Dancing With The Rain [2/?]

PicsArt_1436258638134

Author : Lee Deeya

Tittle : Dancing With The Rain Part 2

Cast : Lee Hyukjae, Jung Raemun

Genre: Romantic

Rating : PG

Leght : Chapter

Author’s note: Bermula dari ide romantic cerita ini aku buat. Semua murni adalah karyaku yang terinspirasi dari kisah nyata. Musim yang di pilih adalah musim kesukaan author. Musim semi. Jika tidak keberatan mampirlah ke blog pribadiku ya… di http://www.thefantasticseonsaengnim.wordpress.com

Seberapa besar kau ingin, sebesar itulah kita harus terus mencoba.

 

Part 2

 

Hujan turun semakin deras saja seakan turut menemani gemuruh dalam hatiku. Kata-kata Hyukjae tidak menerimaku terus terngiang dalam hatiku. Aku telah berusaha semaksimal mungkin tapi kenapa begini hasilnya.

 

“Siapa dia jadi juri? Memang dia penari? Kenapa aku tidak tahu? Apa katanya? Aku tidak punya bakat menari? Aghhh… jahatnya.”

 

Bosan mengomel di perjalanan menuju keluar. Walau hari telah gelap aku tetap berpikir akan menorobos hujan ini. Aku tidak suka menunggu hujan yang terus turun terlalu lama.

 

“Raemun-ssi!” Baru saja aku akan melangkah meninggalkan teras ini suara seorang wanita membuat aku mengurungkan niat.

 

“Yara-ssi.”

Ternyata wanita itu adalah Ny. Han Yara.

 

“Kau mau kemana, tunggu di dalam saja. Hujan di luar masih sangat deras.”

Tawarnya.

 

“Ahh, tidak aku akan menunggu di sini saja.” Tolakku halus.

 

“Baiklah aku akan menemanimu.”

 

“Terimakasih.” Ucapku.

Kami lalu duduk di sebuah bangku panjang yang tadi aku duduki.

 

“Bagaimana hasilnya?”

 

“Tidak di terima.” Jawabku lemah.

 

Ayolah jangan menggali luka yang berusaha aku pendam Yara-ssi. Dia tidak mungkin tidak tahu dengan hasilnya. Bukankah dia adalah bagian dari mereka. Terlebih salah satu juri itu adalah suaminya sendiri.

 

“Maaf.” Ucapnya lirih.

 

“Tidak apa-apa. Mm… dimana Jangmi?” Aku tersenyum berusaha menyembunyikan luka yang masih menyisakan sesak dalam dada ini.

 

“Uri aegi Jangmi, dia sedang tidur.” Jawabnya.

 

“Owh… dia gadis manis yang lucu.”

 

“Jangmi bercerita padaku jika dia bertemu denganmu. Maafkan jika dia nakal. Aku rasa dia mirip ayahnya.”

Hyukjae tidak semanis Jangmi.

 

“Tidak, dia lucu dan cerdas. Aku rasa aku ingin memiliki putri selucu dia.”

Jawabku.

 

Pada akhirnya kami saling bercerita hal tentang anak-anak. Cukup lama tapi hujan tak kunjung reda.

 

“Maaf nyonya, nona muda Han menangis dan mencari anda.”

Seorang pelayan datang mendekati kami.

 

“Eoh, Jangmi-ya. Aku akan segera ke sana.” Ujar Yara.

 

“Maaf karena aku harus meninggalkanmu sekarang.”

 

“Baiklah tidak apa-apa.”

Yara kemudian perlahan meninggalkanku.

 

Ia akan menginap di studio ini tampaknya. Tentu saja ini rumah orang tuanya. Ya, menurut kabar Tn. dan Ny. Han tinggal di gedung ini juga. Tapi aku belum melihat mereka sejak tadi.

 

“Oh, Raemun-ssi!” Aku menoleh mendengar panggilan Yara. Mungkin ada yang lupa ia sampaikan padaku.

 

“Ini bagian dari ujian itu.”

Setelah mengucapkan dengan senyum yang sangat cantik ia kemudian kembali membalikkan badannya. Tanpa sempat aku mengerti maksud perkataannya, ia telah berlalu begitu saja.

 

Baiklah, aku harap menerobos hujan di malam hari tidak akan membuatku sakit. Segera saja aku melangkahkan kakiku menyela hujan. Membiarkan tubuhku seketika itu basah terguyur hujan. Aku sedikit berlari menuju tempatku memarkir sepeda.

 

Tak perduli seberapa keras hujan menerpa kulitku aku tetap mengayuh sepedaku menyusuri jalan. Kejadian penolakan Hyukjae terus saja tergambar dan membayang di pikiranku. Rasa sesak di dada masih sangat mendominasi. Apa ini takdir yang mengisyaratkan agar aku menghentikan segalanya sampai di sini saja.

—o0o—

 

Kenapa tidak ada yang tahu status Hyukjae adalah seorang menantu koreografer legendaris? Apa lelaki itu sengaja merahasiakannya? Mungkin atas permintaan mertuanya?

 

“Raeeee!”

Seseorang megguncang tubuhku membuatku terkejut dan membawaku kembali dari lamunan.

 

“Kalian sudah datang?”

Rupanya wajah Minho, Adinda dan Elena sudah berada di hadapanku. Mereka memandangku dengan tatapan curiga. Memang aku yang mengirim pesan pada mereka untuk berkumpul pagi ini.

 

“Ada apa ini eonni? Kenapa kau menyuruh kami datang begitu pagi?” Tanya Adinda.

 

“Ya Rae, ada apa? Aku lihat kau melamun sampai-sampai kau tak menyadari kedatangan kami.” Sambung Minho menanyakan hal yang sama.

 

“Tentukan nama lain selain pasangan Han untuk menjadi bagianku.” Ucapku tegas dengan wajah tanpa senyum membuat ketiganya saling berpandang.

 

“Maksud eonni?” Sambar Elena cepat.

 

“Katakan ada apa Rae? Kau sudah pergi ke studio Han?”

 

“Ya, eonni sudah kesana?” Tanya Adinda dan Minho kompak.

Ku buat gerakan peregangan dengan mengangkat dan melebarkan kedua tanganku membuat Elena yang duduk di sampingku sedikit menghindar.

 

“Aghhh… rencana kita gagal.” Ku ucapkan dengan disertai senyum yang dibuat-buat.

 

“Eonni serius? Aku tidak percaya. Eonni suka bohong.”

 

“Aish…. kali ini aku serius.”

Meski telah mengatakan dengan yakin mereka masih melemparkan tatapan kecurigaan padaku.

 

“Ya! Kali ini aku benar-benar serius. Jangan menatapku seperti itu.”

 

“Ahhh… siapa lagi?” Minho membuat gerakan menyerah dengan menyandarkan tubuhnya.

 

“Kenapa bisa?” Tanya Adinda.

 

“Sudah kuduga eonni memang tak berbakat.” Sahut elena dengan gelengan kepalanya.

 

“Kau…”

Aku menoleh cepat pada elena yang terdengar meremehkan. Dia kemudian mengangkat dua jari dan menghindar ketika niatku memukulnya mungkin terbaca olehnya.

 

“Baiklah ceritakan pada kami kronologinya eonni.” Pinta Adinda.

—o0o—

 

“Lepaskan!” Ku urungkan niat untuk terus melanjutkan langkahku melihat seorang wanita tengah seperti di tarik paksa oleh seorang laki-laki. Hal ini tampak dari gerakan wanita itu yang terus meronta meminta di lepaskan.

 

Aku mengenal wanita itu. Dia juga karyawan diaini. Sedangkan aku tidak tahu dengan lelaki itu. Namun wajahnya tampak tidak asing bagiku. Dimana kira-kira pernah kutemui.

 

“Maaf, ada apa ini?”

Pada akhirnya aku memberanikan diri mendekati mereka. Niat awalku mencari Hyukjae justru kini ku temui Hyoreen yang merupakan salah satu anggota tim editor majalah “I Zone” sedang berada dalam adegan pemaksaan.

 

“Tolong aku Rae eonni. Dia mau menculikku.” Pinta Hyoreen. Tangannya tidak pernah lelaki itu lepaskan.

 

Aneh, mana mungkin penculik berjas dan berdasi layaknya pengusaha. Apa sekarang penculikan di lakukan secara terang-terangan. Aku bingung jadinya.

 

“Maaf nona, perkenalkan saya Cho Kyuhyun. Salam kenal. Saya calon tunangan nona ini.”

Lelaki itu tampak tenang memperkenalkan namanya padaku meski tanpa melepaskan tangan Hyoreen dari cengkramannya.

 

“Apa?”

 

“Tidak, dia bohong eonni.”

 

“Lepaskan dia Kyu-ya!”

Dalam kebingunganku Heechul datang menghampiri kami. Owh beberapa hari ini aku tidak bertemu dengannya. Dia berhenti tepat di sampingku.

 

“Hyeong tidak bisa ikut campur urusanku.” Ucap lelaki bernama Cho Kyuhyun itu. Jadi Heechul mengenalnya.

 

“Leppas.”

Hyoreen akhirnya berhasil lepas ketika Kyuhyun sedikit lengah dengan cengkramannya.

Hyoreen kemudian berdiri bersama kami.

 

“Aish… kalian ini.” Kyuhyun mendesis memalingkan mukanya menahan kesal.

 

Heechul kemudian mendekati Kyuhyun dan membisikkan sesuatu. Benar-benar membuat kami, aku dan Hyoreen penasaran.

 

“Kenapa dia pergi?” Aku mendengar nada pertanyaan Hyoreen justru seperti sebuah protes.

 

Hal ini senada dengan wajah yang ia tunjukkan setelah mobil Kyuhyun terus menjauh.

 

Banyak pertanyaan bertaburan di pikiranku.

 

“Apa yang oppa katakan padanya?” Hyoreen tampak mendekati Heechul dengan langkah tergesa.

 

“Aku tidak mengatakan apapun.”

Apa yang di katakan Heechul tidak di dukung oleh tampilan wajahnya.

 

Siapapun yang melihat seringai senyumnya saat ini pasti akan menaruh curiga.

 

“Oppa, katakan padaku!” Geram Hyoreen dengan tingkah yang justru terlihat menggemaskan.

 

Sejak tadi aku hanya menonton karena memang aku bingung dengan situasi ini.

 

“Aku mewakilimu mengusirnya.”

 

“Aghhh… Heechul Oppa sama saja dengannya.”

Hyoreen pergi menjauh dengan langkah yang di hentak-hentak seperti memberi tanda jika ia sedang kesal.

 

“Hyoreen tunggu.”

Ku panggil Hyoreen agar dia menungguku. Sepertinya rasa penasaran yang timbul membuaku berpikir untuk mengikuti langkahnya.

 

“Ahh, Rae-ya! Kau mau kemana?”

“Ada yang ingin ku tanyakan pada Hyoreen. Sampai jumpa.”

 

Setelah memberikan isyarat sampai jumpa pada Heechul yang memanggilku akupun mempercepat langkahku mengkuti cepat langkah Hyoreen. Wuihhh, apa Hyoreen pernah mengikuti kejuaraan olahraga jalan cepat. Kenapa sosoknya sulit ku jangkau.

—o0o—

 

“Hyoreen-ah, apa kau bisa lebih pelan?” Setelah berusaha akhirnya aku bisa mengimbangi jalannya. Tapi kemudian Ia berhenti mendengar pertanyaanku hingga akupun juga berhenti tiba-tiba.

 

“Apa eonni bilang?”

Ia memandangku dengan tatapan kebingungan. Sepertinya ia tak menyimak pertanyaanku.

 

“Ahh… apa kau akan makan siang? Boleh aku ikut.” Rasanya tidak enak mengulang pertanyaan yang sama maka aku bertanya hal lain.

 

“Aku? Eonni mau bicara denganku?”

 

“Nah, sepertinya kau memang cocok jadi editor. Kemampuanmu tak di ragukan lagi termasuk membaca pikiran.” Pujiku.

 

“Rupanya kau pandai merayu. Baiklah.”

Kami pun melangkahkan kaki meninggalkan gedung perkantoran kami. Kami singgah di restoran yang tepat berada di depan gedung kantor.

 

“Aku hanya ingin bertanya sesuatu tentang kantor. Bukankah kau cukup lama bekerja di sana? Lalu apa kau tahu tentang kemungkinan karyawan disini memiliki lebih dari satu profesi?”

Dia memperhatikan dengan seksama setiap pertanyaanku.

 

“Ini seperti sebuah pencarian informasi.” Tanggapnya.

 

“Begitulah.” Ia tampak benar-benar bisa membaca pikiran. Aku hanya mengangkat bahu dan alisku menghadapi tebakannya.

 

“Setahuku memang ada beberapa karyawan yang memiliki usaha dan pekerjaan lain. Tapi tidak banyak karena kesibukan di kantor kita, kau tahu sendiri. Mereka yang punya double profesi tentu harus siap lelah. Seperti Song Riyu yang di bantu adiknya masih mengurus sebuah toko kaset. Billy yang sekali-kali menyibukkan diri sebagai seorang penyanyi. Dan…”

Begitulah seraya menyuapkan makanan Hyoreen menjelaskan informasi yang ia tahu. Tapi Hyukjae tidak menjadi salah satu nama yang ia sebutkan. Kalau ku tanya langaung tentang Hyukjae maka ketahuanlah jika aku mencari informasi tentang lelaki itu.

 

“Wah ada yang menjadi penyanyi. Billy-ssi rupanya seorang penyanyi juga. Ternyata tidak hanya wajahnya yang tanpan tapi dia punya bakat penyanyi. Kalau ada yang jadi penyanyi mungkin juga ada yang jadi penari.”

Semoga basa-basiku tidak membuatnya curiga.

 

“Mm… mungkin kau benar. Tapi siapa ya?”

 

Aahh..

Jadi dia tidak tahu juga. Aku rasa sudahi sajalah.

 

“Owh ya… Lelaki yang mau menculikmu tadi itu. Apa kau mengenalnya? Aku seperti pernah melihatnya.” Tanyaku basa-basi menyudahi acaraku mencari informasi.

 

“Di sini maksudmu.” Dia menampakkan majalah seri 327 dengan gambar depan seorang lelaki berjas dan tampan. Gambar itu… ya, lelaki itu Cho Kyuhyun. Keterangan di bawahnya tertulis pengusaha muda sukses masuki pasar dunia. Sekarang aku ingat dimana aku melihat wajah Kyuhyun. Lelaki itu pernah menjadi bahasan majalah I Zone satu tahun lalu.

 

“Dia… dia lelaki yang tadi bukan?”

Hyoreen mengangguk-ngangguk.

 

“Wow… dan kau adalah kekasihnya?” Ucapku menakjubkan.

 

“Tidak, aku membencinya.”

 

“TAPI AKU MENCINTAIMU.” suara seseorang dari microfon baru saja terdengar seperti mematahkan pernyataan Hyoreen. Tentu saja hal ini membuat kami terkejut dan segera menoleh ke bagian panggung dimana penyanyi biasa menghibur pengunjung.

 

Menakjubkan, Cho Kyuhyun berdiri di panggung itu. Dia berada di belakang standmike dengan senyum dan pandangan tertuju pada meja kami. Tidak, pasti tertuju pada gadis di depanku.

 

“Mohon perhatiannya, namaku Cho Kyuhyun. Saat ini aku hendak meminta maaf pada belahan hatiku yang sedang duduk disana.”

Kyuhyun menunjuk meja kami membuat semua pengunjung turut memandang kami. Aku tidak akan mengedarkan pandanganku. Lebih baik aku tetap memandang ke depan menghindari rasa malu ini. Sementara itu aku lihat Hyoreen juga telah membalikkan badannya dengan kepala tertunduk. Aku harap orang-orang tidak salah mengira dengan memandangku.

 

“Wanitaku Park Hyoreen, maafkan aku karena telah tak seperti yang kau inginkan, tapi percayalah aku mencintaimu selalu dan selamanya. Jadilah pendamping hidupku. Aku harap kau bersedia menyandang namaku. Semua harap membantuku agar dia menerimaku.”

 

“… Terima… Terima… ”

Penuh kejutan, semua pengunjung kompak meneriakkan kata terima. Suara berbeda-beda tapi tetap satu kata.

 

Kyuhyun kemudian menghampiri Hyoreen dan seperti dalam drama-drama. Sejenak keheningan tercipta tatkala Kyuhyun berjongkok di depan Hyoreen duduk saat ini. Semakin lengkaplah ketika Kyuhyun mengulurkan setangkai bunga mawar.

 

“… Terima… Terima…”

 

Dan lagi-lagi teriakan menggema begitu saja.

 

Mmm… romantis sekali. Ayo Hyoreen terima saja. Wah… hatiku jadi turut berteriak.

 

PROK PROKKK PROKKKK…

 

Suara tepukan begitu meriah ketika dengan sebuah senyuman Hyoreen menyambut bunga dari Kyuhyun.

 

“Karena kalian membantuku maka semua makanan disini gratis untuk hari ini.”

Perkataan Kyuhyun sekali lagi membuat riuh tepuk tangan pengunjung kembali menggema.

 

“Syukurlah semua berjalan lancar.” Ku menoleh pada orang yang seperti sengaja membuat suaranya terdengar olehku.

 

“Eoh… Oppa!” Seruku terkejut. Ternyata Heechul tiba-tiba muncul di sampingku. Kulihat ia memberi kedipan mata pada Kyuhyun yang sedang memeluk Hyoreen.

 

“Jadi semua ini rencanamu?”

Tanyaku padanya dengan tatapan penuh selidik. Dia hanya mengangguk dengan senyum memukau yang setia ia pasang.

 

“Aku rasa semua wanita menyukai hal ini.” Ucapnya dengan tatapan lurus ke depan.

 

Kyuhyun begitu saja menarik Hyoreen keluar dari restoran. Hyoreen masih menoleh memberi isyarat sampai jumpa padaku. Lambaian tangan pun juga aku lepskan untuk membalas isyaratnya.

 

“Hah, romance sekali.” Aku memilih berseru dan menyadarkan tubuhku. Kebiasaanku terpesona dengan hal-hal romantis seakan kembali melandaku.

Setelah itu Heechul menggantikan Hyoreen duduk di depanku.

 

“Katakan padaku! Drama mana yang oppa imitasi?” Dengan melipat rapi kedua tanganku dimeja dan mencondongkan tubuhku ke depan aku menanyakan rasa penasaranku akan adegan yang baru saja secara langsung aku saksikan.

Dia kemudian hanya memasang senyum begitu berkilau. Dengan juga mencondonkan tubuhnya ke depan jarak wajah kamipun jadi lebih dekat. Rasa terkejut cukup menderaku ketika ia tangkupkan keduanya tangannya menutupi sebagian wajahku.

“Rae-ku… kau harus jawab ini. Drama dari kisah nyata atau kisah nyata dari drama.”

Apa ini? aku merasa malu. Tidak hanya tingkah Heechul yang memperlakukanku tapi panggilannya juga aneh.

 

“Mm… aku rasa… mm.. ahh.. aku sedang pusing dan aku tidak mau berteka-teki hari ini.”

Aku menarik tubuhku kembali ke sandaran hingga tangannya terlepas dariku.

 

“Hei, tidak mau berbeda dengan tidak tahu.” Jadi lelaki ini mengejekku.

 

“Aish… kau… sudahlah.” Aku berdiri dan meninggalkan Heechul dengan wajah kesal. Sebenarnya aku tidak terlalu kesal dengan permainannya. Yang menjadi akar kekesalanku saat ini adalah rasa penasaranku yang tidak terjawab ditambah rasa malu serta rasa kebingunganku padanya.

 

“Ya! Rae-ya!”.

Aku terus berjalan meninggalkan restoran tanpa memperdulikan panggilannya.

 

“Tunggu Rae-ya. Ada apa denganmu?”

Heechul menarik tubuhku memaksaku untuk berhenti. Aku memalingkan muka darinya.

 

“Kau ini! Kenapa serius sekali? Maafkan aku. Sebagai gantinya, bagaimana kalau kita jalan-jalan?”

 

“Tidak.”

 

“Ayo. Aku tidak memintamu tapi aku memaksamu.”

Dia menarik tanganku membawa diriku pada kendaraan roda empat setianya.

—o0o—

 

“Ahahaha…. tarianmu sangat jelek oppa.” Sejak tadi aku tak dapat menghentikan tawaku melihat tarian dan tingkah lucu Heechul.

 

Disinilah kami, pergi ke tempat karaoke seperti ini lumayan membuatku dapat menyalurkan rasa kesalku. Menyanyi dengan suara keras tak perduli suara akan habis nantinya. Juga menari mengikuti video yang terputar di layar.

 

“Ayo nyanyi lagi.”

 

“Tidak, oppa telah membuatku lelah tertawa. Aku rasa aku tak lagi kuat menyanyi.”

 

“Bagaimana dengan yang ini?” Heechul mengubah videonya dan sekarang muncul lagu sendu dengan latar pasangan berdansa. Tiba-tiba Heechul berlutut di depanku. Tangannya terulur seperti pangeran yang hendak mengajak tuan puterinya berdansa.

 

“Hem hem… baiklah.” Aku menaruh tangan kananku di tangan kirinya. Kemudian kami berdansa mengikuti irama lagu yang terdengar. Sesekali kami lepas dari saling merangkul dan Heechul memutar tubuhku.

 

“Aaa… kau menginjak kakiku nona.”

 

“Oh… tidak usah maafkan aku karena aku sengaja.”

 

“Mwoya?”

Dia menghentikan gerakannya tapi tetap tak melepaskan genggaman tangannya dariku.

 

“Aku bilang aku minta maaf.”

 

“Sepertinya bukan kalimat itu yang kudengar tadi.” Dia melayangkan tatapan mengancam padaku.

 

“Memang itu yang ku katakan. Sepertinya telingamu bermasalah tuan.” Dengan wajah yang ku pasang tak bersalah aku berkelit dari tuduhannya.

 

“Apa?”

 

“Ah.. ahaha… he… hen… hentikan”

Aku benar-benar tidak sanggup lepas dari hukumannya menggelitiku.

 

Setelah puas jalan-jalan yang kami akhiri dengan makan malam Heechul pun mengantarku pulang.

 

“Masuklah Rae-ya!” Seperti biasa dia tidak akan pergi sebelum melihatku masuk ke dalam rumah.

 

“Terimakasih Oppa.”

 

“Syukurlah kalau kau sudah tak lagi terlihat berputus asa. Bukankah kau yang mengatakan jika kehidupan adalah ujian. Kau harus lulus ujian. Benar?”

Aku malu karena telah lupa atas ucapanku sendiri. Aku jadi ingat Elena, Adinda dan Minho yang menyemangatiku untuk tidak menyerah.

 

Aku tersenyum menatap wajah teduh yang Heechul tampakkan.

 

“Aku ingat sekarang. Sekali lagi terimakasih untuk hari ini.”

 

Aku bergegas melalui halaman dan masuk ke dalam rumah. Hyo telah tidur di kamar. Setelah berganti aku turut berbaring di samping adikku itu.

 

Walau tubuh telah berbaring tapi pikiranku masih berkelana. Pemikiran akan mengulang usahaku dari mana terus saja berputar. Lalu tiba-tiba saja aku teringat perkataan Yara padaku kala itu.

 

“Oh, Raemun-ssi!”

 

“Ini bagian dari ujian itu.”

 

“Ini bagian dari ujian?”

 

“Apa maksudnya?”

Mata ini sulit terpejam. Pikiranku tampak masih sangat penasaran dengan maksud dari perkataan Han Yara-ssi.

 

Semoga saja Hyorim tidak terganggu dengan gumaman- gumaman penasaranku.

 

—o0o—

 

Hari ini kali pertama aku berusaha lagi. Setelah mengurus pekerjaan lainnya aku kembali lagi ke studio Han. Tapi Hyukjae dan Juri yang lain rupanya sedang tidak ada. Jadi aku harus kembali lain waktu

 

Hari berikutnya aku kembali lagi datang ke studio Han sesuai informasi jadwal ujian yang mereka janjikan padaku. Semua pertanyaan dan tes praktik kembali terulang dan hasilnya, dengan wajah jahatnya Hyukjae kembali menolakku. Tidak masalah… aku akan kembali lain waktu.

—o0o—

 

“Selamat pagi Lee Hyukjae-ssi.” Kami berpapasan ketika memasuki kantor. Telah ku putuskan untuk berpikir positif dan tidak membenci Hyukjae. Untuk membuktikan bahwa aku baik-baik saja maka saat ini aku telah mengukir senyum yang begitu lebar di depannya.

 

“Apa kau baik-baik saja Raemun-ssi?” Wajah Hyukjae menampakkan kekhawatiran tapi lebih seperti melihat sebuah keanehan.

 

“Tentu saja. Ini!” Aku suluhkan sebatang cokelat yang ku bawa dari cafe Young Ah.

 

“Apa ini?”

 

“Ini untuk Jangmi. Bukankah anak-anak suka cokelat. Kau tidak melarang putrimu makan cokelat kan?”

Ia mengerutkan keningnya untuk beberapa saat membuatku juga heran dan terdiam.

 

“Apa kau berusaha menyuapku?” Tanyanya dengan nada curiga.

 

“Aigoo… maaf kalau tersinggung. Tapi sungguh Jangmi begitu lucu dan aku menyukainya.”

Kalau tersinggung mungkin memang ingin di suap.

 

“Baiklah, terimakasih.”

 

“Sama-sama.” Kami kemudian berpisah di persimpangan koridor dan tak lagi berjalan searah.

—o0o—

 

Hari ketiga aku kembali ke Studio yang sama. Dan tidak perlu di tanyakan lagi hasilnya sama aku ditolak. Apa sebaiknya sudahi saja usahaku. Biasanya batas mencoba itu tiga kali. Oke, mari kita coba sekali lagi esok nanti.

 

Ting….

Bel berbunyi khas tanda ada pengunjung datang.

 

“Selamat malam, silahkan masuk.”

Sapa seorang pelayan yang ku kenal dengan nama Jisoo.

 

“Eonni datang lagi?” Sapanya.

“Ada apa ini? Kenapa kau masih bertanya? Aku tak kan pernah bosan datang kemari.” Jawabku

 

“Karyawan baru ya.” Young Ah datang mendekatiku dengan kalimat ejekannya. Secara aku mendaftar jadi karyawannya tapi tidak pernah bekerja.

 

Ya, setelah melaksakan tugasku aku memulai kebiasaan baruku mendatangi cafe tempat Young Ah bekerja, beruntung direkturnya sangat mempercayai Young Ah hingga diam bisa membantuku memberikan alibi.

 

“Bagaimana Rae-ya?” Minho muncul juga mendekatiku. Rupanya dia di sini juga. Always, dimana ada Young Ah disitu ada Minho. Lalu kami mengambil tempat untuk kami duduk bersama.

 

“Di tolak.” Cukup satu kata keduanya telah mengerti.

 

“Benar-benar orang-orang itu ya, siapa namanya?”

Geram Young Ah seakan turut kesal dengan kejadian yang aku alami.

 

“Tidak apa Rae-ya. Ayo semangat!”

Ujar Minho tanpa dosa.

 

“Aishh…. kau ini. Oke sekali lagi.” Aku hanya memberikan tatapan malasku padanya.

—o0o—

 

Ini kesekian kali aku mencoba lagi dan aku tidak lagi merasa berdebar menanti jawabannya. Kata yang kemungkinan besar kudengar adalah kata tolak.

 

“Baiklah Jung Raemun-ssi kau boleh mengikuti latihan kami mulai besok. Kau lulus ujian?” Jelas salah seorang juri wanita yang ku ketahui bernama Jang Nari. Sejak menunggu keputusan aku pikir aku akan di tolak lagi. Tapi setelah jawaban keputusan mereka berikan justru kini hatiku berdebar kencang merasakan keterkejutannya. “Benarkah?”

Tanyaku meyakinkan.

“Aaahhh…. akhirnya aku diterima. Yess!” Tanpa sadar aku berteriak kegirangan.

 

“Terimakasih.” Akupun bersalaman dengan Nona Jang dengan riangnya.

 

Aku keluar dengan semangat, tak sabar rasanya ingin menyampaikan hal ini pada semua. Ternyata sesenang ini mendapatkan hal yang susah kita dapatkan.

 

“Ahh… Yara-ssi, kau disini?”

 

Dalam perjalanan keluar aku bertemu dengan Yara.

 

“Begitulah aku baru pulang.”

Baru-baru ini aku tahu jika Yara bekerja sebagai guru di sebuah sekolah milik pemerintah. Wanita ini tak mengikuti jejak kedua orang tuanya yang bekerja di bidang kesenian. Tapi sebagai putri tunggal Han Yara sesekali membantu mengurusi studio yang kabarnya begitu orang tuanya cintai ini.

 

“Kalau begitu kau pasti lelah. Dimana Jangmi?” Tanyaku basa-basi.

 

“Jangmi bersama kakek dan neneknya. Aku kemari untuk menjemputnya. Owhh… Bagaiman hasil kali ini?”

 

“Terimakasih, akhirnya aku lulus.” Refleks aku memeluk Yara untuk mengekspresikan kesenganku.

 

“Selamat Raemun-ssi.” Ucapnya.

 

“Rae, panggil aku Rae. Dan bolehkan aku memanggilmu eonni?”

Dia tersenyum menghadapi permintaanku kemudian mengangguk mengiyakan. Berhasil, mendekati orang tuanya berawal dari mendekati putrinya.

 

“Sekali lagi terimakasih eonni. Aku mengerti maksud perkataan eonni waktu itu.

 

Kala itu aku ingat Yara mengisyaratkan bahwa jika penolakan padaku waktu itu adalah bagian dari ujian. Seberapa besar aku ingin sebesar itulah kita harus terus mencoba.

—o0o—

 

“Bagaimana?” Tanyaku pada Minho.

“Ini hampir selesai.” Jawabnya.

Kami masih di kantor. Setelah mendapatkan informasi yang menajadi tugasnya kami sepakat berkumpul termasuk Elena dan Adinda. Koreksi bersama menjadi bagian dari kegiatan kami. Kerja tim sangat di butuhkan untuk hasil yang maksimal. Meski tugas telah dibagi-bagi tapi bertukar pikiran masih tetap harus di lakukan demi kesempurnaan.

 

“Aku harus pergi sekarang.”

Aku melirik jam yang melingkar di pergelangan tanganku. Tepat pukul 3 sore ini aku harus mengikuti pelatihan tari Nona Jang. Itu artinya 30 menit lagi aku harus berada di sana.

“Tak apa eonni, kau pergilah dulu. Nanti hasilnya ku kirimkan melalui email.” Ucap Adinda.

“Baiklah, terimakasih.”

—o0o—

 

“Yang menjadi dasar menari adalah kau harus bisa membuat tubuhmu terasa ringan. Ada beberapa teknik yang bisa kita gunakan. Misalnya seperti ini.”

Aku bersama teman-teman memperhatikan dan menirukan gerakan Nona Jang mengangkat tumit kakinya.

Ya, sekarang aku punya beberapa teman baru yang juga akan belajar sama sepertiku. Yang menjadi perbedaan besar diantara mereka denganku adalah dari segi usia. Huuu…. menyedihkan tampaknya aku yang tertua. Mm.. semoga saja tidak ada daftar tanggal lahir murid yang di pajang. Aku rasa mereka tidak akan menduga usiaku telah lalu. Beruntunglah wajah kecil dan ovalku sering membuat orang salah menduga usiaku. Beberapa orang baru terus menduga aku masih usia sekolah.

 

Untuk beberapa saat Nona Jang meninggalkan kami berlatih sendiri sesuai interupsi yang telah ia berikan.

 

Pantas aku sulit di terima. Melihat banyak yang lebih berbakat dan kreatif aku merasa diriku memang tak berbakat.

 

Terus untuk berhari-hari kemudian aku tetap mengikuti kelas menari Nona Jang. Menurut keterangan jika kita sudah di anggap mampu menyerap pelatihan dari nona Jang dengan baik maka kita bisa naik kelas.

 

“Hai, perkenalkan aku murid baru namaku Jung Raemun. Kamu murid disini juga kan?”

Saat selesai latihan seperti ini adalah waktu yang tepat untuk mengorek informasi. Untuk itu aku berusaha berkenalan dengan murid yang kira-kira udah lama berada di sini.

 

“Ne, namaku Buyoung.” Jawab gadis muda yang mengepang rambutnya tersebut. Tampak ia sedang melepaskan lelahnya dengan duduk di sebuah bangku.

 

“Apakah kau telah lama belajar disini?”

 

“Iya sudah sekitar satu tahun.”

 

“Wah berarti sudah lama sekali? Kenapa kamu masuk ke sini?”

 

“Aku menyukai dunia tari dan aku ingin jadi artist. Belajar di sini termasuk impianku. Aku akan mengikuti audisi sebuah artist management tahun ini.”

Jelasnya panjang dengan wajah dan mata seakan menerawang sebuah harapan.

 

“Cita-citamu bagus. Semoga berhasil. Owh ya apa Tn. dan Ny. Han turut mengajar kita?”

 

“Iya nanti. Tapi kau harus menyelesaikan pelatihan dari Jang Nari Seonsaengnim, Park Yongmin dan Eunhyuk Seonsaengnim.” Eunhyuk? Aku belum tahu seseorang dengan nama itu. Oke aku masih baru jadi wajar jika belum tahu banyak.

 

Ya ampun waktuku hanya tiga bulan. Gadis ini belajar dalam satu tahun. Jangan-jangan pendekatan yang aku rencanakan akan sia-sia saja.

 

“Egh.. maaf Raemun-ssi aku duluan ya. Seseorang telah menjemputku.”

Pamitnya padaku.

 

“Eoh… silahkan.”

Gadis itu pun berlalu semakin tak terlihat.

 

Setelah itu aku memutuskan untuk berkeliling mengenal gedung khusus pelatihan ini.

 

Di sebuah ruangan berdinding kaca tembus pandang aku melihat Hyukjae, Yara, Nona Jang dan yang lain. Lalu aku melihat papan di atas pintu itu tertuliskan office. Jadi studio ini benar-benar seperti sebuah lembaga non formal.

 

Semua nama orang-orang yang di dalamnya aku tahu, tapi ada satu yang menarik perhatianku. Laki-laki yang waktu itu bertemu denganku di jalan dan mengantarku mencari studio Han juga berada di dalam sana. Aku belum sempat mengenal namanya kala itu. Siapa dia? Apa dia juga bagian dari studio ini?

 

“Raemun-ssi, kau di sini?” Aku menoleh dan Yara telah berada di sampingku. Tampaknya aku melamun lagi hingga tak kusadari Yara yang mendekatiku.

 

“Yara-ssi, aku hanya berkeliling di sini.” Ku sertai jawabanku dengan sebuah senyuman.

 

“Ouh Raemun-ssi karena kau berada di sini ada sesuatu yang akan ku katakan langsung.”

 

“Eoh… apa itu?”

Tanyaku penasaran dengan pernyataannya.

 

“Besok malam aku ingin merayakan ulang tahun Jangmi yang ketiga. Aku harap kau bisa hadir di sana.”

Acara? Itu berarti akan ada pasangan Han. Bukankah ini sebuah kesempatan?

 

“Kenapa tidak? Aku pasti hadir.”

—o0o—

 

Pesta ulang tahun Jangmi yang di adakan di aula studio Han di desain sederhana namun elegan. Aku harap dress hijau berpita berukuran selutut ini masih layak untuk terlihat sama elegannya dengan pesta ini.

 

“Raemun-ssi kau datang?”

Kemunculan Hyukjae di belakangku membuatku cukup terkejut.

 

“Ne, menghadiri undangan itu penting. Hei, Jangmi-ya, selamat ulang tahun.”

Melihat Jangmi berada di gendongan Hyukjae, aku pun mengucapkan selamat. ku ulurkan kado yang aku bawa padanya. Si gadis kecil bergaun merah pulkadot itu tampak bahagia menerima kado dariku.

 

“Terimakasih Ajeomma.”

 

“Sama-sama cantik.” Ku sentuh pipinya merasa gemas pada senyum lucunya.

 

“Dia tampak tidak mirip denganmu? Apa benar kau ayahnya?” Godaku pada Hyukjae.

 

“Hai Rae-ya, terimakasih kau telah datang.” Han Yara muncul dengan gaun oranyenya yang menawan.

 

“Tidak mungkin aku tidak datang untuk gadis yang lucu ini Yara-ssi.”

 

“Rupanya kau di sini Jangmi-ya. Appa mencarimu dan kau selalu bersama Hyuk samchon. Tampaknya kau lebih mencintai samchonmu itu di banding dengan appamu sendiri.”

Seorang laki-laki yang wajahnya ku kenali tiba-tiba datang bergabung. Apa? Apa dia bilang. Jangmi adalah putrinya dan Hyukjae adalah pamannya. Seketika itu aku menatap Hyukjae dengan wajah penuh tanya.

 

“Rae-ya kenalkan, ini suamiku Kim Minseok.” Ucap Yara padaku.

 

“Hai, kita sudah pernah bertemu bukan?” Ucapnya mengulurkan tangan padaku. Aku pun menyambut uluran tangannya.

 

“Eh Hai, aku Jung Raemun. Kau bisa memanggilku Rae saja.” Jadi lelaki yang kala itu mengantarku ke studio Han bernama Kim Minseok dan dia adalah suami dari Han Yara.

 

Jadi Hyukjae…

Aku lagi-lagi menatap Hyukjae dan dia hanya membalas pandanganku dengan senyum seringainya. Aghh… kupejamkan mataku penuh penyesalan. Sekarang aku benar-benar malu.

 

“Ayo cepat kita mulai. Jangmi-ya ayo turun, kita akan menyanyi bersama.” Ajak Kim Minseok Pada putrinya.

 

Kemudian Han Yara, Kim Minseok dan Jangmi menjauhi kami menuju tempat kue telah di letakkan.

 

“Dia memang tidak mirip denganku.” Ucap Hyukjae yang masih berdiri di sampingku.

 

“Hehe, jadi kau benar-benar bukan ayahnya?” Ku tampilkan senyum kaku berusaha menahan rasa maluku.

 

Dalam keadaan seperti ini aku rasa tidak usah berpaling lagi dan terus memandang ke depan seakan tak terjadi apapun.

 

Owh bodohnya diriku jelas-jelas tertulis di kue itu nama Kim Jangmi jadi mana mungkin Lee Hyukjae adalah ayahnya. Sepertinya aku perlu turun jabatan. Aku merasa tidak memiliki kemampuan analisis yang baik dan menduga sesuatu hanya berdasarkan apa yang aku lihat saja. Tapi waktu itu memang Jangmi mengatakan jika dia akan menunggu ayahnya. Lalu yang kulihat saat itu adalah kemunculan Hyukjae. Ahhh…. apa yang sebenarnya terjadi. Jangmi tidak mungkin menjadi seseorang yang harus aku mintai penjelasan.

 

SAENGIL CHUKKA HAMNIDA…

SAENGIL CHUKKA HAMNIDA…

 

Hingga selesai acara potong kue Hyukjae tak kunjung bergerak dari sampingku membuatku sulit bergerak. Rasa maluku padanya masih sangat besar sekedar aku abaikan.

 

“Hyukie, siapa dia? Cantik sekali?” Seorang wanita paruh baya yang aku yakini adalah Ny. Han mendekati Hyukjae. Apa yang di maksud Ny. Han adalah aku.

 

“Dia…”

 

“Saya kekasihnya nyonya.”

Aku menundukkan badanku memberi salam perkenalan. Dan aku dapat meliha jika Hyukjae mengerutkan keningnya. Aku harap dia tidak menyangkal dan meminta penjelasanku nanti.

 

Ide memotong perkataan Hyukjae dan mengatakan kebohongan tentang hubunganku dengannya terbesit begitu saja. Pikiran jika Hyukjae cukup dekat dengan keluarga Han mungkin bisa aku manfaatkan.

 

“Rupanya kau ingin merahasiakan hal ini dari kami?”

 

“Tidak, dia bukan kekasihku.”

Aghh… shock. Bagaimana nasib wajahku saat ini. Aish apa yang kau lakukan Rae? Kau bisa mengacau segalanya.

 

— To be Continued —

 

 

1 Comment (+add yours?)

  1. Monika sbr
    Sep 07, 2015 @ 20:40:27

    Ahahahahahaha….. Pasti raemun malu banget deh, waktu hyukjae ngomong kalau mereka bkn sepasang kekasih… Tp semoga aja mereka cpt jadian.

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: