Silver Of Her [1/?]

silverofher

 

.

.

.

She was both the dream and the nightmare,

and even though she’s gone

she still lingers inside of me.

 

***

2000px-Parental_Advisory_label

.

.

.

Today

 

 

“Ketika melakukanya, apakah anda sadar bahwa anda telah membunuhnya?”

 

Pertanyaan itu terlempar di udara, dinginya tatapan dari hakim agung—membuatnya kembali ke pikiranya. Kursi terdakwa itu, tidak pernah terasa sedingin ini sebelumnya. Matanya teralih ke sebuah gambar yang menunjukan tubuh bersimbah darah dibalut dengan gaun pernikahan berwarna putih yang sudah hancur dengan luka tusuk yang menembus jantungnya.

Dia tidak menjawab, matanya terus menatap dengan lekat gambar itu. Di kursi saksi, dia bisa merasakan tatapan penuh amarah dari mata-mata yang bersiap membunuhnya dalam hitungan detik.

Serpihan-serpihan memori akan kejadian itu terus berputar secara acak di dalam matanya. Tatapan indah itu, rambut coklatnya yang tertata dengan rapih, suara tawa yang berbisik di pendengaranya—dan detik-detik dimana dia menyaksikan mata indah itu tertutup untuk selamanya. Dia tidak akan pernah melupakan semua itu.

“Saya rasa persidangan ini harus di tunda, Tuan Lee Donghae jelas sedang berada di dalam kondisi yang tidak stabil.” Suara pengacaranya memecah keheningan di ruang sidang tersebut.

Hakim agung menatap mereka dengan pandangan terganggu sebelum akhirnya mengetukan palunya tanda bahwa persidangan percobaan ini di tunda untuk kesekian kalinya.

Dua orang polisi menarik Donghae dari kursi terdakwa dan kembali memasangkan borgol yang melingkar di kedua pergelangan tanganya. Dia melewati lorong-lorong dengan jeruji besi di setiap sisinya, pandanganya begitu kosong—dia tidak berbicara sepatah katapun hingga dua polisi itu mendorongnya ke dalam sel besi itu sebelum keheningan kembali menyelimutinya.

Jeruji besi itu terihat sangat menyeramkan untuknya. Dia yang dulu mungkin akan tertawa jika melihat bahwa kini takdirnya membawanya ke tempat yang tidak pernah dia bayangkan sebelumnya.

Dia yang dulu, bukanlah dia yang berada di balik sel ini.

Dia yang dulu adalah seorang pria sempurna, dengan istri dan anak-anak yang menyayanginya.

Dia yang dulu adalah seorang pria yang menghabiskan waktunya untuk bermain di meja saham dengan segelas wine yang datang dari tahun 1960.

Tapi semua itu berubah ketika mata indah itu menghancurkan hidupnya.

 

 

***

 

9 Months Earlier

Hyatt Seoul

 

“Happy seventh anniversary, love.” Suaranya terdengar begitu menggoda, dia membuka kancing kemeja putihnya dengan tidak sabar setelah melihat istrinya datang hanya dengan gaun tidur yang tipis. Malam ini adalah hari peringatan tujuh tahun pernikahan mereka, Lee Donghae menyiapkan dinner romantis di salah satu hotel mewah itu dan menyewa satu condominium dengan serpihan bunga mawar yang menghiasi seluruh lantai kamar itu.

Semuanya sempurna.

Dia berjalan kearah istrinya, bersiap untuk melepaskan gaun tidur itu dari tubuh istrinya—tapi langkahnya terhenti ketika melihat dua sosok kecil yang keluar dari kamar utama.

“Ayah!” jerit salah satu dari mereka dengan senang, sebelum berlari memeluk Donghae. Dia melemparkan tatapan penuh tanya kea rah istrinya, yang hanya mengangkat bahunya dengan bingung.

“Tadi mereka berdua diantarkan oleh pengasuhnya, setelah mereka tidak henti-hentinya menangis dan ingin bertemu dengan Ayah dan Ibunya.” Jelas istrinya dengan senyuman singkatnya, melihat Donghae yang kini sudah menyembunyikan rasa kecewanya—Well, dia sangat sibuk, dia jarang sekali menghabiskan waktu berdua dengan istrinya, dan ketika dia bersiap untuk membawa istrinya ke atas ranjang—gangguan selalu datang.

“Cannes, bukankah Ayah sudah bilang bahwa Ayah dan Ibu akan berlibur untuk satu malam?” gadis kecil berusia empat tahun itu menatap Ayahnya dengan bingung, seakan dia tidak menyadari bahwa dia telah merusak malam Ayahnya.

“London, bukankah Ayah sudah bilang bahwa kau dan adikmu harus bersikap baik selama aku tidak ada?” kali ini tatapan Donghae teralih ke bocah laki-laki berusia enam tahun yang sudah memeluk Ibunya.

“Aku tahu bahwa kau menikmati kekecewaanku ini, Raena.” Dia menyerah akan keinginanya untuk bermain di atas ranjang bersama istrinya, setelah melihat Cannes dan London sudah naik ke atas tempat tidur dan menjadikan tempat tidur itu sebagai trampoline terbaru mereka.

Raena hanya tersenyum sebelum mengecup pipi Donghae.

“Kita bisa menebusnya lain kali, dan juga aku tidak tega dengan Cannes dan London harus berpisah jauh dari kita.” Raena menyerahkan kartu akses kamar ini ke arahnya, tanda bahwa Raena mengizinkanya untuk turun ke bar bawah, menikmati beberapa gelas alcohol untuk melepas penat sebelum kembali ke kamar mereka.

“Bersenang-senanglah, aku akan membuat Cannes dan London tertidur dengan cepat sehingga kita bisa melanjutkan urusan kita tadi.” Bisik Raena di ikuti satu kecupan singkat di bibir Donghae.

Walaupun dengan wajah yang masih kecewa, Donghae akhirnya mengambel kartu akses itu ke dalam saku tuxedonya, dan pergi dari sana—dengan harapan ketika dia kembali, Cannes dan London sudah berada di alam mimpi.

***

 

Ketika Raena memberikanya kartu akses, dia berpikir bahwa dia akan menghabiskan waktunya di bar dengan beberapa gelas alcohol yang disediakan oleh barista. Tapi entah bagaimana, dia justru membelokan langkahnya keadalam mini market yang terdapat di samping bar—dan berputar di dalam sana seperti orang tolol.

Samar-samar dia bisa mendengar bunyi gaduh suara music yang berdengung dari bar, matanya menatap kearah barisan produk susu kedelai dengan tidak tertarik. Hanya ada dia dan sepasang suami istri lanjut usia yang berbicara bahasa Jepang, di depan rak majalah berisi peta atraksi wisata di sekitar Seoul.

Dia menarik salah satu karton susu kedelai dengan asal, lalu meminumnya dengan perlahan—pernikahan membuatnya menjadi pria yang membosankan, jika dulu setiap harinya dia akan meminum puluhan gelas sloki dari meja bar, kini dia justru lebih memilih susu kedelai karena tidak ingin membuat anak-anaknya mencium bau alcohol.

Bunyi bel yang tertempel di pintu mini market itu membuatnya mengalihkan pandanganya dari nutrition facts di balik kemasan susu kedelai yang di pegangnya. Untuk beberapa saat lorong yang di penuhi oleh berbagai produk makanan ringan itu masih kosong, baru ketika dia akan melangkah ke kasir untuk membayar susu kedelainya—sesosok wanita berjalan ke arahnya dengan tenang, mata indah itu seakan menghentikan waktu.

“Hey, apakah kau tahu di mana rak yang berisi kondom?” suaranya terdengar selembut kapas, mata indahnya masih menatap lurus ke arahnya, rambut coklatnya tergerai dengan indah melewati bahunya.

“Kondom?” dia mengulang pertanyaan wanita itu seperti orang bodoh. Apakah dia terlihat seperti pria mesum yang selalu tahu dimana letak rak berisi kondom di setiap mini market?

“Ya, kondom yang berfungsi untuk membalut penis pria ketika berhubungan sex.” Wanita itu menjawabnya dengan sarkastik, wanita itu jelas terlihat jengkel karena Donghae bersifat sok suci dengan bersikap bahwa dia tidak pernah mengetahui kondom di dalam hidupnya.

Sadar bahwa wanita bermata indah itu mulai kehilangan kesabaranya, Donghae dengan sigap berjalan memandunya kearah lorong berisi produk kesehatan. Normalnya Donghae akan pergi dari sana ketika seseorang menanyakan letak rak berisi kondom kepadanya, tapi kini dia justru memandu orang asing tersebut.

Wanita itu menatap barisan produk kondom dengan serius, dia mengerutkan keningnya dengan bingung sebelum kembali menatap Donghae.

“Jadi mana yang paling disukai oleh banyak pria?” sekali lagi dia bertanya seakan-akan Donghae adalah manager sales produk kondom. Donghae meneguk susu kedelainya sekali lagi sebelum memutar otaknya.

Well, tergantung dengan pria mana yang berhasil mendapatkanmu di ranjang malam ini.” Oh dia bersumpah bahwa dia tidak bermaksud berbicara seperti itu, mungkin sebentar lagi wanita ini akan menamparnya karena telah berbicara lancang kepadanya. Wanita itu justru tersenyum sugestif ke arahnya.

“Saran yang bagus dari pria yang menikmati susu kedelainya,” suaranya terdengar santai, dia mengambil semua produk kondom dengan jenis yang berbeda.

“Untuk jaga-jaga saja, aku tidak tahu dia suka yang mana.” Jelasnya seakan mengerti tatapan Donghae yang menilainya dari banyaknya kondom yang berada di tanganya.

“Kekasihku sangat pengecut, dia tidak ingin melakukan sex tanpa kondom. Tapi dia tidak pernah mau membeli kondom. He’s a pussy.” Untuk seseorang yang baru saja ditemuinya, wanita ini sangat terbuka.

Dia menyerahkan satu kotak kondom kearah Donghae. “Untukmu, aku yang bayar. Anggap saja sebagai ucapan terimakasih karena telah menunjukanku jalan.” Sekali lagi Donghae dibuat terkejut dengan wanita bermata indah itu.

“Aku tidak membutuhkanya, aku sudah menikah dan memiliki dua anak.” Dia tidak mengerti mengapa dia harus menjelaskan hal itu kepada wanita asing ini. Wanita itu menatap Donghae dari atas hingga bawah, kemudian menarik ujung bibirnya membentuk sebuah seringai.

“Pria berkeluarga berada di hotel mewah sendirian, tengah malam seperti ini, meminum susu kedelai, dan tahu dimana letak rak berisi kondom—Istrimu pasti merindukanmu dirumah.” Sekali lagi Donghae tersenyum mendengar tuduhan dari wanita itu, entah bagaimana pembicaraan dengan wanita asing ini semakin menarik untuknya. Dia bahkan telah melupakan kekecewaanya, dan menolak untuk kembali ke kamar istrinya.

“Oh—jika kau menuduhku sebagai pria yang seperti itu, kau salah. Aku berada disini bersama istri dan anak-anaku, untuk merayakan hari pernikahan kami yang ke tujuh.” Wanita itu menghentikan langkahnya setelah mendengar cerita Donghae, meja kasir hanya berjarak beberapa langkah lagi dari sana—itu berarti pembicaraan mereka akan segera berakhir.

“Lalu mengapa kau berada disini, dan tidak memberikan anniversary sex kepada istrimu?”

Donghae bersumpah bahwa ini adalah pembicaraan yang sangat intim yang pernah dilakukanya bersama orang yang bahkan tidak di kenalnya.

Sebagai jawabanya, Donghae bergerak menutupi tubuh wanita itu ketika melihat penjaga kasir yang menatap mereka dengan penuh penilaian buruk setelah melihat wanita itu membawa belasan kotak kondom dan membicarakan sex bersama pria yang membawa susu kedelai di tanganya.

“Kau benar-benar ingin membicarakan kehidupan sex orang lain disini?” tanya Dongahe dengan mata yang mengarah ke penjaga kasir. Wanita itu tersenyum dengan senang, wajahnya terlihat jauh lebih menarik ketika dia tersenyum—mengingatkan Donghae kepada pahatan-pahatan patung Malaikat di sepanjang jembatan Prague.

“Aku tahu kenapa kau tidak melakukan anniversary sex sekarang,” sepertinya wanita ini memang tertarik dengan kehidupan sex orang lain.

“Kenapa?” walau begitu Donghae tetap menjawabnya, seakan tidak ingin pembicaraan ini akan berakhir.

“a) karena anak-anakmu berada disana, b) kau membutuhkan viagra, c) istrimu tidak menggugah selera.”

Bukanya merasa tersinggung dengan opsi pilihan yang diberikan oleh wanita yang bahkan belum dia ketahui namanya itu, Donghae justru tertawa—tertawa karena dia merasa tertarik dengan pembicaraan mereka.

“Kita sudah membicarakan viagra, membicarakan kekasihmu, membicarakan anniversary sex dan aku telah menemanimu membeli kondom—lucunya, aku bahkan belum mengetahui namamu.”

Wanita itu menatap Donghae dengan perlahan, seperti tengah menimbang haruskah dia memberitahukan namanya kepada pria ini.

“Namaku memalukan, bahkan hanya untuk di dengar sekalipun.” Jawabnya sambil menjatuhkan tumpukan produk kondom itu ke meja kasir, dan tidak memperdulikan tatapan menilai dari penjaga kasir.

“Benarkah? Apakah itu hanya trikmu agar aku tidak mencari namamu di Google dan membocorkanya di internet bahwa kau adalah maniak kondom?”

Mendengar pembicaraan mereka, penjaga kasir itu cepat-cepat menyelesaikan pekerjaanya dan menyerahkan satu tas plastik kearah wanita itu seakan mengusir mereka berdua untuk meninggalkan mini market itu secepatnya.

“Lee Donghae,” ucap Donghae dengan cepat sambil mengulurkan tanganya kearah wanita itu ketika mereka telah berada di luar mini market. Wanita itu menatapnya sekali lagi, lalu mengabaikan jabatan tanganya dan masuk ke dalam lift.

Dia menekan angka 18 disana, dan Donghae menekan angka 21. Wanita itu menyenderkan tubuhnya di kaca yang berada di dalam lift, matanya terus menatap Donghae dengan intense—tidak ada yang berbicara, mereka terlalu sibuk menelanjangi satu sama lain dengan bola mata mereka.

Pintu lift itu terbuka di lantai 18, dia melangkah keluar dari sana menatap Donghae yang masih belum mau melepaskan tatapanya dari tubuhnya.

Dan tepat sebelum pintu lift itu tertutup Donghae bisa mendengar suaranya bergetar dengan lembut di pendengaranya.

“Han Cheonsa,” bisiknya dengan sebuah senyuman yang membuat Donghae tahu, bahwa hidupnya tidak akan pernah sama lagi setelah melihat senyuman wanita itu.

***

 

Cannes dan London berlari kesana kemari dengan balon berwarna biru muda yang mereka dapatkan dari petugas resepsionis ketika check out. Donghae menyerahkan kunci mobilnya ke petugas valet parking yang menyambutnya dengan senyuman ramah.

Sementara itu Raena masih berada di dalam kamar hotel, memastikan bahwa tidak ada yang tertinggal dari liburan singkat mereka.

“Cannes, London—jangan berlari kalian bisa terjatuh!” dia baru mengawali paginya dan dia sudah di buat frustasi dengan tingkah laku kedua anaknya tersebut, jangan tanya bagaimana anniversary sex mereka berjalan.

Ketika sampai di kamar, dia menemukan Raena sudah tertidur pulas di samping Cannes dan London—juga pikiranya telah dipenuhi tentang mimpi erotis bersama wanita bernama Han Cheonsa tersebut.

Ketika memikirkanya kembali, dia merasa sedikit bersalah kepada Raena. Bagaimana bisa dia memimpikan tubuh erotis wanita lain di malam anniversary pernikahan mereka?

Tapi sudahlah, dia mungkin tidak akan bertemu dengan wanita itu lagi. Jadi anggap saja kemarin itu hanya intermezzo yang berada di kehidupanya.

“Ayah! London terjatuh disana ketika mengejar balonya! Dia menangis dengan keras—Dan itu membuatku malu.” Suara Cannes membuat pikiranya kembali ke dunia nyata. Dia bisa melihat London tengah berbicara dengan seorang wanita yang memberikan balonya.

“Terimakasih telah— Han Cheonsa?”

Wanita itu mengangkat wajahnya dari London, dan menatap Donghae dengan mata indahnya. Dia bahkan tidak terlihat terkejut sama sekali.

“Hai, anakmu baik-baik saja—dia memiliki nama yang lucu, London—aku menyukai kota itu.”

Donghae masih berada di alam bawah sadarnya sehingga dia menatap Cheonsa sebagai suatu ke ajaiban, lupakan tentang kondom atau pembicaraan mereka kemarin. Wanita yang berada di hadapanya kini adalah wanita yang di berada di dalam mimpinya dengan cara tidak pantas.

“Ayah memberikan nama itu, karena Ayah bilang London dibuat di kota London.” Ucap Cannes polos, yang membuat Donghae bersemu merah. Sementara Cheonsa menatapnya dengan seringainya.

“Cannes, kau tidak boleh berbicara seperti itu.”

“Oh, jadi namamu adalah Cannes—karena Ayahmu membuatmu di kota Cannes?” ketika mendengar pertanyaan itu, Cannes mengangguk dengan semangat dan membuat wajah Donghae semakin memerah.

“Aku tidak akan terkejut jika anakmu yang ketiga nanti akan bernama Hyatt, karena kau membuatnya di Hyatt.” Cheonsa berkata dengan suara ringanya, membuat Donghae seperti tersudut karena wanita itu mengarah kepada anniversary sex yang mereka bicarakan semalam dalam bahasa halus—mungkin karena ada Cannes dan London disana.

“Kami tidak membuat Hyatt—aku sudah kehilangan selera.” Satu lagi kalimat bodoh yang di ucapkanya kepada wanita ini, membuat Cheonsa menatapnya dengan tertarik. Wanita itu memberikan kunci mobil ke petugas valet parking dan kembali berdiri disamping Donghae dan anak-anaknya.

“Bagaimana denganmu? Apakah kau berhasil menghabiskan semuanya?” kali ini Donghae yang mereferensikan pembicaraan mereka kepada belasan kondom yang di beli Cheonsa kemarin.

“Oh, tentang hal itu. Pesawat pribadi kekasihku masih tertahan di Los Angeles, jadi—tidak, aku tidak menghabiskanya bahkan tidak satu buahpun. Bukan hanya kau yang bernasib buruk.” Dia menjawabnya dengan santai sambil menyulut satu batang rokok dari kemasan YvesSaintLaurent yang berwarna biru tua dengan label ‘Methol Luxury 100%’ ke bibirnya, tanpa memperdulikan tatapan Cannes dan London yang ingin tahu.

“Jadi kekasihmu tidak datang?” dia mengutuk dirinya sendiri karena menunjukan rasa ingin tahu yang berlebih, selebihnya dia merasa menyesal, jika saja kemarin malam dia memutuskan untuk keluar di lantai 18 dan mengetuk pintu kamar wanita itu untuk membantunya menghabiskan belasan kondomnya di atas ranjang. Lagi-lagi dia memikirkan wanita itu dengan cara yang tidak pantas.

“Ya, si pussy itu hanya menitipkan maafnya melalui sekertarisnya karena telah membiarkanku membusuk sendirian di condominium yang telah di pesanya dari satu bulan yang lalu.”

Mendengar penjelasan Cheonsa, dia memiliki banyak spekulasi akan kekasih wanita ini. Pertama, kekasih Cheonsa adalah orang yang sangat penting—kedua, Cheonsa adalah simpanan pengusaha kaya yang berselingkuh dari istrinya. Jika dikaitkan dengan fakta bahwa kekasihnya selalu menginginkan safe-sex, menyewakan Cheonsa condominium di hotel mewah, dan wanita itu kini tengah menghisap aristrokat tembakau termahal dari YvesSaintLaurent—spekulasi yang kedua lebih masuk akal. Cheonsa adalah wanita simpanan.

Pria mana yang tidak mau mendapatkanya di ranjang? Mendapatkan wanita seindah Han Cheonsa adalah permainan ego setiap pria, tidak perduli bagaimana pria-pria itu mencintai istri mereka—wanita seperti Han Cheonsa selalu berada di fantasi terliar setiap pria. Oh mungkin Cheonsa lebih dari itu, karena wanita ini memiliki kepribadian yang memiliki daya tariknya tersendiri, dan berbicara denganya selalu menarik.

Cheonsa menginjak puntung rokok mahalnya dengan heels dari Louboutin yang di kenakanya, kemudian memasang aviator Chanel-nya ke matanya. Dia berdiri disana membuat patung malaikat yang berada di pelataran lobi mewah itu terlihat seperti tumpukan marmer di sampingnya.

Donghae masih berdiri di sampingnya, membiarkan beberapa pria yang melewati mereka menatapnya dengan iri—mereka mungkin berpikir bahwa Cheonsa adalah ibu dari Cannes dan London, dan dia bahkan tidak keberatan dengan hal itu.

Di dalam hatinya kini dia tengah menimbang haruskah dia menanyakan nomor wanita itu sebelum Raena kembali, atau haruskah dia menikmati keheningan di antara mereka dan tatapan iri yang terlayang ke arahnya karena berdiri dengan wanita itu.

Dia mungkin tidak akan pernah bertemu dengan wanita itu lagi, kali ini untuk selamanya. Jadi dia menyampingkan rasionalitasnya dan berdiri mendekat kea rah Cheonsa.

“Jika kau tidak keberatan—“

“Aku selalu keberatan tentang hal apapun.” Potongnya dengan tatapan datarnya, jika Donghae bisa menghilang, dia pasti sudah menghilang detik ini dari hadapanya.

“That’s my car,” tunjuknya kearah Carrera berwarna hitam yang baru saja berhenti di depan mereka. Dia berjalan kearah mobilnya, membiarkan beberapa bell-boy memasukan barang-barangnya ke dalam mobil.

Dia kembali menatap Donghae untuk beberapa detik sebelum akhirnya melemparkan tas plastik berisi belasan produk kondom ke arahnya.

“Mungkin kau membutuhkanya, karena aku pikir membuat Hyatt ke dunia ini bukanlah hal yang bagus untuk kehidupan sex-mu.” Bisiknya dengan satu tangan menunjuk kearah Cannes dan London yang sudah kembali berlarian dengan teriakan mereka yang kencang.

Donghae tersenyum dengan takjub, wanita ini tidak pernah gagal membuatnya untuk melupakan dunia yang berputar di sekitarnya. Seakan-akan wanita itu memiliki kehidupan fantastis yang menunggunya.

“Hey,”

Dia menghentikan langkahnya ketika mendengar suara Donghae memanggilnya di belakang sana. Wajah pria itu terlihat sangat gugup, Donghae menarik nafasnya sebelum melanjutkan kata-katanya.

“Apakah kita akan bertemu lagi?” persetan dengan rasionalitas dan semua yang dia pikirkan di belakang sana, ini adalah kesempatan terakhirnya sebelum wanita itu menghilang untuk selamanya.

Cheonsa tersenyum dengan sugestif, dia membuka aviator-nya, membiarkan Donghae menatap mata indah itu.

“Maybe we will meet again, if the wind blows right.” Bisiknya sebelum masuk ke dalam mobil dan detik berikutnya Donghae melihat mobil itu melaju dengan cepat meninggalkan pelataran hotel tersebut.

“Yeah, if the wind blows right.” Ulangnya dengan sebuah senyuman di wajahnya menatap belasan kondom yang berada di tanganya.

Tanpa mengetahui bahwa semuanya mungkin akan bergerak lebih baik—atau lebih buruk dari sebelumnya.

***

 

Sudah tiga bulan sejak dia bertemu dengan wanita bermata indah tersebut, dan dia belum bisa melupakanya. Setiap malamnya dia akan jatuh tertidur dengan bayangan wajah Cheonsa di dalam mimpinya—dan ketika dia mencium Raena, dia membayangkan bahwa dia mencium bibir ranum Han Cheonsa.

Obsesi dan fantasinya kepada wanita itu sudah benar-benar buruk.

Apapun yang di kerjakanya akan selalu terganggu dengan wajah wanita itu, dia telah berulang kali mengetikan nama Han Cheonsa di internet, tapi dia tidak bisa menemukan apapun tentang wanita itu.

Kegilaanya terhadap wanita itu tidak berhenti hingga disitu. Dia telah menyewa setidaknya enam tim independen yang berbeda untuk mencari setiap orang yang bernama Han Cheonsa di Seoul—dan hasilnya nihil. Mereka tidak menemukan apapun, satu-satunya orang yang bernama Han Cheonsa di Seoul, telah menikah di akhir tahun 70, memiliki enam orang anak, dan dikabarkan telah meninggal dalam usia 63 tahun. Jelas bukan Han Cheonsa yang ditemuinya.

“Kau pasti sedang menghayal erotis tentang wanita khayalanmu itu,” suara Lee Hyukjae, sahabatnya sekaligus mitra bisnisnya, memecah pikiran Donghae akan Cheonsa.

Hyukjae selalu berkata bahwa Han Cheonsa adalah wanita khayalan dari alam bawah sadar Donghae, yang muncul karena ketidakpuasanya dengan hubunganya di atas ranjang bersama Raena.

Ketika Donghae bersikeras dan menunjukan belasan kondom yang tersusun rapih di laci meja kerjanya, Hyukjae akan berucap bahwa itu semua hanyalah omong kosong semata—semua orang bisa membeli kondom, dan yang di lihatnya adalah produk kondom yang berada di setiap mini market dan toko farmasi terdekat.

Bukan hal yang spesial, dia bahkan bisa menyuruh Ibunya membelikan belasan kondom untuknya—itu jika dia cukup gila, atau sudah bosan hidup.

“Lupakan tentang wanita khayalanmu itu, dan mari kita membahas wanita erotis yang sebenarnya.” Ucap Hyukjae dengan wajah penuh semangatnya, jika ini tentang menonton koleksi video dewasa dari laptop di atas meja kerjanya, Donghae akan menolak.

“Humor me?” tantang Donghae dengan wajah tidak tertariknya, Hyukjae sendiri kini sudah merapihkan penampilanya melewati pantulan kaca jendela di ruangan kerja pimpinan perusahaan itu.

“Tubuh indah, wajah sempurna, rambut selembut kapas, mata yang menakjubkan—lingkar dada memuaskan, dan dia sedang berada disini untuk melakukan pemotretan pertamanya untuk majalah VOGUE Seoul.”

Mendengar synopsis yang menjanjikan dari Hyukjae, membuat Donghae menarik satu alisnya dan menunggu Hyukjae untuk melanjutkan penawaranya.

“Jika kau belum tahu, lantai teratas dari gedung milikmu ini sedang di sewa VOGUE untuk melakukan pemotretan, dengan si model yang aku jelaskan tadi—aku tahu dari sekertarisku, sekertarisku bahkan berkata bahwa dia rela menjadi seorang bisexual jika dia bisa menikahi model ini.” Ketika Hyukjae menjelaskanya dengan berapi-api, Donghae menjadi sedikit penasaran—dia tahu bagaimana sekertaris Hyukjae selalu menganggap dirinya adalah wanita tercantik di dunia, dan mendengar pengakuan tersebut, membuat Donghae menjadi tertarik dengan tawaran Hyukjae.

“Kita bisa bertemu denganya! Karena aku telah berbicara kepada pimpinan pemotretan kali ini, bahwa pemilik gedung ini ingin bertemu dengan si model itu.” Menjual nama Donghae untuk mendapatkan akses memang menjadi kebiasaan Hyukjae. Dulu dia pernah menjual nama Donghae untuk menghadiri sebuah pameran seni kelas atas yang mengusung tema nude, di hiasi oleh model-model tanpa busana.

Lee Donghae adalah salah satu dari orang yang bepengaruh di Seoul, dia merajai semua industri yang bersifat kapital di South Korea.

“Aku yakin kau akan menyukainya dan membuatmu melupakan Han Cheonsa. Percayalah, ini akan menjadi hiburan yang tidak akan pernah kau lupakan.” Ucap Hyukjae dengan satu tangan menarik Donghae keluar dari ruang kerjanya.

Tanpa memperdulikan Donghae yang pikiranya masih melayang ke Han Cheonsa.

Benarkah dia bisa melupakanya?

 

***

 

Today

 

Lee Hyukjae menyusuri lorong dengan jeruji besi itu dengan perlahan, di sampingnya seorang petugas polisi mengikutinya dari belakang hingga langkahnya terhenti di depan sebuah sel yang terkunci rapat—hanya untuk menemukan Lee Donghae menundukan wajahnya disana dengan pakaian tahananya yang berwarna abu-abu gelap.

“Bagaimana kondisimu?” pertanyaan yang sama sejak pertama kali dia menjenguk sahabatnya itu ketika Donghae resmi menjadi tahanan penjara dua bulan yang lalu. Dan Donghae tidak pernah berbicara, dia seakan mengunci bibirnya dengan rapat setelah kejadian itu.

“Ini adalah sidang percobaan yang ke lima, dan kau membuat mereka gusar karena kau tidak pernah mengeluarkan suaramu. Kau tahu bahwa jika kau ingin mereka meringankan hukumanmu, kau harus berkerja sama dengan pengacara yang telah aku sewa untuk membelamu di pengadilan.”

Tetap, Donghae tidak bersuara, dia hanya terus menundukan wajahnya—seakan-akan Hyukjae tidak pernah berada disana.

“London dan Cannes baik-baik saja, aku telah memindahkan mereka ke Budapest, jadi kau tidak perlu khawatir tentang masalah ini akan menganggu mereka.” Hyukjae menarik nafasnya dengan frustasi, dia merendahkan tubuhnya di depan pintu jeruji besi itu, lalu menatap wajah sahabatnya yang sangat pucat.

Sangat berbeda dengan Lee Donghae yang ditemuinya empat bulan yang lalu.

Dia masih ingat bagaimana wanita itu membuat Lee Donghae jauh lebih hidup dan bahagia dari sebelumnya. Wanita itu seakan menarik Lee Donghae masuk ke dalam hidupnya yang fantastis, sehingga Donghae tidak sadar bahwa dia membunuh dirinya sendiri secara perlahan.

Hyukjae menatap ke dalam sel yang kosong dan gelap itu, dia menarik nafasnya setelah menemukan foto wanita itu tertempel menghiasi dinding kotor di dalam sel tersebut.

“Aku ingin bertanya sesuatu kepadamu, dan ini adalah pertanyaan semua orang di negara ini. Aku tidak tahu apakah kau akan menjawabnya atau tidak, tapi—aku hanya ingin tahu mengapa kau melakukanya,” suara Hyukjae terdengar sangat rendah, membuat siapapun yang mendengarnya tahu bahwa kebenaran sudah menunggunya.

“Jika kau begitu mencintainya, mengapa kau membunuhnya, Lee Donghae?” dan setelah suara itu mengudara, Lee Donghae mengangkat wajahnya dengan perlahan, menatap Hyukjae untuk yang pertama kalinya sejak kejadian itu.

Dan detik itu Lee Hyukjae tahu bahwa kebenaran itu akan segera terungkap.

Menguak apa yang tidak pernah dia ketahui sebelumnya.

Sebelum pembunuhan itu terjadi.

.

.

.

-TOBECONTINUE-

.

.

.

.

.

 

Hi

So leave your comment?

Just to make a sure, that everyone wants this series going as I am.

 

 

xo

@IJaggys | ask.fm: IJaggys

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

8 Comments (+add yours?)

  1. navyCho21
    Sep 01, 2015 @ 15:56:52

    Anda sukses membuat saya penasaran>< Next part pleaseeee
    Keren, ada english"(?)nya, i didn't see typo, and yeahh awesome lalalalaaa~

    Reply

  2. cliclicli
    Sep 02, 2015 @ 04:26:09

    setelah lama gak main kesini, ada ff yg dari posternya aj udah menarik mata. dan yeah, ternyata emang ffnya ijaggys. seperti biasa, ff bikinannya ijaggys selalu keren. selama baca ff ini, aq gk bisa brenti berpikir “gimana nasib raena setelah donghae dekat dgn cheonsa?” soalnya, terlepas dari fakta donghae udh ngebunuh cheonsa, kayaknya raena-lah yg paling tersakiti. walopun mungkin di awal2 donghae bisa menyembunyikan kedekatannya dgn cheonsa, tp pasti lama2 ketahuan jg. pasti raena hancur banget mengetahui klo suaminya udah gak menatap dirinya lagi sepenuhnya. lalu dia jg harus menerima kenyataan kalo donghae akhirnya membunuh cheonsa. T.T

    Reply

  3. johee
    Sep 02, 2015 @ 21:17:38

    saat aku tau ini tentang pembunuhan, aku hampir berhenti baca. dan aku seneng aku mutusin buat lanjutin baca karena ini keren bangettttt!!!!!!!!

    lanjut lanjut lanjut lanjuttt

    Reply

  4. kimjongbrother
    Sep 03, 2015 @ 11:17:25

    gila ini ff daebak banget. Bikin gue penasaran abis sam ceritanya. Itu yg dibunuh cheonsa kan?
    Trus nasibnyaa raena gimana? Kenapa donghae ngebunuh cheonsa? Apa mungkin karna dia gak mau cheonsa dimilikin pria lain jadinya malah ngebunuh cheonsa?

    Reply

  5. NaGyuELF1004
    Sep 03, 2015 @ 23:30:42

    Huaaa… Keren bgt >.< belum bisa komentar banyak.. Yg pasti ni ff keren bgt dan buat penasaran..
    Masih bnyk tanda tanya/?..lanjut ya please..

    Reply

  6. vannyradiant
    Sep 05, 2015 @ 15:21:35

    OH MY! genre aku banget nih…
    lanjut ya! ppyong :p

    Reply

  7. christin
    Sep 17, 2015 @ 03:46:09

    Waaahhh~! keren!!!

    Reply

  8. shinchanrin
    Jan 20, 2016 @ 21:13:02

    astagaaa… keren ceritaaa. tidak membosankan patut dibaca.

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: