Navy in Love [19/?]

Tittle        : Navy in Love Part 19
Author     : MSA
Genre      : Action, Romance, Sad, Family, Friendship
Length     : Chapter
Rate         : PG 15

Main Casts              :
General Cho Kyu Hyun
Fleet Admiral Sofia Flynn

Support Casts       :
Captain Choi Siwon
Captain Nick Byrne
Captain Kim Jong Woon
Fleet Admiral Alan Bradley
Carl Hagen
OTHERS

PS :
Sebenarnya hal ini gak harus di utarakan namun, aku sebagai penulis kadang merasa sedikit kecewa saat para pembaca yang mengunjungi blog aku hanya menjadi ‘silent readers’. Well, sebenarnya aku tidak memiliki masalah akan hal itu. Namun, aku dan mungkin para penulis fanfiction lainnya juga ingin mendengar komentar kalian –para pembaca– dalam bentuk kritik ataupun saran. Hubungan timbal balik, aksi = reaksi.

Aku gak haus komentar namun, aku juga perlu saran dan kritik kalian untuk membangun motivasi aku untuk menuliskan karya-karya yang lebih baik daripada saat ini.

I bet you guys understand what I am talking about here. Anyway, thank you so much for visiting my blog. Enjoy my stories ^^.

PPS :
Navy in Love akan menjadi fanfiction dengan part yang cukup panjang. Jadi, silahkan bersabar dalam menantikan cerita-cerita selanjutnya. Navy in Love juga akan mengalami sejumlah penyuntingan besar-besaran yang akan direncanakan dalam waktu 2 bulan dimulai dari saat ini. Aku juga berniat untuk menuliskan cerita prequel dari Navy in Love, yang insha Allah akan menceritakan tentang kehidupan Sofia Flynn sebelum bertemu Cho Kyuhyun.

WARNING! TYPO ANYWHERE

 

Fleet Admiral Alan Bradley’s Office, Navy Military Building of Republic of South Korea, Seoul, March 27th 2000
10.20 AM

Captain Flynn, you are very disappointing!” kalimat pertama bernada tak menyenangkan terlontar dari mulut Mr. Bradley.

Sofia semakin menundukkan kepalanya, ‘Astaga, Luke! Bantu aku!’

“Bertindak gegabah dan kau bahkan tidak meminta persetujuanku terlebih dahulu! Sangat mengecewakan Kapten Flynn. Tidakkah kau seharusnya membicarakan ini kepadaku terlebih dahulu sebelum kau mengambil tindakan?” Mr. Bradley menatap Sofia tajam.

Keringat dingin mulai mengalir di pelipis Sofia, “I am so sorry, Sir.”

Mr. Bradley menghela napas, “Kau tahu, Kapten Flynn? Ada baiknya jika kau mendiskusikan ini terlebih dahulu denganku lalu setelahnya dengan pihak berwenang Amerika Serikat, lalu setelahnya kita akan bersama-sama membicarakan hal ini dengan pihak Korea Selatan. Mungkin, jika kita sudah menemukan solusi yang tepat kita akan membicarakan hal ini juga dengan Kapten Kim Jong Woon. Tapi kau sudah bertindak terlebih dahulu. Apa yang bisa aku perbuat?

Kau teruskan saja rencanamu. Tapi jangan sampai pihak Korea Selatan mengetahui hal ini dulu. Kita akan diskusikan ini dengan pihak Amerika Serikat, lalu setelahnya kau bicarakan ini dengan mereka. Pastikan hanya mereka yang mengetahui rencanamu.” Mr. Bradley berujar bijak.

Oh astaga Tuhan! Terima kasih banyak!’

Sofia melongo, “Thank you so much, Sir and my apologies for this. I’ll try to do my best.” Sofia bangkit dari duduknya, memberi hormat pada Mr. Bradley lalu pergi meninggalkan ruangan itu.

Sepeninggal Sofia dari ruangannya, Mr. Bradley menghembuskan napas berat, lagi. “Jika saja anak itu tidak memiliki potensi disini, mungkin aku akan langsung memecatnya. Kau beruntung Kapten Flynn.” Gumamnya sambil memijit pelan pelipisnya.

Navy Military Building of Republic of South Korea, Seoul, March 27th 2000
10.25 AM

Begitu Sofia kembali ke ruangannya, ia langsung menemukan Cho Kyuhyun, Nick dan Choi Siwon duduk di dalam ruangannya. Mereka bertiga langsung bangkit dari duduk mereka masing-masing dan menatap Sofia dengan raut wajah cemas.

So, how?” tanya Choi Siwon.

Sofia menghela napas lalu mendudukan dirinya di samping Nick, “Aku baik-baik saja. Aku beruntung karena Mr. Bradley tidak langsung memecatku.” suaranya terdengar penuh rasa syukur.

Thank God!” Nick bergumam dan diikuti oleh kedua laki-laki yang lain dengan ucapan yang sama.

“Kalian tahu, sesaat aku berpikir setelah aku keluar dari ruangan Mr. Bradley, aku akan langsung berpamitan dengan kalian.” Sofia berujar lesu.

“Syukurlah ternyata Mr. Bradley masih berbaik hati padamu.” ujar Choi Siwon.

“Atau lebih tepatnya ia berbaik hati padaku.” Cho Kyuhyun mulai bersuara.

What do you mean?” tanya Sofia bingung.

“Kau tahu apa maksudku, Nona Flynn.” Ia menatap Sofia dengan pandangan penuh arti.

Choi Siwon dan Nick langsung terkekeh begitu sadar apa maksud dari kalimat Cho Kyuhyun. Sedangkan Sofia hanya bisa menampakkan raut bingung selama beberapa saat.

Ia hanya ber-oh ria setelah ia menyadari apa maksud dari kalimat Cho Kyuhyun. Wajahnya langsung merona, dan itu berhasil membuat ketiga lelaki itu terkekeh. “Shut up!” ujarnya.

Navy Military Building of Republic of South Korea, Seoul, March 27th 2000
18.30 PM

“Kau berniat lembur?” tanya Nick saat ia memasuki ruang kerja Sofia.

Sofia yang tengah memfokuskan matanya pada lembaran kertas dimejanya pun menoleh menatap Nick, “Apa? Tidak. Aku hanya sedang memeriksa ulang jadwal tentang kedatangan petinggi Pentagon dan Mr. Hagen.”

Nick mengangguk lalu mendudukan dirinya dihadapan Sofia, “Anyway¸ what did he say about your confession?

Sofia menghela napas begitu mendengar pertanyaan Nick, “Dia kecewa padaku, tentu saja. Kau tahu, kita atau lebih tepatnya aku bertindak gegabah perihal ‘meminta bantuan pada dua saudara’ itu. Tapi entah apa yang merasukinya ia dengan mudahnya berkata ‘Teruskan saja, hanya jangan sampai seluruh pihak Korea Selatan mengetahuinya.’” Ia memberatkan suaranya saat menirukan ucapan Mr. Bradley.

Nick terkekeh, “Kurasa apa yang di katakana Cho Kyuhyun itu benar adanya.”

Sofia mengalihkan matanya dari lembaran kertas berisi jadwal kedatangan serta agenda para petinggi Pentagon dan menatap Nick, “What do you mean?

“Mr. Bradley tidak menghadiahkanmu sebuah surat pengunduran diri dari militer dan menahanmu disini karena ia kasihan pada Cho Kyuhyun. Kasihan padanya karena akan menjadi gila jika kau tidak ada.”

Sofia mendengus, “Astaga, Nick! He’ll be fine if I am not here anymore.

What makes you think he’ll be fine when you’re not here?”

Sofia terdiam. “Entahlah, tapi kupikir ia akan baik-baik saja. Ia seorang laki-laki yang tangguh. Tak mungkin jika ia tak bisa bertahan di tengah situasi seperti ini hanya karena tidak ada aku di sekitarnya.”

“Segalanya akan berubah ketika seseorang sudah mengenal sebuah hal bernama ‘cinta’, Miss Flynn.”

Sesaat ruangan itu terasa hening setelah Nick mengutarakan hal yang membuat Sofia tak berkutik. Tiba-tiba pintu ruangan itu diketuk oleh seseorang.

Captain Flynn? Ini aku, Kim Jong Woon.” Suara Kim Jong Woon terdengar dari luar ruangan.

Come in!” Nick berseru menggantikan Sofia.

Beberapa detik kemudian, muncullah sosok Kim Jong Woon dengan selembar kertas di hadapannya. “Selamat malam, Captain Flynn, Captain Byrne.” Ia membungkuk hormat.

Good evening, Captain Kim. Silahkan duduk.” Sofia menunjuk kursi yang ada di sebelah Nick. “Ada perlu apa?” tanyanya.

Kim Jong Woon menyerahkan selembar kertas yang ia bawa kepada Sofia, “Aku berniat memberikan itu pada Jenderal Cho namun, ia sudah tidak ada di tempat. Jadi, kupikir aku harus memberikannya padamu, Kapten.”

Sofia mengangguk mendengar penjelasan Kim Jong Woon lalu sejenak mengalihkan fokus matanya pada barisan kalimat yang ada di dalam kertas tersebut. Selang beberapa menit kemudian, ia mulai membuka suara, “Kapan mereka mengirimkan ini padamu?”

“Beberapa saat yang lalu, Kapten.”

Nick menatap kedua orang itu dengan penasaran, “Bolehkah aku melihatnya?”

Sofia mengangguk lalu memberikan kertas itu pada Nick. “Kapten Kim, bolehkah aku bertanya sesuatu padamu? Bagaimana cara mereka bisa menghubungimu disini? Pihak berwenang pasti akan tahu jika ada nomor dari negara itu masuk kedalam daftar panggilan disini, bukan?”

“Intel. Mereka punya intel di Korea Selatan. Tapi mereka tidak menempatkan mereka di dalam Pemerintahan atau Militer. Setahuku mereka menempatkannya sebagai warga sipil. Seperti biasa, di wilayah perbatasan.”

Wait a second, apakah ini susunan rencana yang sudah mutlak? Maksudku, apakah ini adalah susunan rencana aslinya?” Nick bertanya sambil mengernyitkan keningnya.

Kim Jong Woon menggeleng, “Aku sendiri tak tahu, Kapten Byrne. Aku hanya menyalin apa yang Intel katakan padaku. Aku tak tahu pasti. Jikalaupun itu adalah rencana yang sudah mutlak dibuat oleh pihak Korea Utara, kemungkinan besar mereka sudah tahu bahwa kalian sudah mengetahuinya. Pun dengan pemerintah Korea Selatan.”

Shit!” Nick mengumpat sementara Sofia hanya menghela napas.

“Perang antar negara akan segera terlaksana jika hal itu benar adanya. Lihat saja, mereka memajukan waktu yang awalnya dikatakan saat kita menjalani acara tahunan RIMPAC di tahun 2004 menjadi 2 tahun lebih awal. 2 years from now, Nick.”

“Kapten Kim, bisakah kau menanyakan hal ini pada Intelmu? Apakah ini sudah menjadi rencana mutlak atau belum? Jika iya, bisakah kau tanyakan mengapa?” ujar Nick.

Kim Jong Woon mengangguk, “Aku akan berusaha untuk menghubungi Intel. Aku akan mengabari kalian jika aku sudah mendapat kabar.”

Sofia dan Nick mengangguk, “Thank you so much, Captain Kim. You may leave now.” Ujar Sofia.

Kim Jong Woon mengangguk lalu bangkit dan meninggalkan ruangan tersebut.

“Haruskah kita mengatakan hal ini pada Cho Kyuhyun?” tanya Sofia.

“Lebih baik kau hubungi Mr. Bradley terlebih dahulu.”

“Tidak bertindak gegabah, Flynn!” Sofia menggerutu pada dirinya sendiri.

Nick terkekeh, “Senang kau masih mengingatnya.”

Damn you, Nick!

Shang Ri La Royal Residence, Seoul, March 27th 2000
20.00 PM

“Cho, kau sudah memikirkan tentang kemungkinan adanya Intel Korea Utara di negara ini?” pertanyaan itu tiba-tiba saja menguar dari mulut Choi Siwon ketika ia dan sepupunya itu tengah menikmati waktu senggang mereka.

“Ya, tentu saja. Tapi kau tahu sendiri bahwa mencari siapa yang menjadi Intel negara itu sama sulitnya dengan mencari jarum dalam tumpukan jerami. Kuharap mereka tidak menempatkan Intel di dalam pemerintahan atau militer.”

Choi Siwon mengangguk, “Tidak salah jika mendiang samchon memilihmu sebagai penggantinya di usia semuda ini.” Gumamnya.

Cho Kyuhyun menoleh dan menatap Choi Siwon tajam, “Aku juga ikut ambil andil dalam merebutkan jabatan ini, kau tahu? Banyak petinggi Angkatan Laut yang menolak appa mati-matian saat beliau mencalonkanku! So, i had to convince them. Convince them that i could be a good leader, better than my father. I tried and tried and tried. And here I am.”

Choi Siwon mengangguk sekali lagi. Masih terekam jelas dalam memori ingatannya dimana ia menyaksikan sepupunya itu berkoar di depan seluruh petinggi Angkatan Laut serta jajaran petinggi Militer Korea Selatan untuk meyakinkan mereka semua bahwa ia tidak akan pernah menduduki posisi ini hanya karena ayahnya ,yang secara kebetulan adalah pimpinan tertinggi di Angkatan Laut, mengamanahkannya jabatan tersebut. Ia juga menjelaskan bahwa ia bisa mencapai titik ini berkat usaha kerasnya selama bertahun-tahun.

Cho Kyuhyun tidak menjelaskan hal tersebut sekali. Tapi berkali-kali. Ia mencoba dan mencoba. Hingga di titik dimana ia hampir menyerah, para petinggi tersebut setuju untuk memberikannya jabatan tersebut dengan syarat bahwa ia masih dalam pengawasan para petinggi. Beruntung bahwa Cho Kyuhyun tidak mudah berpuas diri. Ia tetap mencoba meyakinkan para petinggi dengan segala usaha terbaiknya untuk menjalani amanah yang diberikan kepadanya sebaik mungkin.

“Hei, sudahkah kau bicara dengan Kim Jong Woon untuk menginformasikan segala informasi yang ia dapat dari pihak Korea Utara kepada kita?”

Seperti baru tersadar dari mimpi buruk, Cho Kyuhyun langsung membulatkan kedua matanya, kaget. “Belum.”

Choi Siwon mendesah, “Kalau begitu besok kau harus membicarakan hal tersebut padanya.”

Han Royal Apartment, Seoul, March 27th 2000
20.38 PM

Yes, Sir, I got it. Thank you so much.” Sofia menaruh kembali gagang telepon yang ada di apartemennya. Setelah melakukan pembicaraan dengan Mr. Bradley perihal surat berisi perubahan rencana yang diberitahukan pada Kim Jong Woon lewat salah seorang Intel Korea Utara, kini ia baru bisa sedikit bernapas lega.

I think i should’ve to tell him about this too.” Sofia kembali meraih gagang telepon lalu menekan sejumlah angka untuk mengabari Cho Kyuhyun.

Pada dering ke-tiga suara Choi Siwon terdengar di ujung telepon, “Selamat malam, Kediaman Cho Kyuhyun.”

Good evening, Captain Choi. It’s me, Sofia.”

“Oh, hai, Sofia! Ada perlu apa kau menelepon malam-malam?” suaranya terdengar sumringah.

Cho Kyuhyun yang tengah memfokuskan matanya pada film yang di putar di televisi, langsung menolehkan kepalanya begitu mendengar Choi Siwon menyebutkan nama Sofia. Ia langsung bangkit dari duduknya dan menghampiri laki-laki itu. “Berikan teleponnya padaku.“ ujarnya.

Choi Siwon pun cemberut, “Cho wants to talk with you.” Gumamnya sedikit kesal lalu menyerahkan gagang telepon tersebut pada sepupunya itu lalu kembali ke sofa yang tadi ia duduki.

“Cho?” suara Sofia menggema dari ujung telepon.

“Hai, ada perlu apa?“ ia tak bisa menyembunyikan senyum dari suara lembutnya.

“Maaf mengganggu waktumu, ini perihal Kim Jong Woon.”

Terdengar kekehan Cho Kyuhyun, “Kau tidak pernah menggangguku, Sofia. Ada apa dengan Kim Jong Woon?”

“Ia datang ke ruanganku tadi sore dan mengabariku serta Nick bahwa ia mendapatkan kabar dari Intel yang di tempatkan Korea Utara disini.”

“Intel? Apa yang ia katakan?” ‘Damn it! Seorang Intel! Pekerjaan tambahan untuk mencari tahu dimana Intel tersebut ditempatkan dan siapa Intel tersebut.’

“Tentang perubahan rencana Korea Utara. Kim Jong Woon tidak bisa memastikan apakah rencana itu sudah menjadi rencana yang mutlak atau belum. Tapi menurut apa yang ia dengar dari Intel tersebut, penyerangan yang sebelumnya di kabarkan akan terjadi pada acara tahunan RIMPAC 2004 ‘dijadwalkan’ akan terjadi pada tahun 2002. 2 tahun lebih awal dari rencana semula.”

Damn! Apakah ia tahu apa yang menyebabkan Korea Utara mengubah rencananya?”

Sofia menghela napas sedih, “Unfortunately, he doesn’t.”

Cho Kyuhyun mengusap kasar wajahnya, “Astaga! Sudahkah kau membicarakan hal ini dengan Fleet Admiral Bradley?”

Sofia mengangguk, “Yes, I did. Dia berkata bahwa kita harus menunggu hingga petinggi Pentagon serta Mr. Hagen tiba disini esok hari. Kau tahu, untuk mendiskusikan langkah selanjutnya.”

Cho Kyuhyun mengangguk, “Baiklah. We’ll find out the best way to solve this case.

“Ya, kuharap juga begitu.”

“Apa yang sedang kau lakukan?” tanya Cho Kyuhyun.

Nothing. Hanya sedang memikirkan tentang hal ini saja. Kau?”

“Merasakan apa yang orang normal lakukan di waktu senggang mereka.” Suaranya terdengar tengah mengejek diri sendiri.

Sofia terkekeh, “Orang normal? Jadi, kau tidak termasuk dalam golongan orang normal?”

Cho Kyuhyun mendengus, “Bukan begitu maksudku! Kau tahu, kita selalu disibukkan dengan segala urusan di dalam lingkungan militer. Apalagi dengan adanya konferensi ini, benar-benar menguras hampir seluruh waktu kita, bukan?”

Sofia ber-oh menanggapinya, “Jadi, kau masih termasuk dalam golongan orang normal?”

“Tentu saja! Jika aku bukan bagian dari golongan normal mungkin aku tidak akan menyukaimu, Sayang.”

Langsung saja rona kemerahan muncul di kedua pipi gadis itu saat mendengar panggilan ‘sayang’ terucap dari bibir laki-laki itu. ‘Perayu ulung!’ batinnya bersuara dengan senyum malu terukir di bibirnya. “Kurasa aku harus menghubungi Nick perihal apa yang Mr. Bradley katakan padaku. Good night and see you tomorrow, Fleet Admiral Cho!”

Cho Kyuhyun tahu bahwa gadis itu sebenarnya tak ingin memutuskan sambungan namun, ia terpaksa menurut. “Baiklah. Good night, I’ll see you tomorrow too. Sleep tight, jangan buat dirimu tenggelam dalam kelelahan, Sofia.”

Got it, Sir!” serunya lalu menutup telepon.

Cho Kyuhyun terkekeh lalu meletakkan kembali gagang telepon tersebut di tempatnya.

“Ada apa?” tanya Choi Siwon begitu Cho Kyuhyun kembali ke tempatnya.

“Kim Jong Woon mendapat kabar dari Intel Korea Utara tentang perubahan rencana penyerangan Korea Utara.”

Choi Siwon langsung mematikan televisi di depannya dan memilih untuk fokus dengan apa yang baru saja di sampaikan oleh sepupunya itu. “Intel? Jadi, dugaan kita benar? Lalu apa yang Intel tersebut katakan.”

Cho Kyuhyun mengangguk, “Dia tidak tahu apakah ini sudah menjadi rencana mutlak atau belum. Tapi menurut Intel, rencana penyerangan yang seharusnya dilaksanakan pada tahun 2004 –tepatnya dalam acara tahunan RIMPAC– di majukan menjadi 2 tahun lebih awal.”

Choi Siwon mengumpat pelan, “Kuharap mereka tidak melakukan ini karena mereka tahu kita telah mengetahui rencana mereka.”

“Oh Tuhan, kuharap Engkau mempermudah jalan dalam menjalankan niat baik kami.”

At the same time on the other side.

“Jung Kwang Ryul­-ssi­, apakah kau sudah menyampaikan perubahan rencana kita pada Kim Jong Woon beserta yang lainnya?” laki-laki berusia 50-an itu berkata di sela-sela hisapan cerutunya di ujung telepon.

Jung Kwang Ryul mengangguk, “Ne, saya sudah melakukannya sesuai dengan permintaan anda, Pak.”

Laki-laki tua diseberang sana terkekeh, “Bagus. Sajangnim, salah satu orang kita bertanya apakah rencana ini sudah menjadi rencana mutlak atau belum? Apa yang harus saya katakan?”

Tell him nothing.”

Jung Kwang Ryul mengerutkan keningnya bingung, “Waeyeo, Sajangnim?”

Lelaki tua itu meletakkan cerutunya di pinggir asbak sebelum melanjutkan pembicaraannya, “Karena..”

To be continued….

 

 

 

 

 

1 Comment (+add yours?)

  1. lieyabunda
    Sep 08, 2015 @ 03:33:44

    siapa itu,,,, apa mereka tau kalo kim jong woon udah berkhianak ama mereka….
    lanjut

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: