From Me to You [3/?]

Title : From me to you

 

Chapter 3

Hannyoung High School

Han Chae Kyung Point Of View

Hujan.

Kuarahkan tanganku untuk menyentuh tetesan air hujan yang sejak siang mengguyur bumi. Aku selalu senang saat hari hujan. Dimana saat hujan aku bisa merasakan hawa dingin yang sejuk, bau tanah yang bercampur dengan air hujan, tanaman yang terlihat berkilau setelah hujan berhenti kemudian terbit pelangi cantik yang berwarna-warni.

Dingin.

Ketika tetesan air menyentuh kulit tanganku. Tapi rasanya selalu menyejukkan. Saat kecil dulu aku selalu senang bila hari hujan. Aku akan pergi keluar rumah dan bermain air sampai tubuhku basah kuyup dan akhirnya dimarahi oleh ibuku. Tapi walaupun begitu aku tidak pernah takut dan selalu mengulanginya. Walaupun dilarang aku akan tetap pergi dan bermain air hujan sendirian.

Hingga suatu hari saat aku sedang bermain di tengah hujan, aku melihat seorang anak laki-laki seusiaku tengah memayungi sebuah kotak dihadapannya sambil berjongkok, sementara tubuhnya sendiri basah kuyup. Karena penasaran, akupun mendekatinya dan ikut berjongkok disebelahnya.

“Kau sedang apa?” Tanyaku padanya.

“Eh?” Dia kelihatannya kaget melihatku yang sama basahnya berjongkok di sampingnya.

“Aku… sedang memayungi anak anjing ini. Sudah satu minggu ini tidak ada yang mau mengambil anak anjing ini. Aku kasihan padanya, mianhae Chi…” Ujarnya sambil berlinang air mata.

Entah kenapa melihat wajahnya yang berlinang air mata membuat aku tidak bisa berpaling darinya.

“Tapi, kenapa tidak kamu bawa ke tempat yang teduh saja daripada memayunginya tapi kamu kehujanan?” Tanyaku heran.

“Aku tidak bisa memegangnya. Aku alergi bulu anjing. Kalau terkena sedikit saja aku bisa langsung sesak nafas.” Ujarnya lagi.

Karena kasihan padanya dan anak anjing ini akhirnya aku berkata,“Kalau begitu biar aku saja yang merawatnya. Aku juga punya dua anjing dirumah. Kurasa Eomma tidak akan keberatan kalau aku pelihara satu lagi. Bagaimana?” Tawarku padanya.

Seketika dia langsung tersenyum memperlihatkan lesung pipit manis diwajahnya,”Jinja-ya?”

Aku menganggukan kepalaku dan berkata, “Tentu saja. Nah, jadi sekarang jangan sedih lagi. Ayo kita bawa ke tempat yang teduh dulu.” Ajakku padanya dan langsung ku gendong anak anjing itu.

Akhirnya kami berteduh di sebuah kuil yang tak jauh dari rumahku. Aku mendekap anak anjing itu yang sejak tadi bergetar karena kedinginan.

“Siapa nama anak anjing ini?” Tanyaku padanya.

“Chi…namanya Chi. Ada di kalung yang tergantung dilehernya. Sepertinya pemilik yang sebelumnya sudah membuangnya. Aku sendiri ingin sekali memeliharanya, tapi mendekatinya saja aku tidak bisa.” Ujarnya dengan mata berkaca-kaca.

“Tidak apa-apa. Sekarang Chi ada dengaku, kamu tidak perlu cemas, aku pasti akan merawat dia dengan baik.”

“Gomawoyo, sudah mau merawatnya.” Ujarnya tersenyum lebar dan entah kenapa aku menyukai senyumnya yang membuatku ikut tersenyum.

“Eoh, hujannya sudah berhenti. Aku harus pulang sebelum ibuku memarahiku lagi. Aku pergi dulu. Annyeong. Anyyeong juga Chi. Tolong jaga dia baik-baik ya.” Ujarnya sambil berdiri. Tapi kemudian dia berbalik, “Siapa namamu?”

“Eoh? Namaku Chae Kyung, Han Chae Kyung.”

“Geureom, annyeong Chae kyung.”

Anak laki-laki itu berlari diantara genangan air hujan. Aku yang berdiri sambil menggendong Chi hanya bisa memperhatikan punggungnya dari belakang dan tanpa sadar aku tersenyum dan berkata, “Aku menyukainya.”

Aku tersenyum mengingat kenanganku dengan anak kecil itu. Anak laki-laki dengan lesung pipit yang manis dan mata yang indah.

“Ah, hujannya sudah mulai reda.” Gumamku.

Sekolah sudah mulai sepi. Kelihatannya semua murid sudah mulai pulang ke rumahnya masing-masing. Sepertinya aku juga harus segera pulang sebelum Eomma mulai mengomel lagi.

Lee Dong Hae Point Of View

“Aish, jinja… kenapa hujannya tidak kunjung reda. Sepertinya aku harus mulai mendengarkan perkataan pembawa berita cuaca itu. Lagipula kenapa tiba-tiba hujan di saat musim panas seperti ini?” Aku bergumam disepanjang koridor sekolah. Ini karena guru sejarah menyebalkan itu. Kalau saja aku mengerjakan rangkuman itu tepat waktu aku tidak perlu terjebak dan diceramahi selama satu jam oleh guru botak itu. Dan sepertinya sekarang tanganku kesemutan karena terlalu banyak menulis. Bayangkan, aku harus merangkum pelajarannya sebanyak lima bab dan itu hampir 100 lembar! Aku terus menggerutu dalam hati sampai-sampai aku tidak sadar kalau aku sudah berada di halte bus.

Hujan sudah mulai reda dan hanya meninggalkan gerimis kecil dan genangan air di sana sini. Aku selalu menyukai pemandangan sesudah hujan reda. Ahh… segarnya, rasanya sejuk sekali. Hujan ditengah musim panas ini seperti memberikan suatu kesejukan tersendiri.

“Han Chae Kyung?”

Walaupun rambutnya selalu menutupi wajahnya, tapi aku tidak akan pernah salah mengenalinya. Dia terlihat sedang duduk di pojok halte sambil terus menundukkan wajahnya. Entah kenapa dia tidak pernah mau memperlihatkan wajahnya pada siapapun.

Tiba-tiba kulihat dia mengulurkan tangannya menangkap tetesan air hujan yang sesekali masih turun membasahi tanah. Dia mendongakkan wajahnya sambil menutup kedua matanya dan tersenyum.

Cantik. Hanya satu kata yang terlintas di benakku saat ini. Tanpa sadar aku mulai menyentuh dadaku yang entah sejak kapan sudah berdebar tidak karuan.

Kulihat dia mulai membuka matanya dan berjalan memasuki bus. Aku mengerjapkan mataku. Apa yang sudah kulakukan? Aku rasanya seperti orang bodoh yang sedari tadi memandanginya.

“Ya! Anak muda, apa kau akan terus berdiri disitu seperti orang bodoh atau segera naik?” Ajjushi supir bus itu berteriak membuat aku langsung tersadar dari lamunanku. Lagi.

“Ah,Ne. Mianhae Ajjushi.” Aku pun menaiki bus yang ternyata penuh sekali. Tidak biasanya bus sepenuh ini di jam-jam segini. Aku yang sudah naik pun mulai berdesakan dengan penumpang lainnya. Tidak sengaja aku melihatnya lagi. Han Chae Kyung. Dia sepertinya terdesak Ajjushi berbadan tambun disebelahnya. Dia terlihat kesakitan karena badannya terus didorong oleh Ajjushi itu. Dengan sedikit menerobos kerumunan orang yang sedang berdesakkan ini aku mendekati Han Chae Kyung dengan susah payah. Aku menarik tangannya dan memeluknya dengan sebelah tanganku. Kelihatannya dia begitu terkejut dengan tindakanku tapi untungnya dia diam dan tidak melawan. Aku terus mendekapnya dan berusaha agar dia tidak merasakan sesak karena berdesakan dengan penumpang lain. Kuharap dia tidak mendengar suara jantungku yang semakin menggila didalam sana. Dia terus terdiam dalam pelukanku, begitupun aku yang tidak berani berkata apa-apa.

Tidak terasa bus pun berhenti di pemberhentian selanjutnya. Hampir sebagian penumpang mulai turun dari bus ini dan hanya menyisakan beberapa orang termasuk aku dan Han Chae Kyung.

“Chogiyo, sepertinya bus nya sudah kosong. Bolehkah kau melepaskan pelukanmu?” Tanyanya pelan.

“Ah, mian. Aku tidak bermaksud lancang, aku hanya ingin membantumu tadi.” Ujarku salah tingkah sambil melepas pelukanku.

“Gwenchana, sepertinya ada kursi kosong. Kita bisa duduk disana.” Ujarnya lagi.

Akupun akhirnya mengikutinya dan duduk di kursi sebelahnya.

Hening. Tidak terjadi percakapan apapun diantara kami lagi setelah acara pelukan tadi. Dia terdiam sambil memandang jalanan diluar lewat kaca disampingnya. Dan aku, hanya bisa diam memandanginya dari samping.

***

Hannyoung High School

Han Chae Kyung Point Of View

Bagaimana ini? Aku tidak tahu harus berkata apa kalau bertemu lagi dengan Lee Dong Hae-ssi. Aku juga belum berterima kasih atas pertolongannya kemarin. “Aish~ Molla…” Ujarku bingung sambil mengacak rambutku frustasi.

“Annyeong Chae Kyung-ssi.” Sapa sebuah suara.

Eh? Mereka menyapa…ku?

Ba-baiklah, ini kesempatanku untuk berubah. Aku harus menyapanya dan menunjukkan senyum terbaikku. Ujarku dalam hati.

“A-Annyeong Rumi-ssi, Yuko-ssi.” Ujarku sambil tersenyum…kaku.

“Ya! Kenapa kau tersenyum seperti itu? Bisakah terlihat sedikit lebih natural? Itu membuat kami semakin takut melihatnya.” Ujar Yuko-ssi sambil bergidik melihatku.

“Apakah senyumku kurang lebar? Bagaimana kalau begini?” Ujarku sambil menyunggingkan senyuman yang lebih lebar.

“Ya! Itu malah semakin menakutkan kau tahu? Dan hentikan mengeluarkan aura menyeramkan di sekitar sini.” Ujar Lee Rumi.

“Eh? Aura? Apakah aku memang menakutkan?” Ujarku lebih pada diri sendiri.

 

 

 

Lee Dong Hae Point of view

“Annyeonghaseyo Han Chae Kyung-ssi.” Ujarku padanya sambil duduk di meja di samping tempat duduknya.

Kulihat dia sedikit terkejut dan semakin menyembunyikan wajahnya dibalik rambut hitam panjangnya.

“Han Chae Kyung-ssi?” Kutanya sekali lagi.

“A-Annyeong Dong Hae-ssi.” Ujarnya dengan sura pelan.

“Syukurlah… aku kira kau marah padaku.” Kukira dia marah karena aku memeluknya kemarin, pikirku.

Kuperhatikan dia yang duduk disampingku. Kelihatannya dia sedang sibuk mengerjakan sesuatu dan sepertinya sedang gelisah.

“Chae kyung-ssi…” Kutepuk pelan pundaknya dan kelihatannya dia terkejut bukan main.

Dia langsung membereskan semua barang-barang yang ada di atas mejanya dan semakin menundukkan kepalanya.

“Apa aku mengagetkanmu? Kau… kenapa?” Aku semakin heran melihat tingkahnya yang semakin menyembunyikan wajahnya di balik rambut hitam panjangnya.

“Kamsahamnida…” Ujarnya pelan sekali tapi masih bisa kudengar.

“Eh?” Aku semakin bingung dengan perkataannya. Untuk apa dia berterimakasih?

“Kamsahamnida Dong Hae-ssi… untuk kemarin.” Ujarnya dengan suara yang semakin pelan karena tertutup oleh rambutnya.

“Oh… Cheonmaneyo.” Ujarku sambil tersenyum.

Ternyata karena kemarin. Kukira dia marah karena aku memeluknya tanpa izin. Tanpa sadar aku terus memandang wajahnya dari samping. Dan aku menikmatinya ketika jantungku berdebar kencang hanya dengan mendengar beberapa kata yang keluar dari mulutnya. Ya Tuhan! Kurasa aku mulai gila!

BUUK!!

“Aaawww!!” Teriakku. Sepertinya tadi aku di lempar kapur tulis.

“Lee Dong Hae-ssi, kalau kau tidak tertarik dengan pelajaranku lebih baik kau keluar sekarang juga!” Ujar Lee Seongsangnim yang entah sejak kapan ternyata sudah mengajar di depan kelas.

“Mi-mianhae seongsaengnim.” Ujarku sambil menundukkan kepalaku dalam-dalam. Sial! Kenapa guru botak itu senang sekali sich membully anak muridnya yang tampan ini. Aku kembali duduk sambil terus mengumpat dan mengusap keningku yang sepertinya benjol.

 

Author Point Of View

Saatnya istirahat makan siang dan seperti biasa hampir semua siswa-siswi langsung berhamburan ke luar ruangan kelas yang menurut mereka membosankan. Tanpa di komando mereka semua mulai berpencar layaknya kawanan semut yang baru keluar dari kandangnya. Ada yang langsung berburu makanan di kantin sekolah, ada yang bergosip ria sambil memakan bekal makanan yang mereka bawa, ada yang langsung berlari ke lapangan untuk sekedar bermain bola atau basket, ada yang berpacaran dan salah satunya ada seorang siswi yang keluar dari kelasnya menuju sebuah taman yang terdapat jauh di belakang sekolah.

Sebuah taman yang sepi dan sejuk. Tidak banyak orang yang tahu tempat ini. Gadis itu kemudian duduk di bawah pohon maple yang rindang dan membuka bungkusan yang sedari tadi di bawanya yang ternyata bekal makanan.

Saat si gadis tengah menikmati makan siangnya, tiba-tiba terdengar suara grasak-grusuk dari atas kepalanya. Dan ketika sang gadis mendongak, sesuatu yang besar terjatuh tepat di atasnya.

BRUUKK!!!

Han Chae Kyung Point Of View

Seperti biasa, saat jam makan seperti ini aku selalu pergi ke taman belakang sekolah yang tidak banyak diketahui orang-orang. Mungkin bagi mereka taman ini menyeramkan dan sepi, tapi tidak menurutku. Di sini sepi dan sejuk, aku suka pemandangannya karena disini banyak tumbuh pohon maple. Aku paling suka kesini saat musim gugur, karena pohon-pohon maple disini mulai berubah warna dan berguguran. Cantik.

Ketika aku sedang memakan bekal buatan ibuku, tiba-tiba aku mendengar suara dari atas kepalaku. Tepatnya di atas pohon maple tempat aku duduk. Dan tepat ketika aku mendongak, ada sesuatu dari atas sana yang jatuh tepat menimpaku.

BRUUKK!!!

Aku menutup mataku saat merasakan benda itu tepat terjatuh di atas tubuhku. Dan saat aku membuka mataku aku melihat suatu pemandangan yang…entahlah. Matanya yang meneduhkan siapapun yang memandangnya, hidungnya yang hampir bersentuhan dengan hidungku, dan bibirnya yang penuh dan merah. Beberapa detik aku tidak bisa mengalihkan pandanganku darinya, Lee Dong Hae. Ya, benda yang kukira jatuh dari atas pohon itu ternyata manusia bernama Lee Dong Hae.

Dan entah apa yang terjadi, semuanya berada di luar fikiranku. Lee Dong Hae menciumku!

“Aku menyukaimu Han Chae Kyung-ssi, jadilah pacarku.”

To Be Continue

 

Note : mencoba melanjutkan fanfiction karena sedang dalam berada mood yang baik, tolong buat yang aku tag… aku minta saran dan kritik dari fiction yang aku buat^^ sedang mencoba belajar menulis ^^

 

 

 

 

 

1 Comment (+add yours?)

  1. sukma
    Sep 09, 2015 @ 15:29:21

    Ceritanya rame banget…
    Haha lucu amat masa donghae jatuh dari pohon kaya monkey aja😀 hhahha
    Tapi so sweet soalnya langsung nyatain cintanya haha..
    Di tunggu kelanjutannya thor..

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: