Ever Have

75

Nama : Azizashi You
Judul Cerita : Ever Have
Tag (tokoh/cast) : Cho Kyu-Hyun, Kim So-Eun(OC), and other
Genre : Romance, little hurt
Rating : PG-15
Length : One-Shot
Catatan Author (bila perlu): Hay, kalian, apa kabar di sana? ini saya kirim FF lagi. Dan seperti biasa. Kalian bisa liat FF saya yang lain di
http://theskystale.wordpress.com/

==Ever Have==

“Kyu-Hyun.”

Kyu-Hyun memutar kepala ke belakang masih dengan tatapan datar juga tangan yang dimasukkan ke dalam saku. Melihat gadis bertubuh mungil berlari-lari kecil menghampirinya, plus senyum lebar khas gadis itu.

“Kau tidak bersama Dae-Hyun?” Tanya So-Eun saat sampai tepat di depan Kyu-Hyun.

Kyu-Hyun tak menjawab. Ia kembali berjalan tanpa perduli wajah So-Eun yang merengut sebal karena kembali diabaikan. So-Eun buru-buru menjajari langkahnya dengan Kyu-Hyun.

“Malam ini malam minggu.” So-Eun menatap langit dengan mata berbinar. Lalu wajahnya kembali ia turunkan dan menatap heran paras tampan Kyu-Hyun. “Kyu-Hyun, aku bilang malam ini malam minggu.”

“Lalu?” Kyu-Hyun berhenti melangkah. Sebelah alisnya terangkat. Dia bukannya sama sekali tidak mengerti dengan maksud So-Eun. Gadis yang selama empat bulan ke belakang menyandang status sebagai kekasihnya.

“Masa kau tidak mengerti?”

Tentu saja ia mengerti. Malam yang entah sejak kapan menjadi waktu favorit untuk sebagian besar pasangan untuk memadu kasih. Oh, Kyu-Hyun bahkan bingung apa yang istimewa dari malam itu. Hanya sekedar mengajak kekasih berkencan atau berjalan-jalan keluar. Dan kabar buruknya Kyu-Hyun tak pernah menyukai hal semacam itu.

“Aku banyak pekerjaan,” kilahnya cepat. Terlalu cepat sampai nada bicaranya terdengar sinis dan tak suka.

“Hanya sekali, lagipula kita kan jarang pergi berkencan.”

“Kalau kau mau pergi. Maka pergilah sendiri. Aku sibuk!”

So-Eun terkejut mendengar suara Kyu-Hyun yang naik satu oktaf. Pria itu tiba-tiba saja berbalik, berjalan menuju halte bus terdekat, meninggalkan So-Eun sendirian.

Sambil berjalan Kyu-Hyun meruntuki dirinya sendiri. Bagaimana bisa ia berkata sekasar itu pada So-Eun? Bahkan dalam hatipun ia sama sekali tak punya niatan untuk menolak permintaan kekasihnya dengan alasan sibuk.

Kadang Kyu-Hyun merasa gusar dengan sikap datarnya yang kelewat akut.

Dan tak butuh waktu lama hingga Kyu-Hyun sampai di halte terdekat. Mendudukkan diri si kursi panjang yang ada di sana sambil menatap sekeliling. Detik berikutnya pandangan mereka kembali bertemu. So-Eun yang entah begaimana kini sudah berdiri di depannya

“Kyu-Hyun,” Pantau So-Eun lembut. Gadis itu ikut duduk di samping Kyu-Hyun dengan wajah menggemaskan. Sepertinya ia harus menahan tangannya mati-matian agar tidak mencubit pipi So-Eun karena gemas.

“Kau marah?”

Kyu-Hyun mengalihkan wajahnya ke samping. “Tidak,”

“Maaf,” So-Eun menghela napas sejenak. “Aku hanya ingin merasakan kencan seperti pasangan lainnya. Bersamamu, bukan dengan yang lain atau bahkan sendirian.”

“Kau tidak salah, jadi jangan minta maaf.”

“Ya,” senyum So-Eun mengembang lebar. “Kita lupakan masalah kencan. Kita kan bisa…”

“Hay,”

So-Eun dan Kyu-Hyun mengangkat wajah serentak. Mereka sama-sama terkejut melihat pria berbalut kemeja biru toska di depan mereka yang tengah tersenyum manis. Bahkan sampai dua lekukan manis dikedua sisi pipi pria itu semakin terlihat.

“Chang-Min,” pekik So-Eun girang. Saking girangnya gadis itu berdiri lalu memegang kedua tangan Chang-Min dan menggoyang-goyanggkannya.

“Cih,” Kyu-Hyun mendesis tak suka. Walau air mukanya masih saja datar. Namun entah untuk alasan apa Kyu-Hyun merasa ada sesuatu yang terasa panas dalam dirinya. Menjalar ke seluruh tubuh sampai ke ubun-ubun lalu berhenti di sana. Ia hampir saja meledak saat melihat So-Eun ikut tersenyum manis pada pria berkemaja biru toska itu.

Pria yang ia ketahui sebagai salah satu pengagum rahasia So-Eun.

“Apa yang kalian lakukan di sini?” Tanya Chang-Min ramah meski ia sadar tatapan Kyu-Hyun sama sekali tak bersahabat.

“Kami baru mau pulang,” So-Eun mengalihkan kepalanya ke samping. “Lalu mengapa kau bisa ada di sini?”

“Tadi aku tidak sengaja lewat sini dan melihat kalian.” Chang-Min tersnyum sejenak, “Omong-omong, malam ini kau ada acara, So-Eun?”

So-Eun sudah ingin tersenyum menjawab ‘iya’ namun menelan suaranya kembali karena teringat dengan penolakan Kyu-Hyun barusan.

“Tidak,”

“Benarkah?” Mata Chang-Min berbinar senang. “Kau mau ikut denganku? Malam ini ada acara festival mingguan.”

Mata gadis itu semakin berbinar senang. Chang-Min memang selalu tahu apa yang ia sukai. Lalu didetik berikutnya So-Eun berbalik menatap Kyu-Hyun. Seperti meminta izin kepada pria itu untuk pergi bersama Chang-Min.

Bukannya menjawab Kyu-Hyun justru memalingkan wajahnya. Apa maksud tatapan memohon So-Eun seperti itu?

“Kyu-Hyun, boleh, ya?”

“Kau tidak butuh izinku.”

Oh Tuhan… Kyu-Hyun memejamkan mata sejenak. Apa yang ia katakan tadi? Bagaimana bisa ia mengatakan So-Eun tidak butuh izinnya? Kyu-Hyun kembali meruntuki diri dalam hati. Umpatan juga ia keluarkan sebagai bentuk kekesalan pria itu dengan ucapannya yang di luar nalar.

“Kalau begitu sampai bertemu nanti malam.”

Chang-Min berlalu dari hadapan mereka. Hening untuk beberapa saat hingga terdengar suara deruan mesin dari bus yang entah sejak kapan sudah berheti di depan mereka.

Kyu-Hyun sontak berdiri lalu naik ke bus. Tanpa harus repot-repot menggiring So-Eun yang kesusahan karena kondisi bus yang penuh sesak. Kyu-Hyun berdiri tepat di samping bangku kedua dari barisan belakang. Satu tangannya terangkat untuk berpegangan pada besi panjang yang ada di sana.

Berbeda dengan So-Eun. Gadis itu merasa sedang menaiki Rolle Couster daripada bus. Tubuhnya terombang-ambing mengikuti kemauan supir. Kadang tersentak ke belakang atau terdorong ke depan. Bahkan beberapa kali bahu So-Eun bertambrakan dengan tubuh orang-orang di sekitarnya.

Hingga detik berikutnya So-Eun merasakan seseorang menarik tangannya kuat. Hampir saja ia terjatuh mencium lantai bus kalau tangannya tidak cepat-cepat mencari pegangan. So-Eun mendongak dan menemukan Kyu-Hyun tengah memegangi lengannya. Dan untuk sejenak, So-Eun kehilangan tenaga untuk menarik napas.

“Kau bisa terinjak orang jika terus berdiri di situ.” Kyu-Hyun berbalik, “Pegang tasku, jangan dilepas sampai kita turun di halte.” Ucapnya tegas tak terbantahkan.

So-Eun menelan ludahnya perlahan. Menatap punggung Kyu-Hyun yang bergantung tas ransel hitam. Dengan ragu ia mengangkat tangannya lalu memegang erat bagian depan ransel itu. Mungkin ini akan membantunya jika supir bus di depan sana kembali menginjak pedal tiba-tiba.

_o0o_

Kyu-Hyun merasa gelisah sejak dua jam yang lalu. Dan pria itu semakin gelisah saat ia tak menemukan satupun alasan yang logis untuk kegelisahannya itu. Sungguh, ini pertama kalinya Kyu-Hyun merasakan cemas yang berlebihan.

Semuanya baik-baik saja. pekerjaan kantor, dokumen pekerjaan, atau hal apapun yang biasanya membuat pria itu gusar. Jadi apa yang membuatnya seperti ini?

Kyu-Hyun menatap langit malam dengan sendu. Tiba-tiba saja ia teringat dengan wajah So-Eun yang tersenyum cerah padanya. Oh, ia ingat. Bukankah malam ini So-Eun akan pergi ke festival bersama Chang-Min?

Seketika jantung Kyu-hyun melompat keras memukul dada. Membuat sesuatu di dalam dirinya tersulut amarah. Apa-apaan dia? Marah untuk apa?

Dengan gerakan cepat Kyu-Hyun meraih ponselnya di dalam saku. Lalu dengan tidak sabar menekan tombol yang ada pada benda canggih itu dan mendekatkannya ke telinga.

Lima menit ia menunggu dan tak ada sedikitpun suara So-Eun yang terdengar. Sekali lagi ia mencoba namun gagal. Lagi, lagi, dan lagi Kyu-Hyun menekan nomor yang sama. Namun sebanyak itu juga ia mendengar suara merdu operator.

“Sialan!” Umpatnya, “Dia sesibuk apa, sih?”

Kyu-Hyun akhirnya menyerah. Ia melempar ponselnya sembarangan ke lantai lalu menatap langit kembali. Deruan napas panjang pria itu terdengar. Merasa sangat berat dengan hal aneh di sudut hatinya yang masih belum ia mengerti.

Perasaannya kacau. Marah, kesal, sedih, menyesal. Seperti akan ada sesuatu yang akan meledak di kepalanya.

Kyu-Hyun, pria itu… merasa terabaikan.

Buru-buru Kyu-hyun mengambil kunci mobilnya lalu melesat membelah jalanan kota. Hanya butuh waktu lima belas menit bagi Kyu-Hyun untuk sampai di tempat tujuannya,

Kakinya melangkah lebar menelusuri tempat itu. Matanya menatap liar ke segala arah.

_o0o_

Jantung Kyu-Hyun seperti jatuh ke tanah saat fokus lensanya menatap So-Eun dari kejauhan. Gadis itu berpegangan tangan dengan Chang-Min. Bahkan ia bisa melihat dengan jelas kalau mereka saling berbicara serius sambil bertatapan.

Dan entah sejak kapan kaki Kyu-Hyun bertransformasi menjadi lem perekat. Sangat sulit baginya untuk mengangkat kedua tungkai itu lalu menghampiri So-Eun di seberang sana. Tanaganya juga lenyap seperti hilang terbawa angin malam yang berhenbus kencang.

Dan kabar buruknya Kyu-Hyun merasa sesuatu terjadi di dalam dadanya. Berkontraksi parah hingga menyempit dan akhirnya tak ada satupun oksigen yang terhirup. Ia lupa untuk menarik napas. Sesaat setelahnya pandangan mereka bertemu. So-Eun dengan mata melebar melepas tautan tangannya lalu berlari ke arah Kyu-Hyun. Ia sampai di sana namun tak berani mengatakan apapun.

“K-Kyu-Hyun, sedang apa kau di sini?”

Seperti ada sesuatu yang menumpuk di pelupuk matanya, Kyu-Hyun memilih untuk memalingkan wajah.

“Aku bisa jelaskan. Ini tidak seperti yang kau kira.”

“Memang kau tahu apa yang kukira?” Sekuat tenaga Kyu-Hyun menahan suaranya agar tidak bergetar. Pria itu tersenyum sinis. Ia lupa kapan terakhir kali merasa sekacau ini, rasanya hampir gila.

Dan ia bisa benar-benar gila saat tahu penyebabnya adalah Kim So-Eun

“Kyu-Hyun, aku tidak ada apa-apa dengan Chang-Min. Kami hanya—“

“Ada apa-apa juga tidak apa-apa.” Potongnya cepat, “Aku tahu kau pasti akan lebih memilih pria lembut seperti Chang-Min daripada pria datar sepertiku.”

Kyu-Hyun memaksakan senyuman paksanya.

“Aku sudah menduga ini dari awal. Pada akhirnya kau tetap milih Chang-Min.”

Mendengar suaranya sendiri, kyu-Hyun merasa telah menancapkan berjuta jarum di tenggorokannya. Apalagi saat melihat So-Eun mulai meneteskan air mata.

“Maaf, So-Eun. Selama ini aku tidak bisa bersikap manis padamu.” Kyu-Hyun berhenti sejenak, “Karena aku tahu pasti akan begini akhirnya.”

Ia tak berbohong sama sekali. Pria itu sudah tahu bahwa gangguan jiwanya yang sangat datar tanpa ekspresi pasti akan berdampak pada hubungannya dengan So-Eun. Karena di belahan dunia manapun, semua wanita pasti menyukai pria yang hangat daripada cuek setengah mati seperti dirinya.

“Kiyu-Hyun, kau biacara apa? Jangan…”

“Kita berpisah saja.” Kyu-Hyun merasa jarum-jarum itu makin kuat menusuk tenggorokannya. “Itu lebih baik.”

Untuk terakhir kalinya Kyu-Hyun tersenyum. Menarik nafasnya dalam-dalam untuk menahan air mata. Kyu-Hyun berbalik dengan bahu bergetar. Kakinya gontai untuk mengambil langkah. Membayangkan kehidupannya kelak tanpa gadis itu, tanpa So-Eun…

Part 2

“Kyu, pakai otakmu. Apa kau tidak sadar apa yang sedang kau lakukan sekarang, huh?”

Dae-Hyun meledak. Dengan napas terengah-engah menatap Kyu-Hyun yang tergeletak di atas lantai. Ia masih begitu tersulut dengan apa yang baru saja pria itu ingin lakukan. Dan hal itu akan benar-benar terjadi jika saja Dae-Hyun tak memergoki pria itu.

Beberapa menit yang lalu, entah setan apa yang sedang merasuki Kyu-Hyun, tapi Dae-Hyun melihatnya dengan mata kepala sendiri.

Saat ia sedang ingin mengunjungi pria itu di rumahnya. Dae-Hyun malah dikejutkan dengan kegiatan pria itu di ruang tamu. Kyu-Hyun hampir saja melepaskan baju seorang wanita yang sedang pria itu tindih jika Dae-Hyun tidak dengan kesadaran penuh menarik kerah kemeja Kyu-Hyun, menjatuhkannya ke lantai. Berteriak kasar pada wanita lajang yang entah datang darimana itu untuk pergi dari sana.

Ia tak habis pikir. Setelah habis-habisan menghajar wajah Kyu-Hyun hingga babak belur. Pria itu masih saja bergumam tak jelas dan mencoba berdiri. Hal yang membuat Dae-Hyun sekali lagi melayangkan pukulannya.

Kyu-Hyun terbatuk-batuk. Mengeluarkan darah dari mulut dan hidungnya. Tapi tanpa rintihan sedikitpun. Mendengarkan teriakan Adiknya tanpa berkutik.

“Bajingan! Kau baru putus dari So-Eun kemarin. Baru dua hari yang lalu. Tapi kau sudah bermain-main dengan wanita lain. Bahkan hampir menidurinya.” Dae-Hyun menggeram. “Kau bodoh atau apa?”

“Diamlah, kepalaku hampir mau pecah.” Desah Kyu-Hyun pelan. Sambil mencoba memejamkan matanya.

“Tidak, Kyu. Aku sama sekali tidak mengerti apa yang terjadi sekarang. Yang kutahu kau bukan pria yang suka memainkan perasaan wanita. Kau tidak akan begitu mudah berpindah hubungan dari wanita yang satu ke wanita lainnya. Kau bukan orang yang—“

“Dia yang memainkan perasaanku!” teriak Kyu-Hyun. Lengkap dengan tubuhnya yang berdiri tegap seketika. “Dia yang berpindah hubungan dengan pria lain.” Dan didetik berikutnya, Kyu-Hyun merasa tubuhnya lemas. Kakinya merosot Suaranya melemah. “Dia yang seperti itu. dia, bukan aku.”

Melihat kondisi Kyu-Hyun yang merana seperti itu, Dae-Hyun mengiba. Ia menekuk lutut hingga berlutut sejajar di depan Kyu-Hyun. Lalu meraih bahu pria itu dan menariknya. Memeluk Kyu-Hyun agar suara isakan pria itu tersamarkan.

Kyu-Hyun. ia merasa dirinya hancur. Tak tersisa sedikitpun. Tak tahu dari sudut mana harus dijelaskan tapi Kyu-Hyun merasa dirinya seolah-olah berada di ambang kematian. Semuanya lenyap. Keinginannya. Hasratnya. Nyawanya. Ia mati rasa.

Baru dua hari sejak mereka mendeklarasikan berpisah. Kyu-Hyun sudah tak tahu lagi harus merasakan apa. Berkali-kali ia mencoba menekan beberapa kombinasi nomor. Namun kembali ia abaikan karena sadar mereka sudah tak bersama.

Dihari pertama dia bingung. Tak tahu mana yang benar dan mana yang tidak. Berkali-kali salah dalam melakukan pekerjaannya. Bahkan Kyu-Hyun hampir saja merobek dokemun penting untuk perusahaan jika saja Dae-Hyun tak mencegahnya. Dan itu sudah cukup membuatnya tersiksa.

Dan dihari kedua ia bahkan sama sekali tak menyangka bahwa ia akan berakhir seperti ini. Dengan akal setengah sadar, ia melangkahkan kaki ke club. Berdansa panas dengan wanita-wanita seksi di sana. Hal yang Kyu-Hyun kira dapat mengurangi bebannya namun nyatanya tak berhasil sama sekali. Lalu membawa salah satu wanita itu ke rumahnya. Membayangkan bahwa wanita itu adalah orang yang ia rindukan setengah mati. Dan tanpa sadar ingin sekali meniduri wanita itu.

Kyu-Hyun tak tahu mengapa ia menangis. Karena saat ia teringat dengan kejadian dua hari lalu. Emosinya membuncah dan berakhir dengan penumpahan air mata.

“Kyu,” Dae-Hyun menegurnya pelan. Sontak membuat ia mengangkat kepala. ”Mengapa kau tidak mencoba berbicara dengannya saja?”

“Aku tidak bisa meskipun aku ingin.”

“Kenapa?”

“Karena…” merasa tenggorokannya menyempit, Kyu-Hyun lebih memilih untuk berhenti berucap.

“Katakan, apa alasanmu.” Desak Dae-Hyun. “Aku yakin kau hanya salah paham. So-Eun tidak mungkin menjalin hubungan dengan Chang-Min di belakangmu.”

“Tapi aku melihatnya sendiri.”

Dae-Hyun menghela sejenak. “Apa yang kau lihat. Belum tentu kenyataannya.”

_o0o_

“Demi Tuhan, So-Eun. Kau mau membuat tanganmu cacat?”

Serobot Chang-Min. Mereka berdua sekarang sedang ada di rumah sakit. Tempat So-Eun membalut patah tangannya beberapa saat lalu.

Chang-Min bahkan syok berat saat ia menemukan So-Eun yang sudah tergeletak di jalanan dengan dikerubungi orang-orang. Hingga ia menghampiri gadis itu dan sadar bahwa So-Eun baru saja terserempet bus besar hingga tangannya patah. Dengan cepat ia membawa So-Eun ke rumah sakit dan memaksa gadis itu untuk di gips di bagian lengan kanan.

“Apa yang kau pikirkan saat berjalan? Bagaimana bisa kau terserempet bus?” Ia terus saja mengoceh demi mendengar penjelasan So-Eun, namun gadis itu hanya bergeming sedari tadi.

Melihat keadaan gadis itu, Chang-Min menghela. Gadis itu lebih layak disebut penghuni panti rehabilitasi rumah sakit jiwa daripada seorang gadis yang cantik. Kelakuannya selalu di luar kendali. Berkali-kali mengatakan hal-hal aneh. Juga mendesah frustasi. Dan Chang-Min tahu penyebabnya. Seseorang yang ia yakini So-Eun rindukan. Cho Kyu-Hyun.

Tatapannya beralih ke depan. Ikut memandang apa yang So-Eun perhatikan. “Kau akan dirawat di sini selama lima hari. Sampai tanganmu benar-benar sembuh.”

Karena So-Eun tak merespon, Chang-Min melanjutkan. “Aku pulang sekarang, mengambil baju gantimu.” Chang-Min sontak berdiri dari kursinya. Memegang bahu So-Eun sejenak hingga gadis itu balas menatapnya. Meski tatapan itu terasa kosong. “Jangan lupa makan. Aku akan kembali nanti malam.”

Setelah Chang-Min berlalu dan menutup pintu. So-Eun baru tersadar. Ia memindai sekeliling ruangan putih tempat ia dirawat. Lalu didetik berikutnya malah meneteskan air mata. Menggumamkan satu nama yang benar-benar membuat dada So-Eun nyaris meledak.

Ia gelisah. Sungguh tak tenang sama sekali. Beberapa kali sempat berhalusinasi bahwa indra pengelihatannya mendapatkan sosok Kyu-Hyun sebagai objek. Merasa tak waras dengan keadaannya yang seperti mayat hidup.

So-Eun tak bisa mencerna sama sekali. Saat malam itu, ia dan Chang-Min sedang membicarakan sesuatu dan tiba-tiba Kyu-Hyun muncul. Menuduhnya bahwa ia lebih menyukai pria seperti Chang-Min. Lalu tanpa mendengar penjelasannya berlalu pergi sebelum mengatakan bahwa mereka berakhir.

Kalimat terakhir itu. Kalimat terkejam yang pernah ia dengar

Kalau asumsinya benar, So-Eun sama sekali tidak tahu harus menjelaskan pada Kyu-Hyun dari mana. Mungkin pria itu berpikir bahwa So-Eun dan Chang-Min yang tertangkap sedang berbicara berdua, memiliki hubungan khusus di belakang Kyu-Hyun. Tapi bukan itu kenyatannya. So-Eun berani bersumpah.

Semakin banyak yang berkelebat diotaknya. Semakin lemah juga tenaga So-Eun. Dengan lemas ia menekuk kedua lututnya dan memeluknya. Menyandarkan dagunya di sana.

Sadar bahwa sudut hatinya bergemuruh karena satu alasan yang sangat jelas. Merindukan Kyu-Hyun.

_o0o_

“Akh,” saat pertama kali membuka mata. Kyu-Hyun langsung merasakan kepalanya berdenyut hebat. Juga tenggorokannya yang sakit. Sukses membuat Kyu-Hyun merintih tertahan.

Dengan langkah terseok-seok ia berjalan keluar kamar dan menuju dapur. Terkejut karena di maja makan sudah ada beberapa hidangan sederhana. ia meraih secarik kertas kecil yang ada di sana lalu membacanya.

Aku sudah menyiapkan sarapan untukmu. Makanlah. Dan hari ini kau tidak usah ke kantor. Kukira kau butuh istirahat. Jaga kesehatanmu. Kalau kau butuh sesuatu hubungi aku saja. –Dae-Hyun.

Kyu-Hyun meletakkan kertas kecil itu kembali dan malah membuka pintu kulkas. Ia ingin meraih segelas botol air mineral namun langsung tersentak saat sesuatu menggema di telinganya.

“Berapa kali kukatakan. Minum air dingin saat bangun tidur itu tidak baik. Letakkan kembali!”

Prang

Detik itu juga Kyu-Hyun langsung menjatuhkan botol yang ia pegang. Menegakkan punggung seketika saat suara So-Eun memperingatinya. Ia terkesiap dengan reaksinya sendiri. Terlalu cepat dalam merespon apapun yang bersangkutan dengan gadis itu. Gadis yang sekarang sudah…

“Sialan!”

Kyu-Hyun tak bisa mengendalikan dirinya lagi. Ia harus segera menemui gadis itu atau dia bisa mati karena kacau. Kyu-Hyun lantas meraih kunci mobil yang ia letakkan di atas sofa. Tidak perduli dengan penampilannya yang kacau balau.

Sudah dua puluh menit ia melaju. Dan tanpa ragu Kyu-Hyun berjalan cepat menghampiri pintu rumah So-Eun. menggedor-gedornya seperti orang kesetanan. “So-Eun, Kim So-Eun, buka pintunya!”

Merasa pintu yang ia gedor tak juga bergerak. Kyu-Hyun tambah kalut. “Kim So-Eun dengarkan aku. Buka pintunya atau aku akan berbuat nekat.”

“KIM SO-EUN!”

Brakk

Hanya dengan kakinya yang menendang kusen pipih itu hingga terlayang jatuh ke depan. Kyu-Hyun langsung meringsek maju. Bergerilya dengan tatapan liarnya. Mencari So-Eun kemana-mana namun tak menemukan hasil sama sekali. Ia sadar, So-Eun tak sedang di rumah.

“Dia kemana?”

Detik itu juga Kyu-Hyun merasa jantungnya diremas. Sadar bahwa jalannya buntu sekarang. disaat-saat seperti ini harusnya ia mencari So-Eun. Ke tempat-tempat dimana gadis itu biasa berada. Tapi satu tempatpun tak ada yang Kyu-Hyun tahu. Ia menyesal. Selama ini ia hanya bersikap acuh pada So-Eun. Mengabaikan gadis itu meski So-Eun berkali-kali mengajaknya berinteraksi. Tak mau perduli tentang bagaimana dan seperti apa sosok So-Eun.

Dan hal itu yang menghambatnya sekarang. Ia tak tahu harus melangkah kemana untuk menemui So-Eun. Jadi ia memutuskan untuk menunggu di dalam rumah.

Dari mulai matahari terbit, sampai hampir tenggelam. Kyu-Hyun tak menemukan tanda-tanda kedatangan So-Eun.

“Kau dimana?”

Kyu-Hyun mendesah. Melemaskan bahunya karena lelah. Tak menemukan apapun di dalam rumah itu. Kyu-Hyun memutuskan untuk melangkahkan kaki keluar. Mengemudikan mobilnya kembali.

Di perjalanan. Ia tak tahu tujuannya. Hanya mengikuti beberapa mobil di depannya tanpa tahu ia berada dimana sekarang. Pikirannya tak menentu, malayang kemana-mana dan tak bisa fokus sama sekali.

Hingga sesuatu menyentaknya. Membuat Kyu-Hyun menginjak pedal rem cepat. Menghidar dari truk yang tiba-tiba melintas di depannya namun terlambat. Karena bagian depan mobilnya lebih cepat menghantam bagian belakang truk itu. Menimbulkan bunyi bising yang memekakkan telinga.

Beberapa detik setelah itu Kyu-Hyun baru membuka mata. Menemukan dahinya berdarah dan bagian sisi luar mobilnya yang berasap. Kyu-Hyun dengan cepat melepas seatbelt­nya. Terburu-buru keluar dari dalam mobil sebelum benda mahal itu meledak.

Sampai ia berada di luar mobil. Saat itu juga suara ledakan terdengar. Memunculkan api yang berkobar dalam sekali kejap. Bertepatan dengan kesadarannya yang perlahan pudar. Menggelap seketika.

_o0o_

So-Eun sedang berjalan sambil memegang tiang infusnya ketika suara berisik terdengar di samping lorong. Seperti beberapa orang yang berteriak cemas untuk memanggil Dokter dan sebagainya. Ia tak tertarik dengan hal itu, berniat kembali masuk ke ruang rawat. Namun terhenti karena seseorang menabrak bahunya,

“Maaf, maaf.”

Setelah menundukkan kepalanya dalam, orang itu kembali dengan terburu-buru berlari menuju arah lain. Meninggalkan So-Eun yang masih kebingung. Ia tak tahu apa yang terjadi tapi sepertinya itu hal yang besar.

Lalu pertanyaannya mulai terjawab saat ada beberapa tempat tidur berjalan melintas di depannya dengan beberapa orang yang terluka.

“Apa terjadi kecelakaan?”

So-Eun mengalihkan tatapannya ke samping. Berjalan mendekat demi memuaskan rasa penasarannya. Ia terkesiap, saat ada seorang pria paruh baya tergeletak tak berdaya. Sedang di pasang alat medis di dadanya. Mungkin Dokter sedang melakukan penanganan.

“Maaf, kalau boleh saya tahu. Apa yang sedang terjadi?” So-Eun bertanya pada seorang suster yang kebetulan sedang berjalan di depannya. Suster itu berhenti sejenak. Menjawab dengan nada ramah.

“Tadi terjadi kecelakaan. Truk dengan mobil.”

“Apa ada korban jiwa?”

Suster itu menggeleng. “Sang supir truk hanya luka-luka, sementara si pengemudi mobil masih tidak sadarkan diri.”

“Tidak sadarkan diri?”

“Ya, benturan di kepalanya cukup keras. Membuatnya tidak sadarkan diri.”

“Apa itu parah?”

“Tidak, itu hanya penyesuaian untuk pemulihan kembali kepalanya yang sempat terbentur. Jika sudah sadar, maka dia bisa langsung pulang.”

So-Eun mengangguk setelah mengucapkan terima kasih pada suster itu. Ia merasa aneh. Seperti ada sesuatu yang mengganggu hatinya saat suster tadi mengatakan bahwa si pengemudi mobil tidak sadarkan diri. Karena tak tahu akal sehatnya masih berfungsi atau tidak. So-Eun lebih memilih untuk mengikuti kata hatinya. Ia melangkah pelan mendekat pada salah satu bilik ranjang yang masih tertutup tirai. Lalu berdiri canggung di sana.

Dengan ragu So-Eun mengangkat tangannya untuk menyibak tirai itu perlahan. Hanya beberapa detik hingga So-Eun memekik seketika. Tubuhnya tiba-tiba kaku dan lututnya lemas. Ia langsung berlari menghampiri ranjang yang ada di sana. Terbata-bata sambil terisak.

“K-kyu-Hyun.”

Di sana Kyu-Hyun sedang berbaring lemah. Dengan beberapa balutan di sekitar dahi. Kondisi Kyu-Hyun memang tidak terlalu parah tapi itu cukup untuk membuat So-Eun panas-dingin. Ia merasa jantungnya menggila dan ia tak berpikir lagi saat meraih tangan Kyu-Hyun lalu meremasnya pelan.

“Apa yang terjadi? Mengapa kau berbaring di sini?” tanyanya sambil terisak. “Kaukah si pengemudi mobil itu?”

Karena Kyu-Hyun tak juga membuka mata. So-Eun semakin deras menangis. Ia menumpukan kepalanya di atas tangan mereka yang bertautan.

“Maafkan aku. Maaf. Aku tahu kau begini karena aku. Maaf.” Dengan suaranya yang bergetar hebat, So-Eun tetap melanjutkan. “Malam itu aku sama sekali tidak seperti yang kau pikirkan. Aku tidak selingkuh dengan siapapun. Malam itu aku hanya berbicara tentang sesuatu pada Chang-Min tapi kau langsung menuduhku. Kau tiba-tiba pergi dan tidak mau mendengar penjelasanku.”

So-Eun mengangkat kepalanya beralih menatap wajah Kyu-Hyun yang masih memejamkan mata. “Bagunlah, Kyu-Hyun. buka matamu agar aku bisa menjelaskan segalanya. Kumohon.”

Tepat pada detik itu So-Eun merasa genggamannya bergerak. Ia terkesiap dan langsung menatap lekat kelopak mata indah Kyu-Hyun saat pria itu berusaha membuka mata.

Hingga dibeberapa detik berikutnya. Kyu-Hyun membuka mata sempurna. Menatap lurus ke arahnya.

“So-Eun,” pantau pria itu parau.

“Ya, ini aku.” So-Eun meremas kembali tautan tangan mereka. “Apa kau tidak apa-apa? Apa kau kesakitan? Katakan sesuatu.”

Kyu-Hyun menggeleng lemah. Dengan tergopoh-gopoh mendudukkan diri hingga bersandar di kepala ranjang. Tangan pria itu terangkat untuk menyentuh pipi So-Eun lalu mengusapnya. “Ini benar-benar dirimu.”

Sambil terus terisak, So-Eun mengangguk. “Ya, ini aku.”

Kyu-Hyun langsung mengulurkan tangannya menarik bahu So-Eun. Menabrakkan tubuh kecil gadis itu ke dadanya. Mendekap gadis itu seerat yang ia bisa.

Kyu-Hyun meneggelamkan kepalanya di cekungan leher So-Eun. Menghirup banyak-banyak aroma lembut di sana. Menghidu dalam-dalam.

“Jangan pergi. Jangan pernah pergi meskipun kau ingin.”

“Kau yang membuatku pergi.”

Kyu-Hyun menggeleng pelan. “Aku melakukannya dalam kesalahan. Aku sama sekali tidak sadar saat mengatakan itu. Aku mengatakannya karena terlalu kalut. Aku… aku…”

“Dengar,” So-Eun melepas pelukan mereka meski tangan Kyu-Hyun masih berada di pinggangnya. So-Eun balas menatap Kyu-Hyun dengan pandangan paling sendu yang ia punya. Berucap selembut mungkin. “Malam itu aku hanya sedang membicarakan sesuatu dengan Chang-Min, tidak ada maksud apapun. Aku sama sekali tidak menyeleweng darimu apalagi berselingkuh. Tapi sebelum aku berhasil mengatakannya, kau lebih dulu menuduhku. Mengatakan bahwa aku lebih baik bersama Chang-Min dan mendeklarasikan perpisahan. Kau tahu jantungku hampir jatuh ke tanah saat itu?”

Masih dengan gemingannya. Kyu-Hyun terus menatap So-Eun dalam.

“Kau tahu seberapa tersiksanya aku dua hari ini? Aku merasa lebih baik mati saja. Aku selalu berharap bisa bertemu denganmu tapi tidak bisa.”

“Kau pikir aku baik-baik saja?”

“Huh?”

“Dua hari ini, So-Eun. hanya dua hari ini.” Kyu-Hyun mengerutkan dahinya seolah kesakitan. “Dan aku benar-benar tidak mau mengingat dua hari yang seperti neraka itu.”

Mereka hening untuk beberapa saat. Bingung untuk menyambung pembicaraan hingga So-Eun tiba-tiba berucap. “Kyu-Hyun—apa kau merindukanku? Selama dua hari ini?”

“Kenapa aku harus menjawabnya?”

“Setidaknya,” So-Eun menggedikkan bahu pelan. “Aku merasakan itu. Dan ingin tahu apa kau merasakannya juga.”

“Lalu apa yang akan terjadi jika aku mengatakan tidak?”

So-Eun seketika mengalihkan pandangan. Melebarkan mata dengan pandangan terkejut. “Ap-apa?”

“Apa yang akan terjadi jika aku bilang aku tidak merindukanmu?”

“Maka—“ suara So-Eun tercekat namun masih sekuat tenaga mengeluarkan suara. “Tidak ada alasan bagi kita untuk memulai kembali.”

Melihat Kyu-Hyun yang hanya berekspresi datar di depannya. So-Eun merasa napasnya tersendat. Ia nyaris ingin menangis lagi.

Tapi dengan suara lembut, Kyu-Hyun menangkup kedua sisi wajahnya. Membuat mereka saling berpandangan. “Aku tidak merindukanmu, So-Eun.” katanya pelan, “Tapi aku nyaris mati karena tak bisa melihatmu.”

“Ka-kau—“

“Aku minta maaf karena sempat berpikiran yang macam-macam tentangmu. Maaf karena aku tidak mendengarkanmu terlebih dahulu. Maaf karena aku terlalu egois.”

“Maaf juga karena aku sudah membuatmu salah paham.”

Kyu-Hyun lantas tersenyum ringan. Ingin kembali merengkuh So-Eun namun tersadar sesuatu. Ia melihat ke bawah sambil mendelik.

“Tanganmu patah?” cecarnya cepat. “Kau melukai dirimu?”

Tiba-tiba So-Eun tergagap karena tatapan Kyu-Hyun yang menusuk matanya. “Bu-bukan begitu. Waktu itu aku hanya tidak sengaja terserempet bus. Dan tanganku patah. Setelah lima hari aku juga sudah diperbolehkan pulang.”

“Tetap saja, kau melukai dirimu.” Yang tadinya tatapan Kyu-Hyun menyala-nyala. Sekarang tatapan pria itu berubah sendu. Sambil mengusap lengan So-Eun yang masih digips. “Aku tidak suka kalau kau terluka.”

So-Eun terkekeh. Sukses membuat Kyu-Hyun mendongak menatapnya. “Tapi aku suka kau begini.”

“Hmm?”

“Aku suka dirimu yang mau memperhatikanku. Bukannya Cho Kyu-Hyun yang menganggapku seperti makhluk transparan.”

“Tentu saja,” sungut pria itu. “Aku tidak mau berpisah lagi denganmu.”

“Kau bilang apa?” So-Eun memajukan wajahnya karena tak mendengar apa yang Kyu-Hyun ucapkan barusan.

Bukannya menjawab. Kyu-Hyun malah tersenyum miring seperti orang jahat. Dengan keadaan wajah So-Eun yang dekat dengan wajahnya. Tak ada yang bisa Kyu-Hyun lakukan selain menepis jarak di antara wajah mereka. Sepersekian detik sebelum ia menempelkan bibirnya pada bibir So-Eun. melepas hasrat tertahannya dengan sentuhan mereka yang dalam. Sambil tetap menyesap bibir So-Eun, Kyu-Hyun melingkari pinggang So-Eun dengan tangannya lalu menariknya mendekat.

Tak sadar dengan beberapa suster yang sedari tadi melongo hebat menyaksikan tontonan tidak senonoh yang sepasang manusia itu tunjukkan di rumah sakit.

Lalu secara sepihak Kyu-Hyun melepaskan ciumannya. Menatap So-Eun sambil terengah-engah. “Kita hentikan di sini. Kalau kau tidak mau aku telanjangi di ranjang rumah sakit.”

_o0o_

“Katakan padaku. Apa yang kau bicarakan dengan Chang-Min malam itu?”

“Apa?”

“Kau bilang malam itu kau sedang membicarakan sesuatu dengan Chang-Min. Katakan padaku apa itu.”

“Kenapa aku harus mengatakannya?”

“Hanya tinggal mengatakannya apa itu sulit bagimu?”

“Aku—aku sedang bertanya pada Chang-Min.”

“Bertanya soal apa?”

“Dirimu.”

“Aku?”

“Selama ini kau selalu mengabaikanku. Kupikir aku harus sedikit memperbaiki diri agar terlihat lebih baik dimatamu. Jadi aku bertanya pada Chang-Min. Kalian kan sesama kaum lelaki, jadi kupikir Chang-Min mungkin bisa membantu.”

“Hanya karena itu?”

“Ya,”

“Baiklah, aku tidak akan mempermasalahkannya lagi. Tapi kau harus menuruti satu hal.”

“Apa?”

“Kau tidak boleh berinteraksi dengan pria lain tanpa seizinku, paham?”

“Kau gila! Kenapa aku harus menurutimu?”

“Setidaknya, kau hanya boleh berhubungan, berbicara, dan bersentuhan denganku.”

“Kau memang pria tidak waras.”

–Fin^^–

RCL PLEASEEEE…. Dan makasih buat yang udah mau baca

Tengkyu ^^

10 Comments (+add yours?)

  1. afiyarhmia
    Sep 23, 2015 @ 20:17:51

    Wow, kyuhyun nya masih childish yaa, lucuuu, suka suka, keep writing ya authorrr

    Reply

  2. annisaputriramadhani
    Sep 23, 2015 @ 21:26:20

    Kyuhyunnya seru ,cemburuan ,pengen punyancowok kayak kyuhyun ,cuek tepi perhatian🙂🙂🙂🙂
    Kak,kalau bisa bikin cerita yang banyak agar banyak juga yang jadi reader setia kakak ,:-)
    Foighting eonni🙂🙂 –

    Reply

  3. Kwan Menzel
    Sep 24, 2015 @ 00:02:26

    haha sllu suka genre ini.. pa lg castnya kim so eun.. gk nyesel udh baca

    Reply

  4. esakodok
    Sep 24, 2015 @ 10:13:38

    hahahay..habis ini kyuhyun jd cowok posesif
    tp q sukabanget cara ruhujnya..alami..heheh

    Reply

  5. DinDin
    Sep 24, 2015 @ 13:29:08

    kyaa ,,,,,

    Reply

  6. uchie vitria
    Sep 25, 2015 @ 06:22:38

    kalo niat pacaran tapi gk berinteraksi ya susah
    kalo saling terbuka dan banyak melakukan hal” positif pasti langgeng
    emang udah jodoh
    sakut pun berdua

    Reply

  7. minrakyu
    Sep 25, 2015 @ 17:18:06

    dasar kyuhyun nyebelin

    Reply

  8. Arafarahayu
    Sep 26, 2015 @ 03:22:24

    Suka sama karakter kyuhyun disini, feal ny juga dapet. Good job thor🙂

    Reply

  9. Imyneohins
    Sep 27, 2015 @ 07:00:29

    Bagus sih ffnya, sayangnya pairnya aktris……

    Reply

  10. shoffie monicca
    Sep 28, 2015 @ 20:05:25

    klo diksih sequel lbh sru nih thor.

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: