjukkan saat dirinya menyodorkan bunga itu kepadanya. Jadi Kyuhyun tidak memiliki alasan kuat mengapa lalu Songjin menolak untuk membawa bunga itu kedalam rumahnya.

 

“tidak… apa?” Ahra tampak begitu antusias dan ingin mengorek lebih banyak informasi mengenai kencan dadakan berkedok makan siang Kyuhyun kali ini. namun sedikit menyadari sesuatu hanya dari memandang mata kosong Kyuhyun.

 

Kyuhyun menggedikkan bahu santai meletakkan gelasnya diatas meja bar marmer “tidak apa-apa.” Ujarnya seolah-olah tak pernah terjadi hal mengejutkan dalam hari ini kali ini. padahal sejak tadi, Kyuhyun merasa seperti baru saja dilempari granat oleh Songjin tanpa henti.

 

“aku boleh kekamar sebentar? Aku agak sedikit lelah.” Kyuhyun mengusapi tengkuknya yang terasa pegal. Dia baru merasakannya sekarang. Tadi dia benar-benar sedang masuk kedalam euphoria kebahagiaan semu hingga rasa lelahnya tak sampai terasa.

 

Ahra hanya memberi anggukan bingung serta wajah penuh pertanyaan namun dapat mengendalikan dan menahannya agar tidak ditanyakannya saat ini. namun alih-alih melihat Kyuhyun menuju kamarnya, keheranannya semakin menjadi lantas sadar pasti terjadi sesuatu dan sesuatu itu adalah hal yang tak menyenangkan, hingga Kyuhyun yang tadi berkata ingin kekamar, malah berjalan tersauk menuju ruang kerjanya.

 

Analisis: makan siang gagal.

 

** **

 

sambil mengetik dikeyboard laptop, Kyuhyun menyipitkan mata membaca ulang surat pernyataannya bagi perizinan Songjin untuk bekerja. Dia meyakinkan diri bahwa tidak salah menulis kalimat dan tidak menuliskan pernyataan yang aneh kali ini.

 

lalu setelah yakin dengan surat pernyataannya, Kyuhyun menekan enter beberapa kali hingga krusor turun pada lembar terbawah. Dibagian tengah, Kyuhyun membubuhkan namanya. ‘Cho Kyuhyun.’ Lalu tak sampai satu menit setelahnya, surat pernyataan itu sudah tercetak dalam bentuk lembaran kertas.

 

Kyuhyun memandang kertas tersebut masam. Dia masih tidak menyukai dengan keputusan Songjin untuk bekerja. Karena itu dia bekerja keras sekuat tenaga. Dia yakin mampu memberikan Songjin fasilitas superior dan yang Songjin dapat lakukan hanyalah berada didekatnya. Hanya sebatas itu saja namun Songjin seolah tak menyadari.

 

Itu cukup mengecewakan omong-omong. Kyuhyun mencoba membayangkan jika nanti perceraian itu benar sungguh terjadi. Jadi apa inti dari kerja kerasnya selama ini? dengan hidup bermodalkan mengurus usaha milik Ayahnya yaitu penginapan berbintang dibeberapa daerah di Korea, rasanya sudah cukup untuk hidupnya.

 

Kyuhyun tidak terlalu menggilai status. Tidak juga tertarik dengan jabatan tinggi atau sejenisnya karena itu terasa merepotkan. Ringkasnya Kyuhyun hanya ingin digambarkan dengan satu kata singkat yaitu damai.

 

Tapi Songjin adalah tipe wanita yang menyukai hal semacam itu. Maksudnya, beberapa tipe ‘wah’ yang tadi telah dijelaskan dan itu cukup berseberangan dengan kepribadian Kyuhyun.

 

Kyuhyun sendiri tak paham mengapa bisa sampai jatuh cinta dengan wanita tipe seperti itu. Padahal dirinya yakin, dia telah mencoret model wanita sejenis Songjin seperti itu dari daftar ideal wanitanya.

 

Tapi lucunya, itulah cinta. Kau tidak bisa memilih dengan siapa kau akan jatuh cinta. Kau hanya melakukannya, dan itu terjadi diluar kendali, begitu saja.

 

Oh, baiklah kembali membahas mengenai kesenangan Songjin akan hal-hal berbau ketenaran, itu karena Songjin adalah memang seorang wanita, dan begitulah wanita pada kodratnya. Menyukai apapun yang bersinar menyilaukan mata.

 

Kemudian Kyuhyun mengambil ponsel untuk menghubungi Songjin. Dia mengetuk-ketukkan jari diatas meja kerja kaca saat menunggu nada dering sampai tersambung namun sampai pada nada dering akhir hingga terjebak didalam voice note, Songjin tak kunjung mengangkatnya.

 

Helaan napas berat itu cukup menggambarkan kekecewaan Kyuhyun pada sambungan telepon tadi. Songjin pasti sengaja tidak mengangkatnya dengan berbagai macam alasan dari masuk akal hingga yang fana. Dan jikapun bisa diadakan perdebatan, perdebatan itu hanya berisi omong kosong saja.

 

Kyuhyun sebenarnya tidak masalah jika harus melakukan omong kosong bersama Songjin, JIKA—, tolong garis bawahi, perbesar, dan pertebal, JIKA, jika Songjin berada nyata dihadapannya. karena itu akan terasa lebih menyenangkan ketimbang membayangkan seperti apa mimic wajah Songjin saat telah menyadari wanita itu sudah berada diambang kekalahan.

 

Sudah tahu ‘kan jika kebiasaan menonton ekspresi wajah Kyuhyun nyaris mencapai titik akut? Pada permasalahan ini korban tunggal hanyalah Songjin. Yang kemudian berhasil membuahkan banyak sekali prasangka salah satunya menyebabkan perceraian diantara mereka nyaris terjadi.

 

Nyaris— karena perceraian itu belum benar-benar terjadi. Mereka belum berpisah omong-omong.

 

Kyuhyun kemudian lebih memilih untuk mengetik pesan singkat saja, ‘aku sudah membuat surat pernyataannya. Sebaiknya kau ubah statusmu disurat lamaranmu.’

 

Kyuhyun membaca ulang tulisan ketikakannya. Lalu menambahkan kalimat lain dibelakang, berupa ‘kau bukan wanita lajang! Apa yang kau harapkan dari menyembunyikan status menjadi lajang? Jangan menjadi wanita penggoda!’ namun Kyuhyun segera mengapusnya dan menyisakan kalimat ‘aku sudah membuat surat pernyataannya. Sebaiknya kau ubah statusmu disurat lamaranmu.’ Lalu mengirimkannya.

 

Tak berapa lama ponselnya berbunyi dan balasan pesan singkatnya telah didapat. ‘sudah. Terimakasih.’

 

Kyuhyun mengernyit. Secepat itu Songjin dapat membalas pesannya, namun tadi panggilannya tak mendapatkan sahutan apapun. Seharusnya dia sedang merasa tersinggung saat ini. sungguh!

 

Namun Kyuhyun tak ingin semakin memperburuk keadaan. Dia hanya menghelakan napas sambil menyandarkan punggung dikursi kerjanya yang berukuran super besar, dan mahaempuk itu seraya berpikir akan membalas pesan singkat— dingin— Songjin dengan kalimat seperti apa.

 

Namun Kyuhyun sedang tak mampu berpikir keras entah mengapa. Maka dia hanya mengetikkan dengan cepat ‘terima kasih makan siangnya. Selamat malam Songjin.’ Lalu cepat-cepat meletakkan ponsel tipisnya kembali diatas meja setengah membanting.

 

Tidak seperti tadi, usai pesan singkat balasan itu kembali dikirim Kyuhyun perlu menunggu cukup lama menantikan ponselnya berbunyi yang sayangnya, ponsel mahal itu tidak berbunyi sama sekali.

 

Hanya helaan napas putus asanya saja sebagai gambaran betapa dingin sikap Songjin padanya kali ini. terlalu dingin. Dan Kyuhyun tidak menyukainya.

 

Padahal tadi siang, mungkin adalah makan siang termenyenangkan yang pernah Kyuhyun lalui usai tak bertemu dengan wanita cantik itu setelah sekian minggu lamanya.

 

Kyuhyun mencoba mengingat seberapa sering dirinya memiliki kegiatan makan bersama. Makan siangnya nyaris selalu bersama dengan Songjin dan itu bukan hal yang aneh. Sudah diberitahukan bahwa Songjin selalu menyiapkan makan siang bagi Kyuhyun yang dulu, itu terjadi secara alamiah. Begitu saja tanpa perlu paksaan. Tak seperti persetujuannya dengan Songjin sore tadi dimobil.

 

Perjanjian itu jelas sekali penuh dengan paksaan. Jika Songjin memiliki pilihan lain, dia pasti akan memilih pilihan lain itu dan tak memilih untuk sering bertemu dengan Kyuhyun.

 

Kyuhyun lalu terdiam mendapatkan sesuatu yang ganjil. Makan siang memang bukan suatu yang aneh lagi, namun makan malam? Ah—! Itulah! Dia tak pernah mengajak Songjin makan malam bersama.

 

Yang dimaksudkan adalah makan malam dalam bentuk makan malam romantic seperti bayangan kebanyakan para wanita-wanita kebanyakan, berhubung istrinya adalah salah satu dari seluruh wanita kebanyakan itu.

 

Kyuhyun bahkan sanksi dirinya pernah melangsungkan makan malam secara normal. Jikapun dirinya telah berada dirumah sebelum jam makan malam berlangsung, toh makan malam itu akan diantar oleh Songjin kesini keruang kerjanya.

 

Ya ampun, Kyuhyun baru menyadari sesuatu— apa sih yang sebenarnya dirinya pikirkan? Apa yang sebenarnya sedang dia kejar sampai tak pernah sempat melangsungkan malam malam secara ‘normal’ selama usia pernikahannya hingga didetik ini bersama dengan Songjin?

 

“Gila!” Kyuhyun mengumpat bagi dirinya sendiri sambil mencengkram rambutnya kencang. selagi otak geniusnya bekerja mengingat— untuk mencoba mengasihani dirinya mengenai kenangan makan malam itu, Kyuhyun kemudian teringat satu makan malam mengenaskannya.

 

Malam itu adalah minggu kedua statusnya berubah tak lagi melajang. Kyuhyun ingat Songjin menghubunginya menggebu memberitahu bahwa wanita itu baru saja merasa bagai seorang ilmuan karena berhasil menemukan masakan dengan resep-nya sendiri.

 

Itu membuat Songjin ingin memamerkannya kepada Kyuhyun, dan Kyuhyun mengerti, sesungguhnya inti dari ajakan makan malam itu adalah kegiatan pamer Songjin, walau tidak menutup kemungkinan, wanita itu memang menginginkan makan malam romantic karena Songjin sempat mengemukakannya secara terang-terangan.

 

“tapi aku sibuk.” Kala itu Kyuhyun berbicara jujur dengan mata menatap sedih pada layar laptopnya. Program game yang belum terselesaikannya itu seperti bayi yang baru saja pup dipopoknya. Jika tidak segera dibereskan, tahu hal buruk macam apa yang akan terjadi.

 

Songjin terus berupaya memaksa Kyuhyun agar kembali pada jam makan siang, namun Kyuhyun dengan segala perhitungan akuratnya menyadari takkan sanggup kembali saat jam makan siang. Jangankan kembali, untuk makan siang pun sepertinya tak ada waktu.

 

“makan malam?” suara sendu Songjin diseberang seperti mencekik leher Kyuhyun kuat-kuat. Kyuhyun bisa membayangkan dengan mudah raut wajah seperti apa yang kini sedang terpasang diwajah Songjin.

 

Maka dengan berat hati Kyuhyun mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa dirinya sanggup melakukan ini lebih cepat. Entah apa yang akan dilakukannya. Meminta dewa bulan untuk meminjamkan kekuatannya agar pekerjaan sialan ini dapat selesai segera mungkin.

 

Kyuhyun ingin sekali menjawab ‘aku tidak bisa menjanjikan apa-apa.’ Namun dari penolakan makan siangnya, Kyuhyun tahu seperti apa kekecewaan Songjin kali ini maka dia tak ingin menambah kekecewaan itu lagi hingga berkata pelan, “akan kuusahakan” ujarnya pasrah. “tapi jangan ganggu aku setelah ini dengan panggilan-panggilanmu. Aku sibuk.” Karena harus menyelesaikan pekerjaannya dan membutuhkan ketenangan, setidaknya segala gangguan perlu disingkirkan, termasuk wanita berisik ini walau Kyuhyun tidak cukup yakin Songjin dapat melakukannya. Biasanya Songjin cukup menyebalkan untuk urusan perjanjian-perjanjian sederhana seperti ini.

 

Malamnya, Kyuhyun benar-benar terkesima dengan kemampuan Songjin yang sanggup memenuhi janjinya. Wanita itu benar-benar tidak menghubuginya sama sekali. Bahkan tak ada pesan singkat sesingkat apapun.

 

Kyuhyun sampai harus berulang kali bertanya kepada Min-Ji, sekertarisnya apakah Songjin menghubunginya melalui telepon kantor atau tidak, namun Min-Ji menjawab lugas, tidak ada panggilan Songjin sepanjang hari ini.

 

Kyuhyun terkejut Songjin dapat melakukannya. Maksudnya, tidak berbicara padanya selama lebih dari dua belas jam karena wanita itu memiliki kecenderungan aneh dengan mendengar suaranya karena itu Songjin sering mengganggunya dengan panggilan-panggilan tak penting lalu ketika Kyuhyun telah marah, Songjin hanya akan tertawa berkata, “hanya ingin mendengar suaramu.”

 

Syukurlah Songjin tak dapat melihat rona merah dan ekspresi tolol Kyuhyun tiap kali dia melakukannya.

 

Namun Kyuhyun tidak terkejut dengan kesungguhan Songjin sebagai cara menggapai apa yang diinginkannya. Selama 90 hari mengenal Songjin, ditambah 14 hari hidup bersama membuat Kyuhyun menyadari beberapa sifat Songjin, salah satunya adalah mengenai usaha ajaib Songjin untuk mendapatkan apa yang diinginkannya.

 

Ketika itu Kyuhyun yang menjadi masam. Saat Songjin mampu menepati janjinya, kini dirinya sendiri terpekur ditengah rapat kecil bersama Aiko— programmer games ternama asal Jepang, yang telah berhasil membuat games terkenal Street Fighter.

 

Kyuhyun ingat saat itu jam telah menunjukkan pukul 9 malam ketika dimana seharusnya, yang sedang dilakukannya adalah duduk bersama untuk melangsungkan makan malam bersama Songjin sejak beberapa jam lalu. Namun hingga pukul 9 malam, dirinya masih juga duduk dikursi rapatnya. Bukan kursi meja makan.

 

Kyuhyun ingat matanya tak pernah dapat focus pada slide-show yang sedang ditayangkan sebagai hasil presentasi pihak Aiko dalam menggambarkan kerja sama mereka kedepan nanti. Yang Kyuhyun lakukan hanyalah memerhatikan slide-show itu sebentar, lalu dengan bengis melirik jam dinding disamping kirinya, dan kejadian it uterus berulang hingga pukul 11 malam, rapat dadakan tanpa rencana itu usai.

 

Setelah seluruh team Jepang, Aiko pergi, yang Kyuhyun ingat hanyalah dirinya menyambar tas kerja serta kunci mobilnya. Berpesan kepada Min-Ji untuk membereskan pekerjaan, bahkan mematikan komputernya yang masih menyala karena dirinya sudah tak memiliki waktu lagi untuk melakukannya.

 

Kyuhyun buru-buru pergi.

 

Namun dilantai dasar, dirinya menemukan Tim Aiko masih berada dilobby. Dirinya langsung dikerumuni. Diberikan pertanyaan tak hanya satu dan sudah jelas akan memakan waktu lebih lama. Kyuhyun tidak dapat berbuat apa-apa mengingat dirinya membuthkan Tim Jepang ini sebagai investornya.

 

Untuk saat itu, perusahaannya memang masih membutuhkan inverstor besar seperti Aiko. Kyuhyun sungguh bersumpah akan bekerja lebih keras agar perusahaannya nanti akan menjadi lebih besar hingga tak perlu membutuhkan usungan inverstor sebagai penyangga keberlangsungan Millennis.

 

Lalu yang Kyuhyun tahu, saat itu telah pukul 2 pagi dirinya baru sampai kerumah dalam keadaan payah setelah menenggak banyak sekali soju. Tim Jepang sialan itu memintanya untuk memutari Seoul dan mengajaknya untuk berhenti disalah satu cart bar untuk minum-minum. Beralasan, ingin mencoba merasakan jajanan pinggir jalan Korea, yang sebenarnya sedikit Kyuhyun cibir karena rasanya toh tak akan berbeda jauh dengan jajanan pinggir jalan Jepang.

 

Kyuhyun teringat bahwa malam itu janjinya baru saja menguap karena kesalahannya. Dia sudah sempat berpikir untuk mengabarkan Songjin, namun tak sampai hati jika kembali mendengar nada kekecewaan itu lagi, maka Kyuhyun tidak melakukannya.

 

Jadilah malam itu, kembali dipagi buta dengan gumpalan rasa bersalah, tak dapat menyanggupi kembali lebih cepat, malah baru memecahkan rekor terbaru pulang lebih malam dibanding hari-hari sebelumnya.

 

Lalu gumpalan rasa bersalah itu bertambah besar setelah melihat seluruh ruangan dilantai 1 rumahnya gelap. Songjin mungkin sudah tidur karena merasa kesal dengannya. Maka Kyuhyun langsung beranjak menuju kamarnya, namun langsung terkejut karena tidak menemukan Songjin didalam sana.

 

Rumahnya hanya memiliki 3 kamar. Salah satunya telah dirombak untuk dijadikan ruang bekerja maka hanya terdapat 1 pilihan lain saja bagi Kyuhyun jika Songjin tak berada dikamar mereka. Yaitu kamar tamu.

 

Namun Kyuhyun semakin panic kala tak menemukan sosok Songjin berada diantara 2 kamar itu. Dia bahkan melesat keruang kerjanya. Dia ingat dirinya pernah berpesan agar Songjin tak boleh masuk kedalam ruang kerjanya karena tahu sendiri jika tangan usil Songjin sudah menyentuh banyak hal, apa yang akan terjadi setelahnya, bukan?

 

Namun ketika itu, bahkan Songjin terlihat tidak bersembunyi di ruang kerjanya. Kyuhyun nyaris berputus asa. Dia sudah berpikir kemana-mana dan membuat scenario sederhana. Mungkin Songjin kembali kerumah orang tuanya. Atau sedang mengadu kepada ibunya dan Ahra karena ulahnya kali ini sungguh keterlaluan.

 

Tapi hey, ini kan hanya makan malam! Bukankah rasanya terlalu berlebihan?

 

Lalu Kyuhyun menyadari sesuatu. Makan malam. Benar. Makan malam pasti dilakukan di? Ruang makan (jangan tiru kebiasaannya makan diruang kerja. Itu salah. Okay?)

 

Kyuhyun lalu melesat kelantai dua, dan merasa puas menemukan Songjin tertidur dimeja makan dengan kepala terantuk pada meja kaca. Sungguh, sepertinya dia memang sudah berlebihan karena mengira Songjin adalah tipe wanita pengadu semacam itu.

 

Paling tidak kini dirinya tahu Songjin tidak kemana-mana.

 

Kemudian Kyuhyun sadar akan hal lain bahwa mengapa seluruh ruangan rumahnya dalam keadaan gelap. Dia pun baru menyadari adalah tiga batang lilin yang telah sekarat itu yang menjadi penerangannya saja— walau agaknya tampak berlebihan candle light dinner namun sampai kelantai dasar pun tak satupun lampu terlihat menyala.

 

Sambil mencaci maki Songjin karena ulah tololnya tak mematikan lilin itu kala tertidur, Kyuhyun buru-buru menyambar sebuah remote sebagai pengendali cahaya seluruh ruangan dirumahnya. Dia menyalakan lampu pada bagian dapur, lalu mematikan lilin yang lelehannya telah memenuhi sejumput taplak kecil dibawahnya.

 

Terlambat datang sedikit saja, lilin itu bisa menyebabkan kebakaran besar yang mampu menghanguskan rumah ini berserta isinya. Beserta Songjin yang sedang tidur bagai beruang hibernasi menjuntaikan kepalanya lemah diatasnya.

 

“tolol.” Kyuhyun bergumam geram melirik sengit Songjin. Mendapatkan sahutan suara dengkuran keras. Itu membuatnya sadar bahwa sebenarnya, Songjin tidak berniat untuk tidur disana. Dia hanya terlalu.. lelah menunggu dirinya pulang.

 

seharusnya Kyuhyun ingat pada pukul berapa tadi dirinya SUDAH BERJANJI untuk kembali. lalu gumaman sengit ‘tolol’ tadi kemudian Kyuhyun sematkan bagi dirinya sendiri usai menyadari banyak hal.

 

Ada beberapa kejutan kecil lainnya lagi. Meja makan yang baru Kyuhyun perhatikan, memenuhi seluruh lahan kosong disana. Berbagai menu yang tampak lezat Kyuhyun perhatikan saksama. Dia sudah tak dapat memikirkan, apakah itu layak makan atau tidak karena perutnya seolah ikut menyemangatinya.

 

Dia lapar. Kyuhyun hanya mengisi perutnya dengan soju tanpa makanan apapun sejak pagi. Ah! Ya ampun! Sejak pagi!! Kyuhyun baru menyadarinya tak ada sebutir nasipun yang sempat masuk kedalam lambungnya hari ini.

 

Jika saja Songjin mengetahuinya, wanita itu pasti akan menceramahinya dengan ceramah mengenai pentingnya makan bagi sumber energy yang panjangnya akan melebihi pidato kenegaraan.

 

Ketika itu, Kyuhyun ingat, dirinya sempat merasa bingung harus melakukan apa lebih dulu. Mengembalikan Songjin kekamar, atau mengisi perutnya yang sudah melakukan konser.

 

Namun Kyuhyun melihat lilin naas diatas mejanya kini telah mati. Seharusnya malam ini menjadi sebuah makan malam romantis— candle light dinner ala-ala serial televisi seperti yang pernah ditontonnya kan? namun dirinya sendiri yang merusaknya.

 

Tak apalah. Kyuhyun kemudian duduk dikursi seberang yang diatas mejanya terdapat piring kosong terbalik. Itu pasti tempatnya. Yang telah Songjin siapkan sedemikian rupa hingga tampak yah— setidaknya seperti lahan makan malam ala restoran berbintang.

 

Kyuhyun terkekeh sambil menggeleng membayangkan seberapa sibuk istrinya menyiapkan semua hal ini. Kyuhyun cukup menikmati pemandangan, ketika Songjin sedang serius melakukan sesuatu. Disamping ketika wanita itu berbicara bagai kereta ekspress tanpa jeda, mungkin bekerja dengan serius adalah satu diantara sekian banyak hal yang Kyuhyun sukai dari menonton air wajah Songjin.

 

Kekehan Kyuhyun berganti menjadi tawa ringan, sampai kemudian matanya menemukan sebuah kertas berwarna biru, terlipat dia disebelah kanan dekat dengan deretan sendok.

 

Wajahnya langsung menjadi masam bagai baru mengunyah lemon saat melihat gambar robot wall-e favoritnya, dilukis ulang oleh Songjin namun wall-e ini tak nampak seperti wall-e yang ada didalam ingatannya. “ini wall-e habis baterai?” cemooh Kyuhyun menyunggingkan senyum miring penuh hinaan walau tak ayal mencuri pandang pada Songjin yang tertidur didepannya lalu tersenyum.

 

Senyuman itu bertahan terlalu lama. Sangat lama. Ah, itu benar-benar memalukan karena Kyuhyun kini bagai orang tolol menyengir kuda. Sungguh, jika saja ada yang melihatnya, gambaran lelaki tampan berwajah malaikat dengan kecerdasan diatas rata-rata itu langsunglah lenyap.

 

Itu terjadi hanya karena sebuah surat berlukiskan robot sekarat bernama wall-e, yang didalamnya terdapat tulisan tangan, ‘Happy 3 weeks!! Hurray! Ps: I Love You!’

 

Kyuhyun memang sempat terpana dengan sekian hal romantic kejutan Songjin malam ini, namun tulisan tangan Songjin membuatnya harus melenyapkan setidaknya 20 persen keterkejutannya akan seluruh usaha keras Songjin.

 

“3 weeks?” Kyuhyun menggumam tampak bingung, “3 minggu itu kau menikah dengan siapa? Pernikahan kita baru berjalan 2 minggu.” Protes Kyuhyun pada Songjin yang sedang tidur dan tak mendengarkannya sama sekali. Bahkan pun tak akan menyadari kehadirannya saat itu.

Kyuhyun melirik jam dinding diatas counter dapurnya berisi piring-piring keramik, “2 minggu, 1 hari, 2 jam.” Lalu menyeringai puas pada kemapuan menghitungnya. Kyuhyun kemudian memandang nanar kartu ucapan Songjin untuknya dan mendelik jengkel pada angka 3 diatas kertas itu. “cih, 3 minggu.” Decahnya gemas ingin segera mencoret angka 3 disana dan menggantinya dengan angka 2.

 

Lalu malam itu, Kyuhyun melahap makan malamnya dalam diam. Dalam senyuman yang sesekali sempat bertandang, lalu pergi. Dalam kalimat tanya sederhana yang tak mendapat jawaban siapapun. Percakapan hampa imajinernya bersama Songjin yang sedang terlelap, mungkin tidak sebanding asiknya dengan percakapan nyata bersama wanita itu.

 

Tunggu— tunggu sebentar,

Percakapan?

Yeah, kalau aksi menonton orang lain berbicara dan menanggapi seadanya seperti, ‘baiklah’, ‘aku mengerti’, ‘Hm’, dan ‘mm.’ dapat dikategorikan sebagai percakapan dalam versinya, baiklah, anggap saja itu percakapan.

 

Itu, adalah malam pertamanya melangsungkan makan malam romantis dengan imajinary kawan karena Songjin tertidur dan tak tahu apa-apa, sekaligus makan malam romantis terakhirnya. Setelah itu… Kyuhyun tak pernah menemukan dirinya pernah melangsungkan makam malam romantis dalam bentuk apapun bersama Songjin.

 

Baru malam itulah Kyuhyun menyadari satu hal penting. Bahwa cinta tidak harus ditunjukkan menggunakan cara yang rumit. Rasa cinta bisa diungkapkan melalui sekotak menu makan siang. Atau sambungan telepon sederhana hanya untuk mendengarkan suara.

 

Cinta tidak perlu menjadi repot seperti membawakan bulan kepangkuan. Hanya makan malam bersama diiringi berbagai kisah mengenai hari yang telah dijalani.

 

Cinta juga tidak perlu mewah. Hanya sebatas sambungan telepon sederhana dengan alasan, “hanya ingin mendengar suaramu.” Itu sudah cukup untuk mendeskripsikan bagaimana cinta bekerja.

 

Cinta juga tidak harus mahal. Hanya dengan selembar kertas warna bertuliskan ‘aku mencintaimu’ ditambah dengan gambar tangan sederhana, rasanya sudah melebihi kartu-kartu ucapan bertinta emas.

 

Dimalam itu, barulah Kyuhyun menyadari sesuatu. Bahwa sebenarnya, dirinya tidak tahu dengan benar apa itu cinta. Dia selalu mendengarnya, hanya bisa merasakannya, tapi untuk menjalankannya? Masih membutuhkan banyak sekali bantuan.

 

Seperti balita yang baru belajar berjalan.

 

** **

 

“a— aku sudah—“ Ahra tak sempat meneruskan kalimatnya karena Kyuhyun berjalan begitu saja melewatinya seperti telinganya sedang disumpal oleh kapas tebal.

 

Ahra akan memberitahu bahwa berhubung sepertinya perkiraannya mengenai makan siang tadi yang buruk, Ahra begitu yakin Kyuhyun belum memakan apapun. Maka tadi ketika Kyuhyun berada diruang kerjanya, dia menyiapkan sup daging untuk Kyuhyun dengan nasi panas.

 

Namun rencananya itu batal karena Kyuhyun baru saja keluar dari ruang kerjanya seperti zombie (tampan) yang matipun tidak, namun hidup juga tidak.

 

Namun dari keseluruhan pengamatannya, ada yang paling menganggu Ahra hinnga wanita itu mengamit ujung kemeja Kyuhyun menariknya, “kau baik-baik saja?” itu adalah pertanyaan retoris setelah Ahra mendapati warna merah cerah pada mata Kyuhyun dilengkapi sisa gumpalan air pada sudut-sudut mata adik lelakinya itu.

 

Jawaban Kyuhyun yang mengaku, “tidak apa-apa” pun disanksikannya. Tapi ini adalah hal aneh lainnya sepanjang dirinya hidup— mengenal Kyuhyun.

 

Tidak mungkin lelaki berotak encer, keras kepala, dan dingin itu…. Baru saja menangis ‘kan?

 

 

 

 

 

 

 

 

-Lima Belas-

The Warm Damn Hug

“At the same time, i wanna hug you, i wanna wrap my hands around your neck. You’re an asshole but I love you, and you make me so mad I ask myself. Why I’m still here? or where could I go? You’re the only love I’ve ever known. But I hate you, I really hate you, so much, I think it must be true love~”

-Pink, True Love

*

 

Nowon-gu, Seoul

20:00 AM, KST

 

‘terima kasih makan siangnya. Selamat malam Songjin.’

 

Songjin hampir tak berkedip membaca pesan singkat pemberian Kyuhyun yang baru sampai pada ponselnya. Apa-apaan pria ini? sejak kapan mendadak Cho Kyuhyun berubah menjadi lelaki manis penuh kejutan seperti ini?

 

Sepanjang hidup mengenal Kyuhyun, baru inilah kali pertama Songjin menemukan Kyuhyun berterimakasih atas suatu hal padanya. Kyuhyun tak pernah berterimakasih setiap usai melahap makan siang buatannya! Yang ada, Kyuhyun malah langsung melengos pergi tanpa membereskan bekas makannya untuk kembali bekerja, atau mendatangi jadwal pertemuan atau rapat disuatu tempat, dan tak lagi peduli pada nasibnya setelahnya.

 

Atau, ketika Kyuhyun meminta dibuatkan kopi misalnya. Atau, usai dirinya memijiti bahu karena kebetulan, malam itu Kyuhyun baru saja kembali dan wajahnya terlihat kusut.

 

Atau, usai bercinta— pun tak ada pernyataan dalam bentuk sesederhana apapun itu mengenai ‘terimakasih, sudah dibolehkan bermain dengan tubuhmu’ atau entah seperti apa kalimat itu akan tersusun.

 

Kyuhyun akan tetap menjadi Kyuhyun. Begitulah Kyuhyun dan Songjin seolah telah memakluminya. Bersikap tidak sopan seperti itu seperti memang adalah hal yang sudah harus dimaklumi olehnya hingga Kyuhyun dapat melakukan hal tidak sopan itu secara terus menerus.

 

Lalu, kali ini Kyuhyun seperti baru tersungkur didalam blackhole atau apa, hingga menjadi begitu manis. Songjin ingat dan merasa bersyukur untuk entah apa— karena dia menolak mengambil bunga Lily itu.

 

Kini Songjin tahu alasan hati kecilnya menolak. Jika saja dia membawanya, maka semalaman suntuk ini, hanya bunga lily bodoh itu saja yang akan ditontonnya. Dan mungkin tangannya sudah gatal ingin membalas pesan singkat Kyuhyun berupa kalimat manis pancingan lainnya agar pria itu menghubunginya lagi, lantas malam itu mereka habiskan dengan percakapan tak berujung.

 

Mengapa mendadak Kyuhyun berterimakasih atas makan siang mereka kalau selama 12 bulan ini, dia tak pernah melakukannya? Mengapa Kyuhyun memberikannya bunga, jika selama 12 bulan pernikahan mereka tak pernah sekalipun Kyuhyun rela merogoh kantung untuk membeli setangkai mawar-pun?

 

Mengapa Kyuhyun menjadi lelaki sopan yang tahu tatakrama, jika selama ini pria itu selalu bersikap kurang ajar? Mengapa, Kyuhyun bertingkah layaknya manusia normal, saat sebelumnya, pria itu selalu tampak bagai robot yang kaku?

 

Tragedi makan siang tadi— Songjin sungguh tidak mengerti apa yang ada didalam kepalanya hingga dia dapat menangis layaknya balita yang baru kehilangan permen dihadapan Kyuhyun.

 

Syukurlah sepertinya Kyuhyun tidak menyadari hal tersebut. Songjin sungguh berterimakasih pada kepiting super pedas kedai seocho itu karena sanggup membuat sebuah kamuflase sederhana. Sebenarnya, akan lebih tampak meyakinkan dan pasti tak ada yang menyadari jika tangisan itu dilakukan ditengah hujan deras.

 

Namun oh, ayolah, bukankan itu terasa terlalu dramatis? agak berlebihan.

 

Oh baiklah, itu memang berlebihan dan terdengar menjijikan.

 

Yang menjijikan adalah bagian menangis ditengah guyuran hujan. bukan ingatan mengenai candle light dinner tolol yang urung dilakukannya.

 

Songjin ingat akhir dari harapan hampanya, akan makan malam romantis itu. Pagi itu Songjin terbangun diranjang dengan tubuh terasa pegal. Dia ingin melanjutkan tidurnya namun matahari yang bersinar bukan main semangatnya, membuat keinginan itu semakin lama semakin pupus.

 

Yang Songjin lakukan diwaktu setelahnya aadalah berguing-guling diranjang yang kosong dan besar.

Iya, tapi, tunggu sebentar. Kosong?

 

Matanya membulat saat sadar ranjangnya benar-benar kosong. Bahkan rasa dingin pada lahan kosong disana, cukup menjelaskan bahwa disana, tempat itu tak pernah dipakai sebelumnya karena jika iya, pasti pun akan meninggalkan bekas.

 

Atau aroma. Namun Songjin menekan hidung pada lahan kosong itu, lantas tak merasa terkejut saat tidak mendapati aroma Kyuhyun disana. Yang ada bukanlah rasa terkejut melainkan geram.

 

Dengan cepat kakinya bergerak turun dari ranjang untuk berjalan keluar dari kamarnya. Keberadaannya diranjang dipagi hari, memberitahukannya bahwa Kyuhyun ada dirumah ini. walau tidak tidur. Itulah.

 

Awalnya, Songjin ingin menyemprot Kyuhyun karena alasan itu. Dan omong-omong, pria itu baru saja mengingkari janjinya, okay?

Namun kemudian entah mengapa, Songjin merasa lebih tertarik untuk menuju ruang makannya dilantai 2. Bukan ruang kerja Kyuhyun.

 

Dan rasanya, seperti baru saja ada kapak yang memotong keseimbangan kakinya. Yang memotong tingginya karena mendadak kaki-kakinya melemas. Tubuhnya terhuyung maju mendekat pada meja makannya.

 

Matanya menjadi semakin panas melihat menu candle light dinner buatannya masih terhidang lengkap diatas meja. IYA! DIATAS MEJA!

Sungguh Kyuhyun keterlaluan. Pria itu sudah melanggar janjinya, pun tak mau bergerak sebentar saja untuk membantunya membereskan makanan-makanan ini.

 

Setidaknya, makanan ini masih bisa disimpan jika Kyuhyun tidak memiliki minat untuk menyentuhnya agar tidak terbuang sia-sia. Namun karena Kyuhyun tidak melakukannya, beberapa dari menu disana sudah mengeluarkan bau tidak sedap.

 

Seperti ada air mendidih didalam dada Songjin. Matanya lebih-lebih— terasa panas dan sudah mulai buram untuk melihat apapun. Yang Songjin tahu, tangannya dapat bekerja sama bergerak cekatan untuk mengusap, jika ada satu dua tetes air mata yang jatuh.

 

Pagi itu Songjin sungguh bergerak menggunakan kecepatan bulan mengambul kantung plastic hitam besar dan memasukkan makanan-makanan itu beserta piringnya kedalamnya. Berjalan penuh amarah dan simpanan cacian bagi Kyuhyun saat menuruni anak tangga untuk menuju bak sampah didepan rumahnya.

 

Namun langkah cepatnya sempat terhenti ketika menemukan Kyuhyun sedang duduk santai memangku laptop, menggunakan kaca mata berbingkai hitam duduk disofa. Pria itu sedang serius mengerjakan sesuatu.

 

Bahkan sampai tidak menyadari kehadirannya dengan sekantung sampah yang sebenarnya cukup berisik karena Songjin membawanya bukan dengan cara menggotong, melainkan diseret.

 

Songjin mendengus saat melewati Kyuhyun yang bergeming ditempatnya. Laptop itu jauh lebih penting dari dirinya. Bukankah memang selalu seperti itu ‘kan?

 

** **

 

Maka malam itu Songjin seperti baru mengupas bawang satu baskom. Air matanya tak kunjung berhenti ketika mengingat hal menyebalkan itu lagi dan sungguh, apa tidak ada sesuatu yang dapat membuatnya berhenti mengingat segala perilaku buruk Kyuhyun padanya?

 

Terlebih, apa dirinya ini adalah jenis makhluk paling bodoh dari yang paling bodoh? sejak awal dirinya tahu bahwa seperti itulah Kyuhyun. Namun hal itu, tau urung membuatnya berhenti terpesona pada lelaki yang bahkan jarang memberikannya senyuman itu selama ini.

 

Jadi disini, siapa yang bodoh sebenarnya?

 

** **

 

Nowon-gu, Seoul

06:00 PM KST

 

pagi-pagi sekali Songjin sudah siap dengan segala perlengkapannya. Dia meminta Donghae untuk menjemput pukul 7 pagi yang mana sebenarnya adalah kejahatan paling keji bagi pria sendu itu mengingat jam kerja pria itu yang mengharuskannya baru dapat kembali pukul 5 pagi.

 

Namun dengan iming-iming, makan siang gratis yang sama artinya dapat mengirit pengeluarannya, Donghae menurut saja. itulah mengapa sebelum jam 7 tepat, Donghae sudah berada didepan halaman kediaman orang tua Songjin sambil memeluk helm.

 

Wajahnya tampak kuyu namun bibirnya menyunggingkan senyuman cerah kepada Park Aeri. “tidak ingin sarapan dulu?”

 

Nah, itu pertanyaan lain lagi. Sebenarnya Donghae sungguh ingin mengingat sejak malam tadi dirinya belum memakan apapun, namun biasanya, jika sudah memasukan beberapa masakan Park Aeri, biasanya Donghae cukup membutuhkan waktu lama untuk berhenti mengunyah maka kemudian setelah pemikiran singkatnya Donghae menggeleng menolak, “sudah terlambat, Songjin bisa mengamuk nanti.” Kekehnya didengar oleh putri semata wayang keluarga Park tersebut hingga melayangkan pendelikan.

 

Donghae mengemudikan motornya dengan cepat hingga tak membutuhkan waktu lebih dari 30 menit bagi mereka untuk sampai didepan gerbang SIA— Seoul International Academy. Pukul 7 pagi. Disana masih sangat sepi, belum banyak orang dan kendaraan berlalu lalang namun Songjin dapat mengenali Audy R8 biru metallic yang sudah bertengger manis dipinggir trotoar jauh didepannya.

 

Songjin cepat-cepat membuang wajahnya kembali pada Donghae walau masih tertarik memandagi mobil sport disana secara saksama. “untuk apa dia disini? mengawasimu? Cih, seperti intel.” Ledek Donghae juga mengenali mobil yang Songjin perhatikan.

 

Songjin menggedikkan bahu tak peduli. Dia melengos membuang matanya untuk memerhatikan penampilan Donghae pagi itu. Sungguh, Songjin baru sepenuhnya sadar bahwa penampilan sahabatnya itu seperti tunawisma mengenaskan.

 

Celana jeans yang telah sobek-sobek (katanya itu tren masa kini, tapi persetan dengan tren), kaus oblong putih dengan jaket kulit— syukurlah Lee Donghae diilhami wajah yang tampan. Jadi seberapapun lusuh dan kumal penampilannya, takkan ada yang mengira bahwa lelaki ini adalah seorang gelandangan.

 

Songjin mendecah tak bersemangat melihat Donghae terlalu lama, “apa aku benar-benar harus menghabiskan waktu makan siangku dengan pria berpenampilan menyedihkan sepertimu?” erangnya frustasi seolah Donghae adalah virus ebola yang mengerikan.

 

“tapi aku tampan.”

“Kyuhyun juga tampan.” Songjin mencelos sinis, “demi Tuhan kalau siang nanti penampilanmu masih seperti gelandangan seperti ini, aku tidak sudi mentraktirmu, Oppa!”

 

“hei, kau sudah berjanji!”

Songjin menaikkan alisnya tinggi memerhatian Donghae heran, “apa kemiskinan baru saja membuatmu menjadi pengemis Oppa?” ledeknya. Donghae mendengus kencang mengepalkan tangan alih-alih ingin menjitak Songjin, pria itu malah mengusap puncak kepala Songjin lembut, “aku bukannya misikin. Aku hanya perlu mengatur pendapatan dan pengeluarkanku lebih baik lagi. Tapi saat ini, aku masih butuh masa transisi, jadi bagaimana kalau kau biarkan aku pulang sebentar untuk mengumpulkan nyawa, lalu kita bisa berkencan?”

 

“APA?”

 

mulut Songjin terbuka lebar mendengarnya. Berkencan tak pernah ada dalam perjanjian mereka. Hanya makan siang! Catat! Makan – siang!

 

Lalu Songjin sungguh ingin mencakar-cakar wajah tampan didalam helm full-face dihadapannya namun Donghae tiba-tiba berbisik “peluk aku! peluk aku!!” ujarnya sangat bersemangat. Lalu belum sampai Songjin memahami mengapa tiba-tiba Donghae memintanya untuk memeluk, pria itu sendiri sudah menariknya untuk memberikan pelukan kencang.

 

“Eish~”

“Kyuhyun sedang berjalan kemari.” Bisikkan Donghae tepat berada ditelinga Songjin saat itu. Namun otaknya belum dapat mencerna informasi secara bertumpuk dan terlau cepat seperti itu. “lalu ada apa?”

 

tak lama Songjin merasakan bahu berguncang Donghae terasa naik dan turun kencang berulang-ulang. Donghae tertawa menyisakan nafasnya yang putus-putus menjawab, “tidak apa-apa. Hanya senang membuatnya kesal.”

 

** **

Gangnam-gu, Seoul

07: 15 PM, KST

 

“mana map milikmu?” Kyuhyun menengadahkan tangan didepan dada Songjin dengan wajah datar— dingin— menyebalkannya kembali, yang nyaris tak pernah Songjin temui kemarin atau dihari-hari setelah mediasi mereka terjadi.

 

Wajah seperti itu hanya ada disaat sebelum surat perceraian itu datang. Praktisnya seperti itu.

 

Lalu Songjin sempat terdiam karena tidak mengerti mengapa Kyuhyun meminta map miliknya. Sedangkan dirinya baru menyadari bahwa sejak tadi ternyata Kyuhyun memegang map berbentuk dan warna serupa— setelah menyerahkan kepadanya.

 

“kau hanya perlu tanda tangan.” Ujarnya gamang. Untuk sesaat, Songjin mendongak hanya mendapatkan rahang tegas Kyuhyun mengeras. Tubuhnya tak pernah lebih tinggi daripada dagu Kyuhyun hingga menyulitkannya untuk menengadah agar dapat melihat wajah rupawan Kyuhyun.

 

Entah mengapa dari segala macam kebaikan gen yang orang tuanya miliki, Songjin harus mendapatkan minim tinggi badan entah dari siapa. Ibunya memiliki tinggi 170 dan Ayahnya bahkan lebih parah memiliki tinggi serupa seperti Kyuhyun yaitu 180.

 

Lucu sekali jika ternyata putri semata wayang mereka tidak mendapatkan gen apik itu dan malah memiliki tinggi badan yang tak lebih dari 163 centi saja.

 

Itu sungguh terasa menyakitkan.

 

“eh?” Songjin memandangi map ditangannya yang baru Kyuhyun tukar. Perlahan membukanya lalu mengeluarkan kertas disana. Ternyata Kyuhyun membuat ulang surat lamaran miliknya. Pada dasarnya seluruh kalimat disana sama persis seperti miliknya.

 

Sepertinya itu tidak perlu dipertanyakan, darimana kemampuan mengingat yang sempurna milik Kyuhyun. Dia malah akan tampak bodoh jika mempertanyakannya. Keluarga Cho itu— sepertinya memang benar-benar memiliki gen unggul.

 

Sepertinya, terdengar sebagai kabar baik jika mereka memiliki anak, karena pasti gen unggul itu akan turun dan— ah, baiklah, Songjin sudah membiarkan dirinya berpikiran kesana kemari. Itu jelas hanya berupa angan saja mengingat perceraiannya dengan pria berkepemilikan gen unggul itu hanya tinggal menghitung hari.

 

Hanya tersisa tidak lebih dari 69 hari saja. dan omong-omong, keputusannya sudah bulat untuk menggugat cerai Kyuhyun.

 

Namun lupakan sejenak mengenai perceraian itu. Ada hal yang lebih penting. Seperti, namanya yang berubah menjadi Cho Songjin tak seperti disurat lamaran buatannya yakni Park Songjin.

 

Ini sungguh lucu. Membuat Songjin tak sadar mengeluarkan tawa hampa dan sinis. Saat menengadahkan kepala lagi untuk menatap langsung mata cokelat Kyuhyun agar dapat memberikan pandangan laser super panas hingga besi pun meleleh, Songjin dikejutkan dengan sorotan mata Kyuhyun ternyata jauh lebih mengerikan daripada sekedar sorotan mata api milik Superman yang dicopy-nya.

 

Sambil mengatupkan rahang keras Kyuhyun mendelik padanya. Lalu jelas-jelas nyaris membentak walau tanpa nada tinggi. Bertanya, “APA?” dengan nada ketus, ditambah dengan pertanyaan, “mengapa melihatku seperti itu?”

 

Sungguh saat itu, Kyuhyun membuat Songjin ingin berlatih kick boxing untuk dapat menendang bokong gempal itu sampai mendarat di Antartika!

 

** **

Pukul 9:46 pagi. Songjin tak lagi memiliki keinginan untuk mempelajari kick boxing. Wanita itu sedang terfokus pada hal yang lebih penting yakni wawancaranya.

 

Dia tak pernah memiliki pengalaman bekerja sebelumnya. Praktis, pun tak punya pengalaman dan ingatan, bagaimana suasana momentum wawancara untuk mendapatkan pekerjaan.

 

Mengingatnya Songjin hanya mampu menghelakan napas berat. Ternyata mendapatkan pekerjaan tidak semudah bayangannya. Matanya memandang hampa pada sekitarnya. Rata-rata orang dengan usia sama dengannya, berada disana karena memiliki alasan tak jauh berbeda dengannya.

 

Seperti tiga orang wanita dimeja seberang misalnya. Tiga orang itu tadi sempat membicarakan bagaimana ketusnya pewawancara didalam ruang interview didalam sana.

 

Itu membuat Songjin semakin mual dan hanya mampu memandangi rumput hijau dihadapannya yang sedang bergoyang-goyang karena terkena hembusan angin.

 

“selama ini, pertanyaan macam apa saja yang kau ajukan saat melakukan interview pegawaimu, Cho?”

 

Ha? Kyuhyun sempat merasa terkejut ketika sadar bahwa pertanyaan itu untuknya. tak ada siapapun dikursinya pun dibelakangnya. Kalau segerombolan wanita dibelakangnya yang sedang memakan roti sambil menggosip adalah termasuk, mungkin saja dapat dikatakan begitu. Tapi tadi Songjin mengucapkan ‘Cho’ yang itu artinya, pastilah dirinya. “Hm?” maka Kyuhyun membuka matanya lebar.

 

Akhirnya, ada percakapan yang terjadi usai keheningan tanpa batas ciptaan mereka sejak awal sampai dibangku duduk santai ini, sejak tak ada siapapun disini kecuali mereka sampai berisi banyak sekali manusia seperti saat ini.

 

“status.”

 

Songjin mendengar Kyuhyun menjawab datar. Suasana hatinya langsung semakin memburuk ketika Kyuhyun tidak menjawab pertanyaannya serius.

 

 

Apa wajah tegang seperti itu, tidak layak untuk mendapatkan jawaban serius? sungguh mendadak Songjin begitu ingin mempelajari kick boxing lagi. Kali ini dia bukan akan menendang Kyuhyun menuju Antartika melainkan Timbuktu agar tidak memiliki teman lain selain unta dan kambing gurun!

 

Lalu seolah menyadari perubahan wajah Songjin menjadi sengit mahasuper, Kyuhyun mendesah panjang, “aku tidak suka memperkejarkan orang yang telah menikah untuk perusahaanku. Akan merepotkan.” Paparnya sederhana.

 

Baiklah, Kyuhyun kembali menjadi Cho Kyuhyun semula. Seharusnya Songjin tahu jika Cho Kyuhyun dengan bunga lily itu tak selalu akan ada untuknya.

 

“tapi pandangan dan alasan setiap orang kan berbeda. Untukku pribadi, aku memang tidak suka. Apalagi jika itu adalah wanita.” Kyuhyun menurunkan retinanya untuk melihat seberapa sengit wajah Songjin lalu setelah mendapatkannya, bahunya berkedik malas tak peduli seberapa tajam Songjin memandangnya.

 

“bukannya aku penentang gerakan feminist atau apa. Tapi aku tidak terlalu setuju dengan pendapat bahwa wanita harus bekerja saat pada dasarnya, pasangan mereka mampu menghasilkan dan mampu memenuhi seluruh kebutuhan mereka—”

 

Songjin masih saja mengutuki Kyuhyun dan berpikir mungkin kick boxing tak juga cukup untuk membawa Kyuhyun ke Timbuktu. Mungkin ditambah Judo, muaiThai atau apalah itu. Yang jelas Kyuhyun harus segera lenyap dari hadapannya.

 

“maksudmu wanita tidak boleh bekerja?”

“apa aku berkata seprti itu?”

“secara tidak langsung, yeah.”

“kalau begitu kau salah memahami maksudku.” Kyuhyun mendesah panjang. Seolah merasa pegal dengan cara bekerja otak Songjin yang tidak sepertinya dan itu membuatnya perlu meremas otak lagi agar mendapatkan cara termudah untuk menjelaskan maksudnya.

 

“aku bilang, pasangan mereka mampu menghasilkan dan mampu memenuhi seluruh kebutuhan.” Ulang Kyuhyun kini melembut, “karena sebagai seorang pria, itu akan terasa sebagai sebuah penghinaan. Mereka akan merasa direndahkan. Bahkan saat ternyata pasangan mereka tidak mampu memenuhi kebutuhan, jika belum ada pernyataan agar mereka para wanita perlu bekerja untuk menyehatkan kondisi keuangan, aku rasa tidak ada yang bisa wanita lakukan selain memahami kondisi itu.”

 

“ceritamu terlalu dramatis.” Songjin medesis sinis menyeruput susu cokelat kartonnya sedikit-sedikit. “kau seperti sedang menceritakan dirimu sendiri karena kau tidak senang aku mencari pekerjaan.”

 

Kyuhyun menarik senyuman disalah satu sudut bibirnya tinggi. Akhirnya, setelah bekerja keras mempermudah alur percakapan, Songjin mengerti juga maksudnya, “kau tahu.” Kyuhyun tampak puas.

 

“— dan bukankah selama ini aku memenuhi kewajibanmu? Kau belum menjawabku mengenai kondisi keuanganmu sendiri. aku tidak tahu kalau kau membutuhkan sesuatu, tapi seharusnya kau bisa mengatakannya padaku.”

 

“aku sudah menjelaskan kemarin!” suara Songjin meninggi. Beberapa orang dimeja santai disekitar mereka sontak memerhatikan mereka membuat Songjin risih sendiri karena ulahnya namun tidak dengan Kyuhyun yang masih duduk ditempatnya tenang begeming.

 

Sepertinya, jika terjadi gempa atau tsunami pun Kyuhyun tetap akan berada pada posisi seperti itu. Posisi sok-cool— yang sialnya memang cool.

 

Bagaimana menjelaskannya sebenarnya?? ya ampun!

 

“aku tidak butuh uangmu! Mengapa kau selalu menyangkutkan semua masalah dengan uang? Kau pikir yang kupikirkan selama ini hanya tentang uang?”

 

Songjin mengubah nadanya tak semelengking tadi. namun tetap saja beberapa masih memandang mejanya. Itu mungkin karena dimejanya terdapat makhluk titisan dewa atau setengah malaikat yang dengan sudi rela duduk satu meja dengannya mengobrol.

 

Sosok Kyuhyun pasti bersinar-sinar diantara sosok lekaki kebanyakan disini. dan sosoknya sendiri pasti takkan terlihat oleh siapapun. Sudah tertutup oleh silaunya pesona Kyuhyun, itu bukan hal baru lagi untuk Songjin omong-omong.

 

Serta pertanyaan buntut sebagai penegas betapa sesungguhnya dirinya dan Kyuhyun tampak berbeda kasta, seperti, “wanita itu siapa? Pacarnya? Ya ampun, pria itu tampan tapi selerannya menyedihkan!” Seolah dirinya hanyalah seorang rakyat jelata, sedangkan Kyuhyun manusia setengah dewa seperti Hercules.

 

Kyuhyun merunduk lesu dilempari pertanyaan menohok. Atau memang selama ini, dirinya tidak secerdas itu. Selama ini yang diketahuinya hanyalah bagaimana cara memenuhi kebutuhan dan membuat Songjin merasa terkesan dengan kepemilikan uang serta deretan predikat bergengsinya.

 

Awalnya, Kyuhyun mengira Songjin memanglah seperti itu karena wanita memanglah seperti itu. Wanita menyukai sesuatu yang berkilauan. Status, tahta. Namun kemudian setelah melihat wajah sengit Songjin, Kyuhyun baru tersadar, bukan hal berkilauan semacam itu yang Songjin inginkan.

 

Bukan berkilauan seperti yang dipikirkannya, namun berkilauan dalam arti harfiah.

 

Kyuhyun menyadarinya lantas seketika merasa sangat tolol. Kepalanya semakin merunduk. Mulutnya menggumamkan kata, “maaf” yang entah Songjin dengar atau tidak. Namun dalam posisi seperti ini, sebenarnya mebuat Songjin kembali risih Karena seluruh orang sedang menontonnya lagi.

 

Membuatnya seperti seorang pemeran antagonis yang bertingkah luar biasa ketus, kurang ajar, tidak sopan dan jahat terhadap lelaki yang dicintainya.

 

Sebentar, kata yang dicintai itu, boleh dihilangkan saja ‘kan? Itu menggelikan.

 

Bersamaan dengan itu mendenggung suara bel. Suara otomatis— seperti robot karena dikatakan tanpa memiliki tanda baca itu memberitahu setelah pukul 10 nanti, setelah terdengar bunyian bel kedua, giliran peserta dengan nomor urut 15 sampai 20 untuk masuk.

 

Songjin terkejut saat sadar kertas nomor urut dimejanya bertuliskan nomor 15. Itu artinya dirinya adalah orang pertama yang akan mendapatkan giliran interview lebih dulu.

 

Perutnya terasa menjadi-jadi saja. tanpa disadarinya secara perlahan tangannya mendorong kotak susunya untuk memberikan lahan bagi kepalanya agar dapat terantuk diatas meja.

 

Sambil menonton ruput hijau dibawah kakinya Songjin menarik napas panjang lalu membuangnya dan seperti itu seterusnya sampai lantas merasakan tepukan pada punggungnya.

 

“habiskan dulu susunya.”

“Cih!” dari sekian banyak kalimat yang mampu diucapkan, hanya sebaris kalimat itu saja yang Kyuhyun ucapkan sebagai penenang? Sungguh menggelikan. Pria ini memang benar-benar sungguh menggelikan. Memangnya dirinya ini apa? Balita 5 tahun dengan kepemilikan permasalahan SED atau apa? Berlebihan!!

 

“ayo” seperti juga tak cukup mendapatkan lirikan sinis, Kyuhyun terus membenturkan karton susu itu pada tangan Songjin diatas meja kayu.

 

Jika itu adalah raut wajah merayu, maka tamatlah seluruh aegyo yang pernah diketahuinya sepanjang hidup. Itu sama sekali bukan raut merayu. Lebih tepatnya wajah horror dengan tidak memberikan pilihan lain. Habiskan atau mati.

 

Namun sudah sejauh itu, Songjin bersikeras menolaknya. “tidak bisa.” Katanya lemah. Sebagian besar tubuhnya berguncang karena kakinya tak bisa berhenti digerakkan.

 

Songjin gugup. Kyuhyun tahu itu. Namun Kyuhyun lebih tahu hal lain bahwa Songjin pasti belum memasukan apapun kedalam lambungnya pagi ini. jika nanti didalam Songjin malah pingsan, pekerjaan yang diagung-agungkkannya agak gagal bukan?

 

Bukankah itu malah akan memperburuk suasana? Maka Kyuhyun bersikeras memaksa, “ayolah. Habiskan hm?”

 

“A—aku,”

“sedikit lagi. Ini hanya tinggal sedikit lagi,” Kyuhyun menggoyangkan karton susu kecil itu untuk meyakinkan Songjin bahwa isi didalam kotak susu itu tak sebanyak yang dipikirkannya. Menghabiskan susu sejumlah itu tidak semengerikan yang dibayangkannya.

 

Kyuhyun tersenyum teduh. Senyuman keparat itu yang membuat Songjin kemudian luluh akan pesona manusia setengah dewa ala Kyuhyun lalu beralih menggapai kotak susu yang Kyuhyun tawarkan dengan wajah mahatolol.

 

“sampai pukul berapa kira-kira interview ini?” Kyuhyun bertanya. Songjin menjawab dengan gidikkan enggan seraya berupaya menghabiskan susu cokelatnya.

 

“bagaimana kalau siang nanti—“ namun belum sampai Kyuhyun menghabiskan kata-katanya, Songjin menyelanya ketus. “siang nanti aku sudah memiliki janji makan siang dengan orang lain.”

 

Sialan.

Kyuhyun meruntukkan umpatan jahanam itu kepada Donghae. dia tahu itu adalah Donghae! itu tak perlu diragukan namun tetap saja tak urung ditanyakannya, “Donghae?”

 

“hmm.”

 

Kyuhyun menghela napas berat. Wajahnya memanas bukan karena sedang berbunga-bunga karena Songjin baru mengatakan ‘aku mencintaimu’, atau ‘hanya ingin mendengar suaramu saja’.

 

Ini buruk. Walau sebisa mungkin Kyuhyun mencoba menekan emosinya, namun rasa kesal itu malah lari kebagian lain pada tubuhnya, dibalik rongga dada.

 

Dan si tampan nan cerdas itu sungguh tidak memahami apa yang sedang terjadi dengan dirinya dan sungguh tak tahu harus melakukan apa. IQ superior-nya ternyata tak dapat menjelaskan mengapa tiba-tiba terdapat rasa sesak yang dirinya selalu rasakan ketika nama Lee Donghae selalu terselip diantara mereka.

 

Apakah Albert Einstein memiliki teori yang menjelaskan mengenai ini? atau mungkin plato atau Nicolaus Otto. Kyuhyun berniat untuk merekam rasa ini baik-baik dan menanyakannya kepada Ahra, sebelum itu, mungkin dirinya bisa mencari di ensiklopedi atau kamus dunia lain yang dimilikinya.

 

“aku bukannya ingin mengajakmu makan siang bersama.” Dusta Kyuhyun rapat-rapat. Jari tengah dan telunjuknya menyilang didalam saku celana. Hal yang sering dilakukannya saat melakukan kebohongan kepada siapapun.

 

“huh?” untuk sesaat Songjin diam terkesima. Jadi hanya dirinyalah yang merasa sok dengan langsung menolak mentah-mentah ajakan imajimernya. Atau itu, sebenarnya adalah hal yang diinginkannya?

 

Makan siang dengan Kyuhyun seperti biasa. Bukan Donghae.

 

“aku ingin berkata, bagaimana kalau siang nanti kau bersiap-siap untuk baby Shower Ahra Noona. Bukankah sore ini kita harus berangkat ke Jeju?”

 

“APA?” Songjin mendelik panic. Seberapa banyak sih kerumitan hidupnya saat ini sampai melupakan jika dirinya memiliki undangan baby shower dari kakak iparnya sendiri? Astaga! “ya ampun, aku hampir lupa!”

 

alih-alih menenangkan, Kyuhyun malah membuat Songjin semakin panic. Entah mengapa berita baby shower itu membuat Songjin kalang kabut tak tentu. Kyuhyun tak paham, tapi dia mencoba mengerti dengan berpikir mungkin itu adalah hal standar para wanita jika sedang merasa panic karena melupakan sesuatu.

“sudahlah.” Kyuhyun menepuk bahu Songjin santai. “acaranya kan bukan hari ini dan kita hanya tamu. Tidak perlu dipikirkan. Pikirkan saja interviewmu sekarang.”

 

Iya. Songjin yang tak memiliki kapasitas otak sebesar Kyuhyun seperti bingung harus mengaktifkan yang mana lebih dulu. Otaknya tak jauh ubahnya seperti dua lubang kosong. Jika satu ditutup, maka lubang sisanya akan terbuka dan begitu terus sebaliknya.

 

Mendadak ada segumpalan kupu-kupu didalam perut Songjin yang wanita itu rasakan. Itu membuatnya menjadi pucat pasi seketika. Berulang kali Songjin memandang jam tangannya mengingat bahwa dirinya akan menjadi peserta pertama dalam kloter kedua, rasanya lebih menyeramkan daripada mengingat berapa bobotnya setelah pesta kepiting kemarin bersama Kyuhyun.

 

“tenang saja.” ditengah kepelikannya Songjin semakin menggila karena merasa perutnya terasa dipelintir. Tak segera sadar tubuhnya telah terhuyung bangkit dari kursi dengan wajah masam. “semuanya akan baik-baik saja, Songjin.” Kyuhyun melanjutkan keyakinannya.

 

Kalaupun tidak lolos, toh masih banyak tempat lain untuk dituju. Bukankah hidup, rasanya tak perlu dipersulit? Kalaupun gagal, toh itu ada untungnya, setidaknya Songjin mengetahui seperti apa suasana interview itu.

 

“Hei!” Kyuhyun menjentikkan kari didepan wajah Songjin. Wanita itu mulai tak focus pada apapun disekitarnya. Termasuk sosok malaikat tampan ini! yang benar saja!

 

Kyuhyun lalu meremas bahu-bahu Songjin kuat, “kau akan baik-baik saja.” katanya tanpa ingin menyelipkan keyakinan lain, seperti Songjin akan mendapatkan pekerjaan ini misalnya.

 

Karena sesungguhnya Kyuhyun mengharapkan sebaliknya.

Baiklah, itu memang jahat. Tapi cobalah berpikir dari sisinya.

 

Kyuhyun menarik Songjin mendekat lalu memeluknya. Ditengah kepanikan Songjin, syukurlah wanita itu masih sadar bahwa ada malaikat tampan yang sedang memeluknya hangat.

 

Songjin terdiam merasakan degup jantung Kyuhyun— itu terlalu jelas! dan jantungnya sendiri sepertinya tak tahu malu karena seolah sedang berlomba dengan milik Kyuhyun. Siapa yang memiliki debaran lebih cepat diantara mereka.

 

Kyuhyun mendekap Songjin kencang. seperti memeluk sebuah boneka beruang milik Ahra pemberian Luke. seperti memeluk guling dimalam hari, saat sadar bahwa dirinya harus melalui malam dengan kondisi ranjang hampa.

 

Kyuhyun menenggelamkan wajahnya dipuncak kepala Songjin. Menghidu aroma yang tak pernah didapatkannya lagi sepanjang 3 minggu terakhir ini. rasanya terlalu meyakitkan karena ternyata wanita galak ini bekerja layaknya opium dalam hidupnya.

 

“semoga beruntung.” Kata Kyuhyun sambil terus mengusal-usalkan hidung dikepala Songjin. Namun berhenti ketika mendengar Songjin mendecah putus asa, “keberuntungan apa—“ ujar Songjin sinis.

 

“keberuntunganku untuk seratus tahun mendatang sudah habis setelah menikah denganmu.”

Lagi-lagi rasa nyeri didalam tubuh Kyuhyun terasa. Kali ini bekerja lebih keras daripada ketika dirinya mendengar nama Lee Donghae. entah rasa seperti ini, memiliki penjelasan dikamus apalagi.

 

Kyuhyun sudah kewalahan. Dia tak pernah ingin menjadi mimpi buruk bagi orang-orang yang disayanginya. Begitupun bagi Songjin. Dan pernyataan keberuntungannya telah habis setelah menikah dengannya, itu terasa cukup menyakitkan.

 

Seolah dirinya adalah parasit dalam jenis terparah yang kerjanya hanya menyerap sari-sari tumbuhan lain tanpa memiliki guna apa-apa.

 

Semyumannya menjadi kecut saat melepaskan pelukannya. Kyuhyun mengusap lembut wajah Songjin, pipi wanita itu berwarna sangat pucat. Tidak ada rona kemerahan seperti biasanya. Kyuhyun semakin memberikan senyuman teduh kecutnya.

 

Sungguh, semoga Songjin tidak menyadari bagian kecutnya. Itu adalah asupan energy sia-sia untuk nya saat ini. Kyuhyun mendekatkan wajahnya pada wajah Songjin— dalam setengah detik, membuat Songjin kembali panic hingga mengepalkan tangan kaku, alih-alih mengomel karena peringatan terakhirnya dilobby millennis saat itu, mengenai dilarang cium-mencium.

 

Namun agaknya kini dirinya harus menyadari beberapa hal, bahwa otaknya memang menolak, tapi tubuhnya menginginkan hal yang dulu sering didapatkannya, kini tak lagi ada.

 

Mata Songjin sontak memejam ketika aroma peppermint menyeruak menghantam wajahnya. Sampai kemudian dirinya sadar, bibir dingin itu tidak hinggap dibibirnya, namun keningnya.

 

Mata besar Songjin terbuka mengedip-kedip seperti pijaran lampu senter yang dimati-nyalakan. Wajahnya, jika dipertontonkan dan tidak tertutupi tubuh besar Kyuhyun, mungkin akan terlihat betapa bodohnya dirinya.

 

Tak sadar Songjin memberikan desahan singkat ketika Kyuhyun menarik bibirnya, beralih mengusap pipinya lagi seraya tersenyum ala— Cho Kyuhyun yang maut. “mau kupijamkan?” tanya pria itu kasual.

 

“apa?” dan otak Songjin belum kembali seutuhnya. Hanya mendapatkan kecupan dikening membuatnya linglung bagai penderita Alzheimer saat sedang kambuh.

 

“keberuntunganku.” Senyum Kyuhyun merebak. “aku memiliki banyak untuk seratus tahun mendatang, setelah menikah denganmu omong-omong.”

7 Comments (+add yours?)

  1. yulia
    Aug 27, 2015 @ 16:29:38

    akhirnya baca juga kelanjutannya…
    masih belum ada perkembangan antara Kyuhyun sm Songjin,makin penasaran thor…

    Reply

  2. sinta
    Aug 27, 2015 @ 23:26:24

    waaahhhh puas bacanya.. hihi
    bener2 panjang.. 😃
    cerita nya menarik bgt.. suka.. suka.. 😍
    karna yg pertama aky bacanya part ini berarti harus dan wajib nyari part sebelm nya.. 😁

    Reply

  3. lieyabunda
    Aug 29, 2015 @ 21:03:13

    perjuangan kyu masih panjang ternyata,,,,, hehehehe
    lanjut

    Reply

  4. babbykyustory
    Aug 30, 2015 @ 20:02:25

    Kasihan kyuhyun😦..lanjut thorr😀

    Reply

  5. Hanna
    Aug 31, 2015 @ 09:06:31

    lajut dong yg ke 4 seruu…..

    Reply

  6. ayu diyah
    Sep 04, 2015 @ 08:42:17

    ahhh…
    lama2 sebel jga ya sama songjin.. dia jdi trkesan ga mnghargai kyuhyun..
    dan kyuhyun,, dia udh sadar salahnya kan,, juga udh usaha mmperbaiki..
    songjin bner2 keras kepala

    Reply

  7. hyerilee
    Sep 06, 2015 @ 09:58:03

    waahh seruuu
    cho fighting ye menaklukan songjin
    ga peka sih elu coba deh bilang cinta ke songjin pasti luluh dia
    lanjut part 4 thor ditunggu^^ semangat!

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: