The Four of Us

The Four of Us

|| Author :: @GO_vanny || Tittle :: The Four of Us ||

|| Cast :: Yoon Si Ra (OC), Kim Joong Won (Yesung), Nathan Kim, Kim Ryeowook ||

|| Genre :: Friendship, Romance, and Drama || Rated :: PG || Length :: One-Shot || Note : FF ini proses pembuatannya paling campur aduk. Karakternya, perasaannya, endingnya. Jadi, maafkan author ya~ Komentar (Kritik & Saran) akan sangat membantu author menjadi lebih baik lagi J

***

The Four of Us

***

Sialnya, kami bertiga mencintai wanita yang sama. Satu berhasil menjadi suaminya, satu lagi dengan lapang dada menjadi kakak iparnya dan aku… aku masih setia menjadi sahabatnya.

***

AUTHOR POV

10 Years Ago…

“Ingin berteman denganku?” Si Ra menggantungkan tangannya di depan wajah objek yang ditujunya. Objek yang sedang sibuk membaca buku itu tersentak ketika ada tangan yang muncul diantara wajah dan halaman bukunya. Refleks, objek tersebut mengadahkan kepalanya untuk mengetahui siapa yang melakukan hal tersebut.

Sementara itu, Si Ra menggigit bibirnya tidak sabaran. “Hei! Kim Ryeowook! Ingin berteman denganku atau tidak?” Objek yang bernama Kim Ryeowook itu hanya melongo setelah melihat gadis paling populer di sekolahnya kini mengajaknya untuk berteman.

***

Si Ra menarik napas panjang untuk mempersiapkan dirinya menghadapi teman-teman sekolahnya yang terkenal suka membuat onar. Terlihat sekumpulan siswa-siswa yang sedang sibuk menyesap rokoknya. Si Ra mengingatkan dirinya untuk fokus hanya pada tujuannya. Akhirnya, Si Ra melangkahkan kakinya menuju orang-orang bermasalah tersebut.

“Kim Joong Won. Aku mencari Kim Joong Won.” Katanya dengan lantang.

Mendengar suara tersebut, kini pandangan sekumpulan siswa itu fokus pada dirinya. Pada saat bersamaan, Si Ra melihat objeknya yang sedang menatapnya tajam.

Salah satu dari siswa berandalan itu berdiri dan menyunggingkan senyum menyebalkan. “Hei, lihat! Kita kedatangan tamu populer. Yoon Si Ra, ayo bergabung bersama kami.”

Si Ra mengepalkan tangannya. “Kim Joong Won.” Katanya lagi penuh penekanan, memperjelas tujuannya datang kesana. Dalam sekejap, lelaki itu sudah ada di hadapannya dan segera menarik tangannya. “Dasar wanita gila!” Joong Won dan Si Ra lalu meninggalkan tempat itu.

Setelah memastikan mereka sudah jauh dari tempat tersebut, Joong Won lalu melepaskan tangan Si Ra dan kembali menatap gadis dihadapannya. “Kau mau apa?” tanyanya dengan nada rendah.

Si Ra menatap balik wajah dihadapannya dengan senyum yang terkembang di wajahnya. “Sudah waktunya kau sadar kembali, Kim Joong Won. Sebentar lagi kita kelas tiga!” ujar Si Ra mendramatisir.

Joong Won mendengus. “Kau datang kesini hanya untuk memberitahuku omong kosong itu?”

Si Ra meniup poninya tak sabaran. “Terserah kau saja! Tapi jika kau tidak menurutiku kali ini, aku akan memberitahu ibu panti bahwa kau sering merokok sepulang sekolah bersama teman-teman berandalmu itu! Kau tahu ‘kan, aku akan melakukannya?”

Joong Won membulatkan matanya tak percaya, “Awas saja jika ka—“

Kata-kata Joong Won terpotong saat Si Ra memegang tangannya. “Makadari itu, kau harus sadar! Setelah lulus kau akan keluar dari panti asuhan dan apa yang akan kau lakukan selanjutnya? Kau harus kuliah Joong Won-ah, otak sepertimu akan terbuang sia-sia jika tidak kuliah. Aku akan membantumu, oke?”

Joong Won menatap sahabat kecilnya yang dia hindari akhir-akhir ini, memang bukan ide yang bagus untuk menghindari Si Ra. Wanita itu akan segera memperbaiki jalannya karena itulah Si Ra yang dia kenal, Si Ra-nya.

Lagi-lagi Joong Won mendengus tak percaya, “Bagaimana bisa kau membantuku dengan otak burungmu itu?” goda Joong Won sambil tertawa.

Si Ra mengerucutkan bibirnya, ia lalu merangkul lengan Joong Won sambil menarik pria itu berjalan. “Tenang saja, ada surprise untukmu.” Ujarnya sambil tersenyum. Joong Won yang melihat senyum Si Ra tak kuasa untuk menahan senyumnya juga.

***

Kim Joong Won POV

Yoon Si Ra. Gadis itu sudah sepuluh tahun di sekitarku. Berteman dengan orang dingin dan tak tahu berterima kasih seperti aku adalah kekurangannya. Hari pertama kami bertemu—mungkin hari itu adalah hari tersialnya—hari di saat ia duduk di samping anak kesepian yang baru saja kehilangan kedua orangtuanya. Dengan mudahnya ia merangkul bahuku dan mengatakan bahwa ia akan menjadi ibuku mulai dari sekarang. Sungguh, saat itu aku menganggap Yoon Si Ra merupakan anak aneh sekaligus ajaib karena berhasil menaklukan anak angkuh sepertiku.

Ayah Si Ra adalah donatur panti asuhan tempatku tinggal. Yoon Ahjussi beserta donatur lainnya rutin mengadakan acara di panti asuhan satu bulan sekali. Saat itu umurku delapan tahun ketika orang tuaku meninggal karena kecelakaan, pemerintah memutuskan untuk menempatkanku di panti asuhan karena tidak ada satupun sanak saudara dari ibu maupun ayahku. Jadi, berakhirlah aku sebagai anak yatim piatu yang menyedihkan. Setelah Si Ra datang, hidupku jauh lebih baik daripada menyedihkan. Namun terkadang, gadis itu bisa saja membuat hidupku berkata lain…

***

“Joong Won-ah… perkenalkan, ini Ryeowook. Ryeowook, ini Joong Won.”

Aku melihat bocah gemuk berkaca mata tersenyum kecut saat Si Ra saling memperkenalkan kami. Aku memelotinya tanpa ampun, lalu ia cepat-cepat memalingkan wajahnya dariku. Inikah surprise yang dibicarakan Si Ra kemarin? Bocah gemuk ini?

“Nah… mulai sekarang kalian akan belajar bersama. Ryeowook akan mengajarkan semua keterlambatanmu dan sebagai gantinya semester ini kau harus berada di peringkat kedua Joong Won-ah… mengerti?” kata Si Ra panjang lebar.

Peringkat kedua? Aku cepat-cepat mengerutkan kening. “Apa? peringkat kedua? Hanya satu semester aku berandalan dan peringkatku menurun, sekarang anak ini malah ingin peringkat satu setelah aku di sini?” protesku tak karuan.

“Kim Joong Won, dengarkan aku…” kata Si Ra memerintahku. Bodohnya, aku ingin saja mendengarkan perintahnya. “Jadi, semester lalu—saat kau menjadi berandalan—Ryeowook menempati peringkat satu-mu itu. Ryeowook anak yang pintar tapi tidak jenius sepertimu—“. Si Ra tiba-tiba berhenti untuk tersenyum meminta maaf pada bocah itu. Lalu melanjutkan, “Tapi dengan kerja kerasnya, ia berhasil mendapatkan peringkat satu. Dan semester ini dia harus mendapatkan peringkat satu lagi. HARUS!”

“Mengapa?” tanyaku tidak tertarik. Si Ra baru saja membuka mulutnya saat aku mendengar bocah itu angkat bicara.

“Aku ingin audisi.” Ucapnya dengan riang. “Aku harus peringkat satu, dua kali berturut-turut.” Lanjutnya.

Aku tertawa, baru pernah aku mendengar alasan tidak waras seperti ini. “Apa hubungannya audisi dengan peringkat satu?” tanyaku di sela-sela tawa.

“Untuk menunjukkannya kepada ayahku.” Setelah mendengarkan pernyataannya, aku berhenti tertawa. Kini, ucapan riangnya digantikan dengan wajah seriusnya. “Setelah bercerai, ayahku berubah menjadi sangat keras. Aku dan saudara kembarku berjanji untuk sukses dan menunjukkannya kepada ayah. Menjadi penyanyi adalah impianku, ini jalan yang aku pilih untuk menunjukkan kesungguhanku kepadanya.”

Saudara kembar? Impian? Sungguh, omong kosong macam apa itu? Aku hendak menolaknya, tapi Si Ra menatapku penuh harapan, wajahnya mengisyaratkanku untuk menyetujuinya. Aku tidak tahu apa yang aku pikirkan saat menjawab iya, hanya saja ada 1% dari 100% dorongan dalam diriku untuk membantu bocah gemuk ini. Dan pada akhirnya 1% itu menciptakan takdir baru diantara kita semua.

***

10 Years Later…

Mataku fokus pada jalanan yang dipenuhi dengan berbagai macam kendaraan, namun lengkingan suara dari bangku belakang berhasil membuyarkannya. Kim Ryeowook—anggota boyband Super Junior—sekumpulan pria yang bahkan tidak aku hafal namanya satu persatu. Selain dia tentunya, dan sialnya, dia sahabatku.

Remaja gemuk berkaca mata itu sudah berubah menjadi pujaan wanita di pelosok dunia. Ia berhasil membuat mimpinya menjadi kenyataan dan jangan lupa, ada campur tanganku di dalamnya!

Sementara itu wanita yang sedang lahapnya makan ramyeon di sampingku tidak lain dan tidak bukan adalah Yoon Si Ra. Wanita paling populer di SMA yang bisa saja menjadi artis atau model tapi lebih memilih menjadi script-writer drama. Drama terakhir yang ditulisnya berhasil mendapatkan penghargaan dan tentu saja diiringi oleh rating yang hampir sempurna. Aku juga ikut campur di dalamnya!

Lalu bagaimana denganku? Pria yang hampir tidak menjadi apa-apa tapi berhasil terselamatkan karena dua orang sahabatnya. Perjuanganku menjadi polisi tidak sia-sia. Satu bulan yang lalu aku di promosikan menjadi personil detektif Seoul N.P.D. Dan tentu saja, kesuksesan ini juga tidak luput dari ikut campur kedua orang sahabatku ini.

Hari ini mungkin saat yang tepat untuk menambah personil kami yang baru. Saudara kembar Kim Ryeowook—Nathan Kim—pulang ke Korea untuk menjadi resident di Rumah Sakit Seoul. Tidak seperti Ryeowook yang kurang jenius dan hanya bisa mengandalkan suara melengkingnya, Nathan adalah seorang dokter lulusan Columbia Medical School. Yang bisa aku simpulkan adalah : Kedua saudara kembar ini sukses dengan cara mereka masing-masing.

“Kita ke terminal berapa, Wook-ah.” Tanyaku saat sudah memasuki halaman parkir bandara Incheon.

“Terminal 4. Dia sudah di sana, tak perlu parkir.” Jawab Ryeowook sambil melihat-lihat keluar jendela.

Si Ra juga membuka jendela, mencoba mencari Nathan. Sementara aku menyetir perlahan-lahan. “Wook-ah, dia memakai masker kan? Orang-orang bisa menyangka dia adalah kau.” Ujar Si Ra membalikkan tubuhnya ke arah Ryeowook.

Setelah mendengar pertanyaan Si Ra, Ryeowook menepuk jidatnya. “Bodoh! aku tidak berfikir sampai disitu!”

Aku mendengus dan langsung melihat kerumunan yang ada di depan kami. “Baguslah, kita tidak perlu lelah mencari.”

***

Nathan. Bagaimana aku menjelaskan orang sepeti dia? Seorang dokter yang berasal dari planet Mars mungkin tepat untuk menjadi julukannya. Dibalik kegeniusan dan keanehannya ada sesuatu yang membuat Si Ra jatuh hati padanya. Selama dua puluh tahun bersahabat dengannya, tidak pernah aku melihat Si Ra segembira ini saat mengencani seorang pria. Dan kini, perasaan nyaman yang dulu ada di hatiku saat menatap Si Ra berubah menjadi ketakutan kehilangan sosoknya.

Setelah lulus SMA, aku tahu Ryeowook menyukai Si Ra dan begitupun sebaliknya Ryeowook juga tahu aku menyukai Si Ra. Kami berpura-pura tidak tahu, namun suatu ketika Si Ra datang menyatakan bahwa ia menyukaiku. Ryeowook tidak punya pilihan selain mundur secara perlahan. Tapi saat itu aku punya pilihan, menerima atau menolak Si Ra. Akhirnya aku menolak Si Ra karena alasan kekanakan untuk mempertahankan persahabatan kami. Dengan pemikiran kekanakan seperti itu, aku membuang gadis yang kini tidak bisa lagi menjadi lebih dari sahabat bagiku.

Natal tahun ini merupakan cambukan bagi diriku. Si Ra dan Nathan mengumumkan pernikahan mereka. Jadi inilah rasanya kehilangan seseorang yang bodohnya selalu ada di dekatku tapi aku tak pernah menyadarinya. Aku berbicara pada Ryeowook tentang segala perasaanku terhadap Si Ra pada malam natal itu, namun tetap saja tidak cukup untuk mengikhlaskan semua ini. Pada akhirnya, aku melakukan hal teregois dalam hidupku.

Saat itu hujan turun, dengan berbagai tekanan yang aku terima dari pekerjaan maupun kenyataan bahwa Si Ra akan menikah dengan pria selain aku, alkohol adalah satu-satunya jalan yang menurutku dapat meringankan segalanya. Aku tak dapat memastikan bahwa aku mabuk atau tidak, yang pasti keesokan harinya aku terbangun di rumah Si Ra.

Bunyi ketel menandakan air telah mendidih membangunkanku. Segera setelah aku membuka mata, kepalaku terasa seperti habis dipukul dengan tongkat bisbol. Refleks, aku mengaduh sambil memegang kepalaku.

Tanpa aku sadari kedatangannya, Si Ra tiba-tiba menyodorkan mug hangat kepadaku “Ini, minum dulu.” Tanpa ragu, aku meminumnya sekali teguk.

“Aku kesini tadi malam?” tanyaku seraya menaruh mug di meja hadapanku.

Si Ra mengangguk, wajahnya menyiratkan kekhawatiran. “Kau menelponku tadi malam, katamu ingin mengajakku berbicara. Saat aku keluar, kau sudah ada di halaman depanku.”

“Lalu?”

Aku merasakan tangan Si Ra memukul bahuku. “Kau jatuh dipelukanku, bodoh!” protesnya. “Badanku hampir remuk menggendongmu sampai sini!”

Aku menghembuskan napas lega. Syukurlah aku tidak berbuat yang aneh-aneh, walaupun tidak ada kejadian yang aku ingat satupun.

“Kau tidak ingat apa-apa ‘kan?” Tanya Si Ra serius. Matanya menatap mataku dalam-dalam.

Aku menggeleng, Si Ra langsung tersenyum lalu beranjak menuju dapur. Insting detektifku mengatakan bahwa ada kejanggalan yang terjadi tadi malam. Untuk apa Si Ra memastikan dengan sungguh-sunggah bahwa aku tidak mengingat sesuatu? Otakku berpikir keras untuk mengingat kejadian semalam. Beberapa saat kemudian memori-memori itu bermunculan, dan pada saat memori-memori itu menjawab kejanggalanku, aku menyesal karena berusaha mengingatnya.

Setelah teringat kejadian semalam, aku menatap Si Ra yang sedang sibuk mengoles rotinya dengan selai di meja makan. Si Ra yang sadar akan tatapanku, menatapku balik. Suasana tiba-tiba berubah menjadi canggung.

“Aku ingat.” Setelah mendengar perkataanku, Si Ra langsung menghentikan aktivitasnya.

“Ingat apa, Joong Won-ah?” Gadis itu tersenyum kecut, berpura-pura tidak mengerti.

“Aku mencintaimu…”. Tanpa komando apapun, kata-kata itu meluncur dari mulutku. “Kau ingat itu ‘kan? Aku mengatakannya sambil memelukmu.”

Si Ra menggeleng, lalu kembali mengoles rotinya. “Kau ini bicara apa?”

“Aku hanya ingin kau tahu.” kataku menyerah.

Si Ra menghembuskan napas. “Pulanglah. Nathan sebentar lagi datang. Aku tak mau kau ada di sini.”

“Si Ra-ya…”

“Kim Joong Won, Pulanglah.” Ujar Si Ra memohon.

Memastikan Si Ra masih mencintaiku atau tidak dengan cara mengatakan bahwa aku mencintainya adalah hal teregois yang pernah aku lakukan selama hidupku. Saat Si Ra memohon padaku untuk pulang adalah waktu dimana aku menyadari bahwa Si Ra bukan gadis yang mencintaiku dulu. Hatinya sudah berubah, cintanya juga sudah berubah, dan bodohnya, itu semua karena aku. Tapi semua ini tidak sia-sia, aku menerima kenyataan dan berharap ia masih menganggapku sahabat.

***

AUTHOR POV

Yoon Si Ra memeluk semangkuk besar popcorn seraya menghempaskan dirinya ke sofa, ia meraup popcorn itu dan langsung memasukkannya ke dalam mulut banyak-banyak. Kim Ryeowook yang ada di sampingnya hanya bisa geleng-geleng kepala.

“Pernikahanmu tiga minggu lagi, Si Ra-nya…” kata Ryeowook mengingatkan.

Si Ra lagi-lagi meraup popcorn dan memasukkan ke dalam mulutnya. “Lalu?”

“Lalu? gaunmu tidak akan muat, bodoh!”

Si Ra langsung menghentikan aktivitas makannya dan menatap Ryeowook. Setelah beberapa detik membeku, ia kembali melanjutkan aktivitas makannya. Ryeowook lagi-lagi hanya bisa geleng-geleng kepala.

“Kapan Nathan kesini?” Tanya Ryeowook.

“Tidak jadi, ada operasi mendadak.” Jawab Si Ra acuh tak acuh.

“Joong Won?” Tanya Ryeowook lagi. Pertanyaannya kali ini berhasil membuat Si Ra tersedak. Ryeowook refleks mengambil minum dan memberikannya kepada Si Ra sambil menepuk punggung wanita itu.

Setelah reda, Si Ra menghembuskan napas berat sambil mengusap-usap dadanya.

“Yah… kau tersedak. Itu menjawab segalanya.” Kata Ryeowook yang tatapannya menerawang jauh.

“Menjawab segalanya?” Tanya Si Ra berlebihan. “Kau tidak tahu apa-apa.” ujarnya muram.

Ryeowook tersenyum pahit, “Kau benar, aku tidak tahu apa-apa. Mungkin aku terlalu bodoh untuk mengetahui bagaimana diam-diam mencintai seseorang selama sepuluh tahun.”

Si Ra menatap mata Ryeowook dalam-dalam mencari jawaban atas pernyataan sahabatnya barusan.

“Tidak pernah terpikirkan olehmu, bukan?” Tanya Ryeowook getir.

“Mengapa?” Si Ra masih menatap Ryeowook, kali ini dengan pandangan tak percaya.

“Mengapa kau tidak mengatakannya padaku?” lanjutnya.

Ryeowook mengalihkan pandangannya dari wanita itu, ia tahu bahwa ini adalah saatnya. “Aku dan Joong Won lebih dekat daripada yang kau kira, Si Ra-ya.” Ryeowook berdeham. “Dia dan aku… kami sama-sama tahu dan memutuskan untuk mengalah tanpa ada yang menang.” Lanjut Ryeowook.

Mengetahui kenyataan ini, Si Ra tak kuat membendung air matanya. Dia cepat-cepat menghapusnya saat Ryeowook kembali menatap ke arahnya. Ryeowook yang lebih dulu melihat hal tersebut hanya tersenyum.

“Anak itu… lebih lama bersahabat denganmu, perasaannya juga lebih dalam dibanding aku. Joong Won bilang, ia menganggapmu sebagai rumahnya, tempat ia kembali, seseorang yang ia harap akan lebih dari sahabat. Mungin ini hanya firasatku saja, tapi aku tahu, aku harus membiarkannya menang tapi aku juga tidak dapat membiarkan Nathan kalah. Jadi semua ini ada ditanganmu, Si Ra-ya…”

Si Ra menutup mulutnya, tak sanggup lagi menahan tangisnya. Dulu, ia kira hanya dialah yang mencintai sendirian, ia pikir hanya dia yang sakit sendirian. Namun semuanya salah. Dalam persahabatannya itu mereka sama-sama saling mencintai dan merasakan sakit juga. Namun semua rasa itu telah terkubur dalam. Saat ini Si Ra, Joong Won dan Ryeowook pun telah melepas segalanya. Mereka sudah melupakannya dan mereka tetap sama seperti bagaimana mereka membutuhkan satu sama lain.

“Tidak, Wook-ah… tidak ada yang kalah. Kita semua akan menang.” Janji Si Ra.

***

Kim Joong Won POV
Aku menyodorkan secangkir kopi pada Si Ra saat ia sedang berpura-pura fokus pada pertandingan baseball di televisi, aku sangat tahu ia sedang mati-matian menahan tangis—dan aku tahu apa yang membuatnya seperti itu.

Harapanku terpenuhi saat Si Ra menelponku pagi ini. Dengan segala kebaikannya, ia masih menganggapku sahabat. Ini semua tidak akan berakhir dengan baik jika kami semua masih mengingat masa lalu.

Aku duduk di sampingnya dan meletakkan cangkir kopiku sendiri. “Kau tak akan bisa mengatakannya jika duluan menangis.” Godaku.

Nampaknya Si Ra tidak bisa berpura-pura lagi, ia tersenyum lalu mengalihkan pandangannya ke arahku. Wanita itu merangkul lenganku—sama seperti yang sering di lakukannya dulu— Bedanya, sekarang aku lebih merasa nyaman karena tidak ada lagi perasaan ‘lebih dari sahabat’ yang kini sudah hilang entah kemana.

Si Ra masih tersenyum saat bertanya kepadaku, “Kim Joong Won, kau tahu aku mencintaimu ‘kan?”

Mataku menyipit setelah mendengar pertanyaannya. Aku tahu apa maksud pertanyaan itu dan aku tahu jelas jawabannya jadi aku mengangguk mengiyakan. “Sebagai sahabat.” Ujarku menambahkan.

Si Ra menggeleng, “Delapan tahun yang lalu tidak,” lalu ia mengangguk. “Saat ini iya.”

Aku tersenyum mendengar kenyataan yang memang sudah aku ketahui, tapi seperti yang aku kira, mendengar langsung darinya terasa semua perasaan yang terbuang itu bukanlah sesuatu yang sia-sia.

“Terima kasih sudah cukup bukan?” tanyaku memperjelas semuanya.

“Sudah lebih dari cukup.” Si Ra menaruh kepalanya di bahuku. Setelah sekian tahun mencintai juga tentu saja menyakiti secara tidak langsung, inilah ending kami. Akhir dimana kami semua akan bahagia pada waktunya. Karena akhir adalah jeda untuk awal yang baru.

***

 

3 Years Later…

Kami berada di halaman belakang rumah Si Ra dan Nathan untuk merayakan tiga tahun pernikahan mereka. Nathan sedang sibuk menyetel peralatan BBQ barunya sambil melihat buku panduan dengan sangat teliti sedangkan istrinya masih sibuk di dalam rumah. Sementara Ryeowook dan tunangannya—Park Song Na—sedang menyiapkan bahan-bahan BBQ seraya tertawa ringan. Syukurlah, idol bersuara melengking itu menemukan cintanya. Dan satu lagi, Jae Kyung, partner terhebat dalam hidupku, wanita yang berhasil membuatku jatuh cinta padanya, wanita yang rela perutnya membesar karena aku, wanita yang sebentar lagi akan memberikan sebagian dirinya dan sebagian diriku, saat ini sedang bermain dengan Siwan—anak Si Ra dan Nathan—sambil tertawa lepas.

Aku tak tahu darimana semua kebahagiaan ini berasal, melihat pemandangan ini membuatku ingin menangis bahagia. Untuk mencengah air mata itu keluar, aku memikirkan pertanyaan yang ingin aku ajukan pada Si Ra. Segera, aku masuk ke dalam rumah untuk mencari Si Ra yang saat ini sedang sibuk mengupas buah di konter dapur. Saat melihat kedatanganku, ia buru-buru menjauhkan piring buahnya dari jangkauanku.

“Tenang saja, aku tidak akan mencurinya.” Ujarku tak perduli.

Si Ra menaikkan sebelah alisnya. “Ada apa?” tanyanya curiga. Sudah ku duga, ia pasti tahu ada sesuatu.

“Aku ingin bertanya sesuatu.” Jawabku serius.

Si Ra mengangguk, siap mendengarkan. “Dokter mengirakan Jae Kyung akan melahirkan minggu-minggu ini,” ujarku hati-hati.

“Ehm… aku tahu.” Si Ra mengangguk lagi.

“Tapi ada yang aneh, Si Ra-ya…”

“Apa?”

“Kau tahu, di awal kehamilannya ia selalu marah-marah seperti orang gila. Tapi sekarang, jangankan marah-marah, melototiku saja tidak pernah.”

Bahuku di tepuk keras oleh Si Ra, setelahnya ia tertawa. Aku heran mengapa ia malah tertawa.

“Itu tandanya ia tegang, bodoh! tapi di balik ketegangannya itu, ia mencoba untuk mempersiapkan dirinya untuk menghadapi semuanya. Aku pun begitu, menjelang persalinan calon ibu akan lebih gentle. Maka dari itu saat wanita hamil tua akan keluar kharisma yang dimiliki semua ibu. Mengerti?”

“Benarkah?” Aku bernapas lega mengetahui fakta semacam itu. Dengan gerakan cepat, tanganku langsung mengambil buah dari piring yang dijauhkan Si Ra dari jangkauanku. Melihat hal itu, Si Ra langsung memelotiku tanpa ampun. Aku baru saja akan mengambil buah lagi saat mendengar teriakan Ryeowook dari halaman belakang.

“KIM JOONG WON!!! ISTRIMU AKAN MELAHIRKAAAAN!!!”

Tanpa aba-aba apapun, aku langsung berlari menuju halaman belakang. Dalam sekejap, menemukan Jae Kyung yang sedang merintih kesakitan di tempat terakhir aku melihatnya tadi sebelum masuk ke dalam. Kakinya sudah basah dan aku yakin itu pasti dari air ketubannya. Aku menggenggam tangan Jae Kyung untuk memberinya kekuatan tapi Jae Kyung malah mengusap pipiku yang basah karena air mata.

Nathan menyibakkan rok Jae Kyung dan langsung memeriksanya, setelah selasai ia menatapku. “Masih ada waktu ke rumah sakit. Ayo cepat!”

Aku langsung menggendong Jae Kyung menuju mobil dan seketika kejadian ini berlangsung secara cepat. Sangat cepat, menurutku. Tiba-tiba saja bayi perempuan ini sudah ada di pangkuanku, matanya tertutup namun bibirnya melengkungkan senyuman. Lalu aku melihat Jae Kyung terbaring lemah di tempat tidurnya, namun wajahnya tetap memberikan senyum lega ke arahku.

Tiba-tiba aku merasakan seseorang menepuk bahuku, “Joong Won oppa, giliran aku menggendongnya.” Pinta Song Na melebarkan tangannya menuju bayiku. Aku memberikannya dengan hati-hati. Park Song Na menerimanya dengan senang hati, ia dan Ryeowook langsung bernyanyi tidak jelas sambil menimang bayiku.

Pintu terbuka dan memperlihatkan Nathan dengan Siwan yang tertidur di gendongannya, diikuti Si Ra yang memegang beberapa kertas yang aku yakini adalah administrasi rumah sakit yang baru saja di urusnya. Setelah menidurkan Siwan di sofa, Nathan dan Si Ra langsung bergabung dengan Ryeowook dan Song Na yang masih bernyanyi tidak jelas sambil menimang bayiku.

Sementara itu, aku menuju tempat tidur Jae Kyung sembari menarik bangku didekatnya. Wanita yang sudah menjadi ibu itu tertawa melihat tingkah sahabat-sahabatku yang sedang menggerubungi bayinya. Di sela-sela tawanya itu, aku menggenggam tangannya erat, Jae Kyung yang baru menyadarinya langsung tersenyum.

“Terima kasih, Jae Kyung-ah…” kataku.

“Sama-sama, Joong Won Sunbae…” jawabnya diikuti senyum bahagianya dan aku.

Sekarang, setiap kebahagian itu menambah personil persahabatan kami. Kini, kami tidak hanya berempat lagi. Terakhir aku hitung, personil kami kini sudah berjumlah delapan. Dan tidak menutup kemungkinan akan bertambah personil-personil lainnya J

END

Sekali lagi, maafkan author yang membuat FF ini super ngebut. Dan perlu para Reader ketahui semua karakter disini sudah punya ceritanya masing-masing lho! kecuali Si Ra dan Nathan L Jadi, terima kasih sudah membaca dan jangan lupa komentarnya (kritik & saran) J

 

4 Comments (+add yours?)

  1. ichul
    Aug 31, 2015 @ 06:14:30

    Ini seru, sedih, lucu juga…hehee

    Reply

  2. wookpil
    Sep 03, 2015 @ 14:23:07

    Awalnya bikin baper tapi endingnya keren banget. Sifat mengalah mereka membuat akhirnya jadi indah.
    Nicestory ^^

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: