[FF Of The Week] Heaven on Earth

kkk

Title :    Heaven on Earth

Author : KeNamGiL

 

 

 

Somewhere around Seoul, in the early 2010

 

 

Cho Kyu Hyun’s POV

“Aku akan pergi,” kata yeoja yang duduk di sampingku sambil menatap lurus langit yang tak berbintang.

 

“Kali ini kemana?” tanyaku, menatapnya sekilas.

 

“Ke tempat yang sangat jauh… ,” jawabnya tanpa berpaling.

 

“Pedalaman Afrika? Hutan Amazon lagi? Atau ke Rusia? Aaah…, bukankah kau pernah bilang kau mau ke negeri asal Stalin itu?” tanyaku memburu.

 

“Hmm… geurae. Terutama setelah menonton “Eastern Promises”, aku tertarik dengan seluk beluk gang Vory ’V Zakone. Tapi kali ini aku bukan mau ke sana.”

 

“Lalu? Apa kau mau memulai ekspedisi ke Antartika?”

 

Yeoja itu hanya menggeleng pelan tanpa mengalihkan pandangannya dari kerlap-kerlip malam Seoul.

 

“Apa ada tempat yang lebih jauh daripada Antartika?” tanyaku lagi.

 

“Tentu saja ada, babo… .,” jawabnya datar.

 

“Dimana?”

“Narnia,” jawabnya cepat dengan wajah tanpa dosa.

 

“Mwo???!!!” teriakku dengan nada 1 oktaf lebih tinggi.

 

Tawa yeoja itu pun pecah pada akhirnya.

 

Tawa yang sudah beberapa bulan terakhir ini tidak terdengar.

 

Aku lebih merasa takjub ketimbang marah mendengar jawaban terakhirnya.

 

“Yaaak…, Hyesunnie! Apa kau akan berkata padaku kalau kau akan menyelinap ke lemari besar atau tersedot lukisan dan terdampar di Narnia?!” kataku setengah gusar.

 

“Itu kau tau Kyuhyunnie… ,” jawabnya dengan memasang mata puppy eyes.

 

“Aissh…, sudah-sudah. Cepat katakan, kemana kali ini kau akan pergi?” tanyaku mendesak.

 

“Sudah kubilang, aku akan pergi ke tempat yang sangat… jauh,” jawabnya cepat dengan senyum yang tak bisa kuartikan.

 

“Apa aku bisa ikut denganmu kali ini?” tanyaku ragu.

 

Yeoja itu sekali lagi menggelengkan kepala.

 

“I’m afraid you can’t Mr. Cho,” jawabnya datar masih dengan senyum yang tak bisa kuartikan.

 

“Why?” tanyaku cepat.

 

“Jika kau ikut, kau mungkin tidak akan bisa kembali.”

 

There’s a strange air about the way she said that.

 

Namun memang begitulah dia, selalu menghilang tiba-tiba sebelum akhirnya kembali lagi.

 

“Sounds alluring, it’s as if… I’ll be drawn in your geographically unmapped world,” jawabku.

 

“Kau memang tidak akan pernah menemukan tempat itu di peta.”

 

Kalimat terakhirnya sontak membuat keningku berkerut.

 

Angin berhembus menelusup ke sela-sela kain tebal yang membalutku di malam musim semi ini.

 

Yeoja itu terlihat merapatkan coat-nya.

 

“Kali ini, aku bukan hanya akan pergi. I’ll be gone,” lanjutnya lagi.

 

“Maksudmu?”

 

“Gone –  like gone, vanished, with no trace…”

 

Aku tak mau terlalu menghiraukan kalimat yang terdengar konyol di telingaku itu.

 

“Coba saja kalau berani,” jawabku dengan memamerkan evil smirk.

 

Yeoja itu menoleh ke arah kanan atas, menyejajarkan mata kami.

 

“Sejauh apapun kau pergi, kau akan selalu kembali padaku Hyesunnie… ,” kataku dengan penuh percaya diri.

 

“Do you think so?” tanyanya.

 

“I do,” jawabku yakin.

 

Yeoja itu tidak melanjutkan ucapannya, masih dengan senyum yang tak bisa kuartikan, kembali melayangkan pandangannya menuju hamparan gedung-gedung yang nampak tenggelam dalam gemerlap malam dari jarak ketinggian di tempat kami berada saat ini.

***

 

 

Namanya Hwang Hye Sun.

 

Entah sudah berapa lama aku mengenalnya.

 

Yeoja itu seharusnya sekarang berkutat dengan kontrak-kontrak miliaran Won, memenangkan tender, akuisisi, merger, dan hal-hal kapitalis semacam itu, sebagai pewaris pertama perusahan konstruksi terbesar di Korea Selatan.

 

Sudah tidak perlu dikalkulasi lagi seberapa besar kekayaannya.

 

Secara finansial, dia bisa disejajarkan dengan Siwon hyung, yang sama-sama berasal dari keluarga yang menjalankan bisnis besar.

 

Namun dia lebih memilih mengepakkan sayapnya dan mendarat di sudut-sudut asing yang tersebar di seluruh dunia daripada berdiam diri bak seorang putri.

 

“Aku dan perusahaan, bukan kombinasi yang tepat,” begitu katanya.

 

Posisi tertinggi di perusahaan tersebut akhirnya dia limpahkan pada dongsaeng-nya, Hwang Dong Sun, yang kini tengah menjalankan studi di negeri Paman Sam.

 

Dalam setahun, belum tentu aku bisa bertemu dengannya lebih dari 10 kali.

 

Hyesun bukanlah yeoja yang tidak bisa lepas dari ponsel. Dia mungkin bahkan jarang menggunakannya.

 

Ratusan e-mail yang kukirim juga belum tentu selalu dibalas. Aku bahkan ragu apa dia sempat membacanya. Apalagi jika dia sedang ‘terdampar’ di tempat yang tidak tersentuh teknologi.

 

Yang kudapat justru setumpuk postcard dan berlembar-lembar foto random hasil jepretan kamera Polaroid yang jika dikumpulkan semua sudah cukup untuk membuat portfolio tentang travelling.

 

Selalu ada narasi yang terselip di setiap postcard dan foto yang dia kirim.

 

“So this is how it feels like to live without electricity. I keep wondering how those people can maintain the harmony,” – away with the Mormons, Ohio, USA

 

“Sunbathing on the marvelous coastal line, drinking every elixir of life in a glass of some random tropical cocktail, wish you were here,” – Cayman Island

 

“It’s the most critical moment. Within seconds, the defenseless caribou will be devoured by the proud leopard, stand still.” – Safari Tour, somewhere in deep South Africa

 

“Imagine yourself drowned in the stream of heart breaking memories,” – Museum of Broken Relationships, Zagreb, Croatia

 

“I feel like adopting one of these babies. Are you willing to take the risk to become the father of one of these heavenly innocent mistreated creatures?” – Orangutan nature conservation, Borneo

 

Dan masih banyak yang lain….

 

Aku tak bisa membagikan semua satu-persatu karena hal tersebut hanya akan mengingatkanku pada fakta bahwa dia sedang berada jutaan mil di luar sana.

 

Sementara aku disini, dengan segala hingar bingar dunia showbiz yang terkadang membuatku serasa naik rollercoaster berkecepatan tinggi tanpa sabuk pengaman yang tidak bisa dihentikan.

 

When I’m with her, I’m with her.

 

Not as Super Junior’s Kyu Hyun, but as a guy with his irresistibly erratic manners.

 

Sudah kurang lebih setahun ini, Hyesun selalu rutin mengirimkan draft jurnalnya melalui e-mail. Saat waktunya tepat, dia akan menerbitkan buku tentang perjalanannya selama ini.

 

Itulah yang membuatku yakin, sejauh apapun dia pergi, Hyesun pada akhirnya akan kembali.

 

Or is it merely for the blind confidence that however, at the end, she only needs to lean on my shoulder?

 

Aku tidak sepenuhnya yakin akan hal itu.

 

Aku hanya merasa seperti sudah mengenalnya seumur hidupku untuk bisa yakin bahwa dia pasti kembali.

 

We’ll find our ways to see each other again at one of the corners of glimmering Seoul.

***

 

 

Few days later, lazy afternoon at the dorm

*Cho Kyu Hyun’s POV

It’s just another lazy afternoon to spend when there’s nothing much to do.

 

Semua hyung-ku, entah yang keberadaannya masih dapat terdeteksi atau tidak, sudah berhamburan di setiap sudut dorm dengan kesibukan mereka masing-masing.

 

Aku, seperti biasa, tak bisa dipisahkan dari PSP hitam yang menjadi simbol supremasi evil magnae Super Junior.

 

Suara bel tiba-tiba membuyarkan suasana lengang di dorm.

 

Tak mau mengeluarkan tenaga ekstra untuk memerintah dongsaeng-nya yang terlihat sibuk dengan kegiatan masing-masing, Leeteuk hyung yang memang berada paling dekat dengan pintu segera bergegas menyeret kakinya menuju sumber suara.

 

Sesaat kemudian, Leeteuk hyung kembali dan berjalan ke arahku.

 

“Kyu, itu ada yeoja yang mencarimu,” katanya menjelaskan.

 

“Nuguya?” tanyaku setengah tak percaya, karena aku sama sekali tidak pernah membawa yeoja ke dorm.

 

“Yeoja yang ada di tumpukan postcard di kamarmu itu,” jawabnya cepat.

 

“Mwo? Hyesun? Hwang Hye Sun maksudmu hyung?” tanyaku cepat setelah menekan tombol pause.

 

“Ne, cepat temui dia.”

 

Tanpa dikomando pun aku langsung segera berlari menuju pintu, setengah menghempaskan PSP-ku yang dengan sigap ditangkap oleh Leeteuk hyung.

 

Setibanya di pintu, aku mendapati sosok yeoja berambut hitam pekat sebahu dengan sepasang mata bulat berwarna senada, dengan ransel di punggungnya dan sebuah koper besar, tersenyum padaku.

 

“Hyesunnie…,” sapaku dengan senyum yang mengembang dan membenamkannya dalam pelukanku.

 

Sedikit terasa canggung.

 

Namun setelah beberapa detik, yeoja itu membalas pelukanku.

 

“Apa yang membawamu ke sini?” tanyaku setengah retoris, menyadari benda-benda yang melekat padanya.

 

“Tentu saja untuk berpamitan Kyuhunnie,” jawabnya cepat dengan tersenyum.

 

Hanya bibirnya yang tersenyum. Matanya menyiratkan hal lain.

 

“Harus sekarang ya…?” tanyaku dengan nada lesu.

 

Yeoja itu hanya menganggukkan kepala.

 

Aku memutar bola mata, mencari cara utuk mengulur waktu, setengah berharap bisa menahannya pergi.

 

“Hyesunnie, tidak semua yeoja punya kesempatan untuk bisa leluasa masuk ke dorm ini. You’re the lucky one! Kajja!” kataku setengah memaksa, menyambar koper dan menyeretnya masuk ke dalam dorm.

 

“Aahh…, Kyuhyunnie…, yaaak! Kau ini…,” protesnya dengan terseok-seok menyamakan langkahnya denganku.

 

 

Few moments later, at the park

*Cho Kyu Hyun’s POV

Merasa jika berlama-lama dengan 9 hyung-ku di dalam dorm dengan Hyesun yang menjadi pusat perhatian sesaat adalah ide yang tidak terlalu baik atau bisa dibilang konyol, aku segera melarikannya kabur dari sarang para namja yang kesepian itu.

 

Hyesun, seperti biasa, selalu menemukan cara untuk tetap terlihat tenang meskipun ekspresi gelinya tidak bisa sepenuhnya disembunyikan.

 

“Namja yang tadi itu…, siapa namanya? The one with the stark beauty, prominent cheek bones, devious smile…” tanyanya setengah menerawang.

 

“Aissh…, maksudmu Siwon hyung?!” jawabku ketus.

 

“Aahh…, geurae. Dia memanggilku apa tadi, the postcard girl, hah… apa aku setenar itu, apa kau selalu memamerkan semua yang kukirimkan pada hyung-mu?” tanyanya dengan tatapan interogatif.

 

“Yaaak…, Hwang Hye Sun! Tau begini, aku tidak akan mengajakmu masuk tadi,” jawabku mengelak.

 

“Bukankah aku juga sudah bilang tadi jika aku ke sini untuk berpamitan” jawabnya ringan tanpa mengabaikan perasaanku.

 

“Hyesunnie, apa perjalanan kali ini begitu penting, hingga kau rela datang ke sini untuk berpamitan? Bukankah selama ini kau hanya berpamitan secara kasual, bahkan pernah kau hanya memberitahuku lewat telefon saat kau sudah di airport. Apa kali ini berbeda?” tanyaku bertubi-tubi.

 

“Kyuhyunnie, bukankah aku sudah mengatakan padamu kalau aku akan pergi jauh.”

 

“Bukankah selama ini kau juga pergi jauh. Memang sejauh apa kali ini? Apakah sejauh itu hingga tidak bisa ditempuh dengan pesawat? Apa sejauh itu hingga bahkan jika aku mengeluarkan semua asetku, aku tetap tidak bisa menemukanmu?” tanyaku berputar-putar.

 

Yeoja itu, sekali lagi hanya mengangguk pelan.

 

“Mungkin.”

 

Aku tak pernah benar-benar bisa membaca makna yang tersirat di balik ucapannya.

 

“All you need is a particular wardrobe or a painting of Dawn Treader,” jawabnya datar tanpa memecahkan persoalan.

 

“Aissh…, geurae. Narnia lagi,” jawabku cepat sambil mengacak-acak rambut menerima kekalahan sesaat.

 

Yeoja itu kembali terseyum simpul. Senyum yang tidak bisa kuartikan.

 

Lelah berputar-putar dengan topik yang sama, aku dan Hyesun kini duduk di atas bangku yang berada di salah satu sudut taman.

 

“Kyuhyunnie, apa yang akan kau lakukan saat aku tidak disini?” tanyanya dengan menatapku lekat-lekat.

 

Sebelumnya, aku belum pernah mendapati Hyesun bertanya dengan ekspresi menuntut jawaban seperti ini.

 

Aku menghela nafas. Membuat yeoja itu menunggu untuk sepersekian detik.

 

“Bermain PSP, show, bermain PSP, show, interview, menjahili hyung-ku, show, bermain PSP, menghindari sayuran hijau, kembali pada PSP,…”

 

“Ahh…, aah…, arasseo, arasseo. Tidak perlu kau lanjutkan Cho Kyu Hyun!” jawabnya cepat, memotong jalan kereta pemikiranku. (train of thoughts?)

 

Yeoja itu, setengah gusar, terlihat mengacak-acak poninya sendiri.

 

“Hyesunnie…,” kataku yang seketika membuyarkan kesibukannya.

 

“Ne?” jawabnya membalas tatapanku dengan mata membulat.

 

“Apa kau benar-benar ingin tau apa yang kulakukan saat kau tidak disini?” tanyaku dengan penekanan pada tiap kata.

 

“Memangnya apa yang akan kau lakukan Kyuhyunnie?” tanyanya balik.

 

Aku menghela nafas. Membuat yeoja itu menunggu untuk sepersekian detik lagi.

 

“Aku menunggumu. Memangnya mau apa lagi Hyesunnie,” jawabku yakin.

 

Senyum yeoja itu memudar, matanya meredup.

 

Apakah mengatakan fakta yang sebenarnya adalah perbuatan yang salah?

 

“Kenapa kau harus menungguku?” tanyanya datar.

 

Aku menghela nafas lagi. Membuat yeoja itu menunggu sedikit lebih lama dari sepersekian detik.

 

“Simply because…., I love you?” jawabku yang lebih terdengar seperti bertanya.

 

Yeoja itu terdiam sejenak sebelum akhirnya terlihat sedikit bersusah payah menahan senyumnya.

 

 

*Hwang Hye Sun’s POV

“Simply because…., I love you?” jawabnya yang lebih terdengar seperti bertanya.

 

Aku terdiam, mencerna kalimat yang baru saja kudengar.

 

Dalam waktu yang hanya berjalan selama sepersekian detik, aku menemukan kembali kesadaranku.

 

Rasa geli menjalar di setiap inci tubuhku.

 

It’s the kind of tickle that a girl has for having butterflies dancing in her stomach.

 

It makes me look like I’m ridiculously laughing at myself.

 

“Cara kau mengatakan itu, membuatnya seolah-olah itu adalah hal yang baru Cho Kyu Hyun,” jawabku cepat, masih terlihat berusaha menahan senyum.

 

Aku beranjak dan melangkahkan kaki ke depan.

 

“Apa maksudmu Hwang Hye Sun?” tanya namja itu tanpa beranjak dari bangku.

 

Aku menghentikan langkahku tanpa berbalik. Kini kami berjarak 5 langkah.

 

“I love you too. You know I always do,” jawabku cepat.

 

Hening, tidak ada jawaban. Aku segera berbalik.

 

“Bukankah kita selalu seperti ini sejak dulu, belum ada yang berubah kan?” lanjutku dengan senyum mengembang.

 

“Geuraeso, kau harus kembali padaku Hyesunnie,” jawabnya dengan penuh percaya diri.

 

“Kyuhyunnie, daya ingatmu yang buruk atau aku yang kurang jelas bicara. Bukankah aku sudah bilang kalau aku akan menghilang. Itu artinya aku tidak akan kembali,” kata-kataku mengalir begitu saja tanpa bisa kubendung.

 

“Cukup!!!” teriak namja itu setengah tertahan.

 

Namja itu sudah tidak terlihat duduk di bangku. Kini kami berjarak 4 langkah.

 

“Hentikan omong kosong itu Hwang Hye Sun! Aku tidak mau mendengarnya!” katanya setengah murka.

 

“Kau…, bukannya menyangkal hal itu bisa terjadi bukan?” tanyaku retoris setengah berharap dia akan mengerti.

 

“Dengar aku baik-baik Hyesun! Aku tidak pernah benar-benar peduli kemana kau akan pergi, apa yang kau lakukan disana, berapa lama, karena yang aku tau, pada akhirnya kau akan kembali padaku,” katanya bertubi-tubi yang terdengar seperti terpaan angin yang siap menghempasku.

 

“Kenapa aku harus kembali padamu?” tanyaku dengan penekanan pada setiap kata.

 

Namja itu perlahan melangkahkan kakinya ke depan, 1 langkah, 2 langkah, 3 langkah.

 

Kini kami benar-benar berhadapan. Mata kami bertemu, sudah terlambat untuk menghindar.

 

“Karena aku Cho Kyu Hyun, sahabatmu. Aku sangat mengenalmu,” jawabnya yakin dengan kembali membenamkan kepalaku di pundaknya.

 

Kami terdiam cukup lama.

 

“Apa yang kau harapkan Cho Kyu Hyun? Kau berharap aku akan tetap disini? Kau berharap aku akan kembali? Bahkan aku pun tidak bisa memutuskannya sendiri,” gumamku dalam hati.

 

Biarlah seperti ini. Dalam detik yang terasa seperti keabadian.

 

Biarkan aku disini sedikit lebih lama lagi.

 

 

Late afternoon, bus stop, across the dorm

*Cho Kyu Hyun’s POV

“Hanya ini barang bawaanmu?” tanyaku seraya membantunya memasukkan koper dan ransel ke dalam bagasi taksi.

 

“Aku ini backpacker. Memang kau pikir aku mau berlibur dengan kapal pesiar,” jawabnya ringan.

 

“Kau tau, aku tidak keberatan mengantarmu ke airport jika kau minta,” kataku setengah berharap yeoja itu akan mengabulkannya.

 

“Thanks but no thanks,” jawabnya cepat, masih dengan senyum yang tak bisa kuartikan.

 

Aku mencondongkan badanku ke depan dan memeluknya sepintas.

 

“Just enjoy your trip and go home safely.”

 

Yeoja itu, sekali lagi hanya menjawabnya dengan senyuman.

 

Tangannya sudah menggenggam kenop pintu ketika dia berbalik dan menatapku.

 

“Miss me not,” katanya.

 

“I don’t even bother to try,” jawabku cepat.

 

Yeoja itu terlihat puas mendengar jawabanku dan kembali menganggukkan kepala.

 

“Very well…, goodbye Cho Kyu Hyun…,” katanya yakin.

 

“I’ll see you again very soon Hwang Hye Sun,” jawabku tak kalah yakin.

 

Hyesun segera meluncur menuju airport untuk kemudian mengepakkan sayapnya dan mendarat di tempat yang katanya sangat jauh itu.

 

Pulau tak berpenghuni mungkin.

 

Bukan kata ‘jauh’ yang mengusik pikiranku saat ini.

 

The fact that she said she’ll be gone bothers me a lot.

 

Tidak. Hyesun belum pernah mengecewakanku sampai detik ini.

 

Dia akan kembali. For that I’m certain.

 

 

*Hwang Hye Sun’s POV

“Very well…, goodbye Cho Kyu Hyun…,” kataku pada akhirnya.

 

“I’ll see you again very soon Hwang Hye Sun,” jawabnya dengan penuh percaya diri.

 

Cho Kyu Hyun memang tidak pernah mengecewakanku.

 

Inilah senyum yang ingin kulihat untuk melepasku pergi, agar aku bisa dengan tanpa beban mengepakkan sayapku dan terbang menuju pemberhentian selanjutnya.

 

Tempat yang akan menjadi pemberhentian terakhirku.

 

Aku tidak akan berbalik memandangi gelas kaca untuk melihatnya sekali lagi saat taksi sudah setengah melaju.

 

Karena hanya dengan 1 tatapan atau garis yang tertarik dari salah satu sudut bibirnya, my world will go up-side down.

 

Aku takut langkahku akan tertahan.

 

“Agassi, kemana saya harus mengantar Anda?” kata-kata ahjussi yang duduk di depanku membuyarkan anganku yang mulai bercabang.

 

“Yangpyeong.”

 

Taksi terus melaju tanpa bisa dihentikan.

 

Aku bersandar lemas, menatap semuanya yang berlalu dengan begitu cepat dari balik jendela.

***

 

 

Namanya Cho Kyu Hyun.

 

Namja yang akan selalu menghujaniku dengan berbagai pertanyaan seperti,

 

“Kau masih suka makan kimchi kan?”

 

“Kau masih ingat cara memakai Hanbok?”

 

“Siapa Presiden Korea Selatan saat ini?”

 

“Jangan-jangan kau sudah lupa baca-tulis Hangul!?”,

 

saat aku kembali setelah menghabiskan sekian lama di antah berantah yang berjarak jutaan mil dari Seoul.

 

He’s the guy with that particular evil smirk, who can make me feel like I’m the one,

 

the one who’s lucky to have him as a best friend.

 

Entah sudah berapa lama aku mengenalnya.

 

Betapapun kerasnya dia berusaha meyakinkanku bahwa tidak akan ada yang berubah, tidak akan mengubah fakta bahwa dia sekarang berada di puncak dunia dimana semua mata tertuju padanya.

 

Everything has changed since he signed that contract 4 years ago.

 

From that moment, I realized that I won’t be the only one who can spend the whole day gazing upon his smile, listening to his exceptionally soothing voice, and so on and so forth…

 

Aku harus berbesar hati membaginya dengan ribuan bahkan jutaan yeoja yang juga terhanyut dalam pesonanya.

 

It’s like exposing a private paradise to the whole world, the way I feel about losing him consequently.

 

Sejak saat itu aku memutuskan untuk terbang.

 

Setengah tertahan, aku tertawa sambil menggigit ujung bibirku, setengah rela mengakui bahwa pernyataan namja itu ada benarnya.

 

Sejauh apapun aku pergi, pada akhirnya aku akan kembali padanya.

 

Kami akan saling menemukan kembali, one way or another.

***

 

 

Vacation House, Yangpyeong, in the early 2011

*Hwang Hye Sun’s POV

Jadi ini yang kumaksud dengan tempat yang sangat jauh.

 

Tempat yang hanya berjarak ± 1 jam dari dorm Super Junior, tempat terakhir kali aku melihat namja itu, jika ditempuh dengan mobil.

 

Tidak. Aku bukannya berbohong.

 

Ini memang bisa menjadi tempat yang sangat jauh nantinya, pada akhirnya.

 

Aku masih terbaring di atas ranjang dalam kamar yang hangat ini ketika tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dan langkah kaki seorang ahjumma dalam seragam semi formal menghampiriku.

 

“Agassi…, sekarang sudah saatnya,” katanya pelan tanpa mengurangi penekanan dalam kalimatnya.

 

Ahjumma itu meletakkan nampan berisi segelas air dan serangkaian butiran-butiran berwarna mencolok yang hampir setahun terakhir ini tidak asing dalam keseharianku.

 

“Letakkan saja disitu. Aku bisa melakukannya sendiri,” jawabku cepat sambil membetulkan posisi duduk.

 

Ahjumma itu membungkukkan badan dan segera menghilang di balik pintu.

 

Aku sudah lelah.

 

How much more should I take?

 

Apa dengan menjejalkan semuanya sekaligus aku akan bisa kembali padanya?

 

Jika memang bisa, akan dengan senang hati kulakukan.

 

Namun kenyataan berkata lain.

 

 

Aku merangkap gaun tidurku dengan mantel tebal dan berjalan menuju suatu sudut di halaman belakang rumah yang tampak tak berujung.

 

Yah, memang tampak tak berujung dengan hamparan rumput hijau dan danau kecil yang terbentang di hadapanku.

 

This is probably the privilege of living in a well to do family that you can afford a private paradise to stay for awhile in your ‘not so busy’ moment.

 

So here I am, sitting on the bench by the lake in this bright and clear morning.

 

Spring has come, the brand new dawn of hopes.

 

Harapan, kata yang sudah lama terhapus dari kamus besarku.

 

Saat aku tengah menyibukkan diri dengan menghitung berapa banyak burung camar yang melintas rendah di atas danau, terdengar suara langkah kaki mendekat.

 

Seorang namja dengan setelan semi formalnya.

 

Wajah itu tampak lebih dewasa sekarang.

 

“Dongsunnie…, orenmanieyo. Bogoshippeo,” sapaku dengan senyum mengembang menyambut kedatangannya.

 

Namja itu tersenyum dan mengisi tempat kosong di sebelahku.

 

“Noona, usiaku sudah 21 tahun sekarang. Kenapa kau terus memanggilku Dongsunnie?!” gerutunya dengan ekpresi sebal yang tampak dibuat-buat.

 

“Harusnya kau senang, belum tentu ada yang memanggilmu Dongsunnie lagi kelak,” jawabku dengan tertawa ringan.

 

Tatapan mata dongsaeng-ku ini tiba-tiba meredup.

 

Kini pandangannya tertuju pada hamparan air yang terbentang di hadapan kami.

 

“Aigoo…, wae yo? Kau marah?” tanyaku sambil melingkarkan lenganku di pundaknya.

 

Dongsun hanya membisu.

 

Aku menarik kembali lenganku.

 

“Have you lost your sense of humor?” tanyaku retoris.

 

“Itu tidak lucu. Sama sekali tidak lucu noona,” jawabnya datar tanpa menatapku.

 

Aku menghela nafas, mencoba tetap tersenyum.

 

“Mianhae,” jawabku dengan menepuk pundaknya pelan.

 

Namja itu hanya tersenyum sepintas.

 

Kami terdiam sejenak.

 

“Kau sudah atur semuanya?” tanyaku memecah keheningan.

 

“Ne,” jawabnya yakin.

 

“Semuanya kuserahkan padamu, mulai dari penerbitan hingga publikasi. Aku percaya kau bisa menanganinya.”

 

“Kau tidak perlu cemas. Serahkan semuanya padaku noona,” jawabnya lagi dengan yakin.

 

“Kau tau kan harus kau alokasikan kemana semua profit dari penjualan buku itu?” tanyaku memastikan.

 

“Cardiology Research Center,” jawabnya cepat.

 

Aku menganggukkan kepala dengan puas.

 

“Welldone, you never let me down dear,” kataku dengan senyum yang mengembang.

 

Dongsun menatapku dengan sorot mata yang membuatku terganggu.

 

“Noona….,” katanya yang lebih terdengar seperti ratapan dengan suara yang bergetar sambil menggenggam erat tanganku.

 

“Hwang Dong Sun, you’re the man of the family now. Stand up and take it like a man,” kataku meyakinkannya.

 

Namja itu melepaskan genggaman tangannya. Menyembunyikan wajahnya dariku.

 

Aku terlau lama mengenalnya untuk tidak menyadari bahwa dia sedang berusaha keras mengusap matanya.

 

Dongsun sudah kembali menyejajarkan mata kami, memasang senyum lebar.

 

“Arasseo noona,” jawabnya dengan penuh percaya diri.

 

“Good boy…,” kataku sambil mengacak-acak rambutnya sepintas.

 

Kami kembali terdiam untuk beberapa saat.

 

“Dongsunnie…, if it’s not too much trouble, I’d like a cup of tea,” kataku memecah keheningan.

 

“How do you want it?”

 

“You know how I want it. You know me too well to forget it.”

 

“Ne, arasseo noona,” jawabnya dengan senyum mengembang.

 

Namja itu beranjak dan melangkahkan kakinya menjauh.

 

Aku mengamati punggungnya yang perlahan menghilang dari tempatku bersandar.

 

Hwang Dong Sun, dongsaeng-ku, namja yang akan mengemban tugas memimpin perusahaan.

 

Aku rasa aku tidak perlu khawatir dengan masa depan bisnis keluarga ini jika dia yang menanganinya.

 

 

Aku kembali melayangkan pandanganku di hamparan air yang terbentang di hadapanku.

 

Di pagi yang secerah ini, aku merasa angin dingin berhembus, menembus mantel tebalku.

 

Aku bahkan bisa mendengar detak jantungku yang berpacu.

 

Aku rasa sudah tiba saatnya.

 

Tanpa bisa kukendalikan, aku tenggelam dalam aliran kenangan yang tiba-tiba membanjiri ingatanku.

 

Di setiap frame adegan yang terputar kembali, selalu ada dirinya.

 

The guy with that particular evil smirk, how I wanna give up everything just to see him once again.

 

Cho Kyu Hyun, my dearest best friend.

 

Aku rasa aku sudah terlalu lelah. Sudah cukup sampai disini.

 

Aku tidak mau berusaha untuk tetap terjaga.

***

 

 

February 3th, 2011

*Cho Kyu Hyun’s POV

Bertambah 1 tahun lagi usiaku.

 

Semuanya, dari mulai yang kukenal hingga para ELF sudah bertubi-tubi mengucapkan selamat dengan cara mereka masing-masing.

 

Bahkan jauh sebelum hari ini, tumpukan hadiah sudah membanjiri dorm tanpa menutup kemungkinan akan masih terus bertambah.

 

Aku memandangi tumpukan itu dengan takjub, menyadari banyaknya cinta yang dilimpahkan padaku.

 

Aku rasa aku sangat beruntung dalam hal ini.

 

Namun dari semua itu, hanya ada 1 yang berhasil mencuri perhatianku.

 

Well, setidaknya mendapat kehormatan untuk menjadi yang pertama kubuka.

 

Sebuah paket yang dibungkus dalam kotak kayu.

 

Aku tau benar siapa pengirimnya.

 

The one and only, Hwang Hye Sun.

 

Aku membuka kotak itu perlahan, seakan tak mau terburu-buru mengetahui kejutan yang ada di dalamnya.

 

Sebuah buku. Ah, bukan. Ini bahkan masih berupa manuscript.

 

“Heaven on Earth” that’s the title.

 

Di halaman pertama tertulis,

 

“ ~ dedicated to my dearest best friend, Cho Kyu Hyun, my heaven on earth ~ ”

 

Aku tersenyum dengan penuh pengharapan setelah membaca kalimat itu.

 

Aku tau pasti apa yang kuharapkan.

 

Hyesun akan segera kembali dan aku akan menghujaninya lagi dengan rentetan pertanyaan retoris.

 

Aku menutup kembali buku itu, tak mau membacanya sekarang.

 

It’s the kind of book that worths the appreciation in every word, every line and every page of it, in a more appropriate moment.

 

Aku beralih pada kepingan CD yang terlampir bersamaan dengan manuscript itu.

 

Terselip sebuah catatan yang mengatakan,

 

“Don’t play them all at once! Play it when the time has come.”

 

Setengah mencibir, aku memutar CD itu dengan laptop.

 

Ada 28 track video di dalamnya.

 

Tanpa mengurangi rasa ingin tauku, aku menekan icon play dan memainkan video pertama.

 

Hwang Hye Sun, dengan latar belakang sunset di sebuah pulau tropis.

 

“Kyuhyunnie, saengil chukahaeyo… You’re turning 23. Sorry for not being there. Kau sudah baca manuscript-nya? Bacalah, dan kau akan merasa berada jutaan mil dari sana, bersamaku disini. Best wishes for you. You’re the best!”

 

Sekali lagi, aku tersenyum dengan penuh pengharapan.

 

Aku baru saja hendak mematikannya ketika tiba-tiba rasa penasaran mendominasi pikiranku.

 

Aku tak mengindahkan kalimat yang tertulis di catatan itu.

 

Menit-menit selanjutnya kuhabiskan dengan memutar satu demi satu video yang ada dalam CD.

 

Isinya sama. Bithday wishes, dengan latar belakang yang berbeda.

 

“Saengil chukahaeyo Cho Kyu Hyun! You’re 24 now. How’s life? Has it been better? I hope it has. It should  be! Kau masih menungguku? Well, don’t be…, I’m not gonna be there for a long… time. But I won’t forget you. For that I’m certain.”

 

“Happy birthday Mr. Cho! Hey…, look who’s turning 25 now… For God’s sake you’re getting older. Apa kau masih alergi sayuran hijau? Umurmu sudah seperempat abad sekarang. Kau tidak berencana jadi karnivora selamanya kan? Berdamailah dengan klorofil!”

 

……….

 

“Saengil chukkae hamnida…, Saengil chukkae hamnida…, Saengil chukkae Kyuhyunnie…, Saengil chukkae hamnida… Well, well, well, can’t believe you’ve made it to 30. Aku harap saat ini sudah ada seseoarang yang ada di sisimu. Yang tahan mendengar suara nyaringmu saat kau tidur, yang tahan dengan teriakanmu saat bermain PSP, yang bisa membuatmu jatuh cinta pada sayuran hijau. Sudah ada kan? She’s lucky.”

 

…………

 

“Mr. Cho, congratulations! 40 is the new 20! Don’t envy my eternal youth. Aku masih terlihat sama kan seperti 17 tahun lalu. Hmm…, aku rasa aku melihat sesuatu. Aigoo…, apa itu uban, apa itu garis-garis halus yang ada di dahimu? We can’t stop aging, can we? But to me, you always look that beautiful, even with those slight wrinkles. I wonder how many children you have now. They must be beautiful as you are. Apa mereka juga berbakat dalam hal musik?”

 

…………

 

“Sudah setengah abad. Apa bumi masih berputar? Apa kau bahkan masih sempat memutar video ini? Apa kau masih ingat aku? Daya ingatmu kan tidak terlalu baik, atau jangan-jangan kau sudah terkena Alzheimer. However, aku harap kau sudah bisa berdamai dengan sayuran hijau, dan berdamai dengan dirimu sendiri. Hiduplah dengan baik. My dearest best friend, saranghae yongwonhi…”

 

End of playlist.

 

Pada awalnya, senyum masih mengembang lebar di wajahku namun semakin lama senyum itu memudar, pelan namun pasti, ada sesuatu yang mengganjal di hatiku.

 

Aku merasa semua ini berlebihan jika tidak mau dibilang konyol.

 

Untuk apa Hyesun melakukan semua ini jika akhirnya dia akan bisa mengucapkannya sendiri secara langsung di hadapanku.

 

Apa 27 tahun lagi dia baru akan kembali? Apa bumi masih berputar pada porosnya? Apa aku masih disini?

 

Hwang Hye Sun, baboya…

 

Aku benci mengakui fakta bahwa saat ini aku merasakan butiran-butiran cair yang siap untuk terjun bebas dari kelopak mataku.

 

Suara pintu kamar yang terbuka membuyarkan semuanya. Aku mengusap mataku dengan cepat.

 

“Kyuhyunnie…, cepat ke ruang tengah. Semuanya sudah menunggumu. Kajja!” kata Sungmin hyung.

 

“Arasseo. Aku akan menyusul sebentar lagi hyung,” jawabku cepat tanpa berbalik menatapnya.

 

Aku menutup laptopku, seakan ingin mengubur dalam-dalam rentetan adegan yang baru saja kusaksikan.

 

I force a little smile on my face.

 

Kulangkahkan kakiku setapak demi setapak menuju ruang tengah yang terasa lebih jauh dari kenyataannya.

 

Aku masih berharap dia akan kembali.

 

Hwang Hye Sun, my dearest best friend.

 

We’ll find our ways to see each other again at one of the corners of glimmering Seoul, as always.

 

 

***END***

Acknowledgements :

–          My dear friend Rindi, for being the first reader of my 8th fanfiction (as always)

–          That morning, when I woke up and came up with the whole idea

–          ELF4SUJU, simply for the same love we share

77 Comments (+add yours?)

  1. m43yuli
    Feb 13, 2012 @ 20:29:39

    wait a minute.. *thinking hard*
    the intention of a hye sun away is she died?
    really?
    and kyu didn’t know it??
    *confused*

    Reply

  2. haenem
    Feb 13, 2012 @ 20:44:06

    nie terlalu sedih buat dibayangin
    shbtnya bner2 pergi untk slmnya kan????
    aku sampe berkaca2
    apalg aku bc smbil dngerin ostna miss ripley yg a space left for u by yoochun jyj
    endingnya kyu tetep gak tau shbtnya dh pergi ya???
    TTTT______TTTT
    nice ff but sad ending hiks hiks hiks
    daebak^^

    Reply

  3. Cicil17
    Feb 13, 2012 @ 20:59:37

    Bikin penasaran. Apa yang kira-kira bakal dilakuian Kyuhyun?? Apa alasan Hyesun ninggalan Kyuhyun??
    HIkss.. Terharu !! DAEBAK😀
    Butuh SEQUEL😀 !!

    Reply

    • KeNamGiL
      Feb 14, 2012 @ 14:31:27

      Yah, sepertinya Kyuhyun selamanya ga bakal tau kalo Hyesun dah benere2 ‘pergi’😦

      Alasannya, simply because she’s sick😦

      GOMAWO!😀

      Reply

  4. amal
    Feb 13, 2012 @ 21:38:14

    where’s she go? hiks…

    Reply

  5. yen
    Feb 13, 2012 @ 21:39:14

    Eonnie this story so amazyng!!!

    Reply

  6. hwangrie
    Feb 13, 2012 @ 21:56:33

    Smart and Fun reading FF🙂 Bener2 terhanyut. Tanpa sengaja membaca sambil dengerin ‘good bye my lover’nya James blunt #mewek. Seandainya ditulis dengan sudut pandang orang ke3 pasti lebih daebak, Thor. Sungguh POV nya mengganggu #pis!😉

    Reply

  7. LJK~
    Feb 13, 2012 @ 21:56:43

    dalem
    Video2nya bikin sedih
    Huuh
    Heaven on earth

    Reply

  8. @syafira0620F
    Feb 13, 2012 @ 22:01:17

    Daebaak, sayang sad ending, hampir nangis bareng eunhyuk oppa, pi gk jdi krn ad ddangkoma, krya slanjutny d tgu thor

    Reply

  9. Eunhyuk Anchovy
    Feb 13, 2012 @ 23:38:06

    Hiks Hiks Hiks
    Hiks Hiks😥
    sdih bnget dah..
    Ff dgn alur kyak gni mang slalu sukses bkin gue nangis, ktika c cewek tau cowok g sdar lau psangannya dah meninggal.. Rsanya gmnaaa gitu
    #nyesek
    pncaknya pas bgian video itu
    tapi tapi tapi c hyenmi meninggal knpa?
    Krna sakit kah???

    Reply

  10. hyesungiie
    Feb 14, 2012 @ 00:19:41

    aiiggoooo…
    baggus crita’a~
    tp knapa nasib hyesun gantung gtu? bkin sequel dongs~
    biar jellas itu ssi hyesun mati apa idupp~~
    trlalu bnyk english😦 pusing baca’a😄

    Reply

    • KeNamGiL
      Feb 14, 2012 @ 14:45:28

      Hyesun bukannya nggantung dear, dia dah bener2 ‘gone’

      Mian ya kalo bikin bingung, author merasa feel-nya lbh dapet kalo beberapa lines ditulis pake bs.Inggris🙂

      Next time better, thanx a lot!😀

      Reply

  11. Flo
    Feb 14, 2012 @ 00:57:30

    ini terlalu sedih dan indah di saat bersamaan…
    kasihan kyu dy ga tw hye sun mungkin ga bakal ada lagi…
    FF yang daebak thor….

    Reply

  12. jandibath
    Feb 14, 2012 @ 07:48:09

    aduh…..thor kok sedi2 mul sih ceritanya…..jd ikutan sedi deh….

    you know, your ff still my favorite in this blog….

    keep writing KeNamGil……..

    Reply

  13. trililiii
    Feb 14, 2012 @ 08:14:23

    was she gone? leavingkyuhyunnie…? ToT
    a smart and very nice story, even sad ending.
    love the way author explains the plots… it’s awesome!🙂

    Reply

  14. jangsora
    Feb 14, 2012 @ 10:20:52

    Eonni ah, here I am….

    First, aku mau bilang ‘Chukhahamnida eonni ah’ kekeke, meskipun semalem aku udah kirim ucapan selamat via sms, tapi akurasa aku perlunulis ucapan selamat juga di box komen ini…
    Huaaah eon, setelah semalaman aku berjuang baca via hp sampe mesti beberapa kali ol ulang, aku berhasil jga nyelesein baca Heaven on Earth nie…

    Eon, kenapa Hye-sun menginggal? Ais tak cukupkah uri Youngie yang mennggal? (Kyu nasibmu malang selalu). Aku semalam nangis lho bacanya, seperti yang aku smsin ke eon, ini terlalu sedih, feelnya dapet banget…

    Catetan yang aku maksud: 1) aku suka kata2 yag eon buat pas Hye-sun di Cayman island(aku suka permpamaannya), 2) Kau memang tidak akan menemukan tempat itu di peta (ini dalem), 3) aku dan perusahaan bukan kombinasi yang tepat, 4) aku tidak mau berusaha terus tejaga (aku nangis bacanya)

    Kekeke panjang ya??
    Well, GREAT eon…
    Aku tungu ‘Nado Saranghae’ sama ‘Elvie’ nya yua….

    Reply

    • KeNamGiL
      Feb 14, 2012 @ 15:12:19

      Thanx for Ur text last nite🙂 U saved my ‘consciousness’

      Whooaa…, aku selalu terharu kalo ada yg sampe ngutip2 gitu😦

      “Kau memang tidak akan menemukan tempat itu di peta”
      Yup, that’s deep, lebih dalam drpd palung marina di Pacific Ocean.
      *pok! abaikan……

      Yip2, ditunggu aja NadoSaranghae-nya *lirik admin
      Elvie? hehe…, tergantung kecepatan saya menyelesaikan skripsi kalo itu,
      haha😀 (gimana mau cepet selesai, ini malah tergoda SungJi Challenge)

      Thanx a lot dear!!!!😉

      Reply

  15. KyuHaeYongwonhi
    Feb 14, 2012 @ 12:53:06

    Thor, ini sumpah dalem bgt….😦

    Aku tebak, Hyesun sakit jantung atau semacam itu ya?
    habis dia bilang Cardiology Research Center
    benarkah?

    Needless to say how much I LOVE THIS!😀

    Reply

  16. YeyeSaranghae
    Feb 14, 2012 @ 13:04:43

    Hixhix…, masih narik2 tissue ni😥

    ini bagusss banget thor!😀

    Its brilliant how U can shield death and sickness
    dng “aku tidak mau berusaha untuk tetap terjaga”

    Cardiology Research Center jg clue yg sangat brilian aku rasa😀

    Love U thor! semoga bisa jd ff of the week, amiiiin…..

    Reply

    • KeNamGiL
      Feb 14, 2012 @ 15:16:05

      Yip2, maunya jg gitu, tp sepertinya masih ada yg agak bingung.
      hehehe…

      Wah, ada yg baca dan komen saja author dah seneng bgt,
      But I will say amin 4 that🙂

      Love U too dear!😀

      Reply

  17. villainovia
    Feb 14, 2012 @ 14:13:45

    Thor, love it so much!!!!!😮

    Sad but sweet, aku kehabisan kata2!

    aku suka kata2 “Ur geographically unmapped world”

    welldone!😀

    Reply

    • KeNamGiL
      Feb 14, 2012 @ 15:17:39

      Waaa…, author jg suka!😀 *aigoo…, narsis-nya!

      Kalau kehabisan kata2 boleh buka kamus. (*abaikan)

      Thanx 4 reading, see U on the next ff!😀

      Reply

  18. jajangmyeonworld
    Feb 14, 2012 @ 16:25:22

    jadi, kyu g tw kalo shbtny uda g ada, n dia te2p b’harap shbtny it kmbali
    ngbyngin bgemana video2 it d puter, nysek sekali huwaa
    nice ff thor*ambil tisu*

    Reply

  19. Mrs. Park Shi Hoo
    Feb 14, 2012 @ 19:10:21

    Huaa…, main thor, aku telat bacanya😮
    aku diabsen ya thor, hahaha

    hussh…, ini ceritanya sedih, harusnya aku mewek😥

    Tp bagus thor, as always. Cium author!

    Reply

  20. alfi cho
    Feb 14, 2012 @ 20:10:19

    kasian…
    hyesun meninggal dan aku yakin kyu ga mau percaya kalo hal itu bener.
    kasian banget..
    nyampe nyampe hyesun uda nyiapain ucapan selamat ultah buat puluhan tahun kedepannya..
    mbayanginnya sedih sendiri
    gimana hancurnya perasaan adek hyesun…
    nice ff

    Reply

  21. isty
    Feb 14, 2012 @ 21:08:39

    I love the way you express that girl’s feeling through English. It’s so beautiful, deep and smart. Love the characters, love the story, love the lines and hate the fact that this story is not happy ending (yeah even though I knew that it will be absurd if she is still alive now, hehehehe) But still, I cannot face the reality that kyu (again and again) loses his love, ihiks ihiks…….

    Reply

  22. sparkyu_mutmut
    Feb 14, 2012 @ 22:16:13

    huwee.. mewek ak baca.a T_T
    author, kata2.a nusuk.a jleb (?) banget,, kasian kyuppa, sahabat.a udah ‘pergi’ tp dia gak tau dn seperti.a berkeras untk gak tau (?)..
    ditunggu karya selanjut.a thor🙂

    Reply

  23. ovakyu
    Feb 15, 2012 @ 00:08:42

    oh God, this amazing ff makes me have teary eyes for a whole story
    i love these words “aku tidak mau berusaha untuk tetap terjaga”

    Reply

  24. shanty fyn
    Feb 15, 2012 @ 00:12:54

    rekomendasi dari Sora eonni baca ini, dan tidak sia – sia.
    ceritanya perlahan tapi pasti.
    kata2nya bener2 nyentuh.
    waktu baca beberapa isi postcard dan baca tempat mana aja yg hye sun jelajahi, aku jadi pengen ngajak dia jalan2 ke daerah perang. hehehehe
    baca line yg tentang tempat yang tidak ada di peta, sudah jelas menjurus ke syurga, pilihan kata yang tepat dan lembut.
    sebelumnya, aku kira mereka punya hubungan yang lebih dari sahabat, eh ternyata engga. ah~
    pokoknya bagus deh~

    Reply

    • KeNamGiL
      Feb 15, 2012 @ 14:16:25

      Hey, author ‘Summer Love in Ice Cream’😉

      a trip to DMZ (DeMilitarizedZone) sounds nice.

      Kalo ttg hub yg tdk lebih dr sahabat, well…, I’m not sure about that.
      They’re beyond lovers. that’s what I can say🙂

      Thanx 4 reading dear!😀

      Reply

      • shanty fyn
        Feb 15, 2012 @ 22:01:31

        Aihh…
        jadi engga enak nih dipanggil author that FF.
        just call me Santi aja, eon… eh boleh panggil eonn engga nih?

        itu DeMilitarizedZone blogspot or wordpress?
        mau baca nih😀

    • KeNamGiL
      Feb 16, 2012 @ 14:25:40

      hehe, call me anything U want😉

      Demilitarized Zone itu ya daerah perang, just like what U said

      Yup, I know U adore Kim Hyung Jun😀

      Reply

      • shanty fyn
        Feb 17, 2012 @ 20:10:09

        sip deh. aku panggil eonni😀

        Demilitarized Zone = daerah perang. astagah, aku suka engga ngudeng ama omongan aku sendiri.
        hehehehe
        hayooo kita jalan2 ke Demilitarized Zone, itu dari lubuk hatiku tau eon.

        Ihiy… seneng deh liat orang selain Triple S (fans SS501) nyebut suamiku dengan benar, search dulu yah eon…. ekekeke

  25. MoccaBerry
    Feb 15, 2012 @ 14:48:22

    .hoaa. .
    .cuma satu kata thor,DAEBAK! !
    .
    .btw,authorny suka ma kim nam gil ya?
    .hoho,sama dong#gadaygnanya
    .salam knal thor,aku reader baru d.sini#bow

    Reply

    • KeNamGiL
      Feb 15, 2012 @ 14:53:56

      Majayo!!!!😮

      Aku bukan hanya suka,
      Aku ‘memuja’-nya, hoho….
      *ni author tidak diragukan lagi memang sarap >,<

      Yup, salam kenal jg😉

      Thanx 4 reading, C U on the next ff!😀

      Reply

  26. aLmighty
    Feb 15, 2012 @ 15:20:58

    bener2 bagus deh ceritanya..
    menyentuh bgt..
    kata-katanya LUAR BIASA..
    amazing thor🙂

    Reply

  27. sclouds9
    Feb 15, 2012 @ 19:42:30

    ah!tissue saiia habis.inisaiia hafal authornya.sumpah smua ff yg author ni bkn DAEBAK!jago milih kata2,keren dah,pokoknya speechless..SEQUEL WAJIB

    Reply

  28. dindadey
    Feb 15, 2012 @ 21:01:27

    y ampun kyu gak sadar klo dia udh meninggal krn sakit. kasihan😥

    Reply

  29. adyn tb
    Feb 15, 2012 @ 22:50:31

    kalau ceritanya gak perlu diragukan lagi,,
    tp kebiasaan bikin penasaran,,😀

    Reply

  30. KeNamGiL
    Feb 16, 2012 @ 14:36:09

    I’d love to keep U in the gray shade dear😮

    Jangan bosan2 ‘dipaksa’ baca my silly ffs ya!

    Thanx a lot!😀

    Reply

  31. G R A C E
    Feb 16, 2012 @ 19:12:21

    1 kata.

    CRYING! :’)

    gue nangis bacanya… keep writing eonnie..!! i love your stories..

    Reply

  32. minrakyu
    Feb 17, 2012 @ 09:19:56

    ah sad ending..
    hiks..hiks..

    tapi tenang aja doa kamu terkabul kok, Kyu udah nemu seseorang yg tepat dan itu aku..kyahahahaha…

    Reply

  33. Trackback: Heaven on Earth « cloudyspark
  34. Trackback: 7 Minutes in Heaven « cloudyspark
  35. haracheonsa
    Apr 12, 2012 @ 22:46:51

    Sudah curiga dari kata2 hye sun kalau dia mau pergi terus gak akan kembali…
    ternyata dia bener2 ninggal, kasian kyu#peluk kyu
    Totally, this is perfect eon..
    Daebakk..

    Reply

  36. krungrunglove
    Aug 31, 2015 @ 15:19:07

    Author hyesunnya sakit apa eoh ?
    Kasih tau dong ! :3 ,jangan ada teka-teki seperti ini !!!

    Reply

  37. esakodok
    Aug 31, 2015 @ 22:37:33

    hikhikhik..nangis jadinya
    q suka banget permainan alurnya..trs jalan ceritanya
    apalagi kyu g liat hyesun meninggal dan masih setia nunggubhyesun..itu yg buat q langsubg nangisaa

    Reply

  38. ayunastiti14
    Aug 31, 2015 @ 22:41:25

    Did she go to many places just for say “Happy Birthday Kyuhyunie” ?

    Reply

  39. missrumii
    Sep 01, 2015 @ 22:07:41

    Wah FF nya mengguncang jiwa *.*

    Reply

  40. Isti
    Sep 02, 2015 @ 23:43:40

    Poor kyu ..

    Dri awal emg udh tw kyu bkal dtinggal pergi ke surga. Tpi g nyangka endingny klo kyu gtw bkal dtinggal slamany.

    Overall it’s nice FF. Very nice FF. Wlwpun agak bingung krn inggrisku g lancar. Hehehe

    good job thor d^^b

    Reply

  41. Nissamdt
    Sep 03, 2015 @ 10:07:37

    Nyesek yak ._.

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: