Eternal Sunshine for Fiona: Four-Leaf Clover [3/?]

eternal-sunshine-primrose-deen

Author: Primrose Deen

Title: Eternal Sunshine for Fiona: Four-Leaf Clover

Cast: Cho Kyuhyun, Fiona Hutcherson

Genre: Romance, Angst

Rating: Teenager

Length: Chapter

P.s. Please kindly leave your thoughts after reading this! I was so hesitate when I posted it, whether I can fulfill your expectation. Anyway, happy reading! 🙂

Previous chapters:

  1. Eternal Sunshine for Fiona: How I Met You, Not Your Mother
  2. Eternal Sunshine for Fiona: Coming Back

***

Everybody is special on their own way. When you think that you don’t deserve to be loved, you are wrong. Because outta there, there is someone who thinks that you are special. Even the way you blink your eyes, it’s special.

***

Satu pesan baru diterima.

“Apa hari ini kau ada waktu luang?”

Tidak kujawab. Nomor ini sudah beberapa kali mengirimiku pesan. Tapi setiap kali kutanya mengenai identitasnya, dia tidak menjawab, atau kadang-kadang malah memberi jawaban yang melenceng dari pertanyaanku.

Beberapa menit kemudian, satu pesan baru datang dari nomor telepon yang sama.

“Aku akan menemuimu sebelum siaran.”

Who the hell is this actually? This is driving me so crazy.

Malamnya, aku melangkah dengan hati-hati saat hampir sampai di kantor radioku. Flinders Street tampak cukup ramai malam ini oleh para pejalan kaki. Aku terus-menerus mengedarkan pandanganku seraya terus meningkatkan kewaspadaan. Setiap kali aku berpapasan dengan seseorang, aku menatapnya tajam. Aku sedikit khawatir jika orang yang mengirimiku pesan ini memiliki maksud yang tidak baik. Aku tidak bisa dengan mudah mengabaikan hal ini, karena orang ini tahu bahwa aku bekerja di sebuah radio. Jika dia hanya sekadar iseng, kenapa ia melakukan ini? Apa aku melakukan sesuatu yang salah?

Herannya (walaupun juga lega), aku tiba di SBS dengan ‘selamat’. Tak satupun orang asing yang menyapaku, bahkan mengikutiku. Aku mengembuskan napas keras-keras setelah pintu ruang siaran tertutup sesaat selesai mengamati sekitar dan tak menemukan kejanggalan apapun. Aroma apel yang menguar dari pewangi ruangan yang tergantung di air conditioner tiba-tiba terasa lebih wangi dan memenuhi seluruh rongga pernapasanku. Rasanya menyenangkan.

“Ada apa, Fi? Kenapa wajahmu pucat begitu?” Katie, salah satu script writer Midnight Dynomite mengamatiku dari balik kacamata berbingkai tebal yang bertengger di hidung runcingnya. Ia membenarkan letak kacamatanya untuk memastikan bahwa asumsinya mengenai wajah pucatku ini benar-benar terjadi. “Astaga, keringatmu juga banyak sekali. Kau ini kenapa? Sakit musim panas?” Tawa konyolnya mengikuti.

Aku menyentuh tiap sudut dahiku untuk memastikan kata-katanya. Benar saja, jemariku langsung basah karena keringat yang telah menganak sungai di wajahku. “Tidak, tidak apa-apa. Di luar hanya sedikit panas dan aku tadi berjalan dengan langkah yang cukup cepat.” Aku langsung menegakkan badan dan berkacak pinggang dengan sebelah tangan. “Yah, kau tahu, semacam olahraga malam.”

Katie hanya membalasku dengan gelengan kepala disertai tatapan mata ada-ada-saja-kamu-ini.

Sepuluh menit sebelum acara siaranku dimulai, aku sudah berada di dalam ruangan siaran dengan berlembar-lembar script yang Katie tulis. Aku mempelajari setiap hal yang tertulis di sana dengan mulut berkomat-kamit pelan. Sesekali aku memutar kursiku ke kanan dan ke kiri sembari menghafalkan sesuatu yang harus kuingat.

Katie tiba-tiba duduk di kursi kosong yang terletak persis di sebelahku dan meletakkan beberapa kertas lagi di atas meja. “Ini ada sedikit tambahan. Kuharap kau tidak keberatan.” Katie menyeringai lebar. “Lagipula, kau harusnya semangat untuk siaran malam ini.”

Aku menatapnya dengan sebelah alis terangkat dan kepala yang sedikit kumiringkan. “Kenapa memangnya?”

Alih-alih menjawab, Katie menyerahkan selembar kertas dengan gambar berwarna hitam. Aku memperhatikan gambar itu baik-baik. Itu gambar tangan yang di-scan di atas mesin fotokopi, sehingga warnanya hitam. Di sudut kanan atas, terdapat namaku sebagai ‘target’ kirimannya ini, disertai sebaris kalimat yang ditulis dengan pena.

“Seseorang mengirimnya melalui faksimile ke kantor kita.” Seringai Katie belum juga hilang sejak tadi. “Rupanya kau sudah punya pengagum, ya.” Ia mengerucutkan bibirnya, berpura-pura merajuk, kemudian terbahak.

“Ah, kau ini,” aku meletakkan kertas itu dan kembali menatap lembar-lembar script siaran,“tapi , kenapa ya, aku justru merasa seperti sedang diteror?”

***

Siaran sudah berakhir setengah jam yang lalu. Time Out, salah satu kafe yang ada di Federation Square menjadi tempat singgahku untuk satu atau dua jam ke depan. Time Out yang buka hingga dini hari dan menjadi salah satu tempat favorit yang cozy untuk sekadar duduk-duduk seraya memperhatikan mobil-mobil dan orang-orang yang berlalu-lalang di sekitar Federation Square. Selain karena suasana cozy-nya, carrot cake a la Time Out adalah salah satu cake favoritku di sini. Seperti malam ini, aku memilih carrot cake dan iced chocolate untuk menjadi partnerku dalam memerangi hawa panas dan pikiran yang mengusut. Salah satu meja di luar kafe yang terletak di bawah payung-payung besar berwarna oranye mencolok di pojokan menjadi tempat pilihanku untuk bercenung kali ini.

Aku mengeluarkan kertas yang dikirimkan padaku melalui faksimile tadi. Aku menelusuri setiap sudut tangan yang ter-scan di kertas itu, berharap akan menemukan suatu petunjuk atau mungkin mengingatkanku pada tangan seseorang yang pernah kulihat. Tapi, berapa kalipun aku mengamatinya, aku tetap saja berakhir dengan tanda tanya dan rasa penasaran yang semakin membesar. Sebenarnya siapa orang ini? Apa tujuan dari perbuatannya selama ini?

Aku berpikir, namun tetap tak terlintas pikiran apapun selain siapa dan mengapa.

Tiba-tiba seseorang menepuk bahuku dari belakang.

Aku berteriak cukup keras hingga aku merasa mulutku ditutup dengan telapak tangan dengan jari-jarinya yang panjang. Seseorang mencondongkan kepalanya tepat melewati samping bahuku.

“Fiona-ssi, kenapa kau berteriak?”

Suara ini.

Aku cepat-cepat memutar tubuhku untuk memastikan dugaanku mengenai pemilik suara ini. Benar, itu dia. Aku mendapatinya sedang menaikkan sebelah alisnya. Kedua bahunya ia angkat. Mulutnya menggumamkan satu kata, kenapa.

Aku masih diam, menenangkan diri atas sisa-sisa kekagetan tadi. Orang-orang yang ada di sekitar kami masih menatap dengan tatapan heran bercampur penasaran. Beberapa orang melempar pandangan kesal karena kami―maksudku aku―membuat gaduh sesaat. Sedangkan beberapa orang yang lain hanya melirik sekilas dan tidak peduli.

“Ada apa, Kyuhyun-ssi? Kenapa kau di sini?” Walaupun baru dua kali bertemu dengannya, aku sudah dapat mengenalinya dari balik kacamata hitam yang bertengger di hidungnya yang mancung itu.

Kyuhyun menarik kursi di sisi lain meja yang kutempati. “Sedang berjalan-jalan saja, lalu kebetulan melihatmu.”

“Oh.” Aku menyeruput iced chocolate-ku dan memasukkan sepotong kecil carrot cake. Aku memang kurang tertarik untuk mengetahui apa yang sedang ia lakukan malam-malam begini dengan kacamata hitam yang dipakai tak tahu waktu itu.

“Wah, sepertinya kau punya penggemar berat.” Kyuhyun menemukan kertas bergambar scan tangan dengan pesan misterius itu.

“Aku tidak sepertimu, Kyuhyun-ssi. Aku tidak tahu apa-apa mengenai penggemar berat.”

“Ingin kuberitahu sesuatu mengenai hal semacam ini?”

“Sayangnya, tidak.” Aku terus melanjutkan aktivitas makanku hingga remah terakhir. “Aku harus pergi sekarang.” Aku membungkukkan badan untuk memberi salam padanya seperti budaya Korea.

Dia mengekor ketika aku membalikkan badan dan berjalan meninggalkan Time Out. Dia tidak segera menyamai langkahku. Namun setelah beberapa saat, akhirnya dia berjalan tepat di sampingku.

“Cobalah untuk membuka diri,” celetuk Kyuhyun secara tiba-tiba. “Dunia ini bukan milikmu seorang. Cobalah menikmati hidupmu dengan orang-orang yang ada di sekitarmu. Berbagilah.”

Aku menghentikan langkahku. “Maksudmu?”

Kyuhyun berhenti beberapa langkah di depanku tanpa membalikkan badan. “Berhentilah menyendiri.” Suaranya lirih, namun cukup jelas untuk kudengar dari jarak beberapa langkah saja.

Aku diam dan menatapnya, menunggu lanjutan dari penjelasannya.

Kyuhyun membalikkan badan. Namun tak sepatah katapun terlontar dari bibirnya sebagai penjelasan lanjutan.

“Benar, aku memang tertutup pada orang lain. Lantas kenapa kau masih di sini dan bicara padaku?” Suaraku berubah parau tanpa diminta. Ada sesuatu yang membenarkan pernyataan Kyuhyun, namun aku enggan untuk mengiyakannya.

Kyuhyun hanya bergeming. Raut wajahnya berubah datar, menimbulkan rasa dingin yang menyudutkan. Membuatku tak bisa memikirkan apa pun selain mengatakan satu hal. “Maaf, aku harus pergi sekarang.” Aku hampir akan melangkah melewatinya ketika pertanyaanya menghentikan seluruh tubuhku.

“Kau begitu menyedihkan. Bahkan untuk berteman saja, kau tidak mengetahui caranya.” Dia diam sejenak. “Aku tidak tahu kenapa kau begitu tertutup. Tapi, kau tidak bisa terus-menerus melarang orang lain untuk mendekatimu.”

“Apa yang kau tahu tentang aku? Kau tidak tahu apa-apa, Kyuhyun-ssi, sama sekali.

Aku berlari menjauhinya. Mataku panas, sebutir air mata jatuh dari pelupuk yang sudah tergenangi entah sejak kapan. Aku tidak tahu kenapa aku bersikap seperti ini. Tapi aku hanya merasa bahwa perkataan Kyuhyun memang benar.

***

Aku tidak pernah bertanya pada Siwon Oppa apakah dia masih sendiri, sudah memiliki pacar, tunangan, atau bahkan… istri. Entahlah, aku hanya merasa bahwa aku tidak akan pernah siap untuk menyaksikan kenyataan terburuk yang meninggalkan rasa pahit. Kepahitan yang dibingkai oleh kenyataan bahwa aku akan sendiri, tersisihkan, dan terlupakan. Hingga akhirnya, aku sendiri yang akan terluka.

Tapi satu pertanyaannya; sampai kapan? Sampai kapan aku akan terus bersembunyi di balik senyum yang membuatku harus berperan sebagai gadis polos yang seakan-akan tak mengerti tentang perasaan kepada lawan jenis? Jauh di lubuk hati, aku juga ingin tahu siapakah yang telah bersemayam di dalam benaknya, yang membuatnya berdebar setiap hari berganti, yang senyumnya setipis benang pun tetap dapat membuat harinya penuh warna. Aku ingin mengetahuinya. Tapi aku takut.

Berbagai pikiran berperang dalam benakku. Kedua kubu saling mengalahkan demi menjadi tindakanku selanjutnya; apakah aku harus menanyakannya atau tidak. Lalu, bagaimana caraku menanyakan tentang hal ini padanya? Bagaimana jika setelah aku menanyakan hal ini, dia akan menjauhiku? Bagaimana jika… aku bukanlah yang ada di hatinya? Kami sudah terpisah bertahun-tahun lamanya, bukan tidak mungkin jika ia sudah memiliki sebuah kapal yang berlabuh di hatinya.

“Aku tak keluar dari kantor seharian demi memeriksa detil demi detil laporan yang masuk ke kantorku kemarin benar-benar membuatku tak bisa berpikir jernih hari ini.” Siwon Oppa memijat-mijat pelipisnya. “Aku hampir saja akan memasukkan garam ke cangkir tehku pagi ini,” ia mendesah pelan,“kau tahu? Aku juga merasa mual saat minum kopi hari ini. Tidak biasanya.”

Tanpa tahu kenapa, hawa dingin mulai merayapi seluruh telapak tangan dan kakiku, kemudian berubah menjadi keringat dingin. Aku tidak bisa menghentikan jemari tanganku yang terus bergerak bertaut-tautan secara asal. Ceritanya barusan seolah-olah hanya masuk sekelebat melalui telinga kanan dan keluar melalui telinga kiri. Sekarang seakan-akan aku hanya melihat dirinya yang sedang sibuk mengomat-ngamitkan sesuatu dari bibirnya. Telingaku menjadi tuli seketika. Kata-kata yang terus terngiang dalam kepalaku hanyalah ‘lakukan’ atau ‘tidak’.

Oppa.”

Dia memindahkan pandangan matanya ke arahku sembari meletakkan cangkir tehnya di atas meja tanpa sedetik pun mengalihkan pandangannya.

“Ada apa, Fi? Sejak tadi kau tampak sedikit berbeda. Kau sakit?”

Aku cepat-cepat menggeleng.

“Lalu?”

“Apakah aku terlalu lancang jika aku memiliki perasaan padamu?” Pertanyaan itu akhirnya keluar begitu cepat tanpa bisa kukendalikan. Jika aku memiliki kesempatan, aku ingin meng-undo-nya sekarang juga.

Dia yang selalu ekspresif, kali ini tak menunjukkan perubahan ekspresi apa pun di wajahnya. Dia hanya diam hampir semenit penuh.

“Kenapa kau menanyakan tentang ini?”

Tiba-tiba lidahku kelu, tak mampu memberikan sepatah kata pun untuk menjawab pertanyaannya yang menyiratkan berjuta arti.

Di luar dugaan, dia justru tertawa sangat keras. Seluruh ruangan kerjanya yang cukup luas ini memantulkan suara tawanya. Dia tampak tidak peduli sama sekali walaupun sekarang waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Dia tertawa cukup lama, dan tawanya diakhiri dengan mengusap-usap perutnya.

“Aduh, perutku sakit sekali.” Ujung-ujung matanya berair karena tawanya yang mampu membuatku termangu tadi. Ini pertama kalinya aku melihatnya tertawa seperti tadi. “Terima kasih sudah menghiburku dengan leluconmu yang tidak terduga tadi, Fi. Benar-benar lucu.”

Sejujurnya, aku tidak bisa memutuskan terlalu cepat apakah aku harus melanjutkan pertanyaanku atau aku harus menyanggah dugaannya bahwa aku sedang ingin membuatnya tertawa. Otakku seperti kehilangan kemampuannya dalam memerintahkanku melakukan sesuatu.

Pada akhirnya, aku hanya ikut tertawa. Memaksakan diri untuk tertawa, lebih tepatnya. Tiba-tiba aku kehilangan keberanian untuk mengungkapkan sesuatu yang selama ini menjadi alasanku memikirkan keadaannya selama bertahun-tahun lamanya. Sesuatu yang membuatku tak berdebar-debar setiap akan bertemu dengannya.

“Lucu sekali, kan?” Suara tawa buatan yang terdengar sangat payah menggema dari tenggorokanku.

“Bagus, Fi. Selera humormu meningkat setelah kau bertemu banyak orang di radiomu.” Dia mengangkat jari telunjuknya bersamaan dengan kedua alisnya yang terangkat.

Aku mengangkat bahu. “Ya, begitulah. Sepertinya aku cepat mempelajari sesuatu.”

Sesuatu. Sesuatu seperti mengendalikan perasaan yang hampir meluap tak berarah.

Tiba-tiba terdengar ketukan dari arah pintu ruang kerja Siwon Oppa. Belum sempat Siwon Oppa menyuruh orang tersebut masuk, langkah kaki yang tergesa-gesa itu langsung mendekat dan tangan dari pemilik langkah kaki itu langsung menyambar tanganku, lalu menarikku keluar dari ruangan itu tanpa menuntut penjelasan apa pun. Entahlah, rasanya aku sudah menunggu ini sejak bertahun-tahun lamanya di dalam ruangan tadi. Aku merasakan sedikit kelonggaran dalam paru-paruku. Aku bisa bernapas agak lega, seperti baru saja terbebas dari tebing yang akan runtuh ke jurang. Lututku masih lemas, bibirku masih terasa beku. Aku membiarkannya menuntunku ke mana pun kakinya melangkah. Aku hanya ingin pergi dari sini secepatnya.

Di tepi jalan raya, tangannya ia lambai-lambaikan pada taksi yang kebetulan hampir melewati kami. Tanpa babibu, dia langsung membukakan pintu dan mempersilakan aku masuk, diikuti dia yang duduk di sebelahku.

Where will you go?” tanya si supir taksi sesaat setelah orang itu menutup pintu taksinya.

Seasons Botanic Garden.

Aku menatapnya tanpa kata. Dia lagi. Dia datang lagi. Cho Kyuhyun.

Aku tak tahu kenapa dia akan membawaku ke sana, karena aku sama sekali tidak memikirkan itu sekarang. Hal yang masih mencekam ruangan dalam pikiranku adalah tentang kejadian di ruang kerja Siwon Oppa tadi. Aku menggigit bibirku sekeras-kerasnya, membiarkan agar bibirku terasa lebih sakit daripada hatiku, walaupun aku tahu itu tidak mungkin terjadi.

Hati dan bibir adalah dua hal yang sangat berbeda. Ketika bibir bisa berbohong dan tertawa walaupun bukan pada saatnya, hati tidak bisa melakukan hal yang sama. Hati hanyalah sebuah wadah bersifat emosional yang rapuh, yang bisa rusak kapan saja. Berbohong adalah hal paling mustahil yang bisa dilakukan oleh hati.

Sepanjang perjalanan, hanya ada keheningan yang tak terpecahkan antara aku dan Kyuhyun. Kami seperti dua orang asing yang tak memiliki keinginan untuk menyapa satu sama lain. Masing-masing dari kami sibuk menangkup cahaya-cahaya lampu dari gedung-gedung pencakar langit, lampu di sepanjang jalan, maupun lampu dari mobil-mobil yang berpapasan dengan taksi yang sedang kami tumpangi.

Taksi pun berhenti di depan sebuah gedung yang di belakangnya terdapat gedung yang menjulang tinggi. Dua orang laki-laki langsung menghampiri taksi yang kami tumpangi dan membukakan pintu taksi untukku dan untuk Kyuhyun. Aku hanya menatap Kyuhyun yang langsung berjalan ke arah pintu masuk tanpa mengatakan apa pun padaku sama sekali. Aku yang masih setengah linglung dengan maksud tindakannya ini, hanya bisa berdiri di tempatku sejak aku turun dari taksi tadi. Setelah menginjak tangga kedua, Kyuhyun berhenti dan memutar setengah tubuhnya.

“Fiona-ssi, kau mau berdiri di sana sampai kapan?”

Aku masih diam. Apakah dia benar-benar sedang akan mengajakku ke kamar hotelnya? Sejujurnya, aku sedikit was-was. Ini adalah pertama kalinya aku pergi ke hotel dengan seorang laki-laki yang bukan Dad. Tiba-tiba aku merasa seperti seorang anak kecil yang teringat perkataan orang tua tentang larangan menerima sesuatu apa pun dari orang yang tidak kukenal. Sama halnya dengan itu, Dad selalu berpesan bahwa aku harus berhati-hati dengan laki-laki asing. Apalagi laki-laki ini sekarang sedang mengajakku ke hotel tempatnya menginap.

“Fiona-ssi, suatu kehormatan untukku jika kau tidak memikirkan hal-hal buruk tentangku.” Dia memberiku isyarat dengan sebelah tangannya agar aku datang mendekatinya. “Kemarilah.”

Aku memang ragu, tapi sisi lain dari diriku mengatakan bahwa Cho Kyuhyun adalah laki-laki yang baik. Dia tidak akan melakukan hal-hal yang merugikan dirinya. Bisikan dari sisi lain diriku itu cukup mampu menggerakkan kakiku mendekat padanya. Selangkah, dua langkah, tiga langkah, dan seterusnya hingga akhirnya sekarang aku sudah berada pada anak tangga yang sama dengan tempat ia berdiri.

Kyuhyun meraih tanganku dan menuntunku ke elevator untuk menuju ke lantai 15. Anehnya, aku hanya diam dan membiarkannya membawaku ke manapun ia pergi.

Langkahnya berhenti sejenak di depan sebuah pintu kamar bernomor 343 untuk membuka kunci kamarnya dengan kartu yang sejak tadi ada di saku celananya.

Tanpa menatapku sedikit pun, ia langsung masuk ke kamarnya sambil mengatakan,“Masuklah.”

Saat masuk ke kamarnya, aroma yang pertama kali kucium adalah aroma wine. Aroma ini adalah aroma yang sama ketika aku meminum wine untuk pertama kalinya dalam hidupku, yaitu ketika acara ulang tahun radio tempatku bekerja.

“Maaf. Aku suka minum wine. Aku juga membawa kardus wine dan meletakkannya di dalam koperku agar aromanya menyeruak.”

Tak memberikan respon apa pun, aku justru mulai menikmati untuk mengedarkan pandanganku di setiap sudut kamar kelas eksekutif yang ditempati oleh seorang superstar seperti Kyuhyun. Kamarnya sangat luas dan mewah untuk ditinggali satu orang saja. Satu king size bed terletak dua langkah dari jendela besar yang tirainya sengaja dibiarkan terbuka agar menampilkan julangan gedung-gedung berlampu warna-warni. Di balik jendela tersebut, terdapat sebuah balkon kecil memanjang yang menyediakan space untuk menikmati Botanic Garden yang terletak tepat di depan hotel dan sepotong pemandangan Melbourne dari lantai 15. Cat berwarna krem polos selaras berpadu dengan karpet cokelat bergaris-garis yang dibentangkan sebagai pelapis seluruh lantai ruangan. Sebagai pemanis, dipasang lukisan abstrak berwarna-warni dengan ukuran kecil di dinding atas lampu tidur. Sebuah televisi flat screen berukuran lebar tersuguh di depan sofa berwarna ungu tua mengelilingi sebuah meja kecil berukuran oval. Di belakang bundaran sofa tersebut, terdapat dapur kecil dengan pantry dari kayu jati. Sebuah laptop lengkap dengan mouse, mousepad, dan small speaker ada di meja yang terletak beberapa langkah dari tempat tidurnya. Beberapa pakaiannya tersebar di atas tempat tidur bersama dengan gadget-nya yang terus mengeluarkan peringatan bahwa baterainya hampir habis.

“Duduklah di sini. Tunggu sebentar.”

Kyuhyun menghampiri fridge yang terletak di samping pantry berukuran tinggi besar, lalu mengambil dua kaleng bir. Ia berjalan ke arahku dan memberikan salah satu bir yang baru saja ia ambil. Tanpa berkata apa-apa lagi, Kyuhyun langsung membuka penyegelnya dan langsung meneguknya cukup banyak.

“Kenapa kau membawaku kemari?”

Akhirnya pertanyaan ini meluncur dari bibirku.

“Kenapa kau baru menanyakannya sekarang?”

“Aku hanya….”

Aku tidak mungkin mengatakan bahwa aku terlalu sibuk memikirkan laki-laki yang menganggapku sedang bercanda tadi, bukan?

“Terlalu sedih memikiran Siwon Hyung?”

Aku berhenti memutar-mutar kaleng birku dan mendongak. “Apa kau tadi mendengar semuanya?”

“Tanpa mendengarnya pun aku sudah tahu bahwa kau menyukai Siwon Hyung.

“Ba-bagaimana bisa?”

Kyuhyun mengambil beberapa langkah mendekat, lalu mencondongkan tubuhnya ke arahku. Wajah kami hanya terpisah kurang dari 5 cm. Jarak sedemikian dekat membuat indera penciumanku langsung bekerja dengan cepat. Aroma cokelat yang menguar dari tubuhnya membuat tingkat kefokusanku sedikit kacau. Ditambah lagi dengan bola mata cokelat gelap mengilat yang lurus menatapku, hidung mancungnya yang hampir bersinggungan dengan hidungku, dan bibirnya yang terus bergerak, menggumamkan sesuatu.

“Ini,” ia berbisik,“tatapan matamu mengatakan segalanya tanpa kau harus mengakuinya.”

“Apa menurutmu dia tahu?”

Kyuhyun kembali berdiri tegak dan melipat tangannya di depan dada, membuat kemeja yang sedang dikenakannya menampilkan bentuk otot lengannya yang terbentuk. “Jika aku adalah Siwon Hyung, tentu saja aku tahu.”

***

Xeroderma pigmentosum.

Xero-apa?” Kyuhyun mengernyitkan dahinya cukup kencang hingga kedua alisnya tampak bergabung.

Xeroderma pigmentosum.” Aku meneguk birku yang masih tersisa setengah kaleng.

“Apa itu?”

“Sesuatu yang membuatku… berbeda.” Aku menatapnya dengan tersenyum getir. “Berbeda dari manusia pada umumnya.”

Kyuhyun hanya diam. Masih dengan dahi yang mengernyit, Kyuhyun merogoh ponselnya lalu memainkan sesuatu, entah apa itu. Dia sibuk dengan ponselnya hampir sepuluh menit lamanya. Karena selama sepuluh menit tak sepatah kata pun meluncur dari bibir kami masing-masing, di kamarnya sekarang ini hanya terdengar jarum jam yang terus berputar sebagai penunjuk detik.

“Kau berbeda…,” Kyuhyun menatapku tajam,“karena kau spesial.”

Aku terdiam, mencoba menyelami kedua matanya yang menimbulkan rasa sakit dan nyaman secara bersamaan. Tatapannya sama sekali tak bisa kuartikan. Seakan-akan aku tidak akan pernah bisa menemukan dasar dari lautan matanya. Kali ini dia menatapku dengan tatapan yang… entahlah. Tatapan marah, iba, sendu, tak terima, semuanya bercampur baur bagaikan cat minyak yang terlukis pada sebuah kanvas.

Kata-katanya hampir sama seperti yang diucapkan Dad delapan tahun yang lalu. Tapi aku bukanlah Fiona yang sama dengan Fiona delapan tahun yang lalu. Bukan.

“Hentikan, Kyuhyun-ssi.” Aku mengangkat sebelah tanganku. “Aku sudah tidak butuh kalimat penghibur seperti itu lagi. Kau tahu? Aku adalah monster. Aku tak bisa merasakan hangatnya sinar matahari seperti yang orang lain rasakan, karena ia menyakitiku.”

“Aku tak peduli jika kau menganggap kata-kataku terdengar seperti hiburan bagimu. But it hurts me when my sincere heart is being missunderstood by other people. Apalagi orang itu adalah kau.”

Kyuhyun berdiri dan melangkahkan kakinya menuju ke koper besar yang terletak di samping tempat tidurnya. Ia merogoh sesuatu dari saku koper yang terletak di bagian samping. Sesuatu itu berukuran terlalu kecil untuk dilihat dari jarak tiga belas langkah, sehingga yang bisa kulakukan hanyalah menunggunya untuk menunjukkan benda itu padaku. Itu pun jika ia memang bersedia melakukannya.

Bukannya menunjukkan, Kyuhyun justru langsung melingkarkan lengannya di leherku dengan kepalanya yang berada tepat di samping kepalaku. Aku bisa merasakan kulitku bergesekan dengan sesatu berukuran kecil yang terbuat dari suatu jenis logam. Sesekali, ujung jemari Kyuhyun pun bersinggungan dengan kulitku. Dari jarak sedekat ini, aroma cokelat yang menguar dari tubuhnya kian tajam mengusik indera penciumanku.

“Nah.” Kyuhyun menarik lengannya dan menatap benda kecil yang tergantung di bawah bawah leherku.

Aku mengikuti arah pandangnya. Sesuatu berukuran kecil yang dilapisi akrilik tergantung cantik di kalung yang baru saja dipasangkan Kyuhyun padaku tanpa izin.

Four-leaf clover?” Aku menatapnya sambil memegangi benda kecil itu.

Kyuhyun mengangguk.

“Kenapa kau memberiku ini?” Aku memandangi liontin four-leaf clover itu dengan seksama, seakan-akan aku akan menemukan jawaban dari pertanyaanku di sana.

“Karena kau sama spesialnya dengan four-leaf clover.”

Aku menatapnya dengan tanda tanya besar yang pasti sekarang ini terukir jelas di setiap garis wajahku. Aku tahu tentang keberadaan daun clover ini, tapi aku tidak pernah mendengar cerita apa pun di balik helai keempatnya.

Four-leaf clover dianggap spesial karena umumnya daun clover hanya ada 3 helai daun saja, sehingga bisa dikatakan bahwa keberadaannya cukup langka. Tingkat kelangkaannya untuk ditemukan di alam bebas adalah 1:10.000.”

Aku kembali memperhatikan setiap detil yang ada pada four-leaf clover ini. Daun ini memiliki kombinasi warna hijau yang disertai bercak-bercak hitam. Tepi daunnya bergerigi kecil. Salah satu dari keempat helai daun tersebut berukuran lebih kecil dibandingkan helai daun yang lainnya.

Four-leaf clover sering dianggap sebagai pembawa keberuntungan. Bukankah mengagumkan, ketika satu helai daun kecil yang tumbuh tanpa direncanakan itu tidak disebut sebagai kecacatan tapi justru sebagai keajaiban dan keberuntungan?” Kyuhyun menatapku dengan begitu hangat. Aku bisa merasakan tatapan matanya masuk begitu dalam ke dalam diriku, menyalurkan rasa hangat itu hingga menyelimuti hatiku. “Sama halnya seperti kau, Fiona. Kau bukan cacat, tapi spesial.”

Sebutir cairan bening jatuh dari pelupuk mataku, kemudian terus menyusuri pipiku.

Ini pertama kalinya aku mendengar seseorang selain Dad dengan begitu tulus menyebutku spesial. Aku bisa merasakannya dengan begitu jelas. Aku bisa melihat kejujuran dan kebenaran melalui kedua matanya.

“Terima kasih, Kyuhyun-ssi.”

Lagi, Kyuhyun tersenyum begitu hangat.

Dan tiba-tiba, aku teringat pesan yang dikirim bersama dengan gambar scan tangan tadi.

Dear Fiona,

Tangan ini adalah tangan yang ingin menggenggam tanganmu selamanya.

P.s. Mungkin aku akan menemuimu setelah siaran saja.

***

TO BE CONTINUED

***

You can find my other fanfics on:

http://primrosedeen.wordpress.com

5 Comments (+add yours?)

  1. Alice
    Sep 20, 2015 @ 15:22:22

    kyuhyun kata-katanya dalem banget!! ><
    next nya ditunggu thor!

    Reply

  2. Monika sbr
    Sep 20, 2015 @ 20:05:12

    Semoga saja mereka bisa jadian deh….

    Reply

  3. Novita Yuliana
    Sep 20, 2015 @ 21:58:13

    wow daebakkk, kyuhyun so sweett. Ditunggu next partnya thor

    Reply

  4. ana
    Sep 21, 2015 @ 17:55:19

    Mkin seru.. kyu oppa semangat jgan nyerah buat dpetin hti fiona.. dtggu ya chap slnjutnya

    Reply

  5. Laili
    Sep 21, 2015 @ 22:37:51

    kya… kyuhyun nya jdi baek bgt disini. penasaran sma next chap nya. keep writing,thor…

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: