Oppa & Younger Sister

Author : @Rimalways

Tittle   : Oppa & Younger Sister

Cast     : Lee Donghae, Lee Jin Hae, Lee Hyuk Jae, Sandara Steffie, Yoon Ye Na, dll.

Genre : Family, School, and Relation

Rating : General

Leght   : One Shot

Catatan Author : Terima kasih semuanya… FF ini udah pernah dibagikan di blog dan di facebook.

 

“huahhh…” dengus Lee Jin Hae dengan suara berat. Ia baru saja keluar dari pesawat bersama Ibunya. Suasana hatinya sedang tidak baik. Berbeda dengan sang Ibu yang langsung memperlihatkan wajah gembira saat sudah berada di Korea.

Mereka keluar dari Bandar Udara Internasional Incheon sambil menyeret koper besar milik masing-masing. Beberapa kali Lee Jin Hae mengeratkan jaket tebal yang di pakai karena udara musim dingin di Incheon semakin meningkat. Wajah Lee Jin Hae masih tidak bisa memberikan senyuman.

“perlihatkan wajah manismu” kata Ibu yang sudah melihat wajah anaknya dengan tatapan dingin.

“kenapa kita harus kembali lagi kesini? Aku lebih menyukai tinggal di Indonesia”

“di Indonesia kamu tidak mempunyai teman. Disini kita bisa berkempul bersama keluarga lagi. Sesuatu yang kamu inginkan dari dulu” kata Ibu sambil mengusap punggung anaknya.

“sekarang tidak lagi” jawab Lee Jin Hae ketus.

“jangan memperlihatkan wajah seperti itu jika bertemu dengan Appa-mu!” pintu Ibu memohon.

Mereka sudah berada di luar bandara untuk menunggu jemputan. Sekitar beberapa menit menunggu akhirnya sebuah mobil berwarna hitam berhenti di depan mereka. Seorang lelaki berumur empat puluh tahun dengan setelan jas rapi menghampiri mereka dan langsung memeluk Ibu penuh cinta. Berlanjut dengan kecupan kening yang penuh cinta dan kasih sayang kepada Lee Jin Hae. Dia adalah Ayah Lee Jin Hae yang tidak bertemu dengan mereka selama lima tahun.

“apa kalian sudah menunggu lama?” kata Ayah sambil menatap Ibu. Ibu menggeleng sambil tersenyum. Ayah berlanjut menatap Lee Jin Hae “Appa sungguh merindukanmu. Sekarang kamu sudah tumbuh semakin cantik”.

“diluar sangat dingin” kata seorang lelaki yang baru turun dari mobil.

“Lee DongHae anakku. Ibu sungguh merindukanmu” ucap Ibu sambil membuka kedua tangan lebar-lebar. DongHae berjalan dan langsung memeluk Ibu yang sudah di rindukannya sejak lama. “kau semakin tampan. Apa kau meminum banyak vitamin sehingga tubuhmu semakin tinggi. Apa kau hidup bahagia?” lanjut Ibu berkaca-kaca melihat anak lelakinya bisa hidup baik dan telah menjadi tampan. Belum Donghae menjawab pertanyaan Ibu ia terlebih dulu mendengar nada suara Jin Hae.

“cihhh…” umpat Jin Hae sinis.

“Oppa sangat merindukanmu. Kau tambah cantik” puji Donghae lalu berjalan kearah Jin Hae hendak memeluknya. Namun tiba-tiba saja….

“stop” ucap Jin Hae keras. “jangan memelukku! Aku tidak mau dipeluk olehmu”

“apa? yak… aku ini Oppa-mu” sergah DongHae yang berusaha memeluk Jin hae

“Oppa? Aku tidak mempunyai Oppa” jawab Jin Hae ketus.

“kau ini kenapa?” DongHae mulai kesal. “bu lihatlah adik manisku, apa Indonesia telah berhasil mengubahnya menjadi tidak sopan seperti ini” lanjut DongHae melirik kearah Ibu. Ibu hanya bisa tersenyum.

“apa menurutmu Indonesia tidak baik untuku? Yak… kau saja hanya tinggal sebentar disana jadi jangan membicarakan hal yang tidak masuk akal”

“kenyataannya seperti ini”

“benar-benar menyebalkan. Kau…”

“panggil aku Oppa!” DongHae memotong ucapan Jin Hae sambil menegaskan.

Jin hae memalingkan wajahnya. “aku tidak mempunyai Oppa”.

“sudah… sudah…” ucap Ayah menenangkan suasana mereka. “saatnya kita pulang! Seoul sudah menunggu kita” lanjut Ayah sambil membawa koper Ibu. DongHae yang ingin membawa koper adiknya malah tidak jadi karena Jin Hae tidak mau kopernya di sentuh oleh sang Kakak.

*****

Suasana tidak akrab seperti tidak saling mengenal berlanjut saat sudah sampai di rumah. Saat makan malam Jin Hae lebih banyak diam. Sedangkan DongHae terus bercerita tentang hidupnya yang mengasikan dan penuh dengan kegembiraan bersama teman-temannya. Ibu yang menjadi pendengar setia hanya bisa tersenyum dan mengucapkan ‘syukur’. Jin Hae tidak suka melihat DongHae yang selalu tersenyum dan tertawa bahagia. berbeda jauh dengan dirinya.

Saat makan malam selesai. DongHae masuk ke kamar adiknya karena kamar tersebut tidak di kunci.

“pergi!” ucap Jin Hae keras sambil menunjuk kearah pintu kamar. “aku tidak ingin diganggu” lanjutnya dingin.

“aku tidak akan mengganggumu” kata DongHae yang langsung duduk di atas ranjang. “aku hanya mau mendengarkan kehidupanmu saat di Indonesia. Kau pasti sangat bahagia”

“apa kata BAHAGIA murah sekali di mulutmu?” tanya Jin Hae sinis.

“sudah beberapa kali Oppa bilang. Panggil Lee DongHae dengan sebutan Oppa. Meskipun kita sudah tidak bertemu lama tetap saja kau adalah kembaranku. Kau lahir setelahku. Panggil aku dengan sopan” DongHae menarik napas lalu mengeluarkan dengan perlahan. “kata bahagia gampang sekali diucapkan”

“benar. Karena itu yang kau rasakan” kata Jin hae sinis lalu memasangkan headphone ke telinganya dan mendengarkan lagu Super Junior dengan tujuan tidak bisa mendengar ucapan sang Kakak.

“apa kau tidak merasa bahagia?” tanya DongHae curiga. Sedangkan Jin Hae tidak bisa mendengarkan apapun kecuali alunan musik. Meskipun enggan, DongHae keluar dari kamar adiknya dengan perasaan gontai.

*****

“namaku Lee Jin Hae. Aku baru pindah dari Indonesia. Ku harap kita bisa menjadi teman” Dengan perasaan gugup Lee Jin Hae berusaha memperkenalkan diri di depan kelas sebagai murid pindahan.

“silahkan duduk di samping Yoon Ye Na” kata Shim Min Seo yang merupakan wali kelas 2-3 menyuruh agar Jin Hae duduk di bangku kosong.

Jin Hae duduk di samping perempuan yang bernama Yoon Ye Na. Mereka berkenalan dan terlihat akrab. Jin Hae memandang tidak suka ke arah depan. Ternyata DongHae duduk di depan Jin Hae.

“namaku Lee Hyuk Jae. Panggil aku Euhyuk” terdengar suara dari belakang saat Jin Hae sedang menundukkan kepala.

Jin Hae mengangkat kepala dan memutar tubuhnya lalu ia tersenyum. “hallo… namaku Lee Jin Hae” mereka saling berjabat tangan.

DongHae menatap kearah mereka tidak suka. Ia tidak suka melihat adiknya berbicara dengan Rival-nya dari dulu. Lee Hyuk Jae musuh DongHae sejak lama. Musuh, namun terkadang mereka bisa kompak.

“aku ketua murid disini. Jika mau meminta sesuatu atau membutuhkan pertolongan panggil aku” kata Eunhyuk kemudian langsung pergi ke bangkunya.

“apakah dari Indonesia ke Bali jauh?” tanya Yoon Ye Ra polos.

“Bali termasuk Indonesia” kata Jin Hae.

“ah benarkah?”

Jin mengangguk dan tersenyum.

*****

Jin Hae berjalan sendirian menuju halte. Terdengar suara dari dalam mobil yang menyuruh Jin Hae berhenti berjalan. Namun Jin Hae tetap mengacuhkannya.

“berhenti Lee Jin Hae!” teriak DongHae kesal. Ia yang meminta adiknya untuk berhenti berjalan.

“apa lagi?” jawab Jin Hae tidak suka.

DongHae berjalan menghampiri adiknya. “kenapa kau tidak mau berangkat atau pulang sekolah dengan Oppa?” tanyanya penasaran.

“kau bukan Oppa-ku” jawab Jin Hae kekeh.

“kenapa kau tidak menganggapku saat teman-teman bertanya ‘apa kau mempunyai saudara?’ dan kau bilang tidak” DongHae membutuhkan kejelasan atas sikap adiknya yang jauh berubah.

“apa aku harus menjawab bahwa Lee DongHae, murid paling populer di sekolah adalah kembaranku. Itu maksudmu? Aku tidak mau” jawab Jin Hae sambil melipat kedua tangannya di depan dada.

“itu yang harus kau katakan”

“jangan berbicara di sekolah denganku. Anggap saja kita tidak saling mengenal” pinta Jin Hae yakin.

“aku yang mengurus kepidahanmu. Aku yang bersusah payah agar kau bisa masuk kelas 2-3 tetapi kau tidak akan berbicara denganku? Ingat… saat masih kecil kita tidak bisa dipisahkan tapi sekarang kita malah menjauh. Aku sungguh tidak tahu alasan kau bersikap begini kepada Oppa-mu”

“jangan samakan dulu dengan sekarang. Jangan biarkan orang lain tahu bahwa kita kembar” kata Jin Hae lalu meninggalkan DongHae yang masih diam tidak percaya melihat adiknya.

Jin Hae melanjutkan perjalanannya. Lagi… lagi ada mobil yang menghentikan langkahnya. Seseorang keluar, ternyata itu Lee Hyuk Jae.

“Eunhyuk~aa apa yang kau lakukan?”

“ayo masuk! Ku antar kau pulang”

Tampa ragu sedikitpun Jin Hae masuk ke dalam mobil mengacuhkan DongHae yang sedang menatapnya tidak suka. Eunhyuk tersenyum menang ke arah Donghae. Eunhyuk pikir, DongHae mendekati Jin Hae untuk menjadikannya pacar. Dan ia tidak suka karena DongHae sudah mempunyai Sandara. Ia tidak ingin Jin Hae jadi korban DongHae selanjutnya. Itulah pikiran Eunhyuk.

*****

Insting seorang kakak terus berkecambuk di dalam hatinya. Bagaimana pun caranya ia harus memperbaiki hubungan dengan Jin Hae. Saat di kelas maupun jam istirahat ia selalu mengawasi Jin Hae.

“ayo kita pulang bareng!” ajak DongHae saat mereka sedang berada di perpus.

“tidak mau”

“jangan pulang bersama Eunhyuk lagi, dia rival sejatiku”

“jangan mencampuri privasi-ku!”

“kita harus pulang bareng! Kita akan menonton di bioskop, bermain, dan makan di restoran paling terkenal di kota ini”

“aku ti…”

“Donghae” teriak seorang perempuan cantik yang memotong kalimat Jin Hae. “aku mendengar semuanya” ucap perempuan itu tidak suka sambil melihat kearah Jin Hae.

“Jin Hae ini Sandara” kata Donghae memperkenalkan pacarnya.

Jin Hae menatap Sandara sinis lalu pergi begitu saja.

“aku pacarmu, kenapa kau malah mengajak anak baru itu dari pada aku?” kata Sandara meminta kejelasan.

“kita sering jalan bersama” kata DongHae. “Jin Hae-aaa” teriak Donghae sambil berlari kearah Jin Hae. Sandara kesal karena ia di tinggalkan begitu saja.

*****

Jin Hae dan Yoon Ye Na sedang makan di kantin sekolah. Ye Na terus bertanya kepada Jin Hae kenapa Donghae selalu mengikutinya dan Jin Hae hanya berkata bahwa Donghae mungkin fan-nya.

“apa kau artis?” tanya Ye Na penasaran.

“bukan”

“Donghae itu terkenal oleh semua murid karena ketampanan serta mempunyai suara yang bagus dan indah. Dia sangat digilai oleh banyak perempuan. Dia bukan tipe lelaki yang gampang tertarik pada perempuan tetapi kenapa dia tertarik mendekatimu” celoteh Ye Na tanpa ditanya.

Jin Hae mengkerutkan kening tidak percaya bahwa kakaknya bisa terkenal di sekolah. Ia tidak yakin bahwa yang dibicarakan Ye Na adalah kakaknya sendiri.

“apa kau menyukainya? Seprtinya kau tahu banyak tentang dia?” Jin Hae mengedipkan sebelah matanya ia menggoda Ye Na.

Ye Na hanya bisa tersenyum malu.

“aku akan menjodohkanmu! Tapi, apa kau tahu siapa Sandara?” tanya Jin Hae penasaran.

“aku mau sekali di jodohkan dengannya. Ahhh… Sandara… dia pacar Donghae” jawan Ye Na malas.

“oh”

“Siapa yang mau di jodohkan?” tiba-tiba Eunhyuk datang dan berkata demikian. Ia duduk di samping Jin Hae. “aku dan Jin Hae mau kau jodohkan?” tanya Eunhyuk ke arah Ye Na yang sedang meminum jus.

“berhentilah menghayal! Jin Hae tidak mau di jodohkan denganmu” jawab Ye Na yakin.

“yak, jangan memutuskan begitu saja. Kita dengarkan saja apa yang akan di ucapkan Jin Hae” ucap Enhyuk lalu beralih memandang ke samping. Jin Hae menatapnya lalu tersenyum. Ia tahu bahwa Eunhyuk hanya bercanda.

“kalau kita berjodoh, apa boleh buat” jawab Jin Hae mengangkat bahu.

“aku suka dengan perempuan sepertimu” kata Eunhyuk memegang pundak Jin Hae.

Mereka bertiga tertawa bersama. Sebagai seorang murid pindahan ia tidak merasa kesepian lagi karena disini banyak teman-teman yang berada di sampingnya. Sungguh menyenangkan.

Tanpa mereka bertiga sadari sejak dari tadi Donghae terus menatap Eunhyuk tidak suka karena lelaki itu bisa membuat Jin Hae tersenyum dan tertawa sedangkan ia sebagai kakak tidak bisa. Bahkan untuk berusaha berada di dekat adiknya ia harus mempunyai kekuatan agar Jin Hae luluh hatinya. Donghae yang melihat tangan Eunhyuk memegang pundak Jin Hae ingin mematahkan tagan lelaki itu karena berusaha menyentuh adik kesayangannya namun Donghae tidak bisa melakukannya ia hanya bisa mengumpat Eunhyuk dalam hati “jangan sentuh adikku! Ku hajar kau jika berani menyentuhnya sekali lagi”

*****

Setelah jam pelajaran berakhir, Jin Hae mendapat surat dari seseorang yang menyuruhnya untuk pergi ke toilet wanita. Ia ingin mengabaikannya namun ia sangat penasaran apa yang akan terjadi. Ia berjalan dengan tenang ke arah toilet. Beberapa kali ia melirik ke belakang, biasanya Donghae selalu mengukutinya tetapi saat ini ia tidak ada. Jin Hae mengumpat Donghae sebagai kakak yang jahat.

“Lee Jin Hae… murid baru dari Indonesia” ucap seorang perempuan dengan nada sinis berjalan kearahnnya. Dua orang temannya mengekori dari belakang.

“oh, jadi ini… gadis yang didekati oleh Donghae” perempuan yang ada di belakang ikut berbicara. “berani sekali dia menggoda pacarmu, Sandara”

“heh… apa kau merasa lebih cantik dariku sehingga Donghae berusaha mengajakmu pergi” kata Sandara menyentuh wajah Jin Hae. Jin Hae merasa takut. Kejadian ini akan terulang lagi. Kejadian yang pernah ia lalui dulu.

“kau tidak bisa berbicara?” lanjut Sandara sinis. “apa yang harus kita lakukan dengan anak ini?” kata Sandara melirik ke arah kedua temannya. Ia kemudian mendorong tubuh Jin Hae. Jin Hae hanya bisa membekap mulut. Ia tidak percaya dengan kejadian ini. ia berusaha menahan tangis.

“Oppa… Oppa… bantu aku” ucap Jin Hae dalam hati. Saat sedang terjadi sesuatu, kalimat itulah yang selalu ia ucapkan dalam hati. Hanya saja, kakaknya selalu tidak datang membantu. Hingga ia selalu kecewa.

“tidak ada perempuan di sekolah ini yang dapat merebut Donghae dariku. Ku peringatkan sekali lagi. Aku tidak ingin melihat kau bersama pacarku” Sandara menatap wajah Jin Hae dingin dan sinis.

“Oppa… Oppa… bantu aku” terdengar bisikan hati Jin Hae. Ia hanya bisa tertunduk karena masih kaget dengan ini semua.

Ada langkah kaki seseorang masuk. Seketika itu Sandara dan kedua temanya langsung keluar dengan wajah polos seakan tidak terjadi sesuatu. Lelaki itu mendekat ke arah Jin Hae dan menyentuh pundaknya. “apa yang terjadi?” ucap lelaki itu.

“Oppa…” kata Jin Hae mengangkat wajahnya. Ia kaget melihat lelaki itu. Yang datang bukanlah Donghhae melainkan Eunhyuk.

Eunhyuk membantu Jin Hae berdiri. Lalu berkata “apa ada yang melukaimu?”

Jin Hae merapikan seragam serta rambut agar tidak terjadi apa-apa. “oh tidak” katanya berbohong. “kenapa kau ada disini?”

“entahlah, aku tidak tahu kenapa kakiku ingin datang kesini”

“ayo kita pulang!” ajak Jin Hae. Mereka berdua keluar dari toilet bersama dan Eunhyuk mengantar Jin Hae pulang.

*****

Malam ini Donghae sedang asik merapikan kaset DVD koleksinya dengan ditemani alunan musik rock yang keras. Terdengar suara Ibu dan Ayahnya berbicara untuk mengecilkan volume suaranya namun ia tidak akan melakukannya.

Jin Hae merasa kesal dengan suara dari sebelah kamarnya karena ia tidak bisa belajar, dengan enggan ia pergi ke kamar Donghae lalu mematikan musik tersebut.

“berhentilah! Ini sudah malam” teriak Jin Hae sambil emosi.

Dengan polosnya Donghae menyodorkan sebuah kaset lalu bergumam “mari kita nonton film ini”

Jin Hae menatap kaset itu acuh. Ia akan kembali ke kamarnya namun langkahnya terhenti saat Donghae berkata “Oppa minta maaf jika selama ini Oppa salah”

“beritahu apa yang membuatmu bersikap seperti ini? Oppa tidak bisa harus berjauh dengan kembaran sendiri. Oppa sangat menyayangimu Jin Hae~aa” lanjut Donghae.

“aku tidak suka kau bahagia sedangkan aku tidak” jawab Jin Hae tanpa ekspresi.

“apa maksudmu? Aku sungguh tidak mengerti. Beritahu aku yang sejujurnya!”

“berhentilah berpura-pura menjadi Oppa yang baik”

“kau bilang seperti itu. kau mengakui aku sebagai Oppa bukan?” tanya Donghae yang merasa ada sesuatu yang aneh dalam diri adiknya.

Jin Hae terdiam.

“aku hanya ingin kau memanggilku Oppa” lanjut Donghae memohon.

“kau tahu apa yang harus dilakukan seorang kakak terhadap adiknya?” tanya Jin Hae dingin sambil melipatkan kedua tangan didepan dada.

“tentu saja melindunginya” jawab Donghae yakin.

“kau tahu. Tetapi kau tidak melakukannya” ucap Jin Hae lalu segera pergi meninggalkan Donghae yang masih mematung. Donghae masih merasa bingung.

*****

Sebagian murid berlari keluar dengan gembira karena jam istirahat telah tiba. Ye Na berdiri lalu menarik tangan Jin Hae untuk mengajaknya makan di kantin dengan menu baru yang sudah tersedia. Jin Hae tersenyum dan meminta maaf karena hari ini ia sudah dibawakan bekal makan siang dari rumah. Kemudian Jin Hae mengeluarkan kotak makan dengan gambar doraemon. Ini terlihat lucu buat bekal makan anak SMA.

Ye Na mengejek temannya yang seperti anak kecil. Kemudian ia melihat Donghae yang tidak beranjak dari tempat duduknya. Matanya menatap sesuatu yang Donghae pegang.

“kalian membawa kotak makan dari rumah? Hey lihat, dengan gambar yang sama” kata Ye Na. Ia mendekat ke arah Donghae agar pandangannya tidak salah.

“apakah lelaki setampan dan sekeren Lee Donghae tidak boleh membawa kotak makan? Ibuku sudah bangun pagi sekali untuk menyiapkan ini” kata Donghae yang berusaha membuka kotak makannya.

“kalian seperti janjian?” tanya Ye Na masih bingung. “telur gulung… semua isinya sama”

Jin Hae menarik napas panjang, ia berusaha berpikir untuk mencari alasan yang pas. Ia tidak boleh tahu bahwa bekal mereka memang sama. Ye Na tidak boleh tahu bahwa makan mereka di buat oleh orang yang sama yakni Ibu mereka.

“aku membeli ini” kata Jin Hae berbohong. “kotak makan ini dijual di jalanan. Mungkin kami membeli di tempat yang sama”

“Donghae bilang di buat oleh Ibunya” kata Ye Na mengkerutkan kening.

“maksudnya, ini dibeli oleh Ibuku di pinggir jalan” kata Donghae sedikit mengangkat bekalnya.

“mungkin aku harus membelinya besok biar kita kembaran. Dimana kau membelinya?” tanya Ye Na ke arah Jin Hae. Jin Hae seketika tidak bisa berkata apapun.

“hey, bukannya kau mau ke kantin?” tanya Donghae yang membuat Ye Na tersenyum malu karena banyak berkata.

“selamat makan” Ia pun melangkah ke luar kelas sendirian.

“kenapa kau makan disini? Hampir saja ketahuan” kata Jin Hae pelan ke arah Donghae.

“Oppa yang akan pergi atau kau?” kata Donghae melirik kearah belakang.

“kau saja”

Donghae tersenyum namun tidak beranjak pergi.

*****

Kejadian dua minggu yang lalu terulang lagi. Sandara dan temannya mengampiri Jin Hae yang sedang berada di toilet. Ia terus berceramah agar Jin Hae jangan berdekatan dengan Donghae lagi. Jin Hae merasa sudah berjauhan dari Donghae kenapa Sandara terus menyakitinya.

“aku tidak bodoh sepertimu” kata Sandara dengan suara keras. “aku melihat Donghae selalu mengikutimu saat berangkat maupun pulang sekolah”

“salahkan Donghae, kenapa harus aku?” jawab Jin Hae sedikit berani.

“Donghae tidak mungkin mengikuti sembarangan perempuan. Kau pasti menggodanya bukan?” Sandara mulai kesal.

“apa pacarmu seberhaga itu sehingga kau tidak mau menyalahkannya?” tanya Jin Hae sinis.

“tentu saja” ucap Sandara yakin. “peringatan yang dulu tidak berlaku lagi. Apa kau mau sesuatu yang lebih mengasikan lagi?” kata Sandara menjambak kerah seragam Jin Hae.

“aku tidak takut” Jin Hae menatap Sandara benci.

Sandara tersenyum sinis. Tanpa segan sedikit pun yang dibantu oleh kedua temannya ia langsung mendorong tubuh Jin Hae lalu menyiramnya dengan air. Lagi… lagi Jin Hae mati kutu. Ia tidak sanggup melawan entah kenapa. Masa lalunya terbayang lagi.

“Oppa… Oppa… bantu aku” kalimat tersebut kembali terucap dari hatinya.

“aku akan melakukan hal lebih kejam lagi jika aku melihat Donghae terus mengikutimu” ancam Sandara kemudian langsung pergi.

“melindungi? Bahkan saat kita dekat pun kau tidak bisa melindungi adikmu?” ucap Jin Hae dengan sinis kearah depan dengan tatapan kosong. Sebenarnya ucapan itu ditunjukan kepada Donghae.

Jin Hae berusaha bangun. Ia menggigil dan berusaha keluar dengan wajah biasa saja seperti tidak terjadi sesuatu. Saat berjalan, tiba-tiba saja seseorang meletakan jaket ke arah punggungnya.

“tidak mungkin kau mandi di sekolah. Sebenarnya apa yang terjadi?” kata Eunhyuk berusaha merekatkan jaket ketubuh Jin Hae.

“tidak ada yang terjadi” jawan Jin Hae bohong.

“jangan berbohong. Tadi aku mendengar semuanya. apakah Sandara yang melakukan ini? karena aku melihatnya keluar dari tempat yang sama denganmu” kata Eunhyuk curiga.

Jin Hae mengangguk membenarkan.

“sudah ku duga” ucap Eunhyuk kesal. “tunggu disini! Aku akan meminta Ye Na untuk meminjamkan seragamnya untukmu. Dia seperti menyimpan satu seragam di dalam loker” Eunhyuk berlari menuju kelas dan Jin Hae sedang menunggunya di UKS.

Jin Hae masuk kedalam kelas dengan seragam milik Ye Na. Ia sempat memandang Eunhyuk dan memberikan senyuman. Ia kemudian duduk. Ye Na memegang rambut Jin Hae yang masih basah. Ia merasa prihatin karena sikap Sandara yang sudah keterlaluan.

“apakah kau merasa sulit?” tanya Ye Na.

“sulit atau pun tidak aku harus menerimanya karena aku tidak punya seseorang yang bisa melindungku” ucap Jin Hae. Samar-sama Donghae mendengarkan percakapan mereka.

“Lee Hyuk Jae dia pahlawanmu” sergah Ye Na.

Mendengar nama Eunhyuk,Donghae tidak suka. Ia berfikir bahwa Eunhyuk telah melakukan sesuatu kepada adiknya.

“aku sangat berterima kasih kepadanya”

“bagaiman dengan perempuan itu?” tanya Ye Na penasaran.

“aku tidak mungkin meladeni perempuan gila seperti SANDARA STEFFIE” terdengar suara Jin Hae di keraskan kearah depan agar sengaja Donghae mendengarnya.

Donghae menoleh kebelakang.

*****

Dengan gontai Donghae keluar dari kamar. Musim dingin tahun ini terasa sangat membekukan tubuh. Ia menuruni tangga rumah langsung menuju dapur. Ia hendak membuat susu panas namun ada Ibu yang sudah membuatkannya terlebih dahulu.

“Ibu membuatkan dua gelas susu untuk kamu dan Jin Hae” kata Ibu sambil menyerahkan susu tersebut ke tangan anak lelakinya.

“aku tidak yakin Jin Hae akan menerimanya”

“apa hubungan kalian belum membaik? Cobalah untuk terus membuat agar dia menganggapmu sebagai Oppa-nya” ucap Ibu sambil berjalan menuju meja makan. Donghae mengikutinya.

“aku sudah berusaha. Tetapi dia terus saja menghindariku. Bu, aku tidak tahu kenapa dia bisa bersikap seperti itu. Saat kami di Indonesia, Jin Hae bahkan selalu bersamaku. Dia selalu menangis jika aku tinggalkan. Saat ini harusnya dia senang bisa kembali bersama Oppa-nya” ucap Donghae sambil meletakan dua gelas susu tersebut dia atas meja. Ia memandang Ibu penuh tanya.

“itulah alasannya” kata Ibu langsung menarik napas panjang. “Jin Hae tidak suka saat kamu memutuskan untuk tinggal di Korea bersama Ayah-mu. Jin Hae sangat kesepian saat di tinggal olehmu”

“bu, jika waktu itu aku tidak ikut bersama Appa kesini, Appa pasti akan kesepian. Sedangkan Jin Hae juga tidak mau ikut aku bersama Appa dia lebih memilih tinggal di Indonesia bersama Ibu” Donghae menyenderkan tubuh ke badan kursi. “harusnya Jin Hae mengerti akan hal itu”

“Ibu tahu” kata Ibu menegaskan. “saat Ayah-mu mengajak Ibu untuk rujuk kembali tanpa pikir panjang Ibu langsung menyetujuainya. Ibu ingin kalian bersatu lagi. Ibu ingin ada yang bisa melindungi Jin Hae karena Adikmu tidak bisa hidup sendiri”

“apa maksud Ibu?” kata Donghae penasaran.

Tangan Ibu memegang lembut tangan Donghae. Ia mulai bercerita tentang Jin Hae. “Ibu baru mendengar dari salah satu teman Jin Hae bahwa Jin Hae korban Bullying saat sekolah dulu” Donghae menggeleng tak percaya. “Yang selalu Jin Hae sebut dalam kesedihan hanya kamu. Dalam isak tangis dia selalu menyebut namamu, dia berharap kamu datang dan bisa menolongnya. Jin Hae hanya mau kamu bisa melindunginya. Tetapi, harapan hanya tinggal keinginan, kamu tidak juga datang. Sejak itu, Jin Hae merasa tidak mempunyai saudara. Nak, Ibu mohon agar Jin Hae bisa mengakui kamu sebagai Oppa-nya, kamu harus berusaha karena Ibu tidak bisa mengubah sifat keras Jin Hae. Ibu berharap banyak kepadamu”

“ini salahku karena meninggalkan dia” kata Donghae lirih. “sebenarnya disini aku sangat kesepian. Appa sangat sibuk dengan perusahaan. Aku sangat membutuhkan sosok Ibu dan juga adikku” lanjut Donghae menatap Ibu rindu. Pelupuk matanya menyimpan cairan yang ingin ia keluarkan.

“kamu kesepian karena salah Ibu. Maafkan Ibu” air mata Ibu seketika langsung tumpah.

“Ibu tidak usah meminta maaf. Yang terpenting kita sudah bisa berkumpul lagi” Donghae langsung berdiri dan memeluk Ibu dengan lembut.

“aku sudah tahu alasan Jin Hae bersikap seperti itu. Sekarang aku harus melindungi Adikku”

*****

“bu, aku tidak mau wadah bekal makananku harus sama dengan dia” kata Jin Hae sambil menunjuk Donghae yang sedang mengoleskan mentega keatas roti. Donghae hanya bisa memicingkan bibirnya.

“kalian memang sudah besar. Tapi, jangan malu dengan hal kecil seperti itu” ucap Ayah Jin Hae yang telah selesai menghabiskan satu gelas susu.

“aku tidak malu. Kita memang kembar tapi aku tidak mau jika barang apa pun harus sama” Jin Hae menatap Ibu memohon.

“bu, turuti saja kemauan Jin Hae” Donghae menggigit roti yang sudah jadi. Ia memberikan satu roti kepada Jin Hae yang tepat berada di sampingnya.

“Ibu mengerti. Ibu tidak akan menyamakan kotak makan kalian”

Keluarga Lee sarapan bersama. Ayah menyudahi acara makan karena ia harus pergi ke kantor. Setelah pamit kepada Ibu, Donghae dan Jin Hae berangkat sekolah bersama. Namun kebersamaan mereka hanya sampai depan rumah. Jin Hae memutuskan untuk pergi sendiri. Donghae kesal dibuatnya. Namun ia membiarkan apa pun yang Jin Hae inginkan. Ia perlahan demi perlahan harus membuat adiknya berubah.

Jin hae tiba disekolah dan melihat Donghae sedang menunggu di gerbang depan. Jin Hae menatap kakaknya dingin. Dengan senang Donghae mengikuti langkah Jin Hae dari belakang. Bahkan jarak mereka sedikit lebih dekat. Mereka masuk ke kelas 2-3.

Tanpa mereka sadari. Ternyata Sandara telah melihat kedekatan mereka. Ia menatap Jin Hae tidak suka dan penuh benci. Sedangkan Ia menatap Donghae kecewa namun tersenyum.

*****

Eunhyuk membawa beberapa lembar kertas yang harus di isi oleh semua murid. Kertas tersebut bisa di bilang untuk melihat biodata murid. Eunhyuk membagikan satu murid satu kertas.

“isi biodata kalian dengan jujur! Selain informasi untuk sekolah, ini bisa di gunakan untuk membantu kita memasuki perguan tinggi.” Kata Eunhyuk mengelilingi kelas.

Sekitar lima belas menit mengisi. Mereka pun mengumpulkan kertas tersebut di meja guru. Eunhyuk sebagai ketua murid harus bertugas menata agar semua lembaran tersebut dapat di susun dengan rapi. Semua murid sedang berada di luar kelas karena sedang jam istirahat. Di kelas hanya ada Eunhyuk dan Ye Na yang sedang sibuk menata lembar demi lembar.

“coba urutkan biodata murid perempuan. Aku akan mengurutkan untuk murid laki-laki” kata Eunhyuk memberi perintah kepada Ye Na. Ye Na dengan senang hati membantunya.

“wah, ternya Lee Jin Hae lebih muda satu bulan dariku” ucap Ye Na melihat tanggal lahir Jin Hae. “dia lahir 22 Juni”

“berapa tanggal lahirmu ketua?” tanya Ye Na kearah Eunhyuk yang sibuk membaca lembar demi lembar.

“apa kau harus tahu” jawab Eunhyuk cuek. “lihatlah!” Eunhyuk memperlihatkan biodata Lee Donghae kepada Ye Na. Ia berucap “ternyata bukan hanya Lee Jin Hae yang lahir di Indonesia tetapi Lee Donghae juga”

“ah.. benarkah?” tanya Ye Na tak percaya. “biar ku lihat tanggal lahirnya, apakah dia lebih muda atau lebih tua dariku” Ye Na menarik biodata Donghae dari tangan Eunhyuk.

“cepat selesaikan! Jangan terus melihat biodatanya” teriak Eunhyuk.

“ah.. ternyata dia lebih muada dariku” ucap Ye Na malas. “dia sama seperti Jin Hae”

“apa? biar ku lihat sekali lagi!” Eunhyuk membaca dari awal sampai akhir. Kemudian ia beralih pada biodata Lee Jin Hae. “ini tidak mungkin” ucap Eunhyuk tak percaya.

“dia lebih muda darimu? Benarkan?” tanya Ye Na polos.

“Lee Donghae dan Lee Jin Hae kembar” ucap Eunhyuk membelalak kaget. Ye Na hanya bisa tersenyum mengira bahwa Eunhyuk hanya bercanda. “lihat ini!” kata Eunhyuk membeberkan dua lembar kertas tepat di depan mata Ye Na.

Ye Na membekap mulut tak percaya. Kemudian Ia menarik napas lalu mengeluarkan suara dengan pelan. “tempat lahir, tanggal lahir, nama Ibu dan nama Ayah sama” ucapnya.

“Lee Dong He, Lee Jin Hae… nama mereka hampir sama” suara Eunhyuk.

“mereka pernah membawa kotak makan yang sama. Aku sempat mengira bahwa mereka tinggal serumah dan makanan tersebut dibikin oleh satu orang yang sama” Ye Na mengingat kejadian itu.

“pantas saja, aku melihat Donghae selalu mendekati Ye Na. Aku kira dia mau menjadikan Ye Na pacarnya ternyata mereka saudara”

“kita harus bertanya langsung” saran Ye Na. Eunhyuk mengangguk setuju.

*****

Tanpa segan sedikit pun. Sandara dan kedua temannya akan melancarka tindakan jahat mereka. Kedua teman Sandara menarik paksa Jin Hae yang sedang berjalan dan langsung membawanya ke toilet. Saat itu, Donghae sedang pergi ke kantin dan tidak sedang mengikuti adiknya. Dengan penuh amarah Sandara menarik rambut panjang Jin Hae, menekan kepala Jin Hae lalu menjatuhkannya.

“kau belum puas dengan semua yang aku katakan dan lakukan?” teriak Sandara keras. “jangan berada di dekat Donghae lagi. Dia hanya milikku”

“Oppa… Oppa… bantu aku” terdengar teriakan Jin Hae dalam hati. Mulutnya seakan terkunci. Sulit sekali untuk mengeluarkan kalimat.

“jika Dongahe masih milikku orang –orang tidak boleh berada di dekatnya apalagi perempuan. Semua perempuan yang mencoba mendekati Donghae akan mati ditanganku” kata Sandara menjambak rambut Jin Hae. Tubuh Jin Hae masih tersungkur di bawah.

Jin Hae tidak bisa menahan tangisnya. Ia terus terisak saat Sandara terus menyumpahi dirinya. Ia terus memegang seragam dengan erat. Berharap seseorang bisa membawanya ke luar. Ia seakan lemah jika sudah mengalami kejadian seperti ini.

“jika mulai saat ini aku masih melihat Donghae mengikutimu, aku tidak akan memaafkanmu. Pembalasan yang kau terima akan lebih sakit dari ini” acam Sandara sambil melepaskan cengkraman di rambut Jin Hae.

“aa..aa..ku ti..dak mende..ka..tinya” ucap Jin Hae sambil terisak.

“kau masih berani berkata seperti itu, hah?” ucap Sandara sinis. Tangan kanan Sandara sudah diangkat ia bersiap akan menampar Jin Hae.

“Oppa… Oppa… bantu aku” kata Jin Hae langsung. Ini bukan suara hatinya.

“apa yang kau lakukan Sandara?” teriak Donghae keras dari ambang pintu. Ia melihat adiknya yang sudah menangis terisak-isak, rambut Jin Hae sudah acak-acakan, serta seragam yang tidak rapi. Wajah Donghae terlihat sangat marah saat ia melihat Sandara hendak memukul adiknya.

“Donghae~aa kenapa kau ada disini?” tanya Sandara kaget.

Donghae melihat Sandara benci. Ia langsung mendekati Jin Hae dan langsung memeluknya. Sandara geram dibuatnya.

“perempuan sialan ini telah membuatmu berubah. Kau selalu mengikutinya. Perempuan sialan” teriak Sandara marah.

“aku tidak suka kau menyakiti Jin Hae. Kita putus!” Donghae tak kalah berteriak. Ia sekarang memandang jijik bekas pacarnya.

“aku tidak mau putus denganmu. aku sangat mencintaimu” ucap Sandara sambil terisak. Ia tidak percaya lelaki yang sangat ia cintai memutuskan hubungan secara sepihak.

Donghae masih memeluk adiknya erat. Ia mengusap lembut rambut Jin Hae. Ia membawa Jin Hae keluar dan mengacuhkan Sandara begitu saja.

“Yak… berhenti kalian” teriak Sandara semakin kesal. Kedua teman Sandara berusaha menenangkannya.

*****

Jin hae masih terisak dalam pelukan kakaknya, Donghae terus membelai rambut adiknya penuh cinta. Mereka sudah berada di kelas. Semua orang melihat kearah mereka curiga. Semua murid terus berceloteh, jika kelas bukan tempat pacaran.

“pergi kalian” teriak Donghae kesal karena semua orang membicarakannya.

“Jin Hae~aa kau tidak terluka” lirih Donghae. Pelupuk matanya menyimpan cairan. Ia tidak sanggup melihat adik kesayangannya tersakiti. “kau akan baik-baik saja”

Jin Hae masih belum bisa melepaskan pelukan kakaknya. Ia semakin terisak mendengar kalimat Donghae yang lembut.

“Oppa akan melindungimu, Jin Hae~aa” kata Donghae lembut. Jin Hae semakin terisak. Ia semakin mengeratkan pelukannya.

`apa kau mendengar yang Donghae katakan?`

`Oppa?’

`apa maksud ucapannya?’

‘apa mereka bersaudara’

Semua murid terus berceloteh setelah Donghae mengucapkan kata `OPPA`

Eunhyuk dan Ye Na muncul setelah menyerahkan semua lembaran kertas ke ruang guru. Mereka berdua melihat Donghae dan Jin Hae berpelukan dan mereka semakin yakin bahwa Donghae dan Jin Hae adalah saudara, mereka benar-benar kembar.

“apakah ini ulah Sandara?” tanya Eunhyuk menatap Donghae.

“kau tahu?”

“Eunhyuk selalu menolongku” jawab Jin Hae. Ia sudah bisa melepaskan pelukannya.

“Jin Hae~aa kau baik-baik saja” kata Ye Na kemudian mendekat dan memeluk temannya. Jin Hae hanya memengangguk.

“kenapa kau tidak memberitahuku bahwa Sandara selalu melakukan itu terhadap Jin Hae?” teriak Donghae kearah Eunhyuk.

“aku tidak tahu kenapa aku harus memberitahumu” jawab Eunhyuk.

“yak…” kata Donghae mendekat kearah Eunhyuk.

“Oppa…” ucap Jin Hae yang sudah merasa baikan.

`mereka bersaudara` teriak seorang murid.

“Oppa… harus berterima kasih kepada Eunhyuk! Dia selalu menolongku” lirih Jin Hae.

Donghae menatap adiknya. Ia kembali menatap Eunhyuk. Hatinya masih bertanya-tanya apakah lelaki itu telah menolong adiknya. Ia menatap Eunhyuk yang langsung balas menatapnya. “Terima Kasih” ucap Donghae. Eunhyuk mengangguk.

“kalian kembar kan?” tanya Ye Na.

Donghae dan Jin Hae saling memandang dan mereka langsung mengangguk membenarkan.

*****

Dengan perasaan sangat senang yang tiada tara Donghae mengajak Jin Hae untuk main bersama di halaman. Dengan senang Jin Hae menyetujuinya. Mereka main salju. Saling tertawa bahagia seakan mereka baru menemukan masa kecil mereka .

“aku sangat senang malam ini” ucap Donghae.

“aku juga” kata Jin Hae.

“aku akan sangat senang jika adikku mengatakan sesuatu yang mau aku dengar”

“Oppa… Saranghaeyo” ucap Jin Hae sambil memegang tangan Donghae.

“aku akan melindungimu” Donghae memeluk Jin Hae. Mereka saling tersenyum bahagia.

The End

3 Comments (+add yours?)

  1. jung
    Sep 14, 2015 @ 16:54:56

    maaf tapi ini ceritanya mirip banget sama oppa & I jadi kesannya kayak plagiat:(
    btw, keep writting ya thor! semangat

    Reply

  2. oriyan
    Sep 15, 2015 @ 16:01:53

    Karena ceritanya tentang anak kembar bukan berarti mirip kaya cerita Oppa and I .. Tapi ceritanya beda kok, ini tentang pembulian. Jauh beda kok😀

    Reply

  3. ayu diyah
    Oct 15, 2015 @ 13:09:09

    mereka so sweet deh. .. kakak beradik ini manis deh

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: