Dancing With The Rain [4/?]

PicsArt_1436258638134

Author : Lee Deeya

Tittle : Dancing With The Rain Part 4

Cast : Lee Hyukjae, Jung Raemun

Genre: Romantic

Rating : PG

Leght : Chapter

Author’s note: Bermula dari ide romantic cerita ini aku buat. Semua murni adalah karyaku yang terinspirasi dari kisah nyata. Musim yang di pilih adalah musim kesukaan author. Musim semi. Jika tidak keberatan mampirlah ke blog pribadiku ya… di http://www.thefantasticseonsaengnim.wordpress.com

“Baiklah, aku menyerah. Lakukan apa yang kau mau.” Aku mendekatkan diriku padanya. Mungkin aku terdengar menyerah tapi ekspresi yang kutunjukkan justru sebaliknya. Aku sedikit mendongak karena badannya yang lebih tinggi dariku. Ku berikan tatapan menantang. Memangnya apa yang berani ia lakukan. Memukul wanita? Itu hal memalukan bagi seorang laki-laki.

 

Aku tak mengerti tentang apa yang ia pikirkan. Pasalnya ia cukup lama berdiam di posisi yang sama. Ia hanya terus memandangiku dengan senyum tipis yang menghiasi sudut bibirnya. Walau begitu aku tetap tak mengalihkan pandanganku untuk tetap berusaha tidak kalah oleh tatapan tajamnya.

 

Rasa terkejut benar-benar memacu detak jantungku saat wajah Hyukjae hampir tak berjarak dari wajahku. Sepasang mataku melebar tatkala Kedua tangannya melekat di pipiku. Ujung hidung ini hampir saja terbentur oleh hidung mancungnya. Garis tegas wajahnya kini jelas terlihat olehku. Bukan tangan kekarnya yang menahanku hingga aku sulit bergerak. Tapi debaran hati ini membuatku sulit bernafas. Paru-paru yang tak mendapatkan pasokan oksigen membuat tubuhku tak cukup bertenaga untuk sekedar memindahkan berat badan ini.

 

Pertanyaan mengenai apa yang ada di pikirannya semakin menjadi-jadi dalam benakku. Hal-hal negatif kini juga mulai berputar di dalamnya. Mungkinkah pesonaku sejauh itu. Apakah hati Hyukjae telah aku menangkan. Mengapa begitu cepat? Jika benar maka ini perlu di catat dalam sejarah.

 

“Aa… aa.. apa yang akan kau lakukan?” Akhirnya aku cukup berani mengeluarkan suara dan bertanya. Aku harus merutuki kebodohanku sendiri ketika ternyata suara yang aku keluarkan tak dapat terkontrol baik olehku. Aku tergagap saat mengucapkan pertanyaan itu.

 

Owh baiklah, aku mengaku kalah. Aku memutar bola mataku mencari objek lain untuk terbebas dari tatapannya yang tepat membidik bola mataku. Sekarang yang bisa aku lakukan hanyalah mencoba menahan laju detak jantungku. Aku bahkan berharap ia tak mendengarnya.

 

“Bukankan sudah ku bilang untuk bersiap-siap. Kau akan mati.”

“Mwo?”

 

Bibir.

Bibir.

Dia menempelkan bibirnya di bibirku. Iya aku yakin. Ini sebuah ciuman. Sebuah ciuman yang membuatku terpaku. Terpaku karena alasan apa aku tak tahu. Bahkan aku terlena dan turut memejamkan mata mengikuti apa yang ia lakukan. Tidak, ini sebuah kecupan pertamaku. Dinginnya hujan yang terus mengguyur tubuhku kini kalah oleh rasa hangat yang tiba-tiba saja menguar.

 

Beberapa detik berikutnya aku telah tak merasakan benda lembut itu lagi. Perlahan mataku terbuka dan menyaksikan punggung laki-laki itu semakin menjauh.

 

Apa ini? Dia meninggalkanku begitu saja setelah menodai bibirku. Merebut ciuman pertamaku. Oh ralat, kecupan pertamaku. Kulihat ia membawa tubuhnya kembali menduduki bangku panjang itu.

 

Aku berencana marah padanya. Aku akan meluapkan kebingunganku yang telah menyerupai benang kusut ini. Segera saja aku menggerakkan kakiku hingga aku berdiri tepat di hadapannya. Tapi ia sama sekali terlihat tak perduli dan tak acuh padaku. Ia masih menundukkan kepalanya.

 

“Kau…” Suaraku tercekat.

Rencana apa? Aku tidak punya kata untuk aku keluarkan bahkan untuk sekedar menanyakan maksud dari kejadian tadi. Aku malu… aku tidak punya banyak kosa kata untuk melakukannya. Meski begitu ku lihat ia sama sekali tak mengindahkanku.

 

Hei, ayolah… dia tadi menciumku. Eh… maksudku mengecup. Ahh… bingung… ya sudahlah menempel seperti tadi juga termasuk ciuman. Dia menciumku dan itu artinya mungkin ia telah terjebak oleh pesonaku. Tapi sekarang aku seperti seonggok kayu tak penting di hadapannya. Ia bahkan tak melihatku.

 

Dengan dada yang naik turun karena menahan emosi akhirnya ku putuskan untuk mengambil tempat dan duduk di sebelahnya. Hening, hanya suara gemericik hujan bermain menggetarkan gendang telingaku. Tidak, dentuman jantungku masih menjadi musik pengiring dalam keadaan ini.

 

Huhhgghh…. Hughhh…

Cukup lama tak bergerak membuat tubuhku berkonsentrasi pada dinginnya hawa yang terasa menusuk tulang. Ku sedekapkan kedua lenganku hingga sesekali menggosok kedua telapak tangan ini demi mencari sebuah kehangatan.

 

“Hyukjae-ya!” Spontan aku memanggil namanya ketika aku berpaling dan menyaksikan tubuhnya bergetar menggigil kedinginan. Matanya sedikit tertutup seakan ia tak kuat menahan apa yang menerpa tubuhnya.

 

Mungkinkah tubuhnya tidak kuat menahan hawa dingin ini. Apalagi dalam keadaan basah kuyup begitu.

 

“Hyukjae-ya!” Aku mendekatinya dan mengguncang tubuhnya. Aku semakin panik ketika ia tak meresponku.

 

“Hyukjae-ya, kau baik-baik saja?” Aku merangkulnya membawanya ke dalam pelukanku. Bisa kurasakan tubuhnya menggigil. Bahkan ia menggunakan kedua lengannya untuk melingkari tubuhnya.

 

“Kau tidak sekuat yang kukira. Aku pikir kaum pria hebat tapi ternyata. Sekarang apa yang harus aku lakukan?”

 

“Apaaa.. kau.. bilang? Aku hanya tidak ter.. biasa.” Dengan suara bergetar dan terbata-bata ia masih menjawabku. Nada bicaranya menunjukkan jika ia tidak terima dengan racauanku.

 

“Maka itu kau tidak hebat. Diamlah, nanti kau sakit.” Aku bermaksud mempererat pelukanku saat ia justru berusaha melepaskannya. Ia menepis tanganku yang akan kembali menariknya.

 

“Minggir.” Usirnya. Ia lebih memilih menyandarkan tubuhnya pada tiang di belakangnya.

 

“Aish… kau ini. Kau harus berganti pakaian. Kita harus pergi dari sini.”

Bagaimana caranya?

 

“Ahh… dimana ponselku?” Segera aku mencari keberadaan benda segi empat itu di dalam tasku.

 

Setelah kudapatkan aku mencari sebuah contact yang mungkin dapat aku mintai bantuan.

 

“Yeoboseyo.”

 

“Eonni, bisakah kau membantu aku?”

 

“Ada apa Rae-ya, kenapa suaramu begitu panik?” Ucap Yara eonni dari seberang telepon ini. Setelah menelisik daftar kontak di handphoneku. Ide terbaik adalah menelepon Yara eonni. Jika Lee Hyukjae memanggil Ny. Han dengan sebutan ibu maka Yara eonni adalah saudaranya.

 

“Aku sedang bersama Hyukjae sekarang eonni. Dia pingsan karena kedinginan. Aku rasa dia hypotermia eonni.” Jelasku cepat. Bagaimanapun keadaan yang membuatku bersikap seperti ini.

 

Setelah mendengar kesanggupan Yara eonni membantuku akupun menutup pembicaraanku di telepon.

 

“Bodoh, aku tidak pingsan. Hyportemia? Kau pikir ini musim salju?”

Ya ampun, dia masih sanggup mengomel rupanya.

 

“Tapi matamu sudah tertutup tadi jadi aku pikir kau pingsan.”

 

Sebuah mobil akhirnya mendarat di depan kami. Seseorang keluar dengan sebuah payung. Yara eonni datang bersama suaminya.

 

“Hyukjae-ya, kau tidak apa-apa?” Yara eonni menghampiri kami dengan wajah paniknya. Ekspresi tak jauh berbeda juga ku lihat dari suaminya. Ada seorang lelaki setengah baya juga aku lihat datang bersama mereka.

 

“Tidak, aku tidak apa-apa. Aku hanya merasa kedinginan.” Jawab Hyukjae masih dengan posisi duduknya. Ia terlihat berusaha menegakkan tubuhnya.

 

“Rae bilang kau pingsan.” Ucap Yara eonni seperti meminta konfirmasi atas ucapanku tadi. Ia menoleh padaku seakan memintaku menanggapinya dengan cepat.

 

“Eh… matanya tertutup maka kupikir pingsan.” Jawabku apa adanya.

 

“Ya sudahlah, ayo pulang. Motormu biar di bawa oleh Song Ajeossi.”

Mendengar hal itu aku mengarahkan pandanganku pada motor Hyukjae. Lelaki paruh baya yang aku lihat tadi rupanya telah siap dengan jas hujannya di sana.

 

Hyukjae di bantu berdiri oleh Minseok-ssi. Di bawanya Hyukjae ke dalam mobil. Aku pun turut mengikuti mendekati mobil mereka.

 

“Masuklah Rae!”

Aku masuk mobil dan menempati bagian jok belakang bersama Hyukjae.

 

Mobilpun melaju meninggalkan halte yang menjadi persinggahan kami. Rasa bersalah timbul ketika melihat Hyukjae masih menggigil. Bagaimanapun juga akulah yang memaksanya bertemu hujan.

 

—o0o—

 

Yara eonni membawa kami ke studio atau lebih tepatnya ke rumah Ny. Han di belakang studionya.

 

Hyukjae segera di ajak berganti demikian juga aku. Sekarang aku berada di kamar khusus tamu menginap. Yara eonni meminjamkan salah satu pakaiannya untukku. Setelah mandi dan berganti baju akupun keluar.

 

“Apakah bajunya pas?” Sambut Yara eonni ketika aku masuk ke ruang tamu. Tidak hanya Yara eonni disana tetapi Tn. dan Ny. Han serta Yara eonni juga duduk disana.

 

“Sangat pas.” Jawabku.

 

“Sudah ku duga. Ukuran tubuhmu tidak jauh berbeda denganku. Duduklah Rae. Badan Prakira cuaca memperkirakan hujan masih akan bertahan lama.”

 

“Anyeonghaseyo, Paman, Bibi, Jung Raemun imnida.”

Aku membungkukkan badanku memberi salam perkenalan pada Tn. dan Ny. Han. Bagi Ny. Han ini adalah kali kedua bertemu muka denganku. Tapi aku berharap ia tidak mengingat kejadian kala itu.

 

“Anyeohaseyo, duduklah nak.” Ucap Tn. Han padaku.

 

Aku duduk bergabung dengan mereka di deretan sofa yang masih kosong. Aku mengedarkan lirikanku mencari keberadaan Hyukjae.

 

“Jadi kau teman Hyukjae dan murid di studio?” Suara berat khas laki-laki dewasa kini kudengar mempertanyakan keberadaanku.

 

“Ne Appa, bukankah sudah kujelaskan.” Ucap Yara eonni lebih dulu sebelum aku menjawab pertanyaan Tn. Han.

 

“Ne, saya mengenal Hyukjae.”

 

“Yeobo, dia mengikuti putra kita hingga kemari.”

Apa ini? Perkataan Ny. Han benar-benar membuat harga diriku mengalami deflasi. Oh tidak saham cintaku sekarang benar-benar anjlok. Doaku berharap Ny. Han tidak mengingat kejadian malam itu sepertinya tidak terkabul. Benar sekali Rae. Wajahmu mudah terkenal dan tak mudah di lupakan.

 

“Maksudmu?” Tuan Han memasang ekspresi meminta sebuah jawaban penjelas atas ketidak mengertiannya. Ini gila, tidak hanya rapat laporan yang dapat membuatku seperti berada di ruang sidang kehakiman. Bahkan hari inipun aku merasa terpojok seperti seorang terdakwa.

 

Walau hanya dengan lirikan aku yakin jika sekarang tidak hanya Tn. Han yang mengangkat alisnya meminta penjelasan atas kebingungan mereka. Aku harap gadis pengejar, gadis pengikut atau mungkin lebih parah lagi gadis tak tahu malu tidak menjadi predikat yang melekat padaku nantinya.

 

“Egh… itu… itu…” Gelisah, posisi dudukku sudah sangat acak, tidak bisa diam. Tapi aku juga tak menemukan pembelaan atas diriku. Yang bisa ku lakukan hanya menundukkan kepalaku saat ini. Hujan akan kembali bersaksi pada kejadian ini.

 

“Dia mengikuti putra kita, berbonceng padanya karena ia harus kembali ke tempatnya bekerja.”

Mendengar itu aku segera mengangkat kepalaku. Ny. Han memandangku dengan kedua ujung bibir yang sedikit tertarik. Pandangannya seperti mengatakan padaku untuk tenang. Hufff… nafas yang sempat tertahan karena jantung yang berhenti berdetak kini sedikit melancar kembali. Syukurlah Ny. Han tidak mengatakannya.

 

“Kau bekerja di tempat yang sama dengan Hyukjae.”

Aku jawab iya maka aku terancam akan di usir. Tapi menjawab tidak itu berarti berbohong.

 

“Dia bekerja di restoran Appa.”

 

“Ne. Paman, aku bekerja di sebuah restoran.”

Aku mengangguk dan menegaskan apa yang Yara eonni sampaikan.

 

“Ku pikir kau satu kantor dengan menjadi penulis seperti Hyukjae.”

Apa? Perkataan Tn. Han kembali memberikan misteri bagiku. Jika berita beredar pasangan Han tidak menyukai dan mengusir awak media itu benar lalu mengapa ia biarkan Hyukjae bekerja di sana?

 

Aku memilih untuk hanya tersenyum dan tidak menanggapi. Aku harus hati-hati melangkah.

“Eomma, shamcon tidak mau bermain denganku.” Jangmi muncul dari sebuah kamar yang tak jauh dari ruang tamu ini. Ia terlihat menggemaskan dengan wajah cemberut seperti itu. Gadis kecil itu memeluk pinggang ibunya dengan gaya khas seorang anak yang sedang merajuk. Aku yakin jika samchon yang ia maksud adalah orang yang sempat aku kira adalah ayah dari gadis kecil itu. Dimana dia sekarang?.

 

“Jangan begitu Jangmi-ya, samchon mu itu sedang sakit.”

Suara bersih laki-laki berstatus suami Han Yara itu kini juga terdengar. Ia baru saja keluar dari ruangan yang sama dengan Jangmi dan duduk berdampingan dengan istrinya.

 

“Bagaimana keadaannya?” Pertanyaan menuntut seorang wanita paruh baya pun terlontar. Ny. Han lantas segera berdiri dan melangkah cepat memasuki kamar itu. Walau tak seheboh istrinya Tn. Han juga berdiri menyusul Ny. Han.

 

“Apakah kau ingin melihat keadaannya?” Aku mengangguk menjawab pertanyaan Yara padaku. Mungkin rasa penasaranku sangat terlihat olehnya ketika arah pandangku mengikuti gerak-gerik Tn. dan Ny. Han.

 

“Baiklah, ikut denganku.”

Aku berdiri menyamai keadaanku dengan posisi Yara Eonni. Kami pun melangkah bersama memasuki kamar yang sama. Kulihat Hyukjae berbaring di bawah selimut tebal dengan matanya yang tertutup.

 

“Kita harus mengompresnya.” Ny. Han bergegas keluar kamar setelah memeriksa suhu badan Hyukjae dari keningnya. Mungkin dia akan mengambil kompres sesuai ucapannya.

 

“Tampaknya dia kelelahan, dan kehujanan membuat tubuhnya mudah sakit.”

Ucap Tn. Han. Kakek dari Jangmi itu lalu keluar meninggalkan Yara dan aku dengan Hyukjae di kamar ini.

 

“Eonni, kalau tidak salah marga Hyukjae bukan Han. Lalu kenapa bersaudara dengan eonni?”

Rasa penasaran ini sudah tak terbendung lagi. Akhirnya sebuah kalimat tanya sukses berderet keluar dari bibirku. Ia tersenyum mendengar pertanyaanku.

 

“Dia menarik perhatian ibuku.” Wanita cantik ini berkata seraya memandang Hyukjae yang masih dengan posisi berbaring. Pandangannya menerawang seakan mengingat sebuah kejadian masa lalu.

 

“Ibuku bahkan menemui orang tuanya untuk mengakui Hyukjae sebagai putranya juga.”

Cerita Yara eonni terhenti ketika seseorang memasuki kamar ini. Kami sama-sama menoleh dan terlihatlah Ny. Han kembali dengan sebaskom air serta waslap di tangannya.

 

Ny. Han duduk dan kembali menempelkan punggung tangannya di kening Hyukjae. Aku rasa dia memeriksa kembali keadaan Hyukjae.

 

“Ouh… Yara-ya badannya masih demam.” Gumam Ny. Han seraya sibuk memeras kain kompres dan meletakkannya di kening Hyukjae.

 

“Jangan khawatir eomma. Minseok Oppa sudah menelepon dokter.”

Ucap Yara menenangkan.

 

“Eomma, samchon kenapa?” Jangmi tiba-tiba berlari mendekati Hyukjae.

 

“Jangmi-ya, samchon sedang sakit. Ayo kita main di luar.”

Yara mengulurkan tangannya hendak mengajak Jangmi keluar. Tapi jangmi bergeming sebagai tanda ia tidak ingin.

 

“Ajeomoni yang salah.”

“Mm mwo?”

Terang saja aku terkejut. Bocah gadis ini menyalahkanku. Walau sedikit ada benarnya tapi aku…

Aku juga tidak ingin disalahkan.

 

“Jangmi, kau tidak boleh begitu. Kau harus sopan.” Ucap Yara Eonni lalu menarik Jangmi ke dalam pelukannya. Namun putrinya itu masih setia memandangiku. Bahkan aku menangkap tatapan tidak suka dari matanya.

 

“Aku akan membuatkannya bubur.” Ucap Ny. Han.

 

“Rae, tolong ganti kompresnya nanti ya. Aku akan ke dapur.”

Ny. Han keluar begitu saja setelah mengatakan permintaannya padaku.

 

“Ayo Jangmi kita main diluar sama appa ne?”

Layaknya Ny. Han kini Yara eonni juga meninggalkan kamar ini.

 

Aku mendekati kasur dimana Hyukjae berbaring dan duduk di sampingnya.

 

“Hyukjae-ssi, dengarlah aku memanggilmu dengan sopan. Sembuhlah.”

Aku mengambil kain kompes di dahinya. Ku sentuh keningnya dengan telapak tanganku.

 

“Uffgh… sepertinya suhu badanmu dapat mendidihkan air.”

 

Kain yang telah ku perbaharui kembali aku pasang di keningnya.

 

“Ayolah turunkan panasmu. Maafkan aku. Aku tak bermaksud buruk padamu. Aku hanya bermain-main.”

 

“Bagaimana aku bisa istirahat jika kau terus meracau tidak jelas.”

Suara lemahnya terdengar. Ia bangun meski dengan mata sedikit terbuka.

 

“Maaf, apa tidurmu terganggu?”

 

“Menurutmu?” Dia justru menjawab pertanyaanku dengan sebuah pertanyan juga.

 

“Baiklah, aku tahu. Aku akan keluar.”

 

Langkahku tertahan ketika aku merasakan sebuah genggaman. Aku menoleh dan benar dugaanku jika tangan yang melingkari pergelangan tangan kiriku saat ini adalah milik Hyukjae.

 

“Kau akan lari dari tanggung jawab setelah membuat tidurku terganggu. Diam disini dan aku akan tidur. Kau hanya boleh pergi jika aku sudah tidur.” Ucapnya lemah hingga butuh waktu lama untuk aku menunggu ucapannya selesai.

 

“Baiklah.” Aku duduk dengan kesal. Sedangkan orang yang aku berikan pandangan kesal justru menutup matanya. Aku hanya duduk diam dan melipat tanganku di atas perutku. Menatap wajah lelaki di depanku dengan seksama. Cukup lama hingga nafas teratur berhembus dari hidungnya. Itu artinya dia telah tertidur kembali. Aku kembali memperbaharui kain kompresnya. Dalam jarak sedekat ini rupanya membuat wajah tenangnya semakin terlihat begitu manis. Biarkan aku menikmatinya sebentar lagi. Apa yang aku lakukan? Aku benar-benar tersadar ketika tanganku berhenti menyentuh pipi mulusnya.

 

“Aku harus segera pergi.” Gumamku berniat bangun dan pergi. Tapi ternyata Ny. Han masuk dengan membawa nampan berisi bubur.

 

“Apa Hyukjae masih tertidur?” Tanya Ny. Han padaku.

 

“Mm.. iya.” Jawabku singkat.

 

Seorang lelaki memasuki ruangan tak lama setelah Ny. Han meletakkan buburnya di atas meja dekat tempat tidur.

 

“Demamnya sangat tinggi dok.” Ucap Ny. Han pada dokter yang telah berada di samping Hyukjae. Niat melangkah keluar ruangan aku urungkan. Aku ingin mendengar apa yang akan di katakan dokter. Aku harus tahu jawaban mengenai kemungkinan aku adalah seorang pembunuh.

 

“Tubuh pasien terlalu lelah dan hujan deras seperti itu semakin membuat kondisinya memburuk.” Ucap dokter setelah selesai memeriksa tubuh Hyukjae.

 

Jadi benar-benar karena aku? Baiklah aku merasa sangat bersalah sekarang. Huwaa… Hyukjae, aku mohon sembuhlah. Tuhan tolong sembuhkan dia.

 

“Lalu bagaimana dok?” Tanya Ny. Han pada dokter itu.

 

“Saya akan menuliskan resep untuknya.”

—o0o—

 

 

“Eonni tidak ke kantor?”

Hyorim mungkin sedikit bingung karena kini aku telah siap dengan sepeda antikku. Aku sudah bilang pada Minho dan lainnya jika hari ini aku tidak akan ke kantor pagi-pagi.

 

“Tidak Hyo, pagi ini aku harus menyelesaikan tanggung jawabku.”

Jawabku.

 

“Tanggung jawab? Tanggung jawab apa? Sepagi ini?”

 

“Tentu, anak kecil memang tidak mengerti. Hyo, kita tak boleh menunda-nunda waktu.”

Setelah mengatakan hal itu aku yang sudah mapan di atas sadel sepedaku ini langsung meluncur begitu saja.

 

“Apa? Aku anak kecil? Eonniiii!” Wouw… teriakannya lumayan hebat hingga walaupun jarak kami telah tak lagi dekat tapi suaranya masih bergema di gendang telingaku.

 

Tiba di studio Han aku segera memarkirkan sepedaku. Begitulah, tanggung jawab yang ku maksud adalah kesehatan Hyukjae.

 

Ting tong

Bunyi bel bisa aku dengar setelah jariku menekan sebuah tombol bertuliskan bell di sana. Tak lama kemudian pintu terbuka menampakkan sosok wanita paruh baya yang begitu aku kenal akhir-akhir ini.

 

“Hei Rae, pagi sekali kau datang. Kau sangat mengkhawatirkan Hyukjae tampaknya.” Sambut Ny. Han. Apa jam 6 pagi itu terlalu pagi? Aku rasa tidak. Aku mengkhawatirkan Hyukjae? Sepertinya yang aku khawatirkan adalah tugasku dan tanggung jawabku karena rasa bersalahku pada lelaki menyebalkan itu.

 

“Apa Hyukjae sudah lebih baik bibi?” Aku tersenyum menanyakan keadaan Hyukjae.

 

“Keadaan Hyukie mulai membaik. Masuklah Rae-ya. Aku sedang membantu Bibi Song menyiapkan sarapan. Temuilah Hyukie di kamarnya.”

Kami mengobrol seraya berjalan masuk.

 

“Baiklah bi.” Ujarku. Ny. Han lalu meninggalkanku menuju dapurnya.

 

“Rae-ya, kau disini?” Tuan Han muncul dari arah yang berlawanan dengaku ketika aku hendak menuju kamar dimana Hyukjae berada.

 

“Ne, selamat pagi paman.”

Aku menundukkan kepalaku menyapa Tn. Han.

 

“Selamat pagi Rae-ya. Kau ingin menemui Hyukjae?” Tanyanya dengan ekspresi wajah yang tidak biasa. Ia seakan memandang curiga padaku. Senyum yang ia tampakkan seperti mengandung banyak arti.

 

Aku melanjutkan tujuan langkahku ketika Tn. Han telah berlalu. Ku hempaskan semua pemikiran burukku berusaha bersikap biasa.

 

Tok tok tok

Aku mengetuk pintu kamarnya.

 

“Masuklah!” Aku segera memutar kenop pintu setelah terdengar suara Hyukjae yang mengijinkanku untuk masuk.

 

Pintu terbuka menampilkan Hyukjae di dalamnya tengah bersiap dengan kemejanya. Wajah terkejut kini memenuhi permukaan wajahnya.

 

“Apa yang kau lakukan disini?” Tanyanya padaku.

 

“Aku sedang bertanggung jawab atas kesalahanku. Kau mau kemana? Bukankah kau masih sakit?”

Aku mendekatinya hingga posisi kami saling berhadapan dalam jarak dekat sekarang. Seketika itu terlintas bayangan kejadian ketika hujan kemarin.

 

Ingatan itu membuatku melangkah mundur. Aku harus sedikit menjaga jarak dengannya. Ku lihat ia menampakkan wajah herannya ketika aku berusaha berpaling dari pandangannya.

 

“Syukurlah kalau kau telah membaik. Ak.. aku akan membantu Bibi Han saja di dapur.”

Bodoh, suara terbata-bata yang aku keluarkan benar-benar akan memperlihatkan kebodohanku. Aku segera membalikkan badanku dan keluar dengan cepat dari kamarnya. Huff…. akhirnya nafas lega dapat sedikit aku rasakan setelah melewati pintu dan jauh dari jarak pandangnya.

 

“Bibi, bolehkah aku membantumu.” Setelah berhasil menemukan keberadaan bibi Han aku mulai berusaha mendekatinya.

 

Aku rasa bermain mata-mata harus aku lakukan. Tapi walaupun begitu aku tetaplah orang baru. Aku harus berhati-hati dan tak membuatnya curiga.

 

“Hyukjae sepertinya akan pergi.” Ucapku memulai pembicaraan. Aku mendekatinya yang sedang mengaduk masakan kuahnya.

 

“Bolehkah aku?” Ku ulurkan tanganku berharap Ny. Han membiarkan aku membantu mengaduk masakannya.

 

“Ya, panasnya sudah turun. Hanya flu yang masih di deritanya. Harusnya dia beristirahat tapi dia memaksa untuk pergi. Aku tak bisa memaksanya tapi tak kan kubiarkan dia pergi tanpa sarapannya.” Jelas panjang lebar Ny. Han dengan ekspresi khas kekhawatiran dari seorang ibu.

 

“Ya saya setuju dengan tindakan bibi. Asupan makanan amat penting untuk memulihkan kesehatan.”

 

“Apakah kau sudah bisa mengambil hatinya?”

Aku menoleh cepat mendengar pertanyaan Bibi Han di sampingku. Pertanyaannya itu seperti sebuah pernyataan setuju atas misiku mendapatkan Hyukjae. Wanita ini tidak tahu niatku yang sebenarnya.

 

“Egh… itu… itu… tidak mudah.” Dengan ekspresi wajah kebingungan aku mencoba menjawab dan akhirnya yang keluar dari bibirku adalah kata sederhana itu. Aku menunduk malu dan tetap fokus pada masakan yang harus aku aduk kuahnya.

 

“Ahaha… kalian lucu sekali.” Gelak tawa Ny. Han terdengar. Ya, wajah membingungkan yang aku tampilkan tadi mungkin pantas di tertawakan. Aku tidak dapat berbuat apa-apa kecuali menggaruk bagian belakang kepalaku yang tidak gatal. Kebiasaan ini dilakukan sebagian besar penduduk bumi yang sedang merasa bingung.

 

“Kenapa tertawa? Bukankah belajar menari, audisi berkali-kali serta ditolak dan tetap bertahan adalah hal yang tidak mudah.” Aku memberanikan diri membuka percakapan panjang. Entah kenapa aku menangkap akan ada kesempatan dalam kejadian ini untukku.”

 

“Mm… he he ah… kau benar nak. Itu tidak mudah. Kau terdengar sangat mencintai Hyukjae. Tapi apa kau tidak mencari tahu kenapa Hyukjae berlaku seperti itu kepadamu?”

Aku terdiam mendengar pertanyaan Ny. Han. Selama ini aku tidak pernah mencari tahu hal itu karena hal lain lebih penting. Aku harus mendapatkan pasangan Han. Aku sekedar menggeleng menjawab pertanyaan Ny. Han.

 

“Tapi bibi, Hyukjae juga menjadi juri saat audisi. Apa dia menolakku dengan sengaja atau memang seketat itu audisi di studio ini. Sekarang aku jadi curiga.”

 

“Yang kau jalani itu sudah merupakan prosedur yang benar Rae-ya. Kami sepakat hanya akan menempatkan seseorang yang benar-benar bersemangat dalam mencintai tarian. Jadi penolakan itu merupakan bagian dari ujian kelulusan juga.”

Aku mengangguk-angguk mengerti dengan penjelasan Ny. Han.

 

“Aku rasa dagingnya sudah melunak. Cukup Rae-ya! Tidak usah di aduk lagi. Kecilkan apinya.”

 

“Owh baiklah.”

Setelah itu kami lalu sibuk menyiapkan makanan untuk sarapan. Peserta sarapan kali ini hanya aku, Hyukjae serta Tn. dan Ny. Han.

 

Yara eonni dan suaminya tinggal di tempat yang berbeda meski tak jarang mereka berada di sini.

 

“Aku ingin segera belajar pada Paman dan Bibi.” Ucapku pada bibi Han.

 

Kami berjalan berdampingan menuju keluar rumah. Aku dan Hyukjae akan segera pergi. Hyukjae dan Tn. Han berjalan mendahului kami. Tn. Han berhenti di studionya demikian juga Ny. Han.

 

“Aku titip putraku ya Rae-ya.” Pesan Ny. Han sebelum aku mempercepat langkahku mencoba memperpendek jarakku dengannya. Aku tidak berpikir untuk berjalan berdampingan dengannya.

 

Saat ia telah siap dengan motornya, aku begitu saja mengambil tempat di belakangnya dan membonceng padanya. Ia menoleh ke belakang dan memandangku tapi aku hanya menunduk. Rasa malu bila ingat kejadian itu membuatku tak bisa berbicara dengannya.

 

Aku mencoba menelusupkan kedua tanganku di sisi pinggangnya dan memilih untuk hanya memegang erat kemejanya. Tapi detak jantung ini kembali bergemuruh ketika tangannya menarik tanganku membuat tanganku melingkar sempurna di pinggangnya.

 

“Aku tidak mau kemejaku kusut karena di tarik olehmu.” Setelah nada ketus itu keluar iapun memacu motornya sementara aku memacu jantungku. Rasa kesal, malu, gugup seakan menjadi bahan bakar degup jantung ini bertambah kencang.

—o0o—

 

Jam makan siang akhirnya tiba. Setelah memastikan Hyukjae berada di ruangannya aku memutuskan menunggunya di luar.

 

“Kau hendak makan siang?” Aku menghadang jalannya ketika ia lewat di depanku.

 

“Apa kau masih akan mengikutiku?”

 

“Bagaimana kau menjawab pertanyaanku dengan sebuah pertanyaan. Aku hanya akan melaksanakan pesan dari ibumu.”

 

“Pesan?” Ia mengerutkan keningnya.

 

“Iya, aku hanya di minta untuk memastikanmu makan dengan baik. Bibi Han menitipkan ini padaku. Ia mau kau memakan makanan higienis yang sudah ibu pastikan.”

Aku menjinjing tinggi kotak bekal di tanganku agar ia mengerti maksudku.

 

“Eommonim?”

 

“Ya, ayo sini.” Ku tarik tangannya menuju taman di samping gedung kantor ini.

 

“Nah, duduklah!” Aku berhenti tepat di depan sebuah bangku panjang yang tersedia disana. Dia menuruti perintahku untuk duduk meski dengan wajah yang ia tekuk.

 

“Silahkan di makan.” Aku membuka satu bagian kotak bekal dan memberikannya pada Hyukjae. Sedangkan bagian bekal lain adalah untukku sendiri. Aku pun juga membuka bekal itu dan bersiap memakannya tapi tiba-tiba kedatangan seseorang telah menginterupsi kegiatanku.

 

“Rae-ya! Hyukjae-ya! Rupanya kalian membawa bekal. Padahal tadinya aku ingin mengajak kalian makan siang bersama.”

Heechul lalu tiba-tiba duduk di sampingku.

 

“Kita bisa makan lagi di luar jika kau ingin mentraktirku. Aku tidak akan menyiakan niat baikmu itu Hyung.” Ucap Hyukjae di sela-sela kegiatannya meyuapkan makanan. Rupanya Hyukjae bisa bercanda juga. Meski tidak ada tawa nakal khas seseorang bercanda tapi siapapun akan menganggap kata-kata darinya itu tidaklah serius.

 

“Ah… dia benar. Aku tidak akan menghalangi seseorang yang akan beramal.” Kataku turut menanggapi gurauan Hyukjae.

 

“Dasar kalian ini kompak sekali. Tapi sepertinya lebih baik aku yang membiarkan kalian mendapatkan pahalanya. Kemarikan!”

Heechul Oppa merebut kotak bekalku dan memakannya.

 

“Ya! Kau makan terlalu banyak.” Melihat Heechul Oppa menyuapkan makanan lebih dari satu sendok ke dalam mulutnya akupun menyampaikan protesku.

 

“Ini, kau harus makan yang banyak agar gemuk dan bertambah jelek.”

Ejek Heechul Oppa seraya mengembalikan kotak bekalku. Ia berdiri jadi aku berpikir dia akan pergi tapi ternyata dia berpindah duduk di antara aku dan Hyukjae.

 

“Hyukjae-ya, kau tidak boleh makan yang banyak. Kalau kau gendut nanti susah bergerak. Kau akan kesulitan mengejar para pekerja entertainment itu.”

 

“Hahaha… ” Bagaimana aku tak tergelak melihat Hyukjae mempertahankan kotak bekalnya saat akan di rebut oleh Heechul Oppa.

 

“Berbagilah Hyukjae-ya.” Ucap Heechul Oppa masih dengan memegang bekal Hyukjae yang juga di pegang oleh Hyukjae. Selanjutnya terjadi sesi tarik menarik.

 

“Sudahlah Heechul Oppa. Kau makan punyaku saja.”

Aku meyodorkan makananku ke hadapan Heechul Oppa. Ia pun melepaskan kotak bekal Hyukjae. Ia berbalik membelakangi Hyukjae dan menghadapku. Dalam sekejab kotak makan di tanganku telah berpindah ke tangannya.

 

“Baiklah kita makan berdua ya? Aaakk…”

 

“Egh he he.” Aku menggeleng seraya tertawa ketika justru lelaki di hadapanku ini menempatkan sesendok nasi di hadapan mulutku. Tapi tampaknya dia tak peduli dengan gelenganku. Ia tetap memaksakan keinginannya. Akhirnya aku membuka mulutku.

 

“Aish… kekanakan sekali kalian ini.” Ucap Hyukjae.

 

“Ah… Hyukjae-ya, Aaakkk… ayo buka mulutmu.”

Aku kembali tergelak saat melihat Heechul memaksa Hyukjae membuka mulutnya. Hyukjae dengan cepat berdiri dan melangkah cepat meninggalkan kami.

 

“Rae-ya, dia aneh ya?”

“Tampaknya yang aneh itu dirimu Oppa.”

—o0o—

 

“Eonni tidak pulang?” Mendengar Elena bertanya aku pun mengalihkan fokus dari laptop di depanku.

 

Rupanya Elena juga adinda sudah siap untuk pulang. Tentu saja ini sudah lewat pukul delapan malam.

 

“Kalian pulanglah dulu. Aku masih akan disini.” Jawabku.

 

“Baiklah kalau begitu kami pergi.” Tidak lama kemudian sosok dua gadis cantik itu telah menghilang. Aku menolehkan kepala melihat apa yang di lakukan Minho. Kenapa dia belum pulang dan masih fokus dengan laptop di depannya.

 

“Minho-ya, kau tidak pulang?”

 

“Sebentar lagi aku selesai. Aku mungkin tidak akan ke sini besok. Aku punya kepentingan.”

 

“Kepentingan apa?” Tanyaku memandang curiga padanya. Tapi ia justru hanya memberikan smirk yang semakin membuat kecurigaanku bertambah besar. Biasanya Minho akan mengungkapkan alasan ketidakhadirannya dengan jelas.

 

“Mm… ini rahasia.” dia berujar dengan pelan lebih seperti sebuah bisikan.

 

“Owh… aku curiga jika rahasiamu itu adalah berada di balik selimut seharian atau…”

 

“Aish… kau selalu saja curiga. Curiga membuatmu cepat tua.”

 

“Mwo? pepatah dari mana itu?”

 

“Baru saja kukatakan dan itu adalah teoriku ahaha.”

Lelaki yang baru saja mengatakan hal konyol itu berdiri. Meregangkan badan dan jari-jarinya yang mungkin terasa lelah setelah cukup lama bermain di atas keyboard.

 

“Baiklah, aku tak mau tahu. Rahasiamu tak cukup menarik bagiku.”

Aku tak lagi peduli dan kembali fokus pada benda elektronik di depanku.

 

“Rae kau tak pulang? Kalau begitu aku pergi lebih dulu ne.”

 

“Hm.” Tanpa menoleh aku memberinya ijin hanya dengan sebuah gumaman.

 

Kleck… pintu baru saja tertutup kini sudah terbuka lagi.

 

“Minho-ya, selalu saja. Kali ini apa yang kau lupakan?” Aku tak perlu menoleh untuk tahu kebiasaannya yang selalu melupakan sesuatu.

 

Merasa ada yang duduk di depanku, akupun mengangkat wajahku.

“Aigoo…” Tubuhku terhempas, terkejut karena wajah Heechul Oppa yang tiba-tiba terlihat di depanku. Meski begitu Heechul Oppa hanya menampakkan senyum mengejeknya tanpa merasa bersalah sama sekali karena telah membuat detak jantungku hampir berhenti.

 

“Apa yang kau lakukan Oppa?” Eh… itu kan pertanyaan khas dari Hyukjae kenapa aku mengikutinya.

 

“Aku menunggumu di luar cukup lama tapi kau tidak ada maka ku putuskan untuk masuk. Aku tidak berniat mengejutkanmu. Kau yang salah tidak memeriksa dengan baik apa yang terjadi disekitarmu. Kau harus peka.” Apa ini? Kenapa bicaranya lancar sekali?

 

“Oke… lumayan panjang. Apa Oppa sedang ikut kontes pidato?” Aku memutar mataku malas mendengar ceramah alasannya itu.

 

“Kau tidak pulang?” Tanyanya dengan wajah tepat memandangku. Wajah tampannya seakan menjadi penyegar setelah sejak tadi pekerjaan ini cukup memeras otakku.

 

“Ini, terimalah hadiahmu Oppa?” Ku berikan sebuah botol minuman yang sejak tadi belum sempat ku minum.

 

“Hadiah? Untukku? Kunde wae?” Sebelah alisnya terangkat memperlihatkan ekspresi penuh tanya.

 

“Itu hadiah karena malam ini kau beruntung menjadi orang ke empat yang menanyakan apakah aku akan pulang atau tidak.”

Sengaja ku berdiri dan menggodanya dengan merangkul pundaknya.

 

“Itu artinya kau harus pulang.” Dia mendongakkan kepalanya hingga kini kami tepat bertatapan hampir tanpa jarak.

 

“Hei Oppa, jangan kau tunjukkan tatapan seperti itu pada banyak gadis. Nanti kau akan kewalahan dengan kejaran mereka?”

Ia menampilkan tawa tipis membuat barisan gigi rapinya sedikit terlihat mendengar godaanku. Ia berdiri membuat pandanganku mengikuti gerak perpindahan tubuhnya.

 

“Benarkah?” Ia meletakkan sikunya di pundakku dan mengangkat alisnya meminta jawaban yang lebih meyakinkan.

 

“Tentu saja, bulu matamu itu cukup jadi magnetnya.”

 

“Siapapun akan mengejarku? Apa gadis yang aku sukai juga akan melakukan hal yang sama?”

 

“Mm… aku rasa.” Sengaja ku tampakkan wajah bingungku. Aku mengetuk-ngetukkan jari telunjukku di dagu memperlihatkan padanya jika aku tengah berpikir serius.

 

“Tidak.” Ujarku disertai dengan gelengan di kepalaku.

 

“Aish…” Plak… dia menepuk keningku.

 

“Kenapa dia tidak terpesona padaku? Bukankah tadi kau bilang semua gadis akan terpesona?”

Kedua tangannya bersedekap dan tatapan intimidasi yang menuntut kini ia berikan.

 

“Karena…. Mm… saat itu mata gadismu sedang kelilipan.”

 

“Mwo? Tidak lucu.”

 

“Baiklah, maaf. Sebaiknya kita pulang. Bukankah tadi kau ingin aku pulang.”

 

—To Be Continued—

 

Terimakasih karena telah bersedia mengikuti romantisme kisah ini. Di tunggu commentnya. Rencana posting waktu ultah Hyukjae tidak bisa karena mood menulis terganggu. Tapi hapus tulis enam lembar kisah hingga enam kali tak menyurutkan semangat untuk melanjutkan kisah ini.

 

Ttd Rae

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

1 Comment (+add yours?)

  1. Monika sbr
    Sep 10, 2015 @ 14:51:24

    Raemun semangat banget ngejarnya. Tp siapa yg disukai heechul ya?? Jgn2 dia juga menyukai raemun…

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: