Dancing With The Rain [3/?]

PicsArt_1436258638134

Author : Lee Deeya

Tittle : Dancing With The Rain Part 3

Cast : Lee Hyukjae, Jung Raemun

Genre: Romantic

Rating : PG

Leght : Chapter

Author’s note: Bermula dari ide romantic cerita ini aku buat. Semua murni adalah karyaku yang terinspirasi dari kisah nyata. Musim yang di pilih adalah musim kesukaan author. Musim semi. Jika tidak keberatan mampirlah ke blog pribadiku ya… di http://www.thefantasticseonsaengnim.wordpress.com

 

 

 

 

“Tidak, dia bukan kekasihku.”

Aghh… shock. Bagaimana nasib wajahku saat ini. Aish apa yang kau lakukan Rae? Kau bisa mengacau segalanya.

 

Ny. Han memandang kami dengan beberapa kerutan di kening sebagai indikasi kebingungannya. Ayo Rae temukan cara selamat dari situasi ini.

 

“Apa maksudmu Hyukie?”

 

“Wanita ini bukan kekasihku. Dia murid baru di studio kita eommonim?”

 

Eommonim? Panggilan itu benar membuatku kembali berpikir. Siapa sebenarnya Hyukjae? Lalu seberapa dekat Hyukjae dengan mereka.

 

“Jadi kau tidak mengatakan yang sebenarnya?”

Wanita paruh baya dengan bentuk tubuh yang masih terawat itupun mendekatiku. Pertanyaan yang meluncur dari bibirnya cukup membuat lidahku teramat kelu. Untuk sejenak aku masih memilih diam seribu bahasa.

 

“Mm… maafkan saya. Ini… ini karena saya menyukainya Ajeomma.”

Ide ini mungkin sangat gila dan menjatuhkan harga diriku. Tapi tidak kutemukan jalan lain saat ini. Meski penuh dengan semak berduri akan ku lalui.

 

Walau tak secara langsung berhadapan tapi bisa kurasakan mata penuh selidik milik Hyukjae kini mengarah padaku. Panggilan “eommonim” yang ku dengar dari bibir Hyukjae memberiku inisiatif baru.

 

“Benarkah?”

Ny. Han pun turut menatapku seakan meminta keyakinan. Hanya sebuah anggukan kepala yang ku berikan sebagai jawaban.

 

“Jujur, ketertarikanku pada tarian adalah karena dirinya.”

Sebilah senyum lantas ia lontarkan untuk menanggapi kalimat yang aku bisikkan padanya.

 

“Hyukie, kau tidak boleh terlalu jahat padanya. Kenapa kau mengacuhkan gadis secantik ini.”

 

Huff… lega di relung hati menyeruak begitu saja tatkala Ny. Han menangkupkan kedua telapak tangan halusnya di wajahku, seakan memberi pernyataan setuju untukku.

 

“Apa?” Satu kata yang keluar dari bibir delimanya telah menunjukan bahwa ia sedang terkejut.

 

“Ijinkan aku bicara dengannya eommonim!”

Lelaki dengan emosi yang terpancar dari wajahnya tersebut mencengkram lenganku, menarik tubuh ini menjauh dari keramaian.

 

Sebuah denyutan mengaliri nadi hingga mencipta debaran di jantungku. Entah karena ketakutanku akan kemarahannya atau karena hal lain.

 

“Apa yang kau lakukan?”

Akhirnya cekalan tangannya di lenganku terlepas bersama suara kekesalan dari mulutnya. Pandangan menuntut jawaban ia layangkan padaku. Tak bisa, aku menunduk tak sanggup membalas tatapan itu.

“Eng… aku…” Tak kusangka kegugupan ini serasa seperti seorang narapidana dalam sebuah peradilan. Ini seperti menanti sebuah vonis bersalah oleh hakim.

 

“Aku hanya mengatakan apa yang aku rasakan.”

Sudah kepalang basah maka mungkin lebih baik seluruh tubuh aku lebur. Terbesit sebuah pemikiran jika mendekati Hyukjae mungkin memberikan sebuah celah untukku mendekati pasangan Han.

 

“Kau…” Ia terdiam, sepatah kata yang ia dengungkan tak mampu ia lanjutkan. Entah mengapa? Mungkin karena terlewat marah.

 

“Tidak, aku tidak bisa.” Ia kembali berujar dengan nada tertahan ketika aku memilih diam dalam waktu yang lama. Lalu dalam waktu sekejab sosoknya telah menghilang bersama hembusan angin kesakitan yang merasuki hatiku.

 

Rupanya luka karena penolakan atas perasaan ini mampu membuat ragamu seperti terlontar dan terjatuh begitu dalam. Begitu memalukan hingga tubuh ini tidak berkenan menyembul dan terus bersembunyi di palung laut.

 

Ku letakkan telapak tanganku di dada berusaha mengusir sesak yang lama telah mendominasi jantungku. Aku tidak ingin berada di sini lagi. Ini kesalahanmu Rae. Ini kebodohanmu Rae. Saat ini berbagai cacian serta makian ingin aku ucapkan pada diriku. Aaggh…

—-

Aku berjalan lesu di halaman dan melihat pemandangan cukup membuatku penasaran. Hyorim adikku baru saja pulang di antarkan oleh seorang laki-laki. Ku putuskan untuk berjalan terus memasuki rumah berpura-pura tidak ikut campur. Tapi dengan segera aku mendekatkan diri di jendela. Menyingkap tirai mengawasi apa yang terjadi dengan Hyorim di luar sana.

 

Terlihat jika Hyorim tersenyum begitu riang ketika berbicara dengan pria itu. Hei adikku yang masih kecil mulai memperlihatkan gejala kasmaran. Siapa lelaki itu? Oh aku terlalu sibuk akhir-akhir ini hingga tak sempat kudengar cerita bagaimana Hyorim melewati hari-harinya.

 

Aku berpura tiduran dan menonton televisi saat Hyorim memasuki rumah.

 

“Siapa lelaki tadi? Apa teman sekolahmu?”

 

Pertanyaan itu mungkin tepat aku tanyakan saat dia juga membaringkan dirinya bergabung denganku.

 

“Dia Shim Cangmin, kakak sepupu Shim Inhyun.”

Singkat sekali jawabannya.

 

“Shim Inhyun yang waktu itu. Ah.. aku ingat gadis itu.”

 

“Mm… tampaknya kau akrab sekali dengannya. Kau menyukainya?” Selidikku dengan pertanyaan inti.

 

“Tidak, Tapi dia lucu untuk jadi teman. Dia baik, penyayang juga pintar.” Heish… jawabannya berbeda dengan cerita dan ekspresinya.

 

“Kalau dia sebaik dan sehebat yang kau ceritakan lalu kenapa kau tak menyukainya?”

 

“Mm… Entahlah, temanku menyukainya.”

 

“Maksudmu?”

 

“Aku tidak mungkin membiarkan diriku menaruk hati padanya. Temanku lebih baik dariku.”

Ekspresinya berubah tiba-tiba sendu. Sekarang ku mengerti kenapa bibirnya berucap tidak tapi ekspresi wajahnya menunjukkan hal yang sebaliknya.

 

“Dengar Hyo, kau yang terbaik. Jangan pernah merasa kau tidak pantas untuk lebih di cintai.”

Dia hanya diam mendengar yang aku ucapkan. Tak ada sepatah tanggapan darinya aku kembali melayangkan tatapanku pada layar televisi. Meski layar berwarna tersebut sering berganti namun pikiranku melanglang pada setiap kejadian- kejadian mengecewakam untukku.

 

 

—o0o—

 

Setelah terjangkit virus insomnia semalam kini ku putuskan untuk berhasil meraih apa yang aku inginkan meski rasa sesak begitu sulit terlupakan. Keinginan untuk dapat memperoleh informasi dari pasangan Han serta membawa mereka kembali ke depan layar adalah hal yang harus ku utamakan. Tidak peduli dengan cara apapun aku harus meraih keberhasilan itu. Hyukjae tidak mungkin tidak bisa aku dapatkan.

Hari ini aku berdiri di halte begitu pagi tapi dua bus yang telah berlalu tak juga aku tumpangi. Aku menunggunya, menunggu Hyukjae.

 

Rasa senang ku biarkan menyusup di hatiku kala ku dapati motornya dari jauh semakin mendekat ke arahku.

 

“Ada apa Raemun-ssi? Kenapa kau tidak masuk di bus tadi?”

 

Hyukjae berhenti tepat di depanku dan tanpa turun dari motor hitam sederhananya ia bertanya padaku. Ekspresi yang ia tunjukkan begitu datar seakan tanpa dosa telah memberikan penolakan untukku semalam. Namaku Jung Raemun dan aku akan mendapatkanmu.

 

“Owh… kau melihatnya? Aku ingat sepertinya ada barangku yang tertinggal di rumah. Jadi aku masih harus mengambilnya. Tapi aku takut terlambat.”

Sengaja aku memasang ekspresi khawatir untuk menarik simpatinya.

 

“Hyukjae-ssi, bisakah kau mengantarku ke rumah terlebih dahulu?” Masih dengan ekspresi yang sama aku harap Hyukjae merespon permintaanku.

 

“Jika tidak penting tidak usah kau ambil.”

Ini bukan tanggapan yang aku inginkan. Seharusnya ia membantu orang yang sedang dalam keadaan susah.

 

“Ah, sayang sekali ini adalah berkas yang di perlukan Elena. Tidak masalah aku akan kembali sendiri, silahkan kau duluan saja.”

 

Aku berpura mulai melangkahkan kakiku berlawanan arah dengannya. Sekuat tenaga kukerahkan melawan rasa penasaran dalam diriku untuk berpaling menoleh ke belakang. Tapi kemudian diri ini tak sanggup menahannya lebih lama saat samar-samar suara motornya kembali terdengar.

 

Apa? Dia melajukan motornya meneruskan perjalanan. Hal yang teramat menyebalkan… hentakkan kakiku di bumi lantas spontan ku lakukan. Ini biasa terjadi jika aku sedang menahan kesal. Kupalingkan mukan tak berharap terus mengingat tingkah jahatnya ini.

 

“Baiklah, aku akan mengantarmu.” Kapan dia berbalik arah? Dia berhasil membuatku terlonjak kaget dengan tiba-tiba berada di depanku seperti ini. Entahlah.. yang jelas aku anggap langkah awalku ini berhasil.

 

Yess… aku mengepalkan tanganku sebagai ekspressi senangku saat kuyakin ia tidak memperhatikanku. Aku harap dia tidak pernah melihat aku melakukannya. “Naiklah!” Suruhnya dengan wajah datar tanpa ekspressi. Hal ini membuatku kembali bertanya tentang mengapa ia selalu memasang wajah seperti itu.

Tanpa banyak bicara lagi akupun memapankan diri berbonceng di belakangnya. Dengan sengaja ku lingkarkan kedua lenganku di pinggangnya.

Diapun memacu motornya dengan kecepatan sedang. Sebenarnya tidak ada satupun barangku yang tertinggal. Aku hanya berusaha menciptakan jalan untuk menempuh waktu bersamanya.

 

“Masuklah!” Tawarku padanya agar ia menunggu di dalam rumahku.

 

“Tidak terimakasih. Aku akan menunggu disini. Kau segera carilah barangmu dan kita berangkat”

 

“Mm… baiklah.” Akupun berpura dengan benar-benar masuk ke dalam rumah sementara Hyukjae menunggu di luar bersama motornya.

 

“Sudah ku dapatkan. Ayo berangkat!” Ajakku setelah lima menit berlalu aku kembali.

 

—o0o—

 

“Hyukjae-ssi.” Langkah panjang lelaki itu terhenti saat aku memanggilnya.

 

“Ne Raemun-ssi.”

 

“Bisakah kau memanggilku dengan panggilan Rae saja seperti yang lain?” Pintaku.

 

“Tidak!”

 

“Waeyo? Bukankah kita telah lama bekerja di kantor yang sama.”

 

“Aku tidak merasa kita adalah teman dekat.”

Hentak kakinya kembali terdengar melangkah menjauhiku. Apa yang kudapati ini menjadi pertanda jika Hyukjae merupakan lotre yang akan sulit ku dapatkan.

 

“Ya! Hyukjae-ya.” Berhasil, panggilanku kali ini cukup membuatnya kembali mematung.

 

“Apa maksudmu?” Ekspresi penuh tanya menjadi pengiring pertanyaannya padaku.

 

“Dengarlah, aku yang akan memulai duluan. Sudah ku bilang aku menyukaimu dan itu akan menjadi panggilan kesayanganku.” Jawaban gamblang mengalir begitu saja dari bibirku.

 

“Apa?” Ia hanya terkejut seakan kehilangan kata menghadapiku.

 

“Jadi mulai saat ini terbiasalah dengan kehadiranku.”

Setelah mengatakan kegilaan itu aku memilih melangkah mendahuluinya yang masih tak bergeming.

—o0o—

 

Tut… tuut… tuut…

Dengan perasaan khawatir ku beranikan diri menghubungi Hyukjae. Namun sejak tadi yang ku dengar hanyalah nada membosankan. Mungkinkah dia sengaja tidak mengacuhkanku. Baiklah, mari kita lihat. berapa lama dia akan bertahan jika aku terus meneleponnya.

 

“Eonni sedang apa? Cepatlah baca dan putuskan. Memang siapa yang eonni hubungi?”

 

“Eoh, iya iya aku membacanya.” Sejak tadi aku memang hanya membiarkan kertas di depanku teracuhkan.

 

Huff… sudah lebih dari lima kali aku menghubunginya. Tunggu. Sebenarnya apa yang ingin aku bicarakan dengannya. Aku terus memikirkan bagaimana caraku mendekatinya. Aghh… Rae fokus pada laporanmu dulu.

 

“Mengangkat pengusaha pendatang baru bidang kuliner dengan tema Back to Nature. Sumber yang akan kalian datangi adalah Joseon Sky begitu.”

 

“Nde, belakangan ini masyarakat korea tampak menyukai makanan tradisional. Hal ini terlihat juga dari restoran-restoran serta rumah makan dengan nuansa menu tersebut mengalami peningkatan dalam jumlah pengunjung.” Jelas Elena mengemukakan alasan pengangkatan dari tema yang ia pilih.

 

“Tapi kali ini mungkin akan sangat menarik jika pengusaha baru lah yang kita wawancara. Kami juga sudah memastikan kualitas restoran ini. Perkiraan kami banyaknya pengunjung tidak akan surut begitu saja setelah datang untuk pertama kali. Kami yakin mereka akan kembali lagi.”

Sambung Adinda panjang lebar menambah penjelasan Elena.

 

“Bagaimana Minho?” Aku segera menolehkan kepalaku setelah cukup tak ku dengar sebuah katadari orang yang sedang suduk di sampingku itu.

 

“Minhooooo!”

Tak ku perdulikan pose si kembar yang sampai-sampai menutup telinga akibat teriakanku.

 

“Tidak Young Ah.” Aneh, orang tertidur ini justru tersentak dengan mata melebar dan menyebut nama kekasihnya.

 

“Aish… harusnya Young Ah meninggalkanmu. Kau ku suruh memeriksa laporan itu tapi kau justru tidur.”

 

“Maaf, aku sangat mengantuk. Semalam adikku memaksaku untuk membantu mengerjakan tugasnya.”

 

“Baiklah, kita coba gali informasi dari restoran itu. Aku juga sudah berkunjung ke tempat tersebut. Bukankah bagian menarik dari restoran itu adalah juga dari desain dan tema seragam dari para pelayannya. Temui pemiliknya dan kita lihat apakah cukup menarik untuk di publikasikan. Dan Kau Minho, temani mereka! Usahakan ambil gambar dengan angle sempurna.”

 

“Baiklah Rae, kau bisa percaya padaku.” Ucapnya santai dengan wajah sok.

 

“Bagaimana bisa aku percaya padamu? Bisa-bisa kau fokus pada makanan nanti bukan pada objek.”

 

“Aigoo… picik sekali pikiranmu Rae.” Serunya tidak terima dengan tuduhanku.

 

“Ini sudah jam makan siang. Bagaimana kalau kita lanjutkan nanti.” Mendengar ucapan Minho ku berikan tatapan kesalku padanya.

 

“Kau tidur dan sekarang?”

 

“Ayolah Rae aku kan sudah minta maaf”

 

“Ah pasti Minho Oppa mau pergi menemui Young Ah. Dari mimpinya saja sudah terlihat jika Minho Oppa teringat Young Ah.” Tebak Elena. Sementara itu tertuduh Minho hanya mengeluarkan cengiran kudanya dan mengusap tengkuk belakangnya.

 

“Setelah makan siang aku akan langsung pergi ke Studio Han.” Ucapku seraya membereskan barang-barangku dan memasukkannya kedalam tas ranselku.

 

“Eonni tidak makan bersama kami?” Tanya Adinda.

 

“Tidak, aku akan bertemu seseorang.”

Setelah menjawab aku bergegas meninggalkan ruangan.

Ku percepat langkahku menuju ruangan Hyukjae.

 

“Permisi.” Ku buka pintu perlahan dan mengucapkan salam.

 

“Raemun-ssi, kau mencari siapa?” Tanya seorang gadis yang ku kenal dengan nama Song Riyu. Ia termasuk anggota Hyukjae. Lelaki di dalam hanya Yong Minseo. Itu artinya Hyukjae tidak ada di sana.

 

“Mm… aku hanya ingin memenemui Hyukjae. Ada yang ingin kutanyakan padanya. Kemana dia?”

 

“Dia bersama dengan Lee Jihoon pergi melakukan wawancara. Mungkin ada pesan?”

Riyu mendekatiku dengan tas tangannya yang sudah rapi. Sepertinya gadis berambut keriting tersebut telah siap keluar menikmati jam istirahatnya.

 

“Ahh… tidak biar nanti aku hubungi sendiri.” Akhirnya bersama Riyu aku keluar ruangan itu.

 

“Rae-ya!”

Lagi-lagi Heechul yang muncul di hadapanku. Kenapa Heechul tak sesibuk Hyukjae yang sulit ku temui.

 

“Oppa disini? Tidak keluar?” Tanyaku pada Heechul yang kini berada di hadapanku.

 

“Aku akan keluar. Ayo makan.”

“Kalau kau pergi denganku kau akan kehabisan uang. Saat ini aku lapar sekali dan butuh banyak makan.”

“Kalau begitu aku akan berangkat sendiri.”

“Apa?”

“Owh… mungkin sebaiknya kita pergi ke tempat menjual mobil dulu. Aku rasa aku harus menjual mobilku itu jika kau memaksa ikut.”

“Apa kau bilang? Jelas-jelas kau yang mengajakku.”

 

“Kapan? Aku tidak ingat.”

“Aish… jadi kau mau mati.”

“Auu… kenapa mencubitku?”

“Hukuman.” Aku segera pergi melangkah cepat meninggalkannya.

“Yak… Rae-ya.”

“Uhuk uhuk… lepaskan.” Tangan Heechul tiba-tiba melingkar di leherku.

“Aku akan menculikmu. Ayo jalan.”

“Kau benar-benar mau membunuhku? Lepaskan tanganmu.”

“Baiklah, aku akan melepaskanmu asal kau katakan jika aku tampan.”

“Uhuk uhuk…” Dia mempererat cekalan lengannya di leherku. Adegan ini benar-benar tidak romantis.

“Heechul Oppa yang tampan aku mohon lepaskan aku.”

“Baiklah Rae jelek.”

Diapun melepaskan aku daribelitan tangannya.

“Aku tidak tahu rupanya oppa ini penculik.” Kami berjalan berdampingan menuju tempat paarkir.

“Aku seorang penculik ulung. Hati-hati nanti hatimu aku terculik oleh ketampananku ini.”

“Oh My God… kau terlalu percaya diri.”

“Oppa, setelah makan aku tidak kembali ke sini. Aku harus pergi ke suatu tempat.”

Aku memilih untuk mengatakan jika aku akan terburu setelah makan siang. Aku hanya tidak ingin Heechul ikut terburu juga jika makan denganku.

 

“Tidak masalah, aku bisa mengantarmu.” Ucapnya dengan senyuman yang membuat siapapun merasakan ketenangan.

 

Nasib baik menghampiriku, ketika tidak ada Hyukjae yang dapat ku paksa untuk mengantarku tapi sekarang ada Heechul pahlawanku. Betapa aku mengagumi lelaki baik hati ini.

 

“Baiklah, sekali lagi kau datang sebagai nasib baikku. Ayo!” Ku kaitkan tangan kiriku menggantung di tangan kanannya.

 

“Eoh Hyukjae-ya, kau kembali.”

 

“Ne, Hyeong. Aku harus mengambil sesuatu di ruanganku.”

 

Tak disangka ternyata kami berpapasan dengan Hyukjae. Aku tidak ingin merasa percaya diri tapi tatapan matanya seperti mengarah padaku.

 

Segera aku melepaskan tanganku dari Heechul. Aku tidak tahu mengapa tapi aku jadi gugup taku dengan anggapannya akan diriku. Mungkin saja di akan kesal karemamu. Ouh… tidak. Jangan beranggapan seperti itu Rae.

 

Tapi, bagus kalau lelaki di depanku ini merasa kesal. Itu berarti aku akan berhasil meraihnya. Atau justru dia akan sulit ku raih. Aghh… pusing.

 

“Kau sudah makan siang Hyukjae-ya? owh… maksudku Hyukjae-ssi.” Aku meralat panggilanku kala aku ingat saat ini kami tidak sedang berdua.

 

“Benar, kau sudah makan? Bergabunglah dengan kami.” Ajak Heechul.

 

“Tidak, terimakasih tapi aku sudah makan dengan Jihoon.” Tolaknya halus disertai senyuman.

 

“Baiklah, kalau begitu kami pergi dulu.”

Rasa terkejut cukup cepat menyentak fokusku ketika sesuatu yang halus menyatu dengan kulitku. Heechul menggenggam tanganku dan menarikku begitu saja.

 

Aku menoleh ke belakang berharap Hyukjae melakukan hal yang sama. Tapi sekali lagi ini hanya seperti harapanku. Punggung lelaki kurus itu justru semakin menjauh.

—o0o—

 

“Eonni, aku ingin belajar menguasai lebih cepat jadi bisakah nanti malam aku belajar lagi?” Latihan menari bersama Jang Nari yang kini ku panggil eonni baru saja usai. Aku meminta Nari eonni mengajariku dengan cepat. Sebenarnya aku sangat suka gerakan menari dan ingin mendalaminya secara perlahan tapi bukankah aku harus cepat untuk dapat mengikuti kelas Ny. Han dan mendekatinya.

 

“Sebenarnya kamu berbakat sekali dan jika terus berlatih adalah keinginanmu, aku justru sangat senang.” Jelasnya dengan sebuah senyuman persetujuan.

 

“Baiklah, kalau begitu aku akan kembali ke sini malam nanti. Sekarang aku pergi dulu. Sampai jumpa.” Setelah mengucap salam aku keluar dari kelas Nari eonni. Penasaran apakah Hyukjae juga berada di sini aku pun memutuskan keluar dan mendatangi kelasnya.

 

Ahh… di sini rupanya. Aku baru tahu jika Hyukjae di kenal dengan sebutan Enhyuk oleh murid-muridnya. Murid-murid di sini justru tidak kenal dengan nama Lee Hyukjae.

 

Tiba di depan kelasnya aku pun sedikit bingung karena jendela kaca yang di buat tinggi membuatku susah mengintip. Aku tidak mungkin menjatuhkan harga diriku untuk menaiki kursi panjang ini dan mengintip. Tapi…

 

Ku pasang radar menoleh ke kanan dan ke kiri memeriksa keadaan. Yakin tidak ada orang yang mungkin akan berlalu aku benar-benar terpaksa menaikinya demi menjawab rasa penasaran ini.

 

“Berhasil.”

Bisikku mengekspresikan rasa senang ketika kini kepalaku sejajar dengan jendela kaca. Aku mengendap berusaha tak menampakkan kepalaku. Akan memalukan jika aku ketahuan olehnya. Sebelum aku akan mengedarkan pandanganku ke dalam ruangan sekali lagi aku menoleh ke kanan dan ke kiri memastikan keadaanku aman.

 

“Aman.” Gumamku pelan.

 

“Ahh… mana dia?” Aku telah melihat sekeliling ruangan di dalam melalui kaca ini tapi tak ku temukan perawakan tubuh kurus Hyukjae di sana. Aku hanya melihat beberapa laki-laki dan perempuan di sana sedang menari.

 

“Ahh.. sia-sia saja aku mengintip. Kemana orang itu?” Racauku kesal dengan hasil pencarianku.

 

“Sedang apa kau di sini?”

“Hah… Aaaaa.” Oh Tuhan terimakasih ada yang menyelamatkan tubuhku dari cidera. Syukurlah tubuhku ini urung terantuk kerasnya lantai karena seseorang telah menangkapku dan kini aku berada dalam gendongannya. Walau mataku terpejam karena takut aku bisa pastikan ini tubuh gagah seorang lelaki.

 

“Apa kau sengaja berlama-lama dalam keadaan seperti ini?”

Sepertinya aku mengenal suara ini. Ini…

 

“Aah… Hyukjae-ya, kau…” Refleks aku melepaskan pelukan eratku padanya. Tuhan apakah dia memergokiku sedang mengintip kelasnya.

 

“Kau mengintip?” Aish… baru saja aku berharap dan kini aku telah tahu jika doaku tidak terkabul. Tebakan lelaki benar.

 

“Tidak, aku sedang lewat saja di sini.” Kilahku menghindar dari tuduhannya.

 

“Owh… baiklah, hanya lewat.”

Dia mengangguk-angguk seakan percaya tapi ia justru menunjukkan ekspressi sebaliknya.

“Sungguh, kau kan tidak ada di dalam ruangan ini. Baru datang asal menuduh.”

 

“Bagaimana kau tahu aku tidak ada dalan ruangan?”

Ahhh… Rae, bagaimana kau bisa mendapat peringkat kelasmu jika tingkahmu sebodoh ini.

 

“Hehe, chagi-ya! Aku ingin melihat tari dansa. Aku menyukainya. Boleh ya aku masuk.” Aku mengaitkan sebelah tanganku pada lengannya dan menariknya manja untuk mengabulkan permintaanku.

 

“Apa yang kau lakukan?” Dia semakin menarik dirinya meski itu tidak akan bisa melepaskan diriku.

 

“Lepaskan!” Ia benar-benar menarik tangannya hingga terlepas dari genggamanku. Ekspresi kecewa dan cemberut kini terpasang di wajahku. Dia masuk begitu saja meninggalkan aku.

 

Tapi tunggu, dia membiarkan pintunya terbuka. Ok, aku anggap hal ini sebagai persetujuannya. Akupun menyelinap masuk ke dalam. Ku melangkah perlahan di bagian tepi ruangan setelah menutup pintu. Sampailah aku di pojok ruangan yang menyediakan kursi panjang seperti yang ada pada ruangan lainnya. Lantas aku pun duduk dengan tenang memperhatikan ia sedang memberi instruksi.

 

“Aku akan mencontohkan beberapa gerakan pada kalian dan kalian harus menirunya.”

Mengejutkan, setelah memberi instruksi pada murid-muridnya ia berjalan menghampiriku dan berlutut di depanku dengan sebelah tangan menengadah pertanda memgajakku berdansa.

 

Tak perlu waktu lama untuk mengulurkan tanganku menyambut uluran tangannya. Tangan kiriku di genggam tangan kanannya begitu erat. Kami lalu mulai melangkahkan kaki kami serempak. Terus melangkah dengan indah membawaku ke depan mengikuti iringan melodi romantis. Tepat sampai di depan irama musik berubah tempo memungkinkan kami lebih bergerak aktif. Kami mulai dengan langkah salsa ke kanan dan ke kiri. Secara bergantian melangkahkan kaki kanan, kaki kiri ke depan dan ke belakang. Gerakan salsa kompak kami bawakan tanpa melepas tautan tangan kami. Musik sedikit berganti irama membuatku mengikuti gerakan Hyukjae yang seakan meminta tubuhku untuk memutar. Putaran tubuhku berahir dengan gerakan kedua tangan Hyukjae yang mengangkat tubuhku. Saat itulah ku rentang kan kedua tangan maka gerakan romantispun tercipta. Ia menurunkanku secara perlahan hingga wajah kami pun begitu dekat.

 

“Raemun-ssi.” Ahh… siapapun jangan hentikan kami sekarang.

 

“Rae-ya!” Rupanya suara Hyukjae yang memanggilku. Lelaki itu berada di depanku dengan wajah datarnya.

 

Ah… kenapa aku masih duduk di sini? Kenapa sudah sepi? Kemana semua orang? Pertanyaan- pertanyaan itu terlintas berseliweran di kepalaku ketika aku mengedarkan pandangaku ke seluruh sudut ruangan.

 

Owh tidak, jangan bilang kejadian tadi hanya lamunanku saja.

 

“Baiklah jika kau akan tetap di sini. Aku akan keluar lebih dulu.”

Hyukjae berbalik cepat dan benar-benar melangkahkan kakinya menjauh dari tempatku berada.

 

“Eh, Hyukjae-ya tunggu aku.”

Langkah yang ia miliki terlampau panjang hingga aku harus sedikit berlari untuk mengikutinya.

 

“Apa yang kau lakukan?” Ia menoleh ke belakang memandang penuh tanya padaku yang seketika turut menaiki motornya, menempatkan posisi berbonceng dengan nyaman.

 

“Aku? Bolehkan aku menumpang? Bukankah kau akan kembali ke kantor?” Tanpa rasa bersalah aku menjawab pertanyaannya dengan pertanyaan juga.

 

“Aish…” Suara desis dari mulutnya seakan menunjukkan ketidakpercayaannya. Mungkin belum pernah ia temui gadis sepertiku. Hihihi… aku percaya diri bukan.

 

Seperti sebuah kata menyerah ia pun melajukan motornya perlahan keluar meninggalkan ruang parkir studio Han.

 

Tiada terduga, gumpalan awan begitu cepat berkumpul membawa mendung menampakkan dirinya.

 

“Rae-ya berpeganglah sepertinya akan hujan.”

Tidak, sebuah sesak menyusup di dada membuatku tak mampu membuka bibir untuk membalas perintahnya. Sesak yang berbeda dari sebelumnya. Sesak ini bersumber dari debaran jantung akibat sentuhan Hyukjae di tanganku yang tengah melingkar di perutnya. Sentuhan itu berjangka tidak lebih dari satu menit tapi menyisakan sesak begitu lama.

 

“Rae-ya, kau tidak tidur kan?”

Ia kembali menarik tanganku seperti meminta sebuah konfirmasi agar aku mempererat peganganku. Bagaimana aku bisa menjawabmu jika kau menyentuh tanganku. Ini menjadi sebuah dilema. Aku bertekad menjatuhkannya tapi sepertinya aku yang akan jatuh terpesona. Aku benar-benar tak mampu berkata dan aku hanya menggerakkan tanganku mempererat peganganku.

 

Niat menghindari hujan rupanya tidak tersampaikan. Tetesan air langit itu tiba-tiba turun begitu deras. Hyukjae lantas memperlambat laju motornya. Kami menepi dan berlindung di bawah atap sebuah halte. Sekian lama saling mengenal baru kali ini aku duduk berdampingan dengannya. Lagi-lagi jantung ini berdetak tak menentu.

 

“Ah… hujannya deras sekali. Pasti menyenangkan bermain di bawahnya.” Seruku seraya bangkit dari dudukku dan menatap penuh kagum pada hujan. Aku tak tahu ekspresi apa yang menjadi tanggapan Hyukjae karena aku sibuk memandang hujan.

 

“Ya! Apa yang kau lakukan?”

Hyukjae spontan mengangkat tangannya menghalau air yang sengaja aku cipratkan padanya.

 

“Kau selalu bertanya seperti itu padaku. Memangnya apa yang aku lakukan?” Ia diam mengekspresikan jika ia tidak memiliki minat menaggapi gangguan dariku.

 

“Apa kau ingat jika aku menyukaimu dan aku akan mendekatimu.” Lalu aku duduk sangat dekat dengannya tanpa jarak membuat lengan kami bersinggungan.

 

“Kenapa kau menyukaiku?” Hyukjae memandangku hingga kedua pasang mata kami bertemu. Bagai terhipnotis aku kehilangan kata dalam hamparan lensa mata cokelatnya.

 

“Aku… Kau seperti hujan. Sama seperti aku menyukai hujan, aku menyukaimu tanpa alasan jelas.”

Moment ini adalah pertama kalinya mata kami saling memandang dalam waktu yang cukup lama. Aku mengedipkan mataku, gugup atas tatapan sulit terbaca dari Hyukjae. Segera mengalihkan pandangan adalah hal terbaik saat ini.

 

“Apa yang kau lakukan?”

Selalu saja pertanyaan itu yang ia lontarkan. Hyukjae turut bangkit dari duduknya ketika aku sedikit melangkah cepat keluar dari latar halte hingga hujan kini lebih leluasa menyapa tubuhku.

 

“Aku suka hujan, kemarilah!” Dengan badan terguyur hujan aku melambaikan tangan mengajak Hyukjae untuk melakukan hal yang sama denganku.

 

“Apa kau ingin sakit.”

Lelaki ini merelakan tubuhnya terguyur hujan hanya untuk menarikku kembali berlindung. Pertanyaan akan arti dari perhatian ini berputar di kepalaku.

 

“Lihatlah, bagaimana kita akan ke kantor?”

 

“Mungkin kita pulang saja.”

 

“Tidak bisa, aku punya janji dengan Riyu.”

 

“Sudahlah ayo main dulu.” Segera ku tarik tangannya dengan kekuatan penuh hingga kami kembali berada di jalan membiarkan tubuh kami terhempas hujan.

 

“Hei… kita bisa lakukan tap dance dengan efek yang bagus di sini.” Ku mulai menari hanya dengan menghentak-hentakkan kakiku di atas genangan air.

 

“Apa kau pikir gerakanmu itu sebuah tarian?” Hyukjae memandangku dengan mata yang sulit terbuka akibat serbuan hujan membuatku tertawa.

 

“Kenapa kau tertawa?” Tanyanya dengan ekspresi heran.

 

“Hehehe… tidak. Kalau begitu tunjukkan bagaimana tap dance yang benar!” Ku dekatkan diriku padanya, mendongakkan wajahku sebagai pertanda aku menantangnya.

 

Lalu ia mengeluarkan suara mirip bunyi instrumen musik seraya menghentakkan kakinya. Jadi seperti ini sosok Hyukjae yang pandai menari. Tidak, jika sedang menari seperti ini maka ia dikenal dengan nama Eunhyuk.

 

“Baiklah, aku bisa, aku bisa.” Ku coba menirukan setiap gerak perpindahan tubuhnya tapi ternyata tak semudah yang terlihat.

 

“Aaau… sakit!” Tak dapat menahan keseimbangan saat aku menyilangkan kaki akhirnya tubuhku mendarat jatuh di aspal jalanan dengan sempurna.

 

“Rae-ya, kau tidak apa-apa?” Seketika itu Hyukjae turut berjongkok di dekatku menampakkan wajah khawatirnya.

 

“Kenapa kau tidak menangkapku, seperti di dalam film-film itu.”

 

“Aish… jadi itu yang ada dalam pikiranmu. Bodoh!”

 

“Auu… kenapa kau menyentilku?”

Aku mengusap keningku yang sakit akibat sentilan jarinya di keningku.

 

“Bodoh, menari begitu saja tidak bisa.”

 

“Ya! Aku bisa.” Ku dekatkan kepalaku padanya.

 

“Au… apa yang kau lakukan?”

Aku segera bangkit setelah mengantukkan dahiku ke dahinya.

 

“Yak! Mau kemana kau?” Aku sedikit berlari menghindar dari pembalasannya.

 

“Kau tidak bisa membalasku. Jangan macam-macam pada wanita.” Aku melangkah mundur berhadapan dengannya dan memperingatkannya dengan memperlihatkan jari telunjukku.

 

“Aaa… aaau” Mataku terpejam tak sanggup untuk menerima kenyataan aku akan terjatuh untuk kedua kalinya. Cukup lama untuk ku meyakinkan diri jika tubuh ini tak kunjung mencium aspal. Ku buka mataku dan kudapati Hyukjae menahan tubuhku.

 

“Mm…” Hanya sebuah gumaman tak berguna yang berusaha ku keluarkan untuk terbebas dari rasa gugup ini.

 

“Agghhhh…. agghhh… lepaskan aku Hyukjae sombong.” Jeritan keluar begitu saja dari mulutki kala ia memelintir lenganku dan mengunci tanganku di belakang tubuhku.

 

“Apa kau bilang? Aku apa?”

Dia kembali menguatkan cengkramannya membuatku kembali berteriak.

 

“Tolong!”

Dia melepaskan tanganku dan berdiri dengan kedua tangannya yang bersedekap. Senyum mengejek terukir di bibirnya.

 

“Lihatlah nona, tidak ada siapapun disini.”

Ahh benar. Ku menoleh ke samping kiri dan kanan untuk memastikan perkataannya.

 

“Matilah aku.”

 

“Benar sekali nona bersiaplah untuk mati.”

 

To Be Continue

1 Comment (+add yours?)

  1. Monika sbr
    Sep 07, 2015 @ 21:05:15

    Ahahahaha…. Raemun semangat banget buat mnedptkan hatinya hyukjae. Dan mereka makin manis aja deh..

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: