Eternal Sunshine for Fiona: Coming Back [2/?]

eternal-sunshine-primrose-deen

Author: Primrose Deen

Title: Eternal Sunshine for Fiona: Coming Back

Cast: Cho Kyuhyun, Fiona Hutcherson

Genre: Romance, Angst

Rating: Teenager

Length: Chapter

P.s. Dugaan sesaat mungkin saja salah. Jadi, ikuti saja alurnya. Haha. Happy reading!

Previous chapter: Eternal Sunshine for Fiona: How I Met You, Not Your Mother

***

Monster itu tidak ada. Monster hanyalah cerita dongeng. Jika monster memang ada, aku ingin tahu, apakah dia diizinkan jatuh cinta?

***

Pukul enam pagi berarti sudah waktuku untuk pergi tidur. Aku menutup semua jendela dan tirai yang ada di kamarku, memastikan tak ada satu celah pun yang meloloskan sinar matahari masuk. Kicauan burung yang bertengger menyambut pagi di luar sana justru menjadi pengiring tidurku.

Aneh? Mungkin iya. Tapi sudah tidak lagi bagiku dan bagi kedua orang tuaku. Siklus hidup yang terbalik ini sudah kujalani sejak aku kecil, bahkan sejak aku masih tinggal di Korea. Aku sedikit berbeda dengan orang-orang pada umumnya, sehingga aku harus hidup dengan kebiasaan seperti ini. Kata Dad, aku adalah anak yang spesial. Keistimewaan inilah yang membuatku sedikit berbeda dari orang lain.

Ini mengingatkanku pada kejadian ketika aku masih kecil dan masih berusaha untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi pada diriku.

“Tapi mereka selalu melempari jendela kamarku dengan kerikil dan telur, Dad. Mereka bilang aku monster. Dan monster kan memang keluar pada malam hari…..”

Dad berlutut dan memegang kedua pundakku erat-erat, menatapku lurus, lalu berkata,”Fi, kau bukan monster. Monster itu tidak ada.”

“Tapi kenapa aku seperti ini?

“Fi adalah anak yang spesial. Fi seperti bulan dan bintang yang hanya keluar pada malam hari. Coba katakan pada Dad, apakah bulan dan bintang itu monster?”

Aku terdiam. ”Bukan….”

Dad tersenyum lega dengan begitu hangat. Hangatnya menjalari seluruh tubuhku. “Fi adalah anak kesayangan Dad. Fi sayang Dad, kan?”

Aku mengangguk-angguk.

“Jika Fi sayang Dad, Fi harus mendengarkan kata-kata Dad. Janji?” Dad mengacungkan jari kelingkingnya.

Keraguan dan rasa takutku mulai pupus ketika Dad menyalurkan harapan yang begitu besar melalui sentuhan jemari dan tangan kasarnya yang ia gunakan untuk mencari nafkah setiap hari. Kusambut jari kelingkingnya.

“Fi harus menepati janji.” Senyum Dad mengembang begitu hangat, seperti… entahlah. Kata orang, matahari itu hangat. Mungkin seperti ini rasanya sinar matahari bagi kebanyakan orang.

Sejak aku kecil, tak banyak yang bisa kulakukan di luar rumah. Sejak lahir di Korea dan menetap di sana selama beberapa tahun, aku tidak mendapatkan banyak kesempatan untuk memijakkan kakiku di berbagai tempat populer di Korea. Dari sedikit tempat yang pernah kukunjungi, Lotte World dan Everland adalah tempat favoritku. Lotte World dan Everland adalah tempat impian semua anak-anak. Hanya ada tawa dan kesenangan tanpa melihat siapa yang sedang bersenang-senang. Hal yang paling penting adalah Lotte World dan Everland buka hingga malam hari! Jadi aku tetap memiliki kesempatan untuk menjadi anak-anak kecil yang lain.

Aku dan orangtuaku pindah ke Melbourne setelah Dad dipindahtugaskan lagi ke Melbourne―tempat asalnya. Bagiku, Melbourne sama menariknya. Banyak gedung-gedung pencakar langit dan lampu-lampu kota yang berwarna-warni, bangunan-bangunan bergaya western, pantai, stasiun yang berusia lebih dari seratus tahun―Flinders Street Station, makanan-makanan yang lezat, dan taman bermain yang tidak kalah hebatnya dengan Lotte World dan Everland di Korea. Sayangnya, Melbourne tidak memiliki salju ketika musim dingin tiba. Hanya ada suhu dingin, angin yang berembus kencang, perapian, dan cokelat panas. Tidak ada membuat manusia salju dengan Dad atau perang bola salju dengan Mom.

Untuk pendidikan, Dad memilihkanku home schooling dan memberiku fasilitas internet 24 jam. Teman bermainku hanya Mom dan Dad. Mom rela berhenti bekerja setelah beberapa bulan bekerja di salah satu kantor asuransi di Melbourne demi menemaniku bermain seharian di rumah dan Dad mulai mengambil multijobs untuk membayar biaya semua kebutuhanku yang terbilang tidak murah.

Seiring aku beranjak tumbuh dewasa, Dad banyak mengajarkanku cara berkomunikasi secara baik dengan banyak orang. Dad juga tahu aku sering menirukan gaya pembaca berita yang kutonton hampir setiap sore bersama Mom dan Dad, sehingga ia juga melatihku untuk bisa percaya diri. Dad tahu bahwa bakatku ada di bidang komunikasi, walaupun aku termasuk anak yang sedikit pendiam dan cenderung tertutup pada orang lain.

Hidupku yang terisolasi dari dunia luar, membuatku tidak memiliki banyak teman. Hanya satu atau dua orang saja. Ini jelas menjadi masalah jika aku ingin mendapatkan pekerjaan di luar sana, padahal aku tak pernah bersosialisasi dengan banyak orang.

Ketika aku melamar untuk menjadi salah satu DJ di Special Broadcasting System (SBS) Radio―salah satu radio nasional yang cukup populer di Melbourne―yang notabene khusus ditujukan untuk penduduk Australia yang tidak memiliki latar belakang bahasa Inggris meloloskanku karena aku bisa berbicara bahasa Korea dengan cukup lancar. SBS Radio memiliki tiga layanan nasional dalam penyiaran radionya; radio 1, radio 2, dan radio 3. Radio 1 tersedia dalam bentuk gelombang AM yang tersiar di Sydney, Melbourne, Canberra and Wollongong. Radio 2 yang tersiar di Sydey, Melbourne, dan Canberra tersedia dalam bentuk gelombang FM, sedangkan dalam bentuk gelombang AM di daerah Wollongong. Radio 3 hanya tersedia dalam digital platforms. Aku ditempatkan pada Radio 1, karena salah satu bahasa dalam siaran di radio 1 ini yaitu bahasa Korea. Radio 1 terletak di Alfred Deakin Building, Federation Square.

Ada beberapa orang Australia asli yang ditempatkan di bagian penyiaran dengan bahasa Korea. Kebanyakan dari mereka bekerja pada siang hari, dan kebetulan pada siaran malam hanya ada sedikit orang. Otomatis, aku dimasukkan dalam shift malam dan langsung diperbolehkan untuk menjadi DJ. Bukankah aku sangat beruntung? Dari sini, aku memperoleh banyak teman, mulai mengenal karakter-karakter orang yang berbeda-beda, dan mulai memahami kehidupan sosial, walaupun sedikit terlambat. Yang jelas, aku sangat bahagia karena mendapatkan kesempatan untuk mengetahui secuil rasa menjadi manusia normal yang berdampingan dengan banyak orang.

***

Ponselku bergetar, membuatku hanya sedikit bergerak, lalu tertidur lagi. Beberapa menit kemudian, ponselku bergetar lagi. Kali ini aku memutuskan untuk melihat sedikit saja penyebab pengganggu waktu tidurku.

Oh, ada dua pesan baru.

Pesan pertama dikirim oleh rekan kerjaku, Gabriella, yang mengatakan bahwa malam ini dia tidak akan pergi siaran karena sakit.

“Ah, dia pasti tidak masuk karena terlalu sedih memikirkan tidak ada lagi Kyuhyun seperti kemarin.” Aku menggeleng-gelengkan kepala sambil mengangkat bahu.

Pesan kedua dikirim oleh nomor asing.

“Let’s meet again once I go to Melbourne.”

Mataku sedikit melebar. Siapa ini?

“Who is this?”

Tidak ada balasan.

Aku memutuskan untuk tidur lagi sebelum Mom datang dan mengetuk pintu kamarku.

“Fi, ada yang datang mencarimu.”

“Siapa, Mom?”

Sejujurnya aku menanyakan itu masih dalam keadaan mata tertutup, berusaha untuk mengulur waktu karena mengetahui bahwa aku tidak memiliki keinginan untuk meninggalkan tempat tidurku se-cm pun saat ini.

“Dia bilang bahwa dia adalah teman lamamu.”

“Teman lama siapa?”

Aku masih memejamkan mata.

“Turunlah dulu. Mom akan membuatkan minum.”

Oh astaga…. Mulai dari interupsi melalui SMS, dan sekarang dengan datang ke rumah saat jam tidurku?

Tunggu, teman lama? Siapa? Satu-satunya teman yang kumiliki di masa lalu hanya ada satu orang. Mungkinkah….

Aku langsung bangun dan dengan terhuyung-huyung melangkah ke depan cermin. Aku menyisir rambutku dan mengikatnya seperti ekor kuda. Aku mengganti piyamaku dengan kaus sleeveless garis-garis dan celana navy selutut. Masih dengan keseimbangan yang belum sempurna, aku menuruni tangga dan berlari-lari kecil menuju ruang tamu yang gelap karena Mom sengaja menutup seluruh tirainya.

Minimnya penerangan membuatku tak dapat mengenali wajah seseorang yang menungguku di ruang tamu sejak tadi. Tapi entah dari mana, aku sangat yakin bahwa itu adalah dia.

“Siwon Oppa?” panggilku lirih, merasa kesulitan memercayai bahwa orang ini benar-benar dia.

Ia mengangkat wajahnya yang sejak tadi menunduk dan merekahkan senyumnya. “Fi.”

Oppa!” Aku memekik cukup keras dan di luar kendaliku, aku berlari memeluknya. “Aku benar-benar merindukanmu!”

Air mataku tak dapat terbendung lagi. Rindu yang selama ini harus rela kutekan-tekan karena kemungkinan yang besar bahwa aku tidak akan melihatnya lagi membuatku sedikit emosional.

“Oppa….”

Dia menepuk-nepuk punggungku lembut. “Kau sudah besar ya?”

Aku melemparinya dengan tatapan tidak terima. Aku memajukan bibir bawahku, memberengut. “Tentu saja. Aku sudah bukan Fiona kecil yang lemah yang harus kau lindungi seperti dulu lagi.”

Siwon Oppa tertawa cukup keras. Cukup keras hingga membuatku sangat nyaman dan lega secara bersamaan saat mendengarnya. Rasanya, bagian dari diriku yang hilang, kini telah kembali.

Mom menghidangkan dua gelas peach squash dingin untuk kami berdua. Setelah bertukar kabar dan menanyakan tentang keluarga Siwon Oppa, Mom membiarkanku untuk melepas rindu lebih lama dengan laki-laki ini.

“Jadi, kau sekarang tinggal di Melbourne?” responku saat mendengar bahwa dia akan tinggal di Melbourne untuk beberapa bulan.

Oh, baiklah, kuakui aku sangat senang mendengarnya. Membuat diriku ingin berteriak sekencang-kencangnya karena terlalu senang.

“Iya, ayahku memintaku untuk mengurus cabang perusahaannya yang ada di Melbourne. Kemarin sedang ada masalah serius, lalu aku disuruh untuk menetap di sini beberapa bulan.”

Aku memberengut lagi. “Jadi, jika kau tidak ada urusan di sini, kau tidak akan datang mencariku? Benar?”

“Aku sudah ingin mencarimu sejak dulu, tapi takdir baru mengizinkan kita untuk bertemu hari ini. Sebagai pewaris perusahaan ayahku, waktu luangku tidak banyak, Fi.” Ia menatapku penuh penyesalan, lalu berkata,”Maafkan aku ya.”

Bagaimana aku bisa tidak memaafkannya? Aku sudah menanti-nanti datangnya hari ini. Aku tentu saja tidak boleh bersikap kekanak-kanakan.

“Baiklah, tapi dengan satu syarat.”

“Apa itu?”

“Jangan meninggalkan aku lagi.”

Dia tertawa lebih keras kali ini. “Kau lupa? Siapa yang meninggalkan siapa? Kau pergi dan hanya meninggalkan sepucuk surat yang kau titipkan pada ibuku tanpa mengatakan apa pun. Padahal di hari sebelumnya, aku baru saja menemuimu untuk memberikan ddeokbokki kesukaanmu.”

Pembicaraan kami terus mengalir. Mulai dari mengenang masa kecil kami, kebodohan-kebodohan kami di masa-masa itu, dan menceritakan tentang kehidupan kami masing-masing setelah berpisah sampai hari ini.

“Dokter mengatakan bahwa kau tidak bisa sembuh?”

Aku mengangguk lesu. “Dokter bilang ia hanya bisa membantuku menekan tingkat sensitivitas kulitku terhadap sinar UV.”

“Diagnosis dokter bukanlah akhir dari segalanya, Fi. Sekarang aku di sini, kita tinggal di bawah langit kota yang sama. Let’s have some fun together!”

Tulang pipiku terangkat cukup tinggi sebagai akibat dari senyum yang timbul dari adanya getaran semangat yang menjalariku dari ujung kaki. Dia masih Choi Siwon yang dulu kukenal. Choi Siwon yang mampu membuat hari-hariku terang. Thanks God for sending him back to me.

***

“Kali ini, kita akan menerima telepon dari salah satu pendengar kita. Boleh cerita apa pun yang kalian mau. Dengan nama samaran juga boleh. Langsung ya telepon ke nomor yang sudah kita sebutkan tadi.”

Pip pip.

“Ya, akhirnya ada satu penelepon! Halo?”

“Halo….”

“Dengan siapa dan di mana ya?”

“Chocolate. Di kamar.”

“Oke Chocolate, malam ini kau ingin bercerita tentang apa? Atau kirim salam?”

“Aku ingin menyampaikan salam.”

“Baiklah. Salam semanis cokelat ini akan disampaikan untuk siapa?”

“Untuk pacar Shrek yang kurasa dia juga sangat manis.”

“Oh, siapakah pacar Shrek ini sebenarnya?”

“Aku bertemu dengannya ketika aku datang ke bawah langit tempat tinggalnya. Aku belum tahu banyak mengenainya. Jadi kuharap aku bisa menjadi bagian dari hidupnya.”

“Wow, such a sweet and sincere line from Chocolate. Chocolate, jika aku boleh memberi saran, datanglah lagi untuk menemuinya. Kesempatan adalah sesuatu yang harus kau buat, bukan untuk kau tunggu. Jika dia adalah gadis yang baik, dia akan menyambutmu.”

“Begitukah?”

“Ya, tentu saja.”

“Kalau begitu, tunggulah aku. Aku akan datang menemuimu.”

Tut tut tut.

***

Seperti biasa, siaranku selesai pukul dua pagi. Namun ada yang tidak biasa pagi ini, yaitu aku tidak pulang sendirian. Bukan karena Dad datang menjemputku, melainkan laki-laki ini, laki-laki yang sudah kusukai sejak aku masih terlalu muda untuk memiliki perasaan pada seorang anak laki-laki yang lebih tua dariku.

“Oppa.”

“Ya?” Dia menoleh sekilas ke arahku, lalu kembali fokus pada jalanan di depannya.

“Sebenarnya kau tidak perlu repot-repot menjemputku.”

“Tidak apa-apa. Kebetulan kantorku dan Federation Square kan searah.” Ia menoleh ke arahku seraya sedikit memiringkan kepalanya. “Jadi, akan kuusahakan untuk menjemputmu setiap hari.”

“Bagaimana ini? Sepertinya aku tidak bisa menolak.”

Dia tergelak, dilanjutkan dengan mengunci hidungku di dalam sela-sela yang ada di antar jari telunjuk dan jari tengahnya.

“Mari kita lunasi waktu-waktu bersama kita yang banyak terbuang.” Ia tersenyum ke arahku beberapa detik, kemudian kembali menatap jalan raya di depannya.

Aku menatapnya, seolah mendengar saja tak cukup membuatku percaya dengan apa yang baru saja kudengar. Dia menoleh, menatapku sambil tersenyum manis. Sangat manis. Seperti kata orang-orang, orang yang sedang jatuh cinta akan merasakan gerombolan kupu-kupu berterbangan dalam perutnya. Mungkin seperti ini rasanya; seperti ada yang hidup dan bergerak dalam diriku, memberikan sensasi yang sedikit menggelikan, namun rasanya menyenangkan. Ini seperti mimpi. Orang yang selama ini hampir membuatku putus asa karena aku begitu merindukannya namun tak tahu harus berbuat apa, kini sedang duduk di sebelahku, memegang kemudinya, dan mengantarku pulang.

Hal ini terus berlangsung setiap harinya, kecuali ketika dia ada urusan mendadak atau harus lembur dengan setumpuk pekerjaan di kantornya yang harus segera ia selesaikan. Mengingat dia adalah seorang kepala di cabang perusahaan milik ayahnya, bukan berarti dia bisa bersantai-santai. Dia justru harus bekerja ekstrakeras agar dapat menjadi contoh bagi bawahan-bawahannya dan dapat menjaga nama baik ayahnya.

Hari ini dia tidak langsung membawaku pulang seperti biasanya. Mobilnya ia pacu ke jantung kota Melbourne dan berhenti di Central Place. Central Place berada di antara Flinders Lane dan Collins Street yang cukup ramai. Central Place terletak di sebuah gang kecil yang di sisi kanan dan kirinya dipenuhi dengan kafe-kafe kecil bergaya funky. Di sepanjang serambi depan kafe, berjajar kursi-kursi yang saling berhadapan dan dipisahkan oleh meja kecil dengan nomor meja, lilin berbentuk unik, atau bunga segar di atasnya. Jika sedang menyusuri gang kecil ini, akan tampak berbagai plang bertuliskan nama-nama kafe di sini yang terlihat saling berjejal untuk berebut mendapatkan perhatian pengunjung. Blackboard hitam dengan tulisan kapur warna-warni tak sedikit didirikan oleh para empunya kafe di bagian depan pintu masuk untuk memberi informasi mengenai makanan dan minuman yang tersedia di kafe mereka. Lampu-lampu kuning dari kafe-kafe ini mendominasi pencahayaan di sepanjang gang kecil ini menimbulkan kesan warm and cozy yang membuat para pengunjung betah untuk berlama-lama. Belum lagi dengan aroma racikan berbagai jenis kopi dan cokelat yang memanjakan indera penciuman para pengunjung.

Aku dan Siwon Oppa berhenti di salah satu kafe kecil yang tidak jauh dari ujung gang. “Pesanlah apapun yang kau suka terlebih dahulu.”

“Lalu Oppa bagaimana?”

“Aku akan menunggu salah satu temanku dari Korea. Dia hari ini datang ke Melbourne dan aku mengajaknya untuk bertemu.”

Aku membentuk huruf o kecil dengan bibirku.

Tidak lama setelah pesananku datang, orang yang ditunggu-tunggu oleh Siwon Oppa pun datang. Aku yang duduk membelakangi pintu masuk hanya mendengar derap kakinya yang berjalan cepat sembari ia memanggil Siwon Oppa dengan ‘hyung’.

Siwon Oppa berdiri untuk menyambutnya. “Hei, apa kabar? Sedang sibuk?”

“Ah, tidak. Aku sedang diberi libur tiga hari. Makanya aku liburan ke Melbourne.” Suara kekehan menyusul jawabannya barusan.

“Bandara pasti penuh gara-gara kau.” Siwon Oppa terkekeh sambil menepuk-nepuk pundak orang itu.

“Ah, Hyung bisa saja.” Kini terdengar tepukan akrab di pundak salah satu dari mereka.

Keheningan tiba-tiba muncul sesaat, kemudian dipecah oleh panggilan Siwon Oppa padaku. “Fi, tolong beri salam pada temanku.”

Mendengarnya, aku segera berdiri dan membalikkan tubuhku. Mulutku menganga cukup lebar saat mengetahui siapa yang sedang berdiri di depanku ini.

“Cho Kyuhyun-ssi?”

“Oh? Hai, Fiona-ssi.”

Siwon Oppa melempar pandangan bak bola pingpong yang dipukul bergantian. “Kalian sudah saling mengenal?” Kini giliran jari telunjuknya yang ia arahkan padaku dan Kyuhyun secara bergantian.

“Kami hanya pernah bertemu sebelumnya,” tukas Kyuhyun mendahuluiku. “Aku pernah menjadi guest star di acara radionya.”

“Oh, begitu rupanya.”

Setelah Siwon Oppa mempersilakan duduk, Kyuhyun menarik kursi yang ada tepat di sampingku, kemudian duduk di sana.

“Ah, tiba-tiba aku ingin kopi saja.” Kyuhyun tampak sedang berpikir. “Americano.

Americano? Seleramu mulai sama denganku rupanya.” Siwon Oppa tertawa singkat, kemudian mengangkat rendah tangannya untuk memanggil salah satu waitress.

Sembari menunggu minuman yang dipesan datang, aku hanya melewatkannya dengan mendengarkan pembicaraan-pembicaraan antara dua laki-laki ini. Tidak ada yang menarik, hanya tentang pekerjaan dan kesibukan mereka masing-masing akhir-akhir ini. Membosankan? Anehnya, tidak. Aku cukup menikmati pembicaraan mereka. Rutinitas mereka yang berbeda justru membuat pembicaraan itu tidak berjeda.

“Lalu, Fiona-ssi ini sebenarnya siapa, Hyung? Pacarmu?” Tiba-tiba topik mengenai aku naik ke permukaan pembicaraan antara mereka.

Siwon Oppa tertawa kecil. “Bukan. Fi adalah temanku sejak kecil saat dia masih tinggal di Korea.”

Kyuhyun mengangguk-angguk pelan sambil menggumam kata ‘oh’ cukup lama. Aku hanya memilih untuk diam, tak berkomentar apa pun.

“Senang bertemu denganmu lagi, Fiona-ssi.” Kyuhyun mengulas senyum basa-basi yang ditujukan padaku.

Seketika aku merasa canggung setiap kali teringat kejadian di restoran malam itu. “Senang bertemu lagi denganmu juga.”

Jika aku adalah pinokio, hidungku pasti sudah memanjang saat ini juga.

Malam itu, percakapanku dengan Kyuhyun hanya sampai di situ. Selebihnya, meja kami dipenuhi konversasi antara Siwon Oppa dan Kyuhyun. Tentang pekerjaan Siwon Oppa di Australia, variety show baru yang Kyuhyun bawa, betapa padatnya jadwal mereka berdua, dan bisnis keluarga masing-masing.

“Apakah kalian sangat dekat?” tanyaku ketika dalam perjalanan pulang ke rumahku, setelah mengantar Kyuhyun ke hotel.

“Ya, bisa dibilang kami sangat dekat. Kyuhyun adalah adik kelasku sewaktu SMA dan setelah memasuki dunia kerja, ternyata dia menjadi partner bisnisku. Dia sering menjadi model dalam produk-produk pakaian yang ada di mall-ku. Terkadang kami juga pergi ke gym atau hanya sekadar minum bersama.”

“Oh….”

“Kyuhyun orang yang sangat menyenangkan, bukan? Aku juga sudah menganggapnya sebagai adikku sendiri.”

“Ternyata kalian benar-benar dekat.”

“Kenapa?” Siwon Oppa tiba-tiba menyeringai. “Kau menyukainya?”

Secara otomatis, mataku melebar, sangat lebar. “Tidak, tidak, tidak.” Aku menggelengkan kepalaku sangat keras, seakan-akan aku ingin menyanggahnya sekuat tenaga. Aku tidak ingin Siwon Oppa beranggapan demikian.

Selama ini, kan, aku hanya menyukaimu, Oppa.

Dia hanya tertawa.

***

TO BE CONTINUED

***

You can find my other fanfics on:

http://primrosedeen.wordpress.com

6 Comments (+add yours?)

  1. Queen.
    Sep 19, 2015 @ 05:37:33

    Kereeeeeen!! lanjut thor!!!

    Reply

  2. Alice
    Sep 19, 2015 @ 05:38:09

    bahasanya rapiii, aku suka ♡♡♡

    Reply

  3. Laili
    Sep 20, 2015 @ 10:46:25

    ini keren sekali…. asli. masih penasaran sama karakter kyuhyun di sini. keep writing…

    Reply

  4. ana
    Sep 20, 2015 @ 11:06:28

    Kyu oppa sm fi msh blom bnyak nh momentnya.. dtggu ya chap slnjutnya

    Reply

  5. minkijaeteuk
    Nov 17, 2015 @ 16:00:45

    oh jd fiona sakit ngak bisa kena sinar UV makanya dia ngak bisa keluar siang2…
    siang jd malam malam dijadiin aiang ma dia…
    wah yg nelpon ke radio y fiona jgn2 kyuhyun lagi..????

    Reply

  6. choanhis13
    Dec 26, 2015 @ 13:37:08

    Fiona kayak difilm jepang lupa judul -_-” yang meranin yui g bisa kena sinar matahari, kena dikit merah” .
    Fasilitas internet 24 jam.. Deabak! Akunya jga mau.. :v
    Okee.. Ditunggu..🙂

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: