A Clover Leaf [In Heaven]

Author : Aryn

Judul Cerita : A Clover Leaf (In Heaven)
Cast : Lee Donghae, Han Sun-ae
Genre : Romance
Rating : PG-15
Length : One-Shot

Blog : haevelastingfriends.wordpress.com

***

“I’m going to leave now.”

“Don’t leave.”

“I’m going to come back so…”

“Liar, liar.”

“No, you don’t know how much I love you?”

“Can’t you show me that love right now?”

“I love you…”

“Can’t we love again?”

***

“Di mana?!”

“Hentikan!”

Kedua matanya yang biasanya teduh itu kini berkilat-kilat marah, dulu ia tidak pernah menatap orang lain dengan tatapan murka seperti itu. Tidak pernah. Dulu di wajahnya selalu ada senyum menawan, senyum yang selalu menghangatkan hati orang lain bahkan di pertengahan musim-musim yang dingin sekalipun.

“Aku bilang berikan! Kau tuli, ya?!”

Sun-Ae menggeleng lemah. Ia berusaha menahan air matanya yang ingin keluar sejak Dong-Hae membanting semua barang di dapur mereka.

“Berhentilah minum, Dong-Hae-ya, kau sudah mabuk…”

Dong-Hae berderap dan memegang kedua lengan Sun-Ae lalu menguncang tubuh gadis itu dengan penuh kemarahan. Matanya kini merah, wajahnya juga. Sun-Ae mengangkat wajah dan menatap kedua mata Dong-Hae. Benarkah ini Dong-Hae? Dong-Hae-nya?

“Aku tidak peduli,” bisik Dong-Hae tegas. Ia menatap Sun-Ae seakan ingin membanting tubuh gadis itu ke lantai dan menginjaknya sampai remuk kalau ia berani membantah lagi. “Sekarang berikan sebelum aku kehabisan kesabaran…”

“Kau ingin kubuatkan sup?” suara Sun-Ae bergetar. Tubuhnya juga. Ia menatap Dong-Hae dan terisak ketika laki-laki itu menatapnya. “Badanmu panas.”

Dong-Hae merasa ada bongkahan batu tajam di lehernya. Oleh karena itu ia belum mampu membuka suara ketika Sun-Ae menangis. Dong-Hae melihat gadis itu menghapus air matanya secara perlahan, gerakan lemah Sun-Ae membuat Dong-Hae meringis sakit. Untuk sekejap ia seakan tersadar bahwa apa yang ia lakukan tidak benar. Ia telah berlaku kasar. Ia menyakiti gadisnya. Ia laki-laki brengsek.

Tapi tidak.

Semua salah gadis ini karena tidak mendengarnya.

“Aku hanya memintamu untuk memberi kunci lemari itu,” kata Dong-Hae penuh penekanan. Matanya yang sempat melembut kini kembali menatap Sun-Ae tajam. Dong-Hae tidak lebih dari laki-laki tak berperasaan sekarang. “Kau ingin aku menamparmu?”

Sun-Ae gemetaran. Ia menangis saat Dong-Hae melemparnya ke lantai. Sun-Ae menutup matanya ketika tangan Dong-Hae terayun untuk menamparnya.

“Sialan!”

Dong-Hae memungut serenteng kunci yang bergemerincing jatuh dari saku celana yang dikenakan Sun-Ae ketika gadis itu terjatuh di lantai. Dengan tidak sabaran Dong-Hae berderap menuju lemari kaca di sudut dapur dan mengambil berbotol-botol minuman keras dari sana. Ada senyum kemenangan di wajah Dong-Hae ketika ia menemukan beberapa lembar uang di sana. Dong-Hae meraupnya dan memasukkannya ke saku celana dengan bringas.

“Dong-Hae-ya, jangan… itu untuk makan kita satu bulan ke depan.”

Dong-Hae menggeleng. “Aku tidak peduli.”

Dong-Hae melangkahi Sun-Ae yang menangis, lalu langkahnya terhenti. Gadis yang menangis itu memegangi kakinya.

Sun-Ae memengang celana Dong-Hae dengan tangan yang bergetar. Ia mengatur napasnya yang tersendat-sendat lalu menatap Dong-Hae penuh harap. “Kau akan pergi, kan?”

Sun-Ae sempat melihat sekelebat emosi dan kesedihan melintas di mata Dong-Hae. Dan laki-laki itu merasakan sesak yang teramat sangat. “Tidak,” katanya pelan dengan suara serak. “Aku tidak akan pergi.”

Dong-Hae melepaskan pegangan Sun-Ae di kakinya dengan amat kasar. Sebelum keluar dari pintu rumah, Dong-Hae mendengar suara Sun-Ae yang menangis. Hatinya seakan teriris-iris. Perih. Jauh di dalam hatinya, ia tidak suka mendengar gadis itu menangis, tapi hampir dua tahun belakangan ini ia terus membuat gadis itu menangis, siang dan malam.

Sun-Ae melihat Dong-Hae menghilang di balik pintu. Sun-Ae tidak pernah mengira bahwa mereka akan berakhir seperti ini. Dulu Dong-Hae tidak seperti itu, sungguh. Dulu Dong-Hae-nya begitu manis…

Orang tua Sun-Ae telah meninggal dunia ketika ia berusia lima tahun. Setelah itu Sun-Ae sempat tinggal di rumahnya sendiri bersama pengasuhnya, tapi pengasuhnya pergi dan Sun-Ae dirawat dan tinggal bersama Dong-Hae dan ibunya yang merupakan sahabat baik ibu Sun-Ae sendiri. Ayah Dong-Hae meninggalkan Dong-Hae ketika masih dalam kandungan, jadi mereka tidak pernah membahasnya lagi.

Sejak berusia lima tahun, Sun-Ae mengenal Dong-Hae yang manis, bukan yang menyeramkan seperti dua tahun terakhir.

Dulu Dong-Hae tidak bisa minum-minum, dia akan berhenti bahkan pada seperempat gelas sojunya. Dulu Dong-Hae akan berada di rumah sebelum pukul sepuluh malam, sekarang Dong-Hae bisa tidak pulang selama berhari-hari. Dulu Dong-Hae selalu melindungi Sun-Ae, sekarang laki-laki itu malah membencinya. Dulu Dong-Hae mencintai Sun-Ae dan ibunya, sekarang tidak lagi.

Hari ini adalah peringatan dua tahun kepergian Ibu Dong-Hae.

Dua tahun yang lalu Ibu Dong-Hae meninggal dunia akibat kecelakaan yang dialaminya setelah membeli bahan-bahan dapur untuk kedai Ramyun miliknya. Tabrak lari dan ibu Dong-Hae meninggal di tempat. Saat itu Dong-Hae tidak menangis. Dong-Hae tidak datang ke pemakaman, bahkan sampai hari ini Dong-Hae tidak mau datang ke pemakaman. Entah mengapa.

Sejak kematian ibunya, Dong-Hae mulai berubah. Dia tidak semanis dulu, tidak sepolos dulu, tidak sebaik dulu, tidak penyayang seperti dulu. Dong-Hae yang sekarang adalah Dong-Hae yang hampir tidak dikenal Sun-Ae.

Dong-Hae biasanya pulang dalam keadaan mabuk. Sun-Ae tidak tahu pukul berapa Dong-Hae kembali karena pasti dia telah tertidur. Sun-Ae sempat takut pada Dong-Hae, tapi ketika melihat laki-laki itu tertidur dengan amat sangat pulas, wajahnya yang seperti bayi itu mampu membuat Sun-Ae tersenyum dan mampu membuat kekuatan Sun-Ae untuk bertahan di sisinya terkumpul kembali. Bagaimana pun, Sun-Ae mencintai laki-laki itu. Bagaimana pun, Sun-Ae telah berjanji untuk menjaga laki-laki itu.

***

Pukul 01.48 dini hari.

Sun-Ae menguap dan kedua matanya terasa sungguh perih. Ia merapatkan mantel dan duduk di depan pintu utama rumah peninggalan Ibu Dong-Hae. Sudah biasa, sudah menjadi rutinitas bagi Sun-Ae untuk menunggu Dong-Hae pulang setiap hari. Walau kadang Sun-Ae tahu kalau laki-laki itu tidak akan datang, ia tetap menunggu. Siapa tahu Dong-Hae lapar dan ingin dibuatkan sesuatu.

Sun-Ae mengembuskan napas, ia melirik ponselnya sekilas. Di layar, ada foto dirinya bersama Dong-Hae dan ibu Dong-Hae di masa lalu. Saat itu Sun-Ae dan Dong-Hae masih sangat muda, muda dan bahagia.

Dulu sepulang sekolah Dong-Hae dan Sun-Ae akan membantu ibu Dong-Hae bekerja di kedai sambil belajar. Kalau kekurangan uang, Dong-Hae akan mengantarkan koran dan Sun-Ae akan mengantar susu pagi-pagi sekali pada tetangga di sekitar rumah mereka, memang tidak besar jumlahnya, tapi pundi-pundi itu terkumpul dan mampu membawa sebuah sepeda kayuh ke rumah mereka. Dengan sepeda itu, mereka pergi ke sekolah bahkan sampai lulus dari Universitas. Sun-Ae sendiri sempat mengikuti tes untuk bekerja, tapi ia gugur pada tes kedua, saat itu ia tidak datang karena ibu Dong-Hae masuk rumah sakit. Dong-Hae bernyanyi dari pinggir jalan sampai dengan kafe-kafe untuk biaya perawatan ibunya. Karena kondisi fisik Ibu Dong-Hae yang lemah, Sun-Ae tidak tega meninggalkannya sendiri dan memutuskan untuk menemaninya bekerja di kedai. Bersama Dong-Hae juga, tetapi biasanya laki-laki itu akan keluar jika ada panggilan untuk bernyanyi.

Rasanya Sun-Ae ingin menangis jika mengingat perjuangannya bersama Dong-Hae saat menghadapi kerasnya hidup. Dulu mereka masih sangat kecil. Dong-Hae masih sangat muda kala itu, tetapi dia selalu punya alasan dan kesempatan untuk melindungi Sun-Ae apapun yang terjadi.

Sun-Ae menggigit bibirnya. Ia menatap sepeda kayuh miliknya dan Dong-Hae. Mungkinkah Dong-hae tidak pulang lagi malam ini? Padahal tadi badannya panas sekali. Bagaimana kalau Dong-Hae sakit atau pingsan di jalan? Bagaimana kalau Dong-Hae kehabisan uang… bagaimana kalau…

Sun-Ae menggeleng, ia memutuskan untuk menyusul laki-laki itu.

***

Mereka bilang Dong-Hae di sini.

Sun-Ae memegang ujung bajunya dengan gelisah. Ia memerhatikan sekitar dengan kening berkerut samar. Club. Sebelumnya Sun-Ae tahu bahwa club akan seramai ini, tapi ia baru tahu kalau club semengerikan ini. Sun-Ae melihat orang-orang berdansa mengikuti beat lagu yang membuat dadanya berdebar tidak karuan, mereka meloncat-loncat dan para gadis membiarkan tubuhnya dijamah para laki-laki di sekitar mereka. Pemandangan tidak senonoh juga banyak terdapat di lantai atas, di tempat yang tidak terlalu tersorot lampu atau di sudut ruangan. Gadis-gadis itu… apa yang membuat mereka melakukan ini semua?

Sun-Ae menggeleng. Ia mulai melangkah mencari pintu keluar. Dong-Hae tidak mungkin ada di tempat seperti ini. Di sini berisik, bukan tempat penyanyi ballad seperti Dong-Hae. Bukan tempat laki-laki baik seperti Dong-Hae. Jadi tidak mungkin kalau…

Sun-Ae berhenti melangkah. Ia berhenti bernapas.

Dong-Hae!

Itu benar Dong-Hae. Sun-Ae yakin, laki-laki berkemeja biru di dekat tiang itu adalah Dong-Hae. Laki-laki yang sedang bercumbu dengan gadis yang pakaiannya amat sangat tidak sopan itu adalah Dong-Hae…

Benarkah dia Dong-Hae?

“Dong-Hae-ya…” Sun-Ae tahu suaranya bergetar ketika ia memanggil nama Dong-Hae. Ia sungguh tidak percaya dengan apa yang ia lihat dengan mata kepalanya sendiri. “Apa yang kaulakukan di sini?”

Dong-Hae melirik Sun-Ae sekilas, tapi di matanya sama sekali tidak ada rasa terkejut karena Sun-Ae melihatnya yang sedang bekerja. Sama sekali tidak ada rasa menyesal dalam diri laki-laki itu.

“Dong-Hae, ayo pulang.” Sun-Ae menyentuh lengan Dong-Hae dengan amat sangat lembut, ia sedang berusaha untuk melepaskan Dong-Hae dari cengkraman gadis sialan yang terus menciuminya dengan ganas itu. “Dong-Hae-ya… badanmu masih panas…”

“Siapa dia?”

Sun-Ae terkejut ketika gadis itu menghentakkan tangannya dengan keras.

“Aku tidak mengenalnya.”

Sun-Ae menangis ketika Dong-Hae berkata seperti itu. Tidak mengenalku, Lee Dong-Hae?

Dong-Hae menutup matanya ketika memperdalam ciumannya pada gadis itu. Ia sama sekali tidak memedulikan Sun-Ae yang terisak-isak menangis di hadapannya. Ia memeluk gadis yang menggantung padanya dengan erat, mendekapnya dan menciuminya ganas, lalu menuntunnya turun ke lantai dansa untuk bergabung dengan pasangan lainnya.

Sun-Ae mematung dan menangis, Dong-Hae meninggalkannya seorang diri. Apa yang ia lihat benar-benar membuatnya tidak percaya, tidak yakin bahwa itu adalah Dong-Hae-nya, tapi memang benar itu adalah Dong-Hae-nya, Dong-Hae-nya yang telah berubah.

***

“Mereka bilang kau menjadi penghibur,” Sun-Ae menangis terisak-isak sampai sekujur tubuhnya terasa sakit. Napasnya putus-putus ketika ia menatap Dong-Hae. “Mereka bilang kau tidur dengan gadis-gadis itu lalu dibayar…”

“Lalu kau percaya?”

“Tapi aku melihatnya.”

“Apa yang kau lihat? Kau tidak tahu apa-apa jadi tutup mulutmu.”

“Aku menungguimu dua hari yang lalu, semalam juga ketika kau pulang pagi. Aku menunggu di depan club itu, kau selalu pergi dengan gadis yang berbeda, apa yang kaulakukan? Mengapa kau melakukannya?”

Dong-Hae mengusap wajahnya frustasi. Sekarang ia lebih sering mendapati dirinya yang marah dan murka ketika menghadapi Sun-Ae. Gadis itu benar-benar pintar menyulut emosinya.

“Ini hidupku dan ini sama sekali tidak ada hubungannya denganmu, jadi diamlah.” Dong-Hae menatap Sun-Ae dengan matanya yang memerah karena mabuk semalam. “Jangan mengaturku, kau itu bukan siapa-siapa. Kau harusnya berterima kasih karena aku tidak mengusirmu dari rumah ini! Kau tahu? Kau sebanarnya hanya menjadi bebanku. Melihatmu di sekitarku membuatku muak. Melihatmu ada di rumah ini membuatku kesal. Aku benci padamu lebih dari apapun, aku masih berbaik hati padamu, jadi jangan banyak bicara dan jangan campuri urusanku.”

“Kau butuh uang?” tanya Sun-Ae tanpa memedulikan Dong-Hae. Walaupun air matanya terus berjatuhan dan kakinya terasa lemas ketika mendengar kata-kata Dong-Hae, ia berusaha agar tetap berdiri tegak. “Apa yang kau butuhkan? Aku akan memberikannya untukmu, aku akan bekerja, aku akan melakukan apa saja asalkan kau beristirahat di rumah. Kau sakit, Dong-Hae-ya… tubuhmu lelah dan kau terus pergi ke club. Teman-temanmu bilang kau selalu melayani mereka, kau berbohong padaku. Kau bukannya bernyanyi! Kau melayani mereka! Kau dibayar untuk itu dan kau—“

“Persetan.”

Sun-Ae menangis saat memegang permukaan pipi kanannya yang memanas. Dong-Hae menamparnya. Laki-laki itu menamparnya.

“Jangan bicara seperti itu dan jangan bersikap seolah kau adalah gadis paling suci di depanku.” Dong-Hae menatap Sun-Ae dengan tatapan marah yang tidak bisa ia kendalikan lagi. “Pergi dari sini karena aku tidak ingin melihatmu lagi.” Sun-Ae tercengang, terkejut, dan membeku di tempatnya dengan perasaan hancur lebur. “Pergi sekarang juga dan jangan pernah kembali lagi.”

***

“Selamat pagi,”

Sun-Ae meletakkan beberapa lembar uang di balik kain di atas dispenser di dapur. Kebiasaan Dong-Hae dan Sun-Ae saat masih kecil, ketika ibu Dong-Hae tidak memberikan jatah jajan untuk membeli es krim di musim panas, mereka akan menabung di sana dan membeli sebuah es krim yang dibagi berdua.

Sun-Ae tersenyum melihat Dong-Hae yang tidur terlentang di sofa. Ini masuh pukul lima pagi, dan Dong-Hae sudah ada di rumah, syukurlah.

Sun-Ae mulai membersihkan rumah Dong-Hae yang sangat berantakan. Bekas botol minuman keras berserakan dimana-mana, pembungkus makanan, kartu-kartu dan… pakaian wanita. Sun-Ae merasa dadanya ngilu. Ia ingin sekali menangis tapi ia sadar ia harus menahannya agar Dong-Hae tidak terbangun dari tidurnya.

Sudah tiga bulan Sun-Ae meninggalkan rumah Dong-Hae karena laki-laki itu mengusirnya. Sun-Ae kini tinggal di kedai kecil peninggalan ibu Dong-Hae yang terletak di persimpangan jalan. Sun-Ae tinggal di sana karena tahu Dong-Hae tidak pernah datang ke sana sejak ibunya meninggal, dan benar saja, sampai dengan hari ini Sun-Ae tidak pernah melihat Dong-Hae di sekitar kedai, akhirnya Sun-Ae memutuskan untuk melanjutkan bisnis kecil-kecilan ibu Dong-Hae dan masih tetap menjual Ramyun. Keuntungannya setiap hari dengan mengendap-endap akan ia letakkan di bawah kain dispenser untuk kebutuhan Dong-Hae sehari hari.

“Kau manis sekali,” Sun-Ae tersenyum sedih ketika ia berjongkok di depan wajah Dong-Hae yang tertidur. Ia memerhatikan wajah pulas nan polos itu dengan seksama, Sun-Ae sadar bahwa ia sangat merindukan Dong-Hae-nya yang penyayang. “Semalam aku bermimpi bertemu ibumu.” Sun-Ae berbisik kecil, ia seakan bercerita pada Dong-Hae yang baik hati, bukan Dong-Hae yang sangat tega mengusirnya dari rumah. “Ibumu bilang bersamamu tidaklah sulit, namun juga tidak mudah. Aku mengerti maksudnya.” Sun-Ae tersenyum manis, ia ingin Dong-Hae-nya kembali… Tuhan, bawa kembali Dong-Hae-ku yang manis, atau jika tidak bisa, biarkan dia hidup dengan baik. Jangan seperti ini. “Aku meninggalkan sedikit uang. Gunakanlah sebaik mungkin. Aku juga membali sayur, buah, susu dan roti, sudah kuletakkan di kulkas, ada juga makanan untuk hari ini… makanlah yang banyak, Dong-Hae-ya… kau begitu kurus…” Sun-Ae mengusap rambut Dong-Hae, mengelusnya penuh sayang seperti yang sering ia lakukan dulu ketika laki-laki itu berbaring dipangkuannya. “Aku masih bekerja di kedai sampai sore, pagi-pagi sekali aku mengantar koran dan susu lagi, untung saja paman Kim mau menerimaku untuk bekerja seperti dulu, malam harinya hingga pagi aku bekerja di tempat pengisian bahan bakar kendaraan. Tempatnya jauh… aku harus dua kali naik bus, jadi aku tidak bisa setiap hari melihatmu, maafkan aku.” Sun-Ae mengahapus air matanya yang bergulir turun dengan punggung tangan, bibirnya bergetar ketika ia melanjutkan, “Jangan mabuk lagi… jangan sampai jatuh sakit, Dong-Hae-ya…” Sun-Ae menahan isakannya yang telah sampai di tenggorokan ketika ia menyelimuti tubuh Dong-Hae dengan selimut hangat, tapi tangisnya pecah ketika ia melihat bekas merah keunguan di sekitar dada dan leher laki-laki itu. Sun-Ae membekap mulutnya dan terisak hebat. Sekujur tubuhnya bergetar. Sekujur tubuhnya terasa sakit. “Jangan melakukannya, Dong-Hae-ya… jangan melakukan itu, kumohon…” Sun-Ae memeluk Dong-Hae dan mencium pipinya, ia berharap Dong-Hae yang sedang tidur atau bahkan mabuk berat dapat mendengar tangisnya yang begitu memilukan. Sungguh, ia tidak ingin Dong-Hae-nya melakukan pekerjaan keji itu. Dong-hae-nya bukanlah orang yang tega melakukan hal-hal seperti itu. “Aku mencintaimu, Dong-Hae-ya,” kata Sun-Ae lemah bersama tangis. “Walau kau tidak mencintaiku, aku akan terus mencintaimu, percayalah. Aku akan melakukan apapun untukmu, aku janji. Apapun.” Sun-Ae melepas pelukannya dan menghapus air matanya yang terus mengucur, ia menatap Dong-Hae yang wajahnya terlihat begitu damai. Tuhan, ia mencintai laki-laki ini. Tuhan, ia ingin laki-laki ini hidup dengan baik, Tuhan, tolong selamatkan mereka… “Aku pergi dulu,” kata Sun-Ae lemah, ia mengecup kening Dong-Hae dengan lembut dan air matanya jatuh menuruni pipi laki-laki itu. “Tolong jaga kesehatanmu.”

Setelah mendengar dentum pintu, Dong-Hae membuka kedua matanya secara perlahan lalu memejamkannya lagi.

Gadis bodoh itu datang lagi.

Bodoh.

Kenapa selalu datang walau aku terus menyakitimu? Kenapa selalu mencintaiku walau aku mati-matian mendorongmu pergi dari hidupku? Kenapa selalu bertahan untukku?

Aku membencimu, Han Sun-Ae, sungguh.

Dong-Hae merasa hatinya robek. Hatinya berdarah dan tidak bisa disembuhkan lagi.

Dong-Hae merasa dadanya sesak, napasnya berat, terputus-putus, tersendat-sendat, Dong-Hae kesulitan bernapas, tubuhnya meremang, ia sekarat, ia menangis…

Tanpa gadis itu, ia merasa tak bernyawa lagi.

***

I can’t say those words, I really can’t- as much as you were by my side
I’m sorry but I can’t- everything comes shaking back to me now
By waiting a little more, by wandering through my dreams
I’m afraid I will close my eyes inside of you

***

Sun-Ae mendengus dan menatap uang yang selama ini ia tinggalkan di atas dispenser. Masih utuh. Malah bertambah banyak, seingat Sun-Ae ia tidak meninggalkan uang sebanyak itu. Pastilah Dong-Hae yang melakukannya. Padahal selama ini Sun-Ae bekerja keras agar laki-laki itu berhenti bekerja di Club, sekarang ia malah menyimpan uangnya di sana juga.

Sun-Ae duduk di sofa di ruang tengah rumah Dong-Hae.

Sudah satu minggu ia tidak melihat Dong-Hae, sudah dua hari terakhir ia mencari laki-laki itu ke mana-mana tapi Dong-Hae tidak bisa ia ditemukan. Dong-Hae tidak ada di Club, di tempatnya biasanya latihan bernyanyi juga tidak ada. Sun-Ae sudah mengitari semua tempat yang mungkin di datangi Dong-Hae, tapi laki-laki itu tidak ada di mana-mana. Sun-Ae menunggunya pulang hingga tidak tidur selama dua hari ini, tapi Dong-Hae tak kunjung pulang.

Sun-Ae rasanya ingin menangis ketika ia tidak tahu apalagi yang bisa ia lakukan untuk menemukan Dong-Hae. Ia frustasi karena tidak melihat laki-laki itu. Dong-Hae… dia baik-baik saja, bukan?

Sun-Ae memutuskan keluar dari rumah Dong-Hae dan menuju kedai di persimpangan jalan. Hari ini dan kemarin ia sengaja menutup kedai dan tidak bekerja demi untuk mencari Dong-Hae, tapi usahanya sia-sia. Ia belum bertemu Dong-Hae hingga hari ini.

Sun-Ae memasuki kedai dengan wajah lesu, hari sudah sangat sore ketika ia tiba. Sun-Ae menyalakan lampu dan langsung masuk ke sebuah ruangan sempit di sudut kedai yang dulunya menjadi gudang dan kini menjadi tempatnya tidur setiap malam.

Di sana ada Dong-Hae.

Dong-Hae sedang tidur di kasur tipis yang ada di lantai.

Sun-Ae berjalan mendekat pada Dong-Hae yang tidur membelakanginya, ia berjongkok dan menyentuh pundak lebar Dong-Hae dengan lembut, ketika itulah air matanya jatuh. Dia benar Dong-Hae… Sun-Ae seakan ingin meledak karena bahagia menemukan Dong-Hae ada di sini, dia baik-baik saja. Dia sedang tidur pulas.

Tidak.

Dong-Hae tidak tidur.

Dia menggigil. Sekujur tubuhnya gemetaran.

“Dong-Hae-ya…” Sun-Ae tahu suaranya bergetar ketika ia meremas pelan lengan Dong-Hae. Rasa cemas mulai mengusainya ketika Dong-Hae tak kunjung menjawab. “Lee Dong-Hae jawab aku!” Sun-Ae membalik tubuh Dong-Hae dan tangisnya pecah. Laki-laki itu sangat pucat, bibirnya biru, ia gemetar hebat, ia memeluk Sun-Ae lama. “Apa yang terjadi? Dong-Hae, katakan padaku, apa yang terjadi?”

Sun-Ae hampir histeris ketika Dong-Hae tidak mengatakan apa-apa, laki-laki itu malah memeluk dan membelai rambutnya dengan penuh sayang.

“Dong-Hae-ya…”

“Sakit,” bisik Dong-Hae serak di telinganya. Laki-laki itu masih mengusap kepala Sun-Ae. “Rasanya sakit sekali, Sun-Ae-ya…”

Sun-Ae menangis dalam pelukan Dong-Hae, ia tidak dapat berpikir dengan baik sekarang. Otaknya buntu. Seluruh tubuhnya lemas melihat Dong-Hae yang lemah. Ia tidak ingin Dong-Hae sakit… sungguh.

“Kau tidak pernah makan? Tubuhmu tidak enak dipeluk.”

Sun-Ae menangis tersedu-sedu dalam pelukan Dong-Hae. Suara laki-laki itu begitu pelan, serak dan penuh luka. Sun-Ae tahu Dong-Hae memaksakan dirinya untuk bicara ketika ia menatap mata teduh milik laki-laki itu. Matanya itu, matanya yang selalu bersinar-sinar hangat itu… rasanya sudah lama sekali Sun-Ae tidak melihatnya. Rasanya rindu sekali.

“Mau peluk aku sebentar?” tanya Dong-Hae pelan bagai embusan angin. Sun-Ae menggeleng dan air matanya berjatuhan. Entah mengapa permintaan Dong-Hae itu malah terdengar seperti permintaan terakhir yang mengerikan di telinganya. Kalau ia membiarkan Dong-Hae memeluknya, akankah laki-laki itu meninggalkannya? “Peluk aku.”

Sun-Ae menangis.

Dong-Hae memeluknya.

Sun-Ae membalas pelukannya.

Dan Dong-Hae tidak sadarkan diri.

***

Sun-Ae meremas mantel biru tua yang ia kenakan. Ia duduk seorang diri di kursi tunggu di depan ruang gawat darurat sebuah rumah sakit terdekat. Sudah hampir tiga jam lamanya ia duduk di sana dengan gelisah, menunggui Dong-Hae, menunggu kabar tentang laki-laki itu.

Sun-Ae panik ketika Dong-Hae tidak sadarkan diri dan membawanya ke rumah sakit terdekat dengan susah payah. Harusnya sekarang salah satu Dokter atau perawat dari dalam sana telah keluar dan menenangkannya, harusnya mereka bilang Dong-Hae-nya baik-baik saja.

Pintu rawat terbuka dan Sun-Ae langsung melompat berdiri di hadapan seorang Dokter yang menangani Dong-Hae. Dokter itu merangkul Sun-Ae, lalu dengan gerakan pelan menuntunnya duduk kembali. Ketika itu dada Sun-Ae berdebar keras sekali. Ia takut, ia belum siap mendengar apa yang akan dikatakan Dokter mengenai kesehatan Dong-Hae. Tapi ia harus siap. Sun-Ae kuat.

“Pembengkakan hati.”

Sun-Ae menahan napas.

Dokter ini pasti berbohong. Pasti.

“Pola hidup tidak sehat. Bisa karena makanan atau konsumsi minuman keras.” Dokter itu mengerti perubahan wajah Sun-Ae. Kini gadis itu terlihat tidak memiliki semangat hidup sama sekali. “Penumpukkan racun di hati membuat hatinya meradang dan bengkak. Harusnya ada gejala sebelum ini, dia tidak pernah demam lebih dari tiga hari atau muntah-muntah?”

Sun-Ae tercekat lalu menggeleng. “Tidak…” Tidak. Ia tidak tahu! Ia tidak ada di rumah. Ia tidak ada di sisi Dong-Hae. Tidak bisa melihatnya. Tidak bisa mengawasinya. Sun-Ae meremas mantel Dong-Hae yang ia kenakan. Seakan itu adalah Dong-Hae, seakan ia berpengangan pada Dong-Hae, seakan Dong-Hae memeluknya sekarang dan memberinya kekuatan. “Apakah bisa sembuh?”

“Kami akan mencoba melakukan yang terbaik,” Dokter itu berujar dengan nada pelan. Dan mimik wajahnya berhasil menciutkan harapan Sun-Ae. “Bisa dengan meminum obat dulu, kita akan lihat perkembangannya. Dan dia harus menjalankan opname, harus diawasi dengan ketat pola makan dan kesehatannya. Untuk dua minggu sampai dengan satu bulan pertama biarkan dia dirawat di rumah sakit saja, agar kami bisa langsung menanganinya kalau tiba-tiba terjadi apa-apa.”

Kalau terjadi apa-apa…

Apa katanya?

Sun-Ae merasakan sesak yang teramat sangat. Apa maksudnya? Memangnya Dong-Hae-nya kenapa? Memangnya apa yang akan terjadi?

“Akan terjadi…” Sun-Ae tergagap, air matanya turun dan ia cepat-cepat menghapusnya dengan punggung tangan. “Apa?”

Dokter itu menggeleng dan menenangkan Sun-Ae. “Bukan seperti itu. Hanya untuk berjaga-jaga.”

“Berjaga-jaga untuk apa?”

Dokter itu terdiam untuk beberapa saat. Ia mengembuskan napas dengan berat. “Berjaga kalau saja terjadi yang tidak diinginkan.”

Yang tidak diinginkan?

Sun-Ae menolak memikirkannya. Ia tidak ingin bertanya, tapi, “Parahkah?”

Dokter itu kembali mengembuskan napas. “Cukup parah.”

Sun-Ae membiarkan air matanya lolos.

“Penyakitnya cukup parah karena temanmu itu juga pemakai.”

Sun-Ae merasa telinganya berdengung. Apa katanya tadi?

Dokter itu mengangguk dan menatap Sun-Ae dengan tatapan sedih sekaligus menyesal. “Maafkan aku. Itu benar adanya. Melalui tes darah dan urine, dia positif memakai narkoba jenis shabu.”

***

“Dulu Dong-Hae selalu murung. Dia lebih suka diam di dalam kamar dan tidak melakukan apa-apa.”

Sun-Ae tersenyum sebagian. Rasanya sudah lama sekali ia tidak duduk berdua dengan ibu Dong-Hae seperti ini di taman di belakang rumah sederhana mereka.

“Tapi setelah bertemu denganmu, Dong-Hae kami menjadi sangat ceria. Dia punya teman bermain, punya teman berbagi, punya teman yang selalu ada untuknya.”

Sun-Ae menggeleng lemah, “Dong-Hae-lah yang selalu ada untukku, Bibi. Bukan aku.” Sun-Ae tersenyum ketika mengingat belasan tahun yang ia lewati bersama laki-laki itu. “Dong-Hae tidak pernah membuatku kecewa, tidak pernah. Walau kami sering bertengkar, tapi itu adalah cara kami menyampaikan perhatian. Aku terkadang berpikir bagaimana jika suatu hari nanti Dong-Hae lelah denganku dan meninggalkanku? Aku takut karena sekarang ini aku terlalu bergantung padanya, aku takut hidup sendiri, Bibi. Kalau tidak ada Dong-Hae di sampingku, jika hal itu benar-benar terjadi, apa yang harus kulakukan?”

“Dong-Hae tidak akan meninggalkanmu, Sun-Ae-ya. Dia mencintaimu.”

Sun-Ae tersenyum masam, ia ingin memiliki kepercayaan diri seperti itu juga.

“Hati manusia selalu berubah, Bibi. Suatu hari nanti Dong-Hae pasti akan melupakanku. Kenangan kami akan hilang, dan dia akan meninggalkanku.” Sun-Ae mengembuskan napas. “Memikirkan Dong-Hae yang pergi dariku saja aku sudah sangat takut Bibi, rasanya mengerikan sekali kalau hal itu benar-benar terjadi.”

Lama, tidak ada yang besuara. Sun-Ae melirik ibu Dong-Hae. Wanita itu masih cantik walau telah berumur. Wanita cantik yang telah melahirkan makhluk seindah Dong-Hae, wanita yang dicintai Dong-Hae.

“Kalau begitu jangan meninggalkannya.”

Sun-Ae menoleh dengan alis berkerut samar. “Apa maksud bibi?”

Ibu Dong-Hae tersenyum lembut. Beliau menarik Sun-Ae ke dalam pelukannya dan membelai rambut gadis itu. “Berjanjilah pada bibi bahwa kau tidak akan pernah meninggalkan anak nakal itu sendirian. Berjanjilah bahwa kau akan tinggal di sisinya, hari ini, besok, dan seterusnya, bertahanlah untuknya.”

***

Butuh waktu tiga bulan agar Dong-Hae mulai bisa pulih kembali. Hal itu melebihi perkiraan dokter yang menaksir waktu sekitar satu bulan untuk mengatasi radang hati yang dialami Dong-Hae. Karena penumpukkan obat yang terus-menerus, Dong-Hae mengalami gangguan dengan ginjalnya. Hal ini membuat Dong-Hae harus menjalani cuci darah setiap tiga bulan sekali sampai Dokter menyatakan untuk tidak melakukan cuci darah lagi.

Ini adalah masa-masa sulit bagi Dong-Hae, bagi Sun-Ae juga.

Dong-Hae tidak bisa lagi beraktivitas semaunya, yang lebih membuatnya sakit adalah kerja keras Sun-Ae untuk membiayai pengobatannya yang tidak murah. Gadis itu bekerja siang malam sampai tidak makan, biasanya Sun-Ae datang ke rumah sakit dengan wajah yang terlihat sangat lelah dan lusuh karena bekerja, gadis itu sempat beberapa kali pingsan karena kelelahan. Tapi dia tidak pernah mengeluh, tidak pernah memperlihatkan rasa sakitnya di hadapan Dong-Hae.

“Kau ingin apel atau jeruk?”

Dong-Hae memandangi Sun-Ae yang duduk di kursi di sebelah ranjang tidurnya. Gadis itu baru selesai mengepel rumah setelah pagi tadi mengantar susu dan koran. Dong-Hae heran seberapa kuat gadis itu hingga bisa melakukan segalanya sendirian. Dong-Hae mengembuskan napas, keadaannya lebih baik sekarang dan Dong-Hae sudah diperbolehkan pulang dua hari yang lalu untuk di rawat di rumah oleh Sun-Ae.

“Aku mau tidur.”

Alih-alih kecewa atau marah, Sun-Ae malah tersenyum hangat, dia sama sekali tidak lelah. Asalkan Dong-Hae merasa lebih baik dan Dong-Hae ada di sini bersamanya, semuanya bukanlah masalah.

“Baiklah,” kata Sun-Ae akhirnya. Ia memperbaiki selimut dan bantal Dong-Hae, lalu tersenyum pada laki-laki itu. “Aku senang kau di rumah.”

Dong-Hae tidak membalasnya, wajahnya malah terlihat muram.

“Aku ada di luar kalau kau butuh apa-apa.” Sun-Ae mengangguk pelan ketika melihat Dong-Hae memejamkan matanya. “Kau tinggal memanggilku kalau,”

“Tidurlah.”

“Eh?”

Dong-Hae menepuk sisi kosong di sampingnya. “Tidur di sini. Temani aku.”

***

Aku ingin makan daging,”

Sun-Ae tersenyum manis ketika memeriksa belanjaannya, semalam ia tidur dalam pelukan Dong-Hae. Setelah sekian lama, ia kembali merasakan pelukan hangat laki-laki itu. Semalam Dong-Hae bicara padanya, Dong-Hae bilang ia tidak merasa sakit lagi, dia bilang dia merasa lebih baik sekarang, dia bilang ingin makan daging buatan Sun-Ae, dia bilang dia merindukan Sun-Ae.

Dan semalam adalah malam dimana Sun-Ae bisa tidur nyenyak selama dua tahun terakhir.

Sun-Ae tersenyum ketika ia mengingat bagaimana ia bangun pagi ini, ketika itu masih ada Dong-Hae di sisinya, dan rasanya benar-benar… rasanya benar-benar baik, dan menakjubkan.

Sun-Ae membuka pintu rumah dengan gerakan pelan, takut membangunkan Dong-Hae. Sun-Ae memang sengaja pergi ke pasar pagi-pagi sekali untuk membeli bahan makanan, Sun-Ae membeli semua yang disukai Dong-Hae. Ini adalah hari istimewa bagi laki-laki itu.

Sun-Ae meletakkan belanjaannya di dapur, lalu mencari Dong-Hae ke kamar tidurnya. Tidak ada. Dong-Hae tidak ada di sana dan kamar itu telah bersih. Sun-Ae dapat menghirup aroma shampoo Dong-Hae, tapi laki-laki itu juga tidak ada di kamar mandi.

Sun-Ae bingung, tapi semalam Dong-Hae bilang ia merasa lebih baik, mungkin saja ia sedang keluar mencari udara segar di pagi hari seperti yang sering ia lakukan dulu, Sun-Ae mengangkat bahu dan menuju dapur, lebih baik ia mulai menyiapkan makanan sekarang sebelum laki-laki itu tiba di rumah.

***

Dong-Hae belum pulang.

Ini sudah pukul 09.56 malam dan laki-laki itu tidak juga memberi kabar.

Sun-Ae menggigit bibir bawahnya dengan ragu. Ia melirik ponselnya sekilas kemudian mendongak menatap club yang ia benci setengah mati. Entah apa yang membawanya ke tempat ini, mungkin sebuah harapan rapuh yang tidak ingin ia percaya. harapan rapuh yang muncul ditengah-tengah keputus asaannya menunggu Dong-Hae pulang. Walaupun ia ingin sekali bertemu dengan Dong-Hae, tapi jauh di lubuh hatinya Sun-Ae tidak ingin menemukan Dong-Hae di tempat ini.

Tapi Sun-Ae melihatnya.

Tepat setelah ia masuk ke dalam club berisik itu, di dekat bar ia melihat Dong-Hae. Dia berdiri di sana dan bercumbu dengan gadis yang sama.

“Dong-Hae-ya,” Sun-Ae berdiri tegang di samping Dong-Hae. Ia seakan berhenti bernapas ketika laki-laki itu menatapnya. Mata itu lagi. Mata dua tahun terakhir yang terlihat menakutkan bagi Sun-Ae. Mata dingin milik seorang Lee Dong-Hae. “Ayo pulang.”

“Pulanglah,” Bagus. Sekarang Dong-Hae mengakui keberadaannya. Setidaknya ini lebih baik daripada ia mengaku tidak mengenal Sun-Ae seeprti tempo hari. “Dan jangan datang ke tempat ini lagi.”

Sun-Ae merasa dadanya sakit, tapi ia berusaha terlihat normal ketika berkata, “Aku masak daging kesukaanmu. Ada ikan dan udang juga, mau makan malam bersama? Aku akan menghangatkannya untukmu, bagaimana?”

Sun-Ae melihat mata Dong-Hae melembut, entah apa yang laki-laki itu pikirkan ketika ia tersenyum lemah pada Sun-Ae. Senyum itu begitu manis… terlalu manis untuk diberikan pada saat seperti ini.

“Dong-Hae-ya, ayo pulang bersamaku.”

Dong-Hae masih tersenyum pada Sun-Ae. Laki-laki itu terlihat berpikir dan mulai melepaskan pelukan gadis sialan di hadapannya. Ia lalu melangkah mendekati Sun-Ae.

“Lee Dong-Hae, apa yang kaulakukan?!”

Sun-Ae tersentak ketika gadis jalang itu mencekal tangan Dong-Hae, lalu dengan satu gerakan cepat ia memeluk Dong-Hae, dan saat itulah Sun-Ae merasa Dong-Hae ditarik paksa darinya.

“Kau bilang gadis itu hanya pengganggu, jadi biarkan saja dia. Abaikan dia seperti yang selalu kaulakukan dulu. Malam ini milik kita, jangan biarkan dia merusaknya.”

“Nona, jaga bicaramu,” Sun-Ae meju selangkah, ia menggenggam tangan Dong-Hae yang lain dan menatap gadis asing itu. “Dong-Hae belum pulih, dia butuh istirahat. Dia tidak boleh—“

“Dia akan istirahat denganku.” Gadis itu tersenyum merendahkan. “Dia akan tidur denganku. Bukan dengan gadis miskin sepertimu, dia akan bersenang-senang dan melakukan apapun yang kukatakan malam ini, Dong-Hae milikku dan kau hanya pesuruhnya yang kurang ajar, kau hanyalah—sialan!”

Sun-Ae terbelalak kaget. Ia sendiri tidak sadar mengapa ia melakukannya. Mengapa ia menampar gadis itu dengan keras. Sun-Ae melihat pipinya memerah dan air matanya nyars turun. Tapi kata-katanya begitu menyakitkan di telinga Sun-Ae. Apa katanya? Dong-Hae akan melakukan apapun yang dia katakan? Memangnya dia siapa?!

“Sudah kubilang untuk menjaga cara bicaramu, Nona. Dong-Hae tidak akan melakukan apa yang kaukatakan, dia akan pulang dan tidak akan kembali lagi,” Sun-Ae mengambil jeda sejenak ketika merasakan genggaman Dong-Hae ditangannya mengeras, terlalu keras hingga Sun-Ae merasa sakit. “Akan kupastikan Dong-Hae tidak akan kembali dan tidak akan bertemu denganmu lagi.”

“Coba saja,” gadis itu tersenyum mengejek. “Aku ingin lihat seberapa jauh kau bisa membuktikan apa yang kau katakan, aku ingin lihat apa yang bisa dilakukan gadis rendah sepertimu.”

“Kau—“

“Ayo pergi!”

“Dong-Hae-ya, lepaskan!”

“Ayo pulang!”

Sun-Ae terseret karena Dong-Hae menggenggam erat tangannya dan melangkah lebar-lebar menuju pintu keluar.

“Gadis itu tidak bisa seenaknya bicara, dia… Dong-Hae-ya… dia merendahkanmu, dia mengejek kita. Gadis itu harus diberi pelajaran—“

“Kau yang harusnya diberi pelajaran!!”

Dong-Hae menghentakkan tangan Sun-Ae ketika mereka sampai di pintu keluar di salah satu sisi gedung club tersebut.

“Kenapa kau selalu datang ke tempat ini? Kenapa kau terus mencariku? Kenapa kau begitu mengganggu dan menyusahkanku?!”

Sun-Ae terdiam dan berusaha memahami apapun yang keluar dari bibir Dong-Hae.

“Aku lelah denganmu yang selalu mengaturku. Kenapa kau tidak juga berubah? Sejak dulu ketika masih kecil, remaja bahkan dewasa kau terus mengikutiku dan merecokiku. Kau benar-benar pesuruhku? Kau benar serendah itu? Apa kau tidak punya pekerjaan lain selain mencampuri semua urusanku?! Sudah berapa kali kukatakan padamu, aku…”

Dong-Hae menahan napas ketika melihat air mata Sun-Ae turun. Gadis itu menangis. Mengingatkan Dong-Hae pada gadis kecil belasan tahun lalu yang ia temui sedang menangisi kepergian ayah dan ibunya.

“Sun-Ae-ya, aku lelah dan semuanya. Aku ingin menyelesaikannya. Sungguh, aku lelah.”

Butuh kekuatan besar dan kendali diri yang kuat bagi Dong-Hae untuk mengatakan itu semua, butuh keyakinan dan tekat yang kuat bagi Dong-Hae untuk berdiri tegak di hadapan Sun-Ae dan mengatakan itu semua.

“Aku bawa makanan.”

Dong-Hae menutup matanya dan menarik napas dalam-dalam. Gadis itu bertingkah seperti itu lagi.

“Kau mau kita mencari tempat duduk dan makan malam bersama?”

Dong-Hae menarik Sun-Ae ke arah salah satu mobil di sana ketika gadis itu mengambil sebuah kotak makanan yang tergantung di sepeda. Sun-Ae menurut dan duduk di kursi penumpang sementara Dong-Hae berada di balik kemudi.

“Mobilmu?” tanya Sun-Ae ketika mereka telah sampai di pinggir sungai Han, Sun-Ae menatap Dong-Hae dengan cemas, tadi ia mengemudikan mobil dengan sangat kencang, Sun-Ae sampai lupa bertanya karena sibuk meredam rasa takutnya. “Dong-Hae-ya… ini…”

“Jangan sentuh apapun!”

Tangan Sun-Ae gemetar dan ia menatap Dong-Hae dengan tatapan tidak percaya.

“Mobil ini… obat-obatan itu… Dong-Hae-ya, apa sebenarnya yang kaulakukan selama ini?”

Dong-Hae menghela napas berat dan kekesalannya teah mencapai ubun-ubun.

“Sudah kubilang jangan campuri urusanku.”

“Kau berhubungan dengan wanita itu.”

“Ya, memang benar. Lalu kenapa?”

“Dia yang memintamu memakai obat-obatan itu? Dia menjerumuskanmu, Dong-Hae-ya. Jauhi dia dan tinggalkan dia.”

“Kau tidak bisa seenaknya mengatakan hal itu,” Dong-Hae mencengkram kemudinya kuat-kuat. “Kau bukanlah siapa-siapa.”

Sun-Ae sudah sering mendengar ini, tapi, “Aku menyayangimu.”

Dong-Hae memalingkan wajahnya, ia tidak sanggup menatap mata Sun-Ae yang berair. Mendengar suaranya yang bergetar membuat dada Dong-Hae sakit, dan ia mengutuk dirinya sendiri karena menyakiti gadis itu lagi.

“Dong-Hae-ya…” Dong-Hae menoleh. Ia melihat Sun-Ae menangis. Dan dadanya sesak. “Selamat ulang tahun.”

Han Sun-Ae tersenyum pada Dong-Hae tapi air matanya terus berjatuhan. Dong-Hae tidak bisa melakukan apa-apa kecuali memandangi gadis itu dengan rasa menyesal yang memenuhi dadanya.

“Aku menyiapkan sup rumput laut, juga kue kesukaanmu. Ayo ucapkan permohonan dan tiup lilinnya.”

Dong-Hae kembali memandangi sungai dari jendela. Ia tidak ingin melihat wajah Sun-Ae yang basah.

“Dong-Hae-ya… lilinnya akan meleleh.”

“Dong-Hae-ya, ucapkan permohonanmu lalu berdoalah, dan seluruh permohonanmu akan terkabul.”

Sun-Ae menanti, ia menunggu Dong-Hae menatapnya dan tersenyum padanya. Harapan itu terwujud. Dong-Hae menatap Sun-Ae lemah namun ia sama sekali tidak tersenyum ketika mengucapkan permohonannya.

“Aku ingin kau pergi dari hidupku. Selamanya. Dan jangan pernah muncul di hadapanku lagi, sekuat apapun usahaku untuk memintamu kembali, jangan pernah kembali lagi.”

***

Lee Dong-Hae merasa tidak memiliki semangat hidup.

Sudah dua hari ia berada di luar rumah setelah malam dimana ia menurunkan Sun-Ae di pinngir sungai Han dan dan mengusir gadis itu dari hidupnya.

Dong-Hae bahkan tidak berani pulang ke rumahnya sendiri karena takut akan terjebak dalam kenangan gadis itu.

Selama dua hari ini, ia tidak melihat Sun-Ae dan tidak mendengar suara gadis itu, dan rasanya… mengerikan.

Dong-Hae membuka pintu rumah dan melangkahkan kakinya masuk.

Dulu biasanya suara lembut Ibu Dong-Hae akan menyambutnya, menanyakan bagaimana harinya dan mengajaknya makan malam. Di meja makan ia akan bercerita dan melempar canda dengan Sun-Ae, sesekali ulah mereka membawa pertengkaran kecil dan membuat Ibu Dong-Hae tertawa. Senyum Sun-Ae dan Ibunya seakan memberikan kekuatan baru bagi Dong-Hae. Lelah bekerja seharian terbayar dengan senyuman dua wanita terpenting dalam hidupnya. Dong-Hae merindukan masa-masa itu. Ia rindu sekali.

“Sun-Ae-ya… aku bawa puding strawberry kesukaanmu, cepat datang atau pudingnya kuhabiskan sendiri… Sun-Ae-ya?”

Dong-Hae duduk di sofa ruang tengah seorang diri. Seluruh ruangan gelap dan hanya diterangi cahaya bulan dari sela-sela jendela. Dong-Hae tidak mabuk, sungguh tidak… dia hanya merindukan gadis itu terlalu banyak.

“Sun-Ae-ya… tidak usah memasak. Kita makan di luar malam ini, aku punya uang, tenang saja.”

“Cepat mandi dan tidur! Lebih baik kau beristirahat dan jangan keluar lagi. Di luar mulai dingin.”

Dong-Hae tersenyum kecil, ia terlalu hapal apa yang akan ia dengar. Ia tahu betul apa yang akan gadis itu katakan. Masalahnya sekarang adalah gadis itu tidak ada di sini. Dia pergi karena Dong-Hae yang memintanya.

“Aku akan mandi sebentar lagi!”

Dong-Hae menangis. Sesak itu datang lagi.

Ia memandangi sebuah foto dirinya, ibunya dan Sun-Ae yang tersenyum ke arah kamera, mereka terlihat bahagia.

“Eomma berbohong padaku, Eomma bilang tidak akan meninggalkanku,tapi Eomma melakukannya.”

Dong-Hae menangis tersedu-sedu, ia merindukan ibunya, ia butuh pelukan ibunya, ia butuh Han Sun-Ae dan Ibunya di sini sekarang.

Setelah lelah menangis, Dong-Hae jatuh tertidur. Dan ia bertemu dengan gadis itu. Gadis yang ia rindukan setengah mati itu.

“Hai,”

“Kau di sini?”

“Hmm.”

“Menungguku?”

“Menunggumu.”

Dong-Hae tersenyum hangat ketika ia menaiki bukit yang menghadap matahari terbenam itu. Dulu ia sering ke tempat itu bersama Sun-Ae mereka menikmati waktu berdua dengan bahagia, seperti sekarang.

“Bagaimana harimu?” tanya Sun-Ae ketika Dong-Hae telah berbaring di atas pangkuannya.

“Buruk sekali.”

“Kenapa begitu?”

“Aku tidak bisa menemukanmu di mana-mana.”

“Bukankah kau menyuruhku untuk pergi?”

Dong-Hae membuka matanya yang sempat terpejam dan tersenyum miris melihat wajah Sun-Ae yang terlihat lain.

“Apa kau akan benar-benar pergi jika aku menyuruhmu untuk pergi?”

Sun-Ae terlihat sedih, tapi Dong-Hae melihatnya tersenyum ketika mata mereka bertemu. “Tentu.”

Dong-Hae menghela napas berat. “Kalau begitu harusnya kau kembali ketika aku memintamu untuk kembali.”

“Mungkin,” Sun-Ae mengelus rambut Dong-Hae yang begitu halus. Dan Dong-Hae merasakan tangannya yang begitu dingin. “Kau harusnya bisa hidup dengan baik.”

“Aku tidak mau,”

“Kenapa?”

“Aku ingin menemui Eomma.”

“Kau tidak boleh bicara seperti itu. Ada aku di sini. Aku menjagamu. Aku akan terus di sisimu. Aku tidak akan meninggalkanmu.”

“Kau berbohong. Eomma juga mengatakan hal yang sama, bahwa dia tidak akan meninggalkanku, tapi dia meninggalkanku. Aku membencinya yang meninggalkanku. Dan jangan buat aku membencimu juga karena hal itu.”

Sun-Ae tersenyum manis, amat manis hingga mampu membuat napas Dong-Hae tertahan.

“Kalau aku tetap di sini, apakah kau akan membenciku?” tanyanya dengan suara kecil. Tatapannya penuh luka juga penderitaan. “Kalau aku tinggal di sisimu, apakah kau masih akan membenciku?”

“Aku membencimu jika kau meninggalkanku.”

“Aku tidak akan meninggalkanmu jadi jangan membenciku.”

Kecupan dingin itu terasa begitu menyakitkan bagi Dong-Hae. Ia ingin merasakan bibir hangat gadis itu, bukan bibir beku yang membuat sekujur tubuhnya terasa sakit. Sun-Ae-ya… kau sakit?

“Aku mencintaimu, Lee Dong-Hae. Kau harus percaya itu.”

Ketika terbangun dari mimpinya, Dong-Hae terkulai lemas di atas sofa. Ia memungut ponsel dan menyalakannya. Ia ingat ia sengaja mematikan benda persegi itu agar Sun-Ae tidak menghubunginya. Dan sekarang ia sungguh menyesal.

Dong-Hae memejamkan matanya, banyak pesan yang masuk.

Tapi tidak ada dari gadis itu.

Lima menit kemudian, nama itu muncul di layar.

Sebuah Voice mail dari gadis itu.

Selamat ulang tahun, Lee Dong-Hae…

Dong-Hae langsung meraih ponselnya karena ada sebuah panggilan masuk.

Dong-Hae mendengarkan dengan seksama, ia bahkan menahan napas agar bisa mendengarkan dengan baik dan tidak melewatkan apapun.

Ketika panggilan itu berakhir, Dong-Hae tahu bahwa dunianya juga berakhir.

***

“Aku membencimu, Sun-Ae-ya. Sungguh.”

Dong-Hae mengelus lemah tangan Sun-Ae yang ada dalam genggamannya. Takut tangan itu akan terkelupas jika ia mengelusnya terlalu keras.

“Pulanglah ke rumah, Sun-Ae-ya.”

Dong-Hae menangis, sekarang ia tahu bahwa apapun yang ia lakukan tidak akan membawa Han Sun-Ae kembali ke rumah.

“Kami sudah berusaha menghubungi Anda sejak dua hari yang lalu. Dia adalah korban pemerkosaan dan pembunuhan, kami tidak dapat menemukan apapun kecuali ponsel dan kontak Anda di sana. Hasil otopsi menyatakan korban meninggal dunia tanpa sebelah ginjalnya.”

Kalau saja malam itu Dong-Hae mengantarnya pulang, Sun-Ae mungkin masih ada di rumah. Kalau saja malam itu Dong-Hae mengantarnya pulang, Sun-Ae mungkin masih bisa didengar suaranya. Kalau saja malam itu Dong-Hae mengantarnya pulang, Sun-Ae tidak akan berjalan sendirian dan menjadi korban pembunuhan.

“Kau meninggalkanku, kau berbohong.”

Wajahnya yang pucat itu sama sekali tidak mengurangi kecantikannya. Di mata Dong-Hae, Sun-Ae-nya masihlah gadis manis dengan semburat merah muda layaknya kelopak sakura di pipinya yang putih. Hanya saja sekarang Han Sun-Ae sedang sakit, makanya dia tidur. Makanya dia tidak bangun dan bicara pada Dong-Hae.

“Kenapa kau melakukannya? Kenapa kau begitu bodoh dan bersikap seolah kau kuat hidup hanya dengan satu ginjal? Kenapa memberikannya padaku?

“Sun-Ae-ya… jangan lakukan ini padaku. Kumohon kembalilah.”

***

Selamat ulang tahun, Lee Dong-Hae…

Aku sudah bilang, kan? Kalau aku akan mengucapkan selamat ulang tahun padamu bahkan ketika kau berumur sembilan puluh sembilan tahun.

Ah… aku harap aku masih bisa berada di sisimu sampai saat itu.

Dong-Hae-ya… sekarang banyak yang berubah, bukan?

Padahal aku berharap tidak akan ada yang berubah.

Dulu aku tidak pernah takut akan kehilanganmu, sungguh. Tapi karena aku terlalu percaya diri bahwa kau akan selalu di sisiku, ketika saat-saat seperti ini datang, aku diserang rasa takut yang luar biasa. Iya, aku takut kau meninggalkanku. Walaupun sejak awal kau telah mengatakan bahwa kau lelah denganku, aku tetap bertahan karena sebuah harapn rapuh yang mati-matian telah kuperjuangkan hingga hari ini.

Aku percaya, walau kau pergi dariku, hatimu akan tetap tinggal bersamaku. Aku benar, bukan? Lee Dong-Hae? Semoga saja begitu.

Dong-Hae-ya… hari-hari berlalu begitu cepat dan aku merasa hari-hariku semakin pendek untuk terus menjagamu. Sejak kau masuk rumah sakit hari itu, sejak aku mendengar apa yang Dokter katakan padaku, rasanya… rasanya aku takut sekali, takut kalau tiba-tiba kau akan pergi dan tidak akan kembali padaku lagi.

Tapi kemudian aku tersadar, kemudian, perlahan-lahan, aku mulai percaya. Percaya bahwa ternyata yang namanya Tuhan itu benar-benar ada. Dan yang namanya Tuhan dan dimanapun Dia berada itu sangatlah baik.

Kau dikembalikan padaku, dan aku berjanji akan melakukan apapun untukmu.

Apapun.

Termasuk pergi darimu.

Malam ini adalah malam hari kelahiranmu, dan kau memintaku untuk pergi untuk kesekian kalinya, saat melihat matamu yang seperti itu… apa yang harus kulakukan? Aku sungguh tidak sanggup pergi darimu. Aku takut hidup sendiri tanpa kau, Lee Dong-Hae. Tidakkah kau mengerti?

Tapi kemudian aku berpikir, dan sekali lagi aku tersadar. Kau benar… aku bukanlah siapa-siapa.

Aku harusnya tahu diri karena kau dan Ibumu begitu baik padaku.

Kurasa sudah waktunya aku melepasmu dan membiarkanmu meraih kebahagiaanmu sendiri.

Aku akan pergi, Lee Dong-Hae. Karena kau yang memintanya, aku akan pergi…

Asalkan kau berjanji padaku untuk hidup dengan baik, ya? Lee Dong-Hae?

Oh ya, ada hal lain yang ingin kukatakan padamu.

Ibumu menyanyangimu, pun aku, kami mencintaimu. Jadi jangan pernah berpikir bahwa kau sendirian, jangan pernah berpikir bahwa kami meninggalkanmu.

Lee Dong-Hae, ah bukan, Dong-Hae-ya… aku ingin sekali memanggil namamu sekali lagi sebelum aku pergi, tapi sepertinya itu mustahil karena kau tidak ingin melihatku lagi, kan?

Terima kasih karena telah menjadi Lee Dong-Hae. Dong-Hae-ku yang begitu manis. Terima kasih telah menjadi segalanya dalam hidupku. Untuk tinggal di hatiku, terima kasih.

Aku sayang padamu.

Selamat ulang tahun.

Tolong sehatlah selalu.

Aku mencintaimu.

Aku pergi.

-the end-

4 Comments (+add yours?)

  1. starlily16
    Sep 21, 2015 @ 21:48:52

    Berasa kurang klimaksnya kak.. penyesalan donghae gak sebanding sama yg dikorbankan sun ae, pas donghae nyesel kurang greget gmna gitu, lagipula blm ada penjelasan knpa si donghae main wanita dan pake narkoba.. aku harap di cerita yg kamu buat lg bisa punya ide cerita yg menarik tp jelas dan mudah dimengerti, maaf ya kak kalo komen aku ga enak dihati.. cuma menurut aku bnyk yg hrs aku sampaikan.. semoga bisa menjadi perbaikan untuk kedepannya .. fighting!! ^^

    Reply

  2. nan
    Sep 22, 2015 @ 14:54:40

    huaaaaa masa meninggal si jangan dong kasian masa dia sedih terus harusnya donghae gila aja tuh -.-

    Reply

  3. Nissamdt
    Sep 23, 2015 @ 15:59:51

    Yeuuuuu sedih lagi
    Salah baca gini di kantor, alhasil nahan air mata malah idung yg meler…
    Si donghar mah patah semangat banget gegara ditinggal emaknya doang. Huh 😤

    Reply

  4. resha
    Sep 30, 2015 @ 15:06:40

    aaaa…… kenapa bisa sesedih ini perjalan hidup sun ae.keren thor.

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: