Happiness

happiness

 

Tittle : Happiness

Author : Shincan

Cast

  • Cho Kyuhyun
  • Shin Yoo-Ji
  • Lee Yeon Hee

 

Genre : Sad, Romance, etc.

Rated : PG-15, oneshoot.

Blog : Shincankyu23.wordpress.com

Note : hai… ini pertama kalinya aku kirim ff ke sini.  Awas typo ya, bertebaran everywhere lah pokoknya. Langsung aja, cuap-cuapnya di pending dulu. Hehehe oh ya, Disini akan ada perubahan sudut pandang. Kalau pakai “Aku” semuanya itu milik Yoo-Ji. Sedangkan kalau pakai sudut pandang orang ketiga, itu berarti bagian author yang menceritakan.

NO COPY PASTE, NO PLAGIAT!

 

 

–Happy reading—

 

.***.

 

 

Saat ini kami sedang berhadapan dengan sebuah meja sebagai pemisahnya. Tepatnya si sebuah cafe. Perkenalkan, aku Shin Yoo-Ji. Dan dia adalah mantan kekasihku, Cho Kyuhyun. Sebenarnya, aku tidak tahu apa maksud dan tujuan Kyuhyun menginginkan kami bertemu.

Tepatnya, satu tahun yang lalu aku meminta hubungan kami berakhir. Kyuhyun awalnya menolak, namun setelah ku yakinkan akhirnya dia menerima perpisahan itu. Kami tidak bertengkar, kami berpisah secara baik-baik. Tentu saja. Jika tidak, aku juga tak akan ada di hadapannya sekarang.

Aku melirik tangan Kyuhyun yang bergeser di atas meja. Aku Meremas gelas kopi di hadapanku diam-diam saat benda di tangan Kyuhyun berhenti tepat berada di depan mataku.

Aku bergeming sejenak, mencoba mencerna maksud semua ini. Sebuah… Undangan? Sontak aku mengangkat kepalaku, menatap pria itu tak mengerti.

“Ini…,” aku melirik undangan itu. “Apa?” sambungku sudah tertuju pada Kyuhyun lagi.

“Minggu depan…aku akan menikah.”

Aku sontak terdiam. Bukan terkejut. Hanya saja seperti ada sesuatu yang menghantam keras bagian dadaku. Aku hanya bisa mengerjabkan mataku masih belum bicara. Sejujurnya, aku tak tahu harus mengatakan apa. Kyuhyun bukan siapa-siapa ku lagi. Saat ini, Kyuhyun adalah orang asing. Ah tidak, itu terlalu buruk. Ku ralat, saat ini Kyuhyun adalah kenalan lama yang datang ingin memberitahu kabar bahagia. Ya, seperti itu.

“Oh, kalau begitu, selamat atas pernikahanmu Kyu,” kataku seadanya. Aku tetap tersenyum meski rasanya sangat sulit.

“Emm, terimakasih,” gumam Kyuhyun pelan. Aku masih tersenyum untuk menanggapinya.

“Apa kau sudah memiliki pria lain?”

Aku yang terkejut bukan main. Mengapa keluar pertanyaan seperti itu dari mulut Kyuhyun? Mataku melirik liar mencari jawaban yang sungguh sangat mudah. Aku hanya perlu menjawab “tidak!” Aku tidak memiliki siapapun setelah perpisahanku dengan Kyuhyun.

Kulirik kopi setengah takar gelas yang sudah mendingin bergoyang tak tenang akibat getaran tanganku.

“Tentu saja. Ya, tentu saja aku punya Kyu. Kau saja sudah mau menikah. Rasanya tidak mungkin aku tidak memiliki pengganti yang lebih baik. Bahkan, dia selalu membangunkanku setiap pagi. Kau tahu, suaranya sangat merdu, dan aku menyukainya. Jika malam, dia selalu mengingatkan aku untuk segera makan dengan nada yang sangat manis dan…”

“Hentikan!!!”

Perlahan aku mengatupkan mulutku yang sempat terbuka. Aku tahu Kyuhyun tidak menyukainya. Membandingkan dia dengan sesuatu yang lain. Dia benci itu. Dan aku tahu, raut wajahnya kini mengisyaratkan akan kemarahan yang siap meledak jika aku tetap melanjutkan kalimatku yang kelewat sial. Aku sendiri tidak tahu kenapa mulutku bisa berkata seperti itu.

Kyuhyun lalu bangkit berdiri dengan menatapku sengit. Aku mendongak membalas tatapannya.

“Aku tidak butuh ceritamu Ji. Jika kau ingin datang ke pesta pernikahan ku, maka terimakasih. Jika tidak, aku juga tidak akan memaksa.”

Setelah mengucapkan hal itu, Kyuhyun melangkah pergi. Aku hanya bisa terperangah hebat. Tidak semestinya hal-hal konyol itu ku sebutkan tadi. Namun, sebelum langkah ketiga, Kyuhyun berbalik dan mendekati posisiku dengan cepat.

Dia tiba di depanku, dan aku hanya diam menunggunya untuk bicara.

“Kau tahu, aku masih benar-benar belum menerima kuputusan itu. Aku masih mencintaimu sampai sekarang. Tapi aku tidak bisa memaafkanmu. Kau akan menyesal karena telah menyia-nyikan pria sepertiku Ji-ya!”

Selesai. Dengan hentakan keras, Kyuhyun benar-benar menjauh dariku.

“Aku tidak akan menyesal Kyu. Teruslah seperti itu. Kau sekarang sudah terbiasa dengan tidak adanya aku di sisimu. Jadi, apa yang akan terjadi nanti, akan mudah untuk kau lalui. Hiduplah dengan bahagia bersama Yeon Hee.”

Kulirik sebentar undangan yang belum sama sekali ku sentuh. Namun segores tinta berwarna emas menonjolkan nama sang pengantin. “Cho Kyuhyun and Lee Yeon Hee Wedding Ceremony”

Aku menghela nafas panjang beriring dengan air mata yang menetes pelan di atas permukaan tanganku.

“Ji-ya, cepat bangun. Sudah pagi. Ayo makan sarapanmu dulu. Ji-ya, Ji-ya, Ji-ya….Hei nona Shin, cepat bangun! Kau dengar aku tidak? Hei pemalas cepat bangun! Yak! Bangun lah. Sudah pagi bodoh! Shin Yoo-Ji, Ce…”

“Iya, aku bodoh! Kau tahu aku sangat bodoh! Aku sudah bangun!”

Yoo-Ji terduduk kesal karena suara dari Jam wekernya itu. Sangat menganggu telinganya. Dia hampir saja melempar jam itu, sudah tidak tahan lagi. Namun tangannya yang sudah siap di belakang kepala bersama jam itu, kini terulur lemas di atas pangkuannya.

“…Bahkan, dia selalu membangunkanku setiap pagi. Kau tahu, suaranya sangat merdu, dan aku menyukainya…”

Isi kepala gadis itu berputar cepat. Mengingat hal konyol yang telah ia ucapkan pada Kyuhyun. Yoo-Ji tertawa lirih dengan nada perihnya. Suara itu adalah suara Kyuhyun yang dulu pernah di rekam dalam ponselnya. Dan sengaja ia jadikan alarm di dalam jam weker. Andaikan Kyuhyun tahu, jika suara itu adalah miliknya. Jika suara yang sangat Yoo-Ji sukai adalah milik Kyuhyun sendiri. Apakah pria itu akan tetap marah seperti kemarin?

Lagi, satu butir air matanya meleleh, jatuh di atas kaca jam weker itu.

Aku keluar dari kamar mandi setelah membersihkan diriku pagi ini. Betapa segarnya, meskipun tidak sepenuhnya menyegarkan isi kepala dan hatiku. Ku lirik kalender duduk yang berdiri di atas nakas. Tiga hari lagi, Kyuhyun akan benar-benar menjadi milik orang lain. Aku menghela nafas beriring bahu ku yang melemas sedih menatap benda itu. Ya Tuhan, jika saja umurku akan panjang, aku tak akan pernah melepaskan pria itu. sungguh! Tapi sekarang, tidak ada pilihan lain untukku. Aku tidak boleh egois. Aku tidak boleh mementingkan kebahagiaanku sendiri, sementara Kyuhyun nantinya akan menderita. Aku tidak ingin dia mengalami masa sulit karena aku.

“Akhh…!” aku menjerit tertahan ketika sakit di kepalaku kembali lagi. Tuhan, tidak, jangan sekarang, jangan untuk tiga hari kedepan.

Bruukk!

Aku runtuh ketika denyut di kepalaku semakin kuat. Tubuhku kini meringkuk dengan tangan menjambak rambut, sangat kuat. Mengapa selalu saja datang di saat yang tidak tepat?

“Argghh… tolong aku Tuhan! Kumohon,” jeritku semakin teredam karena rasa sakit itu justru semakin menjalar hingga rasanya bagian tengkukku terjepit sesuatu. Mataku ku memejam erat menahan erangan hebat yang bisa saja keluar dari mulutku. Aku tidak ingin siapapun tahu kondisiku. Cukup Tuhan, aku, dan dokter itu yang tahu.

Tanganku masih kuat menjambak rambutku yang masih setengah basah ini. Aku tidak kuat lagi. Aku ingin menyerah sekarang. Jika Kau ambil aku sekarang, aku akan rela Tuhan. Mataku semakin kabur bersamaan dengan jerit suaraku yang semakin melemah. Dalam sekejab, semuanya gelap.

Setidaknya, hari itu aku harus bersyukur masih di beri hidup. Aku masih mengingat dengan jelas bagaimana malamnya aku baru terbangun dari pingsan yang teramat lama seperti itu. Sudah 2 hari, sakit itu tidak datang. Sekarang, aku sudah siap dengan gaun selutut berwarna cream, sepatu high, tas tangan, dan coat putih yang melapisi bagian luar bajuku. Sempurna. Aku mematut diriku di depan cermin sambil membenahi riasan rambut ku yang sengaja ku gerai.

Kurasa sudah cukup untuk acara berdandannya. Sekarang aku harus pergi melepaskan kebahagiaanku—Kyuhyun– yang juga ingin bahagia. Baru saja bergerak selangkah, aku berhenti. Ku lirik nakas di samping tempat tidur, lalu tersenyum. Aku lupa tidak membawa note book yang selama ini sering ku isi dengan cerita-cerita yang terkadang menyedihkan. Tentu saja. Emm,,, orang –orang biasanya menyebut hal seperti itu dengan, Diary? Benar ‘kan?

Aku mengambil buku itu lalu memasukannya ke dalam tas. Aku harap, aku bisa menguatkan hatiku nanti.

Dentuman lonceng dan suara klasik dari gesekan biola mampu Yoo-Ji dengar. Bahkan saat ini sorak sorai dan tepuk tangan meriah menggema hebat sesaat setelah pengantin wanita berjalan dengan anggun menuju sang pengantin pria bersama ayahnya.

Yoo-Ji hanya berdiri, membisu. Dia tidak tahu harus berbuat apa. Seharusnya, bukankah dia yang ada di posisi Yeon Hee kini? Tapi semua itu sudah dia sia-siakan karena takdir yang begitu menyedihkan. Gadis itu menggigit bibir bawahnya. Entahlah, bahkan sejak tadi air matanya terus merembes keluar. Dia menahan isak tangisnya. Melihat Kyuhyun begitu bahagia, tersenyum dengan manisnya saat menyambut tangan gadis-nya. Gadis yang akan menjadi pendamping hidupnya. Ya Tuhan, jujur saja, Gadis itu—Shin Yoo Ji– terlalu lemah untuk menyaksikan hal seperti ini.

“Kau akan bahagia ’kan Kyu? Aku tahu. Kau akan bahagia. Selamat Kyu.”

Bulir-bulir bening yang keluar dari ekor matanya semakin deras mengalir. Dia tidak sanggup lagi ketika kedua mempelai menyebutkan “Ya, kami bersedia.” Di atas altar. Kemudian mereka berciuman.

Mereka sudah resmi menjadi sepasang suami istri yang akan bahagia bersama anak-anak mereka kelak. Yoo-Ji membekap mulutnya sendiri. Dia tidak bisa lagi memaksakan diri berada disana. Saat sesi photo, gadis itu keluar dari hall, dengan air mata yang tak kunjung ada habisnya. Dia ingin berhenti menangis. Dia tidak boleh terlihat seperti itu.

Saat tubuhnya hilang di balik pintu, Kyuhyun menoleh pada punggung Yoo-Ji yang menghilang itu. Pria itu hanya menatapnya saja. Tapi raut wajahnya kentara sekali terlihat jika Kyuhyun sedang berfikir.

“Untuk penganti pria, tersenyum dan fokuslah pada isteri anda.”

Kyuhyun mengalihkan matanya seketika pada seorang photographer yang mengintrupsinya. Lalu mengikuti apa yang telah di sarankan tanpa banyak kata-kata. Mereka terlihat sangat bahagia sekali. Tidak ada yang bisa memanipulasi hal itu.

Yoo-Ji terduduk di temani dengan buku dan pena-nya yang dia pangku. Tepatnya di salah satu taman yang ada di dekat gedung pernikahan. Gadis itu belum benar-benar pergi. Sebenarnya di ingin, tapi kakinya mendadak lemas, dia tak bisa lagi berjalan terlalu jauh. Kebetulan, dan sepertinya memang taman ini cukup sepi. Buku itu ada di pangkuannya. Dia gores dengan tulisan yang saat ini sedang menggambarkan kondisinya. Menangis. Gadis itu masih menangis tanpa suara.

….. Aku tidak bisa menyelesaikannya hingga halaman terakhir. Aku hanya ingin kau tahu saja, bahwa aku juga masih memiliki perasaan itu, Kyu. Jika saja takdir berkata lain, aku masih ingin bersama mu. Membuat kenangan indah bersamamu. Lalu hidup menua bersamamu. Membayangkan posisi ku sekarang, maka dari itu aku tidak bisa melanjutkannya. Aku tidak menyesal, kau bahagia, dan aku… aku mencintaimu. Selalu, dan selamanya. Terimakasih sayang.

Gadis itu lalu membuka lembar kosong berikutnya. Menuliskan sesuatu disana. Sepertinya sangat singkat hingga lengan putihnya mampu menutupi tulisan itu saat seseorang tiba menghampiri dirinya.

Yoo-Ji mendongak dengan pipi yang basah. Dia jelas sangat terkejut ketika tahu siapa yang datang, Cho Kyuhyun.

“Kau menangis?”

Yoo-Ji masih terdiam, dan matanya terus menatap wajah tampan kyuhyun.

“Kau lari dari pernikahan, ya?”

“Tidak,” jawab Kyuhyun singkat. Dia lalu memposisikan tubuhnya untuk duduk di samping Yoo-Ji. Gadis itu lalu menunduk dengan senyum samar di wajahnya. Menghapus air matanya dengan cepat. Bagaimana kacaunya wajah itu sekarang, bahkan Kyuhyun sangat tahu hal itu.

“Kau menyesal?”

Yoo-Ji hanya melirik sekilas ke arah Kyuhyun yang menanyainya seperti itu. Dia menggeleng cepat dengan mata yang masih enggap menatap Kyuhyun.

“Aku tidak akan menyesal.”

“Tapi kau menangis,” desak Kyuhyun lagi. Pria itu tidak habis fikir dengan jalan pikiran Yoo-Ji. Jika wanita ini masih menginginkan mereka bersama, kenapa justru meminta berpisah. Apa yang sebenarnya Yoo-Ji inginkan.

“Emm…,” gumam gadis itu menanggapi. “Aku memang menangis, tapi tidak menyesal. Hanya saja…,” Yoo-Ji menjeda kalimatnya ketika rasa sakit dikepalanya datang lagi. Tapi di saat seperti ini, dia tidak mungkin menunjukannya pada Kyuhyun.

Pria itu masih menunggu dengan sabar, apa kalimat selanjutnya yang akan di ucapkan Yoo-Ji.

“Ini sakit.”

“Sakit?” ulang Kyuhyun tak mengerti.

“Iya, rasanya sakit.”

Yoo-Ji tidak membicarakan kepalanya yang semakin berdenyut sakit. Dia membicarakan hatinya yang sudah terpecah berkeping-keping.

Tiba-tiba Kyuhyun menangkup wajahnya dengan raut khawatir. “Kau sakit apa?”

Yoo-Ji hanya tersenyum lemah dengan wajah semakin memucat sekarang. “Tidak, bukan seperti itu. Tapi hatiku yang sakit. Melihat takdir kita seperti ini.”

“Maksudmu?” Kyuhyun masih tak mengerti.

“Kyu..?” panggil gadis itu. Kyuhyun hanya beredehem pelan.

Yoo-Ji menatap wajah Kyuhyun begitu teliti. Air matanya bahkan kini sudah merebak lagi, siap terjun dari ujung matanya. Dia harus meninggalkan wajah tampan ini sekarang.

Gadis itu perlahan ikut menangkup wajah Kyuhyun dengan kedua tangannya. Hal yang sudah lama tidak ia lakukan. Dia merasa pipi Kyuhyun semakin berisi saja. Ternyata, akan ada banyak sekali perubahan pada diri Kyuhyun jika saja Yoo-Ji mempunyai waktu untuk memikirkan dan mencari tahunya.

Dia mendekatkan wajahnya yang sudah basah itu. Meraup bibir Kyuhyun dengan perasaan rindu yang meluap-luap. Dia rindu mencicipi rasa bibir Kyuhyun yang begitu menjadi candu baginya. Dia tidak peduli, jika saat ini Kyuhyun sudah milik orang lain. Pada akhirnya Yoo-Ji ingin egois untuk keinginannya sendiri. Perlahan dan penuh sayang, gadis itu melumat bibir Kyuhyun. Bergantian antara bibir atas dan bawah. Kyuhyun hanya mengikuti alur permainan gadis itu. Dia tidak yakin harus bagaimana. Haruskah di membalas atau tetap diam seperti ini?

Meskipun awalnya terkejut, tapi Kini Kyuhyun menikmati ciuman itu. Ciuman yang sudah lama tidak ia rasakan lagi kenikmatannya. Dia juga sama, merindukan Yoo-Ji. Merindukan sentuhan gadis itu. Merindukan bagaimana perlakuan lembut itu padanya. Merindukan bagaimana gadis itu bermanja-manja dengannya atau justru sebaliknya. Merindukan bagaimana kehangatan dalam pelukan Yoo-Ji. Merindukan bagaimana rasa manis di bibir itu. Dia merindukan semua yang berhubungan dengan Shin Yoo-Ji. Gadis masa lalunya yang masih dia cintai hingga saat ini.

Kyuhyun tidak tahan lagi dengan suku kata “merindukan” itu, ternyata sangat dalam sekali dia rasakan. Yoo-Ji melepaskan pagutaan lembut itu perlahan. Kepalanya masih menunduk menyembunyikan air matanya yang sebentar lagi akan mengering di atas permukaan pipinya.

“Aku akan pergi dengan tenang,” ucap Yoo-Ji lirih.

Kyuhyun hanya berkedip sekali, lalu menarik tengkuk Yoo-Ji. Mencium gadis itu dengan dengan penuh perasaan yang membuncah. Yoo-Ji tersenyum di tengah-tengah pagutan mereka. Tersenyum bahagia karena di saat terakhir seperti ini, mereka masih memiliki cinta dengan caranya masing-maising. Namun, detik-detik berikutnya, sakit kepala itu semakin kuat menghantam kepalanya.

Yoo-Ji mengernyit tak tertahan namun tetap mencoba untuk tidak mengecewakan Kyuhyun dengan melepaskan ciuman itu. Dia memajukan dirinya. Melingkarkan tangannya di leher Kyuhyun. Memeluk pria itu sangat erat. Hanya cara itu yang bisa di gunakan untuk menahan rasa sakinya sekarang.

Kyuhyun terus melumat bibir yang semakin pucat itu tanpa sadar bagaimana kondisi pemiliknya. Tangan Yoo-Ji mengepal keras di belakang kepala Kyuhyun karena sakit itu semakin keras.

Satu hantaman keras menyerang kepala bagian belakangnnya. Setelah itu, tangan Yoo-Ji perlahan melemah. Kyuhyun menghentikan ciumannya ketika Yoo-Ji tiba-tiba terkulai di atas dadanya.

“Ji, kau kenapa?”

Kyuhyun menjauhkan Yoo-Ji dan terlihat gadis itu sudah menutup matanya tak sadarkan diri.

“Ji, tolong buka matamu. Katakan padaku apa yang terjadi?”

Kyuhyun terus mengguncang-guncang tubuh tak berdaya itu lagi. Hanya ada semilir angin yang menjawab pertanyaannya. Kyuhyun semakin frustasi melihat keadaan gadis yang sangat ia cintai seperti itu.

“Bangunlah kumohon. Sayang, bagunlah, buka matamu!” Kyuhyun terisak saat membangunkan Yoo-Ji.

Kyuhyun memeluk tubuh itu sangat erat. Menangis hebat saat tahu, gadis itu sudah tidak bernafas lagi.

“Bangunlah sayang. Jangan tinggalkan aku seperti ini.”

Kyuhyun terus menangis sambil memeluk tubuh itu. Dia tidak sadar jika sejak tadi sepasang mata memperhatikannya. Lee Yeon Hee. Berdiri seperti patung lengkap dengan gaun pengantin yang masih melekat di tubuhnya. Dia juga merasakan hal yang teramat sakit melihat Kyuhyun menangis pilu sambil mendekap tubuh gadis yang masih ia cintai itu. Gadis yang sudah pergi dengan sangat jauh. Yeon Hee tahu, Yoo-Ji tidak akan kembali lagi.

Kyuhyun menghempaskan tubuhnya, duduk di tepi ranjang di temani Yeon Hee di sebelahnya. Mereka baru saja pulang dari acara pemakaman Yoo-Ji. Kyuhyun masih tak percaya jika gadis itu sudah pergi. Sungguh, dia tidak tahu sama sekali tentang ada apa dengan gadis itu. Yoo-Ji. Tapi Kyuhyun yakin Yoo-Ji sudah menahan kesulitannya sendirian. Dan Kyuhyun, tidak tahu itu. Dia justru kini yang menyesal. Betapa bodohnya dia pernah mengucapkan tidak akan pernah memaafkan Yoo-Ji karena apa yang telah gadis itu lakukan. Kyuhyun merundung, mengusap wajahnya frustasi. Sedangkan Yeon Hee masih setia di sampingnya. Mengusap punggung Kyuhyun untuk sekedar menenangkan pikiran suaminya itu.

“Dia tidak akan tenang jika kau tidak merelakan kepergiannya. Maaf jika ucapan ku kasar. Sampai kau menangis darahpun, Yoo-Ji tidak akan kembali Kyu. Aku yakin, jika dia juga ingin kau tidak bersedih seperti ini setelah kepergianya.”

Kyuhyun menatap Yeon Hee dengan tatapan tak terbaca. Wanita itu hanya diam.

“Aku melakukan kesalahan. Aku bilang padanya aku tak akan memaafkannya. Tapi sekarang, aku menyesal. Justru aku yang harus minta maaf padanya. Tapi dia pergi sebelum aku tahu semuanya Yeon.”

Yeon Hee bisa mendengar penyesalan Kyuhyun yang teramat dalam itu. Dia lalu memeluk bahu Kyuhyun. Menyandarkan kepalanya di bahu itu juga.

“Dia adalah gadis yang mencintaimu sepenuh hatinya. Tanpa kata maafpun, dia pasti sudah memaafkanmu. Aku juga yakin, yang dia pikirkan hanya bagaimana membuat mu bahagia. Dia ingin kau bahagia Kyu.”

Kyuhyun hanya menoleh saja tanpa menanggapi ucapan Yeon Hee lagi. Isterinya benar. Yoo-Ji hanya ingin dia bahagia. Ya Tuhan, sudah berapa kali gadis itu memintanya untuk berbahagia. Dan bodohnya, dia tidak pernah sadar akan makna dari itu semua.

“Ini, tas tangan milik Yoo-Ji. Aku lupa membawanya. Mungkin kau bisa mengembalikan tas ini pada ibunya.”

Kyunyun melihat sekilas wajah isterinya yang tengah tersenyum. Kemudian tangannya terulur untuk mengambil tas itu. Yeon Hee lalu mengusap bahu Kyuhyun sekilas. Kemudian bangkit berdiri dan berlalu pergi.

 

 

Hari ini Kyuhyun membawa mobilnya sendiri untuk ke kantor. Ia berniat untuk pergi ke Jinan saat pulang nanti. Sangat jauh memang, tapi disanalah ibu Yoo-Ji tinggal. Lagi pula, sudah lama dia tidak mengunjungi wanita paruh baya yang sudah ia anggap seperti ibunya sendiri itu. Kyuhyun bisa mengingat dengan jelas bagaimana manjanya dia ketika dirinya dan Yoo-Ji berkunjung kerumah ibu Yoo-Ji. Sangat manja bahkan, dan terkadang dengan terang-terang Yoo-Ji berkata jika dia merasa terbaikan dan tak dianggap ada karena Kyuhyun lebih suka menempel pada ibunya. Kyuhyun terkekeh geli mengingat hal itu. Namun, binar kebahagiaannya seketika meredup mengingat orang yang sudah mengisi hidupnya selama 3 tahun ternyata pergi dengan cepat.

Kyuhyun sudah menyelesaikan pekerjaannya kala siang. Dia sudah bersiap untuk pergi ke Jinan. Sebelumnya dia juga sudah memberitahu Lee Yeon Hee tentang rencananya ini. Yeon Hee sebenarnya sangat ingin ikut bersama Kyuhyun, tapi pria itu menolaknya. Belum saatnya Yeon Hee bertemu ibu Yoo-Ji.

Di perjalanan, Kyuhyun melirik sekilas ke kursi di sampingnya. Hanya ada tas Yoo-Ji yang tergeletak di sana. Kyuhyun mendesah pelan. Gadis itu pergi sangat cepat.

Kyuhyun menginjak remnya dalam ketika hampir saja mobilnya akan menabrak seorang penyebrang jalan ilegal. Dia membunyikan klaksonnya keras. Tidak ingin keluar untuk marah-marah. Orang itu meminta maaf dari luar dan terus menunduk seraya menyingkirkan tubuhnya dari badan jalan.

“Maaf tuan, sekali lagi saya minta maaf.”

Kyuhyun memutar bola matanya jengah. Dia baru saja ingin menginjak pedal gas nya lagi namun urung. Tas Yoo-Ji yang sebelumnya tergeletak rapi, kini isinya berserakan keluar. Mungkin akibat hentakan keras Kyuhyun saat berhenti tadi.

Pria itu lalu menepikan mobilnya, kemudian membereskan barang-barang Yoo-Ji. Kyuhyun terdiam ketika dia menatap sebuah buku berukuran sedang di tangannya. Kyuhyun menegakkan lagi tubuhnya di belakang stir, masih dengan buku itu di tangannya. Perlahan, pria itu membuka note book itu.

 

2011, 11 november.

                  Kyuhyun mengatakan cinta padaku di tanggal ini. Ya Tuhan, betapa bahagianya aku. Tak menyangka dia memiliki perasaan yang sama dengan ku. Tanggal itu, entah kebetulan atau tidak, bukankah sangat cantik? Mudah sekali di ingat. Banyak sekali digit dengan angka 1. Aku tidak tahu darimana Kyuhyun mengetahui jika aku menyukai angka 1. Ah, apakah mungkin selama ini dia diam-diam menguntit ku ya? Haha…. apakah Kyuhyun benar-benar melakukan hal itu? kurasa tidak. Hehe

Betapa manisnya cara dia menyatakan perasaannya padaku. Tidak ada bunga, tidak ada lilin, tidak ada makan malam mewah, dan tidak ada ucapan romantis. Lalu dimana manisnya?

Disini,

Aku saat itu tengah berjalan di depannya, tiba-tiba dia menepuk bahuku. Otomatis aku berbalik dan menemukannya tengah mengulurkan tangan dengan satu gulungan kertas di tangannya. Kami ada di sungai Han.

‘Aku menyukaimu saat kau tersenyum,

Aku sangat suka menggodamu saat kau tengah bersedih,

Aku sangat suka dengan bagaimana kau memperlakukan aku dengan baik,

Aku sangat-sangat suka hidup ku berubah menjadi lebih baik karena dirimu,

Tapi aku benci saat kau membuang senyum itu,

Aku benci saat kau bersedih tapi hingga berlarut-larut,

Aku benci dengan diriku yang tak sebaik kau, seperti Shin Yoo-Ji yang menyayangi Cho Kyuhyun dengan caranya,

Aku benci saat Yoo-Ji berdekatan dengan pria lain,

Dan aku paling benci merindukan mu, aku benci tidak bertemu denganmu, aku sangat benci jauh darimu seperti beberapa waktu lalu saat kau ada kegiatan di kampusmu.

Shin Yoo-Ji, aku menyukaimu, I Love You.’

 

Kau lihat bagaimana isi gulungan kertas itu. menurutku itu sangat manis.

 

Kyuhyun tersenyum lalu membuka lembar kedua.

 

2012, 20 februari.

                  Senangnya, setelah bertahun tahun duduk berhadapan dengan dosen, akhirnya aku bisa di wisuda dengan hasil yang memuaskan. Terlebih kekasih dan ibuku datang bersama-sama. Melihat mereka bersama seperti itu, sebenarnya aku sangat bahagia, calon suamiku ini, sudah bisa dekat dengan ibuku? oh dear, calon suami ku bilang? Apa Kyuhyun sudah berfikir sejauh ini? Ah, aku terlalu menyanyangi pria itu sepertinya.

Tapi teradang, aku sangat iri dengan kedekatan ibu dan Kyuhyun. Pria itu sangat manja pada ibu. Melebihi manjanya pada ku. Dan ibu justru memperlakukan Kyuhyun seperti anak kecil. Menyebalkan! Kenyataannya aku terlupakan. Mengapa tidak ibu saja yang menjadi kekasih Kyuhyun? Pria itu sangat tampan bukan? Bagaimana ya rasanya punya ayah tampan? Hahaha, aku gila karena dia.

 

“Kau memang gila!” cibir Kyuhyun tertawa ringan. Dia terus membaca lembar demi lembar catatan mantan kekasihnya itu.

 

2013, 15 Juli.

                  Hari ini Kyuhyun tinggal di apartement ku. Aku terpaksa bangun di pagi buta untuk menyiapkan keperluan Kyuhyun. Dia akan di angkat menjadi CEO muda di perusahaan ayahnya – Cho Corp. Pencapaian yang sangat bagus tentunya. Dia akan menjadi orang nomor satu di perusahaan. Siapa yang tidak akan senang mendengar berita seperti itu. Wah, pasti kekayaannya akan bertambah. Apakah aku nanti akan menjadi isteri putra mahkota? Ya Tuhan, aku akan merasa terhormat sekali. Haha,, semakin hari aku memang semakin gila. Terus membayangkan hal-hal yang tidak, tunggu, maksudku yang belum tentu menjadi kenyataan. Tapi sungguh, aku mencintainya karena apa adanya dia. Bukan karena uang atau apapun.

Kau tahu rasanya, sibuk di pagi hari, menyiapkan sarapan, membenahi dasinya yang terlihat miring, terakhir mengantarnya hingga pintu sebelum pergi bekerja dan dia mencium keningku. Aku merasa menjadai isterinya dalam semalam. Yah, hanya untuk hari ini. Setelah punggungnya pagi tadi menghilang, aku merasa sedikit kecewa. Setelah ini, dia akan sangat sibuk, dan otomatis intensitas pertemuan kami akan terus berkurang. Aku akan mencobanya, aku akan mengerti Kyuhyun.

 

2013, 21 oktober

Ulang tahun ku yang menyedihkan. Sebenarnya sudah satu bulan terakhir aku merasa kepalaku terus di serang rasa sakit yang berlebihan. Awalnya hanya terjadi satu kali tau 2 sampai 3 kali dalam seminggu, tetapi, memasuki minggu ke 4, rasa sakit itu semakin kuat menyerang ke dalam kepalaku. Aku pergi ke dokter, sebelum Kyuhyun tiba ke apartement ku.

Sangat mengejutkan. Dari hasil CT scan, aku didiagnosa mengidap penyakit MEN tipe 1 (Multiple Endocrine Neoplasia). Penyakit bawaan dengan munculnya beberapa tumor pada sistem endokrin di waktu yang sama. Tumor ini bisa saja menyebar ke seluruh tubuh ku. Entah dia masuk ke bagian perut, dada, bahkan yang ada di kepalaku sudah permanen. Meskipun tumor itu saat ini masih sebesar batu kerikil.

Aku tidak bisa memberitahu Kyuhyun, apalagi ibuku. Aku harus berusaha sembuh sendiri. Aku tidak ingin orang-orang disekitarku merasa sedih dan khawatir akan kondisiku. Terlebih, aku paling benci si kasihani.

 

“Ya Tuhan, dia menyembunyikan hal mengerikan ini?Yoo-Ji mengapa kau tidak mengatakan apapun padaku?” Kyuhyun mulai terisak. Meskipun dia tahu seterusnya akan lebih menyakitkan, Kyuhyun tetap memasakan untuk membaca buku catatan itu.

 

2013, 13 november

                  Hari ini aku melepaskannya. Melepaskan semuanya. Kebahagiaanku, impianku, semuanya. Betapa mengerikannya penyakitku. Sudah tidak bisa di sembuhkan lagi. Aku hanya perlu menghitung hari menunggu waktu ku kembali. Kyuhyun, aku juga terpaksa melepaskan pria itu. Ini demi kebahagiannya, aku tidak ingin dia merasa kehilangan dan merasa sedih karena aku. Aku ingin dia terbiasa dengan ketidak hadiran aku di sisinya. Dengan begitu, dia akan mudah melupakan gadis berpenyakitan ini. Akan dengan mudah membuang ku dalam kenangannya. Karena aku yakin, dia membenciku. Aku sangat bodoh. Aku tahu melepas pria tampan dan sebaik dia, aku memang bodoh. Tapi aku bisa apa sekarang? Aku hanya ingin Kyuhyun bahagia meski tanpa aku di sisinya.

Jika aku bilang aku tidak menyukainya lagi. Tidak mencintainya lagi. Tidak ingin bersamanya lagi. ITU BOHONG! Semua itu hanya bualan ku saja. Justru semakin hari, aku semakin menyukainya, semakin mencintainya, semakin ingin bermimpi bisa terus bersamanya. Mengucap janji suci di atas altar bersamanya. Aku menginkan itu semua. Tapi aku tidak bisa egois untuk kebahagian orang yang akan mati. Kebagaian orang yang masih hidup dan yang akan ku tinggalkan, itu adalah hal yang paling berarti dalam hidupku. Cho Kyuhyun, maafkan aku.

 

2015, 28 februari

                  Sudah satu tahun berlalu, penyakitku semakin merongrong menggerogoti organ tubuhku. Bahkan kenangan demi kenangan di masa lalu ku mulai terhapus. Entah lah, mungkinkah ini akibat tumor yang ada di kepalaku. Menganggu sitem saraf akan memoriku. Aku sudah tidak punya harapan apapun. Aku sudah menghentikan pengobatanku setelah mengetahui kenyataannya. Tidak ada gunanya aku hidup jika kenangan ku menghilang. Dan lagi, aku akan terus hidup bersama penyakitku. Itu mengerikan. Lebih baik aku mengakhiri hidupku. Di dalam laci, obat penahan sakit kepalaku hanya tinggal beberapa butir. Aku tidak berniat membelinya lagi. Obat itu sangat mahal, dan sudah membuat ku kesulitan finansial setahun belakangan ini. Meskipun terus sakit, tapi aku bersyukur, aku masih di beri waktu yang cukup lama untuk bisa menghirup udara segar dan melihat indahnya warna-warni dunia. Dan acap kali, aku bertemu dengan Kyuhyun di jalan. Dia sudah memiliki kekasih yang baru. Aku hanya bisa tersenyum, meski rasanya tidak lagi manis seperti dulu, melainkan pahit. Dia tidak melihat ku, sungguh. Mungkin Tuhan sengaja, mempertemukan kami dengan cara sepihak seperti itu, Dia ingin aku mengingat Kyuhyun sebelum pergi.

Aku hanya bisa bersembunyi di balik dinding pertokoan saat dia bersebrangan arah dengan ku. Aku bersyukur, dia tidak melihat keberadaan ku. Yang kulihat setelah itu adalah punggungnya. Punggung mereka. Lalu tangan yuhyun merangkul bahu kekasihnya dengan sangat erat. Dia terlihat bahagia. Terimasih Tuhan.

 

Kyuhyun meremas buku itu semakin kuat. Yoo-Ji, kenapa dia menjalani hidup seperti itu. Dan kenapa Kyuhyun tidak mencari tahu apa penyebabnya Yoo-Ji ingin berpisah. Dulu dia terlalu marah dan sudah tidak peduli lagi. Kepalanya sangat bersitegang dengan kata hatinya. Bodoh. Pipi Kyuhyun sudah basah sejak tadi. Air mata itu semakin deras mengalir di atas permukaan wajahnya.

“Maafkan aku Ji,” isak Kyuhyun memeluk diary Yoo-Ji.

 

2015, 27 april

                  Aku bertemu Kyuhyun seminggu yang lalu. Dia mengantarkan undangan pernikahannya dengan Yeon Hee. Sejujurnya aku sakit, sangat sakit. Terakhir dia bilang, dia tidak akan memaafkan aku. Tapi, dia juga bilang, jika dia masih mencintai aku. Seandainya aku tidak memilik penyakit ini. Aku sudah dengan lantang mengucapkan, jika aku juga masih mencintai pria itu. Aku masih sangat mencintai Kyuhyun-ku, melebihi dari yang dulu.

                Hari ini, dia selesai mengucapkan janji sucinya. Bukan bersama ku, melainkan bersama Yeon Hee. Gadis cantik yang aku yakin akan membahagiakan Kyuhyun.Ya, Dia cantik, sesuai dengan Kyuhyun yang tampan. Mereka tampak tersenyum, saling melemparkan kebahagian di hati masing-masing. Lalu setelah mereka resmi menjadi pasangan suami istri, mereka berciuman.

                  Tuhan, aku lebih memilih mati sebelum bertemu Kyuhyun lagi jika harus menyaksikan hal itu. Itu sungguh menyakiti perasaan ku. Aku tidak tahan, dan berlalu pergi. Berakhirlah aku disni. Di taman belakang gedung yang cukup sepi. Sakit kepalaku perlahan datang lagi, mataku beberapa waktu selalu mengabur dan kembali jelas. Apakah ini saatnya?

                  Ada banyak sekali yang ingin aku katakan pada Kyuhyun. Tapi waktu ku tidak banyak lagi. Aku sudah menghubungi ibu, dan beliau menganggapku aneh. Tentu saja, siapapun akan berfikir seperti itu jika tidak tahu tentang kondisiku. Seharusnya aku di operasi saja bukan? Banyak sekali dokter yang menyarankan tentang hal itu. Aku memang kekurangan uang. Tapi bukan itu masalahnya. Penyakitku ini adalah tumor yang akan terus tumbuh meskipun sudah di angkat. Percuma saja jika nantinya aku sembuh dan justru sakit lagi. Membuat hiduku semakin menyedihkan. Dan membuat orang lain kerepotan.

                  Ini adalah catatan terakhirku. Aku bisa pergi dengan tenang sekarang. Aku harap, jika ada kehidupan selanjutnya, aku masih bisa di pertemukan dengan Kyuhyun dengan takdir yang lebih baik. Cintaku pada Kyuhyun, akan tetap terjaga. Aku akan membawanya.

                  Kyuhyun, cinta kita adalah tangung jawab ku. Tanggung jawab mu adalah bagaimana kau bisa hidup bahagia dengan Yeon Hee, dan tentu saja bagaimana kau harus membahagiakan hidup isterimu.

                  Kau tahu, suara indah di pagi hari, dan kata-kata manis di malam hari yang ku ucapkan itu? Itu semuanya adalah kau Kyuhyun. Suaramu ku jadikan alarm, dan kata-kata manis itu adalah memo saat kau terpaksa pergi bekerja di malam hari dan mengingatkan aku untuk makan malam. Memo itu masih menempel dipintu lemari pendingin dapur ku. Hal itu sudah cukup membuat hidupku, setidaknya lebih kuat untuk beberapa hari.

                  Hidupku, hubungan kita, cinta kita, memang menyedihkan bukan? Tapi aku sangat berterimaksih, Tuhan masih berbaik hati mempertemukan aku dengan mu dan juga memberi cinta yang banyak saat kita berbahagia dulu. Aku mencintaimu Cho Kyuhyun. Berbahagialah mulai sekarang.

Aku tidak bisa menyelesaikannya hingga halaman terakhir. Aku hanya ingin kau tahu saja, bahwa aku juga masih memiliki perasaan itu, Kyu. Jika saja takdir berkata lain, aku masih ingin bersama mu. Membuat kenangan indah bersamamu. Lalu hidup menua bersamamu. Membayangkan posisi ku sekarang, maka dari itu aku tidak bisa melanjutkannya. Aku tidak menyesal, kau bahagia, dan aku… aku mencintaimu. Selalu, dan selamanya. Terimaksih sayang.

 

 

Kyuhyun menggigit bibir bawahnya. Menahan isakan yang tertahan. Membuat hatinya mengeiris ngilu mengingat kematian Yoo-Ji. Kematian yang dia saksikan di depan matanya. Kyuhyun kembali memeluk diary itu. Dia tidak tahan lagi, isakannya keluar, menggema di dalam mobilnya dengan air mata yang terus menerus mengalir dengan deras tanpa terbendung.

Dengan segenap hatinya, di kembali membuka lembar berikutnya. Dia semakin terisak pilu. Keinginan Yoo-Ji untuk terakhir kalinya. Sangat sederhana.

“Maaf, maafkan aku. Aku hanya bisa memberimu hal terakhir yang sebenarnya tidak aku ketahui. Maafkan akau Ji, maafkan kebodohan ku.”

 

Last note :

Aku ingin mati di pelukanmu, Kyuhyun. Saranghanda.

 

 

END—–

 

Gimana? Dapet feelnya? Ditunggu ya komentar temen-temen sekalian, Beri komentar yang membangun dan positif. Hihihihi

Visit to My blog ( Shincankyu23.wordpress.com )

 

 

12 Comments (+add yours?)

  1. Eunsang
    Sep 19, 2015 @ 13:38:45

    Dapet banget feelnya thor😥

    Reply

  2. shoffie monicca
    Sep 19, 2015 @ 14:51:02

    huaaa sedih bngt inimh ff bkin ngiras air mata

    Reply

  3. cloudycloud24
    Sep 19, 2015 @ 18:55:21

    hikss sedih bacanya😥

    Reply

  4. esakodok
    Sep 19, 2015 @ 19:17:44

    q sukaa..yoonhaenya juga tegar banget liat kyubmasih suka sama yooji..yooji juga g egois…semua karakter disini daebak pokoknya

    Reply

  5. Chokyu88
    Sep 19, 2015 @ 23:41:12

    sedih banget, dada rasanya sesek. dan note terakhir bener-bener bikin nyesek thor. hiks.

    Reply

  6. leeechoika
    Sep 20, 2015 @ 06:31:32

    haaaaa cukup ngena! kata-katanya baguussss hiks. aku jadi nangis…. ga perlu ada sequel ini mah.. udah pas bgt thor. semangat untuk cerita lain nyaa!!!

    Reply

  7. Rrin'sLove
    Sep 20, 2015 @ 09:13:18

    rasanya ada mencekik tenggorokan ku
    sakit kali
    tertahan mau nangis tapi gak bisa
    ini benar2 menyakitkan

    saling mencintai tapi karena keadaan mereka harus berpisah
    hiks
    untung istri Kyu pengertian

    Reply

  8. Laili
    Sep 20, 2015 @ 11:16:39

    sukses bikin nangis. feel nya dapet kok.
    ahhh… berlelehan air mata. keep writing..

    Reply

  9. Laily Adila
    Sep 20, 2015 @ 12:35:43

    Aduh jadi baper ini T,T
    ngena banget kata-katanyaa, feelnya dapet pake banget
    kata-kata terakhirnya Yoo-Ji bikin mewek
    daebak pokoknya!

    Reply

  10. riyuni
    Sep 21, 2015 @ 12:15:25

    nangis gak buat batal puasa kan chi
    ngu ?
    ff ini sukses buat aku berderai air mata,😥

    Reply

  11. anianiya
    Oct 02, 2015 @ 17:05:07

    Dpet banget feelnya…
    Yooji bebuat sperti iyu agar kyu bahagia sama yoon hae dan juga yoonhae tetap cinta sama kyu walaupun kyu masih mencintai yooji…

    Last note yooji bner2 buat ku merinding….
    Tpi keinginanya terwujud juga meninggal di plukan kyuhyun ….

    D tunggu story berikutnya yaa kakk….

    Reply

  12. soulmy
    Dec 05, 2015 @ 11:24:38

    dapat banget feelx. ceritax sedih banget, pengorbanan ji-ya sangat berarti banget…

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: