Dancing With The Rain [1/?]

PicsArt_1436258638134

Author : Lee Deeya

Tittle : Dancing With The Rain Part 1

Cast : Lee Hyukjae, Jung Raemun

Genre: Romantic

Rating : PG

Leght : Chapter

Author’s note: Bermula dari ide romantic cerita ini aku buat. Semua murni adalah karyaku yang terinspirasi dari kisah nyata. Musim yang di pilih adalah musim kesukaan author. Musim semi. Jika tidak keberatan mampirlah ke blog pribadiku ya… di http://www.thefantasticseonsaengnim.wordpress.com

Kau yang akan mengejar waktu

atau membiarkannya berlalu begitu saja.

Ingatlah

waktu tidak akan bersedia kembali

meski kau memohon dengan seribu tetes air mata.

 

 

“Bagus sekali Raemun-ssi.” Heechul sedikit memanjangkan langkahnya agar lebih cepat berada di dekat gadis yang menurut pemikirannya cukup menarik. Tidak lupa senyum ia sunggingkan untuk dua gadis yang telah menoleh karena panggilannya tersebut.

 

 

“Gamsahamnida, Heechul-ssi.” Balas Rae di sertai senyum pula.

 

“Ini pertama kali dan kau sudah sangat bagus. Benar kan Sunye-ya?” Puji Heechul lagi ketika ketiga melanjutkan langkah bersama mereka.

 

“Sudahlah, jangan terus memujiku. Aku hanya berusaha melakukan yang terbaik.”

 

“Heechul Oppa benar Rae-ya. Ku rasa aku mulai percaya jika ayahku selalu benar dalam mengambil keputusannya. Ayahku tidak salah pilih.” Sunye berhenti dan menoleh dengan cepat menatap Heechul dan Rae yang turut berhenti. Ia memperlihatkan senyum kebanggaan atas ucapannya. Siapapun yang berada di posisinya tentu akan sangat bangga pada sosok ayahnya.

 

“Baiklah, aku duluan. Aku rasa anggota timku pasti akan sangat senang dengan berita ini.”

Rae lalu memisahkan diri dan masuk ke ruangannya yang sudah di depannya.

*

“Raemun-ssi, aku duluan.” Hyukjae menghentikan deru motornya sejenak dan menyapa Rae yang berjalan menuju halte. Jika saja Heechul Hyung tidak berkata akan mengantar gadis ini maka Hyukjae sudah pasti membawa gadia ini bersamanya.

 

“Baiklah, silahkan.” Jawab Rae disertai senyum dua jarinya. Detik berikutnya Hyukjae telah jauh di depan kembali meninggalkan gadia itu berjalan sendiri.

Hyukjae dengan sengaja menahan laju motornya tetap lambat agar ia masih bisa mengamati keselamatannya. Setidaknya hingga mobil Heechul datang.

 

Tiiittt…

 

Rae menoleh cepat pada sumber suara klakson tersebut.

 

“Owh… Heechul-ssi.” Rae terkejut melihat Heechul yang menyembulkan kepalanya dari balik kaca mobilnya.

 

Lagi, beginilah cara Heechul melakukan pendekatannya. Ia memiliki banyak alasan sehingga ia bisa mengantar Rae pulang walau rumahnya tidak searah dengan Rae.

 

“Ayo masuk..!” Ajak Heechul.

 

“Tidak usah repot.” Aku melambaikan tangan tanda tidak setuju.

 

“Tidak apa. Ayolah!”

 

“Apa kau mau pergi kesana?” Ku tunjuk arah jalan ke rumahku.

 

“Hm..” Dia menjawab hanya dengan kedipan kedua matanya. Oh Tuhan dia tampan sekali. Ingat Rae dia menyukai orang lain. Menyukai pria ini hanya akan membuatmu patah hati.

 

“Masuklah, aku akan bercerita sesuatu padamu.”

 

“Apa boleh buat jika kau memaksa.” Ucapku.

 

Baiklah sebut saja ini keberuntunganku. Aku langsung melangkahkan kakiku saat dia membukakan pintu mobilnya. Melangkah dengan nada pas. Berusaha berwibawa. Aku tidak ingin terlihat jika aku sangat menyukai kesempatan ini. Selain dapat menghemat ongkos. Ini juga lebih terasa nyaman dibandingkan dengan kemungkinan aku harus berdiri di bus karena penumpang penuh.

 

“Baiklah Heechul-ssi, apa malam ini kau akan ke rumah bibimu?” Tanyaku setelah mobil melaju perlahan membelah jalanan seoul.

 

“Mm… aku rasa kau tidak perlu memanggilku dengan sapaan terlalu sopan seperti itu. Kita kan sudah akrab.”

 

“Baiklah Heechul-ah.”

 

“Mwoya?”

 

Dia menoleh cepat memperhatikan aku dengan sebuah kerutan di dahi serta pandangan tidak terima. Aku tahu ini akan terjadi. Walau bagaimana pun aku jauh lebih muda darinya dan aku tahu dia tidak akan menyukai ini. Aku hanya hendak bercanda dengannya.

 

“Ok.. Heechul Oppa. Peace!” Aku tersenyum dengan dua jari yang ku angkat sebagai tanda perdamaian.

 

“Sekarang perhatikan jalanmu oppa. Jika kau terus memelototiku maka mungkin kita tidak akan sampai di rumah tapi bisa-bisa kita bertemu dengan malaikat.” Dia tertawa kemudian fokus pada jalan raya.

 

“Maaf aku hanya bercanda karena kau seperti mengisyaratkan jika aku boleh memanggilmu dengan sebutan apa saja.” Aku terus berbicara meski perhatianku juga tertuju pada jalanan.

 

“Kau ini rupanya gadis jahil juga ya.” Deg… detak jantungku seperti berhenti merasakan telapak tangan lelaki di sampingku ini berada di kepalaku. Dia sedikit mengacak rambutku.

 

“Eh.. hehe. Yah memang seperti ini aku. Maka itu jika oppa pernah menilaiku begitu baik itu semua salah. Semua tingkah lembutku kala itu hanya kamuflase adaptasi dengan lingkungan yang baru aku masuki.”

 

Huff… meski sempat hanya bisa tertawa kikuk aku berusaha kembali menstabilkan rasa dihatiku. Ini karena aku terlalu banyak menonton drama. Aku jadi menyukai adegan romantis dan sepertinya diri ini cepat terpesona pada lelaki yang terlihat romantis. Seandainya Heechul tidak menyukai orang lain maka mungkin aku akan mengejarnya.

 

“Lalu bagaimana? Bukankah kau bilang tadi mau bicara sesuatu padaku. Pasti tentang gadis yang kau sukai.”

 

“Hari ini aku bisa lebih dekat dengannya.” Ucap Heechul Oppa.

 

“Baguslah, kenapa tidak kau nyatakan perasaanmu?” Tanyaku.

 

“Apa tidak terlalu cepat? Para gadis tidak menyukai sesuatu yang terlalu cepat bukan?”

Aku diam berpikir sejenak mendengar pernyataan Heechul Oppa.

 

“Benar juga. Kami menyukai sesuatu yang pasti meski tidak cepat. Terlalu cepat membuat kami ragu.” Jawaban ini aku sertai dengan anggukan setuju.

 

Lima belas menit perjalanan kami isi dengan obrolan ringan. Seperti biasa waktu terasa berlalu begitu cepat hingga walau telah berada di depan rumah, kami masih mengobrol untuk beberapa waktu.

 

“Masuklah.” Ucapnya menyuruhku.

 

“Mm…” Aku mengangguk kemudian berbalik melewati halaman rumah. Setiap kali Heechul Oppa mengantarku, dia tidak Pernah pergi tanpa melihatku masuk ke dalam rumah. Terkadang perhatiannya ini membuatku merasa mungkin dia menyukaiku. Haha… aku hanya akan tertawa setelah berpikir demikian. Hal yang jauh dari mungkin patut di tertawakan bukan.

 

“Aku Pulang!”

 

“Tak perlu berteriak sekeras itu eonni. Rumah ini tidak cukup kuat mendengar lengkingan suara eonni.”

 

“Aish kau ini.”

 

Baru selesai menutup pintu aku sudah di sambut oleh Hyorim yang sedang duduk bersila menonton televisi di ruang tengah. Ya, rumah kecil ini hanya memiliki sedikit ruang. Satu ruang kamar membuat kami berbagi kasur dan segala hal. Satu ruang kamar mandi, satu ruang dapur yang dapat kami lihat dari sini. Kami bahkan sepakat untuk tidak mengisi ruang tengah ini dengan sofa supaya lebih terlihat luas. Hanya sebuah karpet tebal yang kami gelar dan menjadi alas saat menonton televisi.

 

“Kerjamu hanya menonton, sudahkah kau belajar? Bukankah ujian akhirmu sudah dekat?”

 

“Aaauu… eonniiii.”

 

Aku hanya tertawa mendengar geramannya ketika aku memukul kepalanya seraya turut bersila di sebelahnya.

 

“Aku sudah belajar. Sekarang otakku butuh penyegaran.”

 

“Dengan menonton drama maksudmu?”

 

“Hehe, aku hanya suka melihat Siwon Oppa.”

 

“Ya, ya, baiklah, kau sudah makan?”

 

“Diamlah eonni, suara Siwonku jadi tak terdengar.”

 

“Aish, kau ini.”

 

Setelah itupun aku turut mengikuti drama yang Hyorim tonton.

 

“Hyo, ayo…” Ucapanku terhenti begitu saja ketika aku menoleh mendapati keadaan Hyo sudah tertidur keadaan berbaring. Sepertinya aku terlalu hanyut dalam setiap adegan drama itu hingga aku tak menyadari perubahan posisi adikku ini. Dan nampaknya juga aku harus percaya jika gadis remaja ini telah belajar dengan keras. Bahkan drama kesukaannya pun kini terlewatkan. Aku berdiri meninggalkannya dan kembali lagi dengan selimut di tanganku. Aku tidak akan menyuruh anak ini untuk pindah.

 

Setelah aku merapikan selimut di tubuh Hyorim aku beranjak memeriksa dapur atas sinyal dari perutku ini.

 

“Kenapa sup ini masih utuh? Hyo belum makan?” Gumamku bertanya pada diri sendiri.

 

“Aish anak itu, bagaimana jika sakit nanti.”

—o0o—

 

“Hyorim-aaahhhh!” Aku terlambat bangun. Ini sudah pukul setengah delapan. Setengah jam lagi aku harus sampai di kantor jam delapan. Segera aku beranjak dari tempat tidurku.

 

“Eonni sudah bangun?” Anak ini justru bicara tenang seakan merasa tak bersalah. Aku lihat dia sudah siap dengan seragamnya sedang makan.

 

“Hyo-ya kau…”

 

“Ahhh… eonni silahkan bersiap dan makan. Aku sudah menghangatkan sup untukmu. Aku berangkat dulu. Bye bye eonni.”

 

Dia segera berlalu setelah tersenyum di buat-buat begitu imut padaku. Aku tahu dia mengerjaiku dengan sengaja tidak membangunkanku.

 

“Hyoooo-ya…!!!” Bahunya bergetar tanda ia cekikikan tanpa mau menoleh untuk merespon teriakanku.

 

“Aish anak itu nakal sekali.”

 

Kenapa aku tidak bisa mandi dengan cepat. Aku menghabiskan waktuku selama lima belas menit untuk mandi. Owh tidak waktuku tinggal 5 menit lagi… sekarang hanya tersisa dua menit. Meski mustahil untuk sampai tepat waktu tapi aku tetap berlari. Aku berharap ada seorang malaikat penolong agar aku bisa tidak terlambat lebih lama.

 

Titt…

 

Mungkin aku berlari terlalu ke tengah hingga ada yang membunyikan klakson.

 

Tiitt… tiittt…

 

“Ya! Aku kan sudah minggir.” Teriak ku seraya berbalik ingin tahu siapa yang berani mencari masalah di saat genting seperti ini.

 

“Raemun-ssi, kenapa berlari seperti itu?”

Aku terkejut.

 

“Lee Hyukjae-ssi.”

 

Aku mohon jangan sekedar menyapa. Tempo hari ketika aku hampir terlambat, dia hanya menyapaku padahal kami berpapasan. Dia sama sekali tidak menawarkan tumpangan padaku. Mungkin lelaki ini punya kekasih hingga benar-benar menjaga jarak dengan perempuan lain. Atau mungkin Hyukjae ini punya kelainan. Atau mungkin juga dia memang tipe pelit… atau.

 

“Raemun-ssi!!”

 

“Mm…”

 

“Ada apa Raemun-ssi? Kau melamun, sejak tadi aku memanggilmu.”

Apa? Jadi aku melamun? Aku benar-benar tidak mendengar lelaki ini bicara.

 

“Maaf Hyukjae-ssi, ada apa memanggilku?” Tanyaku.

 

“Ayo naiklah, kau ikut saja denganku. Bus nya masih akan lama.”

 

“Silahkan Hyukjae-ssi.”

 

Kenapa lelaki ini tidak segera berangkat? Bukankkah aku sudah mempersilahkan dia berangkat. Dia justru memandangku dengan sebuah senyuman aneh padaku.

 

“Tunggu, apa tadi kau bilang?”

Oh sepertinya tadi mendengar kalimat yang berbeda dari biasanya. Senyum di bibir Hyukjae kini lebih melengkung. Oh tidak aku mungkin terlihat aneh di depannya.

 

“Cepatlah Jung Raemun-ssi, aku mengajakmu. Kenapa kau tidak segera naik?”

 

“Mwo? Kau benar mengajakku?”

Ia hanya mengangguk dan tersenyum. Dia jadi terlihat lebih tampan. Dia memang tampan. Tidak, dia tidak tampan. Baiklah mungkin dia tampan.

 

“Ba… baiklah.”

Aku mengambil tempat dan duduk di belakangnya meski dengan banyak pertanyaan bersarang di kepalaku. Mungkinkah ini bukan Hyukjae yang biasa aku temui. Atau Hyukjae punya saudara kembar seperti Elena dan Adinda. Atau mungkin ini bukan Hyukjae melainkan orang lain yang mirip karena halusinasiku. Nampaknya akhir-akhir ini aku lebih sering berpikir tentang mungkin.

 

“Berpeganglah Raemun-ssi.”

 

“Owh… iy… iya.”

Mendebarkan. Padahal hanya berpegangan tapi aku merasa akan memeluk seseorang saat melingkarkan tanganku di pinggangnya.

 

“Maaf jika aku menyetir lebih cepat karena kita tidak boleh terlambat rapat hari ini.”

 

“Rapat?”

 

Sementara pikiranku masih bertanya-tanya tentang kata rapat. Kurasakan Hyukjae telah menarik pedal gas motornya. Tanpa sengaja akupun mempererat pelukanku. Aku tidak ingat jika hari ini ada rapat.

 

“Aku tidak ingat ada jadwal rapat lagi hari ini Hyukjae-ssi.” Ucapanku sengaja aku lebih keraskan agar dapat menyaingi deru motor yang kami tumpangi hingga ia pun dapat mendengarnya.

 

“Kau mengatakan sesuatu Raemun-ssi?” Ia sedikit menoleh ke samping mungkin dengan maksud agar aku dapat mendengar ucapannya.

 

Terpaksa aku lebih mengeratkan pelukanku, sedikit memiringkan badanku hingga orang di depan kami mungkin dapat melihat wajahku di samping dekat wajah Hyukjae. Aku abaikan debar protes jantungku dan kuulangi pertanyaan yang sama.

 

“Semua ketua tim harusnya telah menerima pesan pemberitahuan dari Sekretaris Kim.” Jawab Hyukjae.

 

“Pesan? Aku belum membaca pesan itu.” Oh Tuhan. Saking aku terburu-buru aku bahkan belum sempat menyentuh benda keramat itu.

 

Deg…

Deg…

Deg…

Hyukjae memegang tanganku yang melingkar di perutnya ketika aku berniat melepasnya untuk mengambil handphoneku yang berada di tas. Lagi-lagi berdebar, ini kali pertama aku dan Hyukjae bersentuhan tangan selain untuk bersalaman setelah rapat selesai.

 

“Jangan lepaskan sekarang Raemun-ssi. Aku takut kau jatuh.” Oh manisnya. Tidak… kebiasaanku menyukai drama romantis sepertinya mulai melayang kembali di pikiranku. Hal seperti inipun tergambar sangat romantis bagiku. Entah sadar atau tidak semakin lama lengkungan senyum di bibirku terukir menikmati irama debaran jantungku.

 

“Ada apa?” Tanyaku pada Hyukjae yang tiba-tiba berhenti sebelum memasuki pintu gerbang.

 

“Maaf sepertinya kau harus berjalan sendiri ke dalam karena aku masih harus pergi ke suatu tempat.”

 

“Eoh, baiklah.” Aku segera melepaskan tanganku di pinggangnya dan segera turun.

 

“Terimakasih Hyukjae-ssi atas tumpangannya. Tapi bukankah kau bilang kalau kita rapat lalu kemana kau masih akan pergi?” Tanyaku lagi.

 

“Aku akan kembali tepat waktu.”

Dalam sekejab sosoknya telah menjauh. Ah iya aku terlambat. Segera saja aku mempercepat langkahku masuk. Setelah masuk pemandangan Heechul yang keluar dari gedung lah yang pertama aku lihat.

 

“Heechul Oppa!” Aku berjalan mendekatinya.

 

“Rae-ya, kemana saja kau?”

 

“Aku terlambat bangun tidur dan aku jadi kesiangan.”

 

“Ya ampun aku kira terjadi sesuatu di jalan. Kenapa tidak menjawab telepon dariku?”

 

“Kapan kau menelepon? Aku sama sekali tak mendengarnya.”

Mungkin karena akupun terlalu menikmati perjalananku baru saja.

 

“Sudahlah, ayo segera masuk.” Kami pun berjalan bersama memasuki gedung.

 

“Oppa, bukankah tadi oppa sepertinya akan pergi. Mau kemana? Tidak jadi?”

 

“Tadi aku ingin mencari seseorang. Tapi tidak jadi karena orang itu telah berada di sini.”

 

“Kau mencariku?”

 

“Tentu saja, hari ini ada rapat dan temanku belum datang maka aku akan mencarinya.”

 

“Owh… rupanya oppa adalah teman yang baik.”

 

“Of course, ayo masuk.” Ajak Heechul yang mendahului langkahku dan membukakan pintu ruang rapat untukku.

 

Sejenak aku tertegun saat melihat Hyukjae tengah mengobrol akrab bersama Sunye. Bukankah ia bilang dia masih ada keperluan. Lalu kenapa begitu cepat ia tiba di sana.

 

“Hyukjae-ya, kapan kau datang? Kenapa kau terlambat?” Tanya Heechul pada Hyukjae.

Kami pun bergabung mendekati dan duduk bersama keduanya.

 

“Sesuatu menahanku Hyeong.” Jawab Hyukjae dengan senyum sekilasnya.

 

“Rae-ya, kali ini kau benar-benar terlambat.”

 

“Hihi… sepertinya aku terlalu berbakat untuk hampir terlambat.”

Sunye sudah sering kali mengejek kebiasaan ku datang sangat tepat waktu. Berlari terengah-engah di menit-menit terakhir hingga uap nafasku memenuhi permukaan kacamata minus yang kukenakan. Kami berempat menoleh ke arah pintu ketika terdengar langkah seseorang selain kami memasuki ruangan. Rupanya Aini eonni sekretaris Presdir Park lah yang datang. Pribadinya yang ramah membuat kami akrab hingga panggilan eonni dapat aku gunakan padanya.

 

“Selamat pagi semua. Terima kasih telah hadir dalam pertemuan ini. Tentu kaliah telah tahu apa yang akan kita bahas kali ini dari pesan yang aku kirimkan pada kalian. Dalam rangka ulang tahun majalah “I Zone” tiga bulan mendatang di harapkan semua bisa bekerja sama untuk menampilkan sesuatu yang berbeda seperti di tahun-tahun sebelumnya. Kali ini kalian harus kembali berusaha bersama tim masing-masing untuk menghadirkan sosok popular dan Inspiratif. Layaknya tahun lalu, bagi tim yang di anggap terbaik maka mereka akan mendapatkan hadiah liburan ke Bali di Indonesia”

—o0o—

 

“Rae-ya, Aku tahu siapa yang mungkin bisa membuat kita menang.” Ucap Minho tiba-tiba dengan gerakan jentik jari seperti baru saja sebuah lampu ide menyala di atas kepalanya.

 

Sejak tadi kami terus memikirkan tulisan kami agar kami melakukan yang terbaik untuk acara ulang tahun perusahaan ini. Beberapa nama dan topik telah kami list.

 

“Han Dongri dan Han Milla!” Seru Minho dengan wajah meyakinkannya.

 

“Nugunde?” Tanya aku, Elena serta Adinda kompak.

 

“Apakah kalian tidak pernah mendengar namanya?”

 

“Kau ini, ditanya malah balik bertanya.” Ucapku dengan nada sedikit kesal.

 

Tukk…

“Auu… cobak tebak dulu.”

Aku tidak tahan untuk tidak memukul kepalanya. Tapi tetap saja ia tidak memberi tahuku. Dalam situasi begini aku tidak bisa berkonsentrasi dengan baik.

 

“Han Dong Ri.” Eja Elena.

 

“Han Mi Lla.” Adinda pun melakukan hal yang sama dengan Elena.

Keduanya terus mengulang mengeja nama yang sama. Baiklah sekarang ruangan ini menjadi ramai. Dan yang bisa aku lakukan saat ini hanyalah mencoba untuk tetap berkonsentrasi.

 

“Han Dongri, Han Milla.” Pada akhirnya aku mengeja nama yang sama.

 

“Dance.”

Ku alihkan tatapanku pada Minho berharap clue yang aku serukan adalah tepat. Dan seperti tebakanku Minho mengangguk.

 

“Apa maksud eonni?” Tanya Elena.

 

“Dance, Maksud eonni pasangan Han yang masih banyak di bicarakan. Keduanya mempunyai Studio sekarang. Mereka pernah memenangkan Dance Competition tingkat internasional. Koreografer yang handal. Tapi kemudian mereka berhenti dari dunia layar. Hingga saat ini tidak ada yang pernah berhasil membawa mereka kembali berada di depan layar.” Jelas Adinda panjang lebar.

 

“Minho, maksudmu kita harus mengusahakan hal yang sulit di usahakan orang lain?”

Aku menatap Minho dengan pandangan tak percaya. Sekarang aku ingat berita yang di hebohkan para pekerja media. Pasangan Han yang melegenda dalam dunia tari. Berhenti tanpa alasan membuat para awak media menyimpan banyak tanda tanya. Apalagi keduanya tidak pernah memberikan konfirmasi.

 

“Justru disitulah tantangan kita. Kenapa tidak kita berusaha lebih dulu. Jika kita berhasil mendapatkannya maka besar kemungkinan tim kita menang.” Ucap Minho penuh semangat.

 

“Mm… baiklah kita bisa memasukkan mereka dalam daftar.”

Setelah berpikir cukup lama pada akhirnya aku setuju dengan pernyataan Minho. Kami terus mencari informasi sampai malam. Kami sepakat untuk hari ini kita akan mencari informasi dengan hanya mengandalkan pencarian situs dari dunia maya.

 

Setelah itu kejadian semalampun terulang kembali. Heechul selalu mengantarku dengan alasan yang sama. Rutinitas Hyukjae yang hanya menyapaku juga tidak luput terulang lagi.

 

“Apa kau sudah mendaftarnya?” Tanya Heechul tiba-tiba. Kami sedang dalam perjalanan pulang. Dia mengantarku dengan mobil mewahnya. Terkadang aku berpikir akan mengejar pria satu ini demi kehidupan yang sejahtera. Pertanyaan mengapa lelaki ini tidak berada di perusahaan kontraktor milik ayahnya saja sering singgah dalam peemikiranku. Sesungguhnya aku tidaklah terlalu tahu tentang keluarganya. Hal-hal seperti itu banyak aku dengar dari rekan-rekan sejawatku. Yah lelaki metroseksual sepertinya tidaklah mungkin tidak menjadi buah bibir para wanita, bahkan wanita berstatus ibu sekalipun.

 

“Apakah kau berniat menyelidiki lawanmu tuan?” Candaku.

 

“Tentu, aku tidak akan mengalah padamu.” Jawabnya dengan senyum khas bercanda juga.

 

“Sudah Oppa, Minho dan si kembar begitu membantu.” Jawabku kali ini serius.

 

“Baiklah semoga kau sukses. Apa kau tidak lapar? Temani aku makan sebentar ya.”

 

“Mm baiklah.”

Dengan menerima tawaran dari Heechul itu berarti aku harus mengabari Hyorim. Dia harus tahu jika aku akan pulang terlambat.

 

“Bukankah itu Hyukjae.” Aku melihat Hyukjae menghentikan sepedanya di depan sebuah rumah makan bernuansa tradisional korea. Hal ini dapat terlihat dari bentuk bangunan rumah makan tersebut yang mirip dengan bangunan- bangunan sejarah korea. Di halaman terdapat papan nama bertuliskan “Joseon Sky”. Keterangan-keterangan menu andalan juga banyak terpampang. Terlihat sekali jika rumah makan baru ini ingin menarik minat konsumen.

 

“Ya, itu Hyukjae.” Ucap Heechul membenarkan.

 

“Bukankah rumah makan ini baru di daerah ini. Ayo kita coba Oppa.” Usulku.

 

“Baiklah. Kajja”

Setelah mobil terparkir kami pun turun dan masuk ke dalam rumah makan tersebut. Status baru membuat aku tidak lagi heran jika restoran ini begitu banyak pengunjung. Rupanya tidak hanya bangunan serta makanan yang bernuansa tradisional tapi juga para karyawannya menggunakan pakaian tradisional.

 

“Silahkan masuk tuan. Masih ada tempat kosong.” Seorang pelayan tampak sangat ramah menyapa dan menawari kami. Kami lalu mengikuti pelayan itu menemukan tempat yang bisa kami duduki.

Sementara itu aku terus mengedarkan pandanganku mencari keberadaan Hyukjae. Karema itu bersarang sebuah pertanyaan di pikiranku. Apakah laki-laki itu datang sendiri atau punya janji dengan seseorang.

 

“Duduklah.” Senyum ini ku kembangkan ketika melihat Heechul menarikkan kursi untukku.

“Terimakasih.” Ucapku.

 

“Mau pesan apa tuan?” Tanya pelayan bernama Yeonju. Aku tahu namanya dari nametag yang melekat di hanbok birunya. Sebuah buku menu di berikan pada kami.

 

“Kau mau makan apa Rae-ya?”

 

“Aku terserah Oppa saja.”

 

“Gimbap, Kimchi dan Samgyetang.” Pelayan itupun pergi setelah mencatat pesanan kami.

 

“Oppa, bukankah kau juga melihat Hyukjae masuk kesini, tapi kenapa aku tidak dapat menemukannya.”

 

Mendengar pernyataanku Heechul pun memutar pandangannya turut mencari keberadaan Hyukjae.

 

“Tempat ini ramai Rae-ya. Mungkin dia di sebuah tempat yang tidak terlihat dari sini.” Ucap Heechul setelah sepertiya ia juga tidak menemukan keberadaan Hyukjae.

 

“Aneh. Mungkin kau benar.” Aku terpaksa setuju meskipun aku tetap merasa jika tempat ini tak seluas yang orang kira hingga sulit untuk menemukan seseorang yang kita kenal. Aku menggaruk kepalaku sebagai tanda rasa heranku dan sepertinya aku telah membuat Heechul menertawakanku.

 

“Kenapa tersenyum seperti itu? Ada yang aneh?”

 

“Aku hanya senang melihat wajah bingungmu itu. Kenapa kau penasaran sekali dengan keberadaan Hyukjae?”

 

“Aku… aku hanya penasaran bahwa apa yang aku lihat adalah benar. Bukankah aneh jika sekarang aku tidak dapat melihat batang hidungnya.”

 

—o0o—

“Hyorim, kau tidur? Menurutmu apakah seorang manusia bisa menghilang dan muncul tiba-tiba. Orang itu mungkin bukan manusia biasa. Hingga aku dan Heechul Oppa pulang keberadaan orang itu tidak juga terlihat.”

 

Betapa aku penasaran hingga terbawa pikiran. Hyorim yang telah tidurpun tak luput dari luapan rasa penasaranku.

 

“Seperti apa Hyukjae sebenarnya?”

 

“Tidurlah eonni. Besok Hyo ujian jadi biarkan Hyo tidur nyenyak. Jangan berpikir macam-macam. Eonni mungkin terlalu banyak menonton drama fantasi.”

 

“Aish…. kau ini. Besok kau harus bangunkan aku jika bangun lebih dulu. Mengerti?.”

 

“Tidak janji.”

 

“Apa?”

 

“Aaahhhh….. eonni.” Adikku ini kini berteriak setelah aku menimpakan kakiku padanya.

 

“Leppas…”

 

“Tidak!”

 

—o0o–

 

Hujan semalam sukses membuat beberapa ukiran genangan air di sepanjang jalan. Langit terlihat mendung sama seperti laporan prakiraan cuaca yang aku lihat tadi. Genangan-genangan air ini seperti menguji keahlianku mengayuh sepeda. Dan seperti sebuah nostalgia, aku meliuk-liukkan roda sepedaku menghindari setiap titik lukisan hujan itu.

Katakanlah aku menyukai awal perburuanku kali ini. Letak studio yang harus aku kunjungi tidaklah terlalu jauh dari rumahku hingga kuputuskan melaksanakan misi ini dengan mengendarai sepeda lamaku. Sepeda yang telah sedikit usang karena debu. Aku ingat terakhir kali aku menggunakan sepeda ini ketika masa tingkat akhir sekolahku.

Aku juga kembali teringat pada sahabat-sahabat yang selalu menemaniku berangkat ke sekolah dengan bersepeda bersama.

Shin Eunsoo, Lee Donghae, dan Kim Ryeowook yang sangat spesial.

Sebelum kami berpisah dengan jurusan perguruan tinggi kami masing-masing kami menyebut diri kami adalah sahabat sejati. Masa sekolah selalu tidak pernah habis menampilkan romansa persahabatan.

 

Media sosial masih menjadi satu-satunya cara mengetahui kabar dari masing-masing kami. Eunsoo tetap selalu menjadi tempat pembuangan segala rasa dalam diriku. Saling membalas email dengannya yang menempuh kuliah S2 nya di Jepang masih sering kami lakukan.

 

Donghae dan Ryeowook sama-sama beruntung memiliki kesempatan untuk belajar menjadi koki handal di Australia.

 

“Aaaggghhhh…”

 

Hampir saja aku terjerembab akibat seorang pengendara motor yang menyerempetku dari arah berlawanan.

 

Aku lalu spontan mencari keberadaan motor itu. Owh… rupanya orang itu berhenti.

 

“Maaf, aku tidak sengaja.”

 

Pria pengendara motor itu mendekatiku. Ia meminta maaf dengan suara yang sangat ramah membuat kemarahanku terpenjara.

 

“Eh… nan gwecanha.” Bibir ini justru tersenyum membalas senyum pria tampan di depanku. Oh tidak kebiasaanku terpesona dengan pria tampan sepertinya mulai kambuh lagi. Tapi bukankah dalam drama-drama hal seperti ini menjadi awal dari kisah cinta.

 

“Benar tidak apa-apa?” Tanya lelaki itu lagi.

 

“Tidak, tidak apa-apa. Silahkan lanjutkan perjalanan anda tuan.”

Jawabku.

 

“Baiklah, sekali lagi maaf.” Setelah sedikit menundukkan kepalanya ia menjauh kembali mendekati motor sport-nya.

 

“Aaghhh… maaf tuan. Aku mau bertanya sesuatu mungkin kau tahu.”

Aku ingat mungkin dengan bertanya aku tidak perlu berputar-putar mencari alamat studio milik pasangan Han.

Lelaki yang belum ku tahu namanya itu lalu kembali mendekatiku.

 

“Apakah kau tahu dimana studio milik pasangan Han?”

Ku tunjukkan kertas berisi alamat studio itu padanya. Laki-laki ini kemudian memandangku dengan kerutan terbentuk di keningnya.

 

“Apa kau tahu?”

Merasa tidak enak di lihat dengan pandangan curiga, akupun bertanya kembali padanya.

 

“Boleh aku tahu alasan kamu mencari alamat ini?”

 

“Ahh… aku ingin belajar padanya. Aku suka menari dan aku ingin pandai menari tentu saja.”

Jawaban gugupku mungkin terdengar aneh hingga dia kembali memberikan pandangan curiga.

 

“Baiklah, silahkan ikut denganku.”

Baik sekali niat pria ini. Dia mau berputar arah untuk mengantarku. Tapi aku cukup terkejut ternyata dia perlahan melanjutkan perjalanannya dan tidak berbalik arah.

 

“Maaf, bukankah kau bilang akan mengantarku?”

Dia kembali berhenti walau tanpa mematikan mesin motornya. Dia yang berhenti sedikit telah melewatiku membuat kami saling menoleh.

 

“Studio itu ada di sana nona, kau terlewat.”

 

“Apa?”

Tuingg…. cukup memalukan rupanya aku terlalu asik dengan lamunanku hingga tak ku perhatikan setiap jalan yang telah ku lewati. Setelah berusaha tersenyum menyembunyikan rasa malu ini aku pun mengikuti nya yang berjalan perlahan.

 

“Maaf kau siapa? Dan ada perlu apa?”

Setelah cukup lama menunggu akhirnya seorang gadis yang tampak seusia denganku keluar dan bertanya maksud dari kedatanganku.

 

“Mm… namaku Jung Raemun. Aku ingin belajar disini. Aku ingin belajar menari pada Tn. dan Ny. Han.”

 

“Aku Han Yara. Apa kau tahu bahwa kami harus melihat potensimu terlebih dulu.”

Mendengar pernyataan itu aku lalu ingat kejadian kemarin malam.

 

Satu hari sebelum

@kantor I-Zone Magazine

 

“…. Hey! Mamacita! Naega AYAYAYAYA

Janinhage kkaejyeobeorin kkumi AYAYAYAYA

Mwonga muneojigo tteonasseo nunmulmajeo da memallasseo

Gamtureul sseun ja mugereul neukkyeo! You can’t do that!(AYAYA) (AYAYA)…”

 

“Bukan begitu Rae.” Ucap Minho menghentikan tarianku.

Ketiga anggotaku itu sepertinya berhasil mengerjaiku. Rencana masuk ke studio Han menjadi bagianku hingga aku harus belajar menari seperti sekarang ini.

 

“Eonni kenapa duduk? Ayo kita latihan lagi.” Protes Adinda padaku yang sedang duduk.

 

“Aku lelah, Setelah growl, puts your hands up dan mamacita nanti lagu apa lagi?”

Sejak tadi kami mencoba meniru setiap gerakan tarian-tarian boyband. Menurut informasi pasangan Han hanya menerima murid berbakat sedangkan aku sama sekali tidak berbakat. Ya, kami berencana masuk sebagai murid dan berusaha membujuk pasangan Han.

 

“Ahh, tarian laki-laki susah. Kita ganti tarian perempuan saja.”

Ujar Elena yang memang sejak tadi menemaniku latihan. Ia lalu merampas kendali remot dari Minho. Ia sibuk mengubah dan memilih lagu.

 

“…. Touch my body… body… Touch my body… body…”

 

Tepat sekali, tarian ini tampak lebih mudah. Tapi terlihat sangat seksi. Oh tentu saja, girlband sistar memang terkenal seksi. Aku lihat air muka Minho berubah cerah. Ia tersenyum sumringah.

 

“Minho, kau di luar saja.”

 

“Aaa.. aku, Rae-ya!”

Menarik dan mendorongnya dari ruangan ini masih menjadi cara ampuh mengusir pria dengan wajah mesumnya itu. Kami pun berlatih tanpa ada laki-laki lagi di ruangan itu.

 

@House

“Bukan seperti itu Hyorim-ah. Seperti ini!”

Bahkan ruang tengah rumah aku sulap jadi tempat latihan tari juga. Hyorim pun tak luput dari ajakanku berlatih tari. Beruntung Hyorim juga menyukai boyband dan girlband hingga tidak sulit membujuknya. Kami berlatih hingga malam dan hasilnya adikku itu berangkat ke sekolah dengan wajah lesu akibat tidur terlalu larut malam. Dia tidak biasa bergadang sepertiku.

Maafkan eonni saengi, anggaplah sedikit mengerjaimu sebagai pembalasan kau telah mengerjaiku.

 

Hihihi…

“Kenapa kau tertawa?”

Pertanyaan itu membuyarkan lamunanku. Rupanya mengingat hal konyol itu secara tidak sadar membuatku tertawa.

 

“Ahhh… tidak ada apa-apa Yara-ssi. Aku siap di uji.” Ucapku memberikan kesanggupan.

 

“Baiklah Raemun-ssi kau bisa kembali lagi nanti.”

Aku keluar setelah mengucapkan salam serta membungkukkan badan sebagai tanda penghormatan.

 

Setelah berlatih dengan keras aku masih saja belum merasa siap. Selama berada di ruang tunggu ini jantungku terus berdetak tak menentu. Lengkap dengan rasa mengigil yang bersemayam di jiwa akibat hujan. Baju dan rambutku menjadi sedikit basah karena sempat terguyur hujan.

 

“Ahjeomma-yo!”

Aku menoleh mendengar suara seorang khas anak kecil. Kutundukkan pandanganku mencari sumber suara tersebut. Wajah lucu seorang gadis kecil mengembangkan seringai senyum di bibirku.

“Hei gadis cantik, siapa namamu?”

 

“Namaku Jangmi. Ini.” Bagaimana bisa gadis ini memberikan handuk kecil untukku. Dari nada bicaranya aku yakin usia anak ini berkisar 2-3 tahun.

 

“Ini untuk apa?” Kuterima handuk itu.

“Apa kau tidak tahu? Ini untuk mengelingkan badan.”

“Apa?”

Menakjubkan, bocah ini menyinggungku. Aku tidak tahu fungsi handuk? Yang benar saja. Mungkin dia ingin aku mengeringkan rambut dan wajahku.

 

“Jangmi cantik sedang apa?”

Melihat dia turut duduk di sampingku aku jadi penasaran.

 

“Aku menunggu appa. Aku takut appa kehujanan.”

 

“Memangnya appa mu dimana?”

Dengan suara yang ku buat lucu aku menanyakan pertanyaan lagi padanya.

 

“Hei mau kemana?”

Teriakku ketika melihat anak itu tiba-tiba turun dari kursi dan berlari semakin menjauh. Kuarahkan pandanganku mengikutinya.

 

Lee Hyukjae.

Rasa terkejut tak terelakkan saat Jangmi berlari dan berakhir dalam pelukan lelaki itu. Ya, lelaki yang berdiri di persimpangan koridor itu adalah Lee Hyukjae.

 

Mungkin benar kacamataku sedikit berembun akibat tetesan air hujan tapi aku yakin jika yang baru saja berlalu dari pandanganku adalah Hyukjae. Hyukjae dengan jangmi berada dalam gendongannya kemudian menghilang di persimpangan koridor gedung studio ini.

Sejenak kemudian aku kembali teringat dengan misiku. Apakah mungkin jika Hyukjae melakukan hal yang sama denganku. Dia juga mengincar pasangan Han?

 

“Permisi, apa kau yang akan mengikuti tesnya?”

 

“Iya.”

Aku harus fokus pada tujuan awalku.

Aku memasuki ruangan dimana cermin menjadi dindingnya. Menoleh ke sudut manapun akan dapat kita temukan bayangan kita sendiri.

 

Aku melihat juri perempuan muda duduk di antara dua juri laki-laki. Hebat, ini seperti sebuah audisi entertainment pada umumnya. Aku rasa Ny. Han tidak semuda yang aku lihat sekarang. Dua laki-laki itu juga tidak nampak tua. Maka sudah jelas tidak satupun dari mereka adalah Tn. Han.

 

Dua lelaki itu kini jelas terlihat dan salah satu dari mereka kembali membuat aku terkejut. Lee Hyukjae juga juri disini.

 

“Baiklah, agassi. Aku akan menanyakan beberapa hal padamu. Kau siap?”

Lelaki kedua yang belum ku tahu namanya itu mulai berbicara padaku.

 

“Siapa namamu?”

“Naneun Jung Raemun imnida.”

“Pekerjaanmu apa?”

“Owh aku… aku adalah pelayan cafe.”

Jawabanku tidak bohong karena aku telah melamar pekerjaan pada Young Ah. Kekasih Minho tersebut menjadi manager di sebuah cafe. Dia akan membantu menyembunyikan identitasku. Jika memperkenalkan identitas asliku aku tidak yakin akan diterima. Lee Hyukjae sampai saat ini tidak membuka mulutnya untuk bertanya ataupun berkomentar.

Aku tidak tahu apa yang akan terjadi jika dia menyebutkan pekerjaanku.

 

“Mengapa kau ingin belajar menari disini?”

Kali ini suara perempuan itu yang terdengar bertanya. Wajah perempuan itu tanpa senyum membuatku sedikit bergidik.

 

“Aku suka menari dan aku ingin handal menari. Aku ingin jadi koreografer.”

 

“Emghhh… emgh.”

Hyukjae berdehem tampak dengan sengaja. Apa maksudnya menyuruhku untuk jujur. Tapi jawabanku tidak sepenuhnya bohong. Dahulu aku sempat bercita-cita demikian.

“…”

 

“Baiklah Nona Jung silahkan tunjukkan kau bisa menari.” Hyukjae akhirnya bersuara setelah semua pertanyaan yang di ajukan kedua juri lain terjawab olehku.

 

Lee Hyukjae menyuruhku menunjukkan kemampuan menariku. Rasa berdebar lantas kembali mendekatiku. Khawatir karena ini adalah uji spontan. Aku tidak tahu lagu apa yang akan mereka putar untukku.

 

Hufff… setelah satu tarikan nafas ku hembuskan dengan lega musikpun berputar. Rupanya lagu the only one dari BOA. aku berusaha mengikuti irama musiknya.

 

Satu menit kemudian musik berganti I want dance milik super junior. Aku berusaha menyesuaikan tarianku dengan musik yang lebih up beat dari sebelumnya. Menit-menit berikutnya mereka terus mengganti lagu hingga berakhir di menit ke lima. Ini benar-benar menguji bakat spontanitas kita. Entahlah aku tidak tahu apa yang aku lakukan tadi. Tapi aku harap berhasil.

“Jangmi, kau tidak boleh berada di situ.”

Suara lari seorang gadis kecil serta teriakan seorang wanita kemudian menginterupsi kegiatan kami.

Aku mengenal gadis kecil itu adalah Jangmi dan wanita itu adalah nona Han.

 

“Ayo Jangmi ikut eomma jalan-jalan yuk. Ahh… maafkan aku. Jangmi memang nakal sekali.”

Nona Han Yara kemudian mendekati Jangmi yang duduk di pangkuan Hyukjae. Gadis kecil itu menggeleng sebagai tanda penolakan atas ajakan ibunya.

Tunggu, jika Han Yara adalah Ibunya berarti Hyukjae dan Yara.

 

“Ayo Jangmi!” Aku melihat Hyukjae tersenyum ramah pada Yara yang menarik Jangmi dari pangkuannya. Ketiganya tampak seperti keluarga bahagia. Oh tidak itu artinya aku sempat terpesona dengan pria yang telah berstatus suami.

 

“Maafkan kami nona Jung, kau tidak dapat kami terima.”

 

 

—To Be Continue—

 

 

 

 

 

 

1 Comment (+add yours?)

  1. Monika sbr
    Sep 07, 2015 @ 20:22:18

    Yak…. Ternyata hyukjae udah beristri ya??? Kasihan juga sama raemun kayaknya dia ditolak utk bljr menari

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: