Dancing With The Rain [5-END]

Author : Lee Deeya

Tittle : Dancing With The Rain Part 5 [End]

Cast : Lee Hyukjae, Jung Raemun

Genre: Romantic

Rating : PG

Leght : Chapter

Author’s note: Bermula dari ide romantic cerita ini aku buat. Semua murni adalah karyaku yang terinspirasi dari kisah nyata. Musim yang di pilih adalah musim kesukaan author. Musim semi. Jika tidak keberatan mampirlah ke blog pribadiku ya… di http://www.thefantasticseonsaengnim.wordpress.com

Aku berdiri di depan pintu ini dengan tak sabar menunggu Ny. Han yang kini fasih ku panggil bibi membukanya. Di tanganku sudah terjinjing kantung plastik besar berisi bahan mentah makanan. Seperti hari-hari satu bulan sebelumnya saat ini kami berjanji akan memasak bersama. Dengan jurus dan pendekatan hebat yang aku keluarkan akhirnya aku berhasil akrab dengan Bibi dan Paman Han. Tentu saja Hyukjae masih menjadi alasan utamaku berada di sini.

 

“Rae-ya, masuklah. Apa semua bahannya ada?” Tanya Bibi Han.

 

“Mm… tentu saja.” Anggukan di kepalaku sengaja kulakukan untuk menguatkan pernyataanku.

Kami lalu berjalan bersama menuju dapur.

 

“Selamat siang paman.” Aku melambaikan tangan khas sikap kekanakan pada Tn. Han yang baru saja keluar dari ruangannya. Suami Bibi Han ini telah tampak rapi mengenakan kaos dan celananya. Tubuh tegapnya masih sangat terawat. Mungkin tubuh atletiknya ia dapatkan dari latihan fisik yang teratur.

 

“Kau datang lagi Rae-ya? Dimana Hyukjae?” Langkahku terhenti melihat Paman Han mendekati posisi kami.

 

“Setelah makan siang Hyukjae berencana pergi bersama Jihoon ke sebuah stasiun televisi.” Jawab setahuku.

 

“Rae-ya, kau mengingatkanku pada seseorang.” Ucap Paman Han tiba-tiba. Tatapan matanya berubah nanar. Aku yang merasa bingung lantas menoleh pada Bibi Han. Hanya sebuah lengkungan di bibir yang kudapatkan dari wajahnya. Ia tampak tak berniat angkat bicara untuk memberikan penjelasan atas keadaan yang semakin tak kumengerti ini.

 

Tak lama kemudian setelah Paman Han pergi kami telah menyibukkan diri di dapur.

 

“Apakah bibi tahu siapa yang paman maksud?”

Pertanyaan basa-basi yang baru aku luncurkan menghentikan kegiatan bibi Han memotong bawangnya. Demikian juga aku turut menghentikan kegiatanku membantu bibi Han.

 

Keseriusan menghentikan gerak kami ini seakan turut menghentikan jarum jam yang berputar. Begitu lama Bibi Han menangguhkan waktu untuk membuka suaranya.

 

“Ada seorang sahabat yang telah lama tidak kami jumpai. Kau mengingatkan kami padanya.”

 

“Sahabat?” Keningku tidak bisa untuk tidak berkerut karena merasa bingung.

 

“Mm… sahabat yang yang sangat kami rindukan.” Lagi-lagi aku melihat tatapan yang sama dengan tatapan milik suaminya. Pandangan Bibi Han menerawang.

 

“Apakah begitu lama?” Sikap Bibi Han membuatku begitu penasaran.

 

“Sekitar 28 tahun berlalu tanpa sosok nyata dirinya membuat kami begitu merindukannya.”

 

“Ajeommaaaa!” Teriakan cempreng seorang gadis kecil yang pasti kalian tahu adalah Jangmi tentunya menggema di seluruh sudut dapur ini.

Ia berdiri di depanku dengan tangan di pinggang juga ekspresi kesal.

 

“Kali ini apa lagi Jangmi? Apa kau bolos sekolah? Kenapa sudah ada di sini?” Tanyaku dengan pandangan yang sengaja menuduh.

 

“Ini sudah pulang. Aku tidak mungkin bolos. Ajeomma mau masak lagi? Ya ampun pasti tidak enak lagi.” Ucapnya dengan suara khasnya yang lucu. Aku tidak tahu ia berkata sungguh atau hanya mengolok-olok karena ia selalu begitu. Gadis kecil ini selalu memperlihatkan kekesalannya padaku sejak kejadian hujan kala itu. Tapi aku selalu menghadapinya dengan canda dan bertahan datang ke sini lagi dan lagi.

 

—o0o—

 

Layar terang di depanku menampilkan deretan tulisanku. Aku terus merangkai segala apa yang aku temukan dan mengetiknya menjadi sebuah tulisan laporan. Saat-saat seperti ini aku selalu merasa terlalu mencampuri urusan pribadi orang lain. Tapi itu adalah sebuah konsekwensi mereka menjadi seorang public figure. Bagi seniman layar kaca tidak ada yang namanya privasi. Semua detil tentang dirinya adalah konsumsi publik.

 

“Waktu kita terbatas Rae.” Suara Minho menginterupsi lamunanku.

 

Iya aku ingat jika sekarang di dalam ruangan ini tidak hanya ada aku. Minho sejak tadi turut membantuku memikirkan kesimpulan dari setiap info yang aku dapatkan.

 

Aku hanya menoleh dengan kerutan di dahiku tanpa berkata sepatah kata pun. Seolah aku ingin ia tahu jika aku pun sedang merasakan kekhawatiran yang sama dengannya. Dari raut wajah dan kosa kata yang ia keluarkan untukku tampak jika ia juga tak dapat menarik kesimpulan atas sedikitnya info yang aku dapatkan.

 

“Ny. Han tidak begitu terbuka masalah ini. Beberapa kali aku memancing tapi ia hanya memberikan clue-clue tertentu tanpa niatan menceritakannya secara gamblang.”

Ucapku menjelaskan alasan di balik hasil mengecewakan yang aku dapatkan.

 

“Mungkin kita harus memikirkan cara lain.” Usul Minho. Aku tak berniat menanggapi usulannya. Memangnya cara apa lagi yang harus aku lakukan? Menikah dengan Hyukjae? Itu sich mauku.

 

Aku lebih berminat pada permukaan meja di depanku. Kuletakkan kepalaku dengan lesu di atas meja datarku. Oh Tuhan aku hampir putus asa jika begini.

 

—o0o—

 

Hening malam menemani langkahku. Kebisingan kendaraan-kendaraan bermotor tak seberapa mempengaruhi pemikiranku. Obrolan bersama Minho, kebersamaan dengan Bibi Han di waktu yang lalu tiba-tiba saja terus berputar di otakku seperti sebuah kilas balik peristiwa. Aku seperti tokoh amnesia yang sedang berusaha mendapatkan potongan-potongan memorinya yang terlupakan.

 

“Agghhh…” aku berteriak frustasi dan memegang kepalaku dengan kedua tangan ini.

 

“Wah, kau mengejutkanku. Teriakan tiba-tibamu itu menarik perhatian.”

 

“Ouh… Hyukjae-ya.” Pria ini tiba-tiba muncul di hadapanku. Ia berada di sampingku dengan motornya.

 

Aku sedang tidak berminat untuk membuka obrolan atau perdebatan seperti biasanya. Aku mengalihkan pandanganku dan tidak memperdulikannya. Aku sama sekali tak menerima perintah senyum dari otakku. Apalagi untuk laki-laki yang selalu menolakku dan menginjak harga diriku. Jika saja dia bukanlah kunci kedekatanku dengan Bibi Han aku tak kan sebegini rendah di hadapannya.

 

“Ada apa gadis penguntit?” Rupanya laki-laki ini masih betah memperlambat laju motornya untuk berjalan di sampingku. Tidak, lebih tepatnya dia mengejekku. Ia sudah sangat terlalu sering menghinaku dengan kata-kata gadis penguntit. Aku mengerti kenapa ia menjulukiku seperti itu. Aku sangat mengerti.

 

Sekali lagi aku sama sekali tak berniat menoleh padanya. Hari ini mood ku teramat tidak bagus. jadi untuk saat ini mungkin hingga kapan, aku tak tahu aku akan menyepi, mogok bicara, mogok tersenyum dan, pokoknya aku malas melakukan apapun termasuk mengabaikan lelaki ini.

 

“Hei, gadis penguntit sekarang telah berubah pendiam. Baiklah, aku akan pergi.”

Laju motornya berangsur kencang. Aku melongo melihat sosoknya telah begitu cepat menghilang di telan gelapnya sisi hari.

 

“Dasar laki-laki kurang ajjaaar! Apa kau bilang? Aku? Gadis penguntit. Owh…” entah dari mana ini. Kekuatan untuk memaki. Mengumpat di tepi jalan sendirian. Nafasku berhembus cepat mengeluarkan perasaan kesal. Rae, kau bilang kau akan mogok bicara? Bisikan sisi lain dalam diriku menanyakan konsistensi dari pendirianku.

 

“Lihat saja nanti laki-laki brengsek. Jika kau tak berlutut di depan kakiku maka jangan panggil namaku Rae. Sialan.”

Hufh… biar saja. Aku ingin marah meluapkan rasa kesalku. Aku memang berencana mogok bicara tapi aku tidak mogok mengumpat. Yah, aku masih seseorang yang konsisten.

 

“Kau dengar itu? Jika aku tak dapat melakukannya. Jangan panggil aku Rae!” Aku masih setia marah-marah dengan menunjuk-nunjuk seakan pria brengsek itu di depanku.

 

“Aku harus panggil apa?”

 

“Panggil aku…” suaraku tercekat. Bukankah aku telah sendirian. Lalu suara siapa itu? Ini masih lewat pukul delapan. Makhluk yang tidak terlihat olehku tidak mungkin telah akan menampakkan dirinya.

 

Aku menoleh perlahan dan yang kutemukan adalah badan tegap seorang laki-laki. Yang pertama aku perhatikan adalah kakinya yang masih menjejak tanah. Melihat hal itu aku menaruk telapak tangan di dadaku lalu kuhembuskan nafas lega.

 

“Aku harus panggil apa Rae-ya?”

“Aish… Oppa mengagetkanku saja. Sejak kapan Oppa disini?” Tanyaku pada lelaki ini.

 

“Aku melihatmu tampak seperti orang gila karena berbicara sendiri. Lalu aku semakin mendekat dan mendengar teriakanmu barusan.” Jelas Heechul Oppa padaku.

 

“Hehe, apakah benar-benar terlihat seperti orang gila?” Aku tersenyum aneh, di paksa mengingat kegilaan yang baru saja aku lakukan. Heechul Oppa hanya mengangguk dua kali sebagai jawaban atas pertanyaanku.

 

“Lalu, apa kau melihat ada orang lain tadi di sini?” Aku memegang kedua bahunya dengan kedua tanganku. Lalu aku menoleh mengedarkan pandangan berusaha menyelidiki keberadaan manusia lain selain kami di sini. Dan aku nenemukan sepasang manusia yang berjalan menjauh dari tempat ini. Fakta ini membuatku kembali tertunduk lesu di hadapan Heechul Oppa. Owh sepertinya sekarang julukan gadis gila juga akan melekat di diriku.

 

Aku melepaskan cengkraman jari-jariku di lengan Heechul Oppa dan membalikkan tubuh ini kembali berjalan dengan lesu. Pasti wajahku terlihat sangat kusut.

 

“Ya! Rae-ya ada apa denganmu?” Meski tanpa melirik begitu lekat dapat kupastikan jika Heechul Oppa tengah melangkah panjang mengejarku dan hasilnya sekarang jalanku terhalang. Aku yang sedang malas menjelaskan sesuatu akhirnya memilih tetap diam dan mengalah dengan mencoba terus melangkah melalui jalan lain.

 

“Rae-ya, kau kenapa?”

“Aku tidak apa-apa.”

Dia menghadang jalanku lagi dan aku kembali berbelok mencari jalan lain dan terus melangkah. Saat ini aku ingin sendiri.

 

“Rae-ya, apa aku punya salah?”

Ya kau salah karena terlalu perhatian padaku. Ia lagi-lagi menghalangiku berjalan. Sekali lagi aku kembali mencari sisi jalan lain.

 

“Rae-ya!” Ia kembali menghadang. Suaranya lebih keras. Ia mencengkram lenganku.

 

“Lepaskan!” Aku tahu ia berusaha menatapku. Tapi aku menghindar dari pandangan itu.

 

“Tidak, katakan kenapa kau seperti ini?” Ia terus mencoba mencari tatapanku yang terus menghindarinya.

 

“Aku tidak apa-apa. Kau tidak perlu terlalu tahu tentang diriku.”

 

“Kenapa Rae?”

 

“Ya, kau salah, kau terlalu perhatian padaku. Kau membuatku bingung. Aku jadi mengira kau menyukaiku. Tapi kau menceritakan gadis lain. Siapa gadis itu kau juga tak pernah sebut. Kau tak perlu sering mengantarku. Kau antar saja gadis itu. Kau tak perlu mempedulikanku.”

Aku menyelesaikan ucapan bernada tinggiku itu dengan sekali tarikan nafas. Heechul Oppa menatapku yang juga menatapnya dengan marah. Setelah itu kami cukup lama hanya terdiam dengan saling menunduk.

 

“Nama gadis itu…”

 

“Tidak perlu, aku tidak penasaran lagi.”

Aku menghentikan ucapannya dan meninggalkannya. Kali ini dengan langkah terburu. Aku rasa ia tak lagi mengejarku.

 

—o0o—

 

Beberapa hari ini rencanaku untuk menyepi dari kebiasaan-kebiasaanku tampaknya berjalan sukses. Aku tidak lagi mengganggu dan memperdulikan Hyukjae. Aku bahkan tak datang lagi pada studio.

 

Aku juga menghindari Heechul Oppa karena malu mengingat kejadian malam itu. Lelaki itu hanya terkena imbas dari rasa kesalku. Aku yang terdesak oleh rasa frustasi akhirnya mengeluarkan semua uneg-uneg yang selama ini ada di kepalaku. Mengeluarkan pertanyaan- pertanyaan yang selama ini berkecamuk di hatiku. Wanita mana yang tidak akan curiga jika ada lelaki yang tertalu perhatian padanya tapi bercerita gadis lain.

 

Aku terdesak.

 

“Terdesak?” Aku menggumamkan sesuatu yang ku pikirkan tentang terdesak.

 

“Apa yang eonni pikirkan? Sejak tadi hanya melamun saja.” Tanya Adinda padaku.

 

“Waktu kita tinggal sedikit. Kita mulai saja. Kita akan membuat Ny. Han terdesak. Seseorang yang terdesak kemungkinan besar akan mengeluarkan segala pemikirannya entah pada keluarga, sahabat atau bahkan orang-orang terdekat mereka.” Jelasku panjang lebar setelah mendapatkan ide cemerlang seperti sebuah lampu pijar yang tiba-tiba menyala di atas kepala.

 

“Eonni yakin?” Tanya Elena.

“Mm.” Aku mengangguk mantap.

 

Drrrttt drrttt

Getar ponsel di saku celanaku tiba-tiba terasa pertanda ada seseorang yang sedang meneleponku.

 

“Aneh, apa Young Ah salah tekan nomor contact? Kenapa dia meneleponku.”

Melihat nama Young Ah di layar ponselku membuat aku justru merasa heran. Aku menoleh cepat pada Minho di sampingku meminta penjelasan ini.

 

“Yeoboseyo.” Ucapku.

 

“Aish… kenapa eonni lama sekali mengangkat telepon?” Tanya Young Ah.

 

“Eoh… aku hanya berpikir mungkin kau salah nomor.”

 

“Ini penting eonni, ada seseorang bernama Ny. Han mencari eonni ke sini.”

 

“Mwo? Bibi ke sana? Mengapa?” Aku berdiri kaget ketika mendengarnya.

 

“Mana aku tahu, aku bilang saja jika saat ini kau sedang mengantar pesanan. Cepatlah kemari.”

 

“Aku ke sana sekarang.” Segera saja ku tinggalkan ruanganku dan meminta Minho mengantarku. Aku yakin Minho tidak akan menolak. Ini menjadi kesempatannya bertemu Young Ah lebih cepat.

 

—o0o—

 

“Bibi Han.” Panggilanku membuat Bibi Han menoleh.

 

“Rae-ya.” Ia mendongak melihatku yang masih berdiri sementara dirinya sedang duduk. Ia lalu berdiri dan memberikan pelukan padaku. Tersirat kerinduan dalam sentuhannya. Tidak ku pungkiri aku juga merindukan dirinya.

 

Kami duduk berhadapan di sebuah meja pelanggan.

“Maaf membuat Bibi menunggu.”

 

“Kenapa kau tak pernah datang lagi ke rumah? Bahkan tidak menunjukkan dirimu di studio. Ada apa denganmu? Apa kau tidak baik-baik saja?” Banyak pertanyaan terucap dari bibirnya. Ia seperti seorang penuntut. Harusnya aku menghadirkan saksi Lee Hyukjae untuk menjawab pertanyaannya.

 

“Tidak apa-apa Bibi. Aku baik-baik saja dan sedikit sibuk.” Jawabku sedikit berbohong. Tidak sepenuhnya bohong karena aku memang sedang sibuk menata perasaanku.

 

“Ahh… Apakah Hyukie membuatmu sulit?”

Pertanyaan yang yang tidak ingin kujawab secara detil. Hanya sebuah senyuman dan gelengan yang ku utarakan di hadapan Bibi Han.

 

“Aku harap Bibi baik-baik saja?” Ku ulurkan tanganku menyentuh tangannya yang sedikit keriput.

 

“Aku baik-baik saja. Tapi sekarang menjadi sangat baik setelah bertemu denganmu.” Senyum tulus tersungging dari bibirnya.

 

“Maaf karena tak memberi kabar.” Ucapku dengan ekspresi menyesal.

 

“Apa kau berhenti melihat Hyukie?”

Kenapa pertanyaan Bibi Han selalu tentang lelaki menyebalkan itu? Ini adalah pertanyaan yang sulit ku jawab. Aku bahkan bingung dengan perasaanku. Mungkin aku mengejar Hyukjae dengan alasan pekerjaan tapi tidak ku pungkiri hatiku juga menginginkannya.

 

Aku kembali berkecil hati ketika menghadapi setiap penolakannya.

“Rae-ya!” Mungkin terlalu lama Bibi Han menunggu jawabanku hingga ia kembali bersuara memanggilku.

 

“Ahh… tidak. Aku hanya beristirahat karena sibuk dengan hal lain.” Aku tersenyum lebih lebar berusaha mencairkan suasana yang terancam sendu.

 

“Owh… bagaimana keadaan Jangmi. Dia pasti senang tak melihatku. Gadis nakal itu tidak perlu menggangguku lagi.” Tanyaku basa-basi untuk menceriakan suasana.

 

“Aish… Jangmi justru menanyakanmu.”

 

“Benarkah?” Mendengar hal yang tak di percaya aku tentu saja bertanya lagi agar lebih meyakinkan.

 

Setelah lama saling melepas obrolan ringan aku pun memutuskan ikut Bibi Han ke studio.

 

Sebelum memasuki studio kami melihat dua gadis yang mungkin tidak di kenal oleh Bibi Han tapi aku sangat mengenal keduanya.

 

“Permisi Ny. Han, kami dari majalah I Zone ingin menawarkan kerja sama.” Adinda dan Elena mencegat langkah kami dan langsung mengutarakan maksud mereka tanpa basa-basi. Sementara itu aku berpura-pura tak mengenal mereka. Aku hanya menunggu reaksi yang diberikan oleh Bibi Han.

 

“Baiklah, mari kita bicara di dalam.” Pernyataan Bibi Han jelas membuat kami saling berpandangan satu sama lain.

 

“Ayo.” Ajak Bibi Han seraya mulai berjalan. Aku turut melangkah di sampingnya sedangkan Adinda dan Elena berada di belakang kami.

 

Sikap ramah dari Bibi Han membuat pikiranku tak lagi fokus. Ia tidak meminta satpam mengusir mereka tapi justru menerimanya.

 

Kami berempat duduk berhadapan di ruang tamu studio. Setelah menjelaskan maksud dan tujuannya Elena menyerahkan kertas perjanjiannya sebagai tanda hitam di atas putih.

 

“Kalian sangat ingin tahu alasan kami tidak mau tampil lagi?”

 

“Maafkan kami Ny. Han tapi ini merupakan permintaan publik.” Ucap Elena.

 

“Ya ya ya, tentu saja kalian mengatasnamakan itu. Tapi jawabanku akan tetap sama. Kami tidak bisa mengambil kerja sama ini.”

 

“Tapi nyonya, kenapa? Anda hanya perlu berbagi dengan pembaca. Kami merasa anda harus memberi alasan masuk akal untuk menghilangnya anda dari dunia entertainment.” Adinda berujar tegas menunjukkan sikap bersikerasnya.

 

Bibi Han lalu berdiri dan membelakangi kami.

“Hari ini aku tidak ingin berlaku kasar. Jadi pergilah.” Usirnya halus.

 

“Apa mungkin orang lain adalah penyebabnya? Apa ada ancaman. Di usia seperti ini tidakkah kau lelah selalu menolak kami. Di usia seperti ini layar itu tidak mungkin mengandalkan namamu. Kau hanya perlu memberi alasan sebagai pertanggungjawabanmu telah meninggalkan orang-orang yang membutuhkanmu. Orang-orang yang saat itu bekerja karenamu juga para penggemarmu. Jika bukan karena orang lain maka ini pantas di sebut egoisme.”

Akhir dari kalimat panjang Elena sukses membuat Bibi Han berpaling dengan mata melebar dan memerah. Wajah itu terlihat marah.

 

“Cukup! Pergi dari sini.” Aku mengedipkan mata pada Adinda dan Elena sebagai tanda ini sudah cukup dan mereka boleh pergi. Selanjutnya adalah giliranku.

 

“Bibi.” Aku memeluk Bibi Han berharap bisa sedikit meredakan kemarahannya. Sesungguhnya aku tidak ingin melihat Bibi Han dalam keadaan seperti ini tapi ini adalah tugasku.

 

“Aku hanya ingin melindungi janji kami, persahabatan kami.” Racau Bibi Han dalam pelukanku.

Sahabat? Apakah yang waktu itu Bibi ceritakan.

 

—o0o—

 

“Selamat ya! Jadi ini alasanmu selalu hilang dari pandangan kami. Aku sangat terkejut dengan undangan kalian.”

Ucapku pada sepasang pengantin di hadapanku. Persiapan pernikahan rupanya adalah hal yang mendasari Minho sering meminta izin padaku. Minho dan Young Ah akhirnya menikah setelah satu tahun membina hubungan.

 

“Begitulah Rae-ya, aku tidak mau Young Ah lebih lama menunggu.”

Jawab Minho memainkan matanya jenaka membuat Young Ah yang berdiri di sampingnya tersenyum sipu.

 

“Cih, tumben. Dan kau percaya dengan kata-kata lelaki ini.” Ucapku pada Young Ah.

 

“Sialan.” Umpat Minho.

 

Young Ah terkikik melihat perdebatan antara Rae dengan suaminya. Ya, Minho telah resmi menjadi suaminya sore ini.

 

Pesta sore ini begitu meriah dengan konsep outdoors. Konsep pernikahan di taman yang romantis cukup digemari beberapa sejoli yang akan menamatkan kisahnya dalam sebuah ikatan pernikahan.

 

Aku berharap saat seperti ini hujan tidak datang. Walau aku menyukai hujan dan Minho lumayan menyebalkan tapi aku tetap tidak ingin pesta pernikahannya menjadi kacau.

 

Aku di salah satu sudut taman ini hanya berdiri dengan sebuah minuman di tangan memandang banyak pasangan yang saat ini sedang berdansa mengikuti alunan musik romantis. Satu hembusan nafas yang kuhela rupanya tak cukup melegakan perasaanku.

 

Saat seperti ini aku kembali teringat pada Hyukjae. Sebenarnya aku sangat merindukan lelaki itu tapi rasa lelahku menghadapinya masih tersisa. Biarkan seperti ini dulu lalu nanti akan aku putuskan.

 

Sejak tadi aku sama sekali tak melihatnya. Mungkin aku memang menjauhinya tapi mataku selalu mencuri-curi waktu untuk mengetahui keberadaannya.

 

“Maaf nona, ada titipan untukmu.” Seorang gadis pramusaji memberikan selembar amplop padaku.

 

“Dari siapa?” gadis itu hanya mengangkat bahunya dan berlalu pergi begitu saja membuatku mau tidak mau mengerutkan dahi heran.

 

AKu menyipitkan mataku ketika membolak-balikkan amplop di tanganku berharap bisa menemukan nama pengirimnya tapi ternyata amplop putih itu bersih bahkan tanpa noda.

 

Akhirnya aku memutuskan untuk membuka dan melihat isinya. Semoga ini bukan sebuah surat kaleng berisi teror.

 

Selembar kertas kecil bertuliskan maaf dengan setangkai mawar di dalamnya. Mungkin pengirimnya ada di sini maka aku segera mengedarkan pandanganku mencari tersangka pengirim surat kaleng ini.

 

“Rae-ya!” Spontan aku berbalik mendengar ada yang memanggil namaku.

 

“Heechul Oppa.” Dia tersenyum dan aku juga tersenyum padanya. Kami saling melempar senyum tapi bukan senyum yang seperti biasanya. Atmosphere gugup bercampur dengan udara pepohonan di taman ini. Selama ini Heechul Oppa baik padaku. Tidak seharusnya dia menjadi korban atas kekesalanku sendiri.

 

“Ini.” Aku mengangkat kertas dan mawar di tanganku menunjukkan padanya sebagai tanda ‘apakah ini darimu?’ dan ia mengangguk.

 

“Tentang waktu itu…”

“Aku…”

Sengaja aku memotong perkataannya karena ia terlihat gusar.

 

“Maaf.” Katanya lagi.

“Lupakan saja. Tidak perlu minta maaf, karena Oppa sama sekali tak melakukan kesalahan. Akulah seharusnya yang minta maaf.”

Aku tersenyum tulus padanya. Seseungguhnya aku merindukan kebersamaan dengannya. Merindukan canda tawanya. Tapi selama ini aku tahan kerinduan ini karena rasa malu yang sebagian besar lebih menguasai gerak tubuhku.

 

“Baiklah, berarti sekarang waktunya kita untuk bersenang-senang turut bahagia dengan Minho.”

Ia mengulurkan tangannya sebagai tanda mengajakku turut berdansa dengannya.

 

“Baiklah, dengan senang hati pangeran.” Kami tersenyum lebar lalu bersatu dalam dansa.

 

“Kali ini aku tidak akan tanpa sangaja menginjak kakimu tuan.” Ucapku di sela-sela dansa kami.

 

“Ouh… Oke mari kita lihat.”

Ucapnya lalu memintaku berputar dengan gerakannya.

 

Tiba-tiba gerak bola mataku terfokus pada seseorang yang begitu aku kenal sedang berdansa dengan seorang wanita. Kusipitkan mata berusaha berkonsentrasi mengenal wanita tersebut. Entah kenapa aku justru tak berkonsentrasi pada dansaku dan justru berkonsentrasi pada pasangan dansa Hyukjae dan wanita itu.

 

Mungkinkah wanita itu adalah alasan di balik semua penolakannya padaku? Hyukjae terlihat cukup bahagia tersenyum bersama wanita itu. Sakit, sesak, hufff… aku sedikit tidak menyukai suasana ini. Aku memalingkan muka berusaha menjauhkan pandanganku dari sosok dua manusia itu.

 

Permainan dansa berlanjut dengan saling bertukar pasangan. Dari tangan Heechul Oppa aku berpindah dan berdansa dengan Hyunki-ssi. Dia salah satu anggota tim editor seperti Hyoreen. Tidak lama kemudian di putaran kedua akhirnya aku berhadapan dengan Hyukjae. Dada ini bergemuruh. Debar jantung semakin terpacu cepat hingga aku tak memiliki keberanian memandangnya. Yang bisa aku lakukan hanya acuh tak acuh meski kedua tanganku berlabuh di pundak dan tangannya. Oleh karena itu aku tak begitu tahu gambaran ekspresinya dan hanya kuat genggamannyalah yang aku rasakan.

 

“Aku ingin bicara denganmu?” Ucapnya seraya tetap bergerak mengikuti irama.

 

“Bicaralah.” Ucapku cepat.

 

Aku memutar tubuhku satu kali dan ia melanjutkan perkataannya setelah kami kembali berhadapan.

 

“Kau mengirim Elena dan Adinda menemui Eommonim?”

Pertanyaan ini tentu saja tetap membuatku terkejut walau aku telah memprediksinya. Memang aku terus mendesak Bibi Han dengan menyuruh Adinda dan Elena datang berkali-kali.

 

Aku memutar tubuhku bersiap untuk berganti pasangan dan setidaknya aku akan bebas dari Hyukjae.

 

Eh? Tanganku di tarik. Secepat angin aku telah tak berada di keramaian.

 

“Apa kau tahu perbuatanmu akan kembali membangkitkan rasa bersalahnya.”

Ucap Hyukjae. Kami duduk di bangku di sisi lain di taman itu. Hari telah semakin gelap seakan tahu jika suasana antara aku dan Hyukjae pun juga menghitam.

 

“Jadi kau tahu alasan di balik penolakan Bibi Han?”

 

“Ya aku juga tahu alasan kau berada di studio. Serta kepuraanmu menyukaiku, aku juga tahu.”

Haghh… sesak. Perkataannya tepat menusuk jantung ini memaksanya untuk berhenti memompa darah. Jadi selama ini? Aku terdiam tanpa mampu mengeluarkan sepatah katapun.

 

“Kalau kau telah tahu tujuanku berada di sana. Kenapa kau tak mengusirku?”

Ucapku pelan akhirnya mengeluarkan pertanyaan yang selama ini bersarang di hatiku. Sekarang lelaki ini yang terdiam. Ia menunduk tak menjawab.

 

“Lee Hyukjae-ssi” Panggilku agak keras sarat akan sebuah tuntutan.

 

“Aku pikir kau memang menyukai tarian jadi aku membiarkanmu. Setelah aku mengerti maksudmu semua telah tak dapat aku kendalikan. Eommonim begitu menyukaimu dan ingin bertemu lagi denganmu. Emmonim bilang jika kau mengingatkannya pada seseorang. Mungkin orang itu nadalah sahabatnya. Aku juga belum tahu pasti. Aku membiarkan eommonim dekat denganmu. Aku pikir aku akan bicarakan ini deganmu sebelum kau bertindak jauh tapi kau lebih cepat dari yang ku kira telah melakukan semuanya.”

 

“Aku…” Ia terdiam membuatku sedikit bersuara tapi tidak ada kata yang mau keluar. Suaraku tercekat.

 

“Eommonim dan abeonim kembali tertekan dengan ini semua. Mereka hanya menjaga janji dan sahabatnya.” Ucap Hyukjae lagi.

Ya aku tahu itu. Bibi Han telah mengatakannya padaku.

 

“Apakah kau tahu janji seperti apa itu?” Tanyaku lebih sepertj sebuah interogasi.

 

“Hehng…” Ia mengangkat sudut bibirnya tipis.

 

“Kau bahkan masih memberikan interogasi dalam keadaan ini. Rasa ingin tahumu terlalu besar Rae-ya.” Ucapnya tetap memandang ke depan.

 

“Rasa ingin tahuku juga begitu besar saat dulu aku juga mencari tahu alasan emmonim selalu menolak kerja sama yang di tawarkan oleh media. Sebelum Abeonim dan Eommonim terkenal karena kompetisi itu. Mereka memiliki persahabatan di studio latihan menari. Aku berhasil mengambil dan menyimpan foto ini.”

Ia mengeluarkan sebuah foto dari dompetnya yang ia tunjukkan padaku. Dalam foto itu ada tiga orang yang saling merangkul. Dua orang aku kenali sebagai Paman dan Bibi Han. Sedangkan yang seorang lagi, ….

 

“Ini…”

“Apa kau mengenalnya?” Tanya Hyukjae.

 

Aku menggeleng kemudian menjawab pertanyaannya.

“Mereka berjanji akan sukses dan terkenal bersama. Tapi sebuah management waktu itu hanya mengontrak dua orang pemenang kompetisi itu. Emmonim dan Abeonim meminta sahabatnya menunggu sedikit lagi. Keduanya berjanji akan mengusahakan kesuksesan mereka bersama nantinya. Tapi kemudian orang ini pergi entah kemana. Meski emmonim dan abeonim telah mencarinya ke tempat asalnya ia tetap tidak ada.”

 

“Tapi hanya karena…”

Ucapanku terpotong saat Hyukjae menoleh cepat padaku dan memberikan tatapan menghujam tepat ke manik mataku.

 

“Hentikan semua Rae-ya. Jika emmonim tahu kau di balik semuanya maka dia akan sangat kecewa dan menambah daftar rasa frustasinya. Kepura-puraan hanya akan menyisakan kesakitan.”

 

Sedari tadi aku tak cukup mampu membela diri. Aku biarkan ia pergi begitu saja meninggalkanku terduduk sendiri.

 

—o0o—

 

“Maafkan aku teman-teman tapi aku memutuskan untuk tidak lagi menggandeng pasangan Han sebagai tokoh kita.”

 

“Tapi Rae-ya, kenapa?” Tanya Minho dengan ekspresi terkejut.

Tidak hanya Minho yang tampak terkejut dengan keputusanku. Elena serta Adinda pun menunjukkan perubahan raut wajah yang sama.

 

“Bisakah eonni jelaskan apa alasan di balik keputusan mendadak ini?” Belum ku jawab pertanyaan Minho kini Adinda telah menuntut hal yang sama.

 

“Iya benar, ini terlalu mendadak. Apa yang sebenarnya eonni pikirkan?” Sahut Elena tak mau kalah dengan yang lain.

 

“Ini keputusan terbaik. Hingga kini deadline kita tinggal dua pekan saja. Sementara itu aku bahkan tidak melihat tanda-tanda bahwa Tn. dan Ny. Han akan setuju dengan penawaran kita. Sebelum kita pergi dengan tangan kosong kita harus telah siap.” Jelasku panjang lebar berusaha membuat tiga orang ini percaya.

 

“Tapi bukankah waktu itu eonni bilang tinggal sedikit lagi untuk eonni meyakinkan Tn. Han.”

Protes Elena lagi.

 

“Aku salah, maaf.” Ucapku lemah.

 

“Eonni…”

 

“Aku telah punya tokoh lain. Jika aku kita tidak memenangkannya maka aku siap mengundurkan diri.”

Ucapan Adinda aku potong begitu saja.

 

“Apa? Rae-ya kau, …” Minho tercekat. Mungkin ia terlalu kaget dengan apa yang ia dengar.

 

“Eonni yakin?” Elena kembali bersuara pelan untuk mendengar keyakinanku. Sedangkan aku hanya mengangguk mantap berusaha terlihat begitu meyakinkan.

 

 

—o0o—

 

Acara ulang tahun majalah I Zone telah siap di langsungkan. Semua telah siap dengan bintang tamu yang akan di hadirkan.

 

Konsep bertajuk konser menjadi suguhan menarik bagi setiap para undangan juga setiap pembaca yang hadir di sini. Satu-persatu bintang tamu yang masing-masing di usung oleh tim di keluarkan untuk mengisi acara.

 

“Terimakasih untuk menikmati acara kami. Selanjutnya kami telah mendatangkan sosok inspiratif anak negeri yang berhasil sukses dengan impiannya di luar negeri. Dua pria muda ini berhasil menempuh pendidikannya di Australia dan kembali berhasil meraih impiannya dalam sebuah acara televisi internasional. Mari kita sambut Lee Donghae dan Kim Ryeowook dari acara Super Chef.” Ucap Hyunki meriah sebagai pembawa acara.

 

Kami para karyawan I Zone Magazine duduk dengan rapi di barisan kiri panggung sehingga dapat menyaksikan dua pria tampan itu memasuki area panggung.

 

Prok prok prok.

Riuh tepuk tangan menggema di seluruh sudut aula besar ini. Tidak hanya itu, teriakan para penonton juga terdengar selama wawancara berlangsung. Teriakan yang terutama berasal dari para kaum hawa itu bukan tidak mungkin karena mereka terpesona dengan ketampanan kedua lelaki itu.

 

Saat ku dengar Donghae dan Ryeowook berhasil punya acara sendiri di sebuah chanel internasional aku langsung berbalik arah membujuk kedua sahabatku itu untuk membantuku.

 

Sekarang aku di belakang menunggu Donghae dan Ryeowook yang bersiap turun panggung.

 

“Rae-ya!” Suara Ryeowook terdengar memanggilku begitu ia turun panggung. Aku menyambut pelukan Ryeowook dan Donghae padaku.

 

“Terimakasih sahabatku.” Sekarang kami berpelukan ala teletubbies. Seandainya Eunsoo turut berada di sini maka lengkaplah nostalgia kami.

 

“Itu sudah kewajiban kami.” Ucap Donghae dengan gaya bangga meletakkan tangannya di dada.

 

“Mana pria itu?” Bisik Ryeowook di telingaku. Aku tahu yang ia maksud. Ia menanyakan Hyukjae. Aku masih berceritera dengan mereka melalui media sosial. Tidak ada yang tertutup antara kami. Tidak salah bukan jika kami menyebut diri kami adalah sahabat sejati.

 

“Dia di luar.” Jawabku tak kalah pelan membuat Ryeowook serta Donghae sedikit bergaya mempertajam pendengaran mereka.

“Rae-ya!” Fokus kami berpindah ketika ada yang memanggilku dan rupanya dia adalah Heechul Oppa.

 

“Owh Heechul Oppa. Kenalkan, dia adalah…”

 

“Aku Heechul dan aku tahu, kau Ryeowook-ssi dan kau Donghae-ssi dan kau Rae, kau tampak akrab sekali. Apa kalian telah lama saling mengenal?” Ucap Heecul lantas menyilangkan tangannya di dada bersedekap seakan meminta penjelasan atas pertanyaannya.

 

“Wow.. bagaimana kau bisa mengenal kami?” Celetuk Donghae dengn ekspresi herannya yang berlebihan. Namun anehnya ia justru bertambah tampan.

 

“Tentu saja dia tahu, bukan hanya dia bahkan seluruh orang yang ada disini kini tahu.” Sergah Ryeowook membuat Donghae tersadar dengan kebodohannya.

Hahaha… aku dan Heechul Oppa jadi tak kuasa menahan tawa karenanya.

 

“Rae-ya sepertinya lelaki itu sejak tadi mencuri pandang ke sini. Apakah dia Hyukjae?” Bisik Ryeowook lagi menunjuk sebuah arah dengan lirikan matanya. Aku lalu mengarahkan pandanganku seketika. Dan ku lihat di sisi lain ruangan ini Hyukjae terlihat sedang sibuk memeriksa kertas di tangannya. Sepertinya ia baru datang. Tapi aku tidak mendapatkan keadaan Hyukjae memandang kemari seperti yang Ryeowook katakan padaku. Walaupun sebenarnya aku berharap apa yang Ryeowook katakan itu benar.

 

Aku mengangguk dan mengedipkan kedua mataku pada Ryeowook sebagai isyarat jika aku membenarkan tebakannya.

 

“Setelah ini kita harus jalan-jalan. Telah lama kita tidak melakukannya. Rae-ya, kau harus bertanggung jawab atas kami.” Ucapan Donghae lagi-lagi mengundang senyum kami. Reyowook memberikan anggukannya sebagai respon setuju dengan perkataan Donghae.

 

“Boleh aku jadi tour guide kalian?” Tanya Heechul.

 

“Woh… tentu saja.” Ucap Ryeowook. Kami lalu sepakat keluar untuk menyaksikan jalannya kemeriahan ulang tahun I Zone Magazine. Ryeowook serta Donghae lantas menyapa karyawan lain lebih akrab lagi terutama Elena, Adinda, Minho juga Young Ah yg turut hadir di sana.

 

“Rae-ya! Sepertinya pria lucu itu lah yang sangat menyukaimu.” Ryeowook yang berdiri tepat di sampingku kembali menunjuk Heechul yang tengah berdiri di tempat lain.

 

“Tidak, dia suka gadis lain. Hanya memang sifatnya terlalu baik dengan semua orang.” Sangkalku.

 

“Aigoo.. benarkah. Menurutku tidak begitu. Benarkan?” Ryeowook berkata menghadap Donghae seakan meminta persetujuan Donghae atas pernyataannya.

 

“Yach, apapun yang Ryeowook katakan itu benar.” Ucap Donghae seraya mengangguk-angguk menikmati minuman di tangannya.

 

—o0o—

 

Kepadatan tempat berlabel bandara adalah tidak di ragukan lagi keramaiannya. Setiap hari ada saja orang yang akan bepergian jauh dengan memanfaatkan transportasi udara pesawat terbang.

 

“Terimakasih telah datang.” Ucapku lagi pada Ryeowook dan Donghae.

 

Mereka akan kembali ke Australia menyelesaikan ilmu mereka sdikit lagi. Hah… mereka menuntut ilmu lebih lama dariku. Pantas saja jika mereka lebih sukses dariku.

 

“Tidak boleh ada kata terimakasih apalagi maaf dalam hubungan kategori sahabat.” Ucap Donghae dengan senyum khasnya.

 

“Benar itu. Terimakasih Heechul-ssi. Kau adalah tour guide paling menyenangkan yang pernah kami temui.” Timpal Ryeowook.

 

Ya, aku tidak sendiri mengantar keberangkatan Ryeowook dan Donghae. Sesuai janji Heechul menjadi tour guide kami. Hihihi… maksud kami di sini dia selalu ikut kemanapun kami pergi.

 

“Aish… kalian ini.” Aku hanya bisa menggeleng kepala mengerti maksud Ryeowook dengan perkataannya jika Heechul Oppa adalah tour guide paling menyenangkan. Itu karena kekayaan Heechul Oppa membuat semua menjadi gratis. Siapa yang tidak mau jalan-jalan dengan biaya nol.

 

Sekali lagi kami berpelukan setelah peringatan pesawat keberangkatan ke Australia terdengar dari ruang informasi.

 

“Aku akan menghubungi kalian.” Aku sedikit berteriak dan melambaikan tangan ketika kedua sahabat sejatiku itu pergi menjauh.

 

“Owh… aku iri pada mereka.” Racau Heechul Oppa yang berada di sampingku.

 

“Eh… kenapa iri?” Tanyaku.

 

“Ah… lapar sekali. Ayo kita makan.” Aneh, dia tidak menjawab pertanyaanku. Lelaki ini malah memasang wajah memelasnya dan mengajakku pergi makan.

 

—o0o—

 

“Rae-ya!”

“Mm…”

Aku menghentikan kegiatan makanku mendengar panggilan Heechul Oppa yang kini berada di depanku. Kami benar-benar mampir ke restoran setelah dari bandara.

 

“Aku menyayangimu.” Apa ini? Apa maksud lelaki ini menyatakan rasa sayang dengan tatapan seperti itu. Tatapan yang tepat lurus ke manik mata ini.

 

“Eoh… aku juga menyayangimu oppa.”

Balasku dengan senyuman. Mungkin ini hanya pernyataan sayang pada teman. Yah, itu mungkin. Aku pun lalu melanjutkan acara makanku masih dengan rasa dan suasana yang sama.

 

“Aku, … mencintaimu.” Ucapnya lagi.

 

“Aku juga mm…”

Aku seperti tersadar dari hal yang akan membuatku menyesal. Aku hampir saja membalas ucapan Heechul Oppa secara spontan.

 

“Apa?” Aku kembali bertanya agar Heechul Oppa mengulang apa yang ia katakan.

 

“Aku mencintaimu.”

Deg… sekarang aku telah boleh terkejut. Ini benar-benar sesuatu yang lugas. Tapi aku harus menjawab apa. Kenapa kalimat dua kata tanpa tanda tanya tersebut harus mendapatkan jawaban.

 

“Aku…” Baiklah aku semakin gugup dengan suasana ini. Katakan padaku ini adalah mimpi.

 

Auuu…. aku meringis pelan merasakan cubitan tanganku sendiri. Baiklah ini bukan mimpi. Seandainya hatiku tidak terpaut pada Hyukjae maka ini akan aku anggap sebagai hadiah dari yang Maha Kuasa. Bukankah belajar mencintai Heechul Oppa bukanlah sesuatu yang sulit.

 

Tapi sampai saat ini nama yang masih sering aku tulis di hatiku adalah nama orang lain. Lee Hyukjae. Keadaan ini tidak pernah aku prediksi.

 

“Aku tidak tahu apa yang terjadi padaku. Tapi sejak di pikiranku selalu ada dirimu aku jadi selalu ingin melihatmu. Aku ingin kau selalu di sisiku.”

Ucapnya lagi menyatakan apa yang ia rasakan.

 

“Aku…” Sejak tadi aku hanya mampu mengeluarkan kata tidak penting itu. Aku merasa tidak mampu menolaknya tapi aku juga belum bisa menerima jika hatiku masih terpaut pada orang lain.

 

“Rae-ya!” Ia memanggilku lagi membuat wajahku yang tertunduk semakin gelisah.

 

“Aku…”

“Apakah perempuan selalu seperti itu? Apa jika aku menyatakan hal seperti ini padanya, dia akan bereaksi seperti ini?” Aku cukup terkejut dengan serangkaian kalimat yang terangkai dari bibirnya. Ini seperti ujian bahasa yang permainan ungkapan atau majas yang tak bisa ku mengerti.

 

“Ap apa?” Seseorang tolong jelaskan padaku situasi ini.

 

“Ayo latihan lagi.” Ucap Heechul Oppa lagi.

 

Apa? Jadi ini cuma latihan? Hufff…. degup jantung ini sulit terhenti. Entah apa yang harus aku rasakan seseorang.

 

“Kau ini Oppa buat aku kaget saja. Baiklah, ayo latihan lagi dan kau harus terlihat lebih tulus. Siapa namanya?”

 

“Akan aku kenalkan nanti.”

“Baiklah.”

 

—o0o—

 

Satu bulan kemudian

 

“Anak-anak, kalian harus merasakan ketukan musiknya. Jangan terpaku pada hitungan gerakannya. Okey… ayo kita coba lagi.”

Aku kembali menyalakan musiknya agar anak-anak sekolah dasar di depanku ini mencoba kembali tarian-tarian yang aku ajarkan.

 

Sekarang aku berada di daerah pedesaan Jumunjin tempat dimana Ayah dan Ibuku mengabdi menjadi pendidik di sini. Impian ayahku adalah agar aku bisa menjadi pendidik seperti ibuku. Aku menunggu kesempatan untuk ujian pegawai negeri itu disini seraya mengajar menari di sekolah dasar tempat ibuku mengajar.

 

Tepat satu hari setelah perayaan ulang tahun I Zone Magazine aku mengundurkan diri. Aku bahkan belum sempat memberi selamat pada Hyukjae atas kemenangannya dapat menghadirkan salah seorang musisi legendaris.

 

Foto yang Hyukjae tunjukkan kala itu telah membuatku merubah keputusanku. Aku pun tak menyangka jika sahabat dari Paman dan Bibi Han adalah ayahku sendiri Jung Jaeh Hwan. Setelah tahu aku langsung datang menemui ayah meminta penjelasan atas semuanya dan ayah mengakuinya. Ia merasa sangat bersalah atas apa yang terjadi pada sahabatnya tapi ia tetap tidak sanggup menemui sahabatnya itu. Aku tak bisa memaksa ayahku. Lagi pula ada perasaan jika aku tak mau penggemar pasangan Han nantinya menyalahkan ayahku atas hilangnya peredaran pasangan Han dari dunia hiburan.

 

Satu lagi fakta yang aku dapatkan dari ini semua. Rupanya di masa lalu ayahku adalah seorang penari dan bersahabat dengan Paman dan Bibi Han. Alasan ayahku meninggalkan sahabatnya itu adalah karena ia merasa tak sanggup untuk melangkah bersama mereka. Ayahku menghilang dan memutuskan untuk menetap di Jumunjin setelah bertemu Ibuku di sini.

 

“Terimakasih anak-anak, kita lanjutkan besok lagi dan sekarang kalian boleh pulang. Hati-hati di jalan ya. Bye.” Ucapku seraya melambaikan tangan dan memberikan senyuman termanisku untuk para malaikat kecil yang lucu itu.

 

“Bye Jung seonsaengnim.”

Bocah-bocah kecil itu pun kompak melambaikan tangan padaku disertai teriakan melengking khas suara anak-anak.

 

Aku berjalan keluar dari kelas ekstra tersebut dan berjalan menuju kantor untuk menemui Ibuku. Aku harap Ibu masih di sana.

 

Sesampai di kantor yang kudapati hanyalah suasana yang sepi. Hanya ada seorang lelaki yang tampak asik menggores pensilnya di sebuah buku.

 

“Kyungso-ya, apa Ibuku sudah pulang?”

Aku mendekati lelaki yang sudah ku panggil namanya dengan akrab itu. Ia kini mengalihkan fokusnya, menghentikan permainan tangannya dan melihatku.

 

“Ah… Rae-ya, Ibumu pulang lebih dulu.” Ucapnya.

 

“Ada apa? Kenapa Ibu tidak menungguku?” Tanyaku lebih seperti bergumam.

 

“Tidak tahu.” Ucap Kyungso turut menjawab pertanyaanku.

 

“Baiklah, ayo kita pulang. Apakah kau masih akan disini?” Ajakku pada lelaki pengajar ekstra melukis di sekolah ini.

 

“Ayo, untuk apa aku masih di sini? Aku memang menunggumu. Ibumu berpesan untuk itu. Bibi takut kau akan menangis jika di tinggal sendiri.” Canda Kyungso seraya merapikan perlengkapan melukisnya.

 

“Enak saja, aku bukan dirimu.” Balasku tak terima.

 

“Maksudmu?” Ia menaikkan alisnya.

 

“Menurutmu?”

Aku lalu memilih melangkah lebih dulu setelah Kyungso baru saja selesai membereskan barang-barangnya.

 

Kami berjalan kaki menuju rumah dan dengan sengaja memilih menyusuri bibir pantai Jumunjin ini. Sepatu yang seharusnya melekat di kakiku kini justru terjinjing di tanganku hingga kaki telanjangku dapat merasakan bulir-bulir ombak yang menyapa pesisir. Hal yang tidak jauh berbeda terjadi pada Kyungso. Berada di usia yang sama membuat kami mudah akrab.

 

“Hufh… bagaimana kalo kita duduk dulu?”

Ucap Kyungso yang tiba-tiba berhenti dan mendudukkan dirinya. Ya aku tahu, lelaki ini begitu menyukai pantai.

 

“Kau menawariku tapi kau telah duduk lebih dulu. Bagaimana jika aku tak mau?” Ucapku berpura-pura marah.

 

“Jangan banyak bicara. Duduklah!”

 

“Aghh…” Tentu saja aku berteriak kaget karena tiba-tiba tanganku di tarik membuatku jatuh terduduk di samping lelaki ini.

 

“Untung sudah sore. Jika saja ini siang hari maka aku sudah meninggalkanmu.” Gerutuku.

 

Sifat menyukai pantai lelaki ini terlalu parah. Bahkan saat matahari berada di atas kepala dengan teriknya yang mengancam terkadang ia masih sanggup meminta seseorang menemaninya duduk di pantai.

 

Tetaplah di situ Rae-ya, aku akan membeli minuman.

“Ya! Seenaknya saja.” Dia telah menjauh. Percuma aku berkata.

 

Aku memandang jauh ke tengah laut hingga yang dapat kulihat adalah bagian bumi menyatu dengan langit. Senja sore hari seperti sebuah lampu kerlap kerlip yang turut merayakan persatuan antara langit dan bumi tersebut.

 

Tiba-tiba seseorang berdiri di depanku menghalangi sinar matahari mengenaiku. Aku mendongak untuk melihat siapa pemilik kaki yang kini ada di depanku.

 

“Hyukjae-ya!” Lantas aku segera berdiri memperkecil jarak pandangku dengan berhadapan langsung dengannya. Hatiku berdebar begitu kencang. Rasa terkejut melingkupi hatiku.

 

Ia memandangku dingin dengan ekspresi yang sulit ku tebak. Jadilah untuk sekian detik kami hanya saling memandang.

 

Tidak mungkin Hyukjae menemuiku kemari. Hyukjae tidak tahu tempat ini. Kalaupun tahu ia tidak mungkin menyusulku karena aku tak berarti untuknya. Jika begitu maka mungkin lelaki di depanku adalah halusinasi seperti sebelumnya. Ini selalu terjadi kala aku mengingat dan merindukan lelaki itu.

 

Setelah meninggalkan Seoul aku tersadar jika aku begitu mencintai Hyukjae. Semua hal bersama Hyukjae menjadi sesuatu yang sangat aku rindukan.

 

Aku berpaling setelah cukup lama memandang wajah Hyukjae. Aku kembali duduk dan tidak lama kemudian bayangan Hyukjae turut duduk di sampingku. Ini adalah impianku. Aku duduk bersamanya sedekat ini adalah impianku. Lalu aku menaruh kepalaku di pundak lelaki ini.

 

“Bayanganmu saja tidak murah senyum. Sama seperti aslinya.” Gumamku hingga memejamkan mata membuat sinar matahari terasa begitu hangat.

 

“Rae-ya!”

Aku membuka mata dan Hyukjae telah tidak di sampingku lagi. Yang terlihat olehku saat ini adalah Kyungso dengan minuman di tangannya duduk di sampingku.

 

—o0o—

 

“Hyorim, kau di sini?”

Aku tentu heran melihat Hyorim duduk di ruang tamu. Bukankah adikku itu masih harus menunggu pengumuman kelulusannnya.

 

“Ya, aku pulang untuk menyaksikan eonni menikah.”

 

“Me… menikah?” Ku alihkan fokus ku memandan Ayah dan Ibu yang juga ada di sini dengan penuh tanda tanya.

 

“Iya Rae-ya. Ada seseorang yang mengajukan lamaran atas dirimu.”

 

“La ma ran?” Aku terkejut hingga kalimat yang aku keluarkan justru seperti seseorang yang sedang belajar mengeja.

 

“Hm hm.”

Anggukan Hyorim membuatku ternganga.

 

“Siapa yang mau melamarku?”

 

“Saat ini dia ada di luar? Coba kau temui dulu.”

 

“Aku kan dari luar tapi kenapa aku tidak melihat seorangpun?” Tanyaku heran. Tapi yang kudapati justru hanya ibu dan adikku yang kompak mengangkat bahu.

 

Tak ingin berlama-lama terkungkung dengan rasa penasaran aku segera melangkahkan kaki menuju teras rumah.

 

Aku terkejut melihat siapa yang berdiri di depanku. Meski dia membelakangiku tapi aku bisa mengenali postur tubuh ini. Baiklah ini mungkin hanya karena aku terlalu merindukan Hyukjae hingga setiap orang aku pikir Hyukjae.

 

“Kau, …” Lelaki itu membalikkan badannya dan tadaaa…

 

“Kau mengulang kesalahan yang sama dengan ayahmu Rae-ya.”

 

“Astaga… ba… bagaimana kau bisa di sini? Kau…”

Ucapanku terbata-bata, berulang kali aku menunjukka ke dalam rumah serta bergantian memandang Hyukjae dan ke dalam rumah berharap ada Hyorim ata Ibu datang untuk menjelaskan padaku.

 

“Jika aku mau aku sudah memburumu sejak sebulan yang lalu. Sejak kau kabur dan mengulang kesalahan ayahmu.”

Ucapnya dengan tangan yang bersedekap di dada seperti ia sedang serius menghakimiku.

 

“A… ap… apa maksudmu?”

 

“Maksudku, kau meninggalkanku tanpa kata. Itu sama seperti yang ayahmu lakukan pada Abeonim dan Eommonim.”

 

“Jadi kau tahu?”

Ia mengangguk dengan cepat menjawab pertanyaanku.

 

“Sejak kapan?” Tanyaku lagi.

 

“Sejak kau merubah keputusanmu.”

 

“Apa?”

 

“Tidak adakah pertanyaan selain apa?”

 

“Hah?”

Lagi-lagi aku sangat terkejut. Pikiranku blank dan debar jantungku seperti bom waktu yang siap meledak ketika Hyukjae tiba-tiba menarikku kedalam pelukannya.

 

“Aku merindukanmu.” Ucapnya. Aku yang masih terkejut sama sekali belum membalas pelukannya. Bisa kurasakan dia semakin erat memelukku. Akhirmya aku tersadar jika aku juga sangat merindukannya. Akupun melingkarkan tanganku di tubuhnya membalas pelukannya.

 

“Woh, apa aku sedang menonton sebuah drama.” Suara Hyorim terdengar menginterupsi hingga kami saling melepaskan pelukan.

 

Rupanya bukan hanya Hyorim yang mendekati kami tapi Ayah dan Ibu juga.

 

“Apa lelaki yang ayah maksud adalah…” Aku tidak mau terlihat terlalu mengharakan Hyukjae akhirnya aku meneruskan kata-kataku hanya dengan menunjuk.

 

“Iya itu aku.” Belum sempat suara ayah terdengar suara Hyukjae telah membuat aku menoleh cepat padanya dengan keadaan dahi yang berkerut.

 

“Aku akan menemui Dongri dan Milla.” Ucap ayahku kemudian kembali membuatku menoleh pada ayah masih dengan dahi yang berkerut.

 

Ini mengherankan, apa yang tidak aku tahu sehingga ayah merubah keputusannya. Dan apa ini? Lelaki yang melamarku adalah Hyukjae. Katakan padaku jika ini bukanlah mimpi atau aku harap ini bukanlah sebuah latihan drama seperti peristiwa Heechul Oppa kala itu.

 

—o0o—

 

Suasana pantai Jumunjin kini telah di sulap menjadi seperti sebuah istana. Ada banyak rangkaian dari berbagai macam bunga yang ditambah dengan hiasan selendang-selendang putih.

 

Konsep pernikahan seperti ini adalah impianku. Aku dan Lee Hyukjae akhirnya menjadi satu dalam sebuah pernikahan. Aku tidak menyagka dengan semua kejutan ini. Kejadian ini membuatku berpikir bahwa lamaran yang begitu tiba-tiba ini dan tak terduga-duga adalah hal yamg paling romantis dari sebuah romansa kehidupan percintaan.

 

Aku juga senang Ayah telah berani menemui sahabatnya dan mengakui kesalahannya. Rasa syukurku semakin bertambah ketika Paman dan Bibi Han ternyata mau memaafkan ayahku dan masih menyayanginya. Sekarang aku mengerti kenapa suatu hal tak boleh di paksakan. Seseorang pasti punya alasan sendiri. Sama seperti aku ingin melindungi ayahku dari fans fanatik pasangan Han.

 

“Rae-ya, maafkan ayah selama ini ayah merahasiakan hal itu.” Aku menggenggam tangan ayahku lebih erat lagi. Saat ini aku yang telah siap dengan gaun pengantin selutut berwarna putih yang menjuntai di bagian-bagian tertentu, di hiasi pita di bagian belakang pinggang dan terbuka di bagian bahu. Aksen mutiara juga berbaris secara diagonal dari bagian kiri bahuku hingga melingkari pinggangku. Rambut sebahu milikku kini juga tak terurai. Surai hitamku itu kini tergelung dan tersemat kerudung tembus pandang yang menutupi bagian wajahku. Karakter bahan terawang itu membuat mahkota kecil di atas kepalaku serta wajahku samar-samar dapat terlihat. Hal ini juga membuatku dapat melihat dari arah berlawanan calon suamiku itu melangkah indah di iringi musik romance mendekati tempat dimana aku dan ayahku juga berjalan semakin mendekat.

 

Tepat di tengah Hyukjae lalu berlutut dan mengulurkan tangannya. Ayahku pun meletakkan tanganku yang semula berada di genggamannya ke tangan Hyukjae. Kami saling tersenyum dan mulai melangkah menari bersama. Kami telah berlatih bersama untuk gerakan-gerakan tarian kali ini. Kami memasukkan konsep ini pada upacara pernikahan kami. Ini seperti film-film barbie princess yang masih aku tonton hingga dewasa. Kami terus berdansa hingga tepat berhenti ketika kami telah berada di altar. Setelah itu terjadilah hal-hal yang paling menegangkan. Hal-hal dimana aku dan Hyukjae mengucap janji sehidup semati.

 

“Selamat Rae-ya.” Ucap Eunsoo padaku. Tidak hanya Eunsoo yang berada di pesta ini. Ryeowook dan Donghae juga disini meski harus meninggalkan pekerjaan mereka. Dan satu lagi, para penghuni Seoul dari I Zone Magazine seperti mengungsi datang ke sini. Peluk dan cium serta kata-kata rindu tak berhenti menggema di pesta ini.

 

Minho dan Young Ah, si kembar Elena Adinda dengan pasangan mereka masing-masing. Tak ketinggalan pengusaha sukses Kyuhyun yang di bawa Hyoreen juga berada di sini. Senyum dan tawa menjadi perhiasan paling berharga di pesta ini. Gelombang lembut dari lautan yang menyapa pantailah yang menjadi saksi kebahagiaan ini.

 

“Selamat Rae-ya!” Ucap Heechul Oppa seraya memberikan pelukannya padaku.

 

“Ehm… ehm… sekarang dia istriku Hyeong.” Seruan Hyukjae di sampingku lantas membuat kami spontan tersenyum dan melepaskan pelukan kami.

 

“Baiklah Monyet jelek.”

“Oppa! Sejelek apapun dia tapi dia adalah suamiku.” Protesku tak lupa dengan ekspresi marahku.

 

“Rae-ya, kau lebih terlihat seperti menjatuhkanku.” Ucap Hyukjae dengan mata yang mendelik ke arahku.

 

Ha ha ha ha… suara tawa lalu meledak begitu saja menertawakan ekspresi Hyukjae yang lucu.

 

“Rae-ya!” Tawaku terhenti dan fokus memandang Kyungso yang memanggilku.

 

“Rae-ya, ini kadoku untukmu.” Kyungso berdiri di depan aku dan Hyukjae dengan sebuah benda berbentuk persegi yang tertutup kain.

 

“Apa itu sebuah lukisan?” Tanyaku.

“Pintar! Tebakanmu benar. Aku akan bukakan untukmu.” Kyungso lalu menarik kain hitam yang sejak tadi menghalangi rasa ingin tahuku.

 

“Wow… ini.” Aku melangkah mendekati kanvas yang telah berwarna itu.

Yang membuat aku begitu terpesona adalah dua tokoh pria dan wanita dalam lukisan tersebut. Ini adalah lukisan aku dan Hyukjae sedang duduk memandangi pantai. Meski wajah tokoh itu tak terlihat karena di lukis dari sudut belakang tapi aku mengenali bajuku yang sama dengan kejadian waktu itu. Bahkan Hyukjae benar-benar mirip seperti yang aku bayangkan saat itu.

 

“Ini adalah pesanan suamimu.” Mendengar ucapan Kyungso aku lalu menoleh cepat pada Hyukjae yang berdiri di belakangku. Pandanganku yang sarat akan penuh pertanyaan serasa percuma karena Hyukjae yang berpura-pura mengalihkan pandangannya pada arah lain. Owh… ayolah, ini terlalu romantis dan aku butuh penjelasan.

 

—o0o—

 

Ucapan tentang janji pernikahan adalah hal yang paling menegangkan kini aku tarik kembali. Hal yang paling menegangkan adalah ini. Saat dimana kini aku duduk berdua dengan Hyukjae di dalam kamar yang tertutup rapat. Kami telah berganti dengan pakaian tidur.

 

“Apa kau ingin menanyakan sesuatu?” Ucapnya memecah keheningan yang sejak 30 menit lalu kami lalui dengan menyibukka diri masing-masing. Hyukjae dengan tabletnya demikian juga aku.

 

“Apa sangat terlihat?”

“Apa kau tak sadar jika kepalamu itu transparan.” Ucapnya tanpa menoleh dari layar tabletnya.

 

“Aish… dengarkan aku kalau begitu.” Aku merebut tabletnya hingga kini ia beralih memandangku.

 

“Kenapa kau menikahiku?” Tanyaku.

 

“Jawabannya sama dengan alasan kenapa kau menerima lamaranku.”

 

“Apa?”

“Akan ku buat kau tahu.” Dia mendekatkan wajahnya padaku. Detik berikutnya kami telah saling memejamlan mata dan bibir kami telah saling menempel.

 

Begitu lama ia hanya menempelkan bibirnya hingga aku mengalungkan tanganku di lehernya sebagai pertanda aku menginginkan lebih dari ini. Sepertinya lelaki ini mengerti keinginan istrinya hingga kini ia menggerakkan bibirnya. Gerakan saling menyesap bibir ini menjadi sesuatu yang semakin membangkitkan gairahku. Kami bahkan tidak sadar kami telah dalam keadaan berbeda dengan posisi aku bebaring dan Hyukjae yang berada di atasku.

 

Nafas kami terengah-engah ketika kami terpaksa melepaskan tautan bibir kami karena pasokan oksigen yang semakin menipis dalam paru-paru kami.

 

“Kau juga ingin tahu cerita tentang lukisan itu bukan?” Bisiknya padaku. Aku menggeliat geli ketika ia tak hanya berbisik di sana. Ia sedikit mencuri ciuman disana dan dapat kurasakan dia menghirup aroma tubuhku.

 

“Apa kepalaku benar-benar transparan hingga kau bisa membaca pikiranku?” Pertanyaanku tampaknya membuat senyum di bibirnya terkembang.

 

Ia kembali menyesap bibirku sekilas lalu berkata.

“Yang kau lihat di pantai waktu itu bukanlah bayanganku. Kata-katamu waktu itu membuatku yakin jika kau tidak akan pernah menolak lamaranku.”

 

“Apa? Mm…” Dia membungkam suaraku dengan ciuman. Sedangkan Aku tak lagi dapat berpikir apapun ketika bibir kami menyatu. Baik, biarkanlah malam ini aku simpan semua pertanyaanku. Aku hanya akan menikmati kebersamaan ini.

 

Sekarang aku siap berteriak bahwa SUAMIKU ADALAH HAL PALING ROMANTIS DALAM HIDUPKU

 

—o END o—

 

 

 

 

 

 

 

 

1 Comment (+add yours?)

  1. Monika sbr
    Sep 12, 2015 @ 08:24:32

    So sweet!!!
    Akhirnya mereka bisa menikah juga. Dan permasalahan yg terjadi antara tuan han dan ayahnya terselesaikan……

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: