I Want To Tell You

I Want To Tell You

 

Author : GuiKyu

Cast : Park Minhye (OC)

Cho Kyuhyun

Genre : Romance

Rated : PG-15

Length : Ficlet

Disclaimer : This FF pure of my mind. Don’t copy without permission! Don’t be plagiarysm! Give your comment or suggestion below, please^^ Enjoy reading🙂 Sorry for typo!

 

 

Aku melirik jam tanganku sambil mendesah tidak sabar. Sudah satu jam berlalu sejak aku menginjakkan kaki disini dan bocah menyebalkan itu belum juga menampakkan batang hidungnya. Seharusnya sejak 45 menit yang lalu ia sudah muncul dihadapanku. Tapi nyatanya dari kerumunan penumpang lain yang keluar aku sama sekali tidak melihatnya. Bocah itu tidak sedang mempermainkanku kan? Kualihkan pandanganku dari gate penerbangan international sambil membuang napas kasar. Awas saja kalau lima menit lagi dia tidak segera muncul, aku bersumpah tidak akan bersedia menyambutnya di bandara lagi!

“Hai!” Seseorang menepuk pundakku dari belakang.

Aku menoleh dan berniat memaki orang sok kenal yang melontarkan sapaan sok akrab tersebut. Aku menganga terkejut sekaligus bingung. Sederet makian yang sudah tersusun rapi di otakku lenyap begitu saja. Bagaimana bisa? Bocah itu dengan senyum tanpa dosanya sedang berdiri dihadapanku. Menatapku dengan pandangan sumringah? Apa aku tidak salah lihat? Sejenak aku tertegun, menatap wajah yang hampir satu bulan ini tak kulihat. Wajah yang kurindukan meskipun aku tak mungkin mengakui dihadapannya. Astaga, bocah ini kenapa semakin tampan saja? Atau karena efek tidak bertemu sehingga membuatku sebegitu terpesonanya?

“Kenapa menatapku seperti itu? Aku tahu kalau aku tampan. Kau menatapku seolah ingin memakanku.”

Katanya santai yang membuat wajahku panas. Apa sebegitu mudahnya pikiranku terbaca? Hey, sejak kapan bocah ini punya kemampuan membaca pikiranku? Aku masih bertahan tak bergeming sambil memperhatikannya. Tak kuhiraukan pipiku yang semakin merona ketika ia balas menatap tajam ke arahku. Aku tertegun sambil menatap mata cokelat gelap yang jernih itu. Berusaha menyelami apa yang sedang dipikirkannya. Sekilas kulihat kilat kegembiraan di matanya. Sorot matanya yang tajam seolah mengintimidasiku kini berubah menjadi tatapan teduh yang menenangkan. Bolehkah aku menyimpulkan bahwa bocah ini merindukanku? Dengan sekali sentakan ia membawaku ke dalam pelukannya. Melingkupi tubuhku dengan kungkungan posesifnya. Napas hangatnya menggelitik telingaku ketika ia berbisik parau tepat disana.

“Kau tidak merindukanku? Sialnya aku sangat merindukanmu.”

Gotcha! Bocah ini benar-benar merindukanku. Sejenak bagaikan ada ribuan kupu-kupu yang terbang di dalam perutku. Menggelitik dan membuat perasaan meluap-luap yang tak pernah kumengerti setiap kali aku melakukan kontak fisik dengannya.

“Hmmm.” Gumamku mengiyakan pertanyaannya. Ia melepaskan pelukannya dan berkacak pinggang sembari mengangkat sebelah alisnya.

“Hmmm? Hanya itu? Jawaban macam apa itu?” Ia mengkat dagu tanda protes dan sebagai bentuk kekesalannya. Aku ikut mendongakkan daguku. Balas menantangnya.

“Lalu kau berharap jawaban seperti apa, heh? Sudahlah, ayo pulang! Aku lelah.” Jawabku sambil berlalu meninggalkannya yang masih melotot menatapku. Kemudian mendengus dan bergegas mengikutiku.

****

“Jadi kau benar-benar tidak merindukanku?” Tanyanya untuk yang entah keberapa kali sejak kepulangan kami dari bandara. Aku meletakkan makanan hasil masakanku dengan kasar di meja, sedikit terganggu dengan pertanyaannya yang hampir menyerupai rengekan bocah berumur lima tahun yang ingin dibelikan mainan baru oleh ibunya. Aku menyilangkan kedua tanganku di depan dada dan mengangkat sebelah alisku menatapnya.

“Lalu?” Jawabku dingin. Aku benar-benar kesal sekarang. Bocah itu terus mengekoriku sedari tadi sambil merengek menanyakan pertanyaan yang sama hampir setiap menitnya.

“Lupakan saja! Aku lapar.” Cetusnya menarik kursi dan mendudukinya dengan kasar. Mengambil makanan dengan tergesa dan melahapnya dengan segera membuatku menatapnya geli dan mati-matian menahan tawaku agar tidak meledak. Aku menatap penuh minat pria yang hampir setahun ini tinggal bersamaku. Ya, bocah menyebalkan ini suamiku. Jangan salahkan aku yang menyebutnya bocah karena kelakuannya sama sekali tidak mencerminkan seorang pria. Bayangkan saja, di usia dua puluh tahun ia masih kerap bertingkah kekanakan. Merengek seperti bocah. Jangan berpikir kami menikah di usia semuda ini karena sebuah insiden kecelakaan remaja. Bukan. Semuanya bermula ketika ayah kami yang membuat perjanjian terkutuk itu semasa mereka di sekolah menengah. Perjanjian menjodohkan anak mereka yang sialnya masih berlaku hingga kami sama-sama duduk di bangku sekolah menengah. Waktu itu Cho Kyuhyun, bocah menyebalkan yang sekarang menjadi suamiku itu masih menjadi pendatang baru di Seoul pasca kepindahannya dari Jepang. Kami yang tidak saling mengenal dan tidak tahu apa-apa—well, mungkin hanya aku yang tidak tahu rencana terkutuk itu karena faktanya Kyuhyun sudah tahu terlebih dulu hanya saja ia tidak tahu siapa partner ‘jodohnya’—tiba-tiba dipertemukan dan diberitahukan kabar yang cukup mengejutkan. Terlebih lagi tanggal pernikahan yang sudah ditentukan di luar persetujuan kami. Aku tersenyum geli membayangkan bagaimana hubungan kami di awal pernikahan yang waktu itu kami sama-sama masih duduk di bangku Senior High. Hubungan yang jauh dari kata harmonis dan rukun meskipun aku tidak membenarkan bahwa hubungan kami kini rukun dan tanpa pertengkaran. Hanya saja intensitasnya tidak sesering dan seekstrem dulu. Maksudku, kami memang sering bertengkar tapi hanya permasalahan sepele dan setelah itu kami berbaikan. Aku masih betah menatap Kyuhyun yang makan dengan ekspresi kesalnya. Sedikit mengernyit ketika menyadari pipinya yang sedikit lebih tirus dan sedikit err…. kurang terawat. Terlepas dari itu, ia masih tetap tampan dan mempesona seperti biasa. Pesona yang mampu mengintimidasiku dengan sorot matanya yang tajam dan terkadang menenangkan. Astaga, apa yang kupikirkan? Kalau bocah itu tahu aku menyanjungkan di dalam kepalaku, dia pasti besar kepala dan menggodaku habis-habisan.

“Kenapa tidak makan? Kau tidak akan kenyang hanya dengan menatapku tanpa berkedip seperti itu.” Kyuhyun berkata ketus menyela pikiranku yang melayang flashback. Inilah salah satu kelebihannya. Selalu mengetahui ketika aku menatap dan memikirkannya diam-diam. Atau kecerobohankulah yang menatapnya secara terang-terangan? Entahlah. Dan kekuranganku yang teramat kubenci adalah selalu salah tingkah dengan wajah merah padam ketika tertangkap basah sedang menatapnya. Seperti sekarang ini. Selalu saja seperti ini. Membuatku ingin segera pergi dari hadapannya dan menyelamatkan wajahku yang semakin memerah.

“Ah… emm.. itu.. eh.. aku sudah kenyang. Lanjutkan makanmu! Dan makan yang banyak! Kau tampak sedikit kurus, Gyul!” Jawabku terpatah-patah masih dengan nuansa wajah bersemu merah sembari bangkit dari dudukku dan mencubit kedua pipi Kyuhyun gemas. Lalu berlalu begitu saja meninggalkan Kyuhyun yang masih tertegun. Sedikit berlari memasuki kamar dan menutup pintunya kuat-kuat menahan gejolak salah tingkah. Sebelum menutup pintu samar-samar aku mendengar Kyuhyun yang terkekeh geli menatap kepergianku. Sialan!

****

“Aku mencintaimu.” Blush! Lagi-lagi wajahku merah padam ketika dengan tiba-tiba Kyuhyun memelukku dari belakang sembari membisikkan kalimat sakral yang teramat membuatku salah tingkah. Dan bodohnya aku selalu saja melayang dibuatnya. Kakiku mendadak lemas dan hampir saja terjatuh ke lantai seperti agar-agar kalau saja bocah itu tidak mengeratkan pelukannya pada perutku, membuatnya terkekeh geli kemudian menenggelamkan wajahnya pada lekukan leherku. Mengambil napas dalam-dalam disana seolah sedang membauiku, membuatku menahan napas dan susah payah meraup oksigen di sekelilingku.

“Aish, kau mengagetkanku.” Ketusku untuk menutupi kegugupanku.

“Kenapa? Apa yang kau pikirkan? Kau sedang melamun? Ya! Siapa yang sedang kau lamunkan? Kau tampak gugup.”

“Apa yang kau bicarakan, bodoh?? Aku hanya sedang melihat pemandangan kota Seoul di bawah sana saat tiba-tiba kau mengagetkanku.” Protesku tak terima dengan tuduhannya. Ia mendengus sambil menatap tajam ke arahku, “Benarkah?”

Aku membalikkan badan hingga kami sekarang berhadapan, menatap Kyuhyun gemas. “Tentu saja, Kyuhyun pabo!” Jawabku sambil menangkup pipinya membuatnya menarik pinggangku mendekat. Menghapus jarak di antara kami. Aku menahan napas—lagi—saat deru napasnya menabrak wajahku. Sedetik kemudian partikel lembut mendarat di atas bibirku. Menempel disana beberapa detik kemudian ia menjauhkan wajahnya sambil tersenyum senang. “Syukurlah kalau begitu.” Kyuhyun tersenyum seperti bocah, tidak menghiraukan debaran jantungku yang menggila dan wajahku yang menyerupai kepiting rebus. Aish, bocah ini!

“Kenapa…. tiba-tiba…??” Ucapku gelagapan.

“Huh??” Kyuhyun menatapku dengan tatapan bocahnya. Membuatku benar-benar ingin memukul kepalanya gemas agar ia sadar berapa usianya sekarang.

“Kenapa tiba-tiba mengatakan mencintaiku?” jawabku polos.

Kyuhyun berdecak sembari melepas pelukannya pada pinggangku.

“Memangnya kenapa? Apa harus ada moment-moment tertentu untuk mengatakan aku mencintaimu?” Jawabnya sarkatis. Dia… tersinggung??

“Tentu saja tidak. Aku hanya terkejut sekaligus bingung karena tadi kau tiba-tiba berada di belakangku kemudian mengatakannya.” Cicitku pelan, takut menyinggung perasaannya lebih jauh.

“Lalu apa salahnya dengan itu? Memangnya kau— jangankan mengatakan mencintaiku, membalas pernyataan cintaku saja, kau hampir tidak pernah.”

“Apa salahnya dengan itu? Kau terlalu membesar-besarkan masalah sepele, Kyu!” Emosiku mulai terpancing. Oke, aku tahu ini berlebihan. Harusnya aku tidak menanyakan masalah ini tadi. Park Minhye, kau bodoh!

“Masalah yang kau bilang sepele itu bisa saja jadi besar kalau ada salah satu pihak yang mulai merasa bosan dengan sikapmu itu.” Mataku membelalak. Tidak percaya dengan kata-katanya. Dia… benar-benar marah?

“A-apa maksudmu?” Tanyaku tergagap.

“Silakan kau pikir sendiri. Dan aku heran kenapa kau selalu menghancurkan setiap moment romantis yang dengan susah payah kulakukan.” Dia berbalik kemudian pergi meninggalkanku sendirian di balkon. Merenung menatap punggungnya yang menghilang di belokan lorong apartemen kami.

****

Ketika aku terbangun di pagi hari aku tidak menemukan sosoknya di sampingku. Aku menghela napas berat. Sebegitu marahnya kah? Aku turun dari tempat tidur dengan langkah gontai. Berjalan ke arah jendela kemudian membuka tirainya. Aku mengernyit menyadari cahaya yang masuk ke retina mataku begitu menyilaukan. Aku berbalik dan terkejut ketika melihat jam dinding. Jam 10! Pantas saja Kyuhyun sudah bangun. Tapi tidak biasanya bocah itu tidak menungguku bangun di atas tempat tidur. Cho Kyuhyun benar-benar marah!

 

“Ya! Park Minhye! Kau tahu ini jam berapa dan kau masih— eoh? Kau sudah bangun?” Aku menatap aneh ke Yoora yang tiba-tiba masuk ke kamarku.

“Kau…. apa yang kau lakukan disini?” Tanyaku datar. Moodku sedang benar-benar buruk untuk menerima tamu.

“Mwo? Apa maksudmu dengan apa yang kulakukan disini? Seharusnya aku bertanya apa yang kau lakukan? Bangun kesiangan dan membiarkan aku berjam-jam menunggumu di perpustakaan kampus? Jangan katakan kalau kau lupa!” Hardik Yoora kasar. Astaga! Aku melupakannya.

“Ah, itu…. hehe maaf. Aku—”

“Jadi kau melupakannya? Astaga! Kalau aku tidak ingat kau sahabatku, aku sudah mencekikmu sekarang juga.” Aku bergidik mendengar ucapan Yoora. Gadis itu feminim dan perangainya lembut, tapi ia berubah menjadi menyeramkan jika sedang marah atau kesal.

“Jadi sekarang bagaimana?? Deadlinenya 2 hari lagi sedangkan kau sudah membuang waktu berharga kita dengan sia-sia dan sayangnya sekarang moodku untuk mengerjakan tugas sudah hilang.” Putus Yoora setelah hanya mendapatkan tanggapan berupa cengiran tanpa dosa dariku.

“Aku juga sedang dalam suasana tidak mood untuk mengerjakan tugas.” Aku mengedikkan bahu sembari keluar kamar dan berniat mencari tahu dimana keberadaan Kyuhyun.

“Kau sedang apa?” Yoora mengekor di belakangku dan menatapku penasaran. Bahuku melemas ketika yang kucari ternyata tidak ada di apertemen ini. Bahkan ia tidak meninggalkan note seperti biasanya atau mengirimiku pesan. Aku membanting tubuhku di sofa dan Yoora melakukan hal yang sama. Masih menatapku dengan tatapan penasaran.

“Ya! Kau ini kenapa? Aku bertanya padamu, pabo!” Gadis itu berteriak tidak sabar ketika mendapati diriku yang hanya diam mematung tanpa menghiraukannya sama sekali.

“Kyuhyun..” cicitku pelan.

“Kyuhyun?? Ada apa dengan Kyuhyun?”

“Dia tidak ada di apartemen.” Jawabku lesu.

“Bukankah Kyuhyun baru saja keluar?”

“Jinja?? Bagaimana kau tahu?”

“Aku tadi berpapasan dengannya di lorong dekat lift.” Yoora mengedikkan bahu sembari mengambil majalah di bawah meja. Aku terdiam sementara ia sibuk membolak balik majalah musik milikku.

“Ada apa??” Tanya Yoora setelah keheningan yang menyelimuti kami beberapa saat lalu.

“Apa?” Tanyaku polos tak mengindahkan tatapan tajamnya. Berpura-pura baik-baik saja mungkin lebih baik.

“Tidak usah pura-pura bodoh. Aku tahu ada yang tidak beres denganmu. Tidak, maksudku kalian berdua.” Yoora memajukan tubuhnya, Mencoba mengintimidasiku rupanya.

“Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan.” Aku tetap bersikukuh untuk tidak membicarakannya pada Yoora. “Apa lagi yang kau sembunyikan Minhye-ya, Kyuhyun sudah menceritakan semuanya padaku.” Apa? Yoora tersenyum puas melihat ekspresi kaget yang kentara sekali pada wajahku.

“Jangan mencoba menipuku, Shin Yoora. Kami benar-benar baik-baik saja!” Batinku seolah mempercayai ucapan Yoora, tapi di sisi lain aku meyakini bahwa ini hanya akal-akalan gadis itu saja.

“Kau pikir bagaimana aku bisa masuk kemari kalau bukan Cho Kyuhyun sendiri yang memberitahu password apartemen kalian? Kami sedikit banyak berbincang sebelum aku masuk kemari dan dia pergi entah kemana.” Aish, sejak kapan Kyuhyun jadi dekat dengan Yoora? Sebenarnya gadis ini sahabat siapa? Bisa-bisanya dia mendengar curahan hati Kyuhyun. Ya! Kenapa aku tiba-tiba kesal?? Aku menghela napas berat sebelum mulai menceritakannya pada Yoora. Mungkin dengan begitu akan sedikit membantu menemukan solusi. Semoga saja! Meskipun terkadang gadis itu tidak bisa diandalkan.

“Apa yang akan kau lakukan jika seseorang yang kau cintai mengatakan bahwa ia mencintaimu?” Yoora mengernyit kemudian terdiam cukup lama. Tiba-tiba ia menoleh dan menatapku tajam.

“Astaga! Kau menyukai seseorang? Dan orang itu baru saja menyatakan cinta padamu?” Tanyanya dengan mata melotot tajam ke arahku.

“Apa yang kau pikirkan, bodoh? Tentu saja tidak! Kalaupun iya, orang itu jelas-jelas adalah Kyuhyun.” Jawabku sembari memukul kepalanya agar tidak berpikiran tidak-tidak.

“Maksudmu, Kyuhyun mengatakan cinta padamu?” Aku mengangguk.

“Lalu apa masalahnya? Bukankah wajar kalau mengatakan cinta pada pasangan?”

“Ya! Kau bilang Kyuhyun sudah menceritakannya padamu, kenapa kau masih tidak mengerti?” Kataku jengkel dengan pemikiran lambatnya. Well, kuakui jika kemampuan berpikirku memang sedikit lamban. Hanya saja Shin Yoora jauh lebih parah di bawahku.

“Ah.. itu… Sepertinya apa yang Kyuhyun ceritakan berbeda dengan masalah yang ingin kau ceritakan.”

“Memangnya apa yang ia ceritakan?” Aku menuntut penjelasan darinya tapi sialnya ia mengabaikanku.

“Sebentar, jadi maksudmu… jika aku menjadi kau, lalu ketika Cho Kyuhyun mengatakan cinta padaku.. kau mau tahu apa yang akan kulakukan?” Aku mengangguk meskipun aku kesal setengah mati padanya.

“Tentu saja aku akan menjawab dengan ‘nado’ atau ‘Aku juga mencintaimu’ atau aku akan menciumnya sekilas baru mengucapkan salah satu dari kata-kata yang telah kusebutkan tadi. Well, memangnya apa yang kau lakukan setelah Kyuhyun mengatakannya?” Aku membulatkan mata mendengar jawaban Yoora. Astaga! Tidak pernah terpikir hal seperti itu di otakku.

“Astaga! Apa tidak ada opsi lain?” Teriakku histeris.

“Memangnya kenapa? Itu ungkapan paling wajar yang digunakan jika pasanganmu atau seseorang mengatakan mencintaimu, kecuali kalau kau memang tidak mencintai orang itu” Jawabnya santai.

“Memangnya mencintai seseorang harus diungkapkan dalam bentuk verbal?” Cibirku tidak menyetujui kata-katanya.

“Minhye-ya tidak semua orang bisa mengartikan perasaan cinta yang dilakukan melalui perbuatan. Terkadang seseorang butuh kepastian cinta yang diungkapkan melalui pengakuan. Banyak orang yang mengartikan perhatian lebih yang diberikan seseorang padanya sebagai bentuk ungkapan cinta. Tapi pada kenyataannya siapa tahu jika itu hanyalah sebatas bentuk simpati atau kepedulian orang itu kepada kita. Jadi intinya, pengungkapan cinta melalui pengakuan itu penting.”

“Tapi Kyuhyun tidak pernah protes selama ini. Kecuali… tadi malam.” Tiba-tiba perasaanku memburuk. Jadi… begitukah selama ini yang Kyuhyun rasakan? Kyuhyun adalah tipikal pria dengan gengsi selangit. Jika ia bisa mengesampingkan gengsinya untuk menyatakan perasaannya berkali-kali padaku, lalu kenapa aku tidak? Ya Tuhan, Kyuhyun benar. Bahkan sekali saja aku tidak pernah menyatakan cintaku padanya kecuali saat pertama kali ia mengungkapkan perasaannya, pada saat beberapa bulan pernikahan kami berjalan. Itupun aku hanya menggumamkan kata ‘nado’ tidak jelas karena dengan refleks aku memeluknya dan menenggelamkan wajahku di dadanya, terlalu malu untuk menjawab dengan jelas. Kyuhyun… tiba-tiba aku ingin menangis dan memeluknya.

“Kalian bertengkar?” Yoora mengelus punggungku pelan berusaha menenangkanku.

“Aku tidak yakin bisa disebut bertengkar atau tidak, tapi Kyuhyun sama sekali tidak berbicara padaku sejak tadi malam. Bahkan ia pergi sebelum aku bangun, dan aku sama sekali tidak tahu kemana ia pergi.” Jawabku memelas. Sungguh perasaanku benar-benar kacau saat ini. Bagaimana kalau ia sudah lelah menghadapiku? Bagaimana kalau ia mulai bosan dengan tingkahku seperti yang dikatakannya semalam? Tidak! Tidak! Itu mimpi buruk!

 

Tiba-tiba Kyuhyun muncul dari pintu apartemen dan menoleh ke arah kami sekailas. Maksudku menoleh ke arah Yoora lalu tersenyum tipis padanya kemudian berlalu menuju kamar tanpa menatapku sama sekali.

 

“Yah! Ini kesempatanmu untuk mencairkan situasi.” Yoora menepuk-nepuk bahuku dengan semangat.

“Apa yang harus kulakukan?” jawabku ragu. Jujur saja aku takut kalau Kyuhyun tidak mau berbicara denganku.

“Tentu saja katakan kalau kau mencintainya, bodoh! Bagaimana bisa Kyuhyun tahan menghadapi sikap bodohmu selama ini?” Yoora mencibir dan membuatku melotot ke arahnya.

“Kau gila? Bahkan dia tidak mau menatap ke arahku! Bagaimana bisa aku tiba-tiba mengatakan itu padanya?” Teriakku tertahan sedangkan gadis di hadapanku hanya tersenyum meremehkan sambil menggelengkan kepalanya.

“Kau benar-benar bodoh Minhye-ya jika kau terus-terusan mempertahankan gengsimu yang setinggi langit itu bahkan di depan suamimu sendiri. Tidak bisakah kau menyerah pada gengsimu sendiri?”

“Yah! Ini bukan masalah gengsi atau harga diri, Yoora. Ini hanya masalah situasi yang tidak tepat!”

“Justru karena itu kau harus mengembalikannya pada situasi yang tepat, bodoh! Sekarang temui Kyuhyun kalau kau memang sudah membuang jauh-jauh gengsi sialanmu itu sebelum kau menyesal!”

Sebelum aku sempat membalas ucapannya, Yoora sudah menarikku ke depan pintu kamar dan mengetuknya dengan tidak sabaran.

“Yah! Shin Yoora, demi Tuhan aku bisa nenyelesaikannya sendiri!” Aku memprores tindakannya yang di luar prediksiku. Belum lagi cengkraman tangannya di lenganku membuatnya terasa berdenyut nyeri. Aku menatapnya dengan tatapan memelas tapi ia sama sekali tidak terpengaruh. Sialan! Sungguh, aku tidak ingin membuat diriku sendiri tampak konyol dan memalukan di depan Kyuhyun jika seperti ini. Well, bahkan aku masih menyanjung gengsiku tinggi-tinggi? Ya ampun!

 

“Buang jauh-jauh gengsimu, Minhye-ya! Ingat?” Sebelum aku sempat melanjutkan protesku tiba-tiba pintu terbuka dan menampakkan sosok Kyuhyun dengan ekspresi tak terbaca. Aku menggigit bibir bawahku cemas sementara Yoora mendorongku masuk melewati pintu dan menutupnya segera hingga menimbulkan bunyi berdebum yang keras. Membuatku memundurkan tubuhku satu langkah agar tidak menabrak tubuh Kyuhyun.

*****

 

Satu hal yang kurasakan saat berada dalam ruangan yang sama dengan Kyuhyun pasca perdebatan berujung awkward semalam, atmosfir yang begitu terasa berbeda dari sebelumnya yang belum pernah kurasakan. Aku merasa asing dengan segalanya. Tatapannya datar tapi begitu dingin menusuk hingga membuatku gemetar dan ingin menangis. Tidak ada lagi tatapan bocah 5 tahun atau tatapan jahil dan mengintimidasinya. Tidak ada lagi senyum hangat dan senyum menggodanya yang membuatku kesal setengah mati. Membuatku tercekat dan merasa sesak. Ya Tuhan, apa yang harus kulakukan?

Mataku memanas dan bulir-bulir air mata mulai mendesak keluar. Aku menunduk dan menggigit kuat bibir bawahku, mencoba meredam isakanku walau faktanya tidak berhasil. Dari pandanganku yang tertunduk dengan mata yang sedikit mengabur aku bisa melihat bahwa Kyuhyun sedikit terperanjat ketika mendengar isakan kecilku.

“Aku…. menyesal—” bisikku parau hampir tak terdengar.

Lama aku terdiam menunggu respon darinya namun sepertinya aku harus merasa kecewa karena tidak ada tanda-tanda darinya untuk merespon.

Aku memberanikan diri mendongak menatap wajahnya meskipun air mataku semakin keluar tak terkendali. Dia masih sama. Diam tak bergeming, datar tanpa ekspresi. Membuat hatiku meringis perih.

Persetan dengan gengsi! Aku benar-benar sudah tidak tahan. Aku menghambur ke pelukannya dan membenamkan wajahku di dadanya. Kyuhyun sedikit terkejut tapi tidak menolak juga tidak membalas. Membuatku lagi-lagi kecewa. Tapi itu lebih baik daripada ia medorongku dan menarikku keluar dari kamar.

“Mianhae, Kyu! Maafkan aku. Aku tidak tahu kalau selama ini kau tersiksa menanti pernyataan cintaku ataupun hanya sekedar membalas pernyataan cintamu. Aku… aku benar-benar tidak tahu. Aku tahu kalau aku begitu bodoh dengan menjunjung tinggi gengsiku. Aku juga tidak seharusnya bersikap arrogan di depan suamiku sendiri. Aku bodoh dan kekanak-kanakkan. Mianhae…” Tangisku yang sedari tadi kutahan akhirnya pecah begitu saja. Pertahananku yang sedari tadi mati-matian kubentengi runtuh seketika. Aku menangis sejadi-jadinya masih dalam pelukan Kyuhyun hingga kurasakan kemeja bagian depan pria itu basah. Tubuhku bergetar hebat sementara tubuhnya masih sama, diam tak berkutik. Lagi-lagi aku merasa kecewa dan diabaikan. Sebegitu buruknyakah aku di hadapannya kini? Aku melepas pelukanku dan sekali lagi menatap wajahnya. Kemudian terkesiap ketika menyadari bahwa tidak ada perubahan emosi yang berarti pada raut wajahnya. Ekspresinya sekeras batu dan tatapannya tetap sedingin es. Aku menyerah! Aku berjongkok dan menangkupkan kedua tangan menutupi wajahku. Beginikah rasanya diabaikan? Terlebih ketika diabaikan oleh orang yang begitu kau cintai. Rasanya seperti disiram dengan air es. Begitu dingin, membuatmu menggigil dan membeku hingga mati rasa.

“Mianhae.. Aku mencintaimu! Sungguh! Hanya saja kupikir tanpa aku memberitahumupun kau sudah tahu perasaanku yang sebenarnya. Aku tidak pernah berpikir bahwa kau juga butuh pengakuan secara langsung. Mianhae… jangan perlakukan aku seperti ini—kau boleh memakiku asal jangan mendiamkanku seperti ini. Aku—” racauanku terhenti ketika aku tersedak salivaku sendiri. Aku sudah tak sanggup lagi berkata-kata, hanya membiarkan tubuhku masih berjongkok gemetaran dengan tangan menutup wajah sambil melanjutkan tangisanku yang tak kunjung mereda.

“Sekarang siapa yang lebih terlihat seperti bocah? ”

Apa? Aku mendongak dan sedikit beringsut ke belakang ketika menyadari tiba-tiba Kyuhyun sudah berjongkok di depanku dengan pandangan meremehkan. Tampak senyum mengejek tercetak jelas di bibirnya. Aku terdiam dan menatapnya dengan tatapan bingung.

“Berapa usiamu, heh? Kau tampak menggelikan dengan tingkah konyolmu yang meraung-raung seperti bocah berusia 5 tahun yang tidak dibelikan boneka oleh ayahnya.” Kyuhyun mengusap pipiku, menghapus air mataku dengan ibu jarinya sembari tersenyum lembut.

“Kau—tersenyum?” tanyaku ragu. Memastikan bahwa penglihatanku masih benar meskipun mataku mulai terasa perih dan kabur oleh air mata.

“Menurutmu?” Kyuhyun menatapku geli sementara aku sibuk mengamati ekspresi wajahnya.

“Aigoo, lihatlah wajahmu. Kau tampak seperti badut dengan mata membengkak dan hidung memerah seperti ini.”

“Kau pikir karena siapa huh aku seperti ini? Kau benar-benar menyebalkan dan tidak berperasaan. Kau menatapku seolah ingin mengulitiku hidup-hidup. Membuatku merasa benar-benar sudah tidak diinginkan. Kau menyebalkan, Gyul!” aku memukul-mukul dadanya brutal. Kesal dengan sikap dinginnya yang seolah tidak peduli hingga membuatku sesak dan menangis sampai mataku pedih.

“Yah! Yah! Hentikan! Aku belum mengatakan kalau aku memaafkanmu dan kau sekarang dengan brutalnya memukuliku?”

“Aku sudah meminta maaf dengan setulus hati dan mengabaikan gengsiku tapi kau masih belum memaafkanku? Keterlaluan!” baru saja aku akan menjambak rambutnya tapi Kyuhyun sudah menangkap tanganku dan menahannya di belakang tubuhku. Kejadian berikutnya yang tidak kusangka-sangka adalah ia mengecup dahiku lembut dan penuh perasaan. Membiarkannya berlangsung selama beberapa detik dan membuat jantungku bekerja tiga kali lipat dari kinerja biasanya ketika selesai lari marathon.

“Katakan sekali lagi!” napas hangatnya menampar wajahku dan membuatku tersadar dari kelinglunganku.

“Apa?” tanyaku gugup. Bodohnya aku, kenapa masih selalu saja gugup ketika ditatap dengan pandangan seperti itu dan terlebih ketika dalam jarak sedekat ini? Aish, wajahku!

“Kubilang katakan sekali lagi!” ulangnya dengan sabar. Terkadang aku membenarkan ucapan Yoora bahwa bagaimana bisa Kyuhyun selama ini bertahan menghadapi sikapku? Aku mengernyit, namun akhirnya aku tetap patuh.

“Aku sudah meminta maaf dengan setulus hati dan mengabaikan gengsiku tapi kau masih belum memaafkanku? Keterlaluan!” ulangku dengan menatapnya bingung. Kyuhyun menghela napas berat sembari menatapku jengah. Apanya yang salah?

“Maksudku, katakan sekali lagi kalau kau mencintaiku!”

“Yaa?? Ha—haruskah?” Kyuhyun mengangguk semangat dan tersenyum seperti bocah. Menatapku dengan tatapan memohon. Aku balas menatapnya dengan memohon dan memelas. Ayolah, tadi aku sudah mengatakannya. Well, gengsiku telah kembali pada tempatnya!

Aku menggigit bibir bawahku bimbang. Antara mau dan tidak mau. Tapi melihat tatapan Kyuhyun yang begitu berharap aku jadi tidak tega menolaknya. Yah! Gengsi, pergilah jauh-jauh untuk saat ini!

“A-aku—” Aku membuang napas berat. Seolah ada sesuatu yang menyangkut di tenggorokanku dan perlahan mencekikku. Kutatap Kyuhyun yang memandangku berbinar seolah meyakinkanku. Aku menunduk menghindari tatapannya yang membuatku merasa bersalah. Namun dia menyentuh daguku dan mendongakkannya agar menatapnya lagi.

“Aku……” Aish, ayolah Park Minhye, kau pasti bisa! Hanya katakan padanya bahwa kau mencintainya dari dalam hatimu seperti tadi kau mengatakannya. Jangan mengecewakannya lagi. Aku menarik napas dan menghembuskannya perlahan, menyingkirkan gengsi yang selama ini mendarah daging padaku.

“Aku mencintaimu, Gyul!” ucapku tulus. Seulas senyum tipis tertarik dari sudut bibirku. Disusul perasaan lega luar biasa yang menyelimuti hatiku seolah semua beban beratku terlepas begitu saja. Kyuhyun menatapku dalam kemudian tersenyum lebar ketika puas mendengar apa yang selama ini ingin ia dengar.

“Aku juga mencintaimu, Nyonya Cho!” ucapnya lirih menahan perasaan bahagianya yang meluap-luap. Bagaimana aku tahu? Tergambar jelas di matanya yang berbinar. Mata favoritku! Kyuhyun menangkup wajahku dengan kedua tangannya kemudian menariknya mendekat ke arahnya. Sedetik kemudian aku tersadar bahwa ia sudah melumat bibirku dengan lembut dan hati-hati. Ciuman kami yang entah keberapa kali. Namun efeknya tetap saja membahayakan jantungku. Gerakan bibirnya yang semula lembut perlahan berubah menjadi terkesan menuntut membuatku mau tidak mau memejamkan mataku dan membalas lumatannya. Aku bisa merasakan ia tersenyum di sela-sela pagutan bibir kami. Ia menggigit kecil bibirku dan aku membuka bibirku seolah paham maksudnya. Lidahnya menyeruak masuk ke dalam rongga mulutku. Mengabsen satu persatu deretan gigiku dan membelit lidahku. Mencecapnya dengan cara yang begitu ahli hingga membuatku terbuai dan melakukan hal yang sama terhadapnya.

Entah karena pernyataan cinta atau hal lainnya, yang jelas aku begitu bahagia dan lega luar biasa. Entahlah, sensasinya begitu berbeda kali ini. Bukan perasaan berdebar-debar seperti biasanya ketika Kyuhyun menciumku hingga aku tidak bisa menikmatinya. Tapi lebih kepada perasaan bahagia bagaikan ada ribuan kupu-kupu yang terbang diperutmu, membuatmu nyaman dan begitu menikmati setiap detiknya. Meskipun tampaknya hal yang sepele, namun pernyataan cinta bagi setiap pasangan merupakan hal yang penting—seperti kami yang sebenarnya tergolong pasangan anti-romance, yang dalam artian kami tidak suka hal-hal berbau romantis. Namun Yoora benar, bahwa cinta tidak selalu bisa dimengerti jika hanya ditunjukkan dengan perbuatan. Dan cinta juga tidak hanya butuh sebatas pernyataan saja, melainkan juga perlu bukti konkret, dalam bentuk perbuatan. Mestinya keduanya harus berlangsung seirama, ada pernyataan juga harus ada perbuatan. Bukankah sudah seharusnya seperti itu agar setiap pasangan saling memahami satu sama lain dan tidak terjadi kesalahpahaman?

Aku memukul-mukul dadanya ketika pasokan oksigenku mulai menipis dan sialnya ia hanya memiringkan wajahnya untuk mempermudahku bernapas tanpa melepas bibirnya dari bibirku. Dengan sekuat tenaga aku mendorong tubuhnya menjauh dariku hingga pagutan bibir kami terlepas. Aku mendesah lega sambil terengah, meraup oksigen sebanyak-banyaknya.

“Kau—berniat membunuhku, eoh?” Aku menatap tajam ke arah pria—yang sudah berubah menjadi bocah menyebalkan lagi—yang menatapku dengan tatapan menggodanya.

“Membunuh apa? Kau menikmatinya, iya kan? Lihatlah bahkan bibirmu tampak begitu merah dan menggoda, dan juga… err… basah! Dan hey, bahkan bibirku rasanya bengkak dan berdenyut akibat gigitanmu.”

“A-apa?? Yak!! Dasar mesum!!” Aku menerjangnya dan melancarkan aksi brutal yang sejak tadi kurencanakan.

“Yah! Apa yang kau lakukan, hah? Hentikan! Kau merusak rambut indahku, Minhye-ya! Yak! Yak!”

“Biarkan saja! Kau lebih bagus berkepala botak, Gyul mesum! Rasakan ini!”

“YAK!!–”

 

 

—FIN—

4 Comments (+add yours?)

  1. Imyeoninhs
    Aug 31, 2015 @ 19:52:43

    Cute bgt couple ini;3 suka!!(y)

    Reply

  2. shoffie monicca
    Aug 31, 2015 @ 20:37:17

    sosweet bngt couple ini aduh ak jd ngbyngin gtu seandainya ak yng diposisi itu hah psti bhgia bngt…

    Reply

  3. Laili
    Aug 31, 2015 @ 21:19:41

    so sweet bgt… senyum2sendiri bacanya. tapi keknya ini re-post ya?

    Reply

  4. esakodok
    Aug 31, 2015 @ 22:49:15

    aigoo..harus ada penjembatannya dulu baru mereka mau baikan

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: