Telepathy

Author                    : Mrs. C

Title                          : Telepathy

Cast                          : Cho Kyuhyun, Seo Eun Gi (OC)

Genre                      : Romance, AU

Rating                     : PG-15

Length                    : Oneshot (4.581 Words)

Note                         :

Hai readers!!!

Ini FF non-NC pertama aku /hehehe/ tadinya pengen bikin ficlet aja. Eh malah keterusan jadi oneshot. Aku lagi nggak ada mood buat bikin FF dengan konflik yang rumit, jadi bikin yang ringan-ringan aja.

Cerita ini terinspirasi dari pengalaman temanku, dan beberapa novel yang pernah kubaca. Semoga alurnya tidak kecepetan, dan ceritanya ngga membosankan. ^^ kritik dan saran sangat aku hargai dan sangat aku tunggu ya…

Happy reading!!!

p.s. : Sorry for typo

 

***

Aku selalu berharap bahwa di dunia ini kekuatan telepati benar-benar berlaku pada manusia biasa sepertiku.

***

 

Author POV

 

Kyuhyun memandangi isi koper-koper besarnya sekali lagi. Menghitung dengan teliti dan memastikan agar tidak ada satupun barang yang tertinggal.

 

“Kau tidak harus pergi, Kyuhyun-ah.” Suara Ahra menginterupsi konsentrasi Kyuhyun sesaat.

 

“Aku harus pergi. Aku sudah pergi sejauh ini dari Eomma dan Appa yang bersikeras menggagalkan perjalananku. Tidak mungkin aku kembali ke Kanada lagi.” Kyuhyun meneguk martininya untuk yang ketiga kali dalam satu jam belakangan.

 

“Kembali pada mereka untuk saat ini hanya akan menggagalkan rencanaku. Aku harus ke Seoul. Lagi pula ini saat yang tepat. Appa akan membuka rumah sakit di Seoul, dan aku akan mengurusnya.” Lanjutnya.

 

Ahra menghela nafas tidak sabar. “Kami tahu traumamu, Kyuhyun. Kami tahu betapa terpukulnya kau saat Kimberly memilih laki-laki lain, dan memilih untuk lari dengan laki-laki itu di hari pernikahan kalian 7 tahun lalu.” Ahra memberi jeda pada kata-katanya.

 

“Kau lupa seberapa keras usahamu untuk memboyong Eomma, Appa, dan aku untuk pindah ke Kanada? Dan sekarang apa? Meninggalkan Kanada untuk selama-lamanya? Lelucon apa yang sedang kau mainkan Cho Kyuhyun?”

 

Kyuhyun tertawa, lalu merapikan kopernya di sudut ruangan. “Tidak. Aku tidak seterpukul itu saat Kim memilih untuk lari dengan laki-laki lain. Dan aku juga tidak meninggalkan Kanada selamanya. Meninggalkan Kanada selamanya sama saja dengan meninggalkan keluargaku sendiri selamanya.”

 

“Lalu apa rencanamu? Apa yang akan kau lakukan? Katakan alasanmu padaku.” Desak Ahra.

 

“Aku hanya ingin memastikan sesuatu, Noona. Jangan sangkut pautkan ini dengan Kim. Aku bahkan tidak pernah benar-benar peduli dengannya sejak dulu. Aku hanya pergi sementara. Alasanku pergi dari kota itu dulu sama dengan alasanku kembali kali ini. Aku mohon kau mengerti.”

 

***

 

Seo Eun Gi POV

 

Aku memandangi sebuah foto yang beberapa saat lalu baru saja kukirimkan ke Instagram. Itu adalah fotoku dan kelima temanku di sebuah acara prom night dadakan yang diselenggarakan oleh salah satu orangtua saat kami lulus dari SMA.

 

Malam itu adalah kali pertama aku merasa cantik. Sangat cantik. Bahkan siang harinya aku pergi ke salon untuk berdandan dan menata rambutku. Dua hari sebelumnya aku membeli dress berwarna broken white dan high heels hanya untuk hari spesial itu.

 

Semuanya diluar kebiasaanku. Aku tidak pernah memakai dress sebelumnya. Tidak pernah berdandan kalau tidak terpaksa, dan tidak pernah memakai high heels karena menurutku itu terlalu menyakitkan. Tapi aku ingin tampil berbeda hari itu. Hanya untuk seorang Cho Kyuhyun yang kusukai selama 3 tahun.

 

Aku sangat mengingat tatapannya dari atas panggung kepadaku yang waktu itu duduk di kursi penonton saat ayahnya memberikan pidato penutup acara kelulusan sehari sebelum prom night itu dilangsungkan.

 

Kata ayahnya, “Jangan tangisi yang akan berlalu. Jangan menjadi terpuruk atas apa yang sudah berlalu. Tapi sebaliknya, kita harus bangkit dan memulai sesuatu yang baru.”

 

Yang aku tahu aku menyukainya dan dia tidak menyukaiku. Yang aku tahu dia menganggapku tak lebih dari sekedar ‘kenalan’. Sebelumnya kami tidak pernah bertatapan seintens itu. Jadi aku tidak pernah tahu apa arti tatapan itu.

 

Aku selalu penasaran. Apakah saat aku memikirkannya, dia memikirkanku juga? Saat aku mengajaknya berbicara dalam otakku, apakah dia tengah berbicara denganku juga? Apa saat aku merindukannya, dia merindukanku juga? Apa yang ada di pikiranku sama dengan yang ada di pikirannya?

 

Aku selalu berharap bahwa di dunia ini kekuatan telepati benar-benar berlaku pada manusia biasa sepertiku.

 

Aku tidak bisa mengungkapkan perasaanku. Maka setidaknya biarkan dia tahu tanpa aku harus mengatakan apapun.

 

Suara musik yang berdentum keras dari DJ yang diundang di acara prom night malam itu ternyata tidak mempengaruhi kami sama sekali. Saat tatapan kami tak sengaja beradu, kami berdiri berjauhan, saling menautkan tatapan, bertindak seakan-akan kekuatan telepati itu ada, dan tidak tahu apa arti tatapan itu sampai kami beranjak dewasa.

 

***

 

Kini umurku 30 tahun. Ketertarikanku pada bidang tarik suara sejak kecil ternyata tidak membuahkan apapun. Kini aku justru menjadi arsitek. Karierku cukup membanggakan, karena aku punya reputasi yang baik di bidang ini. Cukup baik sampai aku diminta untuk mendesain rumah beberapa artis dan pejabat-pejabat negara.

 

“Eun Gi-ya…” itu Su Yeon, rekan seprofesiku.

 

“Ne?”

 

“Apakah kau punya jadwal untuk keluar hari ini?”

 

“Ya. Aku harus bertemu klien baruku di Apgujung. Sebentar lagi aku akan berangkat.” Aku memasukan buku catatan kecil ke dalam tasku, lalu memoleskan sedikit bedak dan lipstik yang mulai pudar karena keringat. Pekerjaan menuntutku untuk tampil menarik.

 

“Baiklah, kalau kau pulang nanti belikan aku kopi di cafe biasa, ya. Insomniaku semalam kambuh dan Hyuk Jae tidak bisa menemaniku di apartemen.” Aku terkekeh.

 

Hubungan Su Yeon dan mantan kekasihnya sangat aneh. Mereka berbagi apartemen, makan malam bersama, berlibur bersama, dan tetap bersikeras bahwa hubungan mereka tidak lebih dari mantan kekasih yang mulai saling melupakan. Hal simpel semacam itu mereka buat rumit dengan mengatasnamakan gengsi dan ego yang tinggi.

 

“Baiklah. Doakan aku supaya klien baruku tampan.” Aku mengedipkan mata kiriku, lalu bergegas keluar dari ruangan itu.

 

Lalu lintas kota Seoul hari ini tidak terlalu bersahabat. Aku terjebak macet, dan terpaksa menunda pertemuan itu selama 25 menit. Saat terjebak lampu merah, aku membuka google dan mengetikan nama klienku disana. Entahlah. Aku merasa harus melakukannya setiap kali bertemu dengan klien yang cukup terkenal.

 

Namanya Marcus Cho, seorang dokter bedah profesional. Menurutku dia cukup terkenal karena tidak banyak dokter yang bisa dicari dengan mesin pencari google. Lulusan terbaik Kyunghee University beberapa tahun yang lalu.

 

Usianya 30 tahun. Saat berusia 25 dia dan keluarganya pindah ke Kanada. Menulis beberapa best selling book, dan sering menjadi pembicara dalam seminar-seminar terkenal dengan bayaran selangit. Dan saat melihat fotonya, aku tercekat. Tidak bisa bergerak, sampai mobil di belakangku membunyikan klakson dengan nyaringnya.

 

Entahlah aku harus senang atau bagaimana.

 

Klien baruku adalah Cho Kyuhyun. Kegilaanku. Pangeran bayanganku. Laki-laki yang bisa membuat jantungku berdetak, hanya dengan membayangkannya saja.

 

***

 

“Selamat siang,… Dokter Cho. Boleh saya memanggil anda begitu?” Aku menjulurkan tangan dan disambut dengan genggaman hangat milik laki-laki itu.

 

Kyuhyun terkekeh pelan sebelum akhirnya menyuruhku duduk tanpa menjawab pertanyaanku. Setelah menyesap teh yang dipesannya lebih dulu, ia lalu berkata, “15 tahun lalu, kita masuk di sekolah yang sama. Aku tidak pernah menyangka kalau akhirnya kita bisa bertemu lagi.”

 

Aku tersenyum kecil. Kyuhyun selalu begitu. Selalu mempesona di mataku. “Kau banyak berubah.”

 

“Aku tidak lagi pendiam. Lebih banyak menangani pasien membuatku harus belajar bersosialisasi dengan baik. Kau mengingat aku dengan sangat jelas, ya?”

 

Aku tahu itu hanya gurauan. Tapi pertanyaannya seakan-akan menyindir diriku yang belum punya kekasih juga selama 12 tahun. Menyindir diriku yang sepertinya mudah jatuh cinta berkali-kali pada satu orang. Cho Kyuhyun.

 

“Ya. Aku mengingatmu dengan jelas.” Aku berkata terus terang. Aku tidak berniat menyembunyikan apapun. Namun sebelum situasinya berubah menjadi canggung, aku mengalihkan topik pembicaraan kami.

 

“Jadi, rumah seperti apa yang ingin kau bangun?”

 

Dan setelah pertanyaan itu kulontarkan, tidak ada lagi perbincangan tentang masa lalu. Dan itu terasa lebih baik. Karena sejak dulu aku memang jatuh cinta pada laki-laki itu, sensasi ini terasa tidak asing bagiku. Sensasi mencintai seseorang secara diam-diam.

 

***

 

Nama Cho Kyuhyun yang awalnya hanya terkubur di dalam tumpukan masa laluku ternyata berpengaruh sangat banyak untuk kerja otakku.

 

Blueprint yang biasanya kukerjakan selama empat atau lima hari, kini bisa kukerjakan hanya dalam 2 hari. Aku tidak bisa membohongi diriku kalau aku sangat ingin bertemu dengannya secepat mungkin.

 

Dan kini aku sedang menunggunya di sebuah restoran yang letaknya tidak jauh dari apartemenku. Aku kembali meneliti blueprint yang kubuat untuk membunuh rasa bosan yang mulai menggerogoti.

 

Hari ini hari Minggu, dan hanya Cho Kyuhyun yang bisa membuatku bergerak dari apartemenku jam 7 malam tadi.

 

Tak sampai 10 menit kemudian, Kyuhyun masuk ke dalam restoran itu dengan kemeja dan celana hitam. Dia tersenyum padaku, lalu duduk di hadapanku.

 

Aku membalas senyumnya walaupun jantungku terasa seperti meledak di dalam sana.

 

“Maaf membuatmu menunggu.”

 

Aku mengangguk. Memaafkan. Seorang pelayan wanita lalu mendekati meja kami dan menanyakan pesanan.

 

Kyuhyun memesan teh rasa blackcurrant dan Garlic Bread, sedangkan aku memilih untuk memesan Mojito dan Caesar Salad.

 

Setelah pelayan itu pergi, aku mulai menjelaskan blueprint yang telah kukerjakan. “Ini blueprint yang kau minta. Rumah 3 lantai. Sesuai dengan permintaanmu aku sudah meletakkan ruang kerjanya di sebelah…-“

 

Namun kata-kataku terhenti karena Kyuhyun menggulung kertas-kertas itu dan berniat memasukannya ke dalam sebuah tabung yang kubawa sejak tadi. Aku terdiam. Memandanginya.

 

“Kau… tidak suka?” Tanyaku dengan ragu.

 

“Aku tahu kau pasti melakukannya dengan baik. Seburuk apapun pekerjaanmu, aku akan tetap menyukainya.” Dia masih sibuk menutup tabung itu.

 

“Lalu… Kenapa?”

 

“Astaga. Kau sudah gila ya? Ini hari Minggu, Seo Eun Gi.” Kyuhyun tertawa, dan aku belum mengerti maksud perkataannya.

 

“Ya. Ini hari Minggu. Apa ada yang salah?”

 

“Tentu saja salah! Ini hari Minggu dan kau masih bekerja. Tidak. Aku tidak memintamu datang ke sini untuk bekerja.”

 

Oh? Jadi dia tidak membutuhkan blueprint itu ketika mengajakku bertemu di tempat ini?

 

“Lalu… Apa tujuanmu menyuruhku datang kesini?”

 

“Ceritakan padaku.” Kyuhyun meletakkan ponsel dan kunci mobilnya diatas meja.

 

“Apa yang harus kuceritakan?”

 

“Tentangmu.” Dia ingin tahu tentang diriku? Apakah ini semacam pendekatan atau apa? Tunggu. Jangan terlalu percaya diri dulu, Seo Eun Gi.

 

“Kau terlihat pendiam ketika bersamaku. Sejak dulu selalu begitu. Padahal jika kau sedang bersama teman-temanmu kau tidak seperti itu. Mungkin pertama-tama kau harus mengatakan alasannya padaku.” Kyuhyun mengangkat bahu. Ia menyampaikan pertanyaan itu seakan-akan pertanyaan itu adalah pertanyaan yang paling mudah untukku.

 

“Tidak tahu. Aku… merasa canggung.” Ya. Karena aku menyukaimu makanya aku merasa canggung. “Aku sulit berkomunikasi dengan orang yang tidak terlalu dekat denganku.”

 

Pembicaraan kami terpotong saat seorang pelayan mengantarkan pesanan kami.

 

“Tidakkah kau merasa kita ini sangat dekat secara emosional? Secara psikologis?” Aku ingin menganggukkan kepalaku keras-keras. Aku juga merasakannya, Cho Kyuhyun!

 

“Yah… mungkin begitu. Sebenarnya aku sedikit merasakannya.” Namun aku memilih untuk menjawabnya dengan cara yang lebih anggun, dan tidak mengakuinya terang-terangan

 

Kyuhyun hanya tersenyum. “Jadi bukan hanya aku yang merasakannya. Bagaimana kehidupanmu setelah kita lulus waktu itu?” Kyuhyun tersenyum.

 

“Terlalu panjang jika aku menceritakan semuanya. Apa tepatnya yang ingin kau ketahui tentangku?” Aku memisahkan paprika yang ada di piringku dan tidak menatapnya ketika aku bertanya tadi.

 

“Kehidupan cintamu.” Singkat. Padat. Jelas. Dia ingin tahu tentang kehidupan cintaku.

 

Aku tersenyum kecut, lalu menyuapkan selada dan sepotong daging dari saladku. “Tidak ada yang bisa diceritakan. Kehidupan cintaku hanya seperti selembar kertas putih kosong, Kyuhyun.”

 

“15 tahun tanpa kekasih?” Tanyanya hampir tergelak. Aku hanya mengangguk mengiyakan. Aku bisa apa kalau laki-laki yang kusukai ternyata samasekali tidak mengetahui perasaanku?

 

“Kalau begitu sepertinya kehidupan cintamu bukan seperti kertas putih kosong, Eun Gi. Tapi seperti kertas putih penuh coretan pena yang berusaha kau hapus dengan penghapus pensil setiap hari.” Kyuhyun berbicara dengan santai, seakan-akan dia berkata bahwa 1+1 hasilnya adalah 2.

 

Aku hanya diam. Aku tidak bodoh untuk tahu arti maksud perkataannya kali ini. Apa… dia tahu kalau aku mencintainya sejak dulu?

 

Aku hanya diam tidak menanggapi. Berusaha menyibukkan diri dengan makanan dan minuman yang ada di hadapanku. Apakah perubahan sifatku terlalu mencolok sampai dia bisa menyimpulkan hal semacam itu?

 

Sialan. Di saat aku merasa kelimpungan seperti ini, Kyuhyun justru terlihat sangat santai menikmati makanannya. Beberapa waktu kemudian, Kyuhyun berkata, “Ngomong-ngomong kau terlihat cantik malam ini, Seo Eun Gi.”

 

Dan karena pernyataan itu, entah kenapa sekarang aku yakin dia sudah mengetahui perasaanku. Kyuhyun sedang menggodaku.

 

***

 

Karena berbagai alasan sentimentil, aku memutuskan untuk menyerahkan pekerjaanku untuk Kyuhyun pada Su Yeon. Untungnya laki-laki itu tidak keberatan dan tidak menolak keputusan ini.

 

Hari ini, resmi 1 bulan kami tidak pernah bertatap mata lagi setelah hari itu. Aku memang terlalu pengecut untuk masalah hati. Aku terlalu takut ditolak. Terlalu takut kenyataan yang terjadi nantinya terlalu jauh dari ekspektasiku.

 

Lagipula, ini sudah 15 tahun! Aku tidak terlalu bodoh untuk berpura-pura Kyuhyun akan menerimaku dengan tangan terbuka, dan balik mencintaiku dengan sepenuh hatinya. Aku hanya mencoba untuk realistis.

 

Puluhan kali aku membayangkan Kyuhyun dan selalu memikirkan kemungkinan terbaik dari setiap langkah yang akan kuambil untuk mendekatinya. Namun semua jawabannya hanya membuatku semakin membulatkan tekad untuk berhenti mengerjakan proyeknya.

 

Lebih baik aku menarik diri. Membiarkan hatiku mencintainya diam-diam. Aku sudah terbiasa seperi ini. 15 tahun bukan waktu yang singkat untuk membuat hatiku terlatih untuk mencintai Cho Kyuhyun tanpa merasakan kehadirannya, mendengar suaranya, atau bahkan melihat wujudnya.

 

Siang ini jadwalku kosong. Aku hanya sedang membaca beberapa artikel tentang konstruksi bangunan dari internet. Sampai akhirnya Su Yeon masuk ke dalam ruanganku dengan nafas yang tersengal-sengal.

 

“Ini gila. Kau gila. Dia gila. Kalian Benar… Benar-benar gi… la.” Racaunya sambil berusaha mengatur nafas.

 

Aku menatapnya bingung. “Apa? Apa yang terjadi? Dompetmu hilang? Hyuk Jae mengajakmu menikah? Kau hamil? Apa? Jelaskan padaku!”

 

“Jangan bilang Cho Kyuhyun adalah orang itu.”

 

Oh, ini tentang Kyuhyun. Kenapa dia sepanik itu? “Orang itu?”

 

“Orang yang kau cintai setengah mati itu. Apakah aku benar?”

 

Aku tidak langsung menjawab, dan justru bertanya lagi padanya. “Memangnya kenapa? Kau baru saja dilamar olehnya?”

 

“Tidak. Tadi kami makan di sebuah restoran. Dia bertanya apa alasanmu menyerahkan proyek ini padaku. Kubilang saja kau telah menangani begitu banyak proyek, dan harus melepas salah satu proyek yang sedang kau kerjakan.”

 

“Lalu?”

 

“Lalu dia hanya tersenyum. Mengeluarkan uang dari dompetnya, meletakannya diatas meja, mengantarkanku ke mobilku, dan berkata dengan mempesonanya, ‘aku tahu dia melakukannya karena dia terlalu takut menerima jawaban terburuk dari aku yang telah dicintainya belasan tahun.’ Lalu melenggang pergi begitu saja. Ini gila! Kau direndahkan, Seo Eun Gi! Dia menolakmu! Ini Gila! Dia menolakmu!”

 

Aku hanya terdiam di tempatku. Dia tidak menolaku. Dia mendengarkanku. Dia merasakanku. Dia menerima pesanku. Dia tahu kalau aku takut menerima jawaban terburuk darinya. Dia tahu aku takut ditolak olehnya.

 

Kami melakukan telepati.

 

***

 

Malam harinya setelah Su Yeon menceritakan pembicaraan singkatnya dengan Kyuhyun padaku, diatas tempat tidur aku sibuk dengan ponselku. Mencari informasi apapun tentang telepati. Bahkan membaca cara untuk mengembangkan kemampuan itu.

 

Sekarang hampir tengah malam. Tepatnya pukul 23.30. Aku masih penasaran dengan kemampuan telepatiku pada Kyuhyun, yang entah bagaimana ternyata “pernah” berhasil.

 

Akhirnya aku mencoba untuk menenangkan diriku serileks mungkin. Mengatur nafas dan mencoba membayangkan Kyuhyun. Merasakan kehadirannya. Membayangkannya menerima pesanku. Mengatakan pesanku untuknya dalam pikiranku beberapa kali. Aku ingin membuktikan kekuatan telepati itu. Aku masih yakin dan tidak yakin, dan aku ingin membuktikannya malam ini.

 

Setelah menghapus bayangannya dalam otakku, aku membuka mata, mengganti celana tidurku dengan jeans, memakai kemeja putih untuk menutupi tanktopku, mengambil dompet, lalu pergi menuju Starbucks yang terletak tak jauh dari apartemenku.

 

Ini memang bukan pertama kalinya aku menikmati late night cofee. Mungkin dalam satu minggu aku menikmati late night coffee sebanyak tiga atau empat kali. Aku bersyukur karena ternyata ada banyak cafe yang buka 24 jam di sekitar tempat tinggalku.

 

Setelah memesan, aku memilih duduk di sudut. Jauh dari jendela, tapi dekat dengan taman buatan yang berada di belakang cafe. Aku membiarkan ponselku tergeletak diatas meja dengan kondisi menyala. Aku menunggu waktu menunjukan pukul 24.00. Aku mengirim pesan pada Kyuhyun untuk datang pukul 24.00 nanti.

 

Pukul 12 malam kurang 15 menit. Aku sedang meniup-niup Americano yang kupesan.

 

Pukul 12 malam kurang 10 menit. Aku sedang membalas pesan dari seorang klienku yang berada di luar kota.

 

Pukul 12 malam kurang 5 menit. Americano-ku tersisa setengah gelas lagi.

 

Tepat pukul 12 malam. Aku menertawai diriku sendiri karena hampir mempercayai eksistensi kekuatan telepati pada diriku sendiri.

 

Pukul 12 malam lewat 3 menit.

 

“Selamat malam, Nona Seo. Tidak menyangka kita bisa bertemu lagi setelah satu bulan. Aku baru saja melakukan operasi besar pada salah satu pasienku beberapa jam yang lalu. Kelihatannya kau sendirian. Boleh aku duduk disini?” Kyuhyun bertanya padaku yang masih membeo tak percaya. Di tangannya dia membawa sebuah nampan berisi secangkir kopi dan sepiring makanan kecil.

 

Aku akhirnya menganggukan kepala setelah melihat tangannya melambai-lambai di depan wajahku.

 

Pukul 12 malam lewat 4 menit. Aku bergidik merinding karena ternyata pesan yang kusampaikan pada Kyuhyun lewat telepati itu diterimanya dengan sangat baik.

 

Kyuhyun datang ke Starbucks pukul 12 malam. 3 menit digunakannya untuk memesan minuman. Dan dia benar-benar datang ke tempat ini pukul 12 malam.

 

***

 

Aku masih merasa takut pada diriku sendiri setelah aku mencoba kekuatan telepati itu pada Kyuhyun. Sudah seminggu berlalu, dan aku tidak pernah mencoba membayangkan Kyuhyun lagi.

 

Menurut artikel di internet yang kubaca, sebagian besar telepati hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang memiliki hubungan batin yang kuat. Misalnya orangtua dan anak, kakak adik, saudara kembar, sepasang kekasih, suami istri, ataupun sahabat karib.

 

Aku dan Kyuhyun tidak termasuk ke dalamnya. Kami bukan kakak adik, saudara kembar, sahabat karib, kekasih, atau bahkan suami istri. Kami hanya dua orang yang saling mengenal. Benar-benar hanya saling mengenal. Yah, aku memang mencintainya sih. Tapi itu ‘kan perasaan sepihak saja.

 

Akhirnya malam ini, di kantorku aku mencoba untuk melakukan telepati dengan Hyuk Jae yang jelas-jelas bukan siapa-siapaku. Dia hanya mantan kekasih temanku.

 

Aku mengirim pesan padanya untuk menelponku 10 menit lagi. Dan sampai 30 menit berikutnya, ponselku tidak berdering sama sekali. Aku mengeryit bingung. Aku mencari penjelasannya di internet, tapi aku tidak menemukan jawaban apapun.

 

Namun satu-satunya alasan paling logis sekaligus paling tidak logis yang bisa kudapatkan adalah; kami —aku dan kyuhyun— memang memiliki ikatan batin yang kuat.

 

***

Minggu itu berjalan lebih cepat dari yang sebelum-sebelumnya. Tanpa terasa hari ini adalah hari Minggu. Senior High School kami melakukan sebuah reuni yang dilangsungkan di Ballroom sebuah hotel. Reuni pertama setelah 12 tahun lamanya.

 

Aku memakai dress berwarna broken white dan heels dengan warna yang sama seperti penampilanku saat prom night dulu.

 

Kini aku sudah jauh berubah selama 15 tahun. Aku tidak perlu ke salon untuk berdandan dan menata rambutku. Hari ini bahkan aku memakai high heels setinggi 12 cm. Aku merasa cantik setiap hari, dan bahkan merasa lebih cantik saat acara reuni ini dilangsungkan.

 

Tanpa kusangka, ternyata Kyuhyun melakukan pilihan yang sama denganku. Dia memakai kemeja berwarna putih dengan vest berwarna biru dongker, dan jas berwarna senada. Sama seperti 15 tahun yang lalu.

 

Aku senang datang ke acara ini. Beberapa sahabat lamaku bahkan datang bersama suaminya, dan membawa anaknya yang masih bayi. Aku merasa senang, terlepas dari kekhawatiranku atas keanehan kekuatan telepatiku yang hanya mempan pada Kyuhyun.

 

Malam itu ternyata anggota band dari sekolah dulu berkumpul kembali dan menyanyikan lagu-lagu lama yang populer di era kami. Semua temanku, bahkan aku dan Kyuhyun menyukainya. Kami meletakan gelas di meja, melepaskan sepatu hak tinggi kami. Kami melompat bersama-sama saat lagu up-beat dimainkan, dan berdansa ditengah ruangan saat lagu ballad dimainkan.

 

Sampai akhirnya, tanpa sengaja tatapanku beradu dengan Kyuhyun.

 

Aku menunggu sambil bertanya-tenya sendiri. Apakah kejadian 15 tahun lalu akan terulang lagi? Apakah kami hanya akan duduk berjauhan seperti ini tanpa tahu apa arti tatapan masing-masing? Apakah kami akan melewatkan kesempatan ini lagi?

 

Namun tak lama kemudian pertanyaanku terjawab. Kyuhyun berjalan ke arahku, lalu menarik lenganku untuk berdiri.

 

“Bawa tas dan sepatumu.” Bisiknya sangat dekat dengan telingaku. Seketika itu juga aku merasa bulu-buluku meremang. Dia tahu cara menggoda wanita, dan dia melakukannya dengan sangat baik.

 

Setelah aku mengambil tasku, tangannya menekan punggungku, dan memaksaku untuk berjalan cepat keluar dari ballroom menuju ke balkon lantai 5 hotel itu.

 

“Apa?” Tanyaku setelah kami berdiri bersisian memandangi panorama kota Seoul.

 

“Aku tidak tahu. Aku hanya merasa kalau aku harus melakukan sesuatu kali ini. Mungkin kau mengerti maksudku. Atau mungkin tidak? Aku tidak tahu.”

 

Aku tersenyum sambil meletakkan high heels di lantai, Aku mencoba membiasakan diri dengan seseorang yang sebenarnya sudah sangat dekat denganku lewat pikiran, tapi tidak dekat secara fisik.

 

“Sejak kapan kau mengetahui perasaanku? Apakah memang terlihat begitu jelas?” Dia tertawa pelan, lalu menoleh ke arahku, memberikan tatapan yang berarti hei-kau-mengerti-apa-yang-ingin-kubicarakan

 

“Aku tidak melihatnya. Aku merasakannya. Apakah kau percaya dengan kekuatan telepati?” Oh, entah kenapa aku tidak terkejut mendengarnya menanyakan hal semacam ini.

 

“Awalnya tidak. Tidak samasekali sebelum kau datang ke Starbucks pukul 12 malam beberapa hari lalu. Apa kau merasa menerima pesan dariku?” Aku memutar tubuhku untuk menghadap ke arahnya, dan dia melakukan hal yang sama sambil melipat tangannya di depan dada.

 

“Kita selalu terhubung, Seo Eun Gi. Selalu. Sejak dulu. Tapi masalah itu terlalu panjang jika aku ceritakan sekarang.”

 

Aku mengangguk mengerti. Aku juga tidak ingin membahasnya sekarang. Terus terang aku masih setengah tidak percaya dengan apa yang terjadi padaku dan Kyuhyun beberapa hari lalu, saat aku mengirim pesan padanya untuk datang ke Starbucks.

 

“Kau tahu? Mereka bilang kita seperti hitam dan putih.” Aku mengalihkan pembicaraan kami.

 

“Kenapa?”

 

“Kau tinggi.” Aku menyentuh puncak kepalanya tanpa merasa canggung sedikitpun. “Aku pendek.” Lalu aku menyentuh puncak kepalaku sendiri.

 

“Tubuhmu besar.” Aku memegang kedua bahunya. “Dan tubuhku mungil.” Dia balas menatapku, dan meletakan kedua tangannya di pinggangku. Hampir memeluku.

 

“Mataku besar, sedangkan matamu kecil.” Tangannya kini menyentuh pipiku. Membelai lembut dengan ibu jarinya.

 

“Aku cerewet, kau pendiam.” Kini dia tidak melakukan apapun.

 

“Aku aktif di kegiatan sekolah, kau tidak.”

 

“Aku belajar ilmu sosial, kau belajar ilmu eksakta.”

 

“Aku…-“

 

“Cukup.” Katanya memotong kata-kataku. Aku menatapnya. “Aku tidak peduli dengan perbedaan kita, Seo Eun Gi. Tidak sama sekali. Tapi tahukah kau kalau hitam dan putih bisa bersatu?”

 

“Abu-abu.” Ucapku pelan.

 

“Ya. Abu-abu. Penuh kerahasiaan, keambiguan. Tapi biarkan saja kesan itu hanya tertanam pada pikiran orang lain. Tapi bagi kita abu-abu sama jelasnya dengan hitam dan putih.”

 

“Apa maksudnya?”

 

“Kau dan aku sama-sama jelas saling mencintai, Seo Eun Gi. Hanya kita yang tahu, tapi orang lain tidak tahu.”

 

Dahi kami bersentuhan. Masih tersenyum. Masih saling menatap dengan kedua tanganku pada dada bidangnya. “Sejak kapan?” Tanyaku setelah kami melewati beberapa detik dengan keheningan.

 

“Apa?”

 

“Sejak kapan kau mencintaiku?”

 

“Sejak aku berumur 21 tahun.”

 

“Apa?”

 

Dia memindahkan tangannya dari pinggangku ke leherku. “Terlalu panjang untuk dibicarakan sekarang, sayang. Terlalu panjang.” Kyuhyun tersenyum, kemudian bibirnya bersentuhan dengan bibirku. Dia melumat bibirku pelan.

 

Dan setelah ciuman itu, kami tidak pernah melanjutkan acara reuninya lagi.

 

***

 

“Apa kau merasa ini terlalu cepat?” Aku bertanya pada Kyuhyun yang tengah memelukku. Kini kami bergelung di dalam selimut tanpa sehelai benangpun. Aku yakin kalian bisa menduga apa yang terjadi pada kami semalam.

 

Kyuhyun mengelus punggungku pelan dengan ujung jemarinya. “Tidak.”

 

“Kita baru berdekatan secara fisik tidak lebih dari 12 jam yang lalu, Kyuhyun.” Ucapku setengah tak percaya. Aku memukul dadanya pelan.

 

Kyuhyun meletakkan jemarinya di daguku, lalu membuat aku menatapnya. “12 tahun sudah cukup. Kalau kau lupa, kau sering mengundangku ke dalam mimpi-mimpi liarmu, Nona Seo.”

 

Sialan! Saat aku ‘berhubungan’ dengannya di dalam mimpiku, dia merasakannya juga? Sekarang aku tak yakin bisa bicara 4 mata dengannya tanpa merasa malu. “Aku tidak tahu menahu tentang itu! Jadi jangan salahkan aku.”

 

“Aku tidak menyalahkanmu. Hanya mengingatkanmu saja.”

 

Aku mendengus. “Ceritakan padaku. Ini semua terjadi begitu tiba-tiba. Aku tidak mengerti apa yang ada di dalam pikiranmu. Alasanmu pindah dari Seoul, lalu kembali lagi sekarang, dan tentang kau yang mengetahu perasaanku.”

 

Kyuhyun menarik nafas, lalu membuangnya dengan berat. “Setelah kita lulus dulu, pikiranku tidak bisa berhenti membayangkan dirimu, kapanpun, dimanapun. Hal itu berlangsung selama dua atau tiga tahun, dan semakin lama rasanya aku akan gila karena itu.”

 

Oh? Terdengar sangat aneh. “Gila? Secara kiasan atau kejiwaan?”

 

“Kejiwaan.” Jawaban singkatnya membuatku membulatkan mata tak percaya.

 

“Baiklah, lanjutkan ceritamu.”

 

“Aku akhirnya memeriksakan diriku ke dokter psikologis. Dokter itu mengatakan bahwa aku harus berusaha menerimamu. Sebelumnya aku selalu menolak bayanganmu masuk ke dalam otakku. Tapi dokter itu berkata kau selalu ingin mengatakan sesuatu padaku. Aku harus belajar untuk menerima pesanmu.” Kyuhyun mengambil jeda pada kalimatnya.

 

“Sampai akhirnya saat umurku 21 tahun, perlahan aku mengerti kalau ternyata kau menyukakiku. Mencintaiku. Aku ingin mengelak dari kenyataan yang ada. Aku yakin semua orang akan melakukan hal yang sama jika ada di posisiku. Kau bukan siapa-siapaku saat kita berpisah dulu. Dan sampai suatu saat, aku bertemu Kimberly, teman kuliahku.”

 

Tidak bisa dipercaya. Kekuatan pikiranku benar-benar hebat!

 

Dia melanjutkan lagi, “Aku mencari pelarian padanya. Kami menjalani hubungan yang cukup harmonis selama 4 tahun. Walaupun selama itu pula aku tidak benar-benar menaruh perhatian padanya. Tapi kedua orangtua kami sangat mendukung hubungan itu, dan menyuruh kami cepat-cepat menikah.”

 

“Jadi, sekarang statusmu… beristri?” Tanyaku tidak yakin. Aku siap menerima jawaban apapun dari Kyuhyun saat ini.

 

Kyuhyun tertawa. “Kami hampir menikah saat usiaku 25 tahun. Namun Kim memilih untuk lari dengan Choi Siwon, sahabatku disaaat hari pernikahan itu berlangsung. Dia bukan jodohku. Aku tahu itu. Akhirnya dengan alasan sakit hati, aku sekeluarga pindah ke Kanada.”

 

Dengan alasan sakit hati? Sialan. Bahkan dia tidak benar-benar peduli dengan wanita itu katanya. “Sebenarnya… Untuk apa kau pindah ke Kanada?”

 

“Ada dua alasan. Yang pertama, aku melihat prospek kedokteran disana cukup baik. Dan yang kedua, aku ingin lari dari kenyataan bahwa di Korea ada seseorang yang mencintaiku, dan tanpa aku sadari, aku mulai mencintainya juga.”

 

Keheningan menguasai kami untuk sekian detik sebelum aku bertanya lagi padanya. “Lalu… Apa alasanmu kembali ke Korea?”

 

“Aku bercerita pada dokter psikologisku tentang perasaanku itu. Aku merasa mulai sinting karena merasakan cinta hanya pada bayanganmu saja. Aku bahkan tidak pernah melihat dan merasakan kehadiranmu. Dan akhirnya dokter itu menyuruhku untuk memastikannya sendiri. Itu bukan masalah kejiwaan. Itu masalah hati. Aku tengah mengalami sindrom roman picisan katanya.”

 

“Sindrom roman picisan?”

 

“Itu hanya istilah buatannya saja.”

 

“Oh. Jadi kau datang ke Seoul untuk memastikan perasaanmu?”

 

“Memastikan perasaanmu dan perasaanku tepatnya. Dan sekarang aku tahu kalau pikiran kita tidak pernah berbohong. Aku mencintaimu, dan kau mencintai aku. Ternyata sesederhana itu.”

 

Aku menghela nafas panjang. “Kapan kau akan kembali ke Kanada?” Ya. Aku tahu suatu saat dia akan pergi dari tempat ini suatu saat nanti. Lebih baik memastikannya sekarang daripada harus menderita belakangan.

 

“Tidak tahu. Sebenarnya aku tidak ingin. Tapi keluargaku ada disana.”

 

Setelah Kyuhyun mengatakan itu kami terjebak dalam keheningan lagi. Tapi aku menyukainya. Aku suka merasakan nafas dan detak jantungnya.

 

“Jadi…” Ucapnya menggantung.

 

“Jadi?”

 

“Menikahlah denganku.”

 

Dan aku melepaskan pelukannya. Memandanginya dengan tatapan heran dan tak percaya. “Menikah denganmu? Kau gila? Ini terlalu cepat, Cho Kyuhyun.”

 

Ekspektasi awalku adalah Kyuhyun akan meyakinkan diriku mati-matian, dan berusaha meluluhkan hatiku dengan kalimat gombal nan romantis. Namun nyatanya tidak. Dia justru menindih tubuhku sambil tertawa pelan.

 

“Kau pernah memintaku menjadi suamimu. Kapan tepatnya? Satu tahun lalu? Kau menyampaikan pesan itu padaku. Kenapa kau sekarang menolaknya?”

 

Oh benar! Hari itu aku menghadiri pernikahan temanku yang bahkan lebih muda 5 tahun dariku. Sebelum aku tidur malam harinya, aku berbicara pada bayangan Kyuhyun di otakku, dan memintanya untuk menjadi suamiku. Tentu saja aku ingin menikah! Aku sudah terlalu tua! Umurku 30 tahun sekarang. Lagipula aku melakukannya sebelum tahu kalau kami memang terkoneksi secara psikologis. Jadi aku tidak bersalah samasekali dalam kasus ini.

 

“Aku… Tidak… Bukan… Aku… Tidak serius. Bukan tidak serius sih… Tapi aku…-“ Dan Kyuhyun membungkam mulutku dengan ciumannya lagi.

 

“Aku hanya bercanda. Kita memang harus menikah. Tapi tidak sekarang. Aku mengerti.” Harus katanya. Baik. Kami memang harus menikah.

 

Kyuhyun mengecupi seluruh wajahku berkali-kali. Mau tidak mau aku tersenyum karena itu. Oh! Aku merasa sangat bahagia hari ini.

 

“Kyuhyun, ini hari Senin.” Ucapku sedikit panik. Setelah melihat jam dinding yang menunjukan pukul 9 pagi, rasanya aku ingin bangun, dan pergi ke kantor sesegera mungkin. Aku ini pekerja yang cukup teladan di kantorku.

 

“Ya, lalu? Apa ada yang salah dengan hari Senin?”

 

“Aku harus bekerja.”

 

Kyuhyun menyingkap selimut yang menutupi tubuh kami, lalu melingkarkan tanganku di lehernya, dan melingkarkan kakiku di pinggangnya.

 

“Jangan pikirkan pekerjaan. Aku sudah mengirim pesan pada Su Yeon kalau kau sakit, dan tidak bisa bekerja.” Lalu Kyuhyun mengangkat tubuh ku dan berjalan menuju kamar mandi suite room hotel itu.

 

“Hei! Pekerjaanku menumpuk!”

 

“Apa kau tidak merindukanku? Apa kau tidak menantikan saat-saat seperti ini?” Katanya sambil mendudukanku di pinggiran wastafel. “Hari ini hanya untuk kita berdua, Seo Eun Gi. Hanya untuk aku, dan kau.” Lalu dia mengecup bibirku cepat. Ternyata kebutuhan skinship seorang Cho Kyuhyun lebih parah dari yang kuperkirakan.

 

Kami kembali hening sambil bertatapan. Baiklah. Satu hari ini hanya untuk dia dan aku. Aku tidak berusaha mendebatnya lagi. Tanganku bergerak menyentuh dahinya, matanya, hidungnya, pipinya, dan bibirnya.

 

“Apa yang kau pikirkan?” Tanya Kyuhyun padaku.

 

“Aku sedang memikirkan apa yang terlintas di otakmu saat kita bertemu lagi untuk pertama kalinya sebulan lalu.” Aku berkata sambil memeluk lehernya. Menyembunyikan wajahku disana, dan menggoyang-goyangkan kakiku di kedua sisi tubuhnya.

 

“Apakah kau benar-benar ingin tahu?” Aku merasakan tangannya mengelus rambutku pelan.

 

“Ya.”

 

“Benar-benar penasaran?”

 

Aku mengecup lehernya sambil memejamkan mataku, lalu berbisik di telinganya. “Sangat penasaran.”

 

Kyuhyun balik mengecup leherku, menggesekkan hidungnya disana, dan mendekapku lebih erat lagi, lalu berkata, “Aku mencintaimu, Seo Eun Gi.”

 

-The End-

 

Hufft…. Akhirnya kelar juga FF ini. Sifat Kyuhyun yang biasanya evil kayaknya nggak muncul disini. Walaupun ada bagian yang sedikit menjurus ke NC, tapi berusaha aku samarkan semaksimal mungkin. Maklum, kebiasaan nulis yang NC NC

 

Cerita di FF ini juga hampir sama dengan temanku yang udah suka cowok lamaaa banget dan gak berani ngomong. Nggak 12 tahun sih, tapi setidaknya ya cukup lama lah.

 

Oke, terima kasih sudah mau baca FF ini, semoga kita bisa bertemu lagi di lain kesempatan!!!! ^^ Annyeong…~

 

 

 

20 Comments (+add yours?)

  1. shoffie monicca
    Sep 14, 2015 @ 13:08:13

    ini bde bngt sm biasanya kyu siptnya sllu evil ngga evil jd dingin trs cocoklh klo dibuat apa2 kyunya…author blh minta blog pribdinya ngga…

    Reply

    • Mrs. C
      Sep 14, 2015 @ 16:11:42

      iya… kadang2 pgn bgt liat kyuhyun nggak jadi evil. jadi aku bikin kyk gtu deh sifatnya. Aku ngga ada blog/WP pribadi… freelance author aja… 😊

      Reply

  2. changtaeupy
    Sep 14, 2015 @ 15:05:56

    Bgus bget ,.

    Reply

  3. gyun
    Sep 14, 2015 @ 16:51:17

    kebiasan nulis nc wkakak, aku suka alur ceritanya unik

    Reply

  4. Nissamdt
    Sep 14, 2015 @ 18:31:10

    Ceritanya lain dr yang lain, sukak!!!!! Dibacanya enak 😁😁 tetep semangat nulis ff yang bagus kaya gini ya thor, semangat!!!

    Reply

  5. Nikyu
    Sep 14, 2015 @ 20:20:00

    Ide ceritanya boleh banget,dan alur ceritanya agak kecepatan sih,tp aku suka banget ama dialog antar castnya🙂

    Keren lah!

    Reply

  6. Sri Rahayu
    Sep 14, 2015 @ 21:57:17

    Jika di dunia ini ada telepati seperti itu ‘yang di alami oleh Kyuhyun dan Seo Eun G’, aku mau dong. He’eh itu tidak mungkin jika di hitung dari 100% kau tidak mendapatkan dari setengahnya melaikan 0,01% kemungkinan itu terjadi.

    Reply

  7. leeechoika
    Sep 14, 2015 @ 22:33:00

    AKU SUKA CERITA INI. KEREN BANGET SUMPAH GABOONG!!!! sequel mereka nikah thoorrr. ini lebih bagus ga pake nc emang thor! keren parah! sukses!!🙂

    Reply

  8. ichul
    Sep 15, 2015 @ 14:29:06

    Kereeeennnnnn….
    Sukaaaa….
    Jalan ceritanya wawww…

    Reply

  9. Yuliana Balisa
    Sep 16, 2015 @ 15:21:51

    Critanya kren🙂
    Seandainya kekuatan telepathy itu bneran ada, psti sneng bnget tuhh.
    Ok smngat yh buat ff slanjutnya.
    Aku reader bru🙂
    Slam kenal🙂🙂

    Reply

  10. Laili
    Sep 17, 2015 @ 02:31:44

    Gila keren bgt….
    Love this story so much
    gk kek biasanya kyu jadi kek gini
    beda dari yg lain
    keep writing, thor…

    Reply

  11. minrakyu
    Sep 26, 2015 @ 03:28:10

    aaaaa suka sama cerita nya. ..

    Reply

  12. ayu diyah
    Nov 02, 2015 @ 09:25:41

    kyuhyun romantis… suka jalan ceritanya,, tentang telepati ya,, huhuhu,,, sering brhrap punya kmampuan gtu,, tpi apa lah daya

    Reply

  13. Trackback: [Ficlet] Moon | Superjunior Fanfiction 2010
  14. Deborah sally
    Apr 01, 2016 @ 09:48:09

    ><

    Reply

  15. Nanakyu
    Apr 04, 2016 @ 13:12:26

    Wowww
    Coba telepathy ahhh
    Nice story
    Nice nice Nice
    Keep writing yaa
    (*´∀`)

    Reply

  16. M. J Park
    May 28, 2016 @ 11:52:29

    Eon aku boleh minta alamat email atau akun pribadi eonni nggak?
    Soalnya ada yang mau aku omongin, dan aku butuh privasi. hehehe

    Reply

  17. ayumeilina
    Jun 24, 2016 @ 21:05:45

    Ini cerita kalo gak salah ada versi NC.nya
    Dan saya udah baca jugaaa….
    Kereeennnn banget. FF yang oke punya deh pokoknya 😍😙😙

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: