DEVIL

devil poster

DEVIL

Created by : Ririn Setyo

Genre : Romance, Tragedi, Thriller ( PG – 15 )

 

Luxury House – Gangnam Gu, South Korea.

Midnight

Suara dentuman benda keras dari balik pintu berpelitur hitam di lantai 2 kembali terdengar, diiringi pekikan dan tangisan pilu seorang wanita yang membuat siapapun yang mendengarnya akan merasa iba. Tak ada yang bisa mencegah kekejaman di rumah besar nan mewah itu disetiap harinya, selalu seperti itu, entah sejak kapan, namun sekarang itulah yang kerap terjadi setiap malam datang, di saat semua manusia sedang bercengkrama bersama alam bawah sadar.

Sepasang mata tajam dengan pandangan teduh milik Lee Donghae masih menatap objek yang sama, pintu berpelitur yang tak pernah dijamahnya sejak 3 bulan lalu kecuali jika Sang Surya sudah datang dan memaksa kakinya untuk menaiki anak tangga. Terhitung sejak Choi Siwon si pemilik perusahaan Hyundai Departement Store memperkerjakan Donghae sebagai bodyguard dari wanita malang yang ada di balik pintu, selalu seperti itu Donghae hanya akan berdiri memaku, memandang nanar pintu lantai 2 tanpa berbuat apapun walau hatinya sangat ingin.

Sama seperti malam-malam sebelumnya tepat pukul 2 dini hari, saat suara bising dari dalam kamar sudah reda, sesosok pria tinggi, berbadan tegab dan besar keluar dari kamar, menuruni anak tangga tanpa kata seraya melirik Donghae sekilas sebelum berlalu begitu saja.

“Selamat malam, Tuan Choi.” sapa Donghae sesaat setelah Siwon melewatinya lalu menghilang di balik pintu ruangan yang ada di ujung selasar.

Donghae bisa melihat memar dan bekas cakaran di lengan Siwon, namun Donghae tidak begitu peduli dan tidak merasa perlu mencari tahu lebih lanjut. Donghae lebih tertarik pada sosok wanita di balik pintu, wanita yang selalu ia temukan tergeletak tak sadarkan diri di lantai dengan bercak darah yang mengering di sebagian wajah, kaki dan tangannya. Sosok wanita yang Donghae ketahui telah menyandang marga Choi di depan nama wanita itu sejak 5 tahun silam, wanita anggun nan cantik, jarang bicara dan tidak pernah mengeluh untuk semua pesakitan yang mendera hidupnya.

Tanpa direncanakan sebelumnya tiba-tiba Donghae mulai mengerakkan kedua kaki, menaiki anak tangga hingga berdiri di depan pintu yang setengah terbuka untuk pertama kali. Perlahan lagi-lagi tanpa direncana sebelumnya Donghae mendorong pintu, tatapan hampa yang kini menghujam Donghae adalah hal pertama yang Donghae temukan saat pintu terbuka sempurna. Wajah cantik di balik pahatan nyaris sempurna itu kini telah penuh dengan luka, darah mengalir dari ujung pelipis melewati tulang pipi, bercampur dengan lelehan cairan bening yang mulai tampak lelah untuk terus mengalir.

Mata bening yang selalu menatap Donghae ramah kini terlihat sayu, merah dan bengkak. Tubuh langsing dengan lekukan yang tampak sempurna di tempat yang seharusnya, kini terlihat duduk membeku bersama lantai kamar yang dingin. Donghae masih berdiri di ambang pintu, menahan kedua kaki yang telah memerintahkan dirinya untuk kembali melangkah. Donghae tahu pasti batasan yang tidak boleh ia lewati, tugas Donghae hanyalah menjaga wanita itu dari orang-orang jahat di luar sana, bukan dari tangan dingin sang pria konglomerat yang membayarnya.

Namun lagi-lagi tanpa direncanakan sebelumnya Donghae kembali melangkah, bersimpuh di depan tubuh lemah yang tak bergerak sedikitpun kecuali memandang wajahnya dalam diam. Tangan Donghae terkepal begitu kuat hingga bukunya memutih, tak bisa menahan rasa sakit yang tiba-tiba datang dan kini mengoyak jantungnya, menyempitkan paru-paru hingga ia merasa sesak. Satu tangan Donghae bergerak, nyaris menyentuh wajah lebam wanita di depannya jika saja suara serak milik wanita itu tak terdengar di telinga Donghae

“Lee Donghae,” panggilan samar itu menyadarkan Donghae jika ia sudah melewati batasannya, ia pun mengurungkan niat tangan dan segera menjauhkannya seraya ingin beranjak.

Namun Donghae menemukan langkahnya terhenti saat tangan dingin wanita itu menyentuh lengannya untuk pertama kali, menimbulkan ribuan rasa yang membuat dunia Donghae serasa berhenti berputar. Manik bening milik wanita itu mengait dalam mata sendu Donghae, mata yang sejak pertama kali Donghae melihatnya selalu saja membuat ia merasa terganggu. Dalam denting waktu yang berputar sangat lambat, tiba-tiba tanpa pernah Donghae menyadarinya tubuh lemah wanita itu sudah berada di atas kedua tangannya.

Donghae merebahkan tubuh wanita itu dengan sangat hati-hati di atas ranjang, menarik selimut hingga membungkus tubuh wanita yang masih menatap lekat ke arah Donghae itu hingga sebatas dada. Lagi untuk kedua kalinya pandangan mereka bertemu, kembali menghentikan rotasi kehidupan Donghae untuk beberapa saat sebelum akhirnya Donghae memilih berpaling, membalikkan badan dan mendapati langkahnya kembali terhenti tanpa rencana saat suara wanita itu terdengar dari balik bahunya yang menegang.

“Terima kasih, Lee Donghae.”

****

The Morning

Living Room

“Pastikan kau menjaga istriku dengan sangat baik, Lee Donghae. Aku benar-benar tidak ingin mendengar berita buruk, hanya karena kau bersikap lalai. Kau mengerti?”

Donghae mengangguk walau sejatinya ia sudah bosan mendengar titah dari pria tinggi di depannya, setiap pagi selama 3 bulan Donghae bekerja untuk Choi Siwon, pria itu akan mengucapkan perintah yang sama pada Donghae. Wajah pria tampan dengan semua keindahan yang terlukis di wajah nyaris sempurna milik pria itu, selalu menguratkan sejuta kekhawatiran yang teramat dalam untuk sang istri. Ekspresi yang hingga saat ini selalu tak bisa dimengerti oleh Donghae, Choi Siwon terlihat sangat mencintai istrinya.

Donghae mengalihkan pandangan saat Siwon sudah berlalu, ia berjalan pelan menuju beranda belakang, tempat yang menjadi favorit bagi wanita yang kini telah menatap Donghae saat pria itu baru saja sampai di ambang pintu beranda. Senyum tipis terulas di ujung bibir semerah cerry milik wanita itu, membiarkan siraman Sang Surya yang pagi ini bersinar lebih hangat dari biasanya menerpa wajah putihnya yang masih terlihat lebam.

“Apa suamiku sudah pergi, Lee Donghae?” wanita itu bertanya tanpa menatap Donghae yang kini sudah berdiri di sisi kanan tubuhnya, berjarak 3 langkah dari sofa biru panjang tempat ia merebahkan tubuh, ia lebih memilih menatap hamparan biru yang menaunginya.

“Benar, Nyonya Choi.” Donghae tak bisa menahan diri untuk tidak menatap wajah wanita itu, menelusurinya perlahan tanpa terlewat walau hanya setengah inci dan mendapati dirinya tersenyum dengan sendirinya tanpa alasan yang bisa Donghae jabarkan setelah itu.

Kesenyapan kembali mengepung mereka berdua hingga bermenit-menit, keadaan yang kerap terjadi jika mereka hanya berdua di beranda. Sejujurnya Donghae ingin sekali membunuh keadaan ini, keadaan yang semakin membuatnya terpaku pada sosok wanita yang seyogyanya tidak pantas di pandang Donghae selekat ini.

“Donghae-ya…,”

Dalam hitungan detik bahkan mungkin lebih cepat dari itu, semua lamunan Donghae berserakan, tercecer bersama rasa asing yang kian hari semakin mendominasi hati Donghae. Tanpa kata Donghae kembali menatap wanita itu namun kali ini berkadar seadannya, menunggu kalimat wanita itu yang terputus di udara tanpa niat menerka nerka apakah gerangan yang akan dituntaskan oleh wanita yang masih enggan menatap ke arahnya, pandangan wanita itu masih tertuju pada langit biru yang membentang luas di angkasa.

“Pernahkah terlintas di benakmu pemikiran tentang betapa bodohnya diriku selama ini?”

Donghae bungkam, ia masih berasumsi jika ia belum perlu menjawab pertanyaan wanita itu, ia memilih menyimak dan menunggu lanjutan pertanyaan yang sejatinya belumlah tuntas disebutkan.

“Aku begitu mencintai laki-laki yang selama ini selalu menyakitiku, laki-laki yang merampas seluruh hidup dan kebahagiaanku, laki-laki yang…,” tanpa diduga wanita itu berpaling, menatap kosong ke arah Donghae yang sedang menahan rasa keterkejutan akibat tatapan wanita itu yang begitu tiba-tiba.

“… yang telah membunuh bayi-ku.”

Donghae masih membisu namun mata sipitnya sudah melebar, menatap tidak percaya saat wanita itu justru hanya tertawa sumbang setelah menuntaskan kalimat yang terdengar menyakitkan untuk Donghae. Tidak ada raut kesedihan di wajah lebam wanita yang masih menyisakan tawa sumbang di ujung bibir, atau mungkin juga karena wanita itu sudah terlalu lelah untuk bersedih.

“Tidak perlu merasa terkejut ataupun merasa iba padaku Donghae, kejadian itu sudah berlalu hampir 3 tahun silam.” wanita itu kembali tersenyum. “Aku sudah melupakannya, aku… sudah melupakannya.”

Meski wanita itu kini tengah tersenyum lebar, tak bisa dipungkiri jika masih ada sisa keperihan yang berpendar samar dari balik mata bening wanita itu. Donghae bahkan masih bisa merasakan luka dari untaian kata yang diucapkan wanita itu dengan begitu ringan, Donghae lebih dari tahu jika wanita itu masih sangat merasa kehilangan atas bayinya.

****

11.00 PM

Siwon’s Room

Walk in Closet

Siwon memutuskan sambungan telepon dengan seseorang di seberang sana saat matanya menangkap bayangan seseorang melewati pintu walk in closet miliknya, ia menajamkan matanya, berjalan menuju pintu untuk selanjutnya terkejut dengan pelukan erat yang tiba-tiba menyambutnya di muka pintu.

Sayang… kau belum tidur?” Siwon mengerakkan tangannya untuk membalas pelukan di tubuhnya, ia menciumi puncak kepala wanita yang kini sudah bersandar nyaman di dada bidangnya.

“Aku terbangun dan cemas saat tak menemukanmu di sampingku.”

Pelukan Siwon mengerat, tangannya mengusap lembut helai demi helai rambut panjang wanita itu seraya menciuminya berulang ulang. Siwon menyandarkan kepalanya di atas kepala wanita itu, tersenyum hangat dan semakin menarik tubuh wanita itu merapat hingga menghilang di balik kedua lengannya.

“Tenanglah Jiyeon-ah aku tidak akan kemana mana. Ada panggilan penting, aku tidak ingin kau terbangun jadi aku kemari.”

Siwon melonggarkan pelukannya, menatap hangat Jiyeon yang tersenyum ke arahnya tanpa melepaskan rangkulan di tubuh wanita-nya. Siwon kembali menarik pinggang Jiyeon hingga tubuh mereka kembali merapat, ia menunduk sebelum akhirnya menyatukan bibir mereka dalam kecupan lembut yang berubah menjadi lumatan panjang hingga memendekkan napas mereka berdua. Jiyeon mengusap wajah Siwon dan melepaskan pagutan bibir mereka setelahnya, dalam deru napas yang masih terasa terengah-engah Jiyeon melontarkan satu pertanyaan yang membuat Siwon seketika membeku.

“Apa kau masih ingat dengan bayi kita, Siwon-ah?”

“Jiyeon,”

“Jika dia masih hidup, dia pasti akan tumbuh menjadi anak laki-laki yang tampan sepertimu.”

“Aku mohon berhentilah Jiyeon, sampai kapan kau ingin mengingatnya?”

“Kenapa dia pergi secepat itu, kenapa?”

Dalam sekejab Siwon kembali memeluk Jiyeon erat, semakin erat saat Jiyeon mulai terisak. “Lupakan semua itu Jiyeon dan kembalilah menjadi Jiyeon-ku yang dulu aku kenal.”

Jiyeon melepaskan pelukan Siwon, mata sayu wanita itu berubah dingin dan tajam, memandang Siwon dengan segenap luapan rasa sakit yang kian mengrogoti sisa asa yang ia miliki. Jiyeon menjerit tanpa mampu ditahan, mengiringi detak jantung yang telah memacu melebihi dari ritme biasa, merampas habis semua kesadaran hingga Jiyeon kembali menjerit dengan lantang.

“Sejak dulu kau selalu bahagia untuk semua kesedihanku, kau selalu tertawa untuk semua rasa kehilangan yang membelengu hidupku selama bertahun-tahun. Tak tahukah kau jika aku sangat menderita, Choi Siwon?” Jiyeon kembali berteriak kencang, ia berjalan terhuyung keluar dari dalam wall in closet. Jiyeon masih menatap tajam Siwon yang hanya memandanginya, pria itu bahkan tetap diam saat ia membanting sebuah guci setinggi badan yang ada di sudut kamar hingga hancur berkeping-keping.

“Sekarang kau harus mati agar dia bisa kembali padaku, Choi Siwon!” Jiyeon kembali berteriak, melemparkan pecahan guci ke segala arah dengan brutal saat Siwon berusaha untuk mendekatinya.

 

BUKK!!!—-

 

Satu pukulan cukup keras menghantam tengkuk Jiyeon tanpa bisa wanita itu mencegahnya, tubuh Jiyeon terkulai seketika namun kedua lengan Siwon sigap menahan hingga tubuh Jiyeon tak sempat beringsut di lantai kamar. Siwon mengangkat tubuh Jiyeon dan merebahkannya di atas ranjang, menarik selimut hingga menutupi sebatas dada. Pria itu terdiam sesaat, membelai wajah pucat Jiyeon dengan sebaris kalimat yang sejak dulu hingga detik ini selalu ia ucapkan, kalimat favorit penghantar tidur yang dulu akan disambut dengan suka cita oleh Jiyeon.

“Aku sangat mencintaimu, Choi Jiyeon.”

****

Swimming Pool

The Last Day

Siwon merenggangkan otot tubuhnya yang terbentuk sempurna sebelum menenggelamkan di dalam air kolam renang hingga sebatas dada, ia merentangkan kedua tangan, menumpukan bobot tubuhnya pada kedua lengan yang berada di atas pinggiran kolam renang. Siwon menerawang hingga menembus dinding kaca yang ada di depannya, mencoba menenangkan diri dari semua penat hidup yang mengepungnya hingga ia tak menyadari jika sudah ada sosok Donghae berdiri di sisi tubuhnya. Membawa pistol kecil di salah satu tangan, terhunus tepat di kepala Siwon yang masih menatap lurus ke depan.

Dalam sepersekian detik saat Siwon yang akhirnya menyadari jika maut sudah berada di ujung hidupnya, saat itulah Donghae menarik pelatuk pistol yang menempel lekat di kepala Siwon.

 

DOORRR!!!—-

 

Bercak merah seketika mencemari air kolam renang yang masih menenggelamkan setangah dari tubuh kaku Siwon yang tak lagi bernyawa, mengalir kian deras hingga mengubah kolam menjadi kubangan amis yang menggapai ujung indra penciuman sosok langsing di ujung kolam renang. Dan disanalah sosok Jiyeon berdiri dengan senyum lebar yang terlihat begitu sempurna, berjalan anggun di sisi kolam hingga berdiri tepat di depan Donghae yang baru saja menceburkan pistol ke dalam kolam sesaat setelah mengusap semua sidik jari yang tertinggal dengan ujung jas hitam yang dikenakannya.

Jiyeon tak merasa ingin berhenti tersenyum kala menyadari rotasi hidupnya akan berubah 180 derajat setelah ini, ia menatap sekilas ke arah Siwon sebelum beralih kembali pada sosok Donghae yang sudah mengulas senyum hangat di bibir tipisnya.

“Kau belum menjabarkan alasan kau membantuku, Lee Donghae.”

Lagi-lagi Donghae hanya tersenyum dengan satu tangan yang terulur, membelai lembut wajah Jiyeon yang ingin sekali di sentuhnya sejak hari pertama ia menjadi bodyguard untuk wanita itu.

“Dulu aku memiliki seorang adik perempuan yang sangat cantik seperti dirimu, dia tewas karena aku terlambat datang saat suaminya menganiaya adikku di rumahnya. Dan aku tidak ingin hal tragis itu menimpa dirimu, Choi Jiyeon. Kau… terlalu mirip dengan adik perempuan-ku.”

Jiyeon tersenyum dan menghambur memeluk Donghae, melafalkan sebaris kalimat dengan panggilan istimewa yang tersemat di belakang nama pria itu, hingga membuat Donghae balas memeluk Jiyeon, senyum lebar pun kini sudah menghiasi wajah Donghae.

“Terima kasih, terima kasih banyak Donghae Oppa,” Jiyeon melepaskan pelukannya, menatap Donghae yang masih tersenyum hangat untuknya. “Dan mulai hari ini aku bukan lagi Choi Jiyeon, tapi aku adalah Song Jiyeon adik perempuan-mu, Oppa.”

Donghae mengangguk, luapan kebahagian kini nyata menaungi hatinya. Bersambut dengan kebahagiaan yang berpendar nyata dari sepasang mata bening Jiyeon yang berbinar, menyambut dunia baru yang kini berada dalam kuasanya hingga menyembunyikan seulas senyum licik penuh kemenangan, saat ia kembali memakukan pandangan pada tubuh mati tak bernyawa Choi Siwon yang ada di ujung sepatu hitam mengkilap yang dikenakannya.

Welcome to the heel, Choi Siwon.”

 

****

 

EPILOG

The Morning

Living Room

“Aku sudah melupakannya, aku… sudah melupakannya.”

Meski wanita itu kini tengah tersenyum lebar, tak bisa dipungkiri jika masih ada sisa keperihan yang berpendar samar dari balik mata bening wanita itu. Donghae bahkan masih bisa merasakan luka dari untaian kata yang diucapkan wanita itu dengan begitu ringan, Donghae lebih dari tahu jika wanita itu masih sangat merasa kehilangan atas bayinya.

“Apa sekarang aku terlihat menyedihkan, Donghae?” tanya Jiyeon kali ini tanpa menatap ke arah Donghae, namun Donghae tidak menjawab hingga membuat Jiyeon menatap pria itu, menuntut jawaban atas pertanyaan yang sudah sangat jelas jawabannya.

“Apa kau tidak merasa lelah Nyonya Choi? Apakah tidak pernah terlintas di pikiranmu untuk menyudahi semua ini?”

“Dengan apa aku harus menyudahinya Donghae? Aku tidak punya cukup kekuatan untuk itu, aku hanya…,” ucapan Jiyeon terputus saat Donghae mengintrupsi dengan sebuah ajakan konspirasi yang membuat pupil Jiyeon melebar.

“Jika kau bersedia, aku akan membantumu.”

****

11.00 PM

Siwon’s Room

Walk in Closet

“Tidak ada perkembangan signifikan pada kondisi istriku Dokter Park, Jiyeon semakin tidak terkendali. Dia selalu mengamuk, bahkan Jiyeon juga melukai dirinya sendiri. Aku lelah dan merasa bersalah tiap kali harus memaksanya menelan pil penenang, atau saat aku harus memukulnya hingga pingsan agar ia berhenti menyakiti dirinya sendiri.”

Siwon mengusap wajah frustasinya, kematian bayi mereka 3 tahun silam telah merenggut semua kebahagian yang ia miliki bersama wanita yang sangat ia cintai. Song Jiyeon mengalami depresi berat paska kematian bayi mereka karena sebuah kecelakaan tak terduga. Jiyeon yang kala itu sedang mengendong putra mereka di depan beranda atas terpeleset hingga mengakibatkan tubuhnya limblung, gendongan Jiyeon pada bayi mereka terlepas, bayi mereka pun jatuh dari beranda lantai dua dan meninggal di tempat.

“Dulu dia selalu menyalahkan dirinya sendiri, namun akhir-akhir ini dia selalu menyalahkanku. Dia juga mengatakan jika ada suara aneh yang memanggilnya, membisikkan satu fakta yang membuat Jiyeon percaya jika akulah menyebab kematian bayi kami 3 tahun yang lalu.”

Helaan napas berat di seberang sana menghentikan ucapan Siwon, pria itu mendengarkan hasil pemeriksaan Jiyeon seminggu lalu. Jiyeon mengamuk dengan memukul dirinya sendiri hingga babak belur dan akhirnya tertidur setelah Siwon memaksa wanita itu untuk menelan pil anti depresan yang telah Jiyeon konsumsi sejak 2 tahun silam.

“Anda benar Tuan Choi, keadaan istri anda sudah semakin parah, Nyonya Jiyeon harus segera di bawa ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan yang lebih intensif sebelum dia semakin membahayakan dirinya sendiri dan juga dirimu, Tuan Choi.”

“Aku mengerti. Aku sangat mencintai istriku Dokter Park jadi lakukan yang terbaik.” Siwon menghentikan kalimatnya saat ia menangkap bayangan seseorang melewati pintu walk in closet miliknya. “Aku akan menghubungimu lagi nanti, terima kasih Dokter Park.”

“Bersiaplah ketika Devil memanggilmu.”

THE END

Enjoy My FanFiction ^^

 

 

 

 

 

5 Comments (+add yours?)

  1. yulia
    Aug 31, 2015 @ 13:09:28

    ceritanya ga ketebak,Kira in emang Siwon yg kejam ga taunya Jiyeon yg depresi…
    daebak Author….!!

    Reply

  2. shoffie monicca
    Aug 31, 2015 @ 16:58:39

    kupikir siwon itu jht trnyata eh jiyong yng depresi hah ada sequel ngga thor buat ff ini..

    Reply

  3. Laili
    Aug 31, 2015 @ 19:27:28

    gila keren bgt fanfict nya.gk nyangka endingnya bakal kek gini

    Reply

  4. i'm2IP
    Sep 13, 2015 @ 22:24:02

    Wahahahha.. ff nya bikin mata ku gak kedip2.. penasaran banget.. awalnya ngira siwon yg jahat.. tapi lama kelama nyadar kalo cewenya yg jahat pas tau dia kehilangan bayinya disitu mulai curiga.. ehhhh.. bener pas jiyeon ngamuk dugaan semakin kuat.. duhhhh.. kasian siwon oppa T.T… jangan mati dong.. donghae lagian kenapa ngebunuh siwon? Hiksss sedih.. dan aku jadi ngebayangi yg ngeri saat donghae masih di rumah sama jiyeon.. hati2 donghae.. hati2.. hehehe.. daebak thor ffnya.. bikin deg2an.. good job.. seribuuuu jempol buat author😀

    Reply

  5. ElvaZavier
    Nov 27, 2015 @ 16:02:33

    Omo !! ternyata devil nya si Jiyeon … haduuhh .. knp donghae oppa gak menyelidiki dulu sebelum main bunuh aja . aigoo … dia udah kena hasutannya Jiyeon . ckck …
    tp keren ffnya. bikin reader jd deg2an ..😀

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: